Tag: btc

  • Terlambatkah Membeli Bitcoin? Analisis Ini Jawabannya

    Banyak investor ritel awam yang merasa bahwa saat ini harga Bitcoin sudah terlalu tinggi. Hal ini disebabkan harga Bitcoin yang terus membentuk harga tertinggi baru dimana saat ini telah berhasil mencapai $36.800.

    Akibatnya, banyak pihak yang ragu untuk membeli karena khawatir harganya akan turun setelah melakukan pembelian. Walau kemungkinan tersebut masih ada, analisis ini membuktikan bahwa tidak ada waktu yang terlambat untuk membeli Bitcoin.

    Analisis Bitcoin Stock to Flow

    Salah satu analisis yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan harga Bitcoin ke depannya adalah analisis Stock to Flow. Analisis ini memperlihatkan perbandingan antara beberapa aset untuk menjadi cerminan prediksi.

    Prediksi ini dapat menjadi jawaban untuk terlambat atau tidaknya pembelian Bitcoin akibat memprediksi potensi keuntungan di depan. Salah satu pihak yang telah membuat analisis dengan metode ini adalah Plan B.

    Baca juga: Survey Bitcoin di Indonesia 2020: Ketertarikan tentang Bitcoin Meningkat

    Plan B menggunakan analisis Stock to Flow untuk melihat perkembangan harga Bitcoin dengan membandingkan pergerakannya di masa lalu. Analis dari Plan B membandingkan pergerakan tahun 2012 hingga 2016, pergerakan 2016 hingga 2020, dan pergerakan 2020 hingga saat ini.

    prediksi bitcoin

    Dari analisis tersebut, terjadi penyamarataan skala dimana semua harga dibentuk untuk mencerminkan pergerakan harga saat ini. Dari analisis tersebut dapat dilihat bahwa jika bercermin pada pergerakan masa lalu, Bitcoin dapat menyentuh harga $100.000 dalam 3 hingga 8 bulan ke depan.

    Sehingga analisis tersebut dapat menjawab bahwa tidak ada kata terlambat untuk investasi terutama terhadap Bitcoin. Hal ini disebabkan adanya potensi keuntungan yang cukup besar di waktu yang akan datang.

    Metode Dollar Cost Averaging

    Namun, agar investasi dilakukan secara aman, terdapat beberapa metode untuk menjaga dana investor, mengingat masih adanya potensi penurunan harga atau koreksi. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode Dollar Cost Averaging atau (DAC).

    Metode ini sering digunakan oleh mayoritas perusahaan investasi dan pengelola dana. Hal ini disebabkan metode ini dapat memberikan keamanan dana terutama dalam investasi akibat bagian dari diversifikasi melalui waktu.

    Baca juga: Tom Lee: Harga Bitcoin Bisa Lebih dari US$40 Ribu Pada Tahun Ini

    Metode ini dilakukan dengan menginvestasikan sejumlah uang yang tetap dalam beberapa waktu yang berbeda. Hal ini dilakukan mayoritas investor besar untuk memitigasi risiko dari investasi akibat dari fluktuasi harga.

    Sebagai contoh nyata, metode ini dapat digunakan dalam investasi Bitcoin dimana dapat terjadi averaging up atau averaging down. Averaging up dilakukan saat harga naik dimana investasi dilakukan bersama harga yang naik, sedangkan averaging down dilakukan saat harga turun.

    Oleh karena itu dengan melakukan metode DAC ini, walaupun harga mengalami penurunan, rata-rata keuntungan di portfolio investasi menjadi tetap aman. Selain itu, keuntungan yang didapat saat harga naik adalah investor mendapat keuntungan saat harga naik dan tetap dapat melakukan investasi di harga yang lebih tinggi akibat tetap memiliki dana.

    Tidak Ada Waktu Yang Tepat

    Metode tersebut menjadi salah satu solusi untuk mempermudah investor memitigasi risiko dalam investasi. Namun, untuk menjawab pertanyaan apakah ada waktu yang tepat untuk melakukan investasi, mayoritas pasar percaya bahwa jawabannya tidak ada waktu yang tepat.

