Tag: crypto

  • Dana Nasabah Crypto Disimpan di Mana? Skema Penyimpanan di Exchange Lokal

    Kolaps FTX yang disebabkan oleh penyalahgunaan dana nasabah menjadi pelajaran pahit bagi industri kripto dan membuat para regulator beserta pelaku industri harus memperkuat tata kelola, transparansi, serta skema penyimpanan aset agar hal tersebut tidak terulang kembali.

    Dengan regulasi aset kripto di Indonesia yang semakin ketat, kira-kira bagaimana sih skema penyimpanan dana nasabah kripto di Indonesia? Apakah disimpan langsung oleh exchange atau melalui pihak lain? Simak penjelasannya!

    Dana Nasabah Crypto Disimpan di Mana?

    Dana nasabah crypto di Indonesia tidak langsung disimpan oleh exchange, melainkan disimpan secara penuh oleh lembaga yang ditunjuk negara.

    Hal ini dilakukan berdasarkan POJK No. 23 Tahun 2025 yang mengatur bahwa ekosistem aset kripto di Indonesia kini diatur melalui lembaga Self-Regulatory Organization (SRO) yang terdiri dari Bursa, Kliring, dan Kustodian.

    Sehingga exchange resmi yang ada di Indonesia, seperti Tokocrypto ​​hanya berperan sebagai fasilitator transaksi jual beli dan karena aset atau dana nasabah disimpan secara terpisah dari exchange, maka tidak dapat digunakan untuk kepentingan operasional perusahaan.

    Baca juga: Isu Penarikan Dana Mencuat, Tokocrypto Tegaskan Aset Nasabah Aman

    Skema Penyimpanan Dana Nasabah Crypto di Exchange

    Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sumber: MI/Despian.
    Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sumber: MI/Despian.

    Skema penyimpanan dana nasabah crypto di exchange lokal Indonesia telah mengalami transformasi signifikan sejak pengawasan beralih ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Januari 2025, berdasarkan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

    Skema ini mengadopsi model Self-Regulatory Organization (SRO) melalui Peraturan OJK (POJK) No. 23 Tahun 2025, yang merupakan perubahan atas POJK No. 27 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Perdagangan Aset Keuangan Digital Termasuk Aset Kripto.

    Tujuannya adalah memperkuat perlindungan konsumen dengan memisahkan aset nasabah dari operasional exchange, sehingga mengurangi risiko seperti yang terjadi pada kasus FTX di mana dana nasabah dicampur dan disalahgunakan.

    Adapun struktur penyimpanan dana nasabah crypto di Indonesia diatur sebagai berikut:

    Bursa

    PT Bursa Komoditi Nusantara, yang juga dikenal sebagai PT Central Finansial X (CFX), berfungsi sebagai penyelenggara dan penyedia sistem perdagangan aset kripto.

    CFX mengawasi transaksi perdagangan aset kripto sesuai hukum yang berlaku, serta melindungi investor dan industri secara menyeluruh untuk menjamin transaksi yang berintegritas.

    Kliring

    PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI), berfungsi sebagai tempat penyimpanan dana nasabah. Lembaga ini menangani penyelesaian transaksi dan memastikan dana fiat nasabah terpisah dari dana operasional exchange.

    Kustodian

    PT Kustodian Koin Indonesia (ICC), berfungsi sebagai tempat penyimpanan aset kripto nasabah. ICC telah resmi memperoleh izin OJK pada Desember 2025, menjadi kustodian pertama di Indonesia yang memegang mandat untuk menyimpan, memelihara, dan mengawasi aset kripto milik konsumen dengan protokol keamanan tinggi.

    Kustodian dalam hal ini ICC, berkewajiban menjaga paling sedikit 70% aset nasabah. Dengan adanya kustodian, nasabah bisa mendapatkan lapisan keamanan dan kepercayaan tambahan, karena aset kripto mereka tersimpan dan diawasi secara profesional sesuai dengan regulasi yang berlaku.

    Exchange atau Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD)

    PAKD atau lebih sering dikenal dengan exchange, termasuk Tokocrypto, berfungsi sebagai platform jual-beli aset kripto. Exchange hanya bertindak sebagai fasilitator jual-beli aset kripto, sebab dana atau aset nasabah sudah tersimpan di kliring dan kustodian.

    Baca juga: Penarikan Dana dari Exchange Lokal Berapa Lama? Ini Gambaran Umumnya

    Kesimpulan

    Berdasarkan kerangka regulasi yang berlaku saat ini, dana maupun aset kripto nasabah di Indonesia tidak disimpan langsung oleh exchange.

    Dana disimpan oleh kliring dan aset kripto nasabah disimpan oleh kustodian sekecil-kecilnya 70% dari total aset nasabah. 

    Sehingga karena aset kripto nasabah berada dalam mekanisme penyimpanan kliring dan kustodian yang terpisah dari operasional bisnis exchange, maka exchange hanya berfungsi sebagai platform perdagangan—dan diharapkan mampu mengurangi risiko seperti yang terjadi pada kasus FTX di mana dana nasabah dicampur dan disalahgunakan.

    Baca juga: Dana Nasabah Crypto Aman atau Tidak? Ini Penjelasan Regulasi di Indonesia

    Bagi nasabah yang ingin menyimpan menyimpan sendiri aset kripto-nya atau self custody baik dengan cold wallet atau hot wallet, Tokocrypto sangat mendukung penuh kendali pengguna atas private keys mereka—maka dari itu proses penarikan di Tokocrypto dapat dilakukan dengan cepat dan mudah. Caranya kamu cukup mengikuti tutorial berikut: Cara Transfer Crypto Lewat Jaringan Blockchain di Tokocrypto.

    Pastikan kamu memilih exchange lokal resmi yang mengikuti prosedur yang berlaku seperti Tokocrypto, agar kamu bisa menikmati proses penarikan dana yang aman, transparan, dan cepat.

    Dapatkan potongan 20% biaya trading selamanya dengan masukkan kode: TEMUTOKO saat melakukan pendaftaran Tokocrypto—download aplikasinya dan registrasi di sini!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Alarm Bahaya! Crypto Winter Disebut Bisa Kembali Hantam Pasar di 2026

    Pasar kripto kembali dibayangi kekhawatiran. Setelah Bitcoin menutup 2025 dengan kinerja negatif untuk pertama kalinya sejak 2022, analis memperingatkan bahwa Crypto Winter berpotensi kembali terjadi pada 2026.

    Peringatan tersebut disampaikan oleh Sean Williams, analis dari Motley Fool, yang melihat pola penurunan pasar kripto berulang setiap empat tahun, seperti yang terjadi pada 2018 dan 2022. Menurutnya, tekanan terhadap aset kripto belum sepenuhnya berakhir.

    Dilaporkan BeInCrypto, Bitcoin tercatat turun lebih dari 6% sepanjang 2025, menutup tahun di level US$87.474. Padahal, aset kripto terbesar dunia ini sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$126.000 pada awal Oktober 2025, terdorong oleh kemenangan Donald Trump dalam pemilu AS.

