Tag: bitcoin

  • Waspada! Bearish Bitcoin Membayang-bayangi – Tokocrypto News

    Setelah bullish selama 8 pekan berturut-turut, akhirnya Bitcoin menyentuh zona US$8 ribuan. Apakah ini pertanda berakhirnya bullish Raja Aset Kripto itu?

    Menjelang Bitcoing Halving, dengan banyaknya euforia dan sentimen optimistik, kemudian harga Bitcoin sempat menyentuh US$10 ribu, membuat para “moon bois” yakin akan Raja Aset Kripto itu akan terus naik.

    Namun, pagi ini, Minggu 10 Mei 2020, Bitcoin malah turun ke zona sekitar US$8 ribu-an dan membuat candlestik minggu ini menjadi merah setelah 8 minggu berturut-turut berwarna hijau (bullish).

    Berita Terkait: Harga Bitcoin Diprediksi Berlipat Ganda dalam Beberapa Hari Mendatang

    Analisis Teknikal Sederhana

    Sebenarnya, “dump” yang terjadi di Minggu pagi ini, hanyalah reaksi biasa setelah tersentuhnya resistance psikologis US$10 ribu. Itu juga berbarengan dengan garis tren yang terbentuk sejak bull run di akhir 2017 (seperti terlihat di garis hijau pada gambar di atas).

    Support berikutnya yang perlu menahan agar harga tidak turun lebih jauh adalah area US$8 ribuan. Jika ini jebol clean break, maka bisa diperkirakan Bitcoin akan jatuh lebih jauh lagi.

    Ada Sinyal Bearish

    Bitcoin Halving yang kurang dari 3 hari lagi (diperkirakan pada 12 Mei 2020 di block ke-630.000), membuat ekspektasi para pelaku pasar melambung tinggi. Namun, indikator RSI mengatakan ada dump akan membayang-bayangi.

    Jika dilihat di timeframe 1 hari, RSI sudah keluar dari zona overbought, dan telah keluar dari garis tren.

    Untuk perlu kembali bullish, maka kenaikan harga Bitcoin perlu cukup cepat dan kuat agar RSI bisa kembali ke garis tren dan tidak membuat failure swing.

    Para trader disarankan untuk berhati-hati dalam menghadapi Halving ini, karena volatilitas yang tinggi bisa membuat trader kehilangan posisinya. [red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Volatilitas dan Sinyal Bullish Bitcoin

    Mike McGlone, Ahli Strategi Komoditas Bloomberg dalam kajiannya terbarunya, 5 Mei 2020, mengatakan, bahwa volatilitas Bitcoin 180 hari terendah sepanjang masa adalah penting sebagai sinyal bullish yang pernah terjadi mulai tahun 2015 dan berakhir pada 2017.

    McGlone juga membandingkan keunggulan Bitcoin dengan emas dalam konteks pasokan (supply) dan demand (permintaan).

    “Tak seperti emas, harga Bitcoin yang lebih tinggi tidak akan mendorong pasokan BTC yang baru ke dalam pasar dalam besaran yang serupa,” kata Mike McGlone.

    McGlone memaparkan fakta, bahwa di sebagian besar pasar komoditas (seperti emas), permintaan (demand) yang lebih besar mengarah pada harga yang lebih tinggi. Itu, yang pada gilirannya mengarah pada produksi komoditas yang lebih besar dan stabilnya harga.

    Berita Terkait: Prediksi Harga Bitcoin: US$10 Ribu Sebelum Halving, US$19 Ribu Setelah Halving

    “Sedangkan Bitcoin, pasokan Bitcoin baru murni dikendalikan oleh kode-kode komputer secara digital. Nah, pada Halving 12 Mei 2020 mendatang, pasokannya direduksi sebanyak separuh [12,5 BTC menjadi 6,25 BTC-Red],” katanya.

    Kata McGlone lagi, kombinasi antara Bitcoin Halving dan program stimulus ekonomi oleh Bank Sentral, malah akan menciptakan “lingkungan yang sempurna” bagi Bitcoin untuk mengungguli pasar lain.

    “Pasokan terbatas Bitcoin berarti adalah takaran yang penting untuk adopsi lebih lanjut terhadap aset kripto ini. Karakter unik itu tentu saja sangat berseberangan dengan mekanisme pelonggaran kuantitatif [menambah pasokan uang ke dalam pasar-Red] oleh Bank Sentral,” kata McGlone.