    Baca juga: 6 Alasan Kenapa Kamu Harus Investasi Bitcoin di 2021

    Hal ini disebabkan pasar keuangan yang akan selalu bergerak akibat fluktuasinya yang cukup tinggi, terutama saat ada sentimen besar. Sehingga walau banyak analisis yang dapat dilakukan, secara fakta tidak ada waktu yang tepat untuk memulai investasi kecuali sekarang.

    Menurut mayoritas analis dan investor, pola pikir ini berlaku untuk investasi akibat jika terus menunda, tidak akan ada dorongan untuk memulai. Sehingga mengingat investasi juga dilakukan untuk jangka panjang, tidak ada waktu yang tepat akibat semakin lama berinvestasi akan semakin besar keuntungannya.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • JPMorgan: Beli Bitcoin Guna Imbangi Nilai Aset Lain

    Perusahaan raksasa keuangan asal AS, JP Morgan, menyarankan para nasabahnya untuk membeli Bitcoin guna melindungi nilai aset lain.

    Ahli strategi di JPMorgan menyarankan alokasi portofolio sebesar 1 persen dalam Bitcoin. Bitcoin sebanyak itu dapat berlaku sebagai perlindungan terhadap fluktuasi kelas aset tradisional seperti saham, obligasi dan komoditas.

    Alokasi dalam persentase rendah disarankan untuk meredam risiko penurunan besar-besaran yang sering dialami Bitcoin.

    Baca Juga: Mengenal SFP, Inovasi Baru dari Safepal

    Ase kripto itu memang telah longsor 20 persen sejak titik tertinggi US$58 ribu pada 21 Februari 2021 lalu, tetapi masih naik 60 persen sejak awal tahun.

    Dilansir dari Bloomberg, ahli strategi JPM Joyce Chang dan Amy Ho dalam catatannya kepada klien, menyatakan bahwa dalam portofolio multi-aset, investor dapat menambahkan alokasi hingga 1 persen dalam Bitcoin, demi mencapai keuntungan efisiensi terhadap imbal hasil disesuaikan risiko portofolio tersebut.

    Saran itu menyusul investasi besar-besaran Bitcoin yang dilakukan Paul Tudor Jones, Stan Druckenmiller, Tesla dan MicroStrategy.

    JPMorgan menambahkan bahwa Bank of New York Mellon Corporation telah mengumumkan rencana untuk menyimpan, mentransfer dan menerbitkan aset digital tersebut bagi nasabahnya.

    Ini yang menunjukkan apresiasi besar terhadap Bitcoin oleh pelaku pasar tradisional.

    Baca Juga: Sosok di Balik ADA, Charles Hoskinson

    Analis JPMorgan menambahkan, aset kripto harus diperlakukan sebagai instrumen investasi dan bukan alat pembayaran seperti dolar AS atau yen Jepang.

    Pernyataan itu bertolak belakang dengan komentar oleh ahli strategi lain pada awal bulan yang mengklaim bahwa Bitcoin merupakan alat yang buruk untuk melindungi terhadap penurunan harga saham.

    Berbicara kepada CNBC pada 17 Februari 2021, Cathie Wood dari Ark Investment Management mengatakan, jika semua perusahaan menanamkan 10 persen cadangan kasnya ke Bitcoin, hal tersebut akan menambah harga BTC sebesar US$200 ribu (lebih dari Rp1 milyar).

    Pembelian aset kripto, seperti Bitcoin semakin tumbuh di tahun 2021, dan bukan hanya institusi yang menimbun.

    Perusahaan perdagangan Robinhood melaporkan 6 juta pengguna baru membeli aset kripto melalui platform tersebut dalam dua bulan pertama tahun ini.

    Angka tersebut melampaui angka tahun lalu, mengindikasikan momentum bullish dari sektor ritel masih kuat, kendati terjadi koreksi akhir-akhir ini.

    Saat ini, BTC turun 9 persen dalam kurun waktu 24 jam di harga US$45.400. Sedangkan dalam rupiah di Indonesia, berkisar 670 juta per BTC.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pasar Bitcoin Cs Memang Bergejolak, Tetapi Tumbuh Baik

    Perusahaan modal ventura, Andreessen Horowitz melihat memandang pasar Bitcoin Cs (aset kripto) memang bergejolak, tetapi tumbuh baik dan konsisten dalam beberapa tahun terakhir, berdasarkan empat ukuran utama.

