Tag Archives: hadits

Hadits Ziarah Kubur sebagai Pengingat Mati dan Akhirat



Jakarta

Ziarah kubur telah menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia, terutama menjelang Ramadan dan saat Hari Idul Fitri. Di balik ziarah kubur ini, ternyata Rasulullah SAW menyebut ada hikmah yang bisa diambil oleh manusia, apa itu?

Menukil buku Fiqih Doa & Dzikir Jilid 2 susunan Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, terdapat hadits riwayat Buraidah bin Al-Hashib, di mana Rasulullah SAW bersabda:

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ القُبُورِ، فَزُورُوْهَا


Artinya: “Sungguh dahulu aku melarang kamu ziarah kubur, maka ziarahilah ia.” (HR Muslim, Ahmad, Nasa’i & lainnya.)

Dalam riwayat Imam Ahmad ada penambahan bahwa Rasulullah SAW menuturkan:

فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ

Artinya: “Sungguh ia mengingatkan kamu akan akhirat.” (HR Ahmad)

Selain itu, dalam hadits lain yang diriwayatkan Muslim, ada yang berbunyi:

فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَزُوْرَ فَلْيَزُرْ، وَلَا تَقُوْلُوْا: هُجْرًا

Artinya: “Barang siapa ingin ziarah maka hendaklah dia ziarah, dan jangan kamu mengucapkan ‘hujran’.” (HR Muslim)

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani melalui Ahkaamul Janaa’iz wa Bid’ihaa mengungkap, tujuan disyariatkannya ziarah kubur sebagaimana memahami hadits di atas. Menurutnya, peziarah bisa mengingat kematian dan orang mati, serta meyakini bahwa ada kehidupan akhirat yang menjadi tempat kembalinya manusia setelah meninggalkan dunia.

Begitu juga yang dikemukakan oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Syarah Riyadhush Shalihin, “Illat atau alasan dalam ziarah kubur adalah untuk mengingat akhirat, melembutkan hati, meneteskan air mata, mengingat kematian, dan memperpendek angan-angan.”

Dalam buku Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq turut berpendapat hikmah ziarah kubur untuk mengingat (kematian) dan mengambil pelajaran. Bila tujuannya benar demikian, menurutnya mengunjungi makam orang kafir juga diperbolehkan.

Adab Ziarah Kubur

Melalui riwayat Buraidah bin Al-Hashib di atas pula, Rasulullah SAW mengajarkan adab berziarah kubur yang baik dan benar.

Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr menyebut kata ‘hujran’ pada hadits tersebut memiliki arti, “Semua yang batil dari perkataan”. Untuk itu, muslim yang berziarah hendaknya tidak berdoa dengan meminta kepada penghuni kubur, memohon pertolongan mereka, tawasul dengan mereka, meminta keberkahan dari mereka, dan selainnya yang termasuk kebatilan serta kesesatan.

Adapun sebaiknya, saat mengunjungi makam, peziarah memohonkan ampunan Allah SWT untuk ahli kubur. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Aisyah RA, beliau menuturkan:

“Sungguh (malaikat) Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Rabbmu memerintahkanmu untuk datang kepada peghuni Baqi, dan memohonkan ampunan untuk mereka’,” Aisyah berkata, “Aku mengatakan, ‘Bagaimana yang aku ucapkan untuk mereka wahai Rasulullah SAW?”

Beliau SAW bersabda:

قُوْلِي: السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلَاحِقُوْنَ

Artinya: “Ucapkanlah; Salam atas penghuni pemukiman yang terdiri dari orang-orang mukmin dan muslim. Semoga Allah merahmati orang-orang terdahulu dari kita dan orang-orang belakangan. Sungguh kami -insya Allah- benar-benar akan menyusul kamu.” (HR Muslim)

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

6 Doa agar Diberikan Kesehatan, Amalkan Setiap Hari!



Jakarta

Kesehatan merupakan nikmat yang Allah SWT berikan kepada hamba-hamba-Nya dan tak ternilai harganya. Sebagai bentuk rasa syukur, ada doa yang bisa dipanjatkan.

Nikmat kesehatan adalah anugerah yang tak ternilai, ditunjukkan dari banyaknya orang yang rela mengeluarkan uang dalam jumlah yang besar untuk kesembuhan penyakitnya.

Namun, terkadang seseorang yang diberi nikmat kesehatan lupa bersyukur atas kesehatannya. Sering kali, umat manusia baru menyadari nikmatnya diberi kesehatan ketika sedang mengalami sakit.


Dalam sebuah hadits turut disebutkan dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh manusia termasuk kesehatan. Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Artinya: “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR Bukhari no. 5933).

Oleh sebab itu, umat muslim perlu menjaga nikmat kesehatan yang telah dianugerahkan salah satunya dengan berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kesehatan dan umur yang panjang agar senantiasa dapat melakukan amal kebaikan.

Berikut ini di antaranya beberapa doa agar diberikan kesehatan yang bisa diamalkan sehari-hari oleh umat muslim sebagaimana dikutip dari buku Kumpulan Doa Mustajab Pembuka Pintu Rezeki dan Kesuksesan oleh Deni Lesmana dan buku Pasti Ada Jalan karya Ibnu Thahir.

Doa agar Diberikan Kesehatan

1. Doa agar Diberi Kesehatan Lahir dan Batin

اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اَللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الكُفْرِ وَالفَقْرِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ القَبْر لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ

Latin: Allahumma ‘aafinii fii badanii, Allahumma ‘aafinii fii sam’ii. Allahumma ‘aafini fii bashorii. Allahumma innii a’uudzu bika minal kufri wal faqri. Allahumma innii a’udzu bika min ‘adzaabil qobri. Laa ilaaha illaa anta.

