Tag Archives: hikmah

Doa setelah Mandi Wajib Pria dan Tata Caranya



Jakarta

Doa setelah mandi wajib pria adalah salah satu amalan sunnah yang bisa diamalkan sesuai mandi junub atau wajib. Mandi wajib sendiri diketahui adalah sebagai pembersihan diri dari hadats besar dengan cara membasuhkan air secara merata ke seluruh bagian tubuh.

Dikutip dari buku Panduan Lengkap Shalat, Doa, Zikir & Shalawat karya Ustaz Enjang Burhanudin Yusuf, hadats adalah keadaan ketika seseorang menjadi tidak suci, sehingga mereka dilarang untuk melakukan ibadah seperti salat dan tawaf. Jika seseorang mengalami hadats besar, mereka harus melakukan mandi wajib untuk menyucikan diri.

Mandi wajib bagi pria harus dilakukan setelah melewati beberapa hal yang membuat hadats seperti hubungan biologis suami dan istri, mimpi basah, hingga mengeluarkan air mani. Perintah untuk mandi wajib sendiri termaktubkan dalam firman Allah SWT yaitu Al-Qur’an Surah Al Ma’idah ayat 6 yang berbunyi,


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu dalam keadaan junub, mandilah. Jika kamu sakit dalam perjalanan, kembali dari tempat buang air (kakus), atau menyentuh perempuan, lalu tidak memperoleh air, bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur.”

Adapun setelah mengetahui perintah mengenai mandi wajib, berikut ini adalah doa yang bisa diucapkan ketika setelah mandi wajib pria.

Doa setelah Mandi Wajib Pria

Setelah melaksanakan mandi wajib, ada sebuah doa yang bisa dipanjatkan. Hukum membaca doa usai mandi wajib hukumnya sunnah.

Dikutip dari buku tulisan Isnan Ansory yang berjudul Praktik Mandi Janabah Rasulullah Menurut Empat Madzhab, berikut bunyi doa setelah mandi wajib.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ

Arab latin: “Asyhadu an laa ilaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa Rasuluhu, allahumma-jalni minattawwabina, waj-alni minal-mutathahirrina”

Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku pula termasuk orang-orang yang selalu mensucikan diri,”

Tata Cara Mandi Wajib Pria

Mandi wajib dilakukan ketika seorang muslim berhadats besar. Berikut ini tata cara lengkap mandi wajib pria untuk menghilangkan hadats.

1. Membaca niat berikut,

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ اْلحَدَثِ اْلأَكْبَرِ مِنَ اْلِجنَابَةِ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

Arab Latin: “Nawaitul ghusla li raf’il hadatsil akbari minal jinaabati fardhan lillahi ta’ala”

Artinya: “Aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari janabah, fardhu karena Allah ta’ala,”

2. Bersihkan telapak tangan sebanyak 3 kali

3. Bersihkan kotoran yang menempel di sekitar tempat yang tersembunyi dengan tangan kiri

4. Setelah membersihkan kemaluan, cuci tangan dengan sabun dan bilas hingga bersih

5. Lakukan gerakan wudhu yang sempurna seperti ketika kita akan sholat dimulai dari membasuh tangan sampai membasuh kaki

6. Masukkan tangan ke dalam air, kemudian sela pangkal rambut dengan jari-jari tangan sampai menyentuh kulit kepala. Jika sudah, guyur kepala dengan air sebanyak 3 kali. Pastikan pangkal rambut juga terkena air

7. Bilas seluruh tubuh dengan mengguyur air. Dimulai dari sisi kanan lalu lanjutkan ke tubuh sisi kiri

8. Saat menjalankan tata cara mandi wajib, pastikan seluruh lipatan kulit dan bagian tersembunyi ikut dibersihkan

Dalam sebuah hadits, ada yang membedakan antara mandi wajib pria dengan wanita. Menyela pangkal rambut dikhususkan bagi pria, sedangkan wanita tidak perlu melakukan tata cara yang satu ini sesuai dengan rujukan hadits dalam Kitab Lengkap dan Praktis Fiqh Wanita oleh Abdul Syukur Al-Azizi.

