Tag: Bali

  • Cocok Banget untuk Museum Date: Museum Pasifika



    Badung

    Traveler bisa museum date saat jalan-jalan di Badung, Bali. Yakni, di Museum Pasifika.

    Museum Pasifika merupakan salah satu museum yang menyimpan dan menampilkan karya para maestro kondang di berbagai belahan dunia. Mulai dari maestro lokal hingga internasional.

    Laksmi, direktur marketing Museum Pasifika, menuturkan nama Museum Pasifika bermakna museum untuk karya seni Pasifik dan Asia. Berbagai karya seni seperti lukisan dan patung tentang Asia Pasifik.

    “Pertama, pasti banyak yang penasaran sebenarnya museum ini tentang apa sih, kadang ada yang mikir tentang laut. Nah sebenarnya, Museum Pasifika ini adalah museum untuk karya seni dari Asia Pasifik, seperti lukisan dan patung,” kata Laksmi.

    Penasaran dengan kisah Museum Pasifika komplit dengan daya tariknya. Berikut informasi menarik yang wajib traveler simak mengenai Museum Pasifika.

    Tentang Museum Pasifika

    Museum Pasifika, yang terletak di kompleks Nusa Dua dengan luas bangunan mencapai 9.000 meter persegi, menjadi salah satu monumen seni yang megah di Bali. Dibangun di atas tanah seluas 12.500 meter persegi pada tahun 2006 oleh arsitek terkemuka Bali, yaitu Popo Danes.

    Dengan visi yang ambisius, Museum Pasifika memadukan seni dari wilayah Pasifik dan Asia di bawah satu atap. Museum yang satu ini memiliki visi untuk menjadi museum kelas internasional.


    Museum Pasifika di Badung, BaliMuseum Pasifika di Badung, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

    Misi Museum Pasifika berfokus pada beberapa aspek, pertama museum ini ingin menjadi internasional tourism attraction, bahkan sudah memboyong gelar Best of The Best kategori museum dari TripAdvisor tahun 2022 dan 2023.

    Misi kedua berfokus pada pendidikan, terutama pada aspek edukasi seni. Dan terakhir berfokus pada budaya. Museum Pasifika melestarikan karya seni yang hampir punah, bahkan Laksmi mengaku pihaknya membeli kembali karya seni yang sudah dilelang di luar negeri.

    Sejak awal pembukaannya, museum ini telah menjadi rumah bagi ratusan koleksi seni, menyelenggarakan berbagai acara dan pameran untuk mempromosikan keanekaragaman budaya Bali kepada mata internasional.

    Daya Tarik Museum Pasifika

    Berkunjung ke museum akan membawa traveler bak menjelajahi masa lalu. Lewat berbagai karya seni lukisan dan patung dengan gaya khas setiap negara. Kalau di Museum Pasifika, traveler bisa menemukan banyak daya tarik dan keunikannya, berikut ringkasan dari detikTravel.

    1. Memiliki 11 Ruangan

    Museum Pasifika memiliki 8 paviliun dan 11 ruang exhibition dengan tema dan konsep yang berbeda-beda. Mulai dari ruangan I adalah Indonesian room, ruangan II Italian room, ruangan III Dutch room, ruangan IV French room, ruangan V Indo-European room, ruangan VI art exhibition KTT G20 Summit, ruang VII Indochina room, ruangan VIII adalah Asia room, ruangan IX Vanuatu Pacific room, ruangan X Polynesia room, dan terakhir ruangan XI adalah exhibition room.

    2. Simpan Karya Raden Saleh

    Museum Pasifika menjadi salah satu museum yang menyimpan karya Raden Saleh asli terbanyak.

    “Dengan bangga kita menyebut kalau Museum Pasifika menjadi salah satu museum yang memiliki karya Raden Saleh banyak. Total ada enam karya. Sebanyak lima karya dipajang di ruangan I dan satu karya di ruangan IV,” ujar Laksmi.

    3. Punya 1200 Karya Seni

    Museum Pasifika yang sudah berdiri sejak 2006 ternyata menyimpan sekitar 1200 karya. Namun karya yang dipajang dan ditunjukkan kepada pengunjung hanya sekitar 600 karya.

    Terdiri dari karya seni lukisan, patung, dan benda-benda antik lainnya. Karya seni yang ada adalah karya dari 150 seniman yang berasal dari 30 negara. Beberapa pelukis terkenal yang karyanya ada di Museum Pasifika adalah Paul Gauguin, Raden Saleh, dan Le Mayeur.

    4. Memecahkan Rekor MURI, Lukisan Kisah Ramayana Terbesar

    Tahun 2024, Museum Pasifika baru saja mendapatkan sertifikat dari MURI. Museum satu ini memiliki lukisan Ramayana terbesar di Indonesia. Berukuran 6m x 4m dan merupakan karya dari I Gusti Ketut Kobot.

    5. Ada Audio Guide

    Kalau traveler mau berkeliling museum sambil mengetahui cerita dari masing-masing ruangan dan karya. Berbeda dari museum pada umumnya yang menggunakan penjelasan berupa tulisan. Museum Pasifika memiliki audio guide yang bisa menemani traveler saat berkeliling museum.

    Traveler hanya perlu memindai qr code yang ada di depan ruangan atau pada masing-masing karya. Nanti akan muncul rekaman suara yang berisi cerita karya. Menarik ya, dijamin nggak akan bosen!

    6. Banyak Spot Foto Estetik

    Nggak cuma menyimpan karya seni dari Asia dan Pasifik, museum satu ini juga memiliki banyak spot foto estetik. Setiap sudutnya estetik dan instagramable. Traveler bisa menggunakan lukisan-lukisan yang ada sebagai latar belakang foto, terutama lukisan berukuran 6m x 4m.

