Tag: bitcoin

  • Bitcoin Dominance Bergerak Turun, Altcoins Season Diprediksi Terjadi

    Bitcoin Dominance seringkali dijadikan alat untuk memprediksi pergerakan mayoritas Altcoins, akibat berdasarkan data umumnya ada korelasi antar keduanya.

    Korelasi tersebut adalah saat Bitcoin Dominance turun, maka Altcoins relatif bergerak naik, namun kondisi ini umumnya terjadi saat harga Bitcoin mulai naik.

    Saat ini Bitcoin Dominance diprediksi akan turun lagi dan membuat mayoritas pasar memprediksi adanya pergerakan naik pada Altcoins.

    Namun masih banyak investor yang sulit untuk memahami apa sebenarnya Bitcoin Dominance itu dan bagaimana dampaknya ke pasar.

    Baca Juga: Siap-siap! Amazon Akan Segera Masuk ke Pasar Kripto

    Dampak Bitcoin Dominance untuk Altcoins

    Bitcoin Dominance akhir-akhir ini terlihat bergerak terus menurun dan sedang berada di daerah sekitar 48%.

    Angka tersebut berarti 48 % dana yang beredar di pasar crypto tersimpan pada Bitcoin, dan sisanya tersimpan pada Altcoins.

    Dalam kondisi tersebut, terdapat asumsi bahwa saat ini permintaan pasar terhadap Altcoins sedang lebih besar dibandingkan terhadap Bitcoin.

    Oleh karena itu sangat masuk akan jika mayoritas investor memprediksi pergerakan Atcoins berdasarkan Bitcoin Dominance akibat pernyataan tersebut.

    Umumnya kondisi positif untuk Altcoins terjadi saat Bitcoin Dominance mengalami penurunan setelah harga Bitcoin naik.

    Bisa dilihat bahwa saat hal yang sama terjadi, yang juga mencerminkan kondisi pada awal 2021 saat mayoritas crypto mengalami apresiasi.

    Saat kondisi ini terjadi, umumnya apresiasi harga akan dipimpin oleh Ethereum yang akan mendorong mayoritas Altcoins lain naik.

    Hal ini disebabkan Ethereum yang telah lama menjadi pemimpin untuk Altcoins akibat kapitalisasi pasarnya yang tinggi.

    Selain itu potensi apresiasi ini juga diperkuat dengan adanya London Hard Fork, pembaruan jaringan dari Blockchain Ethereum.

    Dengan adanya pembaruan ini, blockchain Ethereum dikabarkan akan lebih efisien dan lebih rendah dalam biaya.

    Salah satu hal penting lainnya adalah mekanisme burn dimana nantinya jumlah Ethereum yang beredar akan berkurang sekitar 1,4% per tahun.

    Mekanisme ini dilakukan dengan menghilangkan 70% dari biaya transaksi yang ada pada Ethereum setelah digunakan.

    Oleh karena itu ada kemungkinan Ethereum akan semakin langka yang dapat membuat harganya naik lebih tinggi jika permintaannya naik.

    Jika Ethereum naik, ada kemungkinan mayoritas Altcoins lainnya dapat naik lebih tinggi akibat adanya sentimen positif berdasarkan pergerakan sebelumnya.

    Baca Juga: CZ Lakukan Pertemuan dengan Regulator, Kabar Baik untuk Binance

    Dampak untuk Bitcoin

    Perlu diketahui bahwa Altcoins yang naik dalam dominasi pasar bukan berarti akan menurunkan harga dari Bitcoin.

    Hal ini disebabkan saat mayoritas harga Altcoins naik bersama permintaannya, tidak selalu berarti akan ada tekanan jual untuk Bitcoin.

    Bitcoin bisa jadi akan terus bergerak dalam konsolidasi jika Altcoins naik akibat umumnya kondisi tersebut yang terjadi saat pasar mulai positif.

    Dominasi Bitcoin yang turun juga merupakan hal yang wajar akibat bersama dengan perkembangan teknologi, sangat mungkin untuk muncul proyek baru.

    Proyek crypto baru ini dapat menciptakan ketertarikan tinggi yang membuat dominasi berpindah sedikit dari Bitcoin.

