Tag: bitcoin

  • Mengapa Harga Bitcoin Relatif Lekat dengan Pasar Saham?

    Beberapa pekan terakhir laju gerak harga Bitcoin relatif lekat dengan pasar saham. Pertanyaan pun membuncah, apakah Bitcoin adalah aset berisiko atau aset penyimpan nilai (store of value)?

    Padahal secara historis publik mengamini bahwa Bitcoin selayaknya emas sehingga ia disebut sebagai store of value asset seperti emas. Namun, yang terjadi sebaliknya, yang disebut sebagai karakter “cointegrated” karena tidak berbanding terbalik dengan pasar saham.

    Hal itu disebut oleh PlanB, nama samaran yang merancang model “Bitcoin Stock to Flow“. Katanya, Bitcoin dan pasar saham (indeks S&P 500) memiliki korelasi hingga 95 persen.

    Di atas kertas, korelasi itu terjadi ketika dua aset (Bitcoin dan saham) bergerak bersama-sama, baik secara positif (naik) atau negatif (turun). “Cointegrated” mengukur penyebaran harga jangka panjang antara dua aset, yaitu kedua aset akhirnya kembali ke penyebaran historisnya meskipun ada pelebaran berkala.

    Christopher Brookins di Forbes menyebutkan Bitcoin dan S&P 500 secara historis terkointegrasi. Ini menyiratkan bahwa Bitcoin adalah aset berisiko yang diuntungkan dari faktor makro dan moneter yang sama yang mendorong pasar modal, dalam penyebaran historisnya.

    “Namun, memperpendek dataset pengujian ke beberapa tahun terakhir, kami tidak mendapati adanya kointegrasi itu. Pada secara statistik sangat lemah. Satu penjelasan yang mungkin untuk ini adalah bahwa Bitcoin secara historis berperilaku sebagai aset berisiko, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin telah mulai beralih ke penyimpanan aset bernilai. Validasi lebih lanjut untuk hipotesis ini adalah analisis antara emas (GLD) dan S&P 500 yang tidak menunjukkan kointegrasi dan hubungan yang juga lemah,” sebut Brookins.

    Namun, Brookins beranggapan Bitcoin bisa berperilaku sebagai store of value asset, jikalau Bank Sentral AS alias The Fed mengalami kegagalan struktural dalam kebijakan moneternya (money printing), seperti yang terjadi di Jepang. [Forbes/red]

    Baca Juga: Bitcoin Disebut Lebih Popular Daripada Bank-Bank Besar 



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Disebut Lebih Popular Daripada Bank-Bank Besar

    Bitcoin disebut-sebut lebih popular daripada bank-bank besar. Ya, setidaknya itu versi media siber Tokenist, berdasarkan hasil survei mereka belum lama ini. Survei itu melibatkan 4.852 responden dari 17 negara.

    Menurut survei itu jumlah orang yang lebih percaya Bitcoin dibandingkan bank-bank besar, meningkat hingga 29 persen dalam tiga tahun terakhir.

    Sekitar 47 persen responden lebih percaya dengan Bitcoin daripada bank-bank besar yang menyediakan jasa transaksi keuangan lintas negara.

    Survei itu juga menunjukkan perbedaan pandangan generasi soal Bitcoin dan bank tradisional. 51 persen generasi milenial lebih percaya dengan Bitcoin dibandingkan bank, meningkat 24 persen dibanding 2017 silam. Sementara 93 persen generasi di atas usia 65 tahun lebih mempercayai bank besar.

    Sekitar 78 persen responden dari generasi milenial mengaku cukup akrab dengan Bitcoin, dan 14 persen di antaranya memiliki Bitcoin. Bahkan, dalam lima tahun mendatang, 44 persen responden generasi milenial berencana akan membeli lebih banyak Bitcoin lagi.

    Kendati generasi milenial lebih mudah mengadopsi Bitcoin karena lebih melek teknologi, survei itu menunjukkan tingkat pengetahuan dan kepercayaan terhadap Bitcoin meningkat di semua kelompok usia dan jenis kelamin.