Artinya: “Ya Allah, berilah keselamatan pada badanku. Ya Allah, berilah keselamatan pada pendengaranku. Ya Allah, berilah keselamatan pada penglihatanku. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kekafiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Tidak ada Tuhan yang pantas disembah kecuali Engkau.”

2. Doa agar Diberi Panjang Umur, Kesehatan, dan Kebahagiaaan

اللَّهُمَّ طَوِلْ عُمُوْرَنَا وَصَحِيحُ أَجْسَادَنَا وَنَوْرْ قُلُوْبَنَا وَثَبِّتْ إِيْمَانَنَا وَأَحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَوَسِعْ أَرْزَاقَنَا وَإِلَى الْخَيْرَ قَرِبْنَا وَعَنِ الشَّرِ أَبْعِدْنَا وَاقْضِ حَوَائِجَنَا فِي الدِّين وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Latin: Allahumma thowwil ‘umuuronaa, wa shohhih ajsaadanaa, wa nawwir quluubanaa, wa tsabbit iimaananaa, wa ahsin a’maalanaa, wa wassi’ arzaaqonaa, wa ilal khori qorribnaa, wa ‘anisy syarri ab’idnaa, waqdhi hawaa ‘ijanaa fid dun-yaa wal aakhiroh, innaka ‘alaa kulli syai’ing qodiir.

Artinya: “Ya Allah, panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad-jasad kami, sinarilah hati-hati kami, teguhkanlah iman kami, baguskanlah perbuatan kami, lapangkanlah rezeki kami, dekatkanlah kami kepada kebaikan, jauhkanlah kami dari keburukan, dan penuhilah hajat-hajat kami, baik dalam urusan agama, dunia, maupun akhirat. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.”

3. Doa agar Disembuhkan dari Suatu Penyakit dan Diberi Kesehatan

اللهُم رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ إِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لأَشِفَاءَ إِلا شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

Latin: Allahumma robban naasi adzihili ba’sa isyfi antasy syaafii laa syifaa-a illaa syifaa-uka syifaa-an laa yughoodiru saqaman.

Artinya: “Ya Allah, Tuhan yang menguasai manusia, angkatlah penyakit ini. Sembuhkanlah, sebab hanya Engkau Dzat yang bisa menyembuhkan. Tiada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tak lagi dihinggapi penyakit.”

رَبُّنَا اللَّهُ الَّذِي فِي السَّمَاءِ تَبَارَكَ اسْمُكَ أَمْرُكَ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ كَمَا رَحْمَتُكَ فِي السَّمَاءِ أَنْزِلْ رَحْمَةً مِنْ رَحْمَتِكَ وَشِفَاءً مِنْ شِفَائِكَ عَلَى هَذَا الوَجْعِ

Latin: Robbunallahul ladzii fis samaa-i tabaarokasmuka, amruka fis samaa-i wal ardhi kamaa rohmatuka fis samaa-i, angzil rohmatan min rohmatika wa syifaa-an ming syifaa-ika ‘alaa haadzal waj’i.

Artinya: “Ya Allah, Tuhan kami yang (singgasana-Nya) berada di langit! Mahasuci nama-Mu. Perintah-Mu ada di langit dan di bumi. Sebagaimana rahmat-Mu yang ada di langit, turunkanlah rahmat-Mu (ke bumi) dan turunkanlah obat-Mu atas sakit ini.”

4. Doa agar Terhindar dari Penyakit Parah

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ الدَّاعِمَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَالفَوْزُ بِاالْجَنَّةِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ

Latin: Allahumma innii a’uudzu bika minash shomami wal bukmi wal junuuni wal judzdzaami wal baroshi wa sayyi’il asqoomi.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tuli, bisu, gila, penyakit kusta, penyakit sopak, dan penyakit-penyakit yang ganas.”

5. Doa agar Sehat dan Selalu Berada dalam Lindungan-Nya

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ الدَّاعِمَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَالفَوْزُ بِاالْجَنَّةِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ

Latin: Allahumma inna nas alukal afwa wal afiaya wal mu’aafaatad daa’imata fid dunyaa wal ‘aakhirati wa fauzu bil jannati wannajaati minan naari.

Artinya: “Ya Allah, kami mohon ampunan, kesehatan, dan perlindungan yang terus menerus di dunia dan di akhirat, kemenangan masuk surga, serta keselamatan dari api neraka.”

6. Doa agar Diberi Kesehatan dan Keberkahan Hidup

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَلُكَ سَلاَمَةً فِي الدِّينِ، وَعَافِيَةٌ فِي الْجَسَدِ و زِيَادَةً في العلم، وتركة في الرِّزْقِ، وَتَوْبَةُ قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةٌ بَعْدَ الْمَوْتِ. اَللَّهُمَّ هَوِنْ عَلَيْنَا فِي شَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ.

Latin: Allahumma inna nas’aluka salaamatan fiddini, wa ‘aafiyatan fil jasadi wa ziyaadatan fil ‘ilmi, wa barakatan firrizqi, wa taubatan qablal mauti, wa rahmatan ‘indal mauti, wa maghfiratan ba’dal mauti. Allahumma hawwin ‘alainaa fi sakaraatil mauti wannajaata minannaari wal ‘afwa ‘indalhisaabi.