    Saat ketertarikan proyek tersebut naik maka ketertarikan Altcoins naik karena crypto selain Bitcoin disebut dengan Altcoins.

    Sehingga apresiasi dari Altcoins tidak akan menurunkan nilai Bitcoin, namun akan banyak investor yang menyebut Altcoin Season.

    Altcoin Season ini adalah istilah untuk masa dimana Altcoins naik lebih tinggi daripada Bitcoin yang mencerminkan ketertarikan lebih tinggi pada Altcoins.

    grafik btc.d
    Grafik Bitcoin Dominance (BTC.D)

    Untuk saat ini dapat dilihat bahwa Bitcoin Dominance sedang berada pada batas atasnya dan kemungkinan akan terus turun di daerah tersebut.

    Tujuan selanjutnya jika turun berada pada 46% yang dapat membuat adanya apresiasi dalam Altcoins jika harga Bitcoin tetap stagnan.

    Namun untuk saat ini pasar masih menunggu kedaluwarsa kontrak options Bitcoin yang kemungkinan dapat mempengaruhi sentimen pasar di Agustus.

    Hal ini disebabkan posisi terbukanya kontrak options dapat menjadi salah satu pandangan bagaimana Agustus akan terjadi.

    Sebab hubungan antara derivatif dan spot adalah hubungan yang dapat dijadikan sebagai alat bantu dalam menentukan arah pasar.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • DeFi Berperan Jaga Harga Bitcoin?

    Bitcoin meresahkan banyak investor, sebab pergerakan harganya tidak berubah banyak setelah Halving III pada Mei 2020 lalu. Telah banyak narasi yang dituduh jadi penyebabnya, tetapi belum ada analis yang menyoroti harga Bitcoin bisa longsor lebih dalam jika tidak ada peran lonjakan US$3 miliar di sektor DeFi.

    DeFi (Decentralized Finance) memiliki beragam bentuk, termasuk peminjaman, derivatif, bursa dan pembayaran. Sektor yang baru dan seru ini menyebabkan token protokol DeFi mengalami lonjakan dan penurunan harga yang luar biasa.

    Siklus gelembung terbaru dalam DeFi adalah di bidang liquidity mining (penambangan likuiditas). Hal ini adalah program insentif oleh protokol DeFi untuk menarik pengguna baru. Program ini umumnya menyebarkan governance token (token pengaturan) kepada penyedia likuiditas yang disebut dengan yield farmer (“peternak” imbal hasil).

    Kendati tidak baru, program insentif DeFi merupakan metode pertumbuhan yang menghasilkan lonjakan partisipasi dalam jaringan, total modal yang disetor, serta kapitalisasi pasar governance token.

    Contoh yang paling terkenal adalah Compound, protokol peminjaman desentralistik di mana pengguna bisa meminjam dan meminjamkan aset jaminan (collateral). Modal yang disetor dalam Compound serta kapitalisasi pasarnya meroket setelah penambangan likuiditas dan distribusi token pengaturan COMP dimulai, dengan nilai masing-masing US$668 juga dan US$497 juta.

    Penambangan likuiditas tampak memiliki korelasi dengan pergerakan harga Bitcoin. Agar “peternak imbal hasil” menerima imbalan governance token, mereka harus berpartisipasi dalam jaringan sebagai peminjam atau pemberi pinjaman.

    Hal ini membutuhkan penyetoran, di mana peminjam bisa menarik dana jika mereka memberikan agunan yang cukup. Pemberi pinjaman bisa meraup bunga pinjaman di atas harga pasar ditambah cuan dari peningkatan harga token COMP.

    Modal paling besar yang disetor di DeFi berbentuk token Ether (ETH) senilai US$715 juta, disusul Bitcoin senilai US$141 juta.

    Salah satu token paling panas di Ethereum saat ini adalah WBTC atau wrapped BTC, sebuah token ERC-20 yang dipatok 1:1 terhadap Bitcoin.

    WBTC diburu peternak imbal hasil agar mereka bisa turut serta dalam jaringan Compound dan meraih token COMP.

    Jika Bitcoin dan WBTC digabung, maka ada Bitcoin senilai US$241 juta yang disetor dalam DeFi, mengurangi suplai di pasar terbuka dan menopang harga Bitcoin.

