Tag Archives: hikmah

Karakter sel Ca Karakter Siapa, Sembuhkanlah Rabb!



Jakarta

Karakter Altruist

Temmu, nama panggilan akrab seorang perempuan yang berprofesi sebagai tukang cuci pakaian. Ia mencucikan baju keluarga-keluarga yang mengenalnya. Di sekitaran dia bertinggal. Orangnya terbuka. Tidak mudah tersinggung. Bicaranya lantang apa adanya. Siapa pun yang menyapanya dibalasnya sambil tertawa. Pendidikannya pun apa adanya. Sebagaimana penghasilannya sesuai dengan kondisinya. Ia bukan orang berada.

Ketika bulan puasa menjelang akhir, dia bersama para tetangga menuju lokasi Sunan Ampel Surabaya. Dipilihnya kendaraan bemo untuk itu. Bemo membawa mereka dari Krian, Sidoarjo, Jawa Timur.


Sayang, sampai di daerah perak Timur, ketika bemo yang mereka tumpangi membelok, tiba-tiba mereka tertabrak truk. Innaa lillaahi. Salah satu dari mereka yang meninggal adalah Temmu.

Enam tahun setelah Temmu dikuburkan, Ponaannya juga meninggal. Demi lokasi kuburan yang hampir penuh, ia harus dikubur di dekat Temmu. Tak sengaja para penggali kubur menggali dinding kuburan Temmu. Slash, slash, slash, bunyi cangkul mengoyak tanah dinding kuburan Temmu. Tiba-tiba saja mereka terhenyak kaget, demi menyibak dinding kuburan yang menyembulkan kafan putih bersih. Kafan Temmu yang masih utuh.

Serentak mereka sekejap lupa pada ponaan Temmu. Ramai mereka membincangkan siapa Temmu sesungguhnya.
Mereka bertanya-tanya heran. Temmu bukan ibu Nyai, bukan ningrat, apalagi golongan pejabat. Pendidikannya, ‘derajatnya’, ekonominya, lingkungannya, para kenalannya tak ada yang memungkinkannya diberi sebutan terhormat.

Setelah bertanya ke sana-sini demi informasi akurat tentang Temmu, sepakat para tetangga menyebut satu keahlian unik Temmu. Ialah, setiap dibagikan kepadanya baju bekas dari ibu-ibu yang dibantunya mencuci baju, ia sisihkan yang masih bagus-bagus. Baju-baju yang masih bagus itu ia bagikan kepada teman-temannya. Sisa yang paling lusuh, baru untuk dirinya.

Ternyata Temmu bukanlah orang yang egois, tapi sangat altruist, menyayangi orang lain melebihi dirinya.

Karakter Egois

Berbeda dengan Temmu berbeda pula dengan karakter sel-sel Ca atau sel-sel kanker. Sel-sel itu bersifat maunya sendiri. Tak peduli yang lain. Dia semau-maunya berkembang, berproliferasi, beranak, bercucu dan berbuyut. Kecepatannya luar biasa.

Dia tidak mematuhi aturan sel secara umum. Peraturan untuk membatasi perkembangannya ketika sudah mencapai populasi seimbang tak dihiraukannya.
Bentuknya membesar, melebihi ukuran sesama sel di lingkungannya. Seluruh suplai nutrisi sebisa mungkin dia kuasai. Menjadikan saluran nutrisi yang berupa pembuluh darah melimpah menuju lokasinya.

Batas pagar (membran, kapsul) tak menjadikannya merasa nyaman. Aturan batas ia lampaui. Bahkan sel-sel itu bisa melewati batas ‘dalam’ negeri. Bermigrasi jauh ke negara tetangga, ekspansi. Para ahli medis menyebutnya Metastasis.

Lama para ahli medis berjuang melihatnya dari berbagai sisi. Belum satu pun jawabnya bisa diterima dunia.
Namun jika para awam melihatnya dari sisi pandang mereka. Boleh jadi mereka bertanya? Apa hubungan sifat sel-sel kanker dengan sifat individunya? Sebenarnya, sifat sel-sel kanker itu membawa sifat siapa?

Mungkin, karena para awam sekarang sudah lihai memantik informasi dari gadget. Boleh jadi mereka pun mengerti tentang kloning dan sedikit lika-likunya.
Bukankah sel apa pun dan di bagian mana pun yang dijadikan materi kloning akan menghasilkan individu yang tepat sama dengan individu aslinya. Tepat sama, bukan fotocopy.

Jangan-jangan sel-sel kanker itu mewakili sekian sisi dari sifat individunya?

Sulit membenarkan pandangan para awam ini jika belum berbukti ilmiah. Namun, jika melihat rumus Einstein, E = m. C2, E ekivalen m. Bahwa karakter (sifat-sifat dasar) individu ekivalen dengan karakter fisiknya. Maka pendapat awam itu sulit ditolak.

Apalagi, melihat begitu populernya sebuah buku yang mengungkap bukti tentang itu. Buku itu berjudul, “Love, Miracle, and Medicine”. Sebuah buku best seller internasional. Karya Bernie Siegel, ahli bedah asli Amerika ini dicetak berulang setelah pertama terbit di tahun 1986. Buku ini mengungkap bukti adanya 57 kasus kanker ganas payudara di Amerika Serikat sana, sembuh total melalui jalan mengganti karakter egois dengan altruist. Para penderita itu mampu menghapus total jejak sel-sel kankernya setelah mereka merubah total karakter egoisnya.

Jika begitu, kisah nyata seorang Temmu di atas boleh jadi sangat menginspirasi.

Allahumma jadikan setiap kami berkarakter rahmatan lil ‘aalamiin. Mampu menundukkan egois menuju altruist. Mohon ganti karakter setiap kami dengan karakter yang paling sesuai dengan karakter yang Engkau ridloi.

Sembuhkanlah Rabb, aamiin!

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Doa Indah Berhias Cinta



Jakarta

Seorang pria paruh baya yang populer dipanggil Togog. Padahal nama aslinya sangat mulia, Slamet. Nama jawa yang diplesetkan dari bahasa Arab yang makna asalnya adalah selamat. Karena nama adalah doa, maka pemilik nama itu semestinya selalu didoakan agar selamat selamanya, dunia-akhirat.

Sayangnya Togog orangnya tidak mau shalat. Walau pun rumahnya bersebelahan dengan masjid. Jangankan shalat fardlu, shalat Jumat saja Togog tidak mau.

Karena di sebelah masjid, pasti adzan sulit dihindarkan mengalun agung di telinganya. Namun, walau istri Togog berulangkali mengingatkannya, minimal shalat Jumat, ia masih terus enggan. Bukan hanya tidak shalat, Togog juga hobi main, minum dan pekerjaan lain di sekitar itu.


Suatu hari di genap 50 tahun usianya, Togog menderita sakit cukup berat. Sakit yang membuatnya hampir satu tahun belum bisa beraktifitas sebagaimana biasanya. Di perjalanan sakitnya, entah karena rumah dekat masjid, atau kesadaran datang akan kemungkinan segera datangnya ajal, Togog mulai rajin pegang tasbih sambil berdzikir.

Setelah sekian lama Togog sakit, akhirnya ia sembuh. Satu keajaiban menarik yang kali ini dilakukan Togog. Ia mulai shalat berjemaah di masjid. Mungkin karena sungkan atau perasaan kurang pantas, Togog memilih tempat di pojok belakang area jemaah shalat.

Semakin hari Togog terlihat semakin istiqamah. Sehingga ketika hampir satu tahun terbiasa shalat berjemaah di masjid, lokasi shalat Togog sudah berselisih satu shaf dari posisi imam.

Tepat di Kamis malam Jumat. Di tengah-tengah shalat berjemaah maghrib, sampai rakaat kedua, Togog dipanggil Tuhan untuk menghadap. Innaa lillaah.

Gempar seluruh jemaah tempat Togog tinggal. Mereka saling penasaran. Bahkan ada yang berujar, “kok enak jadi Togog. Perilaku becik (baiknya) sangat minim dibandingkan kelirunya. Tapi, enaknya dia bisa meninggal sewaktu shalat berjemaah, di dalam masjid, bahkan pada malam Jumat”.