Dalam satu riwayat hadits dari Ummu Salamah RA, ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW. Ia berkata,

“Wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang gelungan rambutnya besar. Apakah aku harus membuka gelungan rambutku ketika mandi junub?”

Rasulullah SAW pun menjawab, “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu menyela-nyela kepadamu dengan air sebanyak tiga kali, kemudian guyurlah kepala dan badanmu dengan air, sehingga kamu telah suci.” (HR Muslim)

Sekian adalah pembahasan sekilas mengenai doa setelah mandi wajib pria dan niatnya sesuai sebab hadats. Semoga tulisan kali ini bermanfaat ya, detikers!

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Sayyidul Istighfar yang Benar, Dilengkapi Manfaatnya



Jakarta

Bacaan Sayyidul Istighfar adalah salah satu bacaan doa dengan keutamaan besar. Keterangan mengenai kemuliaannya dijelaskan dalam sejumlah riwayat hadits.

Salah satunya diungkap melalui sabda Rasulullah SAW bahwa Sayyidul Istighfar adalah penghulu istighfar. Selain itu disebutkan pula bahwa pembaca lafal ini akan menjadi penghuni surga.

“Penghulu istighfar adalah seseorang mengucapkan, ‘Ya Allah, Engkau Rabbku, tidak ada sembahan yang haq kecuali Engkau. Engkau menciptakanku dan aku hamba-Mu. Aku di atas perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang aku lakukan, aku mengakui untuk-Mu nikmat-nikmat-Mu atasku, dan aku mengakui untuk-Mu dosa-dosaku, maka ampunilah aku, sungguh tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau.’


Barang siapa mengucapkannya di waktu siang dengan meyakininya, lalu mati pada hari itu sebelum sore maka dia termasuk ahli surga, dan siapa mengucapkannya di waktu malam dan dia meyakininya, lalu dia mati sebelum Subuh, maka dia termasuk ahli surga.” (HR Bukhari)

Bacaan Sayyidul Istighfar Arab, Latin, dan Artinya

Dikutip dari Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi yang mengutip hadits riwayat al-Bukhari dari Syaddad bin Aus RA, berikut ini bacaan Sayyidul Istighfar.

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa anna ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika. Mastatha’tu a’uudzu bika min syarri maa shana’tu abuu u laka bini’ matika ‘alayya wa abuu-u bidzanbii faghfir lii fa innahu laa yagfirudz dzunuuba illa anta

Artinya: “Hai Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain Engkau.” (HR Bukhari)

Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam buku Fiqih Doa & Dzikir Jilid 2 menjelaskan, Sayyidul Istighfar merupakan bacaan istighfar paling agung dan utama. Sayyidul Istighfar mengungguli lafal istighfar lain dari segi keutamaan hingga tingakatannya.

Untuk itu, Sayyidul Istighfar disebut sebagai penghulu istighfar karena di dalamnya merangkum makna taubat dan menghinakan diri di hadapan Allah SWT. Bacaan Sayyidul Istighfar mengandung pengharusan atas pengampunan dosa-dosa.

Berdasarkan keterangan hadits sebelumnya, muslim yang mengamalkan bacaan Sayyidul Istighfar di waktu pagi, siang, sore atau malam (utamanya pagi dan petang), lalu ia meninggalkan dunia, maka dirinya tercatat sebagai penghuni surga.

Selain itu, orang yang senantiasa membaca lafal istighfar ini maka baginya akan meraih janji mulia, pahala besar, dan balasan berlimpah.

“Sudah sepantasnya pemiliknya atau orang yang kontinu mengerjakannya, untuk mendapat pemberian maaf dan ampunan, pembebasan dari neraka, dan masuk ke dalam surga,” jelas Syaikh Abdurrazaq.