    Berita Terkait:  Waspada! Bearish Bitcoin Membayang-bayangi

    Sekitar 60 persen responden merasa Bitcoin adalah inovasi positif di bidang teknologi keuangan, dibanding 27 persen tiga tahun lalu. Lebih dari 45 persen responden lebih memilih Bitcoin sebagai investasi dibanding saham, properti dan emas.

    “Tiga tahun lalu, sebagian besar bursa aset kripto yang memperdagangkan Bitcoin dan aset kripto lainnya masih baru, sehingga tingkat kepercayaannya rendah. Kini, tampak terjadi peningkatan kematangan dan kestabilan para penyedia jasa tersebut, sehingga mendongkrak minat para trader dan investor, ” jelas tim Tokenist. [decrypt.co/ed]

    Berita Terkait: Negara Tirai Bambu Percaya dengan Blockchain, Bagaimana dengan Bitcoin?



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 4 Alasan Mengapa Harga Bitcoin Tidak Bisa Menembus $ 10.000

    Saat harga Bitcoin (BTC) naik menjadi $ 10.180 di BitMEX, ia telah kembali terejeksi hingga ke leve $ 9.600. Rejeksi cepat ini adalah yang ketiga kalinya dalam 30 hari, harga Bitcoin telah terejeksi dari level Resistance $ 10.000.

    Pada saat pers, harga BTC turun Rp 8 juta dalam waktu 24 jam.

    Inilah empat faktor yang mungkin berkontribusi terhadap volatilitas ini adalah:

    1. Pertemuan Komite Pasar Terbuka Federak (FOMC) the Fed
    2. Likuidasi kontrak Short senilai $ 14 juta
    3. Ketahanan berkelanjutan dari area Resistance multi-tahun dari $ 10.000 – $ 10.500.
    4. Saham

    Baca Juga: 4 Alasan Kenapa Kamu Harus Upgrade ke Tokocrypto 2.0

    1.Pertemuan FOMC The Fed

    Sebelumnya, the Fed telah mengadakan pertemuan FOMC tak lama sebelum lonjakan cepat dari volatilitas Bitcoin.

    Ketua The Fed, Jerome Powell, menyatakan bahwa pasar kerja mungkin telah mencapai titik terendah dalam pertemuan itu.

    Disisi fundamental AS, tingkat pengangguran pada awalnya diproyeksikan akan tetap dalam dua digit dan ini menjadi perhatian utama bagi investor.

    Untuk berlindung dari risiko penurunan, investor cenderung memilih alternatif yang lebih aman seperti obligasi berisiko rendah.

    Menurut analis pasar Welt Holger Zschaepitz, Powell mengatakan:

    “Kami ingin investor mempertimbangkan risiko seperti pasar seharusnya. [Dia] mengatakan Fed tidak akan pernah menahan dukungan untuk ekonomi karena menganggap harga aset terlalu tinggi. Meletuskan gelembung aset akan melukai [para] pencari kerja.”

    Meskipun data positif keluar dari pertemuan FOMC, pasar saham Amerika Serikat dan harga Bitcoin telah turun.

    Baca Juga: Elquirex: Investasi Bitcoin Hingga 159%, Pinjaman Dengan Anggunan BTC

    2. $16 Juta dalam Kontrak Futures BTC di Likuidasi

    Dalam waktu 30 menit, posisi Short Bitcoin senilai $ 14 juta telah dilikuidasi pada BitMEX. Dibandingkan dengan bursa lain, harga BTC telah naik lebih tinggi di BitMEX sekitar $ 100.

    Ketika harga Bitcoin mencapai level $ 9.600 dalam penurunan 4% dalam waktu kurang dari 15 menit, posisi Long senilai $ 2 juta lainnya pun juga telah dilikuidasi.

    Secara total, dalam waktu kurang dari satu jam, sekitar $ 16 juta kontrak Futures telah dilikuidasi secara berurutan.

