Tag Archives: hikmah

Silaturahmi Jangan Sebatas pada Umat Islam



Jakarta

Ramadan akan memasuki sepuluh hari terakhir. Dalam waktu kurang dari dua minggu, kaum muslimin akan merayakan Idul Fitri atau Lebaran.

Momen itu digunakan untuk saling silaturahmi dan bermaaf-maafan. Tak jarang sebagian masyarakat Islam mengadakan halal bi halal sebagai salah satu cara bersilaturahmi.

Halal bihalal merupakan kata majemuk bahasa Arab dari kata halala yang diapit dengan satu kata penghubung ba (dibaca: bi). Prof Nasaruddin Umar memaknainya sebagai melepas.


Tradisi halal bi halal di Indonesia sudah ada sejak tahun 1945. Dahulu, halal bi halal dimaknai sebagai memaafkan secara nasional dan secara religius.

“Halal bi halal itu kan kita mendatangi rumah orang tua kita, guru-guru kita, salam-salaman,” kata Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum yang tayang Jumat (29/3/2024).

Menurutnya, momentum silaturahmi saat Lebaran itu tidak hanya diperuntukkan bagi sesama muslim. Melainkan juga umat beragama lain.

“Jadi silaturahim itu jangan hanya dibatasi untuk umat beragama Islam saja. Nonmuslim itu juga kita ajak, kayak makan ketupat Lebaran,” jelas Imam Besar Masjid Istiqlal itu.

Selain itu, silaturahmi tidak hanya kepada sesama manusia yang masih hidup, melainkan juga mereka yang telah meninggal dunia. Cara menjalin silaturahmi dengan orang yang sudah wafat bisa dengan menziarahi makamnya dan mengirimkan doa.

Apabila ada rezeki berlebih, Prof Nasaruddin Umar menganjurkan untuk sedekah kepada anak yatim dan meminta mereka mendoakan keluarga yang telah wafat, seperti orang tua. Doa-doa tersebut menjadi salah satu cara untuk silaturahmi.

Tujuan dari diperintahkan menjalankan silaturahmi adalah berkaitan dengan keharusan bagi setiap manusia untuk menjaga hubungan persaudaraan. Manusia diharapkan bisa saling menjaga, menyayangi, menghormati, dan saling menyelamatkan.

Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Silaturahmi Jangan Sebatas pada Umat Islam saksikan DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

(aeb/kri)



Sumber : www.detik.com

Ramadan Jadi Momen Meningkatkan Kecintaan terhadap Allah SWT



Jakarta

Selain disebut sebagai bulan suci, Ramadan juga dikatakan bulan cinta. Pada momen istimewa ini, umat Islam diajak untuk lebih mencintai sesamanya serta Tuhannya, Allah SWT.

Saat berpuasa, tanpa disadari umat Islam menumbuhkan rasa kecintaan terhadap fakir miskin. Sebab, secara tidak langsung kita merasakan bagaimana menjadi mereka dengan berpuasa.

Selain itu, Ramadan juga menjadi momen meningkatkan rasa cinta terhadap Allah SWT. Ketika berpuasa, umat Islam membersihkan diri dengan melakukan taubat dan memperbanyak ibadah.


“Dengan demikian kita menambahkan rasa cinta antar sesama. Di samping itu juga cinta secara vertikal kita dengan Allah SWT,” kata Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom yang tayang Minggu (29/3/2024).

Membayar zakat fitrah juga termasuk ke dalam bentuk rasa cinta terhadap Allah SWT. Begitu pun dengan menyayangi sesama makhluk hidup seperti binatang dan tumbuhan.

“Sayangi binatang, sayangi tumbuh-tumbuhan, sayangi alam semesta. Karena kalau kita mencintai sang pencipta, cintai juga makhluknya,” tambah Prof Nasaruddin.

Ia juga mengimbau agar umat Islam senantiasa selalu melihat ke bawah, bukan sebaliknya. Selalu mendongak ke atas dan melihat mereka yang diberi lebih tak akan ada habisnya.

“Semoga bulan suci Ramadan ini menciptakan rasa cinta, rasa iba terhadap sesama sehingga dengan demikian kalau kita mencintai makhluk Allah SWT, otomatis sang penciptanya juga mencintai kita,” pungkasnya.

detikKultum Nasaruddin Umar dapat ditonton DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Perbanyak Ibadah di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan



Jakarta

Kini, umat Islam telah memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan. Pada momen tersebut, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah.

