Tag: blockchain

  • Tiga Faktor yang Bikin Masa Depan Cryptocurrency Akan Tetap Cerah

    • Decentralized finance atau keuangan yang terdesentralisasi menjadi kunci masa depan cryptocurrency. Sistem ini sangat memungkinkan membuat efisien segala bentuk transaksi keuangan>

    • Non Fungible Token (NFT) yang hingga saat ini mulai banyak diminati oleh para kreator

    • Blockchain yang akan terus berkembang menciptakan token-token baru kedepannya industri cryptocurrency tidak hanya sebatas sebagai alat untuk investasi spekulatif.


    Mei 2021 menjadi salah satu massa bersejarah bagi pasar mata uang kripto. Di mana hanya dalam 7 hari penurunan harga mayor coin seperti Bitcoin dan sejumlah altcoin bervolume besar anjlok 50%.

    Fase ini merupakan suatu yang biasa terjadi di pasar mata uang kripto. Namun, bisa saja dinilai sebagai fase terburuk bagi trader yang baru nyemplung di ekosistem ini.

    Kendati demikian, sejumlah analis dan ahli menilai fenomena ini masih dalam batas normal. Artinya, apabila melihat tren ke belakang volatilitas seperti ini merupakan bagian dari dinamika pasar crypto. Di mana ada penurunan signifikan, ada pula kenaikan yang tak kalah pesatnya.

    Sejumlah analis percaya diri industri ini masih akan terus berkembang. Dan menemukan pengembangan yang lebih aman dan dewasa.

    Berikut rangkuman pernyataan analis dan ahli terkait dengan hal yang bisa bikin pasar crypto semakin berkembang.

    Decentralized Finance

    Salah satu keunikan dan keunggulan cryptocurrency adalah tidak adanya otoritas tunggal yang mengatur jalannya transaksi keuangan. Decentralized finance atau keuangan yang terdesentralisasi menjadi kunci masa depan cryptocurrency. 

    Sistem ini sangat memungkinkan membuat efisien segala bentuk transaksi keuangan. Selain efisien, sistem ini menawarkan transparansi dan demokratisasi keuangan. 

    Baca Juga: Cryptocurrency Adalah Statement Paling Kritis Terhadap Sistem Keuangan Global

    Pendiri dan CEO platform blockchain yang berfokus pada interoperabilitas, Wanchain, Jack Lu, mengatakan pasar keuangan yang terdesentralisasi telah memperoleh daya tarik yang cukup besar baru-baru ini. Sampai saat ini nilai total segmen ini terkunci dan jumlah aplikasi tumbuh secara eksponensial, dikutip dari Cointelegraph.

    Selain itu, ia juga menyoroti bahwa dengan semakin banyaknya solusi interoperabilitas blockchain yang sekarang masuk ke ruang ini, tampaknya pasar keuangan terdesentralisasi akan terus tumbuh dan menarik minat banyak investor baru di seluruh dunia.

    Non Fungible Token (NFT)

    Pasar crypto telah melahirkan non fungible token atau NFT, yang menurut banyak ahli merupakan ruang yang akan terus berkembang di masa depan. Terutama dengan semakin banyaknya artis, musisi, dan pembuat konten yang mengadopsi sistem ini. Hingga saat ini para kreator terus mengadopsi penawaran digital baru tersebut.

    Blockchain

    Tidak akan ada cryptocurrency apabila tidak ada jaringan blockchain. Blockchain adalah penyangga utama industri ini. Dan teknologi ternyata tidak hanya berguna bagi cryptocurrency, namun sejumlah aspek sangat bisa didukung oleh jaringan tersebut.

    Dikutip dari Cointelegraph, dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah negara termasuk Bahama, Kamboja, dan China semuanya telah menguji atau meluncurkan digital currency yang didukung bank sentral mereka sendiri.

    Oleh karena itu, kedepannya industri cryptocurrency tidak hanya sebatas sebagai alat untuk investasi spekulatif. Karena sebagian besar token yang beredar saat ini tidak selalu dikategorikan sebagai mata uang atau alat investasi. Lebih dari itu, mereka dapat menjadi token utilitas dari berbagai fungsi atau barang koleksi.

    Baca Juga: Tidur Panjang tapi Rejeki tidak Dipatok Ayam? Ini caranya!

    Disclaimer:

    Perdagangan atau investasi digital asset atau mata uang kripto (Bitcoin, Ethereum, dll) merupakan aktivitas beresiko tinggi. Sebelum memutuskan untuk mulai berinvestasi ketahui dulu resikonya. Perdagangan Digital Asset sebaiknya dilakukan pada platform exchange yang terdaftar di Bappebti.

    Kami tidak memaksa Anda untuk membeli atau menjual aset digital ini, sebagai investasi, atau aksi mencari keuntungan. Pahami dulu lebih dalam sebelum memutuskan berinvestasi mata uang kripto.

