Penerapan teknologi blockchain semakin nyata. Buktinya, senat Australia memprediksi teknologi itu akan bernilai US$3 triliun pada tahun 2030.
Negeri Kangguru itu memang terkenal ambisius bergerak memanfaatkan blockchain untuk pertumbuhan ekonominya.
Sebelum pengumuman oleh senat itu, Australia sudah menerbitkan roadmap khusus blockchain yang fokus pada perubahan infrastruktur perbankan, ekspor dan pendidikan.
Selain itu, Bursa Efek Australia sedang membangun sistem penyelesaian (settlement) dan kliring berbasis blockchain. Mereka bermitra dengan iSignthis.
Dua perkembangan itulah yang mendorong Fraksi Teknologi Keuangan di Senat Australia membuat kajian soal potensi penerapan blockchain di masa depan
Menurut senat blockchain bisa mendukung kemajuan dalam teknologi keuangan dan teknologi peraturan. Hal itu menyoroti apa yang bisa menjadi peluang yang terlewatkan sejauh ini, yakni akses terhadap modal, yang sangat efektif dikumpulkan melalui penawaran koin awal (ICO).
Senat juga mencatat angka yang sama yang dinyatakan dalam pengumuman roadmap Blockchain Nasional pada Februari 2020 lalu. bahwa teknologi blockchain akan menghasilkan US$175 miliar dalam nilai bisnis global pada tahun 2025 dan total lebih dari US$3 triliun pada tahun 2030.
Michael Bacina dari Piper Alderman di hadapan senat mengatakan sebagian besar proyek teknologi keuangan dan teknologi peraturan akan dibangun terutama pada teknologi blockchain atau banyak digunakan dalam 10 tahun ke depan.
Senat juga mencatat bahwa teknologi blockchain bisa menguntungkan banyak industri Australia. Sementara industri keuangan dan asuransi menduduki puncak daftar, yang lain termasuk “layanan profesional, ilmiah dan teknis dan perdagangan eceran, tetapi bidang lain termasuk perawatan kesehatan dan bantuan sosial, pertanian, serta layanan real estat.
Memperbaiki kondisi ICO Di bagian lain laporan tersebut, senat berfokus pada peningkatan ICO dan modal yang mereka kumpulkan dan mengapa Australia tidak menuai lebih banyak keuntungan darinya.
Dr Jemma Green, Pendiri dan CEO Power Ledger Australia menyarankan kepada senat bahwa kondisi peraturan saat ini di negara tersebut tidak kondusif untuk menarik para perusahaan yang menggelar ICO.
“Banyak negara, misalnya Swiss, konsep ICO diadopsi untuk untuk mendapatkan pajak atas modal, termasuk pemasukan pajak. Sedangkan di Australia, ICO malah dikenakan pajak atas pendapatan,” kata Green.
Mantan Eksekutif Facebook, Chamath Palihapitiya, yang juga CEO Social Capital berpendapat bahwa Bitcoin (BTC) secara efektif telah menggantikan emas sebagai aset bernilai tinggi untuk melawan inflasi fiat money.
“Saya yakin, bahwa Bitcoin telah menggantikan emas dan itu akan terus berlanjut,” katanya.
Bitcoin dan Inflasi
Sejak tahun 2019, Palihapitiya, memang dikenal sebagai pembela kripto, khususnya Bitcoin. Baginya aset kripto itu terus akan menggantikan emas sebagai kelas aset untuk melawan inflasi.
Namun demikian, di acara itu ia enggan berspekulasi berapa harga Bitcoin di masa depan, sehingga bisa menegaskan pendapatnya itu.
Pada Januari 2021, Palihapitiya meramalkan harga Bitcoin bisa mencapai US$200 ribu per BTC. Rentang waktu untuk bisa mencapai harga itu, baginya, bisa hingga 10 tahun mendatang.
Pandangan positifnya terhadap Bitcoin berpangkal dari keprihatinan dirinya terhadap dampak buruk inflasi.
Baginya, Bitcoin yang saat ini menjadi bagian terpadu di neraca keuangan besar, seperti Tesla dan MicroStrategy, justru akan menyelamatkan nilai bisnis perusahaan, karena tidak bergantung pada aset lain seperti dolar AS ataupun emas.
