Category Archives: Pluang

Trump Bentuk Dewan Penasihat Teknologi: Apa Dampaknya bagi Pasar?

Penunjukan ini merupakan peristiwa penting, bukan hanya bagi dinamika kekuasaan di Silicon Valley, tetapi juga bagi pasar saham global, di mana perusahaan-perusahaan yang dipimpin oleh para penasihat ini memegang bobot kapitalisasi pasar yang sangat besar. Bagi investor ritel di Pluang, peristiwa ini bukan sekadar berita politik; ini adalah indikator pergeseran regulasi dan potensi pertumbuhan sektor yang harus dipahami.

Kita harus menyelami siapa saja yang terpilih, siapa yang secara mengejutkan absen, dan bagaimana strategi “kotak-kotak” politik ini akan memengaruhi portofolio investasi Anda dalam jangka panjang.

Key Takeaways

  • Aliansi Strategis: Penunjukan Zuckerberg menandai berakhirnya perseteruan politik demi stabilitas sektor media sosial dan AI open-source.
  • Prioritas Chip: Kehadiran Jensen Huang menegaskan bahwa Nvidia adalah “aset nasional” dalam perlombaan teknologi dengan Tiongkok.
  • Efek Deregulasi: Dewan ini didominasi tokoh pro-inovasi, memberikan sinyal positif bagi pertumbuhan saham Big Tech.
  • Absensi Krusial: Musk dan Altman tidak masuk daftar resmi, kemungkinan untuk menghindari hambatan etika kontrak militer (SpaceX) dan perbedaan jalur regulasi AI.

Quick Facts Table

Kategori Detail Pengumuman
Nama Dewan White House Technology Advisory Council (2026)
Tokoh Utama Masuk Jensen Huang (Nvidia), Mark Zuckerberg (Meta), Larry Ellison (Oracle)
Tokoh Utama Absen Elon Musk (Tesla/SpaceX), Sam Altman (OpenAI)
Fokus Utama Kecerdasan Buatan (AI), Semikonduktor, Infrastruktur Cloud
Tujuan Kebijakan Deregulasi, Kompetisi Teknologi dengan Tiongkok, Keamanan Siber

Daftar Lengkap: Siapa Saja yang Memasuki Lingkaran Dalam?

Gedung Putih telah mengonfirmasi jajaran anggota dewan penasihat teknologi ini. Meskipun beberapa nama paling terkenal mendominasi pemberitaan, dewan ini terdiri dari campuran strategis antara raksasa teknologi, veteran industri, dan investor modal ventura yang memiliki rekam jejak kuat.

Berikut adalah daftar anggota utama yang dikonfirmasi:

  1. Mark Zuckerberg (CEO, Meta Platforms): Penunjukan yang paling mengejutkan, mengingat hubungan masa lalu yang tegang antara Trump dan Zuckerberg. Masuknya Zuck menunjukkan keinginan kedua belah pihak untuk melakukan “reset” hubungan demi stabilitas regulasi di media sosial dan pengembangan AI terbuka (open-source) Meta.
  2. Jensen Huang (CEO, NVIDIA): “Pria berjaket kulit” yang kini menjadi wajah revolusi AI global. Penunjukan Huang menegaskan bahwa AI dan kedaulatan semikonduktor adalah prioritas nomor satu keamanan nasional AS.
  3. Larry Ellison (Ketua & CTO, Oracle): Seorang pendukung lama dan donatur Trump. Ellison membawa keahlian infrastruktur cloud dan database yang sangat penting untuk digitalisasi pemerintah dan pengawasan AI.
  4. Marc Andreessen (Co-founder, Andreessen Horowitz / a16z): Salah satu pemodal ventura paling berpengaruh di dunia. Andreessen dikenal karena pandangannya yang sangat pro-inovasi dan “akselerasionis” terhadap AI, yang sejalan dengan agenda deregulasi Trump.
  5. Palantir Technologies (Perwakilan Eksekutif): Meskipun nama spesifiknya mungkin bervariasi antara Peter Thiel atau CEO Alex Karp, kehadiran Palantir sangat penting karena hubungan mendalam perusahaan dengan kontrak militer dan intelijen AS.
  6. Veterans industri telekomunikasi & modal ventura lainnya: Daftar ini juga mencakup para eksekutif dari sektor 5G/6G dan dana investasi yang fokus pada teknologi “hard tech” dan manufaktur dalam negeri.

Strategi di Balik Pilihan Trump

Penunjukan ini bukan sebuah kebetulan. Ini adalah hasil dari perhitungan politik dan ekonomi yang matang:

1. “Keep Your Friends Close, and Your Enemies Closer” (Zuckerberg)

Selama masa jabatan pertamanya, Trump sering mengkritik Meta (sebelumnya Facebook) karena dugaan penyensoran terhadap pandangan konservatif. Zuckerberg juga secara terbuka mengkritik Trump. Namun, lanskap telah berubah. Meta kini adalah pemimpin dalam AI open-source (Llama), yang dianggap penting oleh sebagian orang untuk mencegah monopoli AI. Dengan merangkul Zuckerberg, Trump dapat memastikan Meta tidak menggunakan kekuatannya untuk melawan agenda politiknya, sementara Zuck mendapatkan jaminan bahwa pemerintah tidak akan mencoba memecah Meta.

2. Kedaulatan Semikonduktor adalah Keamanan Nasional (Huang)

NVIDIA adalah produsen chip AI terpenting di dunia. Tanpa NVIDIA, ambisi AI AS akan runtuh. Masuknya Jensen Huang ke dewan ini bukan hanya tentang ekonomi; ini tentang memastikan AS mempertahankan keunggulan teknologi atas Tiongkok. Trump ingin memastikan bahwa chip tercanggih dirancang dan—jika mungkin—diproduksi di AS, dan Huang adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk mengarahkannya.

3. Memperkuat Kontrak Pemerintah dan Infrastruktur (Ellison)

Oracle telah menjadi pemenang besar dalam kontrak cloud pemerintah AS di bawah pemerintahan Trump sebelumnya. Ellison adalah sekutu setia. Kehadirannya memastikan bahwa infrastruktur digital pemerintah akan dibangun di atas platform domestik yang aman dan dapat dipercaya, sekaligus memberikan keuntungan bagi Oracle.

Kejutan Terbesar: Absennya Elon Musk dan Sam Altman

Yang sama pentingnya dengan siapa yang ada di sana adalah siapa yang tidak ada di sana.

Kenapa Tidak Ada Elon Musk?

Elon Musk secara terbuka mendukung Trump selama kampanye, memberikan sumbangan besar, dan merupakan tokoh kunci dalam AI (xAI, Tesla, Optimus) dan infrastruktur (SpaceX, Starlink). Absennya Musk sangat mencolok dan memicu banyak spekulasi:

  • Konflik Kepentingan yang Terlalu Besar: SpaceX dan Tesla memiliki kontrak bernilai miliaran dolar dengan pemerintah federal. Mengizinkan Musk menjadi penasihat resmi dalam kebijakan yang secara langsung memengaruhi kontrak tersebut dapat memicu penyelidikan etika yang parah dan tuntutan hukum dari pesaing.
  • Musk Adalah “Outsider” yang Terlalu Kuat: Musk sering kali tidak dapat diprediksi dan menolak untuk mengikuti arus. Trump mungkin lebih suka memiliki penasihat yang lebih “mudah dikelola” seperti Zuck dan Ellison, daripada seseorang yang mungkin akan berdebat secara terbuka dengannya mengenai kebijakan.

Kenapa Tidak Ada Sam Altman?

OpenAI adalah pemimpin pasar AI dengan ChatGPT. Absennya Sam Altman menunjukkan ketidakpercayaan pemerintahan Trump terhadap beberapa aspek “perwalian AI” yang diadvokasi oleh Altman, yang sering meminta regulasi pemerintah yang ketat untuk mengelola risiko AI.

  • Memprioritaskan AI Terbuka: Sebaliknya, masuknya Marc Andreessen dan Zuckerberg (keduanya pendukung AI terbuka) menunjukkan bahwa pemerintah Trump mungkin lebih menyukai model AI yang open-source dan dideregulasi, daripada model tertutup dan highly-regulated seperti yang diusulkan OpenAI.

Dampak Bagi Pasar dan Implikasi Investasi di Pluang

Sebagai investor, penunjukan ini memberikan peta jalan yang jelas mengenai arah kebijakan teknologi AS untuk beberapa tahun ke depan. Berikut adalah analisis dampaknya pada saham-saham utama:

1. Sentimen Positif untuk Meta Platforms (META)

Masuknya Zuckerberg ke dewan ini secara signifikan mengurangi risiko regulasi untuk Meta. Kekhawatiran akan tindakan antimonopoli yang agresif atau upaya pemecahan perusahaan akan mereda. Ini memberikan stabilitas bagi investor META, dan AI terbuka mereka mungkin akan mendapatkan dukungan pemerintah yang lebih kuat.

2. Konfirmasi Dominasi NVIDIA (NVDA)

Penunjukan Jensen Huang adalah validasi pamungkas bagi NVIDIA. Ini menandakan bahwa pemerintah AS menganggap perusahaan ini sebagai aset nasional yang vital. Kebijakan pemerintah kemungkinan akan mendukung ekspansi R&D dan manufaktur semikonduktor dalam negeri, yang menguntungkan NVIDIA.

3. Keunggulan untuk Oracle (ORCL)

Kehadiran Ellison di dewan akan memastikan Oracle tetap menjadi pemain utama dalam kontrak cloud pemerintah, yang memberikan pendapatan yang stabil dan dapat diprediksi.

4. Dinamika Saham Tesla (TSLA)

Absennya Musk dapat diinterpretasikan secara ganda. Pasar mungkin awalnya bereaksi negatif terhadap kurangnya pengaruh resmi Musk. Namun, dalam jangka panjang, ini dapat mengurangi risiko overhang (ketidakpastian) regulasi di Tesla karena tidak adanya konflik kepentingan yang jelas. Pengaruh Musk “di belakang layar” tetap besar.

5. Sektor Secara Keseluruhan: Dorongan Deregulasi

Secara umum, dewan ini sangat pro-bisnis dan didominasi oleh tokoh-tokoh yang mendukung deregulasi. Ini dapat mengarah pada pelonggaran aturan tentang AI, perlindungan data, dan merger & akuisisi, yang semuanya bersifat positif untuk pertumbuhan sektor teknologi (growth stocks).

Risks & Considerations

  • Risiko Politisasi: Kebijakan teknologi yang terlalu berpihak pada perusahaan tertentu dapat memicu sentimen negatif jika terjadi pergantian kekuasaan.
  • Volatilitas Saham: Berita mengenai “siapa yang dekat dengan kekuasaan” dapat memicu fluktuasi harga saham jangka pendek (seperti META, NVDA, dan ORCL).
  • Konflik Kepentingan: Meskipun Musk di luar dewan, pengaruh informalnya tetap tinggi, yang bisa menimbulkan ketidakpastian regulasi bagi kompetitor Tesla/SpaceX.