    Empat ukuran itu adalah pertumbuhan wacana di masa lalu di media sosial, pengembang (developer) platform blockchain dan aplikasinya, harga dan perusahaan rintisan (startup company). Inilah yang disebut perusahaan sebaga siklus kripto, yang menguntungkan bagi investor di masa depan.

    Pernyataan itu dituangkan dalam satu laporan pada 15 Mei 2020 lalu, bahwa siklus aset kripto, memuncak pada 2010, 2013 dan 2017.

    Kata mereka, tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) dari 2010 hingga saat ini menunjukkan adanya “ombak”, namun tumbuh konsisten dalam semua ukuran utama itu.

    Baca Juga: Tokocrypto, Pedagang Aset Kripto Pertama yang Teregulasi di Indonesia, Berhasil Raih Pendanaan dari Binance

    “Siklus tahun 2017 melahirkan puluhan proyek menarik di berbagai bidang termasuk pembayaran, keuangan, game, infrastruktur dan aplikasi web,” sebut perusahaan.

    Andreessen Horowitz mencatat bahwa ide-ide inovatif yang didorong dalam siklus terbaru memiliki potensi untuk menciptakan “siklus kripto keempat”, yang, jika konsisten, dapat melihat peningkatan yang sebanding dalam media sosial, pengembang dan aktivitas startup dan mendorong kenaikan harga Bitcoin.

    Baca Juga: Harga Bitcoin dan Emas Melonjak, Setelah The Fed Yakin Ekonomi AS Masih Loyo

    “Walapun siklus itu terkesan kacau, namun dalam jangka panjang mereka telah menghasilkan pertumbuhan yang stabil, mulai dari ide-ide baru, coding, proyek dan startup, sebagai penggerak dasar inovasi perangkat lunak. Teknologi dan pengusaha akan terus mendorong aset kripto menjadi lebih baik pada di tahun-tahun mendatang. Kami senang melihat apa yang mereka bangun,” jelas perusahaan.

    Andreessen Horowitz memang getol berinvestasi di sejumlah perusahaan terkait teknologi blockchain dan aset kripto. Di antaranya adalah sebagai anggota pendiri Libra Association, yang menggalang proyek blockchain dan aset kripto Libra, yang dikomandoi oleh Facebook.

    Selain itu mereka berinvestasi di bursa aset kripto Coinbase, Dapper, Maker dan lain sebagainya. Sejumlah portofolio Andreessen Horowitz lainnya banyak dibeli oleh perusahaan lain, di antara Skype (Micorosoft), Facebook, Github (Microsoft), Instagram (Facebook) dan lain-lain. [Cointelegraph/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Turun Drastis, Namun, Analis Ini Masih Bullish

    Bitcoin (BTC) kembali menjadi berita utama setelah aksi harga yang luar biasa yang telah dialami sebelum dan sesudah momen Halving terjadi.

    Cryptocurrency utama ini telah menembus level resistance utama di $10.100 pada tanggal 7 Mei. Ini sangat penting karena penembusan di level berikut bisa menjadi catalis untuk rally besar. Sangat disayangkan bahwa, bull tidak bisa menembus level lebih tinggi dan pullback terjadi ke Rp 130 juta-an.

    Beberapa jam setelah Halving terjadi, harga tertinggi ditutup pada Rp 144 juta-an. Dan, harga kembali mengalami retrace ke Rp 130 juta-an

    Harga tidak jatuh ke Rp 120 juta-an karena ada level support yang kuat di Rp 127 juta-an.

    Namun, beberapa menit lalu, trader di Bitmex melikuidasi $28 juta, yang menyebabkan harga terjun payung.

    Pada saat pers, harga BTC berada di Rp 141 juta-an.

    Baca Juga: Tokocrypto, Pedagang Aset Kripto Pertama yang Teregulasi di Indonesia, Berhasil Raih Pendanaan dari Binance

    Resistance Kuat

    Josh Rager, analis terkenal di Twitter, mengatakan bahwa ada level support di $9.550 (Rp 142 juta), namun, jika tidak bisa bertahan disini, harga akan kembali ke level rendah $9.000-an ($9.000-$9.300).

    Terlepas dari tingkat volatilitas yang tinggi, salah satu analis paling terkemuka di industri cryptocurrency memperkirakan bahwa Bitcoin siap untuk koreksi tajam sebelum melanjutkan langkah Bullish bersejarahnya.

