Tag: bitcoin

  • Tesla Beli Bitcoin US$1,5 Milyar

    Perusahaan Tesla yang didirikan oleh Elon Musk akhirnya membeli Bitcoin (BTC) senilai US$1,5 milyar (setara Rp21 triliun). Harga Bitcoin langsung melejit ke lebih dari US$43 ribu (Rp603 juta), membentuk harga all time high (ATH) baru.

    Keraguan publik terhadap Elon Musk soal Bitcoin kini terjawab sudah, perusahaan Tesla yang didirikan oleh Musk akhirnya memutuskan membeli Bitcoin senilai US$1,5 milyar.

    Kabar itu tercantum pada laporan perusahaan publik itu kepada Komisi Bursa dan Sekuritas (SEC) Amerika Serikat yang diterbitkan hari ini.

    Baca Juga: Kisah Inspiratif 2 TKO Angels Setelah Investasi di Tokocrypto

    “Pada Januari 2021, kami memperbarui kebijakan investasi kami untuk memberi kami lebih banyak fleksibilitas untuk lebih mendiversifikasi dan memaksimalkan keuangan kami. Kami berinvestasi di Bitcoin senilai total US$1,5 milyar,” sebut perusahaan dalam dokumen itu.

    Selain itu, Tesla berencana menerima Bitcoin sebagai bentuk pembayaran untuk produk perusahaannya dalam waktu dekat.

    Elon Pendukung Bitcoin
    Pada 1 Februari 2021, Elon Musk menegaskan bahwa dirinya adalah pendukung Bitcoin.

    Elon Musk Pendiri dan CEO SpaceX tegas mengatakan bahwa dirinya adalah pendukung Bitcoin.

    “Saya adalah pendukung bitcoin. Saya memang terlambat menyambutnya, tetapi saya adalah seorang pendukung. Saya pikir Bitcoin saat ini berada di ambang penerimaan luas oleh orang-orang di keuangan tradisional. Dan saya pikir Bitcoin adalah hal yang baik,” kata Musk di ruang obrolan Clubhouse , 1 Februari 2021, dilansir dari Forbes dan Reuters.

    Musk juga mengatakan bahwa banyak orang mengajaknya masuk lebih dalam ke Bitcoin sejak tahun 2013, ketika harga Bitcoin masih di bawah US$100.

    Pernyataan Musk menyusul penyematan tanda pagar #bitcoin di profil Twitter-nya pada 29 Januari 2021 lalu.

    Setelah tagar itu,  tidak ada pernyataan terang benderang di Twitter-nya, apakah dia memang mendukung Bitcoin.

    Baca Juga: Pengamat: Langkah Tesla Beli Bitcoin Akan Ditiru Perusahaan Lain

    Heboh Tagar Bitcoin di Profil Twitter Elon Musk
    Apapun polah kata Elon Musk di Twitter mampu membuat warganet gempar. Hari ini Elon Musk mengubah bagian profil akun Twitter-nya dengan tagar #Bitcoin. Ini sekaligus mengingatkan kita terkait akunnya yang pernah diretas pada tahun lalu.

    Gara-gara tagar itu sontak dunia Twitter pun geger, khususnya para pecinta aset kripto nomor wahid itu.

    Entah terkait itu atau tidak, harga Bitcoin kala itu pun langsung terkerek ke US$38 ribu pada pukul 16:30 WIB hari ini dari US$32 ribuan pada pukul 15:30 WIB.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Triliunan Dicetak AS, Bitcoin Jadi Lindung Nilai?

    Pembuat kebijakan di seluruh dunia sedang mengucurkan sejumlah uang segar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk mencegah resesi yang akan datang, atau kemungkinan yang lebih buruk lagi, yaitu depresi ekonomi total.

    Di Amerika Serikat, para Senat telah menyetujui paket stimulus sebesar $ 2 triliun pada akhir Maret lalu, dan sekarang Kongres sedang mengatur peninjauan proposal dari House Democrats untuk $ 3 triliun lainnya yang dimaksudkan untuk meringankan kebutuhan orang Amerika dalam menghadapi tingkat pengangguran yang meningkat hingga 15% .

    Hal ini dilakukan the Fed sebagai tanggapan terhadap pandemi COVID-19. Federal Reserve sendiri telah melakukan gelombang pelonggaran kuantitatif yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.

    Sebagai badan moneter yang bertanggung jawab untuk mengelola mata uang cadangan dunia, Fed menggunakan pelonggaran kuantitatif sebagai sarana untuk menanamkan perekonomian dengan likuiditas baru. Memiliki kontrol penuh atas pencetakan uang memungkinkan Fed untuk mencetak dolar sebanyak yang diinginkan, yang kemudian disuntikkan ke dalam sistem keuangan dengan membeli aset di pasar terbuka.

    Jika melihat Resesi Hebat yang terjadi pada 2008 lalu, The Fed mengucurkan dana senilai lebih dari $ 1,2 triliun hanya dalam waktu empat bulan sebagai cara untuk memompa modal segar ke pasar. Namun, skala pelonggaran kuantitatif yang dilakukan setelah krisis COVID-19 mengerdilkan tindakan apa pun yang pernah terjadi sebelumnya, hal ini mengingat rencana The Fed yang tidak akan membatasi jumlah uang yang akan disuntikan ke dalam sistem.