 FAQ

  1. Mengapa Zuckerberg dipilih meski dulu sering berselisih dengan Trump? Keduanya butuh stabilitas; Trump butuh platform besar, Zuck butuh kepastian regulasi.
  2. Apakah absennya Musk berarti ia kehilangan pengaruh? Tidak, Musk kemungkinan tetap menjadi penasihat informal untuk menghindari audit etika resmi.
  3. Apa dampaknya bagi saham Nvidia? Sangat positif, karena memperkuat posisi Nvidia sebagai mitra strategis negara.
  4. Siapa Marc Andreessen? Investor ventura yang vokal mendukung kemajuan AI tanpa batas regulasi yang ketat.
  5. Apakah dewan ini permanen? Tidak, masa jabatan biasanya mengikuti masa pemerintahan Presiden.
  6. Bagaimana nasib OpenAI tanpa Altman di dewan? OpenAI mungkin menghadapi tantangan jika pemerintah lebih mendukung model AI open-source milik Meta.
  7. Apakah saham teknologi akan naik? Secara historis, sentimen deregulasi cenderung menguntungkan sektor teknologi dalam jangka menengah.
  8. Apa peran Larry Ellison? Memastikan migrasi data pemerintah ke sistem cloud yang modern dan aman.
  9. Mengapa sektor semikonduktor begitu dominan? Karena chip adalah inti dari pertahanan militer dan ekonomi digital modern.
  10. Bagaimana cara investor merespons? Diversifikasi tetap kunci; jangan hanya bergantung pada satu saham yang masuk dalam dewan.

Kesimpulan: Menavigasi Era Baru Teknologi Washington

Pembentukan dewan penasihat teknologi Trump adalah peristiwa “game-changer”. Ini bukan sekadar kumpulan foto para CEO; ini adalah dewan perang untuk dominasi teknologi global.

Bagi investor di Pluang, ini adalah momen untuk mengevaluasi kembali alokasi sektor teknologi Anda. Pemenang dari aliansi politik-teknologi ini (Meta, NVIDIA, Oracle) memiliki jalur regulasi yang lebih jelas, sementara absennya tokoh seperti Musk dan Altman menciptakan dinamika risiko-penghargaan baru bagi perusahaan mereka.

Tetap pantau perkembangan berita ini di Pluang untuk melihat bagaimana dinamika kekuasaan di Washington ini akan memengaruhi pergerakan harga saham-saham global favorit Anda.

 Sources & Methodology



Sumber : pluang.com

Terlihat Mirip, Apa Perbedaan Reksadana Pendapatan Tetap Reksadana Terproteksi? 

Instrumen reksadana mendadak happening saat pandemi. Banyak orang yang sengaja menahan dana konsumsinya untuk dialokasikan ke instrumen investasi seperti reksadana. Salah satunya, adalah reksadana pendapatan tetap.

Hal ini dibuktikan oleh data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan bahwa total dana kelolaan reksadana pada Desember 2020 lalu mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni menembus Rp573,54 triliun. Capaian tersebut meningkat 5,78% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp542,17 triliun.

Pencapaian tersebut disebabkan oleh kinerja positif beberapa jenis reksadana. Diantaranya, adalah reksadana pendapatan tetap yang return-nya ternyata bertumbuh 8,99% sepanjang 2020. Tak heran jika nilai kelolaan reksadana ini mencapai Rp126 triliun di periode tersebut, atau tumbuh 11% dibanding tahun sebelumnya.

Meski demikian, mungkin saja ada beberapa investor yang ingin mencicipi cuan reksadana pendapatan tetap, namun gagal meraihnya karena keliru mengenai produk. Apalagi biasanya, investor suka bingung antara reksadana pendapatan tetap dengan reksadana terproteksi.

Padahal, bak pinang dibelah dua, sifat mereka berbeda. Hanya saja, perbedaannya tak begitu mencolok. Nah, apa saja perbedaan-perbedaan tersebut?

Baca juga: Investasi Akhir Tahun Baiknya Pilih Emas, Saham, atau Reksadana?

Karakteristik Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana pendapatan tetap adalah jenis reksa dana yang portofolio investasinya dititikberatkan pada surat utang alias obligasi, baik yang diterbitkan pemerintah maupun korporasi. Minimal 80% dari total seluruh dana kelolaannya akan diinvestasikan pada aset-aset tersebut.

Manajer Investasi (MI) selaku pengelola portofolio investasi akan melakukan aktivitas jual beli obligasi untuk mendapatkan imbal hasil. Sehingga, jenis reksadana ini sangat cocok untuk Sobat Cuan yang memilki karakteristik investor konservatif. Yakni, memiliki toleransi risiko yang rendah dan tidak terlalu agresif.

Karena dominasi portofolio investasinya berada pada surat utang dan sisanya dialokasikan di saham, maka imbal hasil yang didapatkan juga tidak sebesar reksadana saham. Namun, secara manajemen risiko, jenis reksadana ini relatif lebih aman dibanding jenis reksadana lainnya.

Tetapi, lebih aman bukan berarti tidak memiliki risiko lho. Karena MI akan melakukan jual beli obligasi, maka investor bisa terkena risiko gagal bayar dari obligor atau kena getah dari ulah MI nakal yang membawa kabur dana kelolaan nasabah.

Oleh karena itu, penting bagi investor untuk melihat rekam jejak Manajer Investasi dan juga portofolio obligasi yang dikelolanya sebagai bentuk pengelolaan risiko. Jangan hanya tergiur akan besarnya imbal hasil sehingga mengsampingkan klausul dan juga portofolio obligasi yang di kelola, ya.

Nah, sebagai bentuk mitigasi risiko, setiap MI biasanya hanya akan memilih surat utang dengan peringkat efek minimal BBB. Setiap obligasi memilki kupon obligasi yang akan menjadi keuntungan bagi investor reksa dana pendapatan tetap.

Meskipun obligasi juga merupakan produk pasar modal, pergerakan harganya tidak seatraktif saham. Maklum, pembayaran dari obligor kepada para investornya diberikan dalam jumlah yang tetap per periodenya dalam bentuk kupon.

Sehingga, jenis investasi ini sangat cocok untuk investasi jangka menengah antara satu hingga lima tahun.

Nah, setelah membaca karakteristik di atas, bagaimana tentang reksadana terproteksi?

Baca juga: Kaum Milenial, Berapa Banyak Investasi yang Mesti Kamu Punya?

Karakteristik Reksadana Terproteksi

Reksadana terproteksi, atau capital protected fund, sebenarnya hampir sama dengan reksadana pendapatan tetap dari sisi kelolaan dana. Di reksadana ini, manajer investasi akan menempatkan 80% dana kelolaannya ke obligasi.

Namun, perbedaan keduanya terletak di pengelolaan reksadananya.

Di dalam reksadana pendapatan tetap, manajer investasi bisa melakukan jual beli instrumen obligasi. Namun, di reksadana terproteksi, manajer investasi hanya akan mengelola dana di obligasi sampai tanggal jatuh temponya tiba.

Di sini, Sobat Cuan perlu menggarisbawahi kalimat jatuh tempo. Sebab, jika unit penyertaan (UP) yang dimilki sudah dijual sebelum jatuh tempo, maka “proteksi” atas pokok investasi yang ditawarkan menjadi tidak dijamin.

Jenis reksadana ini mirip dengan deposito atau tabungan dengan sistem kontrak pencairan. Hanya saja, dalam deposito, jangka waktu pencairan ditentukan oleh nasabah. Bisa 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun dan seterusnya.

Sementara dalam reksadana terproteksi, jangka waktu jatuh temponya akan ditentukan oleh Manajer Investasi. Selama proses penjualan reksadana mengikuti ketentuan yang berlaku, dalam arti tanggal pencairan sesuai dengan tanggal jatuh tempo obligasi, maka jumlah pokok reksadananya secara otomatis terproteksi. Dan ketika obligasi sudah jatuh tempo, maka obligor wajib untuk melunasi pokok beserta kupon obligasinya.

Untuk membeli unit penyertaan (UP) reksa dana terproteksi tidak bisa dilakukan sembarang waktu alias terbatas. Investor harus mengikuti masa penawaran yang biasanya berlangsung selama 120 hari. Saat masa tersebut, investor sudah bisa melakukan pembelian UP yang ditawarkan.

Lantas, apa sih keuntungan reksadana ini? Nah, Sobat Cuan ternyata bisa mendapatkan kupon yang tertera dalam indikasi imbal hasil saat masa penawaran dan juga dividen.

Tapi, sama seperti reksadana pendapatan tetap, reksadana terproteksi juga punya risiko sendiri, lho. Diantaranya adalah risiko pasar, risiko pelunasan lebih awal yang akhirnya akan menyebabkan penurunan harga, risiko wanprestasi dan juga risiko likuiditas dari sisi MI.

Jadi Apa Inti Perbedaan Reksadana Pendapatan Tetap dan Reksadana Terproteksi?

Secara singkat, perbedaan antara reksadana pendapatan tetap dan reksadana terproteksi mencakup empat aspek utama. Yakni

  1. Skema pengelolaan reksadana
    Di dalam reksadana pendapatan tetap, manajer investasi bisa melakukan jual-beli instrumen. Sementara itu, manajer investasi akan menggenggam obligasi sampai jatuh tempo di reksadana terproteksi.
  2. Periode subscription dan redemption
    Reksadana pendapatan tetap dapat dibeli (subscribe) atau dijual (redeem) kapan saja. Sementara itu, di reksadana terproteksi, terdapat masa penawaran yang harus diikuti investor untuk melakukan dua aktivitas tersebut.
  3. Biaya reksadana
    Investor akan dibebankan biaya subscription untuk penjualan dan biaya redemption apabila mereka mencairkan kurang dari setahun di dalam reksadana pendapatan tetap. Sementara itu, reksadana terproteksi umumnya hanya memiliki biaya redemption.

Jadi bagaimana Sobat Cuan? Mau memilih reksadana pendapatan tetap? Atau reksadana terproteksi?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Kontan, Infovesta



Sumber : pluang.com

Ketegangan Mereda Sejenak: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Infrastruktur Energi Iran hingga 6 April

Key Takeaways

  • Jeda Serangan Diperpanjang: Presiden Trump menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga 6 April 2026 guna memberikan ruang bagi negosiasi.

  • Krisis Selat Hormuz: Perang ini telah menyebabkan gangguan signifikan pada jalur perdagangan minyak mentah paling vital di dunia, memicu lonjakan harga Brent ke $108,01.

  • Sinyal Pasar Negatif: Indeks S&P 500 mencatatkan penurunan harian tertajam di tahun 2026 sebesar 1,74% akibat ketidakpastian perang.

