Category Archives: Pluang

Kenapa Sih, Bitcoin Bisa Punya Nilai? Yuk, Simak Penjelasannya di Sini!

Selama ini, kita selalu melihat harga Bitcoin naik-turun setiap harinya. Kadang, harga Bitcoin bisa melesat bak roket. Namun di sisi lain, harga Bitcoin juga bisa terpelanting tajam hanya dalam sedetik.

Fluktuasi harga adalah salah satu hal yang dipantau investor dalam berinvestasi Bitcoin. Namun, bagi mereka yang masih skeptis, Bitcoin masih dianggap sebagai mata uang “bohongan”. Mitos lain lagi mengatakan bahwa Bitcoin tak punya nilai intrinsik. Apa betul seperti demikian?

Nah, untuk mengetahui apakah Bitcoin memang benar-benar punya nilai, mari mundur sedikit ke belakang untuk mengkaji kesesuaian Bitcoin sebagai mata uang.

Baca juga: Apa Itu Mata Uang Kripto?

Syarat-Syarat Mata Uang Untuk Melihat Nilai Bitcoin

Bitcoin selama ini dianggap sebagai alternatif dari uang fiat. Yakni, sebuah alat tukar dan alat penyimpan kekayaan yang mampu bertahan dalam jangka panjang dan nilainya tidak rentan terkikis oleh waktu.

Dulu, nilai mata uang konvensional selalu ditautkan dengan harga komoditas, khususnya emas. Makanya, mata uang seperti poundsterling Inggris dan dolar AS dulu sering dikaitkan menggunakan standar emas.

Namun kini, negara-negara telah meninggalkan standar emas untuk menentukan nilai mata uangnya dan beralih ke mekanisme penawaran dan permintaan yang disebut sebagai kebijakan nilai tukar mengambang (floating exchange rate policy).

Selain mekanisme permintaan dan penawaran, nilai mata uang pun ditentukan oleh syarat-syarat seperti di bawah ini:

1. Kelangkaan

Salah satu kunci untuk menentukan nilai mata uang adalah penawaran dan permintaanya. Jika suplai sebuah mata uang berlebihan, maka hal itu akan menyebabkan inflasi yang tinggi. Sementara itu, jika suplai mata uang cenderung sedikit, maka perputaran uang akan minim dan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Untuk menjaga ekulibrium permintaan dan penawaran mata uang, bank sentral biasanya melakukan kebijakan moneter atau makroprudensial. Misalnya, jika suplai uang semakin langka, maka bank sentral akan menurunkan tingkat suku bunga acuan atau melakukan kebijakan operasi pasar terbuka (open market policy) demi meningkatkan perputaran uang.

2. Bisa Dibagi-Bagi

Sebuah mata uang juga bernilai karena ia bisa dibagi-bagi hingga satuan terkecil, atau biasa disebut divisibile. Sebab, divisibility akan membantu masyarakat untuk bertransaksi barang dan jasa yang secara akurat menggambarkan nilai dari barang dan jasa tersebut sebenarnya.

3. Utilitas

Mata uang tentu harus memiliki kegunaan agar bisa dipakai secara masif. Kegunaan tersebut tentu adalah agar bisa digunakan sebagai alat tukar. Selain itu, sifat utilitas dari mata uang adalah praktis dan bisa dibawa ke mana pun.

4. Gampang Berpindah Tangan

Sebuah mata uang harus bisa berpindah tangan secara mudah antar penggenggamnya agar memiliki nilai guna. Dalam konteks uang fiat, satu unit mata uang harus bisa dikonversikan ke mata uang lain dan juga bisa digunakan di dalam negeri.

5. Durabilitas

Sebuah mata uang harus bisa bertahan dalam jangka panjang. Uang kertas dan koin memang suatu saat akan hancur dan rusak, namun biasanya bank sentral akan terus menggantinya.

6. Tidak Dapat Dipalsukan

Selain tahan lama, sebuah mata uang juga harus susah dipalsukan. Sebab, jika mata uang palsu semakin beredar, maka suplainya akan bertambah dan menurunkan mata uang itu sendiri.

Baca juga: Apa Itu Blockchain dan Cryptocurrency?

Apakah Nilai Bitcoin Telah Memenuhi Syarat-Syarat Mata Uang di Atas?

1. Kelangkaan

Ketika diluncurkan pada 2009 silam, Bitcoin disebut-sebut hanya memiliki suplai sebanyak 21 juta keping yang akan habis ditambang pada 2140 mendatang.

Sehingga, suplai yang mengetat seharusnya akan bikin nilai sebuah Bitcoin melesat jika memang permintaannya konstan atau meningkat. Hal yang sama juga terjadi di fluktuasi harga logam mulia.

Hanya saja, mekanisme permintaan dan penawaran uang fiat dikontrol oleh bank sentral. Sementara itu, belum ada satu otoritas yang mengendalikan suplai dan permintaan Bitcoin.

Di samping itu, masih belum ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi dengan harga Bitcoin setelah semuanya selesai ditambang satu abad kemudian.

2. Bisa Dibagi-Bagi

Secara umum, jumlah suplai Bitcoin yang hanya 21 juta tentu lebih kecil dari sirkulasi mata uang lain di dunia ini. Kendati demikian, nilai Bitcoin sejatinya masih bisa dibagi-bagi ke satuan terkecil, bahkan hingga delapan angka di belakang koma.

Adapun, saat ini unit terkecil Bitcoin terbilang 0,00000001 Bitcoin, yang disebut sebagai Satoshi Unit. Bahkan, Satoshi Unit memiliki tingkat keterbagian (divisibility) yang besar dibanding dolar AS.

Nilai terkecil dolar AS saat ini dihitung dalam satuan sen, yakni 1/100 dari US$1. Namun, Satoshi Unit memiliki nilai 1/100.000.000 dari 1 keping Bitcoin.

Nah, faktor divisibility ini yang menyebabkan banyak orang bisa menggengam Bitcoin dan memiliki permintaan yang konstan. Bayangkan jika unit terkecil Bitcoin adalah 1 unit dengan harga Rp700 juta per unitnya, tentu orang-orang lain yang tidak tajir tidak akan bisa memilikinya.

3. Utilitas

Salah satu nilai jual Bitcoin adalah kegunaan teknologi blockchain. Blockchain adalah sistem pencatatan transaksi secara otomatis dan transparan.

Sistem blockchain Bitcoin menggunakan sistem Proof of Work, yakni sistem di mana seluruh komputer di dalam jaringan Bitcoin harus mencapai kata sepakat sebelum memverifikasi penambangan dan transaksi baru.

Nah, untuk menjaga sistem blockchain, maka pengembang harus mengeluarkan uang untuk menjaga sistemnya. Selain itu, sistem Proof of Work juga membutuhkan daya listrik besar, yang tentu saja bikin tagihan listrik bengkak. Dua komponen biaya inilah yang menjadi nilai “beneran” dari Bitcoin.

Di masa depan, banyak yang memprediksi bahwa sistem blockchain akan bisa digunakan di luar transaksi aset kripto.

4. Gampang Berpindah Tangan

Berkat kehadiran dompet digital dan alat lainnya, kini Bitcoin bisa berpindah tangan dengan mudah.

5. Durabilitas

Jika uang fiat rusak, maka bank sentral benar-benar akan memusnahkannya dan menggantinya dengan yang baru. Sehingga, uang fiat tersebut tidak sah lagi digunakan sebagai alat tukar. Namun, hal serupa tidak terjadi di Bitcoin.

Keping-keping Bitcoin tidak dapat hancur lantaran akan terus tercatat di dalam jaringan blockchain. Hanya saja, Bitcoin tidak bisa digunakan jika memang aset kripto tersebut terkunci di dompet digital, di mana sang empunya lupa kata sandi untuk mengaksesnya.

6. Tidak Dapat Dipalsukan

Bitcoin susah dipalsukan berkat kehadiran sistem blockchain. Bahkan, sistem blockchain pun tahan dari serangan peretasan. Sebab, ketatnya data transaksi Bitcoin yang disimpan di dalam blockchain membuat perubahan satu jengkal di dalamnya menjadi susah bukan kepalang.

Perlu diingat bahwa sistem blockchain terdiri dari beberapa “blok”, atau serangkaian transaksi Bitcoin yang baru diproses. Setiap bloknya tersambung dengan blok sebelumnya dalam satu fungsi kriptografi, sehingga blok-blok tersebut membentuk suatu rantai (chain).

Blockchain adalah sebuah jurnal yang hanya bisa ditulis saja oleh pengaksesnya. Seseorang bisa menambah informasi di dalamnya, tapi segala tambahan informasi itu tidak dapat diubah di kemudian hari. Alhasil, segala transaksi Bitcoin yang sudah dilakukan pasti akan “tertimbun” oleh transaksi-transaksi yang baru dan susah untuk diubah-ubah.

Baca juga: Mending Investasi Emas atau Bitcoin? Simak Saran 10 Pakar Investasi Ini!

Tantangan Nilai Bitcoin

Secara umum, Bitcoin bisa dibilang memenuhi unsur mata uang di atas. Hanya saja, tetap ada rintangan yang bisa menghambat Bitcoin sebagai sebuah mata uang. Apa sajakah hal tersebut?

