Author: 10

  • Baru Nabung? Yuk, Ramal Tabunganmu di Masa Depan dengan Kalkulator Ini!

    Salah satu alasan orang sulit menabung di antaranya adalah tidak berhasil memantau pemasukan dan pengeluaran bulanan. Kesibukan bekerja dan mengumpulkan uang justru kerap jadi alasan sulitnya memantau tabungan. Jika itu juga menjadi alasanmu, maka berbagai aplikasi kalkulator tabungan adalah jawaban dari keresahanmu tersebut.

    Menabung memang terlihat mudah. Tapi begitu tiba di realitas, rupanya impian itu langsung buyar semudah itu. Selalu saja ada keperluan mendadak yang membuatmu mesti merogoh kocek lebih dalam, dan membatalkan niat suci menabung.

    Atau, ketika sudah ada dana yang cukup untuk menabung, kamu malah tidak tahu sebaiknya dana tersebut dialokasikan ke mana. Jangan pusing, kamu pun bisa jadi manajer investasi dan konsultan keuangan personal untuk dirimu sendiri lewat penggunaan kalkulator tabungan.

    Baca juga: Perbedaan Investasi dan Tabungan

    Ada begitu banyak aplikasi pengelola keuangan personal, berikut ini daftar aplikasi terbaik yang dapat membantumu mengelola keuangan lebih baik:

    1. Digit

    Biaya: gratis selama 30 hari pertama, lalu biaya bulanan sekitar Rp75.000

    Tersedia di Apple iOS dan Android.

    Saat kamu merasa kebingungan menentukan berapa banyak uang yang mampu kamu sisihkan setiap bulannya, bukalah aplikasi Digit.

    Kamu hanya tinggal mengunduh aplikasi ini dan mengkoneksikannya ke rekening bank. Lantas, tetapkan tujuan tabunganmu. Kalkulator tabungan Digit akan membantumu menghitung berapa yang dapat kamu sisihkan tiap bulannya untuk mencapai target tersebut.

    Digit menggunakan algoritme cerdasnya untuk menganalisis pendapatan bulanan penggunanya. Dan tak berhenti di sana, ia juga mengukur kebiasaan pengeluaranmu untuk menentukan seberapa banyak kamu mampu menabung. Aplikasi ini memang bekerja paling baik untuk mereka yang kesulitan mencari tahu berapa banyak yang mampu mereka hemat dan ingin bersandar pada bantuan kalkulator tabungan otomatis.

    2. Acorns

    Biaya: sekitar Rp15.000 sebulan untuk saldo tabungan di bawah Rp15 miliar

    Tersedia di Apple iOS dan Android.

    Acorns adalah kalkulator tabungan yang seumpama celengan virtual dan mengumpulkan berbagai transaksi keuanganmu. Unduh aplikasinya, lalu hubungan rekening giro, kartu kredit dan/atau kartu debitmu, dan Acorns akan bantu mengelola portofolio investasi tersebut.

    Aplikasi ini bahkan memberikan cashback bagi penggunanya. Misalnya, jika kamu ingin mendaftar ke Blue Apron, kamu bakal mendapat US$30 untuk diinvestasikan. Atau, saat kamu memesan Airbnb lewat aplikasimu, kamu akan mendapatkan 1,8% uang tunai dari transaksi tersebut.

    3. Qapital

    Biaya: gratis selama 30 hari pertama, lalu biaya bulanan sekitar Rp45.000

    Tersedia di Apple iOS dan Android.

    Sama seperti aplikasi kalkulator tabungan lainnya, Qapital akan terkoneksi ke rekening bankmu dan membantumu menetapkan sasaran tabungan yang dikehendaki.

    Untuk tiap sasaran, kamu dan Qapital akan menentukan aturan-aturan yang diterapkan saat menabung. Misalnya, kamu dapat mengatur apa saja tujuan finansialmu, lalu menentukan target dana bulanan yang kamu dapat sisihkan untuk mencapai tujuan itu, juga berapa lama kamu akan menabung. Kamu juga dapat mengatur agar Qapital secara otomatis menabung sekian rupiah setiap kali kamu berbelanja bulanan.

    Baca juga: Cara Jitu Memilih Tabungan Pendidikan Anak

    4. Twine

    Biaya: gratis

    Tersedia di Apple iOS dan Android.

    Aplikasi kalkulator tabungan ini ditujukan untuk penggunaan oleh pasangan. Jadi, kalau selama ini kamu mencari cara agar dapat menghemat demi tujuan bersama dengan pasanganmu, aplikasi ini adalah jawabannya.

    Misalnya, jika kamu dan pacarmu pengin menabung untuk berlibur ke Bali. Atau, jika kamu dan pasanganmu ingin membeli rumah dalam lima atau sepuluh tahun ke depan, juga menyiapkan uang muka atau DP untuk itu. Twine adalah aplikasi yang berupaya membantu tujuan finansial para pasangan dapat dicapai semudah menjentikkan jari.

    Untuk memulainya, kamu dan pasanganmu dapat membuat akun Twine. Lalu, koneksikan akun rekening bank kalian ke aplikasi ini. Selanjutnya, kalian dapat tentukan tujuan berdua dalam periode waktu tertentu. Misalnya, untuk liburan, DP/uang muka beli rumah, dana darurat, apa saja.

    5. Stash

    Biaya: Rp15.000 untuk pemilik akun dengan saldo tabungan di bawah Rp73 juta

    Tersedia di Apple iOS dan Android.

    Sama seperti aplikasi kalkulator tabungan di atas, kamu dapat mengatur Stash untuk mengumpulkan uangmu pada satu kolam. Lantas, mengatur jadwal yang ditentukan untuk menganalisis pendapatan dan pengeluaran. Juga, menentukan seberapa banyak yang mampu kamu investasikan.

    Selain aplikasi-aplikasi di atas, Pluang juga menyediakan kalkulator tabungan Pluang yang dapat memudahkan menghitung seberapa cepat investasimu berkembang.

    Belajar dan berkaca dari aplikasi keuangan personal yang berhasil di banyak negara, Pluang juga menyediakan fitur bagi para investor untuk mendiversifikasikan berbagai kelas asetnya.

    Dengan berinvestasi di Pluang, sama seperti di aplikasi-aplikasi di atas, kamu dapat menyimpan sejumlah dana yang mau kamu investasikan untuk tujuan finansial personalmu. Lantas, aplikasi ini akan secara otomatis menghitung imbal hasil untuk setiap kelas aset yang kamu pilih dalam portofoliomu. Mudah, bukan?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: The Penny Hoarder, Nerd Wallet



    Sumber : pluang.com

  • Terlihat Mirip, Apa Perbedaan Reksadana Pendapatan Tetap Reksadana Terproteksi? 

    Instrumen reksadana mendadak happening saat pandemi. Banyak orang yang sengaja menahan dana konsumsinya untuk dialokasikan ke instrumen investasi seperti reksadana. Salah satunya, adalah reksadana pendapatan tetap.

    Hal ini dibuktikan oleh data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan bahwa total dana kelolaan reksadana pada Desember 2020 lalu mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni menembus Rp573,54 triliun. Capaian tersebut meningkat 5,78% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp542,17 triliun.

    Pencapaian tersebut disebabkan oleh kinerja positif beberapa jenis reksadana. Diantaranya, adalah reksadana pendapatan tetap yang return-nya ternyata bertumbuh 8,99% sepanjang 2020. Tak heran jika nilai kelolaan reksadana ini mencapai Rp126 triliun di periode tersebut, atau tumbuh 11% dibanding tahun sebelumnya.

    Meski demikian, mungkin saja ada beberapa investor yang ingin mencicipi cuan reksadana pendapatan tetap, namun gagal meraihnya karena keliru mengenai produk. Apalagi biasanya, investor suka bingung antara reksadana pendapatan tetap dengan reksadana terproteksi.

    Padahal, bak pinang dibelah dua, sifat mereka berbeda. Hanya saja, perbedaannya tak begitu mencolok. Nah, apa saja perbedaan-perbedaan tersebut?

    Baca juga: Investasi Akhir Tahun Baiknya Pilih Emas, Saham, atau Reksadana?

    Karakteristik Reksadana Pendapatan Tetap

    Reksadana pendapatan tetap adalah jenis reksa dana yang portofolio investasinya dititikberatkan pada surat utang alias obligasi, baik yang diterbitkan pemerintah maupun korporasi. Minimal 80% dari total seluruh dana kelolaannya akan diinvestasikan pada aset-aset tersebut.

    Manajer Investasi (MI) selaku pengelola portofolio investasi akan melakukan aktivitas jual beli obligasi untuk mendapatkan imbal hasil. Sehingga, jenis reksadana ini sangat cocok untuk Sobat Cuan yang memilki karakteristik investor konservatif. Yakni, memiliki toleransi risiko yang rendah dan tidak terlalu agresif.

    Karena dominasi portofolio investasinya berada pada surat utang dan sisanya dialokasikan di saham, maka imbal hasil yang didapatkan juga tidak sebesar reksadana saham. Namun, secara manajemen risiko, jenis reksadana ini relatif lebih aman dibanding jenis reksadana lainnya.

    Tetapi, lebih aman bukan berarti tidak memiliki risiko lho. Karena MI akan melakukan jual beli obligasi, maka investor bisa terkena risiko gagal bayar dari obligor atau kena getah dari ulah MI nakal yang membawa kabur dana kelolaan nasabah.

    Oleh karena itu, penting bagi investor untuk melihat rekam jejak Manajer Investasi dan juga portofolio obligasi yang dikelolanya sebagai bentuk pengelolaan risiko. Jangan hanya tergiur akan besarnya imbal hasil sehingga mengsampingkan klausul dan juga portofolio obligasi yang di kelola, ya.

