Author: 10

  • Tenang, Prediksi Harga Bitcoin Jangka Panjang Tembus Rp3,62 Miliar di 2025 Lho!

    Sobat Cuan, Bitcoin saat ini memang tengah gamang dan melandai di level US$45.000. Padahal, aset kripto terbesar ini sempat melonjak sejak awal tahun dan menembus level US$60.000. Investigasi yang dilakukan pemerintah AS terhadap Binance dan “prank” Elon Musk yang terkesan memojokkan Bitcoin memang bikin harga raja aset kripto ini seolah kurang darah.

    Hal ini bisa jadi bikin mereka yang tergolong kaum HODL garis keras jadi galau untuk menggenggam Bitcoin. Namun, bagaimana sih, prediksi harga Bitcoin jangka panjang?

    Sobat Cuan sah-sah saja untuk tidak ketar-ketir. Bahkan, nampaknya HODL pun menjadi strategi terbaik di kala harga Bitcoin lagi terjungkal seperti saat ini. Apalagi, secara jangka panjang, harga Bitcoin masih terbilang menjanjikan.

    Salah satunya dilontarkan Kepala Investasi Hedge Fund Morgan Creek Capital Management, Mark Yusko. Ia memperkirakan harga bitcoin bisa melonjak menjadi US$250.000 dalam lima tahun, dengan alasan Bitcoin “akan menjadi protokol dasar untuk produk internet yang memiliki nilai.”

    “Ini hanya tentang adopsi jaringan dan peningkatan penggunaan. Bitcoin memiliki jaringan yang tumbuh secara eksponensial. Ini adalah jaringan tercepat dalam sejarah dengan nilai US$1 triliun,” katanya. Ia pun mengatakan bahwa harga tersebut bisa membawa kapitalisasi pasar bitcoin sekitar US$4 triliun dan mengejar emas yang punya kapitalisasi pasar US$11,75 triliun.

    “Apa yang orang lewatkan adalah bahwa ini merupakan evolusi teknologi dari kekuatan komputasi yang tidak akan hilang. Ini adalah jaringan komputasi yang kuat yang akan menjadi protokol lapisan dasar untuk internet,” kata Yusko.

    Tahun ini, miliarder Tesla Elon Musk dan investor terkenal lainnya telah membuat Bitcoin dan pasar crypto yang lebih luas menjadi ramai dan spekulatif. Hal itu membantu harga Bitcoin melonjak sekitar 450%, dimulai pada bulan Oktober 2020.

    Reli kenaikan tersebut dipicu oleh PayPal yang mengumumkan dukungannya untuk beberapa cryptocurrency. Harga selanjutnya didorong oleh munculnya adopsi institusional yang telah lama ditunggu.

    Baca juga: Bingung Pilih Trading atau HODL? Simak Tips Investasi Cryptocurrency Ini!

    Prediksi Harga Bitcoin Jangka Panjang dari Panelis

    Bitcoin sebelumnya terpantau mencatat level tertinggi berkali-kali. Tetapi seberapa tinggi nilai aset kripto itu? Dan berapa lama kenaikan ini akan bertahan? Dalam hal ini, Finder.com meminta pendapat dari 35 panelis ahli aset kripto dan merangkum masa depan Bitcoin nantinya.

    Hasilnya, seluruh panelis tersebut masih percaya harga Bitcoin tetap akan tokcer — setidaknya hingga akhir tahun ini.

    CEO Morpher Martin Fröhler dan CEO dan direktur Cake Pte Ltd Julian Hosp, memberikan dua prediksi akhir tahun tertinggi masing-masing pada US$250.000 dan US$200.000. Mereka mengaitkan prediksi bullish sang raja aset kripto tersebut dengan paritasnya terhadap emas.

    “Bitcoin adalah penyimpan nilai jangka panjang terakhir dan secara bertahap akan menggantikan emas dan obligasi,” ujar Fröhler.

    Salah satu pendiri Origin Protocol, Josh Fraser juga memberikan prediksi akhir tahun di atas US$150.000. Ia mengatakan itu semua bermuara pada penawaran dan permintaan, di mana “permintaan hanya akan terus meningkat sementara pasokan berkurang”.

    Prediksi Harga Bitcoin di Tahun 2025

    Dalam proyeksi panel tersebut, pada tahun 2025 harga Bitcoin diprediksi akan melonjak menjadi US$360.179. Angka itu merupakan peningkatan 83% dibandingkan dengan prediksi panel pada Desember 2020 sebesar US$197.553.

    Baca juga: Meski Digempur Altcoins, Ini Satu Alasan Kenapa Kamu Masih Perlu HODL Bitcoin!

    Seorang panelis, COO BitBull Capital Sarah Bergstrand bahkan berpikir bahwa pada saat itu, Bitcoin akan dihargai US$1 juta. Bergstrand mengakui bahwa 2025 mungkin terlalu jauh untuk diprediksi, tetapi ia menilai dengan Bitcoin yang semakin populer, perkiraan ini masih wajar.

    Dia bukan satu-satunya panelis yang memberikan ramalan ini. Ahli strategi cryptocurrency LMAX Group Joel Kruger dan CEO Coinmama Sagi Bakshi juga berpikir bahwa BTC dapat mengakhiri 2025 dengan valuasi US$1 juta.

    “Satu-satunya pertanyaan yang perlu ditanyakan dalam hal penilaian jangka panjang adalah apakah menurut Anda Bitcoin akan tetap ada pada tahun 2025? Jika jawaban untuk pertanyaan ini adalah ‘ya’, hukum ekonomi mendukung penilaian yang jauh lebih tinggi. Sesederhana itu,” kata Kruger.

    Baca juga: Mengenal Hard Fork Berlin, Salah Satu Faktor Meroketnya ETH di Awal Mei

    Seberapa Tinggi Bitcoin akan Naik Tahun Ini?

    Panel Finder.com melihat Bitcoin mengakhiri tahun ini pada level US$95.000. Namun itu tidak berarti bahwa Bitcoin tidak akan menembus angka US$100.000 sebelumnya.

    Lebih dari setengah (51,61%) panel memprediksi bahwa Bitcoin akan mencapai puncak pencapaian itu di beberapa titik tahun ini. Menurut rata-rata panelis, harga Bitcoin bisa melonjak hingga US$107.484 di beberapa titik selama 2021.

    Direktur Pelaksana Digital Capital Management Ben Ritchie, Julian Hosp dan Martin Fröhler, semuanya memberikan prediksi di atas rata-rata. Masing-masing memprediksi harga Bitcoin tahun ini bisa ke US$120.000, US$200.000, dan US$300.000, berdasarkan metode stock to flow yang mengukur pasokan dan distribusi.

    “Rasio stock to flow tetap menjadi salah satu indikator makro paling akurat untuk Bitcoin. Ditambah dengan siklus peristiwa halving, itu akan meyakinkan kami harga mencapai puncak antara US$120.000 dan US$140.000, sebelum membentuk basis baru di sekitar US$ 100.000,” kata Ritchie.

    Baca juga: Apa Beda Istilah Crash dan Koreksi Bitcoin? Simak di Sini!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Forbes, Finder



    Sumber : pluang.com

  • Lagi Tokcer, Apakah Harga Emas Diprediksi Akan Naik Terus di 2021?

    Emas sedang menjadi primadona bagi banyak orang belakangan ini. Betapa tidak, setelah “tertidur” selama tiga bulan, harga emas tiba-tiba menyeruduk mendekati level US$1.900 per ons.

    Namun, pertanyaan besarnya adalah, sampai kapan tren harga ini akan bertahan? Bagaimana prediksi harga emas di 2021 ini? Sampai di angka berapa emas akan mentok? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tentu kerap muncul di benak mereka yang menaruh harapan tinggi terhadap emas.

    Maka dari itu, ada baiknya Sobat Cuan baca artikel ini hingga selesai. Siapa tahu, memang tahun ini akan menjadi tahun yang berkah bagi logam mulia.

    Baca juga: Benarkah Harga Emas Naik Saat Ekonomi AS Lesu? 6 Peristiwa Ini Buktinya!

    Menyelami Prediksi Harga Emas 2021

    Sebelum menelaah prediksi harga emas tahun ini, Sobat Cuan perlu memahami bahwa artikel ini ditulis pada pertengahan Mei 2021. Alias, hampir mencapai setengah dari keseluruhan tahun 2021.

    Sehingga, dengan mengingat harga emas saat ini di kisaran US$1.850 per ons, masih ada waktu bagi harga emas untuk mencapai prediksi harga di bawah. Adapun, prediksi harga emas 2021 di bawah ini dihimpun dari berbagai lembaga keuangan, yang dikompilasi oleh analis senior Goldsilver.com Jeff Clark.

    Dari tabel di atas, bisa diketahui bahwa beberapa lembaga keuangan top dunia masih berharap bahwa harga emas bisa kembali menyentuh US$2.000 per ons. Bahkan, ada juga yang optimistis dengan memegang angka US$2.300 per ons.

    Tetapi harus dilihat juga, bahwa ada pandangan konservatif yang memarkirkan proyeksi harga emasnya di kisaran US$1.900 per ons. Di mana, prediksi tersebut tidak dicantumkan dalam tabel di atas.

