Pasar kripto awal pekan ini bergerak variatif, namun altcoin kembali mencuri perhatian dengan reli kuat. RESOLV memimpin kenaikan dengan lonjakan 56% ke $0,199, disusul BANANAS31 yang terbang 49% ke $0,003594, sementara PIVX menguat 22% ke $0,2857. Kenaikan ini menunjukkan minat trader mulai bergeser ke aset berkapitalisasi menengah di tengah volatilitas pasar.
Di sisi analisis, tiga koin besar berbasis AS menunjukkan potensi penguatan di minggu ketiga November. Litecoin diprediksi bisa menembus $119 berkat korelasi negatifnya dengan Bitcoin, Solana menunjukkan sinyal RSI bullish dan siap rebound jika melewati $162, sementara Chainlink terus diborong investor dengan target harga bertahap hingga $21,64. Lihat lebih lengkap di bawah ini:
Daftar Altcoin Pimpin Kenaikan Pasar di Awal Pekan Ini
RESOLV kembali naik tajam 56% (24 jam), harga kini $0,199.
BANANAS31 stabil menguat 49% sehari, harga $0,003594.
PIVX melonjak 22%, diperdagangkan di $0,2857.
3 Koin AS Terbaik Minggu Ketiga November
Litecoin vs. Bitcoin: Korelasi negatif, siap naik > $119.
Solana: Rugi besar, tapi RSI bullish; tunggu $162 untuk rebound ($170/$205).
Chainlink: Investor beli saat turun. Target $16,10, lalu $17,57 dan $21,64.
Ada yang Baru di Tokocrypto! Total Hadiah! Rp 25 JUTA*
🚨Cuma absen, bisa dapet 25 JUTA*?! 😱 Yes, kamu nggak salah baca!!🤩
Cukup login & absen di aplikasi Tokocrypto selama periode 7–28 November 2025, dan menangkan hadiah total 25 JUTA* dalam bentuk $USDT! 🚀
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Putra Menteri Purbaya, Yudo Sadewa, baru-baru ini menyampaikan wejangan penting bagi para investor kripto pemula. Melalui akun pribadinya, Yudo memang dikenal aktif berbagi pandangan seputar pasar dan perkembangan dunia kripto.
Dalam salah satu videonya yang diunggah di TikTok pribadinya @yudosadewa, ia memberikan peringatan agar investor tidak gegabah dalam membeli altcoin, khususnya token yang baru saja dirilis dan memperoleh airdrop dalam jumlah besar.
Fenomena ini memang sering terjadi di pasar kripto dimana banyak investor tergoda oleh euforia ketika harga altcoin mulai melambung tinggi, tanpa benar-benar memahami tokenomics dan risiko di balik token yang mereka beli. Akibatnya, alih-alih untung besar, justru banyak yang nyangkut karena membeli di harga pucuk.
Nah, kira-kira apa saja tips dari Yudo Sadewa dalam memilih altcoin potensial dan menghindari jebakan token? Simak penjelasan lengkapnya!
Hindari Dua Hal Ini!
Dalam video berdurasi singkat di TikTok, Yudo Sadewa menjelaskan bahwa kebanyakan investor pemula gagal bukan karena salah pilih proyek, tapi karena mereka tidak memahami timing dan struktur token.
Ia menyebut dua hal utama yang sering menjebak trader pemula: membeli token airdrop yang baru listing dari TGE, serta mengabaikan tokenomics yang inflating alias suplai token yang terus bertambah. Simak videonya:
sumber: @yudosadewa
Tips 1: Hindari Token Airdrop yang Baru TGE dan Listing di Exchange Besar
Yudo Sadewa menegaskan bahwa membeli token yang baru saja melewati Token Generation Event (TGE) dan listing di bursa besar bukanlah strategi terbaik.
Alasannya, karena ketika token tersebut resmi diperdagangkan, ribuan penerima airdrop biasanya langsung menjual token yang mereka dapat dengan gratis ke pasar.
Sehingga dapat memicu momentum “dump”, yaitu aksi jual massal oleh holder awal yang ingin segera menjual asetnya, sehingga harga token bisa turun tak lama setelah listing.
Investor baru yang masuk di momen hype sering kali menjadi exit liquidity alias “korban likuiditas” bagi para pemegang airdrop atau early investor yang ingin menjual di puncak.
Data harga token airdrop setelah listing. Sumber: Cointelegraph
Data dari Cointelegraph perihal token airdrop yang mengalami penurunan harga sejak hari pertama listing semakin menegaskan relevansi tips yang dibagikan oleh Yudo Sadewa. Dari data tersebut menunjukkan bahwa 74,19% token airdrop mengalami penurunan setelah listing, itu artinya dari 31 token airdrop besar yang berhasil TGE, 23 diantaranya langsung kehilangan nilai setelah masuk listing bursa dan hanya 8 saja yang memberikan return positif.
Tips 2: Waspadai Inflasi Token Akibat Unlock Besar
Selain faktor airdrop, Yudo Sadewa juga menekankan pentingnya memahami tokenomics atau struktur ekonomi di balik setiap altcoin.
Banyak proyek yang tampak menjanjikan di permukaan ternyata memiliki sistem distribusi token yang berbahaya, yaitu adanya jadwal unlock besar setiap beberapa bulan. Fenomena ini dikenal sebagai inflating tokenomics, di mana suplai token terus bertambah sementara permintaan tidak selalu mengikuti.
Akibatnya, harga token cenderung tertekan setiap kali terjadi unlock besar. Yudo memberikan contoh proyek seperti Manta Network (MANTA) dan StarkNet (STRK), yang memiliki token dalam jumlah besar yang belum di unlock dengan jadwal unlock yang tidak terlalu lama, yang membuat harga sulit naik karena adanya inflasi suplai token.
