Tag: btc

  • Market Awal Pekan: Bitcoin Masih “Nyaman” di Harga $ 21.000

    Pergerakan market aset kripto pada awal pekan kelima Juni 2022, masih terlihat datar. Selama akhir pekan lalu, tidak ada pergerakan market yang mengejutkan baik naik maupun turun.

    Melansir situs CoinMarketCap pukul 09.00 WIB, 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar ada big cap kompak turun sedikit ke zona hijau dalam 24 jam terakhir. Nilai Bitcoin (BTC) turun 1,37% ke $ 21.086 per keping dalam sehari terakhir.

    Sementara nasib altcoin lain seperti Ethereum (ETH) tidak jauh berbeda turun 1,52% ke $ 1.214 di waktu yang sama. Solana (SOL) dan Polkador (DOT) juga mengalami penurunan, masing-masing 3,39% dan 1,06%. Mengejutkan Dogecoin (DOGE) mengalami lonjakan harga hingga 10,97% capai $ 0,07513.

    market aset kripto
    Ilustrasi market aset kripto.

    Baca juga: Prediksi Harga Bitcoin, US$ 209 Ribu pada Tahun 2025

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan market kripto awal pekan ini masih terus bergerak sideways, meski sedikit melemah di tengah tipisnya volume trading selama akhir pekan lalu.

    “Dari pergerakkan market kripto masih datar saja. Ini diperkirakan akan terus berlangsung lama. Salah satu penyebab market terus sideways di antaranya investor terus berulang melakukan aksi profit taking, saat harga sedikit naik, mumpung kinerja pasar kripto pekan lalu berada di teritori positif,” kata Afid.

    Lebih lanjut Afid menjelaskan Investor juga masih dalam fase priced in dalam melihat dinamika makroekonomi yang terjadi selama sepekan belakang. Niatan The Fed untuk mengerek suku bunga acuannya dengan kencang di masa depan membuat banyak aset kripto semakin berkorelasi kuat dengan kondisi makroekonomi dalam sembilan bulan terakhir.

    Belum Ada Momentum Bullish

    Afid berkeyakinan dalam beberapa waktu ke depan belum ada momentum yang baik untuk market bergerak bullish. Apalagi ekonom Wall Street meramalkan bahwa resesi ekonomi bisa terjadi dalam kurung waktu 12 bulan mendatang. Ramalan ini memberikan sinyal antisipasi bagi pelaku pasar, mengantisipasi “efek samping” kebijakan moneter agresif The Fed.

    Cara Cuan Ketika Bearish Market
    Cara Cuan Ketika Bearish Market.

    Baca juga: Mengulik Ekspektasi Bitcoin Bakal Lampaui US$ 100.000 di Tahun 2025

    Pergerakkan Bitcoin pun rupanya diramalkan belum bergerak bagus. Pasar kripto belum bisa menguat signifikan pekan ini, karena tidak ada momentum yang bisa mendorong BTC meninggalkan kisaran US$ 20.000 per keping.

    “Bitcoin akan mengalami test support berkali-kali, di mana harganya bisa jadi akan berada di level US$ 19.800 hingga US$ 17.000 dalam beberapa waktu ke depan. Dari analis teknikal, prospek bullish belum bisa terihat. Untuk bergerak bullish, BTC harus melewati level resistance di titik US$ 23.000,” jelas Afid.

    Jika dilihat dari sisi teknikal, BTC sendiri memiliki peluang untuk melanjutkan penguatannya sampai ke area US$ 22.400 hingga US$ 22.700 selama pekan ini. Kenaikan harga kripto yang terjadi nantinya hanya bersifat prematur, karena belum ada sentimen positif yang kuat.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pasar Sepekan: Investor Kripto Bisa Bernafas Lega, Awas Bull Trap

    Di penghujung pekan keempat Juni 2022, investor aset kripto tampaknya bisa bernafas lega melihat kondisi market. Market kripto akhirnya bisa sedikit comeback menuju zona hijau menjelang akhir pekan.

    Secara keseluruhan sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap telah tampil gemilang menuju zona hijau dalam perdagangan 24 jam terakhir. Misalnya saja, dari pantauan CoinMarketCap, Jumat (24/6) jam 13.00 WIB, nilai Bitcoin kembali tumbuh dengan harga $ 21.106 atau tumbuh 4,12%.

    Altcoin lainnya pun tak kalah meroket. Nilai Ethereum (ETH) ikut naik 6,67% ke US$ 1.149. Solana (SOL) dan XRP bahkan melonjak lebih dari 10%. Binance Coin (BNB), Cardano (ADA) dan Dogecoin (DOGE) tumbuh lebih dari 5% sehari belakangan. 