Dari Aisyah RA, ia berkata:

“Rasulullah sangat bersungguh-sungguh beribadah pada 10 hari terakhir (bulan Ramadan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut.” (HR Muslim)


Berkaitan dengan itu, Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom menyampaikan bahwa sepuluh terakhir Ramadan menjadi inti dari bulan suci. Terlebih, pada sepuluh terakhir Ramadan Allah SWT menurunkan malam Lailatul Qadar bagi umat Nabi SAW.

“Turunnya Lailatul Qadar itu justru kita diminta menanti-nanti pada sepuluh (malam) terakhir Ramadan khususnya itu malam-malam ganjil misalnya 21, 23, 25, 27, 29,” ujarnya dalam detikKultum yang tayang, Senin (1/4/2024).

Malam Lailatul Qadar memiliki keutamaan yang luar biasa yaitu dikatakan lebih baik dari seribu bulan. Keistimewaan itu hanya diberikan kepada umat Rasulullah SAW.

“Kita (umat Rasulullah SAW) pendek-pendek umurnya tapi Lailatul Qadar lebih panjang daripada orang yang hidup 1000 tahun kan (umat nabi terdahulu). Nah inilah kesyukuran kita menghadapi kenyataan hidup menjadi umat Nabi Muhammad,” lanjut Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut.

Meski demikian, jangan sampai ibadah-ibadah yang kita laksanakan justru ditujukan untuk malam Lailatul Qadar. Sebab, Ramadan dan Lailatul Qadar termasuk makhluk Allah SWT.

Sebagai muslim yang taat, hendaknya amalan-amalan tersebut ditujukan kepada Allah SWT. Pastikan ibadah yang kita laksanakan ikhlas semata karena sang Khalik.

“Lakukan semaksimal mungkin ibadah dalam bulan suci Ramadan lillahi ta’ala, Tuhan-lah yang punya hak untuk berikan yang terbaik buat kita,” pungkasnya.

detikKultum Nasaruddin Umar dapat ditonton DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Zakat Fitrah Itu Wajib, Jangan Terlewat



Jakarta

Jelang penghujung Ramadan, umat Islam mulai menunaikan zakat fitrah. Amalan ini tergolong wajib bagi setiap muslim.

Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, dikatakan zakat fitrah menjadi pembersih orang-orang yang berpuasa. Berikut bunyi haditsnya,

“Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan orang yang berpuasa dan untuk memberi makan orang miskin. Siapa yang membagikan zakat fitrah sebelum salat Id maka zakatnya itu diterima dan siapa yang membagikan zakat fitrah setelah salat Id maka itu termasuk sedekah biasa.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)


Waktu yang diutamakan untuk membayar zakat fitrah yakni, setelah salat Subuh pada 1 Syawal sebelum salat Idul Fitri. Sementara itu, waktu diwajibkannya sejak terbenamnya matahari malam Idul Fitri.

“Zakat fitrah itu wajib. Siapa yang wajib zakat fitrah? Semua orang yang berkecukupan memberi makan fakir miskin,” jelas Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom yang tayang Selasa (2/4/2024).

Imam Besar Masjid Istiqlal itu mengatakan, apabila seorang muslim lalai dalam menunaikan zakat fitrah padahal ia mampu maka tergolong melakukan pelanggaran berat. Hal ini menunjukkan seberapa pentingnya zakat fitrah bagi setiap muslim.

Adapun, ketentuan membayar zakat fitrah bisa dilakukan selama khatib belum turun dari mimbar ketika ceramah Idul Fitri. Untuk itu, dianjurkan bagi para khatib untuk memanjangkan ceramah agar memberi kesempatan muslim yang belum membayar zakat fitrah.

Selain dengan uang, zakat fitrah bisa berupa makanan pokok. Terkait hal ini menyesuaikan dengan makanan pokok di setiap daerah.

“Kalau makanan kita nasi, ya zakat kita beras. Tapi, kalau makanan pokok kita itu jagung, kita keluarkan jagung,” kata Nasaruddin Umar menjelaskan.

Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Makna, Aturan, dan Ketentuan tentang Zakat Fitrah bisa ditonton DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

(aeb/rah)



Sumber : www.detik.com

detikKultum Habib Ja’far: Jati Diri Seorang Muslim



Jakarta

Terdapat beberapa hal yang penting dan wajib dimiliki seorang muslim. Dengan demikian ia bisa disebut sebagai muslim yang memiliki jati diri.

Jati diri seorang muslim terdiri dari tiga hal. Sebagaimana dijelaskan Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom yang ditayangkan Kamis (4/4/2024).

Islam bukan hanya sebuah gelar atau identitas tetapi merupakan nilai yang membentuk jati diri seorang muslim.


“Islam itu bukan hanya identitas tapi utamanya Islam adalah satu nilai yang membentuk jati diri kita. Identitas hanya ekspresi dari apa yang ada di diri kita,” kata Habib Ja’far .

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa seorang muslim setidaknya memiliki tiga nilai yang membuatnya layak disebut sebagai mukmin sejati. Nilai tersebut yakni iman, Islam dan takwa.

“Yang pertama iman, artinya seorang muslim memiliki keimanan yang kokoh sehingga dia melakukan apapun dengan penuh kesadaran bahwa Allah SWT melihat semua yang kita lakukan,” jelas Habib Ja’far.

Dengan keimanan, seorang muslim yakin dan percaya bahwa Allah SWT menghitung setiap perbuatan dan Allah SWT berada dalam setiap gerak gerik yang kita lakukan.

“Seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang bukan hanya haram tetapi yang syubhat akan dihindari. Inilah yang menjadi prinsip para kekasih Allah SWT yang disebut kehati-hatian,” jelas Habib Ja’far.

Nilai yang membentuk jati diri seorang muslim selanjutnya adalah Islam.

Dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan,

“Seorang muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari).

Dan nilai jati diri seorang muslim yang ketiga adalah takwa.

“Orang yang takwa adalah orang yang tidak marah ketika dipancing amarahnya, orang yang memaafkan orang yang marah, dan berbagi senyum, jasa atau harta kepada orang yang bikin dia marah,” beber Habib Ja’far.

Dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 134 dijelaskan,

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Demikianlah orang-orang yang memiliki jati diri seorang mukmin.

Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Jati Diri Seorang Muslim bisa disaksikan DI SINI. Kajian bersama Habib Ja’far ini tayang tiap hari selama bulan Ramadan menjelang waktu berbuka puasa pukul 17.45 WIB. Jangan terlewat!

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Ketentuan Melakukan Iktikaf pada Akhir Ramadan



Jakarta

Pada malam-malam akhir Ramadan, kaum muslimin dianjurkan untuk melakukan iktikaf di masjid. Ibadah ini rutin dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Aisyah RA,

“Bahwasanya Nabi SAW beriktikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan sampai beliau dipanggil Allah Azza wa Jalla. Kemudian istri-istri beliau (meneruskan) beriktikaf setelah beliau wafat.” (HR Muslim)

Ibadah iktikaf ini wajib dikerjakan di masjid, bukan di rumah atau musala. Tujuan dari iktikaf ini agar umat Islam fokus beribadah kepada Allah SWT.


“Selama kita melakukan iktikaf itu yang kita lakukan adalah mengingat Allah SWT sesekali diselingi dengan membaca Qur’an, baca zikir, salat, zikir (lagi), baca Qur’an (lagi),” terang Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom yang tayang Jumat (5/4/2024).

Ketika melakukan iktikaf, kaum muslimin harus dalam keadaan bersih dan suci. Karenanya, dianjurkan pula untuk mempertahankan wudhu saat beriktikaf.

Menurut Nasaruddin Umar, iktikaf tidak harus bermalam dan menginap di masjid. Beriktikaf seusai salat tarawih meski hanya dua sampai tiga jam diperbolehkan.

“Dua jam juga sudah iktikaf kok. Maka itu kalau kita pergi tarawih, begitu kita masuk ke masjid langsung niat iktikaf, walaupun hanya dua jam, tiga jam (lalu) balik ke rumah sudah selesai iktikafnya,” lanjut Imam Besar Masjid Istiqlal itu.

