Tag: btc

  • Volatilitas dan Sinyal Bullish Bitcoin

    Mike McGlone, Ahli Strategi Komoditas Bloomberg dalam kajiannya terbarunya, 5 Mei 2020, mengatakan, bahwa volatilitas Bitcoin 180 hari terendah sepanjang masa adalah penting sebagai sinyal bullish yang pernah terjadi mulai tahun 2015 dan berakhir pada 2017.

    McGlone juga membandingkan keunggulan Bitcoin dengan emas dalam konteks pasokan (supply) dan demand (permintaan).

    “Tak seperti emas, harga Bitcoin yang lebih tinggi tidak akan mendorong pasokan BTC yang baru ke dalam pasar dalam besaran yang serupa,” kata Mike McGlone.

    McGlone memaparkan fakta, bahwa di sebagian besar pasar komoditas (seperti emas), permintaan (demand) yang lebih besar mengarah pada harga yang lebih tinggi. Itu, yang pada gilirannya mengarah pada produksi komoditas yang lebih besar dan stabilnya harga.

    Berita Terkait: Prediksi Harga Bitcoin: US$10 Ribu Sebelum Halving, US$19 Ribu Setelah Halving

    “Sedangkan Bitcoin, pasokan Bitcoin baru murni dikendalikan oleh kode-kode komputer secara digital. Nah, pada Halving 12 Mei 2020 mendatang, pasokannya direduksi sebanyak separuh [12,5 BTC menjadi 6,25 BTC-Red],” katanya.

    Kata McGlone lagi, kombinasi antara Bitcoin Halving dan program stimulus ekonomi oleh Bank Sentral, malah akan menciptakan “lingkungan yang sempurna” bagi Bitcoin untuk mengungguli pasar lain.

    “Pasokan terbatas Bitcoin berarti adalah takaran yang penting untuk adopsi lebih lanjut terhadap aset kripto ini. Karakter unik itu tentu saja sangat berseberangan dengan mekanisme pelonggaran kuantitatif [menambah pasokan uang ke dalam pasar-Red] oleh Bank Sentral,” kata McGlone.

    Volatilitas dan Sinyal Bullish
    Menurut McGlone, takaran penting lainnya, juga menunjukkan kekuatan Bitcoin. Volatilitas 180 hari telah mencapai titik terendah sepanjang masa. Ini pernah terjadi sebelumnya, yang memantik kenaikan harga Bitcoin secara besar-besaran.

    Berdasarkan data dari Digitalik.net dalam grafik Meyer Multiple Price Band, harga Bitcoin pada 20 Oktober 2015 (US$300 per BTC) sampai 5 Desember 2017 (US$11.300) berada di wilayah bullish dan bullish extension. Sebagai catatan, Bitcoin Halving Kedua terjadi pada 9 Juli 2016.

    Baru kemudian masuk ke wilayah overbought pada 16 Desember 2017, sekitar US$19.345. Itulah harga puncak tertinggi Bitcoin sepanjang masa, sebelum jatuh ke wilayah US$3 ribu per BTC. [Cointelegraph/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Diprediksi Berlipat Ganda dalam Beberapa Hari Mendatang

    Harga Bitcoin diprediksi berlipat ganda dalam beberapa hari mendatang. Jake Yocom-Piatt, Pendiri Decred juga meramalkan, bahwa akibat Bitcoin Halving pada Mei 2020 nanti, bisa mendorong para penambang (miner) menjual Bitcoin (BTC) mereka di harga paling tinggi daripada saat ini.

    “Kita tahu Bitcoin Halving akan mengurangi imbalan BTC sebanyak separuh untuk jenis operasi yang relatif sama kepada penambang. Inilah yang kelak melipatgandakan biaya menambang yang juga relatif tak terjangkau oleh sebagian besar penambang kecil,” katanya.

    Baca Juga: Kinerja Bitcoin Kalahkan Emas dan Saham Selama April 2020

    Tambahnya, dengan biaya penambangan yang tetap, untuk mempertahankan margin laba yang sama, mereka akan terdorong menjual Bitcoin di harga yang lebih tinggi.

    “Dengan kata lain, kita akan melihat kenaikan Bitcoin berlipat ganda daripada harga hari ini dalam beberapa hari ke depan. Tetapi, prediksi jelas jangka panjang sulit dibuat. Namun, dalam jangka panjang, menggunakan model stock-to-flow (StF), harga bisa meningkat secara substansial,” pungkasnya.