    Baca Juga: Bitcoin Masih Ada Peluang Untuk Kembali Naik Ke Harga Ini

    Big Cheds, seorang analis populer di Twitter membicarakan hal ini dalam sebuah cuitan, menjelaskan bahwa Bitcoin terlihat “jelas untuk terbang.”

    “Bitcoin Heikin Ashi Mingguan terlihat jelas untuk lepas landas.”

    Ada kemungkinan kuat bahwa benchmark cryptocurrency akan segera menargetkan level tertinggi baru tahun ini karena kekuatan teknisnya mulai meningkat.

    Level tertinggi ini saat ini ditetapkan pada $ 10.500, dan ini terjadi pada level teknikal penting yang bertepatan erat dengan trend penurunan yang terbentuk sebagai akibat dari penurunan crypto dari level tertinggi $ 13.800 pada bulan-bulan musim panas 2019.

    Trader populer lainnya baru-baru ini menjelaskan bahwa ia mengharapkan BTC untuk menguji level kunci ini di hari-hari mendatang, dengan mengatakan:

    “Akses BTC diberikan untuk Bulls. Harga perdagangan di atas pemicu Bulls saya, mari kita lihat apakah itu bertahan. Di atas level S / R Bulanan + Mingguan serta rentang waktu yang rendah. Terus bertahan di atas $ 9.350 dan saya melihat kami memacu untuk $ 10.5ribu.”

    Di sisi fundamental, The Fed, bank central Amerika telah menambahkan stimulus sebanyak $2.6 triliun ke ekonomi mereka. Mungkin tidak berkorelasi langsung terhadap pasar cryptocurrency.

    Jika ekonomi pulih dengan lambat, maka banyak orang yang akan melirik ke ruang cryptocurrency untuk melawan inflasi. Perlu dicatat bahwa Bitcoin berkinerja lebih baik dari S&P 500.

    Namun, perlu diingat bahwa pullback akan segera terjadi cepat atau lambat. Jika anda mempunyai Bitcoin, menjual di harga saat ini sudah sangat menguntungkan.

    Note: ini bukan nasihat investasi





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analis Plan B: Harga Bitcoin Bisa Sentuh Rp 6,5 Milyar di Akhir Tahun 2021

    Analis crypto yang dikenal dengan nama akun Plan B memprediksi harga Bitcoin bisa menyentuh US$ 450 ribu atau setara dengan Rp 6,5 miliar di akhir tahun ini. Bahkan, ia mengatakan, harga paling amsyong di penutupan tahun 2021 di kisaran US$ 135 ribu atau setara dengan Rp 1,9 miliar.

    “Bitcoin berada di bawah $34K, dipicu oleh FUD energi Elon Musk dan penumpasan tambang China. Ada juga alasan yang lebih mendasar bahwa kita melihat kelemahan pada bulan Juni, dan mungkin Juli. Skenario terburuk saya untuk tahun 2021 (berbasis harga/on-chain): Agustus>47K, Sep>43K, Okt>63K, Nov>98K, Des>135K,” tulis PlanB di akun Twitternya, pada 20 Juni 2021.

    http://

    PlanB dikenal sebagai analis crypto on-chain dan pencipta model perkiraan harga Bitcoin stock-to-flow (S2F). Model stock to flow yang diciptakan PlanB didasarkan pada model penilaian bitcoin yang terinspirasi oleh konsep Nick Szabo tentang konsep kelangkaan. Model ini mengukur kelangkaan, dan harga bitcoin dari waktu ke waktu.

    Baca Juga: Bitcoin dan BNB Koreksi Lagi, Berikut Teknikal Analisa Jika Ingin “Buy The Dip” 

    Sementara itu, harga Bitcoin saat ini terkoreksi cukup dalam setelah mengalami sideways di pekan kemarin. Berdasarkan data coinmarketcap, BTC saat ini diperdagangkan dengan harga US$ 32 ribu. Harga ini hasil dari penurunan sejak 24 jam terakhir sebesar 7,63%.

    Selama 7 hari terakhir BTC nampak belum menunjukan tren bullish untuk mengejar breakout melampaui harga US 41 ribu. Selama sepekan BTC anjlok lebih dari 18%.