Beriktikaf juga harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan fokus kepada Allah SWT semata. Muslim sebaiknya memelihara pandangan dan mulutnya saat melakukan amalan tersebut agar khusyuk.

Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar dapat ditonton DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Tips Mudah Khatam Al-Qur’an Selama Ramadan



Jakarta

Membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadan memiliki keutamaan tersendiri. Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar menyebut membaca satu huruf Al-Qur’an di bulan suci setara dengan sepuluh kebaikan.

“Alif lam mim 3 huruf, di luar Ramadan kita hanya dapat pahala 3, tapi dalam bulan suci Ramadan kita baca alif lam mim itu dapat pahala 30. 1 huruf diberi pahala 10,” ujar Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom, Sabtu (6/4/2024).

Apabila seorang mukmin khatam Al-Qur’an di bulan Ramadan, maka pahala yang didapat melimpah ruah. Berkaitan dengan itu, Prof Nasaruddin Umar membagikan sejumlah tips agar muslim dapat khatam Al-Qur’an dengan mudah.


Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal itu, khatam Al-Qur’an bisa dilakukan minimal satu kali di bulan Ramadan. Caranya bisa dengan menyempatkan diri di sela-sela aktivitas, seperti membaca satu juz sebelum pergi ke kantor atau sesudah salat Subuh.

“Tidak perlu tahu artinya apa, baca saja Qur’an-nya maka itu pun akan dapat pahala. Apalagi kalau mau memahami arti tentu akan lebih bagus lagi,” lanjut Prof Nasaruddin Umar.

Seumpama jika seorang muslim ingin khatam tiga kali selama Ramadan, maka bisa diakali dengan membaca satu juz sesudah salat Subuh, satu juz sesudah tarawih, dan satu juz sesudah makan sahur. Kiat-kiat seperti ini menjadi tips untuk mengkhatamkan Al-Qur’an.

Ia mengimbau agar umat Islam memaksakan diri untuk khatam Al-Qur’an. Terlebih, di bulan suci ini Allah SWT tidak tanggung-tanggung melimpahkan pahalanya.

“Saya ingin mengajak saudara-saudara semuanya, mari kita membiasakan diri untuk membaca Qur’an secara sistematis, secara konsisten,” pungkasnya.

Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Tips Khatam Al-Qur’an selama Bulan Puasa Ramadan dapat ditonton DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

(aeb/kri)



Sumber : www.detik.com

Menuju Kebersihan Hati



Jakarta

Menghadapi kehidupan dunia yang makin komplek, hendaknya dihadapi dengan kejernihan hati agar kita tidak mengalami salah jalan yang berbuah sia-sia. Untuk itu kita mesti sadar bahwa, hati merupakan tempat membangun hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Allah SWT. maha memberikan kasih sayang kepada kita tanpa kepentingan. Diciptakannya alam semesta dunia seisinya semuanya karena cintanya Allah SWT. Dia juga Maha menganugerahkan nikmat tanpa ada jasa.

Oleh sebab itu, pentingnya kebersihan hati yang akan menentukan buruk-baiknya seseorang. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Hajj ayat 46 yang artinya, “Maka sesungguhnya bukan mata kepala mereka yang buta, tetapi mata hati mereka yang buta. Apabila dalam dirinya terdapat hati yang bersih, maka akan lahir di sana akhlak yang terpuji.”
Karena sesungguhnya hakikat kebutaan bukanlah kebutaan penglihatan, akan tetapi kebutaan yang membinasakan adalah kebutaan mata hati untuk menangkap kebenaran dan mengambil pelajaran.

Perintah dalam ayat ini tersirat bahwa pentingnya sebagai orang yang beriman hendaknya dapat berpikir dengan baik ( tidak bodoh ) agar bisa mengambil pelajaran dan menangkap kebenaran.