    Volatilitas dan Sinyal Bullish
    Menurut McGlone, takaran penting lainnya, juga menunjukkan kekuatan Bitcoin. Volatilitas 180 hari telah mencapai titik terendah sepanjang masa. Ini pernah terjadi sebelumnya, yang memantik kenaikan harga Bitcoin secara besar-besaran.

    Berdasarkan data dari Digitalik.net dalam grafik Meyer Multiple Price Band, harga Bitcoin pada 20 Oktober 2015 (US$300 per BTC) sampai 5 Desember 2017 (US$11.300) berada di wilayah bullish dan bullish extension. Sebagai catatan, Bitcoin Halving Kedua terjadi pada 9 Juli 2016.

    Baru kemudian masuk ke wilayah overbought pada 16 Desember 2017, sekitar US$19.345. Itulah harga puncak tertinggi Bitcoin sepanjang masa, sebelum jatuh ke wilayah US$3 ribu per BTC. [Cointelegraph/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Diprediksi Berlipat Ganda dalam Beberapa Hari Mendatang

    Harga Bitcoin diprediksi berlipat ganda dalam beberapa hari mendatang. Jake Yocom-Piatt, Pendiri Decred juga meramalkan, bahwa akibat Bitcoin Halving pada Mei 2020 nanti, bisa mendorong para penambang (miner) menjual Bitcoin (BTC) mereka di harga paling tinggi daripada saat ini.

    “Kita tahu Bitcoin Halving akan mengurangi imbalan BTC sebanyak separuh untuk jenis operasi yang relatif sama kepada penambang. Inilah yang kelak melipatgandakan biaya menambang yang juga relatif tak terjangkau oleh sebagian besar penambang kecil,” katanya.

    Baca Juga: Kinerja Bitcoin Kalahkan Emas dan Saham Selama April 2020

    Tambahnya, dengan biaya penambangan yang tetap, untuk mempertahankan margin laba yang sama, mereka akan terdorong menjual Bitcoin di harga yang lebih tinggi.

    “Dengan kata lain, kita akan melihat kenaikan Bitcoin berlipat ganda daripada harga hari ini dalam beberapa hari ke depan. Tetapi, prediksi jelas jangka panjang sulit dibuat. Namun, dalam jangka panjang, menggunakan model stock-to-flow (StF), harga bisa meningkat secara substansial,” pungkasnya.

    Berdasarkan data dari Digitalik.net, menggunakan model StF, harga BTC bisa mencapai US$265 ribu per BTC pada 20 Oktober 2021. [Cointelegraph/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analisis Pasar Bitcoin, Apakah Sudah Saatnya Trader Masuk Lagi?

    Pergerakan harga Bitcoin saat ini membuat mayoritas trader sedikit cemas. Sideways yang berkepanjangan dan cenderung berada terus berada di garis support membuat banyak trader yang ragu untuk kembali masuk ke pasar.

    Tetapi, apabila dianalisa dengan seksama, Bitcoin saat ini masih berada dalam fase konsolidasi. Di mana Bitcoin masih dalam titik untuk menentukan resistance atau malah kembali anjlok.

    Di artikel ini, tim portalkripto.con akan menjabarkan analisa Bitcoin dari sisi pergerakan kapitalisasi pasar, dominasi Bitcoin, hingga teknikal pergerakan harga.

    Total Market Cap Cryptocurrency 

    Total market cap cryptocurrency berhasil mencapai $2.572T sebagai titik ATH (All Time High). Namun, tak lama mengalami penurunan secara drastis (dump) sebesar 53% hingga ke titik $1.183T.

    Saat ini pergerakan total market cap crypto sedang mengalami sideways dari range $1.397T – $1.498T.

    Apabila total market cap berhasil breakout dari resistance nya pada titik $1.498T, maka kemungkinan total market cap cryptocurrency akan mengejar untuk mencapai resistance berikutnya pada titik $1.99T.

    Baca Juga: Bitcoin Dominan Terus Naik, Jangan Membabi Buta di Alts Coin!

    Hal tersebut tentu saja menjadi sesuatu yang baik bagi market cryptocurrency untuk kembali bergairah.