Banyak komentar serupa itu pun seolah mengambarkan rasa ‘iri’ pada nasib seorang Togog.
Demi penasaran yang tinggi, rasa kepo yang tak terbendung, para tetangga Togog mencari musabab ia bisa husnul khaatimah.

Sampai juga mereka pada kesepakatan bukti, bahwa selama ini, walaupun Togog belum rajin shalat ditambah mengerjakan yang belum sesuai ia sangat senang dan ringan tangan membantu para saudaranya. Membantu para tetangga atau kawan yang membutuhkan pertolongannya. Tanpa kecuali, tanpa syarat, tanpa banyak pertanyaan, bahkan disertai suasana senang dan riang gembira dalam membantu itu.

Seluruh kawan dan para tetangga sepakat, bahwa itulah satu-satunya kelebihan Togog. Slamet yang populer dengan panggilan Togog ini beralamat di Krian, Sidoarjo, Jawa Timur.

Di lain sisi, pernah seorang ‘aabid, ahli shalat malam yang sangat ingin menjadi wali, pernah protes kepada malaikat dalam mimpinya. Mengapa namanya belum tercantum di daftar nama para wali, padahal dirinya berupaya keras menjaga diri, bahkan shalat malam tidak pernah absen.

Malaikat yang ditanya malah santai menjawab,”Itu shalat kan untuk dirimu. Sedangkan tetanggamu yang suatu ketika membutuhkan pertolonganmu malah kamu abaikan. Di mana letak manfaat shalatmu itu secara sosial?”

Mungkin banyak di antara kita merasa agung kalau sudah melakukan ibadah maghdah dengan baik. Boleh jadi lupa bahwa hakikat ibadah harus berdampak rahmat. Ialah rahmat bagi semesta. Rahmat itu antara lain berupa keceriaan hati dalam membantu orang lain,menundukkan egoisme.

Mungkin banyak orang yang shalatnya sulit dihitung jumlahnya, tetapi jika shalat itu tak menimbulkan dampak pertolongan, tak mampu menindih egoisme nya, selamat tinggal agama. Ia distempel sebagai pendusta agama (al Ma’uun 107:7).

Mengapa demikian?

Bukankah sangat tidak rasional. Jelas di dalam surat alFatihah yang menjadi satu bacaan wajib dalam shalat, dirinya berujar, “Hanya kepada Engkau kami menghamba (mengabdi) dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan” (alFatihah 1:5).

Sedangkan Nabi bersabda, “wa Allahu fii ‘aunil ‘abdi maa kaanal ‘abdu fii ‘auni akhihi”, dan Allah akan menolong hambaNya sebagaimana hamba itu menolong saudaranya.

Dari dua rangkai informasi agama ini, rupanya kita diminta sadar untuk segera gemar menolong orang lain tanpa pamrih. Maksud tampa pamrih adalah hanya mengharap ridloNya. Ridlo Allah antara lain berwujud pertolongan dariNya.

Jadi agak sulit dipahami jika doa (dalam alFatihah ayat 5) ini hanya bersifat pasif, sedangkan syarat dikabulkannya doa atau permohonan pertolonganNya adalah melalui menolong saudara kita.

Di susunan ayat 5 surat alFatihah itu, awal kalimat berbunyi “hanya kepada Engkau kami menghamba”.
Salah satu makna hamba adalah cinta. Jadi kalimat itu bisa dipahami dengan makna, hanya kepada Engkau kami mencinta.
Bagaimana kita bisa mencintaiNya sedangkan Dia tidak membutuhkan kita. Cintailah hambaNya, itulah wujud cinta kepadaNya.

Sebagai penutup. Rupanya ayat 5 surat alFatihah itu bisa genap menyimpulkan arti utuh jika menggabung dua rangkai isyarat makna. Bahwa di dalam melakukan pertolongan, kita pun berjanji kepadaNya untuk melakukannya itu dengan senang, dengan rasa suka, rasa cinta.

Itulah rupanya yang dilakukan Slamet, sehingga ia mampu tampil bahagia insyaAllah di surgaNya, setelah pernah tampak keliru di mata para tetangga.

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Walau Nakalnya Sungguhan, Hajinya Mabrur Betulan



Jakarta

Nakal yang Tergantikan

Pemuda tampan berbadan tinggi itu memiliki kulit halus putih bersih. Sayang beberapa waktu yang lalu ayahnya meninggal dunia karena serangan jantung.
Ayahnya termasuk orang berpengaruh di kota itu. Usahanya cukup banyak, setidaknya untuk ukuran kabupaten yg produktif. Pendapatan daerah kabupaten (PAD)nya cukup tinggi. Jarang ada orang yang memiripinya.

Dia punya usaha; toko emas, minimarket, bengkel mobil, rumah makan, pompa bensin, dan toko pakaian. Dari sisi ekonomi sangat lumayan.
Pemuda tampan tadi, beberapa hari sebelum ayahnya meninggal, pamit ke Bali. Membawa mobil sedan, serta truk yang berisi penuh muatan bahan dagangan. Pamit berdagang.


Sesampainya di tujuan, ternyata ia balapan. Berpacu mobil dengan kawan sepantaran. Truk yg penuh berisi barang dagangan. Barang dagangannya habis sempurna berikut truknya. Sedannya pun habis dilelang.

Bukan sekali ini saja dia berpetualang melakukan kegiatan keremajaan. Namun sayang, sekali ini ayahnya tak tahan lagi dengan kenakalannya. Sakit jantungnya mendadak kambuh. Nyawanya tak bisa dipertahankan. Dia meninggal.

Bagai halilintar menyambar. Segera saja dia terbang pulang. Seolah kesadarannya sontak terbangunkan. Dia menangis, meratap. Sampai tak mudah dibayangkan. Penyesalan akibat perbuatan buruknya, dirasakannya sangatlah sulit bisa dimaafkan.

Dalam kesadaran yang mengagumkan setiap orang. Setelah itu tak ada lagi bayang kenakalan remaja yg dulu pernah ia sandang. Pandangannya sering tertunduk. Pertanda penyesalannya begitu mendalam. Hari-harinya diisi dengan melanjutkan usaha dagang ayahnya.

Beberapa waktu berselang, ia mengikuti haji reguler pemerintah. Pada waktu itu pergi berhaji tidak perlu antri sesuai urut kacang. Langsung diberangkatkan.

Sesampainya di Makkah, perilakunya sangat menakjubkan. Ia menjadi pemuda tampan. Berjalan selalu tudukkan pandangan. Tak lupa menjadi penggendong para jemaah yang memerlukan pertolongan. Karena sakit untuk diperiksakan. Dia dikenal dengan sebutan haji tampan pembawa jemaah sakit di gendongan.

Haji Mabrur yang Kenyataan

Berhaji mabrur boleh jadi menjadi impian para jemaah calon haji. Baik bagi yg baru pertamakali berhaji. Atau yang telah berulang-ulang.

Boleh jadi setiap orang merasa paling berpeluang. Atau banyak juga yang merasa amalnya masih jauh dari ukuran wajar. Jika saja pemuda tampan itu menjadi acuan. Betapa bisa setiap orang menjadi haji mabrur sesuai impian.

Jejak nakal bisa diganti. Rekam buruk kegiatan di masa lalu InsyaAllah pasti selalu bisa diobati. Boleh jadi syaratnya gampang. Ganti total seluruh pekerti terlarang. Diganti dengan perbuatan indah yang boleh jadi belum mudah dilakukan orang. Pastikan ikhlash karena Allah. Bukan mengharap pujian.

Petunjuk perilaku pemuda tampan itu. Berjalan menunduk tanda penyesalan mendalam. Upaya nyata berbelok dari balapan kepada usaha sungguhan. Berdagang melanjutkan peluang sukses betulan. Merombak total perilaku nakal melalui berhaji sambil total menolong orang.

Membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Tampa melihat status sosial apalagi hubungan kekerabatan.
Mendahulukan kepentingan orang lain, padahal dirinya pemuda tampan yang berkelimpahan fasilitas keuangan. Contoh perilaku mulia yang bisa ditauladankan.

Walau dulunya bekas nakal yang sulit dibandingkan.
Tapi sekarang bisa dibilang mabrur tak terkalahkan.

Boleh jadi perilaku menuju mabrur bisa beragam. Tidak harus setiap orang memanggul jemaah yang sakit ke perubatan.
Perilaku mengantri makan, mendahulukan orang lain yang lebih butuh untuk ke lift, dan ke sekian peruntukan yang memerlukan ke-akuan diminimalkan.
Lalu, menjaga pandangan adalah petunjuk utama perubahan.

Menjaga lisan merupakan indikator jalan terang menuju mabrur betulan. Berusaha selalu dzikrullah dan berucap sopan merupakan keutamaan yang tak bisa dibilang gampang.

Sikap dermawan bukan hal yang mudah dilakukan. Tapi setidaknya bisa dijadikan petanda bahwa ibadah yang dilakukan berbuah manfaat sosial.
Menghindar dari perdebatan merupakan peluang dikabulkannya pahala haji. Mengganti kata-kata jorok dengan kalimat pujian yang disunnahkan, adalah suatu kemuliaan yang dituntunkan.

Rasa angkuh yang tertundukkan, merupakan prestasi yang meminta ulungnya sikap penghambaan. Pemuda tampan yang dulunya nakal. Sanggup mengikis bersih keangkuhan dan kesombongan. Walau dirinya berfisik gagah, tampan, berlimpah keuangan.

Aduh.., andai saja setiap jemaah calon haji berikhtiar melakukan setiap kebaikan itu secara total. Boleh diyakinkan hajinya mabrur betulan.

Perilaku pemuda tampan, berpredikat insyaAllah haji mabrur betulan. Boleh jadi sebagai tanda diterimanya amal-amal shaleh ayah dan bundanya. Ayahnya telah berusaha mendidiknya dengan baik, walau berakhir dengan nyawa sebagai taruhan.
InsyaAllah ayahnya diampunkan. Antara lain karena putranya berhasil menjadi haji mabrur betulan.

Allaahumma ij’alnaa hajjan mabruura wa sya’yan masykuura wa dzanban maghfuuraa wa tijaaratan lan tabuuraa wa amalan shaalihan maqbuulaa aamiin.

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Fatwa MUI Tentang Salam Lintas Agama, Sudah Tepatkah?



Jakarta

Pada 28-31 Mei 2024 yang lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan Kegiatan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia, dengan mengangkat tema “Fatwa: Panduan Keagamaan untuk Kemaslahatan Umat”. Kegiatan tersebut diikuti oleh 654 peserta dari berbagai unsur dalam MUI, ormas-ormas Islam, para peneliti dari berbagai universitas, dan lain sebagainya.

Di antara hal yang diputuskan dalam pertemuan tersebut adalah larangan penggabungan ajaran berbagai agama, termasuk pengucapan salam dengan menyertakan salam berbagai agama. Hal demikian karena mengucapkan salam merupakan doa yang bersifat ibadah. Penggabungan salam lintas agama yang dilakukan sementara ini bukan merupakan toleransi yang dibenarkan. (MUI.OR.ID, 04/06/2024).

Setelah rumusan dari hasil pertemuan itu di-share ke publik, MUI segera mendapatkan reaksi dari mereka dan menuding fatwa itu sebagai fatwa kontroversial. Laman kemenag.go.id menurunkan opini bertajuk “Menimbang Fatwa Larangan Salam Lintas Agama: antara Agama dan Harmoni” karya Zaenal Mustakim, Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, (Senin, 3 Juni 2024). Sebagian Ketua PBNU dan Komisi VIII DPR juga memberikan tanggapan yang kurang lebih sama.


Sebenarnya, apa yang diputuskan oleh MUI pada pertemuan tersebut bukan hal yang baru sama sekali. Sebab pada tahun 2019 yang silam, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur telah mengeluarkan tausiyah atau himbauan dalam surat bernomor 110/MUI/JTM/2019, agar tidak melakukan salam lintas agama, karena dinilai syubhat yang dapat merusak kemurnian dari akidah umat Islam. Bahkan, persoalan ini adalah hal klise yang terjadi setiap saat, terutama pada momen-momen perayaan agama di luar Islam, seperti Natal dan semacamnya.

Sebetulnya, para ulama melarang umat Islam mengucapkan salam keagamaan secara campur aduk itu dalam rangka menjaga kemurnian akidah umat Islam sendiri. Jadi di sini tak ada kaitannya dengan keharusan kita bertoleransi dan berbuat baik kepada siapa saja, termasuk mereka yang berbeda agama. Lalu kenapa ulama melarang menyampaikan salam lintas agama? Setidaknya hal ini karena dua faktor berikut:

Pertama, karena isi dari salam versi Islam itu adalah doa, sedangkan doa bagian dari ibadah, bahkan dalam sebuah hadis ditegaskan doa adalah inti dari ibadah itu sendiri. Jadi tentu sangat maklum jika kita sebagai umat Islam memiliki ibadah-ibadah khas dengan tata cara yang khas pula, sehingga tidak boleh dicampur adukkan dengan unsur-unsur ibadah atau tradisi dari agama lain. Sebagai gantinya, dalam sebuah forum yang plural, kita bisa menyapa hadirin dengan salam yang netral, seperti “salam sejahtera untuk kita semua”, dan sebagainya.

Kedua, sebagai umat Islam kita juga tidak diperkenankan menyampaikan salam versi agama lain kepada pemeluk agama itu, karena jelas akan terjadi berserupa (tasyabbuh) yang dilarang dalam syariat Islam. Tentu sudah maklum salam suatu agama merupakan ciri khas dari agama itu, dan umat Islam dilarang berserupa dengan melakukan berbagai hal yang menjadi ciri khas suatu agama, baik berupa perkataan, perbuatan, aksesoris, tradisi, dan sebagainya.

Itulah sebabnya dalam masalah salam, Bagian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan agar kita menyampaikan salam kepada non-Muslim dengan salam versi Islam ataupun versi agama mereka. Karena menyampaikan salam versi Islam berarti mendoakan mereka dengan doa yang khusus umat Islam, dan ini tidak diperkenankan. Sementara menyampaikan salam dengan versi non-Muslim berarti berserupa dengan non-Muslim, dan ini juga tidak diperkenankan dalam agama.

Ketika membahas tentang hadis-hadis yang berkenaan dengan salam antara Muslim dan non-Muslim, al-Imam al-Mawardi dalam al-Hawi al-Kabir (XIV/319) memberikan rincian sebagai berikut: Pertama, jika non-Muslim mendahului menyampaikan salam kepada kita, maka kita harus menjawabnya dengan “wa alaikas-salam” tanpa tambahan “warahmatullahi wabarakatuh” karena itu adalah doa khusus umat Islam, atau dijawab dengan “wa alaika” saja.

Kedua, jika umat Islam yang memulai mengucapkan salam terlebih dahulu, maka boleh dengan ungkapan “Assalamualaika”, bukan dengan “Assalamu’alaikum” yang memang khas untuk umat Islam. Bahkan dalam sebuah hadis, kita dilarang memulai menyampaikan salam kepada non-Muslim, dan jika mereka yang memulai terlebih dahulu, maka kita dianjurkan menjawab “Wa alaikum” saja.

Jadi sederhananya larangan-larangan atau aturan-aturan ini ditetapkan karena terkait dengan adanya unsur ibadah, doa, dan aspek-aspek keagamaan yang khas dalam Islam. Adapun jika sapaan kita tidak ada kaitannya dengan ciri khas keagamaan, maka tentu kita bebas-bebas saja menggunakannya, baik untuk memulai menyapa maupun dalam menjawabnya, apakah itu dengan sapaan “Hey”, “Halo”, “Apa kabar?”, dan sebagainya.

