Tag Archives: wisata

25 Wisata Yogyakarta Terpopuler dan Direkomendasikan, Ada Kampung Wisata


Jakarta

Wisata Yogyakarta menyimpan kenangan indah yang membuat siapapun ingin kembali dan mengeksplor lebih banyak tempat. Tidak hanya warga lokal, wisatawan mancanegara juga ketagihan berkunjung di kota istimewa ini.

Terdapat berbagai pilihan destinasi di pusat Kota Yogyakarta mulai dari sejarah, budaya, religi, kuliner, hingga berbagai desa wisata. Desa wisata adalah wujud perhatian Dinas Pariwisata setempat untuk menjaga dan mengenalkan tradisi pada masyarakat luas.

Lantas apa saja wisata Yogyakarta terbaik dan populer yang wajib dikunjungi? Berikut rekomendasi yang dikutip dari laman resmi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta.


Rekomendasi Wisata Terbaik dan Populer Yogyakarta

Kota Yogyakarta tidak hanya terkenal sebagai kota pelajar, melainkan juga dengan destinasi yang menarik. Daftar wisata sejarah, budaya, dan edukasi tersedia lengkap sebagai berikut.

1. Keraton Yogyakarta

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah landmark penting dan bersejarah yang wajib dikunjungi di Yogyakarta. Meskipun sudah populer dan mainstream, banyak wawasan tradisi dan sejarah tentang keraton yang bisa dieksplor.

Wisatawan dapat mengetahui seluk beluk kerajaan, koleksi, hingga upacara adat yang masih dipertahankan hingga saat ini. Jika beruntung, detikers dapat melihat langsung pertunjukan seni asli yang tidak bisa ditemukan di tempat wisata lainnya.

Lokasi: Jl. Rotowijayan Blok No. 1, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional:

  • Kedhaton: Selasa-Minggu (08.00-14.00 WIB)
  • Wahanarata atau Museum Kereta: Selasa-Minggu (09.00-15.00 WIB)
  • Tamansari: Setiap hari (09.00-15.00 WIB).

Harga Tiket:

a. Kedhaton

  • Anak-anak 0-2 tahun: gratis
  • Anak-anak 2-12 tahun (domestik): Rp 10.000
  • Dewasa (domestik): Rp 15.000
  • Anak-anak 2-12 tahun (mancanegara): Rp 20.000
  • Dewasa (mancanegara): Rp 25.000

b. Wahanarata (Museum Kereta)

  • Anak-anak 0-2 tahun: gratis
  • Anak-anak 2-12 tahun (domestik): Rp 15.000
  • Dewasa (domestik): Rp 20.000
  • Anak-anak 2-12 tahun (mancanegara): Rp 25.000
  • Dewasa (mancanegara): Rp 30.000

c. Tamansari

  • Anak-anak 0-2 tahun: gratis
  • Anak-anak 2-12 tahun (domestik): Rp 10.000
  • Dewasa (domestik): Rp 15.000
  • Anak-anak 2-12 tahun (mancanegara): Rp 20.000
  • Dewasa (mancanegara): Rp 25.000.

2. Museum Ulen Sentalu

Museum Ulen Sentalu adalah objek wisata bersejarah yang menawarkan koleksi budaya Jawa dari Kerajaan Mataram di Yogyakarta dan Solo. Museum ini menyimpan gamelan, lukisan, patung, batik, dan syair kuno dari masa lampau.

Wisatawan dapat memilih kategori tur yang akan diikuti selama 45 menit sesuai preferensi yang diinginkan. Tur Adiluhung Mataram mengisahkan seni dan budaya dari 4 keraton di Surakarta dan Yogyakarta. Sedangkan tur Vorstlanden menceritakan masa emas Kasultanan dan akulturasi yang terjadi melalui koleksi masterpiece Museum Ulen Sentalu.

Di sepanjang area ini juga terdapat beberapa destinasi lain seperti Kaliurang Park Botanical Garden, Lavatour Merapi Jogja, dan Taman Gardu Pandang Kaliurang.

Lokasi: Jl. Boyong No.KM 25, Kaliurang, Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman.

Jam Operasional: Selasa-Minggu (08.30-16.00 WIB).

Harga Tiket:

  • Tur Adiluhung Mataram: Rp 50.000
  • Tur Skriptorium: Rp 60.000
  • Tur Vorstenlanden: Rp 100.000
  • Sewa Tour Guide berbahasa Inggris: Rp 100.000.

3. Taman Pintar

Taman Pintar adalah wahana favorit bagi pelajar untuk bermain dan belajar dengan alat peraga yang ada. Lokasinya juga cukup strategis karena berada di dekat Benteng Vredeburg dan Jalan Malioboro.

Dikutip dari laman resminya, Taman Pintar dibangun dekat dengan Taman Budaya, Vredeburg, Gedung Agung, dan Societ Militer untuk memperkenalkan wawasan komplit kepada anak. Tidak hanya diedukasi dari sisi sains, wisata ini juga menjadi paket komplit untuk belajar sejarah dan melatih ketangkasan anak.

Lokasi: Jl. Panembahan Senopati No.1-3, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional:

  • Senin-Minggu (08.30-16.00)
  • Khusus Simulator Gempa: 10.00-11.00 WIB dan 14.00-15.00 WIB.

Harga Tiket:

  • Gedung Oval Otak (Wahana Peraga Sains dan Teknologi Interaktif): Anak Rp 14.000 dan dewasa Rp 24.000
  • Program Kreativitas Kreasi Gerabah: Rp 15.000
  • Program Kreativitas Lukis Gerabah: Rp 17.000
  • Program Kreativitas Kreasi Batik: Rp 20.000
  • Program Kreativitas Lukis Kaos: Rp 48.000
  • Zona Lalu Lintas: Rp 15.000
  • Planetarium: Rp 13.000
  • Wahana Bahari: Rp 8.000.

4. Jalan Malioboro

Jalan Malioboro adalah destinasi wajib sebelum kembali ke rumah. Pasalnya disini adalah pusat kota yang menyediakan berbagai oleh-oleh dan kuliner khas Jogja.

Wisatawan dapat melihat Kantor Gubernur dan Gedung DPRD DIY dan berkunjung ke Pasar Induk Beringharjo serta Teras Malioboro. Sejak tahun 2022, seluruh pedagang telah ditertibkan dengan rapi dan membuat suasana jalan-jalan detikers semakin nyaman.

Lokasi: Salah satu jalan yang membentang dari Tugu Yogyakarta sampai titik nol kota.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket: Gratis.

5. Museum Benteng Vredeburg

Benteng Vredeburg dalah saksi bisu terjadinya penjajahan kolonial Belanda untuk mengawasi area Keraton Yogyakarta. Mereka meletakkan tembak meriam dengan jarak dekat ke arah keraton untuk strategi penyerangan, intimidasi, dan blokade.

Museum ini sempat diambil alih oleh Jepang sebelum direbut instansi militer RI usai proklamasi kemerdekaan. Di dalamnya terdapat museum khusus perjuangan nasional yang menceritakan proses sebelum hingga setelah Indonesia merdeka.

Lokasi: Jl. Margo Mulyo No.6, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional:

  • Selasa-Kamis dan Sabtu-Minggu: 08.00-15.30 WIB
  • Jumat: 08.00-16.30 WIB
  • Senin: Libur.

Harga Tiket:

  • Anak-anak Rp 2.000
  • Dewasa Rp 3.000.

6. Museum Sonobudoyo

Meskipun terletak di dekat keraton, Museum Sonobudoyo bukan bagian dari Keraton Yogyakarta. Museum untuk pengembangan dan edukasi budaya ini dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY.

Wisatawan dapat melihat koleksi geologi, biologi, arkeologi, hingga seni rupa yang berjumlah 62 ribu. Beberapa aktivitas menarik lainnya yang bisa dilakukan seperti menonton pagelaran wayang kulit, wayang orang, wayang topeng panji, dan film dokumenter di hari-hari tertentu.

Lokasi: Jl. Margo Mulyo No.6, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional:

  • Museum: Selasa-Minggu (08.00-21.00 WIB)
  • Pagelaran Wayang Kulit: Selasa (20.00-21.30 WIB)
  • Pagelaran Wayang Orang: Rabu dan Kamis (20.00-21.15 WIB)
  • Pagelaran Wayang Topeng Panji: Jumat, Sabtu, Minggu (20.00-21.15 WIB)
  • Bioskop Sonobudoyo: Selasa-Minggu (16.00, 17.00, 19.00, dan 20.00 WIB)
  • Workshop Tatah Sungging Wayang: Selasa Wage (16.00-21.00 WIB)
  • Live Music Sonobudoyo: Selasa Wage (16.00-22.30 WIB)
  • Perpustakaan Sonobudoyo: Senin-Kamis (08.00-16.00 WIB) dan Jumat (08.00-14.30 WIB).

Harga Tiket:

  • Anak-anak: Rp 5.000/orang
  • Dewasa: Rp 10.000/orang
  • Wisatawan Mancanegara: Rp 20.000/orang
  • Pagelaran Wayang Kulit: wisatawan domestik Rp 20.000 dan mancanegara Rp 50.000
  • Pagelaran Wayang Orang: wisatawan domestik Rp 20.000 dan mancanegara Rp 50.000
  • Pagelaran Wayang Topeng: wisatawan domestik Rp 20.000 dan mancanegara Rp 50.000.

7. Alun-alun Kidul

Alun-alun kidul adalah surganya kuliner di Yogyakarta yang lengkap dengan tempat bermain anak. Sehingga wisata ini sangat ramah anak dan rombongan keluarga.

Terdapat puluhan penjual kaki lima yang berada di trotoar area Keraton. Konon dua pohon di tengah alun-alun dipercaya mampu mengabulkan keinginan wisatawan yang berhasil melewatinya tanpa melenceng dengan penutup mata.

Lokasi: Patehan, Kraton, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket: Gratis.

