Author: 10

  • Udah Jago Analisis Teknikal Bitcoin Kripto? Yuk, Saatnya Belajar Analisis On-Chain!

    Harga Bitcoin masih dalam “wahana roller coaster” dimana pergerakan harga fluktuatif usai mencetak rekor tertinggi. Di saat seperti ini mungkin Sobat Cuan penasaran, apa sih cara analisis harga Bitcoin yang cocok?

    Trader atau investor aset kripto pasti lebih sering menggunakan analisis fundamental dan teknikal untuk melihat tren dan pola pergerakan harga Bitcoin. Tak heran, jika kita sering melihat indikator seperti support, resistance, dan Relative Strength Index wara-wiri di analisis atau pemberitaan mengenai aset kripto.

    Tapi, ternyata analisis aset kripto tak terbatas pada dua analisis itu saja. Dunia aset kripto mengenal istilah analisis yang disebut on-chain yang memberikan pandangan lebih dalam tentang kesehatan jaringan dan aliran dana di pasar kripto. Analisis ini kadang memberi pandangan lain mengenai kondisi pasar aset kripto, yang bahkan bisa bertolak belakang dibanding hasil analisis fundamental dan teknikal.

    Contoh konkretnya terjadi pada pertengahan April lalu. Harga Bitcoin tiba-tiba lunglai mendekati US$50.000 dari posisi mendekati US$60.000 setelah terdapat mati lampu massal di provinsi Xinjiang, China. Yakni, kawasan di mana sebagian besar penambang Bitcoin bersarang.

    Seorang investor yang tidak memiliki wawasan tentang analisis on-chain kemungkinan akan panik menjual asetnya dalam masa tersebut. Namun, menurut analisis on-chain, likuidasi besar-besaran yang dilakukan over-leveraged traders pada masa itu adalah hal positif bagi jaringan Bitcoin. Adapun over-leveraged traders adalah trader yang biasa membeli aset dalam jumlah besar, namun dengan modal mini.

    Selain itu, analisis on-chain yang digabungkan dengan analisis teknikal menunjukkan bahwa saat ini adalah peluang Sobat Cuan untuk buy the dip. Atau, menyerok aset kripto saat nilainya lagi rendah.

    Pasti Sobat Cuan penasaran kan, mengenai analisis on-chain apa saja yang bisa kamu gunakan dalam menentukan nasib di aset kripto?

    1. Analisis Harga Bitcoin MVRV-z

    Rasio ini membandingkan kapitalisasi pasar satu aset kripto dengan nilai kapitalisasi yang terealisasi dengan rumus seperti berikut:

    Chart Formula
    Sumber: lookintobitcoin.com

    Kapitalisasi pasar adalah jumlah koin yang beredar dikalikan harga per koin saat ini. Atau, merupakan nilai dari seluruh jaringan aset kripto. Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar terealisasi adalah posisi harga aset kripto terakhir saat mereka berpindah tangan di jaringan blockchain.

    Sumber: lookintobitcoin.com

    Metrik ini penting karena investor dapat menggunakannya untuk mengukur kapan investor-investor besar mulai memasuki pasar. Jika nilai MVRV-z di bawah 1, maka harga aset kripto saat ini berada di bawah harga reratanya saat sesi trading sebelum-sebelumnya. Artinya, inilah kesempatan investor atau trader untuk memborong aset kripto tersebut sebelum harganya naik lagi.

    Sementara itu, jika skor MVRV-z di atas 5, maka aset kripto tersebut memasuki zona overvalued.

    Baca juga: Ada Prediksi Harga Bitcoin Turun, Apakah Itu Hal Wajar?

    2. Analisis Harga Bitcoin: The Mayer Multiple

    Image
    Sumber: Twitter/The Mayer Multiple

    Mayer Multiple adalah indikator teknis yang juga menentukan apakah Bitcoin overbought (jenuh beli), oversold (jenuh jual), atau harga wajar. Metode ini membagi harga Bitcoin dengan rata-rata pergerakan harganya selama 200 hari.

    Trace Mayer, investor yang pertama kali mengusulkan model tersebut, menentukan bahwa nilai di atas 2,4 pada beberapa wilayah menandakan nilai yang terlalu tinggi. Sementara itu, nilai di bawah 1 mengisyaratkan wilayah yang sangat undervalued (di bawah nilai asli) karena harga turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari.

    Baca juga: Alasan Kenapa HODL adalah Strategi Investasi Bitcoin yang Bikin Cuan

    3. Analisis Harga Bitcoin: Sinyal NVT

    Sumber: woobull.com

    Willy Woo membuat rasio nilai jaringan terhadap transaksi, atau Network Value to Transactions (NVT), pada 2017. Rasio ini membagi kapitalisasi pasar Bitcoin dengan volume hariannya di dalam jaringan

    Diambil dari gambar Rasio NVT di atas, volume transaksi mengikuti kapitalisasi pasar, yang memberi peringatan tentang adanya dislokasi pasar. Adapun dislokasi pasar adalah kondisi di mana pasar suatu aset beroperasi di bawah kondisi yang tertekan. Sehingga, harga aset kripto yang beredar tidak sesuai dengan harga asli aset tersebut.

    4. Gelombang HODL (Menahan Kepemilikan)

    analisis harga bitcoin hodl

    Untuk menjelaskan analisis ini, ada baiknya kita sama-sama memeriksa bagan di atas, yang menunjukkan jendela waktu dari sebagian kecil transaksi Bitcoin yang paling terbaru. Agak terdengar membingungkan, ya, Sobat Cuan. Tapi sebenarnya, bagan di atas cukup jelas, lho.

    Warna merah dan oranye menunjukkan pergerakan keping-keping Bitcoin yang lebih baru. Sedangkan hijau, biru, dan ungu menunjukkan koin Bitcoin yang tidak bergerak dalam waktu yang relatif lama. Nah, indikator dengan tiga warna ini dipercaya adalah koin-koin yang digenggam whales Bitcoin dalam mengantisipasi harga aset kripto ke level puncak berikutnya.

    Baca juga: Bitcoin Amblas Bukan Kiamat! Ini Prediksi Harga Bitcoin Naik Selanjutnya!

    Jadi, bagaimana nih, Sobat Cuan? Sekarang saat yang tepat, lho untuk praktik serangkaian analisis di atas. Karena sekarang disebut masa buy the dip, tidak ada salahnya kamu juga memborong Bitcoin di aplikasi Pluang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Seeking Alpha



    Sumber : pluang.com

  • Yuk, Belajar Perencanaan Keuangan dengan Uang THR. Bagaimana Caranya?

    Hari raya Idul Fitri tinggal menghitung hari nih, Sobat Cuan. Dan di saat-saat seperti ini, biasanya kamu sudah menerima Tunjangan Hari Raya (THR). Alias, ekstra uang bagi kamu untuk berbelanja kebutuhan lebaran.

    THR adalah hak wajib yang dipenuhi perusahaan menjelang hari raya. Adapun untuk tahun 2021, kewajiban THR dituangkan ke dalam Surat Edaran (SE) Menteri Ketenagakerjaan No. M/6/HK.04/IV/2021 tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan Tahun 2021 bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan. Melalui aturan tersebut, perusahaan wajib memberi THR kepada pekerja/buruh dengan status apapun minimal tujuh hari sebelum hari raya.

    Nah, di saat-saat seperti itu, biasanya kita langsung cek-cek mengenai tips berburu belanja murah mendekati lebaran. Namun, kalau kita kalap dan tidak bisa mengelola THR, justru kita bisa berakhir mengenaskan setelah lebaran, Sobat Cuan!

    Selain itu, mengelola THR juga bisa menjadi cobaan berat kalau bonus tersebut turun bertepatan dengan gajian. Sebab, kamu akan merasa punya banyak uang dan bisa menghabiskannya tanpa memikirkan konsekuensinya pasca Idul Fitri. Inilah alasan mengapa masa-masa turunnya THR adalah saat yang tepat untuk kamu belajar mengelola keuangan. Sehingga, dibutuhkan tips mengelola THR yang tepat agar kamu tak buntung setelah merayakan lebaran.

    Nah, apa saja kira-kira tips mengelola THR yang perlu kamu ketahui?

