Tag Archives: hikmah

Pemimpin Hendaknya Sabar



Jakarta

Dikisahkan tentang Nabi Zulkifli : Meski telah menjadi raja, Nabi Zulkifli tetap tak berhenti melaksanakan puasa dan shalat malam. Itu karena Nabi Zulkifli dikenal sebagai ahli ibadah. Ia hanya tidur sebentar setiap malam dan menghabiskan sebagian waktunya untuk beribadah. Karena hal itu, iblis pun ingin menggoda keimanan Nabi Zulkifli.

Pada suatu malam, iblis datang menyamar sebagai seorang kakek. Iblis bermaksud untuk mengganggu waktu tidur Nabi Zulkifli agar melalaikan shalat malamnya. Pengawal kerajaan sempat melarang kakek tersebut untuk masuk, namun ia terus memaksa hingga membuat keributan. Nabi Zulkifli yang mendengar keributan pun memerintahkan pengawal untuk mengizinkan kakek tersebut masuk dan menemuinya.

Iblis berkedok kakek tersebut mengumpat Nabi Zulkifli ketika dipersilahkan masuk. Namun, Nabi Zulkifli tidak marah, justru terus bersabar, hingga iblis pun merasa bosan dan akhirnya meminta izin untuk pulang. Para pengawal yang merasa heran pun menanyakan kepada nabi, siapakah kakek itu. Lantas, nabi menjawab bahwa kakek itu adalah iblis.


Ingatlah bahwa bersabar itu perintah Allah SWT. sebagaimana firman-Nya :
1. Surah an-Nahl ayat 127 yang artinya, “Bersabarlah, kesabaranmu itu tak lain adalah berkat pertolongan Allah.” Dan bersabarlah kamu (wahai rasul), terhadap gangguan yang menimpamu di jalan Allah SWT. sampai datang kepadamu jalan keluar. Dan tidaklah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah SWT. yang menolongmu untuk tetap bersabar dan meneguhkan(hati) mu. Permasalahan sebagai pemimpin tentu tidaklah sedikit, oleh karena itu dengan kesabaran, maka akan Allah SWT. beri pertolongan dengan jalan keluar atas masalah yang ada.
2. Surah at-Thur ayat 48 yang artinya, “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.” Jelas bahwa bersabar menanti takdir merupakan perbuatan yang baik dan meyakini serta ridha atas segala sesuatu yang akan terjadi. Dalam hal ini kadangkala seseorang tidaklah sabar dan ingin segera terjadi, padahal keinginan itu tidak terwujud lantaran tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Tindakan ini adalah sia-sia belaka.

Hadis yang diriwayatkan Ibnu Abi al-Dunya, Rusulullah SAW. bersabda, “Ada tiga macam sabar : sabar menghadapi musibah, sabar menjalankan ibadah, dan sabar menjauhi maksiat. Orang yang bersabar menghadapi musibah dengan tekad yang baik, niscaya Allah akan mengangkat kedudukannya sebanyak tiga ratus derajat. Jarak antara satu derajat dengan derajat lainnya seperti jarak antara langit dan bumi. Orang yang sabar menjalankan ibadah akan diangkat kedudukannya sebanyak enam ratus derajat. Jarak antara satu derajat dan derajat lainnya seperti jarak antara dasar bumi dan puncak Arasy. Dan orang yang bersabar menghindari maksiat akan diangkat kedudukannya sebanyak sembilan ratus derajat. Jarak antara satu derajat dan derajat lainnya dua kali lipat lebih jauh daripada jarak antara bumi dan puncak Arasy.

Kisah Nabi Zulkifli sebagai raja yang dimaki-maki seorang kakek, beliau tetap bersabar hingga si kakek ( yang jelmaan iblis ) berlalu tanpa hasil. Kesabaran inilah dibutuhkan bagi pemimpin saat ini, karena dengan sabar akan datang pertolongan-Nya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Menampakkan sikap emosi pastilah bukan menyelesaikan namun justru akan mempertajam bahkan bisa melebar persoalan tersebut. Coba kita cari apakah ada tokoh-tokoh yang berjiwa besar menampakkan emosinya ? Tentu jawabnya, “Tidak ada.”

Sebetulnya cara bersabar itu sederhana meskipun tidak mudah diterapkan. Pertama, tabahlah saat menghadapi guncangan pertama ( masa-masa awal terjadinya musibah ). Kedua, pasrahkan diri pada Allah SWT. Ketiga, tenangkan diri jika perlu menangis tidak dilarang. Orang bijak berkata, “Kesedihan tidak bisa mengembalikan keadaan, tetapi bisa mengurangi beban.” Keempat, jangan tampakkan kesedihan pada orang lain. Nasihat Ali bin Abi Thalib, “Demi memuliakan AllahSWT. dan menunaikan hak-hak-Nya, jangan keluhkan keadaan sakitmu dan jangan sebut-sebut musibahmu.” Hal ini yang sering kita dengar dan alami, saat seseorang mendapatkan musibah malah mengeluh dengan bercerita pada banyak orang.

Adalah ujian yang berat adalah saat dituduh telah melakukan penyelewengan, hadapilah dengan penuh kesabaran dan sampaikan dengan santun serta beberkan data-data yang menjadi fakta. Kecuali jika tuduhan itu benar dan yang dituduh membela diri. Ingatlah bahwa Allah SWT. menjadikan kesabaran sebagai sumber datangnya cinta, kebersamaan, pertolongan, bantuan dan balasan yang baik. Salah satu dari kelima itu sungguh cukup
untuk mendatangkan keutamaan bagi seorang hamba.

Oleh sebab itu, siapa pun nanti yang dikehendaki-Nya untuk memimpin negeri tercinta ini hendaklah mengutamakan sikap sabar dalam menjalankan amanahnya. Sungguh Allah SWT. Maha Adil dan Bijaksana.

Aunur Rofiq
Ketua DPP PPP periode 2020-2025
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Etika Debat dalam Islam



Jakarta

Dalam bahasa Arab debat disebut dengan jadal atau jidal. Pengertian debat seperti yang disebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi argumen untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Debat dilakukan bertujuan untuk menyampaikan dan mempertahankan argumen. Argumen yang berkualitas dapat disampaikan berdasarkan fakta, bukti, dan pola pikir yang logis.

Dalam al-Quran, berkenaan dengan debat disebut dalam Surat an-Nahl ayat 125,

اُدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ


Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan debatlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk [QS. an-Nahl [16]: 125].

Makna kalimat وَجَادِلْهُم dalam ayat di atas, sebagaimana disebut dalam Tafsir Ibnu Katsir adalah seseorang yang mengajukan alasan dalam berdebat dan membantah hendaklah dilakukan dengan cara yang baik dan lemah lembut dalam berbicara.

Dalam ayat lain, Allah berfirman tentang pentingnya memilih diksi atau redaksi yang baik saat berdiskusi dengan orang lain.

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

Berbicaralah kamu (Musa) berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut [QS. Thaha (20): 44].