8. Masjid Gede Kauman

Masjid Raya Yogyakarta atau Kagungan Dalem Masjid Gedhe Kauman adalah bagian dari perkembangan islam di masa Kesultanan Yogyakarta. Masjid ini dibangun 29 Mei 1773 Masehi oleh Sri Sultah Hamengku Buwono I dan Sang Penghulu Keraton, Kyai Fakih Ibrahim Diponingrat.

Arsitektur Masjid Gedhe Kauman mengadopsi gaya Masjid Demak dengan 4 pilar utama sebagai saka guru. Setiap elemen bangunan memiliki makna filosofis tentang ilmu tasawuf dan iman kepada Allah SWT. Hingga saat ini, masjid tersebut masih digunakan untuk beberapa acara islam yang diadakan keraton dan dibuka untuk jamaah umum.

Lokasi: Patehan, Kraton, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket: Gratis.

9. Jelajah Kota Baru (Nieuwe Wijk)

Jelajah Kota Baru adalah kawasan perkampungan Eropa yang telah bercampur dengan arsitektur lokal. Wisata ini berkembang di sebelah timur Benteng Vedreburg dan Bintaran yang awalnya merupakan hunian kolonial.

Di sini, terdapat tanaman buah dan pohon-pohon besar di ruas jalan yang membuatnya semakin asri. Beberapa bangunan otentik dan klasik disini dapat menjadi spot Instagrammable yang patut diabadikan. Mulai dari RS DKT Dr. Soetarto, RS Bethesda, SMK Bopkri 1 Yogyakarta, Gereja Katholik Santo Antonius Kotabaru, Gedung RRI Yogyakarta, dan masih banyak lainnya.

Lokasi: Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket: Gratis.

10. Kampung Wisata Yogyakarta

Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta mendirikan 24 Kampung Wisata untuk melestarikan budaya. Bahkan beberapa kegiatan dilakukan untuk memenuhi acara tahunan di kancah dunia.

Terdapat berbagai aktivitas menarik di bidang edukasi dan praktik tentang sosial dan budaya di Kota Yogyakarta. Beberapa kampung wisata lain juga menghadirkan wisata sejarah, religi, dan agrowisata dengan pengalaman luar biasa.

Umumnya paket wisata dibanderol mulai Rp 100.000-an dengan tiket reservasi via laman kampungwisata.jogjakarta.go.id. Berikut beberapa daftar Kampung Wisata di Yogyakarta.

11. Tebing Breksi

Tebing Breksi adalah wisata alam dan budaya yang estetik untuk dikunjungi. Bekas penambangan batu alam ini sempat ditutup tahun 2014 karena aktivitas vulkanis dari Gunung Api Nglanggeran.

Di puncak tebing ini, wisatawan dapat melihat keindahan Kota Yogyakarta dan relief indah dari seniman lokal. Jika beruntung, detikers juga berkesempatan menonton pertunjukan musik dan menyewa Jeep.

Lokasi: Jl. Desa Lengkong, RT.02/RW.17, Gn. Sari, Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.

Jam Operasional: Setiap hari (06.00-21.00 WIB).

Harga Tiket:

  • Wisatawan domestik: Rp 10.000
  • Wisatawan mancanegara: Rp 20.000.

12. Candi Ratu Boko

Candi Ratu Boko merupakan runtuhan kerajaan atau Keraton Boko yang berada di ketinggian 195,97 meter diatas permukaan laut. Bagian candi sangat cantik dengan menggabungkan aksen Hindu dan Budha.

Terdapat prasasti berusia 792 M bernama Prasasti Abhayagiriwihara. Candi Ratu Boko sangat menarik untuk dikunjungi karena terdiri dari Candi Batukapur, Candi PemBokoran, Paseban, Pendapa, Keputren, dan gua. Bahkan sejak di gerbang wisatawan telah dimanjakan dengan keindahannya.

Lokasi: Jl. Raya Piyungan-Prambanan No.2, Gatak, Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.

Jam Operasional: Setiap hari (07.00-17.00 WIB).

Harga Tiket:

  • Anak-anak (3-10 tahun): Rp 20.000
  • Wisatawan domestik: Rp 40.000
  • Wisatawan mancanegara: 362.500.

13. Wisata Alam Pinus Pengger

Hutan alam Pinus Pengger cocok untuk seseorang yang sedang ingin menenangkan pikiran. Sejuknya pepohonan rindang menyediakan oksigen segar yang tidak bisa ditemukan di kota.

Wisata alam ini sangat cantik ketika malam hari karena wisatawan dapat melihat bintang secara jelas. Beberapa spot foto Instagramable tersedia seperti Panca Wara, jembatan, akar melingkar, dan lain-lain dengan membayar harga sewa. Objek wisata disini juga masih asri karena terdapat banyak jenis flora dan fauna di dalamnya.

Lokasi: Jl. Dlingo-Patuk, Sendangsari, Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul.

Jam Operasional: Setiap hari (08.00-21.00 WIB).

Harga Tiket: Rp 3.000/orang.

14. Candi Prambanan

Candi Prambanan adalah candi hindu terbesar di Indonesia yang cocok sebagai wisata edukasi anak. Banyak spot estetik dari candi yang bisa diabadikan di media sosial.

Pada hari tertentu, wisatawan dapat menyaksikan pertunjukan Sendratari Ramayana dan Roro Jonggrang dengan membeli tiket tambahan. Tiket dapat dibeli secara online maupun offline dengan harga bervariasi tergantung kelas yang dipilih. Harga yang dipatok untuk sendratari sekitar Rp 200.000-Rp 450.000.

Lokasi: Jl. Raya Solo-Yogyakarta No.16, Kranggan, Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.

Jam Operasional: Setiap hari (06.30-17.00 WIB).

Harga Tiket:

  • Anak-anak (domestik): Rp 25.000/orang
  • Dewasa (domestik berusia lebih dari 10 tahun): Rp 50.000/orang
  • Anak-anak (mancanegara): Rp 240.000/orang
  • Dewasa (mancanegara berusia lebih dari 10 tahun): Rp 400.000/orang.

15. Kebun Binatang Gembira Loka

Kebun Binatang Gembira Loka menjadi wisata edukasi untuk anak dan keluarga untuk mengenal flora dan fauna lebih dekat. Terdapat pengelompokan hewan di sini mulai dari zona burung, cakar, mamalia, petting zoo, primata, dan reptil.

Anak-anak dapat memberi makan hewan-hewan tertentu yang akan memberikan kesan dan pengalaman tersendiri saat dewasa. Tersedia juga toko suvenir, wahana edukasi mamalia dan aves, serta tracking untuk olahraga yang sejuk dan menyegarkan.

Lokasi: Jl. Kebun Raya No.2, Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional:

  • Senin-Jumat: 08.30-16.00 WIB
  • Sabtu-Minggu dan Libur Nasional: 08.00-16.00 WIB.

Harga Tiket:

  • Weekday: Rp 60.000/orang
  • Weekend: Rp 75.000/orang.

16. Pantai Krakal

Pantai pasir putih ini cocok untuk bersantai dan bermain pasir untuk anak-anak. Pantai Krakal memiliki pesona batu karang yang indah sebagai pembatas dengan pantai lainnya.

Wisatawan dilarang bermain air terlalu jauh karena ombaknya yang cukup kencang. Namun wisatawan masih bisa menikmati kuliner dan pemandangana matahari terbit serta tenggelam.

Lokasi: Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket:

  • Weekday: Rp 7.000/orang
  • Weekend: Rp 10.000/orang.

17. Pantai Kukup

Pantai Kukup cocok untuk wisatawan yang ingin bermain air karena daerah lautnya yang dangkal. Jernihnya air laut dan putihnya pasir pantai membuat biota laut seperti kerang terlihat jelas dari atas.

Wisatawan dapat menyebrangi jembatan untuk sampai di pulau karang bernama Jumino yang indah. Terdapat gua karang besar yang digunakan untuk berteduh di bawah teriknya matahari.

Lokasi: Ngepung, Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket: Rp 10.000/orang.

18. Pantai Baron

Pantai Baron terkenal dengan suasananya yang sejuk karena hembusan angin dan pohon tinggi di sekelilingnya. Uniknya, pantai ini diapit oleh dua bukit karang yang membuatnya estetik.

Daya tarik lain yang ada yaitu aliran sungai yang cukup deras di sisi barat pantai. Wisatawan dapat melihat seluruh pantai dari atas mercusuar hanya dengan membayar tiket Rp 5.000/orang.

Lokasi: Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket: Rp 15.000/orang.

19. Heha Sky View

Heha Sky View menawarkan spot foto estetik atau sekadar kulineran dengan pemandangan cantik Kota Yogyakarta. Tempat wisata ini mmeiliki berbagai spot menarik seperti Sky Glass, Wall Climbing, Sky Baloon, Heha Aeroplane, Reflecting Pool, dan Selfie Garden. Wisatawan harus membayar biaya sewa untuk berfoto di spot tersebut mulai dari Ro 10.000-Rp 30.000/ orang.

Lokasi: Jl. Dlingo-Patuk No.2, Patuk, Bukit, Kec. Patuk, Kabupaten Gunung Kidul.

Jam Operasional:

  • Senin-Jumat: 10.00-21.00 WIB
  • Sabtu-Minggu dan Hari Libur Nasional: 08.00-21.00 WIB

Harga Tiket: Rp 20.000/orang.

20. Heha Ocean View

Heha Ocean View adalah spot untuk melihat keindahan laut Yogyakarta dengan spot tinggi di atas karang. Berbeda dengan akses Heha Sky View yang mudah, disini pengunjung harus mendaki cukup jauh untuk sampai puncak.

Namun pemandangan diatas tidak pernah gagal untuk memuaskan dan melepaskan penat para pengunjungnya. Tiket masuk akan lebih hemat ketika detikers membeli paket kunjungan untuk Heha Ocean View dan Heha Sky View yaitu Rp 25.000/orang. Spot foto disini juga terbilang lebih beragam dengan patokan harga yang masih sama.