    Ilustrasi market aset kripto.
    Ilustrasi market aset kripto.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan perdagangan market kripto bergerak positif menjelang akhir pekan disebabkan oleh investor yang mulai percaya diri untuk ramaikan pasar dengan aksi beli. Ternyata sentimen positif ini juga dirasakan oleh kinerja pasar modal yang menampilkan performa gemilang.

    “Secara umum, investor kembali masuk ke market kripto, bersamaan dengan kinerja pasar modal yang juga mengalami kinerja positif. Investor yakin bisa mendapatkan keuntungan dalam jangka panjang, ketika market kripto akan kembali bullish, sehingga mereka memutuskan untuk masuk meski masih ragu-ragu,” kata Afid.

    Baca juga: Solana Luncurkan Smartphone Android, Langkah Baru Menuju Adopsi Global

    Selain dari sikap invetor ritel yang bersemangat untuk masuk ke market, ternyata dari sisi teknikal, aksi buy the dip yang dilakukan oleh whales juga berpengaruh untuk kenaikan harga. Buktinya, indikator Mayer Multiple menunjukkan bahwa skornya berada 50% di bawah level Moving Average (MA) BTC selama 200 hari. 

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono
    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono. Foto: Tokocrypto.

    Meski begitu, potensi market kripto untuk bullish dalam waktu dekat masih ada hambatan. Salah satu utamannya adalah Kekhawatiran atas resesi ekonomi kian nyata, setelah Ketua The Fed, Jerome Powell kembali menegaskan, otoritas moneter AS tersebut bakal terus melawan inflasi dengan kenaikan suku bunga acuan.

    Secara teori, kenaikan suku bunga bakal mengurangi minat investor untuk menyimpan hartanya di aset beresiko seperti kripto, dan saham. Investor maupun ritel cenderung akan memilih institusi keuangan tradisional atau perbankan untuk menyimpan asetnya.

    Baca juga: Giatkan Literasi Aset Kripto, Tokocrypto Gelar TokoInvasion di Surabaya

    Menanti Titik Bottom Bitcoin

    Titik bottom atau dasar dari penurunan harga Bitcoin saat ini menjadi hal yang paling nantikan. Pasalnya, bottom ini akan menjadi akhir dari penderitaan berlarut-larut dari bear market dan membawa angin segar ke industri kripto.

    “Berkaca pada kejadian Bitcoin crash pada 2013 dan 2017, di mana nilai BTC anjlok hingga 80% dari titik tertingginya atau ATH di kedua tahun tersebut. Sementara itu, saat ini, Bitcoin berada di kisaran US$ 21.000, atau baru jatuh sekitar 75% dari titik tertingginya US$ 68.000 di November lalu. Sehingga, banyak analis berkeyakinan titik bottom BTC nanti akan juga turun 80% sama pada 2013 dan 2017,” jelas Afid.

    Pergerakan Bitcoin kini masih ditargetkan alami penurunan hingga level support US$ 19.000-US$ 15.500 dalam beberapa waktu ke depan. Level resistance BTC sekarang ada di nilai US$ 23.000. Prospek bearish juga tampak berlanjut untuk menemukan bottom yang sebenarnya, meski Bitcoin Fear & Greed Index sedikit membaiknya levelnya, walaupun masih bertahan di wilayah Extreme Fear.

    Bitcoin Fear & Greed Index
    Bitcoin Fear & Greed Index pada tanggal 24 Juni 2022.

    Baca juga: Kenal Lebih Aset Kripto dForce (DF) dan Bonfida (FIDA)

    Secara fundamental, bangkitnya nilai Bitcoin dan industri kritpto dapat terealisasi setelah meredanya gejolak ekonomi, yang menumbuhkan selera risiko investor ke aset, seperti saham dan kripto. Secara teknikal, pergerakan market saat ini telah melihat adanya peluang bottom Bitcoin sudah dekat.

    “Jika inflasi dan tekanan geopolitik terus mereda, market akan kembali bergerak positif. Jika melihat histori bear market atau crypto winter pada 2018, butuh waktu kurang lebih dua tahun bear market selesai dan harga mulai kembali naik atau mencapai ATH,” kata Afid.

    Jika pola ini berulang ada kemungkinan para investor yang bertahan di kondisi pasar saat ini baru akan mendapatkan imbal hasil tinggi di 2025, satu tahun setelah halving di 2024. Jadi kurang lebih dibutuhkan waktu 2-3 tahun untuk bull market datang kembali.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mengulik Ekspektasi Bitcoin Bakal Lampaui US$ 100.000 di Tahun 2025

    Aset kripto utama, Bitcoin (BTC) menjadi sorotan banyak pengamat dan investor sejak menjadi booming beberapa tahun silam. BTC juga telah mengalami pasang surut harga yang luar biasa “gila”, dengan kenaikan ribuan persen dan penurunan yang melebihi 80 persen disetiap siklus, yang nampaknya sedang terjadi saat ini.