Sementara untuk urusan bertoleransi dengan non-Muslim, maka umat Islam tidak perlu diajari soal itu semua, dan harmoni umat Islam bersama non-Muslim di Indonesia selama ratusan tahun adalah fakta yang tak terbantahkan untuk itu. Di dalam ajaran Islam, dalil-dalil toleransi tidak terhitung jumlahnya. Bahkan Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sirah hidup beliau penuh dengan toleransi kepada non-Muslim, yang berarti umat Islam sepanjang masa harus senantiasa meneladani beliau.

Moh. Achyat Ahmad

Penulis adalah Direktur Annajah Center Sidogiri

Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Kusembah Engkau Karena Kucinta



Jakarta

Cerita cinta. Cerita yang tak pernah ditutup bukunya. Ia dinovelkan, ia dilagukan, ia disyairkan.

Tak terhitung jumlah judul lagu yang selalu hits, jika bertemakan cinta. Begitu juga judul film, judul novel, termasuk judul-judul puisi. Bahkan, berbagai perusahaan jasa, termasuk layanan perbankan dan perhotelan. Meninggikan kalimat cinta. Kalimat umum sebagai isyarat pelayanan unggulan. Kalimat itu bisa berujar, “Kami melayani dengan cinta”.

Cinta, menguatkan siapa saja. Kekuatan yang bahkan di luar logika. Cinta, sulit dinarasikan dengan kata-kata!


Orang yang sedang dimabuk cinta, tampak baginya keindahan dalam segala. Jika yang dicinta seorang wanita atau pria, maka dari seluruh detailnya, semuanya tampak memesona. Dari rasa cinta, muncul ungkapan kekaguman, pujian, ingatan tak berkesudahan, kerinduan, dan perasaan berbunga-bunga ketika berjumpa.
Bukankah setiap kita pernah merasakannya?

Rabi’ah al-Adawiyah. Siang itu Rabi’ah al-Adawiyah berlari-lari di Kota Baghdad. Di tangan kanannya ada setimba air. Tangan kirinya memegang obor api. Melihat yang tak biasa masyarakat betanya-tanya, ada apa?

Tak mereka duga, Rabi’ah menjawab ‘sekenanya’, “mau membakar surga dan menyiram neraka”.
Andai saja kita di sana, boleh jadi kita menduga Rabi’ah berbicara tanpa logika?

Rupanya Rabi’ah mengikuti kata hatinya. Agar siapa pun yang menyembahNya bukan mengharap surga, atau sekedar takut dari siksa neraka. Menurutnya, karena itu membuat umat Islam menyembahNya tanpa dasar cinta.

Menyembah demi cinta, pasti tak kan pernah dibutakan atas keinginan surga, atau ketakutan akan neraka.

Sangat mungkin suasana hati Rabi’ah sesuai dengan informasi dalam Zabur, kitab yang diwahyukan Allah swt. kepada Nabi Daud as. “Siapakah yang lebih kejam dari orang yang menyembahKu karena surga atau neraka. Apakah jika Aku tidak membuat surga dan neraka, maka Aku tidak berhak untuk disembah.”

Cinta hamba, dalam lirik lagu. “Jika surga dan neraka tak pernah ada”.
Lebih sepuluh tahun lalu. Lagu tentang cinta tulus hamba kepada Tuhannya menempati papan atas tangga lagu hits di Indonesia. Perhatikanlah sebagian liriknya:

“Apakah kita semua
Benar-benar tulus
Menyembah padaNya
Atau mungkin kita hanya
Takut pada neraka
Dan inginkan surga

Jika surga dan neraka tak pernah ada

Masihkan kau bersujud kepadaNya
Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau menyebut namaNya”.

Di hati seorang hamba. “Sungguh tak peduli aku. Ke manakah yang Engkau rela. Yang kuberatkan jika aku masuk neraka, karena aku durhaka. Betapa nestapanya?

Bukankah perintahMu adalah nikmat. Bukankah melanggarmu adalah kerugian yang fakta. Bagaimana bisa memilih celaka daripada bahagia, jika aku memiliki logika.

Betapa maksiyat kepadaMu adalah pengkhianatan kasat mata. Atas sejati cintaMu kepadaku. Tidak tahu malu, jauh dari kata setia. Tak pantas menjadi manusia!

Andai memilih taat daripada durhaka tak pernah ada pahalanya. Logika sehatku pasti memaksa untuk memilih taat kepadaMu. Betapa tidak, karena taat itu keuntungan yang sangatlah berbukti fakta.

Maha Suci Engkau dari memerintahkan untuk celaka. Pastilah perintahMu untuk selamat dan bahagia. Maha Suci Engkau dari melarang untuk bahagia. Pastilah laranganMu untuk menghindar dari bahaya nyata. Celaka tak ada duanya.

Lalu apa kepentinganku terhadap pahala. Kecuali itu hanya karena anugerah rahmatMu saja kepada siapa pun hambaMu. Duh, hanyalah Dia yang benar-benar haq untuk dicinta, dengan segala puja.

Kalimat Maha Puja Menandai Puncaknya Cinta. Kalimat puja

dan puji untuk hamba-hambaNya. Diuntai berjalin dalam kekaguman tak berhingga. Inikah dia?

1. Bismillaahirrahmaanirraahiim
Dengan (menyebut) nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
2. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin
Segala puji hanya bagi Engkau Tuhan seru sekalian alam
3. Ar-Rahmaanirraahiim
Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
4. Maaliki yaumiddiin
Maha Raja di hari pembalasan

Nabi Daud as. menerima wahyu dalam Zabur, “Sesungguhnya orang yang sangat Aku kasihi adalah orang yang beribadah bukan karena imbalan. Tapi semata, karena Aku berhak untuk disembah.”

Duhai Allah. Hamba berdoa dan berdoa. Agar setiap masa yang sedang dan akan tiba. Tak ada secelah pun padanya. Kecuali hamba menyembahMu sedang hati selalu dimabuk cinta. Cinta hanya kepadaMu saja.
Kabulkanlah Rabb!

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

AlQuran Adalah Cermin, alFurqan dan Shafa’ah



Jakarta

Cermin, ‘pasti’ selalu bersama para kaum hawa. Sulit para mereka hidup tanpa cermin. Di kamar mandi, kamar rias, kamar tidur, dalam mobil, kaca spion. Bahkan kaca spion mobil orang yang belum tentu ia kenal, entah mobil siapa. Satu fungsi utamanya agar bisa tampil prima.

Dalam bahasa Inggris cermin adalah mirror. Bahasa Arab cermin adalah mir-ah. Dan bahasa Arab nya kaum hawa adalah mar-ah. Dalam bahasa Arab, cermin dan wanita memiliki kesamaan huruf penyusunnya, mim, ra, alif, ta’.

Cermin membuat seseorang bisa mengevaluasi dirinya secara mandiri. Tidak harus di depan umum. Bahkan cermin lebih baik dilihat di kala sendiri. Tampil menawan adalah harapan setiap insan. Lega rasanya bisa tampil percaya diri di mana pun.


Jika raga kita butuh cermin untuk evaluasi. Maka jiwa pun butuh. Bahkan jiwa ini lebih butuh dievaluasi untuk bisa tampil menawan. Iya, karena jiwa yang menawan melahirkan raga yang menarik.

Bertebaran informasi di media sosial yang menghubungkan kekuatan hafalan alQuran para penghafal dengan perilakunya. Perilaku taat mengokohkan hafalan, perilaku keliru memudarkannya. Jangankan keliru besar seperti ghibah dengan mulut. Bahkan baru terlintas ghibah (menduga orang lain buruk) dalam hati saja sudah bisa membuat penghafal alQuran luntur hafalannya, sedikit atau banyak.

Jika dikaitkan dengan cermin, maka alQuran berfungsi mirip dengan cermin, yang segera akan memberitahu para penghafalnya jika wajah batinnya keliru. Ialah berbuat dosa.

Tidak hanya bagi penghafal alQuran, bagi Muslim yang biasa membaca alQuran, kekeliruan atau dosa akan segera membuatnya merasa malas membacanya.