1. Status Bitcoin Sebagai Alat Penyimpan Kekayaan Mudah Goyah

Bagi uang fiat, nilainya sebagai alat penyimpan kekayaan muncul karena ia bisa digunakan untuk alat tukar menukar. Namun, Bitcoin masih belum bisa mencapai tahap seperti demikian. Jika Bitcoin tidak bisa digunakan sebagai alat tukar, maka Bitcoin tidak punya nilai intrinsik dan tidak akan menarik sebagai alat penyimpan kekayaan.

2. Nilai Bitcoin Tidak “Dijaga” oleh Komoditas

Seperti mata uang fiat, nilai Bitcoin tidak ditopang oleh komoditas fisik seperti logam emas. Mekanisme permintaan dan penawaran uang fiat boleh saja dikontrol oleh bank sentral. Namun, tidak demikian halnya dengan Bitcoin.

Hingga saat ini, belum ada otoritas tertentu yang berani intervensi ketika ada mekanisme permintaan dan penawaran Bitcoin yang “tidak sehat”. Maka dari itu, bukan tidak mungkin jika harga Bitcoin bisa menuju ke arah bubble jika permintaannya tak terkendali.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Kamu Sebaiknya Berinvestasi di Bitcoin

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia



Sumber : pluang.com

Bagaimana Perang Iran 2026 Berdampak Pada Perusahaan Ritel

Namun, di balik kenaikan harga tersebut, ada dinamika menarik di lantai bursa. Bagaimana nasib raksasa ritel seperti Walmart atau Costco ketika harga modal mereka naik? Apakah mereka merugi, atau justru diuntungkan?

Key Takeaways

  • Inflasi Logistik: Penutupan Selat Hormuz memicu kenaikan biaya pengiriman global dan harga minyak mentah, yang langsung berdampak pada harga barang di rak.
  • Strategi Spread: Emiten ritel besar tidak sekadar menjual barang; mereka mengelola selisih harga (spread) antara produsen dan konsumen untuk menjaga profitabilitas.
  • Keunggulan Skala: Ritel raksasa seperti Walmart dan Costco lebih diuntungkan dibanding toko kecil karena kekuatan negosiasi dengan supplier dan efisiensi logistik.
  • Perilaku Konsumen: Inflasi memicu fenomena stockpiling (penimbunan) dan perpindahan konsumen ke merek generik (private labels).

Mengapa Harga Barang “Terbakar”?

Konflik di Iran telah menutup jalur perdagangan vital, termasuk Selat Hormuz. Dampaknya instan:

  1. Energi & Logistik: Minyak mentah Brent sempat menyentuh $82 per barel. Biaya transportasi barang meningkat drastis.
  2. Pupuk: Timur Tengah adalah eksportir utama pupuk. Tanpa pupuk yang terjangkau, biaya tanam gandum dan biji-bijian melonjak.
  3. Bahan Pangan Spesifik: Iran adalah pemain besar untuk komoditas seperti kacang pistachio, walnut, hingga saffron. Gangguan di sini berarti kelangkaan di pasar global.

Efek pada Emiten Supermarket: Berkah atau Musibah?

Banyak investor bertanya: Jika harga barang dari produsen naik, apakah profit supermarket akan tergerus?

Secara teori, supermarket adalah bisnis “trading & spread”. Mereka membeli dari produsen dan menjual ke konsumen dengan selisih keuntungan (margin). Beda halnya dengan produsen makanan seperti Coca-cola, Kraft, bahkan produsen mie instan yang cenderung memiliki stickiness untuk menaikan harga. 

Misalnya kita ambil contoh emiten Mie Instan, ketika terjadi kenaikan bahan baku seperti CPO ataupun gandum, mereka tidak bisa langsung menerapkan cost plus pricing strategy karena harga yang sudah dinaikan akan lebih sulit atau impossible untuk diturunkan. Dan adanya perang yang membuat biaya bahan baku semakin mahal, namun perusahaan tidak bisa semerta-merta untuk menaikan harga karena pembelian bahan baku biasanya based on contract. Sehingga apabila harga kembali normalized, dan mereka sudah menaikan harga produk, maka produk mereka bisa kalah saing. 

Makanya di window term yang seperti itu, perusahaan produsen makanan cenderung merugi karena mereka tidak bisa cost pass through ke customer dan harus menanggung kerugian yang diciptakan karena perang, sehingga margin perusahaan tertekan. 

Namun, beda halnya dengan emiten supermarket yang terdampak lebih kecil dibandingkan emiten food producer, walaupun dampak negatif akibat perang pasti masih terasa karena adanya pelemahan daya beli. Berikut adalah analisis untuk beberapa emiten besar:

1. Costco Wholesale (COST)

Costco memiliki model bisnis yang unik karena sebagian besar labanya berasal dari biaya keanggotaan (membership fees), bukan sekadar margin produk.

  • Dampaknya: Saat inflasi tinggi, konsumen cenderung beralih ke Costco untuk membeli barang dalam jumlah besar (bulk) agar lebih hemat. Model bisnis mereka lebih condong kearah cost-plus pricing, dimana Mereka mengambil harga beli dari produsen (misalnya minyak goreng naik 15% akibat krisis energi), lalu menambahkan persentase margin tetap (misal 5-10%) untuk menutupi biaya operasional dan laba.
  • Posisi: Costco memiliki kekuatan negosiasi yang sangat besar terhadap supplier. Mereka bisa menahan kenaikan harga lebih lama dibanding toko kecil, yang justru meningkatkan loyalitas pelanggan.

Transaksi Saham Costco di Sini!

2. Walmart (WMT) & Kroger (KR)

Sebagai peritel makanan terbesar, Walmart dan Kroger sangat sensitif terhadap harga pangan.

  • Strategi Spread: Mereka biasanya menerapkan dynamic pricing. Jika harga susu naik dari supplier, mereka akan menaikkan harga di rak secara proporsional untuk menjaga spread. Namun, apabila dengan kenaikan bahan baku, laba producer akan tertekan apabila ia tidak menaikan pricing, lain cerita dengan WMT dn KR yang tidak memiliki dampak yang segitu besarnya. 
  • Risiko: Jika harga naik terlalu ekstrem, volume penjualan bisa turun karena daya beli masyarakat melemah (konsumen beralih ke merek generik yang lebih murah).

Beli Saham WMT di Sini!

Beli Saham KR di Sini!

Comparison Table: Strategi Pricing Emiten

Emiten

Strategi Utama

Keunggulan Saat Krisis

Costco (COST)

Membership-Based

Laba dari biaya member, harga barang tetap rendah untuk loyalitas.

Walmart (WMT)

EDLP (Every Day Low Price)

Menarik massa dengan harga termurah lewat skala ekonomi masif.

Kroger (KR)

Cost-Plus Pricing

Menjaga margin tetap stabil dengan menyesuaikan harga sesuai biaya modal.

Barang-Barang yang Terdampak Paling Parah

Kategori Barang

Alasan Kenaikan

Estimasi Dampak

Bensin & Oli

Harga minyak mentah melonjak akibat risiko perang.

Sangat Tinggi

Bahan Pangan (Gandum/Roti)

Gangguan pasokan pupuk dan biaya traktor (solar).

Tinggi

Kacang-kacangan & Rempah

Iran adalah eksportir utama pistachio dan saffron.

Sangat Tinggi

Tiket Pesawat

Surcharge bahan bakar jet dan penutupan rute udara.

Tinggi

Risks & Considerations (Mandatory for Finance)

  • Daya Beli Tertekan: Jika inflasi terlalu tinggi, konsumen akan mulai mengurangi pembelian barang non-esensial (elektronik, dekorasi), yang bisa memukul laba bersih.
  • Regulasi Pemerintah: Risiko tuduhan price gouging (mengambil untung berlebih saat krisis) dapat memicu investigasi hukum atau pajak tambahan.
  • Gangguan Inventaris: Jika rantai pasok putus total, supermarket tidak punya barang untuk dijual, seberapa pun tingginya permintaan.

Kesimpulan: Adaptasi di Tengah Krisis

Perang Iran 2026 membuktikan betapa rapuhnya sistem distribusi pangan kita. Bagi emiten seperti Costco dan Walmart, tantangan utamanya bukan sekadar kenaikan harga, melainkan bagaimana menjaga agar konsumen tetap datang saat dompet mereka makin tipis.

Dalam jangka pendek, emiten ritel besar yang memiliki kontrol rantai pasok kuat cenderung lebih bertahan (resilient) karena mereka mampu mengelola spread harga dengan lebih efisien dibanding toko ritel independen.

FAQ (Frequently Asked Questions)

  1. Mengapa harga bensin naik padahal minyak kita bukan dari Iran? Pasar minyak bersifat global; gangguan di satu titik meningkatkan permintaan dan harga di titik lain.
  2. Apakah Costco merugi jika harga barang naik? Tidak, Costco biasanya membebankan kenaikan harga ke konsumen sambil menjaga margin tipis, sementara laba utama mereka tetap dari biaya keanggotaan.
  3. Apa itu Private Label dan mengapa lebih murah? Merek seperti Kirkland (Costco) atau Great Value (Walmart) diproduksi tanpa biaya pemasaran besar, sehingga marginnya lebih tinggi bagi supermarket tapi harga tetap murah bagi Anda.
  4. Apakah saham ritel aman dibeli saat perang? Ritel kebutuhan pokok (Consumer Staples) biasanya dianggap sektor defensif yang aman saat pasar bergejolak.
  5. Berapa lama efek kenaikan harga ini bertahan? Tergantung durasi konflik; biasanya harga pangan memiliki efek lag (tertunda) dan butuh waktu lebih lama untuk turun kembali.
  6. Barang apa yang paling cepat naik harganya? Barang segar (sayur/buah) karena sangat bergantung pada biaya logistik cepat dan bahan bakar.