“Bitcoin bisa menjadi sangat besar di masa depan. Kita harus terus memperhatikannya,” tegas Palihapitiya.
Ketika artikel ini ditulis, Kamis (30/9/2021) malam, harga Bitcoin melonjak di kisaran US$43.200 per BTC. Lonjakan itu berkat support level yang kuat di US$40 ribu-41 ribu per BTC pada beberapa hari sebelumnya.
Support ini bisa jadi buah dari konsolidasi sebelumnya, yang disampaikan oleh Mike Novogratz dari Galaxy Digital pada 26 September 2021, terkait penegasan larangan Tiongkok terhadap kripto.
“Tekanan hari ini memang berdampak keras terhadap pasar kripto. Namun, saat ini sejatinya BTC dan ETH sedang terkonsolidasi,” katanya. Ketika itu harga Bitcoin ambruk hingga di bawah US$41 ribu dalam tempo sesaat saja.
Hal itu ditanggapi positif oleh Palihapitiya. Katanya, langkah itu kelak akan diikuti oleh perusahaan bank.
Dan ucapan Palihapitiya terbukti. Pada Juni 2021misalnya, New York Digital Investment Group (NYIG) anak perusahaan investasi Stone Ridge bekerjasama dengan perusahaan penyedia jasa keuangan, National Cash Register (NCR).
Kerjasama itu memungkinkan 650 bank di Amerika Serikat yang menggunakan layanan NCR bisa memberikan layanan jual-beli Bitcoin kepada jutaan nasabahnya.
Ini kelak bisa menghalangi arus uang masuk dan keluar nasabah dari dan ke bursa kripto Coinbase di AS.
Jika kamu membeli satu porsi sushi atau minuman jelly kesukaanmu, apakah kamu akan membayarnya menggunakan mata uang rupiah atau memilih scan melalui QR?
Mungkin sebagian dari kita, penikmat teknologi zaman sekarang, akan memilih langsung scan menggunakan QR. Selain lebih praktis, scan QR juga dinilai lebih higienis. Dan mata uang crypto, sebenarnya sesederhana itu konsepnya.
Lalu, bagaimana kamu mendapatkan mata uang digital yang berbeda, dengan mengandalkan tumpukan teknologi dan protokol yang berbeda, agar bisa lebih mudah menikmati teknologi seperti analogi di atas?
Standar kepatuhan dan persyaratan pasar pun nantinya akan berbeda ketika berbicara satu sama lain dalam jaringan nilai yang lebih luas.
Dan saat ini, tim riset dan produk Visa telah mengembangkan konsep baru untuk mendiskusikan dan menemukan solusi atas pertanyaan di atas.
Tim riset Visa kemudian menyebutnya Saluran Pembayaran Universal (UPC) yang berfungsi untuk menghubungkan beberapa jaringan Blockchain dan memungkinkan transfer mata uang digital yang aman.
Anggap saja sebagai ‘adaptor universal’ di antara Blockchain, yang memungkinkan bank sentral, bisnis, dan konsumen untuk bertukar nilai dengan mulus, tidak melihat apapun faktor bentuk mata uangnya.
Visa dengan senang hati membagikan mekanisme UPC dalam makalah penelitiannya.
Makalah tersebut dirangkum dalam panduan kebijakan untuk bank sentral dan regulator tentang implikasi penelitian dari Institut Pemberdayaan Ekonomi Visa.
Alasan Interoperabilitas Lintas-Rantai Penting Bagi CBDC
Meskipun mata uang digital mungkin tidak menjadi bagian dari kehidupan keuangan harian kamu hari ini, kemungkinan mata uang tersebut akan memainkan peran penting di masa depan.
Selama dua tahun terakhir, bank sentral di seluruh dunia telah menjabarkan data jika minat terlihat terus meningkat untuk mengeksplorasi CBDC yang dapat digunakan oleh semua khalayak.
Di tahun-tahun mendatang, banyak bank sentral kemungkinan akan menerapkan beberapa bentuk buku besar versi digital.
Bank sentral di masa depan kemudian memilih tumpukan teknologi dan protokol desain yang paling masuk akal bagi konstituen mereka.
Langkah selanjutnya hanya perlu mempertimbangkan faktor-faktor seperti tata kelola, persyaratan pasar, penyedia teknologi, standar kepatuhan, dan prioritas khusus negara.
