Tag Archives: hikmah

Perbanyak Niat Baik saat Ramadan



Jakarta

Niat merupakan salah satu perbuatan yang dinilai penting dalam ajaran Islam. Setiap niat baik akan mendapat keutamaan dan balasan kebaikan pula.

Hal ini disampaikan Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Kamis (14/3/2024). Habib Ja’far menyebutkan hadits tentang niat yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ


Artinya: “Sesungguhnya, segala perbuatan itu tergantung pada niatnya.”

“Setiap perbuatan memiliki pondasi niat, niat itu sangat menentukan. Niat itu dinaungi di bawah cintanya Allah yang Maha Cinta,” kata Habib Ja’far.

Niat bukanlah sebuah perkataan semata, niat harus dimulai dari dalam hati dan sesegera mungkin diusahakan untuk diwujudkan. Setiap niat baik akan mendapatkan keutamaan, ketika niat tersebut dilaksanakan maka keutamaan yang didapat bisa berkali lipat.

“Kalau punya niat baik tapi tidak dilaksanakan karena satu dan lain hal maka Allah memberikan satu kebaikan sempurna seolah kamu telah melakukan kebaikan dan ketika Lo punya niat baik dan melakukannya maka Allah mencatat 10 sampai 700 kali lipat. Sementara kalau punya niat buruk dan melakukannya maka Allah akan mencatat sebagai satu keburukan. Niat buruk tidak dilipatgandakan,” jelas Habib Ja’far.

Habib Ja’far mengingatkan tentang satu hal terkait niat. Meskipun langsung dicatat sebagai kebaikan, tidak boleh niat diucapkan secara sembarangan.

“Jangan salah, bahwa niat bukan sekedar komitmen dalam hati. Dia harus betul-betul diwujudkan. Ketika sudah niat, harus melakukan berbagai upaya yang mampu Lo lakuin untuk mengimplementasikan niat tersebut. Jangan sampai niat doang lalu berhenti.” jelasnya.

Di Ramadan ini terdapat malam Lailatul Qadar, dimana malam tersebut dituliskannya takdir manusia. Lantas apa hubungannya antara niat dan malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan?

Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom akan menjelaskan hal tersebut.

Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Pentingnya Sebuah Niat bisa disaksikan DI SINI. Kajian bersama Habib Ja’far ini tayang tiap hari selama bulan Ramadan tiap menjelang waktu berbuka puasa pukul 18.00 WIB. Jangan terlewat!

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com

Rela Menerima Takdir-Nya



Jakarta

Takdir merupakan salah satu rukun iman yang wajib percaya bagi hamba-Nya. Sikap rela menerima merupakan bentuk keimanan seseorang. Saat engkau dekat dengan-Nya melalui pertolongan-Nya dan dengan mengosongkan hati dari makhluk, nafsu, dan segala sesuatu selain-Nya sehingga hatimu dipenuhi Allah SWT dan perbuatan-Nya. Maka engkau akan bergerak hanya karena kehendak-Nya, dan kau bergerak jika Allah SWT menggerakanmu. Keadaan ini menjadikan kau mencapai tahapan luruh. Kau telah bersatu bersama Tuhanmu tentu berbeda dari bersatu bersama selain-Nya.

Ingatlah janganlah senang hati bergantung dan bersatu dengan sesama, karena kau dan sesama itu sama-sama fakir dan tidak mempunyai kekuasaan untuk menjadi sandaran. Ditegaskan dengan firman-Nya dalam surah asy-Syura ayat 11 yang artinya, “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.”

Adapun makna ayat di atas adalah Allah SWT, tiada yang bisa menandingi oleh semua ciptaan-Nya. Oleh sebab itu, jika kau memperoleh kekuasaan yang sangat besar janganlah berlagak ikut mengatur atas pengaturan-Nya. Dia Maha Mendengar ucapan-ucapan hamba-hamba-Nya dan Maha Melihat segala perbuatan mereka. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya dan Dia akan membalas segala amal mereka; jika baik maka akan mendapat ganjaran baik, bila buruk maka akan mendapat ganjaran buruk.


Bagaimana kita bisa mencapai sikap rela? Awal kerelaan adalah sesuatu yang dapat dicapai seorang hamba dan itu merupakan makam, meskipun pada akhirnya kerelaan merupakan hal dan bukan sesuatu yang diperoleh dengan upaya. Ketahuilah bahwa bagi seorang hamba untuk bersikap rela terhadap takdir, karena hal ini bagian dari keimanannya.

Abdul Wahid bin Zayd menuturkan, “Kerelaan adalah gerbang Allah SWT yang terbesar dan surganya dunia ini.” Ketahuilah hamba tidak akan mendekati derajat kerelaan terhadap Tuhan-Nya sampai Allah SWT rida terhadapnya. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Al Bayyinah ayat 8 yang berbunyi, “Allah rida kepada mereka, dan mereka pun rela kepada-Nya.”