    Selain itu, partisipasi dan pertumbuhan harga di sektor DeFi selama tiga bulan terakhir membantu kembalinya alt season, yaitu musim di mana harga altcoins melonjak.

    Sebagian besar altcoins diperdagangkan dengan Bitcoin. Investor baru yang memasuki sektor kripto harus membeli BTC sebelum membeli altcoinsehingga menjadi faktor tambahan yang mendukung Bitcoin.

    Kendati demikian, DeFi juga membawa risiko. Sebagai contoh, pasar aset kripto sangat fluktuatif, sehingga sentimen yang mendorong harga melambung tinggi akan berbalik arah.

    Katalis yang menyebabkan perubahan arah termasuk eksploitasi kode dalam protokol desentralistik yang sering terjadi selama ini, atau berakhirnya musim altcoin.

    Tidak pasti bagaimana gelembung DeFi akan meletus, tetapi kemungkinan besar Bitcoin akan turut diseret jika hal itu terjadi. [forbes.com/ed]

    Baca Juga: Cartesi Token Resmi Diperdagangkan di Tokocrypto



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ekonomi Memburuk, Argentina Pecahkan Rekor Perdagangan Bitcoin

    Pekan lalu, perdagangan Bitcoin di Argentina meledak hingga mencapai rekor volume 101 juta peso Argentina (atau sekitar $ 1,4 juta). Nilai All-Time-High sebelumnya pada volume BTC mingguan, diukur dalam mata uang lokal, mencapai hampir setengahnya pada kisaran 69 juta. Lonjakan perdagangan BTC ini meningkat di tengah adanya potensi resesi ekonomi terburuk dalam sejarah Argentina.

    Berita mengenai lonjakan perdagangan Bitcoin ini dilaporkan oleh pertukaran Bitcoin peer-to-peer LocalBitcoins melalui Twitter, yang menggambarkan kejadian tersebut sebagai “catatan absolut” baru bagi negara tersebut. Namun, itu tidak sepenuhnya benar.

    Dalam istilah fiat, orang Argentina beralih dari memperdagangkan Bitcoin senilai 59 juta peso pada sekitar minggu di tanggal 27 Juni lalu dan pada minggu berikutnya negara itu memecahkan rekor hingga 100 juta peso. Jika dihitung menggunakan dolar AS, volume meroket dari yang tadinya hanya $ 500.000 dalam volume BTC mingguan menjadi $ 808.000, menurut situs analitik Useful Tulips. (Tingkat konversi dari Morningstar membuat peso dihargai sedikit lebih tinggi, yang menempatkan volume BTC di Argentina naik dari $ 800.000 menjadi $ 1,4 juta.)

    Baca juga: Laporan Opsi Bitcoin Tunjukkan Banyak Institusi Tertarik pada Kripto

    Namun, dalam hal jumlah aktual Bitcoin yang diperdagangkan, 92 BTC bergerak minggu lalu, meskipun peningkatan signifikan minggu ke minggu, artinya jika dibandingkan dengan catatan absolut ada 228 BTC yang bergerak pada April 2016. Pada sisi lain, sejak saat itu, Argentina belum pernah mencapai angka tersebut hingga hitungan minggu lalu. Tetap saja jika dilihat dari segi mana pun, volume perdagangan Bitcoin di negara ini telah berlipat ganda sejak akhir Juni lalu.

    Namun, tonggak sejarah itu tidak terlalu mengejutkan, mengingat keadaan ekonomi Argentina saat ini sedang mengalami kesulitan. Pedagang di negara ini mungkin mencari aset safe haven (atau, setidaknya, aset yang relatif lebih aman) ketika krisis keuangan semakin dalam.

    Masalah ekonomi di Argentina walau dengan kebijakan baru tampaknya belum juga menghasilkan hasil luar biasa seperti yang diharapkan oleh banyak orang. Sementara itu, hal ini juga membuktikan Bitcoin memperoleh dukungan di Argentina dan dipandang sebagai mata uang alternatif dan penyimpan nilai.