Sources 



Sumber : pluang.com

Apa Itu Portal Pengguna Jasa Bea Cukai dan Bagaimana Cara Membuatnya?

Punya pengalaman belanja produk dari luar negeri atau berbisnis ekspor dan impor barang? Kamu tentu tidak asing dengan Portal Pengguna Jasa, yang adalah layanan dari Bea Cukai, bukan?

Bea cukai adalah “gerbang” lalu lintas keluar masuk berbagai barang dari luar ke dalam negeri maupun dari dalam ke luar negeri. Tugas portal ini ialah mengawasi apakah barang tersebut merupakan barang legal atau ilegal.

Dengan kemudahan teknologi yang kini serba canggih, para pebisnis tentunya dimudahkan juga untuk melakukan ekspansi bisnis ke luar negeri. Apalagi, Dirjen Bea Cukai (DJBC) Kemenkeu kini mempermudah para pelanggannya dengan berbagai fitur layanan andal dari portal mereka. Tinggal klik http://customer.beacukai.go.id, maka kita akan diantarkan pada portal serba-terintegrasi ini.

Portal pengguna jasa adalah sistem integrasi seluruh layanan DJBC kepada semua pengguna jasa yang bersifat publik. Semua pengguna jasa dapat mengakses informasi dari mana pun, kapan pun, asalkan terhubung dengan internet.

Sistem berbasis web ini terdiri dari berbagai subsistem/modul yang terintegrasi. Di antaranya mencakup modul registrasi kepabeanan, modul layanan seperti cukai online dan perizinan online, modul informasi PIB (Pemberitahuan Impor Barang) dan PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang), sampai modul untuk melakukan pengaduan.

Para pengguna Portal Pengguna Jasa dapat mengetahui status terkini PIB yang diajukan hingga melacak jejak proses dokumennya. Portal menggunakan mekanisme Single Sign On (SSO), dengan satu user ID dan kata sandi, seorang pengguna dapat mengakses semua fitur aplikasi yang disediakan DJBC.

Baca juga: Per 30 Januari, Belanja dari Luar Negeri Minimal Rp45.000, Dikenai Pajak

Apa Saja Fitur Portal Pengguna Jasa?

Berikut ini adalah detail dari masing-masing layanan yang ditangani dalam situs web Portal Pengguna Jasa:

1. Registrasi Kepabeanan

Sebelum menggunakan jasa dan melakukan kegiatan yang terkait Kepabeanan dan Cukai, kamu wajib melakukan pendaftaran untuk mendapatkan Nomor Induk Kepabeanan atau NIK melalui Sistem Registrasi Kepabeanan. NIK ini yang nantinya akan kamu pergunakan sebagai identitas dalam setiap kegiatan.

2. Layanan Kepabeanan dan Cukai

Dalam bagian ini, pengguna akan dapat mengakses berbagai layanan online yang sudah disediakan dalam Portal Pengguna Jasa adalah:

  • Submit Dokumen Pelengkap, sistem layanan online untuk pengguna jasa Bea Cukai dapat mengirimkan berkas-berkas yang digunakan sebagai lampiran pemberitahuan pabean atau cukai secara softcopy untuk menggantikan berkas hardcopy yang selama ini harus disampaikan langsung ke kantor bea cukai bersangkutan. Dengan fitur ini, pengguna bisa banyak hemat waktu dan tenaga. Tinggal klik tombol send dan tidak perlu repot-repot datang ke kantor Bea Cukai setempat.
  • Fitur Sistem Perijinan Online, sistem layanan online yang dapat digunakan pengguna untuk mengajukan dokumen perizinan untuk mendapatkan fasilitas kepabeanan dan cukai. Fasilitas-fasilitas tersebut contohnya fasilitas pembebasan ataupun penangguhan, dan lainnya. Bagian ini juga meliputi perizinan sampai bidang kawasan berikat.
  • Sistem Aplikasi Cukai Online, aplikasi yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai ini menyediakan fitur untuk para Pengusaha Barang Kena Cukai secara Online. Dengan menggunakan aplikasi ini, pengguna jasa dapat dengan mudah melakukan kegiatan di bidang cukai langsung dari kantor masing-masing.

3. Publikasi Data Kepabeanan

  • Akses Browse Data Manifes (BC 1.1), fitur di mana kita dapat melihat data manifes atas barang impor yang akan diajukan pemberitahuannya.
  • Browse Data PIB (Pemberitahuan Impor Barang), fitur Portal Pengguna Jasa ini memungkinkan kita dapat melihat status Dokumen PIB yang pernah diajukan secara realtime beserta dengan data statistik bulanannya secara lengkap.
  • Fitur Browse Data PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang), fitur yang memiliki fungsi untuk melihat status Dokumen PEB yang pernah diajukan secara realtime beserta dengan data statistik bulanannya.
  • Browse Data Utang, fitur yang berfungsi untuk melihat data utang yang masih menjadi tanggungan untuk diselesaikan kewajiban bayarnya oleh pengguna jasa bea dan cukai.

4. Publikasi Referensi 

Fitur di mana kita dapat melakukan publikasi informasi mengenai data-data yang secara tetap digunakan dalam berbagai sistem seperti data satuan, data gudang, data kurs, hingga data pelabuhan.

5. Layanan Pengaduan Portal Pengguna Jasa

Fitur dalam Portal Pengguna Jasa sebagai fasilitas untuk para pengguna di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melakukan pengaduan terkait dengan pelanggaran disiplin dan tidak pidana yang dilakukan oleh Pegawai Bea Cukai. Setiap pengguna yang sudah memiliki akses dalam portal ini dapat menyampaikan pengaduan dan memperoleh informasi tanggapan secara realtime.

Baca juga: Akan Dijual Seharga Rp10 Ribu, Sri Mulyani Segera Terapkan Materai Digital

Cara Registrasi Portal Pengguna Jasa Bea Cukai

Sebelum mendapatkan akses penuh ke Portal Pengguna Jasa, kamu harus terdaftar sebagai pengguna portal. Bagaimana caranya? Berikut ini tahap registrasinya:

  • Buka situs www.customer.beacukai.go.id
  • Klik Pendaftaran User Baru yang berada di sebelah kanan layar
  • Isi formulir
  • Setelah selesai, akan muncul notifikasi bahwa registrasi user berhasil dilaksanakan
  • Aktifkan pengguna Portal Pengguna Jasa dengan mengklik tautan aktivasi yang dikirimkan ke email pendaftaran pengguna
  • Apabila sudah aktif, lakukan sign in
  • Klik Registrasi Kepabeanan (di sebelah kiri)
  • Klik tulisan “Klik di sini” (warna biru di bagian bawah)
  • Pilih tempat kegiatan usaha, klik “Nasional” lanjutkan
  • Selanjutnya, pilih personalisasi akun untuk menentukan jenis pengguna jasa, lalu simpan
  • Pilih menu data isian registrasi, lalu isikan tiap formulir dan unggah dokumen
  • Unduh dan baca petunjuk pengisian sebagai panduan dalam pengisian form isian

Setelah selesai mendaftar di Portal Pengguna Jasa, kamu sudah bisa sign-in di situs tersebut dan memanfaatkan berbagai fiturnya.

Manfaat Portal Pengguna Jasa

Kehadiran portal pengguna jasa tentu sangat bermanfaat bagi para pelaku ekspor-impor. Sebab, hanya dengan login di situs ini, mereka bisa memantau status dari layanan yang diajukan secara real time. Misalnya, mereka bisa tahu status terbaru dari Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) atau Pemberitahuan Impor Barang (PIB) mereka. Selain itu, mereka juga bisa memeriksa apakah perizinan online mereka memiliki dokumen yang tepat atau tidak secara daring.

Hal ini tentu akan memudahkan importir dan eksportir. Sebab, mereka tak perlu repot-repot bertandang ke kantor Bea Cukai hanya untuk menanyakan status terbaru kegiatan ekpor-impor mereka.

Dengan cara manual, biasanya pengusaha akan membuat dokumen pemberitahuan pabean, mencetaknya, dan membawanya ke Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea Cukai (KPPBC). Setelahnya, petugas Bea Cukai akan menerima berkas tersebut dan memberikan nomornya secara langsung. Tentu kegiatan itu bikin boros waktu, kan?

Nah, selama urusan bisa diselesaikan secara daring, tak perlu lagi repot-repot urus izin bea cukai secara manual!

Baca juga: Whatsapp Mulai Ditinggalkan Penggunanya, Kenapa?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Beacukai.go.id, Customer Beacukai, Karinov



Sumber : pluang.com

Tarif Kapal LNG Naik 650%: Krisis di Balik Angka $300.000 Per Hari

Key Takeaways

  • Lonjakan Drastis: Tarif sewa spot kapal LNG naik 650% akibat kelangkaan armada dan gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
  • Disrupsi Suplai: Qatar telah menyatakan force majeure, menghentikan sebagian produksi dan pengiriman gas ke pasar global (20% suplai dunia terdampak).
  • Perubahan Rute: Kapal kini harus menempuh perjalanan lebih jauh (misal: AS ke Asia), meningkatkan permintaan “ton-mile” yang menguras ketersediaan kapal tanker.
  • Intervensi AS: Jaminan keamanan navigasi dari AS sedikit meredam harga gas, namun biaya sewa kapal tetap tinggi karena risiko geopolitik yang permanen.