Artinya: “Ya Allah, kami mohon kepada-Mu keselamatan agama, kesehatan jasmani, bertambah ilmu dan berkah rezeki, dapat bertaubat sebelum mati, mendapat rahmat ketika mati dan mendapatka ampunan setelah mati, ya Allah mudahkanlah kepada kami gelombang sakaratul maut dan selamat dari api neraka dan mendapat maaf ketika dihisab.”

Itulah beberapa doa agar diberikan kesehatan yang bisa diamalkan sehari-hari oleh umat muslim. Semoga bermanfaat ya, detikers!

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Jangan Tinggalkan Salat Witir sebelum Tidur



Jakarta

Rasulullah SAW mewasiatkan kepada sahabatnya untuk mendirikan salat Witir sebelum tidur. Hal ini kemudian menjadi dalil kesunnahan bagi umat Islam.

Hadits tentang wasiat Rasulullah SAW ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Ia berkata,

أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ : صَوْمِ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ


Artinya: “Kekasihku Rasulullah SAW berpesan kepadaku untuk selalu puasa tiga hari setiap bulan, mengerjakan dua rakaat Dhuha dan mengerjakan salat Witir sebelum aku tidur.” (Muttafaq ‘Alaih)

Hadits tersebut dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Tahajud bab Salat Dhuha dan Imam Muslim dalam Kitab Musafir bab Anjuran Salat Dhuha. Imam At-Tirmidzi juga mengeluarkan hadits serupa dalam Sunan at-Tirmidzi.

Imam an-Nawawi menerangkan dalam Kitab Syarah Riyadhus Shalihin sebagaimana disyarah Musthafa Dib al-Bugha dkk, salat Witir sebelum tidur itu disunnahkan bagi orang yang sekiranya tidak bisa bangun di akhir malam. Tetapi, bagi orang yang berkeyakinan bisa bangun di akhir malam maka jauh lebih baik bila mengerjakannya di akhir malam.

Dalam Kitab Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah dijelaskan, mengakhirkan salat Witir merupakan keutamaan dan sesuai dengan haknya. Aisyah RA berkata, “Rasulullah SAW pernah salat Witir pada awal malam, pertengahan dan akhir malam. Witirnya yang terakhir hingga waktu sahur.” (Muttafaq ‘Alaih)

Rasulullah SAW juga bersabda, “Jadikanlah akhir salat kalian pada waktu malam adalah witir (ganjil).” (HR Bukhari dalam Shahih-nya)

Sepertiga malam yang terakhir adalah waktu mustajab. Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Artinya: “Tuhan kami, Maha Berkah dan Maha Tinggilah Dia, yang turun setiap malam ke langit yang terdekat di saat sepertiga malam yang terakhir (dan) berfirman: ‘Adakah seseorang yang menyeru kepada-Ku sehingga Aku dapat mengabulkan doanya, yang memohon kepada-Ku sehingga Aku bisa memberinya, yang mohon ampunan kepada-Ku hingga aku bisa memaafkannya?'” (HR Bukhari dan Muslim)

Jumlah Rakaat Salat Witir

Salat Witir dapat dikerjakan minimal 1 rakaat. Hal ini turut dijelaskan melalui hadits yang termuat dalam Kitab Sunan an-Nasa’i. Amr bin Utsman dan Muhammad bin Shadaqah mengabarkan bahwa Muhammad bin Harb mengatakan dari Zubaidi dari Zuhri dari Salim dari bapaknya dari Nabi SAW yang bersabda,

“Salat malam itu ada dua rakaat-dua rakaat. Jika kamu khawatir akan segera Subuh, maka kerjakanlah salat Witir satu rakaat.” (Muttafaq ‘Alaih)

Rasulullah SAW melarang mengerjakan dua kali salat Witir dalam satu malam. Larangan ini disebutkan dalam Kitab Sunan at-Tirmidzi melalui riwayat Qais bin Thalq yang berkata,

“Ayahku (Thalq bin Ali) mengunjungi kami pada bulan Ramadan dan dia bersama kami sampai sore. Pada hari itu dia salat malam bersama kami kemudian berangkat ke masjid dan salat bersama para sahabatnya. Ketika tersisa salat Witir saja ia memerintahkan seseorang untuk maju sambil berkata kepadanya, ‘Salatlah Witir bersama mereka karena saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak ada dua salat Witir dalam satu malam.'”

(kri/lus)



Sumber : www.detik.com

Doa untuk Orang Sakit bagi Perempuan dan Laki-laki Sesuai Sunnah



Jakarta

Mengunjungi dan mendoakan orang yang sedang sakit adalah bentuk kepedulian muslim terhadap saudaranya. Adapun doa untuk orang sakit baik perempuan dan laki-laki dijelaskan dalam tulisan berikut.

Dikutip dari buku Fiqih Ibadah bagi Orang Sakit dan Bepergian karya Enang Hidayat, menjenguk dan mendoakan orang sakit merupakan hak sesama muslim. Rasulullah SAW bersabda,

“Hak muslim atas muslim lainnya terdapat lima, yaitu; menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan yang bersin.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah)


Adapun keutamaan dari mengunjungi orang sakit diambil dari sebuah hadits Rasulullah SAW adalah sebagai berikut,

. قَالَ: إِذا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَشَى فِي خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ عُدْوَةً صَليَّ عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَقَّ يُفْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ.