    Ketika kontrak berjangka (futures) senilai puluhan juta dolar dilikuidasi dalam pergerakan harga yang sangat fluktuatif dalam waktu singkat, ini dapat menyebabkan harga BTC bergerak cepat ke arah mana pun.

    Baca Juga: Membayar Ethereum Senilai Rp 36 Miliar Untuk Mengirim Rp 1.8 juta? Apa Yang Terjadi?

    3.Resistance Multi-Tahun

    Sejak pertengahan 2019, area antar level $ 10.000 – $ 10.500 telah bertindak sebagai zona Resistance yang kuat bagi Bitcoin.

    Setiap kali harga BTC mencoba untuk keluar dari zona ini, maka harga akan mendapatkan perlawanan jual yang cukup kuat dan menekan.

    Baru-baru ini, harga Bitcoin telah mencoba melampaui $ 10.000 sebelum jatuh kuat lagi hingga ke level $ 9.600.

    Investor Cryptocurrency Koroush AK mengatakan bahwa langkah ini mengurangi pentingnya keberadaan level $ 9.850 sebagai level Resistance lain.

    Dia berkata :

    “Langkah ini penting. $ 9.850 sekarang kurang penting sebagai Resistance. $ 10.000 kini lebih penting.”

    4.Saham

    Seperti yang kita lihat, harga BTC turun drastis karena harga saham turun.

    S&P 500 turun 6%, Dow Jones 7% dan Nasdaq 5%.

    Walaupun ada beberapa waktu Bitcoin terlihat tidak memiliki korelasi positif dengan saham, namun, tidak bisa dipungkiri lagi, bahwah saat ini, BTC masih mengikuti aksi harga saham.

    Sumber: Cointelegraph



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Diprediksi Mencapai US$12 Ribu (Rp173 Juta) pada Bulan Depan

    Harga Bitcoin diprediksi mampu mencapai US$12 ribu (Rp173 juta) pada bulan depan, jika Bitcoin mampu bertahan di US$10.500 ataupun setelah terkonsolidasi sedikit di bawah level US$10 ribu.

    “Jika Bitcoin masuk ke wilayah itu, maka harga akan melejit setidaknya menjadi US$11 ribu dalam waktu 3 minggu dan mungkin US$12 ribu dalam waktu sebulan,” kata Benjamin Blunts, trader Bitcoin seperti yang dilansir dari Cointelegraph beberapa jam lalu.

    Berita Terkait: Harga Bitcoin Tak Akan Jatuh Lagi ke US$6 Ribu, Tapi Naik Menjadi US$100 Ribu

    Trader lainnya, Theta Seek, pun senada karena menurutnya Raja Aset Kripto kemungkinan kecil bertahan di bawah US$9 ribu untuk waktu yang lama.

    “Ada beragam sikap bearish di luar sana. Tetapi dalam 1-2 minggu terakhir ada banyak akumulasi di bawah harga US$9 ribu,” katanya.

    Namun Theta melihat ada penurunan harga hingga 20 persen, jikalau Bitcoin tak mampu bertahan di atas US$10.000-10.500. Itu pun bisa terjadi andaikata terjadi peningkatan likuiditas di pasar derivatif (options, futures).

    Yang pasti saat ini, Bitcoin sedang berada di wilayah yang sangat penting. Pergerakan harga selama 7 hari mendatang akan menentukan tren harga sepanjang kuartal ketiga tahun 2020 ini. [Cointelegraph/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kabar Bitcoin dan Industri Crypto di Paruh Tahun 2021

    Bitcoin dan pasar crypto memasuki tengah tahun dengan harga yang masih stagnan dan turun jauh dari all time highnya yg sempat mendekati $65.000. Walau begitu dalam enam bulan pertama tahun hal yang dicapai Bitcoin dan industri crypto lainnya.

    Berikut hal-hal menarik yang terjadi di industri crypto di paruh tahun yang terdiri dari Januari hingga Juni 2021. Selengkapnya..