Ibnu Abbas pernah berkata: “Sesungguhnya pada kebaikan terdapat sinar pada wajah, cahaya dalam hati, kelapangan dalam rezeki, kekuatan pada badan, dan kecintaan pada hati makhluk. Sesungguhnya pada keburukan terdapat kegelapan pada wajah, gulita pada hati, gulita di alam kubur, dan kelemahan pada badan (malas membaca alQuran), kekurangan dalam rezeki, dan kebencian pada hati makhluk.”

AlQuran sebagai cermin jiwa mengevaluasi wajah batin. Demi peran alQuran yang demikian itu, maka alQuran menjadi petunjuk, penerang agar pembacanya tidak keliru jalan. Gelapnya keadaan membuat siapa pun kesulitan memilih, yang mana pisau yang mana penggaris. Bahkan kegelapan yang sangat, menyebakan orang tidak hanya kesulitan memilih, bergerak pun sulit.

Fungsi alQuran sebagai nur, penerang membuat orang mudah memilah mana yang manfaat dan mana yang membahayakan. Kemampuan demikian adalah kemampuan cerdas untuk tepat memilih mana yang benar, mana mana yang keliru.

Kemampuan cerdas alQuran agar si pembaca mampu membedakan yang benar dan yang keliru dengan jelas adalah fungsi alQuran sebagai alFurqan. Pembeda dengan jelas mana yang diperlukan dan mana yang membahayakan.

Kemampuan ini antara lain penting bagi para hakim. Pada waktu kesulitan memutuskan kasus hukum karena berbagai keadaan.

Pada saat Nabi Daud as. menjadi raja, datang dua perempuan yang sedang berperkara. Satu orang bayi diakui oleh dua orang ibu. Masing-masing tidak mau mengalah. ”Itu adalah bayiku, seorang ibu selalu tahu dan mengenal bayinya,” ujar perempuan muda.
”Tidak! Ini bayiku. Bayimu telah tewas dimakan serigala,” ujar yang lain.

Nabi Daud pun kesulitan memutuskan. Hampir saja Nabi Daud as. percaya bahwa Ibu yang kedua adalah orang tua asli bayi itu. Nabi Sulaiman as. putra beliau yang masih sangat belia mencoba membantu sang ayah. ”Ambilkan aku pedang untuk membelah dua bayi ini untuk kalian berdua,” ujar Sulaiman.

Sontak perempuan muda berteriak, ”Tidak jangan, tolong jangan lakukan itu. Kau akan membunuhnya. Oh rajaku, berikan saja bayi itu padanya,” teriak sang ibu muda dengan deraian air mata.

Teriakan tersebut mengantar Nabi Sulaiman mengerti bahwa pemilik bayi sebenarnya adalah Ibu muda itu.

Nabi Daud as. adalah seorang raja yang juga hakim agung. Masih kesulitan memutuskan perkara yang pelik, samar, dan tidak bisa diselesaikan hanya berdasar perasaan dan hasil rekayasa perdebatan.

Inilah contoh kasus di bidang hukum. Kasus ini memerlukan kecerdasan dan ketelitian yang tinggi, agar hakim mampu membedakan dengan tegas mana yang ibu asli, mana yang sekedar mengaku-ngaku.

Kebijakan metode Sulaiman as. memintas jalan adil. Itulah makna furqan. Memisah mana yang benar dan mana yang keliru betapa pun tipisnya perbedaan.

Bagi dosen, alFurqan adalah kemampuan untuk menuntun mahasiswa kepada obyektifitas ilmu. Bagi para ibu-ibu yang sedang bereblanja di mall, adalah kemampuan mudah menentukan pilihan baju kesayangan. Sehingga para suami yang mengantarnya bisa senang, karena baju lekas terbeli, bisa segera pulang. Bagi para remaja, mudah memilih pasangan yang ‘pasti’ membahagiakan.

AlQuran sebagai alFurqan pasti sangat diperlukan para mahasiswa terutama untuk menggapai nilai tinggi dalam evaluasi ujian.
Pernah ketika masih di Jerman, pak Habibie merasa kewalahan mengejar prestasi kawannya yang keturunan Yahudi. Laki dan perempuan. Mereka selalu berada di peringkat atas. Habibie ingin sekali menempati prestasi puncak.
Lalu Habibie dengan rasa kepo bertanya,”Dengan cara apa kalian belajar sehingga sulit bagi saya untuk menduduki posisi kalian?”
Mereka berdua menjawab singkat,”kami membaca alQuran”.

Jawaban mereka seolah menampar wajah Habibie. Bagaimana tidak, bukankah alQuran merupakan kitab suci Muslim. Mengapa teman Yahudi yang justru memilihnya sebagai jalan menuju puncak? Serentak dia mencontoh laku mereka itu. Terbukti setelah ia membaca alQuran, dia benar-benar menggapai puncak teratas prestasi mahasiswa, menggeser dua orang kawan Yahudinya.

Keunggulan Habibie di peringkat tertinggi ini, membawanya pada prestasi fenomenal. Dia mampu mengatasi masalah retaknya ekor pesawat Boeing ketika naik pada ketinggian tertentu. Belakangan, atas keberhasilannya itu ia sangat terkenal dengan sebutan Mr. Crack, berkat alQuran.

Itulah sekelumit syafa’ah alQuran!

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Saatnya Memperbarui Fikih Haji


Jakarta

Saya memulai mendiskusikan tema di atas dengan sebuah “disclaimer” bahwa saya bukan ahli fikih. Saya pernah belajar fikih di madrasah, tetapi tidak membuat saya menjadi “faqih”. Saya tidak mengambil jurusan hukum Islam dan tidak pernah duduk khusus mengaji kitab-kitab fikih.

Ketertarikan saya pada tema di atas dasarnya adalah pengalaman saya menyelami proses dan dinamika penyelenggaraan haji pada tahun 2024 dengan menjadi anggota Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) penyelenggaraan haji yang dibentuk oleh Kementerian Agama. Dengan menjadi Tim Monev, saya memiliki kesempatan berharga untuk menyelami ragam dinamika haji di lapangan.

Jadi diskusi tema di atas dipicu oleh kesadaran empirik saya sebagai petugas haji, bukan sebagai “specialist” dalam dunia fikih. Karenanya saya hanya ingin mencermati tataran sosiologisnya, bukan membedah fikih haji secara substantif.


Setelah saya menyerap informasi dari berbagai pihak yang terkait dengan haji, saya mengajukan sebuah klaim bahwa penyelenggaraan haji tahun ini sangat baik dan diyakini jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya, atau lebih ekstremnya, yang terbaik sepanjang sejarah penyelenggaraan haji.

“Murur” untuk “Hifzh al-Nafs”

Salah satu isu penting yang menjadi pendorong bagi suksesnya pelaksanaan haji tahun ini adalah keputusan Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Agama (Kemenag), untuk memaksimalkan ikhtiar bagi keselamatan jiwa para jemaah.

Yang melatari ikhtiar kuat pemerintah adalah kesadaran bahwa untuk mendapatkan “ruang gerak” yang lebar bagi jemaah di Tanah Suci adalah sebuah kemustahilan. Misalnya, untuk mendapatkan ruang yang lebih di Muzdalifah sebagai tempat “mabit” tidak mungkin karena Muzdalifah adalah tempat yang kondisinya yang tidak bisa lagi diperluas.

Demikian pula Mina sebagai tempat mabit malam-malam “tasyriq,” juga tidak mungkin lagi diperluas. Dibuatnya kawasan baru, “Mina Jadid” yang masih menjadi bagian dari kawasan Muzdalifah tidak bisa menyelesaikan tumpukan jemaah dari seluruh dunia yang akan menempuh proses mabit.

Atas kesadaran itu, Kementerian Agama mengambil kebijakan bahwa hal yang perlu dilonggarkan untuk mengurai sesaknya Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) bukan dari ruang-ruang fisiknya tetapi dilonggarkannya pemahaman fikih yang terkait dengan proses haji di Armuzna. Pelonggaran ini tujuannya adalah untuk mewujudkan cita tertinggi dari hadirnya hukum Islam, yakni “hifzh al-nafs” (terjaganya jiwa).