    Semua informasi di Portalkripto bukan bersifat financial advisor. Kami hanya mengiformasikan keadaan pasar atau keadaan ekonomi dan situasi global yang berkaitan dengan mata uang kripto beserta ekosistemnya.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Korea Selatan: Industri Blockchain Sebagai Peluang Emas

    Industri terkait blockchain disebut sebagai peluang emas oleh Kun Yun-cheol, Wakil Menteri Kedua, Kementerian Strategi & Keuangan Republik Korea. Hal ini diungkapkannya pada sebuah acara konferensi blockchain di Korea Selatan pada 17 April 2020.

    Di mana, acara tersebut dihadiri oleh organisasi dan para ahli. Ia juga turut mendorong sektor swasta di sana untuk mendukung industri Blockchain di Korea Selatan. Selain itu, dari sisi pemerintah Korea juga merencanakan sejumlah proyek terkait blockchain dalam anggaran negara untuk tahun depan.

    Pada konferensi yang dihelat pada 17 April 2020 di Korea Selatan, ia mengatakan:

    “Ukuran atau besaran industri yang terkait blockchain diprediksi akan bertumbuh lebih dari 80% rata-rata per tahunnya, dan sangat kompetitif mendukung keterlibatan negara asing pada sektor blockchain di Korea Selatan, sebagai teknologi yang menjanjikan di masa depan.”

    Baca Juga: BREAKING NEWS: Bitcoin Legal di Korea Selatan!

    Oleh sebab itu, ia juga melihat harus adanya peran yang lebih aktif lagi dari pemerintah Korea Selatan terkait industri yang terkait blockchain, hal ini berguna untuk menciptakan ekosistem yang baik di awal. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan proyek uji coba blockchain yang menyasar kepada publik, di mana proyek uji coba blockchain yang dikembangkan tersebut berdasarkan permintaan dari pasar, dan berlanjut hingga proyek blockchain tersebut jadi. Selain itu, sistem yang ada saat ini juga perlu ditata ulang.

    Sebab, bila tidak ada revisi sistem dan lain sebagainya, berimbas terhadap perkembangan teknologi blockchain di Korea Selatan. Soalnya, saat ini adopsi blockchain di Korea Selatan sedang meningkat dan tidak terlalu tertinggal jauh dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Sehingga momentum saat ini diyakini oleh Kun Yun-cheol, menjadi peluang emas untuk mengejar ketertinggalan penggunaan teknologi blockchain dengan negara-negara tersebut.

    Di saat konferensi blockchain tersebut, Kun Yun-cheol juga, meminta pendapat dari berbagai pihak tentang bagaimana cara pemerintah agar bisa membantu perkembangan teknologi blockchain di Korea Selatan.

    Walaupun banyak kalangan di dunia bisnis dan keuangan, yang selalu mengkritik cryptocurrency, namun tidak halnya dengan teknologi blockchain yang semakin mendapat tempat di hati para pelaku pengusaha di seluruh dunia. Kini, tercatat di tengah-tengah pandemi Covid-19, adanya lonjakan penggunaan teknologi blockchain seperti untuk melacak rantai pasokan makanan, dan kebutuhan farmasi.

    Dan, paling terbaru blockchain digunakan sebagai aplikasi web open-source untuk CoronaTracker, sebuah aplikasi yang dikembangkan oleh tim pengembang dan juga dokter. Aplikasi CoronaTracker baru saja diluncurkan pada 17 April 2020.

    Aplikasi ini berguna bagi mereka yang terinfeksi Covid-19, untuk melacak gejala melalui survei kesehatan yang terdapat di dalam aplikasi tersebut. Yang mana, para pengguna bisa berbagi data dengan  tim medis (dokter).  Untuk keamanan data aplikasi ini dinilai sangat aman, sebab, data yang disimpan oleh dokter dan pasien tidak dapat diubah dan diretas. Karena sistem keamanan pada aplikasi CoronaTracker sudah didukung oleh sistem silo.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Demi Rupiah, Peraturan Blockchain-Aset Kripto Harus Lebih Jelas dan Luas

    Peraturan terkait blockchain-aset kripto di Indonesia sepatutnya dibuat semakin jelas dan luas. Itu penting demi mencegah lebih besarnya arus modal keluar dari Indonesia, sekaligus memperkuat nilai rupiah. Kita semakin tertinggal dengan Singapura untuk urusan seperti ini.

    Selama lima dekade terakhir, negara berkembang selalu terpapar risiko keuangan, kendati industri dan teknologi tumbuh pesat. Negara berkembang masih terpapar masalah rumit, yakni ketidakstabilan mata uang dan pasar modal yang lebih lemah.

    Masalah itu kian berat di negara berkembang yang penghasilan utamanya berasal dari sektor non-keuangan seperti agrikultur atau industri. Lihatlah selama 10 tahun terakhir, mayoritas mata uang negara G20 sangat melemah terhadap dolar AS (USD), kecuali yuan Tiongkok (CNY), real Arab Saudi (SAR) dan won Korea (KRW).

    Dapat dilihat mata uang negara berkembang melemah terhadap USD setelah krisis keuangan AS tahun 2008, ketika Negara Adi Daya itu mulai melakukan quantitative easing (QE). QE adalah strategi bank sentral membeli sekuritas jangka panjang dari pasar modal.