Quick Facts Table

Indikator

Data Terbaru (Maret 2026)

Data Sebelumnya (Feb 2026)

Perubahan (%)

Tarif Sewa Spot LNG

$300.000 / hari

$40.000 / hari

+650%

Harga Gas Asia (Spot)

$23,80 / mmBtu

~$12,00 / mmBtu

+98%

Suplai Terganggu

Qatar & UEA (20% Global)

Normal

N/A

Rute Terdampak

Teluk AS – Asia / Eropa

Normal

Signifikan

Apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa biaya pengiriman bisa menjadi seharga mobil mewah setiap harinya?

Selat Hormuz: Titik Krusial Minyak dan LNG yang Terhenti

Pemicu utamanya adalah eskalasi konflik di Timur Tengah. Selat Hormuz, jalur air sempit yang dilewati sekitar 20% suplai LNG dunia, saat ini hampir lumpuh. Ketegangan yang melibatkan Iran telah memaksa lalu lintas tanker melambat, bahkan berhenti total di beberapa titik karena masalah keamanan.

Ketika jalur terpendek tertutup, kapal-kapal harus memutar. Dan di dunia pelayaran, jarak lebih jauh = waktu lebih lama = kapal yang tersedia semakin langka.

Qatar Mulai Nyatakan ‘Force Majeure’

Qatar, raksasa LNG dunia, terpaksa menghentikan produksinya awal pekan ini setelah adanya gangguan pada fasilitas industri mereka. Pengumuman force majeure (keadaan darurat yang membatalkan kontrak) membuat para pembeli besar di Asia—seperti Jepang, Korea Selatan, dan China—panik.

Mereka kini berebut mencari kargo pengganti dari Amerika Serikat atau Australia. Masalahnya, mengirim gas dari AS ke Asia memakan waktu berkali-kali lipat lebih lama dibandingkan dari Qatar. Inilah yang menyebabkan lonjakan permintaan kapal tanker secara instan.

Tarif Kapal Berpotensi Makin Tinggi 

Pasar sempat sedikit tenang setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan memberikan jaminan risiko politik dan pengawalan angkatan laut bagi tanker yang melintasi Selat Hormuz. Harga gas sempat turun tipis dari puncaknya di $25,40 per mmBtu.

Namun, tarif kapal tetap tinggi dan berpotensi makin naik apabila perang tidak mereda. Mengapa? Karena meskipun ada pengawalan, proses konvoi militer justru memakan waktu lebih lama dan menambah antrean kapal di luar selat. Efisiensi logistik tetap terganggu, dan pemilik kapal tetap mematok harga premium untuk risiko “zona perang”.

Apa Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia?

Meskipun kita tidak membahas saham secara spesifik, efek domino dari tarif $300.000/hari ini akan terasa ke dompet masyarakat global:

  • Inflasi Energi: Biaya angkut yang mahal akan dibebankan ke harga jual gas. Di negara yang bergantung pada LNG untuk pembangkit listrik, biaya tagihan listrik berpotensi naik.
  • Gangguan Industri: Industri pupuk dan manufaktur yang menggunakan gas sebagai bahan baku utama mulai merasakan tekanan margin yang berat.
  • Perubahan Rute Abadi: Krisis ini memaksa dunia untuk tidak lagi bergantung pada satu jalur (Hormuz). Investasi pada jalur pipa darat atau terminal LNG di lokasi yang lebih aman diprediksi akan dipercepat.

Risks & Considerations 

  1. Volatilitas Ekstrim: Tarif $300.000/hari bisa turun secepat ia naik jika ketegangan geopolitik mereda secara tiba-tiba.
  2. Biaya Operasional: Kenaikan tarif ini meningkatkan biaya input bagi industri manufaktur dan pembangkit listrik, yang dapat memicu inflasi global.
  3. Risiko Keamanan: Adanya ancaman fisik terhadap aset (kapal) di wilayah konflik dapat membatalkan asuransi pengiriman atau menaikkan premi asuransi secara gila-gilaan.
  4. Intervensi Politik: Kebijakan pemerintah (seperti pengawalan militer) dapat mengubah dinamika harga dalam hitungan jam.

Kesimpulan

Lonjakan tarif pengiriman LNG ini adalah pengingat betapa rapuhnya rantai pasok energi global. Saat ini, pasar tidak lagi hanya menghitung harga komoditas, tapi juga menghitung keamanan jalur dan ketersediaan armada.

Bagi para pengamat pasar di Pluang, situasi ini menunjukkan bahwa volatilitas tidak hanya datang dari laporan laba perusahaan, tapi juga dari koordinat geografis di peta dunia.

FAQ (Frequently Asked Questions)

  1. Mengapa tarif kapal naik padahal harga gas sempat turun sedikit? Harga gas dipengaruhi oleh sentimen suplai, sedangkan tarif kapal dipengaruhi oleh ketersediaan fisik kapal di laut yang tetap langka selama rute masih terganggu.
  2. Apa itu Force Majeure yang dinyatakan Qatar? Itu adalah klausul hukum yang membebaskan perusahaan dari tanggung jawab kontrak karena kejadian di luar kendali mereka (seperti perang atau bencana).
  3. Apakah Indonesia terdampak? Sebagai eksportir LNG, Indonesia bisa mendapat keuntungan dari harga gas yang tinggi, namun biaya distribusi untuk impor gas tertentu juga akan membengkak.
  4. Berapa lama lonjakan tarif ini akan bertahan? Tergantung pada stabilitas Selat Hormuz. Jika blokade berlanjut, tarif tinggi bisa bertahan sepanjang tahun 2026.
  5. Siapa yang membayar biaya $300.000/hari ini? Biasanya dibayar oleh perusahaan perdagangan energi (traders) atau pembeli akhir (importir).
  6. Apakah ada kapal baru yang bisa membantu? Produksi kapal LNG memakan waktu bertahun-tahun; tidak ada solusi instan untuk menambah armada dalam jangka pendek.

Sources 



Sumber : pluang.com

Mau Investasi Bitcoin dengan Risiko Rendah? Yuk, Ikuti Tips Berikut!

Apa tips investasi bitcoin dengan risiko yang rendah? Pertanyaan itu muncul seiring harga bitcoin telah berkembang pesat sejak mencapai titik terendah di bawah US$4.000 pada bulan Maret. Aset kripto ini mencatat rekor tertinggi pada akhir tahun 2020 dan terus menguat hingga awal pekan ini, yang bahkan menembus US$60.000 per keping untuk pertama kalinya.

Sementara partisipasi investor institusi telah meningkat, sebagian besar dari kelompok investor ritel mungkin menjauh dari pasar. Untuk kelompok investor ritel, ketakutan akan ketinggalan “momen” atau fear of missing out (FOMO) untuk mendapatkan keuntungan tiga digit mungkin menjadi momok saat ini.

Bagi investor ritel, berinvestasi saat aset kripto diperdagangkan mendekati level tertinggi mungkin tampak berisiko lantaran selalu ada potensi koreksi harga yang signifikan. Apalagi, Bitcoin telah mengalami beberapa penurunan lebih dari 20% selama pasar bullish sebelumnya.

Dengan demikian, investor yang ingin membeli bitcoin sekarang harus mempertimbangkan untuk menerapkan strategi Dollar-Cost Averaging (DCA).

“Ini adalah cara yang baik untuk membangun eksposur ke bitcoin serta kelas aset lainnya seperti indeks ekuitas global, karena keduanya terlihat akan berkinerja baik dengan latar belakang tingkat riil negatif untuk beberapa tahun ke depan,” ujar Scott Weatherill, Kepala Diler B2C2 Jepang.

Lantas, apa itu strategi Dollar-Cost Averaging (DCA)?

Baca juga: Mengenal Konsep Dollar Cost Averaging

Tips Investasi Bitcoin: Dollar-Cost Averaging dapat Menghemat Uang

Dollar cost averaging (DCA), juga dikenal sebagai constant dollar plan, melibatkan pembelian aset dalam jumlah yang lebih kecil secara berkala, terlepas dari perputaran harga, alih-alih menginvestasikan seluruh jumlah pada satu waktu. Strategi ini membantu investor melepas tekanan emosional dalam perdagangan dan dapat menghasilkan biaya pembelian rata-rata yang lebih rendah.

Dollar Cost Averaging dalam bitcoin secara historis menjadi strategi yang sangat menguntungkan yang menurunkan risiko,” kata Scott Weatherill.

Sebagai ilustrasi, katakanlah seorang investor telah mengumpulkan Bitcoin senilai US$100 dengan harga tertinggi yang diamati pada tanggal 17 setiap bulan. Misalkan hal itu dimulai sejak 17 Desember 2017 saat harga Bitcoin mencapai puncaknya di US$19.783.

Pada saat press time, investor itu akan memiliki sekitar 0,48 BTC dengan biaya rata-rata sekitar US$8.660. Ini juga berarti investor akan memperoleh keuntungan hampir 120% saat harga pasar Desember 2020 US$18.850.

Namun, jika investor melakukan investasi sekaligus saat harga rekor US$19.783 pada 17 Desember 2017, investasi tersebut di periode yang sama akan mengalami kerugian 4,7%. Dalam jangka panjang, kerugian itu bisa menjadi lebih signifikan bila disesuaikan dengan inflasi.

