Tag: etf

  • Penasihat Keuangan Rekomendasikan ETF Bitcoin

    Bank of America resmi menyetujui empat produk spot Bitcoin exchange-traded fund (ETF) untuk direkomendasikan secara aktif oleh para penasihat keuangannya. Kebijakan ini menandai perubahan signifikan dalam pendekatan salah satu bank terbesar di dunia terhadap aset kripto.

    Melalui kantor investasi utamanya (Chief Investment Office/CIO), Bank of America mengizinkan para penasihat di jaringan Merrill, Bank of America Private Bank, dan Merrill Edge untuk tidak lagi menunggu permintaan klien, melainkan secara proaktif menawarkan ETF Bitcoin sebagai bagian dari strategi portofolio.

    Empat ETF Disetujui

    Baca juga: Bitcoin Tembus Rp1,4 Miliar, Arus Dana ETF Rp10 Triliun, Sinyal Bullish?

    Empat ETF yang disetujui adalah Bitwise Bitcoin ETF, Fidelity Wise Origin Bitcoin Fund, Grayscale Bitcoin Mini Trust, serta iShares Bitcoin Trust milik BlackRock. Produk-produk ini termasuk ETF Bitcoin terbesar dan paling likuid di pasar Amerika Serikat, sehingga dinilai lebih mudah dikelola dari sisi operasional dan risiko regulasi.

    Kepala APAC di platform perdagangan institusional Talos, Samar Sen, mengatakan keempat penerbit ETF tersebut memimpin pasar karena pengalaman, besarnya dana kelolaan, serta rekam jejak mereka. Menurutnya, perusahaan-perusahaan ini telah berinvestasi besar dalam infrastruktur kompleks yang memungkinkan manajemen risiko dan eksekusi perdagangan secara efisien.

    Sebelumnya, akses ke ETF Bitcoin spot di Bank of America hanya tersedia bagi klien tertentu dan bersifat client-led, di mana penasihat hanya melayani permintaan dari klien. Dengan kebijakan baru ini, para penasihat kini dapat merekomendasikan ETF Bitcoin berdasarkan riset dan panduan resmi dari CIO.

    Dilaporkan CoinMarketCap, dalam panduan alokasi yang diterbitkan, Bank of America memosisikan kripto sebagai alokasi sekitar 1% hingga 4% dari portofolio untuk klien yang dinilai sesuai dengan profil risikonya. Selain riset, bank juga meluncurkan pelatihan bagi penasihat agar Bitcoin dapat dibahas dalam percakapan portofolio standar, bukan lagi sebagai pengecualian.

    Bank Integrasikan Eksposur Bitcoin

    Bank of America memiliki lebih dari 15.000 penasihat kekayaan, yang kini dapat mengintegrasikan eksposur Bitcoin ke dalam layanan manajemen kekayaan mereka. Namun, seluruh produk yang disetujui saat ini masih terbatas pada Bitcoin saja.

    Hingga saat ini, Bank of America belum menyatakan komitmen untuk menambahkan ETF berbasis Ethereum atau aset digital lainnya. Menurut Samar Sen, ekspansi ke aset kripto lain akan bergantung pada likuiditas pasar, kematangan struktur pasar, serta kemampuan mendukung eksekusi dan kontrol risiko berskala institusional.

    Setiap keputusan alokasi tetap disesuaikan dengan profil risiko klien dan ketentuan regulasi di masing-masing yurisdiksi. Peralihan dari pendekatan berbasis permintaan klien ke rekomendasi aktif penasihat ini dinilai sebagai tonggak penting dalam adopsi kripto oleh institusi keuangan tradisional.

    Hingga berita ini diterbitkan, Bank of America belum memberikan komentar terkait rencana penambahan produk Ethereum. Meski demikian, persetujuan ini mencerminkan meningkatnya penerimaan Bitcoin sebagai komponen portofolio di kalangan lembaga keuangan besar.

    Baca juga: BlackRock Resmi Ajukan ETF Staked Ethereum, Langkah Bersejarah!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Tembus Rp1,4 Miliar, Arus Dana ETF Rp10 Triliun, Sinyal Bullish?

    Bitcoin kembali menjadi sorotan pasar kripto global setelah mencatatkan arus masuk dana exchange-traded fund (ETF) kripto sebesar US$645,8 juta pada 2 Januari 2026. Lonjakan tersebut mendorong harga Bitcoin (BTC) naik hingga kisaran US$91.000 dan memicu optimisme baru terkait potensi kelanjutan tren bullish.

    Berdasarkan data pasar, total kapitalisasi pasar kripto kini mencapai US$3,12 triliun dengan volume perdagangan harian mendekati US$75 miliar, mencerminkan meningkatnya aktivitas investor institusional. Sementara itu, Fear and Greed Index berada di level 40 (netral), membaik signifikan dibandingkan kondisi fear pada Desember lalu. Di sisi lain, Altcoin Season Index yang masih di angka 25 menegaskan dominasi Bitcoin di pasar kripto saat ini.

