Tag: blockchain

  • Wow! Penjelajahan Luar Angkasa Kelak Ditenagai Blockchain

    Pakar penjelajahan luar angkasa berpendapat bahwa teknologi blockchain bisa memainkan peran penting dalam industri tersebut, utamanya saat NASA mengembangkan rencana untuk kembali ke bulan dan menjelajah planet Mars.

    “Jika Anda melihat masa depan dan membayangkan rantai pasok (supply chain) berdasarkan sumber daya luar angkasa, hal tersebut mudah diangankan, terutama ketika transaksi terjadi melalui robot,” jelas Brian Israel, dosen hukum blockchain dan luar angkasa di Fakultas Hukum UC Berkeley, California AS.

    Baru-baru ini, NASA mengumumkan sedang mencari perusahaan swasta yang ingin pergi ke bulan dan mengambil sampel bebatuan sebelum tahun 2024. Bisa jadi blockchain akan segera dilibatkan.

    Administrator NASA Jim Bridenstine mengatakan, kemampuan melakukan pemanfaatan sumber daya di lokasi (in-situ resources utilization atau ISRU) akan sangat penting di Mars.

    Sebab itu, NASA harus siap mengembangkan teknik dan pengalaman dengan melakukan ISRU di permukaan bulan.

    Sejumlah pakar meyakini blockchain dapat membantu kegiatan luar angkasa termasuk rantai pasok, keamanan, pengaturan dan lainnya.

    Mantan astronot asal Kanada Chris Hadfield meramalan di bulan akan ditemukan sumber daya yang berharga bagi manusia di bumi, sehingga industri harus berpikir ke depan dan menemukan cara untuk membangun struktur eksplorasi tersebut.

    Ia menambahkan pengembangan industri luar angkasa akan menjadi peluang besar bagi blockchain.

    Blockchain dapat berperan penting dalam penciptaan aturan operasional di luar angkasa, terutama mengingat Perjanjian Luar Angkasa tahun 1967 membatasi wilayah yurisdiksi setiap negara hanya di permukaan bumi.

    Bagaimana perusahaan yang beroperasi di bulan, Mars dan selebihnya akan berinteraksi satu sama lain tanpa adanya otoritas luar angkasa? Jawabannya bisa jadi adalah konsorsium perusahaan yang terlibat aktivitas luar angkasa dan dikelola smart contract.

    Menurut Israel, pengaturan luar angkasa dapat dipandu oleh tiga lapis hukum luar angkasa, yaitu kebijakan antar pemerintah dan sistem swasta berbasis aturan dengan ruang lingkup hukum yang ditentukan di Bumi.

    “Semakin saya mempertimbangkan pertumbuhan aktivitas luar angkasa dan teknologi blockchain serta lengkapnya lapisan pengaturan luar angkasa, akan muncul lapisan baru,” jelas Israel dalam kuliahnya.

    Ia menambahkan Pengaturan Luar Angkasa 3.0 akan bersifat inter-operator, yaitu hukum privat yang dibangun atas kontrak antara operator kapal luar angkasa, di mana semua pemangku kepentingan, baik publik dan privat, bermain secara seimbang.

    Agar sistem pengaturan berbasis smart contract ini bekerja, dibutuhkan pihak-pihak yang mengunci nilai yang besar ke konsorsium sebagai bagian dari kontrak agar taat kepada aturan, juga menangani potensi sanksi.

    Terlepas dari hal tersebut, peran blockchain di bidang penjelajahan luar angkasa belum ditetapkan, tetapi sifat desentralistik dapat menjadi aspek yang penting di masa depan.

    Seiring teknologi ini berkembang, smart contract dapat digunakan untuk membuat operator satelit yang menegakkan aturan satu sama lain, sebuah sistem yang meregulasi dirinya sendiri.

    Baca Juga: Walaupun Terdampak Covid-19, Industri Penerbangan Tetap Gandeng Blockchain

    anda dapat membaca artikel ini kembali disini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Terbukti Menang Melawan Saham, Emas, Minyak dan Dolar AS

    Sejak awal tahun 2020 hingga hari ini (year to date/ytd), Bitcoin mampu mengalahkan kinerja saham, emas, minyak dan indeks dolar AS. Ini mencerminkan sentimen positif terhadap Bitcoin sebagai kelas aset baru.

    Berdasarkan pantauan di MarketWatch siang hari ini, Bitcoin melejit hingga 50,63 persen sejak awal tahun (US$7.229 menjadi lebih dari US$10.800). Sedangkan Index Saham S&P 500 hanya mampu melaju di kisaran 2 persen. Sedangkan dalam tempo 30 hari masih minus 5,97 persen.

    Kinerja Bitcoin (BTC). Sumber: MarketWatch.
    Kinerja Indeks Saham S&P 500. Sumber: MarketWatch.

    Sementara itu indeks saham teknologi Nasdaq di rentang waktu serupa, cukup senang di 21 persen, dengan raihan minus 6,69 persen dalam 30 hari.