Dalam Islam debat sudah ada dan biasa dilakukan oleh para Nabi terdahulu. Hal itu dilakukan untuk menyampaikan kebenaran ajaran yang didakwahkan kepada kaumnya, dan tentu disampaikan dengan etika atau tata krama yang baik. Perdebatan para Nabi dengan kaumnya, antara lain dapat dilihat pada kisah Nabi Nuh Alaihi As-Salam saat berdebat dengan kaumnya untuk mengajak meng-Esakan Allah, seperti yang dijelaskan dalam al-Quran Surat Hud ayat 25-33. Terdapat juga kisah perdebatan antara Nabi Ibrahim Alaihi As-Salam dengan ayah dan kaumnya terkait larangan menyekutukan Allah, sebagaimana disebut dalam al-Quran Surat Al-An’am ayat 74-83. Atau juga kisah perdebatan Nabi Ibrahim Alaihi As-Salam dengan Namrud saat Namrud mengaku dirinya sebagai tuhan seperti yang dikisahkan dalam al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 258. Terdapat juga dalam al-Quran Surat Hud ayat 84-93 tentang kisah perdebatan antara Nabi Syuaib Alaihi As-Salam dengan kaumnya tentang seruan menyembah Allah, menjauhi kekufuran, mengurangi ukuran timbangan dan larangan memakan harta milik orang lain dengan cara yang batil.

Etika Mulia dalam Berdebat

Debat yang baik sejatinya bertujuan untuk bertukar pikiran dengan saling memberikan alasan atau argumentasi. Oleh karenanya, orang yang saling berdebat masing-masing hendaknya menjaga atau memperhatikan adab atau etika debat yang antara lain sebagai berikut;

1. Berdebat dengan niat yang baik. Niat yang baik saat berdebat dilakukan untuk mencari dan menjunjung nilai-nilai kebenaran, mengungkap fakta disertai argumentasi atau bukti yang akurat, kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan.

2. Orang yang berdebat memiliki pengetahuan dan kemampuan atas disiplin ilmu yang menjadi tema debat dengan merujuk pada sumber-sumber yang otoritatif.

3. Jika terjadi perselisihan antara kedua belah pihak, maka solusinya kembalikanlah persoalan itu kepada sumber pokoknya dalam Islam, yaitu Al-Quran dan Hadis.

4. Pada saat berdebat hendaknya menggunakan diksi yang baik serta cara atau etika dan tata krama yang mulia; bahasa yang lembut, tidak meremehkan lawan debat, apalagi menghina lawan debatnya.

5. Mendahulukan pembahasan yang lebih penting yang bersifat subtansial.

6. Menghindari narasi atau redaksi yang panjang, memilih bahasa yang familiar yang mudah dipahami oleh lawan debatnya, dan tidak boleh keluar dari tema pokok pembahasan debat.

7. Pentingnya memperhatikan keseluruhan aspek dalam berdialektika, baik yang berkaitan dengan orang yang terlibat, materi yang dikaji, kondisi, dan lokasi perdebatan.

Jika tujuh poin etika atau tata krama cara berdebat di atas dapat dilakukan oleh orang yang saling berdebat, maka acara debat dapat dinikmati dengan baik, menjadi ilmu bagi yang mendengar atau melihatnya, menjadi nilai edukatif bagi para pemirsa, dan tentu saja orang yang berdebat akan menuai pujian dari orang lain.

KH. Abdul Muiz Ali
Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Visi Pemimpin



Jakarta

Visi merupakan suatu rangkaian kata yang di dalamnya terdapat impian, cita-cita atau nilai inti dari seorang pemimpin. Bisa dikatakan visi menjadi tujuan masa depan suatu organisasi atau lembaga maupun suatu negeri. Atau merupakan kemampuan untuk mencapai sesuatu pada masa depan. Dengan visi, maka kita didorong melakukan inovasi dan kreasi untuk meraih sesuatu yang belum dicapai.

Amirul Mukminin Umar bin Khattab berkata, “Usahakan jangan sampai kamu memiliki cita-cita yang rendah. Kulihat tak ada sesuatu yang dapat menjatuhkan kekuatan seseorang ketimbang rendahnya cita-cita.”

Sedangkan Amir ibn Al-Ash berkata, “Derajat seseorang bergantung bagaimana ia meletakkan dirinya. Jika ia menjadikan dirinya mulia, jadilah ia orang yang terhormat. Apabila ia merendahkan dirinya maka jadilah ia seorang yang rendah dan hina.”


Hal ini bisa terlihat kondisi para elite negeri ini, sebagian telah meletakkan dirinya rendah dan hina dan sebagian lainnya menempatkan dirinya sebagai orang yang mulia. Maka bagi generasi muda muslim yang saat ini berpolitik, lakukan dan tempatkan diri sebagai politisi yang baik dan melayani rakyat. Tempatkan diri pada derajat yang mulia dan jangan engkau hinakan dirimu sendiri.

Menghinakan diri itu tidak ubahnya berprilaku bergantung pada sesama, padahal makhluk pada hakikatnya faqir, sia-sialah bergantung pada sesama faqirnya. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Ankabut ayat 41 yang artinya, “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba – laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.”

Kaum musyrikin yang menyembah berhala atau selain Allah SWT. untuk mewujudkan harapan mereka diibaratkan seperti rumah laba-laba, yaitu rumah yang paling rapuh dan lemah untuk berlindung. Secara logika berlindung pada yang lemah itu tidak bisa diterima, jika ini dilakukan maka menunjukkan bahwa dirinya terhijab atas pelindung dari segala pelindung yaitu Allah SWT.

Mari kita simak kisah seorang pemimpin yang berakhlak mulia. Diceritakan bahwa raja Hermiz ibn Sabur memiliki seorang menteri. Dia mengirim surat pada baginda raja untuk memberi kabar disana ( pelabuhan ) terdapat para saudagar yang membawa banyak perhiasan permata, intan dan yaqut yang sangat indah dan bernilai tinggi.
“Kami sendiri” tutur menteri, “telah membeli dari mereka sebagian pajangan almari dengan harga kurang lebih 1.000 dinar. Sekarang telah datang seorang saudagar yang mencari perhiasan seperti itu dan ia bersedia membelinya dengan harga mahal ( dapat memberi keuntungan besar ). Jika Paduka berkenan membelinya, maka renungkanlah peluang ini. “

Lalu Baginda menulis surat sebagai jawaban. Isinya, “Satu juta maupun satu milyar aku tidak tertarik sedikit pun. Jika aku bekerja karena motif perdagangan dan komersial maka siapa yang akan bekerja dengan imarah dan pemerintahan.”
” Coba kamu renungkan untuk dirimu sendiri, wahai orang bodoh. Jangan sekali-kali kamu mengulangi perkataan ini kepadaku. Jangan pula kamu mencampur ke dalam harta kami satu sen pun dari perdagangan. Sebab hal ini dapat meruntuhkan kehormatan seorang raja dan dapat pula mencoreng nama baiknya. Juga dapat membahayakan prestisnya semasa hidup maupun setelahnya.”

Kisah ini telah memberikan gambaran yang jelas untuk tidak mencampurkan amanah sebagai pemimpin dengan kepentingan lainnya. Yang sering menggoda dan tergelincirnya bagi seorang pemimpin adalah motif komersil. Posisi itu telah memudahkan baginya ( pemimpin ) untuk mendapatkan keuntungan finansial yang tidak sedikit. Ingatlah bahwa menjadi seorang pemimpin negeri bukan sekedar motif bisnis diri dan kroninya, melainkan dibutuhkan tanggung jawab untuk menjadikan rakyatnya makmur. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Shad ayat 26 yang artinya, “Allah berfirman, “‘Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.””