Artinya: Rasulullah SAW bersabda: “Jika seseorang berkunjung kepada saudaranya yang muslim (yang sedang menderita sakit), maka seakan-akan dia berjalan-jalan di Surga hingga duduk. Apabila sudah duduk, maka dituruni rahmat dengan deras. Apabila dia berkunjung di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendoakan-nya agar mendapat rahmat hingga sore hari. Apabila dia berkunjung di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya agar diberi rahmat hingga pagi hari.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Doa untuk Orang Sakit bagi Perempuan dan Laki-laki

Mengutip buku Al-Adzkar atau Kitab Induk Doa dan Dzikir karya Imam Nawawi, disebutkan beberapa doa yang dibaca oleh Rasulullah SAW. Salah satunya berbunyi sebagai berikut.

اللَّهُمَّ رَبِّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ ، أَنْتَ الشَّافِيْ لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاء لَا يُغَادِرُ سَقَماً

Arab latin: “Allaahuma rabbin naas, adzhibil ba’sasyfii, antasy syaafi laa syifaa-a illaa syifaa-uka syifaa-an laa yughaadiru saqamaa,”

Artinya: “Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah. Engkaulah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.”

Bacaan doa untuk orang sakit lainnya,

اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَكَ يَنْكَأُ لَكَ عَدُوّاً أَوْ يَمْشِيْ لَكَ إِلَى صَلَاةٍ

Arab latin: “Allaahummasy fii ‘abdaka yanka-u laka ‘aduwwan au yamsyii laka ilaa shalaatin”

Artinya: “Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu ini, sehingga dia bisa menyembuhkan musuh untuk-Mu atau dapat berjalan untuk menunaikan salat.”

Selanjutnya, ketika sedang menjenguk orang yang sakit kemungkinan kita pernah mendengar kata syafakallah dan syafakillah. Dua kata ini terkait dengan doa untuk orang sakit baik perempuan dan laki-laki.

Mengutip dari Menulis Buku, Alternatif bagi Guru karya Ardhi Aditya, syafakallah dan syafakillah adalah ucapan doa bagi orang yang sakit. Arti dari kedua kalimat tersebut adalah semoga Allah menyembuhkanmu.

Jika yang sakit adalah seorang laki-laki, maka doa yang diucapkan adalah syafakallah. Sedangkan jika yang sakit adalah perempuan, maka ucapan yang tepat adalah syafakillah.

Namun, akan berbeda jika orang yang sedang sakit sedang tidak ada di hadapan kita atau seseorang tersebut berposisi sebagai orang ketiga, maka doa yang dapat diucapkan adalah syafahullah bagi laki-laki dan syafahallah bagi perempuan. Arti dari keduanya tetap sama yakni semoga Allah menyembuhkannya.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Keutamaan Menutup Aib Orang Lain dan Larangan Menyebarkannya



Jakarta

Islam melarang para pemeluknya menyebarkan aib orang lain tanpa adanya darurat. Menurut sebuah hadits, Allah SWT akan memberikan balasan dengan menutupi aib saat hari kiamat bagi orang yang menutup aib sesamanya.

Hal tersebut dijelaskan dalam Kitab Syarh Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi dengan bersandar pada riwayat Abu Hurairah RA. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لا يَستُرُ عبدٌ عبدًا في الدنيا إلا سَتَره الله يوم القيامة


Artinya: “Tiada seorang hamba pun yang menutupi cela seorang hamba yang lainnya di dunia, melainkan ia akan ditutupi celanya oleh Allah pada hari kiamat.” (HR Muslim dalam Shahih-nya)

Imam an-Nawawi menjelaskan, balasan tersebut sejenis dengan perbuatan, yakni Allah SWT menutup aibnya bisa jadi dengan menghapus dosanya sehingga ia tidak ditanya atau Allah SWT bertanya kepadanya tentang dosanya tanpa memperlihatkan dosa kepada orang lain, lalu memaafkannya.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Setiap umatku dimaafkan, kecuali orang-orang yang menampak-nampakkan kejahatannya sendiri. Di antara perbuatan menampakkan keburukan sendiri adalah melakukan suatu perbuatan di waktu malam, kemudian di pagi harinya Allah telah menutupi keburukannya itu, namun ia berkata, ‘Hai fulan, aku tadi malam berbuat demikian dan demikian.’ Di malam harinya Allah telah menutupi celanya, namun di pagi harinya ia membuka tabir Allah padanya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Imam Bukhari mengeluarkan hadits tersebut dalam Kitab Adab bab Mukmin Menutup Aib Sendiri dan Imam Muslim mengeluarkannya dalam Kitab Zuhud bab Larangan bagi Seseorang untuk Merobek Tabir Dirinya.

Anjuran untuk menutup orang lain dan keutamaannya juga disebutkan dalam riwayat lain yang termuat dalam Shahih Muslim. Dari Abdullah bin Umar RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda,

“Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain. Ia tidak boleh menzaliminya dan membiarkannya celaka. Siapa yang menanggung kebutuhan saudaranya, Allah menanggung kebutuhannya. Siapa yang meringankan kesulitan seorang muslim, Allah memudahkan baginya satu kesulitan pada hari kiamat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah menutupi aibnya pada hari kiamat.”

Pentingnya Tutupi Aib Orang Lain

Syaikh Abu Abdurrahman Ridha dalam Adabus Salaf fi At-Ta’amul ma’a An-Nas menjelaskan, menyebarkan berita buruk tentang orang-orang beriman sama artinya dengan menyakiti dan mencederai hati mereka, menyingkap cacat, dan aib mereka.

Ia menukil pernyataan Ibnul Jauzi yang termuat dalam Kitab Adz-Dzail ala Thabaqah Al-Hanabilah yang mengatakan pernah mendengar Ibnu Hurairah berkata kepada sebagian dai untuk bersungguh-sungguh menutupi aib orang yang bermaksiat.