    Prediksi harga emas dari CPM Group dan Capital Economic, misalnya, memang terlihat lebih rendah dari kebanyakan lembaga. Yakni, di kisaran US$1.900 saja. Meski demikian, tetap ada hal menarik yang bisa dipetik dari dua ramalan yang “pesimistis” ini.

    Jika harga emas melonjak jadi US$1.900 per ons, artinya harga logam mulia akan mengalami pertumbuhan 8% dibanding tahun lalu. Memang, angka itu lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 24%. Namun, setidaknya harga emas masih bisa bertumbuh setelah melalui awal tahun yang bergejolak.

    Seperti diketahui, harga emas di awal tahun ini memang terombang-ambing disebabkan oleh kenaikan tingkat imbal hasil obligasi AS. Hubungan antara harga emas dan yield obligasi AS bisa disimak di artikel berikut.

    Namun, jika memang harga emas tetap melanjutkan reli, kira-kira apa faktor pendukung utamanya?

    Baca juga: Apa Itu Kebijakan Moneter?

    3 Hal Ini Akan Pengaruhi Prediksi Harga Emas 2021

    Sobat Cuan mungkin paham bahwa terdapat dua faktor yang bikin harga emas terbang di pertengahan Mei. Yakni, tingkat inflasi yang melonjak dan juga antisipasi investor atas kebijakan suku bunga acuan bank sentral The Fed.

    Departemen Ketenagakerjaan AS merilis data bahwa tingkat inflasi tahunan April tercatat 2,4%, atau lonjakan tertinggi sejak 2009. Namun, The Fed sendiri mengatakan tidak akan segera mengubah suku bunga acuan, sehingga harga emas masih tetap aman.

    Dua hal ini nampaknya tetap akan menjadi sentimen utama bagi prediksi harga emas 2021. Untuk lebih lengkapnya, Sobat Cuan bisa membaca penjelasan di bawah ini:

    1. Ancaman Inflasi

    Ancaman inflasi di AS semakin di depan mata. Banyak analis memperkirakan, inflasi mendekati akhir tahun akan semakin kencang seiring meningkatnya daya beli. Ini merupakan dampak langsung dari pembukaan kembali aktivitas ekonomi (reopening) pasca pandemi COVID-19.

    Buktinya sudah bisa dirasakan pada April, di mana tingkat inflasi tahunan sudah mencapai 2,4%. Jika memang tren inflasi berlanjut, bukan tidak mungkin investor memburu emas sebagai aset pelindung kekayaan. Hal tersebut kemudian akan berujung ke kenaikan harga emas sepanjang tahun ini.

    2. Suku Bunga Rendah

    Seperti yang dijelaskan di atas, sikap The Fed yang memberi sinyal untuk tidak menaikkan suku bunga acuan akan berdampak baik bagi harga emas. Mengapa demikian?

    Ketika The Fed menaikkan suku bunga acuan, maka hal itu juga akan mendongkrak tingkat imbal hasil produk jasa keuangan, seperti deposito, maupun obligasi. Jika itu terjadi, artinya investor akan lebih memilih menggenggam dua instrumen tersebut dan mulai melepas emas. Akibatnya, harga logam mulia pun bisa longsor.

    Untungnya, sampai sejauh ini, The Fed belum memberikan sinyal akan mengerek suku bunga acuannya. Otoritas moneter AS itu sebelumnya mengatakan bahwa perubahan suku bunga acuan “mungkin” terjadi jika inflasi sudah menyentuh 2%.

    Sehingga, yang perlu Sobat Cuan lakukan hanyalah berharap bahwa The Fed tidak akan melakukan prank dengan menaikkan suku bunga acuannya di tahun ini.

    Baca juga: Indeks Saham AS dan Bitcoin Kompak Mencari Jalan untuk Menguat Pekan Ini

    3. Pelemahan Nilai Dolar AS

    Karena pembelian emas dilakukan dengan dolar AS, maka penurunan nilai mata uang tersebut akan membuat harga logam mulia menjadi relatif lebih murah. Sehingga, investor yang jarang bertransaksi menggunakan dolar AS akan memborong emas, dan mengerek harganya lebih tinggi.

    Tetapi, apakah nilai dolar AS di tahun ini akan melandai? Jawabannya, adalah sangat mungkin.

    Sejak awal tahun ini, The Fed dan pemerintah AS sama-sama memberikan kebijakan moneter dan fiskal yang cukup longgar. Tujuannya, adalah untuk memulihkan daya beli masyarakat selepas dihantam pandemi COVID-19.

    Hasilnya, jumlah uang beredar akan semakin banyak jika dua kebijakan tersebut dilonggarkan. Nah, jika suplai dolar AS semakin banyak, artinya nilainya akan semakin di bawah tekanan. Hal ini tentu akan mendorong harga emas ke tingkat yang lebih tinggi.

    Kesimpulan

    Dengan menimbang prediksi di atas, maka saat ini tentu adalah saat yang tepat bagi Sobat Cuan untuk menimbun emas. Apalagi, menurut artikel berikut, kuartal II memang dikenal sebagai masa yang tepat untuk mengumpulkan emas.

    Kalau begitu, tidak ada salahnya Sobat Cuan membeli emas digital di Pluang! Sebab, Pluang memiliki spread transaksi rendah, hanya 1,75%, plus tidak ada pembebanan biaya admin! Yuk, investasi emas digital di Pluang sekarang!

    Baca juga: Cetak Rekor Melulu, Ini Alasan Harga Ethereum Bakal Terbang Terus!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Goldsilver.com



    Sumber : pluang.com

  • Apakah Kita Bisa Capai Kebebasan Finansial di Usia 25? Cari Jawabannya di Sini!

    Usia 25 tahun merupakan masa di mana sebagian besar orang sudah memiliki pekerjaan. Makanya, tak heran jika mereka sudah mencari cara untuk menggapai kebebasan finansial di masa depan. Salah satunya, adalah dengan menabung maupun investasi.

    Namun, standar kekayaan finansial di usia 25 tahun tentu berbeda antara satu dan lainnya. Begitu pun soal jumlah harta ideal di usia tersebut.

    Hal ini menjadi perdebatan sengit, sampai-sampai warganet pun saling melempar opini tentang “harta ideal di usia 25 tahun” di jagat maya.

    Ya, betul. Beberapa waktu belakangan, “usia 25” bertengger di jajaran trending topic Twitter. Viralnya “usia 25” berakar dari sebuah cuitan yang bertuliskan ”Usia 25 tahun idealnya punya apa? Tabungan Rp100 juta. Cicilan rumah sisa 20% lagi beres. Punya kendaraan pribadi. Gaji minimal Rp8 juta.”

    Beberapa orang menganggap, isi konten tersebut bukan sesuatu yang bisa dijadikan standar finansial semua orang. Sebab nyatanya, tidak semua orang bisa merasakan kebebasan finansial di usia tersebut.

    Sehingga, ada baiknya Sobat Cuan tidak menganggap unggahan tersebut sebagai hinaan. Jadikan konten tersebut sebagai motivasi bagi kamu agar bisa meraih kebebasan finansial di usia dini.

    Nah, untungnya, artikel ini akan membahas tips bagi kamu untuk mencapai kebebasan finansial di usia yang masih sangat muda. Yuk, simak apa saja hal-hal yang bisa kamu lakukan!

    Baca juga: Pilih Menabung atau Investasi?

    Cara Mencapai Kebebasan Finansial di Usia 25 Tahun

    1. Miliki Pengetahuan tentang Keuangan Kamu

    Saat masih duduk di bangku sekolah, sebagian besar dari kita mungkin tidak mendapatkan pendidikan tentang keuangan pribadi. Di sisi lain, sebagian besar orang tua juga tidak banyak memberikan poin-poin penting dalam pengelolaan keuangan.

    Tapi, tidak ada kata terlambat, Sobat Cuan! Untuk memulainya, kamu bisa belajar dari beberapa platform dunia maya seperti, Coursera, I Will Teach You To Be Rich, Wise Bread, Mr. Money Mustache, Consumerism Commentary, dan lain-lain.

    Di sana, kamu akan mendapat banyak pemikiran dan sudut pandang tentang ekonomi serta prinsip-prinsip dasar dalam mengelola keuangan pribadi. Tujuannya, tentu agar kamu bisa meraih kebebasan finansial di usia 25 tahun. Bahkan, lebih muda dari itu!

    2. Biasakan Menabung Sejak Dini

    Hal penting yang harus dilakukan untuk meraih kebebasan finansial di usia 25 tahun adalah menabung. Tujuannya, tentu saja untuk menghabiskan lebih sedikit uang setiap hari. Namun, tidak sampai menyiksa diri tentunya.

    Cara berhemat dan menabung paling mudah bisa dimulai dari mengatur anggaran serta mematok standar finansial untuk masa depan. Mulai dari berbelanja dengan kupon voucher, cashback, atau saat ada promo belanja heboh.

    Setelah mulai membuat anggaran, kamu akan mengetahui pengeluaran apa saja yang bisa diganti oleh kegiatan lain atau bahkan dihapus. Misalnya, pengurangan anggaran makan di luar atau unsubscribe keanggotaan gym ketika jarang digunakan.

