Tag: blockchain

  • Rhode Island Dukung Inovator Teknologi & Blockchain

    Rhode Island memang merupakan sebuah tempat yang sangat prestisius dan juga menjanjikan bagi ekosistem suatu bisnis. Ini bisa dilihat kalau sebuah negara yang sudah memiliki ekosistem yang baik dalam menunjang kegiatan bisnis dari sisi regulasi dan lain sebagainya, pertumbuhan ekonomi di sebuah negara tersebut akan semakin meningkat khususnya melalui jalur investasi.

    Hal inilah yang ingin diciptakan oleh Rhode Island dengan cara menjadi  salah satu tempat terbaik bagi dunia teknologi dan blockchain, setidaknya ada usulan dua perwakilan negara AS di Rhode Island, yang memperkenalkan rancangan undang-undang baru yang mempromosikan blockchain dan adopsi teknologi.Kedua perwakilan negara AS di Rhode Island itu adalah David Place dan Blake Filippi, memperkenalkan rancangan undang-undang baru yang berjudul “Rhode Island Economic Growth Blockchain Act”. Di mana, Rancangan Undang-Undang Baru (RUU) ini bertujuan untuk semakin menumbuhkan inovasi pada blockchain serta membuat Rhode Island tidak ketinggalan zaman alias mengikuti tren teknologi yang sedang berkembang.

    Dalam RUU tersebut berbunyi:

    “Bahwa Rhode Island ingin menawarkan kepada para pengiat teknologi sebagai salah satu lingkungan bisnis terbaik di Amerika Serikat yang sangat ramah bagi ekosistem blockchain dan inovator teknologi, dan juga menawarkan regulasi terkait mekanisme keamanan teknologi yang komprehensif bagi para inovator. Hal ini bertujuan sebagai langkah pengembangan produk dan layanan digital berkelanjutan di Rhode Island.”

    Selain itu dalam RUU tersebut juga tertuang dan menyuarakan keinginan untuk sistem pengarsipan dan pencatatan berbasis blockchain, dan menyoroti manfaat dari penerapan blockchain dalam sektor keuangan dan kesehatan.

    Di dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) tersebut  juga ditekankan bahwa diperlukan perubahan dari kerangkan hukum yang saat ini berlaku karena membatasi inovasi teknologi. Lantas, dibutuhkan sebuah mekanisme teknologi yang bisa menjamin keamanan pengguna dan juga para inovator teknologi saat mengembangkan produk dan layanan digitalnya.

    Negara bagian Amerika Serikat Rhode Island adalah satu negara bagian yang telah mengajukan usulan undang-undang kripto dan blockchain.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Zynga Bangun Infrastruktur Game Berbasis Blockchain

    Perusahaan game Zynga sedang membangun infrastruktur berbasis blockchain, yang dikenal sebagai Gala Network. Ini akan memungkinkan pengembang untuk membuat game baru dan memungkinkan pemain untuk memiliki konten dalam game mereka dan mengambil item dari satu game ke game lainnya.

    Zynga telah menciptakan sejumlah  game media sosial, yang paling terkenal adalah Farmville yang terkenal di Facebook.

    Eric Schiermeyer, salah satu pendiri Zynga, berharap Gala Network akan memanfaatkan sifat abadi dari blockchain dan kegunaan cryptocurrency.

    “Ini akan menjadi pengalaman revolusioner bagi orang-orang, tidak seperti pengalaman lain yang pernah saya lihat, ketika Anda menghabiskan uang di sini, Anda benar-benar mendapatkan sesuatu, sesuatu yang dapat Anda simpan, dan mungkin bahkan memberikan atau memberikannya kepada orang lain, Anda tidak dapat melakukan itu di permainan tradisional gratis saat ini, ” ,” kata Schiermeyer, berbicara kepada VentureBeat. “

    Blockchain Game Partners,  perusahaan di balik rencana besar Schiermeyer  juga bekerja sama dengan Mike McCarthy, direktur kreatif di FarmVille 2. McCarthy saat ini sedang mengerjakan game blockchain yang dikenal dengan Townstar, yang akan dibangun di Gala Network. Ini memancarkan banyak properti yang ingin diperkenalkan oleh Schiermeyer di line-up-nya sendiri.

    Townstar memungkinkan pemain untuk benar-benar memiliki barang yang mereka beli atau hasilkan, memfasilitasi pembelian, penjualan, dan perdagangan yang aman melalui pasar peer-to-peer.

    Item-item dalam game ini mewujudkan tingkat kelangkaan yang sebenarnya karena mereka unik secara digital. Mereka mirip dengan Cryptokitties, sebuah permainan berbasis Ethereum yang menjadi viral di akhir 2017.

    Baca juga: Main Game di Minecraft Bisa Dapat Bitcoin!

    Mendapatkan uang dari dunia game

    Dengan keunikan digital yang melekat pada token, pemain dapat menjual barang mereka dengan uang tunai dunia nyata.

    “Sama seperti game jaringan dan game sosial saya percaya bahwa game blockchain adalah evolusi berikutnya dalam game,” Schiermeyer berpendapat.

    “Tidak lama lagi, tidak ada yang akan memainkan permainan yang merupakan lubang hitam waktu dan uang, jika mereka memiliki alternatif bagus yang memungkinkan pemain mempertahankan kepemilikan waktu dan uang mereka, ” tambahnya.

    Berkat kemampuan ini untuk memberi tokenize item dalam game dan memberikan nilai asli kepada para pemain, game disebut sebagai salah satu titik kritis untuk adopsi massal blockchain.

    Namun, Schiermeyer tidak hanya ingin memungut popularitas game blockchain. Sebagai gantinya, ia bermaksud untuk membangun game yang berdiri di atas kemampuan mereka sendiri.

    “Kami ingin menjadi yang pertama dengan game pasar massal nyata yang merupakan game pertama dan blockchain yang kedua, ” katanya lagi.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Alibaba Sokong Dana bagi Startup Blockchain

    QEDIT, sebuah startup pengembang teknologi blockchain, belum lama ini mendapatkan sokongan dana investasi dari Ant Financial, anak perusahaan Alibaba Group yang bergerak di bidang keuangan. about Tak hanya Ant Financial yang menyokong QEDIT, perusahan lainnya ikut serta, yakni WMWare dan RGAX, anak perusahaan Reinsurance Group, Amerika Serikat dan Meron Capital.

    “Ant Financial memiliki visi serupa dengan QEDIT untuk melindungi privasi data, terlebih-lebih untuk sektor keuangan sangat penting memiliki ukuran baru. Bersama QEDIT, Ant Financial akan menyediakan kemampuan seperti itu, sebagai bagian dari layanan blockchain kami,” kata Geoff Jiang, Wakil Presiden Ant Financial kepada Coindesk.

    Bukanlah rahasia umum bahwa Alibaba menggenjot penelitian, pengembangan dan investasi besar-besaran di bidang teknologi keuangan. Mereka paham betul perihal potensinya untuk membawa efisiensi bisnis di tingkat yang lebih tinggi.