    Rekap Tahun 2025: Tekanan Makro

    Namun, reli tersebut runtuh pada 10 Oktober 2025 setelah Presiden Trump mengumumkan tarif baru terhadap impor China serta ancaman pembatasan ekspor perangkat lunak strategis. Kebijakan itu memicu likuidasi lebih dari US$19 miliar, menjadi yang terbesar dalam sejarah kripto.

    Williams menilai, sejumlah katalis utama yang sebelumnya menopang pasar kini telah habis. Halving Bitcoin, kemenangan Trump, hingga pengesahan Genius Act disebut sudah “sepenuhnya tercermin dalam harga”.

    Bitcoin saat ini sudah lebih dari 30% di bawah level tertinggi 52 minggunya. Masalah terbesar kripto adalah tidak adanya katalis besar untuk tahun baru,” tulis Williams.

    Ia juga mengkritik tren strategi treasury Bitcoin yang dipopulerkan oleh Michael Saylor melalui Strategy (sebelumnya MicroStrategy). Menurut Williams, banyak perusahaan kecil yang meniru strategi tersebut tidak terbukti menguntungkan, merugi, dan memiliki daya beli terbatas, sehingga sulit menopang permintaan Bitcoin.

    Selain itu, saham perusahaan pemegang Bitcoin dinilai diperdagangkan dengan premi tinggi terhadap nilai aset bersih (NAV), sesuatu yang dianggap tidak masuk akal di tengah kemudahan investasi melalui ETF Bitcoin spot.

    Turunkan Harga XRP Hingga $1

    Tak hanya Bitcoin, XRP juga mendapat proyeksi suram. Williams memperkirakan harga XRP bisa kembali jatuh ke US$1, dengan alasan sentimen positif seperti kemenangan Trump, penyelesaian kasus Ripple-SEC, dan persetujuan ETF spot sudah sepenuhnya diantisipasi pasar. Ia juga menyoroti adopsi XRP yang masih terbatas, dengan hanya sekitar 300 institusi keuangan, jauh dibandingkan lebih dari 11.000 institusi yang menggunakan SWIFT.

    Meski demikian, Williams melihat satu potensi positif di 2026, yakni kemungkinan banjir persetujuan ETF kripto spot. Tercatat sekitar 125 ETF kripto masih menunggu persetujuan regulator hingga pertengahan Desember 2025, termasuk untuk Avalanche, Cardano, dan Polkadot, yang berpeluang mendorong kinerja altcoin tertentu.

    Di sisi lain, sejumlah analis tetap optimistis. Mereka meyakini bull run dan alt season justru akan terjadi pada 2026, didukung pemerintahan AS yang pro-kripto, adopsi institusional yang berlanjut, pertumbuhan stablecoin, serta potensi penurunan suku bunga. Blockchain juga diprediksi akan semakin luas diterapkan di berbagai sektor sepanjang tahun ini.

    Meski pandangan pasar masih terbelah, satu hal jelas: 2026 berpotensi menjadi tahun penentuan bagi arah pasar kripto global.

    Baca juga: OJK Umumkan Exchange Kripto Berizin, Tokocrypto Termasuk di Dalamnya


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ethereum Melemah 3% dalam Sehari, Harga ETH Tertekan di $2.900

    Harga Ethereum (ETH) hari ini kembali berada di bawah tekanan setelah mengalami penurunan signifikan dalam 24 jam terakhir.

    Berdasarkan data terbaru, ETH diperdagangkan di level $2.944,53, terkoreksi sekitar 3,14% hingga 3,4% dibandingkan hari sebelumnya.

    Pelemahan ini menandakan bahwa sentimen pasar kripto masih cenderung berhati-hati, khususnya terhadap aset altcoin utama seperti Ethereum.

    Meskipun mengalami koreksi, Ethereum tetap mempertahankan posisinya sebagai kripto terbesar kedua di dunia.

    Kapitalisasi pasar ETH saat ini berada di kisaran $355 miliar, menempatkannya di peringkat kedua secara global.

    Aktivitas pasar juga masih tergolong aktif, tercermin dari volume perdagangan 24 jam yang mencapai lebih dari $23 miliar.

    Baca Juga: Dari Glamsterdam ke Hegota, Ethereum Ubah Strategi Upgrade Jaringan

    Tekanan Jual Masih Mendominasi Pergerakan ETH

    Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT) pada Selasa, 30 Desember 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT) pada Selasa, 30 Desember 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Dalam 24 jam terakhir, harga Ethereum bergerak di rentang $2.908,75 hingga $3.051,94.

    Upaya ETH untuk bertahan di atas $3.000 belum berhasil, sehingga memicu aksi ambil untung dan tekanan jual lanjutan.

    Penurunan harian sebesar $103,71 menunjukkan bahwa pelaku pasar masih cenderung mengurangi eksposur risiko di tengah kondisi pasar yang belum stabil.

    Namun, pada kerangka waktu yang lebih pendek, Ethereum sempat mencatatkan kenaikan 0,7% dalam satu jam terakhir.

    Pergerakan ini mengindikasikan adanya respons beli jangka pendek, meskipun belum cukup kuat untuk membalikkan tren utama.

    Kinerja ETH dalam Beberapa Periode Waktu

    Jika dilihat dari performa jangka menengah, Ethereum masih menunjukkan tren yang relatif lemah. Dalam 30 hari terakhir, ETH terkoreksi sekitar 1,78%.

    Tekanan semakin besar pada rentang waktu 60 hari, di mana harga turun hingga 23,69%. Sementara dalam 90 hari terakhir, ETH telah melemah hampir 28,91%.

    Data tersebut mencerminkan bahwa Ethereum saat ini masih berada dalam fase konsolidasi setelah periode volatilitas tinggi.

    Banyak investor memilih untuk menunggu kejelasan arah pasar sebelum kembali melakukan akumulasi agresif.

    Jarak dari Rekor Tertinggi Masih Lebar

    Saat ini, harga Ethereum masih terpaut cukup jauh dari rekor tertinggi sepanjang masa di $4.953,73.

    Selisih ini menunjukkan bahwa pasar kripto secara keseluruhan masih berada dalam fase pemulihan bertahap.

    Meski begitu, sebagian pelaku pasar menilai kondisi ini sebagai fase penyesuaian yang wajar dalam siklus pasar kripto.

    Fundamental Ethereum Tetap Kuat

    Dari sisi fundamental, Ethereum masih menunjukkan struktur pasar yang solid. Jumlah pasokan beredar ETH mencapai 120,69 juta koin, tanpa batas maksimum suplai.

    Kapitalisasi pasar terdilusi penuh (FDV) Ethereum tercatat stabil di sekitar $355,83 miliar, mencerminkan kepercayaan investor terhadap ekosistem Ethereum dalam jangka panjang.

    Tingginya volume transaksi harian juga menjadi indikasi bahwa Ethereum masih menjadi aset utama bagi trader dan investor institusional, baik untuk kebutuhan perdagangan maupun investasi jangka panjang.

    Prospek Ethereum ke Depan

    Tekanan harga Ethereum hari ini menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase defensif.