    Saat sedang berhemat, kamu memiliki kesempatan untuk menabung lebih banyak dan membangun perilaku bertanggung jawab atas keuangan pribadi.

    3. Dana Darurat itu Penting, Lho!

    Dana darurat adalah sekumpulan uang yang kamu alokasikan untuk pengeluaran yang tidak direncanakan.

    Ketika terjadi hal yang tidak diharapkan, pos dana darurat ini akan bertindak sebagai asuransi untuk kehidupan kamu, Sobat Cuan. Misalnya, kecelakaan medis, kehilangan pekerjaan, biaya perbaikan kendaraan sehingga kamu tidak perlu berutang saat hal-hal tersebut terjadi.

    Kemampuan menabung tentu saja dipengaruhi oleh besaran gaji, banyaknya utang dan jumlah penghasilan alternatif. Namun, goals dana darurat yang akan dicapai adalah sebesar tiga hingga enam bulan dari pengeluaran bulanan.

    Kemudian, hal yang harus diingat, yaitu dana darurat sifatnya mendesak. Sebaiknya dana ini ditempatkan di instrumen keuangan liquid yang bersifat aman, seperti rekening tabungan kedua yang tidak bisa diganggu gugat.

    4. Lunasi Utang Kamu Segera

    Mau mencapai kebebasan finansial di usia 25 tahun? Lunasi utang adalah cara jitu nan pamungkas!

    Ketika kamu sudah melunasi utang yang ada, akan ada banyak kesempatan-kesempatan bagus yang terbuka. Misalnya menyicil rumah, membeli mobil, bahkan menabung untuk umroh. Apabila belum, ada baiknya kamu mulai mencatat semua utang beserta jumlahnya dan mulai membayar menggunakan metode pembayaran utang.

    Ada beberapa metode dalam pelunasan utang, misalnya Debt Snowball dan pembayaran ekstra.

    Debt snowball adalah metode untuk membayarkan utang dari yang nominalnya paling kecil hingga ke yang paling besar. Pembayaran ekstra ini berlaku untuk utang yang nominalnya terendah. Maksud dari pembayaran ekstra ini adalah kamu bisa membayar angsuran utang lebih dari angsuran minimum yang ditetapkan. Misalnya, pembayaran kartu kredit.

    5. Investasi agar Lebih Cuan di Pluang

    Seperti halnya menabung untuk masa pensiun, investasi memiliki kemampuan untuk menghasilkan bunga majemuk. Yakni, bunga yang akan membantu uangmu tumbuh cepat setiap waktunya. Nah, artinya, semakin cepat kamu memulai investasi, maka semakin cuan pula hasilnya.

    Selain dimulai sekarang, keberhasilan investasi juga dipengaruhi oleh diversifikasi portofolio. Sebab, dengan diversifikasi aset, artinya kamu menyebarkan risiko investasimu di beragam kelas aset.

    Nah, aplikasi investasi yang cocok bagimu untuk melakukan diversifikasi aset adalah Pluang! Di sini, kamu bisa berinvestasi emas digital, S&P 500, Ethereum dan Bitcoin hanya dalam satu aplikasi. Apalagi, berinvestasi di Pluang tidak dikenakan biaya admin, lho!

    Yuk, berinvestasi di Pluang demi mencapai kebebasan finansial sebelum usia 25 tahun!

    Baca juga: Jangan Boros dengan Dana Daruratmu, Ini 5 Strategi Aman Hadapi Krisis

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Artofmanliness, Kompas



    Sumber : pluang.com

  • Gak Bisa Baca Candlesticks? Simak Cara Bacanya Bagi Pemula di Sini!

    Sobat Cuan yang lagi doyan investasi tentu ingin investasinya cuan, dong? Makanya, kamu perlu memahami sedikit saja mengenai analisis teknikal. Hanya saja, kamu mungkin pusing melihatnya lantaran isinya hanya grafik-grafik yang bergerak naik dan turun.

    Nah, Sobat Cuan mungkin mengerti bahwa bagian yang naik-turun tersebut dinamakan candlesticks, karena memang bentuknya seperti lilin. Namun, candlesticks tidak hanya dipahami oleh mereka yang sudah jago investasi saja, lho! Investor pemula seperti kamu pun bisa memahami cara membaca candlesticks secara mudah.

    Untuk itu, yuk simak baik-baik artikel ini hingga habis!

    Baca juga: Lagi Coba Main Saham? Ini 7 Indikator untuk Pahami Analisis Teknikal!

    Mau Tahu Cara Membaca Candlesticks? Kenalan Dulu Dengan Candlesticks

    Candlesticks adalah sebuah gambar yang menunjukkan rentang pergerakan harga sebuah aset dalam satu rentang waktu tertentu. Bisa dalam bentuk menit, jam, bahkan per hari.

    Karena berbentuk rentangan, makanya candlesticks juga disebut sebagai representasi dari emosi investor dan trader pada waktu tersebut.

    Rangkaian candlesticks dapat membentuk sebuah pola harga. Di mana, pola tersebut digunakan trader dan investor untuk membuat keputusan membeli atau menjual aset yang mereka genggam. Selain itu, pola tersebut juga bisa membantu mereka menaksir pergerakan harga sebuah aset dalam jangka pendek.

    Candlesticks lahir di Jepang, tepatnya 100 tahun sebelum negara-negara barat memperkenalkan grafik dan point-and-figure chart.

    Inspirasi candlestick diyakini berasal dari seorang pria Jepang bernama Homma. Kala itu, ia menemukan bahwa harga beras saat itu tak hanya ditentukan oleh permintaan dan penawaran, namun juga emosi para pedagang beras.

    Komponen Candlesticks

    Nah, setelah mengenal maksud dan fungsi dari alat teknikal satu ini, kini saatnya kita memulai langkah awal cara membaca candlesticks.

    Satu candlestick menunjukkan harga pembukaan, tertinggi, terendah, dan penutupan. Selain itu, candlestick juga memiliki “batang”, yang merupakan bagian terbesar dari gambar tersebut.

    Sobat Cuan bisa memeriksa anatomi candlestick melalui gambar di bawah ini:

    Cara membaca candlesticks
    Sumber: Investopedia

    Nah, Sobat Cuan perhatikan baik-baik gambar di atas. Terdapat batang candlestick yang berisi (berwarna hitam) dan tidak, bukan?

    Ketika batang candlesticks memiliki isi, artinya harga penutupan lebih rendah dibanding harga pembukaan. Begitu pun sebaliknya. Batang candlesticks yang “kopong” menunjukkan harga penutupan lebih tinggi dibanding harga pembukaan.

    Namun, batang candlesticks tak selalu berwarna hitam dan putih ya, Sobat Cuan.

    Dalam beberapa platform trading, candlesticks yang berwarna hitam bahkan bisa berwarna merah untuk menunjukkan bahwa harga aset tersebut tengah turun. Atau, bergerak menuju “zona merah”. Sementara itu, candlesticks yang kosong bisa berwarna hijau.

    Baca juga: Demi Bisa Menabung, Simak Cara Hidup Hemat dan Sehat dalam 7 Langkah

    Cara Membaca Candlesticks: Memahami Pola Dasar Candlesticks

    Pergerakan candlesticks yang naik turun mewakili pergerakan harganya. Memang. pergerakan harga ini secara kasat mata terbilang acak. Namun, rentetan candlesticks ini bisa membentuk suatu pola harga yang bisa digunakan investor dan trader untuk melakukan analisis.

    Nah, pola harga tersebut kadang dibagi dua. Yakni, pola bearish dan bullish.

    Penjelasan lebih lanjut mengenai keduanya bisa kamu temukan di artikel ini. Namun intinya, pola bullish mengindikasikan bahwa pola harga cenderung terlihat menanjak. Sementara itu, pola bearish adalah sebaliknya.

    Namun, banyak sekali lho, variasi dari pola bearish dan bullish yang perlu kamu ketahui. Apa saja pola tersebut?

    Cara Membaca Candlesticks Untuk Pola Bullish

    1. Bullish Engulfing Pattern

    Cara Membaca Candlesticks: Bullish Engulfing Pattern
    Sumber: Investopedia

    Pola ini terjadi ketika aksi beli yang dilakukan trader akan mengungguli mereka yang melakukan aksi jual. Sehingga, pola harga yang melemah lambat laun berubah menjadi menguat.

    Hal ini biasanya ditandai dengan mengecilnya ukuran batang yang berisi​ seiring waktu (perbedaan antara harga pembukaan dan penutupan), sebelum batang yang kosong akhirnya “menelan” (engulfing) batang berisi tersebut.

    2. Bullish Harami

    Bullish Harami
    Sumber: Investopedia

    Bullish Harami adalah kondisi di mana pola harga sebuah aset yang menurun mungkin bisa berbalik arah. Dalam hal ini, batang candlestick yang kopong akan muncul dengan ukuran lebih kecil dibanding batang berisi sehari sebelumnya.

    Kondisi ini memberi petunjuk pada analis bahwa tren harga bearish mungkin sedang berhenti sementara. Jika harga kembali naik lagi keesokan harinya, maka ada kemungkinan trennya bisa kembali bullish.