    BERITA TERKAIT Lacak Produk, Nestle dan Carrefour Pakai Teknologi Blockchain

    Alibaba, perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma kini sudah mengantongi 90 paten teknologi blockchain. Alibaba menempati peringkat pertama dunia di antara perusahaan dan organisasi yang lain, berdasarkan riset iPR Daily, 4 September 2018. Jikalau dengan hitungan “matematika polos” terhitung sejak ditemukannya teknologi blockchain oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2008, maka Alibaba mematenkan karyanya satu setiap tahun.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • eFishery Bangun Koperasi Digital Berbasis Blockchain, Apa Itu?

    Startup akuakultur, eFishery mengumumkan pendirian koperasi digital berbasis teknologi blockchain untuk pengembangan sektor perikanan di Indonesia. Entitas yang dinamakan Koperasi Multipihak Tumbuh Bersama Pembudidaya ini diumumkan dalam perayaan 10 tahun berdirinya eFishery di Bandung, Rabu (11/10).

    Dilaporkan Tempo, Co-founder & CEO eFishery, Gibran Huzaifah, menjelaskan koperasi digital tersebut menggabungkan seluruh komponen dalam ekosistem yang dibangun eFishery. “Kita membentuk koperasi multipihak yang para pembudidaya, agen pakan, buyer, suplier itu bisa tergabung di koperasi dan transaksinya bisa terwujud di koperasi ini,” jelasnya.

    “Yang menarik dari koperasi ini basisnya digital dan blockchain. Jadi karena transaksi ini bisa menghubungkan keseluruhan datanya dan akhirnya bisa punya insentif yang lebih banyak supaya semua pemainnya ini bisa makin sejahtera. Jadi kolaborasi ini yang jadi semangat koperasi ini.”

    Dorong Pertumbuhan

    Gibran mengklaim koperasi yang dibentuk eFishery tersebut menjadi koperasi multipihak pertama di Indonesia. Koperasi nantinya akan menggunakan data blockhain yang dibangun dan akan terhubung langsung dengan global buyer.

    “Ini koperasi multipihak pertama untuk sektor perikanan,” ungkap Gibran.

    eFishery bangun koperasi digital berbasis blockchain. Sumber: YouTube eFishery.
    eFishery bangun koperasi digital berbasis blockchain. Sumber: YouTube eFishery.

    Baca juga: Mastercard Uji CBDC dengan Jaringan Ethereum di Australia

    Dilansir DealStreetAsia, Chief Product Officer dan salah satu pendiri eFishery, Chrisna Aditya, menjelaskan dengan adanya koperasi multipihak, 200.000 mitra petani ikan akan memperoleh pakan ikan dan menjual produk mereka dengan mudah menggunakan aplikasi, sehingga mereka dapat lebih fokus pada budidaya.

    Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, secara langsung menyerahkan sendiri Surat Keputusan Pendirian Badan Hukum Koperasi Multipihak Tumbuh Bersama Pembudidaya pada Gibran mewakili eFishery di acara seremoni 10th Annifishery di Sasana Budaya Ganesha Bandung, Rabu (11/10).

    Teten menilai tepat langkah eFishery mendirikan koperasi. “Dari suatu kegiatan ekonomi produksi yang melibatkan banyak pihak itu memang cocok dengan koperasi multipihak sehingga sirkular ekonominya ini untuk memperbesar langsung pihak yang terlibat, dan ini sangat bagus, dan saya kira ini akan sangat men-support ekosistem. Dan ini melibatkan petambak-petambak kecil dan menyebar di berbagai tempat,” katanya.

    Adopsi Blockchain untuk Sektor Perikanan

    Peresmian koperasi digital milik eFishery hadir tak lama setelah pengumuman bursa ikan berbasis blockchain yang dibangun atas kolaborasi ID FOOD dan D3 Labs. Anak perusahaan ID FOOD, PT Perikanan Indonesia berencana untuk menggunakan platform pelelangan ikan real-time berbasis teknologi blockchain sebagai salah satu langkah penting dalam mendorong digitalisasi perdagangan ikan yang sebelumnya bersifat manual.

    Bursa Ikan Berbasis Blockchain Hadir di Indonesia. Sumber: D3 Labs.
    Bursa Ikan Berbasis Blockchain Hadir di Indonesia. Sumber: D3 Labs.

    Baca juga: Bursa Ikan Berbasis Blockchain Hadir di Indonesia

    Program ini dikenal dengan nama Indonesia Fishery eXchange (IFX) dan diharapkan segera beroperasi. Kolaborasi ini menggunakan aplikasi yang dikembangkan oleh D3 Labs untuk menciptakan Indonesia Fishery eXchange (IFX), sebuah platform bursa ikan real-time yang mengadopsi teknologi blockchain sebagai pilar utama dalam proses digitalisasi perdagangan ikan yang selama ini masih mengandalkan sistem manual. Rencananya, platform ini akan segera memulai operasinya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

    Dengan penggunaan teknologi blockchain, IFX diharapkan akan memberikan sejumlah manfaat signifikan bagi industri perikanan, seperti pemantauan stok ikan yang lebih efisien, proses lelang yang lebih transparan, kemudahan dalam transaksi digital, sistem Know Your Customer (KYC), dan manajemen akun yang cermat untuk mencegah adanya transaksi dari pihak pembeli yang tidak sah. Lebih dari itu, IFX juga akan mengintegrasikan diri dengan pasar penjualan digital di luar negeri.


    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMER: Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi Anda. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi Anda.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mastercard Uji CBDC dengan Jaringan Ethereum di Australia

    Mastercard baru-baru ini menyelesaikan uji coba central bank digital currency (CBDC) bekerja sama dengan Reserve Bank of Australia (RBA) dan Digital Finance Cooperative Research Centre (DFCRC). Proyek ini mengeksplorasi kemampuan Mastercard untuk mengaktifkan transaksi CBDC di jaringan blockchain Ethereum publik.

    Secara khusus, Mastercard menunjukkan bagaimana teknologinya memungkinkan pemegang CBDC percontohan untuk membeli non-fungible token (NFT) yang terdaftar di blockchain Ethereum publik. Untuk mengaktifkan hal ini, solusi tersebut mengunci jumlah CBDC yang diperlukan pada platform RBA sambil mencetak token yang dibungkus di Ethereum.

    Hal ini menunjukkan kemampuan Mastercard untuk mempertahankan kontrol dan kepatuhan yang diperlukan bahkan ketika bertransaksi CBDC di blockchain publik seperti Ethereum. Perusahaan memanfaatkan penawaran Jaringan Multi Token dan Kredensial Kripto yang berfokus pada standar verifikasi dan interoperabilitas yang dapat diskalakan.

    “Mastercard telah melihat adanya permintaan dari konsumen untuk berpartisipasi dalam perdagangan di berbagai blockchain, termasuk blockchain publik,” kata Richard Wormald, Presiden Australasia di Mastercard.

    Selain Mastercard, proyek ini juga melibatkan perusahaan pembayaran Australia Cuscal dan pasar NFT Mintable.