Makna ayat di atas adalah jangan mengikuti hawa nafsu dalam menetapkan hukum karena hal itu akan menyesatkanmu dari agama dan syariat-Nya, sesungguhnya orang-orang yang tersesat dari jalan-Nya akan mendapatkan siksa yang pedih di dalam api neraka, karena kelalaian mereka terhadap hari pembalasan dan perhitungan amal.
Dalam ayat ini terkandung pesan kepada ulil amri (pemerintah) agar mereka menetapkan hukum dengan berpijak kepada kebenaran yang diturunkan dari Allah SWT. dan tidak menyimpang dari-Nya karena hal itu akan menyesatkan mereka dari jalan-Nya.

Seorang pemimpin yang bervisi itu mempunyai pandangan yang luas, bisa memperkirakan masa depan ( kepastian ada pada-Nya ) berlaku adil dan melayani masyarakat. Pemimpin yang sadar bahwa amanah tersebut datangnya dari Yang Kuasa, maka ia gunakan sebagai wasilah menuju kebaikan. Ya Allah, tuntunlah kami rakyat Indonesia dalam pesta demokrasi nanti dapat memilih pemimpin yang bervisi bukan yang bermotif kesenangan dunia / harta kekayaan, berilah hidayah dan taufiq agar pemimpin terpilih tidak tergoda hingga melenceng dari amanah-Mu.

Aunur Rofiq
Ketua DPP PPP periode 2020-2025
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Sang Penentu



Jakarta

Aku bermimpi berjumpa dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani, beliau memberikan nasihat, “Jika kalian menjauh dari orang-orang demi kebenaran, kalian tak akan meminta sesuatu pun kepada manusia dengan lisan kalian. Jika kalian berhenti meminta dengan lisan, jangan pula meminta kepada mereka dengan cara apa pun, bahkan meski hanya terlintas dalam pikiran. Sebab, meminta dalam benak pun sama saja dengan meminta dengan lisan. Ketahuilah, Allah SWT. maha berkuasa mengubah, mengganti, meninggikan dan merendahkan siapa pun. Dia menaikkan derajat sebagian orang.

Dia memberi peringatan kepada mereka yang telah dinaikkan derajatnya bahwa Dia berkuasa menjatuhkan lagi mereka ke derajat yang paling rendah. Dia juga memberi harapan bahwa Dia akan memelihara mereka di tempat yang terpuji itu. Sementara, mereka yang telah dilemparkan ke derajat terendah, diancam-Nya dengan kehinaan abadi, sekaligus diberi harapan akan dinaikkan ke derajat tertinggi.”
Kemudian terdengar suara ayam berkokok dan aku terbangun.

Dari nasihat ini jika disimak dengan tertib akan mendapatkan beberapa makna :


1. Menjauh dari orang-orang demi kebenaran. Ketika dalam kehidupan masyarakat telah bercampur aduk antara kebatilan dan kebenaran, maka jauhilah orang-orang yang menyebarkan kebatilan. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Baqarah ayat 42 yang artinya, “Jangan kalian mencampur kebenaran dengan kebatilan. Jangan juga kalian menyembunyikan kebenaran. Padahal kalian menyadarinya.” Dalam kehidupan saat ini khususnya pada saat suhu politik tinggi, terjadinya saling serang, fitnah dan dusta menyebar kemana-mana, maka jauhilah sumber-sumber itu agar engkau tidak tertular virus kebatilan.

2. Tidak meminta kepada sesama. Hal ini sangat penting karena meminta kepada sesama ( sama-sama faqir ) merupakan kesia-sian. Seseorang yang berkuasa dan berkedudukan tinggi biasanya banyak didekati untuk memperoleh manfaat duniawi, sadarilah bahwa kekuasaan itu merupakan anugerah dari Allah SWT. bukan karena upayamu. Jika engkau bersandar karena upaya maka engkau telah mengingkari-Nya. Sesama tidak bisa menjadikan “manfaat” karena diberikan oleh-Nya, jadi jauhilah ketergantungan pada sesama. Saling sandera dalam berpolitik itu terjadi karena salah satu pihak berbuat kesalahan. Akhirnya menjadi tontonan yang menarik di masyarakat tatkala pihak yang tersandera menyanjung pihak lainnya. Larangan bergantung pada selain-Nya sebagaimana dalam firman-Nya surah Fathir ayat 15 yang artinya, “Hai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” Jelas bahwa seseorang yang bergantung pada orang lain meski berkuasa tidaklah dibenarkan dan perbuatan itu menuju kesyirikan. Sadarilah sesungguhnya manusia itu lemah seperti dalam firman-Nya surah an-Nisa’ ayat 28.

3. Kuasa-Nya dalam menentukan derajat manusia. Seseorang itu sejatinya hamba dari Sang Pencipta, maka hendaklah tidak berlaku seperti-Nya dengan menentukan nasib seseorang. Ikut campur dalam urusan yang menjadi domain Allah SWT. merupakan tindakan sombong karena ikut dalam mengatur urusan-Nya. Ketahuilah, bahwa Allah SWT. mengatur dirimu dalam setiap langkah maupun setiap desahan nafasmu. Dia telah mengatur urusanmu sebaik-baiknya pengaturan pada hari ditetapkannya takdir. Dalam surah al-A’raf ayat 172 yang artinya, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, ‘Betul ( Engkau Tuhan kami ).'” Disamping itu Allah SWT. telah menciptakan manusia dengan sifat yang lemah ( an-Nisa’ ayat 28 ). Jika engkau “merasa” mampu menentukan nasib seseorang dan melakukannya, maka ingatlah kehendakmu tidak akan terwujud jika tidak sama dengan kehendak-Nya. Adapun yang mewujud itu merupakan kehendak-Nya dan jangan dikira itu merupakan kehendakmu.

Dalam perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat, maka hati-hatilah jangan sampai terjerumus dalam dusta, fitnah maupun ghibah. Jauhilah sumber-sumber kebatilan karena saat ini tidaklah mudah membedakan antara yang batil dan yang hak. Menjelang pelaksanaan pesta demokrasi yang kurang dari dua pekan ini, makin mengkristal orang-orang ada yang merapat dan ada yang menjauh pada pasangan calon Presiden dan tentu dengan alasan masing-masing. Dulu ada benci sekarang ada cinta dan sebaliknya yang cinta bisa jadi benci, itulah hati manusia yang dibolak balikkan Allah SWT. Namun demikian, sebelum melakukan sesuatu endapkanlah dalam hati dulu dan jika hal itu baik maka lakukan, jika tidak baik maka diamlah.

Kedudukan dengan derajat tinggi merupakan idaman sebagian orang dan biasanya diupayakan untuk menggapainya, ingatlah dalam surah ali-Imran ayat 26 yang artinya, “Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Segala sesuatu yang berhubungan dengan kedudukan seseorang, itulah kuasa-Nya. Jika engkau mencapai kedudukan atau maqam tertentu, jangan katakan kepada orang lain. Sebab, dalam perubahan nasib dari hari ke hari, keagungan Allah SWT. yang mewujud. Jika engkau katakan kedudukanmu pada orang lain ( dengan pesta naik pangkat atau pesta kemenangan ), mungkin saja kedudukanmu akan sirna, yang kau anggap abadi ternyata berubah hingga kau malu dengan orang yang kau undang pesta. Kedudukan akan berubah, pemimpin pun dipergilirkan tiada yang kekal abadi. Janganlah sombong dan berbangga diri saat berkedudukan karena engkau tiada tahu saatnya untuk direndahkan oleh-Nya.

Semoga Allah SWT. menjaga dan menguatkan keimanan kita, agar tidak termasuk golongan orang-orang yang sombong, ikut mengatur sesama dan mengejar kedudukan yang fana.

