Tag: wisata

  • Lembu Putih Hewan Sakral di Desa Taro, Tidak Disembelih, Tidak Diperjualbelikan



    Gianyar

    Lembu putih menjadi salah satu warisan sejarah yang ada di Desa Taro. Hewan itu dianggap sebagai ‘duwe’ dan disucikan oleh masyarakat setempat.

    Desa Taro adalah salah satu desa wisata di Pulau Dewata yang berprinsip ‘An Eco Spiritual Destination’. Dalam mendukung keberlanjutan lingkungan, Desa Wisata Taro memiliki banyak kawasan konservasi.

    Salah satunya adalah Konservasi Lembu Putih, lembu itu sangat disakralkan oleh masyarakat Desa Taro. Keberadaan Lembu Putih itu dikaitkan dengan kedatangan Ida Maha Rsi Markandeya di abad ke tujuh. Dia pendiri Desa Taro.

    “Dahulu lembu putih itu dilepas di Desa Taro, bisa masuk ke rumah warga. Tapi tahun 2011 sudah mulai kita konservasi karena banyak yang ke desa tetangga, jadi agar lebih mudah memantau jumlahnya akhirnya kita konservasi,” kata I Wayan Gede Ardika, pengelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Taro.

    Lembu putih itu disucikan oleh masyarakat setempat sebagai simbolisasi kehadiran Dewa Siwa. Lembu putih dipercaya sebagai kendaraan suci Dewa Siwa.

    Uniknya lagi, di Desa Taro, lembu putih betina dipanggil Ida Ayu dan yang jantan dipanggil dengan Ida Bagus. Saat ini, terdapat 56 ekor lembu putih yang dikonservasi oleh Desa Taro.

    “Kawasan konservasi lembu putih itu tahun 2019 sudah dikembangkan jadi objek wisata. Di Desa Taro sudah ada 56 ekor lembu putih. Biasanya kalau ada yang mati pasti juga ada yang lahir. Kalau yang betina itu dipanggil Ida Ayu dan yang jantan dipanggil Ida Bagus,” kata Ardika.

    Menurut Ardika, lembu putih yang ada di Desa Taro tidak boleh disembelih, tidak boleh diperjualbelikan, dan tidak boleh dikonsumsi. Lembu putih yang dikonservasi hanya khusus untuk upacara keagamaan seperti Mepurwa Daksina dan Memineh Empehan Lembu.

    Di kawasan konservasi lembu putih juga terdapat konservasi beberapa tanaman obat dan tanaman yang biasa digunakan untuk kegiatan upacara agama Hindu.


    “Kita juga melakukan konservasi untuk tanaman obat, tanaman langka, dan tanaman upacara. Ada juga konservasi berbagai jenis pisang,” kata dia.

    Tidak hanya lembu putihnya yang disakralkan, tetapi beberapa unsur hewan ini seperti kotoran, urin, susu, dan air mata lembu putih itu disakralkan. Hasil dari lembu putih itu dijadikan sarana upacara maupun terapi pengobatan herbal/non medis.

    Lembu putih di Desa Wisata Taro, Gianyar, BaliLembu putih di Desa Wisata Taro, Gianyar, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

    “Kita punya produk Bio Taro, yaitu produk olahan dari kotoran lembu putih, bisa digunakan untuk pupuk atau pestisida alami. Kita ada produk biogas dari kotoran lembu putih juga, ada briket yang digunakan untuk pupuk,” kata Ardika.

    Traveler yang sedang berkunjung ke Desa Wisata Taro wajib mencoba berkunjung ke kawasan konservasi yang satu ini. Terdapat beberapa aktivitas menarik, seperti perkemahan, memberi makan Lembu Putih, outbound, dan outing. Terdapat juga wisata edukasi berbagai jenis tanaman.

    Selain itu, juga terdapat taman ruang terbuka hijau yang sangat luas dan asri serta areal bermain anak-anak, bale bengong dan wantilan serbaguna. Untuk masuk ke kawasan konservasi ini, traveler dikenakan biaya sebesar Rp 10.000 per orangnya.

    Jika traveler tertarik untuk outbound, traveler dikenakan biaya sebesar Rp 150.000 per orang, sudah termasuk pemandu, makan siang, dan berbagai peralatan lainnya.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Unik! Bangunan Berumur Satu Abad Disulap Jadi Kafe di Yogyakarta



    Yogyakarta

    Semerbak kopi menyeruak saat pintu kaca kafe ini dibuka. Space Roastery membuka kedai baru bertajuk 1890 di sebuah bangunan satu abad.

    Space Roastery 1890 berada di Jl. MT Haryono No 9, Suryodiningrat, Kota Yogyakarta. Bangunan itu berdiri lebih dari satu abad dan awalnya bernama Ndalem Pembayun. Dulunya ini dimiliki oleh keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono VII.

    Kafe itu baru diresmikan pada 12 April 2024 lalu dan menambah warna baru di dunia perkafean Jogja. Konsepnya menawarkan customer untuk ngopi berkesan di dalam bangunan warisan budaya.


    Hal itu dibenarkan oleh Alex, turis asing asal Perancis itu menikmati setiap teguk kopinya di Space Roastery 1890 sambil menelisik setiap inchi detail bangunan.

    Space Roastery 1890 di YogyakartaSpace Roastery 1890 di Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

    “Saya menemukan kedai ini di Instagram, dan tidak disangka begitu luar biasa. Saya belum pernah merasakan pengalaman ini sebelumnya, yaitu menikmati kopi dengan warisan yang begitu indah,” kata Alex.

    Jika traveler menyaksikan dari luar, bangunan ini memiliki gaya klasik khas Jawa dengan dominasi warna hijau, kuning, dan coklat bersayup teduh.

    Terdiri dari dua bagian, yakni bagian dalam dan luar ruangan. Bagian dalam ber-AC menyatu dengan meja barista, tasting station, merchandise corner, serta diisi meja dengan jumlah terbatas. Adapun, bagian luar sejatinya adalah teras rumah dengan lebih banyak meja kursi.

    Rumah ini adalah perwujudan salah satu bagian rumah Joglo, tepatnya omah njero atau rumah dalam sebagai bagian terdalam dari joglo. Omah njero difungsikan untuk ruang keluarga dan di dalamnya ada ruangan bernama senthong. Senthong itu mempunyai tiga bagian, yaitu senthong kanan, kiri, dan tengah.

    Kalau traveler duduk di meja bar, tepat di depannya adalah senthong tengah. Aslinya tempat tersebut digunakan untuk bermeditasi, tempat tidur pengantin, dan juga tempat pemujaan dewi sri untuk kesuburan ladang.

    Senthong didekorasi dengan simbol fertility sebagai kesuburan pasangan pengantin ataupun kesuburan ladang sawah. Senthong dan isinya tidak terusik dengan adanya Space Roastery 1890, karena diberi penutup agar senthong terjaga di balik tirai.