    Membuka Jalan Masa Depan Perbankan di Australia

    Ilustrasi perdagangan aset kripto di Australia. Sumber: Shutterstock.
    Ilustrasi perdagangan aset kripto di Australia. Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Inflasi AS Diumumkan Tetap Tinggi, Ini Reaksi Pasar Kripto dan Bitcoin

    Zach Burks , CEO dan pendiri Mintable, peserta program pengembangan Start Path Mastercard mengatakan: “Potensi besar NFT terlihat jelas selama percontohan CBDC progresif ini. Bersama Mastercard, kami telah mengidentifikasi kasus penggunaan di mana mata uang digital dan NFT dapat dengan mudah dihubungkan, sehingga berpotensi menghilangkan penipuan dan pencurian, mengakhiri hilangnya dokumentasi dan catatan, dan membuka kemungkinan baru untuk perdagangan.

    “Mintology, cabang B2B Mintable, membuat NFT lebih mudah diakses dan bernilai dengan penggunaan baru yang inovatif. Meskipun mata uang digital masih dalam tahap awal, NFT sudah digunakan untuk media baru, gamifikasi, identitas digital, program loyalitas, tiket, otentikasi, sertifikasi, dan banyak lagi.”

    Nathan Churchward , pemimpin domain, pembayaran di Cuscal, menambahkan: “Sangat menyenangkan bisa bermitra lebih jauh dengan Mastercard untuk mendukung masa depan perbankan dan pembayaran di Australia.”

    Proyek percontohan CBDC Reserve Bank of Australia (RBA) dengan Digital Finance CRC (DFCRC) mengeksplorasi potensi kasus penggunaan CBDC di Australia. Proyek ini melibatkan RBA yang mengeluarkan CBDC ‘percontohan’ skala terbatas yang merupakan klaim hukum nyata terhadap RBA. CBDC percontohan digunakan oleh peserta industri terpilih untuk menunjukkan bagaimana CBDC dapat digunakan untuk menyediakan layanan pembayaran dan penyelesaian yang inovatif kepada rumah tangga dan bisnis Australia.


    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading jadi lebih mudah.

    DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pengertian Tentang Coin Mixing dan CoinJoin

    Coin Mixing dan CoinJoin merupakan dua konsep penting dalam ekosistem aset kripto, terutama Bitcoin, yang bertujuan untuk meningkatkan tingkat privasi dan anonimitas dalam transaksi.

    Bitcoin sering digambarkan sebagai uang digital, tetapi perbandingan ini perlu dicermati. Ketika Alice membayar Bob dengan sepuluh dolar tunai, Bob tidak memiliki informasi mengenai asal usul uang tersebut. Begitu Bob memberikannya kepada Carol, Carol tidak dapat melacaknya kembali ke Alice.

    Bitcoin, di sisi lain, memiliki sifat yang lebih transparan. Riwayat setiap koin yang pernah digunakan (terutama output transaksi yang belum terpakai atau Unspent Transaction Output/UTXO) dapat dengan mudah dilihat oleh siapa saja. Ini mirip dengan mencatat jumlah dan nama pihak yang terlibat dalam setiap transaksi yang tercatat.

    Dalam upaya untuk menjaga privasi penggunanya, Bitcoin memungkinkan pengguna untuk menggunakan alamat-alamat publik anonim. Namun, privasi ini belum optimal. Seiring perkembangan analisis blockchain yang semakin canggih, identifikasi pemilik alamat menjadi lebih efisien seiring waktu. Selain itu, pihak-pihak tertentu yang berkepentingan dalam menganalisis blockchain dapat mengungkapkan identitas pengguna mata uang kripto. Untuk mengatasi masalah ini, berbagai teknik pengaburan tautan transaksi telah dikembangkan selama bertahun-tahun.

    Apa Itu Coin Mixing?

    Secara umum, Coin Mixing adalah istilah yang merujuk kepada tindakan yang mengaburkan asal usul dana dan menukarnya dengan dana lainnya. Dalam konteks mata uang kripto, coin mixing biasanya terkait dengan layanan yang disediakan oleh pihak ketiga. Penyedia layanan ini mengambil koin dari pengguna (biasanya dengan sedikit biaya) dan mengembalikan koin yang tidak dapat dilacak kembali ke koin yang sebelumnya dikirimkan oleh pengguna. Layanan semacam ini juga dikenal dengan sebutan tumbler atau mixer.

    Namun, keamanan dan anonimitas dalam layanan sentralisasi semacam ini sering menjadi perdebatan. Pengguna tidak memiliki jaminan bahwa dana mereka akan dikembalikan oleh mixer, atau bahwa koin yang dikembalikan tidak mengandung cacat atau jejak yang dapat diikuti. Selain itu, penggunaan mixer seringkali dapat mencatat alamat IP dan alamat Bitcoin oleh pihak ketiga. Akibatnya, pengguna sering harus menyerahkan kendali penuh atas dana mereka dengan harapan mendapatkan kembali koin yang tidak memiliki hubungan dengan transaksi sebelumnya.

    Pendekatan yang lebih menarik muncul dalam bentuk transaksi CoinJoin, yang memberikan tingkat penyangkalan yang lebih masuk akal (plausible deniability). Dengan kata lain, setelah keluar dari proses CoinJoin, tidak ada bukti yang dapat menghubungkan pengguna dengan transaksi mereka sebelumnya. Sebagian besar solusi CoinJoin juga memberikan opsi desentralisasi kepada para pengguna. Meskipun mungkin terdapat koordinator yang terlibat, pengguna tidak perlu menyerahkan pengawasan penuh atas dana mereka.

    Apa Itu CoinJoin?

    Konsep transaksi CoinJoin awalnya diajukan oleh pengembang Bitcoin, Gregory Maxwell, pada tahun 2013. Dalam proposalnya, ia memberikan penjelasan singkat tentang bagaimana transaksi CoinJoin dapat dibentuk dan bagaimana tingkat privasi yang signifikan dapat dicapai tanpa mengubah protokol Bitcoin.

    Pada dasarnya, CoinJoin melibatkan penggabungan input dari berbagai pengguna ke dalam satu transaksi tunggal. Sebelum kita bahas bagaimana dan mengapa hal ini dilakukan, mari kita lihat struktur dasar dari sebuah transaksi Bitcoin.

    Transaksi Bitcoin terdiri dari input dan output. Ketika seorang pengguna ingin melakukan transaksi, mereka memilih Unspent Transaction Output (UTXO) sebagai input, menentukan output, dan menandatangani input tersebut. Penting untuk dicatat bahwa setiap input ditandatangani secara independen, dan pengguna memiliki kemampuan untuk mengatur beberapa output yang berpindah ke alamat yang berbeda.

    Ilustrasi CoinJoin. SUmber: Binance Academy.
    Ilustrasi CoinJoin. SUmber: Binance Academy.

    Misalnya, jika kita mengamati sebuah transaksi yang menggunakan empat input (masing-masing bernilai 0,2 BTC) dan dua output (0,7 BTC dan 0,09 BTC), ada beberapa asumsi yang dapat dibuat. Pertama, kita melihat adanya pembayaran, dimana pengirim mengirim salah satu output ke penerima dan mengembalikan sejumlah uang ke dirinya sendiri. Karena empat input digunakan, output yang lebih besar mungkin untuk penerima. Perlu diperhatikan bahwa terdapat biaya sebesar 0,01 BTC yang diberikan kepada penambang.