    Nah, sebagai bentuk mitigasi risiko, setiap MI biasanya hanya akan memilih surat utang dengan peringkat efek minimal BBB. Setiap obligasi memilki kupon obligasi yang akan menjadi keuntungan bagi investor reksa dana pendapatan tetap.

    Meskipun obligasi juga merupakan produk pasar modal, pergerakan harganya tidak seatraktif saham. Maklum, pembayaran dari obligor kepada para investornya diberikan dalam jumlah yang tetap per periodenya dalam bentuk kupon.

    Sehingga, jenis investasi ini sangat cocok untuk investasi jangka menengah antara satu hingga lima tahun.

    Nah, setelah membaca karakteristik di atas, bagaimana tentang reksadana terproteksi?

    Baca juga: Kaum Milenial, Berapa Banyak Investasi yang Mesti Kamu Punya?

    Karakteristik Reksadana Terproteksi

    Reksadana terproteksi, atau capital protected fund, sebenarnya hampir sama dengan reksadana pendapatan tetap dari sisi kelolaan dana. Di reksadana ini, manajer investasi akan menempatkan 80% dana kelolaannya ke obligasi.

    Namun, perbedaan keduanya terletak di pengelolaan reksadananya.

    Di dalam reksadana pendapatan tetap, manajer investasi bisa melakukan jual beli instrumen obligasi. Namun, di reksadana terproteksi, manajer investasi hanya akan mengelola dana di obligasi sampai tanggal jatuh temponya tiba.

    Di sini, Sobat Cuan perlu menggarisbawahi kalimat jatuh tempo. Sebab, jika unit penyertaan (UP) yang dimilki sudah dijual sebelum jatuh tempo, maka “proteksi” atas pokok investasi yang ditawarkan menjadi tidak dijamin.

    Jenis reksadana ini mirip dengan deposito atau tabungan dengan sistem kontrak pencairan. Hanya saja, dalam deposito, jangka waktu pencairan ditentukan oleh nasabah. Bisa 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun dan seterusnya.

    Sementara dalam reksadana terproteksi, jangka waktu jatuh temponya akan ditentukan oleh Manajer Investasi. Selama proses penjualan reksadana mengikuti ketentuan yang berlaku, dalam arti tanggal pencairan sesuai dengan tanggal jatuh tempo obligasi, maka jumlah pokok reksadananya secara otomatis terproteksi. Dan ketika obligasi sudah jatuh tempo, maka obligor wajib untuk melunasi pokok beserta kupon obligasinya.

    Untuk membeli unit penyertaan (UP) reksa dana terproteksi tidak bisa dilakukan sembarang waktu alias terbatas. Investor harus mengikuti masa penawaran yang biasanya berlangsung selama 120 hari. Saat masa tersebut, investor sudah bisa melakukan pembelian UP yang ditawarkan.

    Lantas, apa sih keuntungan reksadana ini? Nah, Sobat Cuan ternyata bisa mendapatkan kupon yang tertera dalam indikasi imbal hasil saat masa penawaran dan juga dividen.

    Tapi, sama seperti reksadana pendapatan tetap, reksadana terproteksi juga punya risiko sendiri, lho. Diantaranya adalah risiko pasar, risiko pelunasan lebih awal yang akhirnya akan menyebabkan penurunan harga, risiko wanprestasi dan juga risiko likuiditas dari sisi MI.

    Jadi Apa Inti Perbedaan Reksadana Pendapatan Tetap dan Reksadana Terproteksi?

    Secara singkat, perbedaan antara reksadana pendapatan tetap dan reksadana terproteksi mencakup empat aspek utama. Yakni

    1. Skema pengelolaan reksadana
      Di dalam reksadana pendapatan tetap, manajer investasi bisa melakukan jual-beli instrumen. Sementara itu, manajer investasi akan menggenggam obligasi sampai jatuh tempo di reksadana terproteksi.
    2. Periode subscription dan redemption
      Reksadana pendapatan tetap dapat dibeli (subscribe) atau dijual (redeem) kapan saja. Sementara itu, di reksadana terproteksi, terdapat masa penawaran yang harus diikuti investor untuk melakukan dua aktivitas tersebut.
    3. Biaya reksadana
      Investor akan dibebankan biaya subscription untuk penjualan dan biaya redemption apabila mereka mencairkan kurang dari setahun di dalam reksadana pendapatan tetap. Sementara itu, reksadana terproteksi umumnya hanya memiliki biaya redemption.

    Jadi bagaimana Sobat Cuan? Mau memilih reksadana pendapatan tetap? Atau reksadana terproteksi?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Kontan, Infovesta



    Sumber : pluang.com

  • Meski Naik Turun, Sampai Kapan Tren Harga Bitcoin yang Bullish Akan Berakhir?

    Sobat Cuan pecinta Bitcoin pasti paham bahwa tren harga Bitcoin seolah-olah sedang tidak karuan. Baru saja pekan lalu Bitcoin mencetak rekor tertinggi di US$64.000 per keping. Namun, harganya langsung terpelanting menuju US$51.000 di akhir pekan lalu. Untungnya, kini harga Bitcoin sudah kembali pulih ke angka US$55.000 per keping.

    Meski demikian, harga yang ambrol dan terkesan jungkat-jungkit itu bukan berarti bahwa harga Bitcoin sedang dalam tren bearish, lho. Sebab, sejatinya harga Bitcoin justru masih berada dalam tren harga bullish meski terdapat koreksi harga, seperti yang terlihat di grafik per 20 April 2021 di bawah ini.

    Sumber: Investing Cube, Crispus9/tradingview.com

    Koreksi harga kecil di sana-sini boleh saja terjadi. Namun, sebagai investor, tentu pertanyaan besarnya adalah kapan sejatinya tren bullish ini berakhir. Atau, kapan tepatnya tren harga buliish ini bisa berubah menjadi tren bearish.

    Spekulasi tentang periode tren bullish ini tidak ada habisnya, apalagi Bitcoin sekarang menjadi berita yang langganan muncul di media arus utama. Tapi apa yang membuat harga Bitcoin naik? Apakah ini hanya kabar baik yang tiada henti, atau apakah ada indikator lain yang dapat memprediksi pergerakan harga di masa depan?

    Efek FOMO dalam Tren Harga Bitcoin

    Mungkin, sebagian Sobat Cuan sudah tahu soal FOMO dalam investasi aset kripto, atau kecenderungan investor yang takut akan ketinggalan momentum (fear of missing out). Argumen bahwa kabar baik sedang membuai pasar terbukti benar.

    Tidak dapat disangkal bahwa ada semacam efek bola salju FOMO di antara investor institusi selama beberapa bulan terakhir. Dan itu yang membuat harga Bitcoin seolah-olah sedang menciptakan tren ngegas belakangan ini.

    Tren harga Bitcoin bullish dimulai pada kuartal terakhir tahun 2020. Kala itu, harga tiba-tiba melonjak pada bulan Oktober di tengah berita bahwa PayPal memasuki dunia aset kripto. Momentum bullish lebih lanjut terjadi ketika JPMorgan meluncurkan koin JPM yang telah lama ditunggu-tunggu.

    Baca juga: Kenapa IPO Coinbase Memberi Petunjuk Soal Harga Aset Kripto di Masa Depan?

    Tahun ini, MicroStrategy melakukan pembelian Bitcoin besar-besaran, dibarengi dengan Tesla yang berinvestasi US$1,5 miliar. Bank-bank besar, termasuk Goldman Sachs dan Citigroup, memperluas penawaran layanan mereka ke aset kripto. Hal itu menambah kredibilitas lebih lanjut bahwa aset kripto layak menjadi kelas aset yang mapan.

    Baru-baru ini, euforia penawaran saham perdana (IPO) Coinbase di Nasdaq juga berperan dalam memastikan bahwa aset digital tetap berada dalam agenda berita global. Coinbase adalah perusahaan cryptocurrency exchange pertama yang melantai di bursa saham.

    Pada tingkat ekonomi makro, dorongan bullish muncul dari ETF Bitcoin yang disetujui oleh regulator Amerika Serikat. Meski menurut pandangan para analis, masih dibutuhkan waktu dua tahun lagi sebelum persetujuan diberikan.

    Level harga US$25.000 Memicu Investor Institusi?

    Terdapat teori bahwa berita baik yang menopang harga mungkin tidak menciptakan tren harga Bitcoin bullish jangka panjang. Namun, aksi beli pasar terbukti cukup untuk membuat investor dan institusi besar lebih memperhatikan.

    Sebuah laporan dari eToroX yang diterbitkan pada bulan Januari, mengkonfirmasi hal tersebut. Pasalnya, laporan mereka berdasarkan wawancara para pelaku institusional.

    Baca juga: Tips Berdamai dengan FOMO Agar Tak Panic Selling & Buying Aset Kripto

    Laporan tersebut menemukan bahwa Bitcoin harus mencapai harga yang cukup tinggi untuk membuatnya menarik bagi institusi. Hal itu undtuk mengimbangi sentimen negatif seperti risiko regulasi, potensi penipuan, dan akses ke infrastruktur yang diperlukan.

    Seorang responden bahkan telah menetapkan ambang level harga US$25.000 per Bitcoin. Hal itu menunjukkan bahwa harga saat ini lebih dari cukup untuk membuat investor institusi tetap terlibat.

    Saat Berita Baik Belum Tentu Hal Baik

    Gagasan bahwa harga didorong sepenuhnya oleh sentimen positif dari berita baik memiliki kelemahan bahwa keberlanjutan harga tidak bertahan jangka panjang. Sederhananya, jika kabar baik ‘mengering’, harga bisa berbalik, menciptakan efek bola salju yang serupa dari berita buruk di pasar yang jeblok.

    Dari perspektif ini, ada baiknya memeriksa beberapa fundamental dalam dan luar yang dapat mendorong harga. Di sini, ada banyak alasan untuk tetap bersikap positif. Namun, masih ada hal mendasar yang menunjukkan kenaikan harga di tahun 2021 masih jauh dari selesai. Data Glassnode menunjukkan bahwa volume Bitcoin yang ‘ngendon’ di crypto exchange terus turun, mengurangi pasokan likuiditas.