    Baca juga: Bitcoin Halving Telah Usai. Lalu Sekarang Apa?

    Selama 2 setengah bulan terakhir, The Fed telah membeli aset senilai $ 2,8 triliun. Tidak seperti kejadian setelah tahun 2008 ketika badan pemerintah membatasi pembelian asetnya untuk mengamankan obligasi Treasury AS, kejadian kali ini mereka berkomitmen untuk membeli aset berisiko seperti obligasi korporasi dan kota juga.

    Bitcoin sebagai Lindung Nilai?

    Uang talangan dari AS ini diharapkan dapat membantu perusahaan publik dan mencegah pemegang saham kehilangan nilainya. Uang baru ini diperkirakan akan meningkatkan biaya aset, tetapi karena kebanyakan orang Amerika tidak memiliki aset, satu-satunya hasil yang akan mereka alami adalah melemahnya daya beli. Beni Hakak, CEO dari LiquidApps, melihat peluang bagi Bitcoin (BTC) untuk menjadikan dirinya sebagai penyimpan nilai:

    “Krisis keuangan akibat pandemi COVID-19 adalah krisis pertama yang dialami Bitcoin sebagai kelas aset, dan beberapa orang memperkirakan Bitcoin itu mirip dengan emas, hal ini menyebabkan penurunan tajam dalam harga Bitcoin. Seiring ekonomi dunia yang mulai terbuka, Bitcoin lambat laun pulih dengan cukup baik, mengungguli S&P sejak posisi terendahnya masing-masing.

    Dengan Halving Bitcoin yang telah terjadi baru-baru ini, sebuah peristiwa yang secara historis diikuti oleh kenaikan harga, akan lebih menarik untuk melihat apakah nantinya Bitcoin dapat diterima sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penyimpan nilai.”

    Baca juga: Perang Mata Uang dan Kebangkitan Bitcoin

    Pelonggaran Kuantitatif vs Pengerasan Kuantitatif

    Perbedaan pencetakan uang yang tampaknya tidak terbatas yang terjadi beriringan dengan halving Bitcoin baru-baru ini, sebuah peristiwa yang terjadi setiap empat tahun sekali dan mengurangi setengah jumlah dari Bitcoin baru. Pada orang-orang yang percaya pada crypto, hal ini adalah bukti lebih dari status Bitcoin sebagai “hard money dunia.” Kelangkaan Bitcoin ini menarik perhatian dari rata-rata investor dan pengguna yang khawatir tentang pencetakan uang dan potensi yang dimilikinya dalam menyebabkan inflasi yang tak terkendali.

    Sementara sistem mungkin sedang “dipanaskan” dengan transparansi dan non-regulasi, Avi Rosten, seorang manajer produk di CryptoCompare, sebuah platform data dan penelitian crypto, mengatakan bahwa melalui pelacakannya ia menemukan banyak pasar yang berfluktuasi.

    Terdapat sinya volume tinggi tetapi ragu-ragu, ketika hal tersebut terjadi tercatat fluktuasi besar pada pasar saham AS antara 12 Maret dan 13 Maret ketika CryptoCompare menghitung 11.000 perdagangan per detik. Rosten mengatakan semua orang menghindari aset berisiko pada dolar AS, kecuali Bitcoin. Ia juga menambahkan hal ini merupakan waktu yang optimal bagi Bitcoin untuk membuktikan nilainya sebagai aset karena semua mata sedang memandangnya:

    “Kami melihat minat yang meningkat karena euforia terhadap halving Bitcoin, serta rekor volume pertukaran spot. Tinjauan Exchange pada bulan April, kami menemukan bahwa pada tangga 30 April 2020 lalu, terdapat volume spot tertinggi kedua dalam sejarah crypto.”

    AS mungkin berada di pusat badai keuangan, tetapi itu tidak berarti ekonomi negara lain tidak merasakan gejolak. Langkah-langkah pelonggaran kuantitatif seperti yang baru-baru ini diusulkan hingga mencapai $ 3 triliun telah menyebabkan mata uang seperti real Brasil, peso Meksiko dan rand Afrika Selatan mengalami penurunan lebih dari 20% dalam nilai terhadap dolar sejak awal krisis pandemi ini.

    Ketidakpastian setelah crash pertengahan Maret lalu juga mendorong Bitcoin menggantikan posisi yang secara historis diduduki oleh emas. Sementara pasar perlahan-lahan kembali pulih, banyak negara mengalami gelombang kedua krisis pandemi Covid-19, membuat jeda pada proses pemulihan.

    Baca juga: Bitcoin, Alternatif di Tengah Krisis Ekonomi

    Kembali pada Tahun 70-an?

    Seperti yang terjadi di tahun 1973, terdapat krisis minyak yang mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh pasar global. Pemerintahan, terutama di AS, menempuh cara pencetakan uang sebagai langkah untuk merangsang pasar bekerja. Lalu, perhatian lambat laun bergeser pada komoditas langka seperti emas karena investor ingin melindungi nilainya terhadap risiko kenaikan inflasi.