    Dana ETF Masif

    Dilaporkan Crypto Rank, analis menilai masuknya dana ETF secara masif berpotensi memperketat suplai Bitcoin di tengah likuiditas yang relatif tipis, sehingga menciptakan kondisi ideal untuk kenaikan harga lebih lanjut.

    Dari sisi teknikal, Bitcoin telah mengonfirmasi breakout pola segitiga (triangle breakout) setelah konsolidasi selama hampir satu bulan. Penembusan di atas level US$89.500 menandai berakhirnya pergerakan sideways sepanjang Desember dan membuka peluang terbentuknya fase bullish baru.

    Pada grafik 4 jam, BTC diperdagangkan di sekitar US$91.260 dengan pola higher lows dan volume yang terus meningkat. Persilangan 50-EMA di atas 100-EMA mengindikasikan momentum yang semakin kuat, sementara RSI di kisaran 69 menunjukkan tekanan beli yang sehat tanpa masuk wilayah jenuh beli.

    Sinyal candlestick juga memperkuat sentimen positif. Pola bullish engulfing berhasil menembus area resistance, disusul formasi spinning top di dekat level US$92.000 yang mengindikasikan konsolidasi jangka pendek sebelum potensi lanjutan kenaikan.

    Picu Optimisme Pasar

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Senin, 5 Januari 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Senin, 5 Januari 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Ke depan, selama Bitcoin mampu bertahan di atas US$89.000, target kenaikan berikutnya diperkirakan berada di area US$93.500 hingga US$94.600. Bahkan, analis membuka peluang penguatan menuju US$98.000 dalam beberapa pekan mendatang. Namun, jika harga turun dan ditutup di bawah US$88.400, risiko koreksi jangka pendek dan tekanan jual masih perlu diwaspadai.

    Optimisme pasar turut didukung oleh aliran dana ETF yang berkelanjutan serta minat investor ritel yang mulai kembali meningkat. Lemahnya performa altcoin juga dinilai sebagai sinyal bahwa reli saat ini lebih matang dan tidak sekadar didorong spekulasi.

    Dengan kombinasi sentimen institusional, faktor teknikal, dan kondisi makro yang mulai mendukung aset digital, Bitcoin bahkan disebut berpeluang menguji level US$100.000 pada kuartal pertama 2026.

    Di luar Bitcoin, pasar kripto juga diramaikan oleh kemunculan meme coin Maxi Doge. Proyek ini telah menghimpun dana lebih dari US$4,4 juta dalam masa presale dan menarik perhatian lewat pendekatan berbasis komunitas serta kompetisi. Token $MAXI, yang saat ini dipatok di harga US$0.0002765, menawarkan mekanisme staking dengan imbal hasil harian dan dijadwalkan segera memasuki fase kenaikan harga presale berikutnya.

    Baca juga: BlackRock Resmi Ajukan ETF Staked Ethereum, Langkah Bersejarah!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • BlackRock Diam-Diam Pindahkan Rp1,9 Triliun Bitcoin dan Ethereum

    BlackRock kembali menjadi sorotan pasar kripto setelah memindahkan aset Bitcoin dan Ethereum senilai lebih dari 120 juta dolar AS atau sekitar Rp1,9 triliun ke Coinbase. Langkah ini memicu spekulasi adanya tekanan jual lanjutan di tengah arus keluar dana besar-besaran dari ETF kripto di Amerika Serikat.

    Berdasarkan data on-chain yang dirilis Arkham Intelligence dan Lookonchain pada 2 Januari 2026, BlackRock mentransfer 1.134 Bitcoin senilai sekitar 101 juta dolar AS serta 7.255 Ethereum senilai kurang lebih 22 juta dolar AS ke Coinbase Prime, layanan kustodian khusus institusi milik Coinbase.

    Pergerakan ETF Milik BlackRock

    Baca juga: BlackRock Kejutkan Pasar Kripto, Ajukan ETF Ethereum Staking ke SEC!

    Pergerakan ini terjadi tak lama setelah pasar ETF kripto mengalami outflow signifikan di penghujung 2025. Data Farside Investors dan SoSoValue mencatat bahwa pada 31 Desember, ETF Bitcoin spot di AS mengalami arus keluar bersih sebesar 348,1 juta dolar AS. Dari jumlah tersebut, ETF IBIT milik BlackRock menyumbang 99,05 juta dolar AS. Sementara itu, ETF Ethereum mencatat total outflow 72,06 juta dolar AS, dengan dana BlackRock kehilangan sekitar 21,5 juta dolar AS.

    Meski IBIT masih menjadi pemimpin pasar ETF Bitcoin dengan kepemilikan sekitar 770.791 BTC senilai 67,4 miliar dolar AS, tren arus keluar ini menandai perubahan sentimen investor. Secara keseluruhan, arus dana ETF Bitcoin tercatat negatif dalam delapan dari sembilan hari perdagangan terakhir, sedangkan ETF Ethereum negatif dalam lima dari enam hari terakhir.

