Tag: blockchain

  • Koreksi Tipis, Harga Bitcoin Tertahan di $113 Ribu

    Meski mengalami koreksi ringan dalam 24 jam terakhir, harga Bitcoin (BTC) tetap berada di atas level psikologis penting $113.000.

    Di tengah volatilitas pasar kripto global, stabilitas relatif ini menunjukkan bahwa BTC masih memiliki daya tarik kuat sebagai aset digital utama dunia.

    Harga Bitcoin saat ini berada di angka $113.494, turun 0,69% dalam 24 jam terakhir. Namun, jika dilihat dalam rentang waktu yang lebih luas, BTC justru menunjukkan tren naik yang konsisten, dengan lonjakan +3,53% dalam 30 hari terakhir dan +14,83% dalam 90 hari terakhir.

    Angka ini menjadi indikator kuat bahwa investor jangka menengah hingga panjang tetap percaya pada prospek cerah Bitcoin.

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Rabu, 6 Agustus 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Rabu, 6 Agustus 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Baca Juga: Pasar Kripto Hari Ini 6 Agustus 2025: Bitcoin Bakal Koreksi, Sebelum Naik

    Kapitalisasi Pasar Tembus $2,25 Triliun

    Bitcoin terus mempertahankan dominasinya sebagai aset kripto nomor satu, dengan kapitalisasi pasar mencapai $2,25 triliun.

    Ini menunjukkan betapa besarnya kepercayaan pasar terhadap BTC sebagai penyimpan nilai digital. Dengan jumlah sirkulasi saat ini sekitar 19,90 juta BTC dari total maksimum 21 juta, pasokan Bitcoin semakin langka, memperkuat statusnya sebagai “emas digital.”

    Aktivitas Perdagangan Tetap Ramai

    Volume perdagangan dalam 24 jam terakhir tercatat sebesar $60,16 miliar.

    Meskipun harga bergerak melemah, tingginya volume perdagangan menunjukkan bahwa pasar tetap aktif, baik dari sisi investor ritel maupun institusional.

    Ini menjadi pertanda bahwa Bitcoin masih memiliki likuiditas tinggi dan dipandang sebagai aset yang layak untuk diperdagangkan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

    Dalam 24 jam terakhir, harga terendah BTC tercatat di $112.701,11, sementara level tertingginya berada di $115.093,61.

    Meskipun ada fluktuasi dalam kisaran harga yang cukup sempit, investor tetap waspada terhadap potensi breakout atau breakdown dalam waktu dekat.

    Rekor Tertinggi Semakin Dekat

    Meskipun belum berhasil menembus rekor tertinggi sepanjang masa yang berada di kisaran $123.091,61, harga saat ini relatif mendekati level tersebut.

    Jika tren positif ini terus berlanjut dan sentimen pasar kembali pulih pasca volatilitas, bukan tidak mungkin Bitcoin akan mencetak rekor baru sebelum akhir tahun.

    Beberapa analis percaya bahwa halving Bitcoin yang terjadi beberapa waktu lalu masih belum sepenuhnya tercermin dalam harga pasar.

    Dengan pasokan baru yang berkurang dan permintaan yang terus tumbuh, terutama dari ETF Bitcoin spot dan adopsi institusional, tekanan naik terhadap harga menjadi sangat mungkin.

    Apa yang Menahan Kenaikan Saat Ini?

    Meskipun fundamental Bitcoin kuat, ada beberapa faktor yang menahan lajunya untuk menembus rekor baru:

    1. Ketidakpastian Regulasi Global – Regulasi kripto di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Eropa, masih menjadi sorotan utama. Kebijakan yang tidak konsisten dapat membuat investor menahan diri.
    2. Koreksi Teknis – Setelah kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir, wajar jika pasar melakukan koreksi untuk mencari level support baru sebelum melanjutkan tren naik.
    3. Sentimen Makroekonomi – Faktor seperti inflasi global, suku bunga bank sentral, dan ketegangan geopolitik turut memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko seperti kripto.

    Baca Juga: Pasar Kripto Hari Ini 5 Agustus 2025: Bitcoin Targetkan $116k, Tercapai?

    Secara keseluruhan, meskipun harga Bitcoin mengalami sedikit penurunan harian, performanya dalam jangka menengah tetap impresif.

    Dengan kapitalisasi pasar yang kokoh, volume perdagangan tinggi, dan pasokan yang semakin langka, Bitcoin masih menjadi primadona dalam dunia aset digital.

    Investor jangka panjang yang memegang Bitcoin sejak awal tahun telah melihat pertumbuhan nilai yang luar biasa.

    Untuk ke depannya, dukungan institusi, perkembangan ETF, dan narasi Bitcoin sebagai pelindung nilai akan menjadi kunci utama dalam menentukan arah harga BTC.

    Apakah kita akan melihat Bitcoin menembus $120.000 dalam waktu dekat? Dengan dinamika pasar yang semakin mendukung, tampaknya hanya masalah waktu sebelum BTC mencetak rekor baru.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa Itu Buy the Dip dalam Trading Bitcoin? Panduan untuk Pemula

    Pernah dengar istilah buy the dip tapi belum mengerti apa maksudnya? Berikut penjelasan dan contoh dari buy the dip yang bisa kamu lakukan, terutama untuk pemula.

    Apa itu Buy the Dip?

    Buy the Dip adalah ketika kamu melakukan pembelian aset investasi disaat harga mengalami penurunan yang cukup tajam, dengan tujuan mengantisipasi adanya pembalikan harga sehingga pembelian tadi bisa jadi profit.

    Gambar contoh buy the dip di pasar bullish.

    Membeli dengan strategi buy the dip disaat harga mengalami penurunan dapat menguntungkan, jika secara jangka panjang aset tersebut mengalami kenaikan positif (bullish).

    Namun, strategi buy the dip ini juga bisa merugikan jika secara jangka panjang performa aset tersebut mengalami penurunan (bearish).

    Gambar contoh buy the dip di pasar bearish.

    Nah dari kedua skenario diatas sudah tahu kan, kapan waktu yang cocok untuk menggunakan strategi buy the dip? Yakni saat harga aset mengalami kenaikan dalam jangka panjang atau saat pasar sedang bullish.

    Baca juga: BTC vs ETH: Mana yang Lebih Baik untuk Investasi Kripto Pertama?

    Mengapa Banyak Trader Menggunakan Strategi Ini?

    Optimisme terhadap pertumbuhan jangka panjang: Banyak orang percaya bahwa harga Bitcoin akan terus naik dalam jangka panjang.

    Psikologi pasar: Ketika harga turun tajam, trading yang yakin dengan potensi jangka panjang melihatnya sebagai momen ‘diskon’.

