Tag Archives: hikmah

Mengapa Abrahamic Religions di AS Kompak?



Jakarta

Fenomena Abrahamic Religions atau agama-agama yang lahir dari anak-anak cucu Nabi Ibrahim, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam, kelihatannya sangat kompak. Bahkan mungkin paling kompak di antara negara-negara lain. Kalau di tempat lain, Yahudi dan Islam atau Yahudi dan Kristen sering terjadi konflik bahkan perang terbuka, maka di AS penampilan ke tiga agama yang biasa disebut dengan Semitic Religions (agama-agama Semit) ini sangat akur. Ketiga agama ini sering saling mengundang satu sama lain jika ada acara khusus atau momen-momen penting. Tokoh-tokoh ketiga agama ini, tentu saja dengan tokoh-tokoh agama lain, sangat akrab satu sama lain. Secara pribadi kadang saling mengunjungi dan sering berkomunikasi lewat telpon.

Sering ditemukan satu keluarga tetapi mempunyai agama yang berbeda-beda. Ada yang beragama Yahudi, Kristen, dan Islam. Di kantor-kantor tidak sedikit karyawan bekerja dengan akrab satu sama lain tanpa risih dengan perbedaan agama yang dianutnya. Bahkan ketiga agama ini memiliki hubungan emosional (chemistry) satu sama lain. Mungkin karena mereka sebagai masyarakat yang gemar membaca, sehingga mereka tahu kalau agama-agama yang mereka anut bersumber dari satu nenek moyang yang sama yaitu Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahi melahirkan dua anak dari dua ibu yang berbeda. Isteri pertamanya bernama Siti Sarah melahirkan Nabi Ishak yang kemudian turunannya melahirkan nabi Musa yang di tangannya agama Yahudi diturunkan dengan Kitab Sucinya Taurat, dan Nabi Isa, di sana disebut Yesus Kristus, yang ditangannya lahir agama nashrani atau Kristen dengan Kitab Sucinya Injil. Dari Isteri keduanya, Sitti Hajar, lahir dari turunannya Nabi Muhammad SAW yang di tangannya lahir agama Islam dengan Kitab Sucinya Al-Qur’an. Ketiga agama ini sesungguhnya memiliki titik persamaan (encounters) lebih banyak dari pada perbedaan.

Dalam Alkitab terutama dalam Kitab Kejadian (Genesis) yang terdiri atas sekitar 5000 ayat banyak sekali mengungkap persamaan antara Al-Qur’an dan Hadis. Hanya saja terjadi perbedaan secara linguisti-semantik karena faktor jarak waktu yang yang sangat berjauhan satu sama lain. Sebagai contoh, dalam Bibel disebut Adam-Eva, Noh, Loth, Yosep, David, Salomom, Abraham, Moses, Yesus Kristus, Fir’an, Gabril, tetapi dalam Al-Qur’an dan Hadis dikenal Adam-Hawa, Nuh, Lut, Daud, Sulaiman, Ibrahim, Musa, Isa, Fir’aun, dan Jibril.


Substansi kisah-kisah di dalamnya banyak persamaannya. Bahkan seringkali ditemukan dalam kitab-kitab tafsir populer (al-mu’tabarah) seperti kitab Tafsir Al-Thabari, Tafsir Al-Qurthubi, dan kitab-kitab Tafsir lainnya mengintrodusir riwayat-riwayat Israiliyyat yang sesungguhnya berasal dari sumber-sumber tradisi Al-Kitab, khususnya dari kitab Talmud, yaitu kitab tafsirnya kitab Taurat. Kitab Talmud Babilonia lebih dari 10 jilid paling banyak berisi sumber-sumber Israiliyat. Contoh penafsiran kitab Talmud tentang kitab Kejadian (Genesis) banyak sekali persamaannya dengan riwayat-riwayat Israiliyat tentang asal-usul kejadian Adam dan Hawa. Dalam Kitab Kejadian pasal 1-23 sangat bersesuaian dengan tentang kisah penciptaan Adam dan Hawa dilam kitab-kitab Tafsir Mu’tabarah. Adam diciptakan dari tanah dan Hawa diciptakan dari tulang rusuk kiri paling bawah dan bengkokdari Adam. Demikian pula drama kosmos, kisah jatuhnya Adam-Hawa dari langit kebahagiaan ke surga penderitaan, dalam kitab-kitab kuning sering kali sangat bersesuaian dengan kitab-kitab Talmud, baik Talmud Babilonia maupun talmu Palestina.

Adalah wajar secara konsepsional jika umat ketiga kelompok Abrahamic Religions ini akur satu sama lain, karena sesuangguhnya “bersepupuan”. Yang tidak wajar jika antara ketiga kelompok agama ini berkonflik, apalagi berperang satu sama lain. Pola pembinaan AS tentang antar umat beragama perlu menjadi referensi buat kita semua. Allahu a’lam.

Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Fenomena Mark A.Gabril dan AS



Jakarta

Tentu saja ada sekelompok orang yang tidak senang melihat Islam berkembang di AS. Mereka selalu mem-blow-up setiap kasus yang menjelekkan Islam, termasuk dalam tahun 2000-an karya-karya murtad Ibn Warraq (nama samaran) yang pindah ke agama Keristen (atau ateis?) memublikasikan banyak buku yang menohok keaslian Kitab Suci Al-Qur’an. Akan tetapi provokasinya menjadi absurd setelah karya-kaya kemukjizanan Al-Qur’an bermunculan di AS yang ditulis oleh orang-orang Barat sendiri yang tadinya non-muslim menjadi muslim. Banyak orang yang tadinya membenci Islam dan menyerang kitab suci Al-Qur’an kemudian berubah pikiran. Di antaranya ialah Garry Wills, mantan pendukung berat Presiden Donald Trump, menulis sebuah buku yang mengejutkan dan kini menjadi penyandang The New York Times Bestselling. Buku itu ialah What the Qur’an Meant and It Matters. Tadinya begitu negative pandangannya terhadap Al-Qur’an tetapi setelah membaca secara keseluruhan Al-Qur’an maka lahirlah buku ini yang begitu kuat simpatinya terhadap kandungan isi Al-Qur’an.

Jika Allah SWT akan memberi hidayah kepada hamba-Nya maka sekeras apapun anti keislaman Umar ibn Khattab, yang pernah berencana membunuh Nabi Muhammad Saw tiba-tiba menjadi pembela setia ajaran Islam. Sebaliknya jika Allah SWT membutakan hati seseorang, sekalipun dari TK sampai DR dan Gurubesar di Universitas Al-Azhar tetap saja tergelincir, seperti yang menimpa Mark A.Gabriel, yang sekarang menjadi fenomenal di AS. Ia lahir sebagai muslim dari keluarga fanatik, mengecap pendidikannya sejak taman kanak-kanak sampai ke jenjang S3 Fakultas Adab di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia sempat menjadi profesor Sejarah Peradaban Islam di Universitas terkemuka ini. Ia termasuk pemikir muda yang moderat.

Suatu saat ia diculik kelompok garis keras dan ditahan di tahanan bawah tanah di Mesir. Ia disiksa dengan berbagai macam siksaan, termasuk kukunya dicopot satu persatu. Ia dianggap sebagai kelompok liberal dan antek Barat. Suatu ketika ia berhasil lolos di malam hari dan kembali ke rumahnya. Bukannya mendapat sambutan dari ayahnya, ia pun didamprak oleh ayahnya dan diusir karena pikirannya dianggap terlalu “maju”. Ibunya memberi kunci mobil dengan uang seadanya agar lari sejauh-jauhnya. Ia pun menancap gas tanpa tujuan dan tidak terasa memasuki jalur lintas Afrika. Terakhir ia terdampar di salah satu kota di Afrika Selatan. Di sana ia berkenalan dengan seorang pendeta Kristen dan di sana ia memutuskan untuk pindah. Entah bagaimana caranya akhirnya ia sampai ke AS dan di sana ada sekelompok orang memberi peluang untuk menulis dan berbicara di berbagai forum, meskipun kalangan intelektual AS tidak langsung merespon positif mental-kepribadian orang seperti Max Gabrill, karena masih sangat labil.