    Baca juga: Lebaran di Masa Pandemi, Yuk Atur Uang THR dengan 4 Cara Bijak Ini

    Tips Mengelola THR: Alokasi Harus Sesuai Prioritas

    Sebelum memulai tips mengelola THR ini dengan tenang, kamu harus paham bahwa kamu tidak boleh panik dalam menerima uang kaget. Tenangkan diri dan jangan lakukan transaksi apapun selama satu hingga dua jam setelah menerima THR di rekeningmu. Kamu memerlukan hal ini agar mampu menerapkan langkah pertama dan paling utama dari pengelolaan THR. Yakni, menentukan skala prioritas.

    Melakukan kegiatan ini sangat krusial lho, Sobat Cuan. Apalagi, di tengah masa pandemi seperti ini. Mengapa?

    Di kala pandemi, tentu prioritas penggunaan THR kamu berubah. Sebagai contoh, anggaran pulang kampung kamu masih tetap aman karena kamu tidak bisa mudik. Selain itu, kamu pun mungkin tidak perlu baju baru untuk menyambut tamu yang hadir saat kamu mengadakan open house. Sehingga, kamu bisa mengalokasikan pos anggaran tersebut ke pengeluaran lain.

    Lantas seperti apa skala prioritas yang perlu kamu buat?

    1. Membayar Zakat

    Hal ini tentu menjadi kewajiban yang harus ditunaikan Sobat Cuan yang beragama Islam ketika menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan. Utamanya dalam bentuk zakat fitrah. Standar zakat fitrah biasanya senilai 2,5 kilogram beras, atau setara 3,5 liter. Atau, Sobat Cuan bisa memilih untuk membayar uang tunai senilai standar tersebut, yang berkisar antara Rp40.000 hingga Rp50.000 per orang.

    Agar ibadah bulan suci Ramadan kamu makin afdol, tidak ada salahnya juga kamu membayar zakat harta (mal). Adapun zakat mal terbilang 2,5% dari penghasilan kamu per tahun. Asal, total penghasilan kamu sudah melebihi nisab, yakni setara dengan 85 gram emas.

    2. Membayar Utang

    Apalah artinya suci di hari raya tanpa suci dari kewajiban-kewajiban finansial? Makanya, tips mengelola THR yang perlu kamu lakukan berikutnya adalah berupaya untuk melunasi utang-utangmu. Terutama, utang kartu kredit. Sebab, selain mengurangi beban finansialmu, melunasi tagihan sesegera mungkin bisa melepaskanmu dari jeratan bunga kartu kredit di kemudian hari.

    3. Mengalokasikan ke Dana Darurat

    Selain itu, ada baiknya kamu juga mengantisipasi ketidakpastian di depan mata dengan menyisihkan THR-mu ke pos dana darurat. Menurut beberapa perencana keuangan, nilai dana darurat yang ideal adalah tiga hingga enam kali gaji. Makanya, sisa uangmu dari THR akan sangat berguna untuk memenuhi jumlah “bantalan” yang ideal tersebut.

    4. Masih ada Sisa THR? Yuk, Berinvestasi!

    Sisa uang THR setelah memenuhi prioritas tersebut tak harus bikin kamu jadi kalap belanja, Sobat Cuan! Justru, kamu perlu mengelola uangmu dengan bijak agar bisa menghasilkan manfaat di masa depan. Salah satunya adalah dengan menabung dan investasi.

    Lantas, apa saja instrumen investasi yang bisa bikin tips mengelola THR kamu jadi kian mantap?

    • Reksa Dana
      Reksa dana dikenal sebagai instrumen investasi yang mudah dan cocok bagi kamu yang tak mau “ambil pusing”. Sebab, kamu hanya tempatkan uang kamu di beberapa produk reksa dana dan kemudian dana tersebut akan dikelola oleh manajer investasi.
    • Emas
      Kamu juga bisa menginvestasikan sisa THR-mu dengan aman di investasi emas. Seperti yang kita ketahui, emas adalah aset safe haven yang bisa melindungi nilai kekayaanmu di masa depan jika situasi ekonomi sedang amburadul. Apalagi, nilai emas selalu meningkat antar periodenya. Sehingga, menabung emas adalah langkah cuan bagi kamu untuk mendapatkan berkah lebih dari THR.

    Nah, apakah Sobat Cuan tertarik menabung emas untuk masa depan? Yuk, nabung aja di Pluang! Sobat Cuan bisa menabung emas mulai dari Rp10.000 saja dengan spread transaksi rendah, yakni 1,75% saja!

    Baca juga: Perlu Patuh Peraturan, Berikut Ini Sanksi Perusahaan Jika THR Tidak Diberikan

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Bisnis Indonesia, CNBC



    Sumber : pluang.com

  • Dari 12 Bulan di Tahun 2021, Kapan Saat Tepat Bagimu Untuk Beli dan Jual Emas?  

    Pergerakan harga emas memang terbilang lambat. Namun, apakah Sobat Cuan sadar, bahwa potensi cuan investasi emas tak akan terelakkan jika kita paham waktu terbaik membeli dan menjual emas?

    Contoh kasusnya terjadi pada Agustus tahun lalu, di mana harga logam mulia tiba-tiba menembus level Rp1 juta per gram. Tentu saja, mereka yang sudah mengakumulasi emas saat harganya jauh di bawah level tersebut akan tersenyum lebar.

    Namun, jika Sobat Cuan tidak paham mengenai waktu terbaik untuk membeli dan menjual emas, maka kamu tidak akan bisa menikmati cuan dari momen seperti di atas. Makanya, timing, atau perkara kapan waktu jual dan beli, menjadi aspek penting dalam investasi emas.

    Analis Senior GoldSilver, Jeff Clark mengaku, ia kerap dihujani pertanyaan dari investor yang takut tidak bisa menemui lagi harga jual emas yang mantap di masa depan. Makanya, mereka kerap bertanya kepada Clark ihwal “apakah memang sekarang saat yang tepat untuk menjual emas?”

    Nah, pertanyaan ini juga pasti muncul di benak Sobat Cuan, bukan? Lantas, kapan sih waktu yang tepat bagimu untuk membeli dan menjual emas? Apalagi, jika kamu disuruh memilih satu dari 12 bulan yang ada di setiap tahunnya.

    Baca juga: Masih Banyak Diminati, Emas Peringkat Satu Investasi Terbaik di Tahun 2020

    Waktu Terbaik Membeli dan Menjual Emas Menurut Data Historis

    Untuk menjawab pertanyaan ini, Clark kemudian membuat data historis harga emas di Amerika Serikat sejak 1975. Hasilnya, ia menemukan bahwa harga emas akan cenderung melandai di awal Januari sebelum akhirnya beranjak naik ke Februari.

    Maka dari itu, dengan melihat data tersebut saja, bisa dibilang bahwa Januari adalah waktu terbaik dalam membeli dan memulai investasi emas. Temuan tersebut ia tuangkan ke dalam grafik berikut ini:

    Average Gold Price Gain/Loss Throughout the Year
    Sumber: goldsilver.com

    Kemudian, data tersebut juga memperlihatkan bahwa harga emas juga berubah seiring pergantian musim. Percaya atau tidak, harga emas cenderung stabil saat masuk musim semi dan musim panas yang berakhir sekitar bulan September. Setelahnya, harga emas meroket tinggi mendekati akhir tahun.

    Secara kasat mata, seharusnya waktu terbaik menjual emas menurut data historis adalah akhir tahun. Tapi, apakah benar seperti demikian?

    Masih Belum Yakin? Coba Tengok Perubahan Harga Bulanan Emas

    Clark lantas juga menyusun data berisikan tingkat perubahan harga emas dalam 45 tahun terakhir. Hasilnya, harga emas di Maret dianggap sebagai waktu terbaik menimbun emas lantaran harganya terjun 0,8% secara bulanan di periode tersebut.

    Kemudian, lonjakan harga emas secara bulanan tertinggi selama 45 tahun terakhir terjadi pada September, seperti terlihat di grafik di bawah ini:

     Sayangnya, bulan Maret sudah lewat, Sobat Cuan. Tapi, kamu tak perlu khawatir. Sebab, menurut data historis, kamu masih bisa menyerok emas di bulan Mei dan Juni sebelum akhirnya menikmati cuan di bulan September.

    Waktu Terbaik Membeli Emas Adalah Sekarang!

    Data di atas menunjukkan bahwa lesunya harga emas di periode April hingga Juni seolah-olah menyiratkan bahwa kuartal II adalah saat terbaik untuk mendulang emas sebelum mengambil profit di kuartal III. Namun, apakah benar tren harga emas secara kuartalan menunjukkan pola demikian?