    Baca juga: Apa Alasan Kita Perlu Perhatikan Kapitalisasi Pasar Saat Investasi Aset Kripto?

    Namun, jumlah akun yang menampung lebih dari 1.000 Bitcoin baru-baru ini mencapai titik tertinggi sepanjang masa. Hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak whale (investor jumbo) yang memilih untuk bersekongkol.

    Semua Sinyal Menuju ke HODL

    Jika aktivitas jual merupakan indikator utama, maka puncaknya masih jauh. Menurut laporan baru-baru ini, investor yang menahan Bitcoin dalam jangka panjang terbukti enggan melepaskan investasi mereka. Hal ini biasanya terjadi selama paruh kedua siklus pasar, saat mereka berusaha mengambil untung.

    Oleh karena itu, kenaikan harga ini sangat tidak biasa berdasarkan puncak harga sebelumnya. Pencari untung biasanya menjual setelah memegang antara satu minggu hingga satu bulan. Dalam hal ini, mereka sangat blak-blakan dalam menjual.

    Baca juga: Setelah Dihantam Badai, Harga Bitcoin dan Ethereum Mencoba Bangkit Pekan Ini

    Data rasio HODL (menahan kepemilikan) juga mendukung pandangan ini. Data ini dapat diandalkan karena berkorelasi dengan semua reversal sebelumnya di siklus makro Bitcoin.

    Jika sejarah dapat meramalkan masa depan, maka data menunjukkan bahwa kenaikan hanya sekitar setengah dari siklus ini. Dimana menunjukkan bahwa harga US$100.000 per Bitcoin sebelum akhir tahun ini masih bisa terjadi.

    Harga Bitcoin Mencapai Puncaknya Pada Kuartal IV 2021?

    Teori Siklus 4 Tahun Bitcoin tampaknya mendukung hal ini. Siklus 4 tahun menunjukkan bahwa harga Bitcoin akan mengalami pertumbuhan eksponensial pada tahun 2021 dan mencapai puncaknya sebelum akhir tahun.

    Sementara kecenderungan harga berulang secara historis memberikan lebih banyak bobot dalam analisis temporer semacam ini. Dimana peran waktu dalam konteks koreksi dan kenaikan harga Bitcoin tidak boleh diremehkan.

    Jadi berapa lama pasar bullish aset kripto akan bertahan? Jika teori ini benar, Bitcoin memiliki banyak ruang untuk pertumbuhan eksponensial (dengan beberapa koreksi di sepanjang jalan), sebelum akhirnya mencapai puncak sekitar Oktober 2021.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: CoinTelegraph, Brave NewCoin



    Sumber : pluang.com

  • Biar Cuan dari Emas Makin Pol, Yuk Pelajari Trik Investasi Emas di Buku-Buku Berikut!

    Sebagai seorang investor yang lama malang-melintang di dunia investasi, kamu tentu sudah familiar dengan banyak referensi terkait tips investasi emas, saham, dan aset-aset lainnya.

    Terus-menerus belajar tentang strategi investasi adalah kepribadian yang dimiliki oleh para investor kawakan. Kamu tentu kerap mendengar pengakuan banyak investor yang berhasil, bahwa mereka adalah tipikal pribadi yang tidak pernah berhenti belajar.

    Bukan hanya mengakses berita terkini, bahkan Warren Buffett dan para investor sukses itu merasa bahwa selalu ada hal baru yang bisa dipelajari setiap harinya dalam bidang investasi, bidang yang tidak bosan-bosannya mereka geluti selama puluhan tahun.

    Kita memang bisa senantiasa belajar dari informasi di sekitar kita. Entah itu dari menyimak video dokumenter YouTube atau menonton para ahli di bidangnya bicara di TEDx, atau mendengar podcast sembari beraktivitas.

    Buku pun tak terkecuali. Bagi sebagian besar orang, tidak harus menjadi orang konvensional untuk mengatakan bahwa memperoleh informasi dari buku boleh jadi jauh lebih efisien.

    Saat membolak-balik buku, kita dapat langsung menemukan informasi yang dibutuhkan dengan menyisiri kata kuncinya. Berbeda dengan mendengarkan podcast atau menonton video yang mengharuskan kita dengan tabah menyimak untaian demi untaian kata sang narator.

    Lagipula, menambah informasi seputar tips investasi tentunya tidak perlu dibatasi medium, bukan? Berikut ini beberapa judul buku terbaik mengenai tips investasi emas.

    Baca juga: Mau Belajar Investasi? 5 Rekomendasi Buku Ini Wajib Kamu Baca!

    1. Precious Metals Investing for Dummies – Tips Investasi Emas bagi Pemula

    Pada dasarnya, buku ini membahas investasi secara umum. Tapi, secara spesifik, buku ini termasuk buku terbaik bagi pemula yang ingin mencari tips investasi emas.

    Dalam buku ini, kamu bakal dapat menemukan tips untuk meneliti kapan waktu yang baik membeli dan menjual emas, bagaimana melakukan strategi perdagangan emas, hingga saran memilih broker investasi.

    Ditulis dengan gaya “dummies” alias ditujukan bagi pemula, buku ini dikemas sedemikian rupa sehingga bisa sangat dinikmati bagi mereka yang mencari informasi teknis. Dari tips dan trik, hingga informasi trivia yang penting untuk diketahui. Bahkan, kamu bisa membaca bagian buku ini yang menjelaskan tentang koin numismatik, hingga bagaimana menentukan diversifikasi portofolio logam yang menguntungkan.

    2. The Goldwatcher: Demystifying Gold Investing

    Terbit pada 2008, buku ini menyelidiki sejarah harga emas. Meski terbit 13 tahun lalu, buku ini merupakan bacaan yang bagus bagi mereka yang ingin mendapatkan pemahaman lebih baik tentang pengaruh ekonomi dunia terhadap nilai emas.

    Buku ini ditulis oleh John Katz dan Frank Holmes dengan gaya bahasa yang efisien dan informatif. Katz memberi kontribusi dalam deskripsi mengenai tips investasi emas yang tidak bias. Bahkan, ia bisa dengan lugas menyampaikan perihal berbagai kebijakan pemerintah peristiwa ekonomi, serta harga emas dari waktu ke waktu. Semua informasi ini ditujukan agar pembaca buku ini dapat membuat keputusan investasi yang tepat dengan melihat sejarah investasi ke belakang.

    Sementara itu, Holmes memberi penjelasan tentang kapan waktunya investasi emas mengalami masa-masa bullish. Ia membahas juga investasi di saham perusahaan emas, perbedaan antara perusahaan dan pertambangan emas, juga risiko dan potensi keuntungan dari investasi ini.

    Lewat buku ini, kamu akan mendapatkan tips investasi emas yang terperinci membahas musim investasi dan pergerakan/volatilitas investasi emas.

    3. What to do with Granddaddy’s Coins

    Ini adalah panduan bagi kolektor koin emas yang mudah diikuti dan menyenangkan untuk dibaca. Jeff Ambio membawa pembacanya mengidentifikasi dan membuat penilaian tentang berbagai jenis koin. Selain itu, ia juga memberi informasi tentang bagaimana menangani dan menyimpan koin tersebut.

    Ambio adalah seorang pakar di bidang perkoinan. Membaca panduannya di buku ini akan menjadikan seorang non-kolektor memiliki otoritas untuk membicarakan soal koin hanya dalam semalam.

    Baca juga: Kenali Tujuan Investasimu, Lihat 4 Investasi Potensial untuk Pemula Ini

    4. The ABC’s of Gold Investing

    Buku ini hadir dengan subjudul “Protecting your wealth through private gold ownership” alias “melindungi kekayaan dengan memiliki emas pribadi”. Penulis buku ini tidak diragukan jam terbangnya, Michael Kosares adalah seorang pakar pasar emas dan pemantau bullish jangka panjang dalam investasi emas.

    Buku tips investasi emas ini dibuka dengan latar belakang sejarah emas, yang lantas diikuti oleh panduan faktor-faktor yang mempengaruhi harga emas, hingga penjelasan lanskap politik dan ekonomi di balik perubahan harga tersebut.

    Konon, seorang investor veteran pun masih dapat memetik banyak pelajaran dari buku Kosares ini. Ini lantaran Kosares berhasil menjelaskan dengan sangat baik mengenai beberapa kasus yang menjadi ilustrasi kapan waktu yang baik untuk membeli dan menjual emas.

    5. Junior Mining Investing – Tips Investasi Emas di Sektor Pertambangan

    Memasang investasi di saham pertambangan bisa jadi merupakan pilihan bisnis yang rumit. Namun, buku ini tampaknya bisa memberimu banyak panduan seputar dunia pertambangan emas dan industrinya. Ada tulisan dari kontributor dengan beragam latar belakang yang dikumpulkan dalam buku ini.

    Selusin veteran industri tambang, juga manajer hedge fund hingga penulis buletin investasi, ahli geologi dan pelaku industri yang sukses di industri ini memberikan penjelasan dan perspektif mereka soal investasi emas dan dunia pertambangan.

    Selain soal pertambangan emas, buku ini tentunya akan sangat baik juga dibaca oleh mereka yang tertarik mengetahui seluk-beluk industri pertambangan secara keseluruhan. Buku ini mengeksplorasi secara mendetail berbagai strategi investasi di tiap jenis pertambangan.

    Kalau kamu belum pernah terpikir untuk berinvestasi di sektor ini atau masih ragu-ragu untuk memulai, buku ini adalah panduan yang tepat untuk mendorongmu melangkah di sektor ini. Tapi, kalau kamu sudah yakin berinvestasi emas, yuk langsung saja investasi emas digital di Pluang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Investing.co.uk



    Sumber : pluang.com

  • Apa Sih, Pentingnya Musim Pelaporan Keuangan SP 500 Bagi Investor?