    Pelemahan sejumlah mata uang negara lain terhadap dolar AS (USD).

    Sejak itu pula, AS telah menerbitkan uang lebih dari US$6 triliun tanpa menyebabkan inflasi, sebab status USD adalah mata uang cadangan global. Investor masih mengincar aset apapun yang dihargai dalam USD, sebab aset tersebut terkait dengan QE, sehingga memperkuat nilai USD.

    Sedangkan di Indonesia, PDB per kapita bertumbuh tinggi sejak tahun 2000 dan diprediksi akan terus menguat. Tetapi di saat yang sama, rupiah malah melemah secara konsisten selama 20 tahun terakhir.

    PDB per kapita Indonesia (dalam USD).

    Sejak 2008, rupiah melemah 50 persen terhadap USD. Sekalipun Indonesia untung 400 persen dari hasil investasi indeks LQ45 dari 2008 hingga 2018, untung tersebut akan berkurang separuh jika diukur memakai USD. Hasilnya, individu kaya di Indonesia lebih memilih menaruh aset di luar negeri daripada di Tanah Air.

    Blockchain-Aset Kripto dan Arus Modal
    Alih aset dari Indonesia di luar negeri itu kiranya akan semakin kencang seiring meningkatnya popularitas teknologi blockchain, khususnya yang melibatkan aset digital (aset kripto/crypto asset) atau dikenal oleh ekosistem lain sebagai mata uang digital ataupun mata uang kripto (cryptocurrency).

    Terlebih dari sebutan dan julukannya itu, faktanya di Indonesia praktik perdagangan aset kripto itu kian masif. Itu terjadi setelah Kementerian Perdagangan melalui peraturan menyebutnya layak sebagai komoditi yang bisa diperdagangkan di bursa berjangka di Indonesia.

    Maka, Bappebti pun diberikan hak dan wewenang mengaturnya lebih lanjut. Itu memang angin segar.

    Namiun, keunggulan blockchain yang bersifat desentralistik, membuat pertumbuhan dan dampak aset kripto nyaris melewati batas-batas negara. Akibatnya, transfer nilai akan semakin global, tanpa batas dan semakin banyak kian mudah mengaksesnya.

    Menurut kami, peristiwa revolusioner ini mampu mendorong semakin cepatnya beralih modal ke luar Indonesia, sebab investor memiliki lebih banyak pilihan untuk menyimpan uang. Ini pula yang pada akhirnya berpotensi juga mendorong jurang antara nilai USD dan rupiah.

    Oleh sebab itu Indonesia harus lekas merangkul aset kripto secara lebih erat lagi. Kami yakin Indonesia bisa meraih manfaat besar jika memberikan kerangka peraturan yang lebih jelas bagi bisnis aset kripto di Indonesia.

    Hal ini tidak hanya baik bagi ekonomi Indonesia, tetapi juga dapat menyokong pasar modal Indonesia dengan menjadikannya lebih global dan memperkuat IDR.

    Mari kita ambil contoh di Amerika Serikat (AS). Semua pemain keuangan utama seperti Fidelity, JP Morgan dan Goldman sedang menjajaki beragam inisiatif dan strategi soal blockchain dan aset kripto.

    Selain itu, regulator di AS semakin mendukung, seperti dari Office of the Comptroller of the Currency (OCC), yang mengawasi semua bank nasional di negara itu.

    OCC menyatakan bahwa bank-bank di AS sekarang diperbolehkan menyediakan layanan penitipan mata uang kripto. Bagi kami itu adalah sebuah tonggak sangat penting, karena pasti menyangkut terbitnya peraturan baru dan sangat spesifik.

    Di Asia Tenggara, Singapura saat ini paling maju terkait regulasi. Mereka dengan sigap menerbitkan kerangka kerja pada Januari 2020 yang disebut dengan Undang-Undang Layanan Pembayaran (Undang-undang PS).

    Undang-undang itu dirancang khusus untuk mengatur perdagangan aset kripto. Jadi, bukan sekadar peraturan setingkat menteri, melainkan undang-undang yang tingkatnya lebih tinggi.

    Jadi tidaklah heran, gara-gara undang-undang itulah sebagian besar perusahaan yang terkait blockchain-aset kripto di Singapura geraknya juga semakin lincah.

    Saya yakin Indonesia memiliki kemampuan seperti negara itu. Saya yakin juga Indonesia bisa mendapatkan keuntungan besar dengan menyediakan kerangka peraturan yang lebih jelas.

    Peraturan itu kiranya lebih mendukung perusahaan blockchain-aset kripto di Indonesia untuk mengembangkan bisnisnya.

    Hal itu kelak tidak hanya berdampak positif bagi perekonomian Indonesia. Jika dilakukan dengan benar, ini juga akan mendukung pasar keuangan Indonesia dengan menjadikannya lebih global. Pada akhirnya itu membantu otot rupiah yang kekar.

    Baca Juga: Bitcoin vs Emas, Mana yang Lebih Profit?