Syekh Abu ‘Ali ad-Daqqaq menuturkan, “Seorang murid bertanya kepada syekhnya, ‘Apakah si hamba mengetahui kalau Allah rida kepadanya?’ Sang syekh menjawab, ‘Tidak. Bagaimana dia bisa tahu hal itu sedangkan keridhaan-Nya adalah sesuatu yang tersembunyi?’ Kemudian murid memprotes, ‘Tidak, dia bisa mengetahuinya!’ Syekhnya bertanya, ‘Bagaimana si hamba bisa tahu?’ Murid langsung menjawab, ‘Jika saya mendapati hati saya rela kepada Allah SWT, maka saya tahu bahwa Dia rida kepada saya.’ Maka sang syekh berkata, ‘Sungguh baik sekali ucapanmu itu, anak muda’.”

Dikisahkan ketika Nabi Musa AS berdoa, “Ya Allah, bimbinglah aku kepada amal yang akan mendatangkan keridhaan-Mu.” Allah SWT menjawab, “Engkau tidak akan mampu melakukannya.” Lalu Musa bersujud dan terus memohon. Maka Allah SWT. lalu mewahyukan kepadanya, “Wahai putra Imran, keridaan-Ku ada pada kerelaanmu menerima ketetapan-Ku.”

Kedua kisah diallog syekh dengan muridnya dan doa Musa AS menunjukkan kekuasaan-Nya hingga para hamba akan memperoleh rida-Nya dengan: 1. Kerelaan hati kepada-Nya dan 2. Kerelaan menerima ketetapan-Nya. Kerelaan hati kepada-Nya merupakan bentuk keikhlasan hanya satu-satunya bersandar kepada-Nya. Adapun seorang hamba yang menerima ketetapan-Nya merupakan bentuk keimanan pada salah satu rukun iman.

Penulis akan mendendangkan syair tentang cinta dan benci.

Ketika cinta menjadi menu.
Semua terlihat indah nan menawan.
Sang kekasih tiada cela, seakan sempurna adanya.
Mata tidak bisa menelisik keburukan, menjadi tumpul.
Puja-puji selalu datang bagai banjir bandang.
Kau lupa telah menoleh dan tiada memandang pada-Nya.
Ketika kebencian menjadi selimutmu.
Semua yang kau lihat hanyalah cacatnya.
Cacian dan makian bagai senapan lepaskan peluru dari mulut.
Itu beda cinta dan benci.
Cinta hakikat hanya pada-Nya, bencilah pada maksiat.

Idola biasanya dipuji setinggi langit dan sebaliknya yang dibenci akan dimaki habis-habisan. Dalam pelaksanaan pesta demokrasi telah berlalu, maka janganlah mempertentangkan perbedaan pilihan khususnya pada calon presiden. Ingatlah bahwa perbedaan itu rahmat-Nya. Setiap insan yang beriman wajib menghindarkan pembelahan (polarisasi) di masyarakat. Sang idola yang dicintai dan lawan politiknya yang dibenci, maka ingatlah bahwa cintamu sejatinya hanya pada-Nya dan kebencianmu hanya pada perbuatan maksiat. Rukunlah bahwa kita semua bersaudara dalam bingkai NKRI, saling hormat, saling membantu dan saling menasehati.

Ya Allah, berikanlah kami semua keteguhan iman sehingga pelaksanaan pesta demokrasi dengan jujur dan adil. Yakinkan kami semua agar rela menerima ketetapan-Mu dan tetap hidup bersama secara rukun dan harmonis.

***

Aunur Rofiq

Ketua DPP PPP periode 2020-2025

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

3 Contoh Kultum Tarawih Ramadan Singkat Berbagai Tema


Jakarta

Bulan Ramadan yang penuh dengan kemuliaan telah tiba. Salah satu ibadah yang biasa dikerjakan umat Islam pada bulan Ramadan yaitu salat Tarawih. Ketika salat Tarawih, khatib banyak menyampaikan kultum. Berikut tiga contoh kultum Tarawih Ramadan.

Kultum yang disampaikan khatib dapat membahas berbagai topik seperti adab puasa, amalan ketika bulan Ramadan, keutamaan bulan Ramadan, dan sebagainya. Berikut contoh kultum Tarawih Ramadan dikutip dari Kultum 23 Ramadhan karya Heri Suprapto dan Kumpulan Kultum Terlengkap & Terbaik Sepanjang Tahun karya A.R. Shohibul Ulum.