    Asumsi lain yang dapat dibuat adalah bahwa setiap input ditandatangani secara independen. Ini berarti bahwa transaksi dapat melibatkan hingga empat pihak yang berbeda yang menandatangani input. Inilah prinsip dasar yang membuat proses CoinJoin menjadi efektif dalam menjaga privasi transaksi pengguna.

    Bagaimana CoinJoin Beroperasi?

    Cara kerja CoinJoin adalah kolaborasi antara banyak pihak untuk membuat satu transaksi bersama. Setiap peserta memberikan input dan output yang mereka inginkan. Karena semua input digabungkan dalam transaksi tunggal, sulit untuk mengidentifikasi dengan pasti output mana yang dimiliki oleh setiap peserta. Mari kita perhatikan diagram berikut:

    Ilustrasi cara kerja CoinJoin. SUmber: Binance Academy.
    Ilustrasi cara kerja CoinJoin. SUmber: Binance Academy.

    Dalam contoh ini, ada empat peserta yang ingin mengaburkan jejak transaksi mereka. Mereka berkoordinasi melalui koordinator atau saling berkomunikasi untuk menyepakati input dan output yang akan mereka masukkan dalam transaksi.

    Koordinator akan mengumpulkan semua informasi ini, menyusunnya menjadi transaksi, dan meminta setiap peserta untuk menandatanganinya sebelum disiarkan ke jaringan. Setelah ditandatangani, transaksi tidak dapat diubah lagi, menjaga agar koordinator tidak dapat menyalahgunakan dana peserta.

    Transaksi ini berfungsi sebagai kotak hitam untuk mencampurkan koin. Perlu dicatat bahwa dalam proses ini, kita efektif mengganti UTXO yang ada dengan yang baru. Satu-satunya tautan yang ada antara UTXO lama dan yang baru adalah transaksi itu sendiri. Namun, dengan semakin banyaknya input dan output, sulit untuk mengidentifikasi siapa yang memiliki apa. Paling-paling, kita hanya dapat menduga bahwa salah satu peserta telah memberikan salah satu input dan mungkin menjadi pemilik output yang dihasilkan.

    Namun, ini juga tidak dapat dipastikan dengan pasti. Dalam melihat transaksi di atas, siapa yang dapat mengatakan apakah ada empat peserta yang berbeda atau hanya satu orang yang mengirim dana ke empat alamatnya sendiri? Atau mungkin dua orang yang melakukan dua pembelian terpisah dan mengembalikan uang ke alamat masing-masing? Ataukah empat orang yang mengirimkan dana kepada peserta baru atau mengembalikannya ke diri mereka sendiri? Kita tidak memiliki jawaban pasti.

    Privasi Melalui Penyangkalan

    Fakta bahwa CoinJoin bisa diterapkan telah menggoyahkan metode analisis transaksi yang digunakan. Kita bisa menyimpulkan bahwa CoinJoin telah terjadi dalam banyak kasus, namun tetap tidak dapat memastikan siapa pemilik output-nya. Dengan semakin populerinya metode ini, asumsi bahwa semua input dimiliki oleh satu pengguna semakin tidak relevan. Ini merupakan lompatan besar dalam meningkatkan privasi di seluruh ekosistem kripto.

    Dalam contoh sebelumnya, kita mengatakan bahwa transaksi memiliki sekumpulan anonimitas dari empat pihak – pemilik output bisa jadi salah satu dari empat peserta yang terlibat. Semakin tinggi tingkat anonimitas yang dihasilkan, semakin sulit bagi pihak luar untuk melacak transaksi kembali ke pemilik aslinya. Untungnya, implementasi CoinJoin yang baru-baru ini tersedia memudahkan pengguna untuk menggabungkan input mereka dengan yang lain, memberikan tingkat penyangkalan yang tinggi. Bahkan ada transaksi yang melibatkan 100 orang peserta baru-baru ini.

    Kesimpulan

    Alat untuk mencampur koin merupakan tambahan penting bagi pengguna yang serius mengenai privasi. Berbeda dengan usulan peningkatan privasi lainnya (seperti Transaksi Konfidensial), metode ini kompatibel dengan protokol saat ini.

    Bagi mereka yang mempercayai integritas dan metodologi pihak ketiga, layanan mixing mungkin menjadi pilihan yang mudah. Bagi yang lebih memilih alternatif non-kustodian yang dapat diverifikasi, CoinJoin bisa menjadi pilihan yang lebih unggul.

    Proses ini bisa dilakukan oleh pengguna dengan tingkat keahlian teknis yang cukup, atau dengan menggunakan perangkat lunak yang menyederhanakan mekanismenya. Banyak alat semacam itu telah tersedia dan semakin populer, karena pengguna semakin peduli terhadap privasi mereka.


    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy Indonesia



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apakah Era Keemasannya Sudah Lewat?

    Masa depan NFT (Non-Fungible Tokens) menjadi perhatian setelah, dalam beberapa tahun terakhir diperbincangkan hangat di dunia teknologi dan seni, tapi saat ini menurun trennya. Dari seni digital hingga barang koleksi, NFT memberikan identitas dan autentikasi unik bagi aset digital, memberikan peluang bagi seniman dan kreator untuk mendapatkan pengakuan dan pendapatan yang adil. Namun, seperti yang sering terjadi dengan tren teknologi, ada saat-saat ketika kepopuleran mencapai puncaknya dan muncul pertanyaan kritis: Apakah masa jaya NFT telah berlalu?

    Menurut laporan dari platform kripto dappGambl yang berjudul “Dead NFTs: The Changing Landscape of the NFT Market,” hampir 69.795 dari sekitar 73.257 koleksi NFT yang diidentifikasi memiliki nilai kapitalisasi pasar nol di Ethereum (ETH). Artinya, hampir 95% dari pemilik koleksi NFT ini telah menginvestasikan aset yang pada akhirnya tak memiliki nilai. Data ini juga mencerminkan kenyataan bahwa lebih dari 23 juta individu memiliki NFT yang tak memiliki nilai.

    Menyikapi fenomena ini, CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis, menjelaskan bahwa NFT, seperti halnya pasar lainnya, mengalami dinamika pasang-surut. Biasanya, fase awal adopsi teknologi atau tren baru diikuti oleh antusiasme tinggi, yang kemudian dapat diikuti oleh penyesuaian dan koreksi pasar. Penurunan aktivitas dalam beberapa bulan terakhir bukanlah indikasi pasti akhir dari NFT, melainkan sebuah fase transisi.

    “Pasar NFT mengalami fluktuasi alami. Seperti pasar lainnya, pasar NFT juga terpengaruh oleh faktor-faktor seperti tren, permintaan, penawaran, sentimen, dan spekulasi. Beberapa NFT mungkin mengalami kenaikan harga sementara akibat hiruk-pikuk atau publisitas, tetapi kemudian mengalami penurunan karena kekurangan minat atau dukungan jangka panjang,” kata Yudho.

    CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis. Sumber: IDNFT.
    CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis. Sumber: IDNFT.

    Baca juga: ‘Bandar’ Bitcoin Beli 71.155 BTC dalam 6 Minggu Terakhir! Sinyal Bullish?