    Aktivitas Menarik di Museum Pasifika

    Berkunjung ke Museum Pasifika, traveler dijamin nggak akan bosen. Banyak aktivitas yang bisa dicoba, dijamin bikin betah deh!

    1. Berkeliling Museum

    Aktivitas utama dan wajib traveler lakukan ketika berkunjung adalah berkeliling museum. Traveler bisa mengunjungi 11 ruangan, ditemani dengan audio guide. Laksmi menyebut, dengan adanya audio guide membuat pengunjung nggak akan bosan saat berkeliling museum.

    2. Lomba Menggambar

    Saat detikTravel menyambangi Museum Pasifika, terdapat ratusan anak sekolah yang sedang melaksanakan lomba menggambar. Menurut Laksmi, ini merupakan salah satu bentuk implementasi misi Museum Pasifika dalam bidang pendidikan.

    3. Kelas Membatik dan Melukis

    Kalau ingin mendapatkan pengalaman yang berbeda, traveler bisa mencoba beberapa kelas, seperti kelas membatik, melukis, dan lainnya. Untuk mencoba kelas ini, traveler akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 450.000/orang.

    Lokasi, Jam Operasional, dan Harga Tiket Masuk
    Museum Pasifika memiliki lokasi yang strategis, tepatnya di Komplek Bali Tourism Development Corporation (BTDC) Area Blok P, Benoa, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.

    Museum Pasifika berlokasi tidak terlalu jauh dari Kota Denpasar, sekitar 20 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 40 menit menggunakan kendaraan. Jika traveler berangkat dari Bandara Internasional Ngurah Rai yang hanya berjarak 13 kilometer, hanya akan memakan waktu sekitar 23 menit.

    Museum ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 – 18.00 WITA. Harga tiket yang ditawarkan pun cukup terjangkau, mulai Rp 10 ribu untuk pelajar, Rp 100 ribu untuk wisatawan internasional, dan Rp 70 ribu untuk wisatawan domestik.

    Sebagai museum kelas internasional, fasilitas yang ditawarkan oleh Museum Pasifika juga nggak kalah lengkap. Ada garden dengan kapasitas event 500 orang, kafe, toilet, tempat parkir, dan lainnya.

    Laksmi menyebut pengelola museum juga sering mengadakan promo-promo menarik. Traveler yang kepo, boleh berkunjung ke akun media sosial Instagram @museumpasifika.

    Untuk traveler yang ingin museum date atau mencoba berwisata, Museum Pasifika sip banget untuk jadi destinasi yang wajib traveler kunjungi. Ingat patuhi aturan yang ada ya traveler!

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Romantic Dinner Bonus Panorama Sunset di GWK, di Sini Tempatnya



    Jakarta – Di Bali Selatan, khususnya di areal GWK ada restoran yang estetik. Keistimewaan lainnya, resto ini mempunyai panorama Bali dan sunset yang cantik menawan.

    Bagi traveler yang sedang berlibur di Bali Selatan, wajib untuk coba ke Jendela Bali Restaurant. Dari luar, resto ini sudah bernuansa sangat khas Bali.

    Sesuai dengan namanya, Jendela Bali Restaurant menghadirkan pengalaman bersantap sambil menyaksikan pemandangan Bali Selatan. Keindahan panorama Bali selatan akan terlihat indah dan magis.

    Memasuki area restoran, traveler akan langsung disambut dengan pemandangan Bali Selatan yang membuat semua pengunjung berdecak kagum. Hamparan pepohonan, lautan, dan bandara bisa traveler saksikan dari sini. Semakin menawan ketika matahari tenggelam di ufuk barat.

    Jendela Bali Restaurant memiliki ruangan semi outdoor, traveler bisa memilih area indoor maupun outdoor. Namun, tempat favorit pengunjung adalah di deck yang mendapatkan bonus view Bali Selatan, komplit dengan view bandara.

    Di malam hari, restoran ini juga nggak kalah cantik, traveler bisa menyaksikan keindahan pemandangan city light, sambil romantic dinner. Cantik menawan!

    Jendela Bali Restaurant di GWK Culture ParkJendela Bali Restaurant di GWK Culture Park (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

    Jendela Bali menawarkan menu autentik khas Indonesia yang dikemas dengan sentuhan restoran bintang lima. Cita rasa masakan yang disajikan juga kaya akan bumbu dan rempah, siap menggoyang lidah traveler.

    Menu makanan Indonesia di Jendela Bali Restaurant yang menjadi favorit dan wajib traveler coba adalah Ayam Bumbu Rajang, Ikan Woku Kemangi, Nasi Goreng Suna Cekuh, Bebek Goreng Krispi, dan juga Sop Iga.

    Harga menu di Jendela Bali berkisar antara Rp 48.000 hingga Rp 168.000 untuk makanan dan Rp 25.000 hingga Rp 138.000 untuk minuman.

    Jendela Bali Restaurant berlokasi di Jalan Raya Uluwatu, Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, tepat berada di lingkungan Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park. Restoran ini buka setiap hari, mulai pukul 09.00 – 21.30 WITA. Oke banget untuk romantic dinner!

    Tenang saja, walaupun berlokasi di areal GWK Cultural Park, traveler tidak perlu membeli tiket masuk GWK untuk mengunjungi Jendela Bali Restaurant. Traveler juga bisa menggunakan shuttle bus dari gerbang utama ke lokasi restoran. Shuttle bus ini tidak dipungut biaya alias gratis.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Staycation Mewah di Bibir Tebing Ada di Bali, Berani Tidak?



    Karangasem

    Bali menawarkan glamping cantik dengan view sunrise, tapi letaknya di bibir tebing. Berani nggak?