    Space Roastery 1890 di YogyakartaSpace Roastery 1890 di Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

    Bangunan yang telah berdiri kokoh selama 134 tahun itu disulap menjadi kafe tanpa mengurangi atmosfer ngopi di bangunan yang sudah ada dari jaman Belanda. Dekorasinya memadukan unsur modern dan klasik dengan tetap menonjolkan keotentikan dari sang rumah.

    “Dengan memilih bangunan ini untuk store kami, ini jadi salah satu cara untuk turut andil dalam melestarikan peninggalan budaya, khususnya rumah budaya Jawa,” tulis Space Roastery 1890 dalam akun instagram resminya @space.roastery

    Ternyata bagi warga Jogja generasi 80 dan 90an, lebih familiar dengan tempat ini sebagai toko game Dino. Toko itu biasa digunakan untuk transaksi beli kaset, rental PlayStation, dan bermain tamiya.

    “Karena tempat ini udah lama ga kedengeran eksistensinya, kami memberanikan diri buat buka Space Roastery 1890 di bangunan yang dulunya toko game Dino ini. Tujuannya untuk mendekatkan akses ke habitual drinkers dan home brewers yang bertempat tinggal di selatan sekaligus membangkitkan kembali popularitas tempat ini,” tulis Space Roastery 1890 di akun resminya.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • 4 Keunikan Kafe di Rumah Kuno Ndalem Pembayun Yogyakarta



    Yogyakarta

    Space Roastery 1890 yang dibuka April 2024 bukan tempat ngopi biasa. Berada di bangunan kuno, kafe itu mengenalkan sedotan ramah lingkungan.

    Kafe dengan konsep unik bergaya klasik itu diresmikan pada 12 April 2024. Terbilang masih baru. Tetapi, justru karena kebaruannya itu, kafe tersebut menyuguhkan sejumlah oembeda.

    Beralamat di Jl. MT Haryono No 9, Suryodiningrat, Kota Yogyakarta. Lokasinya dekat dengan sebagian pusat Jogja seperti Plengkung Gading dan Alun-alun Kidul Yogyakarta, sehingga aksesnya begitu mudah ditemukan.


    Berikut 4 pembeda Space Roastery 1890 :

    1. Berada di Bangunan Berusia Satu Abad

    Bangunan yang digunakan kafe ini memiliki arsitektur Jawa yang mencolok, bahkan sejak pengunjung menginjakkan kaki di area parkir. Bangunannya lawas dan ternyata merupakan bangunan warisan budaya yang sudah berusia lebih dari satu abad.

    Space Roastery berada di Ndalem Pembayun yang dulu milik keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono VII.

    Nama 1890 diambil dari tahun berdirinya rumah tersebut. Selama 134 tahun, rumah ini telah beralih menjadi beragam fungsi, salah satunya dulu pernah menjadi toko game Dino. Warga Jogja generasi 80 hingga 90an pasti familiar dengan itu.

    Dominasi warna hijau, kuning, dan coklat yang teduh dipadu dengan unsur modern yang tidak merusak ornamen aslinya. Bangunan ini sejatinya representasi dari bagian terdalam rumah Joglo yakni Omah Njero sebagai ruang keluarga. Di dalamnya juga ada senthong yang tidak diusik oleh Space Roastery karena ditutup oleh tirai di belakang meja bar barista.

    2. Tasting Station

    Jangan khawatir jika ragu dengan rasa kopinya, karena Space Roastery menjanjikan tasting station untuk traveler yang ingin mencicipi dulu rasa untuk filter coffee.

    Di meja panjang itu, traveler dapat memilih rasa mana yang sesuai dengan lidah. Tidak perlu sungkan untuk meminta tolong barista mengarahkan. Jika sudah mantab, traveler bisa lanjut membeli kopi yang sesuai dengan selera.

    3. Menu Unik di Space Roastery 1890

    Space Roastery memang dikenal dengan signature kopinya, namun di gerai barunya ini mereka menyediakan menu tambahan unik tiada duanya di gerai lain.

    Menu tersebut adalah kopi ronde dan wedang bajigur. Jika tidak ke 1890, traveler tidak akan menemukan menu serupa di gerai Space Roastery lainnya.

    4. Sedotan ramah lingkungan dan edible

    Space Roastery 1890 menjamin mutu sedotan untuk customernya ramah lingkungan dan bisa dimakan. Bahan dasar sedotan adalah tepung beras dan tepung jagung, sehingga biodegradable dan juga compostable.

    Aman untuk dikonsumsi namun tidak mudah lunglai. meski setelah 30 menit terendam dalam minuman. Diproses lama selama 3-4 jam sog-resistant, traveler bisa memakannya jika sedotan sudah terasa lembek.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Tempat Mencari Ketenangan dan Ketetapan



    Gianyar

    Tak hanya menjadi tempat suci, Pura Agung Gunung Raung di Desa Taro menyimpan kisah spiritual tentang perjalanan Maha Rsi Markandeya di Pulau Dewata. Konon, pura ini kerap digunakan buat mereka yang tengah bimbang membuat keputusan dan solusi.

    Pura Agung Gunung Raung tak hanya menyajikan pura sebagai tempat suci agama Hindu, namun memasuki pura ini traveler akan diajak untuk menjelajah kembali perjalanan Rsi Markandeya di Bali. Markandeya merupakan sosok di balik berdirinya Desa Taro, desa tertua di Bali.

    Traveler bisa menemukan beberapa bangunan suci yang masih alami, tanpa sentuhan cat satu pun.


    Pura Agung Gunung Agung, Desa Taro, Gianyar, BaliPura Agung Gunung Agung, Desa Taro, Gianyar, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

    Berikut tentang Pura Agung Gunung Raung

    1. Sejarah Pura Agung Gunung Raung

    Sejarah pura yang agung di Desa Taro ini berawal dari abad ke-7, ketika Maha Rsi Markandeya melakukan perjalanan dari India. Maha Rsi Markandeya melintasi Jawa Timur dalam rangka menyebarkan ajaran Hindu ke Pulau Bali.

    Ketika Maha Rsi Markandeya menetap di Gunung Raung, Jawa Timur, beliau melihat sinar suci dari arah timur dan menelusuri sumber cahaya. Ternyata sinar suci tersebut berasal dari sebuah pohon. Rsi Markandeya melihat bahwa pohon yang bersinar itu ternyata adalah tengah-tengahnya Pulau Bali.

    Rsi Markandeya melakukan perabasan hutan hingga mendirikan sebuah pura bernama Pura Sabang Daat. Dari pura ini, Rsi Markandeya melihat ke arah selatan dan melakukan pemetaan untuk daerahnya.