Ingatlah hati yang bersih lebih utama. Hal ini sebagaimana pada firman-Nya surah asy-Syu’ara ayat 88-89 yang artinya, “(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Ibnu Katsir berkata, “‘(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna’ Artinya, harta seseorang tidak akan bisa menjaga diri orang tersebut dari azab Allah SWT. walaupun dia menebusnya dengan emas seluas dan sepenuh bumi. ‘Dan tidak pula anak-anak laki-laki’, artinya tidak pula bisa menghindarkan dirinya dari azab-Nya, walaupun dia menebus dirinya dengan semua manusia yang bisa memberikan manfaat kepadanya. Yang bermanfaat pada hari kiamat hanyalah keimanan kepada Allah SWT. dan memurnikan peribadatan hanya untuk-Nya, serta berlepas diri dari kesyirikan dan dari para pelakunya. Oleh karena itu, Allah SWT. kemudian berfirman, ‘Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.’ Yaitu, hati yang terhindar dari kesyirikan dan dari kotoran-kotoran hati.”

Imam asy-Syaukani berkata, “Harta dan kerabat tidak bisa memberikan manfaat kepada seseorang pada hari kiamat. Yang bisa memberikan manfaat kepadanya hanyalah hati yang selamat. Dan hati yang selamat dan sehat adalah hati seorang mukmin yang sejati.”

Kenyataan hidup saat ini, sebagian orang berlomba untuk menumpuk harta dengan cara-cara yang baik maupun yang dilarang. Kadang mereka menganggap bahwa cara yang dilarang itu tidak apa-apa karena banyaknya orang melakukan itu. Anak dan kerabat juga menjadikan bahan kebanggaan. Agar dianggap bermartabat maka disiapkanlah anak untuk menduduki beberapa jabatan rangkap strategis. Apakah ini akan meningkatkan kemuliaannya di mata Allah SWT ? Tentu jawabannya ” Tidak ” maka ingatlah ayat tersebut di atas, hanya kesucian hatimu yang diperlukan untuk menghadap-Nya.

Senada dengan firman diatas adalah surah ash-Shaffat ayat 84 yang artinya, “(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.”
Hati yang suci yakni hati yang bersih dan dibersihkan dari kemusyrikan dan keraguan yang selalu menasehati hamba-hamba lainnya untuk menuju jalan Allah SWT.

Ada beberapa ciri-ciri orang yang hatinya bersih adalah :

1. Tidak merisaukan urusan rezeki. Ibnul Qayyim berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah SWT kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah SWT. dengan hikmah-Nya berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti -dengan rahmat-Nya membuka jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.

2. Jika sakit ia akan bersabar dan tidak mengeluh pada Allah SWT. Mengeluh dan memohon adalah hal yang berbeda. Adapun hikmah sakit salah satunya adalah : Menyambung tali silaturahmi. Tatkala sakit, keluarga ( saudara, kemenakan dan kerabat kainnya ), teman masa belajar, teman kerja dan lainnya pada datang menjenguk. Demikianlah Sang Pencipta berkehendak menyambung silaturahmi hamba-hamba-Nya melalui sakit.

3. Tiada rasa dengki. Menghindari sikap hasad, dengan mengingat bahaya jika menerapkan sikap tersebut, serta memperbanyak ibadah, dapat menghindari perasaan iri dan dengki pada hati. Mendasari semua perbuatan dengan niat ibadah, sesuai dengan tujuan hidup bagi setiap umat Islam adalah untuk selalu beribadah kepada Allah SWT. sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Memasuki bulan Syawal ini hendaknya hati kita menjadi suci setelah menjalankan ibadah dalam bulan suci Ramadhan. Semoga Allah SWT. memberikan cahaya-Nya agar hati kita tetap terjaga kesuciannya.

Aunur Rofiq

Ketua DPP PPP periode 2020-2025

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Imam sebagai Mediator Umat



Jakarta

Sebagai agama dan umat minoritas Islam di AS, keberadaan Imam di sana menjadi sangat penting. Bukan hanya panting karena terus-menerus harus memberikan pelayanan kepada warga muslim yang umumnya mereka adalah orang awam, tetapi juga penting karena menjadi mediator, negosiator, dan moderator dengan para pihak yang ada di lingkungan umat Islam.

Pemerintah AS seringkali mengundang tokoh-tokoh agama, dan untuk umat Islam seringkali diwakili oleh Imam, untuk membicarakan segala hal yang berhubungan dengan kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Sebagai negara demokrasi, AS selalu mendialogkan setiap persoalan untuk diselesaikan secara adil dan fair. Jika ada kunjungan tokoh-tokoh agama dunia, pemerintah AS sering mengundang para imam untuk hadir dalam jamuan makan tamu penting itu. Yang paling tepat menjadi representasi umat Islam di AS ialah para imam.