  • Diplomasi Kapal Tanker: Sebagai kompensasi jeda serangan, Iran mengizinkan 10 kapal tanker melewati blokade Selat Hormuz sebagai “iktikad baik”.

Diplomasi di Balik “Gencatan Senjata” Energi

Melalui unggahan di Truth Social, Trump mengonfirmasi bahwa perpanjangan masa jeda ini bertujuan untuk memberi ruang bagi proses negosiasi. Meskipun pihak Teheran secara resmi membantah adanya dialog langsung, Trump mengklaim bahwa pembicaraan berjalan dengan sangat baik.

“Iran meminta perpanjangan satu minggu, tapi saya memutuskan memberikan 10 hari karena mereka telah memberikan ‘hadiah’ berupa akses bagi kapal-kapal kita,” ujar Trump dalam wawancara bersama Fox News.

Langkah ini dianggap krusial untuk mencegah eskalasi perang lebih lanjut, mengingat Selat Hormuz—jalur logistik minyak paling kritis di dunia—saat ini hampir tertutup sepenuhnya akibat konflik yang dimulai pada 28 Februari lalu oleh serangan AS dan Israel.

Dampak Terhadap Portofolio Kamu

Konflik geopolitik ini secara langsung memengaruhi volatilitas pasar modal dan komoditas. Berikut adalah ringkasan pergerakan pasar terakhir:

Aset Pergerakan Harga/Poin Keterangan
S&P 500 🔴 Turun 1,74% Penurunan harian terbesar di tahun 2026.
Minyak Brent 🟢 Naik 5,6% $108,01 / barel Kekhawatiran gangguan suplai masih mendominasi.
Emas 🟢 Bullish Aset safe haven tetap menjadi incaran investor.

Mengapa Harga Minyak Tetap Naik Meski Ada Jeda?

Walaupun ada penundaan serangan, investor tetap waspada. Kenaikan harga minyak hingga melampaui $108 mencerminkan kekhawatiran bahwa pasokan global belum sepenuhnya aman selama Selat Hormuz belum dibuka secara total untuk lalu lintas komersial.

Comparison Table: Dampak Skenario 6 April

Aspek Jika Negosiasi Berhasil Jika Negosiasi Gagal (Serangan Berlanjut)
Harga Minyak Berpotensi turun (koreksi) menuju $80-$90. Bisa melonjak melampaui $120/barel.
Pasar Saham (S&P 500) Rebound kuat (sentimen positif). Penurunan lanjutan karena kekhawatiran inflasi.
Selat Hormuz Dibuka sepenuhnya untuk logistik global. Tetap diblokade, memicu krisis rantai pasok.
Nilai Tukar USD Cenderung stabil/melemah tipis. Menguat tajam karena status safe haven.

Strategi Menghadapi Volatilitas Geopolitik

Bagi investor di Pluang, situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi namun juga menawarkan peluang:

  1. Pantau Sektor Energi: Saham-saham di sektor energi dan perusahaan minyak cenderung bergerak searah dengan harga komoditas mentah.

  2. Diversifikasi ke Safe Haven: Emas biasanya menjadi pelindung nilai (hedging) yang efektif saat indeks saham seperti S&P 500 mengalami tekanan akibat sentimen perang.

  3. Wait and See hingga 6 April: Tanggal 6 April akan menjadi titik krusial. Jika negosiasi gagal, pasar mungkin akan menghadapi volatilitas yang lebih ekstrem.

Risks & Considerations (

  • Risiko Geopolitik: Berita dapat berubah dalam hitungan menit (melalui media sosial atau pengumuman resmi), yang memicu celah harga (gap) pada pasar saat pembukaan.

  • Inflasi Energi: Harga minyak yang tinggi dalam waktu lama akan memicu inflasi global, yang berpotensi memaksa Bank Sentral (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi.

  • Likuiditas: Dalam kondisi perang, likuiditas pasar bisa menipis, menyebabkan spread (selisih harga beli dan jual) melebar.

  • Informasi Simpang Siur: Adanya perbedaan pernyataan antara pihak AS dan Iran (Iran membantah adanya dialog) menciptakan risiko “salah harga” di pasar.

FAQ (Frequently Asked Questions)

  1. Kenapa Trump menunda serangan? Trump mengklaim ada kemajuan dalam negosiasi dan Iran memberikan akses untuk beberapa kapal tanker sebagai bentuk kerja sama awal.

  2. Apa itu Selat Hormuz dan kenapa penting? Jalur air sempit di antara Teluk Oman dan Teluk Persia. Ini adalah jalur utama ekspor minyak mentah dunia dari Timur Tengah.

  3. Mengapa harga saham turun saat harga minyak naik? Harga minyak yang tinggi meningkatkan biaya produksi dan transportasi perusahaan, yang pada gilirannya menurunkan profitabilitas dan memicu inflasi.

  4. Apakah ini waktu yang tepat beli minyak? Membeli saat harga tinggi ($108) berisiko jika negosiasi tiba-tiba berhasil. Namun, jika perang pecah total, harga masih bisa naik.

  5. Kapan deadline jeda serangan berakhir? 6 April 2026.

  6. Bagaimana pengaruhnya ke Rupiah? Biasanya, ketidakpastian global membuat investor keluar dari pasar negara berkembang (Emerging Markets) seperti Indonesia, yang bisa menekan nilai tukar Rupiah.

Sources & Methodology



Sumber : pluang.com

Meski Naik Turun, Sampai Kapan Tren Harga Bitcoin yang Bullish Akan Berakhir?

Sobat Cuan pecinta Bitcoin pasti paham bahwa tren harga Bitcoin seolah-olah sedang tidak karuan. Baru saja pekan lalu Bitcoin mencetak rekor tertinggi di US$64.000 per keping. Namun, harganya langsung terpelanting menuju US$51.000 di akhir pekan lalu. Untungnya, kini harga Bitcoin sudah kembali pulih ke angka US$55.000 per keping.

Meski demikian, harga yang ambrol dan terkesan jungkat-jungkit itu bukan berarti bahwa harga Bitcoin sedang dalam tren bearish, lho. Sebab, sejatinya harga Bitcoin justru masih berada dalam tren harga bullish meski terdapat koreksi harga, seperti yang terlihat di grafik per 20 April 2021 di bawah ini.

Sumber: Investing Cube, Crispus9/tradingview.com

Koreksi harga kecil di sana-sini boleh saja terjadi. Namun, sebagai investor, tentu pertanyaan besarnya adalah kapan sejatinya tren bullish ini berakhir. Atau, kapan tepatnya tren harga buliish ini bisa berubah menjadi tren bearish.

Spekulasi tentang periode tren bullish ini tidak ada habisnya, apalagi Bitcoin sekarang menjadi berita yang langganan muncul di media arus utama. Tapi apa yang membuat harga Bitcoin naik? Apakah ini hanya kabar baik yang tiada henti, atau apakah ada indikator lain yang dapat memprediksi pergerakan harga di masa depan?

Efek FOMO dalam Tren Harga Bitcoin

Mungkin, sebagian Sobat Cuan sudah tahu soal FOMO dalam investasi aset kripto, atau kecenderungan investor yang takut akan ketinggalan momentum (fear of missing out). Argumen bahwa kabar baik sedang membuai pasar terbukti benar.

Tidak dapat disangkal bahwa ada semacam efek bola salju FOMO di antara investor institusi selama beberapa bulan terakhir. Dan itu yang membuat harga Bitcoin seolah-olah sedang menciptakan tren ngegas belakangan ini.

Tren harga Bitcoin bullish dimulai pada kuartal terakhir tahun 2020. Kala itu, harga tiba-tiba melonjak pada bulan Oktober di tengah berita bahwa PayPal memasuki dunia aset kripto. Momentum bullish lebih lanjut terjadi ketika JPMorgan meluncurkan koin JPM yang telah lama ditunggu-tunggu.

Baca juga: Kenapa IPO Coinbase Memberi Petunjuk Soal Harga Aset Kripto di Masa Depan?

Tahun ini, MicroStrategy melakukan pembelian Bitcoin besar-besaran, dibarengi dengan Tesla yang berinvestasi US$1,5 miliar. Bank-bank besar, termasuk Goldman Sachs dan Citigroup, memperluas penawaran layanan mereka ke aset kripto. Hal itu menambah kredibilitas lebih lanjut bahwa aset kripto layak menjadi kelas aset yang mapan.

Baru-baru ini, euforia penawaran saham perdana (IPO) Coinbase di Nasdaq juga berperan dalam memastikan bahwa aset digital tetap berada dalam agenda berita global. Coinbase adalah perusahaan cryptocurrency exchange pertama yang melantai di bursa saham.

Pada tingkat ekonomi makro, dorongan bullish muncul dari ETF Bitcoin yang disetujui oleh regulator Amerika Serikat. Meski menurut pandangan para analis, masih dibutuhkan waktu dua tahun lagi sebelum persetujuan diberikan.

Level harga US$25.000 Memicu Investor Institusi?

Terdapat teori bahwa berita baik yang menopang harga mungkin tidak menciptakan tren harga Bitcoin bullish jangka panjang. Namun, aksi beli pasar terbukti cukup untuk membuat investor dan institusi besar lebih memperhatikan.

Sebuah laporan dari eToroX yang diterbitkan pada bulan Januari, mengkonfirmasi hal tersebut. Pasalnya, laporan mereka berdasarkan wawancara para pelaku institusional.

Baca juga: Tips Berdamai dengan FOMO Agar Tak Panic Selling & Buying Aset Kripto

Laporan tersebut menemukan bahwa Bitcoin harus mencapai harga yang cukup tinggi untuk membuatnya menarik bagi institusi. Hal itu undtuk mengimbangi sentimen negatif seperti risiko regulasi, potensi penipuan, dan akses ke infrastruktur yang diperlukan.

Seorang responden bahkan telah menetapkan ambang level harga US$25.000 per Bitcoin. Hal itu menunjukkan bahwa harga saat ini lebih dari cukup untuk membuat investor institusi tetap terlibat.

Saat Berita Baik Belum Tentu Hal Baik

Gagasan bahwa harga didorong sepenuhnya oleh sentimen positif dari berita baik memiliki kelemahan bahwa keberlanjutan harga tidak bertahan jangka panjang. Sederhananya, jika kabar baik ‘mengering’, harga bisa berbalik, menciptakan efek bola salju yang serupa dari berita buruk di pasar yang jeblok.

Dari perspektif ini, ada baiknya memeriksa beberapa fundamental dalam dan luar yang dapat mendorong harga. Di sini, ada banyak alasan untuk tetap bersikap positif. Namun, masih ada hal mendasar yang menunjukkan kenaikan harga di tahun 2021 masih jauh dari selesai. Data Glassnode menunjukkan bahwa volume Bitcoin yang ‘ngendon’ di crypto exchange terus turun, mengurangi pasokan likuiditas.