“Bersungguh-sungguhlah menutupi aib orang yang bermaksiat, karena menampakkan maksiat mereka di hadapan publik adalah cacat dan dosa bagi kaum muslimin. Sedangkan hal yang paling diutamakan adalah menutupi kekurangan-kekurangan itu.”

Disebutkan dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, Salamah berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menutup aib seorang mukmin, seolah dia menghidupkan bayi yang dikubur hidup-hidup.” (HR Ath-Thabrani)

Dalam hal ini, Imam an-Nawawi Rahimahullah mengatakan bahwa hadits tersebut mengandung sejumlah fadhilah atau keutamaan, yakni menolong orang muslim, menghilangkan kesusahan, serta menutupi aibnya.

(kri/erd)



Sumber : www.detik.com

Larangan Mencela Jenazah dan Ungkit Keburukannya



Jakarta

Mencela jenazah merupakan perkara yang dilarang dalam Islam. Termasuk, mengungkit-ungkit keburukannya semasa hidup di dunia.

Larangan mencela jenazah dan mengungkit-ungkit keburukannya disebutkan dalam sebuah hadits yang termaktub dalam Kitab Bulughul Maram. Dari Aisyah RA, ia mengatakan, Rasulullah SAW telah bersabda,

لاَ تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا


Artinya: “Janganlah kamu mencela orang-orang yang telah meninggal, karena sesungguhnya mereka telah sampai pada balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan.” (HR Bukhari)

Imam an-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar mengatakan bahwa hadits tersebut shahih dan turut dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ahmad, dan Al-Baihaqi. Imam an-Nawawi mengatakan lebih lanjut, haram hukumnya mencela jenazah muslim yang tidak nyata kefasikannya.

Adapun, terkait jenazah orang kafir dan umat Islam yang nyata kefasikannya terdapat perbedaan di kalangan ulama salaf dalam menghukuminya. Menurut Imam an-Nawawi, pendapat yang paling kuat dan lebih bisa dipertahankan adalah boleh menyebut keburukan-keburukan jenazah orang-orang kafir.

Sedangkan, jenazah umat Islam yang secara nyata memperlihatkan kefasikannya atau bid’ah dan sejenisnya, maka boleh juga membicarakan keburukan-keburukannya jika memang ada kepentingan dan manfaat seperti untuk memberikan peringatan dan supaya tidak mengikuti jejaknya. Akan tetapi, jika tidak ada kepentingan dan manfaatnya, tidak diperbolehkan.

Kebolehan mencela jenazah orang kafir ini turut dikatakan Sayyid Sabiq dalam Kitab Fiqih Sunnah. Ia berhujjah dengan firman Allah SWT dalam surah Al Maidah ayat 78, “Orang-orang kafir dari bani Israil telah dilaknat…”

Kemudian melalui surah Hud ayat 18 yang berbunyi,

وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًاۗ اُولٰۤىِٕكَ يُعْرَضُوْنَ عَلٰى رَبِّهِمْ وَيَقُوْلُ الْاَشْهَادُ هٰٓؤُلَاۤءِ الَّذِيْنَ كَذَبُوْا عَلٰى رَبِّهِمْۚ اَلَا لَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الظّٰلِمِيْنَ ۙ

Artinya: “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada tuhan mereka dan para saksi akan berkata, “Orang-orang inilah yang telah berbohong terhadap tuhan mereka.” Ketahuilah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang-orang zalim.”

Anjuran Membicarakan Kebaikan Jenazah

Dalam Sunan Abu Dawud dan Sunan At-Tirmidzi terdapat sebuah hadits yang menyebut anjuran membicarakan kebaikan jenazah dan menyembunyikan keburukannya. Hadits ini diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Hendaklah kalian memperbincangkan kebaikan-kebaikan jenazah kalian dan menyembunyikan keburukan-keburukan mereka.”

At-Tirmidzi menganggap hadits tersebut dhaif, sementara Ibnu Hibban menilainya shahih.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Anas RA terkait orang yang memuji kebaikan jenazah dan mencelanya. Anas RA menceritakan, suatu ketika, para sahabat melintasi jenazah dan mereka memuji segala kebaikan (yang pernah) ia lakukan (selama masih hidup).

Mendengar hal tersebut, Rasulullah SAW lantas bersabda, “Kamu harus (melakukan itu)”

Kemudian mereka melewati jenazah yang lain dan meriwayatkan mencela perbuatan yang pernah dilakukan selama masih hidup. Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda, “Harus”

Lantas Umar bertanya kepada beliau, “Apa yang engkau maksud dengan harus?”

Rasulullah SAW menjawab,

“Jenazah ini kalian puji atas kebaikan yang pernah ia lakukan, maka ia berhak masuk ke dalam surga. Dan jenazah ini lagi kalian cela atas keburukannya, maka ia pantas masuk ke dalam neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah SWT yang berada di muka bumi.” (HR Bukhari dalam Kitab al-Janaiz bab Thanau an-Nas aa al-Mayyiti dan Muslim dalam Kitab Al-Janaiz bab Fi man Yutsna ‘alaihi Khairan aw Syarran mi al-Mauta)

(kri/erd)



Sumber : www.detik.com

Hadits Penghuni Surga Tidak Butuh Tidur, Kenapa?



Jakarta

Para penghuni surga disebut sudah tidak lagi membutuhkan aktivitas tidur. Sebab tidur dikatakan dalam sabda Rasulullah SAW sebagai kata lain dari mati.