    Gambaran ketidakpastian cukup sesuai dengan kondisi saat ini, yang juga cocok dengan kondisi ekonomi tahun 1970-an. Tahun di mana AS mulai sepenuhnya mengabaikan standar emas, kemudian berakhir dengan tingkat inflasi tahunan 13,3% yang melumpuhkan negara itu, bahkan upah dan pertumbuhan ekonomi cenderung bergerak ke samping. Kombinasi pertumbuhan stagnan dan kenaikan inflasi, atau yang disebut “stagflasi” ini menjadikan emas pusat perhatian sebagai penyimpan nilai yang tahan inflasi.

    Melangkah ke keadaan sekarang, saat mata uang fiat bertambah pasokannya seiring juga dengan halving Bitcoin yang terjadi baru-baru ini, terdapat kekhawatiran inflasi akan mulai muncul lagi di pasaran. Maka dari itu, aset yang terbukti langka akan dianggap memiliki posisi yang baik. Mati Greenspan, seorang analis dan pendiri Quantum Economics, percaya bahwa mengikuti arah dari pelonggaran kuantitatif skala besar ini, Bitcoin akan dapat mempertahankan nilai masa depannya karena pasokannya yang langka:

    “Hal ini (Bitcoin) bertindak sebagai lindung nilai terhadap inflasi seperti emas dan perak. Jadi jika skenario pencetakan uang ini terjadi kemungkinan akan mendorong inflasi, sangat mungkin juga jika emas, perak, dan Bitcoin akan mempertahankan nilainya terhadap mata uang tersebut dan bertindak sebagai lindung nilai yang valid.”

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Terlambatkah Membeli Bitcoin? Analisis Ini Jawabannya

    Banyak investor ritel awam yang merasa bahwa saat ini harga Bitcoin sudah terlalu tinggi. Hal ini disebabkan harga Bitcoin yang terus membentuk harga tertinggi baru dimana saat ini telah berhasil mencapai $36.800.

    Akibatnya, banyak pihak yang ragu untuk membeli karena khawatir harganya akan turun setelah melakukan pembelian. Walau kemungkinan tersebut masih ada, analisis ini membuktikan bahwa tidak ada waktu yang terlambat untuk membeli Bitcoin.

    Analisis Bitcoin Stock to Flow

    Salah satu analisis yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan harga Bitcoin ke depannya adalah analisis Stock to Flow. Analisis ini memperlihatkan perbandingan antara beberapa aset untuk menjadi cerminan prediksi.

    Prediksi ini dapat menjadi jawaban untuk terlambat atau tidaknya pembelian Bitcoin akibat memprediksi potensi keuntungan di depan. Salah satu pihak yang telah membuat analisis dengan metode ini adalah Plan B.

    Baca juga: Survey Bitcoin di Indonesia 2020: Ketertarikan tentang Bitcoin Meningkat

    Plan B menggunakan analisis Stock to Flow untuk melihat perkembangan harga Bitcoin dengan membandingkan pergerakannya di masa lalu. Analis dari Plan B membandingkan pergerakan tahun 2012 hingga 2016, pergerakan 2016 hingga 2020, dan pergerakan 2020 hingga saat ini.

    prediksi bitcoin

    Dari analisis tersebut, terjadi penyamarataan skala dimana semua harga dibentuk untuk mencerminkan pergerakan harga saat ini. Dari analisis tersebut dapat dilihat bahwa jika bercermin pada pergerakan masa lalu, Bitcoin dapat menyentuh harga $100.000 dalam 3 hingga 8 bulan ke depan.

    Sehingga analisis tersebut dapat menjawab bahwa tidak ada kata terlambat untuk investasi terutama terhadap Bitcoin. Hal ini disebabkan adanya potensi keuntungan yang cukup besar di waktu yang akan datang.

    Metode Dollar Cost Averaging

    Namun, agar investasi dilakukan secara aman, terdapat beberapa metode untuk menjaga dana investor, mengingat masih adanya potensi penurunan harga atau koreksi. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode Dollar Cost Averaging atau (DAC).

    Metode ini sering digunakan oleh mayoritas perusahaan investasi dan pengelola dana. Hal ini disebabkan metode ini dapat memberikan keamanan dana terutama dalam investasi akibat bagian dari diversifikasi melalui waktu.

    Baca juga: Tom Lee: Harga Bitcoin Bisa Lebih dari US$40 Ribu Pada Tahun Ini

    Metode ini dilakukan dengan menginvestasikan sejumlah uang yang tetap dalam beberapa waktu yang berbeda. Hal ini dilakukan mayoritas investor besar untuk memitigasi risiko dari investasi akibat dari fluktuasi harga.

    Sebagai contoh nyata, metode ini dapat digunakan dalam investasi Bitcoin dimana dapat terjadi averaging up atau averaging down. Averaging up dilakukan saat harga naik dimana investasi dilakukan bersama harga yang naik, sedangkan averaging down dilakukan saat harga turun.

    Oleh karena itu dengan melakukan metode DAC ini, walaupun harga mengalami penurunan, rata-rata keuntungan di portfolio investasi menjadi tetap aman. Selain itu, keuntungan yang didapat saat harga naik adalah investor mendapat keuntungan saat harga naik dan tetap dapat melakukan investasi di harga yang lebih tinggi akibat tetap memiliki dana.