Aunur Rofiq

Ketua DPP PPP periode 2020-2025
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Teks Khutbah Jumat Bulan Syaban: Amalan Persiapan Ramadan


Jakarta

Khutbah Jumat bertema Syaban bisa menjadi pilihan topik khatib sholat Jumat pekan ini. Ada banyak pembahasan terkait keutamaan Syaban, salah satunya tentang keutamaan ibadah-ibadah sunnah di dalamnya.

Bulan Syaban diapit dua bulan mulia yakni Rajab dan Ramadan. Pada bulan ini terdapat malam Nisfu Syaban yang menjadi malam istimewa.

Menurut Kalender Kementerian Agama, 1 Syaban 1445 Hijriah jatuh pada Minggu, 11 Februari 2024. Artinya pada Jumat, 16 Februari 2024 bertepatan dengan 6 Syaban 1445 H.


Khutbah Jumat Bertema Syaban

Merangkum buku Materi Khutbah Jumat Sepanjang Tahun karya Muhammad Khatib, S.Pd.I dan juga mengutip laman resmi Kementerian Agama (Kemenag), berikut teks khutbah Jumat bulan Syaban.

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى الْيَوْمِ الَّذِيْ نَلْقَاه
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
أمّا بَعْدُ

Hadirin jamaah Jumah rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama menjaga kualitas takwa kita kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan keinsyafan. Karena hanya dengan takwalah, kita bisa mendekati Allah dan mencapai kebahagiaan, di dunia maupun di akhirat.

Sebagaimana firman-Nya:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ يَتَّقُونَ

Artinya: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (QS. Yunus: 63)

Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Alhamdulillah, hari ini kita semua masih bertemu bulan Syaban. Syaban adalah bulan kedelapan dalam kalender Hijriyah. Secara bahasa, kata “Syaban” mempunyai arti “berkelompok”. Nama ini disesuaikan dengan tradisi bangsa Arab yang berkelompok mencari nafkah pada bulan itu.

Syaban termasuk bulan yang dimuliakan Rasulullah SAW. Terbukti beliau berpuasa pada bulan ini. Usamah berkata pada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunah) sebanyak yang engkau lakukan dalam bulan Syaban.” Rasulullah SAW menjawab: “Bulan Syaban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.” (HR. An-Nasai dan Abu Dawud)

Dalam riwayat lain disebutkan: “Bulan itu (Syaban), yang berada di antara Rajab dan Ramadan adalah bulan yang dilupakan manusia, dan ia adalah bulan yang diangkat padanya amal ibadah kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, maka aku suka supaya amal ibadah ku diangkat ketika aku berpuasa. (HR An Nasa’i)

Seorang ulama yang bernama Abu Bakar Al-Warraq Al-Balkhi berkata:

شَهْرُ رَجَبَ شَهْرٌ لِلزَّرْعِ وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ لِلزَّرْعِ وَرَمَضَانُ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ

“Bulan Rajab adalah bulan menanam. Bulan Syaban adalah bulan menyirami tanaman. Dan bulan Ramadan adalah bulan memanen hasil tanaman.”

Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Syaban juga mempunyai makna “jalan setapak menuju puncak.” Artinya, Syaban adalah bulan persiapan yang disediakan Allah untuk menapaki dan menjelajahi keimanan, sebagai persiapan menghadapi puncak bulan Ramadan.

Meniti jalan menuju puncak bukanlah hal yang mudah. Sebagaimana mendaki gunung, butuh latihan dan persiapan yang matang. Begitu pula meniti puncak di bulan Syaban, tentunya butuh kesungguhan hati dan niat yang suci serta siap bersusah payah. Kepayahan itu akan lebih terasa ketika kita berpuasa di bulan Syaban. Namun, kepayahan itu akan dibalas dengan pahala yang sangat besar.

Rasulullah SAW bersabda: Bulan ini dinamakan Syaban karena berhamburan kebajikan di dalamnya. Barang siapa berpuasa tiga hari di awal bulan Syaban, tiga hari di pertengahannya dan tiga hari di akhirnya, maka Allah SWT menulis untuk orang itu pahala tujuh puluh orang nabi, dan seperti ibadah tujuh puluh tahun, dan jika orang itu meninggal pada tahun ini, maka akan diberikan predikat mati syahid.

Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Pendakian di bulan Syaban ini juga dapat dilakukan dengan cara membanyak beristighfar atau meminta ampun atas segala dosa, lebih-lebih dosa hati yang tak kasat mata, seperti, ujub, takabur, dan sum’ah. Biasanya, dosa hati itu lebih banyak daripada dosa tubuh.

Setiap orang beriman sepatutnya membersihkan dan mensucikan diri dari sifat-sifat tercela serta menyiapkan mental, agar dapat menghadapi dan memasuki bulan Ramadan dengan tenang dan khusyu.

Setiap orang beriman hendaknya mempersiapkan lahir dan batin dalam menghadapi bulan Ramadan, sebagaimana petani menyiapkan air dalam menghadapi musim kering.

Permohonan ampun tidak dibatasi oleh tempat dan waktu, akan tetapi kita bisa melakukan di mana saja dan kapan saja. Namun demikian, ia sangat baik bila dilakukan sebelum datang bulan Ramadan. Hal ini kita lakukan sebagai rasa hormat dan Ta’dzim atas kedatangan bulan yang mulia.

Istighfar dan taubat di bulan Syaban akan menjaga dan memelihara ibadah di bulan Rajab, merawat dan menyuburkan iman di bulan Syaban serta memberi semangat ibadah di bulan Ramadan.

Diharapkan dengan persiapan ini, kita akan meraih kemuliaan dan kemenangan dari Allah SWT di bulan yang agung tersebut.

Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Sebagai penghujung khutbah ini, marilah di bulan Syaban yang penuh fadhilah ini, kita mendaki bersama dengan menjalankan berbagai amal shaleh dan meminta pengampunan-Nya, sehingga kita akan sampai di puncak nanti, sebagai hamba yang siap menjalankan kewajibannya di depan Sang Khaliq.
Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

(dvs/kri)



Sumber : www.detik.com

Sikap Paripurna



Jakarta

Seorang mukmin selalu yakin bahwa setiap apa pun yang ia rasa dan alami adalah atas kehendak Allah SWT. Dan tentu ada hikmah yang tersirat di dalamnya. Jika ia ditimpa suatu kemalangan, maka ia bersabar dan terus meningkatkan kesabarannya. Ia tidak mengeluh kecuali memohon pertolongan-Nya. Ia juga tidak mengumumkan kesusahan hidupnya kepada khalayak dan tidak meminta-minta. Ia hanya menghiba pada Allah SWT, sehingga tidak ada orang yang tahu kalau ia sedang susah. Tapi sebaliknya, bila ia mendapatkan kenikmatan atau kebahagiaan, maka ia bersyukur dan terus meningkatkan kualitas syukurnya dengan mendistribusikan kenikmatan itu kepada orang lain melalui zakat, infaq dan sedekah. Agar orang lain juga bisa merasakan kenikmatan seperti yang ia rasakan.