    Lebih lanjut, Yudho menyampaikan pandangan optimistis tentang masa depan NFT. Meskipun NFT mengalami penyesuaian, banyak indikator menunjukkan bahwa ini bukanlah akhir dari era kejayaannya. Dengan terus berinovasi dan beradaptasi dengan kebutuhan pasar, NFT memiliki potensi untuk kembali berkembang dan memainkan peran yang penting dalam ekosistem digital masa depan.

    “NFT bukanlah sekadar tren sesaat. Kami melihat potensi pertumbuhannya sebagai revolusi dalam industri kreatif dan digital. Masih banyak inovasi yang dapat dikejar. Seperti teknologi lainnya, ada saatnya berfluktuasi, tetapi keyakinan kami adalah bahwa NFT akan bangkit kembali dengan pendekatan yang lebih matang dan inovatif,” jelasnya.

    Tren dan Edukasi

    Menurut penjelasan Yudho, NFT bukan hanya sekadar tren, tetapi sebuah revolusi dalam cara kita memahami kepemilikan aset digital. NFT memungkinkan otentikasi dan verifikasi kepemilikan aset digital, suatu fitur yang sebelumnya sulit dicapai. Ini berarti bahwa di masa depan, berbagai jenis aset digital, mulai dari desain produk hingga hak cipta musik, dapat di-tokenisasi dan diperdagangkan dengan aman.

    Selain itu, meskipun terjadi penurunan, beberapa platform NFT masih mencatatkan transaksi yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap NFT tetap ada, meskipun mungkin dalam bentuk yang berbeda dari puncaknya. Beberapa platform atau proyek NFT tetap populer dan menguntungkan. Sebagai contoh, OpenSea, pasar NFT terbesar, mencatatkan volume perdagangan lebih dari US$ 10 miliar pada bulan Maret 2023. Demikian pula, beberapa game berbasis NFT seperti Axie Infinity atau CryptoKitties masih memiliki basis pengguna dan pendapatan yang besar.

    Volume perdagangan NFT. Sumber: Statista.
    Volume perdagangan NFT. Sumber: Statista.

    Baca juga: Altcoin Ini Paling Banyak Mengikuti Kenaikan Bitcoin, Apa Itu?

    Untuk mengembalikan NFT ke masa kejayaannya, para kreator, kolektor, dan investor NFT mungkin perlu mengambil beberapa langkah. Para kreator harus fokus pada menciptakan NFT yang lebih berkualitas, unik, dan memiliki makna mendalam. Selain itu, perlu ditingkatkan regulasi dan kebijakan yang mendukung perkembangan NFT di masa depan tanpa menghambat kreativitas dan inovasi.

    “Salah satu ciri khas NFT adalah kemampuannya untuk mewakili aset digital yang memiliki nilai seni, budaya, atau sejarah yang tinggi. Oleh karena itu, para pencipta NFT harus berupaya untuk menghasilkan karya-karya yang menampilkan kreativitas, keunikan, dan keahlian mereka. Mereka juga harus menyediakan cerita atau konteks di balik karya-karya mereka, sehingga para kolektor atau investor dapat merasakan ikatan emosional terhadap NFT tersebut,” tambah Yudho.

    Tidak kalah penting adalah upaya untuk mendidik dan mengilhami masyarakat luas tentang NFT. NFT masih merupakan konsep yang asing bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang tidak akrab dengan teknologi blockchain atau kripto.

    “Oleh karena itu, pelaku pasar NFT harus berusaha untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang NFT di kalangan masyarakat luas. Terutama, penting untuk menjelaskan apa itu NFT, bagaimana cara kerjanya, manfaatnya, dan risikonya,” demikian kata Yudho.


    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa Itu Zero-knowledge Proof dan Pengaruhnya Terhadap Blockchain?

    Zero-Knowledge Proof (ZKP) adalah sebuah inovasi kriptografis yang memberikan kemampuan untuk memverifikasi kebenaran suatu informasi tanpa perlu mengungkapkan informasi itu sendiri. Teknologi ini semakin menjadi kunci dalam dunia blockchain, mata uang kripto, dan keuangan terdesentralisasi (DeFi) karena meningkatkan privasi dan keamanan.

    Banyak proyek DeFi telah memanfaatkan ZKP untuk memberikan tingkat privasi dan keamanan yang lebih tinggi kepada pengguna mereka dalam layanan seperti pemberian pinjaman, pengambilan pinjaman, dan perdagangan. 

    Beberapa blockchain Lapisan 1 bahkan telah mengintegrasikan roll-up berbasis ZKP atau zkEVM. Dengan demikian, peran ZKP dalam dunia blockchain dan Web3 diperkirakan akan semakin penting, dengan harapan adopsi yang lebih luas.

    Cara Kerja Zero-Knowledge Proof

    Konsep dasar di balik zero-knowledge proof adalah bahwa satu pihak (pembukti) dapat membuktikan kepada pihak lain (pemverifikasi) bahwa suatu pernyataan benar tanpa harus mengungkapkan informasi tambahan yang sensitif. Teknologi ini sangat berguna ketika informasi yang terlibat sangat rahasia dan pembukti ingin menjaga informasi tersebut tetap terlindungi.

    Pembukti memberikan bukti matematis yang hanya dapat diciptakan oleh dirinya sendiri. Kemudian, pemverifikasi dapat menggunakan bukti tersebut untuk memverifikasi kebenaran pernyataan tersebut. Namun, pemverifikasi tidak akan dapat mengakses atau mengungkapkan informasi asli yang menjadi dasar bukti tersebut.

    Bayangkan suatu analogi: ada sebuah terowongan dengan dua pintu masuk, yaitu pintu A dan B. Terdapat pintu terkunci dengan kode rahasia yang menghalangi akses dari ujung A ke ujung B. Anda mengetahui kode tersebut dan ingin menjualnya kepada Ibu X yang ingin mengakses terowongan tersebut.

    Namun, Anda ingin memastikan bahwa dia membayar terlebih dahulu sebelum Anda mengungkapkan kode tersebut. Ibu X, di sisi lain, ingin Anda membuktikan bahwa Anda benar-benar mengetahui kode tersebut sebelum dia membayar. Dalam situasi ini, Anda dapat melakukan ini dengan berjalan masuk ke dalam terowongan dari pintu A dan keluar dari pintu B di hadapan Ibu X. Dengan melihat tindakan Anda tersebut, dia akan yakin bahwa Anda benar-benar mengetahui kode rahasianya.

    Mengapa Kita Memerlukan Zero-Knowledge Proof?

    Popularitas Zero-Knowledge Proof dalam dunia blockchain dan kripto dipicu oleh meningkatnya permintaan akan privasi dan keamanan dalam transaksi digital. Dengan munculnya teknologi blockchain dan mata uang kripto, ada kebutuhan yang semakin besar untuk dapat memverifikasi transaksi tanpa harus mengungkapkan informasi yang sangat sensitif. Inilah ruang lingkup yang diisi oleh ZKP.

    Zero-Knowledge Proof telah menarik perhatian dan minat yang semakin besar dalam beberapa tahun terakhir. Banyak protokol telah mengadopsi ZKP dan blockchain utama telah mengintegrasikan zero-knowledge roll-up. Sebagai bukti dari popularitas ZKP, konferensi DevCon 2022 mencatat bahwa lebih dari 20% pembicaraan berkaitan dengan teknologi ini.