    Selama ETH belum mampu kembali bertahan secara konsisten di atas level $3.000, volatilitas diperkirakan masih akan berlanjut.

    Dalam jangka pendek, pergerakan ETH kemungkinan akan mengikuti sentimen pasar global dan dinamika Bitcoin.

    Sementara itu, investor jangka panjang cenderung menanti area support yang lebih kuat sebagai peluang masuk bertahap.

    Baca Juga: Ethereum (ETH) Rebound Signifikan, Kapitalisasi Pasar Dekati $370 Miliar

    Harga Ethereum hari ini mengalami koreksi lebih dari 3% dan kembali bergerak di bawah $3.000.

    Meski tekanan jual masih mendominasi, fundamental Ethereum tetap solid dengan kapitalisasi pasar besar dan volume perdagangan yang tinggi.

    Pergerakan ETH selanjutnya akan sangat bergantung pada kekuatan support dan pemulihan sentimen pasar kripto secara keseluruhan.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Chart Tahunan Bitcoin Tak Pernah Merah Berturut-Turut, Pertanda 2026 Kembali Hijau?

    Dalam dunia kripto, data historis sering digunakan sebagai dasar untuk membaca peluang masa depan. Salah satu pola yang kembali ramai diperbincangkan adalah fakta bahwa chart tahunan Bitcoin tidak pernah mencatatkan candle merah secara berturut-turut. 

    Pola Bitcoin yang muncul dan tercermin dalam pergerakan harga Bitcoin kerap dijadikan rujukan karena mampu mencerminkan pergerakan harga kedepannya. Tapi apakah ini benar-benar akurat?

    Memahami Chart Tahunan Bitcoin

    Chart tahunan Bitcoin merupakan grafik yang menampilkan pergerakan harga dalam satu tahun penuh, sehingga memberikan gambaran tren jangka panjang yang lebih jelas dibanding chart harian atau mingguan. Setiap candle tahunan merekam harga pembukaan, penutupan, tertinggi, dan terendah selama satu tahun kalender.

    Pergerakan harga Bitcoin dalam pola regression band model. Sumber: Bitbo

    Jika dilihat melalui Rainbow Chart misalnya, Bitcoin masih konsisten berada dalam koridor harga logarithmic regression model sejak tahun 2012. Pola ini menunjukkan bahwa meski volatilitas jangka pendek sering terjadi, arah tren makro tetap terjaga dalam kerangka besar.

    Chart tahunan Bitcoin. Sumber: TradingView

    Dari data historis di atas, terlihat bahwa dalam beberapa tahun, Bitcoin sempat ditutup dengan candlestick merah. Namun, tidak pernah ada dua tahun merah yang terjadi secara berurutan. 

    Fase Bitcoin yang kembali bullish pada chart tahunan ditandai oleh pola pemulihan kuat setelah periode koreksi.  Ketika candle tahunan ditutup hijau dan mencetak higher close dibanding tahun sebelumnya, ini bisa menjadi pertanda bahwa mencerminkan dominasi tekanan beli kembali unggul atas tekanan jual.

    Candle tahunan yang kembali hijau sering muncul bersamaan dengan meningkatnya kepercayaan pasar, akumulasi oleh investor jangka panjang, serta membaiknya faktor fundamental seperti adopsi dan likuiditas. Dalam konteks ini, Bitcoin tidak sekadar bergerak naik secara harga, tetapi juga menunjukkan penguatan struktur pasar secara makro.

    Dengan 2025 yang hanya tinggal beberapa hari lagi, jika harga tidak bergerak ke atas yearly open di $93,347 maka bisa dipastikan tahun 2025 akan tercatat sebagai tahun merah bagi Bitcoin dan jika Bitcoin mengikuti pola yang sama maka 2026 memiliki kemungkinan untuk kembali hijau.

    Berikut data lebih detail mengenai pergerakan harga Bitcoin dalam time frame satu tahun:

    Tahun Perubahan Harga Harga Tertinggi Harga Terendah
    2025 -6.28% (Per 29 Desember) $ 126,038 $ 74,652
    2024 +121.1% $ 108,086 $ 38,595
    2023 +155.4% $ 44,746 $ 16,504
    2022 -64.3% $ 48,205 $ 15,521
    2021 +59.6% $ 68,672 $ 28,621
    2020 +304.1% $ 29,282 $ 4,010
    2019 +90.9% $ 13,793 $ 3,380
    2018 -73.3% $ 17,712 $ 3,201
    2017 +1,369% $ 20,089 $ 755.76
    2016 +123.8% $ 979.40 $ 354.91
    2015 +34.4% $ 495.56 $ 171.51
    2014 -57.6% $ 1,017 $ 289.30
    2013 +5,435% $ 1,156 $ 11.75
    2012 +183.5% $ 16.78 $ 3.81
    2011 +1,435% $ 35.76 $ 0.257

    Para investor dan komunitas kripto pun memberikan respon beragam perihal pola ini, ada yang memandangnya sebagai kebetulan biasa, hingga benar-benar percaya bahwa pola tersebut akan kembali terulang—sebagaimana pola empat tahunan Bitcoin yang kembali terulang dengan puncak yang berada di Oktober tepat 1064 hari dari all time low.

    Baca juga: Akun 4chan dari 2023 Ramal BTC Top di 6 Oktober, Siklus 4 Tahunan Terulang?

    Apakah 2026 Akan Menjadi Tahun Hijau Bagi Bitcoin?

    Meskipun pola historis di atas sangat menjanjikan di tahun 2026 nanti, harus diingat bahwa Bitcoin juga memiliki pola dimana Bitcoin selalu mengunjungi all time low, setahun setelah all time high dalam 3 siklus 4 tahunan terakhir—yang mana jika pola ini kembali terulang, maka bottom Bitcoin berpotensi ada di tahun 2026 nanti.

    Pola historis Bitcoin, sumber akun X @spacepixel

    Namun, penting untuk diingat bahwa:

    • Siklus bukan jaminan: Meskipun pola historis menunjukkan ritme yang konsisten, pasar kripto tetap dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti regulasi, geopolitik, dan sentimen global.
    • Manajemen risiko tetap utama: Investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan pola waktu, tetapi juga memperhatikan indikator teknikal, volume, dan data on-chain.
    • Don’t timing the market: Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di pasar kripto besok atau bahkan satu jam ke depan, jadi selalu siapkan strategi jangan FOMO atau YOLO.

    Seperti adagium yang sering kali diungkapkan para investor:

    “History doesn’t repeat itself, but it often rhymes.”

    Sejarah mungkin tidak akan berulang, tapi biasanya memiliki pola, dengan memahami pola masa lalu ini, semoga bisa menjadi alat bantu kamu dalam menyikapi hal yang akan datang dan pernah terjadi.

    Jika kamu ingin melakukan investasi Bitcoin, strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) untuk membeli secara bertahap, bisa menjadi pilihan. Kamu bisa gunakan strateginya dengan fitur DCA yang ada di aplikasi Tokocrypto hanya dengan minimal pembelian Rp20.000 aja lho! Ayo daftar di sini dan dapatkan potongan biaya trading 20% dengan kode TEMUTOKO!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa itu Stablecoin USAT? Stablecoin Baru Tether yang Patuhi Regulasi AS

    Tak bisa dipungkiri lagi jika stablecoin telah menjadi salah satu kegunaan nyata dari aset kripto yang paling banyak digunakan. Selain membuat pengguna bebas khawatir tentang fluktuasi harga, eksposur terhadap aset kripto juga masih tetap terjaga.