    Informasi ini diolah dan disunting kembali dari Decrypt.co

    Baca Juga: Analisis Blockchain: Bitcoin Dapat Hentikan Krisis Keuangan Masa Depan





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analis Blockchain: Bitcoin Dapat Hentikan Krisis Keuangan Masa Depan

    Tampaknya Bitcoin kebal terhadap pencetakan uang berlebihan baru-baru ini yang dilakukan oleh Federal Reserve (Fed) di Amerika. Pernyataan ini dilontarkan oleh analis blockchain dari Weiss Crypto Ratings yang mengecam keputusan terbaru yang dilakukan oleh Fed dalam membeli junk bonds (obligasi sampah) korporasi dengan leverage 7 banding 1.

    Tindakan pencetakan uang ini diumumkan pada bulan lalu. Dengan dana talangan yang akan ditambahkan ke pasar kredit korporasi berjumlah hingga 750 miliar USD. Uang itu akan memberikan tambahan likuiditas dan kredit pada perusahaan-perusahaan besar.

    Sedangkan, analis dalam naungan Weiss ini, Bruce Ng dan Juan Villaverde, berpendapat dalam sebuah posting pada 1 Juli lalu bahwa langkah tersebut tidak akan memperbaiki gagalnya ekonomi di Amerika yang disebabkan karena pandemi virus corona.

    Baca Juga: Bitcoin, Alternatif di Tengah Krisis Ekonomi

    “Membeli hutang perusahaan besar yang terhubung secara politis (yang akan bangkrut jika bukan karena dana talangan yang tak ada habisnya tersebut) juga tidak akan menciptakan lapangan kerja baru,” kata para analis di Weiss. Mereka juga menambahkan “Juga tidak akan menghasilkan miliaran laba yang hilang akibat adanya pembatasan sosial dari krisis pandemi ini.”

    Para analis berpendapat, adanya dana talangan seperti itu justru akan menjadi hal pendorong, untuk orang-orang mulai melihat Bitcoin dan mata uang digital lainnya.

    Baca Juga: Regulasi Crypto Dapat Mencegah Krisis Keuangan

    Mereka melanjutkan: “Inilah mengapa Bitcoin (dan aset crypto lainnya) akan menjadi masa depan uang. Bank-bank sentral sekarang menghancurkan mata uang kertas utama dunia — dan tidak ada kekuatan di bumi ini yang dapat menghentikan mereka. ”

    Bagaimana Bitcoin Dapat Menghentikan Krisis Keuangan di Masa Depan?

    Jawabannya, menurut Weiss, adalah bahwa komunitas Bitcoin bertanggung jawab atas kebijakan moneternya, bukan hanya para penambangnya, seperti yang diasumsikan oleh banyak orang.

    Baca juga: Analis: Harga Bitcoin Terkini Mungkin Dipengaruhi Penambang

    “Penambang Bitcoin tidak menetapkan kebijakan moneter. Hal itu dilakukan berdasarkan konsensus SELURUH anggota komunitas yang menggunakan Bitcoin,” tulis para analis.

    “Inilah sebabnya mengapa sangat sulit mengubah bahkan detail terkecil terkait dengan bagaimana Bitcoin beroperasi,” tulis Weiss. Ia juga menambahkan “Mayoritas pengguna harus setuju. Atau tidak akan ada yang terjadi.”

    Sebagai buktinya, orang tidak perlu menghadapi lebih jauh drama baru seputar “pajak penambang” Bitcoin Cash (BCH), atau rencana pendanaan infrastruktur (IFP), yang akan mendanai pengembangan jaringan dengan mengenakan pajak kepada para penambang.

    Baca Juga: ZUBR Research: Permintaan Ritel untuk BTC akan Melebihi Pasokan

    Meskipun banyak perusahaan tambang crypto terbesar setuju mengenai proposal tersebut, tetapi yang lain tidak menyetujuinya. Hal ini menyebabkan banyak keributan yang terjadi di media sosial dan menyebabkan penarikan kebijakan moneter BCH.

    Weiss Crypto Ratings mengatakan, cryptocurrency sekarang adalah satu-satunya bentuk uang yang dapat mencapai prestasi seperti itu dan menumbangkan sistem keuangan saat ini.

    “Dan jika mereka melakukannya (bailout) sekali saja, mereka pasti bisa kembali pulih. Hal ini membuat cryptocurrency sebagai satu-satunya alternatif andal pada krisisnya sistem moneter secara moral yang kita miliki saat ini,” pungkas postingan tersebut.