    Tetapi apabila pergerakan total market cap berhasil menembus supportnya pada titik $1.397T, maka kemungkinan market cap cryptocurrency akan mengejar support berikutnya pada titik $1.274. Fase ini pun membuktikan bahwa  tingkat ketakutan (fear) market cryptocurrency masih tinggi.

    Bitcoin Dominance 

    Setelah mencapai titik 39.69% pada titik terbawah saat bitcoin dominance dump beberapa waktu lalu, akhirnya bitcoin dominance berhasil merangkak naik pada titik 40%, bahkan pada 17 Mei 2021 sempat menyentuh 48.44%.

    Saat ini Bitcoin dominance berada pada titik 44.66% dan berusaha naik untuk menyentuh resistance terdekatnya pada titik 48.44%. Apabila berhasil breakout maka ada kemungkinan bitcoin dominance akan menyentuh titik 52.47% yang merupakan harmonic resistance fibonacci retracement ratio 0.382 nya.

    Hal tersebut akan menjadi sesuatu yang positif apabila bitcoin dominance berhasil menyentuh 50% kembali. Karena kemungkinan akan berpengaruh pada pergerakan harga Bitcoin, tentu saja sebagai fundamental yang positif.

    Baca Juga: Sah! Bitcoin Digunakan Sebagai Alat Tukar di El Savador

    Tetapi apabila bitcoin dominance kembali koreksi dan berhasil menembus support nya pada titik 39.69%, maka kemungkinan pergerakan dominasi bitcoin akan kembali koreksi hingga menyentuh titik 35.82%.

    Teknikal Analisis Bitcoin 

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC) masih dalam laju sideways, yaitu pada range harga $33,5 ribu – $39,4 ribu. Terlihat sudah 3 kali pergerakan harga Bitcoin mengalami rejection atau penolakan saat mencapai harga $40 ribu, dan sudah terjadi 3 kali rejection juga saat harga Bitcoin mencapai harga $30 ribu.

    Dari data tersebut terlihat bahwa pergerakan harga Bitcoin sedang dilema, sideways dan konsolidasi untuk menentukan apakah akan breakout resistance nya dan memilih untuk naik, atau breakdown dan menembus supportnya dan memilih untuk melanjutkan koreksinya.

    Apabila pergerakan harga Bitcoin memilih untuk breakout resistance nya, maka target kenaikan selanjutnya adalah pada harga $47,9 ribu – $51 ribu.

    Tetapi apabila pergerakan harga Bitcoin lebih memilih untuk breakdown dan menembus supportnya, maka target koreksinya selanjutnya berada pada harga $25 ribu – $27 ribu.

    Kesimpulan

    Kesimpulannya, dari 3 data di atas (Total Market Cap, Dominasi Bitcoin, dan Pergerakan Harga Bitcoin), terlihat bahwa pada saat ini market Bitcoin sedang dalam trend sideways dan konsolidasi untuk menentukan arah selanjutnya.

    Pada kondisi saat ini, sebagai seorang trader sebaiknya kita selalu menjaga money management dan risk management dalam melakukan trading, jangan terlalu terburu-buru untuk melakukan action, selalu perhatikan fundamental dan teknikal analisa.

    Disclaimer:

    Perdagangan atau investasi digital asset atau mata uang kripto (Bitcoin, Ethereum, dll) merupakan aktivitas beresiko tinggi. Sebelum memutuskan untuk mulai berinvestasi ketahui dulu resikonya. Perdagangan Digital Asset sebaiknya dilakukan pada platform exchange yang terdaftar di Bappebti.

    Kami tidak memaksa Anda untuk membeli atau menjual aset digital ini, sebagai investasi, atau aksi mencari keuntungan. Pahami dulu lebih dalam sebelum memutuskan berinvestasi mata uang kripto.

    Semua informasi di artikel ini bukan bersifat financial advisor. Kami hanya mengiformasikan keadaan pasar atau keadaan ekonomi dan situasi global yang berkaitan dengan mata uang kripto beserta ekosistemnya.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Inflasi Amerika dan Beberapa Sentimen Ini Bantu Jaga Bitcoin di Atas Rp500 Juta

    Akhir pekan ini Bitcoin terlihat berhasil terjaga di atas Rp497 Juta dan sedang bergerak di atas Rp500 Juta hingga pembukaan perdagangan hari ini.