    Jadi, apa yang bisa disimpulkan dari ketiga grafik di atas? Benar, yakni sekarang adalah saat yang tepat untuk membeli emas. Sebab, data historis menunjukkan bahwa fluktuasi harga emas di bulan April, Mei, dan Juni selalu lebih rendah dibanding bulan-bulan lainnya.

    Selain itu, ketiga grafik data historis emas di atas juga menyimpulkan bahwa harga emas akan naik perlahan sejak Juli dan memuncak di bulan September, yang menjadi waktu terbaik menjual emas yang kamu genggam.

    Makanya, tunggu apalagi, Sobat Cuan? Yuk, buruan borong emas di Pluang sekarang! Selain praktis dan aman, berinvestasi emas digital di Pluang terbilang paling cuan karena spread transaksinya hanya 1,75% saja!

    Baca juga: Harga Emas Turun di Minggu Pertama 2021! Saatnya Beli?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Goldsilver.com



    Sumber : pluang.com

  • Yakin Mau Buru-Buru Jual ETH? Ada Prediksi ETH Bakal ke Level US$4.200 Nih!

    Bagaimana cuan dari Ethereum hari ini, Sobat Cuan? Memang, harga Ethereum dari kemarin seolah-olah ngegas terus. Setelah menyentuh level US$3.000 di Senin kemarin, aset kripto ini bahkan sudah menembus US$3.300 di hari ini. Terakhir, ada prediksi yang mengatakan bahwa harga Ethereum bisa tembus US$4.200 di musim panas ini.

    Beberapa analis menganggap bahwa harga Ethereum saat ini masih jauh dari potensi puncak harga sebenarnya. Bahkan, potensi tersebut terbilang masih sangat jauh untuk digapai. Mengapa demikian? Dan sampai sejauh mana prediksi harga Ethereum?

    Faktor pertama adalah sejarah hubungan Ethereum dengan Bitcoin. Menengok sejarah hubungan mereka berdua, Ethereum dan Bitcoin seharusnya melacak pergerakan satu sama lain. Nah, jika harga Bitcoin bisa naik sebesar 200% dibanding levelnya di 2018, maka Ethereum seharusnya juga bisa diperdagangkan di harga US$4.200 saat ini.

    Tapi tenang saja, Sobat Cuan. Sebab ada banyak alasan mengapa harga Ethereum yang cetak rekor terus-terusan masih akan berlanjut terus.

    Baca juga: Cuan Lagi! Harga Ethereum Naik, Tembus Level Tertinggi US$3.000

    1. Penerbitan Obligasi Berbasis Ethereum sebagai Tonggak Penting

    Johannes Rude Jensen, Product and Project Manager di eToroX Lab, menyoroti penerbitan obligasi berbasis Ethereum oleh European Invesment Bank (EIB) sebagai tonggak penting dalam adopsi teknologi blockchain dalam sektor perbankan tradisional.

    Jensen mengatakan bahwa penerbitan obligasi berbasis blockchain telah menjadi daya tarik sebagai jawaban atas perubahan iklim. Hal itu menjadi alternatif untuk proses rekonsiliasi yang mahal di pasar obligasi tradisional.

    “Dengan memilih Ethereum, EIB menandakan niat untuk memainkan peran yang semakin aktif dalam mengimplementasikan kebijakan Uni Eropa tentang iklim dan inovasi, sejalan dengan penekanan ECB baru-baru ini pada perbankan hijau,” katanya.

    Ia menilai langkah tersebut merupakan indikasi dari bank besar dan lembaga keuangan bergerak ke arah penggunaan blockchain publik untuk produk keuangan di masa depan. Ini menandakan tren umum standar terbuka di perbankan.

    “Memiliki satu sumber data yang terkonsolidasi di pasar obligasi akan mengurangi ketergantungan pada perantara. Hal itu kemungkinan akan mengurangi biaya dan mendukung mitigasi risiko dalam proses pra-penerbitan dan pasca-perdagangan,” jelasnya.

    2. Hard fork Berlin Datang dan Berjalan Dengan Baik

    Hard fork adalah suatu keadaan dimana satuan kripto dimodifikasi sehingga terbagi menjadi dua kode. Yakni dari satuan kripto yang diubah sehingga menghasilkan kode lama dan kode baru, yang mana kedua kode ini tidak kompatibel satu sama lain.

    Hard fork Berlin mulai beroperasi pada 15 April dengan hampir tidak ada keluhan di pasar. Fork memperkenalkan empat EIP baru (Ethereum Improvement Protocols) yang telah dikerjakan setidaknya selama dua tahun terakhir.

    Protokol Berlin sendiri menyelesaikan permasalahan yang terjadi di dalam sistem blockchain Ethereum, misalnya mahalnya harga biaya penggunaan jaringan Ethereum (gas fees). Dengan demikian, sentimen ini tentu bisa menjadi angin segar bagi permintaan Ether, token Ethereum, dan meningkatkan harganya.

    Selain itu, protokol Berlin juga merupakan pendahuluan bagi hard fork EIP lain yang juga dijadwalkan rilis tahun ini. Di mana, pembaruan tersebut akan berdampak terhadap skala keterjangkauan dan harga ETH ke depan. Hard fork tersebut akan diberi nama Hard fork London.

    Baca juga: Udah Jago Analisis Teknikal Bitcoin & Kripto? Yuk, Saatnya Belajar Analisis On-Chain!

    Hard fork London akan memperkenalkan EIP 1559 ke jaringan dan secara serius akan memangkas gas fees. EIP tidak hanya mengambil kendali atas penetapan biaya, tetapi juga akan membakar atau “menghilangkan” sebagian dari gas fees setelah dikumpulkan.

    Ini akan berfungsi untuk mengurangi biaya dan meningkatkan transaksi. Selain itu, protokol ini bisa dibilang meningkatkan pendapatan bersih bagi  penambang, sekaligus juga mengurangi pasokan Ethereum. Dengan prediksi suplai mengetat, tidak heran jika prediksi harga Ethereum semakin bullish di masa depan.

    3. Harga Gas Fees Ethereum Sudah Turun

    Salah satu rintangan terbesar untuk jaringan Ethereum dan penggunanya adalah harga bahan bakar untuk transaksi, yang tadi disebut sebagai gas fees. Biaya transaksi ini terus meningkat karena kekuatan permintaan yang juga menguat. Hal itu ditambah fakta bahwa penambang diizinkan untuk memprioritaskan pengguna yang membayar lebih tinggi daripada yang lain.

    Harga bahan bakar untuk transaksi mencapai titik tertinggi tahun lalu dan bertahan pada level tersebut hingga tahun 2021. Tetapi, kini situasinya sudah berubah. Harga bahan bakar melonjak tak lama setelah hard fork Berlin, tetapi sejak itu jatuh ke level terendah dalam hampir setahun.

    Jika tren ini berlanjut, ini akan membantu menarik lebih banyak pengguna ke jaringan Ethereum. Prediksi harga Ethereum pun akan semakin bullish karena hal tersebut.

    4. Prediksi Harga Ethereum Naik Karena Kenaikan Pangsa Pasar

    Bahkan dengan harga bahan bakar yang tinggi, Ethereum telah mendapatkan pangsa pasar. Cara terbaik untuk melihatnya adalah melalui dominasi pasar atau nilai kapitalisasi pasar di industri cryptocurrency.

    Bitcoin telah lama menjadi pemimpin dan kemungkinan besar tidak akan segera berubah, tetapi telah kehilangan bagiannya selama setahun terakhir. Bitcoin kehilangan bagian tidak hanya karena Ethereum tetapi dengan munculnya token DeFi.

    Baca juga: Ada Prediksi Harga Bitcoin Turun, Apakah Itu Hal Wajar?

    Ethereum mencapai titik terendah dalam hal pangsa pasar di awal tahun 2020 dan telah mengalami peningkatan yang stabil sejak saat itu. Peningkatan ini berkorelasi dengan beberapa peristiwa penting, termasuk beberapa hard fork dan EIP. Hal itu membuat pangsa pasar Ethereum naik dari sekitar 7,5% menjadi hampir 15% saat ini.