Ketika jumlah jaringan mata uang digital meningkat, maka masing-masing karakteristik desain yang unik. Seperti kemungkinan konsumen, bisnis, dan pedagang yang bertransaksi di jaringan yang sama, akan mengurangi penggunaan jenis mata uang yang sama.
Tim Visa ungkap bahwa mereka percaya jika ingin CBDC berhasil, mereka harus memiliki dua unsur penting. Yaitu pengalaman konsumen yang hebat dan penerimaan pedagang yang luas.
Ini berarti, harus ada kemampuan hebat untuk melakukan dan menerima pembayaran, terlepas dari apa mata uangnya, apa salurannya, atau faktor bentuk fisiknya. Dan disitulah mekanisme saluran pembayaran universal Visa masuk.
Konsep UPC akan menghubungkan jaringan Blockchain yang berbeda dengan membangun saluran pembayaran khusus.
Dan Blockchain baru yang terpercaya akan dapat dengan mudah ditambahkan ke jaringan-jaringan tersebut dengan membuat saluran pembayaran yang baru.
Lebih dari memajukan visi untuk interoperabilitas, UPC juga memiliki implikasi untuk mempercepat transaksi dalam mata uang digital.
Nantinya, jaringan pembayaran modern saat ini dapat menangani puluhan ribu transaksi per-detik. Sedangkan beberapa jaringan Blockchain terbesar yang ada saat ini hanya dapat menangani sebagian kecil dari volume tersebut.
UPC juga nantinya akan dibuat dari Blockchain dan memanfaatkan smart contractuntuk mengkomunikasikan kembali dengan berbagai jaringan Blockchain.
Kemudian, saluran tersebut akan memberikan throughput transaksi yang tinggi dengan aman serta meningkatkan kecepatan secara keseluruhan.
Bursa efek bertenaga blockchain diujicoba di Beijing baru-baru ini. Ujicoba itu adalah langkah lanjutan setelah di Shenzhen pada Juli 2020 lalu.
Dilansir dari media lokal Tiongkok, China Daily, ujicoba itu yang pertama digelar secara regional.
“Kedua pihak [bursa efek Shenzhen dan Beijing] telah mengembangkan kembali dan membangun sistem pendaftaran dan perdagangan ekuitas (efek) di Pusat Bursa Efek Beijing menggunakan blockchain sebagai basisnya. Pihak bursa mengatakan penerapan teknologi blockchain di bidang perdagangan efek mengurangi biaya asimetri informasi, menstandarkan manajemen saham perusahaan dan memainkan peran yang lebih baik dalam pembiayaan pasar modal,” tulis China Daily mengutip komentar sejumlah narasumber.
Pada Juli 2020, Komisi Sekuritas China mengeluarkan izin ujicoba bursa efek bertenaga blockchain di 5 bursa, yakni Beijing, Shanghai, Jiangsu, Zhejiang, Shenzhen. Ini adalah program percontohan perdana di Negeri Panda itu.
Dalam ujicoba di Beijing itu, Ge Yimiao, Kepala Pusat Informasi Komisi Sekuritas Tiongkok, mengatakan, bahwa Bursa Efek Beijing dan Shenzhen akan terus memantapkan penerapan teknologi blockchain di sektor pasar modal ini.
Mitra dagang Tiongkok, Venezuela, juga melakukan hal serupa pada beberapa hari lalu. Venezuela mulai mengujicobaplatform perdagangan efek (saham dan obligasi/sekuritas) bertenaga blockchain. Setiap unit saham ditokenisasi selayaknya aset kripto agar lebih mudah ditransaksikan dan berdayajangkau global.
“Kami memberikan wewenang kepada platform Bursa Efek Desentralistik Venezuela (BDVE) untuk mengujicoba selama 90 hari. Jikalau berhasil, maka izin penuh akan diberikan,” sebut Pengawas Sekuritas Nasional Venezuela beberapa hari lalu.
Bagi Venezuela, cara ini memungkinkan negara itu mengakses modal masuk ke pasar sahamnya dari luar negeri tanpa menggunakan dolar AS dari sejumlah negara.