    Tren historis: Secara historis, Bitcoin sering kali mengalami pemulihan yang signifikan setelah penurunan drastis.

    Baca juga: Intip 4 Strategi AI Trading Crypto yang Bisa Dicoba!

    Bagaimana Cara untuk ‘Buy the Dip’ di Bitcoin

    Untuk menerapkan strategi ini, kamu tidak bisa hanya mengandalkan insting. Kamu perlu memahami pergerakan harga, analisis teknikal, dan berita pasar.

    Menganalisis Grafik Harga Bitcoin

    Grafik adalah sahabat terbaik trader. Kamu bisa melihat support dan resistance, mengenali pola penurunan yang wajar atau justru tanda-tanda tren bearish panjang. Pengetahuan ini membantu kamu menghindari membeli terlalu cepat.

    Menggunakan Indikator Teknikal

    Selain support dan resistance, kamu bisa menggunakan indikator teknikal seperti RSI, MA, bollinger bands, dan indikator teknikal lainnya yang bisa memberikan gambaran lebih lengkap sebelum memutuskan untuk beli saat harga turun.

    Sentimen Pasar

    Sentimen pasar mencerminkan suasana hati kolektif investor, apakah mereka sedang merasa optimistis (greedy) atau pesimistis (fearful). Momen fear yang didukung dengan analisa teknikal, bisa jadi momen buy the dip.

    Contoh Buy the Dip dengan Relative Strength Index

    Mari kita bayangkan kamu sedang memantau pergerakan harga Bitcoin, dan kamu tertarik membeli saat terjadi koreksi. Untuk menentukan apakah saat itu adalah “dip” yang ideal, kamu bisa menggunakan RSI sebagai panduan seperti gambar di bawah ini:

    Gambar contoh buy the dip dengan RSI.

    Nah jika dilihat dari contoh grafik harga di atas, RSI bisa kamu jadikan panduan untuk buy the dip. Sebab, setiap kali RSI menyentuh <30 harga terbilang mengalami jenuh jual (over sold) sehingga berpotensi mengalami kenaikan dalam jangka panjang.

    Bagaimana Tampilkan Relative Strength Index (RSI) di Aplikasi Tokocrypto?

    1. Buka aplikasi Tokocrypto dan masuk menu ‘Pasar’
    2. Cari aset kripto — contoh: BTC/USDT
    3. Pilih ‘RSI’ pada bagian bawah chart harga
    4. Amati saat RSI turun ke bawah angka 30 yang menandakan kondisi oversold
    5. Tunggu konfirmasi pembalikan arah

    Baca juga: Dampak Berita Terhadap Pergerakan Harga ETH: Penyebab dan Contoh Kasus

    Risiko yang Perlu Diketahui Pemula Saat Buy the Dip

    Buy the dip bukan tanpa risiko, pola seperti False Dip dan Dead Cat Bounce bisa saja terjadi lho!

    • False Dip: Penurunan harga sementara yang diikuti oleh penurunan lebih dalam lagi.
    • Dead Cat Bounce: Pemulihan kecil yang menipu sebelum tren turun berlanjut.

    Baca juga: Ketahui Cara Mengenali Dead Cat Bounce dan Penyebabnya

    Tips Buy the Dip yang Aman dan Efektif untuk Pemula

    Agar strategi ini tidak jadi bumerang, berikut dua tips yang bisa kamu pertimbangkan:

    Dollar-Cost Averaging (DCA)

    Daripada membeli dalam jumlah besar sekaligus, belilah Bitcoin secara bertahap. Ini membantu mengurangi risiko membeli di titik puncak dan membuat kamu tetap konsisten berinvestasi.

    Kamu bisa gunakan fitur DCA dengan beberapa langkah mudah di aplikasi atau beli dengan fitur 0% trading fee di Tokocrypto.

    Klik gambar untuk mulai investasi dengan 0% biaya trading dan deposit mulai dari Rp50.000!

    Tentukan Batas Risiko

    Untuk menghindari kerugian yang semakin dalam karena harga yang terus menurun saat kamu melakukan buy the dip, tentukan batas risiko seperti cut loss untuk memposisikanmasuk ulang setelah harga benar-benar siap untuk memantul.

    Pantau Berita dan Faktor Fundamental Bitcoin

    Pastikan penurunan harga tidak disebabkan oleh perubahan besar dan hanya disebabkan oleh sentimen sementara.

    FAQ Seputar Strategi Buy the Dip

    1. Apakah strategi Buy the Dip bisa untuk jangka pendek?
    Strategi buy the dip bisa kamu gunakan untuk jangka pendek dan jangka panjang dengan memanfaatkan pantulan harga.

    2. Apa indikator terbaik untuk mendeteksi “dip”?
    RSI, Moving Average, dan Fear & Greed Index bisa membantu. Tapi tetap perlu mempertimbangkan konteks berita dan sentimen pasar.

    3. Apakah saya harus menunggu penurunan besar baru membeli?
    Tidak selalu. Semua kembali lagi pada analisa yang kamu miliki.

    4. Buy the Dip bisa gagal?
    Bisa. Terutama jika harga terus turun atau ada perubahan fundamental besar. Karena itu penting tidak all-in dalam satu waktu dan lakukan DCA.

    5. Strategi ini cocok untuk pemula?
    Cocok, jika dilakukan dengan analisa pasar dan disertai strategi DCA.

    6. Apakah harus selalu membeli saat Fear Index rendah?
    Tidak harus, tapi Fear Index bisa membantu menilai psikologi pasar dan mencari peluang beli.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Chainlink Luncurkan Layanan Data Saham AS Real-Time di 37 Jaringan

    Chainlink, pelopor penyedia layanan oracle dalam dunia blockchain, kembali menunjukkan taringnya dengan meluncurkan layanan data pasar saham AS real-time yang tersedia di 37 blockchain berbeda secara bersamaan.

    Langkah strategis ini menjadi tonggak penting dalam menjembatani ekosistem keuangan tradisional (TradFi) dengan dunia Web3, dan membuka potensi besar bagi inovasi produk keuangan terdesentralisasi (DeFi).

    Apa Itu Chainlink dan Mengapa Ini Penting?

    Chainlink dikenal sebagai penyedia layanan oracle yang memungkinkan smart contract di berbagai blockchain untuk terhubung dengan data dari dunia nyata.

    Dengan reputasi sebagai penyedia data yang andal dan aman, Chainlink telah lama menjadi pilihan utama bagi banyak proyek DeFi.

    Kini, Chainlink memperluas cakupan layanannya dengan menghadirkan data pasar saham AS secara real-time ke ekosistem blockchain, yang meliputi harga saham perusahaan-perusahaan besar seperti Apple, Microsoft, Amazon, hingga Google.