    Tidak Ada Waktu Yang Tepat

    Metode tersebut menjadi salah satu solusi untuk mempermudah investor memitigasi risiko dalam investasi. Namun, untuk menjawab pertanyaan apakah ada waktu yang tepat untuk melakukan investasi, mayoritas pasar percaya bahwa jawabannya tidak ada waktu yang tepat.

    Baca juga: 6 Alasan Kenapa Kamu Harus Investasi Bitcoin di 2021

    Hal ini disebabkan pasar keuangan yang akan selalu bergerak akibat fluktuasinya yang cukup tinggi, terutama saat ada sentimen besar. Sehingga walau banyak analisis yang dapat dilakukan, secara fakta tidak ada waktu yang tepat untuk memulai investasi kecuali sekarang.

    Menurut mayoritas analis dan investor, pola pikir ini berlaku untuk investasi akibat jika terus menunda, tidak akan ada dorongan untuk memulai. Sehingga mengingat investasi juga dilakukan untuk jangka panjang, tidak ada waktu yang tepat akibat semakin lama berinvestasi akan semakin besar keuntungannya.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pengamat: Apple Bisa Saja Juga Beli Bitcoin

    Pengamat keuangan dari RCB Capital Markets mengatakan, bahwa perusahaan Apple bisa saja juga membeli Bitcoin. Pernyataan itu datang bersamaan dengan pembelian Bitcoin senilai US$1,5 milyar oleh Tesla.

    “Apple bisa saja mempertimbangkan untuk membeli Bitcoin, sehingga aset itu menjadi bagian dari neraca keuangan perusahaan. Apple bisa juga memadukan layanan jual-beli Bitcoin di iPhone. Ini yang bisa meningkatkan harga Bitcoin,” kata Mitch Steves dari RCB Capital Markets, dilansir dari Bloomberg, (8/2/2021).

    Baca Juga: Tesla Beli Bitcoin US$1,5 Milyar

    Steves mengatakan, jika Apple membuat bursa aset kripto di iPhone, maka Apple berpotensi meraih pendapatan miliaran dolar.

    “Dengan kekuatan research dan development terbatas saat ini, potensi pendapatan Apple bisa mencapai US$40 milyar secara tahunan,” tegas Steves.

    Bitcoin US$1,5 Milyar
    Kemarin Tesla mengumumkan bahwa telah membeli Bitcoin senilai US$1,5 milyar pada Januari 2021 lalu.

    Tesla memang tak menyebutkan di rata-rata harga berapa mereka membeli Bitcoin. Namun, Anthony Pompliano kemarin memprakirakan Tesla membelinya harga satuan sekitar US$33 ribuan per BTC.

    Catatan lain menyebutkan, bahwa Bitcoin bernilai jumbo itu menggunakan dana dari gross cash Tesla sebesar 7,7 persen.

    Rumor bahwa Tesla pimpinan Elon Musk akan membeli Bitcoin mulai menyeruak sejak Desember 2020 lalu, ketika Michael Saylor CEO MicroStrategy “merayu” Elon untuk juga membeli Bitcoin.

    Hingga pada 4 Februari 2021 lalu, sejumlah perwakilan Tesla turut hadir dalam konferensi “World Now 2021” besutan MicroStrategy. Dalam konferensi itu sejumlah materi terkait Bitcoin untuk perusahaan juga dipaparkan.

    MicroStrategy memang terkenal sebagai perusahaan publik asal AS yang membeli Bitcoin dalam jumlah besar-besaran. Setelah pembelian terbaru senilai US$10 juta belum lama ini, kini perusahaan itu memiliki Bitcoin lebih dari 71 ribu BTC.

    Baca Juga: Oscar Darmawan: Langkah Tesla Beli Bitcoin akan Diikuti Perusahaan Besar

    Harga Bitcoin Menuju US$50 Ribu?
    Kabar Tesla membeli Bitcoin praktis melejitkan harga Bitcoin hingga US$47.570 per BTC (Rp666 juta) pada pagi hari ini (9/2/2021). Itulah rekor tertinggi baru sepanjang masa, setelah 8 Januari 2021 lalu.

    Sebelum kabar Tesla itu, Mike McGlone dari Bloomberg Intelligence meramalkan harga Bitcoin bisa mencapai kapitalisasi pasar hingga US$1 miliar. Itu bermakna harga satuan Bitcoin lebih dari US$50.000 (Rp700 juta).



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Diprediksi Melaju Hingga Rp700 Juta dalam 18 Bulan

    Bitcoin diprediksi melaju ke US$20-50 ribu (Rp300-700 juta per BTC) dalam waktu 18 bulan, akibat sentimen akan datangnya gelombang inflasi, kata Simon Peters dari eToro. Itu yang kelak membuat Bitcoin lebih bersinar.

    Penegasan lain datang dari para penghayat Bitcoin kelas dunia, seperti Tyler Winklevoss, Mike Novogratz dan Paul Tudor Jones.

    Kendati saat ini adalah masa resesi, inflasi belumlah terjadi, kendati sejumlah bank sentral di seluruh dunia menggelontorkan lebih banyak uang lagi ke dalam pasar.