Contoh Kultum Tarawih Ramadan Singkat


Kultum Pertama

Dua Esensi Puasa

Esensi atau hakikat dari puasa Ramadan ada banyak, hanya saja karena keterbatasan waktu maka kita hanya membahas dua saja yaitu berperilaku jujur dan menahan amarah.

Pertama, berperilaku jujur.

Kejujuran adalah hal yang paling penting dalam kehidupan kita, dan puasa melatih atau mengajari kita agar jujur dalam segala hal sehingga kita tidak berani berkata bohong pada saat berpuasa. Mengapa demikian? Itu karena kita tahu kalau kita berbohong maka pahala puasa kita akan hilang dan kita hanya mendapatkan haus dan lapar saja dari puasa yang kita telah lakukan.

Perintah agar selalu jujur ini sudah disampaikan oleh Rasulullah SAW, “berbuatlah jujur karena kejujuran akan mendatangkan kebaikan dan kebaikan akan mendapatkan surga.” Hal ini senada dengan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim.

Dari sahabat Ibnu Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda,

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah SWT sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang suka berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah SWT sebagai pendusta.”

Begitu besar karunia Allah SWT kepada orang yang berbuat jujur.

Kedua, menahan amarah.

Esensi yang kedua adalah menahan amarah. Kita bisa marah kapan saja dan di mana saja, apa lagi dalam kondisi sedang mendapatkan tekanan. Dengan puasa kita diharapkan bisa menahan marah kita. Pernah sahabat bertanya kepada Nabi SAW untuk menasehatinya, dan Nabi SAW memerintahkannya untuk tidak marah. Hal ini senada dengan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan olah Imam Bukhari dalam kitab Shahih Bukhari dan Imam Tirmidzi dalam kitab Sunan Tirmidzi.

Dari Abu Hurairah RA, ada seseorang yang berkata kepada Nabi SAW “Berilah aku nasihat,” kemudian beliau bersabda,

“Jangan marah. Kemudian orang tersebut mengulangi lagi beberapa kali. Rasulullah SAW bersabda: ‘Jangan marah'”.

Orang yang dapat menahan marah padahal dia mampu untuk melampiaskan kemarahan tersebut diperintahkan Allah SWT untuk memilih bidadari di surga mana yang dia suka. Hal ini senada dengan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam kitab Sunan Tirmidzi dan Imam Abu Dawud dalam kitab Sunan Abu Dawud, serta Imam Ibnu Majah dalam kitab Sunan Ibnu Majah dengan sanad hasan.

Dari sahabat Mu’az bin Anas Al Juhani RA, Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu melampiaskannya, pada hari kiamat, dia akan dipanggil di depan seluruh makhluk kemudian disuruh memilik bidadari mana yang ia sukai.”

Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita semua apabila seseorang marah hendaklah ia diam. Hal ini senada dengan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Adabul Mufrod dan Imam Ahmad dalam kitab Musnad Imam Ahmad dengan sanad shahih.

Dari sahabat Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.”

Ini juga merupakan obat yang manjur bagi amarah, karena jika orang sedang marah maka keluar darinya ucapan-ucapan yang kotor, keji, melaknat, mencaci-maki dan lain-lain yang dampak negatifnya besar. Jika ia diam, maka semua keburukan itu hilang darinya.

Orang-orang yang mampu tidak marah bahkan akan dimasukkan ke surga. Hal ini senada dengan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam kitab Al Mu’jamul Ausath dengan sanad shahih.

Dari sahabat Abu Darda, Rasulullah SAW pernah bersabda kepada seorang sahabat,

“Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk surga.”

Kesimpulannya adalah hendaklah kita menjaga diri dan keluarga kita agar selalu mengisi setiap hari dan malam Ramadan dengan amalan yang dicontohkan Nabi SAW yaitu dengan berusaha selalu jujur dan menahan marah ketika kita sedang dalam keadaan puasa. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk mendapatkan sifat jujur dan menahan marah setelah kita menjalani puasa Ramadan selama sebulan, dan implementasinya terlihat setelah Ramadan berlalu. Aamiin.

Kultum Kedua

Hikmah & Berkah Ramadan

Ramadan adalah bulan keberkahan, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i.

Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada para sahabat beliau. Beliau bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, yaitu bulan yang diberkahi, Allah SWT telah memfardhukan (mewajibkan) atas kalian berpuasa pada bulan itu, pada bulan itu dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan pada bulan itu pula ada Lailatul Qadar (Malam Qadar) yang lebih baik dari seribu bulan, Siapa saja yang terhalang dari kebaikan malam itu maka ia terhalang dari rahmah Tuhan.”