Dalam contoh lainnya, seorang investor “menyebarkan” US$3.600 selama 36 bulan, dengan membeli lebih sedikit Bitcoin saat harga tinggi dan lebih banyak lagi saat harga rendah. Hal itu membantu menurunkan biaya rata-rata dan mendatangkan keuntungan besar. Strategi tersebut telah memberikan hasil yang serupa selama siklus bull-bear sebelumnya.

“Idealnya, seseorang harus berinvestasi dengan harapan dapat menjual dengan harga yang lebih tinggi dalam jangka panjang. Cara terbaik, menurut saya, adalah membeli setiap bulan dan membangun posisi dalam jangka panjang,” kata Chris Thomas, Kepala Produk di Swissquote Bank.

Tips Investasi Bitcoin: Pahami Risiko Strategi Opsi Tertentu untuk Investor Ritel

Beberapa investor mungkin berpikir untuk menerapkan strategi campuran melalui pasar derivatif, seperti membeli opsi jual (put option) terhadap posisi beli di pasar spot. Hal ini akan mendapatkan nilai jika terjadi aksi jual, mengurangi kerugian (di atas kertas) di posisi pasar long spot.

Namun, strategi seperti itu lebih cocok untuk spekulan yang berniat mendapatkan keuntungan dari volatilitas harga jangka pendek. Di mana, hal itu akan bertentangan dengan gagasan untuk menurunkan biaya pembelian rata-rata melalui strategi DCA.

“Saya tidak akan merekomendasikan membeli opsi jika Anda melakukan dollar cost averaging, karena akan menghambat pengembalian keuntungan,” kata Scott Weatherill.

Opsi jual adalah kontrak derivatif yang memberikan hak kepada pembeli tetapi bukan kewajiban untuk menjual aset yang mendasarinya pada harga yang telah ditentukan pada atau sebelum tanggal tertentu. Sementara opsi beli (call option) memberikan hak untuk membeli.

Pembeli opsi harus membayar premi di muka saat mengambil posisi long call/put. Posisi long put menghasilkan uang hanya jika aset menetap di bawah harga put pada hari opsi kadaluarsa. Jika tidak, opsi kadaluarsa tidak berharga, menyebabkan kerugian – dalam hal ini, premi yang dibayarkan – untuk pembeli.

Terlebih lagi, mereka yang mencoba menggabungkan DCA dengan lindung nilai opsi mungkin akan merugikan portofolionya. Misalnya, jika seorang investor membeli saham saat dollar cost averaging dan pasar naik, opsi yang dibeli untuk melindungi nilai dari potensi penurunan akan mengeluarkan uang, mengurangi keuntungan keseluruhan dari rata-rata biaya dolar.

“Investor ritel harus menjauh dari perdagangan opsi,” Thomas memperingatkan. 

Baca juga: Apa Itu Opsi Saham?

Tips Investasi Bitcoin: Cerdas Berinvestasi

Trader Bitcoin yang cerdas sering kali menghasilkan pendapatan tambahan dengan menjual opsi call jauh di atas harga spot Bitcoin saat ini, dengan harapan bahwa harga Bitcoin tidak akan reli di atas titik opsi call tersebut. Namun, jika melakukan posisi short call, pemegang secara teoritis dapat menderita kerugian tak terbatas.

Dalam kasus Bitcoin, hal itu sangat berisiko karena sentimen tetap bullish, sementara analis memprediksi kenaikan yang berkelanjutan pada peningkatan permintaan investor institusi. Dengan demikian, menjual call option sementara melakukan dollar cost averaging dapat menjadi mahal.

“Meskipun mungkin ada godaan untuk mengoptimalkan melalui berbagai strategi perdagangan, uang untuk investasi baru harus tetap pada strategi tertentu. Pertama bisa bertahan lama, dan kedua membeli saat terjadi penurunan,” kata Jehan Chu, Managing Partner Kenetic Capital.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Nasdaq



Sumber : pluang.com

Anomali di Tengah Perang, ETF Bitcoin Catat Inflow Rp18 Triliun

Menurut data terbaru dari Glassnode, instrumen Spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat mencatatkan net inflow sebesar $1,1 miliar atau setara kurang lebih Rp18 triliun hanya dalam hitungan hari sejak konflik Iran dimulai. Fenomena ini menandai berakhirnya tren outflow (arus keluar) yang sempat terjadi selama beberapa minggu berturut-turut.

Beli Coin BTC di Sini!

Key Takeaways

  • Institutional Re-Accumulation: Setelah berminggu-minggu arus keluar (outflow), institusi besar kembali melakukan akumulasi Bitcoin senilai $1,1 miliar dalam waktu singkat.
  • Sentimen Geopolitik: Bitcoin menunjukkan pemulihan harga yang cepat di angka $71.000+ meskipun sempat terkoreksi saat konflik di Timur Tengah dimulai.
  • Dominasi BlackRock: BlackRock (IBIT) memimpin arus masuk dengan kontribusi lebih dari $300 juta dalam satu hari, mempertegas dominasinya sebagai pemain utama ETF.
  • Divergensi Emas: Terjadi anomali performa aset dimana Bitcoin mencatatkan kenaikan sekitar 13,7% pasca-konflik, sementara emas justru mengalami penurunan sekitar 8%, menunjukkan pergeseran perilaku investor.

Quick Facts Table

Indikator

Data Terbaru

Total Inflow (3 Hari Terakhir)

$1,1 Miliar

Harga Bitcoin Saat Ini

~$71.189

Pemimpin Inflow Harian

BlackRock (IBIT) – $306,6 Juta

Performa Bitcoin (Pasca-Konflik)

Naik +12% s.d +13,7%

Status Trend Glassnode

Positif (14-day Netflow Uptrend)

Institusi Mulai “Serok” Bitcoin Kembali

Laporan Glassnode menunjukkan adanya sinyal institutional re-accumulation. Setelah sempat melakukan distribusi (penjualan), para pemegang modal besar tampaknya mulai kembali mengakumulasi aset mereka.

Meskipun Glassnode menyebut permintaan ini masih bersifat “tentatif” atau berhati-hati, tren arus masuk 14 harian telah berbalik positif. Data dari SosoValue memperkuat hal ini dengan mencatat total arus masuk lebih dari $1,1 miliar dalam tiga hari terakhir, mengakhiri rekor kerugian yang sempat terjadi selama lima minggu sebelumnya.

BlackRock Memimpin Barisan Akumulasi Bitcoin

Siapa saja pemain di balik angka fantastis ini? Raksasa manajemen aset tetap menjadi motor utamanya:

  • BlackRock (IBIT): Mencatatkan inflow terbesar senilai $306,60 juta dalam satu hari.
  • Grayscale: Menambah $54,10 juta.
  • Fidelity (FBTC): Menarik modal sebesar $48 juta.
  • ARK 21Shares (ARKB): Mengikuti dengan $14,60 juta.

Secara kumulatif, BlackRock telah mengakumulasi sekitar 21.814 BTC sejak 24 Februari lalu. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan institusi terhadap Bitcoin sebagai aset strategis jangka panjang tetap kokoh, bahkan di tengah ketidakpastian global.

Anomali Bitcoin vs Emas di Tengah Perang 

Salah satu sorotan paling menarik dalam reli kali ini adalah perbandingannya dengan emas. Biasanya, emas dianggap sebagai safe haven utama saat terjadi perang. Namun, kali ini terjadi anomali:

Aset

Pergerakan Awal Konflik

Pergerakan Terkini

Emas

Naik ~4% ke $5.400

Turun sekitar 8%

Bitcoin

Turun ~8% ke $63.000

Naik sekitar 13,77%

Analis ETF Bloomberg, Eric Balchunas, mencatat bahwa Bitcoin berhasil tumbuh sekitar 12% sejak serangan dimulai, sementara emas justru mengalami penurunan. Meski terlalu dini untuk menyebut Bitcoin telah menggantikan peran emas sepenuhnya, data ini menunjukkan bahwa Bitcoin semakin diterima sebagai alternatif lindung nilai (hedging) digital.

Apa Maknanya Bagi Investor Bitcoin?

Kembalinya aliran dana ke ETF secara langsung mendukung permintaan di pasar spot. Dengan harga BTC yang bertengger di kisaran $71.189 (naik sekitar 20% dari titik terendah siklus Februari), sentimen pasar tampak kembali optimis.

CEO VanEck bahkan memprediksi bahwa reli Bitcoin akan berlanjut secara bertahap hingga tahun 2026, didorong oleh adopsi ETF yang semakin matang.

Risks & Considerations (Penting!)

  1. Volatilitas Ekstrem: Meskipun institusi masuk, Bitcoin tetap memiliki fluktuasi harga yang jauh lebih tinggi dibanding aset tradisional.
  2. Risiko Geopolitik: Eskalasi konflik yang lebih luas dapat menyebabkan kepanikan pasar global yang bisa memicu aksi jual mendadak (flash crash).
  3. Ketidakpastian Regulasi: Perubahan kebijakan mendadak terkait kripto di AS atau wilayah lain dapat mempengaruhi arus modal ETF.
  4. Tentative Demand: Sebagaimana catatan Glassnode, permintaan saat ini masih dikategorikan “berhati-hati”, bukan agresif.