    3. Bullish Harami Cross

    Bullish Harami Cross
    Sumber: Investopedia

    Bullish harami cross terjadi saat harga mengalami pola yang menurun. Di mana, candlestick yang paling akhir diikuti oleh doji. Doji merupakan kondisi di mana harga penutupan dan pembukaan berada di posisi yang sama. Implikasinya serupa dengan bullish harami.

    4. Bullish Rising Three

    Bullish Rising Three
    Sumber: Investopedia

    Pola ini dimulai dengan “long white day” di mana harga sebuah aset meningkat kencang. Namun, harganya kemudian menurun di sesi perdagangan kedua, ketiga, dan keempat. Meski menurun, namun rentang harga di sesi kedua, ketiga dan keempat masih sesuai dengan rentang harga yang terjadi saat sesi pertama.

    Biasanya, penurunan harga selama tiga hari berturut-turut tersebut akan mengasilkan “long white day” yang baru.

    Cara Membaca Candlesticks Untuk Pola Bearish

    1. Bearish Engulfing Pattern

    Cara Membaca Candlesticks: Bearish Engulfing Pattern
    Sumber: Investopedia

    Pola ini merupakan kebalikan dari bullish engulfing pattern. Di mana, aksi jual akan mengungguli aksi beli. Pola ini mengindikasikan bahwa harga bisa jadi akan terus melandai dalam beberapa saat ke depan.

    2. Bearish Evening Star

    Bearish Evening Star
    Sumber: Investopedia

    Ini adalah pola yang diawali setelah harga yang tinggi bak bintang. Hal ini ditandai dengan harga pembukaan yang sedikit lebih rendah dibanding batang candlestick sehari sebelumnya yang berukuran mini.

    Pola ini menujukkan bahwa aksi beli terbilang mangkrak, sehingga pasar dikendalikan oleh mereka yang melakukan aksi jual.

    3. Bearish Harami

    Bearish Harami
    Sumber: Investopedia

    Bearish Harami adalah kebalikan dari Bullish Harami. Di mana, kondisi yang awalnya terbilang bullish bisa-bisa berbalik arah begitu saja.

    Hal ini menunjukkan kegamangan yang dialami oleh trader yang biasa melakukan aksi beli. Meski memang investor atau trader lain tak perlu bereaksi terhadap indikator ini, namun mereka tetap harus memantau perkembangan selanjutnya.

    4. Bearish Falling Three

    Bullish Falling Three
    Sumber: Investopedia

    Pola ini dimulai dengan penurunan harga yang kuat, dan diikuti oleh tiga candlesticks yang menunjukkan indikasi penguatan. Namun, setelahnya, candlestick kembali menunjukkan penurunan yang signifikan

    Hal ini membuktikan bahwa aksi jual sudah menguasai pasar sehingga harga bisa jadi kembali bergerak turun.

    Jadi bagaimana, Sobat Cuan? Sudah siap untuk mempraktikkan analisis teknikal ini? Yuk, mulai dengan membaca analisis Pluang tentang aset kripto di artikel ini dan ini.

    Baca juga: Katanya Harga Bitcoin Punya Siklus 4 Tahunan. Apakah Itu?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Investopedia



    Sumber : pluang.com

  • Sobat Cuan Mau Nyemplung ke Reksadana? Kenali Risikonya Dulu, Yuk!

    Investasi reksadana nampaknya sedang terlihat naik daun selama pagebluk COVID-19. Hal ini dibuktikan oleh data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang menunjukkan bahwa investor reksadana pada akhir 2020 tercatat 3,16 juta, atau melesat 78,3% dibanding 1,77 juta orang di 2019.

    Mudahnya akses investasi dan juga minimnya tingkat risiko menjadi alasan investasi reksadana digemari belakangan ini. Selain itu, kinerja reksadana tahun lalu juga cukup moncer, seperti yang bisa Sobat Cuan baca di artikel ini.

    Hanya saja, minim risiko bukan berarti bebas risiko, Sobat Cuan!

    Ibarat dua sisi mata uang, investasi reksadana pasti memiliki risiko yang melekat di balik keuntungan yang ditawarkan. Makanya, sebagai investor, kita perlu mengelola risiko tersebut dengan apik.

    Memang, risiko investasi reksadana paling jelas dapat terlihat di instrumen aset dasarnya (underlying asset). Misalnya, jungkat-jungkit kinerja saham tentu akan mempengaruhi reksadana saham. Sementara itu, kinerja pasar uang tentu juga berdampak ke kinerja reksadana pasar uang.

    Namun, terdapat pula risiko umum lainnya yang timbul dalam reksadana. Nah, bagi Sobat Cuan yang baru mau nyemplung ke instrumen investasi reksadana, berikut beberapa risiko yang harus dipelajari ya.

    Baca juga: Kaum Milenial, Berapa Banyak Investasi yang Mesti Kamu Punya?

    Berbagai Macam Risiko Investasi Reksadana

    1. Harga Aset Berubah, Nilai Investasi Pun Berubah

    Sobat cuan yang akan membeli produk reksadana pastinya harus rajin memantau nilai aktiva bersih (NAB)/UP. Sebab, nilai ini merupakan cerminan dari harga reksadana yang kamu miliki.

    Kamu harus paham bahwa harga reksadana bisa berubah-ubah seiring dengan nilai pasar yang berlaku saat itu.

    Sebagai contoh, anggap saja kamu sudah membeli UP reksadana saham. Nah, jika pasar saham mengalami sentimen negatif dan mengakibatkan anjloknya saham yang dikoleksi oleh MI, maka hal itu juga akan berpengaruh terhadap nilai investasi reksadana yang kamu milki.

    Begitu pula sebaliknya, jika ada sentimen positif yang dan mendongkrak harga saham, maka reksadana yang kamu miliki juga akan terdongkrak. Itulah alasan mengapa Sobat Cuan harus mengenali profil risiko diri sendiri sebelum memilih reksadana.

    Nah, apakah Sobat Cuan penasaran mengenai seluk beluk profil risiko? Yuk, meluncur ke artikel berikut!

    2. Pencairannya Makan Waktu

    Saat akan menjual UP reksa dana, Sobat Cuan harus menunggu maksimal 7 hari kerja agar dana pencairannya masuk ke rekening. Hal ini biasanya dikenal dengan istilah T+7, yang disandarkan pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang reksa dana berbentuk kontrak investaso kolektif (KIK).

    Dalam proses pencairannya, MI sebagai pengelola dana memiliki batasan waktu tersebut terhitung sejak investor melakukan instruksi penjualan reksadananya. Prosesnya bisa juga lebih cepat tergantung dari penyediaan dana yang dilakukan oleh MI.

    Bagi sebagian orang, hal ini bukanlah isu utama. Namun, bagi sebagian lainnya, masalah likuiditas ini dianggap sebagai risiko investasi reksadana. Menurut kamu bagaimana, Sobat Cuan?

    3. Risiko Gagal Bayar

    Risiko investasi reksadana ini muncul ketika Manajer Investasi tidak bisa memenuhi kewajibannya untuk membayarkan nilai investasi masing-masing investor. Hal ini biasanya terjadi pada produk reksadana yang memiliki basis investasi berupa surat utang perusahaan.

    Jadi, ketika obligor mengalami masalah keuangan dan berujung pada kesulitan pengembalian nilai pokok beserta kupon bunganya, maka hal itu akan berdampak ke kinerja reksadana yang dimliki.

    Oleh karena itu, biasanya ada laporan dari perusahaan pemeringkatan efek yang memberikan analisisnya terkait surat utang korporasi. Tujuannya, agar investor bisa memahami bagaimana kondisi keuangan dan kemampuan bayar obligor tersebut.

    Baca juga: Hai Sobat Cuan, Begini Lho Cara Maksimalkan Cuan di Reksadana Pendapatan Tetap

    4. Risiko Ekonomi dan Politik

    Kondisi ekonomi dan politik di dalam ataupun luar negeri juga memengaruhi imbal hasil produk reksadana. Begitu pun dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

    Sebagai contoh, wacana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang bergaung beberapa waktu belakangan tentu akan memukul industri manufaktur dan barang-barang konsumsi. Sehingga, mungkin nilai sahamnya akan ambrol di masa depan. Hal itu mungkin saja akan berdampak ke nilai kelolaan reksadana yang kamu miliki.

    Bagaimana Cara Mitigasi Risiko Investasi Reksadana?

    Layaknya produk investasi lainnya, tidak ada risiko yang tidak bisa dimitigasi, Sobat Cuan. Maka dari itu, yuk perhatikan kiat-kiat meminimalisasi dampak dari risiko investasi reksadana di bawah ini:

    1. Diversifikasi. Cara ini terbilang metode yang efektif dalam menyebar risiko berinvestasi reksadana. Sehingga, jika ada salah satu produk yang mengalami penurunan nilai, maka masih ada produk lain yang “selamat”. Apa itu diversifikasi? Jawabannya bisa kamu temukan di artikel ini.
    2. Underlying asset beragam. Hal ini juga dimaksudkan untuk melindungi kamu dari eksposur risiko yang dihasilkan oleh satu aset. Misalnya, jika kamu ingin berinvestasi reksadana saham, pastikan sang perusahaan Manajemen Aset menempatkanya di saham lintas sektor.
    3. Hindari membenamkan seluruh dana reksadana bersifat tematik. Karena, jenis reksadana ini biasanya memang memiliki imbal hasil yang menggiurkan, namun sifatnya hanya “musiman”.
    4. Berinvestasi dengan dana pribadi. Betul, jangan pakai dana orang lain ya, Sobat Cuan!