    5. Secara Grafik, Ethereum Memimpin 

    Grafik Ethereum
    Sumber: www.entrepreneur.com

    Grafik harga Ethereum tidak hanya sangat bullish, tetapi juga menunjukkan bahwa Ethereum sekarang memimpin pasar. Harga Bitcoin mungkin diperdagangkan pada level yang lebih tinggi dibandingkan dengan tertinggi sebelumnya tetapi harganya dalam konsolidasi. Bitcoin diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan 30 hari, dan indikatornya masih rapuh.

    Di sisi lain, Ethereum diperdagangkan pada level tertinggi baru. Token ini diperdagangkan jauh di atas rata-rata pergerakan 30 hari, dan memiliki indikator bullish. Jika bertaruh pada satu atau yang lain untuk membuat langkah kuat lebih tinggi, itu akan terjadi di Ethereum.

    Target pertama para analis untuk resistensi utama mendekati US$3,350. Angka ini didapatkan dengan memproyeksikan besarnya reli terbaru dari titik konsolidasi saat ini.

    Setelah target itu tercapai, kisaran harga US$4.000 hingga US$4.200 (naik 200% dari level tertinggi sepanjang masa 2018) akan terlihat. Level ini dapat dicapai sebelum hard fork London diluncurkan pada bulan Juli.

    Jadi bagaimana Sobat Cuan? Buruan yuk, serok Ethereum sekarang di Pluang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Entrepreneur, CoinTelegraph



    Sumber : pluang.com

  • Apa Beda Istilah Crash dan Koreksi Bitcoin? Simak di Sini!

    Sobat Cuan pecinta aset kripto pasti tahu Bitcoin saat ini sedang loyo, bahkan sejak April lalu. Nah, karena situasi tersebut, lalu muncul istilah crash dan koreksi Bitcoin. Apa perbedaannya?

    Bitcoin kini berjuang untuk mempertahankan level support US$55.000 selama 16 hari terakhir. Pada dasarnya Bitcoin loyo sejak terjadi likuidasi kontrak panjang senilai US$5 miliar, yang merupakan rekor likuidasi Bitcoin tertinggi, terjadi pada 17 April lalu.

    Likuidasi yang terjadi setelah level harga tertinggi sepanjang masa US$64.900 itu memiliki dampak yang menghancurkan bagi sentimen trader ritel. Hal itu diukur dengan penurunan signifikan dalam bunga produk perpetual futures swap.

    Ketika harga Bitcoin turun, seringkali istilah “crash” dan “koreksi” digunakan secara bergantian. Namun, kedua kata tersebut sebenarnya ternyata memiliki arti yang berbeda, lho, Sobat Cuan. Lantas, apa dong bedanya?

    Baca juga: Yakin Mau Buru-Buru Jual ETH? Ada Prediksi ETH Bakal ke Level US$4.200 Nih!

    Crash Bitcoin

    Crash atau peristiwa kejatuhan secara luas dianggap dalam keuangan tradisional sebagai penurunan harga lebih dari 10% selama satu hari. Ini seringkali dipicu oleh perubahan mendadak yang berdampak di pasar crypto yang menyebabkan investor yang panik keluar secara massal. Hal itu salah satu pembeda antara crash dan koreksi Bitcoin.

    Faktor teknis memang dapat memberikan efek dramatis pada harga Bitcoin. Namun penurunan tajam lebih disebabkan oleh keadaan mendasar, seperti peristiwa ekonomi makro, pengumuman perusahaan besar, dan perubahan mendadak pada peraturan dan kebijakan internasional.

    Crash terbesar yang pernah tercatat pada grafik bitcoin terjadi pada 10 April 2013, tak lama setelah Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN) di AS menutup crypto exchange Bitfloor. FinCEN kemudian mengumumkan bahwa crypto exchange wajib untuk mendaftar sebagai “perusahaan transaksi uang”.

    Harga Bitcoin pada saat itu kemudian amblas lebih dari 73,1% dalam 24 jam, dari ketinggian US$259,34 ke level terendah US$70.

    Selain peristiwa itu, kejatuhan “Black Thursday” yang terkenal pada 12 Maret 2020, menempati posisi teratas sebagai crash terbesar. Harga Bitcoin anjlok 40%, dari US$7.969,90 menjadi US$4.776,59, setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan virus corona sebagai pandemi global.

    Baca juga: Cuan Lagi! Harga Ethereum Naik, Tembus Level Tertinggi US$3.000

    Koreksi Bitcoin

    Koreksi ditandai dengan penurunan bertahap di mana harga turun lebih dari 10% selama beberapa hari. Hal ini biasanya menunjukkan bahwa investor dan trader bullish telah ‘kelelahan’ sehingga perlu waktu untuk berkonsolidasi dan pulih.

    ‘Kelelahan’ terjadi ketika mayoritas pembeli telah membeli aset dasar dan tidak ada lagi pembeli baru yang muncul untuk mendukung tren naik. Jika pesanan jual terus menumpuk tanpa ada orang di sisi lain antrian pesanan yang membelinya, maka harga mulai turun.

    Koreksi dapat dipengaruhi oleh peristiwa kecil tetapi cenderung disebabkan oleh faktor teknis. Misalnya, seperti pembeli yang mengalami level resistensi yang kuat, atau menipisnya volume perdagangan. Juga perbedaan negatif antara harga Bitcoin dan indikator yang mengukur momentumnya seperti Relative Strength Index (RSI).

    Crash dan koreksi Bitcoin: Investor Pro Membeli saat Harga Turun

    Setelah berkenalan dengan crash dan koreksi Bitcoin, tentu saja hal yang ingin diketahui investor adalah strategi yang jitu untuk mendulang cuan dari peristiwa tersebut. Nah, biasanya, para investor dan trader aset kripto kawakan akan menyerok aset tersebut saat harganya sedang turun. Atau, istilah kerennya adalah buy the dip. Mengapa demikian?

    Untuk mengetahuinya, kita harus kenali gaya berinvestasi mereka dulu, Sobat Cuan. Biasanya, para investor kakap Bitcoin (whales) menyerok raja aset kripto ini dengan tujuan melindungi nilai kekayaan, mengingat sifat Bitcoin yang tak berkorelasi dengan inflasi. Makanya, tak heran jika mereka langsung memborong Bitcoin saat harganya tengah anjlok. Sementara itu, trader pro akan memborong Bitcoin di harga murah untuk kemudian dijual kembali saat harganya menunjukkan tren peningkatan kembali.

    Tapi, mengapa mereka sangat optimistis dengan Bitcoin meski harganya terkoreksi? Sebab, harga Bitcoin di jangka panjang akan menjanjikan. Seperti diketahui, Bitcoin adalah barang langka, di mana hanya terdapat 21 juta keping yang sedianya akan habis ditambang 2140 mendatang. Tentu saja, nilai suatu barang akan meningkat jika suplainya menipis, bukan?

    Selain itu, permintaan Bitcoin jangka panjang juga kian digandrungi. Ini lantaran beberapa korporasi sudah melihatnya sebagai instrumen pelindung nilai. Hal ini terbukti dari beberapa korporasi yang sudah menggenggam Bitcoin sebagai instrumen investasi mereka.

    Bagaimana dengan kamu nih, Sobat Cuan? Apakah tidak mau mengambil kesempatan di saat harga Bitcoin lagi turun? Agar tidak ketinggalan momentum, yuk segera investasi Bitcoin di Pluang!

    Baca juga: Udah Jago Analisis Teknikal Bitcoin & Kripto? Yuk, Saatnya Belajar Analisis On-Chain!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Coindesk, CoinTelegraph



    Sumber : pluang.com

  • Kapan Waktu yang Tepat Menjual Reksadana Kamu?

    Selama ini, orang mengenal reksadana sebagai sarana untuk hidup pensiun dengan tenang. Apalagi, berinvestasi di reksadana bukanlah hal susah untuk dilakukan. Tidak perlu tips investasi yang njelimet, investor hanya perlu ongkang-ongkang kaki dan dananya dikelola oleh manajer investasi.

    Selain itu, imbal hasil yang diberikan juga masih lebih baik jika dibandingkan dengan deposito atau jenis investasi yang mengandalkan pendapatan tetap lainnya. Tetapi, yang namanya investasi pasti ada faktor yang menjadi risiko dari setiap pergerakannya.