    Pergerakan ini nampaknya dibantu oleh beberapa sentimen positif yang salah satunya baru saja terjadi kemarin, yaitu publikasi data perekonomian Amerika.

    Inflasi Amerika Naik Tinggi

    Salah satu yang menarik perhatian publik dan membawa sentimen positif untuk Bitcoin dan aset berisiko lainnya dalam jangka panjang adalah inflasi.

    Amerika baru saja mempublikasi data inflasinya kemarin yang nampaknya mengalami peningkatan lebih cepat dari antisipasi pasar.

    Data inflasi yang diambil dari Consumer Price Index atau Indeks Harga Konsumen (IHK) pada laporan 10 Juni 2021 menyatakan bahwa inflasi naik dalam tempo yang cepat.

    Nampaknya kecepatan peningkatan inflasi ini adalah dampak dari pencetakan uang Dolar Amerika yang terjadi dalam tempo yang juga cepat sejak pandemi dimulai.

    Hasilnya saat ini angka inflasi dikabarkan sedang berada pada tingkat setinggi Tahun 2008, saat krisis keuangan terjadi.

    grafik indeks amerika
    Grafik Indeks Harga Konsumen Amerika 2001 – 2021

    Angka inflasi ini menunjukkan angka tertinggi dalam 13 Tahun terakhir, yang juga menurut mayoritas analis adalah satu hal yang di luar ekspektasi pasar.

    Saat ini nampaknya Dolar Amerika akan terus kehilangan nilainya akibat di Bulan April sudah turun 0,8% dan di Bulan Mei turun 0,6% menurut data IHK.

    Inflasi yang naik signifikan ini membuat mayoritas perusahaan terutama yang memiliki dana simpanan besar, mulai berpikir untuk mencari alternatif.

    Alternatif yang dimaksud adalah alternatif dalam penyimpanan kekayaannya akibat inflasi membuat kekayaannya dalam Dolar Amerika terus menurun.

    Baca Juga: Bank Sentral Amerika Mulai Dukung Crypto, Tapi Ada Satu Syarat

    Hal tersebut dapat membuka jalan untuk aset berisiko menjadi tempat penyimpanan kekayaan, seperti Bitcoin yang sedang mengalami ketenaran saat ini.

    Sebab, menurut analis walau naik dengan cepat, data IHK ini masih relatif rendah dari target awal inflasi bank sentral, sehingga masih mungkin terus naik.

    Namun kondisi ini juga membuka kemungkinan untuk bank sentral mulai melakukan tapering atau mengurangi jumlah uang beredar untuk menormalisasi apresiasi inflasi.

    Tapi melihat hal tersebut tidak bisa dilakukan dengan instan, nampaknya aset berisiko masih akan terus berjaya dengan inflasi yang tinggi.

    Beberapa Sentimen Positif Lain Bantu Bitcoin Bertahan

    Sentimen positif lain untuk Bitcoin nampaknya datang dari kondisi ketenagakerjaan Amerika yang masih terlihat lemah.

    Menurut mayoritas analis saat ini kondisi upah untuk tenaga kerja sedang berada di kondisi lemah.

    Jika disesuaikan inflasi, tenaga kerja justru semakin berkurang upahnya.

    Kondisi ini adalah kondisi yang terjadi di sekitar 1970, menandakan masih lemahnya daya beli masyarakat, membuka jalan untuk kebijakan ekspansif terus berlanjut.

    Selain itu, dari kondisi adopsi Bitcoin sendiri di luar faktor makroekonomi, nampaknya terdapat beberapa sentimen positif lainnya.

    Sentimen positif pertama datang dari El Salvador dan beberapa negara Amerika Latin lainnya yang terlihat dalam rencana mengadopsi Bitcoin.

    El Salvador sendiri saat ini sudah terlihat dekat dengan peresmian Bitcoin.

    Namun terdapat kabar yang beredar potensi diskusi dengan IMF atau International Monetary Fund.

    Namun walau IMF memberikan beberapa kekhawatiran tentang adopsi ini, kekhawatiran tersebut nampaknya bukan sentimen negatif.

    Hal ini disebabkan IMF tidak memiliki wewenang untuk menghentikan adopsi tersebut.

    Selain itu, saat pandemi, IMF juga belum terlihat membantu perekonomian El Salvador.