Yang pertama ditelisik adalah titik krusial terpenting dari Armuzna, yaitu mabit di Muzdalifah, karena tempat itu di samping sempit, waktunya juga sangat terbatas. Pengalaman tahun sebelumnya juga memberi pelajaran penting bahwa Muzdalifah adalah titik yang sangat rawan bagi para jemaah.

Atas dasar itu, penyelenggara haji mengambil kebijakan “murur” bagi jemaah yang memiliki uzur atau halangan tertentu (lansia, resiko tinggi, dan disabilitas). Murur adalah melintaskan kendaraan para jemaah di Muzdalifah menuju ke Mina bagi yang sudah terdata memiliki uzur. Jumlahnya sangat signifikan untuk melonggarkan ruang jemaah yang mengambil mabit secara normal.

Tentu keputusan murur ini didasari oleh kajian fikih yang sangat serius dari ulama-ulama otoritatif kita. Terurainya jemaah secara lancar dari Muzdalifah menuju ke Mina faktor penentunya adalah kebijakan murur.

Formalisasi “Tanazul”

Pertanyaannya adalah bagaimana dengan Mina, karena semua jemaah, baik yang mabit secara normal maupun murur tentu semua menuju ke Mina.

Mina adalah kawasan yang tidak cukup luas meskipun sudah termasuk Mina Jadid. Berbeda dengan kawasan Arafah yang selama ini masih relatif bisa menampung seluruh jemaah, dan masih bisa terkondisikan dengan baik. Saya berkeyakinan bahwa kesesakan yang terjadi di Mina, termasuk keterbatasan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang dikeluhkan jemaah, faktornya karena keterbatasan ruang.

Dari situasi ini, saya melihat bahwa penyelenggara perlu berikhtiar kuat untuk memberlakukan sebuah langkah solutif penguraian jemaah yang didasari oleh pelonggaran tafsiran fikih. Sekali lagi tujuannya adalah untuk keselamatan jiwa jemaah.

Salah satu yang telah diinisiasi oleh penyelenggara haji–dan saya duga memberi pengaruh terhadap berkurangnya kesesakan di tenda Mina–adalah banyaknya jemaah yang mengambil “tanazul” setelah dari Muzdalifah. Tanazul di sini bermakna jemaah tidak tinggal di tenda Mina, namun pulang-pergi dari hotel mereka untuk melakukan lontaran di Jamarat. Namun, aktivitas tanazul ini masih bersifat imbauan dan dilakukan secara mandiri oleh para jemaah yang memiliki kesanggupan.

Saya berasumsi bahwa bila murur bisa dijadikan dasar bagi kelancaran pengaturan jemaah, maka sebaiknya tanazul juga perlu dipertimbangkan untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan haji pada tahun depan. Adapun yang mengiringi diskusi tentang tanazul ini adalah dua hal, yaitu tanazul bagi yang sehat seperti gambaran di atas, dan tanazul bagi yang memiliki uzur.

Apakah diskusi bisa dikembangkan pada bisa atau tidaknya jemaah yang mengambil murur, langsung saja di-tanazul-kan. Artinya, mereka dilewatkan di Mina dan tidak perlu lagi tinggal di sana karena mereka memiliki uzur. Dan ketika mereka ingin melakukan lontaran, mereka bisa diwakilkan (badal). Karena menempatkan mereka di Mina untuk ikut melontar, risikonya juga cukup tinggi.

Diskusi berikutnya adalah bila tanazul dijadikan kebijakan, perlu diikuti oleh kebijakan lainnya, bagaimana menentukan syarat mabit bagi orang sehat yang mengambil tanazul, dan berapa lama mereka berdiam di kawasan Mina? Bisakah mereka melontar jumrah dengan rentetan waktu yang saling berdekatan dengan pertimbangan pergantian waktu untuk memudahkan pergerakan mereka?

Interpretasi Kreatif

Hal yang bersifat fiqhiyah di atas sebenarnya sudah dipraktikkan oleh beberapa jemaah sebagai bagian dari langkah nyata mereka untuk meminimalisasi potensi kerawanan. Namun untuk bisa menjadi panduan bagi jemaah ke depan, perlu ada kebijakan resmi dari penyelenggara yang didasari oleh pandangan fikih dari ulama seperti yang dilakukan terhadap lahirnya kebijakan murur.

Saya optimis, bahwa kesuksesan pelaksanaan haji tahun ini yang didasari pada interpretasi kreatif tentang fikih haji, akan semakin memotivasi penyelenggara lebih memaksimalkan celah untuk menemukan interpretasi fikih yang memastikan bahwa “hifzh al-nafs” adalah segalanya. Saya meyakini, dua hal yang saling menopang untuk hadirnya kebijakan baru berhaji dari interpretasi fikih: keseriusan pemerintah dan kepatuhan para jemaah.

*) Hamdan Juhannis
Anggota Tim Monev Haji 2024, Rektor UIN Alauddin Makassar

Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Pasti Ditolong Asal Mau Menolong



Jakarta

Malam masih menyelimuti siang, matahari masih senyap di peraduan. Seorang ibu sepuh mengirim WA audio kepada adiknya yang dirasa memiliki kedudukan nyaman di suatu instansi. Ia bercerita tentang pejabat yang menjadi atasan dari anaknya. Putra pejabat itu hendak masuk suatu institusi pendidikan tertentu. Pendidikan dokter spesialis dalam bidang yang banyak diminati.

“Kalau seandainya harus menghadap, ia akan menghadap kepadamu”. Itu sekelumit permohonan yang dimajukannya di suatu akhir malam.

Beraneka bentuk pengharapan dan permohonan model seperti ini. Entah di negeri ini atau entah di mana saja. Boleh jadi menggunakan kalimat yang sedikit berbeda. Tapi maksudnya sama, ingin ditolong.


Sejak jaman dahulu sudah beruntun kisah tentang bagaimana pertolongan kepada seseorang menghadirkan pertolongan serupa kepada si penolong.

Di masa bepergian jauh masih lebih umum menggunakan kapal laut daripada pesawat udara. Pada masa itu, beberapa Kyai yang menerima banyak santri di pondoknya, memberangkatkan putra penerus mereka ke Arab Saudi, Yaman, maupun Mesir.

Sementara putra-putra para Kyai itu mengikuti pendidikan agama di negara-negara teluk, sementara orang tua mereka berada di Indonesia. Sering terjadi uang kiriman belanja bulanan, baik untuk biaya pendidikan maupun biaya belanja harian mengalami kendala. Entah karena cuaca yang bertepatan dengan banyak angin kencang, atau orang yang akan dititipi uang belum ada yang bepergian ke arah negara tujuan.

Lalu apa yang mereka para Kyai itu lakukan. Mereka sengaja memberikan santunan kepada para santri di pondoknya. Dengan keyakinan bahwa apa yang mereka perbuat akan dibalas Tuhan.

Lalu apa yang mereka ceritakan selanjutnya. Entah dari mana datangnya. Entah siapa yang berkenan membantu. Tapi yang jelas para putra beliau di negeri nun jauh di sana ditolong orang (baca ditolong Tuhan) melalui jalan yang bukan perlu logika normal.

Kisah di atas sebenarnya terjadi berulang, acak dan tersebar bahkan di seluruh dunia. Sering orang memberikan stigma kebetulan. Padahal, ada beberapa periset yang membuktikan bahwa hal itu terjadi melalui proses. Bukan sekedar kebetulan.

Tentang hal itu, ada dua orang periset terkenal (Stephen Post dan Jill Neimark) yang menemukan jawaban dari hal-hal yang sering diberi stigma kebetulan di atas. Hasil temuan mereka dinarasikan dalam bentuk buku. Buku tersebut sangat terkenal. Buku itu menjadi best seller internastional. Ia menjadi sumber inspirasi sangat baik selama beberapa tahun bahkan sampai sekarang. Buku itu berjudul “Why Good Things Happen to Good People”. Mengapa hal-hal baik selalu mengejar orang-orang yang baik.