(rah/nwk)



Sumber : www.detik.com

5 Doa Agar Mendapat Keturunan yang Baik, Ada Doa Nabi Zakariya dan Nabi Ibrahim



Jakarta

Setiap pasangan suami istri pasti menginginkan yang terbaik bagi buah hati mereka, termasuk dapat tumbuh menjadi seorang anak yang saleh, berbakti, dan bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. Terdapat doa agar mendapatkan keturunan yang baik yang dapat dibaca dan diamalkan secara rutin bagi orang tua.

Setiap harapan mulia dan doa yang dibaca oleh orang tua akan mengantarkan anak menjadi muslim yang taat dan mau mendoakan orang tuanya juga. Hal tersebut sebagaimana hadits tentang anak sholeh yang termaktub dalam hadits Nabi SAW:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ


Artinya: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan doa anak yang sholeh yang mendoakan orang tuanya.” (HR Muslim)

Bacaan Doa Agar Mendapat Keturunan yang Baik

1. Surat Al-Imran Ayat 38

Mengutip Buku Lengkap Fiqih Kehamilan & Melahirkan yang disusun oleh Rizem Aizid, surat Ali Imran ayat 38 adalah salah satu bacaan yang dapat diamalkan oleh orang tua. Khususnya ibu hamil.

” رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ…”

Arab-latin: Robbi hablii milladunka dzurriyyatan thayyibah, innaka samii’u ddu’a

Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”

Dalam Al-Qur’an, disebutkan bahwa doa tersebut adalah doa Nabi Zakariya yang mendambakan seorang anak. Ia pun memohon kepada Allah agar dirinya mendapatkan keturunan yang baik. Allah kemudian meridhai keinginan Nabi Zakariya dengan hadirnya Nabi Yahya dalam rahim istrinya.

Bacaan doa yang dilakukan secara rutin akan membuat kondisi ibu hamil dan juga janinnya lebih tenang dan rileks sebab ayat-ayat Al-Qur’an adalah sebaik-baik obat dan penenang.

2. Surat Al Anbiya Ayat 89

Sama halnya dengan surat Ali Imran ayat 38, Al-Qur’an juga menyebutkan kisah dan bacaan doa Nabi Zakariya dalam surat Al Anbiya ayat 38. Ia yang telah sangat tua dan khawatir istrinya mandul sangatlah menanti hadirnya seorang anak. Nabi Zakariya pun berdoa:

رَبِّ لَا تَذَرْنِى فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ

Arab-latin: Rabbi lā tażarnī fardaw wa anta khairul-wāriṡīn

Artinya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.”

Allah mengabulkan doa Nabi Zakariya dan menyembuhkan istrinya yang sebelumnya tidak dapat hamil. Nabi Yahya pun dilahirkan ke dunia atas kuasa Allah.

3. Surat Al Furqan Ayat 74

Dinukil dari buku Panduan Kehamilan dan Kelahiran Bagi Muslimah susunan Nur Hayati, ayat lain yang bisa dibaca adalah firman-Nya dalam surat Al Furqan ayat 74:

“رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا”

Arab-latin: Robbana hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrota a’yun waj’alna lil muttaqiina imaama

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Menambahkan dari sumber tersebut, membaca doa ketika hamil dan juga memperbanyak dzikir akan mendekatkan diri sekaligus bayi yang dikandung dengan Sang Pencipta, Allah SWT. Dengan mendekatkan diri, akan terhindar dari keburukan yang disebabkan oleh godaan setan.

4. Surat As Shaffaat Ayat 100

Selain doa Nabi Zakariya, orang tua juga dapat mengamalkan doa yang dibaca oleh Nabi Ibrahim. Disebutkan dalam buku Doa-Doa Mustajab Orang Tua untuk Anaknya karya Aulia Fadli, mulai dari beliau menikah hingga usianya mencapai 70-an tahun, Nabi Ibrahim selalu membaca doa yang tercantum dalam surat As Shaffaat ayat 100 yang berbunyi:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Arab-latin: Rabbi hab lī minaṣ-ṣāliḥīn

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang sholeh.”