FAQ (Tanya Jawab)

  1. Apa itu net inflow pada Bitcoin ETF? Selisih antara total uang yang masuk (pembelian) dan uang yang keluar (penjualan) dari dana ETF. Angka positif berarti lebih banyak orang membeli.
  2. Mengapa Bitcoin sempat turun saat perang Iran dimulai? Biasanya terjadi reaksi spontan risk-off, di mana investor menjual aset berisiko untuk memegang uang tunai atau emas.
  3. Siapa pemegang ETF Bitcoin terbesar saat ini? Berdasarkan data aliran dana, BlackRock (IBIT) adalah pemegang posisi dominan dengan akumulasi harian tertinggi.
  4. Apakah kenaikan ini akan permanen? Tidak ada jaminan. Namun, akumulasi institusi biasanya menunjukkan pandangan jangka menengah hingga panjang (6-12 bulan ke depan).
  5. Mengapa emas turun saat Bitcoin naik? Hal ini bisa disebabkan oleh aksi ambil untung (profit taking) pada emas atau pergeseran likuiditas investor ke aset yang menawarkan pertumbuhan lebih tinggi seperti BTC.
  6. Kapan prediksi puncak reli Bitcoin ini? Beberapa analis, termasuk CEO VanEck, memperkirakan reli bertahap yang didorong ETF dapat berlanjut hingga tahun 2026.
  7. Apa peran Glassnode dalam data ini? Glassnode menyediakan data on-chain dan analisis aliran modal yang membantu mengidentifikasi apakah tren pasar digerakkan oleh ritel atau institusi.
  8. Apakah saya harus membeli sekarang? Keputusan tergantung profil risiko Anda. Inflow institusi adalah sinyal positif, namun diversifikasi tetap kunci utama.

Sources 



Sumber : pluang.com

Kenapa Emas Disebut Logam Mulia? Yuk, Simak Penjelasannya di Sini!

Siapa yang tidak kenal dengan emas? Dalam dunia investasi, emas memang memiliki kasta yang tinggi dibanding teman-teman logamnya yang lain. Makanya, tak heran jika orang memberi arti emas sebagai logam mulia.

Belakangan, popularitas logam mengkilap itu kian meningkat lantaran harganya yang sempat menembus level Rp1 juta untuk setiap gramnya. Selain itu, emas pun memiliki manfaat sebagai salah satu instrumen yang kerap dianggap sebagai safe heaven. Yakni, aset yang bisa melindungi nilai kekayaan dari gerusan inflasi.

Namun, apakah kamu penasaran. Kenapa sih, emas bisa dijuluki sebagai logam mulia?

Emas menyandang status sebagai logam mulia sejak dulu karena beberapa hal. Bukan karena emas termasuk dalam logam langka yang sulit ditemukan, melainkan karena panjangnya proses ekstraksi untuk bisa menemukan kandungan emas dalam logam tersebut, yang sulit untuk dilakukan dengan teknologi zaman dulu.

Namun, selain penjelasan di atas, terdapat beberapa alasan secara sains dan sosiologis yang mendukung status emas sebagai logam mulia. Apa saja alasan tersebut?

Arti Logam Mulia: Ini 4 Alasan Kenapa Emas Disebut Logam Mulia

1. Unsur Kimia Emas Terbilang Unik

Di dalam tabel periodik kimia, emas dikenal dengan nama Aurum dengan simbol Au. Emas merupakan satu dari 49 elemen yang berada di “zona transisi”, atau elemen yang terletak di bagian tengah dari tabel periodik bersama besi, aluminium, tembaga, dan perak.

Dari seluruh ke-49 elemen tersebut, emas merupakan salah satu dari delapan logam yang mudah untuk dilelehkan dan dibentuk ke dalam bentuk-bentuk yang diinginkan. Artinya, memecah nilai emas ke dalam beberapa bentuk terbilang sangat mudah.

Di samping itu, keunikan lain emas dan tidak dimiliki oleh logam lainnya adalah reaksinya terhadap elemen kimia lain. Berbeda dengan perak yang bereaksi terhadap sulfur atau besi yang bereaksi terhadap proses oksidasi, emas terbukti tidak pernah menunjukkan perubahan bentuk atau bereaksi terhadap elemen kimia lainnya.

Alhasil, emas menjadi logam yang tidak pernah berkarat. Artinya, bentuk emas saat ini akan tetap sama pada 1.000 tahun mendatang. Unsur kimia inilah yang membuat emas lebih “mulia” dibanding logam-logam lainnya.

Dengan keistimewaannya yang tahan akan korosi, artinya nilai, berat, dan kandungan emas pun pada dasarnya akan tetap sama seiring berjalannya waktu. Oleh karenanya, tak mengherankan jika ia cocok dijadikan sebagai instrumen penyimpan kekayaan oleh masyarakat

2. Arti Logam Mulia: Biaya Produksi Emas Juga Terbilang “Mulia”

Harga emas tidak ditentukan oleh organisasi mana pun. Melainkan, tergantung dari ongkos produksi yang harus dikeluarkan untuk bisa mendapatkan emas, mulai dari proses menambang dari tanah, kemudian melakukan ekstraksi dan memurnikannya.

Nah, kondisi itu berbeda dengan jenis logam lain, di mana proses untuk mendapatkannya relatif mudah. Sehingga, beberapa organisasi bisa menetapkan harga acuan terhadap jenis-jenis logam yang lain tersebut.

Lantas, mengapa emas susah didapatkan? Alasan sederhananya adalah emas berada jauh dari permukaan bumi.

Seperti aluminium misalnya, logam yang memiliki lambang Al itu relatif lebih mudah ditemui pada lapisan kerak bumi. Sedangkan emas, berada pada lapisan mantel bumi, satu lapis lebih dalam dari bagian kerak bumi. Tak heran jika biaya menambang emas tentu akan lebih mahal dibandingkan logam lainnya.

Namun sejatinya, terdapat dua hal lain yang menentukan nilai dari logam. Pertama, yakni popularitas. Kedua, adalah kelangkaannya.

Dalam konteks emas, ia memiliki jumlah yang melimpah di muka bumi ini. Namun, karena popularitasnya, maka emas terus mengalami kenaikan dan cenderung memiliki harga yang tetap.

Baca juga: Pergerakan Harga Emas Indonesia vs Harga Emas Dunia

3. Arti Logam Mulia: Emas Menjadi “Mulia” Hasil Konstruksi Sosial

Sejak zaman peradaban Mesir hingga Inca, emas sudah memiliki tempat tersendiri bagi masyarakat. Baik itu secara aktual maupun secara simbolis. Nilai emas yang terkandung di dalamnya adalah bentuk dari konstruksi sosial, di mana hampir semua orang setuju bahwa dari dulu, atau di masa yang akan datang, emas memiliki nilai berharga.

Emas juga bisa menjadi sesuatu yang kuantitatif dan berwujud, seperti uang. Namun pada saat yang sama, emas juga dapat merefleksikan sesuatu yang fana, imajiner. Seperti perasaan nyaman, senang, bahagia.

Oleh karena itu, emas juga kerap dikatakan mengandung nilai psikologis dan hakikat pengalaman manusia. Tidak melulu soal nilai dari barang tersebut, tetapi lebih dalam lagi, emas juga membincang soal hati dan juga konsep diri. Hal itu pula yang membuat emas dianggap sebagai logam mulia

Namun, beberapa orang beranggapan bahwa emas tidak memiliki nilai intrinsik. Bahkan dikatakan dalam lingkungan ekonomi modern, mata uang kertas adalah uang yang tepat untuk dijadikan alat untuk bertransaksi, sementara emas hanya berharga sebagai bahan pembuat perhiasan.

Dalam dunia moneter, terdapat dua macam nilai pembentuk mata uang yakni nilai intrinsik dan nilai nominal. Nilai intrinsik merupakan nilai bahan untuk membuat mata uang, sedangkan nilai nominal adalah nilai yang terdapat dalam mata uang yang diperdagangkan.

Baca juga: Ada Nggak Sih Pajak Penjualan Emas Batangan dan Bagaimana Perhitungannya?

4. Bukan Hanya Emas yang Dianggap Logam Mulia

Namun, posisi emas sebagai logam mulia pun bukan status yang mutlak. Sebab ternyata, ada juga “pesaing” emas dalam memperoleh status logam mulia seperti platinum atau paladium. Dua logam tersebut juga dianggap tahan terhadap sedikit korosi, namun jarang untuk dijadikan koin sebagai sarana perdagangan lantaran keduanya baru bisa dilelehkan dalam suhu yang tinggi.

Instrumen emas juga disebut sebagai pilihan logis untuk sistem pertukaran alias barter. Dalam keadaan bencana, di mana uang kertas dan sistem moneter tidak begitu mendukung, banyak orang akan kembali ke emas. Bahkan bisa dibilang bahwa emas adalah satu-satunya zat di bumi untuk bisa digunakan dalam berbagai hal dan kondisi, termasuk keberlanjutan.

Baca juga: 5 Trik Cerdik Bagaimana Semestinya Investor Pemula Menghadapi Inflasi

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: BBC, Investopedia, Times of India



Sumber : pluang.com

Investor Pemula Wajib Tahu! Simak Istilah Umum Reksa Dana Ini

Sejak Pandemi Covid-19 melanda, investasi menjadi tren bagi kalangan muda. mereka mulai belajar investasi saham, aset kripto, logam mulia ataupun reksadana. Meningkatnya tingkat literasi keuangan di Indonesia yang bergerak ke angka 40% di 2020, menjadi salah satu alasan mengapa instrumen investasi banyak diburu oleh banyak orang.

Nah. untuk kamu investor pemula, pahami istilah dalam investasi agar kamu bisa lebih cerdas berinvestasi.