    Baru-baru ini Tether, penerbit stablecoin USDT mengumumkan akan segera merilis stablecoin USAT yang akan menjadi stablecoin yang patuh terhadap regulasi ketat Amerika Serikat.

    Langkah ini menandai perubahan besar dalam pendekatan industri kripto, dari yang sebelumnya cenderung menghindari regulasi, kini justru berusaha merangkulnya demi keberlanjutan jangka panjang.

    Apa Itu USAT Token?

    USAT merupakan stablecoin berbasis dolar yang dirancang khusus untuk melayani pasar Amerika Serikat dan mendukung standar regulasi Amerika, setelah diresmikannya GENIUS Act oleh Presiden Donald Trump.

    Stablecoin ini dikembangkan oleh Tether, pemimpin global dalam teknologi stablecoin yang juga menerbitkan token stablecoin USDT. 

    Jika USDT dikenal sebagai stablecoin global yang digunakan lintas negara, maka USAT difokuskan secara spesifik untuk pasar Amerika Serikat, yang membuat USAT sering kali dianggap sebagai “versi teregulasi” dari stablecoin USDT.

    USAT diharapkan dapat menjadi jalur baru bagi perdagangan, bisnis, dan keuangan Amerika guna memberikan nilai jangka panjang, tata kelola yang kuat, serta adopsi dunia nyata.

    Baca juga: Tether Ngebet Akuisisi Juventus Rp17 Triliun, Langsung Ditolak!

    Latar Belakang Diluncurkannya USAT

    Illustrasi USAT. Sumber: USAT.io

    Seperti yang kamu tahu, Tether telah menjadi pemain lama di dunia kripto khususnya stablecoin, sejak diluncurkannya USDT pada tahun 2014.

    Tantangan baru datang siring regulasi kripto yang semakin matang, terutama di Amerika Serikat (AS) dengan diresmikannya undang-undang baru GENIUS Act, yang ditandatangani pada Juli 2025 oleh Presiden Donald Trump.

    Undang-undang GENIUS Act ini menjadi undang-undang AS pertama yang secara komprehensif membahas kripto serta berfokus pada regulasi stablecoin. Di dalamnya termasuk persyaratan tentang cadangan penuh, audit rutin, dan kepatuhan dengan lembaga keuangan berlisensi federal.

    USAT lahir sebagai respons terhadap undang-undang ini. CEO Tether, Paolo Ardoino, menyatakan bahwa USAT menjadi salah satu stablecoin yang sesuai dengan perundang-undangan AS dan transparan “USA₮ adalah wujud komitmen kami untuk memastikan bahwa dolar tidak hanya tetap dominan di era digital, tetapi juga berkembang – melalui produk yang lebih transparan, lebih tangguh, lebih mudah diakses, dan lebih tak terbendung daripada sebelumnya,” ujarnya melalui rilis resmi Tether.

    Nantinya USAT akan diterbitkan oleh Anchorage Digital Bank, N.A., yang mana ini merupakan satu‑satunya bank kripto yang diatur secara federal dan sesuai GENIUS Act.

    Baca juga: Menatap Masa Depan Stablecoin: Partisipasi Publik Dalam GENIUS Act

    Lalu Apakah USAT Akan Menjadi Legal Tender di Amerika?

    Melalui rilis resminya, Tether menegaskan bahwa USAT tidak akan menjadi alat pembayaran yang sah (sebagaimana dijelaskan dalam pasal 5103 judul 31, United States Code) dan tidak akan diterbitkan, didukung, disetujui, atau dijamin oleh pemerintah Amerika Serikat.

    USAT juga tidak akan tunduk pada perlindungan asuransi dari Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC), Securities Investor Protection Corporation (SIPC), atau lembaga pemerintah lainnya.

    FDIC (Federal Deposit Insurance Corporation) sendiri adalah lembaga pemerintah AS yang melindungi simpanan nasabah bank. Jika sebuah bank kolaps, simpanan nasabah biasanya dijamin hingga USD 250.000 per orang per bank. Sedangkan SIPC (Securities Investor Protection Corporation) melindungi investor di perusahaan sekuritas atau broker saham.

    Ini berarti USAT tidak dilindungi oleh skema asuransi pemerintah Amerika Serikat dan jika terjadi sesuatu yang buruk, misalnya perusahaan penerbitnya bermasalah, bangkrut, atau asetnya dibekukan—maka pengguna tidak punya jaring pengaman dari negara.

    Kapan Stablecoin USAT Akan Dirilis?

    Berdasarkan pengumuman resmi dari Tether, USAT dijadwalkan untuk dirilis pada Desember 2025. Namun, hingga tanggal 23 Desember 2025, belum ada konfirmasi resmi bahwa stablecoin ini telah secara penuh diluncurkan ke publik.

    Teaser terbaru dari akun X @USAT_io, pada 22 Desember 2025, menyebutkan “USA₮. Coming soon,” yang menandakan peluncuran sangat dekat, mengingat Desember hanya kurang dari 2 minggu lagi, USAT mungkin akan segera dirilis dalam hitungan hari.

    Dengan semakin dekatnya peluncuran USAT, momentum ini diharapkan dapat menjadi tonggak penting untuk memperluas akses stablecoin yang patuh terhadap regulasi, termasuk di Indonesia nantinya.

    Stablecoin memang menjadi salah satu opsi populer buat para investor yang ingin menyimpan uang dalam bentuk dolar—di Tokocrypto kamu bisa beli langsung stablecoin dengan GRATIS biaya trading lho! Yuk cobain download dan daftar sekarang.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa Itu Crypto Futures? Cara Kerja dan Perbedaannya dengan Spot Trading

    Saat pertama kamu terjun ke dunia crypto, pasti kamu sering kali mendengar kata Futures atau mungkin yang paling ikonik Margin Call, di grup-grup komunitas crypto. Tapi apa artinya sih?

    Tenang… tidak usah bingung, artikel ini akan membahas secara lengkap apa itu crypto futures, bagaimana cara kerjanya, serta perbedaan utamanya dengan spot trading. Simak lebih lengkap yuk!

    Apa Itu Crypto Futures?

    Crypto futures trading atau perdagangan kontrak berjangka merupakan kontrak derivatif yang mengikat dua pihak untuk membeli atau menjual aset crypto tertentu dengan harga yang sudah disepakati, pada tanggal yang telah ditentukan di masa depan.

    Jika kita berbicara tentang crypto futures, jenis futures yang paling populer di dunia crypto adalah kontrak Perpetual Futures, dimana kontrak ini tidak memiliki tanggal kadaluarsa di masa depan, sehingga kamu bisa menahan posisi selama yang kamu inginkan, selama margin mencukupi dan tidak terkena likuidasi.

