Tag: blockchain

  • Volume Kartu Kripto Naik 40x Lipat!

    Penggunaan stablecoin di Asia Tenggara mengalami lonjakan signifikan, namun dengan cara yang hampir tidak terlihat oleh pengguna. Di balik transaksi yang terasa seperti pembayaran biasa, infrastruktur berbasis kripto justru semakin mendominasi sistem pembayaran regional.

    Lonjakan penggunaan kartu kripto melesat tajam

    Dilaporkan Coindesk, perusahaan berbasis Singapura, StraitsX, mencatat pertumbuhan pesat dalam program kartu berbasis stablecoin. Dalam periode 2024 hingga 2025, volume transaksi melonjak hingga 40 kali lipat, sementara jumlah kartu yang diterbitkan meningkat 83 kali.

    Salah satu mitranya, RedotPay, bahkan memproses lebih dari $2,95 miliar transaksi sepanjang 2025. Secara global, penggunaan kartu kripto juga meningkat drastis, dengan volume bulanan naik dari sekitar $100 juta di awal 2023 menjadi lebih dari $1,5 miliar di akhir 2025.

    Teknologi bekerja di balik layar, pengguna tidak menyadari

    Menariknya, pengguna tidak perlu memahami bahwa mereka menggunakan stablecoin. Sistem ini dirancang agar bekerja “tidak terlihat”, di mana transaksi tetap terasa seperti pembayaran biasa menggunakan mata uang lokal.

    Ketika pengguna melakukan pembayaran, stablecoin digunakan sebagai lapisan penyelesaian di belakang layar, sementara merchant tetap menerima pembayaran dalam mata uang fiat secara instan.

    Pendekatan ini menjadi kunci adopsi, karena pengalaman pengguna tidak berubah meskipun teknologi di belakangnya berbeda.

    Baca juga: Coinbase Tolak RUU Kripto AS Terkait Yield Stablecoin

    Ekspansi lintas negara dan masa depan pembayaran digital

    StraitsX juga tengah memperluas jangkauan ke berbagai negara di Asia, termasuk Thailand melalui inisiatif Project BLOOM. Sistem ini memungkinkan pembayaran lintas negara secara seamless, tanpa mengubah kebiasaan pengguna.

    Selain itu, pengembangan stablecoin seperti XSGD dan XUSD di blockchain Solana membuka peluang untuk micropayment antar mesin dengan biaya yang sangat rendah.

    Dengan biaya transaksi yang semakin kecil dan integrasi yang semakin luas, stablecoin berpotensi menjadi fondasi baru dalam sistem pembayaran global, bukan sebagai teknologi yang terlihat, tetapi sebagai infrastruktur yang bekerja diam-diam di balik layar.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, ini adopsi nyata, karena stablecoin mulai menang justru saat user bahkan tidak sadar mereka sedang memakainya.

    “Begitu pembayaran kripto berubah jadi infrastruktur tak terlihat di balik kartu, QR, dan konversi lokal instan, pasar masuk ke fase di mana utilitas stablecoin bisa tumbuh jauh lebih cepat daripada narasi spekulatifnya,” ujarnya.

    Baca Juga: Coinbase Buka Era Agen AI Otonom Bertransaksi di Blockchain


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Solusi Investasi Emas yang Fleksibel dan Modern

    Di tengah perkembangan pesat industri kripto dan kebutuhan investor akan aset lindung nilai, tokenized gold atau emas yang ditokenisasi muncul sebagai solusi inovatif yang menggabungkan kestabilan emas dengan fleksibilitas teknologi blockchain.

    Tokenized gold merupakan representasi digital dari emas fisik yang disimpan di brankas oleh kustodian terpercaya. Umumnya, satu token mewakili satu ons emas atau jumlah tertentu dari emas asli, sehingga nilainya tetap mengikuti harga emas di pasar global.

    Konsep ini menjadi bagian dari tren Real World Assets (RWA), di mana aset dunia nyata diubah menjadi bentuk digital agar lebih mudah diakses dan diperdagangkan.

    Akses Lebih Mudah dan Fleksibel

    Berbeda dengan emas fisik yang membutuhkan biaya besar dan penyimpanan khusus, tokenized gold memungkinkan investor memiliki emas dalam jumlah kecil (fractional ownership). Hal ini membuka akses investasi emas bagi lebih banyak kalangan, bahkan hanya dengan modal kecil.

    Selain itu, token ini dapat diperdagangkan 24 jam sehari di platform kripto, berbeda dengan pasar emas tradisional yang terbatas pada jam operasional tertentu. Proses transaksi pun menjadi lebih cepat dan efisien.

    Cara Kerja Tokenized Gold

    Secara umum, proses tokenisasi emas melibatkan tiga tahap utama, yaitu penyimpanan emas fisik oleh penerbit, pembuatan token digital melalui smart contract, serta audit berkala untuk memastikan jumlah token sesuai dengan cadangan emas yang dimiliki.

    Investor yang memiliki token juga dapat memperdagangkannya di bursa kripto atau, dalam beberapa kasus, menukarkannya kembali dengan emas fisik sesuai ketentuan yang berlaku.

    Transparansi dan Integrasi DeFi

    Keunggulan lain dari tokenized gold adalah transparansi melalui teknologi blockchain. Catatan kepemilikan tersimpan secara permanen dan dapat diverifikasi, terutama jika didukung oleh sistem proof of reserve.

    Tidak hanya itu, aset ini juga dapat dimanfaatkan dalam ekosistem decentralized finance (DeFi), seperti dijadikan jaminan pinjaman atau sumber likuiditas, sehingga memberikan nilai tambah dibandingkan emas fisik yang cenderung pasif.