Betapa sabar dan panjang penantiannya tetapi Nabi Ibrahim tidak berputus asa dari rahmat Allah. Beliau selalu percaya kepada kekuatan Allah yang melebihi setiap makhluk-Nya sehingga Allah memberikan kabar gembira yakni dengan dianugerahinya Nabi Ibrahim seorang bayi laki-laki bernama Ismail.

5. Surat Ibrahim Ayat 35 dan 40

Setelah kelahiran Ismail, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk meninggalkan keluarganya di pegunungan, kering tanpa air dan tumbuhan bahkan tanpa penolakan sama sekali dari istrinya, Siti Hajar. Nabi Ibrahim yang merasa iba kemudian menengadahkan tangan dan berdoa sebagaimana dalam surat Ibrahim ayat 35 dan 40:

(35) رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ

(40) رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Arab-latin: …Rabbij’al hāżal-balada āminaw wajnubnī wa baniyya an na’budal-aṣnām. Rabbij’alnī muqīmaṣ-ṣalāti wa min żurriyyatī rabbanā wa taqabbal du’ā

Artinya: “…Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”

Itulah beberapa doa yang dapat dibaca dan diamalkan secara rutin, khususnya setelah melaksanakan sholat fardhu. Dengan membaca doa dan memohon kepada Allah, maka keturunan yang lahir dari seseorang yang beriman dan bertakwa pastilah akan tumbuh menjadi anak yang soleh.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Doa Menyembelih Hewan Kurban dan Tata Caranya



Jakarta

Penyembelihan hewan kurban sebaiknya diawali dengan membaca doa menyembelih hewan kurban. Amalan ini dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah atau bertepatan dengan waktu Idul Adha.

Doa menyembelih hewan kurban Idul Adha adalah bagian dari kesunnahan sebelum menyembelih. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW pada salah satu keterangan hadits dari Aisyah RA berikut,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ فَقَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ هَلُمِّي الْمُدْيَةَ ثُمَّ قَالَ اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَخَذَهَا وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ


Artinya: Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk dibawakan dua ekor kambing kibas bertanduk yang kaki, perut, dan sekitar matanya berwarna hitam. Maka dibawakanlah kambing tersebut kepada beliau untuk dijadikan kurban. Beliau lalu berkata kepada Aisyah, “Wahai Aisyah, asahlah pisau,”

Nabi Muhammad SAW mengambil pisau tersebut dan kambing tersebut, beliau membaringkannya dan menyembelihnya sambil berkata, “Bismillah (dengan nama Allah). Ya Allah, terimalah (kurban ini) dari Muhammad, keluarganya, dan umatnya,” (HR Muslim).

Doa Menyembelih Hewan Kurban

Ustaz Abu Abdil Aʼla Hari Ahadi dalam Fikih Kurban menyebut, sebelum menyembelih hewan kurban dapat didahului dengan membaca bismillah, membaca takbir, dan doa agar hewan kurbannya diterima oleh Allah SWT. Dinukil dari Syaikh Wahbah Al-Zuhaili dalam Kitab Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, berikut bacaan doa menyembelih hewan kurban.

وجهت وجهي لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِن صَلاتِي ونسكي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. بِسْمِ اللهِ الرّحمنِ الرَّحِيمِ. اللهم صل على سيدنا محمدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا محمد. الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد. اللهُم هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ اللهم تقبل مني مِنْ فَلَان كَمَا تَقَبلْتَ مِنْ إِبْرَاهِيمَ خَلِيْلكَ.

Artinya: “Aku menghadapkan wajahku (hatiku) kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan menyerahkan diri, dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan itu aku diperintahkan untuk tidak menyekutukanNya, dan aku termasuk golongan orang muslimin.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, hanya bagi Allah segala puji. Ya Allah, hewan ini adalah nikmat dari-Mu, dan melalui hewan ini pula mendekatkan diri kepada-Mu. Ya Allah, terimalah dariku/dari fulan (sebut nama orang yang berqurban), sebagaimana Engkau menerima dari Nabi Ibrahim, kekasih-Mu.”