    Pengembangan Penting

    Dalam dunia Zero-Knowledge Proof, ada dua pengembangan penting yang perlu dicatat. Pertama, adalah penggunaan yang semakin meluas dari zk-SNARK, yaitu jenis khusus dari ZKP. zk-SNARK telah digunakan dalam berbagai aplikasi DeFi, termasuk transaksi token privat serta pemberian dan pengambilan pinjaman yang terlindungi. Pengembangan kedua adalah peningkatan fokus pada skalabilitas dan kinerja zkRoll-up.

    zk-SNARK

    Zero-Knowledge Succinct Non-Interactive Argument of Knowledge (zk-SNARK) adalah jenis khusus dari Zero-Knowledge Proof yang memungkinkan verifikasi pernyataan tanpa harus mengungkapkan informasi tentang pernyataan itu sendiri. Teknologi ini telah digunakan dalam aplikasi seperti Zcash dan sistem pembayaran blockchain milik JP Morgan Chase. Selain itu, zk-SNARK juga digunakan sebagai cara untuk mengautentikasi klien ke server dengan aman.

    zkRoll-up

    zkRoll-up adalah solusi penskalaan untuk jaringan blockchain yang memungkinkan pengelompokan beberapa transaksi ke dalam satu transaksi besar yang dicatatkan pada blockchain. Misalnya, BNB Chain telah meluncurkan testnet zkBNB yang dibangun di atas arsitektur zkRoll-up pada tahun 2022. 

    Dengan zkRoll-up, ratusan transaksi dapat digabungkan menjadi satu batch secara off-chain, dan bukti kriptografis digunakan untuk membuktikan validitas semua transaksi tersebut. Solusi ini menciptakan keseimbangan antara skalabilitas dan keamanan, yang sangat cocok untuk jaringan blockchain dengan tingkat transaksi tinggi dan latensi rendah.

    Manfaat Zero-Knowledge Proof (ZKP)

    Zero-Knowledge Proof (ZKP) adalah teknologi yang memiliki beragam manfaat yang telah diimplementasikan dan diperkirakan akan semakin relevan di masa depan. Beberapa manfaat utama dari ZKP antara lain:

    Verifikasi Identitas Digital

    Zero-Knowledge Proof dapat digunakan untuk memverifikasi identitas pengguna tanpa mengungkapkan informasi pribadi yang bersifat sensitif. Ini bermanfaat terutama dalam aplikasi seperti sistem voting digital, di mana verifikasi identitas pemilih diperlukan tanpa mengorbankan anonimitas.

    Transaksi yang Menjaga Privasi

    Salah satu pemanfaatan paling populer dari Zero-Knowledge Proof dalam dunia kripto adalah memungkinkan transaksi yang menjaga privasi. Sebagai contoh, Manta Network telah mengembangkan aplikasi terdesentralisasi (DApp) bernama MantaPay yang menggunakan ZKP untuk memungkinkan pengguna melakukan transaksi pada bursa terdesentralisasi (DEX) tanpa mengungkapkan identitas atau detail transaksi mereka. Ini memungkinkan pengguna menjaga privasi mereka sambil tetap dapat menggunakan platform untuk bertransaksi.

    Transaksi Terlindung

    Zcash adalah salah satu mata uang kripto yang memanfaatkan Zero-Knowledge Proof untuk mengizinkan transaksi “shielded” (terlindung). Dalam jenis transaksi ini, alamat pengirim, alamat penerima, serta jumlah transaksi disamarkan dari blockchain publik untuk memberikan tingkat privasi ekstra kepada pengguna.

    Tokenisasi dan Verifikasi Kepemilikan

    Zero-Knowledge Proof juga dapat digunakan untuk mentokenisasi aset dan memverifikasi kepemilikannya. Sebagai contoh, properti dapat ditokenisasi, dan pihak mana pun dapat memverifikasi kepemilikan tanpa perlu mengungkapkan informasi lain secara publik.

    Kepatuhan Global

    Beberapa negara memiliki peraturan ketat terkait pengumpulan dan pembagian informasi keuangan. Hal ini mungkin sulit dilakukan oleh platform terdesentralisasi. Zero-Knowledge Proof dapat digunakan untuk membagikan informasi yang diperlukan kepada regulator sambil tetap menjaga privasi dari pihak lain.

    Ini dapat membantu memperkecil kesenjangan antara platform terdesentralisasi dan lembaga keuangan tradisional, sehingga DeFi dapat lebih mudah mematuhi peraturan yang berlaku di berbagai yurisdiksi.

    Masa Depan Zero-Knowledge Proof dalam Dunia Blockchain

    Zero-Knowledge Proof (ZKP) diproyeksikan akan membawa inovasi teknologi yang signifikan dalam waktu yang akan datang. Beberapa pengembangan masa depan yang perlu diperhatikan sehubungan dengan ZKP meliputi:

    Lapisan Privasi Cross-Chain

    Dengan pertumbuhan dan perkembangan terus menerus dari blockchain dan ekosistem DeFi, ada kebutuhan yang semakin besar untuk menciptakan interoperabilitas antara berbagai jaringan blockchain. Lapisan privasi cross-chain diharapkan akan memungkinkan pelaksanaan transaksi lintas blockchain sambil tetap menjaga privasi para pihak yang terlibat.

    zk-STARK

    Salah satu area yang sangat menarik adalah penggunaan yang semakin luas dari zk-STARK (zero-knowledge scalable transparent argument of knowledge), yang merupakan jenis baru dari zero-knowledge proof yang dianggap lebih efisien dan aman dibandingkan dengan zk-SNARK. Keunggulan lainnya adalah bahwa zk-STARK lebih cepat dalam proses verifikasi dan tidak memerlukan konfigurasi trusted (tepercaya) yang rumit seperti yang diperlukan oleh zk-SNARK.

    Rangkaian Alat yang User-Friendly

    Teknologi zero-knowledge proof dapat terasa rumit. Tidak semua pengembang memiliki keahlian dalam kriptografi, yang membuatnya sulit untuk mengadopsi teknologi ini. Untuk mengatasi masalah ini, pengembangan rangkaian alat ZKP yang user-friendly dapat membantu mengurangi kesenjangan pengetahuan dan mempermudah penggunaan teknologi ini oleh berbagai pengembang dengan latar belakang yang beragam.

    Batasan Zero-Knowledge Proof

    Meskipun ZKP merupakan metode unik dalam memverifikasi kebenaran informasi sambil menjaga privasi, perlu diingat bahwa tidak ada sistem yang benar-benar sempurna. Meskipun sangat jarang terjadi, masih ada kemungkinan pembukti dalam ZKP berbohong. Pengguna juga harus menyadari bahwa algoritma yang digunakan dalam ZKP memerlukan sumber daya komputasi yang tinggi, terutama pada jenis-jenis ZKP tertentu yang melibatkan banyak interaksi antara pemverifikasi dan pembukti.

    Kesimpulan

    Zero-Knowledge Proof semakin mencuri perhatian karena kemampuannya untuk menjaga privasi dan potensinya dalam penskalaan. Dengan semakin banyaknya adopsi teknologi ini dalam dunia blockchain, mata uang kripto, dan DeFi, kita dapat mengharapkan peningkatan layanan inovatif yang akan memberikan manfaat besar bagi pengguna.