    Contoh Produk dan Perkembangan Pasar

    Beberapa contoh tokenized gold yang populer di pasar adalah Tether Gold (XAUT) dan Paxos Gold (PAXG), yang masing-masing didukung oleh emas fisik yang disimpan di brankas di Swiss dan London.

    Seiring meningkatnya minat terhadap aset digital, tokenized gold diperkirakan akan terus berkembang sebagai jembatan antara keuangan tradisional dan ekosistem kripto.

    Risiko yang Perlu Diperhatikan

    Meski menawarkan berbagai keunggulan, tokenized gold juga memiliki risiko, terutama terkait kepercayaan terhadap pihak kustodian yang menyimpan emas. Jika terjadi masalah pada penerbit, nilai token bisa terdampak.

    Selain itu, regulasi terkait aset digital masih terus berkembang di berbagai negara, sehingga dapat memengaruhi perdagangan dan penggunaan tokenized gold di masa depan.

    Likuiditas yang masih lebih rendah dibandingkan pasar emas global serta potensi biaya transaksi juga menjadi pertimbangan bagi investor.

    Penutup

    Tokenized gold menjadi salah satu inovasi penting dalam transformasi keuangan digital. Dengan menggabungkan keamanan emas dan kemudahan teknologi blockchain, instrumen ini menawarkan alternatif investasi yang lebih modern, fleksibel, dan inklusif di era digital.

    Baca juga: Linea: Kuda Hitam Layer-2 Ethereum Siap Geser Arbitrum dan zkSync!

    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bank Dunia Lirik Aset Blockchain: Era Baru Keuangan Dimulai

    Industri perbankan global mulai bergerak cepat menghadapi perubahan besar dalam sistem keuangan digital.

    Laporan terbaru dari RWA.io mengungkap bahwa bank-bank kini активно mengembangkan tokenized deposits sebagai bagian dari persaingan menghadirkan “uang onchain”, di tengah meningkatnya popularitas stablecoin dan rencana mata uang digital bank sentral (CBDC).

    Tokenized Deposits Jadi Senjata Baru Bank

    Tokenized deposits merupakan representasi digital dari simpanan bank yang ditempatkan di atas teknologi blockchain. Berbeda dengan stablecoin, aset ini tetap menjadi kewajiban langsung bank penerbit dan berada dalam kerangka regulasi perbankan, termasuk perlindungan simpanan, aturan modal, serta standar AML dan KYC.

    Konsep ini dinilai sebagai solusi tengah antara inovasi teknologi dan keamanan sistem keuangan tradisional, memungkinkan bank tetap relevan di era digital tanpa kehilangan kontrol terhadap dana nasabah.

    Persaingan “Onchain Cash” Semakin Memanas

    Laporan tersebut menyebutkan bahwa tokenized deposits kini berkembang sebagai bagian dari ekosistem “onchain cash” bersama stablecoin dan CBDC. UK Finance bahkan menilai instrumen ini akan memainkan peran penting dalam sistem “multi-money” di masa depan, di mana berbagai bentuk uang digital akan hidup berdampingan.

    Langkah ini juga mencerminkan upaya bank untuk mempertahankan peran mereka dalam sistem pembayaran, pengelolaan likuiditas, dan layanan treasury di tengah meningkatnya adopsi teknologi blockchain.

    Tim Research Tokocrypto mengungkap ini jelas sinyal adopsi, bukan eksperimen pinggiran. Saat bank besar mulai membangun representasi digital dari deposit mereka sendiri, pasar sedang bergerak ke fase di mana institusi tidak lagi sekadar bereaksi pada stablecoin.

    “Tapi mulai menyiapkan versi onchain dari uang mereka sendiri untuk mempertahankan relevansi di era settlement 24/7,” ujarnya.

    Baca juga: Bank Inggris Pindahkan Tabungan ke Blockchain: Apakah Aman?

    Uji Coba Mulai Dilakukan di Eropa

    Dilaporkan Cointelegraph, sejumlah bank besar telah memulai uji coba teknologi ini. Pada Januari lalu, Lloyds Banking Group bersama Archax berhasil menyelesaikan transaksi blockchain publik pertama di Inggris menggunakan tokenized deposits di jaringan Canton.

    Selain itu, proyek Great British Tokenised Deposit yang dipimpin UK Finance tengah menguji berbagai use case seperti pembayaran peer-to-peer, refinancing properti, hingga settlement aset digital, dengan target pengujian berlangsung hingga pertengahan 2026.

    Eropa Siapkan Infrastruktur Keuangan Digital

    Di sisi kebijakan, European Central Bank (ECB) juga tengah mempercepat pengembangan digital euro sebagai respon terhadap dominasi stablecoin berbasis dolar AS. ECB bahkan merancang infrastruktur baru bernama “Pontes” untuk menghubungkan sistem keuangan berbasis blockchain dengan jaringan pembayaran tradisional Eropa (TARGET Services).

    Sistem ini dijadwalkan mulai diluncurkan pada kuartal ketiga 2026, sementara uji coba digital euro direncanakan dimulai pada paruh kedua 2027.

    Menuju Sistem Keuangan Hybrid

    Menurut pelaku industri, masa depan sistem keuangan tidak akan bergantung pada satu jenis uang digital saja. Tokenized deposits dipandang sebagai fondasi penting karena membawa uang bank komersial ke dalam ekosistem digital tanpa mengubah struktur dasar sistem keuangan.

    Perkembangan ini menandakan bahwa persaingan tidak lagi hanya soal aset kripto, tetapi juga tentang siapa yang menguasai infrastruktur “uang digital” di masa depan.