    Berdasarkan data dari Digitalik.net, menggunakan model StF, harga BTC bisa mencapai US$265 ribu per BTC pada 20 Oktober 2021. [Cointelegraph/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kinerja Bitcoin Kalahkan Emas dan Saham Selama April 2020

    Selama April 2020, kinerja Bitcoin jauh lebih baik daripada saham dan emas. Bitcoin mampu tumbuh hingga 32 persen, sedangkan emas 6 persen dan saham (Indeks S&P500) hanya 18 persen.

    Bitcoin seolah-olah mulai mampu memantik dirinya sebagai aset safe haven di tengah krisis ekonomi akibat COVID-19. Ini terbukti dari kinerja aset kripto itu berbanding jenis investasi lainnya, termasuk emas selama April 2020.

    Indeks saham S&P500 (SPX) naik dari 2444.10 menjadi 2908.28 point, sekitar 18,99 persen (464 point). Sedangkan Bitcoin naik dari US$6.546 menjadi US$8.651, tumbuh sekitar 32 persen (US$2.104).

    Berita Terkait: Prediksi Harga Bitcoin: US$10 Ribu Sebelum Halving, US$19 Ribu Setelah Halving

    Sementara itu, emas hanya mampu tumbuh 6 persen, naik dari US$1.593 per troy oz menjadi US$1.689 per troy ons.

    Pun secara fundamental, investor semakin banyak melirik Bitcoin menjelang Halving pada medio Mei 2020 mendatang.

    Di momen langka itu, pasokan Bitcoin baru melalui imbalan kepada para miner, tereduksi hingga 50 persen, dari 12,5 BTC menjadi 6,25 BTC per block.

    Sejak Maret 2020 arus masuk uang ke pasar Bitcoin juga meningkat drastis. Menurut kajian Glassnode, jumlah address Bitcoin bersaldo lebih 10.000 BTC naik menjadi 111 pada Rabu (29 April 2020).

    Itu adalah tingkat tertinggi sejak 2 Agustus 2019. Dengan demikian kenaikannya menjadi 11 persen sejak awal Maret 2020.

    “Peningkatan jumlah address Bitcoin bersaldo lebih dari 10.000 BTC kemungkinan merupakan hasil dari pemegang jangka panjang yang kembali masuk ke pasar untuk memperluas kepemilikan mereka,” kata Matthew Dibb, Pendiri Stack.

    Peningkatan minat dari pemegang jangka panjang dan investor besar dapat dikaitkan dengan narasi bullish di sekitar faktor makro dan imbalan yang berkurang pada Bitcoin Halving Mei 2020 nanti. [red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Sah! Bitcoin Digunakan Sebagai Alat Tukar di El Savador

    Kongres dewan El Savador telah menyepakati rancangan undang-undang penggunaan Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah. Dengan demikian, tinggal menunggu tanda tangan Presiden, El Savador telah resmi menjadi negara pertama yang mendukung cryptocurrency sebagai alat tukar yang sah.

    Presiden Nayib Bukele mengatakan dia akan menandatangani undang-undang bersejarah nanti malam atau besok pagi, setelah kongres selesai. Mayoritas peserta kongres telah sepakat rancangan undang-undang tersebut segera disahkan.

    “Ini mulai berlaku segera,” kata Bukule dalam cuitannya hari ini, Rabu, 9 Juni 2021.

    Baca Juga: Elon Musk DOGE Vs BitMEX BTC; Siapa yang Akan Duluan ke Bulan?

    Dalam undang-undang tersebut, selain disahkan sebagai alat pembayaran, Pemerintah El Savador memilki kewenangan untuk mewajibkan perusahaan atau unit bisnis untuk menerima Bitcoin.

    “Mereka harus mengambilnya secara hukum,” kata dia. “Jika Anda pergi ke Meksiko, mereka harus mengambil peso Anda.

    Setelah menandatangani keputusan kongres tersebut, Pemerintah El Savador akan melakukan sejumlah persiapan untuk mengimplementasikan UU tersebut. Salah satunya dengan mengunjungi Dana Moneter Internasional (IMF), pada hari Kamis.

    Pemerintah juga akan merilis dompet Bitcoin resmi. El Savador pun berencana untuk menahan US$150 juta yang setara dengan Bitcoin dalam dana perwalian di bank pengembangannya untuk menanggung risiko pedagang.