Oleh karena itu, sesungguhnya kita diajarkan oleh Rasulullah SAW agar menyambut bulan Ramadan ini dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya sejak jauh-jauh hari, yaitu dari bulan Rajab. Sejak bulan Rajab kita diajarkan untuk memohon keberkahan hidup di bulan Rajab, Syaban, dan hingga sampai di Ramadan yang mulia ini. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, kita diajarkan agar berdoa,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ

“Wahai Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan bulan Syaban, dan berkahilah pula kami di bulan Ramadan.”

Mengapa kita diajarkan untuk memohon keberkahan? Apakah keberkahan penting bagi kita? Sebab, keberkahan hidup menjadi dambaan setiap orang yang berakal sehat. Berkah berarti bertambah. Dalam makna luas berkah berarti bertambah kebaikan (ziyadat al-khair fi al-syai’), termasuk kesejahteraan baik dari segi material maupun nonmaterial. Dari segi materi seperti bertambahnya harta benda kita, dan usaha atau bisnis semakin maju. Sedangkan, secara nonmaterial yaitu seperti ketenteraman hati, kedamaaian jiwa, pengetahuan dan wawasan semakin bertambah hingga tercermin dalam sikap yang terpuji.

Di antara hikmah bulan Ramadan yaitu sebagai berikut.

Pertama,

Pada bulan Ramadan ada pengabulan doa bagi yang meminta, ada penerimaan tobat orang yang bertobat, dan ada pengampunan bagi orang yang memohon maghfirah-Nya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi yang panjang, yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, di dalam bagian hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan al-Baihaqi ini disebutkan:

“Dalam setiap malam bulan Ramadan Allah ‘azza wa jalla berseru sebanyak tiga kali: Adakah orang yang meminta maka aku penuhi permintaannya? Adakah orang yang bertobat maka aku terima tobatnya? Dan adakah orang yang memohon ampunan maka aku ampuni dia?”

Kedua,

Bulan Ramadan adalah waktu yang sangat baik untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang diberikan kepada kita selama ini. Karena makna ibadah secara mutlak, termasuk ibadah puasa, adalah ungkapan syukur dari seorang hamba kepada Tuhannya atas nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran surah Ibrahim ayat 34, kita tidak akan dapat menghitung nikmat Tuhan.

Ketiga,

Pada bulan Ramadan terdapat setidaknya 3 manfaat yang bisa kita peroleh dengan menjalankan puasa pada bulan yang mulia ini, yaitu

1. Manfaat psikologis/spiritual/kejiwaan. Misalnya, kita membiasakan diri agar berlaku sabar serta mengekang hawa nafsu, ekspresi, atau ungkapan mengenai karakteristik takwa yang tertanam dalam hati. Takwa itulah yang menjadi tujuan khusus dalam berpuasa Ramadan.
2. Manfaat sosial-kemasyarakatan, seperti pembiasaan kita, umat Islam, untuk tertib, disiplin dan bersatu padu, cinta keadilan dan kesetaraan di antara umat Islam: antara yang kaya dan yang miskin, antara pejabat dan rakyat, antara pengusaha dan karyawan, dan seterusnya. Juga faedah sosial dari puasa adalah pembentukan rasa kasih sayang dan berbuat baik di antara kaum Muslim, sebagaimana puasa Ramadan ini melindungi masyarakat dari keburukan-keburukan dan mafsadah.
3. Manfaat kesehatan, artinya dengan berpuasa itu dapat membersihkan usus-usus dan pencernaan, memperbaiki perut yang terus-menerus beraktivitas, membersihkan perut yang terus-menerus beraktivitas, membersihkan badan dari lendir-lendir/lemak-lemak, kolesterol yang menjadi sumber penyakit, dan puasa dapat menjadi sarana diet atau pelangsing badan.

Oleh karena itu, marilah bulan Ramadan ini kita jadikan bulan kesederhanaan, bulan peribadatan, bulan memperbanyak berbuat kebajikan kepada orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan bantuan, bulan perlindungan badan, ucapan, dan hati dari hal-hal yang dilarang agama, seperti perkataan keji (qaul az-zur), gibah, menebar hoaks, fitnah, hate speech (ujaran kebencian), dan adu domba, baik secara langsung maupun melalui media-media digital, media elektronik, televisi, radio, internet, dan media sosial.

Kultum Ketiga

Keberkahan Makan Sahur

Pada bulan Ramadan ada amalan sunnah yang bisa dijalani, yaitu makan sahur. Amalan ini disepakati oleh para ulama dihukumi sunnah dan bukanlah wajib, sebagaimana kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juz 7 halaman 206. Namun, amalan ini memiliki keutamaan karena dikatakan penuh berkah. Dalam hadits muttafaq ‘alaih, dari Anas bin Malik, Nabi SAW bersabda,

“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud berkah adalah turunnya dan tetapnya kebaikan dari Allah SWT pada sesuatu. Keberkahan bisa mendatangkan kebaikan dan pahala, bahkan bisa mendatangkan manfaat dunia dan akhirat. Namun, patut diketahui bahwa berkah itu datangnya dari Allah SWT yang hanya diperoleh jika seorang hamba menaati-Nya.”