Lokasi: Bolang, Girikarto, Panggang, Kabupaten Gunungkidul.

Jam Operasional:

  • Senin-Jumat: 10.00-21.00 WIB
  • Sabtu-Minggu dan Hari Libur Nasional: 08.00-21.00 WIB.

Harga Tiket: Rp 20.000/orang.

21. Tugu Jogja

Landmark Jogja lainnya ini tidak boleh terlewat untuk dikunjungi. Berada tepat di tengah kota, keindahan Tugu Jogja bisa dinikmati pada malam hari sambil ngopi di beberapa cafe sebrangnya. Detikers dapat mengambil foto dari atas gedung sehingga tampak keindahan Kota Yogyakarta secara menyeluruh.

Lokasi: Jl. Jend. Sudirman, Gowongan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket: Gratis.

22. Obelix Hiils

Obelix Hills menjadi tempat nongkrong Gen Z yang estetik dan dapat menyegarkan pikiran. Pasalnya wisatawan dapat menikmati kuliner dengan pemandangan perbukitan yang hijau di sekelilingnya.

Terdapat live music setiap malam hari yang menambah suasana semakin syahdu. Terdapat beberapa spot foto berbayar mulai dari Rp 15.000-Rp 30.000 dengan menawarkan berbagai angle yang estetik. Misalnya Single Swing, Double Swing, Eagle Nest, dan Skywalk.

Lokasi: Dusun Klumprit I-II, Wukiharjo, Kapanewon, Prambanan, Kabupaten Sleman.

Jam Operasional:

  • Senin-Jumat: 10.00-21.00 WIB
  • Sabtu-Minggu dan Hari Libur Nasional: 07.00-21.00 WIB.

Harga Tiket:

  • Weekday: Rp 20.000/orang
  • Weekend: Rp 25.000/orang.

23. Pantai Parangtritis

Pantai Parangtritis menjadi destinasi terdekat dari Kota Yogyakarta yang dapat dikunjungi 24 jam. Wisatawan dapat menikmati sunrise, sunset, atau sejuknya deburan pantai di malam hari disini.

Aktivitas menarik di siang hari yang dapat dilakukan seperti naik andong, ATV, maupun bermain di gumuk pasir. Wisatawan juga bisa mengabadikan momen di setiap sudut yang cantik dan menikmati olahan seafood khas pantai di Bantul.

Lokasi: Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket: Rp 15.000/orang.

24. Taman Nasional Gunung Merapi

Taman Nasional Gunung Merapi adalah objek wisata alam sekaligus sejarah dengan keberadaan museum di dalamnya. Wisatawan yang hobi menjelajah dan memacu adrenalin dapat menikmati aktivitas seru di dalamnya.

Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan seperti trekking, mengunjungi museum, maupun sekedar berfoto di area Bunker Kaliadem. Umumnya wisatawan akan membeli paket Lava Tour yang berada di kisaran Rp 450.000/orang untuk mengelilingi seluruh area.

Lokasi: Jl. Kaliurang KM 22,6, Hargobinangun, Pakem, Area Hutan, Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman.

Jam Operasional: Setiap hari (09.00-15.00 WIB).

Harga Tiket: Rp 5.000/orang.

25. Jogja Bay Waterpark

Jogja Bay Waterpark adalah wisata air terbesar di Asia Tenggara yang diresmikan langsung oleh Sri SUltan Hamengkubuwono X. Destinasi ini cocok untuk rekreasi keluarga karena memiliki 19 wahana di dalamnya.

Tidak hanya berenang dan bermain air, anak-anak juga bisa menikmati wahana lainnya yang tidak kalah asyik seperti roller coaster mini dan museum air. Berbagai fasilitas juga tersedia sehingga membuat siapapun yang berkunjung merasa puas.

Lokasi: Jl. Utara Stadion, Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman.

Jam Operasional: Setiap hari (09.00-16.00 WIB) .

Harga Tiket:

  • Dewasa (Senin-Jumat): Rp 90.000
  • Anak-anak (Senin-Jumat): Rp 60.000
  • Dewasa (Sabtu-Minggu): Rp 100.000
  • Anak-anak (Sabtu-Minggu): Rp 75.000
  • Anak usia 0-2 tahun: gratis
  • Orang tua berusia lebih dari 65 tahun: Rp 60.000.

Lokasi wisata Yogyakarta dalam tulisan ini tidak hanya meliputi kota, namun juga area provinsi. Tentunya masih banyak lokasi wisata lain di Yogyakarta yang bisa dikunjungi selama musim liburan.

Sebelum berkunjung, pastikan detikers telah update informasi destinasi wisata lebih dulu. Informasi terbaru membantu detikers bisa berwisata dengan aman dan nyaman.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

10 Tempat Wisata Tawangmangu untuk Liburan Idul Adha 2024


Jakarta

Sejumlah tempat wisata Tawangmangu bisa menjadi pilihan untuk berlibur di saat Idul Adha 2024. Berada di lereng Gunung Lawu, kawasan Tawangmangu dan sekitarnya menawarkan keindahan alam dan kesejukan khas pegunungan.

Tawangmangu adalah nama kecamatan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Timur. Kecamatan sekitar Tawangmangu pun memiliki beragam tempat wisata menarik, seperti di Kecamatan Ngargoyoso dan Jenawi.

Tak perlu bingung memilih tempat tujuan. Simak artikel ini untuk mengetahui 10 tempat wisata Tawangmangu dan sekitarnya yang dapat kalian kunjungi pada saat libur Idul Adha 2024.


Pilihan Wisata Tawangmangu saat Libur Idul Adha 2024

Berikut ini 10 rekomendasi tempat wisata Tawangmangu dan sekitarnya yang dapat kalian kunjungi pada saat libur Idul Adha 2024:

1. Grojogan Sewu

Grojogan Sewu adalah salah satu tempat wisata utama di Tawangmangu. Grojogan Sewu berarti air terjun seribu. Tinggi air terjun ini sekitar 81 meter.

Untuk mencapai ke air terjun, pengunjung harus melewati ribuan anak tangga. Jika lewat pintu utama, rute ini ditempuh dengan jalan menurun dan pulangnya dengan menanjak. Kalian mungkin akan menemui banyak monyet.

Jika melewati pintu kedua, kalian harus menempuh jalan menanjak terlebih dulu, dan pulangnya melewati jalan menurun. Akses dari jalan utama ke loket agak sulit dibandingkan loket utama. Namun waktu tempuh ke air terjun jauh lebih singkat.

Lokasi: Jalan Raya Tawangmangu, Beji, Tawangmangu, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

Jam buka: 08.00-16.00 WIB.

Harga tiket masuk: Rp 22 ribu.

2. The Lawu Park

Tempat wisata Tawangmangu selanjutnya adalah The Lawu Park. Ini adalah tempat wisata alam buatan yang cocok jika mengajak anak-anak. Banyaknya pohon pinus membuat tempat ini menjadi rindang dan sejuk.

Beberapa aktivitas seru untuk anak-anak yaitu melihat aneka satwa di mini zoo, menyeberang jembatan gantung, dan bermain gelembung di taman salju gratis.

Ada juga wahana berbayar seperti flying fox, ATV, naik kuda, snow world, dan menonton 3D cinema. Tempat ini juga menyediakan paket penginapan glamping maupun cottage.

Lokasi: Bulakrejo, Gondosuli Kidul, Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

Jam buka: 08.00-17.00 WIB.

Harga tiket masuk:

  • Rp 20 ribu saat weekday
  • Rp 25 ribu saat weekend.

Biaya naik wahana:

  • flying fox Rp 30 ribu
  • gondola isi 4 orang Rp 50 ribu
  • sewa jip Rp 325 ribu
  • snow world Rp 40 ribu.

3. Embun Lawu

Embun Lawu berada di sebelah The Lawu Park. Tempat wisata Tawangmangu ini menyajikan pemandangan alam yang indah dengan beberapa spot menarik untuk berfoto-foto.

Aktivitas seru yang bisa dicoba seperti flying fox, offroad jeep, sepeda terbang, sepeda gunung, dan lain-lain. Ada juga mini zoo yang disukai anak-anak. Embun Lawu juga menyediakan cottage untuk pengunjung yang ingin menginap.

Lokasi: Jalan Raya Matesih-Tawangmangu No. 16, Kawasan Hutan, Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

Jam buka: 08.00-17.00 WIB.

Harga tiket masuk:

  • Rp 20 ribu saat weekday
  • Rp 25 ribu saat weekend dan hari libur
  • Naik wahana akan dikenakan biaya lagi.

4. Taman New Balekambang

Taman Balekambang Tawangmangu sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Sejak 2015 tempat ini direnovasi menjadi lebih menarik. Ada berbagai landmark terkenal dari berbagai negara seperti Colosseum, Sphinx, Menara Eiffel, Candi Borobudur, dan sebagainya.

Selain berfoto-foto, kamu bisa melakukan berbagai aktivitas seru bersama anak, seperti bermain paintball, berenang, flying fox, becak mini, hingga bermain tenis. Ada juga kolam renang yang seru buat bermain bersama anak-anak.

Lokasi: Jl. Balaikambang, Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

Jam buka: 09.00-17.00 WIB.

Harga tiket masuk: Rp 20 ribu (belum termasuk wahana dan permainan).

5. Bukit Sekipan

Kawasan Sekipan Tawangmangu terkenal dengan tempat camping di alam. Banyak warga yang juga menyewakan propertinya untuk vila atau penginapan.

Kini di wilayah ini terdapat tempat wisata buatan bernama Bukit Sekipan yang cocok dikunjungi bersama keluarga. Bukit Sekipan memiliki berbagai miniatur landmark dunia.

Kamu juga bisa menyewa kostum unik untuk berfoto-foto. Ada juga wahana berbayar seperti bombom car, mini roller coaster, ayunan, kora-kora, dan perahu anak.