“Bursa saham secara global termasuk di Asia mulai bereksperimen dengan teknologi blockchain untuk kliring dan penyelesaian, pasca perdagangan, serta dalam penerbitan sekuritas (sebagian besar adalah surat utang perusahaan),” sebut EOCD.
Ketika laporan itu diterbitkan sejumlah negara telah mengujicoba pasar efek bertenaga blockchain, di antaranya Hong Kong, India, Jepang, Myanmar dan Korea Selatan.
Perusahaan terbesar di industri penerbangan Rusia, S7 Airlines akan mulai menjual tiket pesawat miliknya lewat blockchainyang dikembangkan oleh Sberbank, bagian dari bank raksasa milik Rusia. Proyek bersama ini memungkinkan agen penjualan tiket pesawat dengan akun di Sberbank melakukan penyelesaian pemesanan atau pembelian tiket melalui smart contract dengan menggunakan token.
Bila menggunakan sistem yang lama, agen penjual tiket harus menggunakan jaminan bank dan uang muka untuk mendaftarkan tiket pesawat, dan proses penyelesaian sendiri masih menggunakan surat, rekonsiliasi dan transfer uang yang bisa memakan waktu 10 hari.
Baca Juga:Cara Blockchain Menumpas Korupsi Agar Menciptakan Pemerintah yang Bersih
Namun, dengan blockchain yang dikembangkan oleh Sberbank. Proses rumit tersebut akan disederhanakan dan memberikan kecepatan transaksi hingga 20 detik.
Uang yang berasal dari akun perantara yang diberikan token dan ditransfer ke S7 sesuai dengan perintah yang ditentukan dalam smart contract. Token tersebut akan ditautkan kepada akun pelanggan sebenarnya, dan Sberbank bertugas sebagai penjamin kesepakatan.
Pembelian tiket pesawat S7 baru ini akan terapkan pada September 2020 dan menargetkan klien dari korporat karena masih dalam tahap pengembangan. Pengembangan blockchain antara S7 dan Sberbank sudah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.
Selain itu, sebagai perusahaan maskapai terbesar di Rusia, S7 melakukan pembelian platform pertama di dunia untuk penjualan tiket pesawat lewat platform blockchain, saat itu bekerja sama dengan Alfa Bank pada 2017. Pada Juli 2019, total transaksi yang telah dilakukan lewat platform blockchain tersebut sudah memproses lebih dari $1 juta pembayaran.
Kemungkinan besar token nanti yang akan digunakan bisa berasal dari stablecoin yang sedang dipertimbangkan untuk diluncurkan oleh Sberbank dipatok 1:1 dengan mata uang Rusia. Jenis token ini layaknya seperti USDT dan IDRT. Sebab, hingga saat ini Sberbank masih belum mengutarakan jenis token seperti apa yang nantinya akan digunakan.
Di mana, sistem baru pembelian tiket blockchain ini akan menjadi token virtual pertama yang digunakan untuk pembayaran dan settlement di Rusia, dan menghilangkan proses transaksi yang cukup lama hingga 10 hari dalam pembelian tiket di industri penerbangan dengan melibatkan para agen penjualan tiket.
Dengan melonjaknya aktivitas di sektor DeFi, membuat Tether sebagai basis token pertukaran dengan token-token tersebut mengalami lonjakan. Bulan lalu saja $3 miliar Tether dirilis ke dalam jaringan yang mendorong kapitalisasi pasarnya menjadi lebih dari $15 miliar.
Pada awal tahun ini saja, ada lebih dari $4 miliar USDT beredar di dalam jaringan, dan terus meningkat hingga $15 miliar. DeFi telah menjadi pendorong kuat dibalik penggunaan Tether besar-besaran karena semakin banyak kolam likuiditas yang menerima stablecoin tersebut sebagai dasar operasinya.
Menurut beberapa laporan, nilai transfer harian rata-rata Tether telah melampaui PayPal dengan permintaan yang terus melonjak.
Tether juga membagikan cuitan tersebut di Twitter resmi mereka
Infografis dari Flipsidecrypto.com menggambarkan pergerakan Tether antara pengguna dan pertukaran pada bulan ini. Pertukaran terpusat besar seperti Binance dan Bitfinex masih menjadi jalan bagi pengguna untuk mendapatkan Tether dengan nilai lebih dari $2 miliar.