Baca juga: Apa Alasan Kita Perlu Perhatikan Kapitalisasi Pasar Saat Investasi Aset Kripto?

Namun, jumlah akun yang menampung lebih dari 1.000 Bitcoin baru-baru ini mencapai titik tertinggi sepanjang masa. Hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak whale (investor jumbo) yang memilih untuk bersekongkol.

Semua Sinyal Menuju ke HODL

Jika aktivitas jual merupakan indikator utama, maka puncaknya masih jauh. Menurut laporan baru-baru ini, investor yang menahan Bitcoin dalam jangka panjang terbukti enggan melepaskan investasi mereka. Hal ini biasanya terjadi selama paruh kedua siklus pasar, saat mereka berusaha mengambil untung.

Oleh karena itu, kenaikan harga ini sangat tidak biasa berdasarkan puncak harga sebelumnya. Pencari untung biasanya menjual setelah memegang antara satu minggu hingga satu bulan. Dalam hal ini, mereka sangat blak-blakan dalam menjual.

Baca juga: Setelah Dihantam Badai, Harga Bitcoin dan Ethereum Mencoba Bangkit Pekan Ini

Data rasio HODL (menahan kepemilikan) juga mendukung pandangan ini. Data ini dapat diandalkan karena berkorelasi dengan semua reversal sebelumnya di siklus makro Bitcoin.

Jika sejarah dapat meramalkan masa depan, maka data menunjukkan bahwa kenaikan hanya sekitar setengah dari siklus ini. Dimana menunjukkan bahwa harga US$100.000 per Bitcoin sebelum akhir tahun ini masih bisa terjadi.

Harga Bitcoin Mencapai Puncaknya Pada Kuartal IV 2021?

Teori Siklus 4 Tahun Bitcoin tampaknya mendukung hal ini. Siklus 4 tahun menunjukkan bahwa harga Bitcoin akan mengalami pertumbuhan eksponensial pada tahun 2021 dan mencapai puncaknya sebelum akhir tahun.

Sementara kecenderungan harga berulang secara historis memberikan lebih banyak bobot dalam analisis temporer semacam ini. Dimana peran waktu dalam konteks koreksi dan kenaikan harga Bitcoin tidak boleh diremehkan.

Jadi berapa lama pasar bullish aset kripto akan bertahan? Jika teori ini benar, Bitcoin memiliki banyak ruang untuk pertumbuhan eksponensial (dengan beberapa koreksi di sepanjang jalan), sebelum akhirnya mencapai puncak sekitar Oktober 2021.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CoinTelegraph, Brave NewCoin



Sumber : pluang.com

Lonjakan Harga BBM Akibat Perang Picu Penjualan Mobil Listrik Bekas di Seluruh Dunia

Krisis energi global yang dipicu oleh konflik di Iran telah menciptakan efek kejut di pompa bensin. Namun, di sisi lain, hal ini menjadi katalisator bagi pasar mobil listrik—khususnya pasar mobil bekas. Dari Australia hingga Eropa, minat terhadap Electric Vehicles (EV) melonjak tajam dalam hitungan minggu.

Lonjakan Drastis Pencarian Mobil Listrik di Australia

Di Australia, data dari platform otomotif Pickles menunjukkan fenomena yang mereka sebut sebagai akselerasi. Pencarian untuk EV melonjak 111 persen hanya dalam waktu tiga minggu hingga 21 Maret.

“Kami tidak menyangka hal ini akan terjadi secepat ini,” ujar Brendon Green, Manajer Umum Solusi Otomotif Pickles. Ia mencatat bahwa jumlah pelanggan yang menambahkan EV ke daftar keinginan (wish list) mereka naik hampir dua kali lipat sejak harga bahan bakar meroket, bahkan mencapai $4 per liter untuk diesel di beberapa wilayah regional.

Stok Menipis Sebelum Sampai di Pelabuhan

James Pickering, Presiden National Australian Electric Vehicle Association, menambahkan bahwa dampak penuh dari minat ini mungkin baru akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini dikarenakan stok mobil listrik yang sedang dalam perjalanan (in transit) pun sudah mulai habis terjual (pre-order) sebelum tiba di pelabuhan Australia.

“Apa yang kita lihat sekarang adalah respons terhadap kekhawatiran keamanan energi yang sudah dialami Australia sejak lama,” kata Pickering.

Fenomena Eropa: EV Menyalip Dominasi Diesel

Tren serupa melanda Eropa. Sejak pecahnya konflik pada akhir Februari yang mengganggu jalur pengiriman minyak global, harga bensin di Uni Eropa melonjak rata-rata 12 persen dalam waktu singkat.

Di Norwegia, pasar mobil bekas terbesar (Finn.no) melaporkan bahwa EV kini resmi menyalip model diesel sebagai tipe bahan bakar terlaris. Sementara di Prancis, pengecer online Aramisauto melihat pangsa penjualan EV mereka melonjak dari 6,5 persen menjadi 12,7 persen hanya dalam tiga minggu.

“Begitu harga bensin melewati ambang 2 Euro per liter, hal itu meninggalkan kesan mendalam di benak konsumen,” kata Romain Boscher, CEO Aramisauto.

Mengapa Mobil Listrik Bekas Jadi Primadona?

Ada beberapa alasan mengapa pasar mobil bekas menjadi solusi instan dalam krisis ini:

  • Ketersediaan Langsung: Berbeda dengan mobil baru yang memiliki daftar tunggu (inden) panjang, mobil bekas bisa langsung digunakan.

  • Efisiensi Operasional: Dengan harga bensin yang fluktuatif, biaya operasional per kilometer untuk EV menjadi jauh lebih hemat bagi dompet konsumen.

  • Keamanan Energi: Para pakar berpendapat bahwa transisi ke EV membantu mengurangi ketergantungan negara pada impor minyak dari zona konflik.

Masa Depan Berkendara yang Terakselerasi

Meskipun kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga bensin yang mendadak, banyak analis percaya bahwa perubahan perilaku konsumen ini akan bersifat permanen. Produsen otomotif kini mulai agresif dalam pemasaran, mengajak masyarakat untuk “memikirkan kembali cara mereka berkendara.”

Data dari Olx di Amsterdam menunjukkan bahwa pertanyaan konsumen tentang EV melonjak di berbagai negara seperti Rumania (40%), Portugal (54%), dan Polandia (39%). Hal ini membuktikan bahwa mobil listrik bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan kebutuhan darurat di tengah krisis energi global.

Peluang Investasi di Sektor EV via Pluang

Meningkatnya permintaan global terhadap kendaraan listrik tidak hanya berdampak pada penjualan unit, tetapi juga membuka peluang besar bagi para investor. Melalui aplikasi Pluang, investor Indonesia kini dapat ikut serta memiliki saham di raksasa teknologi otomotif dunia.

Beberapa emiten EV terkemuka yang bisa Anda akses di Pluang antara lain:

  • Tesla ($TSLA): Pemimpin pasar global yang terus mencatatkan pertumbuhan pengiriman kendaraan meski di tengah tantangan ekonomi.

  • NIO ($NIO): Produsen asal China yang dikenal dengan inovasi teknologi tukar baterai (battery swapping).

  • Lucid Group ($LCID): Pemain utama di segmen mobil listrik mewah dengan teknologi efisiensi energi yang unggul.

  • XPeng ($XPEV) & Li Auto ($LI): Emiten lain yang memperkuat dominasi kendaraan listrik di pasar Asia.

Berinvestasi di emiten ini melalui Pluang memungkinkan Anda untuk membeli saham fraksional (mulai dari nominal kecil) secara legal dan aman, karena difasilitasi oleh pialang berjangka yang berizin dan diawasi.

Comparison Table: Emiten EV Populer

Emiten Kode Saham Fokus Utama Keunggulan
Tesla $TSLA Global Mass Market Ekosistem Supercharger & Autopilot
NIO $NIO Premium (China) Teknologi Battery Swapping (Tukar Baterai)
Lucid Group $LCID Ultra Luxury Efisiensi baterai & jarak tempuh terjauh

Beli Saham TSLA di Sini!

Transaksi NIO di Sini!

Beli Saham LCID di Sini!

Transaksi Saham XPEV di Sini!

Beli Saham Li Auto Di Sini!

Masa Depan Berkendara yang Terakselerasi

Meskipun kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga bensin yang mendadak, banyak analis percaya bahwa perubahan perilaku konsumen ini akan bersifat permanen. Produsen otomotif kini mulai agresif dalam pemasaran, mengajak masyarakat untuk “memikirkan kembali cara mereka berkendara.”

Data dari berbagai marketplace menunjukkan bahwa pertanyaan konsumen tentang EV melonjak konsisten minggu demi minggu. Hal ini membuktikan bahwa mobil listrik bukan lagi sekadar tren gaya hidup, melainkan solusi strategis di tengah krisis energi global dan ketidakpastian harga minyak mentah.

Risks & Considerations 

Investasi di sektor teknologi dan otomotif memiliki risiko tinggi:

  • Volatilitas Harga: Saham EV seperti TSLA dan NIO sangat fluktuatif dan sensitif terhadap berita makroekonomi.

  • Masalah Rantai Pasok: Kelangkaan chip atau bahan baku baterai (Lithium/Nikel) dapat menghambat produksi.

  • Kompetisi Ketat: Banyak produsen mobil tradisional (Ford, VW) kini beralih ke listrik, mempersempit pangsa pasar pemain murni EV.

  • Risiko Geopolitik: Ketegangan perdagangan AS-China dapat berdampak langsung pada kinerja saham seperti NIO atau XPeng.

FAQ (Frequently Asked Questions)

  1. Mengapa harga mobil listrik bekas ikut naik? Karena stok mobil baru terbatas dan waktu tunggu (inden) sangat lama.

  2. Apakah tren ini akan bertahan jika harga bensin turun? Pakar berpendapat minat akan tetap tinggi karena konsumen sudah merasakan “trauma” harga bensin dan mulai menyadari efisiensi EV.

  3. Apakah investasi di saham EV di Pluang aman? Ya, Pluang bekerja sama dengan mitra pialang yang berizin dan diawasi oleh otoritas terkait di Indonesia (BAPPEBTI).

  4. Berapa modal minimal investasi saham AS di Pluang? Anda bisa mulai berinvestasi dengan nominal yang sangat terjangkau, bahkan di bawah Rp50.000 melalui sistem fraksional.

  5. Apa perbedaan utama NIO dengan Tesla? NIO fokus pada Battery-as-a-Service (tukar baterai), sementara Tesla fokus pada pengisian daya cepat (Supercharging).

  6. Apakah mobil listrik benar-benar lebih murah operasionalnya? Secara umum, ya. Biaya per kilometer menggunakan listrik biasanya 1/3 hingga 1/4 dari biaya bensin.

