Category Archives: Domestik

10 Wisata Kota Tua Indonesia, Indah dan Kaya Sejarah


Jakarta

Banyak kegiatan yang bisa traveler lakukan dalam libur Natal dan tahun baru. Jika ingin berwisata sejarah sempatkanlah ke kota tua ini.

Tentu, kawasan kota tua menyimpan banyak sejarah. Dan, kota tua tak hanya berada di Semarang dan Jakarta, setiap kota tua ini memiliki ciri khas bangunan, serta peninggalan sejarah dan budaya yang berbeda-beda.

Berikut daftar 10 kota tua di Indonesia yang menarik dikunjungi saat liburan Natal dan tahun baru:


Kota Tua di IndonesiaKota Lama Semarang (Foto: Kemenparekraf)

1. Kota Lama Semarang

Salah satu kawasan kota tua di Indonesia identik dengan Kota Lama Semarang. Kota Lama Semarang merupakan kawasan cagar budaya yang banyak menyimpan bangunan peninggalan Hindia Belanda sejak ratusan tahun silam.

Salah satu ikon Kota Lama Semarang yang hampir selalu menjadi incaran wisatawan adalah Gereja Blenduk. Bangunan gereja ini memiliki ciri khas atap berbentuk kubah setengah bola. Konon, gereja ini sudah ada lebih dari 250 tahun dan dibangun oleh bangsa Portugis pada 1753.

Pekerja menyelesaikan proyek rehabilitasi Jembatan Kota Intan di kawasan Kota Tua, Tamansari, Jakarta Barat, Kamis (16/11/2023). Jembatan Kota Intan merupakan jembatan gantung kayu tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun 1628 pada era pemerintah VOC Belanda.Proyek rehabilitasi Jembatan Kota Intan di kawasan Kota Tua (Foto: Ari Saputra/detikcom)

2. Kota Tua Jakarta

Selanjutnya Kota Tua Jakarta, salah satu ikon wisata di Jakarta yang sarat akan nilai sejarah pemerintahan Kolonial. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya bangunan peninggalan bersejarah yang masih terjaga dengan baik, seperti Museum Fatahillah, Museum Bank Indonesia, dan Jembatan Kota Intan.

Banyak aktivitas yang bisa traveler lakukan di kawasan Kota Tua Jakarta, mulai dari berkeliling naik sepeda ontel jadul, memberi makan burung, hingga wisata kuliner.

Warga berfoto di depan karya seni instalasi berbentuk singa karya seniman Timbul Raharjo yang dipamerkan di kawasan Titik Nol Kilometer, Yogyakarta, Selasa (1/9/2020). Karya seni instalasi sepanjang 8,05 meter dan tinggi 2,35 meter tersebut terbuat dari bahan alumunium menarik wisatawan serta warga yang melintas kawasan titik nol kilometer sebagai tempat berswafoto. detik.com/Pius ErlanggaTitik Nol Kilometer, Yogyakarta (Foto: Pius Erlangga/detikcom)

3. Kota tua Yogyakarta

Yogyakarta juga punya kawasan kota tua, tepatnya di sekitar Benteng Vredeburg. Di kawasan ini terdapat Kantor Pos Besar, Bank Indonesia, serta Gedung BNI yang masih mempertahankan bentuk aslinya meski sudah dibangun sejak zaman pemerintahan Belanda.

Traveler bisa jalan-jalan ke Keraton Yogyakarta yang kental dengan budaya Jawa, lalu mampir ke Masjid Gede Kauman, salah satu masjid tertua di Yogyakarta.

Kota Tua di IndonesiaKawasan kota tua di Bandung, Braga (Foto: Kemenparekraf)

4. Jalan Braga, Bandung

Menjadi jalan utama pada masa pemerintahan Belanda, membuat Jalan Braga termasuk salah satu kawasan Kota Tua di Bandung yang terkenal dengan deretan latar bangunan klasik yang indah.

Namun, kalau ingin yang lebih “kental” dengan suasana pemerintahan Belanda, traveler bisa mampir ke Jalan Asia-Afrika. Kawasan yang menjadi titik nol kilometer di Kota Bandung ini dibangun pada masa pemerintahan Daendels.

Wisata Kota Tua SurabayaKota Tua Surabaya Foto: Esti Widiyana/detikJatim)

5. Kota Tua Surabaya

Kawasan Kota Tua Surabaya meliputi Jalan Karet dan Jembatan Merah, yang sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya pada 10 November 2018.

Pada masa lampau, kawasan Kota Tua Surabaya berfungsi sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan. Tak heran jika terdapat banyak bangunan kuno yang sarat dengan nilai seni dan sejarah.

Foto udara kawasan desa wisata Nagari Pariangan, Tanah Datar, Sumatera Barat, Jumat (16/6/2023). Kementerian PUPR merampungkan penataan kawasan Nagari Tuo Pariangan dengan biaya Rp2,5 miliar, meliputi pembangunan Plaza Panarian, Batu Lantok Tigo, penataan lansekap, dan perbaikan Makam Panjang Tantejo Gurhano. ANTARA FOTO/Iggoy el FitraDesa wisata Nagari Pariangan, Tanah Datar, Sumatera Barat (Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

6. Nagari Pariangan

Kota Tua di Indonesia yang tidak kalah indah berlokasi di Padang, yaitu Desa Wisata Nagari Pariangan. Bukan bangunan Belanda, Nagari Pariangan identik dengan deretan rumah Gadang khas Sumatra Barat dan pemandangan hamparan terasering sawah yang indah.

Selain itu, Nagari Pariangan juga memiliki masjid tertua di Padang yang dibangun pada abad ke-19, yaitu Masjid Ishlah.