    Informasi ini dapat dibaca kembali di sini



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • ZUBR Research: Permintaan Ritel untuk BTC akan Melebihi Pasokan

    Laporan terbaru dari ZUBR Research menjelaskan bahwa pada tahun 2028, permintaan ritel untuk Bitcoin akan melebihi pasokan baru. Dilansir dari Bitcoin.com laporan ini menyoroti bahwa dalam delapan tahun ketika laju pasokan Bitcoin menurun alamat ukuran ritel akan mulai menggunakan semua persediaan baru yang ada sendiri.

    Bahkan ketika halving berikutnya pada  2024 nanti. Laporan tersebut melihat menurut  akuntansi ritel untuk bisa  mengakuisisi 50% Bitcoin yang beredar.

    Belum lama berselang, para pendukung cryptocurrency sudah menyaksikan halving ketiga Bitcoin (BTC) pada 11 Mei 2020. Tepat sebelum BTC ketiga penerbitan pasokan aktif atau tingkat inflasi sekitar 3,8%.

    Baca juga: Halving Bisa Buat Miners Kecil Gulung Tikar

    Hari ini jumlah itu terus menurun dan pada saat publikasi, tingkat inflasi BTC adalah 3,51%. Pada tanggal 29 Juni, sebuah laporan penelitian yang diterbitkan oleh ZUBR Research merinci bahwa dalam delapan tahun, permintaan ritel akan lebih tinggi dari laju penerbitan Bitcoin.

    Studi yang disebut ” “Retail Investors Steady in Physical Bitcoin Snatch-Up” ini menjelaskan bagaimana jaringan BTC telah memasuki “era hadiah berikutnya.”

    “Dengan 90% dari semua Bitcoin sudah ditambang, sisa pasokan diperkirakan akan memakan waktu hampir 120 tahun untuk dipasarkan. Angka ini – 10% sisanya membutuhkan 120 tahun lagi – menunjukkan betapa langka mata uang cryptocurrency, ” tulis ZUBR.

    Pada saatnya, salah satu beban terbesar adalah likuiditas dan “Bitcoin fisik menjadi lebih sulit didapat.”

    ZUBR: COVID-19 Berikan Beberapa Skenario Potensial

    Temuan peneliti juga menunjukkan bahwa Covid-19  memberikan beberapa skenario potensial bagi cryptocurrency. ZUBR Research juga membahas pertanyaan apakah Bitcoin adalah versi emas yang lebih baik atau tidak.

    Studi ini mengatakan bahwa investor harus mempertimbangkan keputusan ini karena permintaan telah menurun untuk emas dan semakin memperluas celah yang tersedia di pasar selama krisis Covid-19.

    “Tidak diragukan lagi, Bitcoin melihat permintaan kuat setelah pandemi Covid-19. Permintaan juga disaksikan untuk emas, ” tulis laporan itu menyoroti.

    Namun, ada perbedaan yang sangat kritis terhadap emas. Kendala pasokan Bitcoin tidak akan disebabkan oleh peristiwa black swan, tetapi sifat abadi permanen dari mata uang kripto yang yang dirancang untuk memotong pasokan baru .

    Studi ini mencatat bahwa para peneliti memanfaatkan data dari perusahaan analisis Chainalysis. ZUBR memperkirakan bahwa permintaan ritel akan terus tumbuh tahun ini dan pada tahun 2028 permintaan akan jauh lebih besar daripada penerbitan.

    Sama seperti dengan pasar emas, permintaan bitcoin sambil tetap langka bisa membuat harga BTC melambung tinggi. Membagi dua berikutnya akan menelan banyak permintaan ritel dan investor tetapi separuh kelima akan menjadi tekanan pembelian yang tidak terkendali.

    “Mengekstrapolasi permintaan di masa depan dengan kecepatan ini menunjukkan perubahan yang sangat dramatis pada tahun 2028. Ketika laju pasokan Bitcoin semakin menurun dan alamat ukuran ritel ini mulai memakan semua pasokan baru sendirian,” perkiraan ZUBR.

    Makalah ini diakhiri dengan menekankan:

    Dengan investor ritel yang bekerja keras, kendala pasokan ini mungkin datang lebih cepat daripada nanti jika pertumbuhan permintaan dari investor kecil tetap stabil seperti dalam setengah dekade terakhir.