Jika melihat perjalanan salah satu contoh token yang disebutkan, yakni Manta Network (MANTA), Manta sejak awal TGE dan listing di bursa besar, pergerakan harganya cenderung terus menurun seiring dengan meningkatnya suplai token yang di-unlock.
Berdasarkan data dari Tokenomist, pada saat peluncuran di Januari 2024 jumlah token yang beredar baru sekitar 253 juta. Namun, hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, tepatnya pada November 2025, jumlah tersebut melonjak menjadi 543 juta token. Artinya, Manta mengalami inflasi suplai lebih dari 100% dalam periode singkat.
Kondisi ini sejalan dengan apa yang diaktakan Yudo Sadewa, yang menekankan pentingnya mempelajari tokenomics sebelum membeli altcoin.
Mau cari token altcoin yang locked suplainya tinggal sedikit lagi agar tidak inflasi? Yuk langsung cari di aplikasi Tokocrypto dan nikmati gratis biaya trading!
Kesimpulan
Dua tips Yudo Sadewa ini mungkin terdengar sederhana, tapi sering kali diabaikan oleh investor kripto pemula. Jadi jika kamu ingin mencari altcoin potensial di tahun 2026 nanti atau altcoin 100x selanjutnya, jangan hanya melihat hype, tapi pahami juga bagaimana fundamental dan tokenomics altcoin tersebut, serta faktor pendukung lainnya ya!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.
Pasar kripto kembali memanas! Token-token Layer 1, tulang punggung dari berbagai jaringan blockchain, tengah menunjukkan performa luar biasa. Beberapa koin bahkan mencatat lonjakan harga lebih dari 90% hanya dalam sepekan terakhir.
Simak siapa saja yang jadi bintang di panggung Layer 1 hari ini, dikutip CoinMarketCap.
1. Decred (DCR): Sang Penggerak Utama dengan Lonjakan 96%
Ilustrasi aset kripto Decred (DCR).
Decred memimpin daftar dengan performa luar biasa. Dalam tujuh hari terakhir, harga DCR naik 96,10%, menjadikannya salah satu token dengan kinerja terbaik di pasar Layer 1 saat ini.
Token privasi legendaris ini tetap menjadi favorit investor yang mendambakan anonimitas transaksi. Dalam seminggu terakhir, Monero naik 22.72%, angka yang solid untuk token besar dengan kapitalisasi pasar mencapai $8 miliar.
Harga: $434.51
Volume harian: $363 juta
Monero membuktikan bahwa di tengah regulasi yang makin ketat, privasi tetap menjadi aset paling berharga di dunia kripto.
5. Kite (KITE): Pendatang Baru yang Mulai Terbang
Dengan kenaikan 18.26% dalam 24 jam, KITE mulai menarik perhatian trader ritel.
Harga: $0.08424
Market Cap: $151.64 juta
Volume harian: $187.49 juta
Meski belum sebesar proyek Layer 1 lain, volume perdagangan yang tinggi menunjukkan bahwa minat pasar terhadap KITE meningkat pesat.
Momentum Layer 1 Kembali Menggila
Lonjakan besar-besaran di sektor Layer 1 menunjukkan kembalinya kepercayaan investor terhadap proyek-proyek inti blockchain. Dari Decred yang melonjak hingga Monero yang tetap kokoh, pasar tampaknya mulai bergerak menuju fundamental yang kuat.
Apakah ini awal dari bull run baru untuk Layer 1? Para analis memperkirakan bahwa jika tren ini berlanjut, token-token utama bisa mencetak rekor harga tertinggi baru dalam waktu dekat.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Dunia tengah memasuki fase baru yang ditandai oleh pergeseran kekuatan ekonomi antara Amerika Serikat dan China. Jika dulu kekayaan negara diukur dari besarnya cadangan emas, kini aset digital seperti Bitcoin mulai menantang dominasi tersebut.
Ketika China memperkuat posisi Yuan dengan menimbun emas dan menolak kripto, Amerika justru mendorong adopsi Bitcoin secara agresif!
Bitcoin dan Amerika Serikat
Sejak terpilihnya Donald Trump menjadi presiden Amerika Serikat, Pemerintah AS gencar memberlakukan aturan baru yang pro terhadap Bitcoin dan aset kripto.
Pada Maret 2025, perintah Amerika Serikat secara resmi memberlakukan Bitcoin Strategic Reserve, yang mewajibkan BTC yang disita disimpan sebagai aset nasional tanpa penjualan, kecuali atas kewajiban hukum. Kerangka ini memungkinkan AS eksposur terhadap pasokan Bitcoin untuk jangka panjang.
Pemerintah AS saat ini menjadi pemegang Bitcoin sovereign terbesar di dunia, dengan sekitar 325.000 BTC bernilai sekitar $33 miliar per November 2025.
Keterlibatan pemerintah AS dengan Bitcoin secara garis besar dimulai melalui tindakan penegakan hukum daripada investasi proaktif.
Contohnya seperti penutupan Silk Road oleh FBI pada 2013 menyita 69,370 BTC, 94,643 BTC dari pemulihan peretasan Bitfinex 2016, dan masih banyak lagi.
Data negara-negara dengan Bitcoin terbanyak. Sumber: Bitcointreasuries
Hingga kini, Amerika masih menjadi negara dengan pemegang Bitcoin terbesar di dunia dengan total kepemilikan sebesar 1.555% dari total supply Bitcoin.
Perusahaan yang mengakumulasi Bitcoin. Sumber: Bitcointreasuries
Tak berhenti disitu, banyak juga perusahaan publik asal Amerika Serikat yang berbondong-bondong memborong Bitcoin, seperti MicroStrategy, MARA Holdings, Riot Platform, hingga Trump Media & Technology milik Presiden Amerika, Donald Trump.