Mengutip lbnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam buku Tamasya ke Surga, hadits tersebut bersumber dari Jabir bin Abdullah RA yang mengutip perkataan Rasulullah SAW. Beliau bersabda,

النوم أخو الموت، ولا ينام أهل الجنة


Artinya: “Tidur adalah saudara kandung kematian. Di surga, penghuni surga tidak tidur.”

Hadits di atas termaktub dalam Silsilat al Hadits ash Shahihah oleh Syeikh Nashiruddin al Albani. Menurutnya, hadits tersebut sudah banyak diriwayatkan oleh banyak kitab hadits dan menyebutnya sebagai hadits yang shahih setelah menghimpun jalur riwayat hadits tersebut.

“Singkat kata, hadits ini adalah shahih dari salah satu jalur melalui Jabir,” demikian penjelasan Syeikh Nashiruddin yang diterjemahkan Prof. Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar dalam buku Surga dan Neraka.

Dalam redaksi lain, salah satu riwayat hadits menyebutkan hal serupa. Berikut bunyi haditsnya, “Ditanyakan kepada Rasulullah SAW, ‘Apakah penghuni surga tidur di surga?’ Sabda Rasulullah SAW, ‘Tidur adalah saudara kandung kematian. Di surga, para penghuni surga tidak tidur.'” (HR Thabrani)

Syaikh Mahmud Al-Mishri dalam kitab terbitan Dar At Taqwa li An Nasyr wa At Tauzi hendak menjelaskan alasan mengapa para penghuni surga tidak lagi membutuhkan tidur seperti di dunia. Menurutnya, hal itu menjadi salah satu bentuk kesempurnaan rahmat Allah SWT.

“Surga adalah tempat kenikmatan dan tidur adalah mengurangi kenikmatan ahli surga dari rahmat Allah. Bahkan mereka merasakan kenikmatan demi kenikmatan, keindahan demi keindahan. Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan karunia-Nya kepada kita,” jelasnya yang diterjemahkan Ghilmanul Wasath, Abdurrahman Kasdi, dan Umma Farida dalam buku Tamasya ke Negeri Akhirat.

Senada dengan itu, Syaikh Muhammad Al-Utsaimin dalam Syarah Kitab Tauhid Jilid II menafsirkan, penghuni surga tidak lagi tidur karena kenikmatan yang dimiliki mereka. Ditambah lagi, tidur termasuk bagian dari perkara yang sia-sia dan disebut kematian kecil.

“Tidur di surga adalah menghilangkan waktu tanpa kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan. Karena kesenengan di dalamnya abadi. Karena tidur adalah kematian kecil. Surga tidak ada kematian di dalamnya,” terang Syeikh Muhammad.

Keterangan ini dikuatkan dengan firman-Nya dalam surah Fathir ayat 34-35. Ayat tersebut menjelaskan bahwa penghuni surga tidak pernah tidur sama sekali karena tidak merasakan lelah setelah sibuk beraktivitas seharian. Allah SWT berfirman,

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَۗ اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوْرٌ شَكُوْرٌۙ
الَّذِيْٓ اَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهٖۚ لَا يَمَسُّنَا فِيْهَا نَصَبٌ وَّلَا يَمَسُّنَا فِيْهَا لُغُوْبٌ
ۨ
Artinya: Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (Dia) yang menempatkan kami di tempat yang kekal (surga) dengan karunia-Nya. Di dalamnya kami tidak lelah dan lesu.”

Hal ini juga pernah diceritakan Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya. Dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata bahwa seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW,

“Sesungguhnya tidur merupakan sesuatu yang Allah jadikan mata kita tenang di dunia, apakah di surga ada tidur?”

Rasulullah SAW bersabda, “Tidur adalah teman kematian dan di surga tidak ada kematian.”

Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa istirahat mereka?”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya, di surga tidak ada keletihan. Semua hal adalah istirahat. Lantas Allah SWT menurunkan surah Fathir ayat 35.” (HR Al Baihaqi)

Wallahu’alam.

(rah/erd)



Sumber : www.detik.com

Keutamaan Bekerja dalam Ajaran Islam, Pahalanya Sama Seperti Perang di Jalan Allah



Jakarta

Bekerja dalam perspektif ajaran Islam sangatlah penting dalam keberlanjutan hidup seorang muslim di dunia. Betapa pentingnya bekerja, Allah bahkan menilai bekerja sebagai ibadah. Oleh karena itu, setiap muslim diwajibkan untuk bekerja, mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan untuk dirinya sendiri dan keluarganya.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa bekerja untuk anak dan istrinya melalui jalan yang halal, maka bagi mereka pahala seperti orang yang berjihad di jalan Allah.” (HR Bukhari).

Pada hakikatnya, bekerja tidak hanya untuk memenuhi tuntutan di dunia, tetapi juga di akhirat. Segala aktivitas di dunia yang positif dan sejalan dengan nilai-nilai keislaman pastinya memiliki nilai tersendiri di mata Allah. Terlebih, semangat untuk mencukupkan nafkah telah dicontohkan oleh para nabi dan rasul.


Anjuran Bekerja dan Mencari Rezeki

Anjuran bekerja dan mencari rezeki telah tercantum dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan juga hadits Rasulullah SAW. Salah satunya, Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Insyirah ayat 7,

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ

Arab-Latin: Fa iżā faragta fanṣab

Artinya: Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

Ayat tersebut menegaskan tentang keseimbangan urusan dunia dan akhirat, yakni di sela beribadah seorang muslim juga harus tetap bekerja. Di sisi lain, pentingnya bekerja juga disebutkan dalam sebuah hadits yang dikutip dari buku berjudul Kerja Berbuah Surga yang ditulis oleh Arip Purkon.