Pembatik dari Lasem.Pembatik dari Lasem (Foto: awesomelasem/Instagram)

7. Kota Tua Lasem

Di Rembang, Jawa Tengah, ada kota kecil yang dijuluki dengan “Tiongkok Kecil”, yaitu Kota Tua Lasem. Kota Tua Lasem tidak hanya identik dengan bangunan tua dengan perpaduan gaya Tiongkok dan Jawa yang indah.

Di sana juga terdapat Kelenteng Cu An Kiong, kelenteng tertua di Kota Lasem yang masih berdiri kokoh meski sudah dibangun sejak abad ke-16.

Potret Sekanak Lambidaro, anak Sungai Musi yang disulap jadi destinasi wisata baru di Palembang. (Foto: Prima Syahbana)Potret Sekanak Lambidaro, anak Sungai Musi yang disulap jadi destinasi wisata baru di Palembang (Foto: Prima Syahbana/detikcom)

8. Kawasan Sekanak

Palembang, Sumatra Selatan punya Kota Tua, yaitu Kawasan Sekanak. Dikenal dengan wajah Palembang zaman dulu, kawasan Sekanak memiliki ratusan bangunan tua bersejarah yang ikonik.

Salah satu bangunan yang paling menarik perhatian adalah Gedung Jacobson van den Berg. Bangunan bersejarah dan cagar budaya ini, dulunya kantor perusahaan perdagangan milik Belanda.

Kota Tua di IndonesiaKuliner kota tua Singkawang (Foto: Kemenparekraf)

9. Kota Singkawang

Banyak peninggalan arkeologis di Singkawang yang kental dengan budaya China, seperti rumah Tionghoa tertua yang dibangun sejak 1901 dan Patung Naga di tengah kota.

Selain itu, traveler juga dapat melihat Masjid Raya Singkawang yang berdampingan dengan Wihara Tri Dharma Bumi Raya.

Kota Tua di IndonesiaKota Tua Ampenan Lombok (Foto: Kemenparekraf)

10. Kota Tua Ampenan

Terletak di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), kawasan Kota Tua Ampenan identik dengan bangunan cagar budaya dengan gaya arsitektur Belanda.

Kota Tua Ampenan punya beberapa perkampungan, yakni Kampung Tionghoa, Kampung Jawa, dan Kampung Bugis. Meski berbeda-beda, namun keberagaman tetap terjalin dengan baik.

(msl/fem)



Sumber : travel.detik.com

Melihat Wajah Baru Alun-alun Lembang Usai Dipugar



Bandung Barat

Traveler bila liburan ke Lembang, bisa nih melihat wajah baru Alun-alum Lembang yang baru saja dipugar. Dana yang dipakai untuk menciptakan wajah baru ini mencapai Rp 6 miliar lho.

Penantian panjang masyarakat Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) untuk memiliki alun-alun yang lebih bagus dari sebelumnya akhirnya tuntas. Alun-alun Lembang baru saja diresmikan oleh Pj Bupati Bandung Barat, Arsan Latif pada Jumat (8/12/2023) usai dipugar sejak pertengahan Mei 2023.

Ada beragam fasilitas di ruang publik itu, seperti taman beralas rumput sintetis, lapangan basket, skatepark, playground, serta pelataran yang berisi informasi soal landmark di kawasan Lembang.


“8 Desember 2023 ini, (Alun-alun Lembang) sah kita buka untuk umum. Sebagai meeting point masyarakat, makanya kita kasih fasilitas untuk semua,” kata Arsan Latif usai peresmian Alun-alun Lembang.

Wajah baru Alun-alun LembangWajah baru Alun-alun Lembang Foto: Whisnu Pradana

Nantinya, pengelolaan Alun-alun Lembang menjadi kewenangan Pemerintah Kecamatan Lembang. Ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan (SK) penggunaan dari Pemda KBB ke Kecamatan Lembang.

“Untuk memaksimalkan penggunaannya memang yang tepat mengelola dan mengawal ini (alun-alun) dari kecamatan. Oleh karena itu, hari ini telah kami serahkan SK penggunaan ke kecamatan,” kata Arsan.

Arsan mengultimatum agar pengunjung menjaga kebersihan dan segala fasilitas yang ada di Alun-alun Lembang. Ia melarang pengunjung merokok di area alun-alun.

“Ini kebanggaan Lembang, jadi harus dijaga dengan baik. Tidak ada yang merokok dan membuang sampah sembarangan, tidak mencorat-coret fasilitas di sini. Anggaran pengelolaan tentu nanti dari APBD,” kata Arsan.

Masyarakat Lembang terutama bocah-bocah berlarian kesana kemari di area taman bermain dan area rumput sintetis. Beberapa bocah bermain perosotan di area skatepark mengingat ada ramp dan bowl yang permukaannya licin.

Kendati senang dengan wajah baru Alun-alun Lembang, namun masyarakat menganggap keberadaan skatepark dinilai tak terlalu penting.

“Alhamdulillah sekarang lebih bagus, ada taman bermainnya, lapangan basket kecil. Cuma yang kurang pas itu skatepark, nggak ada yang main skateboard di Lembang. Mending diubah jadi taman bermain anak saja, yang sekarang terlalu kecil,” ujar Gunawan (40), salah seorang pengunjung Alun-alun Lembang.

Artikel ini telah tayang di detikJabar.

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Raffi Ahmad Buka Cow Play Cow Moo, 200 Permainan Menanti Traveler



Tangerang

Permainan arcade populer dari Singapura, Cow Play Cow Moo buka cabang pertama di Indonesia. Ada sentuhan Raffi Ahmad di sini.