Salah satu instrumen investasi yang banyak dijadikan rujukan bagi investor pemula adalah reksadana. Betapa tidak, dengan imbal hasil rata-rata yang lebih tinggi dari deposito namun dengan risiko yang lebih rendah dari investasi saham membuat reksadana menjadi opsi menarik bagi investor yang baru menyecap dunia investasi.

Reksadana sendiri adalah wadah untuk menghimpun dana masyarakat yang pengelolaan dananya dilakukan oleh manajer investasi. Berbeda dengan investasi saham dimana investor harus memantau terus pergerakan harganya setiap perdagangan, dalam reksa dana investor akan menerima laporan pengelolaan dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi setiap harinya.

Bentuk hukum reksa dana dapat berupa Perseroan atau Kontrak Investasi Kolektif (KIK). Jika dibagi berdasarkan jenisnya, terdapat beberapa jenis reksa dana yang umum di perdagangkan, seperti reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana campuran, reksa dana pasar uang dan masih banyak lagi.

Nah, biar tidak bingung dan bisa belajar reksadana, berikut merupakan beberapa istilah umum reksadana yang perlu diketahui

Baca juga: Apa Itu Reksadana?

5 Istilah yang Perlu Diketahui Saat Belajar Reksadana

1. Manajer Investasi

Istilah reksa dana yang perlu diketahui adalah Manajer Investasi atau MI. Dalam reksa dana, MI bertindak sebagai pengelola aset investasi masyarakat dalam portofolio efek. Ketika investor membeli produk reksa dana, Manajer Investasi yang akan mengalokasikan dana investor ke beberapa instrumen efek.

Mulai dari saham, obligasi atau surat utang, deposito, pasar uang, surat berharga ataupun kombinasi dari semuanya. Semuanya tergantung dari jenis reksa dana yang dipilih oleh investor. Dana kelolaan MI bisa berupa dana perorangan ataupun dana institusi.

2. Nilai Aktiva Bersih (NAB)

Saat sudah membeli produk reksa dana, maka investor akan menerima laporan berupa Nilai Aktiva Bersih (NAB) dari produk tersebut setiap bulannya. NAB juga bisa dikatakan sebagai nilai bersih dari setiap unit reksadana.

Perhitungan NAB adalah aset reksadana dkurangi kewajiban, sehingga hasilnya adalah nilai bersih dari setiap unit reksadana. NAB juga bisa dibilang sebagai total dana kelolaan reksa dana atau asset under management (AUM).

Namun bukan berarti semakin besar NAB dari reksadana maka semakin mahal harganya, NAB mencerminkan kepercayaan pasar terhadap produk reksadana tersebut.

3. NAB/UP

Istilah reksadana berikutnya adalah NAB/UP, maksudnya adalah Nilai Aktiva Bersih per Unit Penyertaan. Melansir laman Mandiri Investasi, NAB/UP bisa diartikan sebagai harga nilai setiap satu unit penyertaan reksa dana.

Harga tersebut didapatkan dengan membagi NAB dengan total unit penyertaan yang dimiliki oleh seluruh investor di dalam produk reksa dana tersebut. Bisa juga dibilang bahwa NAP/UP adalah harga dari produk reksa dana yang bisa dibeli oleh investor.

Harga NAB/UP cenderung fluktuatif, tergantung dari pergerakan harga efek yang terdapat dalam portofolio reksa dana tersebut.

4. Unit Penyertaan

Istilah reksadana lainnya yang bisa digunakan untuk belajar adalah Unit Penyertaan (UP). Investor akan mendapatkan jumlah unit penyertaan ketika dia membeli produk reksa dana. Misalnya, ada investor yang memberi reksa dana A Rp10 juta dengan NAP/UP Rp5.000, maka unit penyertaan yang dimiliki adalah sebesar 2.000 unit penyertaan.

Unit Penyertaan juga bisa di bilang sebagai total unit reksa dana yang dimiliki oleh investor dari produk reksa dana. Ketika harga NAB/UP-nya mengalami pergerakan, maka value dari unit penyertaan tersebut juga ikut bergerak.

5. Bank Kustodian

Bank Kustodian adalah Bank Umum yang memberikan jasa penitipan efek dan harta lain yang berkaitan dengan efek serta jasa lainnya. Bisa juga dikatakan Bank Kustodian bertindak sebagai pengawas dan penjaga aset berupa efek, termasuk di dalamnya reksa dana.

Jadi setiap transaksi pembelian reksa dana ataupun efek lainnya yang dilakukan oleh investor melalui Manajer Investasi terekam dan tercatat di Bank Kustodian.

Melansir laman OJK, Bank Kustodian hanya dapat mengeluarkan Efek atau dana yang tercatat pada rekening Efek atas perintah tertulis dari pemegang rekening atau Pihak yang diberi wewenang untuk bertindak atas namanya.

Baca juga: Kaum Milenial, Berapa Banyak Investasi yang Mesti Kamu Punya?

6. Subscription Fee

Saat membeli produk reksa dana, terdapat biaya pembelian atau istilah reksa dana umumnya adalah subscription fee yang dibebankan kepada investor. Namun tidak semua produk reksa dana memiliki biaya pembelian, banyak juga yang menggratiskan biaya tersebut untuk investor.

Nantinya pungutan biaya tersebut akan di bayarkan ke Agen Penjual Reksa Dana (APERD) yang ditunjuk oleh Manajer Investasi.

7. Redemption Fee

Istilah reksa dana berikutnya adalah redemption fee alias biaya pencairan. Setiap investor yang akan mencairkan Unit Penyertaan (UP) reksa dana yang dimiliki akan dipungut biaya pencairan oleh Manajer Investasi.

Baca juga: Mau Coba Investasi Reksadana? Berikut Panduan Mudahnya untuk Pemula

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar odi AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Liputan6, Otoritas Jasa Keuangan



Sumber : pluang.com

Bitcoin Masuk Zona Beli di Rainbow Chart, Tanda Buy Signal Kuat?

Pasar crypto kembali diuji di awal tahun 2026. Setelah reli panjang yang membawa Bitcoin (BTC) sempat menyentuh angka psikologis enam digit di akhir 2025, koreksi tajam belakangan ini justru membawa crypto ini kembali ke area yang sangat menarik bagi investor jangka panjang.

Pertanyaan besarnya: Apakah ini saatnya panik, atau justru “diskon” besar-besaran? Mari kita bedah melalui lensa Bitcoin Rainbow Chart, salah satu indikator siklus makro paling populer di dunia crypto. Untuk Sobat Cuan yang belum tau, pelajari tentang Rainbow Chart lebih lanjut di sini!

Key Takeaways

  • Zona Akumulasi: Per 5 Maret 2026, harga Bitcoin berada di kisaran $68.000 – $72.000, menempatkannya di zona “BUY!” setelah menembus zona “accumulate” pada Rainbow Chart.
  • Valuasi Logaritmik: Model ini menunjukkan bahwa secara struktural, Bitcoin masih jauh dari area “Bubble” atau overvalued, meski sentimen pasar jangka pendek terlihat bearish.
  • Katalis 2026: Tekanan jual akibat ketidakpastian kebijakan The Fed dan deleveraging pasar derivatif menciptakan peluang akumulasi bagi mereka yang memiliki horison investasi multi-tahun.
  • Diversifikasi Aset: Koreksi ini menjadi momen strategis untuk menyeimbangkan portofolio antara BTC dan aset safe haven lainnya seperti Emas Digital.

Posisi Bitcoin di Rainbow Chart (Maret 2026)

Meskipun telah beberapa kali disesuaikan, model Rainbow Chart tetap menjadi acuan untuk melihat “gambaran besar”. Namun, hadirnya ETF Bitcoin membuat volatilitas sedikit lebih teredam dibandingkan siklus 2012 atau 2016. Berikut range harga Bitcoin pada zona-zona Rainbow Chart:

Nama Zona

Rentang Harga Est. (Mar ’26)

Status Sentimen

Maximum Bubble Territory

> $450.000

Sangat Overvalued (Jual!)

FOMO Intensifies

$205.000 – $262.000

Euforia Tinggi

HODL!

$123.000 – $161.000

Nilai Wajar (Fair Value)

Accumulate

$73.000 – $95.000

Zona Akumulasi

BUY!

$54.000 – $73.000

Zona Saat ini (Murah)

Basically a Fire Sale

< $54.000

Sangat Murah (Diskon Ekstrem)


Memahami Rainbow Chart: Navigasi di Tengah Badai

Berbeda dengan grafik harga standar yang bisa terlihat menakutkan saat merah, Bitcoin Rainbow Chart menggunakan regresi logaritmik untuk memetakan pertumbuhan Bitcoin dalam jangka panjang.

Saat ini, Bitcoin berada di pita warna biru-hijau (BUY!). Secara historis, setiap kali Bitcoin masuk atau mendekati zona ini pasca-halving, pasar biasanya sedang mengalami fase “pendinginan” sebelum melanjutkan tren naik menuju zona kuning atau oranye (HODL/FOMO). Penurunan harga sebesar ~30% dari puncak Oktober 2025 dianggap sebagai koreksi sehat untuk membuang spekulan jangka pendek.

Strategi Investasi: Memanfaatkan Zona “Dingin”

Bagi investor di Pluang, zona bawah pelangi ini menawarkan manajemen risiko yang lebih terukur dibandingkan membeli saat harga sedang to the moon.