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tanda Tangan Petisi “Bebaskan Siti Fadilah Supari” Hilang, Blockchain Jadi Solusi

    Menurut pencetus petisi itu, Jandi Satrio Wibowo, sekitar 40 ribu tanda tangan menghilang begitu saja pada Sabtu, 16 April 2020 pagi, menjadi hanya sekitar 8 ribu. Padahal, pada Jumat, 17 April 2020, tanda tangan sudah hampir mencapai 50 ribu, kata Jandi seperti yang dilansir dari Vivanews.com. Petisi dibuat sejak 30 Maret 2020 lalu, bersama pencetus lain, yakni dr. Nyoman Kusuma.

    Berdasarkan penelusuran Blockchainmedia.id, petang hari ini, Minggu (19 April 2020), jumlah tanda tangan naik kembali menjadi sekitar 15 ribu.

    Jandi mengatakan kepada Vivanews, saat ini pihaknya sedang berusaha mengajak para simpatisan yang telah menandatangani secara online petisi tersebut untuk kembali mengakses petisi. Hal ini mereka lakukan sembari mencari solusi dan alternatif mengumpulkan dukungan yang lebih secured ke depannya.

    Blockchain sebagai Solusi
    Menanggapi peristiwa itu, Wisnu Uriawan peneliti blockchain asal Indonesia di pusat penelitian LIRIS, Perancis, mengatakan, bahwa teknologi blockchain bisa sebagai solusi alternatif untuk sistem petisi seperti itu.

    “Mengingat teknologi blockchain bersifat irreversible, maka setiap tanda tangan (vote) bersifat permanent (kekal), tidak dapat ditarik kembali alias tidak dapat dihapus, sekalipun oleh pengelola platform petisi. Inilah yang mengukuhkan tingkat kepercayaan dalam petisi,” jelasnya kepada Blockchainmedia hari ini.

    Perangkat untuk membuat petisi berbasis blockchain pun tersedia saat ini, tinggal mengembangkannya saja. Contoh percobaan terbaik adalah oleh Partai Demokrat Thailand yang menggunakan blockchain Zcoin untuk memilih ketua umum pada beberapa tahun lalu.

    “Partai itu mengandalkan teknologi blockchain Zcoin untuk memilih pemimpin baru partai, selama 1-9 November 2018. Lebih dari 120 ribu suara dikumpulkan,” jelas Wisnu.

    Sementara itu menurut Danny Baskara, Pendiri Vexanium Foundation, teknologi blockchain Vexanium juga bisa digunakan untuk sistem petisi seperti itu.

    “Setiap pembuatan petisi atau referendum, semua vote/tanda tangan bersifat transparan dan tidak bisa diubah. Untuk setiap perubahan fitur di jaringan blockchain saja, kami menggunakan skema e-voting di tubuh blockchain itu sendiri. [red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • WEF Percaya Kripto dan Blockchain Jadi Bagian Integral Ekonomi Modern

    World Economic Forum (WEF) percaya bahwa teknologi blockchain yang mendukung aset kripto akan terus menjadi bagian integral dari ekonomi modern. WEF secara khusus menyoroti aplikasi kriptografi dan teknologi blockchain yang tersebar luas di seluruh dunia.

    Dalam posting blog di situs resminya, WEF berbicara tentang apa yang akan terjadi di masa depan untuk industri kripto. WEF percaya bahwa tahun 2022 yang diklaim sebagai ‘bencana’ untuk industri aset kripto dapat menyebabkan pertumbuhan dan pemulihan ekosistem.

    Sebuah artikel yang ditulis oleh CSO Circle, Dante Disparte, diterbitkan di weforum.org, menjelaskan kejatuhan FTX baru-baru ini dan matinya blockchain Terra Luna memengaruhi jutaan konsumen pada tahun 2022, dengan pasar kehilangan US$ 2 triliun pada periode itu.

    Namun, dua kejadian besar itu, tidak berubah inti dari teknologi blockchain, yang saat ini sedang diuji oleh lembaga keuangan di seluruh dunia.

    Adopsi Kripto dan Blockchain

    ilustrasi membeli bitcoin
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Nilai Bonk Token Meroket, Kuatkan Ekosistem Solana dan Harga SOL

    WEF membandingkan adopsi teknologi kriptografi dan blockchain dengan penerapan keamanan siber dan transformasi digital. “Pelukan teknologi kripto juga tak terhindarkan, bahkan jika istilah itu terasa seperti kata yang buruk,” kata organisasi itu.

    Organisasi tersebut mengakui bahwa industri kripto tidak bebas risiko, mirip dengan sektor lain yang melibatkan uang. Namun, perlu dicatat bahwa sifat transparan kripto memberikan sedikit tempat bagi aktor jahat untuk bersembunyi.

    “Sementara teknologi yang mendasari kriptografi dan blockchain dapat digeneralisasikan untuk semua industri dan kegiatan koordinasi (secara kolektif blok bangunan Web3), eksperimen pada inti layanan keuangan, di antara sektor lainnya, terus berlanjut,” tulis Disparte.