    “Pohon yang menyala itu, Rsi Markandeya itu memutuskan bahwa pohon itu terletak di tengah-tengahnya Pulau Bali. Akhirnya beliau melakukan perabasan hutan hingga mendirikan pura yang bernama Pura Sabang Daat,” ujar Ardika.

    “Dari Pura Sabang Daat itu, beliau mececingak atau melihat ke arah selatan yang sekarang dikenal dengan Amunduk Taro. Beliau memetakan dan memikirkan dimana yang cocok untuk hutan, pemukiman, dan pertanian,” Ardika menambahkan.

    Kedatangan pertama Rsi Markandeya ke Pulau Bali mengalami kegagalan karena banyak pengikutnya yang tewas akibat terserang penyakit dan binatang buas. Akhirnya Rsi Markandeya kembali melakukan semedi di Gunung Raung, hingga mendapatkan wahyu untuk menanam ‘panca datu’ di Giri Tohlangkir, yang sekarang dikenal dengan Pura Basukian.

    Setelah melakukan penanaman Panca Datu, Rsi Markandeya kembali ke Amunduk Taro untuk melakukan perabasan hutan, membuat sistem irigasi, dan membuat sistem desa adat.

    Tempat Rsi Markandeya untuk melakukan sangkep atau musyawarah itulah yang menjadi Pura Agung Gunung Raung. Di pura ini terdapat balai panjang yang bernama Balai Agung, sebagai tempat untuk mengambil keputusan penting tentang Bali.

    Nama Gunung Raung sendiri diambil dari gunung tertinggi di Jawa Timur, menggambarkan asal Maha Rsi Markandeya yang pernah tinggal di sana sebelum melanjutkan perjalanannya ke Bali dan menetap di desa Taro.

    “Penamaan Gunung Raung ini karena perpindahan Rsi Markendya yang membawa semua perlengkapannya dari Gunung Raung dan saat itu gunung yang tertinggi adalah Gunung Raung yang juga tempat Rsi Markendya tinggal sebelumnya,” kata Ardika.

    2. Keunikan Pura Agung Gunung Raung

    Tak hanya sebagai tempat suci Agama Hindu, Pura Agung Gunung Raung juga menyimpan sejarah spiritual Bali. Menurut Ardika, Pura Gunung Raung memiliki beberapa keunikan.

    Sebelum memasuki pura ini, traveler akan melihat ‘titi gonggang’ yang berguna untuk menetralisir keinginan dan sifat buruk sebelum memulai persembahyangan.

    Pura Agung Gunung Raung juga memiliki empat pintu masuk yang terletak di timur, utara, selatan, dan barat yang menandakan bahwa pura ini berada di tengah-tengah. Biasanya umat Hindu yang melakukan persembahyangan menghadap ke timur, sedangkan di pura ini persembahyangan menghadap ke barat.

    “Sembahyang di pura ini unik karena menghadap ke barat, kalau biasanya kan menghadap ke timur atau utara. Karena padmasana di pura ini terletak di tengah, kemanapun arahnya itu tetap menghadap ke padmanasa,” ujar Ardika.

    Keunikan Pura Agung Gunung Raung juga terletak dari desain dan arsitekturnya. Menurut Ardika, pembangunan pura ini sama sekali tidak menggunakan pewarna atau cat. Bangunan pura ini terlihat alami menggunakan kayu dan batu saja.

    Memasuki pura, traveler juga bisa menemukan beberapa peninggalan sejarah. Contohnya seperti kulkul atau kentongan yang terbuat dari tangkai bunga selegui yang berukuran raksasa. Dipercaya, tangkai bunga itu jatuh di Pura Agung Gunung Raung dan berasal dari pohon yang ditebang di Pulau Jawa. Traveler juga bisa menemukan sebuah patung dari Ida Rsi Markandeya.

    Menurut Ardika, Pura Agung Gunung Raung dipercaya sebagai pura untuk mencari solusi, bahkan masih dipercaya hingga saat ini.

    “Kalau di pura ini dipercaya sebagai pura mencari solusi. Pura ini merupakan pasraman Rsi Markandeya dan setiap memutuskan hal besar pasti sembahyang di pura ini. Bahkan, saat sekarang pun warga kami kalau sangkepnya tidak mendapatkan solusi, pasti sembahyang dan mengambil keputusan di sini,” tutur Ardika.

    3. Lokasi dan Harga Tiket Masuk Pura Agung Gunung Raung

    Pura Agung Gunung Raung berlokasi di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Traveler yang ingin masuk ke dalam pura tak dikenakan tiket, melainkan traveler bisa memberikan donasi atau dana punia.

    Untuk masuk, traveler juga diharapkan mematuhi beberapa aturan. Tidak sedang haid atau datang bulan, wajib menggunakan pakaian adat Bali, dan wajib ada izin dari pemuka agama. Traveler yang tak memiliki pakaian adat Bali, bisa melakukan penyewaan pakaian adat di sekitar pura.

    Andika juga menuturkan beberapa pantangan yang tak boleh dilakukan di Pura Agung Gunung Raung yaitu wanita yang sedang hamil dan anak-anak yang belum tanggal gigi tidak boleh masuk melalui pintu timur.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Taman Hutan Kota Penjaringan Peredam Sengatan Matahari dan Kusut Truk Raksasa



    Jakarta

    Ruang terbuka hijau bisa sedikit menyejukkan saat matahari menyengat tanpa ampun. Salah satunya ada di Taman Hutan Kota Penjaringan, Jakarta Utara.

    Taman Hutan Kota Penjaringan terletak di kawasan yang panas menyengat oleh matahari dipadu lalu-lalang truk-truk besar. Belum lagi debu jalan yang membuat tak nyaman berlama-lama di jalanan tersebut, hutan kota itu bak oase di tengah gurun.

    detikTravel merasakan langsung keteduhan taman itu setelah menerjang panasnya Jakarta Utara dengan debu jalanan, Rabu (26/6/2024).


    Hutan Kota Penjaringan ini luasnya sekitar 135.000 meter persegi ini jadi magnet untuk warga sekitar. Juga, bagi pengguna jalanan yang butuh istirahat sejenak.

    Selain bisa sebagai tempat ngadem, bermain atau bersantai, Hutan Kota Penjaringan itu juga jadi tempat untuk berolahraga. Dengan luas yang dimiliki hutan kota ini cukup untuk bermandikan keringat jika mengelilingi berkali-kali, dan yang menjadikannya nyaman adalah udara serta cuaca di hutan kota ini begitu bersahabat.

    Taman Hutan Kota Penjaringan, Jakarta UtaraTaman Hutan Kota Penjaringan, Jakarta Utara (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    “Ya saya cukup sering jalan di sini karena nggak jauh juga dari rumah,” kata Lidya sembari berjalan.