    Sekarang sudah memasuki bulan April. Banyak perusahaan terbuka yang sudah mulai melaporkan kinerjanya untuk periode triwulan pertama 2021, atau biasanya dikenal dengan earning season. Tidak ketinggalan, begitu juga dengan perusahaan yang masuk dalam daftar Indeks S&P 500.

    Hanya saja, earning season S&P 500 kali ini terbilang spesial. Hingga Kamis (22/4), setidaknya ada 75 perusahaan S&P 500 yang sudah mengumumkan kinerja keuangannya. Hasilnya, 85% diantaranya berhasil melampaui estimasi laba per saham (Earning per Share) yang disusun para analis.

    Adapun, salah satu sektor yang menorehkan kinerja moncer S&P 500 adalah sektor jasa keuangan. Nilai EPS USBancorp, misalnya, tercatat 49% lebih tinggi dari konsensus. Begitu pun JPMorgan dan Bank of America yang pertumbuhannya masing-masing mencatat 48% dan 25% lebih tinggi di atas konsesus analis.

    Analis Earning Scouts Nick Raich menjelaskan, kebanyakan perusahaan yang sudah merilis kinerja keuangannya menatap pencapaian di triwulan II dengan lebih positif. Hal itu akan berdampak baik bagi saham perusahaan itu sendiri.

    Meski demikian, apa sih, alasan utama investor harus memperhatikan earning season kali ini? Mengapa semua mata pelaku pasar tertuju pada momen pelaporan kinerja tahunan tersebut?

    Baca juga: Menganalisa Kinerja Indeks S&P500

    Earning Season Memberi Petunjuk Mengenai Nasib S&P 500

    Seperti yang kita tahu, indeks S&P 500 seolah tak henti-hentinya mencetak rekor sejak Maret. Terakhir, indeks S&P 500 mencetak rekor di angka 4.185 pada 16 April lalu.

    Nah, nilai indeks tersebut kemungkinan bisa mencetak rekor baru lagi jika hasil laporan keuangan para perusahaan S&P 500 saat earning season juga terbilang tokcer. Mengapa demikian?

    Sekadar informasi, nilai indeks S&P 500 dihitung berdasarkan nilai kapitalisasi pasar atas saham-saham perusahaan yang berada di dalamnya. Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar sendiri dihitung berdasarkan total jumlah saham beredar dan harga saham tersebut.

    Tentu saja, jika kinerja keuangan perusahaan kian mumpuni, maka harga sahamnya juga bisa terdongkrak. Ujungnya, kapitalisasi pasar membengkak, dan mempengaruhi pembobotan nilai indeks S&P 500. Hasilnya, nilai indeks saham paling bonafit di AS ini pun melesat bak roket.

    Nah, di sisi lain, nilai indeks S&P 500 adalah cerminan dari laju tingkat return indeks saham tersebut. Jika laju nilai indeks S&P 500 bergerak secara pelan, itu mengindikasikan bahwa mendulang cuan dari indeks ini pun kemungkinan akan sukar. Begitu pun sebaliknya.

    Intinya, investor S&P 500 wajib mengikuti hasil earning season untuk memutuskan apakah ia harus tetap berinvestasi atau justru menarik diri dari indeks S&P 500.

    Meski demikian, hasil earning season yang buruk bukan berarti bahwa perusahaan-perusahaan, atau kinerja indeks S&P 500 secara keseluruhan, terbilang parah. Sebab, buruknya kinerja keuangan perusahaan bisa jadi disebabkan perbedaan sistem pencatatan keuangan.

    Di AS, terdapat perusahaan yang menggunakan perhitungan aktvitas keuangannya dengan sistem tahun fiskal. Artinya, publikasi laporan keuangannya akan berbeda dengan perusahaan lain yang biasanya berjalan di bulan Maret, Juni, September dan Desember.

    Setiap laporan keuangan yang dirilis oleh perusahaan dapat memengaruhi pergerakan sahamnya. Investor, media keuangan, analis semua memfokuskan pandangannya pada saat momentum laporan keuangan seperti sekarang.

    Karena saat laporan keuangan perusahaan A dirilis misalnya, pergerakan harga sahamnya memiliki dua kemungkinan, yakni meningkat tajam atau justru amblas.

    Sehingga momentum seperti ini dijadikan penentu keputusan bagi investor, apakah tetap mengoleksi saham tersebut atau justru melepasnya dan melihat potensi kenaikan yang lebih tinggi lagi dari hasil laporan keuangan yang dipublikasikan.

    Baca juga: Investasi S&P 500 Bisa Bikin Kamu Sultan Lho, Simak 3 Alasannya!

    Setelah Earning Season, Masa Depan S&P 500 Akan Tetap Cerah

    Tadi, dijelaskan bahwa earning season bisa menjadi bahan pertimbangan investor untuk terus berinvestasi di S&P 500 atau tidak. Kali ini, mungkin investor masih optimistis dengan kinerja S&P 500, mengingat nilainya dianggap “masih bisa menuju puncak yang lebih tinggi lagi”.

    Salah satu sentimen pendukungnya adalah data-data ekonomi AS yang mumpuni. Sejak dua pekan lalu, data-data seperti indeks harga konsumen, data penjualan ritel, klaim pengangguran AS terus menunjukkan perbaikan. Di saat ekonomi tengah bergeliat, maka investor pun mulai berani untuk menggenggam aset berisiko seperti saham.

    Chris Low dari FHN Financial menambahkan, data tersebut akan menambah optimisme pelaku pasar jika dikombinasikan dengan kebijakan moneter The Fed. Yakni, berupaya keras untuk terus memfasilitasi ekonomi AS hingga benar-benar pulih seutuhnya.

    “Kami mendapatkan jaminan dari salah satu Pejabat The Fed, bahwa kondisi ini adalah kondisi yang nyaman dengan lingkungan ekonomi dan inflasi. Sehingga hal itu juga menjadi berita baik bagi ekuitas,” kata dia.

    Selain itu, laju return indeks S&P 500 yang diperkirakan makin kencang juga bikin investor yakin untuk membenamkan dana di indeks tersebut.

    Indeks S&P 500 pertama kali menembus level 1.000 pada 1998 silam. Dibutuhkan waktu 16 tahun lamanya sampai akhirnya indeks saham bonafit AS iti menembus level 2.000 di tahun 2014.

    Namun, apakah S&P 500 membutuhkan waktu 16 tahun lagi demi mengeret nilai dari 2.000 ke 3.000? Jawabannya adalah tidak. Malahan, jangka waktunya kian cepat. Sebab, S&P 500 hanya membutuhkan waktu lima tahun saja untuk mencapai posisi 3.000 di 2019. Kemudian, ia hanya butuh kurang dari dua tahun untuk mencapai posisi 4.000.

    Dengan laju return S&P 500 yang semakin cepat, maka investor juga semakin cepat mendulang cuan dari indeks tersebut. Nah, apakah Sobat Cuan tidak tertarik untuk berinvestasi S&P 500 juga? Yuk, langsung investasi S&P 500 di Pluang sekarang!

    Baca juga: Sejarah Pasar Saham di Indonesia

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: CNBC, Investopedia, Nasdaq



    Sumber : pluang.com

  • Lagi Rame Prediksi Aset Kripto Bakal Bubble, Benarkah?

    Harga Bitcoin sempat melonjak bersamaan penawaran saham perdana Coinbase, sebuah cryptocurrency exchange, yang menghebohkan pasar. Kini harga mulai turun, dan bahkan ada yang bilang pelemahan ini adalah efek lonjakan harga sebelumnya yang dianggap bubble.

    Bank of America Fund Manager Survey melaporkan bahwa sebagian besar investor profesional berpikir kenaikan harga Bitcoin kemarin adalah sebuah bubble. Nah lho, gimana nih Sobat Cuan?

    Sekitar 74% dari para fund manager yang memantau pasar mengatakan mereka melihat cryptocurrency terkemuka tersebut sebagai bubble. Hanya 16% responden yang mengatakan tidak untuk pertanyaan tersebut. Hal itu menunjukkan alasan investasi yang sangat spekulatif soal Bitcoin.

    Para fund manager juga menilai Bitcoin menduduki peringkat kedua dalam daftar perdagangan paling ramai, setelah saham perusahaan teknologi. Bitcoin memimpin jauh di depan tren yang terkait isu investasi yang ramah lingkungan, sosial dan tata kelola perusahaan (ESG). Juga mengalahkan saham saham jagoan dan treasury AS.

    Baca juga: Meski Naik Turun, Sampai Kapan Tren Harga Bitcoin yang Bullish Akan Berakhir?

    Lebih dari tiga dari sepuluh responden mengaku saham perusahaan teknologi sebagai perdagangan paling ramai, sementara 27% mengatakan Bitcoin. Namun, sekitar 10% mengatakan mereka berpikir Bitcoin akan berkinerja lebih baik pada tahun 2021.

    Hasil laporan tersebut berasal dari survei terhadap 200 responden dengan aset kelolaan US$533 miliar. Laporan ini itu tiba tepat ketika tren harga Bitcoin tengah bullish, dan pasar menunggu debut besar Coinbase di bursa saham.

    Harga Bitcoin naik hampir sembilan kali lipat selama setahun terakhir di tengah hiruk pikuk spekulasi dan adopsi aset kripto yang lebih luas. Pendiri Tesla Elon Musk awal tahun ini mengatakan, produsen mobil listrik itu akan menerima Bitcoin sebagai alat pembayaran. Beberapa investment bank di Wall Street juga membuat layanan bagi pelanggan yang tertarik menaruh dana di cryptocurrency.