    Bantuan yang sebelumnya diharapkan melalui dana atau perbaikan infrastruktur dikabarkan belum datang. Tapi saat adopsi Bitcoin terjadi, tanggapan IMF terlihat cepat.

    Sehingga melihat dari kondisi tersebut, nampaknya dampak kekhawatiran IMF belum akan berdampak signifikan. Namun signifikansi masih bergantung pada Presiden El Salvador.

    Baca Juga: Sah! Bitcoin Digunakan Sebagai Alat Tukar di El Savador 

    Selain itu, sentimen positif lainnya nampak berasal dari MicroStrategy dan Victory Capital yang bersiap membeli Bitcoin dalam jumlah cukup besar.

    Dikabarkan bahwa MicroStrategy dalam tahap pembelian Bitcoin dengan surat utang senilai $500 Juta atau Rp7,09 Triliun.

    Selain itu, dikabarkan bahwa Victory Capital akan membeli produk investasi berbasis crypto dengan mayoritas alokasi menuju ke Bitcoin  dan Ethereum.

    Walau belum jelas jumlahnya, gambaran besar dampak Victory Capital dapat dilihat dari dana yang dikelolanya yaitu $157 Miliar atau Rp2.228,3 Triliun.

    Pasar Derivatif Mendukung Apresiasi

    Kondisi ini nampaknya berhasil membentuk sentimen positif di sekitar pasar crypto, dan terlihat juga berdampak pada pasar derivatif.

    Grafik Open Interest Kontrak Options Bitcoin

    Dikabarkan bahwa menjelang kedaluwarsa kontrak options 11 Juni 2021, open interest optons atau jumlah posisi kontrak options yang terbuka terlihat positif.

    Terlihat dari grafik di atas bahwa trader percaya terhadap apresiasi Bitcoin akibat mayoritas kontrak options terbuka adalah call atau beli.

    Kondisi open interest umumnya dapat dijadikan salah satu tanda untuk melihat kondisi pergerakan harga dan sentimen pasar.

    Open interest bersifat positif saat jumlahnya kontrak options yang terbuka mengalami kenaikan dalam kondisi beli bersama harga yang naik, terdapat tanda potensi apresiasi.

    Potensi apresiasi yang dimaksud adalah kenaikan harga pada aset nyatanya dan bukan hanya pada kontrak derivatifnya.

    Melihat kondisi tersebut adalah yang terjadi saat ini, kemungkinan besar Bitcoin masih memiliki harapan untuk mengalami apresiasi kembali.

    Namun, untuk saat ini Bitcoin masih terlihat berkonsolidasi. Untuk naik harus menembus batas atas pada sekitar Rp570 Juta hingga Rp600 Juta.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kinerja Bitcoin Kalahkan Emas dan Saham Selama April 2020

    Selama April 2020, kinerja Bitcoin jauh lebih baik daripada saham dan emas. Bitcoin mampu tumbuh hingga 32 persen, sedangkan emas 6 persen dan saham (Indeks S&P500) hanya 18 persen.

    Bitcoin seolah-olah mulai mampu memantik dirinya sebagai aset safe haven di tengah krisis ekonomi akibat COVID-19. Ini terbukti dari kinerja aset kripto itu berbanding jenis investasi lainnya, termasuk emas selama April 2020.

    Indeks saham S&P500 (SPX) naik dari 2444.10 menjadi 2908.28 point, sekitar 18,99 persen (464 point). Sedangkan Bitcoin naik dari US$6.546 menjadi US$8.651, tumbuh sekitar 32 persen (US$2.104).

    Berita Terkait: Prediksi Harga Bitcoin: US$10 Ribu Sebelum Halving, US$19 Ribu Setelah Halving

    Sementara itu, emas hanya mampu tumbuh 6 persen, naik dari US$1.593 per troy oz menjadi US$1.689 per troy ons.

    Pun secara fundamental, investor semakin banyak melirik Bitcoin menjelang Halving pada medio Mei 2020 mendatang.

    Di momen langka itu, pasokan Bitcoin baru melalui imbalan kepada para miner, tereduksi hingga 50 persen, dari 12,5 BTC menjadi 6,25 BTC per block.

    Sejak Maret 2020 arus masuk uang ke pasar Bitcoin juga meningkat drastis. Menurut kajian Glassnode, jumlah address Bitcoin bersaldo lebih 10.000 BTC naik menjadi 111 pada Rabu (29 April 2020).