    Tempatnya bernama Bali Cliff Glamping. Berlokasi di Jalan Karangasem, Seraya, Seraya Barat, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, Bali. Sesuai dengan namanya, Bali Cliff Glamping terletak di bibir tebing yang menghadap ke laut lepas.

    Kadek, salah satu karyawan menyebut Bali Cliff Glamping menjadi glamping pertama di bibir jurang. Bali Cliff Glamping itu dibangun dengan konsep alami yang khas, yakni memadukan berbagai ornamen kayu pada setiap detailnya.

    Sesuai dengan konsep glamping atau glamour camping, di sini setiap bangunan didesain menyerupai tenda. Berasa lagi camping beneran deh!

    Bali Cliff Glamping memiliki enam kamar dengan tipe dan bentuk yang sama. Namun, menurut Kadek, setiap kamar memiliki view yang berbeda. Kamar dengan view terbaik adalah kamar di ujung timur karena bisa mendapatkan view sunrise yang menawan.

    “Kita di sini memiliki enam kamar, dengan tipe dan fasilitas yang sama. Yang membedakan hanya dari view saja. Menurut saya kamar terbaik itu yang di ujung timur, karena bisa dapet view sunrise waktu pagi hari,” kata Kadek.

    Memasuki ruangan traveler akan dibuat kaget karena bak masuk ke dalam tenda, komplit dengan kasur dan peralatannya yang nyaman. Interior didesain dengan konsep minimalis dan klasik. Bernuansa coklat.

    Walau terletak di bibir tebing, fasilitas Bali Cliff Glamping ini nggak kaleng-kaleng. Kadek mengatakan, setiap kamar sudah dilengkapi dengan fasilitas double bed, safety box, kamar mandi dalam, air cooler, dan handuk.

    Selama staycation di sini, traveler akan dibuat semakin tenang. Malam hari tak ada suara bising kendaraan. Hanya ada suara jangkrik dan deburan ombak yang memecah malam. Definisi ketenangan yang hakiki.

    Saat bangun di pagi hari, sekitar pukul 06.00 hingga 06.30 WITA, traveler bisa langsung bersantai di binbag dan menikmati keindahan matahari yang mulai menampakkan sinarnya. Sembari menikmati teh dan kopi hangat.

    Nah untuk staycation di Bali Cliff Glamping traveler wajib membayar sekitar Rp 850.000 hingga Rp 900.000/ kamarnya. Harga ini sudah termasuk paket breakfast untuk dua orang. Jika ingin menambah ekstra bed akan dikenakan biaya sebesar Rp 300.000.


    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • The Real Makan with View Lepas Pantai di Karangasem



    Karangasem

    Tempat makan satu ini mengajak traveler makan with view lepas pantai. Paket komplet buat penyuka makan dan alam.

    Tempat makan itu Warung Chic. Nyoman Asrini, salah satu karyawan Warung Chic, menuturkan restoran itu berdiri akhir 2023, tepatnya pada Desember. Nama Warung Chic terinspirasi dari Prancis, artinya cantik dan indah.

    “Warung Chic ini bukanya mulai dibuka akhir Desember 2023. Dari segi nama, owner terinspirasi dari Prancis, Chic itu artinya cantik atau suasana yang indah,” kata Asrini.

    Memasuki tempat ini akan membuat traveler terpukau. Terletak di Karangasem, tepatnya di Jalan Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, Bali. Suasana tenang komplit dengan view pantainya yang cantik bisa traveler dapatkan di sini.

    Restoran itu istimewa dengan kolam renang yang menghadap langsung ke laut lepas. Hamparan rumput yang hijau berpadu dengan bangunan joglo yang klasik, Warung Chic menciptakan restoran yang unik, estetik, dan nyaman bagi setiap traveler yang berkunjung.

    Warung Chic memiliki ruangan semi outdoor, dengan area indoor dan outdoor yang berkonsep alami. Area indoor menggunakan bangunan berkonsep joglo klasik. Area favorit pengunjung adalah binbag di tepi kolam renang, yang menghadap langsung ke pantai. Oke banget jadi spot foto.

    “Untuk kapasitas kami biasanya 75 orang. Dengan konsep semi outdoor. Jadi pengunjung bisa pilih mau di tepi kolam atau di indoor dengan bangunan konsep joglo klasik,” kata dia.

    Menurut Asrini, Warung Chic mengangkat konsep yang natural. Dipercantik dengan pemandangan pantai yang indah. Jika mau sensasi berbeda, traveler bisa menyaksikan sunrise dan sunset dari Warung Chic.

    Restoran satu ini sip banget untuk traveler yang ingin healing dan nongkrong cantik. Suasana yang tenang bonus view pantai yang biru dan suara deburan ombak, dijamin buat makin segar.

    Warung Chic juga memiliki fasilitas kolam renang. Uniknya kolam renang ini menghadap langsung ke laut, jadi cantik banget. Untuk bisa berenang, pengunjung dikenakan minimal spend sebesar Rp 200.000 per orang untuk dewasa dan Rp 100.000 per orang untuk anak-anak.

    Belum lengkap rasanya jika ke Warung Chic tapi tak mencicipi menu andalan ala warung tepi pantai ini. Asrini menyebut Warung Chic menyediakan menu yang beragam dan menggunakan bahan-bahan lokal khas Karangasem.

    “Kalau dari menu, kita menawarkan menu yang menggunakan bahan-bahan lokal Karangasem. Contohnya ikannya langsung ambil dari nelayan, jadi masih fresh dan segar,” kata Asrini.

    Menu andalan Warung Chic yang wajib traveler coba adalah Italian Pizza, Brownie Ice Cream, dan Maya Sunrise. Tak perlu khawatir kantong bolong, harga menu di sini mulai dari Rp 20.000 untuk minuman dan Rp 30.000 untuk makanan.