Penulis selalu teringat nasihat Ulama KH. E.Z. Muttaqien pada awal tahun 1980 an, “Jika engkau mengalami kegagalan, maka tersenyumlah karena kesuksesan akan datang padamu. Dan jika engkau mengalami keberhasilan, maka kernyitkan dahi karena kesusahan akan menghampirimu.”
Orang yang gagal dengan terus menerus bersedih tidak akan mengembalikan semangat, dengan tersenyum engkau optimis dan bersiap menghadapi keberhasilan. Jika engkau berhasil dan pesta pora atas kesuksesan tersebut, maka engkau akan lengah dan tidak akan siap secara mental untuk mendapatkan kesusahan. Dengan kernyitkan dahi maka engkau akan siap dan tidak terlalu bersedih jika menghadapi kegagalan.

Sabar merupakan ketegaran hati terhadap takdir dan hukum-hukum syari’at. Sementara itu syukur dengan menampakkan nikmat Allah SWT. melalui lisan dengan cara memuji dan mengakui, melalui hati dengan cara meyakini dan mencintai, serta melalui anggota badan dengan ketaatan. Sabar dan syukur Merupakan sikap yang saling berkaitan keduanya saling mendukung, ketika kita mengalami musibah yang berat sekalipun, ada saja hal yang tetap patut disyukuri. Begitu pula ketika kita mendapat kesenangan.


Allah SWT. berfirman dalam surah an-Nahl ayat 96 yang artinya… “Dan sesungguhnya kami pasti akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.”
Dalam Tafsir Ibnu Katsir ayat di atas menjelaskan bahwa hal itu merupakan sumpah Allah SWT. yang dikuatkan dengan huruf lam, yaitu sesungguhnya Dia akan membalas berbagai amal perbuatan baik orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari amal mereka dan menghapus berbagai keburukan mereka.

Adapun sikap syukur seperti dalam firman-Nya surah Ibrahim ayat 7 yang artinya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”
Ayat di atas menurut Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan bahwa syukur atas nikmat adalah sebab bertambahnya nikmat tersebut sebagaimana yang telah dijelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 152.
Maka, seyogyanya sabar dan syukur menjadi sikap yang menghiasi akhlak seorang muslim apabila ia sedang ditimpa musibah ataupun diberi nikmat karena kedua hal tersebut sama-sama terdapat kebaikan untuknya.

Kaitannya dengan pemilihan pemimpin negeri, siapa pun yang terpilih itu merupakan kehendak-Nya. Oleh karenanya kita semua wajib ridha atas kehendak-Nya. Bila yang terpilih adalah idolanya, maka bersikaplah syukur pada-Nya dan do’akan agar pemimpin tersebut bisa mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Jika yang terpilih bukan idolamu, maka bersabarlah karena ingatlah bahwa setiap masa ada pemimpinnya dan setiap pemimpin mempunyai masanya. Jadi pemimpin itu tidak akan ada yang kekal, karena Sang Pencipta akan mempergilirkan posisi pemimpin. Dengan sikap sabar dan syukur ini, In syaa’Allah kemungkinan terjadi polarisasi menjadi kecil. Oleh sebab itu kepada para pihak ( penyelenggara, pengawas dll ) agar menjalankan fungsi masing-masing sesuai kapasitas kewenangannya hingga pemilu memperoleh predikat jurdil.

Gejolak akan timbul tatkala ada proses dalam pelaksanaan yang tidak lazim. Oleh sebab itu antar pihak agar menjalankan fungsinya dan menghindari tindakan-tindakan yang menyimpang, saling mengingatkan dan menghormati. Polarisasi tidaklah menguntungkan bagi kehidupan bersama dan tentu akan menghambat pembangunan, padahal negeri ini masih memerlukan pengembangan dalam rangka menuju negeri yang sejajar dengan negeri-negeri maju lainnya.

Marilah kita bersama-sama membangun negeri sesuai dengan posisi dan fungsi masing-masing. Ada yang masuk posisi pelaksana dan ada posisi pengontrol, keduanya mesti berjalan harmonis dan saling menghormati. Tiada yang lebih hebat dari lainnya, karena kehebatan itu semata-mata datangnya dari Sang Pencipta. Bagi pemenang tiada sombong dan berbangga diri, karena seorang mukmin akan tahu hal itu tidak perlu dilakukan.

Mengapa kita harus bersikap paripurna (sabar dan syukur)? Sabar dan syukur adalah dua sifat terpuji yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Keduanya merupakan bukti keimanan kepada Allah SWT, yang menciptakan segala sesuatu dengan hikmah dan rahmat-Nya. Sabar dan syukur juga merupakan kunci untuk mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Sebagaimana hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW. bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya.”

Ya Allah, berikanlah kekuatan untuk bersatu bagi masyarakat, jauhkan sikap bermusuhan, kami sadar dengan bermusuhan tiadalah manfaat dan sia-sia. Kuatkanlah iman kami agar tidak tergoda hasutan setan.

Aunur Rofiq
Ketua DPP PPP periode 2020-2025
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Hati dan Rezeki



Jakarta

Berbagai macam keadaan yang terjadi menyangkut rezeki, oleh sebab itu marilah kita simak do’a Syekh Abu Abbas al-Mursi, “Ya Allah, tundukkan urusan rezeki ini untukku, jagalah aku dari keranjingan dan kepayahan dalam mencari rezeki. Juga lindungilah aku dari kesibukan hati memikirkan rezeki dan kecemasan hati padanya, dari menghinakan diri kepada makhluk demi rezeki, dari berpikir dan mengatur dalam menghasilkannya, dan dari kekikiran dan kebakhilan setelah memperolehnya.”

Dalam hal urusan rezeki ini hati manusia terbagi menjadi tiga kondisi :

Pertama, kondisi sebelum Allah SWT. rezeki. Kondisi ini menjadikan seseorang keranjingan dan susah payah mencari rezeki. Hati yang sibuk dengan urusan rezeki, hasrat yang bergantung kepadanya dan rela merendahkan diri di hadapan makhluk karena rezeki. Tergila-gila dalam mengejar rezeki ini menjadikan seseorang melupakan dan meninggalkan kewajibannya pada keyakinan serta kadang memperolok agamanya sendiri ( sadar maupun tidak ).


Keadaan ini timbul dari hilangnya kepercayaan dan lemahnya keyakinan. Kepercayaan dan keyakinan hilang disebabkan karena hilangnya cahaya petunjuk dari-Nya. Hal ini karena antara seseorang ada tabir penghalang dengan Tuhannya. Kesibukan hati memikirkan rezeki dan kecemasan hati menyangkut rezeki, keduanya merupakan penghalang yang besar. Maka hasrat akan terpaku pada urusan rezeki, sehingga tidak ada ruang lagi untuk yang lain. Inilah yang menjadi kekhawatiran sehingga melupakan hak Allah SWT. atas hambanya. Ingatlah bahwa rezeki sudah di jamin oleh-Nya.

Perkataan Syekh tentang “menghinakan diri kepada makhluk demi rezeki” ini terjadi karena lemahnya iman hingga bersandar pada sesama makhluk. Seseorang yang telah melakukan kesalahan dan diketahui oleh pihak lainnya, maka ia akan taat dan patuh ( bergantung/bersandar ) pada orang tersebut demi kelangsungan rezeki dan kenikmatan hidupnya. Tontonan seperti ini banyak kita saksikan menjelang pesta demokrasi, ada istilah saling mengunci atau orang itu telah terkunci. Mengemis untuk suatu jabatan, untuk keselamatan agar tidak diusik kasus pidananya, semua itu tindakan merendahkan martabat diri kepada sesama makhluk, dimana perbuatan ini tidak disukai Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Thaha ayat 127 yang artinya, “Sungguh, azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.”