    Langkah ini memungkinkan blockchain untuk mengakses data pasar keuangan tradisional secara langsung dan akurat.

    Pergerakan harga Chainlink (LINK/USDT) pada Selasa, 5 Agustus 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Chainlink (LINK/USDT) pada Selasa, 5 Agustus 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Baca Juga: Enam Alasan Harga Chainlink Bisa di Atas $20

    37 Blockchain, Satu Sumber Data

    Inovasi ini didukung oleh Chainlink Data Streams, sebuah solusi oracle generasi berikutnya yang dirancang untuk memberikan data dengan latensi rendah dan pembaruan berkala secara cepat.

    Dengan kata lain, data yang disediakan oleh Chainlink kini tidak hanya akurat dan aman, tapi juga sangat cepat — menjadikannya ideal untuk berbagai aplikasi, termasuk perdagangan otomatis (algo-trading), derivatif sintetis, dan banyak lagi.

    Dengan mengintegrasikan layanan ini di 37 blockchain, Chainlink memperkuat statusnya sebagai penghubung utama antara dunia keuangan tradisional dan ekosistem blockchain yang berkembang pesat.

    Ini adalah langkah konkret menuju integrasi yang lebih dalam antara TradFi dan DeFi.

    Dampaknya bagi DeFi dan Aplikasi Web3

    Peluncuran layanan ini membuka pintu bagi berbagai inovasi produk keuangan di dunia kripto:

    • Synthetic Assets: Proyek-proyek seperti Synthetix kini dapat membuat turunan saham secara on-chain dengan data yang lebih real-time dan kredibel.
    • Automated Trading: Pengembang dapat menciptakan bot trading atau strategi arbitrase yang menggunakan data saham AS langsung dari blockchain.
    • Tokenisasi Aset Tradisional: Dengan data akurat di ujung jari, perusahaan dapat lebih mudah melakukan tokenisasi saham di blockchain, mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga.

    Langkah ini juga memberi peluang besar bagi pasar negara berkembang yang selama ini sulit mengakses pasar saham global secara langsung.

    Dengan data yang tersedia secara terbuka di blockchain, partisipasi investor ritel global dalam pasar saham bisa meningkat secara drastis.

    Kolaborasi Strategis

    Chainlink menggarap proyek ini bersama beberapa mitra infrastruktur dan penyedia data terkemuka.

    Meskipun detail teknisnya belum sepenuhnya dibuka ke publik, layanan ini kemungkinan menggunakan pendekatan hybrid off-chain dan on-chain untuk memastikan efisiensi biaya sekaligus menjaga kecepatan dan reliabilitas data.

    Hal ini juga menunjukkan bahwa Chainlink tidak hanya membangun teknologi, tetapi juga ekosistem kolaboratif yang kuat untuk membawa keuangan masa depan menjadi lebih terbuka, transparan, dan inklusif.

    Baca Juga: Chainlink Bertahan di Support $13, Analis Optimistis Potensi Pemulihan

    Dengan mengintegrasikan data pasar saham AS real-time ke dalam 37 blockchain, Chainlink sekali lagi membuktikan komitmennya sebagai jembatan antara dunia nyata dan Web3.

    Inovasi ini bukan hanya soal membawa data ke blockchain, tapi tentang membangun masa depan di mana keuangan global benar-benar terdesentralisasi dan bisa diakses siapa saja, di mana saja.

    Langkah ini membuka babak baru bagi DeFi dan aplikasi blockchain—sebuah dunia di mana batas antara pasar tradisional dan aset digital semakin kabur. Masa depan keuangan bukan hanya digital, tetapi juga global dan terdesentralisasi—dan Chainlink berada di garis depan revolusi ini.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ethereum Mendekati $3.700! Pertanda Menuju Rekor Tertinggi Baru?

    Setelah sempat mengalami tekanan jual dalam beberapa pekan terakhir, Ethereum (ETH) kembali menunjukkan kekuatan pasar dengan mencatat kenaikan harga yang signifikan.

    Saat ini, harga Ethereum berada di level $3.626,73, dengan lonjakan +2,27% dalam 24 jam terakhir dan volume perdagangan sebesar $30,40 miliar USD.

    Dengan kapitalisasi pasar mencapai $437,78 miliar USD, Ethereum tetap berada di peringkat kedua kripto paling berpengaruh di dunia setelah Bitcoin.

    Namun, banyak analis pasar yang menyoroti bahwa Ethereum mulai menunjukkan sinyal bullish yang dapat mengantarkannya mendekati rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) di $4.891,70.

    Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT) pada Selasa, 5 Agustus 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT) pada Selasa, 5 Agustus 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Baca Juga: Token Ekosistem Ethereum Unggulan 2025: Dawgz AI dan Chainlink

    Kinerja Ethereum dalam 3 Bulan Terakhir: Dari Konsolidasi ke Akselerasi

    Harga ETH dalam tiga bulan terakhir menunjukkan grafik pertumbuhan yang sangat mengesankan:

    • Hari ini: +$61,66 atau naik 1,74%
    • 30 hari terakhir: +$1.089,53 (+43,23%)
    • 60 hari terakhir: +$1.153,75 (+46,98%)
    • 90 hari terakhir: +$1.775,45 (+96,80%)

    Ini berarti, hampir dalam tiga bulan terakhir, harga Ethereum hampir dua kali lipat.

    Pertanyaannya sekarang, apa yang mendorong lonjakan ini dan apakah ini awal dari fase bullish jangka panjang?

    Faktor Pendorong Kenaikan Harga ETH

    Beberapa katalis utama yang kemungkinan besar berkontribusi pada lonjakan harga Ethereum antara lain:

    1. Adopsi Kurva Naik untuk Aplikasi DeFi dan NFT Baru
      Ekosistem Ethereum terus menjadi tulang punggung dari berbagai proyek Web3, mulai dari keuangan terdesentralisasi (DeFi), NFT, hingga game blockchain. Developer tetap memilih Ethereum karena keamanan dan skalabilitasnya, meskipun biaya gas kadang tinggi.
    2. Upgrade Teknologi Ethereum 2.0 yang Terus Berjalan
      Peralihan ke mekanisme konsensus Proof of Stake (PoS) telah meningkatkan efisiensi jaringan dan mengurangi tekanan inflasi pada token ETH. Banyak analis menilai ini akan menambah tekanan beli dalam jangka panjang.
    3. Sentimen Positif dari ETF Spot Ethereum
      Meski belum disetujui secara penuh di beberapa yurisdiksi, spekulasi kuat tentang peluncuran ETF spot ETH seperti yang terjadi pada Bitcoin mendorong arus modal institusional masuk.
    4. Aksi Buy the Dip dari Investor Institusi dan Ritel
      Ketika harga ETH sempat turun ke kisaran $2.500 beberapa bulan lalu, banyak investor memanfaatkan koreksi ini untuk mengakumulasi, dan kini mereka menikmati keuntungan dua digit.