    Baca Juga: Yuk, Intip Cara Mendapatkan Keuntungan Berlipat Dari Crypto

    “Saya tidak tahu ini berkembang sangat cepat. Kami tidak mengesampingkan memiliki Bitcoin dalam cadangan kami dalam waktu dekat.”

    Pengumuman ini membuat pasar bereaksi. Meskipun tipis, harga Bitcoin kembali naik ke level US$ 34 ribu, setelah sebelumnya hampir terperosok ke harga US$ 30 ribu.

    Berdasarkan data Coinmarketcap, sejumlah alts coin pun menunjukan penongkatan harga pada perdagangan hari ini, paska pengumuman fenomenal dari El Savador.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • “Paus” Bitcoin Tidak Berniat Menjual dengan Harga Saat Ini

    Seorang “Paus” Bitcoin (BTC) memegang sekitar 68.000 BTC atau mencapai 523 Juta dalam dolar Amerika, belum juga memindahkan asetnya tersebut selama lebih dari lima tahun dan data yang ada pada rantai blockchain (on-chain) menunjukkan paus lain juga memegang BTC mereka selama rata-rata 4,7 Tahun.

    Meskipun Bitcoin adalah cryptocurrency peringkat teratas di CoinMarketCap, paus yang memegang aset digital tanpa menjual selama bertahun-tahun tidak melindungi BTC dari tren turun yang curam. Pada 12 Maret lalu, harga turun hingga mencapai $3.600 dan banyak paus tidak juga memindahkan dana mereka pada saat itu.

    Bagaimanapun, data menunjukkan banyak paus merasa nyaman memegang BTC meskupun ada risiko koreksi yang signifikan terhadap area dukungan multi-tahun di harga $3.000 hingga $4.000. Ini menggambarkan tren jangka panjang yang optimis pada pasar cryptocurrency dan kesabaran dari investor-investor ini bernilai sangat tinggi.

    Baca Juga: Perkembangan Teknologi Penambangan Bitcoin

    Apa yang Sebenarnya Diinginkan “Paus”?

    Sejak 2015, infrastruktur yang mendukung pasar cryptocurrency telah meningkat secara eksponensial. Semakin banyak lembaga kustodian yang terpercaya membuka beragam pertukaran berjangka yang lebih besar dan ada juga yang menyediakan pertukaran spot regional berskala besar yang didukung oleh layanan perbankan yang stabil.

    Baik investor ritel maupun institusional secara aktif mengakumulasi Bitcoin setelah koreksi yang intens. Sebuah laporan analitik yang diterbitkan oleh Coinbase menemukan setelah turun menjadi $3.750 di bulan Maret kemarin, investor ritel segera membeli pada harga penurunan tersebut.

    Data dari laporan kuartil pertama tahun 2020 Grayscale juga menunjukkan peningkatan nyata dalam permintaan Bitcoin dari investor institusi dan sedang dalam pengamatan.

    Hal ini disebabkan karena semakin banyak investor yang mengakumulasi Bitcoin, pasokan BTC yang beredar juga semakin menurun dan ini dapat melemahkan tren turun utama pada pasar.

    Seiring waktu, ada pula kemungkinan fase korektif akan menjadi lebih lemah dan lebih cepat ketika Bitcoin mendekati pasokan tetap sebesar 21 Juta.

    Selain itu, “paus” dan pemegang jangka panjang lainnya mungkin memandang Bitcoin sebagai aset terbaik untuk dimiliki dalam jangka panjang. Hal ini mengingat fakta bahwa kehilangan dana tidak dapat dipulihkan atau dikembalikan seperti semula, persedian koin akan ditutup, dan halving akan mengurangi tingkat pasokan baru yang tersedia.

    Para peneliti di CoinMetrics mengatakan:

    “Paus Bitcoin baru saja menjadi pemegang selama 5 tahun berturut-turut. Pekan lalu 68k BTC pindah dari pasokan aktif selama 5 tahun, yang menunjukkan terakhir kali mereka pindah on-chain adalah pada bulan April 2015.”

    Bahkan dengan halving yang akan terjadi kurang lebih 13 hari lagi, masih ada kemungkinan BTC akan mengalami pullback parah terlepas dari keenganan paus menjual kepemilikannya tersebut. Namun, sikap optimis paus ini mengurangi kemungkinan jatuh misalnya kejatuhan kapitulasi dalam waktu dekat.