Kedua, Kondisi setelah rezeki itu didapat. Allah SWT. telah memberikan anugerah berupa kekayaan yang berlimpah. Tahukah bahwa kekayaan, jabatan dan kenikmatan hidup itu merupakan pemberian-Nya dan menjadikan pendidikan / pelajaran bagi yang menerima. Adakalanya seseorang berusaha dengan keras, namun hasil yang diperoleh adalah kemiskinan. Sebagai seorang mukmin, kita tidak boleh menjauhi sebab-sebab yang mendatangkan berbagai kebaikan dan kebahagiaan. Dengan kata lain, semua bentuk kebahagiaan dan kekayaan yang diberikan pada sebagian orang, sedangkan sebagian yang lain diberi kemiskinan dan penderitaan, maka semua itu telah ditakdirkan oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT. membagi akhlak diantara kalian, sebagaimana membagi rezeki bagi kalian. Sesungguhnya Allah SWT. memberikan dunia bagi orang-orang yang dicintai oleh-Nya, maupun bagi yang tidak dicintai oleh-Nya. Akan tetapi, Allah SWT. tidak memberikan agama kecuali bagi orang-orang yang dicintai-Nya. Dan siapa saja yang diberi agama oleh-Nya, maka ia termasuk orang yang dicintai oleh-Nya. ( HR. Imam Ahmad ).

Oleh sebab itu, kita tidak boleh memandang kekayaan sebagai kebaikan semata. Pemberian itu ( harta, anak dan lainnya ) kepada sebagian orang sebagai ujian bagi mereka. Ada kalanya tidak memberikannya pads sebagian yang lain, juga sebagai ujian. Bagi keduanya ( yang diberi dan yang tidak diberi ) tetap tersedia kebaikan jika mereka memahaminya. Jika engkau orang baik dan menyalurkan pemberian-Nya kepada segala macam tujuan kebaikan, maka karunia-Nya tersebut menjadikan kebaikan bagi dirimu.

Ada orang yang hidupnya serba kekurangan, namun do’anya yang selalu mengalir dan dikabulkan oleh Allah SWT. Seperti yang disebutkan dalam hadis riwayat Tirmidzi, “Berapa banyak orang yang hidupnya serba kekurangan, akan tetapi jika ia berdo’a, maka do’anya akan dikabulkan oleh Allah SWT. Di antara mereka itu adalah al-Barra bin Malik.”

Al-Barra bin Malik adalah saudara sebapak dengan Anas bin Malik ra. Ia termasuk orang yang tidak mampu membeli makanan dan tidak mempunyai tempat tinggal. Ia hidup sangat sederhana. Ternyata al-Barra mendapat kedudukan yang tinggi di sisi-Nya.

Oleh sebab itu, kekayaan dan kemiskinan bukan satu-satunya cobaan, semua itu hendaknya disesuaikan dengan situasinya. Ada kalanya kekayaan dan kemiskinan merupakan salah satu karunia-Nya. Ingatlah bahwa Rasulullah SAW. memilih hidup dalam kemiskinan dengan kehendaknya sendiri. Sejatinya anugerah yang diberikan Allah SWT. hendaknya di gunakan pada jalan-Nya.

Ketiga, Kondisi setelah selesai dengan urusan rezeki. Maka tahulah bahwa tiadalah perlu ikut campur dalam berpikir dan mengatur rencana dan pilihan dalam menghasilkan rezeki. Rezeki akan datang dengan caranya yang dikehendaki Yang Kuasa bukan yang engkau harapkan. Menjalankan perintah-Nya untuk berbagi manfaat dan pasrahkan pada-Nya.

Ya Allah, jagalah hati kami agar tidak ikut merencanakan dan penggapaian rezeki, karena hal itu sudah menjadi ketetapan-Mu. Dan jagalah hati kami untuk tidak menjadi pemalas, tetap bersemangat menjalankan perintah-Mu.

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Kesiapan Ormas Islam Merespon Kota Global Jakarta



Jakarta

Jakarta tengah bersiap menjadi kota global (global city). Hal ini merupakan sebuah tuntutan pasca nantinya tidak lagi menyandang status Ibu Kota negara. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara mengamanatkan perlunya mengganti UU Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam Rapat Paripurna (Selasa, 5/12/2023), DPR RI mengesahkan RUU tentang Daerah Khusus Jakarta (DKJ) menjadi usul inisiatif DPR.

Meski proses politik meningkatkan RUU ini menjadi Undang-undang masih berlangsung, yang pasti dalam jangka panjang, Jakarta masih sebagai ‘ibu kota’ keuangan Indonesia. Juga menjadi simpul bagi produksi dan distribusi logistik, barang dan jasa, termasuk ekspor dan impornya. Namun upaya persiapan untuk mengarahkan Jakarta menjadi kota global yang kompetitif sekaligus pusat perekonomian nasional, telah dimulai baik di tingkat lembaga/instansi terkait juga melibatkan stakeholder nasional maupun internasional. Status kota global menjadi
cita-cita setiap negara di dunia dengan segala tantangan yang dimiliki. Ke depan, menurut para ahli tata kota, Jakarta tidak hanya menjadi pusat peradaban nasional, namun sebagai kota cerdas yang menjadi titik temu segala kegiatan internasional dan terbuka untuk semua.

Kota Global dan Tantangan yang Dihadapi


Tantangan mewujudkan Jakarta sebagai kota global tidak sedikit. Paling tidak beberapa hal harus dilakukan oleh sebuah kota untuk memenuhi 12 syarat sebagai kota global meliputi:
infrastruktur yang berkualitas, pusat keuangan dan perbankan, kepemimpinan politik yang kuat, kehadiran bisnis dan industri, pendidikan dan penelitian berkualitas, budaya dan kreativitas,
keragaman dan kosmopolitanisme, pusat perdagangan dan pariwisata, keamanan dan kestabilan, inovasi dan teknologi, konektivitas global, dan kualitas hidup yang tinggi.

Berbagai usulan dirumuskan semisal yang dikemukakan oleh Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta dengan menyiapkan titik kawasan tematik yang berpotensi mewujudkan 12 syarat kota
global dimaksud. Di antara titik kawasan yang mengemuka misalnya, pusat Ibu Kota ASEAN di Blok M. Pusat pendidikan di Grogol hingga Tanjung Duren. Pusat kesehatan dan kebudayaan di
RSCM Salemba, RS Cikini dan TIM. Pusat transit hub di UKI, TNI AU, Kodam Jaya, PGC, Pool TJ. Pusat transit hub di Dukuh Atas hingga Kebon Melati. Pusat transit hub di Velodrome hingga
Manggarai. Pusat kebudayan keagamaan di Pasar Baru, GKJ Kantor Pos, Lapangan Banteng, Istiqlal, dan Katedral. Pusat sejarah kota di Harmoni, Glodok, dan Kota Tua. Pusat olahraga
terpadu atau MICE di JIS, Sunter, Ancol. Dan pusat olahraga terpadu di GBK Senayan.