Cabang pertama Cow Play Cow Moo berada di Carstensz Mall Gading Serpong, Lt.2, Jl. Jenderal Sudirman No. 1, Cihuni, Pagedangan, Tangerang, Banten.

Terdapat berbagai mesin permainan nan canggih seperti Monopoly, Hungry-Hungry Hippo, Dodgeball, Retro Express, Dracarys Legend, King Kong, Minecraft Dungeon, dan yang terbaru SweetLand 5 serta Magic Train yang bisa dicoba traveler.


Tak kalah menarik adalah merchandise yang dapat diperoleh para pengunjung, yang merupakan merek-merek terkenal seperti Sanrio, Disney, Nickelodeon, Warner Bros, Marvel, dan masih banyak lagi.

Direktur Cow Play Cow Moo Indonesia Daniel Darwin mengatakan di cabang pertama ini akan ada berbagai permainan yang menarik dan inovatif sehingga dapat dinikmati oleh pengunjung dari semua usia.

“Cow Play Cow Moo dibentuk dari passion dari owner Singapura. Dari passion mereka bikin game sendiri tidak sama dengan arcade lain. Cara bermainnya hadiahnya cara mendapatkan merchandisenya pun berbeda,” ujar Daniel di Serpong, Tangerang, Jumat (8/12/2023).

Traveler dapat merasakan keseruan bermain berbagai mesin permainan terbaru seperti Monopoly, Hungry-Hungry Hippo, Dodgeball, Retro Express, Dracarys Legend, King Kong, dan Minecraft Dungeon.

Cow Play Cow Moo juga memiliki koleksi mesin capit dengan berbagai variasi cara bermain.

Yang menarik rupanya Raffi Ahmad, menjadi mitra Cow Play Cow Moo Indonesia. Dia bersama Rudi Salim menjadi pemegang saham dan mitra strategis Cow Play Cow Moo di Indonesia.

“Kami diajak bergabung dalam Cow Play Cow Moo sebagai shareholder dan strategic partner Indonesia. Ini arcade game yang barangnya nggak ada di tempat lain apalagi Pak Daniel ini bisa mendatangkan arcade game yang tidak ada di tempat lain,” ujar Rudi Salim.

Rudi menambahkan dalam waktu dekat, pihaknya akan membuka Cow Play Cow Moo di Pantai Indah Kapuk yang menjadi Cow Play Cow Moo terbesar di dunia dengan luas 3.563 meter persegi.

“Kami akan membuka Cow Play Cow Moo terbesar di dunia, kami akan melakukan peletakan batu pertama hari Rabu 13 Desember jam 10 pagi di PIK2. Ini akan menjadi Cow Play Cow Moo terbesar di dunia seluas 3.563 meter persegi. Lokasinya di depan Phantom, tempat Raffi dugem,” ujar Rudi sambil tertawa.

Setelah PIK, kemudian di Pluit Village seluas 3.000 meter persegi untuk melayani konsumen di area Muara Karang, Ancol, Kelapa Gading, Kemayoran dan sekitarnya.

“Kami akan membuka opportunity untuk franchise jadi kita akan buka setidaknya 3 cabang,” ujar Rudi.

Sementara Raffi Ahmad mengatakan arcade game dari Singapura ini target pasarnya adalah keluarga.

“Kita sampai seumuran ini masih suka main setengah jam, kalau lagi nunggu nonton bioskop, malah bisa 2 jam nggak kerasa. Ini sangat menyenangkan, dulu bisa mainin kupon, tuker TV atau memberi boneka buat pacar. Arcade ini bisa jadi ikon lah buat anak, buat ajak family Indonesia untuk datang ke Cow Play Cow Moo,” ujarnya.

(ddn/fem)



Sumber : travel.detik.com

Inilah 5 ‘Negeri di Atas Awan’ yang Ada di Indonesia


Jakarta

Indonesia menyimpan banyak pemandangan alam yang rupawan. Sejumlah kawasan di negara ini bahkan ada yang disebut-sebut sebagai ‘negeri di atas awan’.

Julukan yang disematkan terhadap kawasan tersebut bukanlah sembarang. Melainkan hamparan awan yang membentang dan menyelimuti dapat terlihat dengan jelas oleh mata. Lantas, di mana saja ‘negeri di atas awan’ yang ada di Indonesia?

‘Negeri di Atas Awan’ yang Ada di Indonesia

Berikut beberapa tempat di Indonesia yang bagaikan ‘negeri di atas awan’:


1. Dataran Tinggi Dieng

Dataran tinggi Dieng berada di wilayah Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Letaknya dataran ini ada di ketinggian 2.093 mdpl (meter di atas permukaan laut).

Selain itu, lokasinya juga berdekatan dengan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Karenanya, pengunjung dapat melihat pemandangan samudra awan di sini.

Kawasan Dieng didominasi area pertanian terasering di lahannya yang berbukit-bukit. Panorama yang disuguhkan menambah keindahan tempat ini.

Ada sejumlah destinasi wisata yang bisa dikunjungi di dataran Dieng, di antaranya Telaga Warna dan Pengilon, Goa Semar, mata air Sungai Serayu, serta situs bersejarah berupa sejumlah candi.

2. Desa Citorek Gunung Luhur

Ada nih ‘negeri di atas awan’ yang lumayan dekat dari Jakarta, yaitu Gunung Luhur tepatnya di Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Lebak, Banten. Lokasinya berada di kawasan Hutan Lindung, Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Panorama hamparan awan di tempat ini bisa disaksikan pada waktu pagi, sekitar pukul 05.00-08.00 WIB. Karena itu, pengunjung bisa bermalam di lokasi untuk melihat pemandangan samudra awannya yang indah.

Tapi, gulungan awan disebutkan tidak bisa dilihat setiap harinya. Karena tergantung dari kondisi cuaca di kawasan tersebut.