    Baca juga: Bitcoin Whale: Dunia dalam Kejutan Ekonomi Terbesarnya

    Apakah “Harga Sebenarnya” BTC akan Turun di Bawah $3.000?

    Hanya dalam 24 jam setelah Bitcoin jatuh ke $3.600, harga kembali naik di atas $4.000, dan akhirnya kembali ke $7.000 dalam rentang waktu satu bulan.

    Seperti yang dilansir Cointelegraph, penurunan tajam dari $8.000 ke $3.600 terjadi karena kasekade likuidasi di seluruh bursa berjangka, terutama BitMEX. Dengan demikian, pedagang yang terlalu banyak likuidasi yang justru memicu penurunan, bukan penjualan dari “paus” di perdagangan spot.

    Pergerakan pemegang BTC juga menambah validitas teori mengenai BTC yang seharusnya tidak pernah turun harga di bawah $5.000 sama sekali dan investor yang membeli penuruna ke kisaran $3.000 hingga $4.000 tidak mungkin menjual dalam waktu dekat.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Prediksi Harga Bitcoin: US$10 Ribu Sebelum Halving, US$19 Ribu Setelah Halving

    Harga Bitcoin diprediksi bisa mencapai US$10 ribu per BTC sebelum Halving, medio Mei 2020. Sedangkan setelah Halving (sekitar 12-18 bulan) bisa menembus US$19 ribu seperti bull run 2016-2017.

    “Kami memprediksi adanya kemungkinan harga Bitcoin akan naik lebih dari US$10.000 sebelum Halving,” kata Simon Peters, analis aset kripto di eToro.

    Peters juga menyebutkan sejumlah faktor yang dapat mendorong harga Bitcoin selama beberapa minggu ke depan. Pertama, penambang (miner) terus mengakumulasi imbalan Bitcoin baru mereka alih-alih menjual dalam jumlah banyak

    Kedua, banyak pengguna baru yang membeli Bitcoin, baik itu dari kalangan pemain besar atau pun ritel.

    Ketiga, banyak orang mulai khawatir akan datangnya inflasi akibat kebijakan moneter oleh sejumlah bank sentral di seluruh dunia.

    “Seberapa tinggi faktor itu mendorong harga Bitcoin naik lebih tinggi, itu bisa jangka panjang, di tengah prospek ekonomi memburuk untuk ekonomi AS dan kemungkinan pasokan moneter yang terus meningkat, yang melemahkan dolar AS dan memicu kekhawatiran inflasi. Kami percaya itu dapat dengan mudah menguji harga tertinggi Bitcoin sebelumnya, di atas US$19.000, karena investor mencari tempat berlindung yang aman dari aset tradisional [saham, surat utang-Red],” kata Peters.

    Berita Terkait: Total Volume Perdagangan Bitcoin Cs Mencapai US$8,8 Triliun pada Kuartal Pertama 2020

    Setelah Halving tahun 2016, harga Bitcoin melonjak kurang dari US$1.000 per BTC, lalu naik sekitar US$19.800 dalam waktu kurang dari 12 bulan.

    Petinggi bursa aset kripto Binance US, Catherine Coley juga turut bullish terhadap Raja Aset Kripto itu.

    “Pada Halving kedua tahun 2016, reli yang sebenarnya terjadi adalah 18 bulan kemudian. Ini bisa saja terjadi pada Bitcoin setelah Halving Mei 2020 nanti. Saya relatif bullish dalam jangka panjang,” katanya. [Forbes/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 1% Bitcoin Terkunci di Blockchain Ethereum, Ini Artinya

    Tercatat bahwa saat ini terdapat sekitar $6 Miliar atau Rp85,5 Triliun dalam Bitcoin (BTC) yang telah ditokenisasi dan terkunci di Blockchain Ethereum (ETH).

    Bitcoin ini telah berubah wujud menjadi Wrapped Bitcoin dimana istilah Wrapped adalah salah satu cara untuk memindahkan crypto dalam blockchain yang berbeda.

    Perlu diingat bahwa Blockchain Bitcoin tidak memiliki fitur cross chainatau lintas blockchain sehingga diubah menjadi versi Wrapped.

    Ini alasan mengapa kabar terkuncinya Wrapped Bitcoin di Blockchain Ethereum dapat berujung positif untuk pasar crypto.