    Nah, membincang imbal hasil reksadana, hal ini tidak dapat dipisahkan dari timing alias waktu yang tepat untuk membeli atau menjual reksadana. Utamanya, dalam menjual reksadana. Pasalnya, beberapa investor tidak hanya menggunakan reksadana sebagai sarana menuju pensiun saja, namun juga ajang mencari cuan.

    Tak heran, jika banyak investor bertanya apakah sebaiknya menjual reksadana setelah menggenggamnya enam bulan? Satu tahun? Tiga tahun? Atau lima tahun?

    Misalnya, produk reksadana saham. Salah satu produk investasi ini diperuntukkan untuk mereka yang memiliki rencana keuangan di atas lima tahun. Jadi jika Sobat Cuan ingin merasakan imbal hasil maksimal, disarankan untuk melepasnya setelah di atas lima tahun. Lantas, apa dampaknya jika kamu menjual reksadana kamu di bawah lima tahun?

    Selain itu, juga ada produk reksadana campuran dan pendapatan tetap yang ditujukan untuk investor dengan rencana investasi menengah, alias tiga tahun. Terdapat pula reksa dana pasar uang yang ditujukan untuk investor dengan rencana investasi pendek, alias satu tahun. Terus, kalau kamu melepas reksadana di bawah jangka waktu itu, apakah kamu masih bisa mendulang cuan?

    Nah, semua keputusan itu bersifat dinamis, Sobat Cuan. Tips investasi reksadana utamanya adalah kamu bisa menjualnya kapan saja selama dibutuhkan. Tetapi, ada juga kondisi yang membuat kamu harus mulai mempertimbangkan penjualan UP reksa dana yang dimiliki. Apa saja kondisi tersebut?

    Baca juga: Apa Itu Reksadana?

    Tips Investasi Reksadana: Saat Tepat Menjual Reksadana

    1. Saat Kinerja Reksadana Terus Turun

    Meski pengelolaan dana reksadana kamu dilakukan oleh manajer investasi, tetap saja ada risiko penurunan nilai yang mengintai. Ini lantaran aset penempatan dana di reksadana (underlying asset), seperti saham, obligasi, dan pasar uang, juga cenderung volatil setiap saat.

    Makanya, nilai reksadana kamu akan turun kalau kinerja underlying asset kamu juga melandai. Begitu pun sebaliknya. Makanya, kamu harus segera memindahkan dana di reksadanamu ke aset lain yang berisiko mini kala nilai reksadana kamu perlahan turun.

    Hal itu dimaksudkan untuk menghindari potensi penyusutan dana investasi. Sebab, nilai UP kamu akan turun jika nilai aktiva bersih (NAB) produk reksadanamu juga terus terjungkal.

    Oleh karenanya, kamu harus melakukan riset mendalam dalam melihat perkembangan kinerja reksadana. Sekaligus memeriksa alasan di balik penurunan nilai reksadana tersebut.

    Kalau misalnya kinerja reksadana turun karena kondisi pasar yang memburuk, mungkin Sobat Cuan bisa mengalihkannya ke jenis investasi lain. Tetapi, jika penurunan disebabkan lantaran pengelolaan reksa dana yang tidak tepat, maka menjualnya adalah keputusan yang tepat.

    2. Tips Investasi Reksadana Jitu: Jual Reksadana Saat Butuh Dana Darurat

    Sobat Cuan mungkin merasa sudah punya perencanaan keuangan yang mumpuni. Tapi, ada kalanya kamu merasa seret masalah finansial jika berhadapan dengan urusan-urusan yang mendadak.

    Tabunganmu di rekening bank mungkin cukup untuk membiayai kebutuhan mendadak tersebut. Tapi, kamu tetap bisa kok, menjual reksadana untuk membiayai kebutuhanmu yang bersifat darurat.

    Namun, perlu diperhatikan bahwa pencairan UP reksadana hanya bisa dibayarkan maksimal tujuh hari bursa sejak permohonan penjualan sudah diterima lengkap oleh Manajer Investasi. Selain itu, jangan sampai penjualan produk reksadana malah bikin kamu tidak konsisten dalam berinvestasi reksadana ke depan, ya!

    Baca juga: Hai Sobat Cuan, Begini Lho Cara Maksimalkan Cuan di Reksadana Pendapatan Tetap

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Reksadana Community



    Sumber : pluang.com

  • Pilih-Pilih Trading vs Investasi, Mana Aktivitas yang Paling Oke Buat Kamu?

    Trading vs investasi adalah dua pilihan yang kerap membingungkan bagi para pemula yang masuk ke dalam pasar sekuritas maupun bursa aset kripto. Memang, bagi orang awam, kedua hal tersebut mungkin tak ada bedanya. Tapi, mereka juga perlu tahu bahwa masing-masing aktivitas memiliki perbedaan, lho.

    Day trading, atau dikenal juga dengan istilah trading saja, merujuk pada perdagangan harian yang dilakukan oleh seorang trader. Ia membeli atau menjual investasi dalam waktu singkat, dan terkadang hanya dalam hitungan detik atau menit.

    Jika harga pasar suatu saham berubah, mereka melakukan transaksi untuk meraup cuan dari fluktuasi tersebut. Dalam trading, semua posisi (pembelian ataupun penjualan) dibuka maupun ditutup dalam hari yang sama.

    Lantas, apa bedanya dengan investasi?

    Berbeda dengan trading, investasi cenderung bersifat jangka panjang. Seorang investor umumnya membeli atau menjual suatu aset dengan menahannya selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Investor memegang sekuritas mereka dan mendapatkan keuntungan dari menjualnya saat harga pasar berubah dan memberi keuntungan bagi mereka.

    Proses pengambilan keputusan dalam trading vs investasi bisa sangat berbeda. Sederet keterampilan dan kepribadian berbeda diperlukan untuk setiap metode.

    Perbedaan utama antara keduanya adalah bahwa trading akan menyita lebih banyak waktu dan perhatian seorang trader sepanjang harinya, sementara investasi membutuhkan lebih banyak pemantauan dan kesabaran jangka panjang. Apa saja beda antara trading vs investasi lainnya?

    Baca juga: 4 Langkah Sukses Trading, dari Stop Loss Sampai Ubah Perspektif!

    Memilih Antara Trading vs Investasi

    Trading dan investasi jangka panjang mensyaratkan pendekatan berbeda terkait banyak modal yang dibutuhkan, komitmen waktu, hingga potensi imbal hasilnya.

    Jika kamu termasuk pemula dalam mengamati pergerakan pasar ekuitas ataupun aset kripto, berikut ini beberapa hal yang perlu kamu pertimbangkan dalam mengambil keputusan melakukan trading vs investasi:

    • Modal yang dibutuhkan
    • Biaya yang sanggup kamu keluarkan
    • Berapa banyak waktu yang kamu miliki
    • Kepribadianmu
    • Tingkat pengembalian atau imbal hasil ideal serta toleransi risikomu

    Yuk, kita kupas satu per satu poin-poin tersebut.

    1. Modal: Berapa banyak yang dibutuhkan?

    Modal adalah pertimbangan nomor wahid saat kita memutuskan memutar dana. Tentu saja. Namun, dalam pertimbangan ini, kamu juga perlu memikirkan strateginya, berapa jumlah yang kamu tetapkan untuk memulai, dan bagaimana kamu membagi dana tersebut dalam diversifikasi aset.

    Memilih broker yang tepat juga penting. Bila salah memilih broker, maka taruhannya adalah modal yang kamu pasang di awal akan ludes, atau bahkan dibawa kabur oleh broker yang tidak bertanggung jawab.

    2. Biaya yang sanggup kamu keluarkan

    Banyak trader dan investor mencari biaya yang rendah saat memulai trading atau investasinya. Baru-baru ini, beberapa broker besar telah menghilangkan biaya yang cenderung besar demi bisa menarik lebih banyak trader.

    Biaya dapat bertambah jika kamu melakukan banyak transaksi perdagangan sepanjang hari. Dana yang dikelola secara aktif mengenakan biaya yang lebih tinggi daripada dana yang dikelola secara pasif.

    3. Pertimbangkan waktu yang kamu milliki

    Kebutuhan waktu untuk melakukan trading vs investasi tentu tergantung sepenuhnya padamu. Pada sebagian besar kasus, trader membutuhkan sepanjang hari atau biasanya setidaknya selama 2 jam untuk melakukan trading harian. Sementara, investasi akan membutuhkan waktu aktif sepanjang bulan.