    Harga BTC telah menuju palung terdalam dari ATH terbarunya, yakni di kisaran US$68.000, dan telah menghantam industri kripto dengan sangat kuat. Kejatuhan ini mematikan beberapa bisnis di industri, termasuk pertukaran kripto yang harus sampai mengurangi staf demi bertahan hidup.

    Baca juga: Mengenal Talaxeum- Green Defi Utility Token Hasil Karya Kolaborasi Komunitas Dalam Mendukung Tokenisasi Industri Riil

    Sebagai aset yang terdesentralisasi alias tidak terpusat, Bitcoin tidaklah didukung atau diatur oleh pemerintah dan hanya diatas kertas. Dalam aset kripto, harusnya inflasi, kondisi ekonomi, dan faktor lainnya tidak mempengaruhi harga BTC.

    Akan tetapi, kenyataan saat ini BTC telah terpengaruh sentimen global dari perekonomian, membawa harganya jatuh bersamaan dengan pasar saham.

    Hal ini, lantaran investor di balik BTC telah terpengaruh kebijakan bank sentral dan kenaikan suku bunga, serta kekhawatiran inflasi. Sehingga, BTC meski terdesentralisasi para investor di belakangnya tetap “terikat” dengan aturan pemerintah tempat mereka berpijak.

    Ini tentu mempengaruhi faktor utama dari penggerak harga BTC, yakni penawaran dan permintaan. Di saat selera risiko investor menyusut, permintaan menurun dan membawa penawaran menjadi naik, harga BTC pun menyusut. Begitu pula sebaliknya.

    Biaya produksi dari BTC pun dapat mempengaruhi harga, yakni dari operasional penambangan Bitcoin. Biaya listrik, pajak dan lain-lain tentu menjadi landasan dalam permintaan dan penawaran karena penambang tentu tidak mau merugi.

    Baca juga: Prediksi Harga Bitcoin, US$209 Ribu pada Tahun 2025

    Di samping itu, regulasi menjadi penopang yang mempengaruhi harga. Pasalnya regulasi yang ramah kripto tentu akan meningkatkan peluang bertambahnya investor, serta meningkatkan permintaan dan harga.

    Dalam jangka panjang, regulasi di AS tampak akan sangat baik bagi perkembangan industri kripto, di mana pajak juga telah ditentukan dengan bijak, sehingga industri telah dianggap seperti halnya komoditas atau aset investasi.

    Kendati demikan, dalam pandangan beberapa investor dari pertimbangan regulasi, permintaan investor institusi dan potensi resesi pada AS, harga BTC berpeluang melampaui $100.000 di tahun 2025, setelah halving terbarunya. [st]

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Aset Kripto Mulai Bangkit dari Keterpurukan, Apa Penyebabnya?

    Mayoritas harga aset kripto terlihat bersinar pada Selasa (21/6). Namun, lonjakan harga ini belum cukup untuk memulihkan kapitalisasai pasar kripto dari kejatuhan yang terjadi pada akhir pekan lalu.

    Kapitalisasi market kripto mengalami reli singkat dalam 24 jam terakhir, naik sekitar 9,7% setelah akhir pekan yang sulit yang melihat harga beberapa koin anjlok sebanyak 15%. Hal itu terlihat dari nilai Bitcoin pada perdagangan Selasa (21/6) pukul 11.00 WIB yang masih di level US$ 20.655, meski sebelumnya sempat menyentuh US$ 30.000.

    Dari pantauan CoinMarketCap, Solana (SOL) dan Ethereum (ETH) memimpin kenaikan di antara 10 koin teratas berdasarkan kapitalisasi pasar dengan kenaikan 9%, sementara Cardano (ADA) dan Polkadot (DOT) naik 7%. Di luar 10 besar, Avalanche (AVAX) melonjak 14%, Polygon (MATIC) bertambah 12% dan ApeCoin (APE) naik 16%.

    Ilustrasi aset kripto Solana (SOL).
    Ilustrasi aset kripto Solana (SOL).

    Baca juga: Cuitan Elon Musk tentang DOGE Masih Bertuah

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, melihat sebagian besar kenaikan harga kripto datang di tengah lonjakan pasar ekuitas yang lebih luas, karena pasar AS tetap tutup untuk libur nasional di AS. Kesempatan ini ternyata dimanfaatkan oleh investor whales yang memutuskan memborong aset kripto atau buy the dip ketika harganya sedang turun.

    “Beberapa analis menduga, aksi whales tersebut didorong oleh data historis yang menunjukkan bahwa investor jangka panjang akan mendapat cuan, jika melakukan buy the dip. Aksi whales tersebut setidaknya bisa menopang laju harga aset kripto dalam jangka pendek,” kata Afid.

    Lebih lanjut Afid, menjelaskan bahwa sebagian besar investor kakap percaya titik US$ 20.000 sebagai level support BTC baru yang perlu dipertahankan. Sebab, mereka beranggapan bahwa BTC sudah oversold berlebihan.