    Zero-Knowledge Proof diharapkan akan memainkan peran penting dalam pembentukan ekosistem DApp yang lebih aman, privat, dan efisien di masa depan.


    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy Indonesia



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bursa Ikan Berbasis Blockchain Hadir di Indonesia

    Hadirnya Bursa Ikan menjadi transformasi sektor perikanan di Indonesia. Digitalisasi ke dalam dunia bisnis perikanan terus dilakukan sejak beberapa tahun terakhir. Salah satu langkah penting dalam mewujudkan visi ini adalah kolaborasi antara Holding BUMN Pangan ID Food dan D3 Labs, startup di bidang teknologi blockchain.

    ID Food baru-baru ini menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) yang mencakup Pengembangan dan Penerapan Sistem Teknologi Informasi Perdagangan Perikanan dengan D3 Labs, sebuah startup fintech yang mengusung teknologi blockchain. Kesepakatan ini terjadi dalam forum Seafood and Fisheries Emerging Technologies (SAFET) 2023.

    Dirgayuza Setiawan, Direktur Pengembangan dan Pengendalian Usaha PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero)/ID Food, menjelaskan bahwa kolaborasi ini merupakan wujud dari tekad perusahaan dalam menciptakan lingkungan bisnis perikanan yang lebih transparan dan kompetitif. Hal ini sangat relevan mengingat Indonesia memiliki peran besar sebagai salah satu produsen ikan terkemuka di dunia.

    “Kerja sama dengan D3 Labs adalah manifestasi dari komitmen kami untuk mendorong inovasi di sektor perikanan. Penggunaan teknologi blockchain ini tidak hanya akan meningkatkan efisiensi dan transparansi, tetapi juga akan memberikan dampak positif pada produktivitas, kesejahteraan nelayan mitra, dan keberlanjutan sektor perikanan,” kata Dirgayuza.

    Manfaat Besar

    Ia juga menambahkan bahwa kerja sama ini berpotensi memberikan manfaat besar bagi nelayan, produsen, konsumen, serta berbagai pihak yang terlibat dalam bisnis perikanan. Dalam pandangan Dirgayuza, sinergi antara teknologi inovatif ini membuka peluang baru untuk mendukung pertumbuhan bisnis perikanan ID Food dan sekaligus mendorong pertumbuhan sektor perikanan nasional.

    Ilustrasi pelelangan ikan. Sumber: Getty Images.
    Ilustrasi pelelangan ikan. Sumber: Getty Images.

    Baca juga: Honda Terima Pembayaran Kripto, Bisa Beli Motor Pakai Bitcoin?

    Saat ini, bisnis perikanan ID Food yang dioperasikan oleh PT Perikanan Indonesia telah memulai berbagai kemitraan dengan nelayan, mulai dari pemasok hasil tangkapan, penyimpanan, pengolahan, hingga penjualan produk turunan. Dukungan dari pelaku startup, seperti D3 Labs, diharapkan akan mempercepat proses transformasi digital dalam operasi PT Perikanan Indonesia.

    Sigit Muhartono, Direktur Utama PT Perikanan Indonesia, menjelaskan bahwa perusahaan berencana untuk menggunakan platform pelelangan ikan real-time berbasis teknologi blockchain sebagai salah satu langkah penting dalam mendorong digitalisasi perdagangan ikan yang sebelumnya bersifat manual. Program ini dikenal dengan nama Indonesia Fishery eXchange (IFX) dan diharapkan segera beroperasi.

    “Saat IFX mulai beroperasi, kami berharap untuk melihat peningkatan dalam pembelian ikan hasil tangkapan nelayan, transparansi dalam penetapan harga jual ikan, serta kepastian pembayaran,” ungkap Sigit. Transformasi ini akan membawa sektor perikanan Indonesia ke tingkat baru dalam era digital, memberikan manfaat signifikan kepada semua pemangku kepentingan dalam industri perikanan.

    Indonesia Fishery Exchange (IFX)

    Di sisi lain, Tigran Adiwirya, Co-CEO D3 Labs, yakin bahwa kolaborasi yang terjalin akan membawa perubahan positif yang signifikan dalam dunia perikanan Indonesia, dan bisa menjadi contoh inspiratif bagi negara-negara lain yang ingin menerapkan teknologi blockchain dalam industri sejenis.

    “Kami sangat gembira bisa bekerja sama dengan ID FOOD. Kami yakin bahwa teknologi blockchain memiliki potensi luar biasa untuk mengubah lanskap industri perikanan di Indonesia. Selain meningkatkan tingkat transparansi, teknologi ini juga membawa beragam manfaat bagi semua pihak yang terlibat dalam rantai pasokan perikanan, termasuk nelayan, produsen, pedagang, dan konsumen,” ungkap Tigran.

    Kolaborasi ini akan membuka pintu bagi PT Perikanan Indonesia, yang merupakan salah satu anak perusahaan di bawah payung ID Food dalam sektor perikanan. Mereka akan menggunakan aplikasi yang dikembangkan oleh D3 Labs untuk menciptakan Indonesia Fishery eXchange (IFX), sebuah platform bursa ikan real-time yang mengadopsi teknologi blockchain sebagai pilar utama dalam proses digitalisasi perdagangan ikan yang selama ini masih mengandalkan sistem manual. Rencananya, platform ini akan segera memulai operasinya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

    Dengan penggunaan teknologi blockchain, IFX diharapkan akan memberikan sejumlah manfaat signifikan bagi industri perikanan, seperti pemantauan stok ikan yang lebih efisien, proses lelang yang lebih transparan, kemudahan dalam transaksi digital, sistem Know Your Customer (KYC), dan manajemen akun yang cermat untuk mencegah adanya transaksi dari pihak pembeli yang tidak sah. Lebih dari itu, IFX juga akan mengintegrasikan diri dengan pasar penjualan digital di luar negeri. Semua ini merupakan langkah besar dalam perubahan fundamental dalam industri perikanan Indonesia, seperti yang diungkapkan oleh Tigran.


    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa Itu Lapisan 0 di Blockchain?

    Protokol Lapisan 0 dalam ekosistem blockchain adalah fondasi yang krusial untuk membangun lapisan 1 blockchain. Ini adalah pilar utama dalam jaringan blockchain dan aplikasi, yang berfungsi sebagai solusi terhadap berbagai tantangan yang dihadapi oleh industri ini, seperti skalabilitas dan interoperabilitas.

    Pengantar

    Sama seperti protokol Internet yang memiliki berbagai lapisan, ekosistem blockchain juga dapat diklasifikasikan berdasarkan hierarki lapisan:

    • Lapisan 0: Ini adalah lapisan infrastruktur dasar yang menjadi fondasi bagi beberapa blockchain di Lapisan 1.
    • Lapisan 1: Merupakan lapisan blockchain inti yang digunakan oleh pengembang untuk membangun berbagai aplikasi, termasuk aplikasi terdesentralisasi (DApp).
    • Lapisan 2: Solusi skalabilitas yang menangani transaksi di luar jaringan Lapisan 1 untuk mengurangi tekanan transaksional.
    • Lapisan 3: Lapisan aplikasi yang berhubungan dengan blockchain, seperti permainan, dompet, dan DApp lainnya.