    Baca juga: Paxos Tak Sengaja Cetak Stablecoin $300 Triliun untuk PayPal!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • NYSE Siapkan Settlement Blockchain: Era Baru Wall Street?

    New York Stock Exchange (NYSE) semakin serius menjajaki pemanfaatan teknologi blockchain dalam infrastruktur pasar modal.

    Namun berbeda dengan narasi disruptif yang sering melekat pada kripto, pendekatan yang diambil justru bersifat evolusioner: bukan mengganti sistem lama, melainkan “melapisinya” dengan teknologi baru.

    Berdasarkan laporan CoinDesk, NYSE tengah mengeksplorasi sejumlah inovasi penting, termasuk settlement real-time atau near real-time, perpanjangan jam perdagangan, hingga interoperabilitas antara aset yang ditokenisasi dengan sistem keuangan tradisional.

    Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma di level institusional. Jika sebelumnya pertanyaan utamanya adalah “apakah blockchain akan digunakan?”, kini bergeser menjadi “bagaimana blockchain diintegrasikan tanpa mengganggu sistem yang sudah berjalan.”

    Baca Juga: Cerita Pendek Bitcoin dengan Bakkt dan NYSE

    Integrasi, Bukan Disrupsi

    Alih-alih melakukan overhaul total terhadap infrastruktur keuangan, NYSE tetap mempertahankan komponen inti seperti clearing terpusat, perlindungan investor, serta kerangka regulasi yang sudah mapan. Blockchain diposisikan sebagai lapisan tambahan untuk meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas.

    Langkah ini dianggap lebih realistis, mengingat kompleksitas sistem pasar modal global yang telah terbangun selama puluhan tahun. Integrasi bertahap memungkinkan inovasi tanpa memicu risiko sistemik yang besar.

    Salah satu fokus utama adalah settlement transaksi yang lebih cepat.

    Saat ini, proses penyelesaian transaksi saham masih membutuhkan waktu (T+1 atau lebih), sementara blockchain berpotensi memangkasnya menjadi hampir instan. Efisiensi ini bisa berdampak besar pada likuiditas dan pengurangan risiko counterparty.

    Tokenisasi Jadi Kunci

    Selain settlement, NYSE juga melihat potensi besar pada tokenisasi aset.

    Dengan mengubah aset tradisional menjadi token digital di blockchain, perdagangan bisa menjadi lebih fleksibel, transparan, dan bahkan dapat diakses di luar jam pasar konvensional.

    Interoperabilitas antara aset tokenized dan sistem lama menjadi aspek krusial. Ini memastikan bahwa inovasi tidak menciptakan fragmentasi, melainkan justru memperluas fungsi dari infrastruktur yang sudah ada.

    Pendekatan ini juga membuka peluang untuk memperpanjang jam perdagangan, bahkan menuju pasar yang beroperasi hampir 24/7, tanpa harus membangun sistem baru dari nol.

    Perspektif Industri: Diam-Diam Tapi Signifikan

    Tim riset dari Tokocrypto menilai strategi ini sebagai bentuk adopsi institusional yang sangat signifikan, meski tidak terlihat revolusioner di permukaan.

    “Ini jelas adopsi level institusional karena pesan dari NYSE bukan lagi ‘apakah blockchain dipakai’, tapi ‘bagaimana blockchain dipasang tanpa merusak mesin Wall Street yang sudah berjalan.’ Pendekatan seperti ini jauh lebih berbahaya buat sistem lama justru karena ia tidak revolusioner di permukaan, tapi perlahan membuat tokenisasi terasa normal dan tak terhindarkan,” kata Tim Research Tokocrypto.

    Menurut mereka, pendekatan “diam-diam” ini justru berpotensi mempercepat normalisasi blockchain di dunia keuangan. Ketika teknologi diintegrasikan tanpa gesekan besar, resistensi dari pelaku industri cenderung lebih rendah.

    Dampak Jangka Panjang

    Jika strategi ini berhasil, dampaknya bisa sangat luas. Blockchain tidak lagi dipandang sebagai alternatif sistem keuangan, tetapi sebagai bagian integral dari infrastruktur yang ada.

    Hal ini juga bisa menjadi sinyal kuat bagi regulator dan institusi lain untuk mengikuti jejak serupa. Dengan tetap mempertahankan kerangka regulasi, adopsi blockchain bisa berjalan lebih harmonis tanpa menimbulkan ketidakpastian hukum.

    Di sisi lain, pendekatan ini juga memperkuat narasi bahwa masa depan keuangan bukanlah “tradisional vs kripto”, melainkan kombinasi keduanya.

    Baca Juga: NYSE Siap Tokenisasi Saham, Sinyal Bullish Besar untuk Kripto

    Langkah NYSE menunjukkan bahwa evolusi teknologi finansial tidak selalu harus bersifat disruptif. Integrasi bertahap blockchain ke dalam sistem lama justru bisa menjadi strategi paling efektif untuk mendorong adopsi massal.

    Dengan fokus pada efisiensi, interoperabilitas, dan stabilitas, NYSE tampaknya sedang membangun fondasi baru bagi pasar modal—tanpa harus meruntuhkan yang lama.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Perangi Markas Scam Asia Tenggara

    Pemerintah Inggris meningkatkan tekanan terhadap ekosistem kripto yang diduga terlibat dalam aktivitas ilegal dengan menjatuhkan sanksi terhadap Xinbi, sebuah marketplace berbasis China yang dikaitkan dengan jaringan penipuan di Asia Tenggara.

    Langkah ini menjadi bagian dari strategi yang lebih luas dalam membongkar infrastruktur finansial yang menopang scam centre, bukan sekadar mengejar pelaku individu di lapangan.