    Inflasi bisa jadi tiba ketika pertumbuhan ekonomi mulai agak pulih dan uang-uang itu diserap kurang baik oleh pasar, bahkan ketika gelombang kredit macet di depan mata.

    Saat itulah Bitcoin, dengan pasokan terbatasnya, akan menjadi incaran, kata beberapa pendukung Bitcoin paling terkenal, seperti Tyler Winklevoss, Mike Novogratz dan Paul Tudor Jones.

    Argumen itu diletakkan pada Bitcoin Halving, sebuah mekanisme baku di blockchain Bitcoin yang memotong imbalan Bitcoin baru kepada para penambang. Bitcoin Halving III baru saja dimulai pada 12 Mei 2020 lalu, di mana imbalan kepada penambang berkurang dari 12,5 BTC menjadi 6,25 BTC per block.

    Ketika bank sentral AS misalnya melakukan pelonggaran kuantitatif, maka Bitcoin melakukan hal sebaliknya, mengetatkan kuantitatif-nya. Kuantitatif dalam hal ini adalah jumlah unit nilai yang dikeluarkan dalam rentang waktu tertentu.

    Neraca Bank Sentral AS misalnya telah membengkak menjadi lebih dari US$6 triliun, sebagai akibat dari pembelian surat utang negara dan sekuritas yang dijamin oleh pemerintah. Ini sama halnya dengan menambah pasokan uang ke dalam pasar, namun tidak dalam waktu bersamaan. Diperkirakan neraca itu semakin jumbo hingga 50 persen dari produk domestik bruto AS pada akhir tahun ini.

    Hal senada juga dilakukan oleh Pemerintah AS melalui program stimulus lebih dari US$8 triliun untuk meredam tekanan hebat COVID-19.

    Bitcoin Lindung Nilai terhadap Inflasi

    Bitcoin mungkin secara kebetulan melaju di era resesi saat ini yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19. Itu juga yang mendorong orang melihat kembali keunggulan Bitcoin dibandingkan aset-aset lainnya, seperti emas.

    Namun, tidak sedikit juga yang menilai bahwa Bitcoin berfungsi dan bermanfaat serupa seperti emas, yaitu sebagai alat lindung nilai melawan inflasi.

    “Negara-negara lain akan terpaksa terus menerus menerbitkan uang yang banyak ke dalam pasar. Di saat yang bersamaan, nilai uang-uang itu akan terkikis drastis terhadap dolar AS yang juga semakin jumbo jumlahnya. Bitcoin yang kian langka karena terbatas pasokannya tampaknya akan menjadi alat lindung nilai yang sempurna untuk melawan inflasi bagi investor institusi,” kata Jean-Marie Mognetti, CEO CoinShares.

    Bitcoin Halving dimaksudkan untuk mencegah inflasi dengan bertindak untuk secara berkala memperlambat laju penciptaan Bitcoin baru hingga 2140, agar tidak melampaui permintaan. Sekarang, pada Bitcoin Halving III ini sampai tahun 2024, laju inflasi Bitcoin hanya 1,80 persen per tahun.

    Paul Tudor Jones, Pendiri Tudor Investment Corp pada 12 Mei 2020 misalnya memastikan ia bertaruh cukup besar untuk membeli Bitcoin guna melawan inflasi yang akan datang.

    “Saya menyaksikan adanya inflasi moneter besar, sebuah kenaikan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang pernah saya lihat,” kata Jones kala itu.

    Menuju US$50 Ribu per BTC

    Simon Peters, Analis Senior di eToro lebih yakin akan hal itu dengan sebuah prediksi. Dia mengatakan Bitcoin berpotensi naik di kisaran US$20-50 ribu per BTC dalam 18 bulan.

    Kendati saat ini Bitcoin jauh di bawah US$19 ribuan per BTC (Desember 2017), terbukti tahun ini imbal hasilnya lebih baik daripada saham.

    Bitcoin telah menjadi salah satu kelas aset berkinerja terbaik tahun ini, mengumpulkan sekitar 30 persen menjadi US$9.500. Sedangkan Indeks saham S&P 500 telah turun 11 persen.

    Potensi Inflasi Uang Fiat

    Sejumlah pandangan kian menguatkan akan datangnya inflasi terhadap uang fiat alias uang yang diterbitkan oleh negara. Hal itu diamini oleh Morgan Stanley pada April lalu, walaupun pada Maret 2020 inflasi di AS melambat tajam. Namun, bank besar itu berpendapat bisa jadi akan ada percepatan inflasi di masa akan datang.

    Penegasan lainnya datang dari Deutsche Bank yang menjabarkan banyak kasus bahwa pandemi COVID-19 akan menyebabkan kembalinya inflasi di negara-negara maju. Masalahnya adalah kita tak pernah tahu kapan inflasi itu akan tiba dan banyak orang bersiap-siap membeli Bitcoin. [Bloomberg/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Jangan kaget, Elon Musk beberkan jumlah bitcoin yang dimilikinya

    KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Elon Musk menjadi salah satu tokoh di dunia teknologi yang cukup banyak tingkah dan eksentrik.