Emas dan China
Tren harga emas terus naik selama dua tahun terakhir, mencapai rekor baru di atas $3,940 per ons pada Oktober 2025.
Menurut analis Fortune, pembelian emas secara besar-besaran oleh China digadang-gadang jadi salah satu penyebab kenaikan emas, selain tingginya tingkat inflasi dan ketegangan China dengan Amerika.
China disebut sedang melakukan diversifikasi dari aset USD, karena terinspirasi oleh sanksi terhadap Rusia, dan mendukung upaya de-dolarisasi seperti konvertibilitas yuan-emas.
Cadangan emas resmi China mencapai 2.304 ton pada kuartal III 2025, menyumbang 7,7% dari cadangan devisanya dan menandai pembelian bulanan ke-11 berturut-turut pada September (menambahkan 1,2 ton). People’s Bank of China (PBoC) menambahkan 5 ton pada kuartal III, bagian dari tren sejak 2023 di tengah reli harga emas hingga $3.508 per ons.
Cadangan emas negara-negera. Sumber: tradingeconomics
Para analis memperkirakan kepemilikan aktual bisa lebih tinggi, mungkin menargetkan 5.000 ton untuk menyamai skala ekonomi China (64% dari PDB AS) dan peringkat kedua secara global di belakang 8.133 ton AS.
‘Perang Aset’ Antara Amerika dan China
Langkah-langkah yang dilakukan oleh Amerika dan China mencerminkan posisi strategis dalam tatanan global yang bergeser, dengan AS merangkul aset digital untuk inovasi dan China merapat ke emas untuk stabilitas.
Para ahli mencatat peran emas dalam mempengaruhi dominasi dolar melalui inisiatif BRICS, sementara Bitcoin bisa melawannya jika AS mengintegrasikannya lebih lanjut.
Korelasi antara Bitcoin (hitam) dan Emas (orange). Sumber: Newhedge
Di tengah kedua negara besar yang tengah mengakumulasi kedua aset tersebut, korelasi antara Bitcoin dan emas meningkat, menunjukkan bahwa Bitcoin semakin bergeser berfungsinya sebagai safe haven di tengah defisit dan konflik.
Tertarik untuk investasi di Bitcoin dan Emas? Kamu bisa langsung beli di Tokocrypto dengan biaya perdagangan 0% lho! Download sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Setelah kemarin sempat hype DEX (decentralized exchange) Aster dan Hyperliquid, kini ada penantang baru yang membawa fitur berbeda dari kedua DEX tersebut.
Jika Aster dikenal dengan leverage super tinggi hingga 1000x dan Hyperliquid unggul lewat performa eksekusi ultra-cepat di jaringan Layer 1 miliknya, maka Avantis hadir dengan positioning unik: universal leverage layer yang memungkinkan perdagangan lintas aset global—mulai dari kripto, forex, hingga komoditas seperti emas.
Menariknya, dari sisi data pasar 90 hari terakhir, per 22 Oktober 2025, Avantis sudah menempati peringkat ketiga dalam hal volume perdagangan token. Dalam 90 hari terakhir, Avantis mencatat volume sekitar $33,3 miliar, hanya berada di bawah Aster ($47 miliar) dan Hyperliquid ($43,3 miliar).
Capaian ini menandakan bahwa meski tergolong baru, Avantis berhasil menembus dominasi dua raksasa DEX tersebut dan menunjukkan potensi besar untuk menjadi pemain utama di sektor derivatif on-chain.
Apa Itu Avantis (AVNT)?
Avantis adalah protokol DeFi yang berfungsi sebagai universal leverage layer untuk berbagai aset global. Melalui satu platform DEX (decentralized exchange), Avantis memungkinkan pengguna untuk melakukan perdagangan dengan leverage lintas aset—mulai dari kripto, forex, hingga komoditas seperti emas.
Loss Rebates: Pengembalian sebagian kerugian pada jenis transaksi tertentu yang membantu menyeimbangkan ketidakseimbangan jumlah kontrak terbuka antara posisi long dan short (open interest skew) di platform.
Positive Slippage: Harga masuk yang lebih baik dari harga pasar, khusus untuk transaksi yang berkontribusi menyeimbangkan open interest skew.
RWA Access: Akses perdagangan aset dunia nyata seperti Yen Jepang, Emas, Bitcoin, dan banyak lagi, semua dalam satu platform.
Zero-Fee Leverage: Bayar biaya hanya dari keuntungan yang diperoleh (sangat populer di kalangan scalper atau trader jangka pendek).
Advanced Risk Management for Liquidity Providers: Penyedia likuiditas (LP) dapat menyetor USDC secara pasif, atau menjadi market maker aktif dengan memilih tingkat risiko (risk tranche) serta menentukan durasi penguncian dana (time-lock).
Apa itu Token $AVNT
$AVNT adalah token penghubung dalam ekosistem Avantis, token ini berfungsi sebagai token utilitas sekaligus tata kelola (utility and governance token) yang dirancang untuk menyelaraskan kepentingan, memperluas skala, dan mengamankan visi Avantis dalam membangun universal leverage layer bagi dunia DeFi.
Seiring pertumbuhan Avantis, $AVNT akan berperan penting dalam:
Meningkatkan keamanan protokol melalui mekanisme tata kelola berbasis komunitas.
Menyelaraskan insentif antara seluruh pemangku kepentingan ekosistem.
Mendorong desentralisasi progresif serta akuntabilitas jangka panjang.
Sebelum kamu mencoba menggunakan Avantis, pastikan kamu telah memiliki aset kripto yang ada di jaringan Base (direkomendasikan menggunakan USDC dalam jaringan base).