    Nah, Sobat Cuan sudah siap berinvestasi reksadana? Tetap ingat untuk menyesuaikan aset investasimu dengan profil risikomu, ya!

    Baca juga: Apa Itu Reksadana?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

    Sumber: Bareksa



    Sumber : pluang.com

  • Bitcoin Lagi Bearish? Simak Cara Mengenali Sinyalnya dan Bertahan Agar Cuan!

    Nasib Bitcoin terbilang mengenaskan setelah sempat tembus rekor pada pertengahan April lalu. Banyak pihak yang menyebut Bitcoin dalam situasi bearish setelah pelemahan yang berkepanjangan ini. Lalu bagaimana kita bisa mengenali sinyal Bitcoin bearish?

    Saat artikel ini ditulis, Bitcoin diperdagangkan di bawah US$40.000 dan secara grafik harganya terus melemah sejak 10 Mei 2021. Padahal pada pertengahan April lalu, harga Bitcoin menembus level tertinggi sepanjang masa di angka US$63.000.

    Dalam kondisi seperti ini, mungkin Sobat Cuan bertanya-tanya. Apakah mungkin kamu masih bisa bertahan dan rapopo di kondisi seperti ini?

    Lalu bagaimana cara mengenali sinyal Bitcoin bearish agar kita bisa memasang posisi, dan menanggulangi pelemahannya? Berikut ini adalah beberapa cara mengenali sinyal Bitcoin bearish.

    Baca juga: Aturan Pajak Cryptocurrency Bisa Bikin BTC & ETH Makin Anjlok? Simak di Sini!

    Mengenali Sinyal Bearish Bitcoin

    1. Menipisnya Volume Perdagangan Bitcoin

    Yang pertama, kamu bisa melihat tren dari volume perdagangan Bitcoin versus dengan pergerakan harganya.

    Jika memang volume perdagangan Bitcoin semakin menyimpang dari pergerakan harga Bitcoin, mungkin ada baiknya kamu mencurigai fenomena tersebut.

    Contohnya bisa kita lihat di dalam grafik harga Bitcoin mingguan yang disusun Coindesk sejak Juli 2020 hingga awal Maret 2021. Grafik bagian atas mencerminkan pergerakan harga, sementara volume perdagangan terletak di bagian bawahnya.

    Sumber: Coindesk

    Pada grafik di atas, kita dapat melihat bahwa volume perdagangan telah menurun setelah harga Bitcoin memuncak di Januari. Namun, di sisi lain, harga tren Bitcoin malah menanjak terus, menciptakan gap yang lebar dengan tren volume perdagangannya.

    Perbedaan antara volume dan harga ini dikenal sebagai divergensi volume dan biasanya menandakan bahwa aliran dana baru yang memasuki pasar sudah ‘mengering’ dan momentum beli berkurang.

    Divergensi volume terkadang menyiratkan bahwa situasi bullish beralih ke posisi menahan kepemilikan. Investor menunggu lebih banyak kepastian di pasar sebelum membeli lebih banyak Bitcoin. Dalam hal ini, harga cenderung bergerak datar dengan volatilitas turun.

    Baca juga: Tenang, Prediksi Harga Bitcoin Jangka Panjang Tembus Rp3,62 Miliar di 2025 Lho!

    2. Divergensi RSI jadi Sinyal Bitcoin Bearish

    Volume bukanlah satu-satunya indikator yang menunjukkan perbedaan yang kuat pada grafik perdagangan bitcoin saat ini. Ada juga perubahan yang terlihat pada Relative Strength Index (RSI) mingguan.

    RSI adalah indikator utama yang menunjukkan kapan aset overbought (jenuh beli) dengan kemungkinan melemah dan oversold (jenuh jual) dengan kemungkinan naik. Adapun penjelasan lebih lengkap mengenai RSI bisa kamu baca di artikel ini.

    Lantas, kapan indikator RSI bisa “meramal” situasi bearish? Nah, jawabannya bisa kamu temukan dengan membandingkan tren pergerakan RSI dan tren harga Bitcoin seperti di bawah ini.

    Sumber: Coindesk

    Sebagai informasi, rentang indikator RSI terdiri dari 0 hingga 100. Umumnya, sebuah harga aset akan memasuki overbought (jenuh beli) jika menembus angka 70. Sementara itu, sebuah harga aset akan menyentuh teritori oversold (jenuh jual) jika berada di bawah angka 30.

    Kemudian, harga sebuah aset biasanya akan crash jika memasuki teritori overbought, dan begitu pun sebaliknya. Grafik di atas menunjukkan bahwa RSI berada di atas 70, artinya harga Bitcoin sudah berada di wilayah overbought.

    Kemudian, Sobat Cuan juga perlu membandingkannya dengan tren harganya. Jika memang trennya satu sama lain kian menjauh, mungkin kamu perlu waspada. Seperti yang terlihat di grafik di atas.

    3. Gap CME Bitcoin

    Chicago Merchantile Exchange (CME) adalah lembaga finansial yang berfokus pada produk derivatif atau berjangka. Nah, salah satu produk andalan mereka saat ini adalah CME Bitcoin yang mengukur kinerja produk berjangka aset kripto terbesar ini.

    Perlu diketahui bahwa harga pada grafik berjangka CME Bitcoin ditetapkan selama jam tutup, yakni pukul 16.00 waktu setempat saat hari kerja. Jadi, misalkan, jika harga Bitcoin adalah US$50.000 saat CME ditutup, di situlah harga akan tetap sampai bursa dibuka kembali.

    Hanya saja, pasar kripto buka 24 jam seminggu. Sehingga, harga CME akan “tidur” dan tidak mengikuti pergerakan harga sesungguhnya saat bursa CME tutup. CME akan memperbarui harganya kembali saat bursa kembali beroperasi.

    Sebagai contoh, jika pasar CME kembali buka Senin pagi, maka harga pembukaannya akan menghasilkan selisih dengan harga penutupan pada Jumat. Nah, inilah yang disebut dengan celah (gap) pada harga Bitcoin CME.

    Mengapa gap ini cukup penting? Gap CME, tanpa alasan yang terbukti, bertindak seperti magnet untuk membentuk pola harga baru.

    Trader biasanya memiliki kecenderungan untuk mengembalikan harga Bitcoin CME ke posisi sebenarnya. Namun, jika gap tersebut belum terisi, maka kamu perlu wanti-wanti soal terjadinya bearish di pasar Bitcoin.

    Baca juga: Bingung Pilih Trading atau HODL? Simak Tips Investasi Cryptocurrency Ini!

    Tips Mitigasi Risiko saat Bitcoin Bearish

    Jika Sobat Cuan memutuskan untuk bertahan dengan Bitcoin saat situasi bearish, ada dua hal simpel yang perlu kamu lakukan:

    1. Perbanyak Belajar dan Gali Informasi

    Di saat cuaca Bitcoin sedang mendung, kamu perlu menjelajahi tren, meneliti indikator utama, dan mencari saran dari para profesional. Selain itu, kamu juga bisa menelaah berbagai informasi dan analisis di internet untuk membuktikan apakah tebakan kamu soal bearish adalah benar.

    Persiapan menyeluruh adalah cara terbaik untuk mengatasi volatilitas saat Bitcoin bearish. Tujuannya, apalagi kalau bukan mendinginkan kepala kamu saat orang lain panik dan mengambil keputusan terburu-buru saat harga Bitcoin mulai bearish.

    2. Diversifikasi

    Meskipun sebagian besar investor menganggap cryptocurrency sebagai tambahan yang bagus untuk portofolio aset tradisional seperti saham dan obligasi, banyak yang melupakan perlunya mendiversifikasi aset digital itu sendiri.

    Faktanya, ada beberapa varian investasi kripto yang sangat bervariasi dalam hal risiko dan prospek.

    Untuk token, masuk akal untuk mendapatkan satu set token yang dapat diandalkan seperti Bitcoin dan Ethereum. Kemudian, ada beberapa altcoin dengan potensi pertumbuhan yang kuat dengan aset yang didasarkan kelas aset tradisional, misalnya real estat.

    Produk investasi tersebut kini lebih mudah diakses oleh investor ritel sembari mempertahankan potensi pertumbuhan yang stabil. Dimana ada juga penawaran token perdana (ICO), salah satu investasi kripto yang paling berisiko.

    Untuk ICO, pastikan untuk melakukan riset sebanyak mungkin dan hanya berinvestasi dalam token perusahaan dengan reputasi yang kuat. Pastikan model bisnis mereka jelas, yang menunjukkan dengan tepat bagaimana proyek tersebut akan menguntungkan investor.

    Kesimpulan

    Bersiaplah untuk volatilitas pasar. Bertahan dalam Bitcoin bearish membutuhkan kewaspadaan tingkat tinggi. Jadi, hindari kepanikan dan selalu bersiaga.