    Warung Chic buka setiap hari mulai pukul 07.30 hingga 21.00 WITA. Setiap harinya Warung Chic akan ramai dikunjungi mulai pukul 15.00, jadi jangan sampai kehabisan tempat ya traveler!

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kampung Arak Bali di Karangasem Produksi Arak Diatur Adat



    Karangasem

    Banjar Merita merupakan penghasil arak khas Bali terbaik. Dusun yang satu itu juga memiliki arak spesial, namanya arak api. Dusun tersebut dijuluki Kampung Arak Bali.

    Memasuki kawasan Banjar Dinas Merita, Desa Laba Sari, Kecamatan Abang, Karangasem traveler akan disambut dengan barisan pohon lontar atau siwalan. Dari pohon-pohon itulah arak dihasilkan.

    Ya, arak Bali adalah merupakan minuman fermentasi dan destilasi yang dibuat secara turun-temurun. Arak itu dikemas secara sederhana yang mengandung etil alkohol/etanol yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan distilasi.

    Di Bali, arak tak hanya menjadi minuman beralkohol, namun sering digunakan sebagai sajian saat upacara adat dan keagamaan. Arak Bali telah masuk ke dalam daftar Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tahun 2022. Arak Bali sebagai WBTb Indonesia ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI.

    Kampung arak Bali MeritaPembuatan arak di Kampung arak Bali Merita (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

    Kepala Desa Laba Sari, Gede Nyoman Geria, menuturkan tradisi membuat arak di Merita sudah berlangsung sejak 1700-an.

    Arak menjadi salah satu warisan yang hingga kini masih dipertahankan oleh warga Merita. Ketekunan warga Merita dalam melestarikan arak Bali membuat banjar yang satu ini mendapatkan julukan kampung arak Bali.

    Menurut Geria, satu-satunya sentra produksi arak yang menggunakan bahan tradisional adalah Banjar Dinas Merita.

    “Sejak tahun 90-an sudah mulai muncul julukan Kampung Arak Bali. Satu-satunya yang memproduksi arak dengan menggunakan bahan dan cara tradisional adalah Banjar Merita. Dari segi rasa juga kami memiliki perbedaan,” kata Geria.

    Yang membuat Banjar Dinas Merita spesial dan mendapat julukan Kampung Arak adalah adanya arak api yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Kehadiran Arak Api di Banjar Dinas Merita erat kaitannya dengan Bhatara Arak Geni dan berbagai upacara yang dilaksanakan di Merita.

    Gede Geria menuturkan dalam mempertahankan julukan Kampung Arak, pihaknya dan warga Merita sepakat untuk membuat sebuah awig-awig yang secara khusus mengatur tentang pembuatan arak api khas Merita.

    “Di Banjar Adat Merita sudah membuat awig-awig agar tidak ada pembuatan arak yang terkontaminasi dengan hal lain dan mengurangi kualitas dari arak khas Merita. Ini bertujuan untuk menjaga kualitas dan cita rasa arak khas Merita,” ujarnya.

    Apabila ada warga yang melanggar awig-awig tersebut, pengurus desa dan banjar adat sudah menyiapkan sanksi khusus.


    “Sanksi yang diberikan kepada warga yang melanggar berupa denda beras. Kalau tidak salah jumlahnya satu karung beras Bali,” kata dia.

    Geria menyebut seluruh warga Merita yang berprofesi sebagai pengrajin arak pun tak ada yang berani melanggar awig-awig atau aturan tersebut. Sebab arak api khas Merita merupakan salah satu warisan leluhur yang selalu dilestarikan.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • The Keranjang Bali Tempat Belanja Oleh-oleh dengan Bangunan Unik nan Estetik


    Badung

    Pergi liburan kurang afdal rasanya jika pulang dengan tangan kosong, termasuk saat berlibur ke Bali. Tak perlu bingung, sekarang pulau dewata memiliki spot berburu oleh-oleh baru yang unik.

    Tempat berbelanja oleh-oleh baru nan unik di pulau dewata itu namanya The Keranjang Bali. Di sini, traveler bisa menjumpai beragam oleh-oleh khas Bali, mulai dari makanan hingga kerajinan tangan.

    Uniknya lagi, bahkan sampai disorot media asing, adalah fasad bangunan The Keranjang Bali. Dari penampakannya, bangunan itu benar-benar bak keranjang raksasa. Bangunan itu pun tampak menonjol di antara bangunan lain di Kuta.

    The Keranjang Bali beroperasi sejak 2019. Bangunan empat lantai itu memilah kebutuhan traveler dalam beragam area tematik. The Keranjang Bali dengan slogan #BaliDalamSatuKeranjang berharap bisa menyuguhkan atmosfer Bali melalui pengalaman tematisasi dan menampilkan produk-produk unggulan UMKM.

    “Slogan #BalidalamSatuKeranjang ini bermakna bahwa untuk pengunjung yang ingin merasakan budaya dan vibes Bali tapi lagi nggak bisa kemana-mana. Pengunjung bisa datang ke The Keranjang. Karena di sini pengunjung bisa merasakan banyak experience sekaligus belanja oleh-oleh khas Bali,” kata Digital Marketing Manager The Keranjang Bali, Maul.

    Sesuai juga dengan taglinenya yaitu #SurgaBaruOleh-OlehBali, The Keranjang Bali seolah ingin menyediakan surga belanja oleh-oleh bagi wisatawan.

    “Nah sesuai dengan taglinenya, #SurgaBaruOleh-OlehBali. The Keranjang Bali itu dianggap sebagai surganya bagi para pengunjung yang mau mencari berbagai oleh-oleh khas Bali. Karena semua ada di sini dan kita juga memberikan pengalaman berbelanja yang berbeda. Jadi seperti wajah baru di Bali,” ujar Maul.