Hukum mengucapkan basmalah sebelum menyembelih hewan kurban adalah wajib. Menurut Ustaz Abu Abdil Aʼla Hari Ahadi, kehalalan daging kurban dipengaruhi oleh bacaan basmalah sebelum daging disembelih sebagaimana disinggung dalam surah Al An’am ayat 121,

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

Artinya: “Janganlah kamu memakan sesuatu dari (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah. Perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan. Sesungguhnya setan benar-benar selalu membisiki kawan-kawannya agar mereka membantahmu. Jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu benar-benar musyrik.”

Imam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al Fatawa juga menyebutkan kewajiban membaca basmalah sebelum hewan disembelih. Hal ini pun, menurutnya, telah disetujui oleh mayoritas ulama.

Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban

1. Alat Sembelihan Tajam

Gunakanlah alat penyembelihan yang tajam, seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Diriwayatkan oleh Syaddad ibn Aus Radhiyallahu anhu Beliau bersabda,

“Allah memerintahkan untuk berbuat kebaikan dalam segala hal. Ketika kamu membunuh, maka lakukanlah dengan cara yang baik, dan ketika kamu menyembelih, maka lakukanlah dengan cara yang baik, serta pastikan pisau yang digunakan tajam, dan tenangkan hewan yang akan disembelih.” (HR Muslim)

Selanjutnya, lakukan penyembelihan dengan memotong tenggorokan dan dua urat nadinya yang ada di leher hewan kurban.

2. Hadap Kiblat

Hadapkanlah hewan kurban ke arah kiblat. Hal ini sesuai dengan hadits berikut, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi dengan ketulusan dan menyerahkan diri, dan aku bukanlah golongan musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku diperintahkan demikian, dan aku termasuk golongan orang Muslim. Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, ya Allah (kurban ini) adalah darimu, untuk-Mu, dan atas nama Muhammad dan umatnya.” (HR Abu Dawud)

Hari Idul Adha adalah momen penting bagi umat Islam di mana penyembelihan hewan kurban dilakukan. Tahun ini, sama seperti tahun sebelumnya, pemerintah Indonesia baru akan menetapkan waktu Idul Adha 2023 usai menggelar sidang isbat penetapan awal Dzulhijjah 1444 H. Pada tahun-tahun sebelumnya, sidang isbat digelar pada 29 Dzulqaidah.

Sementara itu, PP Muhammadiyah telah mengumumkan penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1444 Hijriah berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid. Keputusan ini juga mencakup penentuan tanggal Hari Raya Idul Adha atau Lebaran Haji 2023. Menurut keputusan tersebut, Hari Raya Idul Adha 2023 akan jatuh pada tanggal 28 Juni 2023.

Sekian adalah sekilas pembahasan mengenai doa menyembelih hewan kurban sekaligus tata cara dan jadwalnya. Semoga tulisan kali ini dapat membantu ya, detikers!

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Doa Iftitah Allahu Akbar Kabiro Walhamdulillahi Katsiro



Jakarta

Bacaan allahu akbar kabiro walhamdulillahi katsiro merupakan penggalan salah satu doa iftitah yang diajarkan Rasulullah SAW. Doa ini dibaca setelah takbiratul ihram sebelum membaca surah Al Fatihah.