Caranya kamu cukup membeli USDC di Tokocrypto lalu membuat hot walletseperti Binance Wallet, Meta Mask, Trust Wallet atau wallet lainnya. Setelah itu kamu hanya perlu mengirimkan aset ke dalam wallet tersebut menggunakan jaringan Base, dengan mengikuti tutorial yang ada di sini: Cara Transfer Crypto Lewat Jaringan Blockchain di Tokocrypto.
Jika sudah maka kamu bisa mengikut beberapa langkah berikut untuk mencoba menggunakan Avantis:
Masuk dengan wallet yang kamu miliki dan lakukan konfirmasi
Setelah itu kamu bisa langsung menggunakan semua fitur yang tersedia di Avantis DEX
Bagaimana Cara Membeli Avantis (AVNT)?
Kamu bisa membeli Avantis melalui bursa kripto seperti Tokocrypto dengan langkah-langkah yang sederhana seperti masuk ke akun Tokocrypto, mencari pasangan perdagangan AVNT/IDR, lalu menempatkan order pembelian sesuai kebutuhan.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Nama Avantis (AVNT) mulai ramai dibicarakan sejak kemunculannya pada akhir 2025 sebagai salah satu proyek decentralized finance (DeFi) paling inovatif di ekosistem Base.
Dengan fitur-fitur canggih seperti perdagangan leverage hingga 500x tanpa biaya, rebate kerugian hingga 20%, integrasi aset dunia nyata (RWA), dan forex, Avantis berhasil menarik perhatian trader dan investor kripto.
Kira-kira bagaimana prediksi Avantis di tahun 2025-2026 dan apa saja risikonya?
Sekilas Mengenai Avantis
Avantis adalah platform DeFi yang berfokus pada perdagangan leverage untuk kripto, aset dunia nyata (RWA), dan forex melalui smart contract on-chain tanpa custodian. Dibangun di atas blockchain Base, platform ini menawarkan akses ke pasar global dengan leverage hingga 500x dan biaya nol.
Token Avantis (AVNT) berfungsi sebagai mata uang kripto asli yang menggerakkan seluruh ekosistem. Dengan total pasokan sebesar 1 miliar token, AVNT memainkan berbagai peran penting di dalam platform seperti:
Sebagai token tata kelola (Governance): Pemegang token memiliki hak suara dalam pembaruan protokol, perubahan jaringan, dan keputusan strategis.
Token utilitas jaringan: Pemegang token yang melakukan staking dapat membantu mengamankan likuiditas penyedia (LP). Sebagai imbalannya, mereka memperoleh reward AVNT, XP boosts, dan diskon biaya trading.
Community Rewards: Insentif untuk Partisipasi: menjadi insentif bagi trader aktif, referrer, liquidity providers, builder, dan influencer yang berkontribusi dalam pertumbuhan ekosistem.
Listing Bursa & Likuiditas Meningkat Avantis sedang gencar melakukan listing di bursa besar, yang membuat likuiditas Avantis menjadi lebih tinggi, sehingga akan lebih banyak trader yang bisa bisa masuk dan keluar, yang dalam kondisi bullish bisa mendorong harga ke level lebih tinggi.
DEX Unik dengan RWA dan Forex Avantis menawarkan fitur seperti perdagangan aset kripto perpetual on-chain, saham (RWA), dan forex.
TVL yang terus Meningkat TVL Avantis terus mengalami peningkatan selema beberapa minggu terakhir dan telah menembus lebih dari $100 juta. Peningkatan TVL ini bisa menjadi tanda bahwa semakin banyak adopsi terhadap Avantis seiring waktu.
Risiko
Unlock Token & Tekanan Jual (Sell Pressure) Hingga saat ini hanya 20,21% yang sudah beredar (unlocked) dan terdapat 79,77% token yang terkunci, suplai yang masih terkunci ini akan perlahan di rilis siring waktu dan memberikan tekanan jual yang dapat menahan kenaikan atau bahkan menimbulkan koreksi.
Hype DeFi Setelah CZ (Changpeng Zhao) mengomentari sekaligus meng-endorse Aster, para investor kripto banyak tertuju kepada sektor DeFi yang menjadikan visibilitas proyek DeFi terekspose, tapi bukan tidak mungkin jika hype atau narasi ini telah bergeser token DeFi kembali tergeser.
Prediksi Harga Avantis (AVNT) 2025–2026
Rata-rata proyeksi harga Avantis (AVNT) untuk tahun 2025 berada di kisaran $0.67–$1.80, dengan skenario optimistis mencapai $2.50 menurut Coindedition. Sementara itu, BeInCrypto menempatkan target rata-rata lebih konservatif di sekitar $0.67, dengan potensi maksimum $1.11.
Untuk tahun 2026, perkiraan harga meluas antara $0.74–$2.00, dengan skenario optimistis mencapai $3.20 apabila ekspansi ekosistem Avantis dan adopsi DeFi berjalan sesuai harapan.
Dari sisi fundamental, TVL Avantis terus menunjukkan pertumbuhan, dengan data terkini mencatat nilai terkunci sebesar $111 juta, menandakan meningkatnya kepercayaan pengguna terhadap protokol.
Sumber
Tahun
Harga Minimum (USD)
Harga Maksimum (USD)
Target Rata-Rata(USD)
BeInCrypto
2025
$0.23137
$1.11
$0.67
BeInCrypto
2026
$0.2545
$1.22
$0.74
Coinedition
2025
$0.80
$2.50
$1.80
Coinedition
2026
$1.80
$3.20
$2
Bagaimana Cara Membeli Aset Kripto AVNT?
Kamu bisa membeli Avantis melalui bursa kripto seperti Tokocrypto dengan langkah-langkah sederhana: masuk ke akun Tokocrypto, cari pasangan perdagangan AVNT/USDT, lalu tempatkan order pembelian sesuai kebutuhan.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Cycle bull run selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh para investor kripto. Dalam beberapa tahun terakhir, pola pergerakan pasar kripto, terutama Bitcoin menunjukkan kecenderungan mengikuti siklus empat tahunan, dan jika mengikuti alur pola yang sudah ada, maka cycle itu kini diperkirakan berakhir di bulan Oktober-November 2025.