Untuk bisa melihat ‘negeri di atas awan’ diperlukan tiket masuk seharga Rp 12.000 per orang untuk weekday, serta Rp 14.500 per orang saat weekend dan hari libur.

Akses jalan menuju lokasi lebar dan bisa dicapai dengan menggunakan mobil atau motor untuk sampai ke lokasi. Tarif parkir yang ditetapkan sebesar Rp 5.000-Rp 7.500 untuk motor, dan mobil dikenakan Rp 10.000-Rp 15.000.

3. Puncak B29 Lumajang

Selanjutnya ada kawasan Puncak B29 di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Lumajang, Jawa Timur. Tempat ini dijuluki ‘negeri di atas awan’ dengan lokasinya yang berada di ketinggian 2.900 mdpl.

Di puncak ini, pengunjung akan melihat panorama gumpalan awan menakjubkan yang menyelimuti kawasan Gunung Bromo pada pagi hari. Selain itu, keindahan Gunung Semeru di sisi selatan dan sunrise di ufuk timur juga bisa terlihat sekaligus.

Untuk menuju ke Puncak B29 Lumajang, pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Setelah sampai di rest area Desa Argosari bisa dilanjut naik ojek motor. Barulah pengunjung bisa sampai di Puncak B29 dengan membayar tiket masuk seharga Rp 5.000 per orang.

4. Desa Lolai Toraja Utara

Di wilayah Sulawesi juga ada tempat yang disebut-sebut jadi ‘negeri di atas awan’ yakni di Desa Lolai, Kecamatan Kepala Pitu, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Utara. Tempat ini berada di ketinggian sekitar 1.300 mdpl.

Di sana, pengunjung bisa menyaksikan hamparan awan yang membentang. Di sela-selanya tak jarang muncul puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi.

Untuk menuju ke sini, traveler dapat menempuh waktu kurang lebih 1 jam perjalanan dengan jarak 19 km dari Bandar Udara Pongtiku Toraja. Sementara dari Rantepao berjarak sekitar 15 km. Akses jalan yang dilalui pun sudah cukup bagus.

Pengunjung perlu membayar tiket sebesar Rp 15.000 per orang untuk masuk ke kawasan ‘negeri di atas awan’ ini. Selain itu, diperbolehkan juga menginap di lokasi untuk melihat panorama alam yang rupawan itu.

5. Bukit Panyangrayan Tasikmalaya

‘Negeri di atas awan’ juga ada di wilayah Tasikmalaya, Jawa Barat. Tepatnya di Bukit Panyangrayan yang berada di Kampung Pramuka Sadaukir, Desa Sukapura, Kecamatan Sukaraja, Tasikmalaya.

Pemandangan hamparan awan di sini dapat dilihat pada pagi hari saat matahari terbit. Panoramanya semakin indah saat cahaya matahari mengintip di antara gumpalan awan itu. Pengunjung bisa berkemah di atas bukit ini dengan membawa tenda atau menyewa tenda untuk menyaksikannya.

Kawasan Bukit Panyangrayan buka 24 jam sehingga traveler bisa datang kapan saja. Diperlukan tiket untuk masuk ke tempat ini dengan membayar tiket Rp 5.000 per orang.

Untuk sampai ke lokasi ini, pengunjung bisa melalui jalan satu jalur dengan mengendarai sepeda motor hingga pintu masuk kawasan bukit. Karena satu jalur, akan akan sulit dilewati mobil jika berpapasan.

Itu dia sederet ‘negeri di atas awan’ yang ada di Indonesia. Kalau detikers sudah pernah mengunjungi yang mana, nih?

(fds/fds)



Sumber : travel.detik.com

Menikmati Keindahan Bawah Laut Natuna, Lihat Karang Cantik-Ikan Nemo



Natuna

Menjadi salah satu pulau terluar di Indonesia, Natuna di Kepulauan Riau menyimpan banyak keindahan alam. Bagi para pecinta snorkeling dan diving, Natuna seakan menjadi surga tersembunyi yang menyimpan keindahan bawah laut.

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Natuna Kardiman mengatakan Natuna memiliki potensi wisata yang luar biasa, terutama wisata bahari. Dari 120 objek dan daya tarik wisata di Natuna, 84 persennya merupakan wisata bahari.

“Nah wisata bahari itu sangat berpotensi apabila kita kembangkan ataupun bagi yang hobi untuk diving atau snorkeling itu merupakan surga yang tak terlupakan,” ujar Kardiman kepada detikcom belum lama ini.


“Kita juga memiliki 36 spot diving khusus untuk kapal-kapal tenggelam,” imbuhnya.

Saat mengunjungi Natuna, tim detikcom bersama Natuna Dive Resorts berkesempatan untuk mencoba langsung melihat keindahan bawah laut Natuna di Pulau Senua. Dari Ranai Kota, perjalanan ke Pulau Senua ditempuh sekitar 15-20 menit dengan kapal pompong dari Pelabuhan Sepempang.

Pulau Senua memang menjadi salah satu spot snorkeling dan diving terfavorit di Natuna. Pulau tak berpenghuni ini menawarkan keindahan laut yang masih asri dan jernih. Hamparan pasir putih dan deretan pohon kelapa menambah kecantikan dari pulau ini.

Pengelola Natuna Dive Resort Bobby Rozano wisata laut Natuna memang menjadi unggulan. Di Pulau Senua misalnya, pengunjung bisa melihat ikan dan karang yang cantik. Jika beruntung, pengunjung bahkan bisa bertemu dengan ikan nemo.