Bagi kalian yang suka tantangan, boleh juga mencoba masuk ke rumah hantu. Atau jika ingin menginap juga tersedia area camping maupun penginapan.

Lokasi: Jalan Sekipan, Kramat, Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

Jam buka: 08.00-17.00 WIB.

Harga tiket masuk: Rp 30 ribu

  • Tiket terusan Rp 80 ribu.
  • Naik wahana Tanpa tiket terusan sekitar Rp 25 ribu.

Bukit Sekipan juga wahana yang tidak berbayar seperti mini zoo, mini jurassic, rumah kaca, goa hantu, art 3D, dan lain-lain.

6. D’Lawu Bistro & Mountain Cottage

D’Lawu Bistro & Mountain Cottage merupakan tempat makan dan penginapan berupa cottage. Selain itu, tempat wisata ini juga bisa dikunjungi wisatawan tanpa perlu menginap.

Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan di sini seperti memetik stroberi langsung dari kebunnya, naik kuda dengan biaya Rp 50 ribu, masuk mini zoo Rp 15 ribu, bermain di mini playground Rp 15 ribu, dan naik jip dengan biaya Rp 300 ribu.

Lokasi: Jalan Alternatif Tawangmangu-Sarangan Kilometer 9. Bulakrejo RT 3 RW 6, Gondosuli Kidul, Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

Jam buka:

  • 09.00-21.00 WIB saat weekdays.
  • 09.00-22.00 WIB saat weekend.

Harga tiket masuk: Gratis namun dikenakan biaya parkir Rp 2-5 ribu dan tiket wahana yang dipilih.

7. Tawangmangu Wonder Park

Tempat wisata Tawangmangu lainnya adalah Tawangmangu Wonder Park. Selain berfoto-foto di spot-spot menarik, ada juga berbagai aktivitas menarik lainnya, seperti berkeliling naik kuda, flying fox, naik ATV, atau offroad dengan menaiki mobil jip.

Buat kamu yang ingin camping, bisa juga mendirikan tenda di sini. Tempat ini juga menyediakan glamping yang disewa mulai dari Rp 350 ribu.

Lokasi: Jl. Ombang-ombang No. 32 Blumbang, Tawangmangu, Karanganyar.

Jam buka: 08.00-17.00 WIB.

Harga Tiket Masuk: Rp 20 ribu.

8. Telaga Madirda

Di sekitar Tawangmangu, ada Telaga Madirda yang juga menjadi tempat wisata menarik untuk dikunjungi. Ini adalah telaga alami yang airnya jernih sehingga bisa melihat aneka ikan dengan jelas.

Dengan pemandangan yang indah dan menenangkan, kalian bisa berfoto dengan latar belakang telaga maupun perbukitan. Yang menarik, kalian bisa camping di dekat telaga dengan biaya yang murah.

Setelah membayar tiket masuk, pengunjung bisa menyewa keperluan campung dengan biaya mulai Rp 100 ribu untuk tenda kapasitas 2 orang, lengkap dengan matras, lampu, dan sleeping bag. Kamu juga bisa naik perahu kayuh dengan biaya Rp 20 ribu.

Lokasi: Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.

Jam buka:

  • 08.00-16.00 WIB saat weekday.
  • 08.00-17.30 WIB saat weekend.

Harga tiket masuk: Rp 15 ribu.

9. Kemuning Sky Hills

Ngargoyoso juga dikenal dengan kebun tehnya di Desa Kemuning. Di antara kebun teh ini terdapat tempat wisata menarik, yaitu Kemuning Sky Hills.

Dari bukit ini, kalian bisa melihat pemandangan kebun teh yang luas. Saat cuaca cerah, kalian bisa melihat keindahan matahari terbenam dari sini.

Jika tidak takut, kalian juga bisa mencoba sensasi berada di atas jembatan kaca sepanjang 120 meter di ketinggian 60 meter dengan ketebalan kaca berkisar 3 cm.

Lokasi: Sumbersari, Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.

Jam buka: 09.00-18.30 WIB.

Harga tiket masuk: Rp 10 ribu.

Pengunjung yang ingin naik jembatan kaca Kemuning Sky Hills bisa membayar Rp 40 ribu, yang sudah termasuk tiket masuk.

10. Candi Cetho

Di ujung Kecamatan Jenawi, terdapat peninggalan bersejarah yang menawan, yakni Candi Cetho. Uniknya, candi ini mirip dengan pura yang ada di Bali karena memang merupakan candi Hindu.

Candi Cetho merupakan peninggalan terakhir Majapahit di bawah Brawijaya V. Namun kini masih banyak warga lokal yang memeluk agama Hindu.

Selain berfoto-foto dengan latar belakang pemandangan candi ‘di atas awan’, kalian juga mengenal sejarah persebaran Hindu di Jawa. Selain di Candi Cetho, kamu bisa melanjutkan perjalanan ke Puri Saraswati dan Candi Kethek.

Lokasi: Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.

Jam buka: 07.30-16.30 WIB.

Harga tiket: Rp 15 ribu per orang.

Nah, itulah 10 tempat wisata Tawangmangu dan sekitarnya yang dapat dikunjungi saat liburan Idul Adha 2024.

(row/row)



Sumber : travel.detik.com

Cuma Bayar Parkir, Situs Warungboto Sungguh Instagramable



Yogayakarta

Keraton Jogja memiliki beberapa peninggalan lawas berusia ratusan tahun, salah satunya Pesanggrahan Rejawinangun atau Situs Warungboto. Bangunannya unik dan menawan.

Meski tidak sepopuler Taman Sari, bangunan Situs Warungboto justru memiliki poin plus tidak terlalu ramai pengunjung. Selain itu, fasadnya amat mencolok dengan corak khas terbuat dari batu bata tanpa struktur kayu.

Diperkirakan Situs Warungboto telah ada sejak tahun 1785 M dan menjadi salah satu karya Putra Mahkota KGPAA Hamengkunegara, yang kelak pada tahun 1792 naik tahta bergelar Sri Sultan Hamengku Buwana II.


Situs Warungboto berada di Kalurahan Rejowinangun di Kemantren Kotagede dan Kalurahan Warungboto di Kemantrén Umbulharjo. Jaraknya sekitar 4,6 km dari Taman Sari.

Kini, untuk masuk ke situs pengunjung tidak dikenai biaya sama sekali. Pengunjung cukup membayar parkir yang dikelola oleh warga sekitar. Selain itu, ada kotak sukarela yang digunakan sebagai biaya pembersihan dan pemeliharaan.

Saat ini, masih ada penggalian sejumlah di Situs Warungboto yang masih terpendam. Selain itu, ada perbaikan pada jalur yang akan dilewati pengunjung. Meski demikian, situs ini masih tetap beroperasi dan bisa dikunjungi seperti biasa.

“Nggak nentu, paling rame sehari bisa 50 kendaraan,” kata Sartono (69), pengelola parkir Situs Warungboto, terkait jumlah pengunjung berdasarkan kendaraan yang parkir di sana.

Pesanggrahan merupakan kawasan yang dibangun sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan pada zaman dulu. Situs Warungboto itu dulu adalah kolam pemandian yang di tengahnya terdapat sumber mata air. Salah satu buktinya adalah ditemukannya sebuah mata air yang disebut “tuk umbul”.

Dikutip dari situs pariwisata jogjakota, layaknya tempat beristirahat bagi keluarga, Pesanggrahan Warungboto dilengkapi dengan taman, segaran, kolam, dan kebun di sisi timur. Sementara itu, di sisi barat merupakan kompleks bangunan berkamar dan dua kolam pemandian.

Saat dikunjungi detikTravel, pada bagian kolam yang kering, tidak ada air sama sekali. Sejauh mata memandang masih berdiri kokoh tembok-tembok situs yang terbuat dari batu bata tanpa struktur kayu.

Situs itu berdiri tanpa atap dan bersebelahan dengan kompleks pemukiman warga. Sisi timurnya berbatasan dengan Sungai Gajah Wong, dan sisi barat berbatasan dengan Jalan Veteran Yogyakarta.

Lokasinya secara administratif berada di perbatasan antara Kelurahan Rejawinangun, Kecamatan Kotagede dan Kelurahan Warungboto, Kecamatan Umbulharja. Untuk menuju kemari butuh waktu sekitar 15 menit dari Tugu Yogyakarta.

Situs Warungboto dikelola sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X. Tidak seperti tempat wisata pada umumnya, situs ini tutup saat hari Minggu dan hari libur nasional. DIbuka Senin sampai Jumat pukul 07.30-16.00, serta hari Sabtu pukul 07.30-12.30.

Waktu terbaik ketika mengunjunginya adalah saat pagi atau sore hari ketika matahari belum di atas kepala. Di sini traveler dapat mengamati langsung sisa sisa peninggalan kerajaan zaman dahulu sebagai upaya pelestarian budaya Jogja.

Aktivitas lain yang dapat dilakukan yakni berfoto ria. Setiap sudutnya estetik dengan dominasi warna coklat kekuningan. Serta beberapa corak lumut dan retakan kecil yang memvisualisasikan jejak waktunya. Ada sejumlah tangga yang akan mengantarkan ke atap bangunan. Dari sana, traveler dapat melihat situs secara jelas dari atas.

Cahaya matahari menjadi lighting alami karena bangunannya yang berdiri tanpa atap. Disarankan jika traveler ke sini, jangan lupa membawa kipas tangan atau payung terutama saat siang hari.

Untuk pengambilan foto dan video dengan tujuan khusus seperti pre-wedding atau penelitian ilmiah yang menggunakan kamera atau drone, wajib mengajukan permohonan izin ke Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X maksimal tiga hari sebelum berkegiatan.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

8 Ikon Budaya Betawi yang Resmi Diakui Perda Jakarta



Jakarta

Jakarta memiliki delapan ikon budaya yang resmi diakui dalam peraturan serah. Apa saja ya?