Menurut Laporan Tether Transparancey, jumlah USDT di Ethereum meningkat melebih $10 miliar, disusul $4,2 miliar di jaringan Tron, dan $1,3 miliar di jaringan Omni.Tether juga terus melakukan pemindahan dirinya pada protokol lain mengingat biaya gas dan kepadatan lalu lintas beberapa protokol. USDT sendiri saat ini sudah tersedia di Layer 2 OMG Network dan diluncurkan pada blockchainSolana berkeceptan tinggi.
Dilansir dalam wawancara bersama Forbes, dua eksekutif Visa, Cuy Sheffield, yang menjabat sebagai Direktur dan Kepala bagian cryptocurrency, dan Terry Angelos, Kepala FinTek Global SVP di Visa, sedang mempertimbangkan langkah selanjutnya dari perusahaan dalam meningkatkan adopsi pembayaran berbasis blockchain pada klien visa.
Rencananya perusahaan ini juga akan membantu bank-bank sentral dunia dalam memanfaatkan peluang dari pengintegrasian sistem Mata Uang Digital Bank Sentral ini.
Terry mengakui perusahaan nantinya akan terlibat langsung dengan perkembangan pembangunan produk berbasis blockchain dan memberikan peluang untuk para kliennya sebagai aktor yang berperan secara tidak langsung dalam pembangunan mata uang digital ini.
Tidak hanya itu, nantinya perusahaan juga akan berfokus pada jaringan yang akan terus bekerja dalam membantu peningkatan dalam layanan Visa. Cuy Sheffield juga menambahkan Visa nantinya akan terus mengembangkan teknologi berbasis blockchain di dalam sistem operasinya, seiring juga dengan meningkatkan opsi pembayaran dengan mata uang crypto.
Meningkatnya Adopsi Mata Uang Crypto
Dengan Visa yang terus meningkatkan teknologinya berbasis blockchain dan layanan mata uang crypto. Ini menunjukan bahwa ada peningkatan minat yang signifikan terhadap mata uang crypto. Visa sendiri merupakan perusahaan layanan keuangan terbesar di dunia dengan 60 juta transaksi perdagangan setiap harinya di dalam jaringan. Saat ini, setidaknya Visa telah mendukung sekitar 25 perusahaan blockchain termasuk walletdan exchange crypto di seluruh dunia.
Keterlibatan Visa dengan Mata Uang Digital Bank Sentral
Cuy Sheffield selanjutnya mengatakan keterlibatan Visa dengan bank sentral di seluruh dunia terbilang sangat erat, ditambah mata uang digital bank sentral yang kian diminati. Terlebih, informasi terkait dengan aksesibilitas, penerimaan oleh para pedagang, dan kegunaan mata uang tersebut akan memberikan peluang besar bagi perusahaan untuk masuk dan mengambil andil dalam pembangunan sistem operasi ini.
Perusahaan tersebut juga berencana akan mengajukan hak paten terkait dengan mata uang digital berbasis blockchain dengan sistem komputer terpusat.
Beberapa waktu lalu, proyek blockchain Onfo menemukan bahwa cryptocurrency menyebar empat kali lebih cepat di negara berkembang dibandingkan dengan negara maju. Salah satu yang penyebarannya paling luas adalah Indonesia. Tim Onfo memulai eksperimen untuk melihat seberapa cepat aset kripto memperoleh popularitas di empat negara berbeda yaitu Indonesia, Amerika Serikat, Rusia dan Jerman.
Pendiri Onfo, J.R. Forsyth, mencatat bahwa Indonesia menunjukkan peluang untuk “pertumbuhan besar-besaran”. Data yang dihimpun oleh Coinvestasi dari PPATK dan exchange Indodax menunjukan jumlah trader crypto di Indonesia mengalami kenaikan signifikan hingga 2.263% dari tahun 2015.
Perkembangan crypto di Indonesia dibandingkan dengan empat negara lain. Sumber: News.Bitcoin.
Studi yang dilakukan oleh Mckinsey&Company menunjukan jika Indonesia termasuk negara dengan tingkat adopsi digital tertinggi di dunia. Sedangkan riset dari Google dan Temasek mengungkapkan jika Indonesia memimpin pertumbuhan internet ekonomi di Asia Tenggara dengan 40% setahun. Nilai dari ekonomi mencapai Rp596.2 triliun dan diprediksi bisa menyentuh Rp1.937 triliun di 2025.