Ia menulis buku yang pernah menjadi The Best seller di AS dengan judul: “Islam and Terrorism” diterbitkan oleh Charisma House A Srang Company (2002). Kesimpulan dalam buku itu ialah Islam berada di balik terorisme, bukan orang Islam. Teroris muslim hanyalah korban dari agamanya yang menganjurkan terorisme. Di antara pokok-pokok pikiran Mark dalam buku ini antara lain: Surat al-Qital (Muhammad) sebagai Legitimator Perang. Surah ini seperti genderang perang untuk kaum kafir. Ia juga menilai Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad untuk lebih memprioritaskan membunuh musuh ketimbang menjadikannya tawanan perang.

Hal demikian tersebut dalam Q.S. al-Anfal [8]: 67. Ia tidak mau tahu kalau ayat-ayat itu memiliki sabab nuzul tersendiri. Pandangan Mark ini sangat berlebihan karena doktrin jihad dalam al-Qur’an tidak pernah bersifat pre emptive, mendahului dalam memerangi. Fakta sejarah membuktikan bahwa masyarakat Islam di Madinah tetap bersahabat dengan pemeluk agama lain dari kalangan Yahudi dan Kristen. Sungguh tidak berdasar jika menyebut al-Qur’an memusuhi ahl al-kitab. Bukankah al-Qur’an juga menceritakan bahwa di antara ahl al-kitab tersebut terdapat orang yang dapat diamanati harta yang banyak, akan menjaga keutuhannya hingga dikembalikan kepada pemiliknya (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 75). Konon Mark Gabrill saat ini sedang bingung dengan keputusannya sendiri dan banyak menutup diri.

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Sahabat



Jakarta

Syekh Abu Abbas al-Mursi berkata, “Seorang Arif ( yang bijaksana ) tidak memiliki dunia karena dunianya untuk akhirat dan akhiratnya untuk Tuhannya.”

Seperti itulah para sahabat Rasulullah SAW. generasi salaf dan orang-orang shalih. Setiap mereka memperoleh dunia yang diupayakan akan digunakan untuk memdekatkan diri kepada Allah SWT. dan dijadikan jalan untuk meraih ridha-Nya. Mereka tetap berikhtiar tidak untuk menikmati perhiasan dunia dan kelezatannya, namun mereka gunakan untuk ta’at dan mendekatkan diri pada-Nya.

Seperti yang digambarkan di atas tercermin dalam firman-Nya :


1. Surah al-Fath ayat 29 yang artinya, “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud.” Dalam ayat ini Dia adalah Dzat yang melihat rahasia-rahasia terdalam mereka dan mengetahui rahasia mereka yang tersembunyi dan nyata. Bahwa mereka tidak mengejar dunia dalam hal yang mereka kerjakan kecuali semata-mata demi keridhaan dan kemurahan-Nya. Ingatlah bahwa dunia itu sangatlah gemerlap dan menarik, seseorang bisa lupa diri dan berbohong demi dunia, bisa bernafsu meraih dengan cara apa pun juga demi dunia.

2. Surah an-Nur ayat 36-37 yang artinya, “( Cahaya itu ) di rumah-rumah yang disana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih ( menyucikan ) nama-Nya pada waktu pagi dan petang, orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang ( hari Kiamat ). Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Cahaya ini bersinar di masjid-masjid. Allah SWT. memerintahkan agar mengagungkan bangunan, penjagaan, dan pemakmurannya bagi orang-orang yang shalat; di dalamnya disebutkan nama Allah dengan azan, bacaan al-Qur’an, dan zikir-zikir berupa tasbih dan tahmid pada pagi dan sore hari yang memenuhi timbangan amal. Dan termasuk orang yang tidak dilalaikan karena perniagaan dari mengingat-Nya.

3. Surah al-Ahzab ayat 23 yang artinya, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah : maka diantara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada ( pula ) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah ( janjinya ).” Sekelompok orang-orang inilah yang dipilih-Nya untuk menemani Rasulullah SAW. dan menjadi objek bicara beliau saat wahyu diturunkan. Berkat mereka ( para sahabat ) hukum-hukum dan syariat dari Rasulullah SAW. sampai kepada kita. Itulah jasa-jasa mereka dan kita sejatinya beruntung dan berutang pada mereka. Oleh sebab itu, bayarlah utang itu dengan meneladani sikap para sahabat tersebut.

Maka sungguh benar apa yang dikatakan Rasulullah SAW. dalam sabdanya, “Para sahabatku seperti bintang-bintang, kepada siapa pun di antara mereka kalian ikut, kalian akan mendapatkan petunjuk.”
Mengikuti mereka ( sahabat ) tidaklah ada kerugian maupun kesia-sia-an justru akan memperoleh petunjuk. Sebagaimana dalam firman-Nya surah al-Kahfi ayat 28 yang artinya, “Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.

Mereka bersabar dan menunggu-nunggu dan tidak mengubah janjinya pada Allah SWT. untuk tetap ta’at dan berharap keridhaan-Nya. Dalam ajaran Islam tidak ada larangan dalam perniagaan dan jual beli, namun dalam pelaksanaannya tidaklah melupakan untuk selalu mengingat-Nya. Dalam pengelolaan perniagaan itu layaknya orang-orang berakal. Perintah berdagang sebenarnya tersirat dari firman-Nya dalam surah al-Anbiya’ ayat 73 yang artinya, “Melaksanakan shalat dan menunaikkan zakat, hanya kepada Kami mereka menyembah.”

Dalam ayat diatas ada kalimat menunaikan zakat, mewajibkan zakat kepada mereka ( para sahabat ) tentulah sebagian mereka adalah orang yang kaya. Kekayaan mereka tidak mengeluarkan mereka memperoleh pujian Allah SWT, jika mereka tetap menunaikan hak-hak-Nya.

Abdullah bin Utbah menceritakan para sahabat meninggalkan harta kekayaannya seperti :
1. Utsman bin Affan, ia memiliki tabungan 150.000 dinar, dan 1.000.000 dirham, tanah di daerah Sarawis, Khaibar, dan Wadi al-Qura yang nilainya setara dengan 200.000 dinar.
2. Zubair bin Awwam, ia meninggalkan 50.000 dinar, 1.000 ekor kuda dan seribu budak.
3. Amr bin Ash, ia meninggalkan harta warisan sebanyak 300.000 dinar.
4. Para sahabat lainnya termasuk Abdurrahman bin Auff dan lainnya.

Artinya ajaran ini tidak melarang orang menjadi kaya, meski tidak lalai terhadap hak-hak Tuhannya. Para sahabat yang kaya ini menjadikan harta bukan tujuan akhir, mereka menjadikan wasilah untuk tetap berada pada jalan-Nya. Sebagaimana yang diceritakan oleh Syekh Abu Hasan ady-Syafdzili berkata, “Aku bertemu dengan Abu Bakar ash-Shiddiq di dalam tidurku. Dia berkata, ‘Apakah kamu tahu tanda-tanda keluarnya cinta dunia dari hati?’ Aku menjawab, ‘Tidak tahu.’ Lalu beliau berkata, ‘Tanda-tanda keluarnya cinta dunia dari hati adalah munculnya perasaan hina ketika mendapatkan dunia dan ada perasaan tenang ketika kehilangan dunia.”

Semoga Allah memberikan cahaya-Nya agar kita bisa mengikuti jejak para sahabat Rasulullah SAW. tetap berikhtiar dengan mengisi kehidupan dunia dan tidak lalai menunaikkan hak-hak Allah SWT.

Aunur Rofiq
Ketua DPP PPP periode 2020-2025
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Dua Rakaat Sebelum Subuh, untuk Apa?



Jakarta

“Dua rakaat sebelum salat subuh itu lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” (HR Muslim). Demikian sabda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beberapa persepsi muncul menanggapi maksud hadits ini. Sebagian besar menduga bahwa dua rakaat sebelum subuh akan mengantar pelakunya untuk menggapai harta yang banyak, uang yang melimpah, kekayaan tak berbatas, bahkan termasuk jabatan yang super tinggi.