    Xinbi Diduga Fasilitasi Aktivitas Ilegal

    Menurut laporan Chainalysis, Xinbi memproses lebih dari US$19,9 miliar transaksi kripto dalam periode 2022 hingga 2025.

    Platform ini diduga menyediakan layanan penting bagi jaringan penipuan, termasuk perdagangan data pribadi curian dan perangkat komunikasi yang digunakan dalam operasi scam.

    Aktivitas ini memperkuat dugaan bahwa marketplace seperti Xinbi berperan sebagai tulang punggung logistik bagi industri penipuan digital yang berkembang pesat di kawasan Asia Tenggara.

    Baca Juga: Kerugian Phishing Kripto Melonjak 200%, Apa yang Harus Diwaspadai?

    Sanksi Meluas ke Jaringan Lain

    Tidak hanya Xinbi, paket sanksi terbaru juga menyasar Huione serta sejumlah operator scam centre yang berbasis di Kamboja.

    Sanksi tersebut mencakup pembekuan aset serta pembatasan akses terhadap sistem keuangan global. Dengan demikian, entitas yang terlibat akan kesulitan mengakses likuiditas dan menjalankan operasional mereka secara normal.

    Langkah ini menunjukkan eskalasi serius dalam pendekatan regulator, yang kini tidak hanya fokus pada individu, tetapi juga pada jaringan dan infrastruktur pendukungnya.

    Regulasi Masuk Fase Baru

    Tim riset dari Tokocrypto menilai bahwa kebijakan ini mencerminkan perubahan signifikan dalam strategi penegakan hukum di sektor kripto.

    “Ini regulasi yang sudah masuk fase serang infrastruktur, bukan lagi sekadar tangkap operator lapangan. Saat pemerintah mulai membidik marketplace, jalur pembayaran, dan ekosistem kripto yang menopang scam centres, pesan ke pasar jelas: fasilitas on-chain yang bersinggungan dengan kejahatan terorganisir sekarang ada di garis tembak langsung negara,” ungkap Tim Research Tokocrypto.

    Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam jangka panjang, karena memutus sumber daya yang memungkinkan kejahatan terus berlangsung.

    Dampak ke Industri Kripto

    Sanksi terhadap Xinbi dan jaringan terkait berpotensi memberikan dampak luas terhadap industri kripto, khususnya dalam hal kepatuhan (compliance) dan transparansi.

    Platform yang beroperasi di sektor ini kini dihadapkan pada tekanan yang lebih besar untuk memastikan bahwa layanan mereka tidak digunakan untuk aktivitas ilegal.

    Menurut laporan The Block, hal ini dapat mendorong peningkatan penggunaan teknologi analitik blockchain serta kerja sama dengan regulator.

    Di sisi lain, langkah ini juga bisa meningkatkan kepercayaan investor institusional terhadap ekosistem kripto.

    Dengan adanya tindakan tegas terhadap penyalahgunaan, industri dapat terlihat lebih matang dan siap untuk adopsi yang lebih luas.

    Asia Tenggara Jadi Sorotan

    Kawasan Asia Tenggara, termasuk negara-negara seperti Indonesia, Thailand, dan Vietnam, dalam beberapa tahun terakhir memang menjadi pusat perhatian terkait maraknya scam centre berbasis digital.

    Faktor seperti pertumbuhan pengguna internet, adopsi kripto yang cepat, serta celah regulasi di beberapa wilayah membuat kawasan ini rentan dimanfaatkan oleh jaringan kejahatan terorganisir.

    Dengan sanksi ini, pemerintah Inggris mengirim sinyal kuat bahwa kejahatan berbasis kripto tidak lagi dianggap sebagai isu lokal, melainkan ancaman global yang membutuhkan respons lintas negara.

    Baca Juga: Inggris Pertimbangkan Izinkan Kripto untuk Judi Online

    Langkah Inggris menjatuhkan sanksi terhadap Xinbi menandai babak baru dalam perang melawan kejahatan kripto.

    Fokus yang kini beralih ke infrastruktur menunjukkan pendekatan yang lebih strategis dan sistematis.

    Bagi industri kripto, ini adalah peringatan sekaligus peluang. Di satu sisi, tekanan regulasi akan meningkat. Namun di sisi lain, upaya ini juga dapat memperkuat legitimasi sektor ini di mata publik dan investor.

    Ke depan, kolaborasi antara regulator, perusahaan blockchain, dan pelaku industri akan menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem kripto yang lebih aman dan berkelanjutan.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bank Inggris Pindahkan Tabungan ke Blockchain: Apakah Aman?

    Monument Bank mengumumkan rencana ambisius untuk mentokenisasi hingga £250 juta dana simpanan nasabah ke dalam jaringan blockchain publik yang dikembangkan oleh Midnight Foundation. Langkah ini menjadi salah satu inisiatif pertama dari bank berlisensi di Inggris yang membawa produk tabungan ritel langsung ke teknologi blockchain, tanpa menghilangkan perlindungan konsumen yang berlaku.

    Tokenized Savings Tetap Dijamin dan Terlindungi

    Dilaporkan Coin Turk, bank yang berdiri sejak 2018 dan diawasi oleh Bank of England ini saat ini mengelola sekitar £7 miliar dana dari lebih 100.000 nasabah. Dalam skema baru tersebut, setiap token digital akan merepresentasikan pound sterling yang disimpan di bank. Nasabah tetap dapat memperoleh bunga, menarik dana dalam GBP kapan saja, serta tetap terlindungi oleh Financial Services Compensation Scheme (FSCS).

    Menariknya, penggunaan blockchain tidak akan terasa langsung oleh nasabah karena seluruh interaksi tetap dilakukan melalui aplikasi Monument tanpa perlu memahami wallet atau private key. Infrastruktur blockchain di balik layar dirancang untuk memastikan keamanan data, transparansi, serta pencatatan transaksi yang tidak dapat dimanipulasi.