  7. Negara mana yang memimpin adopsi EV saat ini? Norwegia memimpin secara persentase, sementara China memimpin secara volume total.

  8. Apa dampak perang terhadap produksi baterai? Perang dapat mengganggu pasokan gas dan energi yang dibutuhkan untuk pabrik baterai di Eropa.

  9. Bisakah saya membeli saham EV China di Pluang? Ya, emiten China seperti NIO dan XPeng melantai di bursa AS (NYSE/NASDAQ) dan tersedia di Pluang.

  10. Apa itu saham fraksional? Fitur yang memungkinkan Anda membeli kurang dari satu lembar saham penuh berdasarkan nilai nominal uang.

Sources & Methodology



Sumber : pluang.com

Biar Cuan dari Emas Makin Pol, Yuk Pelajari Trik Investasi Emas di Buku-Buku Berikut!

Sebagai seorang investor yang lama malang-melintang di dunia investasi, kamu tentu sudah familiar dengan banyak referensi terkait tips investasi emas, saham, dan aset-aset lainnya.

Terus-menerus belajar tentang strategi investasi adalah kepribadian yang dimiliki oleh para investor kawakan. Kamu tentu kerap mendengar pengakuan banyak investor yang berhasil, bahwa mereka adalah tipikal pribadi yang tidak pernah berhenti belajar.

Bukan hanya mengakses berita terkini, bahkan Warren Buffett dan para investor sukses itu merasa bahwa selalu ada hal baru yang bisa dipelajari setiap harinya dalam bidang investasi, bidang yang tidak bosan-bosannya mereka geluti selama puluhan tahun.

Kita memang bisa senantiasa belajar dari informasi di sekitar kita. Entah itu dari menyimak video dokumenter YouTube atau menonton para ahli di bidangnya bicara di TEDx, atau mendengar podcast sembari beraktivitas.

Buku pun tak terkecuali. Bagi sebagian besar orang, tidak harus menjadi orang konvensional untuk mengatakan bahwa memperoleh informasi dari buku boleh jadi jauh lebih efisien.

Saat membolak-balik buku, kita dapat langsung menemukan informasi yang dibutuhkan dengan menyisiri kata kuncinya. Berbeda dengan mendengarkan podcast atau menonton video yang mengharuskan kita dengan tabah menyimak untaian demi untaian kata sang narator.

Lagipula, menambah informasi seputar tips investasi tentunya tidak perlu dibatasi medium, bukan? Berikut ini beberapa judul buku terbaik mengenai tips investasi emas.

Baca juga: Mau Belajar Investasi? 5 Rekomendasi Buku Ini Wajib Kamu Baca!

1. Precious Metals Investing for Dummies – Tips Investasi Emas bagi Pemula

Pada dasarnya, buku ini membahas investasi secara umum. Tapi, secara spesifik, buku ini termasuk buku terbaik bagi pemula yang ingin mencari tips investasi emas.

Dalam buku ini, kamu bakal dapat menemukan tips untuk meneliti kapan waktu yang baik membeli dan menjual emas, bagaimana melakukan strategi perdagangan emas, hingga saran memilih broker investasi.

Ditulis dengan gaya “dummies” alias ditujukan bagi pemula, buku ini dikemas sedemikian rupa sehingga bisa sangat dinikmati bagi mereka yang mencari informasi teknis. Dari tips dan trik, hingga informasi trivia yang penting untuk diketahui. Bahkan, kamu bisa membaca bagian buku ini yang menjelaskan tentang koin numismatik, hingga bagaimana menentukan diversifikasi portofolio logam yang menguntungkan.

2. The Goldwatcher: Demystifying Gold Investing

Terbit pada 2008, buku ini menyelidiki sejarah harga emas. Meski terbit 13 tahun lalu, buku ini merupakan bacaan yang bagus bagi mereka yang ingin mendapatkan pemahaman lebih baik tentang pengaruh ekonomi dunia terhadap nilai emas.

Buku ini ditulis oleh John Katz dan Frank Holmes dengan gaya bahasa yang efisien dan informatif. Katz memberi kontribusi dalam deskripsi mengenai tips investasi emas yang tidak bias. Bahkan, ia bisa dengan lugas menyampaikan perihal berbagai kebijakan pemerintah peristiwa ekonomi, serta harga emas dari waktu ke waktu. Semua informasi ini ditujukan agar pembaca buku ini dapat membuat keputusan investasi yang tepat dengan melihat sejarah investasi ke belakang.

Sementara itu, Holmes memberi penjelasan tentang kapan waktunya investasi emas mengalami masa-masa bullish. Ia membahas juga investasi di saham perusahaan emas, perbedaan antara perusahaan dan pertambangan emas, juga risiko dan potensi keuntungan dari investasi ini.

Lewat buku ini, kamu akan mendapatkan tips investasi emas yang terperinci membahas musim investasi dan pergerakan/volatilitas investasi emas.

3. What to do with Granddaddy’s Coins

Ini adalah panduan bagi kolektor koin emas yang mudah diikuti dan menyenangkan untuk dibaca. Jeff Ambio membawa pembacanya mengidentifikasi dan membuat penilaian tentang berbagai jenis koin. Selain itu, ia juga memberi informasi tentang bagaimana menangani dan menyimpan koin tersebut.

Ambio adalah seorang pakar di bidang perkoinan. Membaca panduannya di buku ini akan menjadikan seorang non-kolektor memiliki otoritas untuk membicarakan soal koin hanya dalam semalam.

Baca juga: Kenali Tujuan Investasimu, Lihat 4 Investasi Potensial untuk Pemula Ini

4. The ABC’s of Gold Investing

Buku ini hadir dengan subjudul “Protecting your wealth through private gold ownership” alias “melindungi kekayaan dengan memiliki emas pribadi”. Penulis buku ini tidak diragukan jam terbangnya, Michael Kosares adalah seorang pakar pasar emas dan pemantau bullish jangka panjang dalam investasi emas.

Buku tips investasi emas ini dibuka dengan latar belakang sejarah emas, yang lantas diikuti oleh panduan faktor-faktor yang mempengaruhi harga emas, hingga penjelasan lanskap politik dan ekonomi di balik perubahan harga tersebut.

Konon, seorang investor veteran pun masih dapat memetik banyak pelajaran dari buku Kosares ini. Ini lantaran Kosares berhasil menjelaskan dengan sangat baik mengenai beberapa kasus yang menjadi ilustrasi kapan waktu yang baik untuk membeli dan menjual emas.

5. Junior Mining Investing – Tips Investasi Emas di Sektor Pertambangan

Memasang investasi di saham pertambangan bisa jadi merupakan pilihan bisnis yang rumit. Namun, buku ini tampaknya bisa memberimu banyak panduan seputar dunia pertambangan emas dan industrinya. Ada tulisan dari kontributor dengan beragam latar belakang yang dikumpulkan dalam buku ini.

Selusin veteran industri tambang, juga manajer hedge fund hingga penulis buletin investasi, ahli geologi dan pelaku industri yang sukses di industri ini memberikan penjelasan dan perspektif mereka soal investasi emas dan dunia pertambangan.

Selain soal pertambangan emas, buku ini tentunya akan sangat baik juga dibaca oleh mereka yang tertarik mengetahui seluk-beluk industri pertambangan secara keseluruhan. Buku ini mengeksplorasi secara mendetail berbagai strategi investasi di tiap jenis pertambangan.

Kalau kamu belum pernah terpikir untuk berinvestasi di sektor ini atau masih ragu-ragu untuk memulai, buku ini adalah panduan yang tepat untuk mendorongmu melangkah di sektor ini. Tapi, kalau kamu sudah yakin berinvestasi emas, yuk langsung saja investasi emas digital di Pluang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investing.co.uk



Sumber : pluang.com

Emas Terkoreksi, Saham Tambang Emas Oversold: Mengapa Ini Peluang Langka untuk Beli GDX

Namun, bagi investor yang jeli, penurunan tajam ini bukanlah sinyal untuk keluar dari pasar, melainkan sebuah window of opportunity. Indikator teknikal menunjukkan bahwa GDX kini berada di zona Deeply Oversold dengan RSI 14-hari di angka 26,22—sebuah level yang secara historis sering kali diikuti oleh pembalikan harga yang signifikan.

KEY TAKEAWAYS

  • Koreksi Sehat: Penurunan harga emas sebesar 23% dipicu oleh aksi profit-taking dan penguatan dolar akibat oil shock Iran, namun tren jangka panjang tetap bullish.
  • Kondisi Deeply Oversold: GDX menyentuh RSI 26,22, level terendah dalam 2 tahun yang secara historis diikuti rebound 25-40% dalam 3 bulan.
  • Era Super-Margin: Perusahaan tambang seperti Newmont dan Barrick mencatat margin laba bersih 32-40%, menyaingi sektor teknologi AS.
  • Valuasi Murah: GDX diperdagangkan dengan Forward P/E 12,58x, jauh lebih rendah dibandingkan S&P 500 yang berada di atas 20x

Mengapa Harga Emas Turun di Maret 2026?

Untuk memahami peluang di GDX, kita harus terlebih dahulu membedah penyebab koreksi harga emas fisik. Penurunan tajam sebesar 23% dalam waktu singkat dipicu oleh kombinasi faktor teknikal dan makro:

Aksi Ambil Untung (Profit-Taking)

Emas telah mengalami reli parabolik yang luar biasa, melonjak dari kisaran $3.000 ke $5.589 dalam waktu kurang dari 12 bulan. Setelah keuntungan sebesar itu, wajar bagi investor institusional untuk melakukan aksi jual demi mengamankan profit. Koreksi ini dianggap sehat untuk mencegah terjadinya gelembung (bubble) harga di masa depan.

Penguatan Dolar AS dan Geopolitik

Ketegangan di Timur Tengah, khususnya ancaman Iran terhadap Selat Hormuz, menyebabkan harga minyak dunia bertahan di atas level US$100 per barel. Kondisi ini memicu penguatan dolar AS secara sementara sebagai aset safe haven. Selain itu, lonjakan harga minyak menimbulkan kekhawatiran bahwa bank sentral AS (The Fed) mungkin akan kembali bersikap hawkish untuk meredam inflasi.

Fenomena Margin Call

Volatilitas ekstrem di pasar minyak memaksa banyak hedge fund untuk melikuidasi posisi emas mereka guna memenuhi kewajiban margin (margin call). Ini adalah bentuk penjualan teknikal yang dipaksakan oleh broker, bukan didasari oleh memburuknya fundamental emas itu sendiri.

Fundamental Emas: Mengapa Bull Market Belum Berakhir?

Meskipun harga sedang terkoreksi, para analis dari bank investasi global tetap optimis. J.P. Morgan masih mempertahankan target harga emas di angka $6.300/oz untuk akhir tahun 2026. Sementara itu, Deutsche Bank menyebut penurunan ini sebagai “pullback taktis dalam pasar bull struktural”.