    Analisis Lain

    Sementara itu, pendiri Kamar Dagang Digital (Chamber of Digital Commerce) Perianne Boring, mengatakan Bitcoin dapat naik hingga US$ 100 ribu-US$ 288 ribu di tahun ini.

    Kepada CNBC, ia mengatakan, prediksi tersebut didasari juga oleh model S2F yang dibandingkan dengan pergerakan dollar AS juga emas.

    “(Melalui model) S2F memprediksi Bitcoin harus dihargai $ 100.000 hingga $ 288.000 tahun ini. Kami memiliki 12 tahun data tentang Stok untuk mengalir di bitcoin. Jika Anda mengukur dengan dolar AS, stock to flow berkorelasi 94%.

    Baca Juga: Pertimbangkan 4 Hal Ini Sebelum Berinvestasi Dogecoin

    Disclaimer:

    Perdagangan atau investasi digital asset atau mata uang kripto (Bitcoin, Ethereum, dll) merupakan aktivitas beresiko tinggi. Sebelum memutuskan untuk mulai berinvestasi ketahui dulu resikonya. Perdagangan Digital Asset sebaiknya dilakukan pada platform exchange yang terdaftar di Bappebti.

    Kami tidak memaksa Anda untuk membeli atau menjual aset digital ini, sebagai investasi, atau aksi mencari keuntungan. Pahami dulu lebih dalam sebelum memutuskan berinvestasi mata uang kripto.

    Semua informasi di Portalkripto bukan bersifat financial advisor. Kami hanya mengiformasikan keadaan pasar atau keadaan ekonomi dan situasi global yang berkaitan dengan mata uang kripto beserta ekosistemnya.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pesan Rahasia Beberapa Menit Sebelum Bitcoin Halving

    Ternyata ada pesan rahasia yang disematkan di block ke-629.999, satu block menjelang block Halving (630.000). Pesan itu mengingatkan publik pada pesan tersembunyi di block perdana (genesis block), block ke-0 Bitcoin pada 3 Januari 2009 silam.

    Pesan yang disematkan di block ke-629.999 itu adalah: “NYTimes 09/Apr/2020 With $2.3T Injection, Fed’s Plan Far Exceeds 2008 Rescue”. Pesan itu mengacu pada berita di The New York Times pada 9 April 2020, soal rencana pengguliran dana tambahan oleh The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) untuk menyelamatkan ekonomi, yang besarannya melebihi pada krisis tahun 2008 lalu.

    F2Pool yang menambang BTC di blok tersebut memang sengaja menyematkan pesan itu, sebagai pengingat akan potensi bahaya inflasi akibat penerbitan uang dalam jumlah yang banyak ke dalam sistem ekonomi.

    Sedangkan mekanisme ekonomi di Bitcoin adalah sebaliknya, justru secara bertahap laju pasokan diturunkan menjadi separuh melalui Bitcoin Halving. Bitcoin Halving III, 12 Mei 2020 itu adalah Halving Ketiga, di mana imbalan terhadap penambang berkurang dari 12,5 BTC menjadi 6,25 BTC per block.

    Pesan itu mengingatkan publik pada pesan di Genesis Block tahun 2009 silam. Kala itu pesan yang disematkan oleh Pencipta Bitcoin, Satoshi Nakamoto adalah: “The Times 03/Jan/2009 Chancellor on brink of second bailout for banks”.

    Pesan itu mengacu pada judul utama surat kabar Inggris The Times, soal dana talangan tahap kedua oleh Bank Sentral Inggris kepada sejumlah bank, di kala krisis itu.

    Dengan kata lain, sejak 12 Mei 2020 pukul 02:23 WIB hingga 210.000 block (setara 4 tahun) berikutnya, maka jumlah Bitcoin kian langka, dari 1800 BTC per hari menjadi hanya 900 BTC per hari. Inflasi juga berkurang dari

    Berita Terkait: Waspada! Bearish Bitcoin Membayang-bayangi

    Ini yang membuat Brian Kelly, penulis buku The Bitcoin Big Bang mengatakan kepada CNCB, bahwa ketika Bank Sentral AS melakukan “pelonggaran kuantitatif” maka Bitcoin melakukan sebaliknya “pengetatan kuantitatif”. [red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Diduga Cuci Uang Rp577 Juta Pakai Bitcoin, Warga Australia Diringkus

    Diduga mencuci uang (money laundering) menggunakan Bitcoin, seorang perempuan warga Australia diringkus.