    Untuk melakukan trading, komitmen waktu yang diperlukan minimal 15 jam per minggu pada ujung bawah dan hingga 40 jam per minggu pada ujung atas (jika kamu melakukan trading hampir sepanjang hari). Waktu paling aktif untuk saham, mata uang, dan perdagangan berjangka mendekati waktu buka pasar setiap pagi.

    Sementara, berinvestasi jangka panjang dapat dilakukan kapan saja. Kamu tinggal memperkirakan berapa jam selama sebulan kamu  dapat menyisihkan waktu untuk menyisiri aset yang hendak kamu beli. Beberapa investor kawakan memilih untuk lebih aktif, mereka menghabiskan sekian jam  per minggu untuk melakukan penelitian atas aset yang potensial.

    Baca juga: Ingin Diversifikasi Bitcoin dan Emas? Simak Komposisi Idealnya di Sini!

    4. Kepribadian Trading vs Investasi

    Seorang trader dan investor membutuhkan kiat dan disiplin diri untuk mencapai sukses. Kedua metode ini juga membutuhkan kesabaran, meski masing-masingnya membutuhkan jenis berbeda.

    Baik investor maupun trader mesti tahu hubungan rumit antara pasar dan investasi. Jika kamu ingin jadi keduanya, kamu perlu tahu cara menggunakan pendekatan-pendekatannya. Baik itu memahami indikator teknis dan analisis keuangan, dan itu membutuhkan dedikasi waktu untuk belajar yang tidak sebentar.

    Trader aktif berpotensi melakukan banyak trading dalam sehari. Meski mereka masih harus menunggu waktunya trading beli dan jual, trader yang cerdas memantau pasar hampir setiap saat. Sementara, seorang investor jangka panjang perlu bersabar dan yakin bahwa investasi aset tertentu mereka akan memberi imbal hasil yang baik. Mereka  tidak memantau harga dan posisi aset sepanjang hari dan mengkhawatirkan fluktuasi.

    5. Toleransi risiko dan imbal hasil

    Istilah high risk, high return bukan sekadar omong kosong dalam melakukan perdagangan aset. Kunci dari berani menghadapi risiko adalah mengetahui berapa banyak yang bisa kamu hasilkan dibandingkan dengan berapa banyak yang perlu kamu khawatirkan untuk hilang. Aturan praktis yang berlaku di awal baik untuk trading vs investasi adalah tidak mengambil risiko lebih dari 1% dari modalmu pada suatu perdagangan.

    Dengan modal1% itu, kamu mungkin hanya akan menghasilkan 0,5% hingga 3% per hari. Namun, itu sudah setara dengan 10% hingga 60% laba per bulan. Persentase imbal hasil yang tinggi ini dimungkinkan pada akun dengan jumlah modal yang kecil. Namun, seiring dengan bertambahnya ukuran  akun, tingkat  pengembalian cenderung turun  hingga kurang dari 10% per  bulan.

    Pada titik itulah, kamu mungkin perlu mempertimbangkan untuk beralih sebagai investor. Berinvestasi membutuhkan kerangka waktu yang lama dan memungkinkan dana besar bertumbuh lebih subur. Setiap tahunnya, paling tidak kamu dapat memprediksikan imbal hasil lebih tinggi 10% jika menggunakan strategi investasi yang tepat.

    Nah, jadi bagaimana Sobat Cuan? Apakah kamu lebih senang trading atau investasi? Kamu bisa mencobanya di aplikasi Pluang! Kamu bisa brinvestasi atau trading emas, S&P 500 index futures, Bitcoin, serta Ethereum!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Business Insider, The Balance



    Sumber : pluang.com

  • Apakah Aman Menabung di Dompet Aset Kripto? Yuk, Simak di Sini!

    Belakangan ini, penggemar aset kripto seolah-olah tengah menggandrungi cari cuan dari aset kripto dengan gaya baru. Yakni, dengan menabung di berbagai jenis dompet kripto yang tersedia di platform keuangan terdesentralisasi (Decentralized Finance/DeFi).

    Alasannya cukup simpel, Sobat Cuan. Sebab, menabung di dompet aset kripto ternyata memiliki tingkat bunga tabungan yang jauh lebih oke dibandingkan menabung di bank. Namun masalahnya, bagaimana tingkat keamanan menabung di dompet kripto? Apakah aset kripto yang kamu tanam di sana bisa menguap begitu saja? Siapa yang bertanggung jawab atas aset kripto di sana?

    Baca juga: Mengenal Berbagai Tipe Cryptocurrency Wallet

    Kenali Risiko Crypto Saving Sebelum Paham Keamanan Menabung Dompet Kripto

    Untuk menjawab pertanyaan di atas, sejatinya hal paling mudah yang bisa Sobat Cuan lakukan adalah mengenal dompet kripto terlebih dulu. Ya, mengenal produk nampaknya menjadi hal paling utama ketika kamu ingin berinvestasi atau cicip-cicip produk keuangan tertentu.

    Produk tabungan di dompet kripto merupakan salah satu bagian dari aktivitas aset kripto yang umum disebut stakingCrypto staking sendiri merupakan kegiatan di mana pengguna aset kripto dapat mendulang cuan hanya dengan memvalidasi transaksi atau segala aktivitas yang terjadi di atas sistem blockchain.

    Konsepnya pun sama seperti membuka rekening tabungan biasa di bank. Yang kamu perlu lakukan hanyalah menyimpan aset kriptomu di “rekening” berupa dompet dan nantinya kamu bisa mendapatkan “bunga tabungan”, yang kerap disebut Annual Percentage Yield (APY), sesuai periode menabung yang kamu inginkan.

    Menabung di aset kripto memang terbilang sangat menguntungkan, di mana hal tersebut sudah dibahas di artikel berikut. Hanya saja, menabung di aset kripto punya risiko tersendiri. Apa saja risiko tersebut?

    1. Akun Dompet Kripto Kamu Tidak Diawasi Otoritas Terkait

    Segala sesuatu yang berjalan di atas DeFi tentu saja bergerak secara otonom. Tak mengherankan, sebab namanya saja disebut decentralized. Sehingga, segala sesuatu yang terjadi di dalamnya tidak diawasi oleh otoritas berwenang. Misalnya, bunga tabungan di dalamnya tidak mengikuti suku bunga acuan bank sentral. Sementara itu, aktivitasnya juga tidak diawasi oleh otoritas jasa keuangan.

    Hal ini yang menyebabkan tingkat bunga di produk tabungan kripto cenderung tinggi dibanding jasa keuangan konvensional. Tetapi masalahnya, nantinya tidak akan ada otoritas yang bisa mengintervensi aktivitas ini jika terjadi masalah besar di dalamnya.

    2. Kurang Likuid

    Kamu tentu bisa menarik uangmu dengan mudah jika menabung di bank. Namun, hal itu tak bisa kamu lakukan seenaknya ketika menabung di dompet kripto. Mengapa demikian>

    Beberapa platform aset kripto mengharuskan penggunanya untuk “mengunci” (lock) aset kriptonya selama periode tertentu. Bisa jadi sehari, 30 hari, atau bahkan 90 hari. Jadinya kamu tak bisa menariknya dan mengonversikannya kembali ke uang fiat di dalam rentang waktu tersebut.

    3. Terpapar Risiko Ketidakpastian

    Menyambung poin sebelumnya, sifat tabungan aset kripto yang sukar dicairkan juga bisa menimbulkan risiko lainnya. Yakni, ketidakpastian mengenai nilai aset kripto yang kamu simpan di masa depan.

    Seperti yang kita tahu, harga aset kripto di masa depan memang penuh misteri. Kadang bisa naik, kadang juga bisa turun. Tentu saja, jika harga aset kripto yang kamu genggam semakin melorot, artinya nilai tabungan aset kripto yang genggam juga bisa pudar.

    Kalau sudah begitu, maka percuma saja jika kamu menghasilkan bunga tabungan aset kripto yang besar kalau ternyata kamu juga bisa menghilangkannya dengan cepat. Sebagai contoh, kamu pasti akan tekor kalau APY kamu tercatat 20% tapi nilai aset kripto yang kamu pegang malah anjlok 25%.

    Dengan segudang risiko di atas, apakah bisa disimpulkan bahwa keamanan menabung dompet kripto adalah hal yang nihil? Jawabannya, tidak juga. Yuk, simak jawaban selengkapnya di bawah ini!