    Walaupun di jalanan begitu terik namun ketika berada di dalam hutan kota ini tidak terasa begitu menyengat, pepohonan yang rimbun dan tinggi menjulang lah yang menjadi penangkalnya. Dengan banyaknya masyarakat yang jogging atau jalan santai, di area lain dengan hamparan rumput yang luas anak-anak dengan serunya bermain sepakbola.

    Pemandangan itu mengingatkan pada zaman dulu, anak-anak bermain bola di sore hari merupakan aktivitas lumrah dan ditunggu-tunggu oleh anak-anak setelah pulang sekolah.

    “Gocek gue kalau bisa sini!,” teriak salah satu anak.

    Warga menikmati tempat itu dengan cara beragam. Ada yang menggelar tikar, duduk-duduk di atas rumput, bahkan ada yang sambil berkaraoke.

    Suasana Hutan Kota Penjaringan ini memang begitu nyaman dan sangat mendukung untuk hanya sekadar menurunkan tensi badan dan pikiran.

    Sembari berkeliling, ternyata hutan kota itu memiliki labirin yang bisa untuk saat berkunjung ke sini. Labirin tersebut dibuat dari deretan pohon pucuk merah, walaupun tak begitu menantang karena masih terdapat celah di antara deretan pohonnya tapi cukup untuk membuat senang.

    Saat masuk ke dalam labirin tak ada rintangan serius, meski tetap harus mencari jalan keluar yang benar tapi kita bisa menembus celah dari pepohonan jika jalannya buntu. Selesai dengan labirin itu, tak jauh dari taman labirin terdapat bangunan menara pengawas yang tinggi.

    Masyarakat tak hanya bersantai di bawah pohon saja ternyata, di atas menara pengawas juga terdapat beberapa remaja yang tengah asyik duduk-duduk. Hal itu janganlah ditiru karena berbahaya, lebih baik bersantai di bawah saja walaupun di atas sana bisa melihat sudut pandang yang lebih luas.

    Taman Hutan Kota Penjaringan, Jakarta UtaraAnak-anak bermain bola di Taman Hutan Kota Penjaringan, Jakarta Utara (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    Bagi pengunjung yang haus atau lapar, jangan khawatir di pinggiran hutan kota ini juga terdapat warung-warung kecil yang menjual berbagai minuman dan makanan. Jadi tempat ini begitu komplet, secara fasilitasnya pun terdapat toilet dan juga mushola di dekat pintu masuk hutan kota.

    Dan yang paling membuat semakin ingin berlama-lama di Hutan Kota Penjaringan yakni adanya Wifi gratis. Walaupun jangkauan sinyalnya hanya 50 meter dari titik pusat tapi cukup berguna untuk berselancar di media sosial.

    Hutan Kota Penjaringan ini buka setiap hari dari sejak pukul 05.00 hingga 19.00 WIB. Dan letaknya di Jalan Kepanduan II, Penjaringan, Jakarta Utara, tentunya untuk masuk ke hutan kota ini kamu sama sekali nggak perlu ngeluarin uang alias gratis.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Menelusuri Jejak Kejayaan Rempah Nusantara di Museum Bahari



    Jakarta

    Indonesia sohor dengan kekayaan rempah-rempah di masa lalu sampai-sampai menjadi buruan negara-negara Eropa. Jejak itu ada di Museum Bahari.

    Bangunan sejarah yang menjadi saksi bisu kejayaan rempah-rempah nusantara adalah Museum Bahari di Penjaringan, Jakarta Utara. Bangunan tersebut dulu merupakan gudang penyimpanan rempah-rempah dan dibangun oleh seorang arsitek asal Belgia bermana Jacques de Bollan.

    “Museum Bahari dulunya itu adalah gudang rempah-rempahnya VOC dan dibangunnya itu tahun 1652. Tapi dulunya itu bentuknya tidak seperti ini, bentuknya itu hanya rumah bertingkat biasa terus mulai dibangun sepanjang ini itu 1718 dan itu bertahap serta bisa dilihat dari pintu-pintu di Museum Bahari,” kata Educator Museum Bahari, Dita Amelia, kepada detikTravel, Rabu (26/6/2024).


    Di kawasan gudang rempah ini terdapat beberapa bangunan dan bangunan utama gudang rempah ini dari tiga lantai. Setiap lantai gudang penyimpanan itu memiliki fungsinya masing-masing, lantai pertama sebagai tempat penyimpanan rempah, lantai dua untuk pengemasan rempah-rempah, dan lantai ketiga dipakai untuk tempat menjemur rempah-rempah.

    Dan sebagian besar bangunan di Museum Bahari ini masih serupa dengan masa lalu, material kayu yang ada pun masih kokoh. Dita menjelaskan kalau bangunan ini masih sama dengan saat masih berjaya. Ia juga menerangkan ada dua jenis kayu yang dipakai sebagai material rangka untuk bangunan ini.

    Museum Bahari di Penjaringan, Jakarta UtaraMuseum Bahari di Penjaringan, Jakarta Utara (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    “Ini bangunan masih sama kaya dulu, ada beberapa yang dari kayu ulin dan beberapa dari kayu jati. Kayu ulinnya itu dari Kalimantan dan jatinya itu dari daerah Jatinegara,” kata dia.

    Ia pun mengatakan hal unik tentang jalan-jalan di kawasan Jakarta yang menggunakan nama perkebunan. Ya, karena dahulu saat Belanda menduduki Nusantara banyak perkebunan seperti seperti kebun kacang, kebun jeruk, kebun sirih dan masih banyak lagi.

    Sembari berjalan mengelilingi tiap sudut di museum ini, Dita terus memberikan informasi tentang sejarah dari bangunan ini sejak awal hingga menjadi museum. Lalu diselingi dengan cerita tentang bangunan yang dipakai sebagai gudang rempah.

    “Dulu rempah-rempahnya itu kebetulan dari seluruh Nusantara itu dikirimnya ke sini, ada lada hitam, cengkeh, biji pala, terus ada kayu manis, kembang lawang, ada cabe Jawa, jinten. Tapi yang paling populer dicari sama bangsa Eropa itu ada empat rempah-rempah yaitu lada hitam, biji pala, cengkeh, dan kayu manis,” ujar Dita.

    “Rempah-rempah satu kilogramnya itu sebanding dengan satu batang emas, macam-macam semua rempah-rempah itu sekilo sebanding dengan satu batang emas. Itulah kenapa kita dijajah karena harga (rempah) yang mahal dan fungsinya yang banyak,” sambung dirinya.

    Di salah satu ruangan juga terdapat pajagan rempah-rempah yang menjadi komoditas pada zaman dulu hingga kini. Menurut Dita ruangan itu sebagai informasi juga kepada pelajar yang belum tahu tentang rempah-rempah dan menariknya rempah-rempah tersebut merupakan rempah-rempah asli bukan imitasi jadi ketika berada di dekat ruangan dan tentunya di dalam ruangan tersebut semerbak wangi rempah langsung menusuk hidung.