Keberadaan imam di AS bukan bentukan pemerintah, karena pemerintah tidak berhak mengintervensi urusan kepemimpinan internal umat beragama. Nanti jika muncul persoalan khusus, misalnya muncul konflik yang bisa mempengaruhi ketenangan dan keamanan warga masyarakat barulah negara terlibat di dalamnya. Penunjukan imam sepenuhnya ditentukan oleh komunitas muslim. Berapa lama periodenya menjadi imam, juga ditentukan oleh persepakatan warga lokal muslim setempat.


Ada yang tidak ditentukan masa jabatannya, sampai imam itu masih sehat saja dan ada ditentukan lama masa jabatannya berdasarkan periode tententu, misalnya per lima tahunan. Mereka masih bisa dipilih lagi jika masih memenuhi syarat dan belum ada orang yang lebih capable dari imam sebelumnya. Ada imam uang diimpor dari luar AS seperti sejumlah tenaga imam dari Mesir, Saudi Arabia, dan dari negara-negara mayoritas muslim lainnya yang fasih bacaan Al-Qur’annya serta bisa berdakwah ke dalam bahasa Inggris.

Jika ada kasus keagamaan terjadi di lingkungan komunitasnya maka imam selalu harus hadir sebagai mediator atau negosiator dengan para pihak. Misalnya ada kasus pembangunan rumah ibadah yang diprotes oleh masyarakat setempat atau ada rumah ibadah (masjid) sulit mendapatkan izin pembangunan, maka biasanya imam tampir sebagai faktor penting untuk menyelesaikan persoalan itu.

Pihak pemerintah, khususnya pihak keamanan (police) selalu berkomunikasi dengan imam jika ada masalah di lingkungan keberadaan mereka. Pemerintah juga secara rutin mengundang para imam untuk memberikan ceramah dan pencerahan untuk narapidana muslim di penjara yang jumlahnya tidak sedikit. Demikian pula jika ada di antara narapidana itu yang ingin pindah agama (Islam), kalangan imam juga diminta hadir untuk mengislamkan mereka.

Pemerintah AS, khususnya pemerintah di tingkat negara bagian (states) mempunyai struktur sendiri dimana tokoh-tokoh agama untuk berbagai agama termasuk Islam, diberi ruang atau forum antar para tokoh lintas agama untuk bersidang secara periodik guna membahas persoalan-persoalan yang berhubungan dengan agama. Terkadang huga diinisiatifi oleh kelompok agama-agama lain. Seperti kelompok agama Protestan atau Katolik mengundang tokoh-tokoh agama lain untuk berdiskusi tentang persoalan kemanusiaan yang sedang menjadi sorotan atau isu dalam masyarakat.

Meskipun AS sering disebut negara sekuler tetapi kehidupan dan nuansa agama bagi para penduduknya sangat kuat. Simbol-simbol keamaan sering ditampilkan. Doa bersama sering dilaksanakan dalam beberapa acara dan upacara. Hari-hari besar agama-agama juga sering diperingati. Termasuk hari-hari besar Islam seperti hari raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Anak-anak saya ketika masih duduk dibangku sekolah dasar di Masryland diharuskan melantunkan lagu yang bernuansa keislaman, seperti lagi “Happy Idul Fthr”, yang dinyanyikan bukan hanya anak-anak muslim tetapi seluruh murid yang dipimpin oleh gurunya.

Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Qanaah



Jakarta

Saat penulis sholat Idul Fitri di masjid depan hotel Aston di GKB (Gresik Kota Baru), Khotib mengingatkan tentang selepas bulan suci Ramadhan hendaknya kita merasa selalu diawasi Allah SWT (Muraqabah), menerima adanya (Qanaah) dan bersikap rendah hati (Tawaddu’). Untuk itu penulis akan membahas tentang qanaah.

Qanaah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari dari rasa tidak puas dan perasaan kurang. Orang yang memiliki sifat qana’ah memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau yang ada pada dirinya adalah kehendak Allah SWT. Sikap ini sangat penting karena dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi perlombaan untuk mencapai sesuatu. Sadar atau tidak disadari bahwa perlombaan yang terjadi dengan tujuan untuk menggapai dunia ( harta kekayaan, posisi, ketenaran dan lainnya ).