Mereka memahami hadits ini secara sepintas. Sementara beberapa muballigh, menyampaikan bahwa hadits ini mengingatkan kita, jika besok di akhirat dua rakaat sebelum subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya. Terutama sujud pada dua rakaat sebelum subuh.


Ada segolongan lain ragu, belum sependapat dengan pemahaman yang pertama. Golongan ini menyadari bahwa secara obyektif manusia memang fitrahnya diciptakan bersifat kikir.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir” (al Ma’aarij 70:19). Bahkan “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya. Dan adalah manusia itu sangat kikir” (al Isra’ 17:100).

Di samping itu bagi manusia, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (al Imran 3:14).
.
Mereka, golongan ini, menyadari bahwa orang-orang yang sesuai dengan ayat-ayat di atas memiliki harapan kepemilikan besar akan dunia. Harapan itu antara lain mereka upayakan melalui pengamalan dua rakaat sebelum subuh. Oleh karenanya, orang-orang yang memiliki pemahaman demikian memandang hadits di atas sebagaimana yang tertulis.

Segolongan muballigh melihat bukti di kehidupan nyata. Mereka melihat bahwa para beliau yang istiqamah mengamalkan dua rakaat sebelum subuh jarang yang hidup bergelimang harta. Hidup memiliki pangkat yang tinggi dan yang lainnya. Oleh karenanya golongan kedua ini menghindar dari pandangan sebelumnya. Mereka menyampaikan bahwa keutamaan dua rakaat sebelum subuh, pada nilai kemuliaannya di akhirat.

Dari sisi pandang ini, mereka mengajukan alasan antara lain, bahwa sujudnya saja pada dua rakaat sebelum subuh di akhirat bernilai sangat tinggi.

Pendapat ini menimbulkan pertanyaan. Jika sujud dijadikan alasan nilai sunnah ini melebihi dunia dan seisinya, bukankah sujud-sujud di salat fardlu adalah lebih utama? Lalu mengapa hadits ini menghkhususkan sujud di dua rakaat sebelum subuh? Lagi pula, jika dampak dua rakaat sebelum subuh menunggu nanti di akhirat lalu keutamaannya sekarang di dunia apa? Sedangkan semua orang yang sekarang mengerjakan sunnah itu, mereka sedang hidup, perlu memperoleh buktinya secara nyata. Salat apa pun, yang dilakukan pada saat manusia hidup di dunia wajib menunjukkan dampak positif di dunia ini, sekarang!

Dari sini ada golongan yang melihat dari sisi pandang lain. Bahwa siapa pun yang istiqamah dalam mengamalkan dua rakaat sebelum subuh, memiliki nilai jiwa yang tinggi. Mereka melihat bahwa dua rakaat sebelum shubuhnya saja sangat berharga apalagi shalat subuhnya.

Padahal untuk bangun subuh saja, belum mudah bagi sebagian besar orang. Apalagi untuk bisa melakukan dua rakaat sebelum subuh, orang pasti harus bangun jauh sebelum shubuh tiba. Mereka siap menjemput subuh melalui dua rakaat salat sunnah. Ini menjadi pertanda jelas kekuatan iman seseorang. Bukankah tidak mudah untuk melakukan persiapan dan pelaksanaan salat shubuh apalagi sunnah sebelum subuh?

Nabi bersabda, “Salat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah salat isya dan salat subuh” (Muttafaq ‘alaih).

Sedangkan sifat munafik, berbanding terbalik dengan sifat iman. Semakin mudah seseorang menegakkan salat subuh, terlebih dua rakaat sebelum subuh, imannya semakin berkualitas. Iman yang tinggi tak akan mudah goyah dengan cobaan apa pun. Bahkan seluruh cobaan yang melebihi nilai dunia dan seluruh isinya.

Dari sisi pandang ini jelas bahwa, dua rakaat sebelum subuh memang lebih baik dari dunia dan seisinya. Bahwa bagi orang-orang yang imannya kuat, antara lain ditandai dengan istiqamah melaksanakan sunnah dua rakaat sebelum subuh, segala cobaan yang bernilai melebihi seluruh dunia dan seisinya sekalipun, tak mampu mengoyangkan imannya. Iman kepada Allah dan hari akhir.

Nabi juga bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika salatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika salatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi”. Salat menjadi indikator kualitas kebaikan seseorang.

Salat dan amal perbuatan saling berkaitan. Amal-amal yang baik mengantar para pelakunya mampu salat khusyu. Sedangkan salat yang dilakukan dengan khusyu mengantar pelakunya berperilaku baik (al Ankabut 29:45). “…Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar…”.
“Barangsiapa yang salatnya tidak mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar maka tidak ada salat baginya” (al Hadits).

Jika demikian maka, dua rakaat sebelum subuh, merupakan indikator kualitas kebaikan seseorang. Sehingga godaan senilai dunia dan seisinya tak akan mampu menggoyang nilai keimanannya.

Kualitas tinggi dari kebaikan seseorang sangat penting terutama bagi pemimpin. Alasannya, karena mereka adalah panutan para yang dipimpin. Pemimpin negara menjadi panutan bagi rakyatnya.

Mereka yang dimaksud para pemimpin antara lain adalah: presiden, gubernur, bupati sampai pada siapa pun yang mengemban amanah sebagai pemimpin. Termasuk pemimpin rumah tangga.

Manusia yang memiliki kualitas sangat baik sangat diperlukan untuk dijadikan para wakil rakyat. Merekalah yang antara lain bertugas merancang dan mengesahkan peraturan perundangan. Peraturan yang akan mengikat tata kehidupan rakyat dan negara.

Siapa pun yang dua rakaat sebelum subuhnya hebat, insyaAllah tidak akan pernah: memanipulasi jabatan, korupsi, nepotisme, kolusi dan yang lain.
Salat harus dijadikan indikator penting dalam memilih personil penegak hukum.

Mereka tidak boleh terpengaruh oleh sebesar apa pun nilai duniawi. Terutama di dalam memberikan keputusan yang adil. Semoga kita mampu menjadikan setiap diri kita sebagai manusia-manusia yang sangat berkualitas baik. Ini antara lain bisa diupayakan melalui istiqamah mengamalkan dua rakaat sunnah sebelum salat subuh!

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan menjadi penasihat beberapa masjid di Surabaya.

Artikel ini adalah tulisan pembaca detik.com. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab pengirim. (Terimakasih – Red)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Ada Khutbah dan Dakwah, Ini Perbedaannya Menurut Syariat Islam


Jakarta

Timbul pertanyaan mengenai perbedaan khutbah dan dakwah menurut syariat Islam. Padahal dakwah sebagai syiar adalah perintah Rasulullah SAW untuk menyebarkan agama Islam. Jika kita tidak bisa menjadi penceramah, kita dapat berdakwah dengan menunjukkan nilai-nilai islami yang baik.

Perintah untuk berdakwah disampaikan oleh Allah SWT langsung melalui firmannya surah Al-Nahl ayat 125:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ


Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Mengutip buku Ketika Notaris Berdakwah karya H.R. Daeng Naja dijelaskan bahwa ayat di atas memerintahkan kepada umat Islam untuk berdakwah, dalam kaidah usul fikih maka dakwah merupakan kewajiban yang bersifat umum.

Pengertian Khutbah

Arif Yosodipuro dalam buku Buku Pintar Khatib dan Khutbah Jumat menjelaskan pengertian khutbah berasal dari bahasa Arab yang akar katanya sama seperti khatib, yakni khatab, yakhtubu, dan khutbatan. Maka Khutbatan dalam bahasa Indonesia artinya ceramah atau pidato.

Bersama khutbah ada khatib yang artinya orang yang melakukan khutbah, orang berkhutbah dengan menyampaikan pesan-pesan Islami kepada umat Islam.