    Museum Bahari di Penjaringan, Jakarta UtaraMuseum Bahari di Penjaringan, Jakarta Utara (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    Sejarah yang menarik yang dimiliki oleh Indonesia sebagai negara yang memiliki keanekaragaman dan melimpahnya variasi rempah. Sebagai informasi, setelah perginya Belanda dari tanah yang kaya itu masuklah Jepang dan mengganti fungsi gudang rempah ini sebagai gudang logistik tentara Jepang.

    “Terus pas kita merdeka ini dijadikan sebagai gudang dari kantor PLN dan pas zaman Gubernur Ali Sadikin itu 1977 tanggal tujuh bulan tujuh, baru diresmikan sebagai cagar budaya yaitu Museum Bahari. Dan kenapa diresmikan sebagai Museum Bahari karena letak bangunannya itu dekat dengan laut, di mana bahari itu artinya kelautan dan kita juga letaknya dekat dengan Pelabuhan Sunda Kelapa,” kata Dita.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • 10 Tempat Wisata Outdoor Jakarta yang Cocok untuk Liburan Anak


    Jakarta

    Libur panjang sekolah segera tiba, anak-anak pasti akan senang jika diajak berlibur ke tempat wisata. Liburan ke lokasi wisata outdoor dengan udara segar akan sangat menggembirakan bagi mereka. Di sana, mereka bisa bermain dengan penuh semangat dan melepaskan penat setelah waktu sekolah yang panjang.

    Tenang saja karena untuk anak-anak kami juga memilih tempat wisata yang edukatif sehingga selain si kecil senang bermain, mereka juga akan banyak belajar dan menambah pengalaman baru.

    Tempat Wisata Jakarta Ramah Anak

    Nah khusus untuk daerah Jakarta, berikut 10 tempat wisata outdoor Jakarta yang cocok untuk liburan anak.


    1. Tebet Eco Park

    Suasana di Tebet Eco Park hari Sabtu (25/5/2024) (Belia/detikcom)Foto: Suasana di Tebet Eco Park hari Sabtu (25/5/2024) (Belia/detikcom)

    Dilansir dari laman resmi Tebet Eco Park (27/6/2024), Tebet Eco Park (TEP) merupakan taman kota yang didedikasikan untuk masyarakat dan lingkungan. Terletak di Jakarta Selatan, Tebet Eco Park merupakan ruang terbuka hijau dengan luas area 7,3 hektare.

    Anak-anak bisa banyak belajar tentang lingkungan jika berkunjung ke sana. Selain itu mereka juga akan sangat senang karena TEP menyediakan zona Children Playground yang berisi wahana anak-anak yang sangat seru. Kamu juga bisa duduk bersantai menikmati udara segar, olahraga di outdoor fitness, jogging, dan berburu spot foto di Tebet Eco Park.

    • Harga Tiket Masuk : Gratis
    • Jam Operasional : Sesi pagi: 06.00-11.00 WIB, sesi sore: 13.00-18.00 WIB.
    • Lokasi : Jl. Tebet Barat Raya, RT.1/RW.10, Tebet Bar., Kec. Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

    2. Taman Margasatwa Ragunan

    Taman Margasatwa Ragunan (TMR), Jakarta, menjadi tempat wisata favorit warga Jakarta dan sekitarnya. TMR dipadati pengunjung saat libur Waisak hari ini.Foto: Andhika Prasetia

    Taman Margasatwa Ragunan yang terletak di Pasar Minggu, Jakarta, adalah sebuah kebun binatang. Tempat ini sangat cocok untuk kegiatan edukasi anak-anak dan sebagai destinasi liburan yang ramah keluarga.

    Kawasan wisata seluas 147 hektar ini menyimpan sekitar 2000 koleksi satwa dari 200 spesies meliputi reptil, mamalia, burung, hingga ikan. Selain itu disini juga terdapat sekitar 20.000 jenis pohon yang bisa dieksplor pengunjung. Anak-anak tentu akan sangat senang mengenal flora dan fauna yang ada di Taman Margasatwa Ragunan.

    • Harga Tiket Masuk: Anak-anak Rp 3.000, dewasa : Rp 4.000
    • Jam Operasional : 07.00 – 16.00 WIB
    • Lokasi : Jl. Harsono RM No.1, Ragunan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

    3. Taman Mini Indonesia Indah

    Sejumlah wisatawan mengantre menaiki kendaraan pengantar ke anjungan-anjungan provinsi dan museum di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Jumat (12/4/2024). Pada hari ketiga lebaran, TMII diprediksi dipadati lebih puluhan ribu orang wisatawan yang akan datang.Foto: Grandyos Zafna

    Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tentu sudah tidak asing di telinga. Terletak di Jakarta Timur, TMII sering disebut juga sebagai miniatur Indonesia. Dilansir dari website Taman Mini pada Kamis (27/6/2024), TMII menampilkan nusantara yang kaya akan pesona budaya, flora, fauna dan segudang cerita yang tidak ada habisnya.

    Di sana anak-anak akan mengenal lebih banyak tentang Indonesia melalui rumah adat, berbagai kebudayaan, satwa endemik, rumah ibadah dan sebagainya. Di sana juga terdapat wahana rekreasi yang tentunya akan sangat menyenangkan.

    • Harga Tiket Masuk: Weekday Rp 85.000, weekend : Rp 95.000
    • Jam Operasional : 05.00 – 20.00 WIB
    • Lokasi : Jl. Taman Mini Indonesia Indah, Ceger, Kec. Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

    4. Istana Susu Cibugary

    Istana Susu Cibugary merupakan wisata agro yang bertema tentang pengolahan susu di Cipayung, Jakarta Timur. Di sana anak-anak akan banyak belajar tentang pengolahan susu mulai dari ternak sapi, panen susu, pengenalan manfaat susu, dan minum susu bersama. Pengunjung juga bisa merasakan pengalaman memerah susu secara langsung.

    Tempat ini juga sering dijadikan destinasi wisata untuk pelajar mulai dari TK hingga mahasiswa yang ingin belajar tentang pengolahan susu. Lokasinya yang sejuk dan menyegarkan pasti akan membuat kamu dan si kecil betah berlama-lama di Istana Susu Cibugary.

    • Harga Tiket Masuk : Rp 25.000
    • Jam Operasional : 08.00 – 17.00 WIB
    • Lokasi : Peternakan Raya No.12, RT.1/RW.2, Pd. Ranggon, Kec. Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

    5. Ancol

    Peserta menerbangkan layang-layang saat mengikuti Festival Layang-layang Internasional 2024 di Pantai Lagoon, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Sabtu (22/6/2024). Festival tersebut diselenggarakan untuk memeriahkan HUT ke-497 Jakarta yang diikuti sekitar 20 orang peserta internasional dan 90 peserta nasional yang berlangsung hingga 7 Juli 2024. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/YUPeserta menerbangkan layang-layang saat mengikuti Festival Layang-layang Internasional 2024 di Pantai Lagoon, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Sabtu (22/6/2024). Foto: ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT

    Ancol merupakan taman rekreasi terbesar di Indonesia yang terletak di Jakarta Utara. Salah satu tempat wisata outdoor yang menarik dari Ancol adalah Ecopark Ancol.