    Sebut saja, mulai dari isap ganja di depan publik, berkicau ingin membuat Tesla menjadi perusahaan tertutup, hingga terakhir memberikan nama unik untuk putranya, yakni X Æ A-12.

    Kicauannya Musk di Twitter memang kerap mencuri perhatian. Baru-baru ini, ia juga membeberkan jumlah bitcoin yang dimiliki. Musk memamerkannya saat menjawab kicauan penulis Harry Potter, J.K Rowling.

    Baca Juga: Elon Musk Akhirnya Membuka Pandangannya Terhadap Bitcoin

    Mulanya, Rowling menanyakan apa itu bitcoin kepada wargnet di Twitter. Respons pun berdatangan untuk menjawab pertanyaan Rowling.

    Namun, penulis legendaris ini akhirnya menyerah memahami apa itu cyptocurrency. “Orang-orang menjelaskan apa itu Bitcoin, dan sejujurnya itu blah blah blah…”, tulis Rowling.

    Elon Musk pun ikut nimbrung. Secara esensi, ia mengatakan bahwa Bitcoin lebih kokoh dibanding uang tunai. Apalagi melihat kebijakan beberapa bank pusat seperti Federal Reserve, bank sentral Eropa, atau bank sentral Jepang baru-baru ini yang menerbitkan lebih banyak uang untuk mencegah goncangan ekonomi.

    Namun, pernyataan itu seakan bertolak belakang dengan jumlah bitcoin yang dimiliki Musk. “Ngomong-ngomong, saya cuma punya 0,25 Bitcoin,” tulisnya, melanjutkan twit sebelumnya.

    Nilai itu sekitar US$ 2.500 atau sekitar Rp 37 juta saat berita ini ditulis. Jumlah itu jauh dari total kekayaan Musk yang dilaporkan mencapai US$ 40 miliar (sekitar Rp 595 triliun).

    Balasan twit itu pun berdatangan. Salah satunya dari Tyler Winklevoss, CEO Gemini, salah satu perusahaan penukaran mata uang cryptocurrency di New York.

    Baca Juga: Awal halving day, harga bitcoin masih bergerak wajar

    “Lalu bagaimana kamu membayar untuk hidup di Mars,” responsnya terhadap twit Musk. Musk sendiri memang berambisi untuk menginisiasi kehidupan di planet Mars.

    Dirangkum KompasTekno dari Decrypt, Selasa (19/5), Musk awalnya memang tertarik dengan cryptocurrency. (Wahyunanda Kusuma Pertiwi)



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Belum melonjak signifikan di awal halving day, Bitcoin bisa diburu mulai sekarang

    KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sepekan sudah memasuki periode halving day, pergerakan harga bitcoin cenderung stabil dan belum menunjukkan lonjakan signifikan. Meskipun begitu, awal Kamis 7 Mei 2020 harga bitcoin sempat menyentuh level harga di US$ 10.000 per btc.

    Christopher Tahir Co-founder CryptoWatch mengatakan, pergerakan harga bitcoin sepekan terakhir masih bergerak wajar. Hal ini karena kondisi pelaku pasar yang masih menganut buy on rumour, sell on news.

    “Artinya, orang-orang cenderung akan membeli (bicoin) sebelum halving day dan melakukan aksi pasca-halving,” ujar Chris kepada Kontan.co.id, Minggu (17/5).

    Baca Juga: Tokocrypto, Pedagang Aset Kripto Pertama yang Teregulasi di Indonesia, Berhasil Raih Pendanaan dari Binance

    Chris memprediksi pergerakan bitcoin akan cenderung mengalami akumulasi yang panjang sebelum adanya potensi kenaikan di 2021. Bahkan, di tahun depan dia menilai pergerakan harga bitcoin sangat memungkinkan untuk menyentuh level US$ 100.000 per btc, dengan catatan percepatan kenaikan hanya sepertiga dari level sebelumnya.

    Adapun untuk tahun ini, harga bitcoin diperkirakan tidak akan bergerak terlalu jauh dengan target akhir tahun berada di level US$ 20.000 per btc. Christopher mengungkapkan bahwa level tersebut setara dengan level tertinggi yang pernah dicapai akhir 2017 lalu.

    Tahun ini kondisi ekonomi global tengah terancam krisis. Pemicunya adalah penyebaran virus corona atau Covid-19. Dampak dari sentimen tersebut juga membuat banyaknya usaha mikro kecil menengah (UMKM) tutup, angka pengangguran meningkat.

    Baca Juga: Meski trennya naik, bitcoin belum layak jadi safe haven

    “Meskipun begitu, peluang inflow ke bitcoin semakin terbuka, karena bitcoin saat ini sudah dianggap sebagai salah satu kendaraan investasi,” jelasnya.

    Dengan begitu, Chris merekomendasikan pelaku pasar untuk mulai berburu bitcoin dengann akumulasi beli dan menambah porsi portofolio bitcoin. Caranya, bisa masuk dengan metode dollar cost averaging alias beli cicil.

    “Sehingga, apabila mengikuti pola sebelumnya dimana harga naik di tahun setelah tahun halving, maka posisi yang dibeli tahun ini bisa menjadi posisi yang menguntungkan,” imbuh Chris.