Bawah Laut NatunaFoto: Natuna Dive Resort

“Setelah beberapa tahun kita ada di sini kita melihat bahwa faktor wisata yang benar-benar bisa diandalkan, yaitu wisata laut karena memang di Natuna ini lautnya memang dominan. Misalnya kita buat wisata diving ternyata waktu di survey memang bawah laut Natuna sangat indah,” jelas Bobby.

“Kalau lagi cuaca bagus, kita bisa lihat dari atas ke bawah karang-karangnya hidup, indah ikan-ikannya, jadi untuk para diver itu pasti sangat senang bisa menemukan spot-spot yang menarik di Natuna dengan berbagai tantangannya. Misalnya di sebelah sana (Pulau Senua) ada spot ikan nemo, ada spot karang-karang yang bagus,” lanjutnya.

Bobby menambahkan, keindahan bawah laut Natuna bahkan sudah bisa terlihat dari permukaan saja. Jadi, untuk yang tak bisa diving, pengunjung bisa menikmati bawah laut Natuna dengan snorkeling.

“Buat yang nggak bisa diving, snorkeling itu kita main di permukaan juga sudah sangat bagus, sudah sangat indah karena dari atas permukaan kita bisa lihat keindahan bawah lautnya,” jelasnya.

Bawah Laut NatunaFoto: Natuna Dive Resort

Keindahan alam Natuna memang banyak menghipnotis para pencinta snorkeling dan diving. Bobby mengatakan sejak berkembangnya infrastruktur di Natuna, sudah banyak wisatawan yang berkunjung ke sini. Apalagi semenjak akses internet mudah diakses, promosi wisata bawah laut Natuna pun makin gencar dilakukan.

“Ya akses internet sangat diperlukan dan sangat berpengaruh terhadap bisnis kita. Jadi alhamdulillah kita bersyukur bahwa kita sudah ada akses internet yang cukup baik di Natuna yang bisa mensupport seluruh aktivitas kita di sini. Bagus akses internet di Natuna,” lanjutnya.

Seperti diketahui, Natuna menjadi salah satu dari 57 kabupaten yang terdampak dari hadirnya Proyek Palapa Ring yang dibangun pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Kominfo.

PM Palapa Ring Eksisting Bakti Kominfo Ahmad Aliyul mengungkapkan Natuna berada pada Proyek 2 Palapa Ring Paket Barat. Jaringan serat Optik Palapa Ring Barat yang di dalamnya terdapat Natuna, dibangun dengan jaringan Passive Fiber Optik standar ITU G654B sepanjang 2.124 Km dan dihubungkan dengan Perangkat Transmisi DWDM.

Hadirnya Palapa Ring Barat menstimulus operator telekomunikasi berbasis bisnis untuk mengembangkan jaringan pita lebar di area 3T.

“Palapa Ring mendukung pertumbuhan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pariwisata. Dengan adanya Palapa Ring penetrasi dan penggunaan internet bertumbuh, internet menunjang pembelajaran pada sektor pendidikan dan kegiatan kesehatan, serta internet menjadikan Natuna dan sektor pariwisatanya menjadi lebih mudah untuk di-expose dan dikenal hingga dunia,” tutupnya.

detikcom bersama Bakti Kominfo mengadakan program Tapal Batas mengulas perkembangan ekonomi, wisata, infrastruktur, wisata, dan teknologi di wilayah 3T setelah adanya jaringan internet di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!

(ncm/ega)



Sumber : travel.detik.com

Di Balik Pabrik-pabrik, Ada Setitik Keindahan Bali di Karawang



Karawang

Tak perlu jauh-jauh ke Bali untuk menikmati keindahan pulau Dewata, di Karawang pun bisa. Traveler datang saja ke Kampung Turis yang suasananya Bali banget!

Karawang yang terkenal sebagai kota industri, ternyata menyimpan Hidden Gem. Di balik pabrik-pabrik yang berdiri di kota itu, ada Kampung Turis yang keindahannya serupa Ubud di Bali.

Lokasinya berada di kaki Gunung Sanggabuana, tepatnya di Desa Mekar Buana, Kecamatan Tegal Waru, Kabupaten Karawang. Begitu masuk ke sini, traveler akan merasa seperti bukan di Karawang, tapi di Bali.


Kampung Turis Karawang menghadirkan pemandangan alam yang begitu menawan. Udara sejuk dan suasana asri khas pegunungan menambah rasa betah berada di objek wisata itu.

“Banyak tamu yang berkunjung ke Kampung Turis terkagum-kagum dan tidak menyangka kalau Karawang memiliki tempat wisata yang lengkap dan mempesona seperti Kampung Turis,” kata General Manager Kampung Turis, Heri Heryana.

Area Bukti Sidampyak, Kampung Turis KarawangKampung Turis Karawang Foto: Irvan Maulana/detikJabar

Di area perbukitan Kampung Turis terbentang hamparan sawah nan hijau dengan landscape terasering ala Ubud Bali yang begitu eksotis.

Kampung Turis jadi semakin istimewa, karena nuansanya yang ditata dengan baik, dengan sentuhan artistik ala Bali yang begitu menarik.

“Hal menarik lainnya yang sulit didapatkan pengunjung di tempat wisata lain adalah, nuansa artistik Bali yang dapat dilihat dari model bangunan, gapura, pura hingga landscape sawah terasering khas Ubud Bali yang menjadi daya tarik Kampung Turis,” paparnya.

Kampung Turis menghadirkan berbagai wahana hiburan yang lengkap dan menarik, yaitu: Water Park, Resto, Cafe, Villa, Danau, Kids Play Ground, Pendopo, Meeting Room dan Air Terjun.

Selain itu, Kampung Turis juga menyediakan wahana education dan adventure, yang dilengkapi dengan aneka permainan yang menarik seperti, playing fox, high rope, archery, ATV dan permainan menarik lainnya.