    Mirip Internet

    Ilustrasi blockchain.
    Ilustrasi blockchain.

    Baca juga: Bappebti dan Aspakrindo Sinergi Pengembangan Perdagangan Kripto

    Disparte memanfaatkan perumpamaan yang umum digunakan, membandingkan kripto dengan teknologi lainnya seperti internet dan email, yang juga telah digunakan untuk tujuan ilegal dan kriminal oleh pelaku jahat. Menempatkan bobot tindakan jahat pada orang yang menggunakan alat, dan bukan teknologi itu sendiri, adalah kunci dalam periode ini untuk kripto.

    Untuk WEF, tindakan terbaik untuk melanggengkan kripto dan blockchain adalah dengan “menjaring efek berbahaya mereka dengan menempatkan teknologi di tangan aktor yang bertanggung jawab dan mendorong penggunaannya secara bertanggung jawab.”

    WEF telah menjadi organisasi aktif dalam hal kripto, meluncurkan Crypto Sustainability Coalition pada bulan September tahun lalu, dengan tujuan menggunakan teknologi Web3 untuk melawan perubahan iklim.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pakai Blockchain, Korsel Percepat Ujicoba Mata Uang Digital Won

    Mengejar ketertinggalannya dengan Tiongkok, Bank Sentral Korea Selatan (Korsel) akhirnya memutuskan mempercepat ujicoba mata uang digital won.

    “Ujicoba ini berjalan hingga Desember 2021. Program 22 bulan bertujuan mengidentifikasi ketentuan teknis dan hukum yang diperlukan untuk membuat dan menerbitkan mata uang digital won. Di sisi teknis, itu akan menentukan rancangan mata uang digital bank sentral (CBDC), metode operasi CBDC dan apakah teknologi blockchain memang layak untuk diterapkan,” jelas Bank Sentral Korsel, Senin (6 April 2020).

    Sementara itu dari segi hukum, program itu akan mengkaji tantangan legal yang diharapkan ketika memperkenalkan CBDC, dan karenanya menyiapkan rencana amandemen khusus untuk Undang-Undang Bank Korea Selatan.

    Perlu dicatat bahwa Bank of Korea mengatakan, “tidak perlu menerbitkan CBDC dalam waktu dekat” karena permintaan uang tunai masih ada, di antara faktor-faktor lainnya.

    Namun, masih perlu dipersiapkan untuk merespons “segera” terhadap perubahan di masa depan di sektor pembayaran.

    Bank Sentral Korsel awalnya mengisyaratkan melakukan penelitian CBDC pada Desember 2019. Bank sentral saat ini mempekerjakan para ahli untuk mempelajari CBDC dan menganalisis inisiatif mata uang digital negara lain.

    Bank-bank sentral di seluruh dunia tampaknya telah mempercepat upaya penelitian mata uang digital mereka. Pekan lalu, bank sentral Perancis juga meluncurkan program eksperimental untuk menguji integrasi euro digital dalam prosedur penyelesaian (settlement).

    Bank Penyelesaian Internasional (BIS), yang dianggap sebagai bank sentral dari bank sentral, baru-baru ini mengatakan bahwa perubahan perilaku pembayaran yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 dan kekhawatiran bahwa uang tunai fisik mungkin menjadi medium penyebaran penyakit, dapat memacu permintaan terhada uang digital seperti CBDC.

    “Infrastruktur pembayaran yang dioperasikan oleh bank sentral yang tangguh dan mudah diakses dapat dengan cepat menjadi lebih menonjol, termasuk mata uang digital bank sentral ritel (CBDC),” kata BIS. [TheBlock/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Blockchain Mengubah Kepemilikan Jam Tangan Mewah

    Pada 26 Maret 2020, Perusahaan pembuat jam tangan mewah, Breitling, merilis jam tangan Top Time dengan edisi terbatas yang disertifikasi oleh protokol Arianee.

    Sebenarnya Top Time yang dirilis oleh Breitling ini, sebenarnya secara original telah dirilis pada rentang periode 1960-an. Di mana, jam tangan ini merupakan jam tangan sports yang dilengkapi dengan stopwatch.

    Sertifikasi digital yang diberikan oleh protokol Arianee, membuat setiap pemilik Top Time akan diberikan identitas digital masing-masing dengan menggunakan teknologi buku besar yang terdistribusi.

    Perusahaan Breitling merupakan manufaktur jam tangan mewah yang sudah berdiri sejak 1884, yang saat ini dikalim sebagai pembuat jam tangan mewah pertama yang mengeluarkan produk jam tangan dengan garansi berupa sertifikasi digital melalui teknologi blockchain. Jadi, setiap jam tangan Top Time yang dijual akan memiliki kartu garansi elektronik masing-masing, dan pemilik bisa memindai kartu garansi elektronik tersebut untuk mengunduh dompet terenkripsi yang secara aman menyimpan “paspor digital” produk.

    Paspor digital pada produk Top Time, dapat memberikan informasi seperti nomor seri dan stempel waktu yang menunjukkan tanggal pertama kali ketika garansi digital produk diaktifkan.