    Baca Juga: Tren harga naik, bitcoin belum layak jadi safe haven

    Chris memperhitungkan, untuk jangka yang lebih panjang momentum halving day memungkinkan untuk mendorong harga bitcoin naik ke level US$ 107,883 per btc atau sebanyak 2.935%. Sebagai informasi, sepanjang Mei 2020 harga bitcoin sudah menanjak sebanyak 10,02% dari level US$ 8.624 per btc pada 30 April menjadi US$ 9.488 per btc. Sedangkan dalam sepakan terakhir, kenaikan harga bitcoin tercatat sebanyak10,31% dari level 11 Mei yakni US$ 8.601 per btc.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pasar Bitcoin Cs Memang Bergejolak, Tetapi Tumbuh Baik

    Perusahaan modal ventura, Andreessen Horowitz melihat memandang pasar Bitcoin Cs (aset kripto) memang bergejolak, tetapi tumbuh baik dan konsisten dalam beberapa tahun terakhir, berdasarkan empat ukuran utama.

    Empat ukuran itu adalah pertumbuhan wacana di masa lalu di media sosial, pengembang (developer) platform blockchain dan aplikasinya, harga dan perusahaan rintisan (startup company). Inilah yang disebut perusahaan sebaga siklus kripto, yang menguntungkan bagi investor di masa depan.

    Pernyataan itu dituangkan dalam satu laporan pada 15 Mei 2020 lalu, bahwa siklus aset kripto, memuncak pada 2010, 2013 dan 2017.

    Kata mereka, tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) dari 2010 hingga saat ini menunjukkan adanya “ombak”, namun tumbuh konsisten dalam semua ukuran utama itu.

    Baca Juga: Tokocrypto, Pedagang Aset Kripto Pertama yang Teregulasi di Indonesia, Berhasil Raih Pendanaan dari Binance

    “Siklus tahun 2017 melahirkan puluhan proyek menarik di berbagai bidang termasuk pembayaran, keuangan, game, infrastruktur dan aplikasi web,” sebut perusahaan.

    Andreessen Horowitz mencatat bahwa ide-ide inovatif yang didorong dalam siklus terbaru memiliki potensi untuk menciptakan “siklus kripto keempat”, yang, jika konsisten, dapat melihat peningkatan yang sebanding dalam media sosial, pengembang dan aktivitas startup dan mendorong kenaikan harga Bitcoin.

    Baca Juga: Harga Bitcoin dan Emas Melonjak, Setelah The Fed Yakin Ekonomi AS Masih Loyo

    “Walapun siklus itu terkesan kacau, namun dalam jangka panjang mereka telah menghasilkan pertumbuhan yang stabil, mulai dari ide-ide baru, coding, proyek dan startup, sebagai penggerak dasar inovasi perangkat lunak. Teknologi dan pengusaha akan terus mendorong aset kripto menjadi lebih baik pada di tahun-tahun mendatang. Kami senang melihat apa yang mereka bangun,” jelas perusahaan.

    Andreessen Horowitz memang getol berinvestasi di sejumlah perusahaan terkait teknologi blockchain dan aset kripto. Di antaranya adalah sebagai anggota pendiri Libra Association, yang menggalang proyek blockchain dan aset kripto Libra, yang dikomandoi oleh Facebook.

    Selain itu mereka berinvestasi di bursa aset kripto Coinbase, Dapper, Maker dan lain sebagainya. Sejumlah portofolio Andreessen Horowitz lainnya banyak dibeli oleh perusahaan lain, di antara Skype (Micorosoft), Facebook, Github (Microsoft), Instagram (Facebook) dan lain-lain. [Cointelegraph/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pendiri Penasihat Keuangan: Bitcoin Memiliki Peluang Investasi Tinggi

    Ditengah keterpurukan harganya saat ini, Bitcoin (BTC) rupanya masih mendapatkan pandangan positif dari pelaku pasar di industr keuangan dan investasi.

    Penasihat keuangan Ric Edelman, pendiri Edelman Financial Engines, belum lama ini telah berbicara tentang investasi Bitcoin dan cryptocurrency dalam sebuah wawancara dengan Yahoo Finance.

    Pada saat pers, harga BTC berada di $33.000-an menurut Tradingview.

    Baca Juga: Cardano Integrasi dengan Orion, Ini Tujuannya

    Edelman menjelaskan bahwa “sebagian besar profesional keuangan,” yang telah lama berkecimpung dalam bisnis dan “sangat sukses, sangat berbakat, dan berpengalaman,” yang kehilangan peluang dari kelas aset baru karena mereka tidak memiliki pemahaman yang baik tentang cryptocurrency, seperti Bitcoin.

    “Semakin banyak bakat yang Anda miliki, semakin banyak sebutan profesional, semakin banyak gelar sarjana di bidang ini, semakin sulit untuk memahami Bitcoin.”

    Memperhatikan bahwa ia menggunakan “Bitcoin sebagai proxy untuk semua aset digital,” ia juga menekankan betapa pentingnya untuk menyadari bahwa ini adalah kelas aset yang benar-benar baru dan berbeda yang tidak memiliki kesamaan dengan hal lain yang kita kenal seperti saham, obligasi, real estate, minyak, emas, komoditas. Lebih lanjut dia berpendapat:

    “Ini benar-benar baru dan berbeda dan ini adalah kelas aset yang benar-benar baru pertama dalam sekitar 150 tahun … Ini memiliki peluang investasi yang luar biasa.”