    Berbeda dengan trading spot yang mengharuskan kamu membeli aset secara langsung, melalui futures, kamu tidak langsung menyimpan aset crypto saat melakukan trading, melainkan kamu hanya memegang kontrak yang nilainya bergerak mengikuti harga aset tersebut.

    Contoh sederhananya seperti ini:

    Misalkan harga Bitcoin saat ini adalah Rp950.000.000 dan melalui analisa yang kamu lakukan dari pergerakan chart dan kondisi pasar, kamu yakin bahwa harga akan naik. 

    Sehingga kamu membeli kontrak futures Bitcoin dengan harga Rp950.000.000 menggunakan leverage 2x, maka ketika beberapa waktu kemudian harga Bitcoin naik ke Rp1.200.000.000, kamu mendapat keuntungan Rp500.000.000 dari pembelian tersebut.

    Baca juga : Strategi Dasar Crypto Futures yang Sering Digunakan Trader

    Cara Kerja Crypto Futures

    Berikut beberapa istilah yang harus kamu pahami agar mengerti cara kerja crypto futures:

    Margin

    Margin merupakan dana jaminan atau modal awal yang wajib disetorkan trader ke bursa untuk membuka dan mempertahankan posisi kontrak berjangka (long/short).

    Leverage

    Leverage menjadi salah satu alasan kenapa para trader memilih untuk menggunakan fitur Futures. Leverage sendiri adalah penggunaan dana pinjaman untuk meningkatkan daya beli modal saat trading. Nah, dengan leverage ini, kamu bisa mendapatkan posisi pembelian yang jauh lebih besar dari modal yang kamu miliki.

    Contoh: Dengan modal margin awal Rp10.000.000 dan leverage 10x, kamu bisa membuka posisi senilai Rp100.000.000. Jika harga bergerak 5%, kamu mendapat profit 50% dari modal (Rp5.000.000). Namun jika harga bergerak 5% berlawanan, kamu bisa kehilangan 50% modal.

    Posisi Long dan Short

    Long (Beli): Membuka posisi Long berarti trader membeli kontrak futures dengan ekspektasi harga aset akan naik. Jika harga benar-benar naik, trader bisa menjual kontrak tersebut dengan keuntungan. 

    Short (Jual): Membuka posisi Short berarti trader menjual kontrak futures dengan harapan harga aset akan turun. Jika harga turun, kontrak bisa dibeli kembali dengan harga lebih rendah, sehingga menghasilkan profit dari selisih harga.

    Mark Price

    Mark price merupakan harga Pasar yang biasanya dihitung berdasarkan rata-rata harga pasar spot selama periode waktu tertentu yang menjadi acuan untuk menghitung unrealized profit/loss dan likuidasi posisi yang kamu miliki.

    Baca juga: Risiko Crypto Futures yang Perlu Dipahami Sebelum Trading

    Margin Call

    Margin call adalah peringatan dari exchange bahwa saldo jaminan (margin) kamu telah turun di bawah batas sehingga kamu diminta menambah dana atau menutup posisi dan jika tidak dipenuhi, posisi kamu akan dilikuidasi otomatis.

    Likuidasi

    Likuidasi (Liquidation) berarti penutupan paksa posisi trading oleh exchange ketika margin trader tidak lagi cukup untuk menahan kerugian. Biasanya karena harga bergerak berlawanan dengan arah posisi, sehingga kerugian melebihi modal jaminan (collateral).

    Contoh: Dengan leverage 10x pada posisi senilai $10.000, penurunan harga 10% saja bisa menghapus seluruh margin dan memicu likuidasi.

    Collateral 

    Collateral merupakan modal jaminan yang disetorkan oleh trader ke bursa atau broker sebagai jaminan atau agunan untuk membuka dan mempertahankan posisi dalam trading futures.

    Baca juga: Leverage dalam Crypto Futures: Peluang dan Risiko

    Perbedaan Crypto Futures vs Spot Trading

    Perbedaan utama antara crypto futures dan spot trading terletak pada kepemilikan aset, tujuan, serta tingkat risiko.

    Dalam spot trading, trader membeli atau menjual aset crypto dengan harga pasar saat ini (spot price) dan langsung memilikinya setelah transaksi selesai, sehingga lebih cocok untuk investasi jangka panjang dengan risiko relatif lebih rendah.

    Sementara itu, futures trading melibatkan kontrak derivatif yang mewakili harga aset di masa depan, di mana trader bisa mengambil posisi long (harga naik) atau short (harga turun) tanpa benar-benar memiliki aset. 

    Futures memungkinkan penggunaan leverage sehingga potensi keuntungan lebih besar, tetapi risiko kerugian juga meningkat, termasuk kemungkinan terkena likuidasi.

    Baca juga: Crypto Futures vs Spot Trading: Mana yang Cocok untuk Trader?

    Untuk lebih memberikan kamu gambaran yang lebih lengkap, yuk simak perbedaanya dengan Spot Trading melalui tabel di bawah ini:

    Aspek Spot Trading Futures Trading
    Kepemilikan Aset Memiliki aset nyata Kontrak, bukan aset fisik
    Leverage Tidak ada (1:1) Tersedia (hingga 100x+)
    Profit saat Turun Tidak bisa Bisa (short selling)
    Tanggal Kedaluwarsa Tidak ada Ada (kecuali perpetual)
    Biaya Trading Taker/maker fee Funding rate + fee
    Risiko Sedang Tinggi (terutama leverage)
    Cocok untuk Investor jangka panjang Trader aktif

    Spot Trading Cocok untuk Siapa?

    • Trader yang ingin memiliki aset crypto secara langsung dan menyimpannya di wallet.
    • Fokus investasi jangka panjang dengan potensi pertumbuhan nilai aset seiring waktu.
    • Kamu lebih nyaman dengan risiko rendah karena tidak ada leverage atau liquidasi.
    • Strategi yang kamu pilih adalah beli dan simpan sampai harga mencapai target.

    Futures Trading Cocok untuk Siapa?

    • Kamu ingin memaksimalkan peluang profit dengan memanfaatkan leverage.
    • Fokus pada potensi jangka pendek, bukan sekadar menyimpan aset.
    • Kamu ingin bisa untung dari kenaikan harga (long) dan penurunan (short) harga aset .
    • Kamu siap menghadapi risiko tinggi, termasuk kemungkinan terkena liquidasi.

    Baca juga: Perpetual Futures Crypto: Apa Bedanya dengan Futures Biasa?

    Kesimpulan

    Crypto futures menawarkan kesempatan bagi trader untuk memanfaatkan pergerakan harga crypto, baik saat pasar naik maupun turun dan mendapatkan peluang menarik.

    Tapi, meski menawarkan peluang yang menarik, futures juga memiliki risiko yang lebih tinggi, terutama karena penggunaan leverage. Karena itu, penting bagi trader untuk benar-benar memahami cara kerjanya sebelum mulai mengguna.

    Apa pun pilihanmu, pastikan untuk selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan trading, dan pastikan menggunakan exchange resmi seperti Tokocrypto yang telah terdaftar resmi, serta berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.