    Ilustrasi market aset kripto.
    Ilustrasi market aset kripto.

    Baca juga: Apa Itu Kripto Streamr (DATA) dan FC Barcelona Fan Token (BAR)?

    “Pergerakan pasar seperti itu adalah peluang yang baik untuk trader harian, tetapi tidak bagi investor jangka panjang yang bertujuan untuk mengurangi risiko. Market kripto juga sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar global, dan ketika itu berubah, aset akan bergerak jauh lebih cepat daripada pasar lain,” jelasnya.

    Sentimen negatif untuk pasar kripto sejatinya masih belum kondusif menyusul maraknya ketidakpastian ekonomi, seperti tingkat inflasi, ancaman resesi ekonomi, hingga kenaikan suku bunga acuan The Fed. Sinyal lainnya, juga muncul dari data pasar derivatif BTC. Sebab, return di produk BTC berjangka ternyata kini lebih kecil dari pasar spot untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir.

    “Saya tidak melihat Bitcoin dengan cepat kembali ke level tertinggi sepanjang masa. Kita mungkin harus bersiap untuk ketidakpastian jangka panjang selama musim dingin kripto,” pungkas Afid.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Aktivitas Whale Bitcoin Tunjukkan Adanya Lompatan ke Level Tertinggi

    Aktivitas dari investor whale Bitcoin (BTC), telah mengalami lonjakan hingga ke level tertinggi 4 bulan. Hal ini, lantaran pihak whale diketahui memborong aset BTC yang harganya mengalami penurunan. Aksi “Buy the Dip” tersebut, dilakukan saat harga BTC mendekati level USUS$20.000, di mana harga saat ini sudah berada di bawah level tersebut.

    Dari laporan perusahaan analitik IntotheBlock, aliran masuk besar dari whale mulai terlihat pada bulan Februari lalu, yang manaa pada minggu ini telah ada 116.000 BTC yang diborong senilai US$ 2,5 miliar dalam sehari.

    Dilansir dari media cryptoglobe.com. hal ini merujuk pada pembentukan bottom baru bagi harga Bitcoin, dikarenakan pembelian besar ini merujuk pada koreksi pasar yang terus mencetak level harga rendah. Meski sudah ada aksi pump, harga BTC masih terus bergerak lebih rendah dari US$20.000. Pasalnya, kondisi global masih memaksa para pemegang yang merugi untuk menutup posisi mereka.

    Baca juga: Tak Hanya FOMO, Pahami Juga Istilah FUD dalam Dunia Kripto

    Menurut data dari Glassnode, whale tampak cenderung menjual “saat harga tinggi” dan membeli “saat harga rendah”. Aktivitas tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah dompet dengan saldo BTC minimal 10.000 koin di saat harga crypto utama ini terus tersungkur jatuh.

    Robert Kiyosaki, seorang pengarang buku best seller “Rich Dad Poor Dad” mengatakan bahwa kejatuhan harga BTC adalah peluang besar bagi investor untuk menjadi kaya.

    “Ada baiknya untuk kita membeli banyak emas, perak dan Bitcoin karena AS dalam pandangannya akan terhantam resesi.” ungkap Robert, Sabtu (19/6/).

    Ia menilai kejatuhan BTC adalah berita bagus, karena ia menunggu harganya jatuh di bawah US$ 20.000 untuk memborongnya dalam jumlah besar. 

    Sementara itu, Pendiri Dogecoin Billy Markus menyatakan bahwa pasar kripto pun pada akhirnya akan kembali bangkit, dalam rentang empat tahun, atau pasca Halving terbaru. Lantaran. seperti itulah siklus yang biasa terjadi di pasar kripto. 

    Baca juga: Prediksi Harga Bitcoin 2022: Analisa BTC Mingguan

    Terbukti hingga halving terakhir di tahun 2020, dan harga melesat kuat di tahun 2021.

    Kendati demikian, kedua pihak ini setuju bahwa kejatuhan harga adalah “momen” terbaik untuk berinvestasi karena harga pada akhirnya akan melesat lagi ke ATH-nya, bahkan mencetak yang baru, jika melirik sejarah pergerakan harga.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Market Awal Pekan: Nilai Bitcoin Rebound Setelah Terpuruk Ditekan Inflasi

    Market aset kripto pada awal pekan keempat Juni 2022, terlihat mengalami rebound, setelah selama akhir pekan lalu mengalami penurunan yang drastis. Pergerakan reli kecil terlihat mengirim Bitcoin kembali di atas ambang batas nilai psikologisnya $ 20.000, tetapi situasi ini diprediksi tidak akan bertahan.

    Melansir situs CoinMarketCap pukul 08.00 WIB, 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar ada big cap kompak meluncur ke zona hijau dalam 24 jam terakhir. Nilai Bitcoin (BTC) naik 5,48% ke $ 19.985 per keping dalam sehari terakhir.