Tapi di tengah kekhawatiran investor perihal puncak bull run yang sudah dekat, belum satu pun dari 30 indikator bull market peak menunjukan sinyal top yang menandakan harga sudah terlalu tinggi dan bisanya menjadi akhir dari bull run.
Istilah bull market peak indicator mengacu pada kumpulan sinyal yang secara historis muncul sebelum pasar kripto mencapai puncak harga, seperti lonjakan besar volume ritel, overbought pada RSI (Relative Strength Index), atau perbandingan market cap-to-stablecoin ratio yang terlalu tinggi.
Dalam siklus sebelumnya (misalnya tahun 2017 dan 2021), kombinasi indikator seperti ini selalu menjadi alarm bahwa pasar mulai “mendidih” dan harga siap untuk terkoreksi besar-besaran.
Berikut 30 indikator yang ada dalam Bull Market Peak Indicator beserta dengan pengertiannya:
Bitcoin Ahr999 Index
Indeks ini mengukur seberapa jauh harga Bitcoin dibandingkan dengan rata-rata harga historisnya. Nilai yang lebih tinggi biasanya menandakan kondisi pasar yang panas atau mendekati puncak.
Pi Cycle Top Indicator
Indikator ini menggunakan dua rata-rata bergerak, yaitu 111 day moving average (DMA) dan 350 DMA yang dikalikan dua. Ketika rata-rata 111DMA menembus ke atas 350DMA x2, biasanya itu menandai potensi puncak harga Bitcoin.
Puell Multiple
Puell Multiple adalah rasio antara pengeluaran harian Bitcoin dalam dolar AS dan rata-rata 365 hari pengeluaran harian tersebut. Indikator ini banyak digunakan untuk menilai apakah pasar sedang undervalued (harga terlalu rendah) atau overvalued (harga terlalu tinggi) berdasarkan profitabilitas miner.
Model visual yang mengelompokkan harga Bitcoin ke dalam berbagai warna berdasarkan tingkat “kehangatan” market. Setiap warna menunjukkan fase siklus pasar, mulai dari “beli” hingga “jual”.
Days of ETF Net Outflows
Mengukur berapa hari secara beruntun terjadi arus keluar (penarikan dana) bersih dari ETF Bitcoin. Angka yang tinggi bisa menandakan tekanan jual dari institusi.
ETF-to-BTC Ratio
Membandingkan total kepemilikan ETF Bitcoin dengan jumlah Bitcoin yang beredar. Rasio tinggi menandakan minat besar institusi terhadap ETF.
2-Year MA Multiplier
Menggunakan rata-rata harga 2 tahun Bitcoin untuk mencari potensi jenuh beli atau jenuh jual.
MVRV Z-Score
Mengindikasikan apakah Bitcoin sedang overvalued atau undervalued dengan membandingkan nilai pasar dan nilai realisasi on-chain.
Bitcoin Bubble Index
Indeks ini membantu melacak potensi terbentuknya bubble (gelembung harga) pada Bitcoin.
USDT Flexible Savings
Menampilkan tingkat bunga pada produk tabungan fleksibel USDT, yang bisa mengindikasi permintaan pada stablecoin untuk “parkir” dana.
RSI – 22 Day
Relative Strength Index (RSI) 22 hari mengukur kekuatan tren harga Bitcoin dalam waktu dekat, dengan nilai tinggi mengindikasikan overbought.
Indeks yang menilai apakah altcoin (aset kripto non-Bitcoin) sedang outperform Bitcoin dalam periode tertentu.
Bitcoin Dominance
Persentase kapitalisasi pasar Bitcoin dibanding total kapitalisasi pasar kripto. Dominasi tinggi menunjukkan Bitcoin menjadi aset yang memimpin pasar.
Bitcoin Long Term Holder Supply
Total pasokan Bitcoin yang disimpan oleh holder jangka panjang (belum dipindahkan selama waktu tertentu). Penurunan pasokan ini bisa mengindikasi tekanan jual.
Bitcoin Short Term Holder Supply (%)
Persentase pasokan Bitcoin yang dimiliki oleh holder jangka pendek. Kenaikan angka ini menandakan lebih banyak Bitcoin yang dikuasai trader jangka pendek.
Bitcoin Reserve Risk
Rasio antara harga Bitcoin dan insentif untuk menjual bagi pemegang jangka panjang. Angka tinggi artinya risiko menahan coin meningkat.
Bitcoin Net Unrealized P&L (NUPL)
Mengukur posisi laba rugi belum terealisasi secara agregat seluruh pemegang Bitcoin. Nilai tinggi artinya kebanyakan holder sedang untung besar.
Bitcoin RHODL Ratio
Rasio yang membandingkan coin yang baru saja dipindahkan dengan coin yang telah disimpan lama, menjadi sinyal siklus pasar.
Bitcoin Macro Oscillator (BMO)
Indikator yang mengidentifikasi fase makro dari siklus Bitcoin dengan mengolah beberapa data on-chain.
Bitcoin MVRV Ratio
Membandingkan nilai pasar Bitcoin dan nilai realisasinya, berguna untuk menentukan apakah sudah overbought atau oversold.
Bitcoin 4-Year Moving Average
Rata-rata harga Bitcoin selama 4 tahun terakhir, digunakan untuk mengidentifikasi tren utama dan turning point market.
Crypto Bitcoin Bull Run Index (CBBI)
Indeks komposit berisi berbagai data yang menandakan apakah Bitcoin sedang berada di fase bull run ekstrem atau mendekati puncak.