    Bitcoin Koreksi dan Naik Kembali Hingga $40.000

    Sebelumnya di Januari Bitcoin sempat alami koreksi hingga angka $27.700 dengan harga sebelumnya ada di $34.000 salah satu dugaan kuat penyebab turunnya harga aset ini karena investor ritel yang menjual kepemilikan mereka.

    Walau koreksi, pada akhirnya di bulan ini Bitcoin pun berhasil naik kembali menyentuh $40.000, penyebabnya diduga karena Grayscale membuka kembali jasanya kepada investor baru di tanggal 13 Januari 2021.

    Baca Juga: Yuk, Kenalan dengan Karya Seni NFT yang Populer!

    Tesla Beli Bitcoin

    Kabar yang cukup mengejutkan di bulan Febaruari adalah Tesla membeli Bitcoin yang bernilai 1,5 Miliar yang membuat harganya naik hingga sekitar $47.500 atau setara dengan Rp665.095.000.

    Keputusan Tesla membeli raja aset crypto ini membuat sentimen di sekitar industri positif, hal ini turut berimbas dengan pergerakan harga termasuk pada altcoin. Selain itu ini menunjukan jika institusi mulai memiliki kepercayaan lebih terhadap Bitcoin.

    NFT Jadi Perhatian

    Bulan Maret adalah waktunya NFT, di bulan ini Non Funtagible Token atau token yang tidak dapat ditukarkan kian populer. Contohnya adalah lukisan Bepple yang memperoleh harga fantastis hingga $6,6 juta dollar.

    Beberapa penyebab yang membuat NFT terkenal adalah keaslian karena hampir tidak mungkin dipalsukan, eksklusifitas yang menjadi nilai lebih bagi para kolektor dan selebritas yang mempublikasikan karya mereka dalam bentuk NFT.

    Baca Juga: 3 Alasan Ini Sebabkan NFT Semakin Populer

    Bitcoin Jatuh Karena Rumor

    Di bulan April salah satu yang menjadi perhatian adalah jatuhnya harga Bitcoin dari $59.000 menuju ke $51.000. Jatuhnya Bitcoin disebabkan oleh berbagai rumor yang beredar salah satunya adalah Menteri Keuangan Amerika Serikat, akan segera menuntut beberapa institusi keuangan besar akibat menggunakan crypto sebagai alat pencucian uang.

    Kemudian ada pula kabar yang menyatakan jika hash rate yang berhubungan dengan mining Bitcoin turun hingga 40% karena ada pemadaman listrik masal di Xinjiang, China. Turunnya harga Bitcoin ini pun diikuti oleh altcoins lain seperti Ethereum dan Binance Coin.

    Meski Turun, Bitcoin Telah Naik 400%

    Ketika sentimen pasar menyatakan Bitcoin sedang mengalami penurunan, namun analis dari ARK Investment menyatakan bahwa kenyataannya Bitcoin masih terlihat naik. Hal tersebut dinyatakan dengan data bahwa dalam satu tahun Bitcoin telah naik lebih dari 400% jika melihat dalam jangka waktu tahunan.

    Ia melihat bahwa apresiasi ini cukup signifikan melihat sebelumnya Bitcoin berada di $9.500 atau Rp136,49 Juta hanya satu tahun yang lalu. Ia menekankan, walau jatuh 40%, Bitcoin sudah naik 400% sejak tahun lalu.

    El Salvador Terima Bitcoin untuk Alat Tukar Sah

    Bulan Juni El Salvador mengumumkan akan menjadikan Bitcoin sebagai alat tukar yang sah, keputusan negara tersebut pun sempat membuat IMF meradang. Namun El Salvador tidak gentar dan terus menjadikan rencana ini jadi kenyataan, negara yang berada di benua Amerika ini diketahui akan membagikan airdrop Bitcoin gratis pada warganya yang memenuhi syarat.