    Dilaporkan Coinlaw.io, tekanan pasar juga diperparah oleh jatuh tempo opsi kripto senilai 2,2 miliar dolar AS yang mencakup Bitcoin, Ethereum, XRP, dan Solana. Titik “max pain” Bitcoin berada di level 88.000 dolar AS, yang dinilai menambah potensi tekanan penurunan harga. Analis CryptoQuant memperingatkan bahwa jika outflow ETF berlanjut, harga Bitcoin berisiko turun di bawah 90.000 dolar AS dan bahkan bisa mengarah ke area 50.000 dolar AS.

    Pergerakan Harga Kripto

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Sabtu, 3 Januari 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Sabtu, 3 Januari 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Meski demikian, tidak semua sinyal bersifat negatif. Data Glassnode menunjukkan bahwa pemegang Bitcoin jangka panjang mulai berhenti menjual aset mereka, yang mengindikasikan adanya ketahanan di tengah tekanan pasar.

    Dari sisi harga, pasar kripto masih menunjukkan pergerakan campuran. Bitcoin tercatat naik 1,78% dalam 24 jam terakhir ke kisaran 89.412 dolar AS, sementara Ethereum menguat 2,25% ke level sekitar 3.048 dolar AS. Volume perdagangan Ethereum juga meningkat 7,12%, menandakan aktivitas pasar yang masih tinggi.

    Hingga kini, BlackRock belum memberikan pernyataan resmi terkait alasan di balik transfer aset tersebut. Ketidakjelasan ini membuat pelaku pasar tetap waspada, mengingat setiap langkah manajer aset terbesar di dunia kerap menjadi sinyal penting bagi arah pasar kripto ke depan.

    Baca juga: BlackRock Resmi Ajukan ETF Staked Ethereum, Langkah Bersejarah!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Dana Segar $1 Miliar Masuk! ETF Bitcoin Bikin Pasar Bergairah Lagi?

    Arus dana ke produk exchange-traded fund (ETF) Bitcoin di Amerika Serikat kembali menguat, mencatat enam hari berturut-turut inflow dan hampir mencapai US$1 miliar sejak awal Maret. Tren ini terjadi bersamaan dengan kenaikan harga Bitcoin yang signifikan dalam periode yang sama.

    Data terbaru menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset kripto mulai pulih meski kondisi global masih diliputi ketidakpastian.

    ETF Bitcoin Catat Inflow 6 Hari Beruntun

    ETF Bitcoin spot yang terdaftar di AS mencatat inflow selama enam hari berturut-turut, menjadi tren terpanjang sejak Oktober 2025.

    Pada hari terakhir periode tersebut, ETF mencatat tambahan dana sebesar US$199,4 juta. Produk dari BlackRock dan Fidelity menjadi kontributor utama, masing-masing menyumbang US$139,4 juta dan US$64,5 juta.

    Secara total, sejak 9 Maret, inflow ETF Bitcoin telah mencapai sekitar US$962,8 juta.

    Harga Bitcoin Ikut Melonjak

    Sejalan dengan masuknya dana tersebut, harga Bitcoin juga mengalami kenaikan lebih dari 12%.

    Harga BTC naik dari sekitar US$65.960 menjadi US$74.250 dalam periode yang sama, mencerminkan hubungan erat antara arus dana institusional dan pergerakan harga pasar.

    Kenaikan ini juga menandai pemulihan setelah periode volatilitas yang dipicu oleh faktor makroekonomi global.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, arus dana ini menunjukkan permintaan institusional kembali agresif meski ketegangan geopolitik dan volatilitas minyak belum reda.

    “Kalau inflow ETF tetap konsisten, BTC punya bantalan demand yang kuat untuk menjaga momentum naik, tapi lonjakan FOMO juga bikin pasar lebih rawan pullback jangka pendek kalau aliran dana mulai melambat,” jelasnya.

    Baca juga: ETF Ethereum Staking Pertama BlackRock Catat Debut Kuat di Pasar

    Sentimen Pasar Mulai Membaik

    Meskipun ketegangan geopolitik, khususnya terkait Amerika Serikat dan Iran, masih berlangsung, sentimen pasar kripto menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

    Dilaporkan Cointelegraph, beberapa laporan menyebutkan bahwa spekulasi mengenai potensi meredanya konflik turut mendorong kenaikan harga Bitcoin.

    Selain itu, indikator Fear & Greed Index juga mengalami peningkatan dan mulai keluar dari zona “Extreme Fear,” menandakan membaiknya kepercayaan investor.

    FOMO Kembali Muncul di Pasar

    Data dari Santiment menunjukkan bahwa tingkat fear of missing out (FOMO) di pasar kripto kini berada pada level tertinggi sejak awal Januari.

    Hal ini mengindikasikan bahwa investor mulai kembali melihat peluang pertumbuhan di sektor kripto dalam beberapa waktu ke depan.

    Meski demikian, analis tetap mengingatkan bahwa kondisi pasar masih dipengaruhi oleh faktor eksternal, sehingga pergerakan harga dapat berubah dengan cepat.