“Saat ini, Kampung Turis tengah mengembangkan wahana edukasi dan adventure (eduventure) yang juga menjadi wahana unggulan untuk memenuhi kebutuhan segmen corporate,instansi pemerintahan, lembaga pendidikan, komunitas bahkan family untuk menyelenggarakan kegiatan outbound, training, meeting family gathering, wedding dan juga kegiatan sekolah,” ucap Heri.

Pesona Kampung Turis tidak hanya digandrungi oleh wisatawan lokal Karawang dan Bekasi. Tetapi juga oleh wisatawan dari luar kota, seperti Jakarta, Bandung, Purwakarta, Tanggerang, Bogor, Subang, dan daerah lainnya di Jawa Barat.

—–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Seribu Tiang di Jambi, Tak Punya Tembok dan Pintu



Jambi

Tak seperti masjid pada umumnya, masjid di Jambi ini tidak memiliki tembok, jendela, bahkan pintu. Mari berkenalan dengan Masjid Seribu Tiang dari Jambi.

Masjid Seribu Tiang adalah kebanggaan warga Provinsi Jambi. Selain jadi tempat ibadah, masjid ini juga dibuka untuk wisata religi dan bisa dikunjungi wisatawan.

Masjid ini sangat unik karena tidak memiliki dinding dan pintu. Sesuai dengan namanya, tiang di masjid ini ada banyak sekali, sehingga dikenal sebagai Masjid Seribu Tiang.


Sebenarnya, nama asli masjid ini adalah Masjid Agung Al-Falah. Lokasinya berada di Jalan Sultan Thaha No 60, Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi. Lokasinya sangat strategis karena berada di pusat kota Jambi.

Arsitektur Masjid Seribu Tiang

Bangunan Masjid Seribu Tiang berbentuk menyerupai pendopo dengan tiang yang banyak, tanpa adanya sekat atau pembatas. Bangunan ini tidak memiliki dinding, pintu dan jendela.

Konsepnya sengaja dibuat terbuka dengan menonjolkan keramahan terhadap jemaah yang datang. Masjid Seribu Tiang mampu menampung lebih dari 10.000 jemaah.

Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 26.890 meter persegi atau 2,7 hektar. Luas bangunannya 6.400 meter persegi, dengan ukuran panjang 80 x lebar 80 meter.

Pekerja membersihkan bagian dalam Masjid Agung Al-Falah atau Masjid Seribu Tiang, Jambi, Rabu (21/4/2021). Masjid yang diresmikan pemakaiannya pada 1980 oleh mantan Presiden Soeharto tersebut dibangun tanpa dinding dan pintu dengan 232 tiang penyangga atap dan kubah. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/aww.Masjid Seribu Tiang, Jambi Foto: ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

Meski sebutannya Masjid Seribu Tiang, tetapi jumlah tiang di masjid ini tidak persis 1.000 buah, melainkan hanya 232 buah. Kekokohan tiang masjid ini diklaim tahan terhadap gempa.

Tiang yang berada di dalam masjid berwarna coklat tembaga dengan ukuran yang cukup besar. Sementara di bagian luar, ukuran tiangnya lebih kecil dan berwarna putih.

Masjid ini dihiasi dengan ukiran kaligrafi berwarna emas. Di atas masjid, ada kubah besar yang menjadi ikonnya Kota Jambi.

Sejak awal pembangunan hingga sekarang, arsitektur Masjid Seribu Tiang tetap dipertahankan sesuai bentuk awal. Renovasi yang dilakukan hanya sekedar pemeliharaan, namun tidak ada bentuk masjid yang diubah sama sekali.

—–

Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Tur Tradisional di Hutan Mangrove Bali Ini Sangat Kami Rekomendasikan



Jakarta

Traveler mencari aktivitas tak biasa saat berlibur di Bali? Cobalah untuk berkeliling di hutan mangrove ini.

Menikmati suasana alami kawasan hutan mangrove di Desa Jungut Batu, Nusa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, bisa dilakukan dengan cara berbeda.

Bukan melihat dari pinggir pantai saja atau menyusuri jalan setapak di tengah hutan, melainkan pengunjung bisa naik perahu tradisional untuk berkeliling di hutan seluas lebih dari 200 hektare ini.


Sebelum itu, kamu terlebih dahulu harus menuju ke ujung timur Desa Jungut Batu. Traveler bisa langsung memesan perahu lengkap dengan nelayan yang siap mengantar sekaligus memandu kita.

Satu perahu diisi maksimal empat orang. Perahu dikemudikan menggunakan bambu atau perahu tanpa mesin.

Setelah naik, nelayan yang mengemudikan perahu langsung tancap gas, mendorong perahu ke tengah, lalu masuk di lajur air tawar. Sepanjang jalur di sekelilingnya penuh dengan hutan bakau dengan berbagai spesies dengan akar tunggang yang menjulang hingga enam meter.

Salah satu nelayan sekaligus nakhoda perahu, Ketut Suwitra, menceritakan dari naik hingga balik lagi setidaknya membutuhkan waktu selama 30 menit. Ia akan mengajak wisatawan menyusuri jalur air tawar hingga masuk ke kawasan hutan mangrove.

Wisata keliling kawasan hutan mangrove Nusa Lembongan dengan perahu tradisional, Minggu (10/12/2023). (Putu Krista/detikBali)Wisata keliling kawasan hutan mangrove Nusa Lembongan dengan perahu tradisional (Foto: Putu Krista/detikBali)

Suwitra sudah ikut dalam kelompok nelayan setempat, Surya Mandiri, sejak 2017. Kelompoknya ini secara khusus menggunakan perahu dengan kendali bambu.