Lantas, apa saja keberkahan yang didapatkan saat kita menyantap sahur?

Pertama,

Memenuhi perintah Rasulullah SAW sebagaimana diperintahkan dalam hadits di atas. Keutamaan menaati beliau disebutkan dalam surah An-Nisa’ ayat 80, yang artinya, “Barang siapa menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah SWT. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”

Allah juga berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 71, “Dan barang siapa menaati Allah SWT dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”

Kedua,

Makan sahur merupakan syiar Islam yang membedakan dengana ajaran Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Dari ‘Amr bin al-‘Ash, Rasulullah SAW bersabda,

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) adalah makan sahur.” (HR. Muslim).”

Ini berarti Islam mengajarkan bara’ dari orang kafir, artinya tidak loyal pada mereka. Sebab, puasa kita saja dibedakan dengan orang kafir.

Ketiga,

Dengan makan sahur, keadaan fisik lebih kuat dalam menjalani puasa. Beda halnya dengan orang yang tidak makan sahur. Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juz 7 halaman 206, berkata, “Berkah makan sahur amat jelas, yaitu semakin menguatkan dan menambah semangat orang yang berpuasa. Misalnya, menjadikannya rajin beribadah, menjadikannya termotivasi ingin menambah lagi amalan puasanya, karena tampak ringan puasa baginya setelah makan sahur.”

Keempat,

Orang yang makan sahur mendapatkan shalawat dari Allah SWT dan doa dari para malaikat-Nya. Dari Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah SAW bersabda,

“Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad)

Kelima,

Waktu makan sahur adalah waktu yang diberkahi. Menurut Imam Nawawi, dengan bangun sahur dapat menjadikannya berdoa dan berzikir di waktu yang mulia, yaitu waktu ketika turun Ar-Rahmah, dan diterimanya doa dan diampuninya dosa. Seseorang yang bangun sahur dapat berwudhu kemudian salat malam, kemudian mengisi waktunya dengan doa, zikir, salat malam, dan menyibukkan diri dengan ibadah lainnya hingga terbit fajar.

Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda,

“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, ‘Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni”.” (HR. Bukhari dan Muslim)”

Keenam,

Waktu sahur adalah waktu utama untuk beristighfar. Sebagaiman orang yang beristighfar saat itu dipuji oleh Allah dalam beberapa ayat, di antaranya surah Ali ‘Imran ayat 17 yang artinya, “Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.”

Disebut pula pada surah Adz-Dzariyat ayat 18 yang artinya,
“Dan selalu memohonkan ampunan pada waktu pagi sebelum fajar.”

Ketujuh,

Orang yang makan sahur dijamin bisa menjawab azan salat Subuh dan juga bisa mendapati salat Subuh pada waktunya secara berjamaah. Tentu ini adalah suatu kebaikan.

Kedelapan,

Makan sahur sendiri bernilai ibadah jika diniatkan untuk semakin kuat dalam melakukan ketaatan pada Allah SWT.

Demikianlah apa yang bisa disampaikan mengenai keutamaan makan sahur.

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Kemuliaan Istighfar di Bulan Ramadan



Jakarta

Banyak keutamaan yang bisa diraih umat Islam dengan mengucapkan kalimat istighfar. Kalimat Astaghfirullah ini menjadi tanda syukur sekaligus permohonan ampunan atas dosa dan khilaf yang pernah dilakukan.

Kalimat istighfar dianjurkan untuk diperbanyak selama Ramadan, karena bulan ini adalah bulan ampunan. Hal ini dijelaskan Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Jumat (15/3/2024).

Habib Ja’far menjelaskan salah satu sebutan bulan Ramadan adalah Syahrul Maghfirah yang artinya adalah bulan ampunan.


“Allah tahu sekali bahwa kita tidak ada yang bisa terlepas dari khilaf dan salah ataupun dosa, kecuali Nabi Muhammad karena dia adalah rasul yang suci dari segala salah atau khilaf dan dosa,” ujar Habib Ja’far.

Lebih lanjut, Habib Ja’far menegaskan bahwa Ramadan menjadi momen untuk meminta dan memohon ampunan dengan memperbanyak istighfar.

“Di antara ciri manusia adalah pernah salah, pernah khilaf pernah dosa, maka diciptakanlah bulan Ramadan sebagai momentum untuk kita memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa yang kita lakukan,” sambungnya.