    Teknologi Midnight Jawab Tantangan Privasi

    Teknologi yang digunakan berasal dari Midnight Foundation, yang berfokus pada blockchain publik dengan fitur privasi tinggi. Sistem ini memungkinkan transaksi tetap tercatat secara transparan di jaringan, namun data sensitif hanya dapat diakses oleh pihak terkait. Pendekatan ini dinilai mampu menjawab tantangan utama industri keuangan, yaitu menyeimbangkan transparansi blockchain dengan kebutuhan privasi dalam sistem perbankan modern.

    Presiden Midnight Foundation, Fahmi Syed, menyebut bahwa permintaan terhadap produk keuangan berbasis blockchain yang tetap patuh regulasi terus meningkat.

    Baca juga: Inggris Siapkan Langkah Besar Lawan Ancaman Penipuan Kripto

    Industri Keuangan Mulai Bergeser ke Blockchain

    Pendiri Monument Bank, Mintoo Bhandari, menegaskan bahwa inovasi ini ditujukan untuk menghadirkan layanan keuangan canggih kepada segmen nasabah mass-affluent yang selama ini kurang mendapatkan akses optimal.

    Langkah ini juga menandai pergeseran penting dalam industri keuangan global, di mana institusi mulai mengeksplorasi penggunaan blockchain untuk produk yang sebelumnya hanya tersedia secara konvensional.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, kalau ini jalan, dampaknya jauh lebih besar dari sekadar eksperimen bank dengan blockchain.

    “Ini berarti deposito ritel mulai dipindahkan ke rel on-chain tanpa memaksa pengguna jadi crypto-native, dan itu salah satu bentuk adopsi paling berbahaya buat sistem lama karena terjadi diam-diam di balik antarmuka perbankan biasa,” analisanya.

    Roadmap 3 Tahap: Dari Tabungan Hingga Pinjaman

    Tidak hanya berhenti pada tokenisasi tabungan, Monument juga menyiapkan roadmap tiga tahap. Pada fase berikutnya, nasabah akan mendapatkan akses ke produk investasi yang telah ditokenisasi seperti private equity, komoditas, dan instrumen terstruktur yang biasanya hanya tersedia bagi investor institusi.

    Fase ketiga akan menghadirkan layanan pinjaman berbasis agunan investasi, memungkinkan nasabah memperoleh likuiditas tanpa harus menjual aset mereka. CEO Monument Bank, Ian Rand, menyatakan bahwa integrasi teknologi ini bertujuan menggabungkan inovasi finansial dengan standar perlindungan bank konvensional.

    Potensi Pasar Tokenisasi Capai Triliunan Dolar

    Daniel Fozzati dari The Building Blocks menyebut proyek ini sebagai terobosan global yang memanfaatkan ekosistem inovasi Inggris.

    Sebagai gambaran skala perkembangan, Boston Consulting Group memproyeksikan pasar aset tokenisasi dapat mencapai nilai antara $4 triliun hingga $16 triliun pada tahun 2030. Langkah Monument Bank dinilai menjadi sinyal kuat bahwa transformasi menuju sistem keuangan berbasis blockchain kini mulai menyasar sektor perbankan ritel secara langsung.

    Baca juga: Paxos Tak Sengaja Cetak Stablecoin $300 Triliun untuk PayPal!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • McLaren Ekspansi Blockchain, Bagikan Aset Digital Gratis

    McLaren Racing resmi bergabung dengan Hedera Council, sebuah langkah yang menandai ekspansi serius tim balap legendaris ini ke dunia blockchain.

    Dilaporkan Coin Turk, keputusan ini menempatkan McLaren sebagai bagian dari pengambil keputusan dalam pengembangan jaringan Hedera, sejajar dengan perusahaan-perusahaan besar global lainnya. Dengan basis penggemar yang tersebar di lebih dari 180 negara, langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa industri motorsport mulai mengarah ke integrasi teknologi Web3.

    Sebagai bagian dari kolaborasi ini, McLaren langsung meluncurkan program digital collectibles yang bisa diklaim secara gratis oleh penggemar. Koleksi ini akan dirilis sepanjang musim balap 2026 dan terhubung langsung dengan event besar seperti Formula 1 dan IndyCar.

    Dimulai dari Grand Prix Australia, dilanjutkan China dan Jepang, setiap collectibles dirancang untuk memperkuat pengalaman fans dengan pendekatan yang lebih interaktif. Menariknya, akses dibuat lebih mudah karena pengguna bisa mengklaim tanpa harus memiliki wallet crypto, cukup melalui login biasa berbasis web.

    Baca Juga: Alpine F1 Token (ALPINE) Bikin Kaget, Naik 180%! Siap Jadi Sultan?

    Koleksi Digital Gratis Jadi Strategi Baru Gaet Fans Global

    Program ini bukan sekadar gimmick, tetapi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun komunitas digital. Pemilik collectibles akan mendapatkan akses ke konten eksklusif serta aktivitas komunitas berbasis blockchain, terutama melalui Discord.

    McLaren melihat ini sebagai cara baru untuk menciptakan keterlibatan yang lebih dalam antara tim dan penggemar, sekaligus memperkenalkan teknologi blockchain ke audiens yang lebih luas.

    Tim Research Tokocrypto mengatakan ini jelas adopsi, bukan gimik logo tempel. Saat brand sebesar McLaren masuk sampai level governance dan loyalty program on-chain, blockchain mulai dipakai sebagai rel hubungan pelanggan global, bukan sekadar alat spekulasi aset digital.