    Dengan kombinasi arus dana yang kuat dan sentimen yang mulai pulih, pasar kripto saat ini memasuki fase penting yang dapat menentukan arah tren selanjutnya.

    Baca juga: BlackRock Resmi Ajukan ETF Staked Ethereum, Langkah Bersejarah!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • OJK Siapkan Aturan ETF Kripto, Begini Respons Pelaku Pasar


    Jakarta

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Indonesia tengah mengkaji penerapan Exchange-Traded Fund (ETF) berbasis aset kripto, demi menyediakan instrumen investasi yang lebih beragam dan terjangkau bagi masyarakat. Langkah ini disambut baik oleh pelaku pasar.

    CEO INDODAX Oscar Darmawan menilai ETF kripto berpotensi menjadi solusi bagi investor yang ingin berpartisipasi dalam ekosistem aset digital dengan pendekatan yang lebih terstruktur, transparan, dan diawasi oleh regulator.

    “Langkah OJK untuk menghadirkan regulasi ETF kripto sangat positif bagi industri ini. ETF bisa menjadi jembatan bagi investor tradisional yang ingin masuk ke aset digital tanpa harus menghadapi kompleksitas teknis dalam penyimpanan dan keamanan aset kripto,” kata Oscar, dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (16/2/2025).


    Menurut Oscar, bila regulasi ini diterapkan dengan baik, akan mendorong lebih banyak investor institusional masuk. Kondisi ini pada akhirnya akan meningkatkan likuiditas serta stabilitas pasar kripto di Indonesia.

    Selain itu, Oscar juga menilai, lonjakan jumlah investor ini menunjukkan semakin besarnya kepercayaan masyarakat terhadap aset kripto sebagai instrumen investasi alternatif. Dengan regulasi ETF yang akan diterapkan, ia optimistis pertumbuhan pasar kripto Indonesia akan
    semakin inklusif dan menarik bagi berbagai jenis investor.

    “Tren adopsi aset kripto di Indonesia sangat menjanjikan. Regulasi ETF kripto yang tengah dikaji OJK bisa menjadi katalis utama dalam mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan,” ujar Oscar.

    “Jika regulasi ini diberlakukan dengan tepat, kita bisa melihat peningkatan signifikan dalam partisipasi investor institusional serta berkembangnya berbagai produk investasi berbasis kripto yang lebih inovatif,” sambungnya.

    Dengan kondisi pasar yang terus berkembang dan inisiatif regulator untuk memperkenalkan ETF kripto, INDODAX optimistis bahwa industri aset digital di Indonesia akan semakin stabil, inklusif, dan menarik bagi investor di semua level.

    Sebagai informasi, OJK tengah mengkaji penerapan ETF berbasis aset kripto. Ditargetkan penerapan ETF ini akan selesai pada tahun 2025 dan memberikan kepastian hukum bagi pelaku industri serta perlindungan bagi investor.

    ETF berbasis kripto sendiri merupakan instrumen investasi yang memungkinkan investor mendapatkan akses terhadap aset kripto tanpa harus secara langsung membeli dan menyimpannya. Dengan ETF, investor dapat memperdagangkan aset kripto dalam bentuk reksa dana yang terdaftar di bursa efek, sehingga memberikan akses lebih mudah dan aman bagi berbagai kalangan investor.

    Kajian ini dilaksanakan OJK dengan tujuan untuk memastikan bahwa regulasi dan penerapan ETF berbasis kripto dapat meminimalisir risiko yang mungkin muncul dari volatilitas tinggi aset kripto. Keputusan mengenai jenis aset kripto yang dapat digunakan sebagai underlying asset ETF akan didasarkan pada kriteria tertentu yang memastikan keberlanjutan dan keamanan pasar.

    Di samping itu, langkah ini mengindikasikan komitmen OJK untuk memfasilitasi pertumbuhan ekosistem kripto yang aman dan terkendali di Indonesia, seiring dengan meningkatnya jumlah investor kripto yang tercatat mencapai 22,91 juta orang pada akhir 2024, dan total nilai transaksi yang mencapai Rp 650,61 triliun.

    Simak juga Video ‘Nasihat Pakar Seusai Bitcoin Gagal Tembus Puncak USD 100 Ribu’:

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Transaksi Kripto RI Ambruk Gegara Aksi Ambil Untung Investor


    Jakarta

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat adanya penurunan transaksi kripto yang signifikan secara bulanan (month-to-month/mtm). Transaksi mata uang digital ini tercatat sebesar Rp 32,31 triliun pada Juni 2025, turun 34,83% dari Rp 49,57 triliun di bulan Mei.

    Chairman Indodax Oscar Darmawan menjelaskan penurunan transaksi kripto merupakan hal yang normal terjadi dalam dinamika pasar. Ia menyebut, pelemahan jumlah transaksi itu juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor global dan domestik.

    “Penurunan nilai transaksi kripto dari Rp 49,57 triliun di bulan Mei menjadi Rp 32,31 triliun di bulan Juni 2025 memang mencerminkan adanya siklus normal dalam dinamika pasar kripto,” terang Oscar saat dihubungi detikcom, Jumat (8/8/2025).