    “Seorang perempuan Australia (52 tahun) diringkus polisi di pusat perbelanjaan Sydney pada 1 Mei 2020, setelah diduga menjual Bitcoin (BTC) senilai AUS$60 ribu (US$38.800), setara Rp577 juta. Setelah didalami, ternyata ia adalah anggota sindikat pencucian uang di Australia yang aktif sejak tahun 2017, dengan nilai total uang yang dicuci mencapai US$3,2 juta (Rp48 miliar),” tulis media lokal Australia, Daily Mail Australia, 15 Mei 2020.

    Dalam penangkapan itu, polisi menyita AUS $60 ribu dalam bentuk uang tunai, 3,8 BTC (senilai US$37.000 dengan harga saat ini) dan sebuah ponsel.

    Kemudian, petugas mencari apartemen terdekat, menemukan lebih banyak ponsel, komputer dan perangkat penyimpanan elektronik, bersama dengan Bitcoin lainnya senilai US$11.700.

    Sindikat Pencucian Uang

    Polisi mengklaim bahwa perempuan itu terlibat di sindikat pencucian uang, sejak November 2018. Sedangkan sindikat itu sendiri aktif sejak tahun 2017. Sejak tahun itu pula nilai transaksi Bitcoin oleh sindikat mencapai AUS$5 juta (US$3,2 juta).

    Berita Terkait: Pesan Rahasia Beberapa Menit Sebelum Bitcoin Halving

    “Ini adalah penangkapan pertama yang dilakukan oleh divisi kejahatan siber, terkait mata uang digital di New South Wales, dan diyakini sebagai yang pertama di Australia. Menukarkan mata uang digital seperti Bitcoin secara ilegal adalah bentuk pelanggaran hukum di Australia,” kata Komandan Polisi Matt Craft. [Cointelegraph/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Halving Telah Usai. Lalu Sekarang Apa?

    Halving blok reward Bitcoin telah usai. Peristiwa yang terjadi setiap empat tahun sekali, telah terjadi pada Senin, 12 Mei 2020 lalu dan ini merupakan bagian dari protokol Bitcoin.

    Teori ekonomi menunjukan karena peristiwa ini mengurangi jumlah Bitcoin yang ada dalam jaringan, penambang hanya akan menerima dan menghasilkan jumlah Bitcoin baru setengah dari jumlah sebelum halving terjadi, sehingga hal ini akan berkaitan langsung terhadap pasokan Bitcoin baru dan diharapkan akan ada penambang baru yang terus bertambah. Asumsi ini membuat permintaan menjadi lebih konstan dan juga dapat memompa harga menjadi lebih tinggi.

    Beberapa hari menjelang halving kemarin, spekulasi terus meningkat. Harga Bitcoin naik dari kisaran $4.500 ke angka $10.000 atau naik sekitar 122%. Para trader mengantisipasi ledakan yang akan terjadi, apalagi dengan banyak pemberitaan utama mengenai “Breakout Bitcoin yang besar”.

    Namun, hal sebaliknya justru terjadi. Harga Bitcoin yang digadang-gadang menembus $10.000 kemudian turun dari $10.000 ke sekitar $8.600 hingga $8.700. Hal ini terjadi setelah jaringan Coinbase mengalami down dan “paus” menjual kepemilikan mereka.

    Baca Juga: Ingin Investasi Bitcoin Saat Halving? Simak Tips dari Pelaku Pasar Berikut Ini!

    Meskipun hype pada halving Bitcoin telah selesai, tidak ada yang benar-benar terjadi, meskipun sebenarnya terjadi penurunan pendapatan pertambangan dari $15 Juta menjadi sekitar $8 Juta hari ini. Harga juga sekarang terlihat berada di sekitar $8.900.

    Tidak Banyak yang Terjadi

    Sebelum halving, pada 8 Mei 2020, Pankaj Balani, CEO Delta Exchange, sangat bersemangat. Ia mengatakan “Trader akan sangat bullish menuju halving nanti dengan banyak yang berharap Bitcoin untuk menembus angka 11.000 setelah halving.”

    Setelah peristiwa halving terjadi, ia tetap optimis hal itu akan terjadi. “Halving terjadi sesuai yang diharapkan, lancar sehubungan dengan harga dan tingkat hash, dengan dampak yang sebenarnya akan muncul dalam beberapa minggu dan bulan ke depan.”