    Investasi dan trading crypto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset crypto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

    Sumber:

    Investopedia: Spot Price: Definition, Spot Price vs. Futures Price, Examples
    Investopedia: Futures Trading: What It Is, How It Works, Factors, and Pros & Cons
    Bookmap: What Are Liqiuidations In Crypto: A Practical Guide to Trading
    IDX: Futures Investor Book



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • OpenClaw Aman atau Tidak? Ini yang Perlu Dipahami Pengguna

    Hype AI dan AI Agent nampaknya masih akan terus berlajut seeiring samakin meningkatnya kemampuan dari teknologi ini. Contohnya seperti OpenClaw yang memungkinkan penggunanya untuk memberikan perintah lewat aplikasi chatting seperti Telegram dan langsung melakukan eksekusi secara otomatis; mulai dari membuat e-mail, memantau pergerakan pasar, hingga membuat laporan layaknya sebuah asisten pribadi.

    Namun, banyak meskipun OpenClaw terlihat sangat canggih, banyak orang yang masih enggan menggunakannya karena mempertimbangkan beberapa hal seperti keamanan data.

    Atas pertimbangan keamanan data ini, dikutip dari South China Morning Post, pemerintah China melalui Ministry of Industry and Information Technology merilis panduan keamanan resmi untuk penggunaan OpenClaw, sekaligus melarang instansi pemerintah, BUMN, serta bank besar memasangnya di perangkat kerja. Alasannya tak lain karena OpenClaw membutuhkan akses yang sangat luas ke sistem, dan jika salah dikonfigurasi, bisa menjadi celah masuk bagi serangan yang menargetkan data institusional sensitif. 

    Selain itu CertiK juga menyebut bahwa OpenClaw membuka peluang masuknya malware karena sifat open-source dan ekosistem skill-nya yang tumbuh sangat cepat tanpa mekanisme review yang memadai. CertiK secara eksplisit menyarankan agar pengguna non-teknis menunggu hingga OpenClaw mencapai fase keamanan yang lebih matang sebelum menghubungkannya dengan aset nyata.

    Lalu kira-kira apakah OpenClaw ini aman atau tidak? Berikut beberapa hal yang perlu dipahami oleh pengguna.

    Baca juga: Fungsi OpenClaw: Digunakan untuk Apa di Ekosistem Web3?

    Celah Keamanan OpenClaw

    Sejak OpenClaw mulai viral pada awal 2026, serangkaian insiden keamanan nyata sudah tercatat dan diteliti oleh komunitas keamanan siber global lho! Berkiut beberapa di antaranya.

    Explitasi Bug

    Celah CVE-2026-25253 merupakan salah satu celah yang paling serius yang pernah ditemukan. Sebab melalui celah ini hacker dapat terhubung ke gateway OpenClaw milik pengguna melalui tautan berbahasa yang dibagikan oleh hacker.

    Begitu pengguna mengklik tautan berbahaya atau membuka halaman web yang sudah disiapkan penyerang, skrip di halaman tersebut bisa langsung berkomunikasi dengan gateway lokal OpenClaw, mencuri token autentikasi, lalu mengambil alih kendali penuh. Akhirnya celah ini pun diperbaiki di versi 2026.1.29.

    21.000+ OpenClaw Dapat Diakses Secara Publik

    Peneliti keamanan menemukan lebih dari 21.000 instance OpenClaw yang terbuka ke internet tanpa perlindungan memadai, sementara banyak pengguna tidak sadar bahwa dashboard mereka bisa diakses publik. Kondisi ini berbahaya karena bot OpenClaw biasanya memiliki akses shell, sehingga satu akses tanpa izin saja sudah cukup memberi penyerang kendali penuh atas sistem, mulai dari membaca email, membuka penyimpanan cloud, hingga menyebarkan ransomware.

    Bahaya Prompt Injection

    Saat OpenClaw membuka halaman web atau membaca dokumen sebagai bagian dari tugasnya, konten di halaman itu bisa menyisipkan instruksi tersembunyi yang diinterpretasikan agen sebagai perintah sah.

    Misalnya, sebuah halaman berbahaya bisa menyusupkan prompt untuk OpenClaw agar mengirimkan file ke server eksternal, mengirimkan API key, wallet seed, atau bahkan menjalankan perintah berbahaya, dan AI agent yang tidak dilindungi bisa mengeksekusinya tanpa menyadari bahwa itu bukan instruksi dari kamu.

    Malicious Skills yang Tidak Terverifikasi

    ClawHub, marketplace skill komunitas OpenClaw, telah menampung lebih dari 10.700 skill, dan proses review keamanannya dinilai masih belum cukup ketat. 

    Skill berbahaya yang bisa dijalankan oleh agen OpenClaw bisa tampak seperti plugin biasa, tapi di baliknya bisa jadi menjalankan skrip yang mengekstrak data penting seperti wallet seed yang kamu miliki.

    Kesalahan Logic AI Agent

    Karena agen menggunakan LLM untuk menginterpretasikan perintah, tentu saja selalu ada kemungkinan kemungkinan AI agen tersebut untuk salah memahami instruksi, terutama instruksi yang kurang lengkap atau ambigu. 

    Dalam satu kasus terdokumentasi, agen bernama “Lobstar Wilde”, sebuah eksperimen yang dilakukan oleh salah satu pegawai OpenAI yaitu @pashmerepat. Agen tersebut pun salah menginterpretasikan permintaan untuk mengirim 4 SOL dan malah mengirimkan seluruh kepemilihan memecoin yang ada di wallet tersebut dan dalam 15 menit sang penerima memecoin tersebut  melikuidasi senilai ~$40.000.

    Kapan OpenClaw Bisa Dianggap Aman?

    OpenClaw berbeda dari kebanyakan aplikasi yang kamu install. Saat kamu menginstall aplikasi biasa, ia berjalan di dalam sandbox yang terbatas. Namun, OpenClaw justru dirancang untuk bisa mengakses ke file system, terminal, browser, email, dan akun-akun penting agar bisa bekerja sebagaimana mestinya sesuai dengan perintah yang kamu berikan nantinya.

    Ketika sebuah sistem memiliki akses seluas itu, maka OpenClaw akan lebih aman ketika dioperasikan oleh pengguna yang memahami akses apa yang mereka izinkan dan bagaimana membatasi akses dari agen OpenClaw tersebut. 

    Baca juga: Cara Kerja OpenClaw: Bagaimana Teknologi Ini Digunakan di Dunia Crypto?