    Di antaranya, konsep experience unik, mulai dari spot foto tematik, hingga berbagai aktivitas menarik lainnya.


    Daya tarik yang disuguhkan The Keranjang Bali:

    Berikut sederet hal menarik yang bisa traveler temui saat menyambangi The Keranjang Bali.

    1. Fasad yang Ciamik

    The Keranjang BaliThe Keranjang Bali (The Keranjang Bali)

    Sampai di lokasi, traveler akan langsung disuguhkan dengan pemandangan fasad yang unik. Keranjang raksasa ini memiliki panjang 15,4 meter dan lebar 58 meter.

    Berbentuk keranjang raksasa, komplit dengan motif Karang Boma khas Bali. Karang Boma, yang berasal dari legenda Bomantara, diyakini memiliki kemampuan untuk mengatasi energi negatif dan bencana.

    Karena bentuknya yang ciamik, tak jarang bangunan ini mencuri perhatian setiap orang yang melewatinya. Bahkan, bentuk keranjang raksasa ini menjadi magnet untuk menarik pengunjung masuk ke dalamnya.

    2. Ada T-shirt Unik Solar Active!

    Sebagai pusat oleh-oleh terlengkap di Bali, The Keranjang Bali menyuguhkan berbagai macam oleh-oleh khas Bali. Traveler dapat menemukan makanan, minuman, baju, kue dan masih banyak lagi. The Keranjang Bali juga menjual produk UMKM Bali sehingga dengan berbelanja di sini akan membantu UMKM untuk terus berkembang.

    Traveler yang mencari oleh-oleh unik, The Keranjang Bali memiliki satu produk andalan yaitu kaos Solar Active dengan motif Barong yang dapat berubah warna saat terkena sinar matahari. Baju barong khas Bali pun ada, komplit dengan pie susu yang dipanggang langsung di sini sehingga traveler bisa melihat proses pembuatannya.

    “Jadi produk Solar Active ini viral karena unik. Motifnya khas Bali yaitu motif barong tapi motifnya berubah warna kalau kena sinar matahari. Terus kita ada produk glow in the dark juga. Ini sip untuk oleh-oleh yang unik,” kata Maul.

    Tak perlu khawatir kantong bolong saat berbelanja di sini. Semua produk yang ada di The Keranjang Bali memiliki harga yang terjangkau loh!

    3. Spot Foto Instagramable

    The Keranjangn BaliJembatan Antun-Antun di The Keranjang Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

    Selain sebagai pusat oleh-oleh khas Bali, The Keranjang juga menghadirkan banyak spot foto estetik khusus untuk wisatawan yang suka foto nih.

    Bahkan, Maul menyebut hampir setiap sudut di The Keranjang Bali sip untuk berfoto. Namun, ada beberapa spot foto yang wajib traveler coba, yaitu Jembatan Antun-Antun, Taman Luwung, dan Sawah Gadang Purnama.

    4. Punya Lantai Khusus Experience Pengunjung

    Jika biasanya toko oleh-oleh hanya menyajikan ratusan etalase. Berbeda dengan The Keranjang Bali yang menggabungkan konsep “One Stop Shopping” dengan “One Stop Experience” dalam satu bangunan.

    Di lantai empat keranjang raksasa ini traveler akan menemukan tempat khusus untuk mendapatkan experience yang luar biasa. Traveler dapat menikmati berbagai area tematik yang membawa atmosfer Bali, mulai dari Lorong Sloka, Pasar Jimbaran, Lovina, hingga suasana Monkey Forest dapat traveler temukan di sini. Unik ya!

    Aktivitas Menarik di The Keranjang Bali

    Nggak cuma berburu oleh-oleh khas Bali. Di The Keranjang Bali traveler juga bisa mencoba berbagai aktivitas menarik. Berikut beberapa aktivitas yang bisa traveler coba di The Keranjang Bali.

    1. Sewa Pakaian Adat Bali

    The Keranjangn BaliTraveler bisa menyewa pakaian adat Bali di The Keranjang Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

    Mencoba menggunakan pakaian adat Bali adalah salah satu hal yang wajib traveler coba saat berkunjung ke Bali. Di keranjang raksasa ini traveler bisa mencoba pengalaman tersebut.

    Cukup dengan membayar mulai dari Rp 20 ribu untuk anak-anak dan Rp 50 ribu untuk dewasa traveler sudah bisa satu stel pakaian adat Bali sekaligus berfoto di beberapa spot foto.

    2. Main Gamelan Khas Bali

    Satu lagi aktivitas yang identik dengan budaya Bali, yaitu memainkan gamelan khas Bali. Di lantai empat traveler bisa menemukan satu bagian yang menyajikan berbagai macam gamelan khas Bali.

    Mulai dari rindik, gangsa, kendang, jublag, dan masih banyak lagi. Bahkan para pengunjung diperkenankan untuk mencoba memainkan gamelan tersebut. Seru banget deh!

    3. Membuat Gerabah

    The Keranjangn BaliTraveler bisa membuat gerabah di The Keranjang Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

    Ingin aktivitas lain? Traveler bisa mencoba aktivitas melukis gerabah. Cukup membayar mulai dari Rp 10 ribu/orang traveler sudah bisa melukis langsung di atas gerabah tanah liat.

    Lokasi dan Jam Operasional The Keranjang Bali

    Keranjang raksasa ini berlokasi tak jauh dari Bandara Ngurah Rai, tepatnya di Jalan Bypass Ngurah Rai No.97, Kuta, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Hanya berjarak sekitar 3 kilometer atau sekitar 5 menit dari Bandara Ngurah Rai.

    The Keranjang Bali buka setiap hari, mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WITA. Maul menyebut, rata-rata pengunjung bisa menghabiskan waktu 2 hingga 3 jam untuk mengeksplor The Keranjang Bali.