Memperbanyak istighfar saat Ramadan merupakan amalan yang mulia, meskipun sebenarnya istighfar bisa dikerjakan kapan pun. Istighfar menjadi salah satu upaya untuk bertobat dan memohon ampun kepada Allah SWT.

“Istighfar adalah pintu untuk kita agar menjadi pribadi yang baik setelah terjebak dalam dosa dan maksiat,” tegas Habib Ja’far.

Dalam kesempatan ini juga Habib Ja’far menyebutkan bahwa Rasulullah SAW senantiasa memperbanyak istighfar saat Ramadan. Bersumber dari hadits riwayat, Rasulullah SAW mengucap istighfar 70-100 kali dalam sehari.

“Rasulullah saja yang kita tahu suci dari dosa, sehari minimal istighfar 70-100 kali. Istighfar menjadi bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT dan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT.”

Kapan istighfar bisa diamalkan dan bagaimana mengamalkannya sepenuh hati? Semua akan dibahas dan dijelaskan Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom.

Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Kemuliaan Istighfar di Bulan Ramadan bisa disaksikan DI SINI. Kajian bersama Habib Ja’far ini tayang tiap hari selama bulan Ramadan tiap menjelang waktu berbuka puasa pukul 18.00 WIB. Jangan terlewat!

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com

Etika dan Adab Puasa Ramadan



Jakarta

Ketika berpuasa, ada sejumlah adab dan etika yang perlu dipahami kaum muslimin. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, melainkan juga menjaga pikiran, jiwa, dan indera dari perbuatan maksiat.

Hal tersebut dijelaskan Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar menjelaskan dalam detikKultum detikcom, Sabtu (16/3/2024).

“Berpuasa itu bukan hanya berpuasa tidak makan dan tidak minum, tetapi yang harus berpuasa itu bagaimana mata ini supaya tidak mengintip, kemudian bagaimana mulut kita ini juga berpuasa supaya jangan ngerumpi, jangan bicarakan aib orang lain, jangan berbohong, jangan menghujat,” ujarnya.


Ia juga mengimbau agar kaum muslimin menyempurnakan puasa dengan tidak berlebih-lebihan dalam hal duniawi, termasuk mengumbar aurat.

“Jangan kita mengumbar aurat. Kalau perlu saya boleh menyarankan, ini bulan suci Ramadan kita tampilkan kebersahajaan kita,” lanjut Prof Nasaruddin Umar.

Kemudian, ia turut mengajak kaum muslimin untuk introspeksi diri. Tidak perlu memamerkan kekayaan yang dimiliki di bulan suci Ramadan ini.

Di bulan suci ini, kaum muslimin bisa merevisi pandangan hidupnya dengan cara menyucikan pikiran dan batin. Syukuri apa yang ada, karena itu adalah yang terbaik untuk kita menurut Allah SWT.

“Jangan terlalu berambisi meraih sesuatu yang istimewa. Siapa tahu itu belum tentu juga yang bermanfaat buat kita semuanya,” terang Prof Nasaruddin.

Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Etika dan Adab Puasa Ramadan bisa disaksikan DI SINI. Kajian bersama Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04:20 WIB.

(aeb/kri)



Sumber : www.detik.com

Ingatlah Amal Keburukan agar Terhindar dari Riya



Jakarta

Bulan suci Ramadan menjadi ajang untuk memperbaiki sekaligus introspeksi diri. Berkaitan dengan hal ini, Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom turut mengingatkan kaum muslimin.

“Nah mari kita melakukan introspeksi dalam bulan suci Ramadan ini. Para pemirsa jangan sampai kita berpuas diri padahal keropos ibadah kita,” katanya dalam detikKultum yang tayang pada Minggu (17/3/2024).

Prof Nasaruddin mengingatkan agar kita tidak membanggakan diri terkait amal kebajikan yang sudah dikerjakan. Sebaliknya, kita harus mengingat amal keburukan untuk introspeksi.


“Jangan menghitung amal kebajikannya, tapi ingat-ingatlah amal keburukannya di masa lampau. Ada bahayanya kalau kita mengingat amal kebajikan, bisa riya,” ujar Prof Nasaruddin Umar.

Lebih lanjut ia menjabarkan bahwa amal kebajikan yang kita kerjakan bukan untuk disampaikan ke khalayak umum. Sebab, seluruh kebaikan yang dipamerkan hanya mengurangi pahala.

“Semua amal kebaikan ditanam di bumi keterkenalan hanya akan panen di dunia tidak panen lagi di akhirat. Maka itu mulailah kita menyingkirkan popularitas dalam diri kita sendiri, hindari keterkenalan itu bapak ibu,” ungkap Prof Nasaruddin Umar.