Dalam buku itu dipaparkan mengenai fakta bahwa mereka yang hidup panjang umur. Hidup lebih bahagia. Hidup lebih sehat. Hidup berkah. Mereka meninggal setelah sempurna melakukan pengabdian. Mereka hanya memerlukan satu modal saja. Apakah satu modal utama itu? Ialah hidup dengan cara suka menolong!

Dr. Stephen G. Post dan Jill Neimark telah melakukan riset dengan mengumpulkan penelitian di universitas-universitas terbaik di negara Amerika Serikat untuk membuktikan manfaat hidup yang meningkat dari perilaku suka menolong. Penelitian menarik ini menunjukkan bahwa ketika siapa pun kita, yang menyiapkan diri untuk selalu memberikan pertolongan. Apalagi dilakukan sejak muda. Maka hidup akan serasa mudah. Gampang puas, gampang bahagia, segar fisiknya, berbeda secara signifikans daripada hidupnya orang yang enggan memberikan pertolongan.

Orang-orang yang suka menolong orang lain, diri mereka menjadi panjang umur. Tidak mudah depresi. Kesehatan fisik menjadi prima. Kesuksesan mudah diraih.

Post dan Niemark melakukan riset ini selama 50 tahun. Risetnya menemukan bukti bahwa orang-orang yang biasa memberikan pertolongan, apalagi sudah dimulai sejak SMA, mereka memiliki kesehatan fisik dan mental prima sepanjang hidup mereka. Penelitian lain menunjukkan bahwa orang-orang tua yang menyediakan diri untuk menolong orang lain, mereka panjang umur.

Perilaku suka menolong orang lain telah menunjukkan dukungan kualitas kesehatan kepada para penolong. Hasil ini lebih tampak nyata pada para penderita penyakit kronis, termasuk HIV AIDS, multipel sclerosis, dan penderita penyakit jantung. Riset juga menunjukkan bahwa orang-orang dari semua usia yang senang menolong orang lain secara teratur, bahkan dalam cara-cara kecil, mereka memiliki kehidupan paling bahagia.

Nabi Muhammad SAW memberikan konsep dasar tentang bagaimana cara, agar seseorang bisa memperoleh pertolongan dengan mudah. Ialah menolong orang lain.
Sabda beliau, “Wallahu fii aunil abdi maakaanal abdu fii auni akhiihi” (Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya).

Bahkan di dalam Islam, orang yang enggan menolong orang lain masuk dalam kriteria orang yang tidak pantas menyebut diri sebagai orang yang beragama (QS al-Ma’uun 107:7). Mereka yang termasuk pendusta agama adalah mereka yang enggan melakukan pertolongan kepada orang lain, walau hanya sekedar menolong hal-hal yang remeh-temeh.

Pertolongan yang pasti bisa hanyalah pertolongan Tuhan. Dan Tuhan berjanji akan menolong siapa pun yang suka memberikan pertolongan kepada orang lain.

Mulai sekarang hayo siapkan diri untuk senantiasa siap menolong siapa pun di jalan Tuhan. Setidaknya agar hidup panjang umur, sulit sakit, mudah sukses, hidup bahagia sejahtera! Itu setidaknya sudah dibuktikan melalui riset ilmiah, di samping fakta empiris yang jumlahnya sulit dihitung.

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Masuklah Surga, Mengapa Enggan?



Jakarta

Surga biasa dibayangkan baru bisa dinikmati setelah mati. Nanti jauh di alam sana. Benarkah?

Boleh jadi sebagian orang, atau bahkan sebagian besar orang melihat surga dari sisi pandang seperti itu. Apa sebenarnya hakikat surga? Bukankah surga suatu perlambang kebahagiaan sempurna? Di surga orang tidak perlu gaduh-gelisah, semua kebutuhan sempurna terpenuhi. Surga menyiratkan gambaran teduh, sejuk, semilir angin, kicau burung, gemericik suara air , pepohonan rindang, taman-taman bunga dan para pelayan yang santun dan good looking.

Ada dipan-dipan sofa berkasur empuk, berbantal tebal, tempat duduk, tempat bertelekan dan bersandar. Ruang pertemuan dilapisi permadani tebal. Mereka yang di dalam surga memakai pakaian yang serba mewah serta perhiasan serba mahal. Di hadapan mereka ada minuman yang tidak pernah memabukkan. Termuat dalam gelas-gelas indah yang harganya sulit dirupiahkan. Tersedia berbagai makanan yang lezat dan tidak pernah membuat kekenyangan.


Duduk di sana dalam perjumpaan yang saling berhadapan. Beradu pandang membicarakan percakapan yang berisikan pujian, syukur dan kepuasan. Ridlo atas setiap keputusan Tuhan. Sungguh suasana kehidupan yang setiap orang pasti inginkan.

Apakah yang demikian hanya di surga akhirat sana? Tidakkah kebahagiaan itu justru dibutuhkan sejak di dunia ini? Sejatinya surga yang sebenarnya memang menunggu pergantian alam. Setelah alam dunia ini berganti dengan alam akhirat nanti. Tapi itu surga akhirat.

Namun, bukankah hakikat surga itu adalah kebahagiaan yang sebenarnya. Bukan kebahagiaan fatamorgana akibat psikotropika dan yang sejenisnya. Gambaran surga dunia mestinya mendekati gambaran surga sesungguhnya di akhirat nanti. Ialah kehidupan yang menyenangkan. Sukses gampang diraih. Kebutuhan serba tersedia secara lapang. Hidup tenang dan selalu senang. Kebahagiaan yang sungguh menjadi idaman setiap insan.

Kalau begitu mengapa harus nanti menunggu di akhirat, bukankah kebahagiaan itu dibutuhkan di dunia ini. Sebelum kebahagiaan yang kekal nanti di akhirat sana?

Lalu bagaimana caranya supaya seorang mampu memperoleh kehidupan surga di dunia ini? Seberapa mahal, seberapa sulit?

Semestinya tidak mahal, juga tidak sulit jika mau. Kecuali enggan. Lalu bagaimana caranya? Gampang! Sempurnakan bakti siapa pun kepada orang tuanya. Kepada mereka berdua Ayah-Ibu kalau mereka masih lengkap. Atau salah satunya jika satunya sudah wafat.

Bagaimana cara berbakti kepada kedua orang tua itu? Gampang, lakukan kebalikan dari sikap durhaka, itulah sikap bakti kepada orang tua!

Bertumpuk fakta empiris menyediakan bukti nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Siapa pun di antara sejumlah saudara seayah-seibu yang paling bagus bakti kepada orang tuanya, dialah yang paling nyaman hidupnya. Kalau dia masih pelajar atau mahasiswa, maka prestasi di sekolahnya bagus. Mudah menangkap materi kuliah, gampang lulus. Kalau dia pebisnis. Maka bisnisnya lancar, untung berlipat, usahanya melesat sesuai dengan kualitas baktinya kepada orang tuanya. Beberapa perusahaan nomor satu di Indonesia dikendalikan oleh orang-orang yang bakti kepada orang tuanya sulit ditandingi.

Akan tetapi, bisa jadi ada beberapa anak yang malah durhaka, tetapi terlihat seperti cemerlang, bisa dipastikan kecemerlangannya hanyalah nisbi. Boleh jadi tampilan fisik kelihatan bagus, sedang jiwanya parah menderita.

Sikap durhaka bisa meliputi:
Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih dan sakit hati.
Berkata ‘ah’ dan tidak memenuhi panggilan orang tua.
Membentak atau menghardik orang tua.
Bakhil (pelit), lebih mementingkan yang lain dari pada orang tuanya.
Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan.
Bermuka masam dan cemberut di hadapan orang tua, merendahkan orang tua.
Mencaci atau menjadi sebab orang tua dicaci orang.
Membelalakkan mata.