    Tapi Hati-Hati: Volatilitas Masih Mengintai

    Meskipun grafik harga terlihat sangat menarik, Ethereum juga menunjukkan penurunan 1,46% dalam satu jam terakhir, serta penurunan 6,71% dalam tujuh hari terakhir.

    Ini menandakan bahwa meskipun tren umumnya naik, masih terdapat gejolak pasar yang tinggi. Harga dalam 24 jam terakhir bergerak di antara:

    • Terendah: $3.542,87
    • Tertinggi: $3.734,98

    Fluktuasi ini memberikan peluang bagi para trader harian, namun juga meningkatkan risiko kerugian bagi investor jangka pendek yang masuk di puncak harga.

    Statistik Pasar Ethereum Saat Ini

    • Harga Saat Ini: $3.626,73
    • Kapitalisasi Pasar: $437,78 Miliar USD
    • Volume Perdagangan 24 Jam: $30,40 Miliar USD
    • Sirkulasi: 120,71 Juta ETH
    • Peringkat Pasar: #2
    • Rekor Tertinggi (ATH): $4.891,70

    Ethereum belum mencatatkan total pasokan maksimum, menjadikannya aset dengan potensi fleksibilitas suplai yang unik dibandingkan Bitcoin yang memiliki batas 21 juta.

    Apakah Saatnya Masuk Ethereum Sekarang?

    Dengan performa kuat dalam 90 hari terakhir dan tren bullish yang mulai menguat, Ethereum tampaknya berada di jalur yang menjanjikan untuk kembali menguji level psikologis $4.000, bahkan mungkin lebih jauh jika momentum terus terjaga.

    Namun, investor perlu berhati-hati dan disiplin, mengingat pasar kripto tetap sangat dipengaruhi oleh sentimen global, keputusan regulasi, dan faktor makroekonomi seperti suku bunga dan nilai tukar dolar AS.

    Baca Juga: Pasar Berguncang, ETF Ethereum Pantang Goyang

    Ethereum menunjukkan bahwa ia belum kehilangan tajinya sebagai raja platform smart contract. Dengan pertumbuhan harga hampir 100% dalam 3 bulan terakhir, ETH bukan hanya menjadi pilihan spekulatif, tapi juga instrumen investasi jangka menengah-panjang yang layak dipertimbangkan—terutama bila ETF spot Ethereum benar-benar disetujui dalam waktu dekat.

    Untuk saat ini, semua mata tertuju pada Ethereum: apakah ia mampu menembus kembali ke zona $4.000 dan melangkah ke ATH baru, atau justru harus konsolidasi lebih lama?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Terkoreksi ke Level $114.000, Bitcoin Tetap Perkasa

    Meskipun mengalami sedikit koreksi dalam 24 jam terakhir, Bitcoin (BTC) masih menunjukkan ketangguhan sebagai aset digital utama dunia.

    Harga BTC saat ini berada di angka $114.268,79 per koin dengan kapitalisasi pasar mencapai $2,27 triliun, mempertahankan dominasinya di pasar kripto global.

    Dengan volume perdagangan 24 jam sebesar $55 miliar, Bitcoin menandai kehadirannya sebagai aset dengan likuiditas tinggi, meskipun mengalami penurunan harga harian sebesar 0,28%.

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Selasa, 4 Agustus 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Selasa, 4 Agustus 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Baca Juga: Cek Harga Bitcoin Hari Ini

    Koreksi Jangka Pendek, Tren Jangka Panjang Masih Naik

    Dalam waktu satu jam terakhir, harga BTC hanya turun tipis sebesar 0,04%, mengindikasikan stabilisasi setelah aksi ambil untung (profit-taking) oleh investor jangka pendek.

    Namun, jika dilihat dari data historis selama 90 hari, Bitcoin masih berada dalam tren naik:

    • 30 hari terakhir: Naik $6.224,35 (+5,76%)
    • 60 hari terakhir: Naik $11.668,69 (+11,37%)
    • 90 hari terakhir: Naik $17.679,31 (+18,30%)

    Dengan demikian, koreksi saat ini lebih bersifat sementara, terutama karena pasar sedang mengalami konsolidasi setelah sempat menyentuh rekor tertinggi baru di $123.091,61 beberapa minggu lalu.

    Fundamental Tetap Kuat: Dominasi dan Sirkulasi

    Bitcoin tetap berada di posisi pertama dalam daftar aset kripto berdasarkan kapitalisasi pasar. Dengan pasokan yang beredar sebanyak 19,90 juta BTC dari total maksimum 21 juta BTC, berarti 94,77% dari total pasokan sudah beredar di pasar.

    Hal ini memperkuat narasi kelangkaan Bitcoin yang mendorong nilai jangka panjangnya.

    Adapun kapitalisasi pasar yang diencerkan sepenuhnya (fully diluted market cap) menyentuh angka $2,399 triliun, menjadi indikator seberapa besar nilai pasar jika seluruh Bitcoin telah ditambang.

    Volatilitas Sepekan: Penurunan Bertahap

    Dalam sepekan terakhir, Bitcoin mencatat penurunan sebesar 3,69%, mencerminkan adanya tekanan pasar, baik dari faktor makroekonomi global maupun sikap hati-hati investor menjelang keputusan suku bunga dari The Fed.

    Ini bisa menjadi sinyal konsolidasi sebelum potensi breakout berikutnya. Sementara itu, harga harian menunjukkan fluktuasi di antara:

    • Tertinggi 24 jam: $115.729,47
    • Terendah 24 jam: $114.133,93

    Range harga ini relatif sempit, mengindikasikan akumulasi posisi oleh pelaku pasar besar (whales) atau institusi yang menanti momentum baru.

    Faktor Pemicu Pergerakan Harga

    Beberapa faktor yang turut memengaruhi fluktuasi harga Bitcoin saat ini antara lain:

    1. Ketidakpastian Ekonomi Global
      Inflasi yang belum sepenuhnya terkendali dan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral memicu kehati-hatian investor dalam masuk ke aset berisiko.
    2. Adopsi Institusional yang Berlanjut
      Meskipun volatilitas meningkat, institusi besar seperti BlackRock, Fidelity, dan Citigroup terus menunjukkan ketertarikan terhadap Bitcoin dan aset kripto melalui ETF dan produk tokenisasi.
    3. Tekanan dari Regulasi
      Perdebatan soal regulasi stablecoin dan aset digital di AS dan Eropa masih menjadi sorotan, mempengaruhi sentimen pasar dalam jangka pendek.

    Perspektif Analis: Apakah Bitcoin Akan Pulih?