    Secara global, terang Oscar, dinamika pasar pada bulan Juni sempat mengalami fase konsolidasi usai bullish rally dari pertama kali konfirmasi kenaikan pada bulan April. Dalam kondisi tersebut, banyak investor yang ambil untung atau profit taking.

    “Beberapa investor cenderung melakukan profit-taking, sehingga volume transaksi menurun,” terangnya.

    Selain itu, pasar kripto secara global juga masih menanti sentimen baru yang cukup kuat untuk mengembalikan posisi transaksi. Beberapa sentimen tersebut mencakup penerbitan lisensi ETF baru atau adopsi kripto yang dilakukan oleh institusi. Menurutnya, hal ini yang mendorong para investor cenderung wait-and-see.

    Meski begitu, Oscar meyakini ekosistem kripto di RI akan terus tumbuh. Hal ini didorong peralihan pengawasan kripto dari Bappebti ke OJK. Menurutnya, ini adalah langkah strategis untuk memperkuat tata kelola industri.

    “Jadi meskipun ada fluktuasi jangka pendek dalam volume transaksi, secara fundamental industri ini terus bertumbuh dan bergerak menuju arah yang lebih sehat dan teratur,” ujar dia.

    Diberitakan sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Hasan Fawzi, menyebut adanya tren penurunan transaksi, menjadi sebesar Rp 32,31 triliun di bulan Juni dari posisi Mei 2025 yang tercatat Rp 49,57 triliun.

    Sementara secara akumulasi, nilai transaksi aset kripto sepanjang 2025 mencapai Rp 224,11 triliun. Di sisi lain, jumlah pengguna kripto sendiri terpantau naik di bulan Juni, menjadi sebesar 15,85 juta dari 15,07 juta di bulan sebelumnya.

    “Per Juni 2025 jumlah konsumen berada dalam tren peningkatan yaitu mencapai angka 15,85 juta konsumen, meningkat signifikan 5,18% dibanding posisi Mei 2025,” ungkapnya dalam konferensi pers RDK secara virtual, Senin (4/8/2025).

    Lihat juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Aplikasi Saham Terbaik di Indonesia 2025


    Jakarta

    Tahun 2025 menghadirkan banyak peluang baru bagi para trader dan investor. Walaupun sempat diwarnai isu tarif serta kebijakan makro yang dapat menekan pasar, bursa Amerika Serikat (AS) dan Indonesia tetap menunjukkan performa yang solid.

    Hingga 3 September 2025, S&P 500 telah mencatat pertumbuhan 8,68% sejak awal tahun, sementara IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) melonjak 10,86%. Namun, jika melihat lima tahun terakhir, pasar saham AS masih mendominasi. S&P 500 tumbuh +83,4%, sedangkan IHSG +50,5%, menandakan reli Wall Street yang konsisten dalam jangka panjang.

    Kinerja positif tahun ini sebagian besar ditopang oleh saham-saham teknologi dan AI seperti Nvidia (NVDA), Meta (META), Microsoft (MSFT), dan Google (GOOG) yang semuanya mencatat pertumbuhan dua digit-bahkan Nvidia naik lebih dari 25%. Meski momentum tahun ini begitu kuat, daya tahan pasar sangat bergantung pada kedalaman likuiditas.


    Perbedaan skala sangat terasa: kapitalisasi 50 emiten terbesar Indonesia hanya sekitar US$405 miliar, jauh di bawah kapitalisasi Nvidia yang sudah menembus US$4 triliun (Companies Market Cap). Skala yang berbeda ini berpengaruh pada kemudahan eksekusi dan daya tarik bagi dana global.

    Dari sisi kebijakan, sentimen positif turut menguat seiring ekspektasi penurunan suku bunga The Fed sebesar 25 bps pada 17 September 2025-dari kisaran 4,25% – 4,50%-dengan probabilitas sekitar 89,7% (CME FedWatch Tool, data 3 September 2025). Penurunan suku bunga ini umumnya dipandang sebagai katalis bagi aktivitas bisnis dan kenaikan valuasi aset berisiko, sehingga membuka peluang bagi investor untuk memanfaatkan momentum yang ada.

    Dalam situasi dinamis seperti ini, aplikasi saham dengan fitur perdagangan real-time, notifikasi harga, akses data pasar, biaya transaksi rendah, dan kemudahan pemantauan portofolio menjadi sangat penting. Pilihan aplikasi saham di Indonesia pun semakin beragam, masing-masing menawarkan keunggulan dan kekurangan.

    Pembahasan berikut akan mengulas lima aplikasi saham teratas agar pembaca dapat membandingkan fitur, biaya, dan aspek keamanan sebelum memilih aplikasi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan gaya investasi mereka.

    1. Pluang

    Pluang kian memantapkan posisinya sebagai salah satu aplikasi saham terbaik di Indonesia. Bertumpu pada ekosistem multi-aset yang luas dan basis lebih dari 12 juta pengguna, aplikasi ini menawarkan pengalaman investasi digital yang aman, berizin dan diawasi Bappebti dan OJK.