    Tetapi, perlu diingat bahwa tidak semua ekosistem blockchain akan cocok dengan pemisahan ini. Beberapa ekosistem mungkin tidak memiliki lapisan tertentu, sementara yang lain dapat digolongkan ke dalam lapisan yang berbeda tergantung pada konteksnya.

    Lapisan 0 membantu mengatasi masalah yang sering dihadapi oleh jaringan Lapisan 1 yang membangun berdasarkan arsitektur monolitik, seperti Ethereum. Dengan menciptakan infrastruktur yang lebih fleksibel, Lapisan 0 memungkinkan pengembang untuk meluncurkan blockchain khusus dengan tujuan tertentu, memecahkan masalah seperti skalabilitas dan interoperabilitas dengan lebih efisien.

    Tantangan yang Dipecahkan oleh Lapisan 0

    Interoperabilitas

    Interoperabilitas adalah kemampuan berbagai jaringan blockchain untuk berkomunikasi satu sama lain. Lapisan 0 memungkinkan jaringan yang dibangun di atas protokol yang sama untuk berinteraksi secara alami, tanpa memerlukan jembatan khusus. Ini menciptakan ekosistem blockchain yang lebih terintegrasi, yang menghasilkan kecepatan transaksi yang lebih tinggi dan efisiensi yang lebih besar.

    Skalabilitas

    Blockchain monolitik seperti Ethereum sering mengalami kemacetan karena semua fungsi utama, seperti eksekusi transaksi, konsensus, dan penyimpanan data, ditangani oleh satu lapisan Lapisan 1. Lapisan 0 mengatasi masalah ini dengan mendistribusikan tugas-tugas penting ini ke berbagai blockchain yang dapat dioptimalkan untuk tujuan tertentu. Ini secara signifikan meningkatkan skalabilitas, dengan kemampuan untuk mengelola transaksi dalam jumlah besar per detik.

    Fleksibilitas Pengembang

    Protokol Lapisan 0 sering menyediakan kit pengembangan perangkat lunak (SDK) yang mudah digunakan dan antarmuka yang ramah pengembang. Ini memungkinkan pengembang untuk dengan mudah meluncurkan blockchain khusus mereka sendiri dengan tujuan dan aturan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. 

    Pengembang memiliki fleksibilitas besar dalam menentukan model penerbitan token mereka dan jenis DApp yang ingin mereka bangun di blockchain mereka.

    Lapisan 0 dalam ekosistem blockchain adalah fondasi yang penting, yang memungkinkan pengembangan lebih lanjut dan meningkatkan potensi ekosistem blockchain secara keseluruhan. Dengan mengatasi masalah interoperabilitas, skalabilitas, dan memberikan fleksibilitas kepada pengembang, Lapisan 0 menjadikan ekosistem blockchain lebih dinamis dan responsif terhadap perkembangan industri yang terus berubah.

    Cara Kerja Protokol Lapisan 0: Membedah Beragam Pendekatan

    Protokol Lapisan 0 memiliki beragam pendekatan dalam beroperasi, masing-masing dengan desain, fitur, dan fokusnya yang unik.

    Secara umum, protokol Lapisan 0 berfungsi sebagai blockchain utama yang bertindak sebagai cadangan data transaksi dari berbagai blockchain di Lapisan 1. Meskipun ada beragam cluster chain Lapisan 1 yang dapat dibangun di atas protokol Lapisan 0, protokol ini juga menyediakan mekanisme transfer cross-chain yang memungkinkan token dan data berpindah antar berbagai blockchain.

    Struktur dan hubungan antara komponen-komponen tersebut dapat sangat berbeda antara berbagai protokol Lapisan 0. Berikut adalah beberapa contoh yang mencerminkan keragaman tersebut:

    Polkadot

    Polkadot, yang dirancang oleh co-founder Ethereum, Gavin Wood, memberikan kemampuan kepada pengembang untuk membangun blockchain khusus mereka sendiri. Protokol ini menggunakan main chain yang dikenal sebagai Polkadot Relay Chain. Setiap blockchain independen yang dibangun di atas Polkadot disebut sebagai parallel chain atau parachain.

    Relay Chain berperan sebagai jembatan yang menghubungkan parachain agar komunikasi data menjadi lebih efisien. Dengan memanfaatkan konsep sharding, Polkadot membagi blockchain menjadi sejumlah bagian untuk mempercepat pemrosesan transaksi.

    Polkadot mengadopsi mekanisme validasi proof-of-stake (PoS) untuk memastikan keamanan jaringan dan konsensus. Proyek-proyek yang ingin menggunakan parachain pada Polkadot harus mengikuti proses lelang untuk mendapatkan slotnya. Proyek parachain pertama di Polkadot disetujui melalui lelang pada Desember 2021.

    Avalanche

    Avalanche, yang diluncurkan pada tahun 2020 oleh Ava Labs, memiliki fokus pada protokol DeFi. Avalanche menggunakan infrastruktur tiga blockchain yang terdiri dari tiga chain utama: Contract Chain (C-chain), Exchange Chain (X-chain), dan Platform Chain (P-chain).

    Ketiga chain ini dirancang secara khusus untuk mengatasi fungsi inti di dalam ekosistem dan mencapai tingkat keamanan yang tinggi, sambil memprioritaskan latensi rendah dan throughput yang tinggi. X-Chain digunakan untuk membuat dan memperdagangkan aset, C-Chain untuk membuat smart contract, dan P-Chain untuk mengoordinasikan validator dan subnet. Fleksibilitas struktur Avalanche juga memungkinkan swap cross-chain yang cepat dan ekonomis.

    Cosmos

    Jaringan Cosmos, didirikan pada tahun 2014 oleh Ethan Buchman dan Jae Kwon, terdiri dari blockchain mainnet PoS yang disebut Cosmos Hub dan blockchain khusus yang disebut Zona. Cosmos Hub berfungsi sebagai pusat pertukaran aset dan data antara berbagai Zona yang terhubung, juga memberikan lapisan keamanan bersama.

    Setiap Zona dapat disesuaikan dengan mudah oleh pengembang, memungkinkan mereka untuk merancang mata uang kripto dengan pengaturan validasi blok dan fitur lain yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Semua aplikasi dan layanan Cosmos yang ada di Zona berinteraksi melalui protokol Inter-Blockchain Communication (IBC), yang memungkinkan pertukaran aset dan data dengan bebas di antara blockchain independen.

    Kesimpulan

    Tergantung pada desainnya, blockchain Lapisan 0 dapat memiliki potensi besar dalam mengatasi berbagai tantangan industri, seperti interoperabilitas dan skalabilitas. Namun, keberhasilan adopsi protokol Lapisan 0 masih harus terbukti. Ada banyak solusi lain yang bersaing untuk mencapai tujuan yang serupa.

    Signifikansi peran blockchain Lapisan 0 dalam mengatasi tantangan industri akan sangat bergantung pada kemampuannya untuk menarik para pengembang untuk membangun di atasnya dan apakah aplikasi yang dijalankan di dalamnya mampu memberikan nilai nyata bagi pengguna.


    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy Indonesia



    Sumber : news.tokocrypto.com