Hal ini secara langsung dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Kitab al-Adzkar bahwa banyak hadits yang secara keseluruhan menyatakan setelah melakukan takbiratul ihram hendaknya orang tersebut mengucapkan,

اللهُ أَكْبَر كَبِيرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً


Allahu akbar kabiiro, walhamdulillahi katsiiro, wa subhanallahi bukrotaw washilaa

Artinya: “Allah Mahabesar lagi sempurna kebesaran-Nya. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Mahasuci Allah sepanjang pagi dan petang.” (Hadits ini dianggap shahih oleh Ibnu Khuzaimah, HR Dawud, Ahmad, dan Ibnu Majah)

Imam an-Nawawi juga memaparkan bacaan doa setelah takbiratul ihram dengan lafaz berikut:

وَجَّهْتُ وَجُمِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شريك له وبذلك أُمِرْتُ وأنا من المُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ أَنتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفُتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جميعًا لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنتَ وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لأخستنها إِلَّا أَنتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّهَا إِلَّا أَنتَ لَتَيْك وَسَعْدَيكَ وَالْخَيْرُ كله في يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أنا يك واليك تباركت وتعاليت أستغفرك وأتوب إليك

Arab latin: Wajjahtu wajhiya lilladzii fataras samawaati wal ardha haniifa wamaa anaa minal musyrikiin. inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil aalamiin. laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa anaa minal muslimiin. Allahumma antal maliku laa ilaha illa anta anaa abduka zhalamtu nafsii wa’taraftu bidzanbii faghfirlii dzunuubii jamii’aa, laa yaghfirudz dzunuuba illa anta, wahdinii liahsanil akhlaaqi, laa yahdii liahsanihaa ilaa anta, washrif ‘annii sayyiahaa la yashrifu ‘annii sayyi’ahaaa illa anta, labbaika wasa’daika walkhairu kulluhu fiiyadaika, wassyarru laisa ilaika, anaa bika wailaika, tabaaraka wata’aalaita, astagfiruka wa atuubu ilaika.

Artinya: “Sesungguhnya aku menghadapkan mukaku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan berserah diri dan bukanlah aku termasuk dalam golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya. Karena itu aku rela diperintah dan aku adalah golongan orang Islam. Ya Allah, Engkaulah Penguasa, tiada Tuhan selain Engkau. Engkaulah Tuhanku sedangkan aku adalah hamba-Mu. Aku telah berbuat aniaya terhadap diriku dan mengakui dosaku. Karena itu, ampunilah seluruh dosa-dosaku. Karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa-dosa, kecuali Engkau. Berilah aku petunjuk terhadap budi pekerti yang terbaik, dan tiada yang dapat menunjukkan yang terbaik kecuali Engkau. Hindarkanlah aku dari keburukan budi pekerti, di mana tiada yang dapat menghindarkanku darinya kecuali Engkau. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, dan aku patuhi perintah-Mu ya Allah. Seluruh kebaikan berada dalam kedua tangan-Mu, dan kejahatan tidak dinisbatkan kepada-Mu. Aku hanya dapat hidup dengan-Mu dan akan kembali kepada-Mu. Mahaberkah Engkau dan Mahatinggi, aku mohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.” (Hadits ini shahih, HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ahmad dan semuanya berasal dari hadits Ali bin Abi Thalib)

Imam an-Nawawi juga menjelaskan bahwa banyak sekali hadits yang memberi penjelasan mengenai bacaan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Di antaranya hadits Aisyah RA, “Apabila Rasulullah SAW telah membaca doa iftitah, maka beliau mengucapkan,

اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ

Artinya: “Mahasuci Engkau ya Allah, dan aku memuji-Mu, dengan kesucian nama- Mu, Mahaagung kebesaran-Mu, tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah, dianggap shahih oleh Ibnu Khuzaimah)

Merangkum detikHikmah, ada beberapa syarat dalam membaca doa iftitah, di antaranya:

1. Salat yang dikerjakan selain salat jenazah, walaupun salat jenazahnya di atas kuburan atau salat gaib (mayatnya berada di daerah yang jauh dari daerahnya orang yang menyalati).

2. Waktunya cukup untuk mengerjakan salat (beserta membaca doa iftitah). Jika waktunya sempit atau terbatas, maka boleh untuk tidak membaca doa iftitah bahkan harus melaksanakan yang wajib-wajib saja.