Mayer Multiple
Rasio harga Bitcoin terhadap rata-rata 200 hari. Nilai tinggi sering dikaitkan dengan overbought.
Bitcoin AHR999x Top Escape Indicator
Indikator alternatif dari Ahr999 yang digunakan untuk menandai potensi saat terbaik untuk “keluar” dari market.
MicroStrategy’s Avg Bitcoin Cost
Harga rata-rata pembelian Bitcoin yang dicatat oleh MicroStrategy, salah satu institusi terbesar yang memegang BTC.
Bitcoin Trend Indicator
Indikator tren harga Bitcoin berdasarkan gabungan beberapa analisis statistik dan on-chain.
3-Month Annualized Ratio
Rasio pengembalian harga Bitcoin selama tiga bulan dalam basis tahunan, digunakan untuk melihat momentum market jangka pendek.
Bitcoin Terminal Price
Estimasi harga terminal Bitcoin (batas harga berdasarkan model tertentu) yang sering digunakan sebagai acuan jangka panjang.
Golden Ratio Multiplier
Menggunakan rasio emas (golden ratio) pada moving average untuk mencari level harga penting di pasar siklus Bitcoin.
Smithson’s Bitcoin Price Forecast
Prediksi harga Bitcoin berdasarkan model dari analis bernama Smithson, sering digunakan sebagai referensi eksternal oleh trader.
0 dari 30 Indikator Tercapai
Indikator bull peak masih 0/30. Sumber: CoinGlass
Hingga update terakhir 14 Oktober 2025, belum satu pun dari 30 indikator puncak bull market Bitcoin yang memberikan sinyal “hit” atau “hijau”. Artinya, belum ada satu indikator pun yang menyentuh batas ekstrim, baik secara harga, sentimen, on-chain, maupun metrik ETF yang bisa jadi pertanda awal puncak siklus bull run.
Dari indikator populer seperti Pi Cycle Top Indicator, Ahr999 Index, MVRV Z-Score, Bitcoin Rainbow Chart, hingga Altcoin Season Index, semuanya masih berada jauh di bawah threshold puncak masing-masing.
Rata-rata progres indikator utama masih di bawah 70%. Sebagai contoh:
Altcoin Season Index baru 65% menuju level alarm.
Bitcoin MVRV Z-Score di 43% dari nilai puncak historis.
Bahkan indikator terkait likuiditas ETF, profit holder, dominasi BTC, rasio siklus (seperti RHODL, Mayer Multiple, dan 4-Year Moving Avg) hanya menunjukkan progres di kisaran 28%-60%—jauh dari zona “overheat”.
Kondisi ini memperkuat persepsi bahwa tren bullrun Bitcoin dan crypto masih jauh dari kata usai, dengan ruang apresiasi pasar yang masih besar menuju fase puncak selanjutnya.
Pencarian dengan kata kunci Bitcoin berkolerasi dengan top cycle 2021. Sumber: GoogleTrends
Sementara itu, data Google Trends terkait kata kunci seperti “Bitcoin” dan “crypto” masih jauh di bawah level 2021, menjadi salah satu sinyal bahwa antusiasme publik belum sebesar puncak 2021.
Kesimpulan
Indikator Bull Market Peak bisa menjadi salah satu referensi untuk melihat apakah level harga saat ini berada di level top atau masih memiliki ruang untuk terus melanjutkan reli bull run.
Menurut data dari 30 indikator tersebut, belum ada satu pun indikator bull market peak yang tercapai, sehingga mengimplikasikan bahwa masih ada ruang untuk reli ke depannya.
Tapi, tetap ingat jika semua indikator ini berdasarkan harga historis, dan pasar kripto saat ini telah berkembang dengan pesat dibandingkan dengan beberapa cycle ke belakang, seperti dengan hadirnya ETF Bitcoin, partisipasi institusional, dan regulasi.
Maka bisa saja indikator-indikator yang tersedia tersebut tidak lagi relevan, sehingga untuk memahami konteks pasar, indikator tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan dalam menilai apakah bullrun masih panjang atau justru mendekati puncak.
Selalu lakukan riset mandiri (Do Your Own Research / DYOR) sebelum membuat keputusan finansial, termasuk dalam investasi kripto ya!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.
Pada 6 Oktober 2025, Bitcoin (BTC) mencapai all time high (ATH) baru di level $126.198, melampaui rekor sebelumnya yang dipecahkan beberapa minggu yang lalu. Setelah mencapai ATH baru, Bitcoin mengalami penurunan yang cukup signifikan pada tanggal 10 Oktober, karena rencana presiden AS Donald Trump yang ingin menaikan tarif dagang bagi barang-barang China.
Kejadian ini tidak hanya mengejutkan pasar kripto, tapi juga memvalidasi sebuah prediksi anonim dari forum 4chan yang diposting pada Desember 2023. Prediksi tersebut secara tepat meramalkan bahwa BTC akan mencapai puncaknya pada 6 Oktober 2025, berdasarkan pola siklus bull dan bear yang berulang setiap empat tahun.
Lanas apakah ini kebetulan belaka, atau bukti bahwa siklus halving Bitcoin masih berlaku? Artikel ini akan mengupas prediksi tersebut, latar belakang siklus BTC, serta implikasinya bagi investor di pasar kripto.
Prediksi Akun Anonim 4Chan
Screenshoot postingan 4chan
Prediksi ini berasal dari sebuah posting anonim di 4chan yang diposting pada akhir tahun 2023, postingan tersebut kemudian viral setelah dibagikan ulang di X (sebelumnya twitter). Postingan tersebut menggambarkan pola siklus Bitcoin sebagai berikut:
Siklus Bull Run (naik): Terjadi selama ±1064 hari → harga naik signifikan hingga mencapai ATH (All-Time High).