Dari data tersebut sangat mungkin jika crypto dan blockchain akan tumbuh subur di Indonesia. Negara ini diprediksi memiliki prospek ekonomi digital yang sangat baik di masa mendatang. Selain itu, regulasi di Tanah Air pun sudah mengatur perihal Bitcoin dan bursa crypto melalui Bappebti.
Adanya aturan dan hukum yang jelas tentu akan sangat membantu perkembangan mata uang digital di dalam negeri. Misalnya, dengan dibukanya berbagai bursa jual beli Bitcoin hingga banyaknya proyek blockchain yang memberikan inovasi.
Menurut data dari Asosiasi Blockchain Indonesia, tercatat 13 bursa cryptocurrency sudah terdaftar di Bappebti dan 152 proyek terkait crypto dan blockchain yang ada di Indonesia.
Mike Kennedy, CEO dari Interstellar menyampaikan pendapatnya pada Coinvestasi bahwa Indonesia memiliki potensi kuat sebagai pasar utama cryptocurrency dan blockchain di Asia.
“Saya sangat yakin bahwa Indonesia adalah pasar utama cryptocurrency dan blockchain. Negara ini memiliki potensi kuat di Asia karena ukuran, ekonomi digital, dan dukungan regulasi yang kuat.”
Mike Kennedy, CEO Interstellar
Peluang Besar Crypto di Indonesia Menarik Minat Investor
Sebagai negara berpenduduk terbanyak keempat di dunia, dan teknologi yang masih terus berkembang. Indonesia tentu memilki peluang yang sangat besar untuk menjadi negara yang ramah terhadap dunia crypto dan blockchain. Oleh karena itu, banyak investor crypto yang tertarik untuk mengembangkan bisnisnya dan mendukung adopsi crypto di Indonesia.
“ Kami sangat akrab dengan pasar crypto di Asia, tapi ini adalah pertama kalinya kami belajar banyak tentang apa yang terjadi di Indonesia dan menurut kami hal itu sangat menarik. Tujuan kami adalah untuk mengetahui kondisi pasar di sini lebih jauh. Kami juga akan melihat kemungkinan yang terjadi di ruang P2P crypto. Kemudian membuat rencana lebih agresif menangani pengguna di pasar Indonesia, “ jelas Paul Murphy, CEO Cedmark.
Ia mengatakan ingin melihat produk DeFi yang menggunakan informasi kredit sebagai sarana untuk memberikan produk yang lebih fleksibel dan lebih mudah diakses.
Produk DeFi memang bisa jadi sangat menarik di dalam negeri. Sebab DeFi membuat proses investasi, pinjaman,dan transaksi lebih mudah tanpa perlu menggunakan rekening bank. Hal ini bisa menjadi solusi karena di Indonesia tercatat 80% masyarakatnya belum memilki rekening bank.
“ Mungkin saya hanya seorang optimis kripto, tetapi saya pikir tidak dapat dihindari bahwa layanan keuangan termasuk pinjaman yang dibangun di atas kripto akan berdampak besar pada layanan keuangan. Dalam beberapa kasus akan jauh lebih besar daripada yang tersedia secara tradisional, “ jelas Paul Murphy lagi.
Teknologi Blockchain dan Crypto Bisa Membantu Proses Transaksi
Hadirnya teknologi blockchain dan crypto di Indonesia juga bisa membantu proses penyelesaian transaksi yang panjang. Menggunakan teknologi blockchain bisa membuat institusi menggunakan proses yang lebih singkat dan aman. Salah satu penyedia layanan infrasturktur blockchain adalah Stacs yang berasal dari Singapura. Perusahaan ini pun tertarik untuk masuk ke dalam negeri.
Mereka melihat kasus yang ada di Malaysia, di mana Bursa Malaysia menggunakan kontrak pintar untuk mengelola sekuritas seperti dana, obligasi ekuitas. Mereka menggunakan blockchain untuk mengurangi biaya penerbitan serta mengujinya sebagai registri yang efektif untuk melacak transaksi.