    Dampak Lebih Luas, Web3 Masuk ke Dunia Olahraga Elite

    Kolaborasi antara McLaren dan Hedera juga mencerminkan tren yang lebih besar di industri olahraga, di mana teknologi blockchain mulai digunakan untuk membangun loyalty program, aset digital, hingga sistem interaksi baru dengan fans.

    Hedera sendiri menargetkan posisinya sebagai jaringan blockchain yang efisien dan siap digunakan oleh perusahaan besar. Kehadiran McLaren memperkuat posisi tersebut, sekaligus membuka peluang baru bagi inovasi di sektor olahraga.

    Ke depan, McLaren juga akan terlibat dalam berbagai aktivitas blockchain lainnya, termasuk partisipasi dalam HederaCon di Miami yang bertepatan dengan Formula 1 Miami Grand Prix 2026. Langkah ini semakin menegaskan bahwa masa depan interaksi fans tidak lagi hanya di tribun atau layar TV, tetapi juga di dunia digital yang terdesentralisasi.

    Baca Juga: Fans Token Alpine F1 Ngebut, Apa Rahasianya?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kasus BitClout Disetop SEC, Angin Segar Buat Kripto?

    Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat, Securities and Exchange Commission (SEC), secara resmi menghentikan kasus hukum terhadap pendiri BitClout, Nader Al-Naji, setelah proses yang berlangsung selama dua tahun.

    Keputusan ini diambil dengan status dismissed with prejudice, yang berarti SEC tidak dapat mengajukan kembali tuntutan yang sama terhadap Al-Naji dalam perkara tersebut.

    Langkah ini langsung memicu perhatian luas di industri kripto karena berpotensi mencerminkan perubahan pendekatan regulator terhadap sektor aset digital.

    Baca Juga: Sinyal SEC: Gugatan Airdrop Dicabut, Aturan Token Berubah?

    Latar Belakang Kasus BitClout

    Sebagaimana dikutip dari Cointelegraph, kasus ini bermula dari tuduhan bahwa Al-Naji menghimpun lebih dari $257 juta melalui penjualan token BTCLT yang terkait dengan proyek BitClout.

    SEC juga menuduh adanya penyalahgunaan dana lebih dari $7 juta untuk kepentingan pribadi.

    Selain itu, proyek tersebut disebut menyesatkan investor dengan klaim desentralisasi yang tidak sepenuhnya akurat.

    Namun, setelah meninjau ulang bukti dan mempertimbangkan perkembangan terbaru dalam kebijakan internal, SEC memutuskan untuk menghentikan kasus tersebut.

    Peran Crypto Task Force

    Keputusan penghentian ini tidak terlepas dari pengaruh crypto task force yang dibentuk SEC pada Januari 2025.

    Tim ini bertugas mengevaluasi ulang pendekatan regulator terhadap industri kripto, termasuk kasus-kasus yang sedang berjalan.

    Langkah ini menunjukkan adanya upaya untuk menyesuaikan strategi penegakan hukum dengan dinamika industri yang terus berkembang.

    Apa Arti “Dismissed with Prejudice”?

    Status hukum ini memiliki implikasi penting: kasus tidak dapat diajukan ulang oleh SEC, memberikan kepastian hukum bagi pihak terdakwa, dan menutup peluang litigasi lanjutan untuk tuduhan yang sama.

    Dengan kata lain, Al-Naji dan pihak terkait kini terbebas dari ancaman hukum atas kasus tersebut secara permanen.

    Tentang Regulasi, Bukan Adopsi

    Menurut Tim riset dari Tokocrypto, perkembangan ini harus dilihat sebagai isu regulasi, bukan sinyal adopsi pasar.

    “Ini jelas isu regulasi karena intinya adalah rollback penegakan hukum oleh SEC, bukan adopsi pasar atau peluncuran produk. Implikasi lebih besarnya brutal: pasar akan membaca langkah ini sebagai sinyal bahwa pendekatan enforcement-first era lama makin dilepas, tapi SEC sendiri sudah menegaskan hasil ini sangat case-specific, jadi jangan bodoh dan menganggap semua kasus crypto bakal ambruk otomatis,” ujar Tim Research Tokocrypto.

    Pernyataan ini menegaskan bahwa meskipun keputusan ini signifikan, dampaknya tidak bisa digeneralisasi ke seluruh industri.

    Sinyal Perubahan Pendekatan SEC?

    Selama beberapa tahun terakhir, SEC dikenal dengan pendekatan enforcement-first, di mana regulator lebih fokus pada penegakan hukum dibandingkan memberikan panduan yang jelas.

    Namun, penghentian kasus ini bisa diartikan sebagai evaluasi ulang strategi lama, upaya mengurangi ketidakpastian hukum, dan pendekatan yang lebih selektif terhadap kasus.

    Meski demikian, SEC menegaskan bahwa keputusan ini bersifat spesifik untuk kasus tertentu.

    Dampak bagi Industri Kripto

    Keputusan ini memiliki beberapa implikasi penting:

    1. Sentimen Pasar

    Pelaku pasar bisa melihat ini sebagai sinyal pelonggaran tekanan regulasi.

    2. Preseden Hukum

    Meski tidak bisa dijadikan acuan umum, kasus ini tetap menjadi referensi penting.

    3. Strategi Proyek Kripto

    Proyek lain mungkin akan lebih berhati-hati dalam desain token dan komunikasi kepada investor.

    Risiko Interpretasi Berlebihan

    Salah satu risiko terbesar dari keputusan ini adalah overinterpretation oleh pasar. Banyak pelaku industri mungkin menganggap bahwa SEC mulai melonggarkan semua kasus kripto.