    Itu adalah tingkat tertinggi sejak 2 Agustus 2019. Dengan demikian kenaikannya menjadi 11 persen sejak awal Maret 2020.

    “Peningkatan jumlah address Bitcoin bersaldo lebih dari 10.000 BTC kemungkinan merupakan hasil dari pemegang jangka panjang yang kembali masuk ke pasar untuk memperluas kepemilikan mereka,” kata Matthew Dibb, Pendiri Stack.

    Peningkatan minat dari pemegang jangka panjang dan investor besar dapat dikaitkan dengan narasi bullish di sekitar faktor makro dan imbalan yang berkurang pada Bitcoin Halving Mei 2020 nanti. [red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • “Paus” Bitcoin Tidak Berniat Menjual dengan Harga Saat Ini

    Seorang “Paus” Bitcoin (BTC) memegang sekitar 68.000 BTC atau mencapai 523 Juta dalam dolar Amerika, belum juga memindahkan asetnya tersebut selama lebih dari lima tahun dan data yang ada pada rantai blockchain (on-chain) menunjukkan paus lain juga memegang BTC mereka selama rata-rata 4,7 Tahun.

    Meskipun Bitcoin adalah cryptocurrency peringkat teratas di CoinMarketCap, paus yang memegang aset digital tanpa menjual selama bertahun-tahun tidak melindungi BTC dari tren turun yang curam. Pada 12 Maret lalu, harga turun hingga mencapai $3.600 dan banyak paus tidak juga memindahkan dana mereka pada saat itu.

    Bagaimanapun, data menunjukkan banyak paus merasa nyaman memegang BTC meskupun ada risiko koreksi yang signifikan terhadap area dukungan multi-tahun di harga $3.000 hingga $4.000. Ini menggambarkan tren jangka panjang yang optimis pada pasar cryptocurrency dan kesabaran dari investor-investor ini bernilai sangat tinggi.

    Baca Juga: Perkembangan Teknologi Penambangan Bitcoin

    Apa yang Sebenarnya Diinginkan “Paus”?

    Sejak 2015, infrastruktur yang mendukung pasar cryptocurrency telah meningkat secara eksponensial. Semakin banyak lembaga kustodian yang terpercaya membuka beragam pertukaran berjangka yang lebih besar dan ada juga yang menyediakan pertukaran spot regional berskala besar yang didukung oleh layanan perbankan yang stabil.

    Baik investor ritel maupun institusional secara aktif mengakumulasi Bitcoin setelah koreksi yang intens. Sebuah laporan analitik yang diterbitkan oleh Coinbase menemukan setelah turun menjadi $3.750 di bulan Maret kemarin, investor ritel segera membeli pada harga penurunan tersebut.

    Data dari laporan kuartil pertama tahun 2020 Grayscale juga menunjukkan peningkatan nyata dalam permintaan Bitcoin dari investor institusi dan sedang dalam pengamatan.

    Hal ini disebabkan karena semakin banyak investor yang mengakumulasi Bitcoin, pasokan BTC yang beredar juga semakin menurun dan ini dapat melemahkan tren turun utama pada pasar.

    Seiring waktu, ada pula kemungkinan fase korektif akan menjadi lebih lemah dan lebih cepat ketika Bitcoin mendekati pasokan tetap sebesar 21 Juta.

    Selain itu, “paus” dan pemegang jangka panjang lainnya mungkin memandang Bitcoin sebagai aset terbaik untuk dimiliki dalam jangka panjang. Hal ini mengingat fakta bahwa kehilangan dana tidak dapat dipulihkan atau dikembalikan seperti semula, persedian koin akan ditutup, dan halving akan mengurangi tingkat pasokan baru yang tersedia.

    Para peneliti di CoinMetrics mengatakan:

    “Paus Bitcoin baru saja menjadi pemegang selama 5 tahun berturut-turut. Pekan lalu 68k BTC pindah dari pasokan aktif selama 5 tahun, yang menunjukkan terakhir kali mereka pindah on-chain adalah pada bulan April 2015.”

    Bahkan dengan halving yang akan terjadi kurang lebih 13 hari lagi, masih ada kemungkinan BTC akan mengalami pullback parah terlepas dari keenganan paus menjual kepemilikannya tersebut. Namun, sikap optimis paus ini mengurangi kemungkinan jatuh misalnya kejatuhan kapitulasi dalam waktu dekat.