    Dilansir dari website Ancol (27/6/2024), Ecopark Ancol menawarkan nilai-nilai edukasi (edutainment) dan petualangan (adventure) dengan pendekatan green lifestyle, menjadi ruang terbuka bagi pengunjung Ancol Taman Impian untuk mengeksplorasi pengetahuan botani dan rekreasi outdoor.

    Tempat ini memiliki lahan seluas hampir 34 hektar. Di sana anak-anak pasti akan sangat puas bermain dan banyak belajar pada wahana yang ada di Ecopark Ancol.

    6. Setu Babakan

    Mengenal Lebih Dalam Budaya Betawi di Setu BabakanFoto: Rifkianto Nugroho

    Setu Babakan merupakan tempat wisata yang menawarkan wisata budaya, agro, hingga wisata air. Tempat ini menjunjung tema kebudayaan Betawi. Jadi selain anak-anak akan seru bermain, mereka juga tentunya akan mengenal dan belajar tentang budaya Betawi.

    Di sana juga tersedia ruangan outdoor untuk wisata agro. Melalui wisata agro, pengunjung akan berjalan-jalan mengeksplor pohon-pohon khas Betawi yang ditanam di area kampung MH. Thamrin dan khususnya di pulau yang berada di tengah danau/Setu Babakan (kampung Ismail Marzuki).

    Di danau Setu Babakan kamu juga bisa mengajak anak-anakmu menaiki wahana sepeda air. Selain itu kamu juga bisa berolahraga, bersepeda, atau hanya bersantai menikmati ketenangan danau setu babakan bersama anak-anak.

    • Harga Tiket Masuk: Anak-anak Rp 10.000, dewasa : Rp 15.000
    • Jam Operasional: Selasa – Minggu : 09.00-15.00 WIB
    • Lokasi: Jl. Moch Kahfi 2, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

    7. TWA Angke Kapuk

    Taman mangrove di KapukFoto: Wahyu Setyo

    TWA (Taman Wisata Alam) Angke Kapuk juga merupakan salah satu area hijau yang ada di Jakarta Utara. Dilansir dari website Taman Mangrove Jakarta (27/6/2024) TWA Angke Kapuk merupakan kawasan konservasi alam mangrove seluas 99,82 Ha yang dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi.

    Kamu dan anak-anakmu bisa melihat berbagai jenis burung air, hijaunya pohon bakau, dan suasana rawa yang ada disini. Si kecil juga pasti akan sangat senang jika diajak naik perahu menjelajahi rawa yang ada di TWA Angke Kapuk.

    • Harga Tiket : Mulai dari Rp 28.500
    • Jam Operasional : 08.30 – 17.30 WIB
    • Lokasi : Jl. Garden House No.4, RT.8/RW.3, Kamal Muara, Kec. Penjaringan, Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14470, Indonesia.

    8. Museum Satria Mandala

    Museum Satria Mandala di Jl Gatot Subroto, Jakarta, menyimpan sejarah perjuangan bangsa, khususnya TNI. Yuk kita lihat koleksinya.Museum Satria Mandala di Jl Gatot Subroto, Jakarta, menyimpan sejarah perjuangan bangsa, khususnya TNI. Yuk kita lihat koleksinya. Foto: Ari Saputra

    Museum Satria Mandala menyimpan sejarah militer, khususnya perjuangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam mempertahankan Tanah Air. Sebagai sarana wisata edukasi, museum ini melestarikan nilai-nilai perjuangan TNI dari tahun 1945 dan menyajikannya secara visual kepada masyarakat.

    Setelah belajar banyak tentang sejarah, kamu juga bisa piknik di taman piknik di ruangan hijau terbuka Museum Satria Mandala. Kamu juga bisa bersantai dan menikmati kudapan lezat yang tersedia di sana.

    • Harga Tiket Masuk: Anak-anak Rp 2.500, dewasa Rp 5.000
    • Jam Operasional : 08.00 – 21.00 WIB
    • Lokasi : Jl. Gatot Subroto No.14, RT.6/RW.1, Kuningan Bar., Kec. Mampang Prpt., Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

    9. The Playground Kemang

    The Playground Kemang merupakan taman bermain anak-anak yang lengkap seperti jungkat-jungkit, ayunan, perosotan, lapangan, hingga fasilitas bermain air. Si kecil bisa puas mencoba berbagai aktivitas fisik pada semua wahana yang ada di sana.

    Di sana juga terdapat lapangan, area hijau, dan gazebo untuk bersantai dan menikmati udara segar. Fasilitasnya juga sangat lengkap jadi tidak usah khawatir jika berkunjung ke sana.

    • Harga Tiket Masuk: Weekdays : Rp 75.000, weekend Rp 90.000
    • Jam Operasional : 08.00 – 17.00 WIB
    • Lokasi : Jl. Kemang Dalam III No.B6, RT.4/RW.3, Bangka, Kec. Mampang Prpt., Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

    10. Kepulauan Seribu

    Pulau Payung di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.Pulau Payung di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Foto: Buchori Muslim

    Membahas wisata outdoor atau wisata alam di Jakarta tentu tak boleh melewatkan Kepulauan Seribu. Gugusan pulau yang ada di Utara Jakarta ini memiliki udara yang segar dan pemandangan yang eksotis.

    Kepulauan Seribu juga menawarkan wisata edukasi, misalnya tentang konservasi penyu yang ada di Pulau Pramuka. Selain itu kamu juga bisa menjelajahi pulau lain yang ada di Kepulauan Seribu yang tak kalah eksotis.

    • Harga Tiket Kapal : Mulai Rp 46.000 – Rp 895.000

    Itu dia ulasan mengenai tempat wisata outdoor di Jakarta yang cocok untuk liburan anak. Selamat liburan!

    (fds/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Harga Tiket, Fasilitas, dan Lokasi


    Jakarta

    Curug Cibulao adalah tempat wisata alam di Bogor yang memiliki keindahan alam menarik. Air terjun ini bening dan berwarna kebiruan. Aktivitas seru yang paling menyenangkan di sini adalah meloncat dari tebing menuju ke aliran curug.

    Curug ini memiliki dua leuwi atau kolam dengan kedalaman yang berbeda. Leuwi pertama sedalam 8 meter dan kedua sedalam 5 meter. Tebingnya memiliki ketinggian bervariasi, mulai dari 3 meter.