Khutbah memiliki urutannya, bila salah satunya terlewat atau tidak diamalkan, maka khutbah dinyatakan tidak sempurna. Berikut ini rukun khutbahnya:

· Hamdalah

· Syahadat

· Shalawat

· Berwasiat

· Membaca Al-Qur’an

· Berdoa untuk jemaah

Pengertian Dakwah

Rahmat Ramdhani dalam buku Pengantar Ilmu Dakwah menjelaskan pengertian dakwah secara bahasa dan etimologis.

Dalam bahasa Al-Qur’an dakwah berasal dari kata Daaa (Yaduu )بدعو (Da’watan )دعوة (. Secara bahasa/etimologis kata dakwah berarti menyeru, memanggil, mengundang, mengajak, mendorong, dan memohon.

Secara etimologis dakwah merupakan usaha menyampaikan sesuatu kepada orang lain (baik perorangan atau kelompok) mengenai agama Islam.

Sementara itu, mengutip buku Ilmu Dakwah Suatu Pengantar karya Daniel Rusyad disebutkan dakwah memiliki nama lainnya dalam Al-Qur’an, diantaranya, yaitu:

Tabligh

Berarti menyampaikan, disabdakan oleh Rasulullah SAW, “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)

Nabi di dalam Khutbatul Wada’, “Fal-yuballighis syaahid al ghaaiba, rubba muballigin aw’a min saami’in” (hendaknya mereka yang hadir menyampaikan pesan ini kepada yang tidak hadir, betapa banyak orang yang menyampaikan (muballigh) itu menjadi lebih memahami dari mereka yang hanya mendengarkan).

Tadzkir

“Insan” dan “Manusia” mempunyai akar kata yang sama dengan “Nisyan”, keduanya berasal dari kata fiil tsulatsi “nasiya-yansa” berarti lupa. Maka wajar bila manusia memiliki sifat pelupa.

Untuk itu tadzkir yang berarti mengingatkan. Oleh karena itu, jika tabligh berhubungan kepada yang belum mengenal Islam, maka tadzkir ditujukan kepada mereka yang lupa pesan dari dakwah yang pernah sampai kepadanya.

Nasihat

Nushulul insan lil insan bil bayaan, artinya seseorang menasihati orang lain dengan lisannya, maka penasihat itu harus memberikan nasihat, motivasi, atau dorongan kepada jiwa maupun psikisnya. Nasihat memiliki posisi yang mulia di dalam Islam.

Diriwayatkan Imam Muslim dari Tamim bin Aus ad Dariy berkata, bahwa Nabi bersabda, “Ad dien an nashihah (agama adalah nasihat), Ad dien an nashihah, Ad dien an nashihah” (beliau ucapkan tiga kali). Kami berkata, “Bagi siapa ya Rasulullah?” Nabi bersabda, “Bagi Allah, kitab-kitab-Nya, rasul-Nya, bagi para pemimpin umat Islam dan rakyatnya.”

Dikatakan pula bahwa bai’at para sahabat kepada Nabi didasari perintah untuk saling menasihati. Diriwayatkan Imam Bukhari dari Jarir bin Abdullah berkata, “Saya telah membaiat Nabi di atas (perintah untuk) mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan nasihat untuk setiap muslim”.

Irsyad

Irsyad berasal dari kata “Arsyada-Yursyidu” artinya adalah petunjuk. Irsyad juga bermakna hidayah, berarti memberikan petunjuk kepada orang yang tersesat, atau jalan hidayah baginya.

Hasil dari irsyad adalah pola pikir, sikap, perilaku, dan mental yang sesuai dengan ajaran luhur agama Islam.

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Secara etimologis dua kata di atas berarti menyuruh pada perkara ma’ruf dan melarang perkara munkar.

Ma’ruf berarti diketahui kebaikan dan keunggulannya, atau sesuatu yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk dikerjakan, sedangkan munkar tidak diketahui manfaat dan faedah yang terkandung di dalamnya.

Sebagian ulama berpendapat amar ma’ruf nahi munkar ditunjukan untuk semua umat Islam yang sama-sama memahami perkara ma’ruf dan munkar.

Selain itu, Rahmat Ramdhani dalam buku Pengantar Ilmu Dakwah menjelaskan bahwa Khutbah yang pelakunya disebut khatib artinya berpidato. Merupakan dakwah/tabligh yang disampaikan secara lisan pada upacara keagamaan seperti Khutbah Jumat.

Perbedaan Khutbah dan Dakwah

Berdasarkan penjelasan di atas, khutbah adalah ceramah atau pidato yang memiliki urutan tertentu dan disampaikan dalam acara keagamaan pada waktu yang telah ditetapkan. Sementara itu, dakwah merujuk pada aktivitas menyeru, memanggil, mengundang, mengajak, mendorong, dan memohon yang dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Maka dapat disimpulkan, bahwa lingkup dakwah sangat luas, bahkan khutbah termasuk ke dalam dakwah, dan dakwah tidak hanya menyampaikan kebenaran Islam melalui lisan, bisa juga dengan berbuat kebaikan, dan menjauhi larangannya.

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Penghulu Hari, Jumat Bersama Al Kahf



Jakarta

Hari Jumat dikenal sebagai penghulu, pimpinan dari seluruh hari. Dalam Bahasa Arab disebut sayyidul ayyam. Pada hari itu Muslimin dianjurkan membaca suratul Kahf. Waktunya mulai tenggelam matahari di Kamis sore, sampai matahari tenggelam di Jumat sore.

Petunjuk datang dari Rasulullah saw. tentang amalan ini: “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Shohihul Jami’.

Cahaya adalah nur dalam bahasa Arab. Nur, dalam Bahasa Arab bisa berarti; ilmu, petunjuk. Nur, melambangkan orang yang beriman. Mengapa, karena orang-orang yang beriman sesuai rukun iman yang enam itulah orang-orang yang memperoleh petunjuk. Orang beriman mampu membedakan mana yang benar, mana yang keliru. Mana arah menuju kebahgaiaan sejati, mana arah jalan menuju selamat, mana yang sebaliknya. Sulit bagi siapa pun untuk membedakan mana yang benar dan mana yang keliru jika tidak ada cahaya. Jangankan benar dan salah, bahkan apakah ini pisau atau kah ini penggaris sulit atau tidak mungkin dibedakan dalam suasana gelap tampa cahaya.


Bagi siapa pun Muslim sesuai al Hadits di atas yang membaca surat al Kahf maka baginya cahaya ini di antara dua Jumat. Sepanjang antara dua Jumat itu dia senantiasa diterangi ‘cahaya’ yang membuatnya tahu mana yang benar dan mana yang keliru. Pengetahuan mana arah yang benar itu juga merupakan hudan petunjuk.

Pengetahuan tersebut mestinya mampu mengarahkannya untuk memilih dan menempuh jalan yang benar. Dengan demikian maka nur yang dimaksud bisa berarti siapa pun Muslim yang membaca al Kahf pada hari Jumat, senantiasa diarahkan untuk menempuh jalan benar. Senantiasa berada dalam petunjuk Tuhan, senantiasa terpelihara dari keliru.

Orang yang senantiasa berada dalam petunjuk Allah, selalu terhindar dari keliru, ialah orang yang senantiasa tenang, damai, adem. Tidak ada stres, minimal radikal bebas. Kalau dalam konsep medis, dia dalam kondisi ketahanan tubuh yang optimal. Status imunitasnya optimal. Dia memiliki kondisi kesehatan yang optimal. Tidak mudah sakit, indurance nya optimal, maka dia tidak mudah lelah dalam beraktifitas. Karena tidak ada stres berarti dia selalu senang, gembira, dia selalu bersyukur. Kesenangan yang menambah kesenangan berikutnya. Lain syakartum la-aziidannakum (QS 14:7).

Tepat sesuai makna ini dengan kalimat di pembuka surat ini, Alhamdulillaah.Tentu saja, pencapaian kondisi optimal ini bertingkat, bergantung kepada tingkat keimanan, tingkat keshalihan, tingkat pemahaman dan aplikasi dari makna tersurat dan tersirat dalam alKahf.