    Dapat dimaklumi, akan sulit untuk duduk diam dan menunggu saat pasar bearish sedang terjadi. Tetapi jika Sobat Cuan berhasil menahan diri dari aksi jual yang dipicu oleh kepanikan, kamu dapat melewati periode tersebut dengan tenang.

    Baca juga: Apa Saja Indikator Analisis Teknikal yang Penting di Aset Kripto? Simak di Sini!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Coindesk, Finextra



    Sumber : pluang.com

  • Viral Tampah Harga Rp4 Juta. Mending Beli Tampah Atau Investasi di Aset Berikut?

    Media sosial sedang ramai dengan munculnya tampah yang dijual di situs e-commerce Amerika Serikat seharga US$299. Jika dikalkulasi dalam rupiah, tampah yang sedang viral ini bernilai sekitar Rp4 juta. Ukurannya sih tidak kecil-kecil amat. Tapi, harganya itu lho, ibarat modal investasi!

    Tampah yang diberi nama “Round Bamboo Wall Art” ini sontak langsung mendapat tanggapan yang beragam dari warganet. Apalagi, kalau bukan karena harganya yang bikin melongo. Sebab, di Indonesia saja, tampah bambu biasa tersebut dijual dengan harga di bawah Rp50.000 saja.

    Bagi Sobat Cuan pecinta karya seni (atau mungkin juga berstatus sultan) bisa saja langsung memborong bamboo wall art tersebut. Namun, bagi mereka yang sedang berjuang menuju kemandirian finansial, uang segitu bisa dialokasikan untuk investasi.

    Kenapa investasi? Ingat bahwa investasi mengandung unsur bunga majemuk. Yakni, uang yang kita tempatkan di suatu aset bisa “berkembang biak” dengan menghasilkan uang lainnya. Nah, penjelasan tentang bunga majemuk bisa kamu temukan di artikel ini, ya!

    Tapi, apa saja sih, pilihan investasi dengan modal kecil sebesar Rp4 juta? Dan berapa cuan yang bisa kamu dapat dari masing-masing pilihan aset tersebut?

    Baca juga: 4 Target Finansial para Millennial, Apa Saja?

    Beragam Investasi Modal Kecil Rp4 Juta

    1. Deposito

    Return: 5,3% per tahun (Berdasarkan data Statistik Ekonomi dan Keuangan Bank Indonesia per Maret 2021)

    Investasi modal kecil pertama yang bisa kamu lakukan adalah menempatkan uang di deposito.

    Seperti yang kita tahu, deposito adalah pilihan investasi yang aman dan praktis. Kamu tinggal membuka rekening bank, “tidurkan” danamu, dan tiba-tiba kamu akan mendapatkan cuan begitu saja.

    Hanya saja, deposito mungkin bukanlah selera semua orang. Utamanya, bagi mereka dengan profil risiko yang agresif, mengingat imbal hasilnya cukup mini.

    Apalagi, cuan deposito kamu pun mungkin tak akan terasa jika tingkat inflasi juga melonjak. Jadi, perhatikan baik-baik sebelum menempatkan dana di di deposito ya, Sobat Cuan!

    Baca juga: Kamu Bergaji Rp5 Juta Tapi Pengen Investasi? Bisa Banget Kalau Ikuti Tips Berikut!

    2. Emas

    Return: 12,66% per tahun (rerata per tahun 2016 hingga 2020)

    Emas bisa dibilang adalah salah satu pilihan investasi jitu bagi mereka dengan modal kecil. Selain itu, emas juga menjadi idola bagi mereka yang ingin melindungi kekayaannya dari gerusan inflasi di masa depan.

    Dulu, membeli emas terbilang kurang praktis. Kamu perlu mampir ke toko hanya untuk membeli emas. Namun, kini sudah ada emas digital, di mana kamu bisa mengoleksi logam mulia hanya lewat aplikasi dan bisa dibeli mulai dari Rp10.000 saja.

    Selain itu, kamu juga bisa mencetak emas digitalmu menjadi emas fisik asal kepemilikanmu sudah mencapai 1 gram. Tak hanya itu, harga transaksi jual dan belinya pun terpampang secara real time.

    Lantas di mana kamu bisa mendapatkan emas digital? Di Pluang tentunya! Saat artikel ini ditulis, uang Rp4 juta tersebut bisa kamu konversikan ke dalam 4,55 gram emas di Pluang. Lumayan banget, kan?

    3. Bitcoin atau Ethereum

    Return: Bitcoin: 87,81% per tahun (rerata per tahun sejak 2009), Ethereum: 197,7% per tahun (rerata per tahun sejak 2015)

    Dua koin ini ini ibarat raja di dunia cryptocurrency lantaran sama-sama menduduki nilai kapitalisasi pasar terbesar di kancah aset kripto.

    Memang, kebanyakan orang-orang cenderung untuk trading dua aset kripto ini. Namun, sebenarnya kamu bisa menggunakan keduanya untuk investasi. Nah, apakah kamu tim trading atau investasi aset kripto? Mungkin kamu bisa baca artikel ini sebagai bahan pertimbanganmu.

    Kedua aset kripto ini memang dikenal sebagai instrumen investasi lantaran memiliki sifat fundamental yang cukup klir.

    Di satu sisi, Bitcoin dikenal aset kripto yang bisa melindungi nilai kekayaan lantaran punya suplai terbatas 21 juta keping. Di sisi lain, Ethereum dikenal dengan kegunaan dan manfaatnya di kancah keuangan desentralisasi (Decentralized Finance/DeFi).

    Bingung mau pilih Bitcoin atau Ethereum? Kamu bisa simak artikel ini ya, Sobat Cuan! Tapi, yang pasti, kamu bisa dapatkan Bitcoin dan Ethereum di Pluang! Ketika artikel ini ditulis, uang Rp4 juta bisa kamu “sulap” menjadi 0,006 keping BTC dan 0,1 ETH di Pluang.

    Kesimpulan

    Nah, jadi yang mana nih, jagoanmu, Sobat Cuan? Yang penting, pastikan pilihan aset investasimu sesuai dengan tujuan finansialmu dan profil risikomu, ya!

    Baca juga: Jangan Boros dengan Dana Daruratmu, Ini 5 Strategi Aman Hadapi Krisis

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Kompas, Cermati





    Sumber : pluang.com

  • Sama-Sama Banjir Cuan, Apa Beda Yield Farming dan Crypto Staking?

    Ibarat banyak jalan menuju roma, banyak juga jalan bagi kamu untuk mendulang cuan dari aset kripto. Salah satunya adalah dengan mengikuti tren terbaru dengan “menanam” aset kripto di dompet digital dan biarkan ia berkembang dan berbuah dengan sendirinya.

    Banyak yang bilang, kegiatan ini disebut crypto staking. Namun, ada juga yang bilang bahwa ini adalah yield farming. Lantas, bagaimana jika kita adukan yield farming vs staking?

    Baca juga: Bunga Nabung di Aset Kripto Cuan Banget Dibanding Bank. Darimana Asal Bunganya?

    Konsep Umum Yield Farming vs Staking

    Untuk menyelami perbedaan keduanya, tentu kita harus memahami apa arti sesungguhnya dari yield farming dan crypto staking.

    Penjelasan lengkap mengenai crypto staking bisa kamu baca di artikel ini. Namun secara garis besar, crypto staking adalah kegiatan di mana pengguna aset kripto dapat mendulang cuan hanya dengan memvalidasi transaksi atau segala aktivitas yang terjadi di atas sistem blockchain.

    Crypto staking diturunkan dari sistem algoritma konsensus Proof-of-Stake yang berlaku di dalam sistem Ethereum 2.0.

    Di dalam algoritma Proof-of-Stake, seseorang dapat menambang atau memvalidasi transaksi aset kripto di blockchain sesuai dengan jumlah koin yang ia “kunci”. Artinya, semakin banyak koin yang dimiliki, maka mereka punya daya tawar (stake) yang tinggi dalam melakukan hal tersebut. Nah, di situlah sumber cuan yang didapatkan para stakers.

    Saat ini, banyak platform desentralisasi yang menawarkan jasa staking kepada para penggunanya.

    Mereka hanya perlu menyediakan aset kripto untuk staking dengan “menyimpannya” ke dompet digital dalam jangka waktu tertentu. Setelahnya, platform tersebut akan melakukan staking menggunakan tabungan aset kripto dari sang pengguna.

    Nantinya, pengguna akan mendulang cuan dari aktivitas tersebut secara santai tanpa harus berurusan dengan aspek teknis dari staking. Sebab, aspek tersebut akan dikerjakan oleh masing-masing platform desentralisasi.

    Sementara itu, yield farming adalah kegiatan di mana pengguna bisa menabung aset kripto dan meminjamkannya ke pengguna lain untuk mendapatkan imbal hasil dalam bentuk aset kripto.

    Kegiatannya sendiri mirip dengan menabung biasa. Kamu hanya tinggal menyimpan tabunganmu di dompet digital dan kemudian menerima “bunga” atas kegiatan tersebut. Namun, kamu menyimpan aset kripto tersebut di platform DeFi yang berbasis kolam pendanaan (liquidity pool).