    “Garansi elektronik ini hanya bisa diaktifkan oleh pemilik Top Time, yang perlu dilakukan aktivasi melalui dompet terkenkripsi, di mana paspor digital di Top Time mencakup fitur transfer yang memungkinkan pemilik untuk membuktikan apakah jam tangan Top Time yang dimiliki asli atau palsu, dan juga kepemilikan secara sah,” Hal ini diungkapkan lewat situs web Breitling.

    Di mana, ketika pemilik Top Time ingin menjualnya, mereka tinggal menggunakan fitur transfer yang terdapat di paspor digital produk tersebut, dan melakukan otentikasi kepada pemilik baru dari jam tangan tersebut.

    Emmanuale Collet, salah satu Founder dan CMO, Arianee, mengatakan bahwa “Kami bangga dengan membantu meningkatkan pengalaman kepemilikan bagi pemilik Top Time Breitling melalui layanan sertifikasi digital.”

    Memang saat ini, pihak Arianee sedang mengincar Digital Identification of Luxury Fashion, yang mana penyedia protokol blockchain ini telah memelopori identitas digital untuk jam tangan. Dengan telah bekerja sama dengan Vacheron, perusahaan pembuat jam tangan dan jam dinding yang telah berdiri sejak 1755.

    Kemitraan Arianee dan Vacheron, untuk mengidentifikasi identitas digital dari masing-masing produk Vacheroon dengan bantuan teknologi blockchain.

    Penggunaan sertifikasi identitas digital berbasis blockchain untuk membantu industri sudah menuju pemanfaatan yang lebih masif atau mainstream. Sebab, sudah banyak perusahaan  yang sudah menerapkan sertifikasi identitas digital berbasis blockchain seperti teknologi ID karyawan seluler, yang merupakan hasil kemitraan antara SK Telecom dan Samsung.

    Selain itu, Kementrian Pengembangan Masyarakat Uni Emirat Arab (MOCD), saat ini mereka bergantung pada identitas digital berbasis blockchain untuk menerbitkan dokumen, pasca penutupan kantor MOCD di Uni Emirat Arab akibat kebijakan lockdown karena Covid-19.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bertenaga Blockchain, Ini Cara Jualan di Origin Protocol

    Decentralized Web alias website desentralistik berbasis teknologi blockchain kini menjadi nyata. Salah satunya disediakan oleh Origin Protocol, khususnya websiteberjenis toko online (e-commerce). Berikut tutorial lengkap cara membuatnya.

    Secara teknis pembuatan website berbasis blockchain, semua data (teks, gambar, video, audio) tidak disimpan secara langsung ke blockchain. Data disimpan ke sejumlah komputer yang terhubung secara peer-to-peer di jaringan IPFS (Interplanetary File System).

    Semua data selanjutnya di-hashing, lalu direkam ke dalam blockchain. Dalam hal ini, menggunakan Origin Protocol, hashed data selanjutnya direkam ke dalam blockchain Ethereum.

    Lantas, apa bedanya dengan toko online biasa? Perbedaan utama terletak pada bagaimana data itu disimpan. Kalau toko online biasa, semua data disimpan di sejumlah komputer server, tetapi ada entitas sentral yang mengendalikannya. Kelemahan di sistem seperti ini, ketika satu komputer server mengalami gangguan, maka toko online bisa tak jalan.

    Sedangkan toko online desentralistik berbasis blockchain+IPFS ini, tidak ada entitas sentral. Sehingga, jika satu komputer server misalnya diretas, maka server lain menyediakan datanya secara realtime.

    Dalam hal ini pihak Origin Protocol sudah menyediakan satu toko online, namanya ShopOrigin. Di situ Anda bisa mendaftar sebagai pedagang dan menampilkan produk (barang dan jasa untuk dijual).

    Tampilan toko online ShopOrigin yang merupakan situs web desentralistik bertenaga blockchain dan IPFS. Sumber: https://shoporigin.com/#/

    Anda sebenarnya bisa membuat toko online seperti itu, sebagaimana yang sudah dibuat oleh Brave belum lama ini, bernama store.brave.com. Namun, langkahnya melibatkan cara yang khusus dan relatif rumit.

    BERITA TERKAIT  Bitcoin “Terbang” Rp8,3 Juta, Gara-gara Bitcoin Berjangka Bakkt?

    Toko online Brave yang menggunakan kode sumber toko online Origin Protocol.

    Jadi, di tutorial ini kami hanya memaparkan cara Anda sebagai pedagang baru di toko online ShopOrigin tersebut. Jadi, kita sekadar menggunakan yang sudah tersedia.

    Sebelum memulai, Anda diharuskan memiliki satu akun baru di wallet Metamask. Dua tutorial lengkapnya bisa Anda ikuti di sini dan di sini. Metamask selanjutnya digunakan untuk sign up, sign in dan menambahkan produk.

    MetaMask sekaligus sebagai software yang menghubungkan Anda dengan blockchain Ethereum. Jadi, pada langkah selanjutnya, kami mengasumsikan Anda sudah memiliki akun MetaMask.