    Baca juga: Mau Coba Simpan Aset Kripto di Dompet DeFi? Berikut Tipsnya!

    Tingkatkan Keamanan Menabung Dompet Kripto

    Seperti yang sudah kita bahas di atas, ternyata menabung di aset kripto tidak diawasi oleh otoritas terkait. Selain itu, asetnya pun tidak likuid. Namun, yang namanya risiko tentu bisa dimitigasi, Sobat Cuan! Nah, dalam hal ini, hal pertama yang perlu kamu perhatikan adalah reputasi sang platform dompet aset kripto.

    Kamu bisa menilai reputasi sang platform dompet aset kripto dari berbagai sisi. Misalnya, membaca testimoni dari pengguna di internet dan memeriksa apakah platform tersebut tercatat sebagai pedagang pasar fisik aset kripto di otoritas yang mengawasi perdagangan komoditas.

    Selain itu, platform dompet kripto yang baik pasti akan memberikan informasi transparan mengenai risiko dan APY yang akan raih melalui produk-produk mereka.

    Mitigasi risiko kedua yang perlu kamu lakukan adalah menentukan strategi menabung. Jika kamu adalah pemula, pastikan jangan pernah menempatkan aset kripto kamu dalam jumlah banyak di dompet kripto. Jadikan menabung di dompet kripto sebagai bagian dari diversifikasi aset yang bisa kamu terapkan demi memitigasi risiko di jenis investasi lainnya.

    Hal ini dilakukan agar kamu bisa menentukan, apakah kamu cukup nyaman menabung di dompet kripto atau tidak. Selain itu, kegiatan ini juga bisa membantu kamu dalam mengelola ekspektasi kamu terhadap platform dompet aset kripto.

    Intinya, masalah keamanan menabung dompet kripto tak hanya berkaitan dengan karakteristik kegiatannya, Sobat Cuan. Namun, hal ini juga akan sangat bergantung dengan tingkat kesiapan kamu sendiri. Dengan imbal hasil yang lumayan tinggi, apakah kamu sudah siap menabung di dompet kripto?

    Nah, salah satu platform yang bisa kamu manfaatkan untuk menabung aset kripto adalah Pluang! Kamu bisa menabung Bitcoin atau Ethereum dan mendapatkan imbal hasil hingga 3,5% per tahun. Aksesnya mudah dan praktis, kamu juga bisa menarik tabunganmu kapan saja.

    Baca juga: 6 Tips Mengelola Dompet Bitcoin

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Hackernoon, The College Investor



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Hard Fork Berlin, Salah Satu Faktor Meroketnya ETH di Awal Mei

    Beberapa waktu ini harga Ethereum sedang naik daun, dan mungkin banyak Sobat Cuan yang senyum-senyum melihat portofolionya. Bahkan, dalam sebulan terakhir, harga aset kripto ini sudah melonjak 75% lebih. Salah satu penyebab kenaikan harga Ethereum ini adalah karena diluncurkannya hard fork Berlin. Apa sih maksudnya?

    Hard fork adalah suatu keadaan dimana satuan kripto dimodifikasi sehingga terbagi menjadi dua kode. Yakni dari satuan kripto yang diubah sehingga menghasilkan kode lama dan kode baru, yang mana kedua kode ini tidak kompatibel satu sama lain.

    Hard fork Berlin diluncurkan di blok 12.244.000 hari Kamis (29/4). Hard fork Berlin adalah peningkatan jaringan yang menggabungkan empat propsal perbaikan Ethereum (Ethereum Improvement Proposal/EIP) yang mengutak-atik biaya transaksi ETH, yang umum disebut gas fees, dan membuka banyak jenis transaksi baru.

    Peningkatan ini merupakan batu pijakan sebelum ke hard fork London yang jauh lebih besar, yang akan mengaktifkan EIP-1559. Adapun EIP-1559 adalah proposal perbaikan jaringan Ethereum yang penting (dan kontroversial) untuk menekan gas fees Ethereum.

    Baca juga: Apa Beda Istilah Crash dan Koreksi Bitcoin? Simak di Sini!

    Apa itu Hard Fork Berlin?

    Hard fork Berlin dinamai dari ibu kota Jerman yang menjadi tuan rumah bagi Ethereum DevCon pertama. Pembaruan ini awalnya dijadwalkan pada Juni atau Juli 2020, tetapi dibatalkan karena masalah sentralisasi sebagian besar node Ethereum.

    Dengan kehadiran hard fork ini, artinya klien Ethereum lama tidak akan kompatibel dengan pembaruan saat ini. Hal ini adalah salah satu dari sekian banyak pembaruan menuju Ethereum 2.0, yang merupakan lompatan besar dari model algoritma konsensus proof-of-work menjadi proof-of-stake.

    Hard fork Berlin mengaktivasi empat proposal pembaruan sistem yang diimplementasikan di sistem blockchain Ethereum, yakni EIP-2565, EIP-2929, EIP-2718 dan EIP-2930. Lantas, apa saja sih, isi dari setiap proposal upgrade Ethereum tersebut?

    • EIP-2565: Berfungsi mengurangi gas fees untuk beberapa transaksi spesifik yang menggunakan eksponesiasi modular
    • EIP-2718: Berfungsi menambahkan logika-logika komputasi transaksi baru ke dalam sistem Ethereum.
    • EIP-2929: Berfungsi meningkatkan gas fees hanya untuk transaksi-transaksi “op code”, yang bertujuan untuk melindungi jaringan Ethereum dari serangan siber.
    • EIP-2930: Menghadirkan tipe transaksi baru di mana pengguna Ethereum bisa menciptakan template transaksi yang lebih kompleks di masa depan. Hal ini juga bertujuan untuk menurunkan biaya transaksi di kemudian hari.

    Terdengar membingungkan ya, Sobat Cuan? Memang sih, penjelasannya agak njelimet. Tapi intinya, Hard Fork Berlin bertujuan untuk menurunkan tarif gas fees dan meningkatkan keamanan jaringan blockchain Ethereum.

    Namun, peningkatan tersebut sempat mengakibatkan penghentian sementara di beberapa layanan jaringan Ethereum. Salah satu contohnya adalah pada platform analitik Ethereum Etherscan, karena kesalahan konsensus di blok #12244294.

    “Sistem klien tunggal yang mengandalkan OpenEthereum turun sebagian karena klien tidak dapat melakukan sinkronisasi melewati blok yang bermasalah. Ini menyebabkan beberapa penghentian sementara,” ujar Alex Stokes, seorang peneliti Ethereum melalui Twitter.

    Apa Hal Selanjutnya untuk Ethereum?

    Tetapi, Hard Fork Berlin bukanlah akhir dari pembaruan sistem blockchain Ethereum. Setelah ini, Ethereum juga berencana untuk menurunkan gas fees melalui aktivasi proposal EIP-1559 di dalam hard fork London. Aduh, makhluk apalagi sih, ini?

    Singkatnya, proposal pembaruan EIP-1559 merupakan penyempurnan dari empat proposal yang diaktivasi di dalam hard fork Berlin. Ini lantaran tujuan EIP-1559 adalah sama-sama memangkas biaya transaksi di sistem Ethereum namun dari segi ongkos pertambangan.

    Setelah EIP-1559 diberlakukan, nantinya transaksi baru atau pertambangan blok baru Ethereum tidak perlu divalidasi oleh semua jaringan. Sehingga, pembaruan ini akan mengurangi waktu yang diperlukan untuk mengonfirmasi transaksi dan membuat keseluruhan jaringan mampu menangani volume transaksi yang jauh lebih tinggi.

    Sistem baru tersebut juga akan memperkenalkan satu angka standar biaya transaksi bagi miners dalam “mencangkul” Ethereum bernama BASEFEE. Penerapan satu biaya ini dimaksudkan untuk mencegah miners dalam memanipulasi biaya transaksi, yang kemudian akan dibebankan ke investor, untuk mendulang cuan secara tidak sehat.

    Nah, karena dampaknya yang sangat besar terhadap sistem blockchain Ethereum, tak heran jika EIP-1559 ini disebut-sebut sebagai “pembaruan sistem yang paling dinanti-nanti oleh pegiat aset kripto”. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya transaksi Ethereum dengan mengganti mekanisme harga transaksi dari model lelang harga saat ini.