    The Keranjang Bali juga kerap mengadakan promo-promo menarik. Traveler yang kepo bisa mengunjungi akun media sosial mereka, @thekeranjangbali.

    Nah sudah tau kan ada apa aja di keranjang raksasa ini? Buat traveler yang masih bingung mau berburu oleh-oleh dimana? Cobain deh ke The Keranjang Bali, nggak cuma lengkap tapi banyak aktivitas menarik juga loh!

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Parahyangan Somaka Giri, Mata Air Suci di GWK, Diyakini Bisa Sembuhkan Penyakit



    Badung – Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park di Ungasan, Badung, Bali tak hanya menawarkan pemandangan patung yang eksotis buat pengunjung. Tetapi, tempat ini juga memiliki keunikan lain, salah satunya kisah Parahyangan Somaka Giri, sumber mata air suci.

    Parahyangan Somaka Giri memiliki kisah melegenda yang diyakini oleh masyarakat sekitar sejak dulu. Tempat itu dipercaya sebagai anugerah yang memiliki kekuatan magis untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan memohon hujan pada musim kemarau.

    Nanda, storyteller di Plaza Wisnu, menyebut sumber mata air itu sudah ada lebih dari 200 tahun yang lalu. Kemudian, pembangunan dan maintenance pura dilakukan saat GWK Cultural Park mulai didirikan yang kemudian dikenal dengan nama Parahyangan Somaka Giri.

    Parahyangan Somaka Giri berada di area Plaza Wisnu, dataran tertinggi di GWK Cultural Park, tempat didirikannya sosok patung Dewa Wisnu yang ikonik. Para pengunjung yang datang akan diajak untuk menyelami dan mendapatkan pengalaman spiritual budaya Bali.

    Parahyangan Somaka Giri, GWK Cultural Park, Badung, BaliParahyangan Somaka Giri, GWK Cultural Park, Badung, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

    Traveler akan disambut dengan payung atau tedung Bali berwarna kuning dan putih di sepanjang tangga masuk. Penggunaan kamen dan selendang sebagai simbol untuk menjaga kesopanan di kala memasuki Parahyangan Somaka Giri. Traveler khususnya perempuan yang sedang menstruasi juga dilarang untuk memasuki areal Parahyangan Somaka Giri.

    Pertama, traveler akan diajak untuk mengenal konsep Panca Maha Bhuta, lima elemen dasar yang menyusun alam semesta menurut keyakinan Hindu. Terdiri dari Cahaya, Bumi, Air, Udara, dan Ruang Hampa yang berpadu untuk menyusun alam semesta.

    Setelah mendengarkan tentang konsep Panca Maha Bhuta, jika berkenan, traveler akan diajak untuk mengikuti doa yang dipimpin oleh Jro Mangku. Berbagai harapan baik boleh traveler panjatkan dengan ditemani iringan Bajra atau Genta.

    Di akhir doa, traveler akan mendapatkan percikan air suci (tirta) dan Gelang Tridatu, sebagai simbol Trimurti dalam agama Hindu.

    Nanda menceritakan keunikan Parahyangan Somaka Giri. Sumber mata air ini terletak di lahan batu kapur dan berada di ketinggian 240 meter di atas permukaan laut. Sangat mustahil untuk mendapatkan sebuah sumber mata air mineral.

    “Jika dipikirkan, lokasi ini berada di daerah berkapur dengan ketinggian 240 meter di atas permukaan laut. Itu tentu sedikit mustahil untuk mendapatkan sumber mata air mineral. Jadi semua air di sini selain di areal Somaka Giri masih terkontaminasi zat kapur,” kata Nanda.

    Unik ya, ternyata GWK Cultural Park traveler nggak hanya melihat karya seni patung dan pertunjukkan. Namun ada kisah sumber mata air suci yang dibalut dengan berbagai kisah magisnya.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Nyaman Gallery, Pas buat Kerja, Pas buat Cuci Mata



    Jakarta

    Traveler pecinta seni bisa memasukkan kafe ini dalam daftar kafe wajib dikunjungi. Suasananya relatif sepi, di sini juga mempunyai koleksi karya seni.

    Namanya Nyaman Cafe di daerah Seminyak, Bali. Kafe ini memiliki ratusan karya seni kontemporer dari 15 seniman lokal hingga mancanegara. Di sini traveler bisa menemukan berbagai karya seni berkonsep street art hingga mix media kolase. Selain itu, ada pula dekorasi vintage yang bikin makin betah.

    Nyaman Gallery memiliki lima ruangan yang siap dijelajahi, dengan konsepnya yang unik, estetik, dan tentunya instagramable. Bahkan, setelah duduk, pengunjung bakal disuguhi gambar-gambar yang terselip di bawah meja kaca.

    Icha, gallery staf Nyaman Gallery, menyebut tak hanya ngopi cantik di areal kafe, pengunjung juga bisa menikmati kopi sembari melihat-lihat karya seni yang ada di Nyaman Gallery.

    “Kita punya kafe, jadi pengunjung bisa pesan makanan dan minuman. Mau nongkrong di areal outdoor sambil bawa kopi dari cafe juga boleh banget. Jadi bisa ngopi cantik sambil liat karya seni juga,” kata Icha.

    Nyaman Cafe di Seminyak, BaliNyaman Cafe di Seminyak, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)
    Nyaman Cafe di Seminyak, BaliNyaman Cafe di Seminyak, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

    Nyaman Cafe menyediakan berbagai macam menu, baik itu lokal maupun western, tentu dengan harga yang terjangkau. Menu favorit yang perlu dicoba adalah chicken teriyaki, chicken kemangi, dan mini croissant sebagai makanan penutup.