    Para analis sepakat bahwa koreksi saat ini adalah bagian dari dinamika pasar alami setelah reli besar-besaran.

    Dengan dasar teknikal dan fundamental yang tetap kuat, banyak pihak memprediksi bahwa Bitcoin berpotensi rebound kembali ke atas $120.000 dalam beberapa minggu ke depan, terutama jika ada pemicu makro yang mendukung seperti:

    • Persetujuan ETF Bitcoin Spot tambahan di Asia dan Amerika Selatan
    • Penurunan suku bunga oleh The Fed
    • Sentimen pasar saham yang kembali positif

    Baca Juga: Koreksi Berlalu, Harga Bitcoin Hari Ini Naik ke Level $114K

    Koreksi jangka pendek Bitcoin hingga ke level $114 ribu justru dilihat oleh sebagian investor sebagai peluang akumulasi.

    Dengan lebih dari 94% total pasokan telah beredar, dan meningkatnya adopsi institusional, Bitcoin tetap menjadi aset kripto unggulan dalam portofolio investor jangka panjang.

    Jika volatilitas adalah harga yang harus dibayar untuk peluang pertumbuhan luar biasa, maka Bitcoin telah membuktikan dirinya sebagai salah satu aset digital paling tahan uji dalam sejarah pasar keuangan modern.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Sah! Citigroup Jadi Pelopor TradFi Dalam Adopsi Blockchain

    Citigroup mengembangkan portfolio perusahaan sebagai lembaga keuangan tradisional atau Traditional Finance (TradFi) pertama yang mendukung adopsi teknologi blockchain.

    Sejak 2020 hingga 2024, Citi termasuk dalam tiga lembaga keuangan utama bersama Goldman Sachs dan JP Morgan Chase yang aktif melakukan investasi dan kemitraan dalam teknologi blockchain dan aset digital.

    Rekam Jejak Investasi TradFi

    Untuk diketahui, Citi dan Goldman Sachs memimpin dengan 18 transaksi investasi masing-masing dalam startup blockchain, diikuti oleh JP Morgan dengan 15 transaksi.

    Selama empat tahun terakhir, bank global ikut berperan dalam 345 deal blockchain, termasuk 33 mega-round senilai lebih dari $100 juta, terutama di sektor tokenisasi, custody, dan infrastruktur pembayaran.

    Lembaga seperti Citigroup memilih strategi investasi langsung atau kemitraan daripada akuisisi. Mereka lebih suka mendukung proyek tahap awal yang berpotensi mengubah tatanan keuangan tradisional.

    Baca Juga: Citigroup Luncurkan Citi Token untuk Mitra Institusi Adopsi Kripto

    Produk Blockchain Nyata: Citi Token Services dan Stablecoin

    Citigroup tidak hanya berhenti pada investasi, tetapi juga mengembangkan produk nyata berbasis teknologi blockchain.

    Citi Token Services (CTS) memungkinkan transfer pembayaran lintas-negara secara real-time menggunakan token digital yang dikeluarkan secara internal.

    Pengguna tidak perlu memahami blockchain: instruksi dikirim lalu token di-mint di satu yurisdiksi dan diburn di destinasi, menyelesaikan transaksi seperti uang fiat biasa.

    Sementara itu, CEO Citi, Jane Fraser, mengonfirmasi bahwa bank sedang mempertimbangkan penerbitan stablecoin milik sendiri (Stablecoin in-house) serta memperluas layanan tokenized deposits dan custody aset kripto untuk klien institusional.

    Produk ini kini telah diuji coba di AS, Inggris, Hong Kong, dan Singapura dengan kapasitas untuk berkembang ke lebih banyak mata uang dan koridor global.

    Momentum Regulasi & Stablecoin

    Menurut laporan internal Citi Institute, 2025 bisa menjadi “ChatGPT moment” bagi blockchain: momen percepatan adopsi digital aset di sektor publik dan swasta seiring regula­si stabilcoin yang mulai mengerucut.

    Dalam hal tokenized assets, Citi bekerja sama dengan platform SDX (Swiss Digital Exchange) untuk memfasilitasi tokenisasi aset pra-IPO dan private equity bagi investor institusi global yang rencananya diluncurkan pada kuartal ketiga 2025.

    Sebagai tambahan, regulasi seperti GENIUS Act di AS dan MiCA di Eropa memperjelas landasan hukum penggunaan stablecoin, memunculkan peluang besar bagi bank seperti Citi untuk berinovasi secara terkendali.

    Dampak Transformasional untuk TradFi

    • Efisiensi Model Bank – Adopsi token asli fiat via CTS memungkinkan transaksi lintas batas 24/7 tanpa sistem kliring tradisional.
    • Pengelolaan Cadangan (Reserve Management) – Bank bisa mengelola cadangan yang menopang stablecoin internal, membuka bisnis pengelolaan treasury digital.
    • Tokenisasi Aset Riil – Citi membantu perusahaan menerbitkan aset tokenized seperti saham private pre-IPO, memberikan likuiditas baru bagi investor atau lembaga.

    Tantangan & Risiko yang Perlu Dimonitor

    • Regulasi yang masih berkembang: walaupun progresif, setiap yurisdiksi memiliki batasan berbeda, terutama soal KYC, AML, dan perlindungan konsumen.
    • Interoperabilitas dan adopsi massal masih kendala teknis, membutuhkan standar global dan kesederhanaan antarmuka bagi pengguna tradisional.
    • Persaingan dari konsorsium bank lain: Bank of America, JPMorgan, Goldman Sachs juga bergerak di ranah stablecoin dan tokenisasi, menciptakan lanskap kompetisi yang ketat.

    Baca Juga: Masa Depan Solana di TradFi: Langkah Besar Menuju ETF Spot

    Dengan begitu, Citigroup telah menempuh jalur transformasi yang strategis dalam pengembangan dan integrasi blockchain.

    Tak lagi sekadar mendanai startup, namun juga membangun layanan seperti Citi Token Services, stablecoin internal, dan tokenisasi aset riil melalui platform yang mematuhi regulasi.

    Laporan Ripple bersama CB Insights merekam bahwa Citi bersama Goldman Sachs dan JP Morgan menjadi garis depan tradfi dalam membentuk masa depan keuangan digital melalui lebih dari 345 investasi sejak 2020.

    Dengan dukungan regulasi yang mulai jelas, infrastruktur digital bank seperti Citi siap menjadi pionir dalam memperluas adopsi blockchain secara luas dan transparan.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Terkoreksi Tipis, Harga Bitcoin Tetap Perkasa di Atas $113 Ribu

    Bitcoin (BTC) kembali mencuri perhatian pasar setelah mencatatkan harga $113,460.24 per BTC pada perdagangan hari ini.