    Sebelumnya pada Sabtu (18/6) pagi, harga BTC anjlok di bawah $ 20.000 dan turun ke $ 17.601. Penurunan itu menempatkan Bitcoin di bawah level tertinggi sepanjang masa $ 19.783 yang dicapai pada Desember 2017, level yang diyakini banyak pedagang kripto bahwa BTC tidak akan pernah lagi jatuh di bawahnya.

    Sementara nasib altcoin lain seperti Ethereum (ETH) tidak jauh berbeda naik 9,48% ke $ 1.084 di waktu yang sama. XRP, Solana (SOL) dan Dogecoin (DOGE) mengalami penurunan yang paling signifikan, masing-masing 4,72%, 6,54% dan 10,75%.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono
    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono. Foto: Tokocrypto.

    Baca juga: Pria Ini Berhasil Kalahkan Bos Tokocrypto di Cerdas Cermat Kriptoversity

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan market kripto awal pekan ini sedikit mengalami pullback, setelah nilai babak belur pada akhir pekan lalu. Penyebab pergerakan rebound saat ini adalah sikap investor yang mulai masuk ke market, memanfaatkan rendahnya volume trading pasar kripto di akhir pekan untuk melakukan buy the dip.

    Investor berharap Bitcoin dan altcoin lainnya tidak jatuh lebih bawah lagi, sehingga mereka melakukan strategi buy the dip untuk berusaha mendapatkan imbal hasil membaik untuk menutup kerugian.

    “Investor kini tampaknya bersedia untuk membeli aset kripto dengan harga murah, meski belum dianggap sebagai titik bottom. Investor harus menentukan membeli sekarang atau menunggu tiba ke titik bottom yang belum diketahui pasti kapan terjadi,” kata Afid.

    Prediksi Bitcoin sampai Titik Bottom

    Afid melihat saat ini target Bitcoin menuju level support di $ 15.500. Menurutnya, Bitcoin masih lemah, namun tidak ada kejelasan di mana titik bottom yang akan ditujunya.

    “Bitcoin masih dalam tekanan. Target pergerakan Bitcoin kini akan menuju penurunan hingga $ 19.000-$ 15.500 dalam beberapa waktu ke depan. Prospek bearish juga tampak berlanjut untuk menemukan bottom yang sebenarnya,” kata Afid.

    bentuk koin bitcoin
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Kenalan dengan SafeMoon Coin, Kripto yang Hits di Kalangan Selebritas

    Jika melirik ke pada siklus Bitcoin, pada market bearsih tahun 2015, membutuhkan waktu 426 hari untuk akhirnya mencapai posisi bottom. Lalu jika dilihat ke siklus pada tahun 2017, butuh 365 hari untuk mencetak bottom pada 2018.

    Sedangkan, dari puncak pada Juni 2019 pada $13.900, BTC kemudian mengalami penurunan 274 hari sebelum mencapai posisi bottom. Maka asumsi saat ini, jika pada bulan November 2021, merupakan siklus puncak titik bottom dalam antara 274 hari atau 365 hari, maka secara kalkulasinya akan terjadi pada September 2022 atau November 2022.

    “Investor tetap cemas tentang inflasi yang tinggi, yang mencapai level tertinggi 40 tahun untuk bulan Mei, berlanjutnya kejatuhan ekonomi dari invasi Rusia ke Ukraina dan kemungkinan meningkatnya resesi global. Analisa teknikal tidak begitu berguna saat ini, fundamental atau makroekonomi yang bisa menentukan arah Bitcoin,” pungkas Afid.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • The Fed Menaikan Suku Bunga 75 Basis Poin, CEO Ini Siap Beli Bitcoin

    Seorang pesohor dikabarkan akan memborong kripto saat nilainya sedang mengalami penurunan signifikan di beberapa minggu lalu. Pesohor tersebut bernama, Raoul PAL yang merupakan CEO dari Real Vision Group & Investor Makro Global. 

    Dalam prediksinya, pasar kripto akan berada di bawah untuk lima minggu kedepan. Ia berencana untuk memborong lebih awal di minggu depan. Hal ini, lantaran ia berkaca seperti tahun 2014 saat penurunan kripto terjadi. Siapapun yang membeli aset saat nilai sedang dibawah, lanjutnya, berpotensi mengeruk keuntungan bahkan 10 kali lipat.

    Dari analisnya soal Relative Strength Index (RSI) mingguan bitcoin, yang saat ini berada di 31 dan sedikit di atas ATL di 28 dia memperkirakan bagian bawah akan berlangsung selama lima minggu. 

    “Saya mungkin akan mulai berbelanja minggu depan, karena memang mengatur timing pada saat dibawah itu sesuatu yang hampir tidak bisa dilakukan. Karena saya melihat kripto sebagai aset jangka panjang, bukan aset perdagangan” ungkap Raoul dikutip dari website Cryptopotato, Kamis (16/6/2022).