Begitu pula dengan ibadah yang dikerjakan. Jangan sampai kaum muslimin membanggakan dirinya setelah mengerjakan berbagai ibadah, padahal belum tentu ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

Menurut Prof Nasaruddin, sehebat apapun seseorang dalam beribadah jangan pernah mengatakan dirinya sebagai ahli ibadah.

“Gak usah disampaikan kepada orang prestasi-prestasi spiritual ini,” ujarnya.

Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Introspeksi dan Memperbaiki Diri di Bulan Suci bisa disaksikan DI SINI.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Pentingnya Jaga Kebersihan Lahir dan Batin



Jakarta

Kebersihan adalah sebagian dari iman. Ungkapan ini menggambarkan betapa pentingnya kebersihan dalam ajaran Islam.

Bahkan, kebersihan menjadi bagian dari ibadah. Ketika hendak mendirikan salat, salah satu syarat sahnya ialah wudhu yang mana bersuci dari najis.

Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom yang tayang Senin (18/3/2024), turut menjelaskan terkait pentingnya kebersihan. Menurutnya, kebersihan ditinjau dari dua sisi yaitu bersih lahiriah dan bersih batin.


“Jadi yang kita maksudkan di sini kebersihan, bersih secara lahiriah. Jangan pakai pakaian yang bernajis, jangan pakai pakaian yang berbau, jangan memakai pakaian salat ke masjid (dengan) pakaian tidur,” terang Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut dalam kultumnya.

Menjaga kebersihan lahiriah dalam Islam bisa dengan memakai pakaian yang pantas dan bersih dari najis saat akan melangsungkan ibadah. Sementara itu, bersih batin seperti beristigfar ketika melakukan dosa.

Beristigfar merupakan salah satu cara untuk menjaga kebersihan batin. Segala dosa yang kita lakukan hendaknya segera ditobatkan.

“Semua harus segera kita tobatkan, jangan membiarkan tanpa melakukan pertobatan. Dengan kata lain jangan membiarkan dosa itu bermalam tanpa segera ditobatkan,” jelas Nasaruddin Umar.

Seluruh anggota badan yang sering berdosa hendaknya dibersihkan di bulan suci ini. Ramadan menjadi momen untuk membersihkan diri.

“Kalau kita tidak mampu membersihkan diri di bulan suci Ramadan ini, bulan apalagi yang akan bersihkan kita?” ujar Nasaruddin Umar.

Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Keindahan dan Hukum Menjaga Kebersihan dalam Islam bisa disaksikan DI SINI. Kajian bersama Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

(dvs/rah)



Sumber : www.detik.com

Pentingnya Menghargai Waktu bagi Seorang Muslim



Jakarta

Pentingnya memanfaatkan waktu dijelaskan dalam surah Al Asr ayat 1-3. Bahkan ada pepatah yang menyebut orang sukses ialah mereka yang menghargai waktu.

Prof Nasaruddin Umar dalam kultumnya yang tayang pada Selasa (19/3/2024) menyampaikan betapa pentingnya waktu bagi seorang muslim.

“Orang yang tidak menghargai waktu itu pasti terancam gagal. Maka itu Allah SWT menjadikan salah satu alat sumpah itu (surah Al Asr) adalah demi masa, demi waktu,” terangnya dalam detikKultum detikcom.


Terkait pentingnya waktu ini, Prof Nasaruddin Umar mengisahkan tentang tiga pemuda yang terjebak di gua tanpa ada tali pengaman. Tiba-tiba ada suara yang memerintahkan ketiga pemuda itu untuk mengambil batu-batuan.

Pemuda pertama mengambil satu buah batu ke kantongnya, sedangkan pemuda kedua memenuhi kantongnya dengan batu. Sementara itu, pemuda yang ketiga mengambil banyak batu hingga memenuhi kantong dan ranselnya.

Setelah keluar dari gua, tiba-tiba batu itu berubah menjadi berlian. Ketiga pemuda itu lantas menyesal.

Pemuda pertama menyesal karena hanya memungut satu batu, pemuda kedua menyesal karena tidak memenuhi ranselnya dengan batu, dan pemuda ketiga menyesal karena tidak memenuhi kantong bajunya dengan batu meskipun saku celana serta ranselnya sudah dipenuhi oleh batu.

“Yang (paling) sedikit penyesalannya adalah yang ranselnya penuh dan celananya penuh. Itu adalah orang yang menghargai waktu,” jelas Prof Nasaruddin Umar.

Lebih lanjut ia mengajak kaum muslimin untuk lebih menghargai dan memperbaiki manajemen waktu. Cara memanfaatkan waktu itu bisa dengan beribadah kepada Allah SWT seperti beriktikaf dan mengaji.