    Lewat satu aplikasi, pengguna dapat mengakses 1.000+ produk investasi-mulai dari crypto, saham & ETF Amerika Serikat (AS), emas, reksa dana, hingga crypto futures dan options saham AS-dengan struktur biaya yang kompetitif.

    Fitur & Keunggulan

    • Pelopor Saham AS & ETF: akses ke 650 saham dan ETF populer, termasuk Google, Apple, dan Microsoft.

    • Saham fraksional asli: kepemilikan riil atas nama pribadi investor (bukan CFD) dengan hak atas dividen.

    • Perdagangan 24 jam (Senin-Sabtu) untuk Saham AS & ETF-yang pertama di Indonesia.

    • Rating 4.8 di Google Play Store.

    • Leverage hingga 4× untuk saham AS & ETF.

    • USD Yield hingga 4,13%.

    • Options: 650+ underlying, 10 strike, expiry hingga 1 tahun, termasuk 0DTE.

    • Pro Features: advanced order, take profit, dan stop loss, plus akses web trading berbasis TradingView gratis untuk analisis teknikal yang lebih presisi.

    Dari sisi keamanan, Pluang beroperasi melalui PT PG Berjangka untuk saham AS, ETF, dan Options. PT PG Berjangka berizin dan diawasi oleh OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek

    Catatan Risiko

    Meski berada dalam pengawasan regulator, produk saham AS, ETF, dan options tetap memiliki risiko: harga dapat berfluktuasi, nilai options bisa menyusut saat jatuh tempo, dan penggunaan leverage meningkatkan eksposur risiko.

    2. IPOT (Indo Premier)

    IPOT adalah platform investasi yang menghadirkan perdagangan saham dan instrumen pasar modal lewat web dan aplikasi seluler.

    Fitur & Keunggulan

    • Web & Mobile Trading: Real time execution dengan otomatisasi RoboTrading.

    • Tools: Charting, indikator teknikal, auto-orders, serta fitur chat.

    • Full support: saham, ETF, reksa dana, dan obligasi.

    Platform ini cocok untuk investor maupun trader yang menginginkan ekosistem dari grafik real-time dan kalender aksi korporasi.

    Catatan Risiko

    Meskipun PT Indo Premier Sekuritas berizin dan diawasi regulator, pengguna tetap perlu memahami risiko pasar (fluktuasi harga saham/ETF dan risiko suku bunga obligasi), serta meninjau biaya transaksi dan kewajiban pajak yang berlaku sebelum bertransaksi.

    3. Mandiri Sekuritas (Growin’)

    Growin’ adalah platform investasi dari Mandiri Sekuritas yang mendukung transaksi saham Indonesia, serta akses ke reksa dana dan obligasi dalam satu ekosistem digital.

    Fitur & Keunggulan

    • Mendukung penuh perdagangan saham Indonesia melalui ekosistem Growin’ (aplikasi mobile, web, dan integrasi di Livin’ by Mandiri).

    • Trade Now, Pay Later: bisa meminjam hingga 2,8× dari net cash dan 1,81× dari nilai portofolio.

    Platform ini sangat cocok untuk investor ritel yang menginginkan pengalaman trading cepat dan informatif-mulai dari data pasar real-time dan riset di aplikasi, tampilan Pro View untuk trader aktif, hingga akses via Livin’ by Mandiri untuk kemudahan setoran/penarikan.

    Catatan Risiko

    Investasi saham memiliki risiko pasar (harga dapat berfluktuasi). Penggunaan fasilitas margin Trade Now, Pay Later menimbulkan kewajiban pembiayaan dan tunduk pada syarat & ketentuan-nasabah perlu memahami ketentuan serta profil risikonya sebelum menggunakan fasilitas tersebut.

    4. Semesta (Semesta Online Trading)

    Semesta Online Trading adalah fasilitas perdagangan saham daring yang tersedia di mobile dan desktop untuk memudahkan investor bertransaksi dan memantau pasar.

    Fitur & Keunggulan

    Platform ini cocok untuk investor maupun trader yang membutuhkan akses perdagangan saham BEI lewat aplikasi dan web dengan informasi pasar yang komprehensif dan pemantauan portofolio

    Catatan Risiko

    Meskipun PT Semesta Indovest Sekuritas berizin dan diawasi regulator, pengguna tetap perlu memahami risiko pasar seperti fluktuasi harga saham, serta meninjau biaya transaksi dan ketentuan pajak yang berlaku sebelum bertransaksi.

    5. Ajaib (Saham)

    Ajaib adalah platform investasi saham dan reksa dana di Indonesia yang tersedia melalui aplikasi dan web untuk memudahkan pembukaan rekening dan transaksi ritel.

    Fitur & Keunggulan

    • Produk: akses ke seluruh saham yang tercatat di BEI dan produk reksa dana.

    • Web & Mobile Trading: transaksi saham BEI & reksa dana via aplikasi & web.

    • Tools: auto-order (take profit/stop loss), dan price alerts.