    Baca juga: Bitcoin Whale: Dunia dalam Kejutan Ekonomi Terbesarnya

    Apakah “Harga Sebenarnya” BTC akan Turun di Bawah $3.000?

    Hanya dalam 24 jam setelah Bitcoin jatuh ke $3.600, harga kembali naik di atas $4.000, dan akhirnya kembali ke $7.000 dalam rentang waktu satu bulan.

    Seperti yang dilansir Cointelegraph, penurunan tajam dari $8.000 ke $3.600 terjadi karena kasekade likuidasi di seluruh bursa berjangka, terutama BitMEX. Dengan demikian, pedagang yang terlalu banyak likuidasi yang justru memicu penurunan, bukan penjualan dari “paus” di perdagangan spot.

    Pergerakan pemegang BTC juga menambah validitas teori mengenai BTC yang seharusnya tidak pernah turun harga di bawah $5.000 sama sekali dan investor yang membeli penuruna ke kisaran $3.000 hingga $4.000 tidak mungkin menjual dalam waktu dekat.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Prediksi Harga Bitcoin: US$10 Ribu Sebelum Halving, US$19 Ribu Setelah Halving

    Harga Bitcoin diprediksi bisa mencapai US$10 ribu per BTC sebelum Halving, medio Mei 2020. Sedangkan setelah Halving (sekitar 12-18 bulan) bisa menembus US$19 ribu seperti bull run 2016-2017.

    “Kami memprediksi adanya kemungkinan harga Bitcoin akan naik lebih dari US$10.000 sebelum Halving,” kata Simon Peters, analis aset kripto di eToro.

    Peters juga menyebutkan sejumlah faktor yang dapat mendorong harga Bitcoin selama beberapa minggu ke depan. Pertama, penambang (miner) terus mengakumulasi imbalan Bitcoin baru mereka alih-alih menjual dalam jumlah banyak

    Kedua, banyak pengguna baru yang membeli Bitcoin, baik itu dari kalangan pemain besar atau pun ritel.

    Ketiga, banyak orang mulai khawatir akan datangnya inflasi akibat kebijakan moneter oleh sejumlah bank sentral di seluruh dunia.

    “Seberapa tinggi faktor itu mendorong harga Bitcoin naik lebih tinggi, itu bisa jangka panjang, di tengah prospek ekonomi memburuk untuk ekonomi AS dan kemungkinan pasokan moneter yang terus meningkat, yang melemahkan dolar AS dan memicu kekhawatiran inflasi. Kami percaya itu dapat dengan mudah menguji harga tertinggi Bitcoin sebelumnya, di atas US$19.000, karena investor mencari tempat berlindung yang aman dari aset tradisional [saham, surat utang-Red],” kata Peters.

    Berita Terkait: Total Volume Perdagangan Bitcoin Cs Mencapai US$8,8 Triliun pada Kuartal Pertama 2020

    Setelah Halving tahun 2016, harga Bitcoin melonjak kurang dari US$1.000 per BTC, lalu naik sekitar US$19.800 dalam waktu kurang dari 12 bulan.

    Petinggi bursa aset kripto Binance US, Catherine Coley juga turut bullish terhadap Raja Aset Kripto itu.

    “Pada Halving kedua tahun 2016, reli yang sebenarnya terjadi adalah 18 bulan kemudian. Ini bisa saja terjadi pada Bitcoin setelah Halving Mei 2020 nanti. Saya relatif bullish dalam jangka panjang,” katanya. [Forbes/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tembus US$ 9.000, Pergerakan Bitcoin Sulit Diprediksi Jelang Halving Day

    Jelang periode halving day pada Mei 2020, harga bitcoin cenderung sulit diprediksi dalam beberapa pekan terakhir.

    KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Jelang periode halving day pada Mei 2020, harga bitcoin cenderung sulit diprediksi dalam beberapa pekan terakhir. Kamis (30/4), harga bitcoin sempat menyentuh level US$ 9.447 per btc pukul 15:56 WIB.

    Halving day adalah momen bagi para penambang bitcoin untuk mendulang cuan.

    Chief Operating Officer (COO) Tokocrypto Teguh Harmanda mengatakan, pergerakan bitcoin jadi sulit diprediksi di minggu-minggu terakhir ini. Menurutnya, kenaikan harga yang terjadi saat ini tidak bisa dijadikan acuan untuk memastikan ke depan masih akan naik.