    BAGIAN PERTAMA: Membuat Profile Baru

    1. Masuk ke website ShopOrigin (https://shoporigin.com). Klik Sign In di sudut kanan atas dan tombol Sign In pada kotak dialog yang muncul berikutnya.
    2. Pada kota dialog MetaMask, klik tombol Sign In.
    3. Kini Anda telah terhubung ke ShopOrigin menggunakan MetaMask yang terpadu dengan blockchain Ethereum. Klik profile icon di sudut kanan atas untuk memastikan Anda sudah terhubung. Tetapi di tahap ini Anda belum memiliki profile.
    4. Klik tombol Create a Profile. Pada laman baru yang muncul, isikan alamat e-mail Anda dan lanjutkan dengan mengklik tombol Continue.
    5. Periksa e-mail Anda, temukan kode verifikasi dan masukkan ke baris verifikasi. Jika sudah benar, klik tombol Verify.

    6. Langkah berikut Anda diminta memasukkan Nama dan Foto profil Anda. Ini adalah sekaligus nama merchant Anda di toko online ShopOrigin ini. Klik pada icon gambar, pilih logo yang Anda inginkan. Lanjutkan dengan mengisi nama depan dan belakang. Jika sudah lanjutkan dengan mengklik tombol Publish.
    7. Klik tombol Got It pada kota dialog yang muncul untuk memulai Sign menggunakan MetaMask.
    8. Klik tombol Enable Origin Messaging untuk memasang fitur chat box.
    9. Lanjutkan klik Sign pada kotak dialog MetaMask untuk menyetujui pemasangan fitur itu.
    10. Tampilan berikutnya memastikan Anda telah men-sign sebanyak dua kali. Lanjutkan dengan mengklik tombol Continue.
    11. Pada dua kotak dialog berikutnya, masing-masing klik No, Thanks dan I’m Sure.

    Nah, di sini Anda sudah sah memiliki satu akun baru, sesuai dengan nama merchantyang Anda tentukan sebelumnya dan sudah terhubung ke blockchain Ethereum berkat MetaMask.

    BAGIAN KEDUA: Menambah Produk 

     

    1. Klik menu Add Listing untuk memulai menambah produk. Pada jenis produk pilih salah satu. Dalam hal ini kami pilih For Sale dan dilanjutkan dengan Autoparts, sesuai dengan produk kami.
    2. Buat nama produk dan keterangan di bagian bawah. Lanjutkan dengan mengklik tombol Continue.
    3. Masukkan jumlah barang yang tersedia dan lanjutkan dengan harga per unit. Kemudian pilih metode pembayaran yang tersedia.

    4. Berikutnya tentukan beberapa gambar produk Anda sebanyak mungkin. Lalu lanjutkan dengan mengklik tombol Continue, lalu Publish.
    5. MetaMask kemudian muncul untuk meminta persetujuan Anda. Klik tombol Sign. Tunggu sesaat hingga proses perekaman ke blockchain selesai.
    6. Tahapan ini, produk Anda sudah terekam di blockchain Ethereum dan sudah tersedia di ShopOrigin. Dengan demikian produk Anda sudah siap dibeli oleh orang lain. Klik pada View My Listing untuk melihat produk Anda tersebut. Dalam contoh ini, produk tersebut bisa dilihat di tautan ini: https://shoporigin.com/#/listing/1-001-2125.

    BAGIAN KETIGA: Memulai Transaksi 

    Menggunakan akun yang berbeda di aplikasi mobile OriginMarketplace, produk itu sudah tersedia dan siap dibeli. Bahkan Anda bisa chat langsung dengan penjualnya menggunakan chat box yang tersedia.

    Pekan depan kita akan mempelajari cara bertransaksi, khususnya menggunakan token OGN, yang di Indonesia, bisa dibeli di Tokocrypto.com. Token ini kelak bermanfaat untuk menampilkan produk Anda di laman depan ShopOrigin di bagian atas agar tampak menonjol dibandingkan produk lain. Selamat mencoba. [red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Penawaran Gaji Ahli Blockchain Turun 37% di Tiongkok

    Seperti diketahui blockchain menjadi salah satu kemampuan atau skill yang paling banyak dicari oleh perusahaan saat ini. Walaupun secara global pencarian talenta-talenta terbaik dalam bidang blockchain untuk beragam industri semakin meningkat.

    Namun di negara Tiongkok, sebagai salah satu negara pengadopsi blockchain terbesar ditemukan bahwa terjadinya penurunan penawaran gaji bagi para karyawan blockchain di sana, rata-rata penurunan penawaran gaji bagi para ahli blockchain di Tiongkok turun sebesar 37% dibanding tahun 2018. Laporan ini berdasarkan “2020 China Blockchain Professional Development  Report” yang disusun dan diterbitkan oleh Institut Riset Industri Internet dari Universitas Tsinghua.