    Sementara itu, milyuner Amerika dan Co-Founder of The Carlyle Group David Rubenstein menyatakan bahwa masyarakat dunia tidak akan meninggalkan kripto meskipun mengalami kehancuran besar dalam beberapa minggu ini. 

    “Orang-orang tidak akan meninggalkan konsep di balik kelas aset hanya karena efek samping dalam beberapa minggu terakhir,” ujarnya.

    Baca juga: CEO MicroStrategy Tepis Kekhawatiran Margin Call Saat Bitcoin Anjlok ke Angka US$21.000

    Aset Bitcoin diketahui telah mengalami hantaman serius di beberapa lalu. Peningkatan inflasi global, konflik militer antara Rusia dan Ukraina, krisis energi dan masalah lainnya telah menjatuhkan harga aset hingga US$30.000 dalam waktu hampir sebulan.

    Namun saat banyak pihak mulai memiliki pandangan buruk soal kripto kedepan, David tidak berada diantara mereka. Dia berpendapat bahwa harga aset koin digital ini akan terus berfluktuasi, tetapi aset tidak akan menghilang. 

    “Saya mencatat kemajuan dalam dekade terakhir. Penilaian USD lebih dari $20.000 adalah pencapaian yang signifikan mengingat beberapa investor membelinya (Bitcoin) dengan harga kurang dari satu dolar bertahun-tahun yang lalu,” kata David.

    Pengusaha itu juga mengklaim penurunan kripto tidak mengherankan karena ekonomi global saat ini tidak dalam kondisi terbaiknya dan pasar keuangan tradisional juga turun. Menurutnya, orang akan menjaga kepercayaan mereka pada teknologi blockchain dan konsep di balik aset digital meskipun ada tren negatif.

    Baca juga: Mengenal Kripto Paris Saint-German Fan Token (PSG) dan Beam (BEAM)

    Pengumuman The Fed Kenaikan Suku Bunga Tertinggi Dalam 28 Tahun, Bitcoin Untung

    The Fed atau bank sentral Amerika pada hari Rabu menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin, atau tiga perempat poin persentase. Ini adalah kenaikan suku bunga terbesar dalam 28 tahun, yang mana merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menurunkan inflasi yang melonjak. 

    Inflasi yang terjadi saat ini telah mengguncang ekonomi dan pasar dari saham dan obligasi hingga mata uang kripto.

    Bank sentral AS juga mengumumkan akan terus mengurangi ukuran neraca pada tingkat yang diumumkan pada bulan Mei, menurut sebuah pernyataan oleh Federal Open Market Committe (FOMC), yang menetapkan kebijakan moneter Fed.

    Menurut data dari Coingecko pada Kamis (16/6/2022), Bitcoin (BTC) telah berpindah tangan sekitar US$22.544, sekitar satu jam pasca pertemuan. Harga tersebut naik dari $21.076 ketika keputusan itu dirilis. Sebagian besar analis sudah menetapkan harga dalam kenaikan pada hari-hari menjelang pertemuan.

    Kendati demikian, The Fed juga mengklaim bahwa aktivitas ekonomi secara keseluruhan tampaknya telah meningkat setelah turun pada kuartal pertama. 

    “Kenaikan pekerjaan telah kuat dalam beberapa bulan terakhir, dan tingkat pengangguran tetap rendah. Inflasi tetap tinggi, mencerminkan ketidakseimbangan penawaran dan permintaan terkait pandemi [virus corona], harga energi yang lebih tinggi, dan tekanan harga yang lebih luas,”pungkas The Fed.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • CEO MicroStrategy Tepis Isu Margin Call saat Bitcoin Anjlok

    Perusahaan MicroStrategy disinyalir akan mengalami margin call pada nominal sebesar US$ 205 juta. Kemungkinan ini bisa terjadi apabila jika BTC jatuh lebih jauh pada angka yang dikhawatirkan. Akan tetapi, CEO Michael Saylor telah memberikan pernyataan bahwasanya perusahaan “siap untuk HODL bila skenario buruk terjadi”.

    HODL sendiri merupakan langkah untuk menahan aset merujuk pada strategi buy and hold di kalangan investor kripto.

    Klaim yang sama juga datang dari Chief Technology Officer (CTO) MicroStrategy, Phong Lee pada awal bulan lalu. Ia meyakinkan kepada para pemegang aset Bitcoin tidak perlu khawatir saat datangnya “musim dingin kripto”.

    “Sebutulnya Bitcoin harus terjun hingga setengah harga atau sekitar US$ 21.000 sebelum kita mengalami margin call,” ungkap Lee kepada investor saat rapat triwulan, Rabu (15/6).