Sekelumit alKahf

AlKahf dimulai dengan kalimat syukur, bahagia, senang, gembira, hati berbunga-bunga. Sebagaimana orang yang mengalami bahagia ketika sukses. Baik dalam karir, studi, menikahi pasangan yang diimpikan, tiba-tiba memperoleh rizki berlimpah, selamat dari mushibah yang dahsyat, dst.

Alamat kebahagiaan itu dituturkan oleh surtat alKahf setidaknya dalam beberapa urutan. Ialah mereka yang mengingatkan orang lain untuk bertauhid, lalu menempuh jalan benar melalui amal-amal shaleh yang didasarkan iman kepada Allah, sesuai rukum iman yang enam.

Dalam upaya optimal untuk mengajak, mengingatkan dirinya dan orang lain menuju jalan terang, jalan petunjuk, jalan cahaya itu tidak sampai menjatuhkan dirinya kepada kebinasaan. Oleh karena terlalu memaksakan diri, ketika yang diingatkan belum menerima peringatan itu. Ada contoh dalam surat ini kisah hadirnya 7 orang pemuda putra-putra penguasa di jamannya. Para mereka melarikan diri dari kedudukan, harta, kemewahan dan seluruh fasilitas kerajaan, demi mempertahankan iman, keyakinan tauhid mereka kepada Tuhan Yang Ahad.

Selanjutnya surat ini menghadirkan contoh dua orang yang berteman, satu memiliki kekayaan yang melimpah, memiliki optimisme sangat tinggi, hanya saja kekayaan dan optimismenya itu disandarkan kepada selain Tuhan. Dia binasa. Sesuai petunjuk dalam surat ini, hendaknya siapa pun wajib me-wakilkan [tawakkal] seluruh daya upayanya termasuk seluruh kekayaan dan anak buah yang diduga mampu menolongnya, memberinya perlindungan, kesejahteraan dan sebagainya itu hanya kepada Tuhan yang Ahad. Inilah jalan nur, terang itu.

Terhadap apa pun selain Tuhan, tidak pantas bagi siapa pun untuk bisa merasa kekal, kuat dengannya. Bahkan, di penghujung hari, yaumul akhir, semua tak mampu memberikan manfaat kecuali hanya dan hanya manfaat yang diizinkanNya itu.

Terhadap kepemilikan ilmu, hendaknya siapa pun jangan pernah merasa paling bisa, walau dia seorang Nabi, Rasul utusan Allah. Bahkan walau pun dia memiliki kedudukan yang paling tinggi ketika itu, di antara Rasul yang ada. Karena, bukankah apa pun yang ada pada seorang hamba itu semata-mata hak mutlak Tuhannya?

Surat ini mengisahkan bagaimana Nabi Musa as. ditegur Tuhan atas sikapnya. Sesuai kaidah umum memang tidak keliru. Namun dari sisi tauhid apalagi kedudukannya sebagai Rasul yang mulia Nabi Musa as. ditegur Tuhan. Allah swt Maha Kuasa untuk menganugerahkan ilmu kepada siapa saja sesuai kehendakNya. Dalam pada itu, surat ini juga mengindikasikan petunjuk, agar siapa pun di dalam menuntut ilmu tidak mengenal putus asa. Bersungguh-sungguh, bahkan sampai kapan pun.

Dalam pada itu, di balik ilmu ada hikmah. Ilmu bisa dicari melalui upaya belajar yang terus menerus. Di samping pula ada ilmu yg langsung dikaruniakan Allah kepada hamba yg dikehendakiNya [Khaidir]. Ilmu fisik masa sekarang, dzahir ada pada nabi Musa as. dengan segala kejeniusannya. Ilmu yang langsung dari Allah [ladunni] sebagaimana yg dititipkan kpd Khaidir as.

Logika fisik belum merupakan kebenaran mutlak. Logika fisik dan non fisik yg di dalam ilmu Allah itulah kebenaran hakiki.
Musa sempat kaget mengapa Khaidir melobangi kapal yg mestinya akan mengantar para penumpangnya selamat sampai ke seberang. Akan tetapi Musa as. tidak dikaruniai ilmu masa depan, di mana di tengah laut ada perampok yg ‘pasti’ merompak kapal-kapal yang baik yg tidak bocor. Musa terheran. Khaidir membunuh anak laki di bawah umur yang pasti belum berdosa. Yang ternyata kalau tidak dibunuh akan mengajak kedua orang tuanya yang mukmin ke jurang neraka. Pasti pada awalnya Musa as. heran mengapa guru yang ditunjuk Gusti Allah untuk dia belajar kepadanya seorang yang ‘dzalim’. Tentu saja ketika Musa as. belum paham. Setelah Khaidir menjelaskan hikmah ilmu, Musa pun terpana diam. Terakhir Khaidir membangun rumah yang akan roboh padahal penduduk kampung di situ bakhilnya luar biasa.

Di kemudian Musa as. paham bahwa rumah itu adalah rumah anak yatim keturunan ke-7 dari datuk dan ninik orang yang shaleh. Gusti Allah membangunkan kembali rumah itu melalui tangan-tangan suci Nabi dan rasulNya. Ialah Nabi Musa dan Kaidir as. Luar biasa Maha Pemurah Ar Rahman yang menghormati orang-orang yang shaleh sampai kepada keturunan yang ke-7 sekalipun. Apalagi keturunan Rasulullah yang Habib atau Sayyid, Syarifah atau Sayyidah, sangatlah wajar dihormati dan dimuliakan. Budaya sebagian suku di Indonesia juga sangat menghormati keturunan ulama. Rupanya ayat alKahf ini yang menjadi dasarnya.
Senang bila kita bisa menjadikan diri kita mukmin beneran, shaleh beneran, sehingga keturunannya dijaga Gusti Allah swt.

Dari sini Musa as. belajar tentang sabar, karena semuanya belum tentu selesai saat itu. Kita yang membaca kisah ini pun dibimbing untuk sabar. Sabar akan hikmah seluruh keputusanNya. Oh ternyata, perahu ‘dibocorin’ supaya selamat dari rampok. Loh ternyata putra yang masih di bawah umur di-pundut untuk diganti dengan putra-putra yang lebih baik, mengajak orang tuanya menuju kebahagiaan hakiki.

Sedangkan yang berpotensi durhaka di-pundut Gusti Allah sebelum berdosa. Itu antara lain karena Bapak-Ibu anak tadi orang-orang Mukmin. Subhanallah, demikian karunia rahmatNya di luar kuasa nalar manusia, bahkan sekaliber Musa as. Lalu, jika mukmin dan shalihinnya sungguh-sungguh, tidak cukup keturunan pertamanya, sampai keturunan ketujuh pun, atau sampai sekarang pun kalau itu keturunan Nabiy, dijaga Gusti Allah swt.
Mari kita lanjutkan…

Sekarang surat menggambarkan raja yang ‘super kuasa’ tak ada tanding. Mampu menempuh lingkar bumi, menguasai bahasa lisan mau pun bahasa isyarat. Kekuatannya sangat terkenal, di balik itu adilnya sungguh mengagumkan. Hanya menghukum yang pasti bersalah. Untuk orang-orang yang benar, yang sungguh-sungguh beriman malah difasilitasi. Luar biasa. Pantang menerima upeti, tauhidnya mengalahkan tauhidnya manusia seluruh alam. Walau dia bukan Nabiy. Dialah Dzulqarnain itu.

Akhir ayat mengingatkan siapa pun yang enggan menekuni jalan iman, mereka yang malah beragama sesuai nafsu, tidak juga menggunakan akal. Bahwa kehidupan mereka pasti sengsara. Amal-amal mereka sama sekali tidak diperhitungkan. Walau mereka dulunya mengira melalui angan-angan rekayasa logikanya, mereka paling benar.

Surat ini ditutup dengan tuntunan singkat bagaimana orang beriman mampu berjumpa Tuhan. Ya bahkan di kehidupan dunia ini. Syaratnya sangat ringan. Kerjakan, apa pun bentuk amal-amal shalehnya. Syarat utamanya jangan pernah ditujukan untuk/demi selain Tuhan. Baik ditujukan untuk kebanggaan diri, pamer, dan segala tujuan yang bukan memenuhi bimbingan Tuhan yang Ahad.