Bambu digunakan untuk memberikan rasa nyaman ke wisatawan. Selain itu juga lebih memberikan suasana keasrian alam dengan suara burung.

Satu grup dengan empat orang dikenakan tarif Rp 150 ribu untuk wisatawan domestik dan Rp 300 ribu untuk wisatawan asing. Dari tarif tersebut, Suwitra mengantongi Rp 80 ribu untuk diri sendiri dan sisanya masuk ke dana kelompok.

Baca artikel selengkapnya di detikBali

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com

Unik! Museum Sanghyang Dedari, Simpan Cerita Magis Tarian Penolak Bala



Karangasem

Museum Sanghyang Dedari menyimpan berbagai cerita magis di balik tarian sakral Sanghyang Dedari. Mulai dari properti hingga proses pementasan.

Museum ini bisa terbilang hidden gem. Berlokasi di Banjar Dinas Geriana Kauh, Desa Duda Utara, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali, museum ini menyuguhkan tema yang unik dengan mengangkat tarian sakral bernama Sanghyang Dedari.

Menurut Bendesa Adat Geriana Kauh, I Nyoman Subrata, Museum Sanghyang Dedari, merupakan sarana edukasi bagi generasi muda tentang Tari Sanghyang Dedari, mulai dari properti yang digunakan hingga proses atau ritual pementasan.

“Museum ini sebagai pusat pembelajaran tentang keberadaan Tari Sanghyang di Bali. Ritual Sanghyang yang keberadaanya sudah sedikit, jadi di museum ini kita bisa melestarikan,” ujarnya.

I Nyoman Subrata menyebut Tari Sanghyang Dedari bermakna sebagai penolak bala. Tarian ini sudah diwarisi secara turun temurun. Menurut cerita, Tarian Sanghyang Dedari sudah ada sejak zaman pra-Hindu.

“Tarian ini adalah sebuah proses penurunan roh dewa dewi yang kemudian memberikan anugerah kepada warga khususnya petani. Sesuai makna dan fungsi, tarian ini sebagai penolak bala. Khususnya bagi petani agar padi mereka bisa tumbuh subur,” ujar dia.

Inspirasi Museum Sanghyang Dedari bermula ketika pengabdian masyarakat dari mahasiswa UI yaitu Ibu Saras Dewi yang melakukan riset terkait Tari Sanghyang Dedari. Kemudian, pada 2016 disepakati dan turun pendanaan untuk membangun museum ini. Museum Sanghyang Dedari resmi dibuka pada 2019.

“Ide awal itu dari pengabdi UI itu, setelah melakukan riset dan berhasil. Akhirnya terbesit untuk melakukan sesuatu untuk melestarikan kembali ritual sakral ini,” kata Subrata.

Jika dilihat dari konsepnya, Museum Sanghyang Dedari adalah museum yang unik. Hingga saat ini, museum ini adalah satu-satunya museum yang menyajikan dengan lengkap terkait Tari Sanghyang Dedari yang sakral.

Belum banyak yang tau, Tari Sanghyang Dedari merupakan salah satu ritual penanaman padi taun. “Keunikan dari museum ini, anda bisa melihat koleksi tentang keberadaan ritual Sanghyang Dedari, khususnya dengan petani yaitu penanaman padi taun, yang merupakan padi khas desa di sini,” kata Subrata.

Kaitan Tari Sanghyang Dedari, yang sangat erat dengan proses penanaman padi taun, membuat di dalam museum ini traveler juga bisa melihat aneka peralatan pertanian tradisional yang lengkap. Contohnya seperti alat pemotong padi bernama ani-ani.

Pementasan Tari Sanghyang Dedari hanya dipentaskan pada saat ritual tertentu dan hanya dipentaskan di Desa Adat Geriana Kauh. I Nyoman Subrata menyebut tak menutup kemungkinan bagi traveler untuk menyaksikan pementasan Tari Sanghyang Dedari. Bagi traveler yang tertarik bisa berkunjung ke museum ini pada bulan April.

“Sangat boleh sekali ditonton, tapi harus mengikut aturan. Minimal menggunakan adat madya, pakaian yang menutupi dan pakai selendang,” kata Subrata.

Kaitan Tari Sanghyang Dedari yang sangat erat dengan proses penanaman padi taun, membuat di dalam museum ini traveler juga bisa melihat aneka peralatan pertanian tradisional yang lengkap.

Bagi traveler yang tertarik berkunjung ke Museum Sanghyang Dedari, hingga saat ini pengelola tidak mematok biaya tiket masuk, namun menerapkan sistem donasi.

Tak perlu khawatir, jika berkunjung ke sini traveler akan ditemani langsung dengan guide atau petugas dari yayasan yang akan menemani traveler berkeliling di sini. Traveler bisa berkunjung ke Museum Sanghyang Dedari setiap hari mulai pukul 08.00 – 16.00 WITA.

Museum Sanghyang Dedari juga akan mengembangkan pembangunan Balai Budaya. I Nyoman Subrata menjelaskan bahwa Balai Budaya nantinya akan digunakan untuk kegiatan anak-anak dalam mengembangkan bakatnya. Seperti menari dan mempelajari ritual gending Sanghyang.

(fem/iah)



Sumber : travel.detik.com

7 Destinasi Wisata di Muntilan, Salah Satunya Jadi Lokasi Syuting Gadis Kretek


Jakarta

Popularitas Muntilan terkerek setelah disebut-sebut sebagai Kota M dalam serial populer Netflix, Gadis Kretek. Ini deretan tempat wisata di Muntilan.