    Baca Juga: Catat! Sekarang Bitcoin Sering Diperdagangkan Selama Jam-Jam Berikut Ini



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Faktor Ini Menyiratkan Bitcoin Sudah Berada dalam Downtrend Yang Kuat Untuk Jangka Pendek

    Pergerakan kuat pada Bitcoin (BTC) dalam menyikapi batasan pergerakan ranging mingguannya telah mengaduk-aduk emosi para investor dan pedagang, dimana berbagai pandangan untuk Bulls maupun Bears tercipta sama kuat sehingga pasar seperti dipermainkan bak bola ping pong.

    Aksi harga yang berubah-ubah ini masih terlihat mirip dengan pergerakan harga di pasar saham AS, sehingga asumsi korelasi antara keduanya masih terlihat kuat yang tentu menggambarkan bagaimana pasar melihat posisi BTC ditengah kondisi global saat ini.

    Dan kini, BTC tengah bertahan disekitaran batas bawah dari pola ranging mingguan, dimana menurut analis, batas bawah yang merupakan Support ini tampaknya mulai semakin melemah yang perlu diantisipasi.

    Sekarang, ada faktor yang tampak jelas menunjukan kalau Bitcoin kini telah memasuki Downtrend (trend turun) dan penurunan lebih lanjut bisa saja terjadi!

    Ini terlihat saat para analis mencatat bahwa reaksinya terhadap penurunan yang berpotensi dikisaran level $ 8.600 dapat menentukan nasib BTC dalam beberapa hari, minggu, dan bahkan beberapa bulan ke depan.

    BTC telah diperdagangkan di sekitaran atas level Rp 132 juta-an selama beberapa hari terakhir, tetapi ketidakmampuannya untuk mendorong ke wilayah tengah atau di atas level tersebut tampaknya menunjukkan kelemahan mendasar di antara para pembeli.

    Seorang analis berbicara tentang pentingnya level ini, menjelaskan bahwa pertahanan yang kuat dari level ini bisa cukup untuk mendorong BTC hingga ke level $ 10.500.

    Sebaliknya, penurunan di bawahnya bisa mengagalkan potensi Uptrend multi-bulan dan memaksanya untuk bergerak lebih rendah dengan kuat. Ia mengatakan:

    “Bitcoin: Semua tergantung pada kemampuan $ 8.600-8.800. Jika ya, kita punya Divergensi Bullish tersembunyi (saya tidak melakukan banyak hal dengan mereka secara teratur). Dan HL lainnya. Tes berikutnya sebesar $ 10.500 = kemungkinan besar terjadi breakout. Kehilangan $ 8.600 -> pembatalan.”

    Sementara itu, platform data Coinalyze berbicara tentang kemungkinan Downtrend ini dalam cuitannya dengan menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang mampu mendukung gagasan ini.

    Mereka mencatat bahwa penurunan harga ditambah dengan meningkatnya minat terbuka dan penurunan Volume Kumulatif Volume (CVD), dapat menandakan bahwa penurunan lebih lanjut mungkin akan segera terjadi.

    “Bitcoin 4 jam: Secara teoritis ini adalah trend turun yang kuat. Turunnya harga + pertumbuhan OI + penurunan CVD = trend turun yang kuat.”

    Seperti yang disampaikan oleh Cryptoharian, beberapa analis lainnya, masih merasa bullish terhadap Bitcoin untuk jangka menengah dan panjang.

    Baca Juga: 10 Altcoins ini Capai All-Time-High Baru di Tengah Pergolakan Bitcoin dan Ethereum





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Korelasi Positif Bitcoin-Pasar Modal Kembali Seperti Maret 2020

    Korelasi positif Bitcoin (BTC) dengan pasar modal kembali seperti Maret 2020, setelah periode dasarnya nol sepanjang Mei.

    Seperti yang diukur oleh korelasi Pearson antara imbal hasil indeks saham S&P 500 per jam dan BTC/USD pada di bursa aset kripto Coinbase, korelasi saat ini berada di 0,31.