    Padahal, setiap kasus memiliki konteks yang berbeda, termasuk struktur proyek, cara distribusi token, bukti yang tersedia, dan dampak terhadap investor.

    Baca Juga: Kasus SEC vs Justin Sun Berujung Denda $10 Juta, Tuduhan Dicabut

    Penghentian kasus BitClout oleh SEC menjadi salah satu perkembangan paling menarik dalam lanskap regulasi kripto saat ini.

    Keputusan ini menunjukkan adanya perubahan pendekatan, meskipun masih bersifat terbatas dan spesifik.

    Bagi industri, ini adalah pengingat bahwa regulasi tetap menjadi faktor kunci yang tidak bisa diabaikan. Sementara itu, bagi investor dan pelaku pasar, penting untuk tidak menarik kesimpulan berlebihan dari satu kasus.

    Ke depan, arah kebijakan SEC akan menjadi penentu utama apakah industri kripto akan menghadapi lingkungan yang lebih kondusif atau tetap berada di bawah tekanan ketat regulator.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Skandal Libra Seret Javier Milei Senilai $5 Juta

    Dunia kripto kembali diguncang isu kontroversial setelah muncul laporan mengenai dugaan dokumen yang mengaitkan Presiden Argentina, Javier Milei, dengan promosi token Libra.

    Dokumen tersebut, yang diklaim ditemukan dari ponsel pelobi kripto Mauricio Novelli, disebut merinci skema pembayaran senilai $5 juta yang diduga berkaitan dengan dukungan terhadap token tersebut.

    Menurut laporan The Block, jika dugaan ini terbukti, kasus ini berpotensi berkembang dari sekadar kontroversi kripto menjadi isu politik serius.

    Baca Juga: Skandal Libra: CEO Kelsier Diduga Bayar Adik Presiden Argentina

    Isi Dokumen: Pembayaran Bertahap dan Keterkaitan Promosi

    Berdasarkan laporan yang beredar, dokumen tersebut menguraikan skema pembayaran dalam beberapa tahap.

    Pembayaran ini diduga dikaitkan dengan pengumuman publik terkait token Libra, hubungan dengan tokoh kripto Hayden Davis, kontrak konsultasi di bidang blockchain dan kecerdasan buatan (AI), dan keterlibatan pihak yang disebut berada dalam lingkaran dekat Milei.

    Selain itu, catatan panggilan forensik yang beredar juga disebut memperkuat dugaan adanya koordinasi dalam promosi token tersebut.

    Dari Memecoin ke Dugaan Isu Politik

    Awalnya, token Libra hanya dipandang sebagai bagian dari tren memecoin yang sering kali mengandalkan hype dan dukungan figur publik. Namun, dengan munculnya dokumen ini, narasi kasus berubah secara drastis.

    Jika tuduhan ini terbukti benar, maka kasus Libra tidak lagi sekadar soal spekulasi pasar, melainkan berpotensi menjadi dugaan penyalahgunaan jabatan, potensi konflik kepentingan, hingga risiko pelanggaran hukum terkait korupsi.

    Perubahan ini dapat meningkatkan tekanan terhadap pihak-pihak yang terlibat, termasuk pemerintahan Argentina.

    Dampak Lebih Luas dari Sekadar Skandal Kripto

    Menurut Tim riset dari Tokocrypto, temuan ini memiliki implikasi yang jauh lebih besar dari sekadar isu kripto biasa.

    “Kalau temuan ini terbukti, kasus Libra akan bergeser dari sekadar skandal memecoin menjadi isu penyalahgunaan jabatan dan potensi korupsi politik yang jauh lebih berat,” ungkap Tim Research Tokocrypto.

    Dalam skala yang lebih luas, Tim Research Tokocrypto menjelaskan dampaknya bukan cuma ke Milei, tapi juga ke cara regulator dan publik memandang promosi token oleh tokoh negara, karena pasar akan makin menuntut disclosure, jejak komunikasi, dan akuntabilitas yang lebih brutal terhadap endorsement kripto bernuansa politik.

    Secara keseluruhan, dampak dari kasus ini bisa saja meluas ke seluruh ekosistem kripto global.

    Risiko Reputasi dan Regulasi

    Jika dugaan ini terbukti, konsekuensinya bisa sangat signifikan, baik dari sisi politik maupun industri kripto:

    1. Risiko Reputasi

    Nama Presiden Milei dan pemerintahannya dapat terdampak serius.

    2. Pengetatan Regulasi

    Regulator kemungkinan akan memperketat aturan terkait promosi token, terutama oleh pejabat publik.

    3. Perubahan Persepsi Publik

    Masyarakat bisa menjadi lebih skeptis terhadap endorsement kripto oleh figur terkenal.

    Transparansi Jadi Kunci

    Kasus ini juga menyoroti pentingnya transparansi dalam promosi aset kripto. Ke depan, pasar kemungkinan akan menuntut:

    • Pengungkapan (disclosure) yang lebih jelas
    • Dokumentasi komunikasi yang dapat diaudit
    • Akuntabilitas penuh dari pihak yang terlibat

    Hal ini menjadi penting untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas pasar.

    Dampak bagi Industri Kripto Global

    Terlepas dari hasil investigasi, kasus ini berpotensi memicu perubahan besar, terutama terkait standar etika dalam promosi kripto meningkat.

    Selain itu, keterlibatan tokoh politik dalam aset digital diawasi lebih ketat sehingga proyek kripto harus lebih berhati-hati dalam strategi pemasaran.

    Dalam jangka panjang, hal ini bisa mempercepat profesionalisasi industri kripto.