Terakhir, dua kalimat InsyaAllah muncul dalam surat ini. Kata ini sepertinya ringan. Bahkan sebagian Muslim menganggapnya sebagai perisai untuk menghindar diri dari berkata tidak bisa atau berhalangan hadir.

Sengaja peringatan ini disampaikan di bagian akhir uraian sangat minim ini. Sebagiannya untuk menekankan bahwa, InsyaAllah adalah kalimat tauhid. Artinya siapa oun yang benar tauhidnya pasti tidak mungkin berkata akan melakukan sesuatu di waktu berikutnya, kecuali bilang InsyaAllah. Ini benar secara tauhid, terlebih ketika uncertainty principle yg dimunculkan tokoh Fisikawan German, Werner Heisenberg malah menguatkan makna InsyaAllah itu. Dia menggunakan mekanika kuantum untuk sampai kepada prinsip ketidakpastian itu, yg mengantarkannya meraih Nobel Fisika.

Setiap kita pantas menerima nur itu, cahaya Jumat melalui bacaan alKahf itu. Semoga setiap kita suka!

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Faqr



Jakarta

Mari kita simak Maulana Rumi bersyair:

Kefakiran adalah esensi, semua yang selainnya adalah penampilan
Kefakiran adalah obat, semua yang selainnya adalah penyakit
Seluruh semesta adalah sia-sia dan fatamorgana penipu
Kefakiran adalah akam rahasia dan tujuan utama

Pada esensinya seorang manusia itu lemah, fakir dan selalu membutuhkan Allah SWT. karena setiap detik dalam nafasnya selalu ada takdir-Nya. Semua kebutuhannya tidaklah mungkin terpenuhi jika tiada pemberian-Nya. Allah SWT. berfirman dalam surah Fathir ayat 15 yang berbunyi, ” Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji. Hanya Allah Tuhan yang patut disembah.”


Ayat di atas menunjukkan kebesaran Sang Pencipta dan rendahnya manusia yang selalu membutuhkan-Nya. Sebenarnya eksistensi manusia menjadi ” ada ” dikarenakan limpahan wujud Illahi. Oleh karena itu tiadalah pantas seseorang yang selalu menampilkan sikap sombong, merasa dirinya lebih dari yang lain sehingga memandang rendah para relasinya.

Kata Faqr berarti melarat, tidak ada daya untuk memiliki apa yang menjadi kebutuhannya. Para sufi mengartikan faqr sebagai mengosongkan hati ( takhalli ), ini merupakan kesadaran atas kebutuhan kepada Allah SWT. semata. Oleh karena itu para sufi ( mereka ) tidak perlu menunjukkan kefakiran mereka pada manusia. Jadi faqr menurut sufi tidaklah sama dengan yang pengertian orang kebanyakan yaitu berarti ” kekurangan.” Kefakiran dan kebutuhan manusia tidaklah menjadi sebab kehinaan dirinya. Kedua hal ini justru menjadi jalannya bagi kemuliaan sesuai dengan kesadaran tentang kefakiran. Ingatlah bahwa kebutuhan dan kefakiran kepada Allah SWT. merupakan bentuk kekayaan yang mutlak dan itulah yang dinamakan kekayaan sejati. Bukan mengumpulkan sebanyak-banyaknya kekayaan harta dan dengan bangganya mengatakan itu adalah hasil upayanya. Upaya adalah sebab, namun jika Sang Kuasa tidak berkenan memberinya maka upaya itu tidak seperti yang diinginkan.

Manusia ditinjau dari ukuran fisik dan kekuatan lahiriah, manusia adalah makhluk yang kecil dan lemah. Namun hal yang tidak bisa diingkari dari potensi internal bahwa manusia adalah makhluk pilihan. Jika kita amati tubuh manusia adalah mempunyai kelengkapan yang mumpuni, khususnya diberikan nafsu dan akal. Keunggulan manusia disampaikan oleh seorang penyair dengan bersenandung :

” Obatmu ada dalam dirimu, tetapi kau tidak melihatnya
Penyakitmu ada dalam dirimu, tetapi kau tidak menyadarinya
Kau sangka dirimu materi yang mungil
Padahal di dalam dirimu terangkum alam yang besar.”

Gambaran ini telah menunjukkan kelebihan manusia dibanding makhluk lainnya. Hasrat muncul jika dilandasi nafsu, maka ia akan bersahabat dengan pembisik diri yang disebut setan, namun jika hasrat telah melebur dari jiwa yang bersih menuju pada-Nya maka ia berada di sisi-Nya. Upaya menuju pada-Nya bukanlah hal mudah, hal ini terbukti banyaknya manusia yang berhasrat pada kedudukan dunia, kekayaan dan melampiaskan nafsu syahwatnya. Kekhawatiran selalu menjadi alasan seseorang untuk melakukan perbuatan yang dianggap ” pengaman ” karena ia sadar dan menganggap kekuasaan itu segalanya. Wahai orang yang berambisi, ingatlah bahwa kekuasaan sejati ada di tangan-Nya dan janganlah engkau berpaling, mohonlah bimbingan agar tidak sesat jalan.

Sebaik-baik pelindung adalah Allah SWT. tidaklah pantas seseorang minta perlindungan selain-Nya. Setiap manusia dapat memuja dan memuji, berdo’a dan memohon kepada-Nya tanpa memerlukan mediator. Bukan datang pada dukun, orang pintar dan sebagainya. Ingatlah bahwa salah satu kemuliaan dan merupakan derajat yang tinggi bagi manusia disisi-Nya. Mari kita simak firman-Nya pada surah al-Baqarah ayat 186 yang berbunyi, ” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka ( jawablah ), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi ( segala perintah )-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Kefakiran terhadap Yang Kuasa adalah jalan menuju-Nya. Memohon pada-Nya adalah perintah-Nya, karena rahmat Allah SWT. terbuka seluas-luasnya bagi manusia sehingga setiap saat dapat menerima anugerah-Nya tanpa batas. Sikap fakir telah dicontohkan para sahabat Rasulullah SAW. seperti Abdurrahman ibn Auf. Dia tidak pernah menjadi budak kekayaannya, justru hartanya digunakan untuk di jalan-Nya. Pernah saat tertentu dia membawah kafilah beriringan sejumlah 700 kendaraan dengan muatan penuh, semua itu diserahkan dan dibagikan penduduk Madinah. Saat paceklik juga Ustman ibn Affan juga melakukan hal yang sama. Mereka ini adalah orang-orang yang menjalan perintah-Nya sehingga dunia ( kekayaan ) hanya sampai di tangan tidak sampai masuk ke hati.

Sadarlah bahwa manusia itu makhluk yang lemah, oleh sebab itu sebagai hamba-Nya hendaklah selalu memohon dan butuh pada-Nya. Segala kebutuhannya akan dicukupi sepanjang menjalankan perintah dan beriman pada-Nya. Apa pun posisi seseorang ( jabatan paling tinggi sekalipun di dunia ) tiada pantas untuk bersombong diri, karena kekuasaan yang engkau pegang itu adalah pemberian-Nya. Ingatlah bahwa kekuasaan itu bisa dicabut, dialihkan atas kehendak-Nya. Jika engkau memperoleh amanah kekuasaan, janganlah zalim namun pergunakan untuk menyebarkan manfaat bagi sesama.

Semoga Allah SWT. memberikan petunjuk-Nya, agar kita semua menyadari sepenuhnya bahwa kita membutuhkan-Nya, bukan pada selain-Nya, Aamiin.

Aunur Rofiq
Ketua DPP PPP periode 2020-2025
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Menjemput Paket Diamond Amal Shalihat



Jakarta

Paket diamond amal shalih

10 hari awal Zulhijjah adalah paket diamond. Bagaimana tidak, hari-hari awal Zulhijjah ini amal-amal shalih hanya bisa dikalahkan dengan amalan seorang yang keluar dari rumahnya untuk berjihad di jalan Allah. Ia lengkap membawa fisik dan seluruh hartanya, lalu dia tidak kembali, syahid dalam jihadnya.