    Itu memang angka yang rendah, tetapi signifikan secara statistik. Selama Mei 2020, korelasi mencapai 0 yang berarti tidak ada korelasi. Itu sangat kontras dari Januari 2020, ketika Bitcoin menunjukkan korelasi negatif yang rendah tetapi signifikan secara statistik.

    Sebaliknya, korelasi antara S&P 500 dan emas juga melonjak ke tingkat historis pada akhir Maret 2020 dan awal April 2020. Tetapi logam mulia itu tidak berkorelasi.

    Tren terbaru dari korelasi yang tumbuh antara S&P 500 dan Bitcoin tidak ada antara S&P 500 dan emas, seperti yang ditunjukkan grafik kedua di atas.

    Korelasi pasar aset kripto secara umum dan harga Bitcoinsecara khusus dengan dinamika pasar modal kian menjadi perhatian. Pasalnya telah berkali-kali turunnya harga Bitcoin terkait erat atau senada juga dengan turunnya kinerja pasar modal, yakni indeks saham S&P 500.

    Fenomena itu setidaknya bisa dimanfaatkan oleh trader Bitcoin untuk mengantisipasi pasar secara cermat, bahwa pasar saham di AS sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dan sejumlah regulator terkait, The Fed misalnya.

    Kebijakan itu dikaitkan dengan pertimbangan pelonggaran ataupun pengetatan aktivitas warga karena pandemi COVID-19. Dengan kata lain, pelonggaran lock-down kelak bisa membawa rebound ke pasar modal, sekaligus pasar aset kripto. [Theblockcrypto/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kinerja Bitcoin versus Aset Kripto Lain di Sektor DeFi

    Bitcoin bolehlah sebagai aset kripto perkasa berdasarkan kapitalisasi pasarnya. Namun, kinerjanya jauh lebih mantap daripada aset kripto yang ada di sektor DeFi (Decentralized Finance).

    Menurut penyedia data DeFiPulse , nilai kumulatif aset kripto yang “tersimpan” dalam aplikasi DeFi telah melonjak dari US$1 miliar pada 15 Juni 2020 menjadi US$1,65 miliar pada 26 Juni 2020. Ia tumbuh 65 persen dalam sebelas hari saja.

    Pada saat yang bersamaan, harga aset kripto yang terkait sektor DeFi itu, juga tumbuh cepat. Taha Zafar, analis aset kripto mengatakan, kinerja Bitcoin jauh lebih unggul dibandingkan aset kripto di DeFi, seperti Aave (LEND), Kyber Network (KNC) dan Maker (MKR).

    “Data menunjukkan, sementara Bitcoin naik 80 persen dalam tiga bulan terakhir, aset kripto di DeFi tampil lebih lebih baik, dengan kinerja lebih dari 100 persen dalam jangka waktu 90 hari,” kata Zafar.

    Bahkan pada 26 Juni 2020, Coinmarketcap mencatat bahwa 6 dari 10 aset kripto berkinerja terbaik di 100 teratas, berfokus pada DeFi.

    Kendati DeFi masih popular, Zafar memperkirakan Bitcoinakan mengalami reli, ketika sektor DeFi ini mengalami koreksi alias pelemahan. [Forbes/red]

    Baca Juga: Apa Itu Bitcoin Forks? Panduan untuk Pemula



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • CCID Tempatkan Bitcoin di Peringkat ke-12 sebagai Blockchain Terbaik Sedunia

    Beda pihak beda pula cara menakarnya. Itulah yang dilakukan oleh Center for Information and Industry Development (CCID) di Tiongkok. Mereka menempatkan Bitcoin di peringkat ke-12 sebagai blockchain terbaik sedunia.

    Menggunakan kategori kapitalisasi pasar, Bitcoin memang nomor wahid sedunia. Tetapi, tidak dengan takaran lain oleh CCID. Pada Global Public Blockchain Technology Assesment Index CCID ke-18 beberapa hari yang lalu, blockchain Bitcoin malah tidak masuk 10 besar dengan 106,2 poin. Maklumlah, CCID memang fokus pada kriteria yang amat berbeda.

    Sumber: CCID via Chainnews.

    Serupa dengan paparan indeks sebelumnya, CCID menggunakan kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi teknologi blockchain, yang meliputi teknologi dasar, penerapan, fitur, kinerja, keamanan, kreativitas dan desentralisasi.