    Bagaimana dengan emas sendiri? Kendati emas mencetak imbal hasil bagus dalam setahun terakhir, yakni 24,01 persen, namun secara year to date, miring di 22,65 persen, sebagai akibat akumulasi koreksi cukup dalam setelah awal September 2020. Dalam 1 bulan saja emas terkoreksi hingga minus 5,49 persen.

    Kinerja Emas. Sumber: MarketWatch.

    Pasar minyak mentah tergolong sangat parah. Sejak awal tahun malah -34 persen. Minyak hanya tampak hijau dalam 3 bulan terakhir, yakni 4,93 persen.

    Dolar AS yang terbukti menguat selama beberapa pekan terakhir malah minus 1,88 persen sejak awal tahun. Dalam setahun saja minus 4,5 persen. Hal itu tercermin dari Indeks Dolar AS (DXY).

    Kinerja Dolar AS. Sumber: MarketWatch.

    Indeks itu mengukur kekuatan dolar AS berbanding mata uang negara lain, yakni Euro (EUR), Yen (JPY), Poundsterling (GBP), Canadian dollar (CAD), Krona (SEK) dan Swiss Franc (CHF).

    Bitcoin Kalah Telak Berbanding Ether (ETH)
    Bitcoin memang cukup senang dengan capaian itu dibandingkan dengan aset tradisional lain. Namun di ranah aset kripto sendiri, kinerja Bitcoin (BTC) kalah telak dengan rivalnya, Ether (ETH), walaupun BTC masih terbaik dari segi kapitalisasi pasarnya yang masih nomor wahid.

    Ether sangat kuat hingga 181,91 persen sejak awal tahun (naik dari US$131,52 menjadi US$362,11). Dalam tiga bulan saja Ether terbang 57,25 persen dan selama setahun mencapai 111,79 persen!

    Pengguna Bitcoin Cs Bertambah
    Cambridge Centre for Alternative Finance di Universitas Cambridge, Inggris menyebutkan bahwa pengguna Bitcoin Cs (aset kripto) secara global saat ini mencapai 101 juta. Angka itu naik 189 persen berbanding tahun 2018, yakni 35 juta “unique users”. Pengguna dari kalangan institusi masih kecil.

    Hal itu tertuang dalam laporan hasil survei “3rd Global Cryptoasset Benchmarking Study” sepanjang 71 halaman. Survei digelar pada Maret-Mei 2020 dan laporan diterbitkan beberapa hari yang lalu. Mayoritas responden adalah dari kawasan Asia Pasifik dan Eropa.

    “Pada tahun 2018, berdasarkan survei edisi pertama jumlah pengguna aset kripto sekitar secara global mencapai 35 juta. Jumlah itu berdasarkan identitas pengguna yang terverifikasi di sejumlah bursa aset kripto dan penyedia layanan sejenis. Sedangkan pada survei ke-3 ini pengguna mencapai 101 juta di 191 juta akun,” sebut Cambridge dalam laporan itu.

    Menurut mereka, peningkatan pengguna sebesar 189 persen itu berdasarkan peningkatan jumlah akun (yang meningkat 37 persen), serta bagian akun yang lebih besar
    dikaitkan secara sistematis dengan identitas individu.

    Baca Juga: Mengenal Smart Contract



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mata Uang Digital Tiongkok Mungkin Kelak Dipadu dengan Blockchain Ini

    Mata uang digital Tiongkok yang berbasis blockchain dalam sistem DC/EP (Digital Currency Electronic Payment), mungkin kelak bisa dipadu dengan Blockchain Service Network (BSN). BSN yang didukung oleh Pemerintah Tiongkok sejak tahun lalu, bulan ini segera diluncurkan setelah beberapa kali ujicoba.
    Cuplikan aplikasi dompet mata uang digital Tiongkok, yang beredar 15 April 2020 lalu di media sosial. Aplikasi itu sebelumnya bisa diunduh dari situs web Bank Pertanian Tiongkok.

    Blockchain-based Service Network (BSN) dibuat dengan bekerjasama dengan banyak perusahaan besar di Tiongkok. Hingga Maret 2020, BSN mengklaim sudah ada 100 kota sudah terhubung sebagai node (simpul). Harapannya efisiensi bisnis bisa hemat hingga 80 persen.

    Konsep dasar BSN sebenarnya jauh diterbitkan sebelum pidato Xi Jinping itu. Asas BSN dibuat pada Januari 2019, yang didukung oleh State Information Center dan  Industry Research Department.

    Pada Maret-April 2020 ujicoba BSN digenjot dengan 100 kota terhubung sebagai simpulnya. Hingga akhir tahun 2020, direncanakan total 200 kota.

    Badan Pemerintah itu menggandeng sejumlah perusahaan, di antaranya China Mobile Group Design Institute, Research Institute of Electronic Payment (China Unionpay), China Mobile Financial Technology, Beijing Red Date Technology dan China Mobile Group Zhejiang.

    BERITA TERKAIT  Kisah “Cuan” Block Producer Blockchain Vexanium

    Menurut BSN, jika perusahaan ingin membuat blockchain sendiri, maka perusahaan bisa menghabiskan biaya hingga US$14.000 per tahun. Itu sudah termasuk biaya pengoperasian dan pemeliharaan.