    Harga Dogecoin yang Merongrong pun Diduga Bubble Aset Kripto

    Dogecoin adalah mata uang kripto yang didasarkan pada meme seekor anjing “Doge”, yang menjadi populer pada akhir 2013. Dimulai sebagai lelucon, kini Doge melawan segala ejekan. Kapitalisasi pasar Dogecoin kini bernilai US$40 miliar, dan harganya telah meningkat 400% dalam tujuh hari terakhir.

    Meroketnya harga Dogecoin telah menyebabkan kekhawatiran akan potensi bubble di pasar aset kripto. Beberapa investor sudah melihat Bitcoin sebagai bubble spekulatif, koin digital paling populer yang berlipat ganda sejak awal 2021.

    Baca juga: Kenapa IPO Coinbase Memberi Petunjuk Soal Harga Aset Kripto di Masa Depan?

    “Kebangkitan Dogecoin adalah contoh klasik dari teori bodoh lebih besar yang sedang dimainkan,” ujar David Kimberley, seorang analis di aplikasi investasi Freetrade asal Inggris.

    “Orang-orang membeli cryptocurrency, bukan karena mereka pikir itu memiliki nilai yang berarti. Tetapi karena mereka berharap orang lain akan menumpuk, menaikkan harga, dan kemudian mereka dapat menjual dan menghasilkan uang dengan cepat,” imbuhnya.

    Apa Itu Bubble?

    Bubble alias gelembung adalah siklus ekonomi yang ditandai dengan peningkatan pesat nilai pasar, khususnya harga aset. Kenaikan yang cepat ini diikuti dengan penurunan nilai yang cepat, atau kontraksi, yang kadang-kadang disebut sebagai “crash” atau “bubble burst“.

    Biasanya, bubble terjadi karena lonjakan harga aset yang didorong oleh perilaku pasar yang terbuai euforia. Selama bubble, aset biasanya diperdagangkan pada harga, atau dalam kisaran harga yang jauh melebihi nilai intrinsik aset (harga tidak sejalan dengan fundamental aset).

    Baca juga: Tips Berdamai dengan FOMO Agar Tak Panic Selling & Buying Aset Kripto

    Penyebab bubble diperdebatkan oleh para ekonom. Beberapa ekonom bahkan tidak setuju bahwa bubble terjadi sama sekali. Hal itu atas dasar bahwa harga aset memang sering kali menyimpang dari nilai intrinsiknya. Namun, bubble biasanya hanya diidentifikasi dan dipelajari dalam ‘kacamata’ analisis retrospeksi, setelah terjadi penurunan harga yang sangat besar.

    Akankah Bubble Bitcoin Meledak Seperti di Bubble Aset Kripto 2017?

    Orang yang skeptis terhadap lonjakan harga Bitcoin baru-baru ini perlu melihat lebih jauh ke belakang, di tahun 2017. Ketika harganya meroket hampir US$20.000, lalu amblas menjadi sekitar US$3.000 setahun kemudian.

    Lebih jelasnya, pada 2017 harga Bitcoin melonjak menjadi hampir US$20.000 pada bulan Desember tahun itu. Padahal di awal tahun harganya masih di bawah US$1.000. Namun, satu tahun kemudian, harga amblas menjadi sekitar US$3.000, atau melorot sekitar 75% dari puncaknya.

    Baca juga: Apa Alasan Kita Perlu Perhatikan Kapitalisasi Pasar Saat Investasi Aset Kripto?

    Mungkinkah hal itu yang bakal terjadi juga nanti? Dimana saat ini Bitcoin sempat melonjak ke puncak lebih dari US$61.000 pada pertengahan Maret, dari sekitar US$7.000 setahun yang lalu.

    Volatilitas ekstrim dan nilai intrinsik yang tidak pasti adalah alasan mengapa dahulu investor berpengalaman mencemooh Bitcoin. Hal itu terkait aset kripto sebagai murni spekulasi.

    “Bagi saya, itu hanya seperti penyakit pikun (spekulasi asal-asalan),” kata Vice Chairman Berkshire Hathaway Charlie Munger, di pertemuan tahunan Berkshire 2018.

    Tahu Saatnya ‘Keluar’

    Beberapa investor secara tak langsung terlihat jelas tidak ingin mengabaikan peluang investasi Bitcoin. Namun masih ada beberapa investor yang mewanti-wanti jika kenaikan Bitcoin terus berlanjut ke ‘puncak yang tak berujung’.

    Ulrik Lykke, CEO ARK36 yang berfokus pada hedge fund atau aset lindung nilai aset kripto, mengatakan bahwa sejarah mengajarkan investor untuk tidak terlalu serakah.

    Ia merujuk pada anekdot terkenal Joseph Kennedy tentang bagaimana dia tahu sudah waktunya untuk ‘keluar’ dari pasar pada tahun 1929. Hal itu terjadi ketika anak laki-laki penyemir sepatu memberi Kennedy tips investasi saham.

    “Jika tukang semir sepatu sampai memberikan tips saham, maka inilah waktunya untuk keluar dari pasar,” begitulah ucapan kontroversial Joseph Kennedy terkait pasar yang kian tidak rasional.

    Baca juga: Setelah Dihantam Badai, Harga Bitcoin dan Ethereum Mencoba Bangkit Pekan Ini

    Ulrik Lykke mengatakan, jika pasar benar-benar menggila dan harga mencapai US$100.000 hingga US$300.000 per token, mana penurunan besar serupa tahun 2018 mungkin akan menyusul.

    “Pelajarannya di sini adalah sebaiknya mengetahui kapan mengambil untung ketika harga menjadi begitu besar, sehingga penjualan dapat mengubah hidup Anda secara radikal. Dengan kata lain, jika semua orang, termasuk nenek Anda, optimistis tentang Bitcoin, maka mungkin ini saat yang tepat untuk menjualnya sebagian,” kata Ulrik.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: CNBC, Investopedia, TheStreet



    Sumber : pluang.com

  • Mau Coba Simpan Aset Kripto di Dompet DeFi? Berikut Tipsnya!

    Selama beberapa waktu terakhir, teknologi decentralized finance (DeFi) seolah-olah sudah menarik perhatian pengguna aset kripto sebagai sarana menabung. Hal ini terlihat dari pertumbuhan jumlah nilai terkunci (Total Value Locked/TVL) per 22 April 2021 yang mencapai US$58,08 miliar, atau bertumbuh 7.010% dibanding posisi tahun lalu US$754 juta. Namun pertanyaannya, bagaimana tips memilih dompet DeFi yang benar?

    Nah, sebelum merangsek ke sana, ada baiknya kamu memahami dulu mengenai teknologi dompet DeFi. Secara umum, untuk berhasil berinteraksi dalam jejaring sistem DeFi dan menjalankan etos “menjadi bank untuk dirimu sendiri”, sistem di mana berbagai protokol DeFi dijalankan perlu dipastikan aman dari peretasan.

    Berkat sifat non-kustodian dompet DeFi, pengguna dapat dengan aman menyimpan dana mereka tanpa harus bergantung pada lembaga pihak ketiga untuk menyimpan aset mereka.

    Sebelumnya, dompet seperti MyEtherWallet mendominasi pasar dengan tampilan UI/UX yang kikuk bagi penggunanya. Untungnya, dalam satu tahun terakhir ini, banyak dompet telah meningkatkan tampilannya dan menawarkan antarmuka yang lebih baik.

    Sebagian besar aplikasi DeFi diakses dengan menghubungkan salah satu dompet Web3. Berikut ini karakteristik dari DeFi Wallet alias Dompet DeFi yang menggunakan sistem manajemen aset ini.

    Baca juga: Mau Coba Investasi di DeFi? Begini, Lho, Caranya!

    Komponen Inti Dompet DeFi

    Untuk mengoptimalkan tips menabung DeFi yang aman, berikut ini beberapa sifat dompet DeFi yang perlu kamu ketahui saat memutuskan terjun di ekosistem DeFi:

    1. Non-kustodian

    Pengguna dapat mengirim dan mentransfer dana dengan aman karena merekalah satu-satunya yang memiliki akses ke dana tersebut.

    2. Berbasis Kunci (Key-based)

    Semua dompet DeFi memiliki keypair yang unik. Fitur ini berbeda dari dompet terpusat (centralized wallet) karena pengguna bertanggung jawab atas penyimpanan kunci pribadi mereka dalam bentuk seed phrases.

    Seed phrases ini adalah sekumpulan kata yang diambil dari kamus, dan tiap kata tersebut terkait ke angka tertentu. Untuk fitur ini, tips menabung DeFi yang perlu kamu terapkan adalah dengan memastikan kamu memasang frasa benih (seed phrases) yang tepat untuk akses dompetmu.

    3. Mudah Diakses

    Hampir semua dompet non-custodial dapat menangani serangkaian aset. Dompet khusus Ethereum memungkinkan pengguna untuk menyetor ETH dengan stablecoin seperti token Dai, token ERC20 seperti KNC dan ERC721 seperti Axies.

    4. Kompatibel

    Hampir semua dompet DeFi diakses dengan menghubungkan dompet web3. Dompet seluler mulai mengintegrasikan berbagai browser dApps untuk memudahkan koneksi dengan aplikasi DeFi tanpa harus keluar dari aplikasi jika masih ada transaksi.