    Baca Juga: Token Libra: Kontroversi dan Seruan Akuntabilitas di Dunia Meme Coin

    Dugaan dokumen pembayaran $5 juta yang mengaitkan Javier Milei dengan promosi token Libra membuka babak baru dalam hubungan antara kripto dan politik.

    Jika terbukti, kasus ini dapat menjadi salah satu skandal terbesar yang menggabungkan kedua dunia tersebut.

    Lebih dari sekadar isu lokal, perkembangan ini berpotensi mengubah cara regulator, investor, dan publik memandang endorsement kripto oleh tokoh publik.

    Di tengah pertumbuhan industri yang pesat, transparansi dan akuntabilitas kini menjadi faktor yang tidak bisa ditawar lagi.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 3 Negara Bersatu Lawan Penipuan Phishing Kripto

    Koordinasi global dalam penegakan hukum kripto semakin diperkuat.

    Lembaga penegak hukum dari Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada resmi meluncurkan inisiatif bersama bertajuk Operation Atlantic untuk memberantas skema penipuan kripto berbasis approval-phishing.

    Operasi ini menargetkan modus penipuan yang semakin marak, di mana korban ditipu untuk memberikan izin akses ke wallet mereka melalui pop-up atau notifikasi palsu yang tampak meyakinkan.

    Langkah ini menandai evolusi pendekatan regulator dan aparat penegak hukum, yang kini tidak hanya fokus pada aturan, tetapi juga pada tindakan langsung di lapangan.

    Baca Juga: Kerugian Phishing Kripto Melonjak 200%, Apa yang Harus Diwaspadai?

    Apa Itu Approval-Phishing?

    Approval-phishing adalah metode penipuan yang mengeksploitasi fitur smart contract approval pada wallet kripto.

    Dalam skema ini, korban diminta untuk menyetujui transaksi yang sebenarnya memberikan akses penuh kepada pelaku untuk menguras aset.

    Biasanya, serangan dilakukan melalui pop-up palsu yang menyerupai aplikasi resmi, notifikasi keamanan palsu, situs web tiruan (phishing sites), hingga link berbahaya di media sosial atau email.

    Karena transaksi ini disetujui langsung oleh pengguna, banyak korban tidak menyadari bahwa mereka telah memberikan izin berbahaya.

    Fokus Operation Atlantic: Disrupsi Real-Time

    Berbeda dengan pendekatan tradisional yang lebih reaktif, Operation Atlantic dirancang untuk bekerja secara proaktif dan real-time.

    Menurut laporan Coindesk, beberapa fokus utama operasi ini meliputi:

    • Peringatan langsung ke calon korban sebelum transaksi terjadi
    • Panduan pengamanan wallet yang sudah terkompromi
    • Pelacakan dana curian melalui analisis blockchain
    • Upaya pemulihan aset jika memungkinkan

    Pendekatan ini menunjukkan bahwa penegakan hukum kripto kini semakin adaptif terhadap kecepatan dan kompleksitas kejahatan digital.

    Kelanjutan dari Inisiatif Sebelumnya

    Operation Atlantic bukanlah langkah pertama dalam upaya global ini. Operasi ini melanjutkan pola kerja dari inisiatif sebelumnya seperti Project Atlas dan Operation Spincaster.

    Kedua program tersebut juga berfokus pada deteksi dan pencegahan penipuan kripto, namun Operation Atlantic memperluas cakupan dengan kolaborasi lintas negara yang lebih intens.

    Enforcement, Bukan Adopsi

    Meski berkaitan dengan perkembangan ekosistem kripto, langkah ini lebih tepat dikategorikan sebagai penguatan regulasi dan enforcement.

    Menurut Tim riset dari Tokocrypto, inti dari berita ini adalah koordinasi penegakan hukum, bukan ekspansi pasar.

    “Ini sinyal bahwa pengawasan pasar kini bukan cuma soal lisensi dan aturan tertulis, tapi juga kemampuan aparat untuk memburu scam secara aktif dan real-time di level internasional,” ungkap Tim Research Tokocrypto.

    Dengan demikian, regulasi kripto kini bergerak dari tahap kebijakan menuju aksi nyata.

    Dampak bagi Industri Kripto

    Peluncuran Operation Atlantic berpotensi membawa beberapa dampak penting bagi industri:

    1. Peningkatan Keamanan Pengguna

    Pengguna kripto akan mendapatkan perlindungan lebih baik dari serangan phishing.

    2. Tekanan pada Pelaku Kejahatan

    Koordinasi lintas negara membuat pelaku lebih sulit beroperasi.

    3. Kepercayaan Pasar Meningkat

    Upaya aktif dari regulator dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap ekosistem kripto.

    Tantangan Penegakan Hukum

    Meski menjanjikan, operasi ini juga menghadapi sejumlah tantangan, antara lain sifat anonim transaksi blockchain, perbedaan yurisdiksi antar negara, dan kecepatan inovasi metode penipuan.

    Namun, kolaborasi internasional seperti ini menjadi langkah penting untuk mengatasi hambatan tersebut.

    Baca Juga: Apa Itu Phishing?

    Operation Atlantic menjadi bukti bahwa penegakan hukum di sektor kripto telah memasuki fase baru yang lebih agresif dan terkoordinasi secara global.

    Dengan fokus pada disrupsi real-time terhadap penipuan, operasi ini menunjukkan bahwa perlindungan pengguna kini menjadi prioritas utama.

    Bagi industri kripto, langkah ini merupakan sinyal positif bahwa ekosistem semakin matang, tidak hanya dari sisi teknologi dan adopsi, tetapi juga dari aspek keamanan dan pengawasan.

    Ke depan, kolaborasi lintas negara seperti ini kemungkinan akan menjadi standar dalam menghadapi kejahatan digital yang semakin kompleks.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com