    Tetapi, dengan tergabung di BSN, maka perusahaan bisa menghemat banyak biaya, cukup dengan US$300 per tahun. Programer dan pengembang dipersilahkan membuat aplikasi yang terkait bisnisnya, lalu mendistribusikannya di BSN.

    Harus diakui, Tiongkok memimpin soal inovasi, pengembangan dan penerapan teknologi blockchain, menurut Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia.

    Tiongkok sudah hakul yakin, bahwa blockchain jauh melampaui Bitcoin sebagai penerapan pertama di sektor uang digital baru. Bagi Tiongkok blockchain dapat digunakan untuk memverifikasi semua jenis transaksi digital secara lebih efisien.

    Hong Wan, pakar blockchain dari North Carolina State University mengatakan bahwa BSN akan menjadi pusat mata uang digital dan sistem pembayaran, yang menyaingi WeChat dan Alipay sebagai alat pembayaran digital yang popular.

    Tapi, bukan tidak mungkin, bahwa yuan/renminbi digital yang dibuat oleh Bank Sentral Tiongkok bisa dipadukan di dalam BSN.

    Namun, Wan khawatir BSN akan mengalami kelambatan kinerja ketika nanti memverifikasi begitu banyak transaksi. Dia mengatakan BSN belum menerbitkan spesifikasi teknis yang terperinci. Jadi, dia tidak tahu bagaimana perancangnya akan mengatasi masalah itu.

    “Saya pikir kita berhak ragu tentang apa yang terjadi di teknologi itu. Ini masih dalam tahap pengujian,” imbuh Wan.

    Mata uang digital itu memang masih dalam pengujian, itulah sebabnya menurut sumber media lokal di Tiongkok, mata uang digital itu akan digunakan untuk membayar gaji sejumlah PNS di Tiongkok, khusus di kota Suzhou mulai Mei 220.

    BERITA TERKAIT  Skandal Rp54 Triliun OneCoin Segera Difilmkan oleh New Regency Television

    Seperti yang diperkirakan tahun lalu, kata Biser Dimitrov di Forbes, Tiongkok membuat langkah besar dalam memajukan ekonomi dengan teknologi blockchain.

    Tiongkok benar-benar serius menggunakan blockchain sebagai pilar teknologi utama lainnya bersama teknologi 5G, kecerdasan buatan dan Internet of Things (iOT).

    Blockahin juga dimaksudkan untuk menyediakan cara-cara baru untuk menangani volume besar dalam pembayaran, komunikasi yang tinggi.

    Baik BSN dan DC/EP memiliki bentuk yang sangat baik dan tampaknya diterapkan secara profesional dan efektif dalam skala besar.

    “Kelak di masa depan, kita akan menyaksikan kebesaran Tiongkok berkat infrastruktur blockchain yang besar ini. Dan saat itulah dunia Barat harus memperhatikan,” kata Biser.
    [Forbes, Decrypt, IEEE.org/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Serba-Serbi Blockchain dan 5 Karakteristik Utamanya

    Istilah “blockchain” pasti sudah tidak asing di telinga Anda, terutama bagi pegiat aset kripto. Walaupun terdengar rumit, ternyata konsep teknologi blockchain ini sangatlah sederhana. Sebagai investor, penting untuk memahami arti dari blockchain beserta karakteristiknya sebagai pengetahuan dasar. Yuk, simak penjelasan selengkapnya!

    Apa Itu Blockchain?

    Secara sederhana, blockchain adalah ledger digital yang terdistribusi, di mana di dalamnya dapat menyimpan berbagai jenis data. Blockchain sendiri merupakan sejenis database. Umumnya, struktur penyimpanan database adalah berupa tabel, sedangkan blockchain terdiri dari blok dan rantai. 

    Misalnya, ketika transaksi masuk ke dalam blockchain, transaksi tersebut akan dilempar ke jaringan komputer yang ada di seluruh dunia untuk divalidasi oleh user, dengan cara memecahkan teka-teki matematika. Setelah valid, transaksi dikelompokkan ke dalam blok untuk dihubungkan dengan blok lain menggunakan rantai, agar history transaksi terekam dengan jelas. Setelah itu, barulah transaksi berhasil.

    Kemudian blockchain memiliki sistem terdesentralisasi, yang membuat segala hal yang terekam dalam blockchain akan disebar di seluruh jaringan. Masing-masing server dalam jaringan juga saling terikat satu sama lain, sehingga setiap perubahan akan langsung terlihat dan tercatat. Hal ini juga yang membuat blockchain menjadi teknologi yang terjamin aman, karena memiliki server yang berlapis dan sulit untuk dibobol.

    Teknologi blockchain sendiri sudah digunakan untuk berbagai tujuan, mulai dari perbankan, pemungutan suara, hingga yang paling populer saat ini adalah digunakan untuk cryptocurrency.

    Mengapa Cryptocurrency Memakai Teknologi Blockchain?

    Semuanya berawal dari koin pertama yang terdapat pada dunia cryptocurrency, yaitu Bitcoin. Di awal kehadirannya pada tahun 2009, Bitcoin dibangun di bawah protokol blockchain. Pencipta Bitcoin, Satoshi Nakamoto, memilih blockchain karena kemampuannya dalam merekam ledger secara transparan, sehingga transaksi dan kepemilikan Bitcoin bisa terlihat dan dapat menghindari pemalsuan.