    Tentu saja hal ini sedikit membingungkan, sebab, permintaan dan penawaran bagi para ahli blockchain di seluruh dunia sedang meningkat. Namun pada 2019, di Tiongkok penawaran gaji bagi para ahli blockchain malah mengalami penurunan sebesar 37% dibanding 2018.

    Berdasarkan laporan tersebut, penurunan rata-rata penawaran gaji bagi ahli blockchain di Tiongkok disebabkan oleh sedikitnya para ahli blockchain yang benar-benar bisa memenuhi persyaratan untuk bekerja di perusahaan. Selain itu, keterampilan blockhain yang mumpuni juga menjadi salah satu hambatan terbesar untuk pengembangan dan adopsi blockchain pada industri.

    Di mana, sejumlah besar para praktisi blockchain hanya mengikuti tren saja atau dinilai tidak terlalu serius menjiwai pekerjaan sebagai ahli blockchain, dan tidak didukung dan disertai pengalaman profesional yang mumpuni di bidang tersebut.

    Padahal, presiden Tiongkok, Xi Jinping, pada Oktober 2019 silam, telah mendukung sepenuhnya teknologi blockchain untuk diterapkan di Tiongkok. Namun, berdasarkan Cointelegraph pada Januari 2020, pembelanjaan blockchain Tiongkok di bidang investasi blockchain anjlok hingga 40% pada tahun 2019.

    Tercatat pada 2018, investasi blockchain di Tiongkok mencapai 604 kesepakatan kerja, sedangkan pada tahun 2019 hanya mencapai 245 kesepakatan kerja saja.

    Hal ini juga bisa menjadi salah satu faktor mengapa rata-rata penawaran gaji bagi ahli blockchain di Tiongkok mengalami penurunan hingga 37% di tahun 2019 dibanding tahun sebelumnya.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 5 Cara Blockchain Menghadapi Virus Corona

    Ketika wabah Covid-19 semakin meluas, peran supply chain managementsemakin dibutuhkan untuk memastikan bahwa suplai produk-produk farmasi untuk membantu para pasien yang terinfeksi virus corona (Covid-19) menjadi kian penting saja.

    Masalah-masalah yang dihadapi untuk melawan Covid-19 adalah kebutuhan produk, kredibilitas pemasok, pembayaran, sertifikasi dari bea cukai, dan pelacakan transportasi. Dari kelima tantangan tersebut, teknologi blockchain dapat memberikan solusinya antara lain:

    1. Kebutuhan produk, blockchain memberikan sebuah mekanisme untuk sistem kesehatan guna secara berkala memperbaruhi kebutuhan produk kesehatan dan spesifikasinya, hampir seperti production auction.
    2. Kredibilitas pemasok, memberikan cara bagi sistem kesehatan untuk menilai secara kredibel pabrik mana yang memiliki kontrol kualitas paling tinggi, dan memenuhi spesifikasi dan volume produksi yang dibutuhkan.
    3. Pembayaran, membantu proses pembayaran di muka, untuk pabrik-pabrik yang bisa langsung digunakan oleh para pabrik untuk memulai proses produksi kebutuhan farmasi yang telah disepakati sebelum dan ketika proses suplai bergerak ke langkah selanjutnya dari rantai pasokan yang terjadi.
    4. Sertifikasi Bea Cukai, pendistribusian obat-obatan dan peralatan medisnya pasti harus melalui departemen bea cukai. Hal ini akan dibantu oleh blockchain dengan sertifikasi bea cukai digital, yang dapat digunakan untuk mengatur kegiatan ekpor dan impor.
    5. Pelacakan Transportasi, persediaan obat-obatan harus dapat dilacak oleh seluruh dunia untuk memastikan transparansi dalam rantai pasokan, yang dapat dilakukan oleh blockchain.

    Blockchain memang merupakan salah satu teknologi yang sangat bisa diandalkan dalam kegiatan rantai pasok di sebuah perusahaan, khususnya untuk mengawasi transparansi dari masing-masing titik rantai pasok dan memastikan bahwa produk-produk yang diproduksi di perusahaan manufaktur farmasi sesuai dengan badan pengawas obat-obatan yang berlaku. Di mana, ketika salah satu titik rantai pasok tidak sesuai dengan prosedur yang telah diatur dalam blockchain, proses rantai pasok tersebut tidak bisa melanjutkan kegiatannya ke langkah selanjutnya.  Karena, hal ini bisa mengurangi bottleneck, yang menyebabkan adanya penundaan saat proses produksi dan suplai sehingga membuat distribusi produk-produk farmasi menjadi terganggu karena panjangnya antrian. Karena tidak adanya sistem manufaktur kesehatan yang mampu mengawasi setiap prosedur-prosedur produksi di pabrik.

    Contoh Kasus Penggunaan Blockchain untuk Melacak Produk Farmasi Demi Mengatasi Virus Corona

    Seperti yang sudah dilakukan oleh Mateon dan Meridian IT, yang menggabungkan AI dan blockchain agar bisa mempercepat produksi produk farmasi yang dapat disesuaikan prosedur produksinya  di pabrik berdasarkan FDA (badan pengawas obat-obatan AS).

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com