Dari anas bin Malik RA, dari Muhammad SAW, beliau bersabda: “Seandainya hari kiamat datang di tangan salah seorang dari kalian ada bibit tanaman, jika memungkinkan untuk menanamnya sebelum kiamat itu terjadi maka laksanakanlah (menanam bibit tersebut). (HR Imam Ahmad).

Hadits tersebut menjelaskan tentang pentingnya bekerja, sehingga disebutkan bahwa seandainya besok akan terjadi kiamat maka harus tetap bekerja. Maksud harus tetap bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan sendiri selagi masih memiliki kekuatan lahir dan batin.

Apabila seseorang tidak memiliki suatu halangan atau kendala dalam mencari nafkah, sesungguhnya Allah mencintai pekerja dan membenci penganggur.

Dari Ibnu Umar RA, dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT mencintai setiap orang beriman yang bekerja (mencari nafkah), yang merupakan ayah dari keluarga (tulang punggung keluarga). Dan (Allah) tidak suka kepada penganggur (tidak bekerja) yang sehat, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.”

Bahkan, Rasulullah juga memberitahu umatnya tentang larangan menjadi penganggur.

Dari Makhul RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Kalian jangan menjadi orang yang suka mencari aib orang lain, orang yang terlalu banyak memuji (penjilat), orang yang suka mencela, dan orang yang seperti mayat (yaitu orang yang menjadikan dirinya seperti mayat yaitu tidak bekerja.”

Bekerja Lebih Baik Daripada Meminta-Minta

Imam an-Nawawi dalam Syarah Riyadhus Shalihin jilid 1 menyebutkan, dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda,

“Sungguh tindakan salah seorang dari kalian yang seikat kayu bakar dan memikulnya di atas punggungnya itu lebih baik baginya, daripada meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau menolak permintaannya.” (Muttafaq ‘alaih).

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Zakat bab “Menahan Diri dari Meminta-Minta” dan bab “Tafsir: Dan Mereka tidak Meminta kepada Manusia dengan Memaksa” (3/265, 4/260) dan Imam Muslim dalam kitab Zakat bab “Makruhnya Meminta kepada Manusia” dan dalam bab “Jual Beli dan Minuman” (1042).

Adapun dalam riwayat yang lain, Rasulullah mencontohkan Nabi Dawud yang tidak suka makan sesuatu kecuali dari hasil tangannya sendiri dan juga Nabi Zakariya yang seorang tukang kayu, yakni pekerja yang memproduksi barang-barang dari buah tangannya.

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

Artinya: Dari Rafi’ bin Khadij RA, ia berkata: Pernah ditanyakan, “Ya Rasulullah, pekerjaan apa yang paling baik?” Beliau menjawab: “Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri, dan setiap jual-beli yang baik.” (HR Ahmad bin Hanbal).

Hadits tersebut mengingatkan sekaligus menyadarkan manusia tentang betapa mulianya seorang yang bekerja, karena Allah mengkategorikan seseorang yang bekerja sama saja sedang berjuang di jalan Allah (sabilillah). Hal ini diperkuat dalam hadits berikut.

Dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dia berkata: Nabi Muhammad SAW biasa pergi ke pasar dan membeli kebutuhan keluarganya. Lalu beliau ditanya tentang hal tersebut, maka beliau bersabda: “Jibril AS datang kepadaku dan berkata: Siapa saja yang berusaha (bekerja) untuk keluarganya maka agar mereka terhindar dari (meminta-minta) kepada orang lain, maka dia berada di jalan Allah SWT.”

Itulah beberapa hadits Rasulullah tentang keutamaan bekerja. Hadits-hadits tersebut dapat menjadi pengingat sekaligus penyemangat dalam bekerja. Semoga bermanfaat.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

3 Doa Melepas dan Menggunakan Pakaian, Yuk Amalkan!



Jakarta

Doa melepas pakaian termasuk ke dalam salah satu adab berpakaian dalam Islam. Membaca doa saat hendak mengerjakan aktivitas menjadi hal yang dianjurkan agar kegiatan yang dilakukan diridhai oleh Allah SWT.

Doa melepas pakaian perlu diamalkan oleh umat Islam sebagai bentuk syukur atas nikmat dan rezeki berupa pakaian yang menjadi pelindung tubuh yang diberikan Allah SWT. Dalam surat Al A’raf ayat 26, Allah berfirman:

يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَٰرِى سَوْءَٰتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ


Arab latin: Yā banī ādama qad anzalnā ‘alaikum libāsay yuwārī sau`ātikum warīsyā, wa libāsut-taqwā żālika khaīr, żālika min āyātillāhi la’allahum yażżakkarụn

Artinya: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat,”

Doa Melepas Pakaian

Terdapat beberapa versi doa melepas pakaian. Apa saja? Berikut pembahasannya sebagaimana dinukil dari buku Tuntunan Doa & Zikir Sehari-hari terbitan Redaksi Qultum Media, Kumpulan Doa Mustajab Sepanjang Hayat oleh Drs Nurdin Hasan M Ag, dan 24 Jam Hidup dengan Doa dan Amal Harian Rasulullah tulisan Abu Bakar bin As-Sina.