    Selain itu, penerbit aset kripto juga menghindari risiko yang dimiliki suatu sistem yang masih berada di bawah otoritas pusat maupun pihak tertentu, contohnya bank konvensional. Jika bank diretas, maka informasi nasabah akan berisiko tersebar luas. Lalu, jika suatu bank berada di bawah negara yang kepemimpinannya sedang tidak stabil, maka akan berdampak buruk pada mata uang negara tersebut.

    Agar tidak mengulang kesalahan yang sama, para penerbit juga memilih untuk membangun dengan teknologi blockchain yang menawarkan banyak manfaat. Dengan blockchain, alur proses transaksi yang panjang bisa dipersingkat dan biaya transaksi dapat dipangkas. Ditambah lagi, transaksi jual-beli dapat dilakukan tanpa batas dengan menggunakan alat transaksi berupa aset kripto yang cenderung lebih stabil.

    5 Karakteristik Utama dari Blockchain

    Sebagai teknologi yang mendasari perputaran Bitcoin (BTC), Ether (ETH), dan cryptocurrency lainnya, blockchain memiliki 5 karakteristik utama, yaitu:

    • Ledger yang Terdistribusi

    Seluruh informasi baik transaksi maupun perubahannya, akan tersimpan di dalam blockchain hingga salinannya. Para user dapat memvalidasi segala transaksi yang terjadi tanpa harus terikat dengan satu otoritas tertentu dan hanya mengandalkan perangkat komputer. 

    Pada saat satu user mengalami kegagalan dalam memvalidasi, maka transaksi akan langsung dilempar ke user lain tanpa terjadi gangguan. Karakteristik ini membuat blockchain dianggap sebagai tempat penyimpanan yang terstruktur dan menjadi pilihan para penerbit cryptocurrency.

    Sebagai suatu teknologi, karakteristik yang satu ini mutlak terdapat pada blockchain. Seluruh informasi termasuk catatan transaksi yang terjadi pada blockchain akan tersimpan secara digital. Dengan demikian, pengarsipan dokumen secara tradisional dan manual sudah tidak lagi dibutuhkan.

    • Kronologis disertai Catatan Waktu

    Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, blockchain terdiri dari blok-blok yang saling tersambung menggunakan rantai. Tiap blok menyimpan informasi yang berkaitan dengan suatu transaksi, kemudian terikat dengan blok sebelumnya yang juga berisi informasi tentang transaksi yang sama. 

    Keterikatan antar blok ini menghasilkan rantai kronologi yang menyediakan jejak dari transaksi yang mendasarinya. Dengan demikian, setiap aktivitas yang dilakukan terhadap satu transaksi, misalnya pada Bitcoin, akan tercatat secara runtut dan dilengkapi dengan catatan waktu kapan aktivitas tersebut berlangsung. Hal inilah yang membuat transaksi dalam blockchain tidak bisa dipalsukan.

    • Disegel secara Kriptografis

    Sesaat blok diterbitkan dalam jaringan dan terikat oleh rantai kronologis, blok ini sudah secara otomatis tersegel secara kriptografis dalam rantai. Maksudnya, rantai blok yang sudah dibuat tersebut tidak dapat dihapus, diubah, maupun diduplikasi. Hal ini menjadikan sistem penyimpanan blockchain memiliki ketahanan dan kepercayaan yang tinggi.

    Selain itu, sistem penyimpanan pada blockchain juga cenderung jarang mengalami kegagalan. Sekalipun terjadi kegagalan, blockchain akan tetap ada, sambil mengeliminasi kegagalan yang baru saja terjadi. Oleh karena itu, data yang tersimpan dalam blockchain tidak akan pernah berubah.

    Jika membahas penghapusan transaksi yang sudah terdapat pada blockchain, rasanya akan sulit untuk dilakukan. Pasalnya, kegiatan tersebut tidak akan dapat terlaksana apabila belum mendapat persetujuan dari semua pihak yang ada di jaringan. Seluruh pihak harus memberikan konsensusnya lebih dulu, baru bisa dilakukan penghapusan. Namun, di keadaan tertentu, aturan konsensus ini bisa saja diubah untuk penyesuaian.

    Sekarang Anda sudah mengetahui mengenai serba-serbi blockchain beserta karakteristik utamanya, termasuk hubungan antara cryptocurrency dengan blockchain. Nah, sebagai investor, pastikan Anda menggunakan Tokocrypto sebagai exchange jual-beli, ya. Selain karena sudah terdaftar di BAPPEBTI, investasi di Tokocrypto juga sangatlah mudah. Daftarkan diri Anda di www.tokocrypto.com sekarang!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Babak Terbaru Blockchain Tiongkok – Tokocrypto News

    Penerapan teknologi blockchain di Tiongkok tak berhenti di Pidato Xi Jinping pada Oktober 2019 lalu. Asa itu berkelanjutan melalui proyek ambisius, Blockchain-based Service Network (BSN) yang didukung oleh pemerintah, bekerjasama dengan banyak perusahaan besar. 100 kota sudah terhubung sebagai node (simpul) demi efisiensi bisnis hingga 80 persen.