Secara etimologis, kata shalih berasal dari bahasa Arab, shāliḥ (jamak shāliḥāt) yang berarti terhindar dari kerusakan atau keburukan. Amal shalih berarti amal/perbuatan yang tidak merusak. Maka orang saleh berarti orang yang terhindar dari perbuatan yang merugikan atau membahayakan.


Pastilah yang dimaksud amal shalih adalah yang menyeluruh. Shalih di qalbu, di pikiran dan di aktifitas fisik. Sesuai dengan definisi di atas maka amal shalih itu banyak ragamnya. Mulai dari menyingkirkan duri di jalan, memindah sampah yang terlanjur ada ke tempat sampah. Termasuk memberi salam dan menyapa orang dengan senyum. Bahkan sekadar menghindar dari makanan yang bisa menghadirkan sakit, termasuk amal shalih.

Itu beberapa contoh kecil amal-amal shalih. Yang termasuk besar adalah: shalat, puasa, zakat, haji, berbakti kepada orang tua, baca alQuran, infaq, shadaqah dll.

Pendek kata setiap amal yang mengantar bertambahnya kebaikan, manfaat positif adalah amal-amal shalih.

Amal halus yang merusak

Masyhur kisah seorang alim yang yang sedang menunggu pemakaman seseorang. Di tempat yang ramai itu tampak kepadanya seorang yang membawa nampan di kepalanya, meminta-minta. Ketika itu muncul bisikan di hati orang alim itu, “Andai orang itu bekerja kan tidak perlu meminta-minta”.

Sekembalinya dari pemakaman, tidak ada satu pun yang dirasakannya aneh. Tapi pada malam harinya, pada waktu dia secara istiqamah menunaikan ibadah malam, baru timbul masalah. Ia yang selama berpuluh tahun terbiasa mengerjakan shalat malam, tiba-tiba malam itu ada suatu yang aneh. Mata yang biasanya langsung sigap mengambil wudlu, terasa sangat berat. Tubuhnya pun tidak mudah bergeser ke tempat wudlu. Ia terpaksa kembali menidurkan badannya.

Pada saat mulai tertidur lagi itu, dia bermimpi tentang seorang yang di-ghibahnya (dalam bisikan hatinya) tadi siang.
Orang itu didatangkan kepadanya sedang duduk di atas nampan. Yang membawa orang tersebut lalu berujar bernada membentak, “Ini makan, kamu telah meng-ghibahnya tadi siang”!

Sontak orang alim tersebut terbangun dari tidurnya sambil ketakutan yang luar biasa. Ketakutan kepada Tuhannya. Seketika itu dia memohon, menghiba ampunan Tuhannya.

Keesokan harinya dia berusaha menemui orang yang telah di-ghibahnya itu. Dia berusaha mencarinya di seluruh detail kota. Dia ingin meminta maaf.

Hari pertama belum berhasil. baru pada hari kedua dia mencari, ditemukannya orang yang dicarinya sedang mengambil daun-daun kering di tanah di sekitaran sungai. Daun-daun itu dimakannya.

Tanpa menoleh ke arah orang alim itu, si orang tadi berujar lantang, “Apakah kamu ingin mengulang perbuatanmu (ghibah)? Sudah dimaafkan,” katanya sambil terus memunguti daun-daun kering di sekitaran sungai itu. Kisah ini disadur dari buku masyhur karya Imam Ibnu Atha’illah al Askandariy, al Hikam.

Kisah ini pasti tidak akan ditemui dengan mudah, kecuali bagi orang yang benar-benar dijaga Allah agar terhindar dari perbuatan keliru. Walau kekeliruan yang dirasa hanya terbesit dalam hati. Dan itu pun tidak disengaja. Ini sekedar contoh amal bukan shalih yang boleh jadi dianggap remeh!

Mari beramal shalihat

Amal merusak yang besar-besar sudah sangat terkenal: syirik –menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, membunuh, berzina, mencuri, berkata dusta, bersaksi palsu, dan lainnya.

Berbuat shalih di hari-hari 10 awal Zulhijjah adalah mengerjakan amal-amal yang tergolong ke dalam kelompok amal-amal shalih. Berbuat shalih juga termasuk
menghindar dari amal yang merusak, kelompok yang kedua. Kedua kelompok amal itu, dikerjakan atau dihindarkan, harus diupayakan secara fisik, pikiran, termasuk qalbu.

Betapa pun, mengerjakan amal-amal shalih, sederhana atau pun besar, menghindar dari yang merusak, kecil apalagi yang besar, merupakan anjuran untuk menjemput paket diamond amal shalihat di 10 hari awal Zulhijjah ini. Mari kita berpacu!

Semoga Gusti Allah meridloi setiap kita, aamiin!

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Kepakaran Melesat Saat Amal Shalihat Berlipat



Jakarta

Produksi terhambat, pabrik ngadat. Mengapa? Karena pusat operasional kendali otomatis, komputernya harus dirawat.

Sayangnya pakar komputer yang sangat ahli di bidangnya telah istirahat. Usianya sudah meningkat.

Perusahaan berusaha melepas masalah dengan mendatangkan ahli komputer yang masih aktif. Satu, dua, tiga, empat bahkan sampai lima orang.
Pabrik ngadat sampai dua pekan. Persoalan di sistem komputer belum teratasi. Maklum, ini terjadi pada masa komputer seukuran kamar tidur. Beda dengan sekarang yang sudah seukuran genggaman tangan. Kasus menimpa salah satu perusahaan di sebuah negara terkenal di Eropa sana.


Lama tidak menghasilkan solusi, pihak perusahaan berusaha menghubungi pakar yang sudah retired. Problemnya, jika seorang sudah retired di negara tersebut, ada peraturan yang tidak membolehkannya sibuk lagi dengan pekerjaan yang harusnya sudah bisa ditangani oleh pakar pengganti. Yaitu generasi berikutnya.

Demi keadaan yang sudah sulit diatasi, ditambah produksi macet selama itu, dua pekan. Jumlah kerugian yang tidak kecil yang harus ditanggung oleh perusahaan.

Belum lagi para pekerja yang semestinya aktif bekerja, selama komputer pengendali ngadat, mereka menjadi terlantar. Padahal etos kerja di negara tersebut terbilang sangat tinggi.

Sambil memohon penuh harap, menyertakan alasan yang sudah diupayakan, perusahaan mencoba menghubungi pakar itu.
Sesampainya pakar tersebut di perusahaan, dia masuk ke ruang kendali. Setelah memperhatikan sekeliling, menganalisis secara singkat, tiba-tiba dia meminta disediakan obeng.

Seketika obeng diberikan, dengan cekatan tangan ahlinya menancap ke salah satu onderdil yang menempel pada sirkuit komputer.

Tampak tangannya memutar ke arah kanan, tiba-tiba saja komputer menyala dan operasional perusahaan lancar.
Demi menyaksikan peristiwa sekejap yang segera menghapus masalah itu, lima ahli komputer yang dari tadi mengamati terbelalak hampir tak percaya, terhadap apa yang dilihatnya. Keringat menetes tampa diundang. Boleh jadi masing-masing mereka bergumam, “Kalau tahu cuma begitu, mengapa tidak kulakukan dari kemarin-kemarin?”

Boleh jadi kisah nyata ini menjadikan jelas perbedaan antara sekedar ahli dengan pakar sesungguhnya.
Pakar yang super bisa bekerja cepat, hemat, tangkas, jeli dan sangat cermat.
Di dalam bahasa Al Quran, kepakaran yang super ini boleh jadi bisa mewakili konsep ulul albab ( QS al-Imran 3:190).