Melihat usulan di atas, tentu kita masih memerlukan perluasan cakupan area termasuk konten yang sejatinya menjadi ruh dari pada kota global tersebut. Sebagai perbandingan kota
global ciamik yang telah ada di negara maju misalnya New York City, AS sebagai pusat keuangan dan bisnis internasional. London sebagai pusat keuangan internasional, teknologi, budaya, dan politik. Tokyo sebagai pusat keuangan, bisnis, teknologi, dan budaya di kawasan Asia-Pasifik. Hong Kong sebagai pusat perdagangan internasional, keuangan, dan bisnis di Asia Timur.
Singapura sebagai pusat keuangan di Asia, infrastruktur yang canggih, dan hubungan perdagangan internasional yang luas. Paris sebagai pusat budaya internasional dan juga
memiliki peran yang signifikan dalam perdagangan, keuangan, dan pariwisata internasional. Jika kita menganggap bahwa sejumlah negara di atas terkategori negara maju, kita dapat pula menengok kepada negara berkembang yang telah lebih dahulu berproses mewujudkan beberapa wilayahnya sebagai kota global. Sebut saja Shanghai, Mumbai, São Paulo-Brasil, Dubai, Kuala Lumpur, Istanbul dan Bangkok.

Kota Global dan Urgensi Pengawal Etika Komunal yang Inklusif

Kota global membawa aspek kemajuan dan modernitas yang otomatis mendorong perubahan yang cepat dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk nilai-nilai, keyakinan,
dan norma-norma sosial. Dalam menghadapi perubahan ini, penting untuk mempertahankan kesiapan dalam pengawalan akidah dan etika komunal yang inklusif. Dalam suasana modernitas
yang cepat, ada risiko bagi budaya dan agama untuk terpinggirkan atau terdistorsi. Dengan memperkuat pengawalan akidah dan etika komunal yang inklusif, kita dapat mengantisipasi nilai nilai inti budaya dan agama dipertahankan dengan baik. Kesiapan dalam pengawalan akidah dan etika komunal yang inklusif membantu mencegah konflik dan pertentangan antara kelompok yang berbeda. Hal ini menciptakan lingkungan yang harmonis di mana beragam keyakinan dan kepercayaan dapat hidup berdampingan secara damai. Etika komunal yang inklusif mendorong kerja sama, toleransi, dan empati antara anggota masyarakat. Ini juga membentuk dasar untuk kehidupan bermasyarakat yang sehat dan harmonis. Kita juga dapat menciptakan lingkungan sosial yang mendukung pembangunan kota global yang berkelanjutan. Dan yang tak kalah pentingnya bahwa kemajuan infrastruktur, modernitas, dan ekonomi tersebut selaras dengan nilai-nilai etik kemanusiaan universal yang mendasar seperti keadilan, kesetaraan, dankeberagaman.

Di sinilah peran dari pada organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam seperti MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan lain-lainnya untuk mengawal etika komunial yang inklusif
sekaligus menyesuaikan/revisi arah pemikiran dan pergerakan yang tidak boleh business as usual.

Ormas Islam bervisi Kota Global

Sebagai langkah futuristik yang harus diperkuat oleh ormas Islam bervisi kota global misalnya; penyesuaian misi amar ma’ruf nahyi munkar dengan nilai-nilai universal, seperti
toleransi, keragaman, keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Hal ini membantu membangun kesamaan pemahaman dan mempromosikan kerja sama antarkelompok masyarakat dalam
konteks global. Fokus pada isu-isu global yang relevan seperti perubahan iklim, perdagangan internasional, kemiskinan global, penjajahan, dan perdamaian dunia. Hal ini membantu
meningkatkan kontribusi ormas dalam menciptakan perubahan positif di tingkat global. Kerja sama internasional dengan organisasi serupa di negara-negara lain untuk bertukar pengetahuan,
pengalaman, dan sumber daya dalam menangani isu-isu global. Penggunaan teknologi dan komunikasi digital, termasuk bahasa internasional untuk meningkatkan visibilitas dan pengaruh
di tingkat global. Pendidikan dan advokasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu-isu global dan pentingnya kerja sama lintas batas dalam menyelesaikannya misal melalui
seminar, lokakarya, kampanye publik, dan kegiatan lainnya. Serta partisipasi dalam forum Internasional untuk memperjuangkan agenda nasional sekaligus memengaruhi kebijakan di
tingkat global.

Sejalan dengan visi global di atas yang mendesak pula digiatkan ormas adalah penguatan relasi dan persahabatan internasional guna mempertajam diplomasi wajah Islam Nusantara yang
moderat, rasional, dan mendukung modernitas berbasis nilai etika universal. Dengan merencanakan dan melaksanakan program-program ini, ormas Islam -Insya Allah- dapat memainkan peran yang lebih efektif dan bermakna dalam mendukung umat dan masyarakat luas di tengah perubahan dinamis Jakarta sebagai kota global dan pusat perekonomian nasional.

Muladi Mugheni, Ph.D

Penulis adalah Cendekiawan Muda NU,
Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir,
Ketua NU Pakistan, periode 2012-2022

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Multi Fungsi Masjid di AS



Jakarta

Di banding masjid-masjid di Indonesia atau di negara-negara muslim lainnya, masjid di AS umumnya tidak terlalu besar, bahkan di antaranya tadinya adalah ruko kemudian dibeli atau disewa secara gotong royong oleh warga muslim di sekitarnya. Semula masjid (lebih tepat disebut mushalah) hanya diperuntukkan untuk shalat Jum’at bagi komunitas muslim di sekitar tempat itu. Bagi umat Islam tahu akibatnya jika seseorang absen tidak shalat Jum’at selama tiga Jum’at berturut-turut kata Rasulullah akan mati dalam keadaan mati jahiliah, sebuah kematian yang dianggap hina atau su’ al-khatimah. Supaya terhindar dari ancaman hadis itu, umat Islam mengupayakan untuk menghadirkan masjid terutama untuk digunakan shalat Jum’at agi kaum laki-laki, karena kaum perempuan tidak wajib shalat Jum’at, mereka hanya wajib untuk shalat dhuhur.

Lama kelamaan, masjid yang sudah hadir di tengah komunitas muslim berangsur-angsur dipadati kegiatan oleh warga muslim setempat, misalnya digunakan sebagai tempat pengajian Al-Qur’an yang di sekolah-sekolah publik di AS pelajaran agama tidak diajarkan.Sambil mengantar anak-anak ,mereka mengaji Al-Qur’an di masjid, orang tua anak-anak tersebut berinisiatif mengadakan pengajian khusus untuk para orang tua murid. Lama kelamaan, pengajian itu dilembagakan menjadi “Majlis Ta’lim” (MT) seperti halnya MT yang ada di masjid-masjid Indonesia. Mereka mendatangkan guru (ustaz) tetap untuk membina diri dan anak-anak mereka tentang soal keagamaan. Berikutnya masjid lambat laun menjadi pusat kegiatan umat Islam setempat. Apapun urusan dan masalah komunitas muslim setempat dicoba diselesaikan di masjid. Misalnya ada warga yang meninggal lalu tidak sanggup membayar aparat yang bertugas untuk memakamkan jenazah, para warga bergotong royong membantu saudara-saudara mereka sesuai dengan kemampuan mereka masing-masih.

Jika ada warga yang kesulitan mengakses lapangan pekerjaan, maka pengurus masjid bersama aktifis lainnya secara ikhlas mencarikan peluang kerja bagi saudaranya yang seagama Islam. Termasuk di antaranya ialah saling menginformasikan jika ada peluang kerja yang lebih memungkinkan untuk diakses oleh kaum imigran muslim di AS yang berasal dari berbagai negara asal. Bahkan masjid sering juga digunakan oleh para pelajar, makhasiswa, dan TKI yang selama ini berdomisili di luar kota atau di pinggir kota, masjid juga sering digunakan untuk menginap sambil menunggu esok paginya untuk melanjutkan tour kotanya. Di masjid biasanya dilengkapi dengan toilet dan kamar mandi sehingga para warga satu sama lain sama-sama akrab. Sebaliknya jika orang-orang kota ingin mencari ketenangan lalu berlibur di kota-kota kecil, maka mereka juga banyak dibantu oleh komunitas setempat untuk mengunjungi obyek-obyek wisata di sekitar tempat tinggalnya.