    Tips Agar OpenClaw Aman

    Jika kamu sudah menggunakan OpenClaw atau berencana mencobanya, ini urutan langkah paling penting berdasarkan rekomendasi komunitas keamanan:

    1. Update ke versi 2026.1.29 atau lebih baru. Karena versi ini yang menutup CVE-2026-25253, celah paling kritis yang exploitnya sudah beredar publik.
    2. Pastikan gateway hanya bisa diakses dari localhost. Jangan pernah mengekspos port 18789 ke internet tanpa VPN atau autentikasi tambahan.
    3. Jalankan OpenClaw di dalam Docker atau VM. Dengan cara ini, bahkan jika terjadi exploit, dampaknya terisolasi dan tidak menyebar ke sistem utama.
    4. Enkripsi file konfigurasi dan API key. Jangan biarkan kredensial tersimpan dalam plaintext di .env lokal, terutama jika mesinmu digunakan bersama.
    5. Instal skill hanya dari sumber yang sudah diverifikasi komunitas. Hindari skill dari repositori tidak dikenal, apalagi yang meminta akses ke password atau menawarkan kemampuan yang tidak relevan.
    6. Aktifkan konfirmasi manual untuk aksi berisiko tinggi. Jika OpenClaw terhubung ke wallet atau akun keuangan, selalu require konfirmasi eksplisit sebelum transaksi dieksekusi.
    7. Lakukan audit log minimal dua bulan sekali. OpenClaw menyimpan log aktivitas, dan periksa secara berkala untuk mendeteksi koneksi atau eksekusi yang tidak kamu kenal.

    Penutup

    Itu dia beberapa hal yang perlu kamu ketahui tentang aman atau tidaknya OpenClaw. OpenClaw memang menawarkan banyak potensi, tetapi disertai dengan risiko yang perlu dipahami.

    Selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan dan pastikan gunakan exchange resmi seperti Tokocrypto yang telah terdaftar resmi, serta berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.


    Investasi dan trading crypto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset crypto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 20 Proyek Kripto Tumbang di Q1 2026: Awal Seleksi Alam?

    Industri kripto menghadapi gelombang penutupan proyek di awal tahun 2026, dengan lebih dari 20 proyek dilaporkan menghentikan operasinya sepanjang kuartal pertama. Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam dinamika pasar, di mana tekanan likuiditas dan penurunan aktivitas mulai menguji ketahanan berbagai platform di sektor ini.

    Dilaporkan BeInCrypto, penutupan ini mencakup berbagai jenis layanan, mulai dari wallet, exchange derivatif, platform NFT, hingga tools DeFi. Beberapa nama besar yang terdampak antara lain Magic Eden yang menutup layanan wallet dan mengurangi ekspansi multi-chain, Leap Wallet yang memutuskan untuk shutdown total pada Mei, hingga exchange derivatif Bit.com yang menghentikan operasionalnya.

    Selain itu, platform seperti Slingshot (DeFi aggregator), Dmail (Web3 messaging), Nifty Gateway (NFT marketplace), dan Parsec (analytics tools) juga ikut menutup layanan mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya dirasakan oleh proyek kecil, tetapi juga pemain menengah yang sebelumnya cukup dikenal.

    Industri Masuk Fase Konsolidasi

    Gelombang penutupan ini tidak terjadi tanpa alasan. Banyak dari proyek yang tumbang merupakan produk yang lahir pada masa bull market 2021–2022 dan awal 2025, ketika pendanaan melimpah dan pertumbuhan pengguna relatif mudah dicapai.

    Namun, kondisi pasar saat ini jauh berbeda. Volume perdagangan menurun, aliran dana dari investor semakin selektif, dan aktivitas pengguna mulai terkonsentrasi pada platform besar yang sudah mapan.

    Akibatnya, proyek yang tidak memiliki model bisnis yang jelas, sumber pendapatan yang berkelanjutan, atau kemampuan mempertahankan pengguna mulai kesulitan bertahan.

    Perubahan ini menandai pergeseran dari fase ekspansi cepat menuju fase yang lebih matang, di mana efisiensi dan keberlanjutan menjadi faktor utama.

    Baca juga: Franklin Templeton Akuisisi Unit Kripto CoinFund: TradFi Makin Agresif!

    Dampak ke Ekosistem Kripto

    Fenomena ini mencerminkan proses “market cleansing” atau seleksi alami dalam industri kripto. Proyek yang tidak mampu beradaptasi dengan kondisi pasar baru akan tersingkir, sementara proyek dengan fundamental kuat memiliki peluang untuk bertahan dan berkembang.

    Konsolidasi ini juga dapat memperkuat posisi pemain besar, karena pengguna dan likuiditas akan cenderung berpindah ke platform yang lebih stabil dan terpercaya.

    Meski terlihat negatif dalam jangka pendek, kondisi ini sering kali menjadi fondasi bagi pertumbuhan yang lebih sehat di masa depan.

    Banyak Proyek Gagal

    Tim Research Tokocrypto menganalisa gelombang penutupan proyek ini merupakan fase normal dalam siklus industri kripto. Setelah periode ekspansi yang agresif saat bull market, pasar kini memasuki fase seleksi di mana hanya proyek dengan utilitas nyata dan model bisnis yang berkelanjutan yang mampu bertahan.

    Banyak proyek yang gagal saat ini cenderung mengandalkan momentum hype tanpa membangun fundamental yang kuat. Ketika kondisi likuiditas mengetat dan pengguna menjadi lebih selektif, kelemahan tersebut mulai terlihat.

    Dalam jangka panjang, kondisi ini justru dapat memberikan dampak positif bagi ekosistem. Dengan berkurangnya proyek yang kurang berkualitas, kepercayaan investor terhadap proyek yang tersisa berpotensi meningkat.

    Namun demikian, Tim Research Tokocrypto juga mengingatkan bahwa fase ini dapat meningkatkan risiko bagi investor, terutama dalam memilih proyek. Oleh karena itu, penting untuk lebih fokus pada faktor fundamental seperti utilitas, adopsi, dan keberlanjutan bisnis.

    Penutupan lebih dari 20 proyek kripto di awal 2026 menjadi sinyal bahwa industri sedang memasuki fase yang lebih matang dan kompetitif. Era pertumbuhan berbasis hype mulai bergeser menuju pendekatan yang lebih realistis dan berorientasi pada nilai.

    Bagi pelaku pasar, kondisi ini menjadi pengingat bahwa tidak semua proyek akan bertahan. Selektivitas dan pemahaman terhadap fundamental menjadi kunci dalam menghadapi dinamika industri kripto yang terus berkembang.

    Baca Juga: Masa Depan Solana di TradFi: Langkah Besar Menuju ETF Spot


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Konflik AS-Iran Memanas: Ancaman Trump Seret Turun Harga Aset Kripto

    Perang antara Amerika Serikat dan Iran memasuki minggu keenam dengan tensi yang semakin meningkat. Di tengah upaya diplomasi yang belum menemui titik terang, Iran membantah tudingan bahwa mereka menolak perundingan damai, sementara Presiden AS Donald Trump justru mengeluarkan ancaman keras yang memicu kekhawatiran eskalasi konflik global.

    Dilaporkan Coingape, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya tidak pernah menolak pembicaraan damai dengan Amerika Serikat di Pakistan. Dalam pernyataannya di platform X, Araghchi menyebut bahwa media AS telah salah menggambarkan posisi Iran. Ia menekankan bahwa fokus utama Iran adalah mencapai akhir perang yang bersifat final dan berkelanjutan.

    “Kami tidak pernah menolak untuk berdialog. Yang kami inginkan adalah syarat yang jelas untuk mengakhiri perang ilegal yang dipaksakan kepada kami,” ujar Araghchi.