Beberapa katalis struktural yang masih sangat kuat meliputi:

  • De-dolarisasi Global: Bank sentral dunia terus memborong emas dalam jumlah besar. Sebagai contoh, China tercatat menambah 200 ton emas ke cadangan devisanya per 19 Maret 2026.
  • Utang AS yang Membengkak: Utang pemerintah Amerika Serikat kini telah menembus angka $39 triliun. Secara teori, semakin besar utang negara, semakin besar risiko depresiasi mata uang, yang pada akhirnya akan mendongkrak harga emas.
  • Suku Bunga Rendah: Terdapat indikasi kuat bahwa The Fed masih berencana memotong suku bunga di tahun 2026. Suku bunga yang rendah menurunkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang emas.

GDX: Mengenal ETF Tambang Emas Terbesar di Dunia

VanEck Gold Miners ETF (GDX) adalah instrumen investasi yang memberikan eksposur ke keranjang berisi 52 saham perusahaan tambang emas terbesar di seluruh dunia. Dengan satu transaksi, investor secara tidak langsung memiliki perusahaan raksasa seperti Newmont, Barrick Gold, dan Agnico Eagle.

Keunggulan GDX Dibanding Emas Fisik

Banyak investor bertanya, mengapa tidak membeli emas batangan saja? Jawabannya terletak pada leverage operasional.

  • Efek Pengungkit Alami: Saham tambang emas cenderung bergerak lebih agresif daripada harga emas fisik. Data 12 bulan terakhir menunjukkan GDX memberikan imbal hasil +78,70%, sementara emas spot “hanya” naik +45%. Secara historis, GDX memberikan daya ungkit sekitar 1,7x terhadap pergerakan emas.
  • Dividen dan Buyback: Berbeda dengan emas fisik yang tidak memberikan arus kas, perusahaan di dalam GDX rutin membagikan dividen dan melakukan pembelian kembali saham (buyback).

Analisis “Era Super-Margin” Emiten Tambang

Saat ini, perusahaan tambang emas sedang menikmati profitabilitas yang menyamai perusahaan teknologi elit di Amerika Serikat. Fenomena ini disebut sebagai Era Super-Margin.

  • Newmont Corporation (NEM): Mencatatkan free cash flow rekor sebesar $7,3 miliar pada 2025 dengan net margin mencapai 40%.
  • Barrick Gold (GOLD): Memiliki neraca keuangan yang sangat kuat dengan posisi kas bersih $2 miliar dan kebijakan dividen sebesar 50% dari free cash flow.
  • Agnico Eagle Mines (AEM): Fokus pada tambang di wilayah berisiko politik rendah seperti Kanada dan Finlandia, berhasil mencetak laba bersih lebih dari $1 miliar.

Secara keseluruhan, GDX diperdagangkan dengan valuasi yang sangat murah, yaitu Forward P/E hanya 12,58x, jauh di bawah indeks S&P 500 yang berada di atas 20x.

PERBANDINGAN RETURN (12 BULAN TERAKHIR)

Instrumen Return (%) Karakteristik
GDX (Tambang Emas)

+78,70%

Memberikan daya ungkit (leverage) ~1,7x terhadap emas.

Emas Spot

+45,00%

Aset safe haven fisik tanpa dividen.

S&P 500

+8,50%

Indeks pasar saham AS secara umum.

Strategi Investasi di Tengah Kondisi Oversold

Bagi Anda yang tertarik memanfaatkan momentum ini, berikut adalah panduan strategi masuk yang direkomendasikan:

Opsi 1: Dollar-Cost Averaging (DCA)

Strategi ini paling disarankan untuk meminimalkan risiko waktu (timing risk). Bagi modal Anda menjadi beberapa bagian dan investasikan secara rutin setiap minggu. Dengan cara ini, Anda bisa mendapatkan harga rata-rata yang lebih stabil tanpa harus menebak di mana titik terendah pasar.

Opsi 2: Buy the Dip (Konviction Tinggi)

Secara historis, membeli saat RSI berada di bawah 30 memberikan potensi imbal hasil yang sangat menarik dalam 3-12 bulan ke depan. Namun, pastikan Anda siap menghadapi volatilitas jangka pendek jika harga masih turun sedikit lebih dalam menuju area dukungan (support) di $75 – $76.

Kesimpulan: Belajar dari Sejarah 1970-an

Kondisi ekonomi saat ini memiliki kemiripan yang mencolok dengan era stagflasi 1971-1980. Pada masa itu, emas melonjak +2.200% sementara saham tambang emas naik lebih dari +1.292%. Jika sejarah berulang, kita mungkin baru berada di tahap awal dari siklus kenaikan emas yang panjang.

GDX menawarkan cara yang efisien dan murah untuk mendapatkan keuntungan dari siklus makro ini. Namun, selalu ingat untuk menjaga diversifikasi dan tidak mengalokasikan lebih dari 10-15% total portofolio Anda pada satu sektor saja.

FAQ (PERTANYAAN UMUM)

  • Kenapa pilih GDX dibanding emas fisik? GDX menawarkan leverage alami (naik lebih tinggi saat emas naik) serta dividen yang tidak dimiliki emas fisik.
  • Apa itu RSI 26,22? Indikator yang menunjukkan harga sudah turun terlalu dalam dan jenuh jual, biasanya menandakan potensi pembalikan arah naik.
  • Siapa emiten terbesar di GDX? Newmont (NEM), Barrick Gold (GOLD), dan Agnico Eagle (AEM).
  • Berapa modal minimal di Pluang? Mulai dari Rp 10.000 melalui fitur fractional investing.
  • Apakah koreksi bisa berlanjut? Bisa, support kuat berikutnya ada di level $75-76.
  • Berapa lama jangka waktu investasi yang ideal? Minimal 6-12 bulan karena ini berbasis siklus makro

Mulai Investasi GDX di Pluang Anda dapat mulai berinvestasi di saham tambang emas terbesar dunia melalui GDX di Pluang mulai dari Rp10.000 saja. Manfaatkan fitur fractional investing untuk membangun portofolio Anda secara bertahap.

SUMBER & METODOLOGI

Laporan ini disusun berdasarkan data per 20 Maret 2026 dari berbagai sumber kredibel:

Data Pasar: GuruFocus, Yahoo Finance, dan VanEck.

Analisis Riset: Pluang Research, J.P. Morgan Global Research, Deutsche Bank, dan Allianz Research.



Sumber : pluang.com

Apa Sih, Pentingnya Musim Pelaporan Keuangan SP 500 Bagi Investor?

Sekarang sudah memasuki bulan April. Banyak perusahaan terbuka yang sudah mulai melaporkan kinerjanya untuk periode triwulan pertama 2021, atau biasanya dikenal dengan earning season. Tidak ketinggalan, begitu juga dengan perusahaan yang masuk dalam daftar Indeks S&P 500.

Hanya saja, earning season S&P 500 kali ini terbilang spesial. Hingga Kamis (22/4), setidaknya ada 75 perusahaan S&P 500 yang sudah mengumumkan kinerja keuangannya. Hasilnya, 85% diantaranya berhasil melampaui estimasi laba per saham (Earning per Share) yang disusun para analis.

Adapun, salah satu sektor yang menorehkan kinerja moncer S&P 500 adalah sektor jasa keuangan. Nilai EPS USBancorp, misalnya, tercatat 49% lebih tinggi dari konsensus. Begitu pun JPMorgan dan Bank of America yang pertumbuhannya masing-masing mencatat 48% dan 25% lebih tinggi di atas konsesus analis.

Analis Earning Scouts Nick Raich menjelaskan, kebanyakan perusahaan yang sudah merilis kinerja keuangannya menatap pencapaian di triwulan II dengan lebih positif. Hal itu akan berdampak baik bagi saham perusahaan itu sendiri.

Meski demikian, apa sih, alasan utama investor harus memperhatikan earning season kali ini? Mengapa semua mata pelaku pasar tertuju pada momen pelaporan kinerja tahunan tersebut?

Baca juga: Menganalisa Kinerja Indeks S&P500

Earning Season Memberi Petunjuk Mengenai Nasib S&P 500

Seperti yang kita tahu, indeks S&P 500 seolah tak henti-hentinya mencetak rekor sejak Maret. Terakhir, indeks S&P 500 mencetak rekor di angka 4.185 pada 16 April lalu.

Nah, nilai indeks tersebut kemungkinan bisa mencetak rekor baru lagi jika hasil laporan keuangan para perusahaan S&P 500 saat earning season juga terbilang tokcer. Mengapa demikian?

Sekadar informasi, nilai indeks S&P 500 dihitung berdasarkan nilai kapitalisasi pasar atas saham-saham perusahaan yang berada di dalamnya. Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar sendiri dihitung berdasarkan total jumlah saham beredar dan harga saham tersebut.

Tentu saja, jika kinerja keuangan perusahaan kian mumpuni, maka harga sahamnya juga bisa terdongkrak. Ujungnya, kapitalisasi pasar membengkak, dan mempengaruhi pembobotan nilai indeks S&P 500. Hasilnya, nilai indeks saham paling bonafit di AS ini pun melesat bak roket.

Nah, di sisi lain, nilai indeks S&P 500 adalah cerminan dari laju tingkat return indeks saham tersebut. Jika laju nilai indeks S&P 500 bergerak secara pelan, itu mengindikasikan bahwa mendulang cuan dari indeks ini pun kemungkinan akan sukar. Begitu pun sebaliknya.

Intinya, investor S&P 500 wajib mengikuti hasil earning season untuk memutuskan apakah ia harus tetap berinvestasi atau justru menarik diri dari indeks S&P 500.

Meski demikian, hasil earning season yang buruk bukan berarti bahwa perusahaan-perusahaan, atau kinerja indeks S&P 500 secara keseluruhan, terbilang parah. Sebab, buruknya kinerja keuangan perusahaan bisa jadi disebabkan perbedaan sistem pencatatan keuangan.

Di AS, terdapat perusahaan yang menggunakan perhitungan aktvitas keuangannya dengan sistem tahun fiskal. Artinya, publikasi laporan keuangannya akan berbeda dengan perusahaan lain yang biasanya berjalan di bulan Maret, Juni, September dan Desember.

Setiap laporan keuangan yang dirilis oleh perusahaan dapat memengaruhi pergerakan sahamnya. Investor, media keuangan, analis semua memfokuskan pandangannya pada saat momentum laporan keuangan seperti sekarang.

Karena saat laporan keuangan perusahaan A dirilis misalnya, pergerakan harga sahamnya memiliki dua kemungkinan, yakni meningkat tajam atau justru amblas.