    Meski mengalami sedikit koreksi sebesar -0.39% dalam 24 jam terakhir, kripto nomor satu dunia ini tetap berada di jalur bullish dengan pertumbuhan signifikan dalam jangka menengah hingga panjang.

    Kapitalisasi pasarnya kini mencapai $2.25 triliun, mempertegas dominasinya di industri aset digital global.

    Baca Juga: Efek Data Pekerjaan AS: Harga Bitcoin Terjun ke $113.000

    Pergerakan Harga: Fluktuasi Ringan, Tapi Tetap Kuat

    Dalam 24 jam terakhir, harga Bitcoin bergerak di kisaran $111,943.80 hingga $114,006.44.

    Penurunan $447.82 atau sekitar -0.39% secara harian menunjukkan adanya tekanan jual, namun dalam konteks pasar kripto yang sangat volatil, angka ini masih tergolong stabil.

    Secara mingguan, BTC mengalami penurunan sebesar -4.04%, namun jika melihat data 30, 60, hingga 90 hari terakhir, tren jangka menengah justru menunjukkan penguatan:

    • 30 hari: +3.95% (+$4,313.40)
    • 60 hari: +7.55% (+$7,970.63)
    • 90 hari: +20.31% (+$19,157.76)

    Kenaikan dalam tiga bulan terakhir mengindikasikan adanya kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang BTC, meski koreksi mingguan menjadi alarm untuk potensi konsolidasi harga.

    Kapitalisasi dan Volume: Likuiditas Tinggi Tetap Terjaga

    Dengan kapitalisasi pasar sebesar $2.25 triliun, Bitcoin masih mendominasi pasar kripto secara keseluruhan. Volume perdagangan harian mencapai $58.45 miliar, menandakan tingginya aktivitas jual beli yang terjadi dalam ekosistem BTC.

    Menariknya, sirkulasi suplai saat ini sudah mencapai 19.90 juta BTC atau 94.77% dari total suplai maksimum sebesar 21 juta BTC.

    Ini berarti ruang pertumbuhan pasokan baru sangat terbatas, yang secara teori bisa meningkatkan tekanan harga ke atas dalam jangka panjang karena kelangkaan.

    Rekor Tertinggi dan Potensi Selanjutnya

    Rekor harga tertinggi Bitcoin tercatat di level $123,091.61. Saat ini, harga BTC masih terpaut sekitar 8% dari level tersebut.

    Dengan tekanan inflasi global yang masih menghantui dan kebijakan moneter yang cenderung longgar dari beberapa bank sentral, BTC bisa menjadi alternatif lindung nilai (hedging) bagi investor, mirip dengan emas digital.

    Sentimen Pasar: Konsolidasi Sehat atau Awal Koreksi?

    Koreksi harga dalam jangka pendek bisa dianggap sebagai fase konsolidasi yang sehat sebelum kemungkinan reli lanjutan. Namun, pelaku pasar perlu memperhatikan sentimen global seperti:

    • Kebijakan suku bunga The Fed
    • Data inflasi AS
    • Adopsi institusional dan perkembangan regulasi
    • Kepercayaan investor retail

    Jika faktor-faktor ini mendukung, maka bukan tidak mungkin BTC akan kembali mencoba menembus ATH (All Time High) dalam waktu dekat.

    Baca Juga: Bitcoin Anjlok ke $115 Ribu: Koreksi atau Awal Badai?

    Secara keseluruhan, Bitcoin saat ini menunjukkan kekuatan fundamental yang kuat meski mengalami penurunan minor.

    Dengan harga berada di atas $113 ribu dan tren jangka menengah yang masih naik, investor jangka panjang tetap memiliki alasan untuk optimis. Namun, waspadai fluktuasi harian dan faktor eksternal yang dapat memengaruhi volatilitas pasar.

    Bitcoin mungkin sedang “beristirahat”, tapi dalam dunia kripto, istirahat sering kali hanya pendahulu dari lompatan besar.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Aturan Stablecoin GENIUS: Maju, Penerbit Asing Buram

    Undang-Undang GENIUS yang baru saja disahkan oleh Kongres AS menandai babak baru dalam regulasi stablecoin, menjadikannya kerangka hukum komprehensif pertama yang mengatur penerbitan stablecoin berbasis dolar AS. Regulasi ini digadang-gadang akan meningkatkan kepercayaan investor, mendorong adopsi secara luas, dan memperkuat posisi dolar sebagai mata uang cadangan global.

    Namun di balik kemajuan tersebut, masih tersisa kekhawatiran serius, khususnya terkait ketidakjelasan aturan bagi penerbit stablecoin asing seperti Tether. Hal ini dikhawatirkan bisa menciptakan ketimpangan persaingan yang merugikan penerbit dalam negeri.

    Tonggak Penting untuk Stablecoin Berbasis Dolar

    Dilaporkan Cointelegraph, Undang-Undang GENIUS membuka peluang besar bagi bank, perusahaan teknologi finansial, hingga ritel raksasa seperti Walmart dan Amazon untuk menerbitkan stablecoin mereka sendiri. Menurut Christian Catalini dari MIT Cryptoeconomics Lab, strategi stablecoin kini akan menjadi elemen vital dalam model bisnis banyak perusahaan jasa keuangan dan pembayaran.

    Stablecoin saat ini telah mencapai kapitalisasi pasar global sebesar $267 miliar. Dalam konteks ini, regulasi yang ketat dianggap dapat mendorong pertumbuhan sehat sektor ini sekaligus memberikan kepastian hukum bagi pelaku industri.

    Stablecoin mencapai nilai pasar $267 miliar. Sumber: DefiLlama.
    Stablecoin mencapai nilai pasar $267 miliar. Sumber: DefiLlama.

    Baca juga: Visa Tambah 3 Stablecoin dan 2 Blockchain Baru

    “Celah” untuk Penerbit Asing: Ancaman Bagi Pesaing Lokal?

    Salah satu kritik utama terhadap Undang-Undang GENIUS datang dari kalangan akademisi dan pemangku kepentingan kebijakan. Timothy Massad, mantan Ketua CFTC, menyebut adanya “celah Tether” — yaitu ketidakjelasan regulasi terhadap penerbit stablecoin yang berbasis di luar negeri. Meskipun disebutkan bahwa penerbit asing harus tunduk pada standar “sebanding”, undang-undang ini tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah tersebut secara konkret.

    Akibatnya, penerbit stablecoin luar negeri seperti Tether bisa saja tetap mendominasi pasar tanpa tunduk pada pengawasan ketat yang kini diberlakukan kepada entitas AS. Hal ini memunculkan risiko insentif negatif bagi penerbit lokal yang harus menghadapi persyaratan lebih ketat terkait cadangan aset, transparansi keuangan, dan kepatuhan terhadap sanksi.