    Namun, pada kenyataannya pagi ini harga Bitcoin sempat meluncur turun dan berada di bawah angka US$ 21.000. Penurunan ini sendiri merupakan yang terendah selama 52 minggu, sebelum naik lagi pada angka US$ 22.260 saat tulisan ini terbit.

    Baca juga: Mengenal Kripto Paris Saint-German Fan Token (PSG) dan Beam (BEAM)

    Penurunan ini memaksa MicroStrategy untuk mengambil pinjaman dari Silvergate Bank sebesar US$ 205 juta pada Maret lalu hanya untuk menimbun Bitcoin. Jika harga BTC jatuh dan berada di bawah US$ 21.000 untuk periode yang lama, maka hal tersebut akan memicu margin call pada pinjaman MicroStrategy.

    Saat skenario tersebut benar-benar terjadi, maka perusahaan menurunkan puluhan ribu Bitcoin ke pasar pada posisi bearish. Dari laporan pendapatan terbaru, saat ini MicroStrategy tengah memegang aset investor sebesar 129.218 BTC.

    Kendati demikian, Michael Saylor selaku CEO MicroStrategy lewat media sosial Twitter menyatakan, dirinya bakal menggandakan permainan Bitcoin dalam perusahaannya. Dia mengatakan bahwa perusahaannya akan menghadapi badai pasar ini dengan tingkat keparahan yang jauh lebih besar.

    Sementara itu, pinjaman di Silvergate Bank sendiri meminta jaminan sebesar US$ 410 juta. Saylor juga menjelaskan, bahkan jika harga Bitcoin anjlok di bawah harga US$ 21.000 dan memicu margin call, MicroStrategy masih memiliki aset BTC tambahan yang cukup sebagai jaminan.

    Pasokan BTC itu tidak akan cukup untuk menjaminkan pinjaman jika harga BTC turun ke angka US$ 3.562.

    “Dalam peristiwa seperti ini, perusahaan MicroStategy memiliki jaminan lebih lanjut untuk kedepannya,” ujarnya.

    Baca juga: Peningkatan Suku Bunga Fed Diisukan Segera Datang, Ini Dampak ke Bitcoin

    Faktanya, dalam jarak satu bulan lalu CTO MicroStrategy meyakinkan pemegang saham bahwa peristiwa seperti hari ini tidak akan pernah datang. Hal tersebut tidak sesuai dengan votalitas saat ini dan ketidakpastian kapan aset BTC akan berada pada titik terendah.

    Bila harga Bitcoin semakin turun dan MicroStrategy tidak dapat mempertahankan US$ 410 juta dalam bentuk pinjaman, maka perusahaan terpaksa menjual Bitcoin dalam jumlah besar sekaligus mengembalikan pinjaman.

    Hal itu akan membuat harga keuangan kripto akan menjadi lebih anjlok dan berpotensi menyebabkan efek riak di pasar dengan skala yang lebih luas.

    Tetapi, Saylor dan MicroStrategy tetap pada keyakinannya, setidaknya di publik bahwa hari itu tidak akan pernah datang. Pasar pun akhirnya memberikan perhatian, dengan naiknya saham perusahaan hampir 3 persen hari ini, setelah terjun bebas 54 persen selama kehancuran kripto bulan lalu.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Peningkatan Suku Bunga Fed Segera Datang, Ini Dampak ke Bitcoin

    The Fed atau dikenal bank sentral AS diisukan bakal kembali meningkatkan suku bunga untuk kedua kalinya secara berturut-turut sebanyak setengah poin persentase.

    Peningkatan suku bunga ini dapat terjadi, saat melonjaknya harga konsumen. Lonjakan ini berujung pada peningkatan data rumah tangga dan faktor lainnya, yang menjadi indikasi jelas bahwa suku bunga akan naik lagi.

    Hal tersebut diperkuat saat Ketua The Fed, Jerome Powell tidak dapat memberikan pernyataan kemenangan melawan inflasi. Kabar tersebut diketahui setelah data konsumen naik lebih dari ekspektasi, yakni sebesar 8,6 persen dalam data year-to-year.

    “The Fed perlu menunjukkan tekad. Mereka tidak boleh terlihat kurang yakin untuk mengatasi inflasi yang membandel dan terus-menerus ini. Dua pertemuan berikutnya harus menjadi kenaikan setengah poin.” ungkap Kepala Strategi Ekuitas The Private Bank di Union Bank, Todd Lowenstein.

    Baca juga: USDD Tron Turun dari $ 1, Ikuti Jejak UST?

    Namun, the Fed menurut beberapa pihak tidak harus agresif, seperti beberapa waktu lalu melakukan pelepasan aset seperti obligasi. Selain itu, the Fed juga meningkatkan pencetakan uang dan suku bunga. Ini merupakan langkah “gila” yang dilakukan untuk mencoba melawan inflasi di depan mata.