    Tingkat hash diprediksi juga akan naik, hal ini mengingat miners yang sudah “tua” akan menutup perangkatnya. Peristiwa ini juga terlihat dari naiknya tingkat hash dari 120.365m ke 121.038m.

    Viktor Bunin mengatakan, “Hal Paling menarik mengenai peristiwa (halving) ini adalah betapa antiklimaksnya peristiwa ini sendiri! Bayangkan jika Anda memberi tahu semua bankir (atau profesi apapun) di seluruh dunia bahwa gaji mereka akan dipotong setengah setiap 4 tahun? Akan ada kerusuhan!”

    Lebih lanjut ia menambahkan, “konsensus sosial tentang kebijakan moneter Bitcoin bertumbuh kuat dan fakta bahwa bahkan tidak ada ‘keluhan’ dari para penambang membuat peristiwa halving ini telah berhasil menunjukkan sistem ini berfungsi.”

    Baca juga:Pesan pada Halving Bitcoin Ketiga, Mengingatkan Alasan Bitcoin Tercipta

    Halving, Peristiwa Monumental

    Sinjin David Jung, direktur pelaksana Cadangan Moneter Blockchain Internasional, merasa peristiwa ini tetap menarik apapun yang terjadi. “Peristiwa halving adalah peristiwa yang benar-benar menarik, karena peristiwa ini tetap berlangsung walaupun dengan kondisi dan semua kekacauan yang terjadi di pasar. Ketidakstabilan finansial dan Quantitative Easing (QE) yang terjadi saat ini adalah bahan bakar untuk peluncuran “roket” Bitcoin yang tak terelakkan, Bitcoin akan melewati harga tertinggi masa lalu dalam tahun yang akan datang nanti.”

    Yang lain berpendapat halving itu sendiri adalah sebuah berita. Ray Youssef, CEO situs perdagangan peer-to-peer Paxful, mengatakan ia “menyoroti semangat dan persatuan komunitas Bitcoin. Bagian dari kemanusian ini lah yang akhirnya membawa saya dan salah satu pendiri Paxful kepada Bitcoin dan rasanya itu sangat menyenangkan untuk mengenangnya kembali.”

    Kedepannya, pasar mungkin perlu waktu untuk bereaksi terhadap peristiwa halving yang telah terjadi. “Pada titik ini saya sedang menunggu untuk melihat seberapa jauh peristiwa ini akan berjalan, khususnya menunggu koreksi pasar yang lebih luas dan juga kapitulalsi penambang. Selain itu, jangka menengah dan panjang pada Bitcoin terlihat menjanjikan,” jelas Evan Kuo, CEO Ampleforth.

    Dalam ketidakpastian ini, siapa yang akan mengira bahwa stabilitas Bitcoin akan menjadi penyelamat?

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Halving Bitcoin yang Ketiga Telah Usai!

    Peristiwa cryptocurrency paling ditunggu-tunggu tahun 2020, Halving Bitcoin (BTC), baru saja berlalu. Hanya terjadi setiap empat tahun sekali, blok reward penambangan Bitcoin yang baru-baru ini terjadi telah mengurangi blok reward Bitcoin dari 12.5 BTC ke 6.25 BTC.

    Peristiwa halving ketiga Bitcoin ini terjadi pada sekitar pukul 3:23 Malam EST atau 2:23 WIB . Menurut data dari Tradeblock.com. Setelah halving terjadi, Bitcoin diperdagangkan pada $8.500, dengan dominasi pasar sebesar 67% pada waktu rilis, menurut Coin360.

    Blok Reward Bitcoin ada di 50 BTC hingga 0,00000001 BTC

    Sejak blok Bitcoin pertama dibuat pada tahun 2009 silam, ada tiga peristiwa halving hingga saat ini. Berlangsung setiap 210.000 blok yang ditambang, atau kira-kira setiap empat tahun, halving blok reward Bitcoin saat ini sebesar 50%. Peristiwa halving pertama terjadi pada tahun 2012, memotong blok reward dari 50 BTC menjadi 25 BTC. Selanjutnya, peristiwa kedua terjadi pada tahun 2016 silam, dengan reward berkurang dari 25 BTC menjadi 12,5 BTC.