    Keputusan El Salvador ini adalah keputusan yang sangat berani dan bisa menjadi batu loncatan bagi crypto utamanya Bitcoin untuk diadopsi lebih luas di sebuah negara.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Tak Akan Jatuh Lagi ke US$6 Ribu, Tapi Naik Menjadi US$100 Ribu

    Tuur Demeester, pengusaha dan pelaku pasar Bitcoin mengatakan, bahwa harga Bitcoin tak akan jatuh lagi ke US$6 ribu. Mengapa?

    Hal itu dia sampaikan mengingat ada potensi inflasi ketika krisis ekonomi melanda dunia saat ini. Dia bahkan memprediksi harga Bitcoin bisa mencapai US$50-100 ribu per BTC.

    Berita Terkait: Tokocrypto 2.0 Berbasis Binance Cloud Siap Meluncur

    Hal lainnya adalah karena ada peningkatan minat investor institusi (bermodal besar) yang masuk ke Bitcoin di pasar derivatif di CME yang mencapai US$150 juta.

    Itu adalah level tertinggi sepanjang masa, sejak pasar itu dibuka pada Desember 2017 silam.

    Bitcoin

    “12 bulan lalu Bitcoin menembus besaran fase akumulasinya. Dan kini akumulasi lanjutan terjadi lagi. Jika Bitcoin mampu menembus fase itu lagi, maka gerak parabolik akan terjadi,” kata Tuur Demeester, investor di bursa aset kripto Kraken melalui perusahaannya, Adamant Capital. [Bitcoinist/red]





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Soros dan Morgan Stanley Semakin Kepincut Bitcoin

    Perusahaan yang didirikan oleh George Soros dan perusahaan Morgan Stanley semakin kepincut Bitcoin. Mereka menambah investasi ke perusahaan NYDIG.

    NYDIG, badan usaha yang membantu pembelian Bitcoin senilai US$100 juta oleh perusahaan asuransi MassMutual, telah mendapat pendanaan US$200 juta dari sejumlah investor besar.

    Baca Juga: Meitu Beli Bitcoin dan ETH, Total Rp573 Milyar!

    NYDIG mengumumkan pada Senin (8/03/2021), mendapatka tambahan dana dari Stone Ridge Holdings Group, Morgan Stanley, New York Life, MassMutual, Soros Fund Management dan FS Investments. Investor lama Bessemer Venture Partners dan FinTech Collective juga turut serta.

    “Pihak-pihak yang gabung dalam putaran investasi ini lebih dari sekadar investor, mereka adalah mitra yang kami kenal baik selama bertahun-tahun. NYDIG akan bekerjasama dengan usaha-usaha ini di bidang inisiatif strategis terkait Bitcoin yang mencakup, manajemen investasi, asuransi, perbankan, energi terbarukan dan filantropi,” ujar Robert Gutmann, pendiri dan CEO NYDIG.

    NYDIG mulai tenar di sektor kripto pada Desember 2020 ketika perusahaan tersebut membantu perusahaan asuransi berusia 169 tahun untuk membeli Bitcoin. MassMutual kemudian menanam modal US$5 juta di NYDIG saat itu.

    NYDIG telah menjadi pemain kunci mendorong adopsi Bitcoin oleh kalangan Wall Street, yang beberapa tahun kerap mengkritik keras faedah Bitoin.

    Bulan lalu, Gutmann mengatakan, NYDIG akan mencapai total aset dikelola sebesar US$25 milyar atas nama klien pada akhir 2021.

    Baca Juga: Bloomberg: Harga Bitcoin Bisa US$100 Ribu Tahun Ini

    Dalam pengumuman pada Senin itu, Gutmann menambahkan di bulan-bulan dan kuartal-kuartal ke depan, akan terjadi ledakan inovasi produk-produk dan layanan terkait Bitcoin oleh NYDIG, bermitra dengan para investor baru.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pomp: Tesla Mungkin Akan Beli Bitcoin

    Menyusul tanda pagar (tagar) Bitcoin di profil Twitter Elon Musk, pengamat Bitcoin, Anthony “Pomp” Pompliano mengatakan perusahaan Tesla mungkin akan membeli Bitcoin.