  1. Dollar Cost Averaging (DCA) di Zona Beli: Dengan harga di bawah $72.000, strategi DCA memungkinkan investor mendapatkan harga rata-rata yang kompetitif sebelum siklus berikutnya mendorong harga menuju target selanjutnya.
  2. Pantau Korelasi dengan Saham Tekno: Pergerakan BTC saat ini sangat dipengaruhi oleh indeks Nasdaq. Jika saham teknologi AS pulih, BTC cenderung merespons lebih agresif karena posisinya yang sudah “oversold” di Rainbow Chart.
  3. Hedging dengan Emas: Mengingat volatilitas crypto, mengalokasikan sebagian dana ke Emas Digital di Pluang tetap disarankan untuk menjaga stabilitas portofolio saat pasar crypto mencari titik terendah (bottoming).

Risks & Considerations

  1. Risiko Makroekonomi: Jika inflasi AS tetap tinggi dan The Fed menunda pemangkasan suku bunga, Bitcoin bisa tertahan lebih lama di zona akumulasi atau bahkan menyentuh zona “Fire Sale” di bawah $54.000.
  2. Model Bukan Ramalan: Rainbow Chart adalah alat visualisasi data historis. Perubahan regulasi yang drastis atau kejadian black swan dapat membuat harga keluar dari jalur pelangi secara permanen.
  3. Volatilitas Ekstrem: Penurunan harian 5-10% adalah hal lumrah di pasar crypto. Pastikan hanya menggunakan “uang dingin” untuk investasi ini.

 

Sumber:

  • BlockchainCenter, Bitcoin Rainbow Chart Live Data. Diakses Maret 2026.



Sumber : pluang.com

Makin Terancam, Rupiah Tembus Rp17.000. Amankan Aset Kamu

Pelemahan ini merupakan gabungan dari data inflasi AS yang memaksa The Fed menahan suku bunga tinggi, eskalasi konflik di Timur Tengah yang melambungkan harga minyak, hingga revisi prospek ekonomi domestik oleh Fitch dan Moodys menjadi badai sempurna yang menekan mata uang Rupiah.

Key Takeaways

  • Tekanan Makroekonomi Ekstrem: Rupiah berada di ambang batas psikologis Rp17.000 akibat kebijakan suku bunga The Fed yang tetap tinggi (higher-for-longer) dan eskalasi ketegangan geopolitik.
  • Optimalisasi Dolar AS: Fitur USD Yield di Pluang menawarkan imbal hasil hingga 3,38% p.a. bagi nasabah prioritas, menjadikan kas Dolar Anda tetap produktif saat Rupiah melemah.
  • Diversifikasi Emas Terlengkap: Investor dapat melakukan hedging melalui 5 kelas aset emas, termasuk ETF, Options, hingga Crypto Emas yang efisien secara pajak.
  • Investasi Bitcoin sebagai Anti-Inflasi: BTC berfungsi sebagai aset pelindung nilai digital jangka panjang dengan desain pasokan terbatas di tengah inflasi mata uang fiat.

Mengapa Rupiah Begitu Tertekan?

Ada tiga faktor utama yang mendorong “Strong Dollar” saat ini:

  1. Sentimen The Fed: Inflasi AS yang persisten membuat harapan pemangkasan suku bunga pupus, sehingga modal global kembali pulang ke aset berdenominasi Dolar.
  2. Ketidakpastian Geopolitik: Ketegangan global memicu pelarian modal ke aset aman (safe haven).
  3. Dinamika Domestik: Arus keluar modal asing (capital outflow) meningkat setelah adanya revisi prospek makroekonomi, yang terlihat dari tekanan pada pasar obligasi nasional.

Tiga Pilar Strategi Hedging di Pluang

Sebagai platform investasi multi-aset, Pluang menyediakan infrastruktur lengkap untuk mengeksekusi strategi defensif secara instan.

1. Optimalisasi Kas dengan USD Yield

Memegang uang tunai (Dolar AS) adalah posisi aktif jika diletakkan di instrumen yang tepat. Di Pluang, dana menganggur Anda bisa tetap produktif melalui fitur USD Yield.

  • Nasabah Pluang Plus: Dapatkan imbal hasil eksklusif hingga 3,38% p.a.
  • Efisiensi Transaksi: Melalui layanan OTC FX, Anda bisa mengonversi Rupiah ke Dolar (min. $20.000) dengan kurs kompetitif tanpa spread bank yang lebar.
  • USD Direct: Penyetoran dan penarikan Dolar langsung tanpa friksi nilai tukar.

2. Diversifikasi Emas di 5 Kelas Aset Emas

Emas adalah pelindung nilai klasik saat geopolitik memanas. Pluang menawarkan fleksibilitas unik dengan lima cara berinvestasi emas:

  • PAX Gold (PAXG): Ini adalah token digital yang setiap kepingnya dijamin oleh satu troy ounce emas fisik London Good Delivery yang disimpan di brankas Brink’s. PAXG menawarkan keunggulan unik: ia menggabungkan keamanan emas fisik dengan kecepatan dan likuiditas teknologi blockchain. Anda bisa memindahkan atau memperdagangkan emas Anda 24/7 tanpa hari libur.
  • Tether Gold (XAUT): Mirip dengan PAXG, XAUT memberikan kepemilikan atas emas fisik spesifik di brankas Swiss. Ini adalah pilihan populer bagi pengguna ekosistem Tether yang ingin memiliki aset lindung nilai yang stabil. Selain itu, di Pluang, kamu juga bisa membeli future XAUT yaitu XAUTUSDT-PERP
  • SPDR Gold Shares (GLD): Bagi Anda yang lebih nyaman bermain di pasar saham, GLD adalah ETF emas terbesar di dunia. GLD melacak harga emas spot dan merupakan cara paling efisien bagi investor institusi maupun ritel untuk mendapatkan eksposur harga emas tanpa repot mengurus penyimpanan fisik. Di Pluang, kamu juga bisa membeli GLD call option apabila bullish terhadap emas dan put option untuk mendapatkan keuntungkan ketika harga emas mengalami penurunan. 
  • Emas Digital : Investasi emas fisik mulai dari nominal kecil dengan opsi Tarik Fisik ke logam mulia asli.

3. Bitcoin sebagai “Digital Gold”

Meskipun fluktuatif, Bitcoin (BTC) telah terbukti sebagai aset dengan pasokan terbatas yang mampu melawan inflasi mata uang fiat dalam jangka panjang. Gunakan fitur Smart Screeners di Pluang untuk menemukan momentum entry yang tepat, seperti saat indikator menunjukkan kondisi oversold

Perbandingan Instrumen Hedging

Metrik Analisis

USD Yield

Emas (GLD)

Bitcoin (BTC)

Profil Risiko

Sangat Rendah

Moderat – Agresif

Agresif

Fungsi Utama

Proteksi Nilai Tukar

Proteksi Geopolitik

Apresiasi Jangka Panjang

Potensi Imbal Hasil

Pasti (3,38% p.a.)

Tergantung Komoditas

Sangat Fluktuatif

Fitur Unggulan

Pluang Plus & OTC FX

5 Pilihan Kelas Aset

Smart Screeners

Return YTD

 

18.89%

-21.64%

Risks & Considerations 

  • Risiko Pasar: Harga emas dan Bitcoin tetap fluktuatif meskipun Rupiah melemah. Penurunan harga aset dasar bisa lebih besar dari keuntungan selisih kurs.
  • Risiko Kebijakan: Intervensi Bank Indonesia (BI) sewaktu-waktu dapat menguatkan Rupiah secara mendadak.
  • Suku Bunga: Jika The Fed tiba-tiba memangkas suku bunga, Dolar AS dapat melemah dengan cepat.
  • Volatilitas Kripto: Bitcoin memiliki risiko volatilitas tinggi dan tidak cocok untuk modal yang dibutuhkan dalam jangka pendek.

Mulai Amankan Aset Anda Sekarang

Di tengah ketidakpastian global, kecepatan dalam mengambil keputusan adalah kunci. Memanfaatkan ekosistem Pluang memungkinkan Anda untuk berpindah aset secara fleksibel, mulai dari Dolar, Emas, hingga Kripto, dalam satu genggaman.

FAQ (Frequently Asked Questions)

  1. Apakah Rp17.000 adalah level Rupiah yang berbahaya? Secara psikologis ya, level ini dapat memicu kepanikan pasar dan meningkatkan biaya logistik perusahaan importir.
  2. Apa itu USD Yield di Pluang? Fitur yang memungkinkan saldo USD Anda mendapatkan imbal hasil seperti bunga, namun dengan likuiditas tinggi.
  3. Mengapa emas di Pluang disebut efisien secara pajak? Aset seperti PAXG dan XAUT dikategorikan sebagai komoditas crypto yang tunduk pada pajak final (PPh & PPN) yang relatif lebih rendah dibanding pajak progresif emas fisik.
  4. Berapa minimal transaksi OTC FX di Pluang? Layanan eksklusif ini ditujukan untuk transaksi minimal $20.000.
  5. Apakah aman menyimpan Dolar di Pluang? Pluang bekerja sama dengan mitra berlisensi dan teregulasi untuk memastikan keamanan aset nasabah.
  6. Kapan waktu terbaik untuk membeli Dolar? Secara strategi, melakukan Dollar Cost Averaging (DCA) lebih disarankan daripada mencoba menebak puncak (top) harga Dolar.
  7. Apakah Bitcoin benar-benar bisa menjadi hedging? Dalam jangka panjang, Bitcoin memiliki korelasi rendah dengan aset tradisional dan berfungsi sebagai penyimpan nilai digital.

Sources 



Sumber : pluang.com