1. Doa Melepas Pakaian Versi Pertama

Dari Anas bin Malik, dia berkata Rasulullah bersabda, “Tirai penghalang antara mata jin dan aurat Bani Adam ialah doa yang diucapkan tatkala dia melepas pakaian, doa itu ialah:

بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ

Arab latin: Bismillaahil ladzii laa ilaaha illaa huwa

Artinya: “Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain Dia,”

2. Doa Melepas Pakaian Versi Kedua

Doa Melepas PakaianDoa Melepas Pakaian Versi Kedua

Arab latin: Allahummanza’ annii robqotan nifaaqi wa tsabbitnii ‘alal iimaan

Artinya: “Ya Allah, lepaskanlah dariku ikatan sifat munafik dan tetapkanlah aku pada keimanan,”

Artinya:

3. Doa Melepas Pakaian Versi Ketiga

Doa Melepas PakaianDoa Melepas Pakaian Versi Ketiga

Arab latin: Bismil laahil ladzii laa ilaaha illaa anta

Artinya: Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain Engkau,” (HR Ibnu Sunni)

Doa Mengenakan Pakaian

اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَ خَيْرِ مَا هُوَ لَهُ، وَ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهِ وَ شَرِّ مَا هُوَ لَهُ

Arab latin: Allahumma innii as’aluka khairii wa khairi ma huwa lahu, wa a’udzu bika min syarrihi wa khairi ma huwa lahu.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan baju ini dan kebaikan apapun untuknya. Dan aku berlindung dari keburukan baju ini serta keburukan apapun untuknya,”

Manfaat Melafalkan Doa Melepas Pakaian

Menurut buku terbitan Haura Utama yang bertajuk Living Hadis, ada sejumlah manfaat yang diperoleh dari melafalkan doa memakai dan melepas pakaian, antara lain ialah sebagai berikut:

  • Melindungi tubuh ketika aurat terbuka
  • Malu dan hormati selalu malaikat yang bersama kita
  • Melindungi tubuh dari pandangan jin

Rasulullah menjelaskan bagaimana bahayanya ‘ain atau pandangan mata yang dapat menyebabkan kerusakan. Tidak hanya manusia, pandangan jin terhadap aurat manusia juga memiliki dampak buruk.

Selain itu, jin dapat masuk ke dalam tubuh manusia hanya karena mereka suka terhadap manusia. Ini terjadi karena jin melihat indahnya bentuk tubuh manusia sehingga mereka tertarik.

Demikian pemaparan tentang doa melepas pakaian. Semoga bermanfaat.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Dzikir yang Ringan di Lisan tapi Beratkan Timbangan Amal



Jakarta

Rasulullah SAW mengajarkan dzikir yang ringan di lisan tapi berat di timbangan amal. Dzikir tersebut terdiri dari dua kalimat saja.

Bacaan dzikir sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW ini termuat dalam Kitab Shahih Bukhari, tepatnya pada hadits yang terakhir. Imam an-Nawawi turut menukil hadits ini dalam Kitab Riyadhus Shalihin dan Kitab Al-Adzkar.

Dari Abu Hurairah RA ia menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,


كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Artinya: “Ada dua kalimat, yang ringan di lisan tetapi berat dalam timbangan dan dicintai oleh ar-Rahman, ‘Subhanallah wa bi hamdih (Maha Suci Allah dan Segala puji hanya bagi-Nya)’, dan ‘Subhanallahil ‘azhim’ (Maha Suci Allah yang Maha Agung).” (HR Muttafaq ‘Alaih)

Imam an-Nawawi juga menukil sebuah riwayat di dalam Kitab Shahih Muslim yang menyebut bahwa dzikir subhanallah wa bi hamdih adalah dzikir yang paling disukai Allah SWT. Dari Abu Dzar RA, ia menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepadanya,

أَلَا أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى؟ إِنَّ أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ : سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

Artinya: “Maukah aku ceritakan kepadamu tentang kalam (zikir) yang paling disukai oleh Allah? Sesungguhnya kalam yang paling disukai oleh Allah ialah, ‘Subhanallah wa bi hamdih’ (Maha Suci Allah dengan memuji kepada-Nya).”

Dalam riwayat lain dikatakan,

سُئِلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْكَلَامِ أَفْضَلُ؟ قَالَ : مَا اصْطَفَى اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ أَوْ لِعِبَادِهِ : سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

Artinya: “Rasulullah SAW pernah ditanya, ‘Dzikir apakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Dzikir yang dipilihkan oleh Allah buat para malaikat-Nya atau hamba-Nya yaitu Subhanallah wa bi hamdih (Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya).” (HR Muslim dan At-Tirmidzi)

Dalam Shahih Muslim juga terdapat riwayat yang berasal dari Samurah ibnu Jundub RA, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَرْبَع: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إلا الله، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، لَا يَضُرُّكَ بِأَيْهِنَّ بَدَأْتَ

Artinya: “Ucapan yang paling disukai Allah ada empat kalimat, yaitu: ‘Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar’ (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Tidak membahayakanmu dengan yang mana pun di antaranya kamu memulainya)” (HR Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)

Selain itu, ada sebuah hadits yang menyebut tentang bacaan dzikir yang memenuhi timbangan, langit, dan bumi. Dzikir tersebut adalah Alhamdulillah dan Subhanallah wal hamdulillah. Dari Abu Malik Al-Asy’ari RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ، وَسُبْحانَ والحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَانِ، أَوْ تَمْلأُ مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ الله

Artinya: “Bersuci merupakan sebagian dari iman. Ucapan, ‘Alhamdulillah’ (Segala puji bagi Allah) memenuhi timbangan; dan ucapan ‘Subhanallah wal hamdulillah’ (Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah) keduanya dapat memenuhi timbangan atau kalimat tersebut dapat memenuhi semua yang ada di antara langit dan bumi.” (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

(kri/erd)



Sumber : www.detik.com