“ Hal ini dapat diterapkan di Indonesia, katakanlah menerbitkan Sukuk pada blockchain dan mengurangi biaya penerbitan lebih efektif dengan penyelesaian instan. Ini meningkatkan aktivitas sukuk di pasar serta melengkapi strategi pemerintah dalam likuiditas, “ ujar Isabelle Sumarli, Business Development Manager Hashstacs.
Platform Hashstacs memungkinkan institusi menggunakan teknologi kontrak pintar untuk mengelola obligasi, dana, serta ekuitas dan keamanan.
“ Di Indonesia, badan pusat yang melakukan pencocokan perdagangan atau kustodian yang melayani masalah ini dapat menggunakan platform kami untuk menyelesaikan masalah ini dan menghemat lebih dari 2000 jam kerja penghematan biaya serta membantu mengurangi jeda perdagangan dan memperbaiki perdagangan, “ ungkap Isabelle Sumarli.
Indonesia memang masih terbilang cukup baru tentang crypto dan blockchain, di negara ini edukasi, pengembangan soal teknologi masih terus berlangsung. Namun dalam lima tahun terakhir ini Indonesia berhasil mengalami peningkatan pesat dan ini adalah hal yang sangat positif. Didukung oleh regulasi, teknologi, investor dalam atau luar negeri tentu perkembangan crypto dan blockchain Indonesia bisa meningkat lebih tinggi lagi di masa depan.
Bagaimana peningkatannya lima tahun yang akan datang ? Kita harus menunggu untuk mengetahui jawabannya, yang jelas pertumbuhan cryptocurrency di Indonesia tahun ini cukup positif meski kita dihantam pandemi yang berdampak pada ekonomi.
Indonesia disarankan menerapkan rupiah digital berteknologi blockchain untuk meningkatkan mutu tata kelola keuangan dan menjaga kedaulatan negara.
Munculnya aset kripto atau cryptocurrency (mata uang kripto) dan teknologi blockchain selama dekade terakhir, telah membawa kemungkinan baru dalam penerbitan dan penggunaan uang serta bentuk baru aset digital dan pasar yang menarik.
Bersamaan dengan perkembangan lingkungan geopolitik, ekonomi dan sosial yang pesat, tumbuh juga kebutuhan dan standar baru untuk pembayaran digital dan alat tukar yang aman, dapat dipercaya, dan mudah digunakan.
“Salah satunya adalah standar baru yang belakangan ini mulai gencar diterapkan di berbagai negara adalah mengenai Central Bank Digital Currency (CBDC),” kata Gilang Bhagaskara, Director of Blocksphere Indonesia.
Untuk mempercepat adopsi CBDC di Indonesia, baru-baru ini Blocksphere Indonesia yang bermitra dengan Consensys menerbitkan kembali laporan tinjauan adopsi CBDC yang berjudul “Laporan Resmi Consensys: Bank Central dan Masa Depan Uang Digital”. Laporan tersebut dapat diunduh di sini.
Di dalam laporan itu disebutkan bahwa Indonesia disarankan menerapkan rupiah digital dalam konteks Central Bank Digital Currency (CBDC).
“Selain dua hal itu, Indonesia berpotensi mempercepat inovasi keuangan digital dengan menerapkan mata uang digital bank sentral (CBDC),” kata Gilang Bhagasakara Director of Blocksphere Indonesia.
Lanjut Gilang, sebagai sebuah negara kepulauan dengan geografi yang berkarakter desentralistik, Indonesia memiliki tantangan soal fragmentasi data di banyak sektor. Pun termasuk sektor keuangan, pembayaran dan peraturan ekonomi.
Dengan CBDC yang berteknologi blockchain, Indonesia dapat mempercepat proses bisnis keuangan negara, baik di bidang ritel, antar bank, maupun antar negara.
“Inovasi produk keuangan pun menjadi ringkas dan cepat berkat CBDC dan bisa menciptakan model bisnis baru yang menguntungkan bagi negara,” paparnya.
Pandu Sastrowardoyo, VP of Consulting Blocksphere Indonesia & Supervisory Board Asosiasi Blockchain Indonesia menambahkan, bahwa CBDC pada prinsipnya berperan sebagai pelindung terhadap kedaulatan mata uang.