    1% Bitcoin Terkunci di Blockchain Ethereum

    Bitcoin senilai sekitar $6 Miliar atau Rp85,5 Triliun yang merupakan 1% dari keseluruhan Bitcoin yang beredar saat ini sudah di tokenisasi.

    Bitcoin tersebut telah diubah menjadi Wrapped BTC (WBTC) yang saat ini disimpan pada Blockchain Ethereum.

    Pencapaian ini ditekankan oleh salah satu manajer investasi di BitGo, Kia Mosayeri, yang menyatakan jumlah ini pada Twitter.

    BitGo sendiri adalah salah satu kustodian atau pengelola protokol WBTC yang diluncurkan pada Januari 2019 melalui Blockchain Ethereum.

    Menurut data dari  Etherscan, terdapat sekitar 187.610 Bitcoin yang telah berubah menjadi WBTC dan beredar di protokol tersebut.

    Saat ini jumlah persediaan Bitcoin yang telah beredar sudah mencapai 18,73 Juta Bitcoin menurut data dari CoinGecko.

    Hal tersebut memastikan bahwa jumlah WBTC yang terkunci pada Blockchain Ethereum telah mencapai 1% dari keseluruhan Bitcoin yang beredar.

    Baca Juga : Dana Institusi Keluar dari Produk Investasi Berbasis Bitcoin, Tidak Sepenuhnya Buruk

    BTConEthereum membuat estimasi bahwa terdapat 240.620 Bitcoin yang telah ditokenisasi untuk berbagai penggunaan di Blockchain Ethereum.

    Jumlah keseluruhan Bitcoin yang beredar di Blockchain Ethereum tersebut berarti berada pada $7,91 Miliar atau Rp112,83 Triliun.

    Wrapped Bitcoin (WBTC) saat ini masih mendominasi Blockchain Ethereum dalam jenis-jenis Bitcoin yang ditokenisasi, dengan dominasinya yang mencapai 78%.

    Ini Artinya Untuk Bitcoin

    Saat ini nampaknya permintaan terhadap Bitcoin yang ditokenisasi di Blockchain lain sedang terus meningkat.

    Dominasi tersebut terlihat tetap berada pada Blockchain Ethereum yang membuat signifikansi Blockchain Ethereum cukup besar.

    Tokenisasi dari Bitcoin atau proses Wrapping diperlukan untuk memudahkan Bitcoin bergerak pada blockchain lain.

    Hal ini disebabkan Bitcoin memiliki blockchainnya sendiri namun tidak memiliki fitur operasional lintas blockchain yang menghalangnya bergerak di blockchain lain secara nyata.

    Oleh karena itu, tokenisasi ini telah dilakukan oleh banyak pihak dan Wrapped Bitcoin ini menjadi pilihan yang paling tenar.

    WBTC sendiri tidak diciptakan secara mandiri namun akan terus melihat persediaan Bitcoin sehingga harganya selalu terikat berdasarkan Bitcoin.

    Jadi jika WBTC yang terkunci adalah 1% dari keseluruhan Bitcoin yang beredar saat ini, terdapat 1% dari persediaan Bitcoin yang tidak dapat dijual.

    Baca Juga: Pendukung Shiba Inu (SHIB) Menanti ShibaSwap

    Bitcoin tersebut dapat menjadi penghalang untuk tekanan jual terhadap Bitcoin yang signifikan akibat terkunci dan tidak bisa dijual.

    Ditambah dengan protokol lain yang memiliki Bitcoin terkunci, pemilik Bitcoin yang tidak menjual, serta Bitcoin yang hilang, nampaknya masih ada “penjaga” harga Bitcoin.

    Untuk data jumlah tersebut masih terlihat belum pasti dengan adanya estimasi untuk Bitcoin yang hilang berada di angka 21% dari jumlah peredaran yang berada.

    Ditambah dengan banyaknya Bitcoin yang terkunci, hal ini dapat menciptakan kelangkaan untuk Bitcoin dan jika permintaan terus naik, maka harganya dapat terus naik.

    Selain itu, dengan adanya halving atau pengurangan imbalan hasil tambang Bitcoin, maka diprediksi persediaannya akan semakin langka.

    Jika adopsi semakin luas, maka kemungkinan besar dalam jangka panjang harga Bitcoin dapat terus mengalami apresiasi.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tembus US$ 9.000, Pergerakan Bitcoin Sulit Diprediksi Jelang Halving Day

    Jelang periode halving day pada Mei 2020, harga bitcoin cenderung sulit diprediksi dalam beberapa pekan terakhir.

    KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Jelang periode halving day pada Mei 2020, harga bitcoin cenderung sulit diprediksi dalam beberapa pekan terakhir. Kamis (30/4), harga bitcoin sempat menyentuh level US$ 9.447 per btc pukul 15:56 WIB.

    Halving day adalah momen bagi para penambang bitcoin untuk mendulang cuan.

    Chief Operating Officer (COO) Tokocrypto Teguh Harmanda mengatakan, pergerakan bitcoin jadi sulit diprediksi di minggu-minggu terakhir ini. Menurutnya, kenaikan harga yang terjadi saat ini tidak bisa dijadikan acuan untuk memastikan ke depan masih akan naik.

    “Pada halving 1 dan halving 2 juga diperhatikan pergerakannya mirip. Hingga (tidak bisa dipastikan) sampai dengan benar-benar proses halving itu selesai,” kata Harmanda kepada Kontan, Kamis (30/4).

    Baca Juga: Tembus level US$ 9.000, harga bitcoin bakal terkoreksi lagi

    Jelang periode halving, Harmanda memperkirakan kenaikan harga bitcoin masih akan terjadi, bahkan hingga beberapa waktu ke depan sampai terbentuk harga baru, atau sekitar 5-7 bulan ke depan. Secara history, di 2012 kenaikan harga bitcoin mencapai 8.000% dan 2016 kenaikan 280%.

    “Maka range kenaikan maksimal 100% sudah sangat baik pergerakannya untuk halving kali ini,” ujarnya.

    Adapun sentimen yang menjadi penggerak bitcoin ke depan sangat bergantung pada kondisi eksternal dan situasi yang terjadi saat ini. Harmanda meyakini bahwa harga bitcoin akan kokoh selama periode halving dan ke depannya.

    Selama halving terjadi, bitcoin juga bakal membentuk harga baru dan harganya selalu positif meningkat. Dia menilai, jika bitcoin menjadi safe haven maka, disisi lain trader yang baru masuk akan kesulitan untuk memanfaatkan stabilitas harga.

    Untuk saat ini, Harmanda menilai level harga bitcoin masih sangat menarik untuk dilirik investor, sembari mengikuti arus halving wave. Bahkan, kebanyakan pelaku pasar memprediksi pergerakan bitcoin bakal berada di rentang US$ 10.000 per btc hingga US$ 16.000 per btc.

    “Nanti, setelah mendapatkan keuntungan halving, sesegera mungkin untuk convert ke stable coin agar saat akan trading lebih lanjut bisa lebih efektif,” kata Harmanda.

    Baca Juga: Harga bitcoin kembali reli dan berpotensi menuju ke US$ 8.000



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga bitcoin kembali reli dan berpotensi menuju ke US$ 8.000

    KONTAN.CO.ID – NEW YORK. Perubahan keseluruhan sentimen risiko, cryptocurrency melonjak. Bitcoin berada di US$ 7.612,75, pada Minggu (26/4). Peningkatan harga di atas US$ 7.500 untuk pertama kalinya sejak jatuh pada awal Maret.

    Bitcoin sempat jatuh 27% pada 12 Maret karena pasar keuangan terpukul oleh pandemi virus corona. Ed Moya, Analis Pasar Oanda Corp mengatakan, perdagangan token mendekati puncak ini akan membuat momentum baru untuk bisa menembus di atas level US$ 8.000.

    “Bitcoin mulai menarik minat ritel lagi,” tulis Moya dalam sebuah riset seperti dikutip Bloomberg. Dengan upaya stimulus di seluruh dunia beberapa pedagang melompat ke crypto sebagai lindung nilai terhadap perang mata uang.

    Baca Juga: Waduh, harga Bitcoin turun 25% dalam sehari karena tersengat efek virus corona

    Cryptocurrency telah banyak bergerak bersama dengan aset berisiko selama sebulan terakhir yang jatuh ketika pasar ekuitas berada di bawah tekanan. Harga saham juga naik pada hari Kamis karena optimisme ekonomi AS akan kembali membaik dan minyak kembali reli.

    Secara teknikal Moya mengatakan, bitcoin harus menembus di atas US$ 8.000 untuk mulai perjalanan di harga yang lebih tinggi. Indikator teknikal menunjukkan Relative Strength Index (RSI) beada di 59, dan belum memasuki wilayah overbought.