    Platform ini cocok untuk investor maupun trader yang mencari akses penuh ke saham BEI dan reksa dana dengan antarmuka aplikasi/web yang ringan.

    Catatan Risiko

    Meskipun PT Ajaib Sekuritas Asia berizin dan diawasi regulator, investasi pasar modal tetap mengandung risiko-harga saham/NAV reksa dana dapat berfluktuasi-serta biaya dan ketentuan pajak yang perlu diperhatikan sebelum bertransaksi.

    Tips Memilih Aplikasi Saham

    • Pastikan aplikasi beroperasi melalui perusahaan sekuritas berizin dan diawasi OJK.

    • Pertimbangkan biaya transaksi (fee beli/jual), minimum setoran RDN, dan fitur yang Anda butuhkan.

    • Pilih aplikasi dengan keamanan data dan dana yang jelas.

    • Manfaatkan materi edukasi untuk memahami cara kerja pasar dan fitur aplikasi sebelum berinvestasi riil.

    • Sesuaikan pilihan dengan profil risiko dan tujuan investasi Anda (dividen, pertumbuhan, atau trading aktif).

    Kesimpulan

    Dalam dinamika pasar 2025 dan percepatan adopsi teknologi finansial, setiap aplikasi saham menghadirkan nilai tawar yang berbeda-baik dari sisi ragam produk, keunggulan fitur, maupun struktur biaya yang ditawarkan. Penting bagi investor untuk membandingkan aspek-aspek tersebut secara menyeluruh, serta memastikan kepatuhan regulasi, khususnya untuk aplikasi global yang belum memiliki izin resmi dari regulator.

    Sepanjang 2025, Pluang terlihat menonjol sebagai salah satu aplikasi saham terdepan berkat akses ke 650+ Saham AS dan ETF, USD Yield hingga 4,13%, serta options dengan 650+ underlying-ditopang rating tinggi di Google Play Store (saat ini tercatat 4,8/5). Dari sisi keamanan, Pluang berizin dan diawasi OJK dan Bappebti.

    Pada akhirnya, keputusan tetap bergantung pada tujuan dan profil risiko masing-masing investor. Pastikan untuk memanfaatkan materi edukasi sebelum mencoba fitur berisiko tinggi seperti leverage dan options, cermati biaya serta implikasi pajak, dan pilih aplikasi yang paling sesuai dengan strategi investasi Anda.

    (akn/ega)



    Sumber : finance.detik.com

  • Bitcoin Diramal Bisa Tembus Rp 2,15 Miliar


    Jakarta

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC) terpantau terus menguat. Beberapa waktu lalu, salah satu aset kripto ini sempat menembus level tertinggi mingguan di harga US$ 126.198 atau sekitar Rp 2,09 miliar (asumsi kurs Rp 16.588) sebelum akhirnya turun di level US$ 121.382 atau sekitar Rp 2,01 miliar per hari ini, Jumat (10/10/2025).

    Berdasarkan analisis Tokocrypto, BTC masih memiliki potensi penguatan atau bullish dengan area support berada di US$ 119.500, bertepatan dengan level Fibonacci 50%. Sementara resistensi kuat di US$ 124.850 menjadi sinyal potensi kenaikan ke level US$ 130.000 atau sekitar Rp 2,15 miliar.

    Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai volatilitas rendah yang terlihat pada Bollinger Band squeeze justru menjadi sinyal menarik. Adapun saat ini, ia menilai dinamika pasar tengah memasuki fase konsolidasi sehat.


    “Jika BTC mampu bertahan di atas US$ 120.000 dan menembus US$ 124.850, peluang menuju US$ 130.000 terbuka lebar. Namun, kegagalan mempertahankan level US$ 119.500 dapat memicu koreksi jangka pendek hingga US$ 117.000,” jelasnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (10/10/2025).

    Ia menjelaskan, harga BTC naik 0,64% dalam 24 jam terakhir pada 9 Oktober 2025, menjadi sekitar US$ 122.273 atau sekitar Rp 2,0 miliar, melanjutkan tren positif mingguan sebesar +3,07% dan bulanan +9,22%.

    Penguatan harga BTC ini didorong peningkatan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, meningkatnya permintaan institusional melalui ETF, dan kekuatan teknikal harga di atas level support. Berdasarkan risalah rapat FOMC yang dirilis beberapa waktu lalu, tercermin sinyal dovish dari para pejabat The Fed.

    Sebagian besar peserta menilai pelonggaran kebijakan moneter tepat dilakukan untuk sisa tahun ini. Data CME FedWatch menunjukkan adanya peluang 92,5% pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 29 Oktober.

    Investor menilai pelonggaran moneter ini akan melemahkan daya tarik dolar AS dan mendorong minat pada aset langka seperti BTC. Fyqieh menyebut, kebijakan ekspansif Amerika Serikat (AS), termasuk injeksi dana US$ 2,5 triliun melalui program Reverse Repo, menjadi sinyal bullish BTC.