    Meski begitu, CEO Tether Paolo Ardoino menyatakan bahwa pihaknya akan mematuhi regulasi yang ditetapkan dalam Undang-Undang GENIUS, bahkan berencana meluncurkan stablecoin domestik berdasarkan kerangka hukum baru ini.

    Daya Tarik Bagi Penerbit Korporat dan Potensi Dampaknya

    Dengan GENIUS, peluang terbuka lebar bagi bank besar dan perusahaan non-kripto untuk ikut serta dalam ekosistem stablecoin. Namun hal ini juga memunculkan tantangan bagi pemain lama seperti USDC dan Tether.

    Menurut Catalini, keunggulan Tether di pasar internasional cukup kuat, sehingga dampak dari regulasi baru ini mungkin lebih terasa bagi pesaing lokal seperti USDC. Di sisi lain, banyak penerbit korporat diperkirakan akan melangkah secara hati-hati, dimulai dengan proyek percontohan skala kecil untuk membangun pengalaman dan kepercayaan.

    Efek pada Permintaan Utang AS dan Dominasi Dolar

    Pemerintah AS melihat peluang besar dari penerapan GENIUS. Menteri Keuangan Scott Bessent memperkirakan kapitalisasi stablecoin berbasis dolar bisa melonjak hingga $2 triliun, yang secara langsung akan meningkatkan permintaan atas aset-aset utang AS, mengingat stablecoin diwajibkan didukung 100% oleh dolar atau instrumen serupa.

    Namun tidak semua pihak sependapat. Markus Hammer dari HammerBlocks menyebut bahwa kepercayaan terhadap dolar AS justru mulai mengalami erosi, terutama di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global yang kompleks.

    Kapitalisasi pasar USDt sebesar $163,7 miliar mencakup 61,7% dari seluruh stablecoin. Sumber: CoinGecko.
    Kapitalisasi pasar USDt sebesar $163,7 miliar mencakup 61,7% dari seluruh stablecoin. Sumber: CoinGecko.

    Tanpa Imbal Hasil, Apakah Stablecoin AS Akan Ditinggalkan?

    Salah satu aturan kontroversial dalam Undang-Undang GENIUS adalah pelarangan pemberian bunga atau imbal hasil bagi pemegang stablecoin. Kebijakan ini berpotensi mengurangi daya tarik stablecoin domestik sebagai penyimpan nilai, khususnya di negara berkembang.

    Christopher Perkins dari CoinFund mengatakan bahwa tanpa imbal hasil, stablecoin menjadi aset yang terdepresiasi. Investor kemungkinan akan beralih ke protokol DeFi berbasis Ethereum untuk mencari return pasif, yang secara tidak langsung bisa menghidupkan kembali sektor DeFi sebagai alternatif investasi.

    Kesimpulan: Langkah Maju yang Masih Perlu Penyesuaian

    Undang-Undang GENIUS merupakan tonggak penting dalam sejarah regulasi stablecoin. Ia menetapkan standar baru untuk penerbitan token yang didukung dolar, memberi sinyal kuat terhadap adopsi arus utama dan legitimasi sektor stablecoin.

    Undang-Undang GENIUS mengizinkan stablecoin yang diterbitkan di luar negeri untuk dijual di AS jika mata uang tersebut tunduk pada rezim regulasi dan pengawasan yang “sebanding”. Sumber: Undang-Undang GENIUS/Kongres AS.
    Undang-Undang GENIUS mengizinkan stablecoin yang diterbitkan di luar negeri untuk dijual di AS jika mata uang tersebut tunduk pada rezim regulasi dan pengawasan yang “sebanding”. Sumber: Undang-Undang GENIUS/Kongres AS.

    Namun, tantangan besar tetap mengintai: mulai dari ketidakjelasan definisi untuk penerbit asing, potensi dominasi penerbit korporat besar, hingga dilema antara keamanan regulasi dan inovasi imbal hasil. Dengan stablecoin yang disebut sebagai aplikasi blockchain paling berguna hingga saat ini, regulasi GENIUS akan terus menjadi sorotan utama bagi masa depan ekosistem kripto global.

    “Stablecoin mungkin bukan alat pembayaran utama, tapi ia akan menjadi pemicu persaingan dalam sistem keuangan global,” ujar Timothy Massad, mantan Ketua CFTC.

    Baca juga: China Serius Garap Stablecoin-RWA, Ubah Peta Aset Digital Global


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • JP Morgan dan Coinbase: Kripto Lebih Mudah dengan Kartu Kredit

    JP Morgan Chase, bank terbesar di Amerika Serikat, resmi mengumumkan kerja sama dengan platform kripto Coinbase.

    Mulai musim gugur 2025, pemegang kartu kredit Chase dapat langsung membeli aset kripto di Coinbase.

    Kolaborasi ini menjadi langkah yang menandai titik balik bagi penerimaan kripto oleh lembaga keuangan mainstream.

    Fitur Utama Kerja Sama Ini

    1. Pembelian Crypto via Kartu Kredit Chase
      Nasabah Chase dapat menggunakan kartu kreditnya untuk mendanai akun Coinbase dan membeli cryptocurrency dengan mudah tanpa perlu transfer bank terpisah. Kerjasama ini akan diluncurkan pada musim gugur 2025.
    2. Tukar Poin Reward Chase ke Crypto Mulai 2026
      Mulai tahun depan, nasabah bisa menautkan akun Chase langsung ke Coinbase dan mengonversi poin Chase Ultimate Rewards menjadi USDC, stablecoin yang terikat ke dolar AS. Setiap 100 poin setara $1 crypto (USDC).
    3. Integrasi Bank‑to‑Wallet
      Melalui integrasi API yang aman, Chase dan Coinbase memungkinkan tautan langsung antara akun bank Chase dan dompet Coinbase, mempermudah proses pembelian dan keamanan transaksi.

    Baca Juga: Pionir! JP Morgan Beri Pinjaman Dengan Jaminan Bitcoin dan Ethereum

    Tonggak Sejarah Baru

    • Bank Pertama yang Memudahkan Pembelian Crypto Pakai Kartu Kredit
      JPMorgan menjadi pelopor di antara bank besar AS yang memberikan opsi ini yang memberi sinyal bahwa kripto semakin diterima dalam layanan keuangan arus utama.
    • Potensi Ekspansi 80 Juta Nasabah
      Akses langsung ke basis nasabah Chase memungkinkan Coinbase menjangkau lebih banyak pengguna tanpa melalui perantara pihak ketiga yang biasanya menambah friksi seperti biaya dan kompleksitas.
    • Regulasi Kripto yang Semakin Menjanjikan
      Langkah ini datang seiring Regulasi yang semakin jelas di AS, seperti melalui inisiatif pemerintahan Trump dan SEC yang menghadirkan kerangka hukum lebih ramah bagi aset digital.