Jika menyebut nama Jakarta yang sering terlintas pastilah kehidupan modern yang sibuk, tetapi nyatanya Jakarta bukan hanya tentang gedung pencakar langit dan hiruk-pikuk kota. Betawi sebagai suku asli Jakarta, ternyata kaya akan budaya dan menarik untuk ditelusuri.

Meskipun memiliki banyak kebudayaan yang khas, dalam Peraturan Daerah No.4 Tahun 2015 tentang pelestarian budaya Betawi baru ada delapan kebudayaan yang masuk ke dalam ikon budaya Betawi.


Bersama jktgoodguide dengan dipandu oleh Rony selaku guide, detikTravel berkesempatan mengenal lebih dekat dengan delapan ikon budaya Betawi, berikut ringkasannya.

1. Ondel-Ondel

Siapa yang tak kenal dengan ikon satu ini, ondel-ondel memang lekat kaitannya dengan budaya Betawi. Ondel-ondel adalah sepasang boneka besar dengan tinggi sekitar 2.5 meter-3 meter dengan diameter tubuh hingga 80 cm. Anggota tubuhnya terbentuk dari bambu dan bagian wajahnya terbuat dari pahatan kayu cempaka, rambutnya dari ijuk, dan busananya dari kain.

Mulanya ondel-ondel disebut dengan nama ‘barongan’. Nama ondel-ondel muncul setelah Benyamin Sueb menciptakan dan menyanyikan lagu berjudul ‘Ondel ondel’.

“Muncul nama ondel-ondel itu setelah Bang Benyamin menyanyikan lagu ondel-ondel,” kata Rony.

Pada awal abad ke-20, nama barongan pun berganti nama menjadi ondel-ondel. Kata ondel-ondel diambil dari bahasa Betawi klasik yang memiliki arti lincah dan fleksibel.

Sebelum menjadi sarana hiburan, barongan atau ondel-ondel digunakan sebagai ritual pengusiran roh jahat dan malapetaka seperti gagal panen atau ancaman wabah penyakit kala itu dengan struktur wajah yang menyeramkan. Seiring perkembangan zaman, wajahnya berubah menjadi tidak lagi menyeramkan karena alih fungsinya menjadi seni pertunjukan.

2. Kembang Kelapa

Banyak orang yang menganggap bahwa dekorasi berbentuk lidi yang dihiasi dengan kertas warna-warni hanyalah pemanis semata. Padahal pajangan atau dekorasi tersebut adalah salah satu bagian dari delapan ikon budaya Betawi.

Kembang Kelapa adalah salah satu bagian dari dekorasi yang tak pernah terlewat dalam setiap rangkaian acara Betawi. Biasanya juga ditemukan dalam rangkaian ondel-ondel. Ornamen ini dipilih karena melambangkan pohon kelapa yang memiliki manfaat di setiap bagian pohonnya mulai dari akar hingga daunnya.

“Kenapa ada kembang kelapa dalam ornamen Betawi karena filosofi pohon kelapa itu sendiri. Kalau temen-temen perhatiin pohon kelapa itu kan semua bagian kepake, nah seperti fungsi dari pohon kelapa kita sebagai manusia itu harus berfungsi dari semua aspek jangan sampai kita nggak bermanfaat,” ujar Rony.

3. Kerak Telor

Kerak telor juga jadi salah satu makanan khas terkenal di Jakarta. Makanan ini mudah sekali ditemukan di kawasan hiburan atau wisata Jakarta.

Menurut sejarah, kerak telor adalah salah satu makanan yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Pada tahun 1970 kerak telor tercipta menjadi suatu hidangan atas insiden tidak disengaja. Kerak telor tercipta setelah masyarakat Betawi saat itu mencoba-coba membuat berbagai makanan dengan memanfaatkan kelapa sebagai bahan dasar utamanya lalu terciptalah makanan unik ini.

Makanan ini terbuat dari beras ketan putih (direndam semalaman), srundeng, telur ayam atau bebek, merica, ebi, dan bawang goreng. Dalam pembuatannya, kerak telor membutuhkan alat mulai dari wajan bergagang, kayu rotan, kipas, dan anglo.

Pada masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin, kerak telor mulai gencar dipromosikan hingga terus berlanjut sampai saat ini. Selain menjadi salah satu identitas dari budaya Betawi, kerak telor juga jadi salah satu hidangan wajib setiap festival kebudayaan Betawi diselenggarakan.

Ternyata ada makna khusus di balik kudapan gurih ini lho. Kerak telor ternyata menggambarkan pergaulan hidup manusia yang harmonis. Sebagai sisi kehidupan manusia yang mengalami berbagai perubahan.

4. Bir Pletok

Minuman khas Betawi yang identik dengan warna merah ini terbuat dari campuran 13 jenis rempah-rempah. Dengan kandungan tersebut, bir pletok dinilai memiliki banyak khasiat bagi tubuh. Uniknya, meskipun mengandung kata ‘bir’ minuman ini justru tak memiliki kandungan alkohol.

Terdapat dua versi asal usul nama bir pletok. Yang pertama berasal dari kata birun atau abyar dalam Bahasa Arab yang berarti sumber mata air. Versi lain mengatakan bahwa pada saat itu karena mayoritas penduduk Betawi umat muslim maka kebanyakan masyarakat Betawi tak bisa bergabung dalam budaya ‘minum bir’ Belanda.

“Sebenernya munculnya bir pletok ini pada 1900-an, termasuk baru. Karena, kalau kita lihat orang Betawi kan dimayoritasi muslim nah bangsa eropa kan suka minum bir, tapi pribumi kan dilarang minum minuman beralkohol. Jadi, diciptakan minuman yang mirip dengan bir dengan konsep menghangatkan. Biar kalau mereka ngumpul bisa sama-sama minum,” kata Rony.

Bir pletok jadi sarana alternatif yang tercipta untuk berkumpul. Meskipun tak mengandung alkohol, bir pletok tetap mampu menghangatkan tubuh. Kata ‘pletok’ tercipta dari sajian bir pletok yang identik dengan penggunaan es batu. Bunyi yang tercipta dari es batu ini lah yang jadi asal usulnya.

5. Gigi Balang

Gigi balang adalah salah satu ornamen khas Betawi. Ornamen ini biasanya ditemukan pada lisplang rumah-rumah adat Betawi. Namun kini, kita bisa dengan mudah menemukannya di berbagai fasilitas publik, dekorasi, hingga gapura di Jakarta.

Bentuknya yang menyerupai segitiga berjajar bak gigi belalang melambangkan kehidupan yang harus diisi dengan kejujuran, rajin, ulet, dan sabar. Itu mencerminkan kerja keras yang dilakukan belalang dalam mematahkan sebuah kayu. Beberapa juga mengartikan bahwa gigi balang menggambarkan pertahanan kuat dan keberanian.

Terdapat lima jenis ornamen gigi balang yakni, tumpal, wajik, susun dua, potongan waru, dan kuntum melati.

6. Batik Betawi

Berbeda dengan batik daerah lainnya, batik Betawi identik dengan warna cerah yang dimilikinya. Hal ini dikarenakan pengaruh budaya Cina yang kuat di kawasan Betawi.

Motif yang tercipta pada batik ini juga terpengaruh dari budaya Belanda, India, hingga Arab. Namun pada dasarnya, batik Betawi memiliki makna sebagai keseimbangan alam semesta guna memenuhi hidup yang sejahtera dan berkah.

Ada lima motif dalam batik Betawi, yakni motif ciliwung, motif ondel-ondel, motif rasamala, motif salakanagara, dan motif nusa pala. Masing-masing motif punya makna tersendiri yang sebagian besar diambil dari kekayaan alam budaya dan sejarah di tanah Betawi.

Batik ini kerap digunakan sebagai salah satu bagian dari pakaian adat Betawi, hingga berbagai kostum tarian asal Betawi. Kini batik Betawi kerap digunakan sebagai pakaian seragam wajib anak sekolah dan karyawan/karyawati kantor pemerintah/swasta di Jakarta.

7. Pakaian Sadariah

Jika biasa melihat orang Betawi yang menggunakan peci lengkap dengan sarung di lehernya, itu adalah Pakaian Sadariah. Pakaian yang khas dengan celana panjang batik longgar atau celana pantalon ini juga jadi salah satu ikon budaya Betawi lho.

Ciri pakaiannya terbuat dari katun atau sutra dengan kerah tinggi, berkancing pada bagian depan, dan memiliki dua kantong pada bagian bawah kiri dan kanannya. Baju Sadariah juga dilengkapi dengan cukin atau kain sarung yang dilipat dan digantung pada bagian leher, lengkap dengan peci hitam polos, dan menggunakan terompah sebagai alas kakinya.

Uniknya cukin atau sarung itu tak hanya berfungsi sebagai estetika belaka, namun memiliki fungsi khusus yakni sebagai alat sholat sekaligus sebagai senjata ketika berhadapan dengan perampok atau begal yang marak di kawasan jalanan Batavia saat itu.

Mulanya pakaian ini dikenakan masyarakat suku Betawi laki-laki sebagai pakaian sehari-harinya. Namun, kini pakaian sadariah biasa digunakan dalam berbagai acara atau seragam khas masyarakat Jakarta.

8. Kebaya Kerancang

Kebaya yang juga familiar dengan sebutan Kebaya Encim ini jadi salah satu ikon budaya Betawi juga lho. Kebaya Kerancang adalah pakaian wanita Betawi yang terbuat dari kombinasi bahan brokat yang ditutup dengan bordir.

Kebaya kerancang biasanya pendek meruncing kebagian muka kebaya antara 12-30 cm dari dasar dengan model jahitan tangan goeng yang jadi ciri khas nya.

Kebaya itu serasi dipadankan dengan sarung atau kain panjang yang tidak diwiru lengkap dengan selendang dengan warna cerah.