    “Kebijakan moneter longgar mengurangi daya tarik aset berbasis fiat dan memperkuat narasi Bitcoin sebagai aset lindung nilai terhadap pelemahan dolar AS. Seperti tahun 2020-2021, penurunan imbal hasil riil biasanya diikuti lonjakan permintaan kripto, khususnya BTC,” jelasnya.

    Sementara adopsi BTC bagi investor institusi juga turut meningkat. Berdasarkan data Bitwise, total inflow mencapai US$ 22,5 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Angka ini diproyeksikan meningkat hingga US$ 30 miliar pada akhir tahun.

    Fyqieh memperkirakan arus masuk ETF akan mencetak rekor baru di kuartal IV karena meningkatnya perhatian investor ritel dan institusi terhadap BTC. Namun, ia tetap memperingatkan risiko eksternal.

    “Kunci penggerak Bitcoin ke depan ada pada keseimbangan antara kebijakan The Fed dan kekuatan inflow ETF. Jika The Fed menunda pemangkasan suku bunga, arus masuk ETF harus tetap kuat agar tren bullish tidak kehilangan momentum,” tutupnya.

    Lihat juga Video: Mengenal El Salvador, Negara yang Cuan Banget Lewat Bitcoin

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Mulai Bangkit, Ini Pemicunya


    Jakarta

    Harga bitcoin (BTC) kembali naik dan menembus level US$ 92.000 pada Selasa malam hingga Rabu pagi waktu Indonesia. Hal ini didorong penguatan minat institusi keuangan global terhadap aset digital, serta pemulihan sentimen pasar setelah penurunan tajam akhir pekan lalu.

    Lonjakan harga bitcoin ini tejadi setelah sebelumnya mengalami tekanan pasar yang memicu likuidasi lebih dari US$ 250 juta pada pekan lalu. Beberapa keputusan strategis dari institusi besar menjadi katalis penting dalam penguatan harga bitcoin kali ini.

    “Penerimaan institusi besar menjadi faktor utama dalam kenaikan bitcoin. Langkah Goldman Sachs, Vanguard, hingga Bank of America membuka akses lebih luas terhadap produk berbasis bitcoin telah meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset kripto,” kata Vice President Indodax Antony Kusuma, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (4/12/2025).


    Adapun keputusan strategis yang dimaksud antara lain kabar Goldman Sachs akan mengakuisisi Innovator Capital Management dalam kesepakatan senilai sekitar US$ 2 miliar. Innovator menerbitkan ETF yang memungkinkan investor tradisional mendapatkan akses bitcoin melalui instrumen yang terkelola dan sesuai aturan pasar. Akuisisi ini memperkuat posisi Goldman dalam ekosistem ETF, khususnya ketika permintaan produk terkait bitcoin terus meningkat.

    Di saat yang sama, Vanguard yang selama bertahun-tahun menolak aset digital, resmi membuka akses perdagangan ETF Bitcoin di platformnya. Keputusan ini memberi puluhan juta klien mereka berkesempatan untuk mendapatkan eksposur terhadap bitcoin melalui instrumen yang diatur.

    Langkah ini menyusul perubahan kebijakan Bank of America yang mulai memperbolehkan 15.000 penasihat keuangannya memberikan rekomendasi alokasi bitcoin sebesar 1-4% kepada nasabah mereka.

    Di samping itu, Antony menambahkan, pemulihan harga bitcoin kali ini juga dipengaruhi oleh dinamika pasar jangka pendek. Setelah terkoreksi ke area US$ 83.800-84.000 dan memicu likuidasi besar, pasar langsung menunjukkan minat beli yang kuat.

    “Volume perdagangan global meningkat signifikan dalam 24 jam. Rebound ini menunjukkan respons cepat pasar terhadap level support yang cukup kuat,” jelasnya.

    Sentimen makro turut memberi warna pada pergerakan harga. Berakhirnya program Quantitative Tightening (QT) pada Senin (1/12) oleh Federal Reserve (The Fed) juga menjadi salah satu katalis utama yang memperkuat likuiditas pasar.

    The Fed menutup QT dengan menyuntikkan sekitar US$ 13,5 miliar melalui operasi repo harian, salah satu injeksi likuiditas terbesar sejak masa pandemi. Peningkatan likuiditas ini biasanya mendukung aset berisiko, termasuk kripto, karena tekanan kebijakan moneter mulai mereda.

    Di samping itu, saat ini pasar global tengah menanti keputusan The Fed pada pertemuan 9-10 Desember 2025 terkait kebijakan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin. Ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar secara historis menjadi pendorong utama minat terhadap aset berisiko termasuk bitcoin.

    Meskipun volatilitas masih tinggi, Antony mengatakan, perkembangan terbaru menunjukkan adopsi institusional yang semakin kuat. Langkah institusi besar masuk ke aset digital memberikan sinyal positif mengenai penerimaan jangka panjang terhadap bitcoin.

    “Namun investor kripto tetap perlu berhati-hati, tidak FOMO, serta menggunakan strategi investasi jangka panjang seperti dollar-cost averaging (DCA) dan manajemen risiko yang disiplin,” kata Antony.

    Simak Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com