    Konsep dasar BSN sebenarnya jauh diterbitkan sebelum pidato Xi Jinping itu. Asas BSN dibuat pada Januari 2019, yang didukung oleh State Information Center dan  Industry Research Department.

    Pada Maret-April 2020 ujicoba BSN digenjot dengan 100 kota terhubung sebagai simpulnya. Hingga akhir tahun 2020, direncanakan total 200 kota.

    Badan Pemerintah itu menggandeng sejumlah perusahaan, di antaranya China Mobile Group Design Institute, Research Institute of Electronic Payment (China Unionpay), China Mobile Financial Technology, Beijing Red Date Technology dan China Mobile Group Zhejiang.

    Menurut BSN, jika perusahaan ingin membuat blockchain sendiri, maka perusahaan bisa menghabiskan biaya hingga US$14.000 per tahun. Itu sudah termasuk biaya pengoperasian dan pemeliharaan.

    Tetapi, dengan tergabung di BSN, maka perusahaan bisa menghemat banyak biaya, cukup dengan US$300 per tahun. Programer dan pengembang dipersilahkan membuat aplikasi yang terkait bisnisnya, lalu mendistribusikannya di BSN.

    Harus diakui, Tiongkok memimpin soal inovasi, pengembangan dan penerapan teknologi blockchain, menurut Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia.

    Tiongkok sudah hakul yakin, bahwa blockchain jauh melampaui Bitcoin sebagai penerapan pertama di sektor uang digital baru. Bagi Tiongkok blockchain dapat digunakan untuk memverifikasi semua jenis transaksi digital secara lebih efisien.

    Misalnya, JD.com, salah satu toko online terbesar asal Tiongkok. Mereka menggunakan blockchain untuk memverifikasi data rantai pasokan (supply chain). Konsumen dan mitra bisnis tak perlu lagi khawatir soal keaslian data barang-barang mewah yang dijual di JD.com. Semuanya tersimpan di blockchain dan dijamin keabsahannya.

    Pemerintah juga tak tertinggal. Salah satunya adalah Administrasi Umum Kepabeanan Tingkok, untuk memantau 26 titik penyeberangan perbatasan internasional.

    Hong Wan, pakar blockchain dari North Carolina State University mengatakan bahwa BSN akan menjadi pusat mata uang digital dan sistem pembayaran, yang menyaingi WeChat dan Alipay sebagai alat pembayaran digital yang popular.

    Tapi, bukan tidak mungkin yuan digital yang dibuat oleh Bank Sentral Tiongkokbisa dipadukan di dalam BSN.

    Namun, Wan khawatir BSN akan mengalami kelambatan kinerja karena memverifikasi begitu banyak transaksi. Dia mengatakan BSN belum menerbitkan spesifikasi teknis yang terperinci. Jadi, dia tidak tahu bagaimana perancangnya akan mengatasi masalah itu.

    “Saya pikir kita berhak ragu tentang apa yang terjadi di teknologi itu. Ini masih dalam tahap pengujian,” imbuh Wan.

    “Penghalang terbesar teknologi blockchain adalah biaya yang besar dan rumit. Menurut saya BSN adalah solusi yang tidak bisa dihindari,” kata Yang Xiang dari Universitas Swinburne, Australia. [IEEE.org/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Decentralized Finance: Tantangan dan Peluang

    Decentralized Finance (DeFi) memberi akses terhadap produk dan layanan yang tidak terbatas kepada semua orang. Layanan produk keuangannya pun sangat beragam mulai dari produk tabungan sederhana hingga platform perdagangan yang kompleks tanpa hambatan, dimana membutuhkan infrastruktur yang sangat minim. Sebanyak 1,7 miliar orang dewasa yang tidak memiliki akses ke layanan bank (unbanked) dapat mengakses semua fasilitas keuangan melalui adanya decentralized finance tanpa memerlukan izin atau perantara. 

    Dengan kemampuan mengakses fasilitas keuangan tanpa perantara, DeFi berpotensi membuat produk tertentu lebih murah dimana hal ini dapat memberikan perbedaan besar antara DeFi dan keuangan tradisional dalam jangka panjang. 

    Namun, bagaimanakah dengan tantangan DeFi? Mengingat teknologi ini menawarkan berbagai macam keuntungan dan kemudahan namun belum sepenuhnya dikenal khususnya dalam dunia global.

    Baca Juga: Perbedaan Decentralized Finance dan Keuangan Tradisional

    Mengalihkan tanggung jawab dari pihak perantara ke pengguna dapat menjadi aspek negatif bagi beberapa orang. Merancang produk yang meminimalisasi resiko kesalahan pengguna merupakan tantangan yang sulit ketika produk tersebut dipasang diatas blockchain yang tidak bisa dirubah. 

    Decentralized Finance belum mencapai potensi penuhnya karena beberapa tantangan terkait dengan penipuan, volatilitas, kegunaan dan ketidakpastian regulasi. DeFi tentu bisa rentan terhadap kecurangan dan juga penyebaran inovasi keuangan yang belum teruji. Agar berhasil, DeFi perlu menumbuhkan ekosistem yang sehat yang mendorong inovasi yang bertanggung jawab sehingga dapat menyingkirkan pelaku penipuan. 