Masjid-masjid di AS, sebagaimana dijelaskan dalam artikel kemarin, mempunyai banyak fungsi, bukan hanya sebagai wadah untuk berkomunikasi spiritual denga Sang Pencipta tetapi juga menjadi arena silaturrahim dengan sesama umat Islam dari berbagai latar belakang negara dan aliran mazhab yang dianut. Mungkin karena tantangan eksternalnya lebih kuat maka suasana batin secara internal sesama umat Islam lebih akrab. Bahkan dalam satu masjid bisa melayani berbagai aliran mazhab. Jika mereka beraliran sunni maka mereka dibiarkan beribadah menurut mazhab yang dianutnya. Sebaliknya jika mereka bermazhab syi’ah maka mereka juga bebas menggunakan masjid itu berdasarkan mazhab atau alirannya. Tidak heran jika di beberapa tempat di AS banyak komunitas menanyakan kepada dirinya tentang berbagai hal, namun pada akhirnya ia juga menyelamatkan keluarganya. Sering dijumpai sang suami penganut agama Islam dengan mazhan Syi’ah sementara isterinya menganut azhab Sunny. Tidak heran jika di antara mereka banyak menyebut dirinya sebagai Islam “Susi” (yakni Islam dengan mazhab Sunny-Syi’ah.

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Gengsi



Jakarta

Agama Islam tidak memandang manusia dari penilaian individu terhadap manusia, melainkan memandang dari tingkat keimanannya. Orang akan memiliki harga diri tinggi di mata Allah SWT. adalah orang yang memiliki ketakwaan yang tinggi pula kepada-Nya.

Sekarang banyak orang mementingkan harga diri yang tinggi di hadapan orang lain. Sehingga kebanyakan dari mereka mementingkan harga diri atau gengsinya dibandingkan ketakwaannya kepada Allah SWT. Inilah yang membuat sifat gengsi harus dihindari, untuk semua kalangan. Sifat ini hanya memuaskan nafsu saja, namun memerlukan ongkos yang tidak sedikit. Ingatlah bahwa seseorang yang kerap menjaga image, maka gerakannya tidak akan lincah karena dibatasi oleh kegengsiannya.

Kenapa orang melakukan itu ( gengsi ) ? Seseorang yang memiliki rasa Gengsi biasanya timbul karena kurangnya rasa percaya diri dan malu untuk mengakui kekurangan diri sendiri. Gengsi sendiri bersangkutan dengan harga diri, kehormatan serta martabat. Orang dengan Gengsi tinggi akan berusaha bagaimanapun caranya untuk terlihat sepadan dengan orang lain.


Segala bentuk derajat yang dihormati maupun disegani oleh manusia, tidaklah berpengaruh ( sia-sia ) di hadapan-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-hujurat ayat 13 yang artinya, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Jelas dalam ayat di atas dikatakan kemuliaan seseorang itu tergantung ketakwaannya kepada Allah SWT. bukan orang yang kaya raya, bukan pula orang yang berkedudukan tinggi lagi berkuasa. Orang-orang tersebut pada saatnya akan mempertanggungjawabkan atas kepemimpinannya maupun atas harta kekayaannya. Oleh sebab itu, rasa gengsi harus dijauhi. Bukan hanya karena sifat tersebut menghalangi seseorang untuk melakukan perbuatan baik, namun juga karena sifat ini merupakan turunan dari sikap sombong. Sebagaimana yang diungkapkan Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’roni dalam al-Minah as-Saniyah, “Jauhilah sifat haya’ ath-thobi’i (gengsi). Sesungguhnya di kalangan para sufi, sifat itu tergolong dalam sifat sombong (kibr).”

Dikisahkan suatu hari Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengundang para pejabat tinggi Dinasti Umayyah untuk makan di istana. Karena yang mengundang adalah Khalifah, maka para pejabat tinggi itu berdatangan.
Sebelumnya, beliau berpesan kepada para koki agar tidak menghidangkan menu makanan terlebih dahulu. Maka setelah para pejabat ini berkumpul, dan diiringi obrolan-obrolan. Kemudian tampak salah satu pejabat ada yang memegang perutnya karena lapar, maka Khalifah bilang kepada para koki untuk menghidangkan menu pembuka. Dan menu pembuka itu hanya makanan roti bakar yang sangat sederhana. Setelah roti bakar itu terhidang, beliau menyantap roti tersebut bersama para pejabat.
Setelah itu, Khalifah memerintah koki untuk mengeluarkan menu utama. Terlihat hidangan itu mewah dan lezat. Ketika para pejabat dipersilakan untuk menikmati hidangan utama. Ternyata para pejabat itu menolak karena sudah kenyang.

Melihat tingkah pejabat yang enggan makan karena sudah kenyang dengan roti bakar yang sederhana, maka beliau berkata kepada para pejabat, “Wahai kalian para pejabat tinggi, kalau kalian mampu memuaskan nafsu makan kalian hanya dengan roti bakar seperti tadi, kenapa kalian bersikap serakah sampai korupsi, menyuap, hingga memotong dana bantuan dan sebagainya?” Mendengar ucapan itu para pejabat merasa malu atas pertanyaan tersebut.

Dari sini kita dapat belajar bahwa hidup sederhana itu sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan kata baginda Nabi, “Salah satu di antara tiga perkara yang menyelamatkan manusia itu adalah wal qadu fi al-faqri wal ghina (bersikap sederhana baik ketika fakir atau pun kaya). Artinya sederhana itu tidak berlebih-lebihan dan tidak terlalu pelit. Sebenarnya hidup manusia itu antara dua hal, pertama kebutuhan dan kedua itu keinginan.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah memberikan nasihat, “Menjadi orang berkebutuhan sedikit lebih aman dalam hidupnya.” Kebutuhan bisa diatasi dengan sikap sederhana, seperti kebutuhan pangan dan pakaian serta papan. Namun jika berbicara masalah keinginan, maka tidak ada sesuatu yang dapat mengukur keinginan manusia. Karena keinginan manusia itu akan menyesuaikan dengan apa yang dia peroleh. Ketika manusia itu memperoleh pendapatan yang banyak, maka jangan heran jika keinginan mereka juga bertambah.

Sebagaimana Allah SWT. mengingatkan kepada kita dalam surah asy-Syu’ara ayat 27 yang artinya, “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hambaNya lagi Maha Melihat.”

Makna ayat diatas adalah ketika Allah SWT. menurunkan semua rezeki kepada manusia, pastilah mereka akan melampaui batas. Maka dari itu, menurunkan apa yang dikehendaki-Nya saja. Agar manusia tidak melampaui batas. Adapun contoh sikap yang melampaui batas, seseorang membeli jam tangan sangat mewah ( ada sahabat yang membeli dengan harga 2 – 2,5 Milyar ) untuk memenuhi gengsi. Itu sama sekali bukan sikap yang sederhana. Masih banyak orang yang lebih mementingkan gengsi dari pada fungsi.

Semoga Allah SWT. selalu memberikan petunjuk-Nya agar kita semua terbebas dari sikap gengsi.

Aunur Rofiq
Ketua DPP PPP periode 2020-2025
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com