Kecamatan kecil yang berada di Magelang, Jawa Tengah itu dan terkenal dengan kuliner tape ketan ini ternyata memiliki beragam pilihan destinasi wisata yang bisa traveler kunjungi lho. Langsung aja cek daftarnya di sini!

1. Candi Ngawen

Makam tua di Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Klaten, yang dipagari batu bekas struktur candi, Minggu (25/6/2023).Makam tua di Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Klaten, yang dipagari batu bekas struktur candi, Minggu (25/6/2023). (Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)

Candi Ngawen merupakan candi Buddha peninggalan Dinasti Syailendra yang terletak di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Candi ini ditemukan pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1927.


Candi Ngawen terdiri dari lima candi yang berjejer sama rata dan menghadap arah timur, namun dari kelima candi tersebut hanya candi II yang masih berdiri utuh, empat lainnya hanya berupa sisa kaki-kaki candi.

Uniknya di Candi Ngawen ini terdapat empat patung singa yang terletak di sudut-sudut kaki candi.

Candi Ngawen bisa dikunjungi setiap hari jam 08.00 – 16.00 WIB dengan tiket masuk seharga Rp 3.000 saja.

2. Makam Gunungpring

Jika kamu menyukai wisata religi, maka tempat yang satu ini bisa kamu kunjungi saat di Muntilan. Namanya Makam Gunungpring, komplek pemakaman tokoh-tokoh ulama Jawa Tengah seperti Kyai Raden Santri, KH. Abdurrohman, KH. Dalhar, Kyai Krapyak Kamaludin, dan yang lainnya.

Komplek pemakaman ini terletak di atas bukit dengan ketinggian 400 mdpl, sehingga untuk mencapai makam, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga terlebih dahulu. Di sepanjang sisi tangga terdapat toko-toko yang menjual makanan, pernak-pernik, pakaian, dan oleh-oleh.

Komplek pemakaman ini juga sudah dilengkapi dengan fasilitas toilet, mushola, warung makan, dan tempat beristirahat. Makam Gunungpring ini bisa dikunjungi kapan saja tanpa dipungut biaya, letaknya di Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

3. Klenteng Hok An Kiong

Satu lagi wisata religi yang ada di Muntilan adalah Klenteng Hok An Kiong, klenteng ini merupakan klenteng tua yang sudah ada sejak tahun 1878. Lokasinya ada di pusat kota Muntilan, tepatnya di Jalan Pemuda No. 100, Balerejo, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.
Komplek klenteng ini memiliki bangunan utama yang berfungsi sebagai tempat peribadatan yang terdiri dari dua ruang doa. Selain bangunan utama, di sini juga ada kantor dan ruang pertemuan.

Klenteng Hok An Kiong memiliki hio lo terbesar di Asia Tenggara yang dibuat pada tahun 2002. Hio lo ini terbuat dari perunggu dengan panjang 158 cm, diameter 188 cm, dan berat 3,8 ton.

4. Museum Misi Muntilan

Berbeda dari museum biasanya, Museum Misi Muntilan ini berdiri khusus di bawah kepemilikan Keuskupan Agung Semarang untuk menyimpan sejarah dan peninggalan penyebaran agama Katolik di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Museum ini berada dalam Komplek Misi Muntilan yang di dalamnya juga ada Gereja Santo Antonius dan Sekolah Pangudi Luhur Van Lith. Romo van Lith menjadi tokoh penting dari adanya komplek ini, sehingga patungnya dibangun di depan museum ini.

Museum Misi Muntilan berlokasi di Jalan Kartini No.3, Balemulyo, Muntilan, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pengunjung bisa masuk secara gratis dan nantinya akan ditemani staf museum yang akan memberikan tur singkat.

5. Taman Bambu Runcing

Di Taman Bambu Runcing ini berdiri Monumen Bambu Runcing yang menjadi monumen untuk mengenang para pejuang dalam melawan penjajah. Monumen ini dibangun dari tahun 1978 sampai 1980 oleh seorang seniman patung, Doelkamid Djayaprana.

Monumen berbentuk seperti bambu ini berwarna putih dengan ruas bambu yang diberi warna merah, di bawahnya terdapat patung-patung pejuang yang mengelilingi monumen sambil membawa bendera merah putih dan senjata.

Di bagian tamannya terdapat wahana permainan anak-anak dan penjual makanan. Taman ini cocok dijadikan tempat bersantai di sore hari, lokasinya ada di Jalan Tentara Pelajar No.8, Tejowarno, Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

6. Taman Seribu Cinta

Taman Seribu Cinta ini terletak di perbatasan antara Kecamatan Muntilan dan Kecamatan Salam, di tepi aliran Kali Blongkeng. Dulunya di sini merupakan tempat pembuangan sampah yang kumuh.

Di satu sisinya terdapat tebing yang bertuliskan “Welcome to Muntilan Adipura”. di sisi lainnya ada taman bertingkat penuh bunga warna-warni dan spot-spot berbentuk love. Di sini juga disediakan tempat duduk untuk menikmati aliran kali yang jernih dan tenang.

Taman Seribu Cinta ini bisa diakses secara gratis, pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir saja.

7. Pasar Kayu Muntilan

Destinasi yang satu ini viral baru-baru ini setelah serial Gadis Kretek tayang. Diketahui bahwa Pasar Kayu Muntilan merupakan salah satu tempat syuting dari Gadis Kretek yang mana dijadikan sebagai pasar jadul.

Di sini masih bisa dilihat beberapa properti syuting yang belum dilepas para penjual kayu, diantaranya adalah papan nama warung dan poster Kretek Merah. Sekarang banyak pengunjung yang datang untuk berfoto di spot-spot ini.

Pasar Kayu Muntilan terletak di komplek pasar kayu, Jumleng, Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com