    Serupa dengan pemeringkatan sebelumnya, EOS tetap memimpin dengan 156,1 poin, diikuti oleh TRON dengan 138,43 poin dan Ethereum dengan 136,4 poin. Cryptocurrency terkemuka mencetak 20,4 poin dalam penerapan dan 24,7 dalam kreativitas, sementara tempat kedua masing-masing 28,4 dan 15,5 poin.

    Peringkat ke-4 dan ke-5 ditempati oleh IOST dan LSK masing-masing dengan 130,3 dan 119,3 poin, sedangkan Ripple berada di peringka ke-14 dengan hanya 105 poin.

    Sebenarnya kali ini Bitcoin bisa lebih bersenang hati. karena peringkatnya lebih tinggi daripada indeks yang lalu, yakni ke-17. Pada saat itu, Bitcoin hanya bernilai 43 poin dalam hal inovasi dan 19,9 poin untuk penerapannya. [red]

    Berita Terkait: Jual atau Beli Bitcoin Untuk Saat Ini?



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Jual Atau Beli Bitcoin Untuk Saat Ini?

    Fase konsolidasi Bitcoin (BTC) menunjukkan beberapa tanda pelemahan dalam waktu dekat. Bencmark crypto masih diperdagangkan dalam wilayah yang lebih rendah dari level $ 9.000 (Rp 127 juta), dan Support tepat dibawah level harga ini.

    Seorang analis mengatakan bahwa ada tiga faktor yang tampaknya menunjukan adanya potensi bagi harga BTC untuk jatuh dalam bebeberapa hari atau minggu mendatang.

    Penting untuk dicatat bahwa banyak analis telah mengklaim bahwa pergolakan dalam pola sideways saat ini adalah cara BTC untuk mengumpulkan kekuatan sebelum membuat gerakan besar-besaran kesalah satu arah.

    Secara historis, perdagangan sideways yang intens seperti yang terlihat saat ini, biasanya diikuti oleh pergerakan besar.

    Dengan demikian, bagaimana rentang perdagangan saat ini, itu akan cenderung menentukan potensi trend Bitcoin dalam beberapa minggu dan bulan ke depan.

    Seorang analis baru-baru ini membagikan grafik yang menunjukkan bahwa ia tengah mengantisipasi bencmark cryptocurrency untuk turun dengan drastis menuju $ 7.500 dalam waktu dekat.

    Dia menjelaskan bahwa tiga upaya terakhir untuk melampaui $ 10.000 (Rp 142 juta) telah menghasilkan rejeksi tegas yang patut diwaspadai.

    Meskipun dia percaya bahwa menembus level ini adalah tentang “kapan, bukan jika,” dia masih berpikir itu BTC akan mengalami beberapa downside jangka pendek. Ia mengatakan:

    “Ada sangat sedikit keraguan bahwa 10ribu adalah Resistance untuk ditembus dan bahkan dengan Retracement di sini, itu adalah pertanyaan kapan, bukan jika. 3 upaya dalam 9 bulan terakhir, masing-masing sama tinggi menghasilkan konsolidasi yang lebih lama pada Resistance sebelum tertahan. Jangan percaya [upaya] ke-4 BTC.”

    Baca Juga: Cara Membeli Bitcoin Di Indonesia Dan Luar Negeri

    Byzantine General, seorang analis dan juga trader cryptocurrency di Twitter, mengatakan bahwa BTC KELIHATAN di posisi bearish.

    Ketiga alasannya adalah:

    1. Formasi Rounded Top seperti di bulan Februari
    2. Volume jual > volume beli
    3. Dibawah local Point Of Control (POC)

    Dia juga mengatakan banyak perspektif bull dan bearish untuk setiap trader, artinya pasar diberada ketidakpastian. Dan, yang terbaik adalah untuk tidak trading pada saat ini.

    Jika anda membeli BTC dibawah Rp 100 juta, jual sekarang. Jika anda seorang trader, bukan investor, jangan lakukan perdagangan.

    Baca Juga: Bitcoin Berkolerasi dengan S&P 500, Analis Percaya Bahwa Nilai Pasar BTC Adalah $18.000



    Sumber : news.tokocrypto.com