    Secara bawaan, blockchain cenderung lebih lambat daripada aplikasi sejenis lainnya yang tersentralisasi. Pengembang DeFi tentu perlu memperhitungkan keterbatasan ini dan mengoptimalkan produknya. 

    Selain itu, DeFi cenderung dibangun diatas aset kripto yang dikenal sangat mudah berubah sehingga dapat menghambat stabilitas dan adopsi. Untuk mengatasi hal ini maka munculnya stablecoin yang nilainya setara dengan aset stabil seperti USD. 

    Pada intinya, teknologi blockchain dapat mengurangi biaya transaksi, memperluas cakupan transaksi dan memberdayakan transaksi peer to peer. Paradigma baru ini menyebabkan munculnya Decentralized Finance (DeFi) yang memanfaatkan teknologi blockchain untuk menciptakan sistem keuangan alternatif yang lebih desentralisasi, inovatif, tanpa batas dan transparan. Meskipun banyak tantangan yang dihadapi, namun para wirausahawan dan inovator telah bereksperimen dengan model bisnis ini yang secara tradisional tidak dapat berjalan tanpa adanya teknologi blockchain. 

    Jika berhasil, DeFi memiliki potensi untuk membentuk kembali industri yang ada dan menciptakan landscape baru untuk kewirausahaan dan inovasi. 



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Perbedaan Decentralized Finance (DeFi) dan Keuangan Tradisional

    Decentralized Finance (DeFi) atau keuangan terdesentralisasi adalah industri baru yang menjanjikan adanya revolusi sektor keuangan tradisional. Kebutuhan akan sistem keuangan yang terbuka, transparan dan aman adalah pendorong utama suksesnya DeFi menjadi obrolan dalam dunia teknologi Blockchain setahun belakangan ini. Tidak heran jika akhirnya, DeFi muncul sebagai alternatif dari sistem keuangan saat ini. 

    Seperti yang sudah dibahas pada artikel sebelumnya, DeFi adalah sektor keuangan terbuka yang berjalan diatas perangkat lunak yang dibangun diatas blockchain dan memiliki kemampuan untuk menjadi alat keuangan yang berada diluar kendali pemerintah dan regulasi. Penciptaan sistem keuangan yang sepenuhnya terdesentralisasi dan independen terus berkembang pesat di tengah meningkatnya seruan untuk keamanan data dan privasi. 

    DeFi memanfaatkan seperangkat alat yang progresif untuk memberikan kontrol kepada pengguna. Fakta bahwa tren DeFi ini menawarkan fungsi ekstra selain mengurangi resiko operasional menjadikan DeFi sebagai pengganti ideal untuk sistem keuangan saat ini. 

    Berawal pada tahun 2018 ketika 15 proyek berbasis Ethereum datan bersama untuk membangun sistem keuangan yang independen, aman dan terbuka, sejak saat itulah DeFi terkenal sebagai pengganti sistem keuangan tradisional. 

    Baca Juga: Mengenal DeFi (Part 2): Manfaat dan Kegunaan DeFi 

    Lalu, apakah perbedaan antara Decentralized Finance dan Keuangan Tradisional?

    Ada beberapa poin utama yang membedakan antara keduanya, yaitu:

    • Dalam Decentralized Finance, blockchain berperan utama mengatur segala pengerjaan di sektor keuangan. Sebaliknya, pemerintah publik yang memerlukan hukum dan lembaga keuangan yang teregulasi bertindak sebagai sumber kepercayaan yang mengatur semua kegiatan dalam keuangan tradisional.
    • Decentralized Finance sangat menarik perhatian sejumlah kalangan karena sistemnya yang lebih terbuka dan transparan daripada keuangan tradisional. Siapapun dapat mengambil bagian dalam membuat layanan dan alat finansial diatas teknologi blockchain. Sebaliknya dalam keuangan tradisional, seseorang harus memiliki lisensi dan otorisasi dari pihak yang berwenang atau regulator, sehingga hal ini membatasi inovasi-inovasi dalam sistem keuangan tradisional. 
    • Dalam Decentralized Finance, user dapat melakukan transaksi tanpa perantara, sehingga prosesnya akan lebih cepat dan mudah. Hal ini menyebabkan DeFi juga membutuhkan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan keuangan tradisional

    Dari poin-poin diatas, dapat dikatakan bahwa kehadiran DeFi dapat menjembatani kesenjangan yang ada dan memungkinkan industri finansial dapat dinikmati oleh segala kalangan, setiap orang tanpa adanya batasan. DeFi membuka peluang besar bagi para pengguna untuk mengakses beberapa instrumen finansial tanpa adanya batasan-batasan umur, ras, agama, kewarganegaraan hingga masalah geografis. 

    Baca Juga: Tokocrypto Angkat Topik DeFi di Indonesia Blockchain Week



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Coca-Cola akan Menggunakan Teknologi Blockchain Ethereum

    CONA (Coke One North America), salah satu perusahaan dari Coca Cola, akan mencoba Baseline Protocol, teknologi blockchain Ethereum publik yang menargetkan untuk penggunaan perusahaan.