    Saat ini pengguna mengirim transaksi dengan tawaran (biaya tambang) dan penambang memilih transaksi dengan tawaran tertinggi, dengan biaya jaringan tetap per blok. Hard fork London dijadwalkan berlangsung pada Juli atau Agustus.

    Lantas, Mengapa Pembaruan Sistem Ini Berdampak ke Harga ETH?

    Implementasi hard fork Berlin tentu akan membuat jaringan blockchain Ethereum semakin terpercaya. Dengan demikian, maka transaksi di atas jaringan ini bisa semakin ramai, dan pada akhirnya mendongkrak permintaan Ether (ETH), yang merupakan token resmi di sistem Ethereum.

    Sementara itu, implementasi EIP-1559 nantinya juga akan meroketkan nilai ETH lantaran pembaruan sistem itu akan mempertipis suplai token tersebut. Lho, kok bisa?

    Setelah EIP-1559 berlaku, nantinya BASEFEE akan menjadi standar biaya transaksi di jaringan Ethereum. Nah, di dalam pembaruan sistem ini, sistem blockchain akan “membakar” seluruh BASEFEE yang telah dikumpulkan.

    Hal tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai ETH. Tapi dampak lainnya, suplai ETH akan tergerus, dan akan meningkatkan harga ETH nantinya.

    Kebayang kan, kamu bakal cuan seperti apa kalau menggenggam ETH sekarang? Makanya, yuk segera investasi Ethereum di Pluang sebelum harganya naik lagi!

    Baca juga: Yakin Mau Buru-Buru Jual ETH? Ada Prediksi ETH Bakal ke Level US$4.200 Nih!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Coindesk, Forkast



    Sumber : pluang.com

  • Mau Kaya? Warren Buffett Sebut Kamu Harus Taruh 90% Uang di SP 500!

    Ada momen yang tak terduga saat begawan saham dunia, Warren Buffet menghadiri pertemuan tahunan perusahaannya, Berkshire Hathaway. pada Senin (3/5). Ia tiba-tiba memberi wejangan singkat bagi para investor yang baru menginjakkan kaki di kancah investasi. Lantas, apakah wejangan tersebut?

    Menurutnya, investor baru tak usah capek-capek berinvestasi di saham tunggal untuk menjadi kaya. Hidup aman dan tenang di masa depan, jelasnya, hanya bisa dicapai jika mereka berinvestasi di reksa dana indeks S&P 500.

    “Saya sangat merekomendasikan reksa dana indeks S&P 500,” jelasnya, merujuk pada indeks saham berisikan saham 500 perusahaan paling bonafide seantero AS tersebut. “Sebab, produk ini akan sangat menguntungkanmu dalam jangka panjang.”

    Warren Buffett selama ini memang dikenal sebagai sosok yang mampu menghasilkan cuan dari pasar saham. Tak heran, jika segala petuahnya tentang saham laksana titah dewa bagi investor yang kerap mendambakan cuan. Meski demikian, pernyataan itu tentu bikin para investor bertanya: Mengapa harus S&P 500?

    Alasan Buffett Memilih Indeks S&P 500 Dibanding Saham Tunggal

    Untuk memahami pernyataannya, Buffett kemudian membagikan satu salindia presentasi yang menggambarkan banyaknya perusahaan otomotif di AS di awal 1900. Ia kemudian menjelaskan gambar tersebut dengan mengatakan bahwa awalnya terdapat 2.000 perusahaan otomotif AS pada saat itu. Seluruhnya ingin mengambil ceruk untung di sektor tersebut lantaran diprediksi punya masa depan cerah.

    Sayangnya, ramalan itu meleset. Pada 2009, imbuh Buffett, hanya terdapat tiga perusahaan saja yang masih bertahan dari sekitar 2.000 perusahaan yang dimaksud. Namun, dua diantaranya kemudian harus dinyatakan bangkrut.

    Menurutnya, kondisi tersebut memberikan alasan yang kuat mengapa investor seharusnya memilih instrumen aset berbasis indeks. Sebab, investor bisa menggenggam beragam aset yang terdiversifikasi hanya dalam satu produk saja.

    Hal ini tentu memiliki risiko lebih kecil dibandingkan menggenggam beberapa saham perusahaan dengan sektor homogen.

    “Kalau kamu memiliki serangkaian ekuitas yang terdiversifikasi, apalagi produk ekuitas AS, maka tahanlah [aset] itu. Tapi, tahanlah selama 30 tahun.” kata dia.

    Selain itu menurutnya, memilih-milih saham tunggal sebagai tujuan investasi adalah pekerjaan yang pasti akan bikin pusing investor pemula.

    Untuk menggambarkan kondisi ini, Buffett kemudian menampilkan salindia lain yang berisi 20 perusahaan yang sahamnya memiliki kapitalisasi pasar besar saat ini. Daftar itu terdiri dari Apple, Saudi Aramco, Microsoft, Amazon, Alphabet, dan Facebook.

    Kemudian, ia melempar pertanyaan kepada peserta pertemuan tersebut, apakah 20 perusahaan tersebut masih akan ada di pucuk dalam 30 tahun mendatang? Jawabannya, belum tentu.

    Sebab nyatanya, 20 perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar 30 tahun lalu, seperti Exxon, GE, Merck dan IBM, tidak mampu mempertahankan posisinya hingga saat ini.

    “Ini menjadi pengingat bahwa kejadian luar biasa di masa depan bisa terjadi,” jelasnya.

    Baca juga: Penasaran Gimana Perusahaan AS Bisa Masuk Daftar S&P 500? Simak di Sini

    Mau Pilihan Investasi Tepat? Masuk di Indeks S&P 500

    Saking percayanya dengan indeks S&P 500, Buffet mengklaim bahwa dia sudah menginstruksikan pada wali yang betanggung jawab atas asetnya, untuk menginvestasikan 90% dari uangnya ke dalam reksadana indeks S&P 500.

    Sementara itu, sisa 10% akan ia masukkan ke dalam instrumen obligasi jangka pendek, yang nanti akan diberikan ke istrinya ketika kelak Buffett tiada.

    “Saya hanya berpikir bahwa hal terbaik untuk dilakukan adalah membeli 90% dalam indeks S&P 500,” ungkapnya.

    Sebenarnya, strategi investasi Buffett tersebut sudah dikenal di perencanaan pensiun dengan nama strategi 90/10. Selain karena risikonya yang rendah, strategi ini juga dikenal karena menghasilkan cuan yang mantap di masa depan.

    Pertumbuhan Indeks S&P 500

    Nah, pilihan Buffett bisa jadi ada benarnya, Sobat Cuan. Soalnya, nilai S&P 500 sudah terbukti menunjukkan performa luar biasa sepanjang sejarahnya di bursa saham AS. Utamanya, dalam angka laju pertumbuhan nilainya.

    Indeks S&P 500 pertama kali menembus level 1.000 pada 1998 silam. Kemudian, indeks S&P 500 perlu membutuhkan waktu 16 tahun lamanya sampai akhirnya menembus level 2.000 di tahun 2014.

    Namun, apakah S&P 500 membutuhkan waktu 16 tahun lagi demi mengeret nilai dari 2.000 ke 3.000? Jawabannya adalah tidak. Malahan, jangka waktunya kian cepat.

    Sebab, S&P 500 hanya membutuhkan waktu lima tahun saja untuk mencapai posisi 3.000 di 2019. Kemudian, ia hanya butuh kurang dari dua tahun untuk mencapai posisi 4.000 di awal April 2021. Bahkan, yang lebih mengagumkannya lagi, nilai indeks S&P 500 sempat menyentuh 4.200 di akhir April.

    Berkaca pada peristiwa tersebut, bisa disimpulkan bahwa pertumbuhan return S&P 500 semakin kencang seiring waktu. Alias, cuan investasi S&P 500 makin lama makin mantap.

    Hal ini juga terlihat dari pertumbuhan return S&P 500 yang selalu mencatat dua digit setiap tahunnya. Terakhir, pada 2020 lalu, imbal hasil S&P 500 bertumbuh 18,4%.

    Pasti Sobat Cuan jadi penasaran investasi di indeks S&P 500, kan? Nah, kamu bisa lho berinvestasi indeks saham terbaik AS itu melalui micro e-mini S&P 500 index futures di Pluang!

    Baca juga: Psst.. Ini 5 Rahasia Sukses Warren Buffett, Tokoh Investasi Paling Sukses di Dunia

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: CNBC, The Balance



    Sumber : pluang.com