    Karena persediaan Bitcoin terbatas pada 21 juta koin, peristiwa halving Bitcoin akan terus berlangsung hingga tahun 2140, atau hingga BTC ke-21 Juta. Pada saat itu, blok reward harus mencapai 1 satoshi, atau unit terkecil Bitcoin di 0,00000001 BTC. Menurut Blockchain.com, pada saat publikasi, jumlah Bitcoin yang beredar berjumlah 18,37 juta.

    Baca juga: Melihat Dampak Bitcoin Halving bagi Exchange dan Trader

    Dampak Halving Bitcoin

    Karena dua peristiwa halving Bitcoin sebelumnya yang pada akhirnya berdampak pada harga Bitcoin secara positif, halving Bitcoin ketiga ini telah menjadi tema utama dengan beragam prediksi harga dan spekulasinya.

    Ada beberapa pemain crypto memprediksikan halving Bitcoin ketiga tidak akan berpengaruh pada harga Bitcoin, sebaliknya banyak juga yang menilai bahwa akan ada pengaruh dari peristiwa halving yang ketiga ini. Hal ini mengingat pasokan Bitcoin baru akan semakin berkurang.

    Lain hal dengan korelasi harga Bitcoin yang sebenarnya masih dipertanyakan, halving Bitcoin yang baru-baru ini terjadi memiliki dampak langsung pada miners. Sejumlah analis crypto memperkirakan halving akan segera memicu para penambang untuk berhenti menghasilkan Bitcoin baru karena sejumlah besar perangkat penambang akan menjadi usang.

    Baca Juga: Ingin Investasi Bitcoin Saat Halving? Simak Tips dari Pelaku Pasar Berikut Ini!

    Menurut wakil presiden Poolin Poole, Alejandro De La Torre, sejumlah penambang yang tidak mendapatkan keuntungan telah mulai mematikan peralatan mereka bahkan sebelum halving Bitcoin yang ketiga ini terjadi.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Waspada! Bearish Bitcoin Membayang-bayangi – Tokocrypto News

    Setelah bullish selama 8 pekan berturut-turut, akhirnya Bitcoin menyentuh zona US$8 ribuan. Apakah ini pertanda berakhirnya bullish Raja Aset Kripto itu?

    Menjelang Bitcoing Halving, dengan banyaknya euforia dan sentimen optimistik, kemudian harga Bitcoin sempat menyentuh US$10 ribu, membuat para “moon bois” yakin akan Raja Aset Kripto itu akan terus naik.

    Namun, pagi ini, Minggu 10 Mei 2020, Bitcoin malah turun ke zona sekitar US$8 ribu-an dan membuat candlestik minggu ini menjadi merah setelah 8 minggu berturut-turut berwarna hijau (bullish).

    Berita Terkait: Harga Bitcoin Diprediksi Berlipat Ganda dalam Beberapa Hari Mendatang

    Analisis Teknikal Sederhana

    Sebenarnya, “dump” yang terjadi di Minggu pagi ini, hanyalah reaksi biasa setelah tersentuhnya resistance psikologis US$10 ribu. Itu juga berbarengan dengan garis tren yang terbentuk sejak bull run di akhir 2017 (seperti terlihat di garis hijau pada gambar di atas).

    Support berikutnya yang perlu menahan agar harga tidak turun lebih jauh adalah area US$8 ribuan. Jika ini jebol clean break, maka bisa diperkirakan Bitcoin akan jatuh lebih jauh lagi.

    Ada Sinyal Bearish

    Bitcoin Halving yang kurang dari 3 hari lagi (diperkirakan pada 12 Mei 2020 di block ke-630.000), membuat ekspektasi para pelaku pasar melambung tinggi. Namun, indikator RSI mengatakan ada dump akan membayang-bayangi.

    Jika dilihat di timeframe 1 hari, RSI sudah keluar dari zona overbought, dan telah keluar dari garis tren.

    Untuk perlu kembali bullish, maka kenaikan harga Bitcoin perlu cukup cepat dan kuat agar RSI bisa kembali ke garis tren dan tidak membuat failure swing.

    Para trader disarankan untuk berhati-hati dalam menghadapi Halving ini, karena volatilitas yang tinggi bisa membuat trader kehilangan posisinya. [red]



    Sumber : news.tokocrypto.com