    Startup Blockchain Unibright dan Provide mengumumkan proyek tersebut, yang sudah dikonfirmasi di LinkedIn oleh Direktur Inovasi CONA.

    CONA adalah platform yang menyediakan alat untuk dua belas mitra pembotolan Coca-Cola Company terbesar di Amerika Utara agar mereka dapat berkolaborasi sebagai satu perusahaan.

    Pada tahun 2019, beberapa pembotolan Coca-Cola Amerika Utara telah mengadopsi dan mengimplementasikan CONA, dimana tujuannya adalah untuk membuat transaksi rantai pasokan lintas organisasi lebih efisien, tanpa gesekan, dan transparan..

    CONA sekarang pindah untuk membuat transaksi yang efisien antara pemasok botol jaringan internal dan pemasok eksternal bahan baku.

    Oleh karena itu, ia menggunakan Baseline Protocol, seperangkat alat untuk memberikan privasi untuk adopsi perusahaan blockchain Ethereum publik.

    Teknologi ini diluncurkan beberapa bulan yang lalu oleh Ernst & Young dan dikembangkan dalam kerjasama dengan ConsenSys dan Microsoft.

    Tujuannya di sini adalah untuk membangun “Pelabuhan Pembotolan Coca-Cola,” sehingga akan dapat memungkinkan proses onboarding jaringan penghalang rendah untuk pemasok, yang seharusnya membawa lebih banyak manfaat bagi pemasok pembotolan internal dan eksternal, kata para mitra.

    Pengumuman berlanjut untuk mendaftar sejumlah poin yang mereka klaim akan dapat proyek buktikan. Ini termasuk:

    • Suatu faktur dapat di tokenisasi dalam proses dasar;
    • Implementasi berbasis Hyperledger yang ada dapat memperluas, mengubah atau mengintegrasikan dengan Protokol Dasar;
    • Membuat versi dokumen komersial (mis. pesanan pembelian, pesanan penjualan, pengiriman, penerimaan barang, dll.) dapat menghilangkan masalah koordinasi ketika semua pihak menyetujui versi terbaru, versi resmi;
    • Menyetujui versi dasar terbaru dari “kebenaran yang diinginkan” yang dapat digunakan untuk membahas penanganan kesalahan atau pengiriman ulang sebagian, dll.

    Proyek ini diharapkan menunjukkan hasil awal pada kuartal terakhir tahun ini.

    Selain itu, kemitraan pada proyek ini juga berarti CONA akan memperoleh akses ke Chainlink (LINK), penyedia jaringan yang terdesentralisasi. Kita lihat saja bagaimana perkembangannya nantinya!

    Baca Juga: Tokocrypto Kembali Gelar Indonesia Blockchain Week yang Ke-2

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tokocrypto Kembali Gelar Indonesia Blockchain Week yang Ke-2

    Jakarta, 4 Agustus 2020 – Setelah sukses diselenggarakan pada tahun 2019, Tokocrypto siap kembali menggelar Indonesia Blockchain Week (IBW) 2020, ajang rangkaian seminar blockchain terbesar di Indonesia, pada 18 hingga 27 Agustus mendatang.

    Apabila tahun lalu IBW menawarkan beragam bahasan dari pelaku proyek blockcain tanah air maupun manca negara, maka tahun ini akan fokus membahas tentang Decentralized Finance (DeFi), yang memang tengah menjadi topik hangat diskusi para pelaku indsutri keuangan maupun blockchain.

    “Dalam setahun belakangan ini, Decentralized Finance atau sistem keuangan yang terdesentralisasi kerap menjadi perbincangan dalam dunia finansial dan juga blockchain. Pada IBW 2020, kami ingin mengupas lebih dalam terkait hal ini dan memperkenalkan pada masyarakat Indonesia sebagai bentuk upaya untuk membuka akses finansial bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya yang belum memiliki akses ke fasilitas perbankan”, kata Chung Ying Lai, Business Development Director Tokocrypto sekaligus Ketua Penyelenggara Indonesia Blockchain Weeks 2020.

    Selain fokus membahas tentang DeFi, penyelenggaraan seminar IBW kali ini juga sedikit berbeda. Apabila tahun lalu dilakukan di berbagai kota secara offline, maka kali ini dilakukan secara daring dalam bentuk webinar.

    “Indonesia Blockchain Week adalah sebuah perwujudan dari visi Tokocrypto untuk menjadi pusat edukasi blockchain di Indonesia. Walaupun dalam keadaan sulit seperti sekarang ditengah pandemi COVID19, kami percaya bahwa virtual webinar ini dapat menjadi sebuah kesempatan yang baik karena dapat mudah diakses dimanapun dan oleh siapapun yang ingin memahami lebih jauh tentang industri ini”, kata Pang Xue Kai, Co-Founder & CEO Tokocrypto. 