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah ).


Adapun ciri-ciri perilaku yang mencerminkan sikap qanaah adalah:
– Tidak pernah mengeluh dalam menghadapi kenyataan hidupnya.
– Merasa senang dengan apa yang ia miliki.
– Tidak marah bila melihat orang lain sukses.
– Rela dengan apa yang menjadi hak orang lain.
– Ikut senang bila melihat orang lain sukses.
– Menerima dengan rela apa yang telah diberikan Allah SWT. kepadanya
– Tidak tertarik oleh segala tipu daya yang bersifat duniawi.
– Tidak meminta sesuatu yang lebih dari ikhtiarnya.
– Menerima dengan sabar akan segala ketentuan Allah SWT.

Sikap qanaah merupakan perintah-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam surah an-Nisa ayat 32 yang artinya, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

Dikisahkan, pada Bani Israil terdapat seorang ahli ibadah yang mengalami himpitan masalah penghidupan. Ia menuju padang pasir dan berdo’a pada Allah SWT. agar diberikan sesuatu. Tiba-tiba ada panggilan menyapa, “Wahai ahli ibadah, bentangkan tanganmu, dan ambillah!” Kemudian kedua tangannya sudah ada permata yang warnanya seperti bintang berpijar terang benderang. Lalu ia pulang dengan membawa kedua permata tersebut.

Ia berkata kepada istrinya dengan penuh riang, “Kita selamat dari kefakiran.”
Pada suatu malam ahli ibadah bermimpi bahwa dirinya berada di surga. Di dalam surga ada gedung yang besar, lalu ada suara, “Ini adalah gedungmu.” Ada dua singgasana yang megah satu untuk dirinya dan satu lagi untuk istrinya. Ketika ia melongok ke atap, terlihat ada lubang seukuran dua permata. Ia berkata, “Apa yang terjadi dengan bagian yang berlubang ini ?”
Kemudian ada sebuah suara, “Sebenarnya itu tidak berlubang. Hanya saja, engkau tergesa-gesa memperoleh dua permata itu di dunia. Dua tempat yang berlubang itu adalah tempatnya.”

Setelah sadar dari tidurnya, lalu ia menangis dan memberitahu atas mimpinya pada sang istri. Maka saran istrinya, “Berdo’alah pada Allah SWT. dan mintalah kepada-Nya agar dua permata itu dikembalikan ke tempatnya, yaitu ke padang pasir.”
Kemudian ia ( ahli ibadah ) dengan sungguh-sungguh berdo’a penuh harap kepada Allah SWT. agar kedua permata itu dikembalikan pada tempatnya. Setelah kedua permata kembali ke tempatnya kemudian ada suara panggilan, “Kamu telah mengembalikan kedua permata itu ke tempatnya.”
Atas terkabulnya do’anya maka ia memuji Allah SWT.

Qana’ah bukan berarti diam berpangku tangan dan bermalas-malasan tidak mau meningkatkan kesejahteraan hidup tapi sesungguhnya orang yang qana’ah adalah orang yang sangat kuat dan bersahaja, dia giat berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan yang dicita-citakan. Namun apabila menemui kesulitan ia tidak pernah berputus asa dan kecewa, bahkan ia selalu sabar dan husnuzhan dengan keputusan Allah SWT. karena dia punya keyakinan bahwa di balik semua peristiwa dalam hidup pasti ada hikmahnya.

Adapun dampak positif dari perilaku membiasakan sikap qana’ah adalah:
* Jiwa dan pikiran lebih tenang, karena terbebas dari rasa iri dan dengki.
* Disukai setiap orang, karena semua orang akan merasa aman dan nyaman berada di sekelilingnya.
* Mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
* Terhindar dari sifat tamak.
* Terhindar dari ancaman siksa yang berat.

Siapa pun kita dan jabatan apa pun, sikap qana’ah merupakan landasan bersikap untuk menghadapi kehidupan ini. Ya Allah, kuatkan dan teguhkan iman kami untuk tidak melampaui batas dan bisa menerima apa adanya yang menjadi ketetapan-Mu.

Aunur Rofiq

Ketua DPP PPP periode 2020-2025

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com