    Aset dianggap overbought jika RSI melebihi 70. Jika menebus harga lebih rendah bisa berarti bitcoin turun ke US$ 6.500. “Bitcoin tampaknya menguji zona resistance sebelumnya di sekitar level US$ 7.500,” kata Denis Vinokourov, Kepal Riset Bequant, sebuah perusahaan aset digital yang berbasis di London. Ia menyebut, bias bullish signifikan ini mendorong untuk menjadi pengungkit kembali.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Presiden El Savador Berencana Jadikan Bitcoin Sebagai Alat Pembayaran yang Sah

    Presiden negara otoriter El Savador, Nayib Bukele, berencana mengusulkan Undang-undang untuk melegalkan Bitcoin sebagai aset dan alat pembayaran di negaranya. Hal tersebut ia sampaikan pada Konferensi Bitcoin 2021, di Miami, pekan lalu.

    Bukele mengatakan di hadapan massa yang mendatangi event Bitcoin, bahwa negaranya akan membuat Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah. Selama ini, El Savador menjadi salah satu negara non Amerika Serikat yang menggunakan Dollar AS sebagai mata uang resminya.

    “Minggu depan, saya akan mengirimkan ke kongres RUU yang akan membuat bitcoin menjadi alat pembayaran yang sah,” ujar Bukule dalam sebuah tayangan video yang ditampilkan di Konferensi Bitcoin 2021 Miami, 5 Juni 2021.

    El Savador merupakan negara berkembang di Amerika Tengah yang memilki wisata pantai yang terkenal di dunia. Meski demikian, sebanyak 70% dari 6,7 juta  total penduduknya belum memilki akses ke bank. Hal tersebut menjadikan biaya pengiriman uang bagi sebagian besar warga El Savador sangat mahal.

    Baca Juga: Mantan Senat AS: Bitcoin jadi Ancaman Serius bagi Rezim Dollar Saat ini

    Bukule pun mengatakan dalam sebuah cuitan, apabila regulasi tersebut terealisasi, El Savador akan mendeklarasikan diri sebagai negara suaka bagi perusahaan kripto. Selain itu, ia yakin pertumbuhan ekonomi di negaranya akan meningkat apabila adopsi Bitcoin itu terlaksana.

    “Jika 1% dari Bitcoin diinvestasikan di El Salvador, itu akan meningkatkan PDB kita sebesar 25%. Di sisi lain, #Bitcoin akan memiliki 10 juta pengguna baru yang potensial dan cara yang paling cepat berkembang untuk mentransfer 6 miliar dolar setahun dalam pengiriman uang,” tulis Bukel dalam sebuah cuitan, 6 Juni 2021.

    Sepertinya alasan Bukule mengajukan regulasi tersebut tak lepas dari perseteruan negaranya dengan Amerika Serikat. Saat ini, El Savador dan sebagian negara di Amerika Tengah, sedang diambang sanksi dari Amerika Serikat.

    Kongres El Savador yang didominasi oleh partai penguasa, baru saja mengesahkan Undang-undang yang yang menjadikan Presiden El Savador memilki kendali penuh atas bank sentral.

    Langkah ini pun dinilai sebagai penghindaran sanski dan dominasi AS di negaranya. Pada awal tahun 2000-an, El Savador mengalami hiperinflasi, yang membuat negara tersebut harus mengganti mata uang aslinya,Colon El Savador ke Dollar AS.

    Baca Juga: Pakai Cara Ini Agar Investasi Dollar Kamu Lebih Menguntungkan!

    Langkah yang akan diambil oleh Bukeleini mendapat apresiasi dari sejumlah pihak, terutama para pendukung Bitcoin. salah satunya muncul dari seorang advokat Bitcoin yang mengepalai strategi di Yayasan Hak Asasi Manusia Alex Gladstein.

    Ia mengatakan, meskipun El Savador merupakan negara otoriter, namun langkah yang akan diambil mengenai crypto bisa jadi mengubah wajah El Savador dari “sentralisasi” menjadi lebih “terdesentralisasi”.

    “Jangan merayakan pemimpin El Salvador, yang telah menunjukkan perilaku otoriter. Rayakan tindakan tersebut, yang seiring waktu akan mengurangi kontrol yang dimiliki oleh pemerintahnya atau pemerintah berikutnya atas warga negara,” cuit Alex, 6 Juni 2021.



    Sumber : news.tokocrypto.com