Kesulitan yang mereka peroleh di dunia sebenarnya hanyalah sedikit, sebagai pengantar kesulitan yang akan menyambutnya di akhirat. Mereka yang durhaka: shalatnya tidak diterima, dibenci Allah, diharamkan masuk surga, segala amal perbuatannya dihapus, dosa-dosanya tidak diampuni, bahkan mendapatkan azab di dunia”

Fakta empiris anak-anak yang berbakti kepada orang tuanya.
Tak kurang sejumlah besar konglomerat Indonesia menempati papan atas nama-nama terkenal. Mereka memiliki dan memimpin perusahaan-perusahaan ternama bukan karena bekal kuliahan. Bukan karena produk pendidikan Universitas Paman Sam. Tapi lebih karena mereka memuliakan para orang tuanya melebihi siapa pun. Kisah mereka bertebaran di kanal You Tube atau media sosial yang lain.

Sikap mereka kepada para karyawan pun terkenal menawan. Akibat santun dan sopan kepada para orang tuanya, berimbas kepada kebaikan sikapnya pada para karyawan.

Tokoh-tokoh dunia internasional yang serupa dengan mereka pun tak kurang hitungan. Di seluruh dunia, global. Mereka adalah tokoh-tokoh yang sangat berbakti kepada para orang tuanya. Bakti itu menjadi pemantik sukses siapa pun di seluruh dunia. Tidak terkait suku, ras atau tidak terkait atribut apa pun.

Ada bimbingan Rasulullah yang memang bersifat universal, bimbingan kepada siapa pun yang menginginkan hidup di dunia ini laksana hidup di surga. Hidup bahagia sejahtera, selalu mendapat kemudahan menuju sukses, sukses berlimpah, hati tenang dan selalu senang. Selalu puas dalam ridlo Tuhan.

“Celakalah seorang hamba, jika mendapati kedua atau salah satu orang tuanya masih hidup, namun keberadaan kedua orang tuanya tidak membuatnya masuk ke dalam surga [berkehidupan surgawi-terjemah].” Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah RA.

Melalui hadits ini, rupanya bakti anak kepada orang tua merupakan indikator apakah dia termasuk orang yang benar shalih atau hanya fatamorgana. Bagaimana tidak, jika kepada orang yang paling berjasa saja di dalam hidupnya dia tidak mampu berterimakasih, kepada siapa lagi yang dia pantas melakukannya. Andai dia mendahulukan berterimakasih selain kepada orang tuanya, maka di manakah letak logika sehatnya? Mendahulukan yang bukan pantas daripada yang pantas.

Wajar kalau Rasulullah mengingatkan dosa besar durhaka kepada orang tua itu nomor dua setelah dosa syirik, menyekutukan Allah. “Maukah kalian kuberi tahu tentang dosa paling besar? Yaitu, syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Hadits diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Abu Bakar RA

Semoga setiap kita berebut menikmati kehidupan surgawi dunia-akhirat. Buktikan bahwa kita bukan yang enggan, melalui menyempurnakan bakti kepada orang tua!

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Masjid



Jakarta

Masjid adalah rumah Allah SWT. yang memiliki kedudukan istimewa dengan banyak manfaat yang telah dipersiapkan oleh-Nya bagi kaum muslimin dan muslimat yang senang ke masjid. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW. memberikan motivasi untuk gemar datang ke masjid. Dari Abu Hurairah RA: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah(masjid) untuk melaksanakan kewajiban yang Allah tetapkan, maka kedua langkahnya, yang satu menghapus kesalahan dan satunya lagi meninggikan derajat.”

Hal ini diperkuat dengan firman-Nya surah at-taubah ayat 18 yang terjemahannya, “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah SWT. ialah orang yang beriman kepada-Nya dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) kecuali kepada-Nya, maka semoga mereka menjadi golongan yang mendapatkan petunjuk.”

Makna ayat ini adalah : Sesungguhnya yang berhak memakmurkan dan mengurus masjid-masjid Allah SWT. hanyalah orang-orang yang beriman kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, mendirikan salat, membayar zakat, dan tidak takut kepada siapa pun selain Allah SWT. Mereka itulah orang-orang yang diharapkan mendapat petunjuk ke jalan yang lurus.


Hijrah Rasulullah SAW. ke Madinah telah menandakan terbentuknya wilayah Islam pertama di muka bumi. Hal ini juga menandakan telah berdirinya negara Islam. Setiba di Madinah, pertama kali dilakukan Rasulullah SAW. adalah membangun komunitas yang terdiri atas Muslim Muhajirin dan Anshar, setelah itu langkah berikutnya adalah membangun masjid. Tidaklah heran bahwa mendirikan masjid merupakan langkah penting dalam pembentukan komunitas Muslim.

Masyarakat Muslim bisa berdiri kukuh jika sistem Islam, akidah dan etikanya, semuanya bersumber dari spiritualitas masjid, dipatuhi dan dipegang erat-erat. Diantaranya adalah adanya ikatan tali persaudaraan antar jamaah/antar Muslim. Ingatlah bahwa tali persaudaraan tak akan bisa terwujud kecuali melalui masjid. Jika kaum muslim tak pernah berjumpa satu sama lain di rumah Allah SWT. tidaklah mungkin terjalin persaudaraan. Mereka akan dihalangi oleh sekat-sekat kedudukan, kekayaan dan status sosial. Oleh karena itu, masjid adalah tempat kebersamaan, persamaan dan persaudaraan.

Di masjid, kita bisa berbaris dalam satu barisan yang kukuh setiap hari, berdiri bersama menghadap Sang Khalik. Hati mereka ( jamaah ) terpaut satu sama lain dalam ruang penghambaan kepada Allah Yang Mahamulia. Inilah ruh yang mewujudkan kebersamaan dan bersatu, timbul rasa saling bantu membantu dan bahu membahu. Oleh sebab itu, jadikanlah masjid menjadi pusat pembentuk karakter Islami dalam kehidupan bermasyarakat.

Beberapa keutamaan masjid sebagai berikut :
O. Berkumpul dalam masjid untuk belajar al-Qur’an memberikan ketenangan, turunnya rahmat Allah SWT. dan dikelilingi para Malaikat. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan Abu Daud. Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW beliau bersabda: “Tidaklah sebuah kaum berkumpul di dalam rumah diantara rumah-rumah Allah SWT. membaca kitab-Nya, dan saling mempelajarinya diantara mereka melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, serta dikelilingi malaikat, dan Allah SWT. menyebut-nyebut mereka diantara malaikat yang ada di sisi-Nya.”

Hal ini menunjukkan bahwa masjid adalah tempat yang sangat baik untuk membaca al-Qur’an, mempelajarinya sampai memahami maksud yang terkandung di dalamnya dan menjadikannya sebagai pedoman hidup. Memahami isi firman-firman-Nya dan melaksanakan merupakan bentuk keimanan yang paripurna. Mengundang ilmuwan ke masjid diajak membedah beberapa surah yang terkait mayat Fir’aun, membahas sujudnya shalat karena sebagian syaraf di otak yang akan dialiri darah ( oksigen ) kecuali saat sujud, mengungkap lebah dan madu pada surah an-Nahl. Ingatlah bahwa isi al-Qur’an tidak konfrontatif dengan ilmu pengetahuan teknologi.

O. Orang yang hatinya terikat dengan masjid mendapat naungan Allah SWT. pada hari kiamat. Mereka adalah orang yang senang berada di masjid, selalu berusaha memakmurkannya, menjaganya dalam keadaan yang sebaik-baiknya, dan menjaga hak-haknya. Ia senantiasa melaksanakan shalat secara berjamaah. Bila melihat masjidnya kotor, ia mengusahakan agar segera bersih. Bila melihat ada bagian yang rusak, ia berusaha memperbaiki. Bila ada yang tak layak, ia mengusahakan agar menjadi layak. Bila ada yang tak sedap dipandang mata, ia berusaha merapikannya. Ia sangat mencintai rumah Allah SWT. tesebut dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya.

Itulah masjid sebagai tempat menempa karakter jamaahnya, dengan harapan umat Muslim bisa memberikan kontribusi lebih dalam masyarakat maupun negara. Semoga Allah SWT. membimbing kita semua dalam keteguhan iman untuk menjaga, merawat dan memakmurkan masjid.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com