“Dengan banyaknya penelitian, pengembangan dan penerapan mata uang digital akhir-akhir ini, baik yang dikelola oleh negara asing dan perusahaan swasta, legal maupun tidak, tentu ini adalah tantangan kompetitif terhadap rupiah. Ringkasnya, suka atau tidak, pengguna uang di Indonesia kini telah terekspos ke pengalaman pengguna mata uang digital, yang memiliki banyak kemudahan dan berdayajangkau internasional,” katanya.
CBDC juga dapat membantu tata kelola keuangan di Indonesia. Transparansi yang menjadi basis dari rancangan teknologi itu, serta fitur kontra-perubahan (anti-tampering), bisa memperbesar auditabilitas dan pelacakan keuangan di seluruh Indonesia.
Blocksphere adalah perusahaan teknologi informasi di Indonesia yang memiliki spesialisasi dalam pengembangan blockchain.
Perusahaan yang didirikan pada tahun 2017 itu berpengalaman mengembangkan beragam solusi berbasis blockchain sejak teknologi itu mulai popular, di puluhan perusahaan berskala besar, baik nasional maupun mancanegara.
Di Indonesia, Blocksphere merupakan mitra strategis Consensys, perusahaan terkemuka asal AS di bidang blockchain. Consensys juga dikenal sebagai pencipta teknologi Hyperledger Besu, termasuk sebagai inisiator public blockchain, Ethereum.
Pada Agustus 2020, Consensys ini memperluas lingkup solusinya dengan membeli teknologi blockchain JPMorgan, Quorum. Dengan akuisisi teknologi ini, produk Hyperledger Besu kemudian bergabung ke dalam rumpun produk Consensys Quorum bersama GoQuorum.
Selain itu, Consensys dipercaya oleh banyak negara untuk mengembangkan solusi CBDC, termasuk yang terbaru di Hong Kong.
“Blocksphere siap menjadi mitra utama semua perusahaan di Indonesia dalam mengakses teknologi dan layanan Consensys. Khusus penerapan CBDC di Indonesia, Blocksphere siap bermitra dengan bank sentral,” pungkas Gilang.
Jack Dorsey, CEO Twitter mengatakan bahwa teknologi blockchain dan Bitcoin(BTC) adalah masa depan untuk Twitter. Tegasnya, Twitter sekarang berada di bisnis inovasi, dalam diskusi virtual “Oslo Freedom Forum 2020”, Jumat (25 September 2020).
“Blockchain dan Bitcoin (BTC) mengarah ke masa depan. Mereka mengarah ke dunia, di mana konten akan eksis selamanya. Saat ini kami tidak lagi dalam bisnis hosting konten, tetapi kami berada dalam bisnis inovasi,” katanya.
Untuk mewujudkan itu Dorseymengharapkan organisasi nirlaba, Blue Sky untuk membuat protokol Twitter lebih terbuka, di mana pengguna dapat berkontribusi dan mengakses data. Kelak Twitter menjadi lebih desentralistik dan melibatkan partisipasi pengguna.
“Blue Sky adalah organisasi nirlaba yang benar-benar terpisah dari perusahaan Twitter. Kami akan fokus menjadi kliennya, sehingga kami dapat membangun layanan dan bisnis yang menarik. Siapa pun dapat mengakses dan siapa pun dapat berkontribusi,” tegasnya.
Dia menambahkan, lembaga nonprofit tersebut masih mencari setidaknya lima peran, yang ditugaskan untuk membuat platform blockchain publik khusus untuk Twitter.
“Karakter itu adalah yang paling mendasar di Blockchain dan Bitcoin. Kuncinya adalah akan semakin banyak keterlibatan individu di Twitter,” ujar Dorsey.
Blue Sky kali pertama diumumkan oleh Dorsey pada akhir tahun 2019 silam. Ia menyebut peran organisasi itu sebagai “Open, Decentralized Standard for Social Media“, sebagai sebuah standar baru bagi media sosial yang memanfaatkan teknologi blockchain untuk menyimpan data, sekaligus sebagai sistem imbalan kepada penggunanya.
“Akhirnya, teknologi baru telah muncul untuk membuat pendekatan desentralisasi lebih memungkinkan. Blockchain adalah solusi hosting yang desentralistik, terbuka dan tahan lama. Unik dari segi tata kelola, dan bahkan monetisasi. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, tetapi fundamentalnya ada di sana,” kata Dorsey kala itu.