Siklus Bear Market (turun): Terjadi selama ±364 hari → harga turun dari puncak menuju ATL (All-Time Low).
Siklus 1:
ATL 2015 → ATH 2017 = 1064 hari
ATH 2017 → ATL 2018 = 364 hari
Siklus 2:
ATL 2018 → ATH 2021 = 1064 hari
ATH 2021 → ATL 2022 = 364 hari (beberapa menyebut 376 hari)
Prediksi Siklus 3:
ATL 2022 → ATH 2025 = 1064 hari
ATH diprediksi terjadi pada 6 Oktober 2025 kemarin
Menariknya pada tanggal 6 Oktober kemarin BTC berhasil mencapai ATH terbarunya dan membuat banyak pengguna X menyoroti akurasi pola ini.
Bitcoin dikenal dengan siklus empat tahunan yang dipicu oleh event halving, di mana reward mining dikurangi setengahnya setiap empat tahun. Siklus ini biasanya mencakup:
Fase akumulasi: Pasca-halving, harga stabil sebelum naik secara bertahap.
Bull run: Kenaikan eksponensial, sering mencapai ATH, didorong oleh peningkatan kelangkaan BTC dan minat investor.
Bear market: Penurunan tajam setelah euforia memudar, diikuti konsolidasi.
Pemulihan: Menuju halving berikutnya.
Berdasarkan data historis dari gambar di atas bisa terlihat jika pola siklus bullrun dan bearmarket selalu selalu konsisten, setidaknya selama beberapa siklus terakhir. Pola ini mencakup dari hitungan Halving sampai dengan rentang harga tertinggi untuk merealisasikan profit ada di sekitar 560 hari.
Jika pola ini terus berlanjut maka kemungkinan besar ‘top’ untuk Bitcoin ada di bulan September-Oktober, jika mengikuti pola yang sama.
Pola historis Bitcoin, sumber akun X @spacepixel
Jika dibandingkan dengan prediksi dari postingan anonim dari 4chan, maka siklus ini terlihat match.
Tapi… banyak yang berpendapat bahwa siklus di 2025 ini berbeda, dan akan lebih lama dari pada siklus yang pernah terjadi seperti di atas, faktornya adalah karena pengaruh Presiden Trump yang pro kripto dan semakin masifnya adopsi institusional.
🚨CRYPTO CYCLE STRETCHING LONGER?
As per CryptoQuant’s CryptoDan, $BTC’s current cycle is stretching longer than past ones.
HODLers are still strong, but the slope of the uptrend is flattening. Analyst expect the next sharp move this Q3 2025.🚀 pic.twitter.com/gJ1EAmmWbn
Seperti @coinbureau yang berpendapat bahwa siklus kali ini dapat memanjang lebih lama dari sebelumnya, dengan HODLer yang kuat disertai dengan uptrend yang melambat.
Jika pola siklus Bitcoin benar-benar berulang seperti yang diprediksi dengan fase bull selama ±1064 hari dan bear selama ±364 hari, maka fase akumulasi berikutnya kemungkinan besar akan terjadi dalam waktu dekat. Ini membuka peluang bagi investor untuk mulai mengidentifikasi zona harga rendah sebelum potensi kenaikan berikutnya.
Namun, penting untuk diingat bahwa:
Siklus bukan jaminan: Meskipun pola historis menunjukkan ritme yang konsisten, pasar kripto tetap dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti regulasi, geopolitik, dan sentimen global.
Manajemen risiko tetap utama: Investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan pola waktu, tetapi juga memperhatikan indikator teknikal, volume, dan data on-chain.
Don’t timing the market: Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di pasar kripto besok atau bahkan satu jam ke depan, jadi selalu siapkan strategi jangan FOMO atau YOLO.
Seperti adagium yang sering kali diungkapkan para investor:
“History doesn’t repeat itself, but it often rhymes.”
Sejarah mungkin tidak akan berulang, tapi biasanya memiliki pola, dengan memahami pola masa lalu ini, semoga bisa menjadi alat bantu kamu dalam menyikapi hal yang akan datang dan pernah terjadi.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Hyperliquid, platform decentralized exchange (DEX) populer dengan TVL lebih dari $5 miliar kini memiliki penantang baru—Aster.
Hyperliquid telah mendominasi pasar sejak 2023 sebagai platform Layer 1 khusus yang menawarkan performa tinggi, sementara Aster muncul sebagai pesaing baru di akhir 2025, dengan dukungan dari mantan CEO Binance Changpeng Zhao (CZ) yang termasuk dalam salah satu investor Aster, YZi Labs.
Dengan pertumbuhan Aster yang bisa terbilang sangat cepat untuk sebuah platform DEX yang baru saja dirilis, bahkan tidak lebih dari semenjak sebulan dirilisnya TGE (Token Generation Event) TVL Aster telah menembus $2,5 hampir setengah dari Hyperliquid.
Berikut perbandingan antara Aster dan Hyperliquid:
Aspek
Aster
Hyperliquid
Positioning
Pendatang baru DEX yang berfokus pada privasi dan fitur untuk para trader, terutama degen—tersedia perpetual futures dengan leverage hingga 1001x.
Pemimpin pasar DEX, dibangun di atas jaringan blockchain layer 1 yang cepat, memprioritaskan kecepatan, transparansi, dan likuiditas.
Fitur
Mode Spot dan Futures Leverage hingga 1001xMode PredictionPerpetual sahamHidden ordersFitur earn (staking)
Mode Spot dan FuturesLeverage hingga 40xCentral Limit Order Book (CLOB) sepenuhnya on-chainTransparanFitur staking
Pendapatan Jaringan
$1,4 juta dalam 1 bulan terakhir, sebagian digunakan untuk biaya buyback $HYPE.
$1,6 juta dalam 1 bulan terakhir, sebagian digunakan untuk biaya buyback $HYPE.