    Simak informasi lengkap mengenai Curug Cibulao dalam artikel ini, mulai dari asal-usul nama, aktivitas seru di Curug Cibulao, harga tiket masuk, fasilitas, lokasi dan rutenya.


    Asal-usul Nama Curug Cibulao

    Dilansir dari artikel detikTravel dan situs Desa Megamendung, asal-usul nama Curug Cibulao adalah berasal dari warna airnya yang kebiruan. Warna biru ini menyerupai blau yang berwarna biru. Sementara ci berarti air, maka disebut Cibulao.

    Namun sebenarnya curug ini memiliki nama asli Curug Hulu. Disebut hulu karena curug ini berada paling atas dibandingkan air terjun lainnya yang sama-sama berada di aliran sungai Cirangrang.

    Keberadaan Curug Cibulao penting bagi warga sekitar karena menjadi sumber air untuk minum dan kebutuhan dapur lainnya.

    Aktivitas Seru di Curug Cibulao

    Berikut ini sejumlah aktivitas seru yang bisa dilakukan di Curug CIbulao:

    1. Meloncat dari Tebing

    Buat yang ingin seru-seruan, traveler bisa coba meloncat dari tebing menuju ke leuwi. Aktivitas seru ini lebih enak dilakukan di leuwi pertama yang lebih dalam. Sebelum meloncat, kalian harus naik terlebih dahulu ke tebing. Tapi hati-hati ya, karena batu-batunya licin.

    2. Bermain Air

    Jika kalian tidak berani meloncat dari tebing, cukup bermain air saja di leuwi kedua yang lebih dangkal. Airnya yang sejuk akan menyegarkan badanmu, terutama saat siang hari. Jangan lupa pakai pelampung untuk keselamatan.

    3. Trekking

    Untuk mencapai curug, pengunjung harus berjalan kaki terlebih dahulu dari parkiran sekitar 10 menit. Selama perjalanan, kalian akan melewati jalan berbatu sambil menikmati suasana alam.

    Kalian juga bisa melakukan susur sungai. Tapi alangkah baiknya aktivitas ini ditemani oleh pemandu agar tidak tersesat.

    4. Camping

    Di kawasan Curug Cibulao, detikers juga bisa camping atau berkemah dengan mendirikan tenda di camping ground yang sudah disediakan. Di kawasan ini, kamu tidak hanya menikmati air terjun, tetapi juga pemandangan Gunung Gede Pangrango.

    Harga Tiket

    Pengunjung akan dikenakan biaya di Curug Cibulao, termasuk tiket masuk, tarif parkir, sewa pelampung, dan sewa camping ground.

    • Harga tiket masuk: Rp 15.000
    • Parkir motor: Rp 5.000
    • Sewa pelampung: Rp 10.000
    • Camping ground: Rp 35.000/orang/malam

    Fasilitas

    Beberapa fasilitas yang ada di Curug Cibulao yakni:

    • Warung
    • Mushola
    • Toilet
    • Pelampung

    Lokasi dan Rute Curug Cibulao

    Curug Cibulao berlokasi di kaki Gunung Hambalang Barat, yakni di di Desa Megamendung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dari pusat Kota Bogor, jaraknya sekitar 26 km atau sekitar 70 menit perjalanan.

    Rute ke Curug Cibulao yakni mengarah ke Puncak. Kalian bisa melewati jalur tol Jagorawi maupun Curug Panjang. Dari Jalan Raya Puncak, belok kiri menuju Desa Cilember kemudian belok kiri menuju ke Jalan Pesantren.

    Itulah tadi informasi mengenai Curug Cibulao, mulai dari asal-usul nama, aktivitas seru di Curug Cibulao, harga tiket masuk, fasilitas, lokasi dan rutenya.

    (bai/row)



    Sumber : travel.detik.com

  • Daya Tarik, Aktivitas Seru, dan Harga Tiket Masuk


    Jakarta

    Ada banyak tempat wisata di Batam yang patut dikunjungi, salah satunya adalah Pantai Nongsa. Pantai ini selalu ramai dikunjungi oleh penduduk lokal serta wisatawan lokal maupun mancanegara.

    Salah satu daya tarik dari pantai ini adalah view matahari terbenam. Selain itu, pasir pantainya yang putih juga membuat pengunjung betah berlama-lama di sini.

    Ada berbagai aktivitas seru dan menarik yang bisa dilakukan di Pantai Nongsa. Daripada penasaran, simak ulasannya dalam artikel ini.


    Daya Tarik Pantai Nongsa

    Daya tarik utama Pantai Nongsa adalah melihat langsung sunset dari pinggir pantai. Ada beberapa spot menarik bagi pengunjung untuk menikmati matahari terbenam sambil bersantai di pinggir pantai.

    Lalu, ombak di pantai ini juga cukup tenang, sehingga cocok bagi travelers yang ingin berenang dan bermain dengan si kecil. Namun, tetap waspada dan selalu perhatikan anak-anak saat berenang agar tidak terlalu ke tempat yang dalam.

    Selesai berenang, kamu bisa bersantai menikmati cuaca cerah di bawah pohon kelapa. Di sekitar Pantai Nongsa juga terdapat warung dan penjual makanan, jadi jangan khawatir kalau perut sudah lapar.

    Dilansir situs Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, daya tarik lainnya dari Pantai Nongsa adalah pasir pantainya yang putih dan bersih, sehingga cocok untuk anak-anak yang ingin bermain pasir. Jangan lupa untuk berfoto dengan latar belakang laut biru dan pasir putih pantai, kemudian upload ke media sosial.

    Aktivitas Seru di Pantai Nongsa

    Ada banyak aktivitas seru yang bisa dilakukan di Pantai Nongsa. Maka dari itu, tempat wisata ini sangat cocok bagi detikers yang ingin berlibur bareng teman, keluarga, hingga pasangan.

    Sejumlah aktivitas seru yang bisa dilakukan di Pantai Nongsa di antaranya:

    • Berenang
    • Bermain pasir
    • Bersantai di pinggir pantai
    • Menikmati matahari terbenam (sunset)
    • Bermain bola/voli pantai
    • Melihat pemandangan laut
    • Menikmati kuliner khas Batam sambil duduk di atas pasir putih.

    Fasilitas di Pantai Nongsa

    Demi memberikan kenyamanan bagi para wisatawan, Pantai Nongsa memiliki fasilitas yang cukup lengkap, yaitu:

    • Toilet
    • Kamar mandi bilas
    • Tempat makan
    • Warung
    • Mushola
    • Lahan parkir yang luas
    • Tempat penginapan.

    Harga Tiket Masuk ke Pantai Nongsa

    Seperti tempat wisata pada umumnya, pengunjung yang datang ke Pantai Nongsa akan dikenakan tiket masuk. Dari catatan detikTravel, untuk harga tiket masuk (HTM) Pantai Nongsa dipatok sebesar Rp 10.000 per orang.