    Dalam penyelenggaraan IBW 2020 kali ini, Tokocrypto juga didukung oleh berbagai partner yang memang memiliki pandangan yang sama dan turut mendorong inisiatif terkait pengaplikasian DeFi, yaitu Binance, Swipe, dan Synthetix, dimana merekajuga akan menjadi pembicara pada konferensi ini. 

    Info seputar Indonesia Blockchain Week 2020 dapat dilihat di situs resmi IBW2020 serta di semua kanal resmi Tokocrypto.

    Tentang Indonesia Blockchain Week 

    Indonesia Blockchain Week (IBW) adalah rangkaian acara seminar tahunan tentang blockchain yang diorganisir oleh Tokocrypto. IBW  menjadi ajang tempat berkumpulnya individu, pengusaha, investor, organisasi, perusahaan, serta blockchain proyek lokal maupun manca negara, untuk memahami lebih dalam tentang penerapan blockchain dalam kegiatan sehari-hari. Diadakan pertama kali pada tahun 2019, acara yang berlangsung selama seminggu penuh ini berupaya untuk memberikan pendidikan kelas dunia terkait industri blochcain dan bagaimana manfaatnya melalui seminar dengan topik-topik menarik yang dibawakan para ahli.

     

    Tentang Tokocrypto

    Tokocrypto adalah pedagang aset kripto teregulasi dan salah satu yang terbesar di Indonesia. Didirikan pada tahun 2018, Tokocrypto lahir dari sekelompok antusias kripto yang memiliki keyakinan teguh pada manfaat blockchain yang ditawarkan ke masyarakat. Tokocrypto bertujuan untuk menjadi pedagang aset kripto terkemuka di Indonesia dengan memberikan kemudahan, kenyamanan dan keamanan bagi nasabah agar dapat bertransaksi dengan tenang dan yakin. Tokocrypto juga merupakan pusat pendidikan dan berita terkait teknologi blockchain melalui kolaborasi yang erat dengan komunitas Blockchain, universitas, pemerintah serta masyarakat di Indonesia dan Asia Tenggara. 



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Laporan KPMG: Investasi Blockchain dan Kripto Mengganda Sejak 2020

    Perusahaan akuntansi KPMG melaporkan, investasi kripto dan blockchain terus bertumbuh berkat minat investor yang semakin tinggi. Investor disebut memiliki pemahaman lebih baik soal aset kripto serta sisi operasional dan proseduralnya.

    Investasi Kripto dan Blockchain Bertumbuh

    Berjudul “Denyut Fintech H1 2021”, studi itu mencakup aktivitas investasi global di beragam area teknologi keuangan pada semester pertama tahun ini. Laporan tersebut merinci 2.456 investasi bernilai US$98 milyar yang terjadi antara Januari dan Juni.

    Salah satu tren terbesar di bidang fintech pada tahun 2021 adalah meledaknya pertumbuhan di investasi kripto dan blockchain.

    Pada enam bulan pertama tahun 2021, ada 548 aktivitas investasi di sektor blockchain dan aset kripto, termasuk modal ventura, ekuitas swasta serta merger dan akuisisi. Total nilai investasi selama kurun waktu tersebut mencapai US$8,7 milyar atau Rp125 triliun, dua kali lipat nilai investasi selama 2020 yaitu sebesar US$4,3 milyar.

    Perusahaan yang menggalang dana lebih dari US$100 juta dalam putaran pendanaan termasuk BlockFi, Paxos, Blockchain.com serta Bitso. Perusahaan-perusahaan ini memimpin pertumbuhan volume investasi.

    Baca Juga: Institusi Ini Ajukan Perizinan Reksadana ETF Ethereum

    Kepala fintech global KPGM Anton Ruddenklau berkata kripto dan blockchain sedang meledak secara global. Ia menambahkan, ada banyak aktivitas di sektor blockchain saat ini.

    “Ada proyek eCNY di Tiongkok, Diem oleh Facebook, sejumlah gerakan ekosistem dan juga berbagai platform perdagangan yang menerima pendanaan. Uang digital dan aset virtual adalah topik diskusi yang sangat besar. Saya pikir untun tahun ini kripto akan menjadi tiket yang panas bagi investor,” tambah Ruddenklau.

    Studi KPGM merujuk wawasan investor sebagai pendorong kunci bagi pertumbuhan investasi di bidang blockchain. Investor memiliki pengertian lebih baik soal aset kripto beserta operasional, termasuk kustodian dan penyimpanan serta persaingan dan kematangan penyedia layanan.

    KPMG memrediksi sektor kripto akan terus semakin matang, sementara perbedaan antara aset kripto dan teknologi blockchain akan semakin jelas. NFT, salah satu topik inti di enam bulan pertama tahun 2021, akan menyumbang terhadap evolusi bursa kripto dalam bentuk platform perdagangan khusus NFT.

    Baca Juga: Pasar Kripto Bergairah Lagi, Nilai Pasar Hampir US$2 Triliun

    Laporan tersebut memperkirakan, akan ada peningkatan kerangka regulasi selama semester kedua tahun 2021. Satu kasus spesifik, yakni India, akan berdampak terhadap keseluruhan ekosistem kripto bila negara tersebut mengatur kripto sebagai kelas aset.



    Sumber : news.tokocrypto.com