Sehingga momentum seperti ini dijadikan penentu keputusan bagi investor, apakah tetap mengoleksi saham tersebut atau justru melepasnya dan melihat potensi kenaikan yang lebih tinggi lagi dari hasil laporan keuangan yang dipublikasikan.

Baca juga: Investasi S&P 500 Bisa Bikin Kamu Sultan Lho, Simak 3 Alasannya!

Setelah Earning Season, Masa Depan S&P 500 Akan Tetap Cerah

Tadi, dijelaskan bahwa earning season bisa menjadi bahan pertimbangan investor untuk terus berinvestasi di S&P 500 atau tidak. Kali ini, mungkin investor masih optimistis dengan kinerja S&P 500, mengingat nilainya dianggap “masih bisa menuju puncak yang lebih tinggi lagi”.

Salah satu sentimen pendukungnya adalah data-data ekonomi AS yang mumpuni. Sejak dua pekan lalu, data-data seperti indeks harga konsumen, data penjualan ritel, klaim pengangguran AS terus menunjukkan perbaikan. Di saat ekonomi tengah bergeliat, maka investor pun mulai berani untuk menggenggam aset berisiko seperti saham.

Chris Low dari FHN Financial menambahkan, data tersebut akan menambah optimisme pelaku pasar jika dikombinasikan dengan kebijakan moneter The Fed. Yakni, berupaya keras untuk terus memfasilitasi ekonomi AS hingga benar-benar pulih seutuhnya.

“Kami mendapatkan jaminan dari salah satu Pejabat The Fed, bahwa kondisi ini adalah kondisi yang nyaman dengan lingkungan ekonomi dan inflasi. Sehingga hal itu juga menjadi berita baik bagi ekuitas,” kata dia.

Selain itu, laju return indeks S&P 500 yang diperkirakan makin kencang juga bikin investor yakin untuk membenamkan dana di indeks tersebut.

Indeks S&P 500 pertama kali menembus level 1.000 pada 1998 silam. Dibutuhkan waktu 16 tahun lamanya sampai akhirnya indeks saham bonafit AS iti menembus level 2.000 di tahun 2014.

Namun, apakah S&P 500 membutuhkan waktu 16 tahun lagi demi mengeret nilai dari 2.000 ke 3.000? Jawabannya adalah tidak. Malahan, jangka waktunya kian cepat. Sebab, S&P 500 hanya membutuhkan waktu lima tahun saja untuk mencapai posisi 3.000 di 2019. Kemudian, ia hanya butuh kurang dari dua tahun untuk mencapai posisi 4.000.

Dengan laju return S&P 500 yang semakin cepat, maka investor juga semakin cepat mendulang cuan dari indeks tersebut. Nah, apakah Sobat Cuan tidak tertarik untuk berinvestasi S&P 500 juga? Yuk, langsung investasi S&P 500 di Pluang sekarang!

Baca juga: Sejarah Pasar Saham di Indonesia

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNBC, Investopedia, Nasdaq



Sumber : pluang.com

Cara Trading Crypto Pemula dari Nol di Indonesia (2026)

Kuncinya ada dua: edukasi (“tata bahasa”) dan regulasi (“sekolah” yang aman). Sejak 2025, pengawasan OJK atas aset crypto memberikan perlindungan lebih kuat. Artikel ini adalah panduan Anda untuk belajar trading dari nol di platform legal seperti Pluang.

Pelajaran 1: Alfabet (Teori Dasar & Istilah Penting)

Cara belajar trading crypto dimulai dari “alfabet” dan “kosakata” dasar.

  • Apa Itu Trading Crypto vs. HODL? 
    • Secara sederhana, trading crypto adalah aktivitas jual beli aset digital (seperti Bitcoin) secara aktif di jangka pendek (harian/mingguan) demi mencari keuntungan dari fluktuasi harga.
    • Bagi pemula, penting untuk membedakan ini dari investasi (HODL), yang merupakan strategi pasif “Beli dan Simpan” untuk jangka panjang dengan fokus pada analisis fundamental.
  • Kelebihan dan Kekurangan Crypto:
    • Kelebihan: Potensi keuntungan tinggi (karena volatilitas), pasar 24/7, bisa mulai modal kecil, dan likuiditas tinggi (di BTC/ETH).
    • Kekurangan (Risiko): Volatilitas tinggi (risiko rugi besar), risiko keamanan (platform ilegal/penipuan), kompleksitas & FOMO.
  • Istilah Penting dalam Trading Crypto (Kamus Wajib Pemula):
    • Blockchain: Teknologi buku besar digital (fondasi bahasa).
    • Bitcoin (BTC): Aset crypto pertama dan terbesar (kata benda utama).
    • Altcoin: Semua crypto selain Bitcoin (misal: Ethereum (ETH), Solana) (kata sifat/kata kerja).
    • Stablecoin: Crypto yang nilainya dipatok ke Dolar AS (misal: USDT).
    • FOMO (Fear of Missing Out): Takut ketinggalan “topik hangat”, membuat pemula membeli di harga puncak.
    • FUD (Fear, Uncertainty, and Doubt): Penyebaran berita negatif (rumor) untuk membuat investor panik.

Pelajaran 2: Tata Bahasa (Wajib Belajar Analisis Pasar)

Cara belajar trading crypto yang benar adalah belajar analisis pasar. Tanpa ini, Anda “berbicara” tanpa “tata bahasa”. Analisis pasar membantu Anda mengambil keputusan trading. Ada dua pilar utama:

  1. Analisis Fundamental (Semantik/Makna Kata) Analisis fundamental adalah cara menilai ‘kesehatan’ dan nilai intrinsik sebuah proyek crypto. Ini penting agar Anda tidak terjebak FOMO membeli koin “sampah”.

Bagi pemula, tanyakan ini sebelum membeli:

  • Whitepaper & Roadmap Proyek: Apa tujuan koin ini? Masalah apa yang dipecahkannya? Apa roadmap proyek (rencana) ke depan?
  • Tim Pengembang: Siapa kredibilitas tim pengembang di baliknya? Apakah mereka anonim atau punya rekam jejak yang jelas?
  • Tokenomics: Bagaimana distribusi suplai koinnya?
  • Berita dan Regulasi: Apakah ada berita kemitraan besar? Apakah ada regulasi baru yang memengaruhinya?
  1. Analisis Teknikal (Struktur Kalimat) Analisis teknikal adalah keterampilan membaca grafik harga (chart) untuk memprediksi fluktuasi harga. Bagi pemula, cukup pelajari konsep dasar:
  • Pola Candlestick: “Bilah” hijau dan merah yang menunjukkan harga.
  • Support & Resistance: Level harga psikologis (lantai dan langit-langit).
  • Volume: Seberapa banyak aset diperdagangkan. Volume tinggi mengkonfirmasi kekuatan sebuah tren.
  • Indikator Sederhana: Gunakan dua indikator populer: Indikator RSI (Relative Strength Index) (mengukur jenuh beli/jual) atau Indikator MACD (melihat momentum tren).
  1. Sentimen Pasar (Konteks Percakapan) Ini adalah analisis untuk mengukur “emosi” pasar (serakah atau takut), sering terlihat dari berita atau media sosial.

Pelajaran 3: Memilih “Sekolah Bahasa” (Platform Legal OJK)

Cara belajar trading crypto bagi pemula sangat ditentukan oleh “sekolah” atau platform yang Anda gunakan. Platform ilegal (tidak terdaftar OJK) berbahaya.

Kriteria Wajib Platform bagi Pemula:

  1. Legalitas OJK (Resmi): Wajib memilih platform yang sudah teregulasi OJK. Ini adalah jaminan keamanan hukum Anda.
  2. Keamanan Data & Aset: Cari platform dengan sertifikasi ISO/IEC 27001 (keamanan data) dan perlindungan aset pengguna yang jelas (penyimpanan di cold wallet).
  3. Program Edukasi (Guru): Platform harus menyediakan program edukasi.

Pluang adalah pilihan “sekolah” ideal bagi pemula karena mencentang semua kotak:

  • Legal & Aman: Diawasi OJK dan tersertifikasi ISO/IEC 27001.
  • Edukasi Terpandu: Memiliki Pluang Academy sebagai program edukasi terintegrasi.
  • Multi-Aset (Kelas Tambahan): Pluang adalah super-app. Anda bisa diversifikasi portofolio dengan mudah ke Saham AS, Emas, Saham Indonesia (soon) dan Reksa Dana dalam satu aplikasi.

Pelajaran 4: Latihan Percakapan (Tutorial Memulai Trading)

Setelah belajar teori, saatnya praktik. Berikut adalah panduan praktis atau tutorial penggunaan platform trading, khusus bagi pemula:

  1. Daftar & Verifikasi Akun (KYC): Unduh aplikasi legal OJK (misal: Pluang). Siapkan KTP/Paspor dan lakukan swafoto (selfie). Ini adalah syarat wajib dari OJK untuk keamanan Anda.
  2. Deposit Dana (Mulai Modal Kecil!): Pemula sangat disarankan memulai dengan nominal kecil (misal: Rp100.000) sebagai “uang belajar”. Pluang memungkinkan deposit fleksibel mulai Rp10.000.
  3. Pilih Topik (Fokus di BTC & ETH): Bagi pemula, fokuslah pada aset blue chip yang sudah Anda pelajari (analisis fundamental), seperti Bitcoin (BTC) atau Ethereum (ETH).
  4. Terapkan Strategi Pemula (DCA): Jangan terburu-buru day trading. Gunakan strategi Dollar-Cost Averaging (DCA): membeli aset secara rutin (misal: Rp100.000 setiap tanggal 1). Pluang mengotomatiskan ini via fitur Auto-Invest.

Pelajaran 5: Tata Krama (Manajemen Risiko & Keamanan Aset)

Ini adalah bagian terpenting cara belajar trading crypto. Anda harus tahu cara menjaga keamanan aset crypto dan melindungi akun dari potensi ancaman.

  • Manajemen Risiko (Mengelola Emosi):
    • Gunakan “Uang Dingin”: Hanya gunakan dana yang Anda siap rugi (risk capital), bukan dana kebutuhan pokok.
    • Mulai Modal Kecil: Jangan “All-In”.
    • Diversifikasi Portofolio: Jangan taruh semua dana di satu aset.
    • Tentukan Batas (Stop-Loss & Take-Profit): Jika Anda mulai trading aktif, belajar untuk menentukan batas kerugian (stop-loss) dan target keuntungan (take-profit) sebelum membeli.
    • Kendalikan Emosi: Jangan FOMO (takut ketinggalan) atau panik saat harga turun.
  • Keamanan Akun (Wajib!): Kesalahan fatal pemula adalah mengabaikan 2FA (Two-Factor Authentication). Segera aktifkan 2FA. Waspadai phishing (link ‘hadiah’ palsu).
  • Pahami Penyimpanan Aset (Wallet Digital):
    • Hot Wallet (di Exchange): Cara termudah bagi pemula adalah menggunakan exchange legal OJK seperti Pluang. Ini praktis untuk trading.
    • Cold Wallet (Hardware Wallet): Jika Anda HODL jangka panjang, Anda bisa belajar memindahkannya ke cold wallet (offline, seperti hardware wallet). Ini adalah penyimpanan aset crypto paling aman.
    • Private Key/Seed Phrase (Kunci Rahasia): Jika Anda menggunakan wallet digital non-custodial (di luar exchange), jangan pernah memfoto atau menyimpan seed phrase Anda di email/cloud. Jika bocor, aset Anda HILANG SELAMANYA.