    Apabila detikers membawa kendaraan, maka dikenakan biaya parkir sebesar Rp 10.000 untuk mobil dan Rp 5.000 untuk sepeda motor.

    Bagi travelers yang datang bersama teman atau keluarga, tersedia juga pondok untuk bersantai. Harga sewanya sebesar Rp 50.000 saat weekday dan Rp 100.000 ketika weekend. Untuk pondok dengan ukuran yang lebih besar harga sewanya Rp 150.000.

    Sebagai catatan, harga di atas dapat berubah sewaktu-waktu.

    Pantai Nongsa terletak di sebelah utara Batam, tepatnya di sepanjang Pasir Kampung Nongsa, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam. Akses menuju Pantai Nongsa terbilang mudah karena bisa dilalui kendaraan.

    Dari pantauan di Google Maps, jarak dari Alun-alun Batam Centre menuju Pantai Nongsa sekitar 20 kilometer atau 30 menit dengan berkendara mobil.

    Apabila berangkat dari Bandara Internasional Hang Nadim, jaraknya lebih dekat menuju Pantai Nongsa, yaitu sekitar 13 kilometer atau 15 menit dengan mengendarai mobil.

    Demikian pembahasan mengenai Pantai Nongsa yang merupakan salah satu pantai terkenal di Batam. So, apakah travelers tertarik berkunjung ke sana?

    (ilf/fds)



    Sumber : travel.detik.com

  • Situ Cipondoh, Tempat Asyik untuk Bersantai di Tangerang


    Jakarta

    Tangerang memiliki sejumlah tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya adalah Situ Cipondoh. Lokasinya yang tak jauh dari Kota Tangerang membuat Situ Cipondoh ramai dikunjungi masyarakat.

    Situ Cipondoh menjadi salah satu tempat wisata bagi warga Tangerang yang ingin bersantai. Selain itu, travelers juga bisa berolahraga di pagi atau sore hari sambil menikmati view situ yang luas.

    Sebenarnya, masih ada sejumlah aktivitas menarik yang bisa dilakukan di Situ Cipondoh. Penasaran? Simak ulasannya dalam artikel ini.


    Daya Tarik Situ Cipondoh

    Situ Cipondoh memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Maka tak heran, tempat ini selalu ramai dikunjungi warga, terutama saat akhir pekan dan musim liburan.

    Daya tarik utama dari Situ Cipondoh adalah suasananya yang menenangkan. Di sini, travelers bisa bersantai sambil healing sejenak untuk menenangkan pikiran.

    Mengutip situs resmi Pemerintah Kota Tangerang, Situ Cipondoh kini telah memiliki jogging track. Jadi, pengunjung bisa berolahraga di pagi dan sore hari sambil menikmati udara segar di sekitar situ.

    Daya tarik lainnya dari Situ Cipondoh yakni terdapat area untuk bersantai yang ditutupi atap sehingga tidak kepanasan atau kehujanan. Menariknya, atap di area ini memiliki bentuk seperti Sydney Opera House di Australia.

    Selain untuk berolahraga dan bersantai, Situ Cipondoh juga menjadi salah satu tempat mancing favorit warga Tangerang, lho. Maka jangan heran kalau banyak pengunjung, terutama bapak-bapak, yang tengah memancing ikan di tepi situ.

    Kalau datang ke Situ Cipondoh bersama anak-anak, ajak mereka untuk bermain sepeda air atau disebut juga bebek-bebekan. Kamu bisa berkeliling Situ Cipondoh sambil melihat aktivitas warga. Namun jangan terlalu jauh dan tetap hati-hati saat bermain sepeda air.

    Warga menikmati suasana wisata air di Situ Cipondoh pada musim libur lebaran Idul Fitri 1442 H, di Kota Tangerang, Banten, Sabtu (15/5/2021). Sejumlah pengunjung terlihat mengabaikan protokol kesehatan seperti melepas masker saat bermain atau menunggu wahana perahu wisata.Salah satu aktivitas di Situ Cipondoh (Ari Saputra)

    Perut sudah mulai lapar? Jangan khawatir, di Situ Cipondoh terdapat penjual makanan dan minuman yang rasanya lezat. Untuk mengisi perut, travelers bisa mencoba berbagai makanan di Saung Makan Jagarawa.

    Kalau sudah sore, paling enak bersantai sambil menyeruput secangkir kopi dan makan berbagai camilan. Nah, di Situ Cipondoh juga terdapat kedai kopi kekinian menawarkan pemandangan situ, namanya Niskala Coffee.

    Jika ingin bersantai dengan biaya yang lebih terjangkau, di tepi Situ Cipondoh juga terdapat warung-warung kecil yang menjual minuman segar, seperti es kelapa muda. Paling cocok diminum saat siang atau sore hari saat cuaca sedang cerah.

    Nah, cuaca yang sedang cerah juga bisa kamu manfaatkan untuk menikmati sunset. Terdapat sejumlah spot foto bagi travelers yang ingin berburu pemandangan matahari terbenam di Situ Cipondoh.

    Harga Tiket Masuk Situ Cipondoh

    Warga menikmati suasana wisata air di Situ Cipondoh pada musim libur lebaran Idul Fitri 1442 H, di Kota Tangerang, Banten, Sabtu (15/5/2021). Sejumlah pengunjung terlihat mengabaikan protokol kesehatan seperti melepas masker saat bermain atau menunggu wahana perahu wisata.Suasana di Situ Cipondoh (Ari Saputra)

    Pengunjung yang datang ke Situ Cipondoh tidak dikenakan tarif tiket masuk alias gratis. Namun, untuk mencoba berbagai wahana air akan dikenakan biaya mulai dari Rp 10.000 per orang.

    Jika datang membawa kendaraan maka travelers dikenakan biaya parkir. Untuk sepeda motor sebesar Rp 3.000 dan mobil Rp 5.000.

    Situ Cipondoh terletak di Jalan KH Hasyim Ashari Nomor 99, RT/RW 02/09, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Banten. Lokasinya yang berada di dekat tengah kota membuat Situ Cipondoh sangat mudah diakses dengan kendaraan.

    Dari pantauan Google Maps, jika travelers berangkat dari Kantor Pemerintah Kota Tangerang, jaraknya hanya sekitar 6 kilometer atau sekitar 25 menit dengan berkendara mobil.

    Bagi warga Jakarta yang ingin berlibur ke Situ Cipondoh, disarankan untuk menggunakan moda transportasi umum seperti KRL Commuter Line, lalu turun di Stasiun Tangerang. Dari stasiun, jaraknya sekitar 6,5 kilometer atau 30 menit dengan berkendara mobil.

    Demikian ulasan singkat mengenai Situ Cipondoh, salah satu tempat wisata favorit warga Tangerang. Tertarik berkunjung ke sini?

    (ilf/fds)



    Sumber : travel.detik.com