Pada zaman dulu, brokat yang dikenakan dalam kebaya kerancang adalah brokat buatan eropa yang ditutup langsung dengan jahitan bordir agar terlihat serasi. Namun, kini berbagai perkembangan dunia fashion dapat mendapatkan berbagai jenis model brokat dengan mudah.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Menara Miring Ini Jadi Titik Nol Kilometer Jakarta



Jakarta

Di kawasan Kota Tua, Jakarta terdapat sebuah menara miring tua yang menyimpan sejarah, yaitu Menara Syahbandar (Uitkijk). Menara itu menjadi titik nol kilometer Jakarta.

Menara Syahbandar yang berada di Jl Pasar Ikan, Jakarta Utara itu merupakan saksi bisu perkembangan pesat jalur perdagangan di Jakarta. Dibangun pada tahun 1839 oleh pemerintah Belanda, menara itu awalnya berfungsi sebagai menara pemantau kapal yang keluar masuk Pelabuhan Sunda Kelapa.

Dari menara itulah para petugas mengawasi lalu lintas kapal, memastikan kelancaran bongkar muat barang, dan memungut pajak dari para pedagang.


Sebelum menara itu didirkan, pada 1645, lokasi itu merupakan tempat benteng pertahanan milik Belanda, bernama Benteng Culemborg.

Salah satu penjaga turut menjelaskan secara singkat kondisi situasi sekitar menara pada masa lampau. Sebagai daerah pusat pemerintahan Belanda, daerah menara yang tak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa itu selalu ramai lalu lalang kapal sebagai akses keluar masuk orang-orang Belanda.

“Belanda itu pusat pemerintahannya dulu di sini sebelum ke Cikini, pasar induk itu di sini. Menginjakkan kakinya pertama kali itu ke sini dulu, lewat Pelabuhan Sunda Kelapa. Setelah menguasai dia membangun pemerintahan dan bangun kantor gubernur di Kota Tua, bahkan perahu dulu sampe ke sana (Gedung Fatahillah),” kata penjaga itu.

Menara Syahbandar, Jakarta dulu Titik Nol Kilometer JakartaMenara Syahbandar, Jakarta dulu Titik Nol Kilometer Jakarta (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

Yang bikin unik, Menara Syahbandar sedikit miring. Konon, kemiringan itu justru disengaja dengan tujuan untuk mempermudah pengamatan ke arah laut. Kendati tak separah Menara Pisa di Italia, kemiringan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Menara Syahbandar.

Selain itu, menara tersebut unggul di masa lalu sebagai bangunan tertinggi di Batavia pada masa itu.

Menara Syahbandar tak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menjadi titik nol kilometer Jakarta sebelum akhirnya dipindahkan ke Monumen Nasional. Itu menandakan bahwa menara ini merupakan pusat kota Batavia pada masa lampau.

Titik nol itu berbentuk persegi dengan ukiran tulisan Tionghoa atau biasa disebut Prasasti Tionghoa. Jika diterjemahkan prasasti tersebut bertuliskan kata Kantor Survey, Garis Bujur, dan Titik 0 Batavia. Jika dirangkai jadilah kalimat ‘Garis Bujur Nol Batavia’ (Asal garis bujur berdasarkan kantor jawatan survey).

Menara Syahbandar, Jakarta dulu Titik Nol Kilometer JakartaMenara Syahbandar, Jakarta dulu Titik Nol Kilometer Jakarta (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

Menara Syahbandar terbagi atas tiga bangunan utama, yakni Ruang Titik Nol Batavia, Ruang Menara Syahbandar, dan Ruang Koleksi.

Beberapa waktu yang lalu pengunjung bahkan bisa menaiki tangga kayu yang cukup curam hingga ke puncak menara. Pemandangan memukau kawasan Kota Tua Jakarta dengan deretan bangunan tua dan dermaga Sunda Kelapa akan tersaji di depan mata dari jendela yang empat sisi yang ada.

Sayangnya, saat dikunjungi detikTravel pada Selasa (18/6/24) berdasarkan keterangan salah satu petugas saat ini tangga-tangga sedang dalam tahap perbaikan.

“Oh itu di atas, maintenance lagi ada kerusakan. Udah lama emang dua bulanan, lagi gak bisa dinaikin. Lantai kayu-kayunya sudah mulai lapuk,” kata dia.

Konon, di daerah bawah menara terdapat terowongan bawah tanah yang terkoneksi ke Stadius atau Museum Sejarah Jakarta hingga Benteng Frederik Hendrik yang kini daerahnya telah beralih fungsi menjadi Masjid Istiqlal.

Jika ingin menggali lebih dalam sejarah Menara Syahbandar dan Jakarta secara keseluruhan, traveler bisa mengunjungi Museum Bahari yang terletak tak jauh dari menara. Di museum itu, traveler bisa melihat berbagai koleksi benda-benda bahari dan artefak yang menceritakan tentang sejarah pelayaran dan perdagangan di Nusantara.

Menara ini buka setiap hari Selasa-Minggu pukul 09.00-16.00 WIB dengan harga tiket masuk yang terintegrasi dengan Museum Kebaharian Jakarta yakni mulai dari Rp 3.750 ribu.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Bukan Negeri China, Ini Old Shanghai di Jakarta Timur yang Asyik buat Ngonten



Jakarta

Butuh tempat foto dengan latar bangunan-bangunan khas Negeri Tirai Bambu? Atau butuh tempat baru yang memiliki banyak pilihan makanannya? Old Shanghai bisa jadi tujuan tersebut, tempat ini memiliki konsep yang unik dan bisa memberikan kesan yang menarik saat berkunjung ke sini.

Berada di kawasan Sedayu City, Kelapa Gading, Jakarta Timur, Old Shanghai jadi tujuan baru masyarakat Jakarta untuk berburu kuliner dengan nuansa khas China. Fasad bangunan-bangunan di kawasan itu menjadi daya tarik.

Arsitektur ala bangunan tradisional China ini keren-keren, cocok untuk diabadikan dan di-upload di sosial media. Jika orang-orang tak tahu dengan tempat ini mungkin akan menyangka traveler sedang berada di daratan China sungguhan.


Ketika pertama kali masuk akan disambut gapura megah nan tinggi menjulang dengan ornamen yang bertuliskan aksara China dan makhluk ikoniknya, naga. Di kedua sisi gapura ini juga terdapat mural-mural yang tak kalah memesona,

Masih berada di area depan, pengunjung juga pastinya bakalan mengabadikan momen terlebih dahulu di gapura tersebut sebelum masuk lebih dalam dan mengeksplorasi setiap sudut di Old Shanghai ini. Berjalan melewati gapura tersebut, detikTravel pun makin terpukau dengan bangunan pagoda berwarna merah yang tepat berada sejajar dengan gapura.

Tempat ini mengingatkan detikTravel dengan film-film kolosal yang kerap diperankan oleh Jet Li, saat berada di sini terasa kita masuk ke tempat kaisar-kaisar China zaman dahulu. Tak perlu mengeluarkan kocek yang mahal traveler akan serasa tengah berlibur berada di China.

Selain bangunan-bangunan ikonik, di Old Shanghai Sedayu City juga terdapat beberapa patung. Salah satunya patung tinggi yang berada dekat pagoda, patung tersebut adalah Dewi Tian Shang Shen Mu atau Dewi Mazu yang merupakan dewi samudera.

Old Shanghai Sedayu City Jakarta TimurOld Shanghai Sedayu City Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

“Satu hal yang juga menjadi sorotan di Old Shanghai yaitu pagoda dan Altar Dewi Mazu di area tengah-tengah Old Shanghai, di mana Altar Dewi Mazu juga dijadikan tempat ibadah di depan patungnya, kami siapkan dupa dan banyak pengunjung yang berdoa disitu,” kata Deputy Division Head Commercial Retail 1 Agung Sedayu Group, Jarenta Sinaga, kepada detikTravel, Rabu (19/6/2024).

Masih banyak lagi bangunan-bangunan keren yang berada di Old Shanghai ini, lawasan yang berdiri seluas 14,515 meter persegi ini juga memiliki banyak tenant-tenant makanan. Ya memang tempat ini selain menyuguhkan keindahan suasana Kota Shanghai juga jadi spot kulineran warga sekitar.

Dalam laman resmi Agung Sedayu Group, sebagai perusahaan yang membidani tempat ini, menyebut terdapat lebih dari 80 tenant kuliner. Untuk masyarakat muslim juga tenang karena di Old Shanghai juga banyak makanan-makanan halal.

“Old Shanghai menyediakan banyak pilihan makanan non halal dan sekitar 70 persen kuliner di Old Shanghai merupakan kuliner halal,” keterangan di laman itu.

Tak cukup dengan suasana dan sajian kulinernya, Old Shanghai juga memiliki supermarket yang juga bernuansa China. Old Shanghai memang masih terbilang muda sebagai sebuah destinasi karena baru tahun 2022 lalu tempat ini resmi beroperasi.

Old Shanghai Sedayu City Jakarta TimurOld Shanghai Sedayu City Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

Kendati masih baru tapi pamor tempat ini sudah begitu masyhur, terlihat dari video-video yang berseliweran di media sosial tenant Old Shanghai. Memang tak aneh bila tempat ini jadi magnet untuk para pembuat konten, tempat yang keren serta akses masuk yang mudah.

“Banyak pengunjung yang gemar mencari spot foto yang instagramable dan aesthetic, seringkali juga banyak yang membuat konten vlog ala-ala di sini. Sehingga membuat kita menjadi bertambah exposure dan semakin banyak orang mengenal Old Shanghai,” kata Jarenta.

Untuk bisa masuk ke kawasan ini tak dipungut biaya dan jika ingin berkunjung ke tempat ini, waktu yang pas adalah sore hari. Selain tak terlalu terik, keindahan tempat ini akan semakin meningkat ketika lampu-lampu mulai menyala.