    Mengenai bagaimana seseorang harus berinvestasi dalam Bitcoin, Edelman berkata, “Sudah waktunya untuk turun dari nol.” Dia menekankan: “Kita perlu menyadari bahwa Bitcoin dan aset digital adalah aset yang tidak berkorelasi” dengan investasi tradisional, seperti saham dan obligasi, menjadikannya “tambahan ideal untuk portofolio yang terdiversifikasi … Anda menurunkan risiko sambil memberi diri Anda kesempatan untuk meningkatkan kembali.”

    Baca Juga: Bear Atau Bull? Ini Menurut CEO CryptoQuant

    Edelman mengakui bahwa harga Bitcoin sangat fluktuatif dan tidak dapat diprediksi.

    Mike Novogratz, CEO dari Galaxy Investment Partners, mengatakan bahwa dia tidak takut jika BTC turun ke $25.000.

    Bagaimana ia memandang tentu kita tidak sedang membicarakan crypto dan Bitcoin dalam beberapa minggu kedepan, tetapi dalam beberapa bulan bahkan tahun kedepan, karena pandangan jangka panjang dari seorang ahli di bidangnya tentu saja menjadi salah satu tanda bahwa BTC memang memiliki nilai berarti di mata para profesional dan institusi. Masih pusing dengan volatilitas BTC? HODL saja kawan!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin dan Emas Melonjak, Setelah The Fed Yakin Ekonomi AS Masih Loyo

    Bitcoin bergerak mendekati US$10.000, sementara emas mencapai harga tertinggi tujuh tahun setelah Jerome Powell, Kepala Bank Sentral AS (The Fed), mengatakan ekonomi AS masih loyo akibat pandemi COVID-19.

    Powell berharap ekonomi bisa pulih pada akhir tahun depan atau setidaknya ketika vaksin yang efektif sudah ditemukan. Sementara itu sejumlah analis mengungkapkan Bitcoin bisa kian popular di kala krisis ekonomi global saat ini.

    Bitcoin dan emas naik lebih tinggi pada Senin, setelah Jerome Powell memperingatkan bahwa AS dapat mengalami lebih banyak kesulitan karena pandemi COVID-19.

    “Aktivitas ekonomi sangat bergantung pada pertemuan sosial yang lebih besar, termasuk perjalanan dan hiburan. Sektor itu adalah yang paling menderita,” kata Powell dalam wawancara di program 60 Minutes di CBS, Minggu (17 Mei 2020). Program 60 Minutes adalah program televisi popular dan berpengaruh di dunia.

    Berita Terkait: PricewaterhouseCoopers (PwC) Terima Pembayaran Pakai Bitcoin

    Dia juga menegaskan, bahwa akan sulit bagi masyarakat untuk menjadi konsumen aktif, kecuali jika para peneliti berhasil menemukan dan mengembangkan vaksin yang tepat. Menanti masa itu, maka ekonomi AS akan terus mengalami perlambatan setidaknya hingga akhir 2021.

    Tak disangka tak lama setelah wawancara itu, harga Bitcoin mendekati US$10 ribu dari US$9500 menjadi US$9937 per BTC. Pada saat yang sama, harga emas di pasar spot menguat 0,9 persen menjadi US$1.760,14 per troy ons, tertinggi sejak Oktober 2012. Bitcoin belum sempat naik ke US$10 ribu sejak Bitcoin Halving III dimulai pada 12 Mei 2020.

    Travis Kling, mantan manajer hedge fund yang sekarang mengelola perusahaan Ikigai berproduk Bitcoin mengatakan, bahwa The Fed sedang melakukan “semua pekerjaan keras” untuk pasar Bitcoin.

    “Bitcoin adalah alat mengamankan kekayaan akibat stimulus oleh bank sentral,” katanya di Twitter.

    Sementara itu pagi ini, Nemo Qin Analis Senior eToro menyoroti soal tanggapan Elon Musk yang mengomentari pertanyaan JK Rowling, mengapa Bitcoin terlihat solid dibandingkan dolar AS.

    “Musk kemudian juga mengungkapkan bahwa ia memiliki 0,25 BTC. Kami hanya bisa berharap untuk melihat lebih banyak pemimpin teknologi dan selebritas masuk ke pasar Bitcoin,” kata Qin.

    Qin juga tak memungkiri ada sentimen positif terhadap Bitcoin setelah Bank Sentral pada Minggu, 17 Mei mengatakan ekonomi AS masih lama akan pulih.

    “Pada Bitcoin Halving III ini, inflasi Bitcoin turun menjadi 1,8 persen. Maka, potensi lindung nilai Bitcoin terhadap inflasi uang fiat sangatlah besar. Dalam beberapa minggu ke depan, kita mengharapkan Bitcoin untuk menguji lagi resistensi psikologis US$10.000 dan terus bergerak ke samping,” tegas Qin. [Bitcoinist/red]





    Sumber : news.tokocrypto.com