“Sekali lagi mari kita menghargai waktu terutama waktu yang sedang kita lakukan karena kita masih sehat ini,” pesan Prof Nasaruddin Umar.

Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Pentingnya Memanfaatkan Waktu dapat ditonton DI SINI. Kajian bersama Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04:20 WIB.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Dahsyatnya Manfaat Puasa, Tak Cuma Menyehatkan Badan



Jakarta

Selain sebagai ibadah wajib bagi umat Islam, puasa juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Hal ini dipaparkan oleh Prof Nasaruddin Umar dalam kultumnya.

“Kata nabi (Rasulullah SAW) berpuasalah supaya keadaan sehat. Justru kalau orang ingin sehat itu harus berpuasa,” katanya dalam detikKultum detikcom yang tayang Rabu (20/3/2024).

Imam Besar Istiqlal itu juga menyebut bahwa ketika puasa, sel-sel yang hidup di dalam tubuh akan memakan sel-sel yang telah mati. Hal ini dikatakan juga sebagai pembersihan badan.


“Jadi kalau orang gak pernah mengenal puasa, itu berbagai persoalan (penyakit) di perutnya terjadi,” lanjutnya.

Meski puasa diniatkan karena Allah SWT, pada saat yang bersamaan di luar kesadaran ada manfaat bagi kesehatan badan. Selain itu, puasa juga mampu menyehatkan jiwa kaum muslimin.

Ketika berpuasa, umat Islam dibiasakan untuk sabar dan mengendalikan diri.

“Maka itu, puasa bukan hanya menyehatkan badan tapi juga menyehatkan jiwa. Jiwa yang tidak sabaran bisa menjadi sabar, jiwa yang tergesa-gesa itu bisa menjadi tenang,” urai Prof Nasaruddin Umar.

Tak sampai di situ, puasa juga bisa menyehatkan pikiran muslim. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa badan sehat terletak pada pikiran yang sehat.

“Badan yang sehat itu otomatis juga akan menyehatkan pikiran,” jelasnya.

Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Tips Menjaga Kesehatan Selama Bulan Ramadan dapat ditonton DI SINI. Kajian bersama Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

(aeb/erd)



Sumber : www.detik.com

Orang-orang yang Dirindukan Allah SWT



Jakarta

Allah SWT memiliki sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan sifat ini, Allah SWT selalu mencurahkan cinta dan sayang kepada hamba-Nya.

Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Rabu (20/3/2024), menjelaskan tentang tanda-tanda orang yang selalu dirindukan Allah SWT.

“Kita menyembah Tuhan yaitu Allah SWT yang salah satu sifatnya yaitu Maha Cinta bahkan itu menjadi sifat utama Allah. Ar Rahman, Ar Rahim artinya Maha Pengasih, Maha Penyayang. Kita selalu menyebutnya dalam segala hal,” kata Habib Ja’far.


Sifat Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang ini menjadikan kita sebagai hamba yang beruntung. Setiap nikmat yang diberikan Allah SWT semua berdasarkan cinta kasihnya.

“Karena Dia Maha Cinta maka setiap ketetapan-Nya berbasis pada cinta, tidak ada kebencian sedikit pun. Bahkan hadits Rasulullah SAW mengatakan ‘Sesungguhnya cinta-Ku pada mu lebih besar dari murka-Ku kepadamu atas dosa-dosa yang kau lakukan kepada-Ku,” lanjut Habib Ja’far.

Habib Ja’far menambahkan, Allah SWT juga senantiasa rindu kepada hamba-Nya.

Lebih lanjut, Habib Ja’far menjelaskan ciri dan tanda orang-orang yang dirindukan Allah SWT.

Ketika Allah SWT rindu maka Dia akan memberikan ujian kepada hamba-Nya seperti rasa sakit, terlilit utang, terkena bencana, orang tua meninggal, istri sakit dan lain sebagainya. Tujuan dari ujian ini agar kita semakin dekat kepada Allah SWT.

Ciri lainnya ketika Allah SWT rindu yakni dengan membangunkan kita di tengah malam. “Allah bangunkan kita tengah malam, tanpa ada alarm, tanpa ada yang mengganggu. Kita ke kamar mandi, lalu wudhu, salat tahajud. Ini terjadi karena Allah SWT rindu,” ujar Habib Ja’far.

Masih banyak lagi peristiwa yang menjadi tanda bahwa Allah SWT rindu dengan kita dan ingin hamba-Nya memohon kepada Dia. Apa saja tanda lainnya?

Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Orang-orang yang Dirindukan Allah SWT bisa disaksikan DI SINI. Kajian bersama Habib Ja’far ini tayang tiap hari selama bulan Ramadan menjelang waktu berbuka puasa pukul 18.00 WIB. Jangan terlewat!

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com