    Prosesnya mirip seperti crypto staking, bukan? Di mana pengguna hanya tinggal menempatkan dananya di platform tertentu demi mendapatkan cuan. Maka dari itu, tak heran jika banyak yang menganggap bahwa yield farming adalah bagian dari crypto staking.

    Perbedaan Yield Farming vs Staking

    Namun, kalau Sobat Cuan telaah, ternyata ada banyak perbedaan di antara keduanya, lho, Seperti apa perbedaan tersebut?

    1. Tujuan Kegiatan

    Perbedaan pertama dari yield farming vs crypto staking adalah tujuan kegiatan itu sendiri.

    Crypto staking, seperti yang dibahas di atas, adalah kegiatan di mana pengguna bisa mendapatkan cuan dengan memvalidasi transaksi atau penambangan baru di aset kripto berbasis algoritma konsensus proof-of-stake.

    Sistem proof-of-stake sendiri adalah solusi atas masalah algoritma konsensus proof-of work, yang disinyalir selalu memakan tenaga listrik jumbo. Perihal proof-of-stake dan hubungannya dengan proof-of-work bisa kamu baca di artikel ini.

    Nah, agar sistem proof-of-stake berjalan dengan baik, maka dibutuhkan banyak validator agar algoritme konsensus ini berjalan dengan baik. Selain itu, validator ini juga berguna untuk mencegah transaksi mencurigakan yang terjadi di atas sistem blockchain tersebut.

    Kesimpulannya, tujuan dari crypto staking adalah untuk meningkatkan keamanan sistem jaringan blockchain itu sendiri. Semakin banyak pengguna yang melakukan staking, maka semakin susah pula peretas untuk menyerang jaringan tersebut. Sebab, semakin banyak pihak yang akan memvalidasi transaksi dan aktivitas lainnya di atas blockchain.

    Lantas, bagaimana dengan tujuan yield farming? Tujuan dari yield farming sendiri adalah wadah bagi pemilik aset kripto untuk meminjamkan asetnya terhadap mereka yang butuh pendanaan. Kurang lebih, sifat ini sama dengan institusi jasa keuangan konvensional.

    2. Tingkat Imbal Hasil

    Ini merupakan perbedaan antara yield farming vs staking yang cukup kentara.

    Biasanya, tingkat imbal hasil yield farming akan lebih tinggi dibandingkan crypto stakingIni lantaran yield farming dianggap sebagai kegiatan yang berorientasi bisnis ketimbang crypto staking.

    Secara rata-rata, aktivitas crypto staking biasanya akan menghasilkan tingkat imbal hasil, atau Annual Percentage Yield (APY), antara 5% hingga 15% per tahun. Di sisi lain, imbal hasil dari yield farming bisa mencapai lebih dari 100% di beberapa kasus.

    3. Masa “Mengunci” Aset Kripto

    Dalam hal ini, yield farming boleh jadi lebih fleksibel dibandingkan crypto staking.

    Yield farming tidak mengharuskan penggunanya untuk “mengunci” aset kripto di dalam dompet digitalnya dalam satu rentang waktu tertentu. Pengguna bisa menarik tabungan aset kriptonya kapan saja.

    Sementara itu, crypto staking memberlakukan kebijakan yang lebih ketat. Pengguna rata-rata diharuskan menyimpan aset kriptonya dalam jangka waktu setahun. Selama jangka waktu tersebut, pengguna tak bisa memindahkan atau menjual asetnya.

    Hal ini bisa menjadi buah simalakama ketika pasar kripto sedang amburadul. Sebab, nilai APY yang ia terima bisa jadi tak sesuai dengan penurunan harga di aset kripto.

    Sebagai contoh, seorang pengguna mungkin akan mendapat APY sebesar 5% setahun dengan melakukan crypto staking selama setahun. Namun, di waktu yang sama, terjadi penurunan harga aset kripto sebesar 10%. Artinya, ia harus mendulang rugi sebesar 5% dari nilai tabungan awal.

    Baca juga: Apakah Aman Menabung di Dompet Aset Kripto? Yuk, Simak di Sini!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Shrimpy, Coinmarketcap



    Sumber : pluang.com

  • Kapan Waktu Terbaik Transaksi Ethereum? Yuk Simak di Sini!

    Situasi pasar aset kripto sedang dinaungi awan hitam belakangan ini. Hampir seluruh ‘koin’ masuk dalam zona merah secara harian, salah satunya Ethereum. Kendati demikian, mungkin kamu tetap bisa mendulang cuan asal tahu kapan waktu terbaik transaksi Ethereum.

    Mungkin kamu langsung bertanya: “Lho apakah ada hubungannya waktu transaksi Ethereum dengan cuan yang kita dapat?” Nah, jawabannya ternyata ada, Sobat Cuan!

    Di tahun ini, perusahaan business inteligence khusus blockchain, Flipside Crypto, merilis laporan tentang jam-jam terbaik untuk bertransaksi Ethereum. Data-data itu dihimpun dari perilaku trader dan investor yang dihimpun dari Januari hingga Desember 2020.

    Meskipun laporan ini disusun tahun lalu, namun setidaknya hal ini tetap bisa memberi gambaran bagi Sobat Cuan di tahun ini. Lantas, seperti apa waktu terbaik transaksi Bitcoin menurut Flipside Crypto?

    Baca juga: Bitcoin Lagi Bearish? Simak Cara Mengenali Sinyalnya dan Bertahan Agar Cuan!

    Kapan Waktu Terbaik Transaksi Ethereum?

    Dalam mengintip jam-jam terbaik bertransaksi Ethereum, Flipside Crypto menganalisis perilaku trader dan investor selama 24 jam. Hasilnya, mereka menemukan bahwa trader dan investor sangat bereaksi kuat terhadap naik-turunnya gas fees.

    Adapun penjelasan komplet mengenai gas fees bisa Sobat Cuan baca di artikel berikut. Tapi intinya, gas fees merupakan biaya transaksi di jaringan blockchain Ethereum. Besaran gas fees tergantung antara kesepakatan pengguna dan juga penambang Ethereum. Alias, penentuannya didasarkan atas proses lelang.

    Perihal gas fees adalah suatu isu yang penting di dalam kancah Ethereum. Sebab, jika tarif gas fees terus menanjak, maka Ether (ETH) nantinya akan semakin jarang digunakan di dalam sistem keuangan terdesentralisasi (Decentralized Finance/DeFi), yang merupakan “tempat bermain” ETH sehari-hari.

    Hanya saja, tarif gas fees terus melonjak. Seperti yang Sobat Cuan perhatikan di bawah ini, tarif gas fees terlihat melonjak begitu tajam sepanjang 2020. Untungnya, Ethereum akan menyelesaikan masalah melonjaknya gas fees dengan memberlakukan hard fork London pada Juli serta perlahan bergerak menuju algoritma proof of stake di Ethereum 2.0.

    Transaction Fee Ethereum
    Sumber: Flipside Crypto

    Meski demikian, melonjaknya gas fees ini ternyata memberi petunjuk bagi Flipside Crypto untuk melihat waktu terbaik transaksi Ethereum. Seperti apa hasilnya?

    1. Hindari Transaksi Pukul 21.00 – 01.00 WIB

    Flipside Crypto kemudian memetakan tarif gas fees berdasarkan fluktuasinya. Seperti yang ditunjukkan pada grafik di bawah ini.

    Bagan ETH 2
    Sumber: Flipside Crypto

    Mereka percaya bahwa angka gas fees yang tinggi menandakan bahwa transaksi ETH sedang ramai-ramainya. Mengapa demikian? Sebagai analogi mudahnya, tentu tarif ojek online saat rush hour di Jakarta akan lebih mahal dibanding jam-jam biasa, bukan?

    Nah, dari data di atas, Flipside Crypto menunjukkan bahwa perdagangan antara jam 14.00 hingga 16.00 waktu UTC merupakan masa-masa di mana gas fees sejak melonjak. Artinya, pasar Ethereum sedang tinggi-tingginya. Dengan kata lain, Flipside Crypto tidak menyarankan kamu untuk bertransaksi di jam 21.00 WIB hingga 01.00 WIB.

    2. Bertransaksilah di Jam 04.00 – 06.00 WIB, 08.00 – 10.00 WIB, dan 12.00 – 15.00 WIB.

    Sementara itu, Flipside Crypto malah menyarankan kamu untuk bertransaksi di jam-jam di atas karena pada saat itulah gas fees sedang murah-murahnya.

    Namun setelah itu, apakah Sobat Cuan penasaran ihwal melonjaknya gas fees pada jam-jam di atas?

    Menurut Flipside Crypto, ‘whales’ atau pemilik akun jumbo Ethereum, bertransaksi jauh lebih banyak daripada pemilik dompet yang lebih kecil. Segala aktivitas yang dilakukan para bandar Ethereum ini memang memiliki korelasi positif dengan kenaikan gas fees.

    Kemudian, lembaga ini juga menemukan bahwa whales di kawasan Asia ternyata lebih aktif dibandingkan mereka yang bertransaksi di Amerika Utara.

    Baca juga: Menimbang-nimbang, Kapan Sih Waktu yang Tepat untuk Jual/Beli Emas?

    Apakah Kamu Masih Perlu Menggenggam Ethereum?