Ini semakin menggugah semangat untuk mengeksplor setiap ikon di Old Shanghai dengan latar bangunan khas China dan lampion-lampion menggantung yang semakin membuat foto jadi keren. Old Shanghai juga bisa didatangi setiap hari, mulai Senin-Jumat buka pada pukul 10.00-22.00 WIB dan Sabtu-Minggu mulai pukul 07.00 WIB sampai 23.00 WIB.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com

Plunyon Kalikuning di Sleman Versi Lokal Jembatan Russel di Skotlandia



Sleman

Plunyon Kalikuning, dengan jembatan ikoniknya, sering disebut sebagai “versi lokal Jembatan Russel” di Skotlandia. Terletak di kaki Gunung Merapi, jembatan ini tidak hanya menyuguhkan pemandangan yang menakjubkan, tetapi juga memiliki sejarah yang kaya dan menjadi destinasi wisata yang semakin populer.

“Jembatan ini dibangun oleh warga pada tahun 1982-1983 untuk irigasi, bukan oleh Belanda seperti yang banyak orang kira,” ujar Sarjiman, pengelola Plunyon Kalikuning.

Jembatan yang berada di Kedungsriti, Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, KabupatenSleman, Yogyakarta itu semakin populer di kalangan wisatawan karena disebut-sebut mirip dengan jembatan Russel di Skotlandia. Meskipun memiliki fungsi awal yang berbeda, kedua jembatan itu kini sama-sama menjadi ikon wisata di wilayah masing-masing.


Pluyon Kalikuning, Umbulharjo, Sleman, YogyakartaPluyon Kalikuning, Umbulharjo, Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Seperti jembatan Russel, yang terkenal dengan keindahan arsitektur dan alam sekitarnya, Plunyon Kalikuning juga menawarkan pemandangan alam yang luar biasa. Dengan bukit hijau yang mengelilinginya dan sungai yang mengalir di bawahnya, jembatan ini memberikan pengalaman visual yang menakjubkan bagi para pengunjung.

“Pemandangan Gunung Merapi paling jelas terlihat di pagi hari sekitar pukul 7,” kata Sarjiman.

Selain pemandangannya yang menawan, jembatan Plunyon Kalikuning juga memiliki nilai sejarah dan fungsi penting dalam irigasi. Meskipun kini lebih dikenal sebagai objek wisata, fungsi irigasi jembatan ini masih tetap berjalan, mendukung kebutuhan air untuk pertanian dan rumah tangga di Sleman dan Yogyakarta.

“Jembatan ini awalnya dibuat untuk mengalirkan air ke sawah-sawah dan ternak di daerah sekitarnya,” kata Sarjiman.

Popularitas jembatan ini semakin meningkat setelah menjadi lokasi syuting film “KKN Desa Penari”. Proses syuting memerlukan izin khusus sebesar Rp10 juta dan persiapan yang memakan waktu lima hari, dengan syuting dilakukan selama satu hari satu malam. Hal ini menunjukkan betapa menariknya Plunyon Kalikuning sebagai lokasi dengan daya tarik visual yang kuat.

“Setelah dipakai untuk syuting, tempat ini menjadi lebih ramai pengunjung,” kata Sarjiman.

Dengan kemiripannya dengan Jembatan Russel, Plunyon Kalikuning juga menjadi tempat favorit untuk fotografi. Wisatawan sering memanfaatkan pemandangan jembatan yang indah untuk mengabadikan momen mereka.

“Tiap hari biasa paling ada 150-200 pengunjung, tapi kalau hari libur bisa sampai 1250 orang,” kata Sarjiman.

Ini menunjukkan betapa populernya jembatan ini, baik untuk wisatawan lokal maupun internasional.

Pluyon Kalikuning, Umbulharjo, Sleman, YogyakartaPluyon Kalikuning, Umbulharjo, Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Meski demikian, beberapa tantangan seperti kerawanan longsor dan kondisi taman yang mulai lapuk perlu diperhatikan.

“Tamannya sudah lapuk dan ini sudah kami laporkan tetapi belum ada respon. Sudah setahunan,” kata Sarjiman.

Dengan perhatian yang lebih pada pemeliharaan dan keamanan, Plunyon Kalikuning dapat terus menjadi destinasi wisata yang menarik dan aman bagi semua pengunjung.

Secara keseluruhan, Plunyon Kalikuning menawarkan pesona yang luar biasa dengan jembatan ikonik yang kini dikenal sebagai versi lokal Jembatan Russel di Skotlandia. Dengan pemandangan alam yang indah, sejarah yang kaya, dan daya tarik visual yang kuat, jembatan ini menjadi destinasi yang wajib dikunjungi bagi para pecinta alam dan sejarah.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Jembatan Ikonik dengan Taman Tepi Sungai



Sleman

Terletak di kaki Gunung Merapi, Plunyon Kalikuning memiliki pesona alam yang memukau dengan jembatan ikonik, taman tepi sungai, area pendakian, serta panorama bukit hijau dan pegunungan yang menakjubkan.

Keindahan tempat ini menjadikannya destinasi favorit bagi wisatawan yang ingin menikmati keajaiban alam sambil merasakan ketenangan jauh dari hiruk-pikuk kota.

Plunyon Kalikuning dikenal dengan jembatan ikoniknya yang menjadi latar dalam film “KKN Desa Penari”. Dibangun pada tahun 1982-1983, jembatan ini awalnya dibuat untuk irigasi oleh warga setempat. Sekarang, jembatan ini menjadi daya tarik utama bagi pengunjung yang ingin menikmati pemandangan alam yang indah.


“Jembatan ini dulunya dibuat untuk mengalirkan air ke sawah-sawah dan ternak di daerah sekitarnya,” ujar Sarjiman, pengelola Plunyon Kalikuning.

Yuk intip segala pesona dari Plunyon Kali Kuning

Taman Tepi Sungai

Selain jembatan yang mempesona, Plunyon Kalikuning juga memiliki taman tepi sungai yang menawarkan tempat yang sempurna untuk bersantai. Taman ini sering dikunjungi oleh wisatawan yang ingin menikmati suasana tenang sambil mendengarkan gemericik air sungai.

Suara gemericik air dari sungai bisa Traveler tempuh dengan tracking sekitar dari area jembatan. Di sana, akan ditemui lembah teduh yang bisa untuk basah-basahan main air sepuasnya.

Setelah erupsi Gunung Merapi, lanskap di sekitar sungai berubah, tetapi tetap menawarkan keindahan yang menakjubkan.

“Dulu, batu di sini sangat licin, tetapi setelah erupsi, semuanya tertutup pasir sehingga berubah bentuk,” jelas Sarjiman.

Area Pendakian

Bagi para pencinta alam dan pendaki, Plunyon Kalikuning menawarkan area pendakian yang menantang dan menyegarkan. Jalur pendakian ini tidak hanya memberikan pengalaman fisik yang memuaskan tetapi juga menghadirkan pemandangan alam yang luar biasa.

Pendaki juga dapat menikmati panorama bukit hijau yang mempesona sepanjang perjalanan.

“Pemandangan Gunung Merapi paling jelas terlihat di pagi hari sekitar pukul 7,” kata Sarjiman.

Panorama bukit hijau dan pegunungan

Panorama bukit hijau dan pegunungan di Plunyon Kalikuning menambah daya tarik tempat ini.

“Dulu, sini sampai gunung itu penuh pohon pinus, sekarang tinggal beberapa saja,” kenang Sarjiman.

Meskipun demikian, keindahan alam Plunyon Kalikuning tetap memikat, dengan bukit-bukit hijau yang menghiasi lanskap dan memberikan pemandangan yang menenangkan bagi para pengunjung.

Dengan pengelolaan yang baik oleh Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Plunyon Kalikuning terus berkembang sebagai destinasi wisata yang populer.

“Kami mulai memungut tiket masuk dari tahun 2016, dan ini membantu dalam pemeliharaan dan pengelolaan tempat ini,” ujar Sarjiman.

Namun, beberapa tantangan seperti kerawanan longsor dan kondisi taman yang mulai lapuk perlu mendapat perhatian lebih.

Secara keseluruhan, Plunyon Kalikuning adalah tempat yang sempurna untuk menikmati keindahan alam sambil belajar tentang sejarah dan fungsi irigasinya. Dengan jembatan ikonik, taman tepi sungai, area pendakian, serta panorama bukit hijau dan pegunungan, tempat ini menawarkan pengalaman yang lengkap bagi setiap pengunjung.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Desa Wisata Taro, Desa Kuno di Gianyar, Bali



Gianyar

Desa Wisata Taro merupakan desa kuno di Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Budaya dan tradisi masih terjaga.

Desa Taro hanya berjarak sekitar dua jam dari Denpasar. Desa itu berada di ketinggian 600-750 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang membuat udaranya sejuk.

Desa Taro adalah pemukiman yang dirintis oleh Rsi Maharsi Markendya. Dia datang ke Bali di abad ke tujuh. Markendya merabas hutan, membangun pemukiman dan persawahan dengan sistem irigasi yang disebut subak.

Desa Taro mendapat julukan “Bhumi Sarwa Ada” yang berarti serba ada. Julukan yang sesuai, karena desa itu memiliki berbagai kekayaan alam dan budaya yang bisa memikat hati banyak wisatawan. Bagi Rsi Markandya, desa itu juga memuliki segala hal yang diinginkan dan dibutuhkan saat dia membangun mendirikan kawasan itu. Tanah subur, air melimpah, udara sejuk, alam yang indah, dll.


Selain itu, desa tersebut dijuluki Pusering Jagat atau pusat semesta.

Sejak 2017, Desa Taro telah menjadi desa wisata. Melalui pondasi Tri Hita Karana, yaitu menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, Desa Wisata Taro memilih tema destinasi yang berhubungan dengan alam dan spiritual.