Pasti terhujam di setiap benak kita bahwa tingkat kepakaran seperti ini tidak mudah digapai. Selain memerlukan tingkat kecerdasan yang memukau, masih diperlukan ketekunan yang tinggi. Selain itu, tingkat kepakaran yang super ini tentulah memerlukan ketekunan belajar, kesungguhan bekerja dalam bidangnya serta berbagai keseriusan yang lain. Perlu pengalaman panjang.

Bisakah itu semua digapai setiap orang?
Saya ragu menjawabnya iya?

Namun, di sisi lain Al Quran menyematkan jalur cepat mampu menjadi pakar yang luar biasa itu.
Petunjuk sederhana Al Quran adalah, sengajakan dirimu senantiasa dzikrullah. Ya, dalam segala keadaan. Baik saat duduk, berdiri, berbaring. Pendek kata dalam setiap keadaan. Kalau kalimat dzikir merujuk kepada riwayat mutawatir yang dikenal Muslimin hampir di seluruh dunia. Mereka antara lain adalah: subhaanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa ilaaha illaa Allah, laa hawla wa laa quwwata illaa billah.

Cara menggapai tingkat kepakaran yang super itu, sesuai konsep Al Quran, diterangkan pada (QS al-Imran 3:190-192). “Inna fii khalqissamaawaati wal ardli wakhtilaafil layli wan nahaari la-aayaatil li-ulil albaab. Alladziina yadzkuruunallaaha qiyaaman wa qu’uudan wa ‘alaa junuubikum wa yatafakkaruuna fii khalqissamaawaati wal ardl, Rabbanaa maa khalaqta hadzaa baathila, subhaanaka faqinaa ‘adzaabannaar”.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

10 hari awal bulan Zulhijjah merupakan hari-hari yang sangat istimewa. Keutamaannya tak ada yang bisa melampaui. Kecuali orang yang mampu keluar berjihad di jalan Allah dengan fisiknya dan seluruh hartanya, lalu orang tersebut tidak kembali. Artinya mati syahid.

Bisa dibayangkan jika setiap kita menguatkan hati untuk tekun berdzikir pada hari-hari awal Zulhijjah ini. Bukankah ini menjadi bagian jalan agar setiap kita mampu melesatkan tingkat kepakaran dalam tempo sesingkat-singkatnya. Ialah, melakukan amal shalihat pada saat nilai amal sangat berlipat. Mari semua kita berusaha senantiasa dzikrullah sambil terus menjaga agar setiap amaliyah kita selalu shalihat!

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Selalu Alhamdulillah, Bahagia Tak Pernah Resah



Jakarta

Tak satu pun rakaat shalat yang lepas dari wajib membaca alFatihah. Surat pembuka dalam mushaf alQuran yang terkenal dengan alhamdulillah-nya.

Dalam sehari, minimal seorang Muslim membaca alhamdulillah 17 kali di dalam seluruh rakaat shalat. Dua shubuh, empat dluhur, empat ashar, tiga maghrib dan empat isya.

Di pagi membuka siang, di siang tengah hari, sore menjelang malam, di permulaan malam serta menjelang larut semuanya selalu alhamdulillah. Tak ada celah waktu tanpa alhamdulillah.


Alhamdulillah adalah kalimat puja dan puji hanya kepada Allah saja. Kata-kata adalah doa. Doa alhamdulillah adalah doa agar si pendoa selalu memuji, tidak pernah mencela, tidak pernah memaki.

Memuji berarti mengagumi. Kagum dalam kalimat alhamdulillah adalah kagum yang tanpa batas. Kekaguman yang tidak mampu dilogika. Kekaguman atas Dzat yang Maha terpuji. Sampai-sampai pujian itu dikembalikan kepada Allah atas puji yang pantas bagiNya. “Rabbanaa Lakal hamdu kamaa yambaghii li jalaali wajhikal kariim wa ‘adziimi shulthaanik.”

Rabb kami, bagiMu segala puji sebagaimana selayaknya, bagi kemuliaan wajahMu dan keagungan kekuasaanMu.

Kekaguman yang dahsyat sehingga membuat seorang yang mengagumi tidak sempat lagi terbesit padanya cela. Orang yang selalu mengucap alhamdulillah, sulit baginya mencela, sulit baginya kecewa, keluh kesah dan segala apa pun yang membuat hati kurang berkenan.

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal, Maha terpuji Allah atas hal apa saja, tak ada kecuali.

Pantas diduga orang yang selalu berucap alhamdulillah dirinya selalu merasa senang.

Memang, sebagian makna alhamdulillah adalah senang. Dia bermakna bahagia, syukur dan terimakasih. Di mana saja orang yang penuh terimakasih, selalu happy.

Rasa terimakasih kepada Allah biasanya diungkap dalam bentuk syukuran. Bisa syukuran pernikahan, syukuran kenaikan jabatan, syukuran kelahiran, syukuran kesuksesan dalam hal apa saja, isinya pastilah ucapan terimakasih.

Setelah itu ungkapan syukur diteruskan dengan ucapan permohonan maaf karena yang disyukuri belum setimbang dengan nikmat yang diterima. Babak selanjutnya pada acara syukuran adalah pemberian bingkisan, makanan, minuman dan tanda syukur yang antara lain bisa berupa hadiah atau cendera mata.

Intinya orang yang dalam keadaan bersyukur identik dengan kewajaran dalam memberi.
Kalau begitu orang yang senantiasa mengucap alhamdulillah, dialah yang senantiasa memuji, tak pernah mencela, selalu
bersyukur tak pernah kecewa, senantiasa bahagia, selalu senang, senyum, selalu berterimakasih, dan selalu memberi.

Dalam makna ini kewajiban membaca alhamdulillah seolah mewajibkan setiap pembacanya untuk selalu berperilaku demikian.

Siapa pun yang memuji dengan tulus berarti dia menyukai yang dipuji, membanggakannya, mengagumimnya. Siapa pun yang membaca alhamdulillah seharusnya sadar bahwa dirinya memuji Dzat yang dikaguminya tanpa batas. Dia seolah sedang dimabuk cinta. Orang yang sedang mabuk cinta yang keluar dari lisannya selalu pujian sebagai manifestasi kekaguman bukan?

Dari makna ini membaca alhamdulillah bisa dimaksudkan sebagai pernyataan aku jatuh cinta! Kepada siapa? Kepada Allah!

Bagaimana caranya? Dengan mencintai hamba-hambaNya. Ialah memuji mereka, berterimakasih kepada mereka, memaafkan mereka, dermawan kepada mereka, menyenagi mereka dan pastinya tidak pernah ada rasa ingin menyakiti mereka.

Bila ini yang terjadi barulah bisa diyakini bahwa kalimat alhamdulillah yang terucap dari lisan, sesuai dengan maksud diwajibkannya kalimat itu. Kita diwajibkan selalu bahagia.

Beralih kepada publikasi ilmiah. Tak ditemukan satu pun riset yang membantah bahwa sikap syukur pasti membawa bahagia. Orang yang selalu bersyukur, selalu senang, hampa dari stres. Hampir bersih dari radikal bebas. Dia memiliki status pertahanan tubuh, status imun yang tinggi. Jika sedang sehat dia sulit sakit. Jika pun dia sakit maka mudah baginya sembuh.

Sel-selnya awet, sendinya tak mudah nyeri, tulang-tulangnya tak mudah patah, rambut bertahan bagus tidak mudah rontok. Bahkan pada orang yang selalu bersyukur tak ditemukan aroma tak sedap di tubuhnya.

Orang yang selalu memberi sebagai bawaan dari sikap selalu syukur, selalu memperoleh kemudahan dalam setiap persoalan. Mudah melakukan solusi dari problem yang dihadapi. Serta selalu tersedia baginya sarana dan prasarana dalam menjalani hidup.

Mereka yang selalu syukur, selalu terimakasih, selalu memberi, senantiasa memuji, selalu senang. Tak ditemuinya jalan yang sulit. Yang didapatnya selalu mudah, lancar dan memuaskan hati. Dia selalu dalam keadaan ridlo.

Semoga kita senantiasa berucap alhamdulillah di lisan, terlebih di qalbu, agar kita selalu bahagia, tak pernah resah!

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com