    Hal itu dikumandangkan oleh Pompliano, Pendiri Morgan Creek Digital, menyusul penyematan tagar Bitcoin di profil Twitter Elon Musk, bos besar Tesla.

    “Tesla dan SpaceX yang menambahkan Bitcoin ke neraca keuangan mereka, tidak bisa dihindari,” kata Pompliano berspekulasi, sembari menyitir cuitan Musk, setelah tagar Bitcoin itu ditambahkan.

    Baca Juga: Bank of Singapore: Bitcoin Bisa Gantikan Emas, Fiat Tetap Bertahan

    Pompliano seakan-akan menyiratkan bahwa Musk mungkin “sudah sadar” bahwa Bitcoin semakin penting dipandang sebagai instrumen investasi demi melawan inflasi, sebagaimana yang sudah dilakukan oleh MicroStrategy dan sejumlah perusahaan besar lainnya sejak tahun 2020 lalu.

    Petang hari ini, 29 Januari 2021 Elon Musk menambahkan menjadi tagar #Bitcoin di bagian profilnya. Hal itu itu langsung bikin heboh dunia persilatan Bitcoin.

    Tagar cantik itu pun disusul dengan cuitan Elon yang bikin orang penasaran: “In retrospect, it was inevitable,” tulisnya.

    Polah kata Elon Musk pun langsung dikaiteratkan dengan kenaikan harga Bitcoin di jam yang sama ketika cuitan itu diterbitkan oleh Musk.

    Entah terkait itu atau tidak, harga Bitcoin pun langsung terkerek ke US$38 ribu pada pukul 16:30 WIB hari ini dari US$32 ribuan pada pukul 15:30 WIB.

    Pompliano mungkin menafsirkan itu dan berspekulasi bahwa Elon Musk mungkin sedang mempertimbangkan Bitcoin dan potensi aset kripto itu sulit dihindari di masa depan.

    Elon Musk memang dikenal baik di kalangan penggemar aset kripto, khususnya Bitcoin. Kalimat kecilnya di Twitter bisa bikin jagat maya gegap gempita.

    Sebelumnya di me-mention soal aset kripto DOGECOIN dan dikaitkan dengan kenaikan harganya hingga 350 persen.

    Bahkan kenaikan harga saham GameStop New York Stock Exchange (NYSE) juga dikaiteratkan dengan kalimat Elon di Twitter, yakni: “Gamestonk“. “Stonk“adalah bahasa gaul untuk “stock” alias “saham”.

    tesla dan bitcoin
    Nuansa positif Bitcoin masih terasa pada timeframe 4 jam-an. Sumber: Tradingview.com.

    Ketika artikel ini disusun, harga Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$37.348 per BTC (Rp522 juta). Pada timeframe 4 jam, sentimen positif masih terasa dan berpotensi melejitkan harga Bitcoin lagi.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Penambang Bitcoin Alami Kesulitan Penyesuaian Pasca Halving Pertama

    Jelajahcoin.com – Kesulitan penyesuaian penambang Bitcoin (BTC) pasca-Halving pertama adalah besok. Dan kemungkinan membawa bantuan yang sangat dibutuhkan untuk penambang BTC yang mengalami pemotongan gaji ketiga mereka seminggu yang lalu.

    Hanya enam hari yang lalu, mengikuti halving bersejarah ketiga dari hadiah penambangan Bitcoin (BTC). Menurunkan subsidi blok dari 12,5 BTC ke 6,25 BTC per blok. Diperkirakan bahwa kesulitan penambang Bitcoin adalah ukuran yang menunjukkan betapa sulitnya bersaing untuk mendapatkan hadiah penambangan. Hal ini akan meningkat 4,5% dan di atas bulan Maret tertinggi sepanjang masa menjadi 16,83 T. Jumlah ini sudah turun pada saat itu.