    Kekhawatiran pun datang dari segala sisi, yang mengklaim bahwa menaikkan suku bunga justru bukan sebuah jawaban untuk inflasi. Hal ini, justru hanya akan menjatuhkan ekonomi AS lebih keras. Di samping itu, hiperinflasi pun juga dinilai menjadi kekhawatiran tersendiri.

    Apakah Bitcoin akan Merosot?

    Ketika kenaikan suku bunga telah diterapkan, serta data AS menunjukkan sikap The Fed yang lebih agresif, maka selera risiko global akan menyusut.

    Kenaikan ini akan berpengaruh pada minat pada pasar aset berisiko, seperti saham dan aset kripto. Kedua asset ini diperkirakan akan jatuh sehingga menyeret harga Bitcoin dan altcoin ke bawah. Semakin rendah dan terpuruk tanpa ada kejelasan kapan bottom akan tercipta.

    Selama isu kenaikan suku bunga berlanjut, maka pasar kripto diperkirakan akan kembali melemah. Titik balik kebangkitan kripto baru bisa dilihat saat The Fed mereda, atau bahkan ketika dolar AS akhirnya jatuh.

    Baca juga: Blockware: 8 Tahun Lagi 10% Penduduk Dunia Gunakan Bitcoin

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Blockware: 8 Tahun Lagi 10% Penduduk Dunia Gunakan Bitcoin

    Perusahaan infrastruktur pertambangan dan jaringan Bitcoin, Blockware Solutions, merilis hasil riset yang menyebutkan di tahun 2030 10% penduduk dunia akan mempunyai atau mengadopsi Bitcoin. 

    Pertumbuhan adopsi Bitcoin diprediksi akan lebih cepat dari perkiraan sejumlah ahli. Bahkan, hasil riset tersebut meneybutkan bahwa pertumbuhan adopsi BTC akan lebih kencang dari penggunaan internet. 

    Dalam laporan yang dirilis pada Rabu, 8 Juni 2022,  perkiraan ini dihitung berdasarkan kurva adopsi dari sembilan jenis kategori teknologi disruptif. Diantaranya, mobil, tenaga listrik, smartphone, internet dan media sosial. Laporan ini pun menghitung kurva adopsi BTC sejak tahun 2009.

    “Semua teknologi yang mendisrupsi mengikuti pola kurva S eksponensial yang serupa, tetapi […] teknologi berbasis jaringan yang lebih baru terus diadopsi jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan pasar,” tulis laporan tersebut. 

    Sumber: Blockware Solutions

    Baca juga: Mengenal Aset Kripto Ontology Gas (ONG) dan VIDT Datalink (VIDT)

    Berdasarkan metrik Cumulative Sum of Net Entities Growth (CAGR) dan prediksi Bitcoin, laporan tersebut memperkirakan dalam 8 tahun ke depan 10% penduduk bumi atau sekitar 780 juta jiwa (berdasarkan jumlah perkiraan penduduk bumi 2022: 7,8 milyar) akan memilki Bitcoin.

     “CAGR 60% kami memperkirakan bahwa adopsi Bitcoin global akan menembus 10% pada tahun 2030,” tulis laporan itu. 

    Prediksi terkait kurva adopsi BTC pun sebelumnya pernah dilakukan oleh sejumlah lembaga dan analis. Salah satu yang dibuat oleh mantan karyawan Google, Michael Levin.

    Levin mengatakan, dalam 12 tahun  mendatang, mengutip laporan Visbitcoin, BTC akan mencapai 1 miliar pengguna pada tahun 2025. Prediksi serupa telah dibuat oleh analis Willy Woo. Mereka berdua setuju bahwa Bitcoin akan mencapai tonggak sejarah 1 miliar penggunanya dalam rentang waktu lebih cepat setengahnya dari pertumbuhan pengguna internet. 

    Sumber: Visbitcoin melalui Michael Levin

    Baca juga: Token Kripto Metaverse Terus Tumbuh, meski Market Bearish

    Pertumbuhan Pengguna BTC Berkembang Pesat

    Adopsi aset kripto telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir. Menurut data dari TripleA, gateway pembayaran aset kripto global, pada tahun 2021, tingkat penggunaan aset kripto global mencapai rata-rata 3,9%, atau sekitar 300 juta pengguna. di seluruh dunia, 

    Se,entara itu, platform data blockchain, Chainalysis tahun lalu mengungkapkan bahwa adopsi global Bitcoin dan aset kripto melonjak 881% dari Juli 2020 hingga Juni 2021. Di mana adopsi tertinggi akan terjadi di wilayah Asia. 

    Pada bulan April, sebuah survei yang dilakukan oleh pertukaran aset kripto, Gemini menemukan bahwa adopsi kripto meroket pada tahun 2021 di negara-negara seperti India, Brasil dan Hong Kong.  Karena lebih dari setengah responden dari 20 negara yang disurvei menyatakan bahwa mereka mulai berinvestasi di kripto pada tahun 2021.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com