    Baca juga: 6 Tips Mengelola Dompet Bitcoin

    Tips Menabung DeFi dengan Pilih Dompet yang Tepat

    Saat kamu memilih untuk terjun di ekosistem DeFi dan melihat persaingan berbagai dompet DeFi, jangan khawatir salah memilih. Berikut ini panduan mengenai hal-hal yang perlu kamu kenali dari fitur dompet DeFi-mu:

    1. Titik Akses: Dompetmu adalah titik aksesmu terhadap ekosistem DeFi yang lebih besar. Jadi, ketika hendak mengisi dompet DeFi tersebut, pastikan apakah aset kripto milikmu didukung oleh fitur dompet tersebut.
    2. Seed Phrases/Frase Benih: Frase ini semacam kata kunci yang dapat kamu gunakan untuk mengakses dompet DeFi tersebut. Ini memungkinkan keamanan dompetmu lebih optimal dalam jejaring DeFi.
    3. Perhatikan Aset Kripto yang Didukung: Dompet berbeda dapat digunakan untuk menyimpan aset kripto berbeda pula. Pastikan kamu melakukan uji tuntas untuk mengetahui dompetmu kompatibel dengan aset kripto yang akan kamu simpan dalam dompet itu. Misalnya, di MetaMask kamu tidak bisa menyimpan Bitcoin.
    4. Testimoni Pengguna Dompet di Jejaring Sosial: Tips menabung DeFi selanjutnya adalah dengan memastikan keterhubungan dompet tersebut di jejaring sosial. Kamu bisa pantau di media sosial dompet tersebut, apakah cukup banyak pengguna yang menunjukkan kepercayaannya dalam menggunakan dompet itu.

    Baca juga: Mengenal Berbagai Tipe Cryptocurrency Walllet

    Beberapa Contoh Dompet DeFi

    MetaMask

    MetaMask adalah dompet yang paling banyak didukung di seluruh ekosistem DeFi yang lebih besar. Penggunaan MetaMask dapat kompatibel dengan ENS. Baru-baru ini, MetaMask merilis versi beta seluler, menandakan bahwa dompet akan segera masuk ke perangkat seluler.

    Saat melakukan transaksi di MetaMask, pengguna dapat dengan mudah “mempercepat” transaksinya. Ini menjadi salah satu tips menabung DeFi yang optimal dalam dompet ini, karena pengguna dapat memastikan transaksi berlangsung cepat.

    Terutama digunakan sebagai ekstensi browser web, MetaMask adalah pintu gerbang untuk mengakses DeFi dengan mudah melalui browser internet apa pun. Plugin berbeda dapat digunakan saat kamu memilih MetaMask sebagai dompet DeFi-mu. Ini memungkinkan MetaMask untuk menjalankan berbagai fungsi yang dibutuhkan dari aplikasi DeFi.

    Dompet Coinbase

    Tidak seperti aplikasi Coinbase, Dompet Coinbase menyimpan kunci pribadi langsung dalam perangkatmu. Hal ini memungkinkan pengguna untuk membeli dan menyimpan token ERC20, mengumpulkan token NFT, dan berinteraksi dengan aplikasi terdesentralisasi tanpa kehilangan askesnya atas aset yang mendasarinya.

    Dompet Coinbase baru-baru ini terhubung ke platform penting DeFi seperti Compound dan dYdX. Berbagai fitur Coinbase juga memungkinkan transfer dana dengan mudah ke dan dari akun Coinbase. Dompet ini juga memungkinkan terkoneksinya pengguna ke aplikasi DeFi lainnya seperti Maker melalui browser dalam aplikasi mereka.

    Argent

    Argent menawarkan “dompet kripto yang jauh lebih baik” dengan akses alamat yang sederhana dan transaksinya yang gratis. Misi Argent adalah membantu para penggunanya untuk mendapatkan manfaat dari web yang terdesentralisasi.

    Saat ini, Argent telah menjadi yang terdepan dalam menawarkan pengalaman mobile-DeFi dengan mengintegrasikan sejumlah produk populernya untuk dimanfaatkan pengguna. Tips menabung DeFi tentu akan lebih dimudahkan aksesnya karena Argent dapat digunakan dengan hanya sejentikan jari saja di telepon selulermu.

    Argent menawarkan pendekatan yang mengutamakan akses seluler yang mirip dengan Venmo, tapi ditujukan untuk pengguna yang lebih umum.

    Berkat sistem yang berlangsung metatransaksi, pengguna tidak perlu membayar biaya transaksi dan karenanya tidak perlu menyetorkan kripto terlebih dahulu untuk mulai menggunakan aplikasi ini.

    Sama dengan dompet lainnya, pengguna Argent dapat langsung memanfaatkan Maker dan Compound untuk akses berbagai fitur protokol DeFi.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Defirate



    Sumber : pluang.com

  • Ampun Bang Jago! Ini 7 Aset Kripto Yang Berani Nantang Dominasi Bitcoin!

    Sobat Cuan mungkin sudah sering mendengar peringatan bahwa spekulasi harga aset kripto kian menggila. Bitcoin misalnya, berbagai analisis dan prediksi harga pionir token kripto ini membuat kepercayaan kita naik turun bak roller coaster. Lalu bagaimana aset kripto selain Bitcoin?

    Pada akhirnya, ini semua tentang penawaran dan permintaan. Saat ini, untuk alasan apa pun, orang percaya bahwa Bitcoin seharga US$60.000 itu sudah sesuai. Tentu saja tidak kaget, karena sebelumnya sudah ada bahasan soal harga Bitcoin yang bisa mencapai US$100.000.

    Nah, jika Sobat Cuan memang percaya pada mata uang virtual, kamu mungkin ingin melihat token atau altcoin alternatif. Kamu bisa menyimpan mata uang ini sebagai strategi diversifikasi investasi Bitcoin.

    Mereka lebih berisiko daripada Bitcoin, pastinya. Tapi, kembali lagi. Jika kamu sudah yakin tentang aset ini, bersiaplah untuk potensi cuan yang jauh lebih tinggi. Berikut adalah tujuh alternatif aset kripto selain Bitcoin untuk dipertimbangkan.

    Ethereum (ETH)

    Token ini merupakan alternatif aset kripto yang paling populer untuk Bitcoin. Ethereum ‘wajib’ dipertimbangkan jika kamu serius berinvestasi dalam aset kripto. Jarang menemukan investor Bitcoin yang tidak memiliki koin ETH. Pada dasarnya, keduanya cocok seperti ‘burger dan kentang goreng’.

    Lebih penting lagi, Ethereum mewakili evolusi alami ekosistem kripto. Bitcoin datang dan memberikan bukti konsep bahwa ekonomi yang terdiri dari mata uang virtual dapat eksis tanpa perantara terpusat (seperti bank sentral). Sementara Ethereum mendemonstrasikan bahwa kamu dapat menggunakan model “tanpa perantara terpusat” ini dan menerapkannya pada transaksi lain, seperti kontrak legal atau profesional. Maka itu muncullah istilah smart contract.

    Baca juga: Lagi Rame Prediksi Aset Kripto Bakal Bubble, Benarkah?

    Lebih baik lagi, pengembang di balik Ethereum merancang konsep radikal yang disebut proof of stake atau bukti kepemilikan. Ini menggantikan protokol penambangan kripto intensif energi dan menggantinya dengan proses validasi. Singkat cerita, bukti kepemilikan secara teoritis menghilangkan insentif untuk membeli banyak peralatan penambangan dan sebaliknya berfokus pada blockchain atau keterlibatan komunitas.

    Kesimpulannya adalah Ethereum berpotensi mendemokratisasi mata uang virtual. Dan dengan begitu banyak aplikasi potensial, token ETH yang mendasarinya dapat dengan mudah mengalahkan cuan Bitcoin dalam jangka panjang.

    Litecoin (LTC)

    Ketika sektor crypto masih dalam masa pertumbuhan, Litecoin adalah alternatif Bitcoin. Sama seperti saat ini, token LTC memiliki volatilitas harga yang liar, sering terjerembab dalam penilaian yang ekstrem. Namun, karena LTC adalah token kelas dua dengan label harga hanya tiga digit, risiko volatilitasnya masih bisa ditanggulangi.

    Namun, karena setiap unit LTC hanya sebagian kecil dari harga Bitcoin, spekulan memiliki ruang untuk kenaikan yang signifikan. Pada dasarnya, yang membuat Litecoin menarik adalah fokusnya sebagai sistem pembayaran peer-to-peer yang borderless dan frictionless.

    Cardano (ADA)

    Sementara Bitcoin dan Ethereum telah lama menjadi sorotan, altcoin lain telah naik peringkat. Cardano memiliki debut luar biasa yang akhirnya menyebabkan ADA menembus US$1 pada awal Januari 2018. Namun token ini sempat merosot menjadi sekitar 2 atau 3 sen di level terendah. Dengan kembalinya harga kini di level US$1, investor berpikir masih ada keajaiban di masa depan.

    Baca juga: Meski Naik Turun, Sampai Kapan Tren Harga Bitcoin yang Bullish Akan Berakhir?

    Pada dasarnya, mungkin ada masa depan cerah bagi aset kripto selain Bitcoin ini. Meskipun Cardano mungkin terlihat sebagai “koin sampah” ia sebenarnya didukung oleh inovasi sejati.

    Sementara Ethereum dan proyek blockchain lainnya sedang dalam proses transisi ke bukti kepemilikan, Cardano benar-benar melakukannya. Oleh karena itu, di satu sisi, kamudapat menganggap ADA sebagai token ramah lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG) karena arsitekturnya yang berkelanjutan.

    Polkadot (DOT)

    Mungkin namanya lucu, tapi Polkadot adalah proyek yang cukup serius untuk aset kripto selain Bitcoin. Sebagai permulaan, token ini diluncurkan dari level ketidakjelasan, hingga meroket ke peringkat keenam dalam hal kapitalisasi pasar. Saat ini nilai kapitalisasi pasarnya sekitar US$30 miliar. Token DOT memulai debutnya pada Agustus 2020.

    Seperti altcoin lainnya, Polkadot mewakili evolusi dalam ekosistem blockchain. Sementara Ethereum mengambil konsep Bitcoin dan diterapkan ke format transaksional lainnya, Polkadot melakukan ini juga tetapi dengan cara yang lebih efisien. Ia meluncurkan jaringan multichain yang dipecah, yang berarti memiliki kemampuan untuk memproses banyak transaksi di beberapa rantai secara paralel.

    Bitcoin Cash (BCH)

    Mungkin ini adalah bayangan dari pikiran pengemudi Cadillac tentang pemilik Chevrolet. Di pasar aset kripto, ada kesan superior ketika kerumunan yang hanya menggunakan Bitcoin mendengar orang yang memiliki token ‘anak tiri’ yaitu Bitcoin Cash.