    Pernyataan ini muncul setelah laporan sebelumnya menyebutkan Iran enggan bertemu dengan pejabat AS di Islamabad dan menganggap tuntutan Amerika tidak dapat diterima. Di sisi lain, tenggat waktu yang ditetapkan Trump pada 6 April semakin dekat, memperbesar tekanan terhadap Iran untuk segera mencapai kesepakatan.

    Baca juga: Harga Bitcoin Dekati US$70.000, Konflik Timur Tengah Jadi Penentu Arah

    Ancaman Trump dan Risiko Eskalasi Global

    Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa waktu bagi Iran semakin sempit. Dalam pernyataannya di Truth Social, ia menyebut Iran hanya memiliki waktu 48 jam sebelum “neraka akan turun” jika tidak ada kemajuan dalam negosiasi.

    Trump juga mengisyaratkan kemungkinan serangan terhadap infrastruktur energi Iran, yang berpotensi memicu dampak besar terhadap pasar global. Bahkan, sebelumnya ia menyatakan bahwa AS dapat membuka Selat Hormuz dan menguasai aliran minyak, sebuah pernyataan yang dinilai agresif dan berisiko tinggi.

    Situasi semakin kompleks setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberi sinyal kemungkinan penutupan Selat Bab el-Mandeb. Jalur ini menyumbang hampir 6% distribusi minyak global. Jika benar terjadi, gangguan ini dapat mendorong lonjakan harga minyak dan menekan ekonomi dunia.

    Saat ini, harga minyak telah menembus level USD 111 per barel, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

    Dampak ke Bitcoin dan Pasar Kripto

    Di tengah ketidakpastian geopolitik, pasar kripto menunjukkan pergerakan yang cenderung stagnan. Bitcoin sempat naik di atas level psikologis USD 67.000, namun masih bergerak sideways akibat sentimen global yang belum stabil.

    Data dari Polymarket menunjukkan bahwa pelaku pasar masih pesimis terhadap tercapainya gencatan senjata dalam waktu dekat. Probabilitas perdamaian sebelum akhir Mei hanya sekitar 35%, sementara peluang hingga akhir Juni juga menurun menjadi 47%.

    Hal ini menunjukkan bahwa investor masih memperkirakan konflik akan berlangsung lebih lama, sehingga menahan pergerakan aset berisiko termasuk kripto.

    Investor Lebih Hati-hati

    Tim Research Tokocrypto melihat bahwa konflik AS-Iran saat ini menjadi salah satu faktor makro utama yang memengaruhi pasar global, termasuk aset kripto. Ketidakpastian geopolitik cenderung membuat investor lebih berhati-hati dan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko tinggi.

    Dalam jangka pendek, potensi eskalasi konflik — terutama jika terjadi gangguan pada jalur distribusi minyak seperti Selat Hormuz atau Bab el-Mandeb, dapat memicu volatilitas tinggi di pasar. Lonjakan harga energi berpotensi meningkatkan inflasi global, yang pada akhirnya memengaruhi kebijakan moneter dan likuiditas pasar.

    Namun, di sisi lain, kondisi ini juga dapat memperkuat narasi Bitcoin sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakstabilan global. Jika konflik berlanjut dan tekanan ekonomi meningkat, tidak menutup kemungkinan terjadi peningkatan minat terhadap aset kripto sebagai alternatif penyimpanan nilai.

    Tim Research Tokocrypto juga menilai bahwa pergerakan Bitcoin yang masih tertahan menunjukkan pasar sedang berada dalam fase wait and see, menunggu kejelasan arah konflik. Selama belum ada resolusi yang jelas, volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi dengan kecenderungan sideways.

    Konflik AS-Iran kini berada di titik krusial dengan ancaman eskalasi yang semakin nyata. Bantahan Iran terhadap isu penolakan damai dan ultimatum keras dari Trump menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih penuh ketidakpastian.

    Bagi pasar global, termasuk kripto, situasi ini menjadi faktor risiko utama yang perlu terus dipantau. Arah konflik dalam beberapa hari ke depan berpotensi menjadi penentu sentimen pasar secara lebih luas.

    Baca Juga: Michael Saylor Beri Sinyal Beli Bitcoin Baru Setelah Pendanaan $711 Juta


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pasar Volatil, Investor Serbu Tether Gold (XAU₮) sebagai Pelindung Aset

    Minat terhadap emas kembali melonjak di tengah ketidakpastian global, bahkan kini merambah lebih dalam ke ekosistem kripto. Produk gold spot yang baru, XAU₮ diluncurkan di Binance langsung mencatat volume signifikan hanya dalam beberapa hari.

    Volume tembus $80 juta dalam waktu singkat

    Setelah resmi diperkenalkan, perdagangan gold spot XAU₮ di Binance menunjukkan respons pasar yang sangat cepat. Volume harian sudah melampaui $40 juta, dan secara kumulatif mencapai hampir $80 juta per 30 Maret.

    Sebelumnya, produk gold futures di Binance juga mencatat kesuksesan besar dengan total volume lebih dari $80 miliar sejak awal 2026. Kini, pasar spot mulai menunjukkan potensi yang tidak kalah kuat.

    Hal ini menandakan bahwa minat investor terhadap emas tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang ke platform digital.

    Baca juga: Tether Gold (XAU₮): Solusi Stabil di Tengah Volatilitas Kripto

    Geopolitik dorong kembali minat ke emas

    Dilaporkan Crypto Quant, lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya terkait konflik di Iran. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global dan meningkatkan risiko inflasi.

    Dalam situasi seperti ini, emas kembali dipandang sebagai aset lindung nilai yang lebih stabil. Meskipun sempat mengalami koreksi sekitar 15%, permintaan terhadap emas tetap kuat karena dianggap mampu menjaga nilai di tengah ketidakpastian.

    Kurangnya visibilitas terhadap arah ekonomi global juga menjadi faktor yang terus mendorong minat terhadap aset safe haven ini.

    Tim Research Tokocrypto menilai ini sinyal penting bahwa aset safe haven tradisional mulai mendapatkan distribusi yang lebih nyata di infrastruktur exchange kripto.

    “Kalau tren ini berlanjut, integrasi emas ke ekosistem exchange bisa menjadi jembatan kuat antara arus modal defensif dan pasar aset digital, terutama saat ketidakpastian geopolitik terus tinggi,” jelasnya.

    Integrasi emas dan kripto semakin nyata

    Masuknya emas ke dalam ekosistem kripto melalui platform seperti Binance menunjukkan adanya perubahan besar dalam lanskap keuangan. Investor kini memiliki lebih banyak opsi untuk mendapatkan eksposur terhadap aset tradisional melalui infrastruktur digital.

    Fenomena ini juga mencerminkan semakin dekatnya hubungan antara pasar keuangan tradisional dan kripto, di mana batas antara keduanya mulai semakin kabur.

    Dengan tren ini, emas tidak lagi hanya menjadi aset konvensional, tetapi juga bagian dari inovasi finansial yang berkembang di dunia digital.

    Baca juga: Tokenized Gold: Solusi Investasi Emas yang Fleksibel dan Modern


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com