    “Pada halving 1 dan halving 2 juga diperhatikan pergerakannya mirip. Hingga (tidak bisa dipastikan) sampai dengan benar-benar proses halving itu selesai,” kata Harmanda kepada Kontan, Kamis (30/4).

    Baca Juga: Tembus level US$ 9.000, harga bitcoin bakal terkoreksi lagi

    Jelang periode halving, Harmanda memperkirakan kenaikan harga bitcoin masih akan terjadi, bahkan hingga beberapa waktu ke depan sampai terbentuk harga baru, atau sekitar 5-7 bulan ke depan. Secara history, di 2012 kenaikan harga bitcoin mencapai 8.000% dan 2016 kenaikan 280%.

    “Maka range kenaikan maksimal 100% sudah sangat baik pergerakannya untuk halving kali ini,” ujarnya.

    Adapun sentimen yang menjadi penggerak bitcoin ke depan sangat bergantung pada kondisi eksternal dan situasi yang terjadi saat ini. Harmanda meyakini bahwa harga bitcoin akan kokoh selama periode halving dan ke depannya.

    Selama halving terjadi, bitcoin juga bakal membentuk harga baru dan harganya selalu positif meningkat. Dia menilai, jika bitcoin menjadi safe haven maka, disisi lain trader yang baru masuk akan kesulitan untuk memanfaatkan stabilitas harga.

    Untuk saat ini, Harmanda menilai level harga bitcoin masih sangat menarik untuk dilirik investor, sembari mengikuti arus halving wave. Bahkan, kebanyakan pelaku pasar memprediksi pergerakan bitcoin bakal berada di rentang US$ 10.000 per btc hingga US$ 16.000 per btc.

    “Nanti, setelah mendapatkan keuntungan halving, sesegera mungkin untuk convert ke stable coin agar saat akan trading lebih lanjut bisa lebih efektif,” kata Harmanda.

    Baca Juga: Harga bitcoin kembali reli dan berpotensi menuju ke US$ 8.000



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga bitcoin kembali reli dan berpotensi menuju ke US$ 8.000

    KONTAN.CO.ID – NEW YORK. Perubahan keseluruhan sentimen risiko, cryptocurrency melonjak. Bitcoin berada di US$ 7.612,75, pada Minggu (26/4). Peningkatan harga di atas US$ 7.500 untuk pertama kalinya sejak jatuh pada awal Maret.

    Bitcoin sempat jatuh 27% pada 12 Maret karena pasar keuangan terpukul oleh pandemi virus corona. Ed Moya, Analis Pasar Oanda Corp mengatakan, perdagangan token mendekati puncak ini akan membuat momentum baru untuk bisa menembus di atas level US$ 8.000.

    “Bitcoin mulai menarik minat ritel lagi,” tulis Moya dalam sebuah riset seperti dikutip Bloomberg. Dengan upaya stimulus di seluruh dunia beberapa pedagang melompat ke crypto sebagai lindung nilai terhadap perang mata uang.

    Baca Juga: Waduh, harga Bitcoin turun 25% dalam sehari karena tersengat efek virus corona

    Cryptocurrency telah banyak bergerak bersama dengan aset berisiko selama sebulan terakhir yang jatuh ketika pasar ekuitas berada di bawah tekanan. Harga saham juga naik pada hari Kamis karena optimisme ekonomi AS akan kembali membaik dan minyak kembali reli.

    Secara teknikal Moya mengatakan, bitcoin harus menembus di atas US$ 8.000 untuk mulai perjalanan di harga yang lebih tinggi. Indikator teknikal menunjukkan Relative Strength Index (RSI) beada di 59, dan belum memasuki wilayah overbought.

    Aset dianggap overbought jika RSI melebihi 70. Jika menebus harga lebih rendah bisa berarti bitcoin turun ke US$ 6.500. “Bitcoin tampaknya menguji zona resistance sebelumnya di sekitar level US$ 7.500,” kata Denis Vinokourov, Kepal Riset Bequant, sebuah perusahaan aset digital yang berbasis di London. Ia menyebut, bias bullish signifikan ini mendorong untuk menjadi pengungkit kembali.



    Sumber : news.tokocrypto.com