    Pada titik ini, sedikit lebih dari sehari sebelum kesulitan penyesuaian berikutnya, hasil itu tampaknya sangat tidak mungkin. Karena, pada Senin pagi (waktu UTC), kumpulan penambangan utama Bitcoin, BTC.com memperkirakan penurunan 3,14% menjadi 15,60 T. Yang terakhir saat nilainya berada di sekitar level ini pada pertengahan Februari tahun ini. Meskipun pada saat itu, kesulitannya adalah pada lintasan naik.

    Baca Juga: Inilah Sebabnya Kenapa Penjahat Lebih Suka Bitcoin Anonim Daripada Koin Privasi

    Sementara itu, tampaknya setelah penurunan awal, hashrate, atau kekuatan komputasi dari jaringan Bitcoin, keluar dari posisi terbawahnya. Yang mungkin mengakibatkan penurunan yang lebih rendah dari perkiraan saat ini dalam kesulitan penambangan. Namun, seperti yang dilaporkan sebelumnya, mungkin perlu berminggu-minggu sampai memiliki gambaran yang jelas tentang jaringan Bitcoin setelah halving ketiga.

    Bitcoin hashrate dalam sebulan terakhir

    hashrate bitcoin

    Menurut Daniel Frumkin, Analis di Braiins, perusahaan di belakang Slush Pool dan protokol Stratum V2 untuk penambangan gabungan; Total jaringan hashrate tidak turun pasca-separuh sebanyak yang diperkirakan banyak orang. Kemungkinan karena penurunan harga BTC yang signifikan di March sudah memeras banyak penambang yang tidak efisien.

    Baca Juga: Perkembangan Teknologi Penambangan Bitcoin

    Sementara itu, Johnson Xu, Kepala Analis di token data dan lembaga pemeringkat TokenInsight, memperkirakan bahwa para peserta jaringan perlu mengambil sedikit lebih banyak waktu untuk menyesuaikan kembali posisi mereka. Sehingga beberapa volatilitas dalam hashrate, terutama yang masuk ke penyesuaian kesulitan berikutnya, adalah untuk diharapkan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Yuk, Ketahui Cara Memulai Investasi Bitcoin di 2021!

    Saham, obligasi, dan deposito adalah beberapa instrumen investasi yang sering digunakan oleh masyarakat Indonesia. Seiring berkembangnya teknologi di bidang finansial, terdapat salah satu instrumen investasi berbasis digital yang telah dilegalkan oleh BAPPEBTI. Apa lagi kalau bukan aset kripto! Yuk, kita bahas bagaimana perkembangan aset kripto khususnya bitcoin dan cara mulai investasi bitcoin di 2021!

    Kondisi Bitcoin di Awal Tahun 2021

    Dibalik pandemi yang belum usai dan kondisi ekonomi makro yang melemah, harga bitcoin justru merangkak naik saat memasuki tahun 2021. Pada 1 Januari 2021, bitcoin berada di level harga $29,248 atau setara dengan 426 juta rupiah.

    Satu bulan berselang atau saat perusahaan mobil asal Amerika Serikat, Tesla membeli bitcoin senilai 1,5 miliar dollar AS, bitcoin berada di harga $46,633 pada 9 Februari 2021 atau setara dengan 679 juta rupiah. Padahal sehari sebelumnya, bitcoin masih berada di harga $38,585 atau 562 juta rupiah.

    Seakan tidak puas memberi kejutan bagi para pecinta bitcoin, pada 14 Maret 2021 bitcoin naik sebesar 32% yaitu berada di level $61,215 atau setara dengan 892 juta rupiah! Tentu hal tersebut merupakan angin segar bagi para investor dan trader.

    Alasan Kripto Semakin Diminati

    Selain harganya yang meroket pada awal tahun 2021, beberapa alasan mengapa aset kripto semakin diminati masyarakat adalah:

    • Fiat Money Rentan Inflasi

    Seperti yang kita ketahui, fiat money atau mata uang yang digunakan sehari-hari untuk bertransaksi bersifat rentan terhadap inflasi. Akhirnya, banyak masyarakat yang beralih kepada aset kripto karena tidak terpengaruh oleh inflasi seperti fiat money.