Kecepatan & Performa
Eksekusi cepat (25.000 order/detik lintas chain), tapi settlement cross-chain bisa 1-3 menit. Dukung hidden orders untuk privasi.
Sub-second finality, 200.000 order/detik tanpa gas fee. Lebih andal untuk high-frequency trading.
Fungsi Token
Tata kelola, diskon biaya, pembagian pendapatan melalui staking, dan insentif likuiditas. Model ekonomi yang sangat inflasioner untuk mendorong pertumbuhan.
Tata kelola, diskon biaya, staking untuk keamanan jaringan, dan penangkapan nilai. Model ekonomi deflasi yang kuat melalui buyback & burn 93-97% dari biaya.
Risiko & Tantangan
Risiko integritas platform yang parah akibat tuduhan wash trading, ketergantungan pada insentif, tekanan jual token yang masif dari airdrop.
Risiko teknis terkait L1 yang relatif baru, sentralisasi validator, dan risiko copy trading atau manipulasi karena transparan.
Dukungan & Komunitas
Didukung YZi Labs (eks-Binance Labs) & CZ, airdrop ketiga direncanakan. Komunitas dan loyalis CZ yang solid.
Basis pengguna 518.000 (naik 78% di 2025), kepercayaan institusional kuat, ekosistem 100+ protokol.
Analisis Singkat
Keunggulan Aster: Cocok untuk trader yang mencari inovasi cepat, leverage tinggi, dan peluang airdrop. Pertumbuhannya menunjukkan potensi disruptif, terutama dengan integrasi TradFi seperti stock perps, tapi masih berisiko tinggi karena masih dalam posisi hype.
Keunggulan Hyperliquid: Dianggap lebih “investable” oleh analis karena revenue stabil, likuiditas dalam, dan visi ekosistem luas (bukan hanya perp). Meski kalah volume jangka pendek, ia memimpin open interest dan dianggap lebih tahan lama.
Prospek Masa Depan: Pasar perp DEX tumbuh pesat, tapi regulasi (terutama leverage tinggi) bisa memengaruhi keduanya. Aster berpotensi dominan jika L1 chain-nya sukses, sementara Hyperliquid unggul untuk adopsi institusional.
Kamu bisa membeli Aster melalui bursa kripto seperti Tokocrypto dengan langkah-langkah yang sederhana seperti masuk ke akun Tokocrypto, mencari pasangan perdagangan ASTER/USDT, lalu menempatkan order pembelian sesuai kebutuhan.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Delisting Aster baru-baru ini dari DeFiLlama telah memicu koreksi dalam permintaan untuk native token-nya, ASTER.
Setelah penghapusan DEX dan meningkatnya keraguan atas akurasi datanya, kinerja harga ASTER menjadi datar, mencerminkan ketidakpastian di pasar. Saat ini investor utama telah mengurangi kepemilikan token mereka, membuat altcoin ini bersiap mengalami pergerakan ke bawah, seiring melemahnya sentimen.
Hadapi Krisis Kepercayaan Setelah Delisting DeFiLlama
Pada 5 Oktober, pendiri platform analitik decentralized finance (DeFi) terkemuka DeFiLlama0xngmi mengumumkan di X bahwa volume yang dilaporkan Aster tampaknya mencerminkan pasar perpetual Binance, menimbulkan kekhawatiran tentang akurasi datanya.
Pengungkapan ini mendorong DeFiLlama untuk menghapus Aster dari daftar mereka, memicu perdebatan apakah lonjakan volume perdagangan Aster yang pesat itu organik atau sengaja dibesar-besarkan.
Sejak delisting DEX, native token-nya, ASTER, mengalami sideways. Altcoin ini menunjukkan keseimbangan relatif antara tekanan beli dan jual seiring kontroversi yang berlanjut.
Namun, data on-chain menunjukkan bahwa whale telah mendistribusikan kepemilikan mereka secara signifikan, tanda jelas bahwa investor besar berubah menjadi bearish. Menurut Nansen, walletwhale dengan kepemilikan ASTER bernilai lebih dari US$1 juta telah mengurangi pasokan token mereka sebesar 12% sejak hari Minggu.
Penurunan akumulasi whale ini memperkuat sentimen bearish terhadap ASTER dan bisa mendorong penurunan di bawah rentang sempitnya dalam waktu dekat.
Selain itu, investor smart money juga mulai mengurangi eksposur. Menandakan bahwa holder utama fokus mencegah kerugian lebih lanjut daripada mengakumulasi. Menurut Nansen, kelompok holder ASTER ini telah mengurangi pasokan mereka sebesar 37% sejak delisting DEX.
Penyedia data mendefinisikan “smart money” sebagai investor berpengalaman, institusi, dan trader berkinerja tinggi yang aktivitas on-chain-nya sering menandakan tren pasar awal dan peluang berkeyakinan tinggi.
Oleh karena itu, pengurangan kepemilikan ASTER mereka dapat semakin mengikis kepercayaan trader, membuka jalan untuk potensi penurunan harga.
Harga ASTER di Ambang Jurang, Mampukah Bulls Pertahankan US$2,03
Memulihkan kepercayaan pada datanya mungkin menjadi kunci untuk menstabilkan harga ASTER dan mencegah penurunan pasar yang lebih dalam. Altcoin ini diperdagangkan mendekati lantai support pada saat penulisan di US$2,0303.
Jika tekanan bearish meningkat, ASTER bisa turun, menembus level support ini, dan jatuh menuju US$1,7119.
Namun, jika permintaan kembali ke pasar, ASTER bisa mencoba untuk mengunjungi kembali harga tertinggi sepanjang masanya di US$2,4360.
Bagaimana pendapat Anda tentang nasib ASTER pascaa delisting DeFiLlama ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!