    Untuk minuman, traveler bisa memiliki menu coffee maupun non coffee. Seperti milkshake, beer, smoothies, juices, coffee and tea. Harga menu di Nyaman Cafe berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 140 ribu untuk makanan dan Rp 25 ribu hingga Rp 55 ribu untuk minuman.


    Nyaman Cafe buka setiap hari, mulai pukul 07.30 hingga 21.00 WITA.

    Mau berkunjung ke galeri seni yang punya paket lengkap? Wajib coba ke Nyaman Gallery, bisa langsung ngopi cantik di Nyaman Cafe. Catat dulu, traveling kemudian!

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Tiket Masuk dan Serba-serbi GWK Cultural Park



    Badung

    Berlibur ke Bali belum afdal jika tak berkunjung ke taman budaya yang satu ini; Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park. Begitu megah.

    GWK Cultural Park merupakan sebuah taman budaya yang menjadi interpretasi atas kekayaan budaya Bali. Ta,an itu menjadi perwujudan berbagai wujud seni patung, ritual budaya, dan beragam pertunjukan seni khas Bali.

    Nggak hanya menikmati keindahan arsitektur patung raksasa, traveler juga bisa menikmati pertunjukan seni budaya Bali.

    Penasaran dengan daya tarik dan aktivitas menarik di GWK Cultural Park?

    Berikut serba-serbi GWK Cultural Park:

    Daya Tarik GWK Cultural Park

    Sebagai salah satu destinasi budaya favorit wisatawan. GWK Cultural Park tentu memiliki banyak daya tarik yang mampu membuat setiap pengunjung merasakan keseruannya. Berikut beberapa daya tariknya.


    1. Plaza Kura-kura

    Plaza Kura-kura terletak diantara Street Theater dan Plaza Wisnu. Di sini traveler bisa menemukan sebuah kolam jernih dengan patung Dewi Laksmi. Jika diperhatikan lebih detail, pada dinding batu kapur di Plaza Kura-kura terdapat pahatan berbentuk kura-kura.

    Tak hanya itu, di sini traveler juga bisa melemparkan uang koin ke dalam kolam sambil mengucapkan sebuah permintaan. Konon permintaan tersebut bisa terkabulkan.

    2. Plaza Wisnu

    Terletak di puncak bukit, Plaza Wisnu menawarkan panorama pulau yang menakjubkan dan merupakan tempat yang sempurna untuk menyaksikan matahari terbenam. Di sini traveler juga bisa menemukan Patung Dewa Wisnu berukuran raksasa

    Traveler juga menemukan sumber mata air suci yang dikenal sebagai Parahyangan Somaka Giri. Uniknya walaupun berada di daerah kering dan tinggi, sumber mata air ini tak pernah kering loh.

    3. Plaza Garuda

    Plaza Garuda menyajikan kemegahan Patung Burung Garuda yang menjadi tunggangan Dewa Hindu Wisnu. Melambangkan pengorbanan, kesetiaan, dan kepercayaan. Garuda, simbol bangsa Indonesia, mewakili sifat keberanian, kebijaksanaan, kekuatan, dan disiplin. Di sini wisatawan sering melakukan foto pre-wedding karena lokasinya yang estetik dan indah.

    4. Garuda Sineloka

    Garuda Sineloka adalah sebuah bioskop mini yang menayangkan film animasi tentang Petualangan Garuda Cilik dalam mencari Tirta Amerta milik Dewa Wisnu untuk sang ibunda. Untuk menonton film animasi ini, traveler tak dikenakan biaya tambahan lagi, alias gratis. Pemutaran film dilakukan setiap hari, mulai pukul 10.30 hingga 19.30 WITA.

    5. Amphitheater dan Street Theater

    Amphitheater dan Street Theater adalah dua tempat dimana traveler bisa menyaksikan keindahan pertunjukkan budaya Bali. Pertunjukkan hadir setiap hari mulai pukul 11.00 hingga 18.00 WITA. Beberapa diantaranya seperti, Tari Sekar Jepun, Tari Jauk Manis, Tari Oleg Tamulilingan, Tari Barong-Bojog, dan masih banyak lagi. Total terdapat 15 pertunjukkan yang dapat traveler saksikan, tanpa ada biaya tambahan.

    6. Patung GWK

    Spot utama dari GWK Cultural Park adalah patung GWK setinggi 122 meter dengan lebar 66 meter. Menjadi ikon kebanggan Indonesia dan Pulau Dewata. Diresmikan pada 22 September 2018 oleh Presiden RI, Joko Widodo.

    Patung GWK menjadi salah satu spot foto favorit wisatawan yang berkunjung. Namun belum afdol jika traveler tak mencoba masuk ke patung raksasa ini. Traveler diperkenankan masuk ke lantai 9 dan lantai 23 patung GWK.

    7. Spot Foto Estetik

    Di GWK Cultural Park traveler dijamin nggak akan kehabisan spot foto yang estetik dan instagramable. Mulai dari latar belakang patung raksasa hingga barisan bukit kapur yang cantik.

    Jika traveler masuk ke lantai 9 dan 23, disana terdapat spot foto unik di atas kaca yang menyajikan langsung pemandangan rangka patung GWK. Unik sekaligus anti mainstream banget!

    Kalau mau berfoto indoor, GWK Cultural Park juga punya ASANA Artseum Bali sebagai salah satu studio foto dengan berbagai latar belakang klasik Bali dan Jawa.

    Aktivitas Menarik di GWK Cultural Park

    Nah, bagi traveler yang masih ragu berkunjung ke GWK Cultural Park karna bosan melihat patung saja? Ternyata di sini juga menawarkan banyak aktivitas menarik, loh. Contohnya seperti Fun Outdoor Activities. Traveler bisa mencoba berbagai permainan, seperti skuter, fun wheels, trampoline, gowes, dan masih banyak lagi.