    Dampak ke Saham dan Ekuitas

    Pasca pengumuman kerjasama ini, saham Coinbase melonjak sekitar 3% di sesi pra-bursa, membalikan tren penurunan selama tujuh hari sebelumnya.

    Nilai pasar Coinbase kini mencapai sekitar $95 miliar, dan dipastikan masuk ke dalam indeks S&P 500. JP Morgan juga mencatat kenaikan sekitar 0,5% pada sahamnya.

    Namun dalam laporan laba Q2 2025 baru-baru ini, Coinbase gagal memenuhi ekspektasi di banyak metrik: pendapatan transaksi turun, revenue institusi melemah, dan biaya operasional membengkak.

    Saham sempat anjlok 16,7% setelah publikasi hasil. Meskipun demikian, ekspansi layanan melalui kemitraan seperti ini diyakini mampu menjadi katalis pemulihan harga saham ke depan.

    Tantangan dan Peringatan

    • Pengaturan Transaksi Kartu Kredit
      Beberapa pengguna Reddit mencatat bahwa pembelian kripto dengan kartu kredit kemungkinan dikategorikan sebagai cash advance, yang sering kena fee dan bunga lebih tinggi, sehingga perlu diperhatikan penggunaannya.
    • Ketergantungan Regulasi Aman dan Stabil
      Transformasi keuangan yang aman bagi publik membutuhkan kepastian regulasi. PNC Bank, contohnya, juga menjalin kerja sama serupa sebelumnya—semua ini menuntut aturan jelas agar tidak ada risiko hukum di masa depan.
    • Risiko Volatilitas Aset
      Meskipun stablecoin seperti USDC menawarkan kestabilan nilai, risiko volatil masih besar saat membeli aset kripto volatile. Nasabah perlu berhati-hati dan memahami bahwa reward poin dapat menjadi leverage jika tidak dikelola dengan baik.

    Pandangan Masa Depan

    Kerja sama JP Morgan–Coinbase membuka pintu bagi integrasi lebih dalam antara layanan keuangan tradisional dan aset digital.

    Dengan memudahkan pembelian kripto dan memanfaatkan poin kartu kredit sebagai alat investasi modern, inisiatif ini bisa memicu adopsi kripto skala besar.

    Investor dan pengamat industri menilai langkah ini sebagai titik balik penting. JP Morgan tidak hanya memperluas inklusi keuangan, tetapi juga menjadi jembatan antara tradfi dan kripto melalui produk yang aman dan identitas brand tepercaya.

    Baca Juga: AERO Naik 40%: Dorongan Coinbase dan Permintaan Tinggi

    Fitur Periode
    Beli crypto via kartu kredit Chase Musim Gugur 2025
    Tautkan akun bank ke Coinbase Mulai 2026
    Tukar reward poin Chase ke USDC Mulai 2026 (100 poin = $1)
    Dampak terhadap saham Coinbase +3%, JPM +0.5%

    Dengan langkah pionir ini, JP Morgan dan Coinbase membawa blockchain satu langkah lebih dekat ke mainstream finansial.

    Integrasi ini bukan hanya soal teknologi, tetapi strategi besar untuk memperluas akses aset digital secara aman dan fleksibel bagi jutaan pengguna.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Visa Tambah 3 Stablecoin dan 2 Blockchain Baru

    Raksasa pembayaran global, Visa, kembali menegaskan komitmennya terhadap teknologi blockchain dengan memperluas dukungan untuk aset kripto, khususnya stablecoin, sebagai bagian dari infrastruktur penyelesaian global mereka.

    Dalam siaran pers terbaru, Visa mengumumkan bahwa mereka kini mendukung tiga stablecoin tambahan dan dua jaringan blockchain baru, memperluas jangkauan dan fleksibilitas solusi kripto mereka untuk mitra dan pelanggan di seluruh dunia.

    Kemitraan Baru, Dukungan Lebih Luas

    Lewat kemitraan strategis dengan Paxos, Visa kini mendukung dua stablecoin berbasis dolar AS lainnya, yaitu:

    • Global Dollar (USDG)
    • PayPal USD (PYUSD)

    Keduanya disebut sebagai stablecoin yang “tepercaya dan transformatif”, yang akan melengkapi opsi stablecoin yang sebelumnya sudah digunakan dalam jaringan Visa.

    Tak hanya menambah aset, Visa juga memperluas jangkauan blockchain yang didukung. Jika sebelumnya Visa hanya mendukung Ethereum dan Solana, kini mereka juga menambahkan Stellar dan Avalanche ke dalam sistem penyelesaian mereka.

    Dilaporkan Daily Hodl, Visa bahkan mulai menjajaki stablecoin lintas mata uang, termasuk integrasi EURC dari Circle yang didukung oleh euro, memperluas cakupan geografis dan mata uang dari sistem pembayarannya.

    Baca juga: Stablecoin Tumbuh Pesat, Lampaui Fintech Lain Berkat Ethereum

    Fondasi Multi-Koin dan Multi-Rantai

    Rubail Birwadker, Kepala Produk Pertumbuhan dan Kemitraan Strategis Global Visa, menjelaskan visi jangka panjang perusahaan:

    “Visa sedang membangun fondasi multi-koin dan multi-rantai untuk membantu memenuhi kebutuhan mitra kami di seluruh dunia. Kami percaya bahwa ketika stablecoin tepercaya, terukur, dan dapat dioperasikan, stablecoin dapat mengubah secara fundamental cara uang bergerak di seluruh dunia.”

    Stablecoin dan Regulasi: Visa Bersiap untuk Akselerasi

    Langkah agresif Visa ini datang di tengah momentum regulasi yang mulai berpihak pada stablecoin. CEO Visa, Ryan McInerney, dalam pernyataannya bulan lalu menyebut bahwa perusahaan telah bertahun-tahun mempersiapkan diri untuk era stablecoin:

    “Kami telah membangun selama bertahun-tahun, mempersiapkan momen ini. Dengan disahkannya Undang-Undang GENIUS di Senat dan kemungkinan besar akan lolos di DPR, kami melihat regulasi stablecoin mulai jelas. Visa telah memungkinkan penerbitan kredensial Visa di atas stablecoin dan memodernisasi infrastruktur penyelesaian kami dengan teknologi ini.”

    McInerney menambahkan bahwa Visa siap meluncurkan berbagai inovasi berbasis stablecoin secara global, menandai era baru dalam pembayaran digital yang cepat, aman, dan transparan.

    Baca juga: China Serius Garap Stablecoin-RWA, Ubah Peta Aset Digital Global


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com