    Baca juga: Kenapa IPO Coinbase Memberi Petunjuk Soal Harga Aset Kripto di Masa Depan?

    Namun, BCH mungkin adalah hardfork paling populer dari arsitektur Bitcoin, pada dasarnya versi kripto dari istilah spin-off. Poin penting tentang Bitcoin Cash adalah secara teknis, ini adalah platform fenomenal untuk transaksi pembayaran, yang terjadi dengan sangat cepat dan efisien. Benar, ini bersaing dengan banyak blockchain yang berpusat pada pembayaran lainnya.

    Uniswap (UNI)

    Ini mungkin salah satu dari proyek aset kripto selain Bitcoin yang tampaknya tiba-tiba terwujud begitu saja. Uniswap saat ini memiliki nilai kapitalisasi pasar sekitar US$31 miliar. Terus terang, satu-satunya hal yang awalnya menarik tentang UNI adalah harganya yang relatif murah, sekitar US$30.

    Namun demikian, jika Anda melihat hal di baliknya, perinciannya sangat menarik. Singkatnya, Uniswap sedang mencoba mengubah paradigma di bidang keuangan dengan membangun pangatur pasar atau market maker otomatis. Seperti yang kamu ketahui, market maker “asli” menyediakan likuiditas ke pasar saham, memfasilitasi solusi pembelian dan penjualan. Sebagai imbalan atas risiko memegang aset di bursa perantara ini, mereka mendapat untung dari spread margin.

    Nah, proses market maker ini terdesentralisasi di bawah arsitektur Uniswap, yang memiliki implikasi besar bagi keuangan terdesentralisasi atau DeFi dalam bahasa kripto. Ini adalah salah satu inovasi terbesar dalam ekosistem blockchain, yang layak mendapatkan pertimbangan ekstra.

    Decentraland (MANA)

    Menurut deskripsi di Coinmarketcap.com, Decentraland adalah “platform realitas virtual yang didukung oleh blockchain Ethereum yang memungkinkan pengguna untuk membuat, mengalami, dan memonetisasi konten dan aplikasi.”

    Jika kamu membuka situs resminya, maka akan menemukan bahwa perbedaan utama Decentraland adalah dunia virtual yang sepenuhnya dimiliki oleh penggunanya. Jika saya dapat menggunakan analogi sepak bola, MANA seperti Manchester United yang dimiliki oleh pemegang sahamnya.

    Baca juga: Tips Berdamai dengan FOMO Agar Tak Panic Selling & Buying Aset Kripto

    Kembali ke Decentraland, kamu mungkin berpikir bahwa ini adalah konsep crypto yang gila di industri yang penuh dengan kejutan. Kamu benar. Namun, perlu diingat bahwa investor aset kripto saat ini bisa dikatakan sudah ‘terlepas dari kenyataan’.

    Dengan kata lain, ini adalah dunia yang gila, dan kamu mungkin juga mendapat untung beberapa aset kripto selain Bitcoin ini.

    Mau Cari Penantang Bitcoin? Cek Nilai Kapitalisasi Pasar!

    Banyak analis mengatakan bahwa nilai kapitalisasi pasar masing-masing aset kripto bisa memberi petunjuk ihwal koin-koin apa saja yang populer. Saat ini, Bitcoin bertengger di puncak atas kerajaan aset kripto, menandakan level popularitasnya yang mumpuni.

    Namun, siapa sajakah yang paling “berani” menantang popularitas Bitcoin di dunia kripto? Berikut daftarnya

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Investor Place



    Sumber : pluang.com

  • Apa Saja Sih,10 Perusahaan yang Berperan Besar di SP 500? 

    Investor saham Amerika Serikat sedang harap-harap cemas seiring masuknya pelaporan kinerja keuangan kuartal I, atau biasa disebut earning season, pada April ini. Sebab, earning season ini akan memberi petunjuk mengenai proyeksi investasi masa depan tiga indeks saham utama AS: S&P 500, Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan juga Nasdaq.

    Nah, salah satu indeks saham yang masa earning season-nya banyak ditunggu adalah S&P 500. Hal itu dapat dimaklumi, lantaran 80% dari total nilai pasar di AS dihasilkan lewat Indeks yang berisi perusahaan beraset jumbo tersebut.

    Namun, memperhatikan kinerja saham apa, atau laporan kinerja keuangan perusahaan mana, selama earning season kadang bikin puyeng. Tidak mengherankan, sebab saat ini terdapat 505 perusahaan yang tergabung dalam indeks saham terbesar kedua di AS itu dengan total kapitalisasi pasar di akhir tahun lalu sebesar US$33,4 triliun.

    Sehingga, investor pasti akan merasa kewalahan untuk mengikuti perkembangan seluruh perusahaan di indeks tersebut. Namun, kalau kamu lagi baru-barunya nyebur di investasi S&P 500, mungkin ada baiknya kamu melihat 10 kinerja perusahaan yang jadi kontributor utama di S&P 500. Mengapa demikian?

    Nah, 10 perusahaan ini menggenggam 26% dari total nilai S&P 500 ini. Jadi, kalau kinerja keuangan mereka cukup moncer, maka bukan tidak mungkin nilai satu indeks akan terangkat tajam.

    Lantas, siapa saja 10 perusahaan yang mampu mengerek menggoyang dan mengerek S&P 500?

    Baca juga: Loncat 93% di Dua Tahun Terakhir, Saham Facebook Diramal Ngegas Tahun Ini

    10 Perusahaan “Penguasa” Investasi S&P 500

     

    1. Apple (Inc) (AAPL)

    Salah satu perusahaan yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap Indeks S&P 500 adalah Apple Inc. Perusahaan teknologi itu memiliki nilai pembobotan indeks sebesar 5,7% dengan kapitalisasi pasar per Maret 2021 senilai US$1.927,6 miliar.

    Perusahaan yang diawaki oleh Tim Cook selaku CEO itu sukses mengantongi angka pendapatan sebesar US$294,1 miliar. Capaian tersebut akhirnya mendorong angka laba bersih perusahaan  ke angka US$63,9 miliar. Kinerja yang positif tersebut dihasilkan selama 4 triwulan yang berakhir pada 9 April 2021.

    Apple merupakan produsen utama perangkat keras dan lunak untuk pasar konsumen. Produk yang dimiliki adalah Apple Iphone, Mac, Ipad, Apple Music serta Apple TV.

    Baca juga: Apa Itu BAT Stocks?

    2. Microsoft Corp (MST)

     

    Perusahaan berikutnya yang menjadi penguasa dalam Indeks S&P 500 adalah Microsoft Corp dengan nilai pembobotan sebesar 5,3%. Perusahaan yang bergerak di bidang sistem informasi teknologi itu memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$1.778,2 miliar.

    Sampai dengan 9 April tahun ini, perusahaan berhasil meraup angka pendapatan sebesar US$153,3 miliar dengan laba bersih yang bertengger di angka US$51,3 miliar.

    Micorosoft memilki produk yang Sobat Cuan pasti sudah sering menggunakannya, yakni sistem operasi Windows, rangkaian Microsoft Office, Console Game XBOX dan layanan komputasi awan yag dikenal dengan nama Azure.

     

    3. Amazon.com Inc (AMZN)

    Perusahaan yang dimiliki oleh orang terkaya di dunia, Jeff Bezos juga masuk dalam jajaran perusahaan yang berpengaruh di kancah investasi S&P 500 Adalah Amazon.com, perusahaan yang berbasis bisnis perdagangan online tersebut memiliki nilai pembobotan indeks sebesar 3,9%.

    Dari aktivitas bisnisnya, Amazon sukses mengantongi angka pendapatan sebesar US$386,1 miliar dengan laba bersih sebesar US$21,3 miliar.

    Selain perdagangan online, Amazon sudah menjelma menjadi raksasa bisnis teknologi. Perusahaan juga diketahui memiliki bisnis komputasi awan yang dikenal sebagai Amazon Web Services (AWS).

     

    4. Facebook Inc

    Situs jejaring sosial yang menduduki peringkat pertama dalam jumlah pengguna di seluruh dunia, Facebook masuk dalam salah satu perusahaan yang berpengaruh dalam Indeks S&P 500. Dengan nilai pembobotan indeks sebesar 2,15%, Facebook berhasil membukukan angka pendapatan sebesar US$86 miliar dengan laba bersih sebesar US$29,1 miliar.

    Facebook yang merupakan induk usaha dari Instagram, Whatsapp dan juga Oculus mendapatkan imbas positif dari adanya pandemi. Pasalnya adanya pembatasan aktivitas sosial membuat banyak orang memilih untuk menghabiskan waktunya di media sosial untuk bisa tetap berhubungan.

     

    5. Saham Kelas A Alphabet Inc (GOOGL)

    Induk perusahaan dari mesin pencari, Google memiliki bobot indeks 1,8%. Alphabet Inc memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$620,3 miliar. Sampai dengan April. perusahaan berhasil meraup pendapatan sebesar US$182,5 miliar dengan laba bersih sekitar US$40,3 miliar.

    Alphabet juga memiliki situs berbagi video, Youtube sebagai mesin utama dalam roda bisnisnya. Perusahaan membagi sahamnya menjadi 2 kelas saham utama. Saham kelas A adalah saham yang memiliki hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Biasanya saham ini memiliki jumlah lebih sedikit dari kelas saham lainnya.

     

    6. Saham kelas C Alphabet Inc (GOOGL)

    Untuk kelas saham lainnya dari Google, yakni Saham kelas C Alphabet Inc, memiliki bobot indeks 1,8%. Total kapitalisasi pasar saham kelas C Google adalah sebesar US$596,3 miliar. Perusahaan membukukan angka pendapatan senilai US$182,5 miliar dengan laba bersih sebesar 40,3 miliar.