    Kalau nggak mau bermain outdoor, traveler wajib mencoba aktivitas mengeksplorasi lantai 9 dan 23 di dalam patung GWK. Traveler bisa menyaksikan keindahan Pulau Dewata dari ketinggian. Di dalam patung ini juga terdapat banyak aktivitas, seperti menonton video, spot foto, sekaligus mengetahui bagaimana proses dan sejarah berdirinya patung GWK ini.

    Lokasi, Harga Tiket, dan Jam Operasional

    GWK Cultural Park berlokasi di Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Untuk mencapai objek wisata ini, traveler harus menempuh sekitar 12 km atau waktu tempuh sekitar 30 menit dari Bandara Ngurah Rai.

    Tak perlu khawatir, GWK Cultural Park sudah memiliki fasilitas parkir yang luas untuk traveler yang membawa kendaraan. Terdapat pula fasilitas Shuttle Bus gratis yang akan membawa pengunjung dari area parkir menuju ke area penjualan tiket.

    Untuk menikmati berbagai aktivitas seru di GWK Cultural Park, traveler hanya perlu membayar tiket mulai dari Rp 125.000/orang untuk tiket reguler, Rp 200.000/orang untuk tiket eat and trip, dan Rp 300.000/orang untuk tiket ultimate yang berkesempatan mendapatkan akses ke lantai 9 dan 23 patung GWK.

    Semua harga tiket tersebut sudah mendapatkan akses untuk menonton 15 pertunjukan seni, akses ke ASANA Artseum, akses menonton film animasi Garuda Cilik di Garuda Sineloka, dan refreshment drink di Jendela Bali Resto.

    Traveler yang ingin berkunjung ke GWK Cultural Park, destinasi ini buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WITA.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Jadi Patung Tertinggi Keempat di Dunia, Begini Sejarah Pembangunan Patung GWK



    Badung

    Pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) cukup berliku. Seperti apa ya?

    Patung GWK di GW K Cultural Park, Badung, Bali memiliki tinggi 122 meter. Patung itu tepatnya berada di Desa Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, memiliki sejarah yang menarik untuk dipelajari.

    Menjadi maskot Pulau Dewata, GWK dibangun di lahan kapur seluas 60 hektar, dengan tinggi 122 meter dan berat 4.000 ton. Kini patung GWK sudah menduduki posisi keempat sebagai patung tertinggi di dunia.


    Sejarah Pembangunan Patung GWK

    Pendirian patung GWK mulai dikonsepsi tahun 1989. Kala itu, Joop Ave yang pernah menjabat sebagai Direktur Jendral Pariwisata RI menginisiasikan pembangunan patung setinggi 5 meter di Bandara Ngurah Rai. Guna menarik lebih banyak kunjungan wisatawan.

    Pada tahun 1990, diputuskan pembangunan patung dilakukan di luar bandara, dengan menggandeng seniman Bali bernama I Nyoman Nuarta. Dipilihlah lahan bekas penambangan kapur di daerah Ungasan. Dengan dukungan Ida Bagus Mantra dan melibatkan Ida Bagus Oka serta Ida Bagus Sudjana.

    “Mulanya GWK ini digagas oleh Bapak Joop Ave. Menurutnya Indonesia harus memiliki sesuatu yang ikonik dan menarik banyak wisatawan. Tahun 1990, Bapak Joop Ave menggandeng Bapak I Nyoman Nuarta untuk menggagas ikon GWK,” kata Operation Director GWK Stefanus Yonathan Astayasa.

    Tahun 1993, Presiden Soeharto merestui pembangunan proyek ini. Akhirnya fase perencanaan Garuda Wisnu Kencana (GWK) dimulai. Pembangunan pun mengalami kendala akibat adanya krisis moneter tahun 1998. Pembangunan terhenti selama 16 tahun.

    Muncul secercah harapan untuk melanjutkan pembangunan GWK. Tahun 2012, PT Alam Sutera Realty Tbk berkomitmen untuk melanjutkan proyek mahakarya Indonesia. Upacara Ngeruak dan Mendem Pedagingan dilakukan guna mengawali proses pembangunan.

    “Tahun 2010 diadakan GWK Expo, dan Alam Sutera hadir di GWK Expo ini. Tahun 2012 akhirnya Alam Sutera berkomitmen untuk membangun patung GWK hingga selesai,” ujar Stefanus.

    Pada 23 Agustus 2013, dilakukan peletakan batu pertama. Proses pekerjaan pun dimulai dengan membangun pondasi rakit seluas 7.154,41 meter persegi. Tahun 2018, mahkota Dewa Wisnu sudah dipasang, seiring dengan dilakukannya upacara Pasupati. Upacara Melaspas pun dilakukan guna menandai berakhirnya proyek pembangunan patung GWK.

    Peresmian Patung Garuda Wisnu Kencana

    Pada 22 September 2018, peresmian patung Garuda Wisnu Kencana oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Sekaligus sebagai persembahan peringatan HUT ke-73 RI. Dihadiri oleh beberapa tokoh masyarakat dan pejabat penting negara.

    Kini, patung GWK sudah terkenal sebagai ikon Pulau Bali. Patung GWK dengan tinggi 122 meter menjadi patung tertinggi keempat, setelah Patung Vallabhbhai Patel di India (182 meter) sebagai peringkat pertama, Sang Buddha di Tiongkok (153 meter) dan Myanmar (130 meter).

    Sudah tau kan sejarah patung GWK? Butuh waktu 28 tahun untuk mewujudkan mahakarya sekaligus ikon Pulau Bali. Jadi, jangan lupa berkunjung untuk menyaksikan megahnya patung GWK ya!

    (fem/iah)



    Sumber : travel.detik.com