“Mulai tahun 2017 akhir, kita garap semua destinasi itu 2018. Pembuatan masterplan dan menggali potensi itu sudah mulai di 2017. Akhirnya 2019 sudah mulai launching destinasi wisata,” ujar I Wayan Gede Ardika, pengelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Taro.

Mengusung konsep ‘Eco Spiritual Destination’, Desa Taro menyajikan berbagai destinasi alam dan spiritual yang menjadi keunikan dan warisan budaya masyarakat setempat. Perpaduan antara tradisi spiritual dan keindahan alam akan membuat siapapun terpikat.

“Kami ingin membangun konsep desa wisata yang berkelanjutan, sehingga mengusung konsep ‘Eco Spiritual Destination’. Kami menginginkan semuanya masih lestari dan menjadi warisan turun temurun, pariwisata adalah bonusnya,” kata Ardika.

Kemudian, pada 2023, Desa Taro masuk dalam daftar Programme di United Nations World Tourism Organization (UNWTO) 2023.

4 destinasi wisata unggulan yang wajib traveler kunjungi di Desa Taro yang antara lain:

1. Pura Agung Gunung Raung

Pura Agung Gunung Raung merupakan salah satu Pura Kahyangan Jagat yang ada di Bali. Keberadaan pura ini sangat erat kaitannya dengan perjalanan suci Rsi Markendya. Pura Agung Gunung Raung memiliki keunikan tersendiri, dimana umumnya persembahyangan menghadap ke timur, namun di pura ini persembahyangan menghadap ke arah barat

2. Konservasi Lembu Putih

Desa Taro adalah satu-satunya desa di Bali yang memiliki taman konservasi lembu putih, satwa yang dihormati dan disucikan. Lembu Putih dipercaya sebagai hewan suci sekaligus sebagai kendaraan Dewa Siwa.

Lembu Putih yang ada di Desa Taro dirawat dan dikonservasi untuk menjaga kelestariannya, karena sering digunakan dalam upacara agama.

3. The Fireflies Garden

The Fireflies Garden merupakan kawasan penangkaran kunang-kunang yang dikelola oleh Desa Taro. Di sini traveler bisa menemukan banyak kunang-kunang yang cantik.

Terletak di sekitar persawahan dengan udara dan air yang bersih membuat kunang-kunang mampu tumbuh dan berkembang di sini. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah di sore hingga malam hari.

4. Semara Ratih Delodsema Village

Semara Ratih Delodsema Village adalah sebuah restoran berkonsep alami yang sudah dibuka sejak 2020. Semara Ratih Delodsema Village menawarkan sensasi bersantap di tengah bentang alam yang cantik, ditemani gemericik air sungai.

Tak jauh dari restoran, traveler juga bisa menemukan sebuah mata air suci yang dapat digunakan untuk melukat.

Tak hanya menawarkan berbagai destinasi menarik. Desa Wisata Taro juga menawarkan beberapa paket aktivitas wisata yang bisa traveler coba.

Berikut paket wisata di Desa Taro

1. Paket Tirta Yatra

Paket Tirta Yatra menawarkan traveler untuk mengunjungi situs-situs tonggak perjalanan suci Ida Maharsi Markandya pada abad ke-7. Paket ini akan mengajak traveler untuk melukat di Semara Ratih, mengunjungi Pura Agung Gunung Raung, Pura Sanghyang Tegal, dan Duwe Lembu Putih.

Dengan membayar harga Rp 300.000 per orang, sudah termasuk banten, sari Jro Mangku, punia, pemandu wisata, nasi yasa, dan coffee break. Traveler juga bisa memilih lokasi untuk bersantap, mulai dari Semara Ratih hingga di Taman Lembu Putih.

2. Paket Desa Wisata

Paket wisata ini akan mengajak traveler untuk mengunjungi beberapa Objek Wisata yang menjadi ikon Desa Wisata Taro dan Sharing Session Bersama Pokdarwis Desa Wisata Taro. Dengan membayar harga Rp 195.000 per orang, traveler akan diajak ke beberapa objek wisata pilihan, coffee break, makan siang, dan sharing session.

3. Paket Studi Banding

Paket studi banding ini akan mengajak traveler untuk berkunjung ke pengelolaan sampah yang diaplikasikan menjadi pertanian organik di Desa Taro. Untuk mencoba paket ini traveler dikenakan harga sebesar Rp 195.000 per orang.

Traveler akan mendapatkan berbagai fasilitas menarik, seperti coffee break sebanyak 2 kali, berkunjung ke fasilitas pengelolaan material & kebun organik desa taro, makan siang, dan sharing session.

4. Paket Cycling Desa Taro

Desa Taro juga menawarkan paket cycling yang mengajak traveler untuk bersepeda melewati daerah pertanian, pemukiman warga, hingga beberapa destinasi wisata yang menjadi ikon Desa Taro.

Traveler bisa memilih tiga jenis paket cycling, yaitu paket 1, 2, dan 3 dengan harga Rp 250.000 per orang dan minimal 5 orang. Setiap paket memiliki rute yang berbeda-beda, jadi pastikan memilih paket yang sesuai ya traveler!

5. Paket Trekking Desa Taro

Paket Trekking Desa Taro mengajak traveler untuk jalan-jalan berkeliling Desa Taro, mulai dari pemukiman penduduk, hingga ke objek wisata yang menjadi ikon desa ini. Traveler bisa memilih tiga jenis paket trekking, yaitu paket 1 dan 2 dengan harga Rp 250.000 per orang dan minimal 5 orang.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Sendratari Ramayana Terjemahan Relief Candi Prambanan Tanpa Kata



Yogyakarta

Diterpa cahaya rembulan, di hadapan megahnya Candi Prambanan, keindahan budaya Jawa tersuguhkan dalam Sendratari Ramayana Prambanan. Pertunjukan itu memukau ribuan penonton dengan kisah epik Ramayana yang diadaptasi dalam bentuk seni drama dan tari tanpa dialog.

“Cerita Ramayana terkisah dari relief-relief yang terpahat di Candi Prambanan,” ucap sang narator

Pertunjukan itu bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga sebuah upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya Indonesia. Sejak 26 Juli 1961, pertunjukan tersebut daya tarik populer bagi wisatawan yang datang ke Candi Prambanan.


Sendratari Ramayana yang juga dikenal dengan Ramayana Ballet populer sebagai hiburan malam hari di Jogja. Tidak hanya menjadi rujukan wisatawan lokal, tapi turis asing terlihat antusias menyaksikannya.

Berikut yang dapat traveler rasakan jika menyaksikan sendratari Prambanan:

Pertunjukan Tanpa Dialog yang Menggetarkan

Sendratari Ramayana Prambanan menggabungkan unsur tari dan drama tanpa dialog, menceritakan perjalanan heroik Rama dalam menyelamatkan istrinya, Sinta, yang diculik oleh Rahwana, raja Negara Alengka.

Lebih dari 200 penari profesional dan musisi lokal terlibat dalam pertunjukan ini, menciptakan harmoni gerakan dan musik yang menggetarkan hati. Candi Prambanan, terutama Candi Siwa, menjadi latar belakang yang mempesona, menambah keagungan pertunjukan ini.

Tradisi yang Menyatu dengan Alam

Pertunjukan ini digelar rutin setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu. Pada musim kemarau bulan Mei hingga Oktober, pementasan berlangsung di panggung terbuka dengan ukuran mencapai 14 x 50 meter yang menyatu dengan Candi Prambanan dan alam sekitar.

Saat musim hujan sekitar Januari hingga April dan November hingga Desember, pertunjukan dipindahkan ke panggung tertutup Trimurti Stage.

Keunikan Kisah Ramayana Versi Jawa

Cerita Ramayana yang diangkat dalam sendratari ini merupakan adaptasi dari epos Hindu, namun dengan sentuhan budaya Jawa yang khas. Pertunjukan diawali dengan kemenangan Rama dalam kompetisi memanah untuk memperebutkan Putri Shinta. Setelah menikah, Rama, Shinta, dan Laksmana mengembara ke hutan Dandaka, tempat Rahwana menculik Shinta.

Dengan bantuan Hanoman dan pasukan kera, Rama membangun jembatan menuju Alengka untuk menyelamatkan Shinta. Pertempuran besar terjadi antara pasukan kera dan raksasa Alengka, hingga akhirnya Rama berhasil mengalahkan Rahwana dengan panahnya. Meski sempat meragukan kesucian Sinta, Rama akhirnya menerima kembali Shinta setelah ia membuktikan kesuciannya dengan membakar diri namun selamat dari api.

Pengalaman Menonton yang Tak Terlupakan

Penonton diingatkan untuk tidak menggunakan flash saat memotret dan tidak berbicara terlalu keras selama pertunjukan. Acara ini terdiri dari dua babak, dengan babak pertama diakhiri oleh aksi Hanoman membakar kerajaan Alengka, disusul oleh istirahat 15 menit.

Babak kedua yang lebih singkat diakhiri sekitar pukul 9 21.00.

Pada akhir pertunjukan, penonton diperbolehkan berfoto dengan para pemain di atas panggung. Terlihat pemeran Rama Sinta dan kera Hanoman sering menjadi favorit untuk diajak berfoto wisatawan.

Menjaga Warisan Budaya

Sendratari Ramayana Prambanan bukan hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga sebuah upaya untuk menjaga dan merayakan warisan budaya Indonesia.

Setiap gerakan tari dan alunan musik dalam sendratari ini mencerminkan kekayaan budaya Jawa yang harus terus dilestarikan.

Penonton tidak hanya disuguhi sebuah kisah epik, tetapi juga diajak untuk menghargai dan memahami budaya yang menjadi bagian penting dari identitas bangsa Indonesia.

Di panggung besar dengan latar belakang Candi Prambanan yang megah, Sendratari Ramayana Prambanan terus berlanjut, mengisahkan cerita cinta dan keberanian yang abadi, menghubungkan masa lalu dengan masa kini, dan menginspirasi generasi mendatang untuk mencintai budaya mereka.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com