    Jika sistem keuangan konvensional rawan pencurian atau pembobolan, pada aset kripto terdapat teknologi yang bisa meminimalisir kejahatan, teknologi tersebut adalah blockchain.

    Dengan keamanan yang tinggi, apabila ada seseorang yang ingin membobol bitcoin, maka Ia harus membobol kurang lebih 1 juta komputer pengguna yang berperan sebagai penambang atau miners

    Selain itu, kegiatan transaksi akan tercatat secara otomatis dan bisa dilihat semua pengguna. Namun jangan khawatir,  identitas Anda akan tetap terjaga rahasianya dengan susunan alfabetis dan numerik yang unik bagi setiap penggunanya.

    Sejak awal diciptakan, bitcoin memiliki jumlah maksimum, yaitu 21 juta koin. Dilansir dari Coinmarketcap, pada 9 April 2020 terdapat 18,677,481 koin BTC yang telah beredar. 

    Sesuai dengan prinsip ekonomi, jumlah koin yang menipis tentu menjadikan koin BTC menjadi langka dan mengakibatkan harganya kian melambung dari waktu ke waktu.

    Ini adalah satu dari sekian faktor mengapa bitcoin semakin dicari dan tentunya harganya pun semakin meningkat. 

    • Tidak Membutuhkan Storage Fisik

    Instrumen investasi yang diminati masyarakat salah satunya adalah emas. Untuk penyimpanan emas sendiri, seseorang membutuhkan tempat penyimpanan atau storage. 

    Lain halnya dengan aset kripto yang berbasis digital, dimana tidak membutuhkan storage fisik dan semua data akan tersimpan pada jaringan internet, sehingga lebih efisien.

    Cara Investasi Bitcoin

    Memilih exchange terpercaya dan telah mendapat izin dari BAPPEBTI dapat meminimalisir risiko kejahatan serta kerugian yang tidak dapat diprediksi. Salah satu exchange yang terdaftar di BAPPEBTI tentu saja Tokocrypto!

    Setelah memilih exchange yang aman, Anda bisa langsung membuat akun dan menyelesaikan proses KYC (Know Your Customer) yang meliputi pengisian identitas serta bukti foto diri.

    Sesudah akun terverifikasi, Anda dapat melakukan deposit dengan memasukan sejumlah dana yang Anda inginkan. Proses deposit ini wajib dilakukan apabila Anda ingin melakukan trading atau investasi bitcoin.

    Sebelum memutuskan untuk berinvestasi bitcoin, Anda harus memperhatikan pergerakan pasar. Pada umumnya para investor dan trader menggunakan analisis fundamental dan analisis teknikal agar mendapat harga terbaik.

    • Beli Bitcoin untuk Investasi

    Usai memerhatikan pergerakan pasar dan mendapat harga terbaik, Anda bisa langsung membeli bitcoin menggunakan dana yang telah didepositkan di awal.

    Toko Token (TKO)

    Selain berinvestasi dengan bitcoin, ada salah satu koin yang dinantikan para investor dan trader, yaitu TKO. Diluncurkan awal April 2021 kemarin, TKO merupakan proyek aset kripto lokal pertama di Indonesia yang menghadirkan model token hybrid unik dengan utilitas Centralized Finance (CeFi) dan Decentralized Finance (DeFi).

    TKO juga memiliki fundamental yang bagus. Selain didukung langsung oleh Binance, fitur TKO sebagai salah satu coin DeFi juga akan terus bertambah dan pastinya akan menguntungkan trader yang memiliki TKO ini, salah satunya yaitu: jika Anda menyimpan TKO di Tokocrypto maka anda dapat mendapatkan bunga dari TKO, dan masih banyak lagi fitur yang akan dirilis ke depannya.

    Gimana? Tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang TKO? Simak informasi terbaru kami di instagram TKO dan dapatkanTKO di sini!! Salam to the Moon!





    Sumber : news.tokocrypto.com