    Saham kelas C Alphabet adalah saham non-voting alias saham yang tidak memiliki hak suara dalam RUPS ataupun proxy vote. Namun investor bisa membeli kedua kelas saham tersebut di S&P 500.

    Jika digabungkan dua kelas saham milik Google tersebut, maka bobot indeksnya akan menjadi 3,7% dan berada dalam posisi ke 4 dari 10 perusahaan berpengaruh di S&P 500.

     

    7. Tesla Inc. (TSLA)

    Perusahaan milik Elon Musk, Tesla Inc juga masuk dalam perusahaan yang kini sudah diamati investor dalam hal investasi di S&P 500. Meskipun baru bergabung pada Desember tahun lalu, bobot indeks Tesla saat ini mencapai 1,5% dengan kapitalisasi pasar sebesar US512,9 miliar.

    Produsen mobil listrik dan bisnis pendukungnya itu berhasil membukukan pendapatan sebesar US$31,5 miliar dengan laba bersih sekitar US$700 juta atau US$0,7 miliar.

     

    8. Bershire Hathaway Inc (BRK.B)

    Perusahaan investasi milik Warren Buffet itu memiliki bobot indeks 1,5% dengan kapitalisasi pasar sebesar US$487,1 miliar. Selama empat triwulan yang berakhir di 9 April 2021. perusahaan membukukan pendapatan senilai US$286,3 miliar dengan laba bersih sebesar US$42,5 miliar.

    Berkshire Hathaway merupakan perusahaan investasi yang memilki portofolio di perusahaan lain seperti seperti GEICO, Dairy Queen, Precision Castparts Corp dan lainnya. Perusahaan juga diketahui memilki portofolio ekuitas yang sangat besar.

     

    9. JP Morgan Chase&Co (JPM)

    Perusahaan berikutnya adalah JPMorgan Chase & co. Perusahaan memiliki bobot indeks 1,4% dengan kapitalisasi pasar sebesar US$464,5 miliar. Bank raksasa di AS itu sukses meraup pendapatan US$119,6 miliar dengan laba bersih sebesar US$29,1 miliar.

    JP Morgan Chase memiliki beberapa produk unggulan, mulai dari pinjaman perumahan, commercial banking, investment banking dan wealth management.

     Baca juga: 5 Fakta Unik Indeks Saham Amerika S&P 500

     

    10. Johnson & Johnson

    Daftar perusahaan terakhir yang sering dipantau ketika investasi S&P 500 adalah Johnson & Johnson. Konglomerasi bisnis peralatan medis, produk kesehatan dan juga farmasi itu memiliki bobot indeks 1,3% dengan kapitalisasi pasar sebesar US$432 miliar.

    Perusahaan yang terkenal akan produk perawatan bayi itu berhasil meraup pendapatan sebesar US$82,6 miliar dengan laba bersih sekitar US$14,7 miliar.

    Ke depan kinerja perusahaan tampaknya bakal makin moncer. Pasalnya, pada akhir Februari 2021, Johnson dan Johnson menerima otorisasi penggunaan darurat dari Food and Drug Administration (FDA) untuk vaksin dosis tunggal COVID-19.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Investopedia



    Sumber : pluang.com

  • Kata Siapa Nabung Cuma di Bank? Kamu Bisa Pakai Instrumen Ini Untuk Simpan Uang!

    Sebagian besar orang pasti akan menjawab “rekening bank” ketika ditanya mengenai sarana menabung yang cocok. Manfaat menabung di produk tersebut juga cukup terasa. Tak hanya memperoleh bunga pinjaman per periode, namun uang nasabah juga aman karena “dijaga” oleh pihak perbankan.

    Namun, apakah Sobat Cuan tahu, bahwa menabung ternyata tak hanya cuma di rekening bank, lho. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menabung pada hakikatnya adalah menyimpan uang. Sehingga, segala sarana yang bisa mendukung hal tersebut tentu bisa katakan sebagai aktivitas menabung.

    Hanya saja, sarana atau instrumen menabung tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Ambil contoh menabung di rekening bank.

    Memang, dana yang Sobat Cuan setor akan aman karena dikelola oleh pihak jasa keuangan. Hanya saja, dana tersebut kurang produktif lantaran imbal hasil tabungan di bank terbilang rendah.

    Data Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI) yang dirilis Bank Indonesia pada Maret 2021 menunjukkan bahwa suku bunga tabungan yang dibebankan bank umum hingga bank persero berada di angka 0,79% hingga 1,21% per tahun.

    Di samping itu, dari sisi perencanaan keuangan, uang simpanan Sobat Cuan juga tentu bisa bercampur-campur dengan anggaran untuk pengeluaran kebutuhan lain. Makanya, banyak perencanaan keuangan menyarankan agar seseorang memiliki lebih dari dua rekening tabungan.

    Sehingga, dengan segala kekurangan tersebut, apakah ada alternatif selain tabungan yang bisa digunakan Sobat Cuan sebagai sarana menabung?

    Baca juga: Kaum Milenial, Berapa Banyak Investasi yang Mesti Kamu Punya?

    Alternatif Menabung Selain Bank yang Memberikan Manfaat Lebih Baik

    1. Surat Berharga Negara (SBN)

    Demi mendapatkan manfaat menabung yang oke, Sobat Cuan bisa menempatkan dana di Surat Berharga Negara (SBN). Apalagi, kini pemerintah banyak sekali menerbitkan SBN ritel baik dalam bentuk Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dan Savings Bond Rate (SBR), maupun produk syariah seperti Sukuk Ritel (SR) dan Sukuk Tabungan (ST).

    Dalam berinvestasi di SBN ritel, kamu bisa memulainya hanya dengan Rp1 juta dengan tenor dua tahun. Nah, di 2021 ini, pemerintah sudah dan rencananya akan menerbitkan enam kali seri SBN ritel dengan jadwal sebagai berikut:

    1. ORI019 masa penawaran sudah dilakukan antara 26 Januari hingga 18 Februari 2021
    2. SR014 masa penawaran sudah dilakukan pada 26 Februari hingga 17 Maret 2021.
    3. SBR010 masa penawaran dijadwalkan pada 21 Juni hingga 15 Juli 2021
    4. SR015 masa penawaran dijadwalkan pada 27 Agustus hingga 15 September 2021.
    5. ORI020 masa penawaran dijadwalkan pada 27 September hingga 20 Oktober 2021.
    6. ST008 masa penawaran dijadwalkan pada 1 November hingga 17 November 2021.

    Sesuai daftar di atas, maka seri obligasi terakhir yang ditawarkan pemerintah adalah SR014 dengan tingkat imbal hasil di angka 5,47% per tahun. Sehingga, dari sisi return pun sudah lebih tinggi ketimbang tabungan biasa.

    Dana dari surat utang ini akan dialokasikan untuk membiayai belanja pemerintah di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sehingga, dengan menabung di SBN ritel, kamu juga bisa berkontribusi terhadap negara.

    2. Reksa Dana Pasar Uang

    Reksa dana memang menjadi pilihan menabung yang jitu bagi investor pemula. Investasi ini tidak membutuhkan modal besar dan ilmu keuangan yang mumpuni, sehingga cocok bagi mereka yang memiliki profil risiko yang konservatif.

    Nah, di antara seluruh jenis reksa dana, reksa dana pasar uang adalah produk yang paling diburu untuk menabung. Sebab, kinerjanya terbilang moncer baik saat kondisi ekonomi sedang buruk, maupun sedang moncer-moncernya. Apalagi, sifat reksa dana ini pun cukup likuid.

    Mengingat kelolaan dana reksa dana ini berada di instrumen surat utang jangka pendek, maka Sobat Cuan hanya bisa memanfaatkan instrumen ini dalam jangka maksimal dua tahun saja. Tapi, kalau soal imbal hasil, jangan ditanya tokcernya. Meski kondisi ekonomi sedang gonjang-ganjing di tahun lalu, nyatanya reksa dana ini berhasil mencetak pertumbuhan mumpuni. Seperti terlihat di bawah ini:

    3. Emas

    Produk lain yang bisa memberikan kamu manfaat menabung yang mumpuni adalah emas.

    Rasanya, semua orang sudah tahu bahwa emas adalah instrumen menabung yang utama untuk melindungi nilai kekayaan dari gerusan inflasi. Sebab, emas adalah logam mulia, di mana bobot dan nilainya akan tetap sama beratus tahun mendatang. Selain itu, emas adalah barang tambang, di mana pasokannya pasti akan habis di masa mendatang. Sesuai hukum permintaan dan penawaran, melorotnya suplai akan mengerek harga logam mulia di masa depan.

    Bicara pertumbuhan nilai, rasa-rasanya emas pun masih bisa menjadi saingan dari tabungan. Sebab, nilai emas tercatat melesat 24,21% sepanjang tahun 2020.

    Mungkin, kamu merasa tidak mungkin untuk menabung emas lantaran merasa bahwa “harganya mahal” atau “instrumen ini hanya cocok bagi orang kaya”. Padahal, kenyataannya tidak begitu, Sobat Cuan!

    Sekarang, kamu bisa mendapatkan emas dalam bentuk digital, lho. Dan bahkan, kamu kini bisa menabung emas mulai dari Rp10.000 alias sekitar 0,01 gram saja di Pluang! Andaikan kamu nabung sebesar Rp10.000 setiap harinya, kebayang dong, berapa gram emas yang bisa kamu dapatkan dalam sebulan saja?

    Nah, di bulan Ramadan ini, kamu bisa menabung emas dan bahkan berkesempatan untuk mendapatkan tambahan 3 gram emas lagi di program Ramadan Nabung Cuan! Yuk, klik link ini untuk mengetahui detail programnya.

    Baca juga: Investasi Akhir Tahun Baiknya Pilih Emas, Saham, atau Reksadana?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Kompas.com, Suara.com



    Sumber : pluang.com