FAQ (Informasi Tambahan Seputar Trading Crypto)

Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan umum dan informasi tambahan yang relevan bagi pemula:

  1. Langkah awal belajar trading crypto bagi pemula apa & modalnya berapa? Langkah awal terbaik adalah edukasi (misal: di Pluang Academy). Setelah paham, pilih aplikasi terdaftar OJK (seperti Pluang), lakukan KYC, lalu deposit modal kecil. Pluang memungkinkan investasi mulai dari Rp10.000.
  2. Apa risiko utamanya? Risiko utama adalah volatilitas harga yang ekstrem. Risiko terbesar kedua bagi pemula adalah memilih platform ilegal (tidak terdaftar OJK).
  3. Aplikasi apa yang bagus untuk belajar trading crypto? Pluang adalah pilihan aplikasi crypto terbaik bagi pemula karena legal (teregulasi OJK), aman (ISO 27001), dan menyediakan program edukasi komprehensif (Pluang Academy). Pluang juga mendukung diversifikasi ke multi-aset (Saham AS, Emas, Saham Indonesia (soon), Reksa Dana).
  4. Apakah pemula bisa untung dari trading crypto? Ini pertanyaan umum yang penting. Jawabannya: Bisa, asalkan pemula disiplin, fokus pada manajemen risiko, memulai dengan modal kecil, dan terus belajar. Kebanyakan pemula rugi karena FOMO dan tidak punya trading plan.

Hal Yang Dapat Diperhatikan

Cara belajar trading crypto bagi pemula yang sukses adalah memprioritaskan keamanan dan pengetahuan, bukan keuntungan instan.

Gunakan platform legal yang diawasi OJK seperti Pluang, kuasai analisis fundamental dan teknikal dasar (termasuk memantau berita dan tren), dan terapkan manajemen risiko yang ketat (terutama strategi DCA). Awali dengan modal kecil, pahami cara menjaga keamanan aset crypto Anda, dan teruslah belajar hingga “fasih”.



Sumber : pluang.com

Lagi Rame Prediksi Aset Kripto Bakal Bubble, Benarkah?

Harga Bitcoin sempat melonjak bersamaan penawaran saham perdana Coinbase, sebuah cryptocurrency exchange, yang menghebohkan pasar. Kini harga mulai turun, dan bahkan ada yang bilang pelemahan ini adalah efek lonjakan harga sebelumnya yang dianggap bubble.

Bank of America Fund Manager Survey melaporkan bahwa sebagian besar investor profesional berpikir kenaikan harga Bitcoin kemarin adalah sebuah bubble. Nah lho, gimana nih Sobat Cuan?

Sekitar 74% dari para fund manager yang memantau pasar mengatakan mereka melihat cryptocurrency terkemuka tersebut sebagai bubble. Hanya 16% responden yang mengatakan tidak untuk pertanyaan tersebut. Hal itu menunjukkan alasan investasi yang sangat spekulatif soal Bitcoin.

Para fund manager juga menilai Bitcoin menduduki peringkat kedua dalam daftar perdagangan paling ramai, setelah saham perusahaan teknologi. Bitcoin memimpin jauh di depan tren yang terkait isu investasi yang ramah lingkungan, sosial dan tata kelola perusahaan (ESG). Juga mengalahkan saham saham jagoan dan treasury AS.

Baca juga: Meski Naik Turun, Sampai Kapan Tren Harga Bitcoin yang Bullish Akan Berakhir?

Lebih dari tiga dari sepuluh responden mengaku saham perusahaan teknologi sebagai perdagangan paling ramai, sementara 27% mengatakan Bitcoin. Namun, sekitar 10% mengatakan mereka berpikir Bitcoin akan berkinerja lebih baik pada tahun 2021.

Hasil laporan tersebut berasal dari survei terhadap 200 responden dengan aset kelolaan US$533 miliar. Laporan ini itu tiba tepat ketika tren harga Bitcoin tengah bullish, dan pasar menunggu debut besar Coinbase di bursa saham.

Harga Bitcoin naik hampir sembilan kali lipat selama setahun terakhir di tengah hiruk pikuk spekulasi dan adopsi aset kripto yang lebih luas. Pendiri Tesla Elon Musk awal tahun ini mengatakan, produsen mobil listrik itu akan menerima Bitcoin sebagai alat pembayaran. Beberapa investment bank di Wall Street juga membuat layanan bagi pelanggan yang tertarik menaruh dana di cryptocurrency.

Harga Dogecoin yang Merongrong pun Diduga Bubble Aset Kripto

Dogecoin adalah mata uang kripto yang didasarkan pada meme seekor anjing “Doge”, yang menjadi populer pada akhir 2013. Dimulai sebagai lelucon, kini Doge melawan segala ejekan. Kapitalisasi pasar Dogecoin kini bernilai US$40 miliar, dan harganya telah meningkat 400% dalam tujuh hari terakhir.

Meroketnya harga Dogecoin telah menyebabkan kekhawatiran akan potensi bubble di pasar aset kripto. Beberapa investor sudah melihat Bitcoin sebagai bubble spekulatif, koin digital paling populer yang berlipat ganda sejak awal 2021.

Baca juga: Kenapa IPO Coinbase Memberi Petunjuk Soal Harga Aset Kripto di Masa Depan?

“Kebangkitan Dogecoin adalah contoh klasik dari teori bodoh lebih besar yang sedang dimainkan,” ujar David Kimberley, seorang analis di aplikasi investasi Freetrade asal Inggris.

“Orang-orang membeli cryptocurrency, bukan karena mereka pikir itu memiliki nilai yang berarti. Tetapi karena mereka berharap orang lain akan menumpuk, menaikkan harga, dan kemudian mereka dapat menjual dan menghasilkan uang dengan cepat,” imbuhnya.

Apa Itu Bubble?

Bubble alias gelembung adalah siklus ekonomi yang ditandai dengan peningkatan pesat nilai pasar, khususnya harga aset. Kenaikan yang cepat ini diikuti dengan penurunan nilai yang cepat, atau kontraksi, yang kadang-kadang disebut sebagai “crash” atau “bubble burst“.

Biasanya, bubble terjadi karena lonjakan harga aset yang didorong oleh perilaku pasar yang terbuai euforia. Selama bubble, aset biasanya diperdagangkan pada harga, atau dalam kisaran harga yang jauh melebihi nilai intrinsik aset (harga tidak sejalan dengan fundamental aset).

Baca juga: Tips Berdamai dengan FOMO Agar Tak Panic Selling & Buying Aset Kripto

Penyebab bubble diperdebatkan oleh para ekonom. Beberapa ekonom bahkan tidak setuju bahwa bubble terjadi sama sekali. Hal itu atas dasar bahwa harga aset memang sering kali menyimpang dari nilai intrinsiknya. Namun, bubble biasanya hanya diidentifikasi dan dipelajari dalam ‘kacamata’ analisis retrospeksi, setelah terjadi penurunan harga yang sangat besar.

Akankah Bubble Bitcoin Meledak Seperti di Bubble Aset Kripto 2017?

Orang yang skeptis terhadap lonjakan harga Bitcoin baru-baru ini perlu melihat lebih jauh ke belakang, di tahun 2017. Ketika harganya meroket hampir US$20.000, lalu amblas menjadi sekitar US$3.000 setahun kemudian.

Lebih jelasnya, pada 2017 harga Bitcoin melonjak menjadi hampir US$20.000 pada bulan Desember tahun itu. Padahal di awal tahun harganya masih di bawah US$1.000. Namun, satu tahun kemudian, harga amblas menjadi sekitar US$3.000, atau melorot sekitar 75% dari puncaknya.

Baca juga: Apa Alasan Kita Perlu Perhatikan Kapitalisasi Pasar Saat Investasi Aset Kripto?

Mungkinkah hal itu yang bakal terjadi juga nanti? Dimana saat ini Bitcoin sempat melonjak ke puncak lebih dari US$61.000 pada pertengahan Maret, dari sekitar US$7.000 setahun yang lalu.

Volatilitas ekstrim dan nilai intrinsik yang tidak pasti adalah alasan mengapa dahulu investor berpengalaman mencemooh Bitcoin. Hal itu terkait aset kripto sebagai murni spekulasi.

“Bagi saya, itu hanya seperti penyakit pikun (spekulasi asal-asalan),” kata Vice Chairman Berkshire Hathaway Charlie Munger, di pertemuan tahunan Berkshire 2018.

Tahu Saatnya ‘Keluar’

Beberapa investor secara tak langsung terlihat jelas tidak ingin mengabaikan peluang investasi Bitcoin. Namun masih ada beberapa investor yang mewanti-wanti jika kenaikan Bitcoin terus berlanjut ke ‘puncak yang tak berujung’.

Ulrik Lykke, CEO ARK36 yang berfokus pada hedge fund atau aset lindung nilai aset kripto, mengatakan bahwa sejarah mengajarkan investor untuk tidak terlalu serakah.

Ia merujuk pada anekdot terkenal Joseph Kennedy tentang bagaimana dia tahu sudah waktunya untuk ‘keluar’ dari pasar pada tahun 1929. Hal itu terjadi ketika anak laki-laki penyemir sepatu memberi Kennedy tips investasi saham.

“Jika tukang semir sepatu sampai memberikan tips saham, maka inilah waktunya untuk keluar dari pasar,” begitulah ucapan kontroversial Joseph Kennedy terkait pasar yang kian tidak rasional.

Baca juga: Setelah Dihantam Badai, Harga Bitcoin dan Ethereum Mencoba Bangkit Pekan Ini

Ulrik Lykke mengatakan, jika pasar benar-benar menggila dan harga mencapai US$100.000 hingga US$300.000 per token, mana penurunan besar serupa tahun 2018 mungkin akan menyusul.

“Pelajarannya di sini adalah sebaiknya mengetahui kapan mengambil untung ketika harga menjadi begitu besar, sehingga penjualan dapat mengubah hidup Anda secara radikal. Dengan kata lain, jika semua orang, termasuk nenek Anda, optimistis tentang Bitcoin, maka mungkin ini saat yang tepat untuk menjualnya sebagian,” kata Ulrik.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNBC, Investopedia, TheStreet



Sumber : pluang.com