    Harga Ethereum memang sedang melemah dan kini diperdagangkan di kisaran US$2.400. Sama seperti koin lainnya, dalam sehari pelemahannya bisa mencapai 30% atau lebih. Namun, Sobat Cuan juga harus tahu, sejak awal tahun (year to date/ytd), Ethereum telah naik lebih dari 200% lho!

    Dalam beberapa minggu lalu, Ethereum telah memimpin kenaikan dari Bitcoin. Aset kripto itu mengungguli Bitcoin secara signifikan sejak awal April. Bahkan, muncul berbagai pandangan bahwa kinerja Ethereum bakal menyalip Bitcoin nantinya.

    Ethereum naik 41% sepanjang April, sedangkan Bitcoin malah turun sekitar 8%. Moncernya kinerja Ethereum ini bikin investment bank ternama JPMorgan memberikan tiga alasan mengapa Ethereum bisa mengungguli Bitcoin di pasar cryptocurrency.

    1. Ethereum Punya Likuiditas yang Lebih Baik

    Menurut laporan JPMorgan, guncangan likuiditas sempat menghantam industri cryptocurrency. Namun, Bitcoin ternyata terpukul lebih keras daripada Ethereum. Guncangan likuiditas ini berasal dari pasar derivatif, yang mengarah ke likuidasi yang cukup besar. Di mana, efeknya lebih besar di produk berjangka Bitcoin dibandingkan Ethereum.

    Dengan latar belakang itu, pemulihan yang lebih dramatis di kedalaman pasar Ethereum cenderung lebih besar. Pemulihan itu lebih baik dibandingkan dengan beberapa bursa sebelum guncangan likuiditas baru-baru ini.

    2. Kurangnya Ketergantungan pada Pasar Derivatif

    Menurut JPMorgan, di pasar dengan perputaran spot yang lebih tinggi secara signifikan, masuk akal bahwa harga Ethereum memiliki ketergantungan yang minim pada leverage produk derivatif dibandingkan dengan Bitcoin.

    3. Basis Permintaan yang Lebih Luas

    Jaringan Ethereum telah lama dicirikan oleh kecepatan transaksi yang lebih tinggi di blockchain publik daripada Bitcoin. JPMorgan menyatakan hal tersebut kemungkinan karena hanya ada sebagian kecil peningkatan aktivitas di DeFi dan platform lainnya.

    Akibatnya, proporsi yang lebih tinggi dari token Ether berperilaku seolah-olah sangat likuid daripada Bitcoin. Bahkan angkanya sebesar 11% dibandingkan 4% oleh beberapa perkiraan selama sebulan terakhir.

    Jadi, setelah membaca penjelasan di atas, tentu bisa disimpulkan bahwa prospek Ethereum ke depan masih akan moncer. Untuk itu, yuk mulai investasi Ethereum di Pluang!

    Baca juga: Aturan Pajak Cryptocurrency Bisa Bikin BTC & ETH Makin Anjlok? Simak di Sini!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: CoinMarketCap



    Sumber : pluang.com

  • Memahami Saham Growth Stocks dan Value Stocks di SP 500. Apakah Itu?

    Bagi investor pasar modal, ada dua pendekatan yang bisa dilakukan saat memutuskan membeli saham. Termasuk investor yang berkecimpung di S&P 500. Biasanya, mereka memutuskan apakah mau memlih growth stocks atau value stocks. Lantas, apa sih perbedaan growth stocks vs value stocks?

    Secara garis besar, growth stocks adalah saham-saham yang masih memiliki potensi bertumbuh. Sementara itu, value stocks adalah saham yang dinilai memiliki harga terlalu rendah dibanding dengan kinerja keuangannya selama ini.

    Lantas, apa pentingnya memahami kedua istilah ini? Tentunya agar cuan kamu di pasar modal makin cuan!

    Seperti nasihat yang pernah diucapkan Sang Oracle of Omaha Warren Buffet, “Price is what you pay, value is what you get”. Maksudnya adalah, Sobat Cuan bisa masuk ke saham perusahaan yang memiliki nilai baik dan kinerja baik ketimbang saham dengan harga murah namun memilliki kinerja keuangan yang juga “murah”.

    Nah, di artikel kali ini, kamu bisa mempelajari lebih lanjut mengenai growth stocks vs value stocks dan melihatnya. Khususnya bagi Sobat Cuan yang lagi tertarik banget investasi di indeks S&P 500. Sebab, terdapat banyak saham-saham berjenis growth stocks dan value stocks di antara 500 perusahaan yang ada di dalamnya.

    Hal ini biasanya terlihat dengan nilai price book value (PBV) atau price earning value (PER) di dalam harga saham.

    Baca juga: Menilik Kembali Strategi Value Investing di Zaman Sekarang

    Mengenal Growth Stocks vs Value Stocks

     

    1. Growth Stocks

    Growth Stocks adalah saham yang memiliki harga pasar yang lebih tinggi dari nilai perusahaan itu sendiri. Biasanya hal itu bisa terjadi lantaran adanya prospek pertumbuhan jangka panjang yang mendukung bisnis perusahaan.

    Pendekatan seperti ini bisa digunakan untuk perusahaan yang memiliki ruang pertumbuhan laba yang masih tinggi, namun belum memiliki riwayat keuangan yang mumpuni. Sobat Cuan bisa melihat, ada beberapa saham yang selama ini dinilai overpriced jika dibandingkan dengan aset perusahaannya.

    Namun sejatinya, harga saham tersebut masih layak dikoleksi secara fundamental. Pasalnya, jika menggunakan asumsi pendapatan perusahaan yang bisa lebih tinggi lagi kedepannya, maka harga saham tersebut masih memiliki potensi untuk naik lebih tinggi lagi.

    Selain itu, karakter growth stocks lainnya adalah perusahaan tersebut mencatatkan rekor pertumbuhan pendapatan yang moncer. Seperti dalam kondisi pagebluk seperti sekarang, pendapatan perusahaan masih mampu bersinar di tengah melambatnya kinerja keuangan perusahaan lainnya.

    Namun memang, banyak investor yang menganggap harga saham dari jenis growth stocks ini cenderung tidak stabil. Adanya sentimen negatif baik dalam hal pemberitaan ataupun laporan pendapatan perusahaan yang tidak sesuai ekspektasi bisa merontokkan harga saham ini.

    Tetapi, kembali lagi. Yang terpenting adalah ruang pertumbuhannya, Sobat Cuan! Selama masih memiliki fundamental yang sangat baik, maka para fund manager bakal tetap mengoleksinya untuk jangka panjang.

    Di dalam indeks S&P 500, saham-saham growth stocks bisa kamu temukan (namun tidak selalu) di saham-saham teknologi raksasa, atau dikenal dengan Giant Tech, seperti Tesla, Amazon hingga Netflix. Ini lantaran prospek masa depan mereka yang cukup moncer ditambah dengan kinerja yang tokcer.

    2. Value Stocks

    Di sisi lain, value stocks adalah saham yang masuk dalam kategori murah. Artinya, nilai asli saham tersebut ternyata jauh lebih rendah dibandingkan nilai aset perusahaannya. Banyak investor yang meraup value stocks karena yakin suatu saat harganya akan “memantul” dan menyamai kinerja aslinya.

    Hanya saja, saham-saham jenis ini kadang punya haters. Ya, saham value stocks biasanya ambruk karena sering diterpa sentimen negatif dari berbagai penjuru. Sehingga, ketika perusahaan berhasil memulihkan keadaan dan kepercayaan investor mulai berbalik maka harga sahamnya bisa melonjak kembali.

    Saham perusahaan yang masuk dalam value stocks biasanya adalah perusahaan yang masuk dalam bisnis siklikal. Di dalam S&P 500, jenis saham ini terdiri dari perusahaan seperti Berkshire Hathaway, Procter & Gamble, dan Johnson & Johnson.

    Nah, di masa-masa seperti ini, investor memang mengincar value stocks karena kinerjanya bisa kembali aduhai selepas diredam pandemi COVID-19. Saham-saham sektor perbankan hingga industri kembali kuat setelah harapan mengenai pembukaan kembali aktivitas ekonomi AS, atau reopening.

    Baca juga: Apa Itu Net Asset Value?

    Growth Stocks vs Value Stocks, Mana yang Lebih Baik?

    Sobat Cuan tak perlu pusing memilah-milah mana yang lebih baik. Sebab, keduanya memiliki potensi pertumbuhan yang baik secara jangka panjang.

    Saham yang masuk kategori growth stocks biasanya tidak akan membagikan dividen dan akan mengalokasikannya untuk mendukung rencana ekspansi perusahaan.

    Namun, karena model bisnisnya masih baru dan investor masih terus mencerna prospek pertumbuhannya, risiko yang bisa muncul juga cukup tinggi sejalan dengan prospek imbal hasil yang diberikan.

    Sementara untuk value stocks tingkat risikonya lebih rendah karena usia perusahaan dan model bisnis yang dijalankan sudah mature. Sehingga, kalau pun kinerjanya tidak mencapai target harga yang diinginkan, saham berkategori value stocks diketahui sering memberikan dividen. Jadi bisa mengkompensasi capaian harga saham yang tidak sesuai target.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Merilledge, Investopedia



    Sumber : pluang.com