3. Saat menjadi makmum tidak khawatir ketinggalan sebagian surat al-Fatihah seandainya ia membaca doa iftitah.

4. Saat menjadi makmum, ia tidak menjumpai imam di selain posisi berdiri. Jika ia menjadi makmum masbuk dan menjumpai imam di selain posisi berdiri semisal ruku’, sujud dan seterusnya, maka tidak disunnahkan membaca doa iftitah, akan tetapi ia langsung menyusul ke posisi imam.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Istighfar 100 Kali Tiap Hari Sesuai Ajaran Rasulullah



Jakarta

Dzikir yang biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah istighfar. Menurut sebuah riwayat, beliau mengucapkan bacaan istighfar 100 kali setiap hari.

Mengenai beristighfar ini Allah SWT telah berfirman dalam surah Ghafir ayat 55,

فَاصْبِرْ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِ ٥٥


Artinya: “Bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, mohonlah ampun untuk dosamu, dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi!”

Imam an-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar menukil sebuah riwayat dalam Shahih Muslim yang menyebut bahwa Rasulullah SAW beristighfar 100 kali dalam sehari.

Dari al-Gharr al-Muzanny RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda,

“Sesungguhnya hatiku telah lalai, aku beristighfar dalam sehari sebanyak seratus kali.”

Diriwayatkan pula dalam Shahih Bukhari, dari Abu Hurairah RA dia katakan, bahwa aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah, sungguh aku beristighfar kepada Allah SWT dan bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak lebih dari tujuh puluh kali.”

Bacaan Istighfar 100 Kali

Bacaan istighfar 100 kali yang diucapkan Rasulullah SAW termuat dalam Kitab Sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah melalui hadits yang berasal dari Ibnu Umar RA. Ia mengatakan telah menghitung doa Rasulullah SAW dalam suatu majelis, beliau SAW membaca 100 kali bacaan:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Arab latin: Raabbighfir lii watub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim

Artinya: “Ya Allah Tuhanku, ampunilah aku dan berikanlah tobat atasku, sungguh Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Pengasih.”

Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan.

Muhammad Ainur Rasyid dalam buku Kaya Total dengan Ayat Kursi menukil sebuah hadits mengenai keutamaan membaca istighfar 100 kali dari Hudzaifah RA. Ia berkata,

“Dulu lisanku biasa berbuat keji kepada keluargaku. Namun, aku tidaklah menganiaya yang lainnya. kemudian, aku menceritakan hal ini kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda, ‘Mana istighfarmu, wahai Hudzaifah? Sesungguhnya, aku selalu beristighfar kepada Allah setiap harinya sebanyak 100 kali dan aku juga bertaubat kepada-nya.” (HR Ahmad)

Bacaan Istighfar yang Jadi Rajanya Istighfar

Imam an-Nawawi juga meriwayatkan dalam Shahih Bukhari mengenai bacaan istighfar yang disebut sebagai rajanya istighfar (sayyidul istighfar). Dari Syaddad bin Uwais RA dari Nabi SAW bahwa: “Rajanya istighfar adalah kalimat yang diucapkan hamba Allah:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَليَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبي فَاغْفِرْلي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

Arab latin: Allaahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta, khalaqtanii wa ana ‘abduka, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu, a’uudzubika min syarri maa shana’tu, abbu-u laka bi ni’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzambii, fagfirlii fa innahu laa yaghfirudh dhunuuba illaa anta

Artinya: ‘Ya Allah, Engkau Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkau telah menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu, dan aku atas janji dan ketentuan-Mu sekadar kemampuanku, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang aku perbuat dan aku mengakui segala kenikmatan yang telah Engkau berikan, aku juga mengakui dosa-dosaku, maka oleh karena itu ampunilah aku, sungguh tidak ada yang mampu memberikan ampunan kecuali Engkau.”

Dikatakan, orang yang membaca sayyidul istighfar pada siang hari dengan segala keyakinan, kemudian mati pada hari itu, maka baginya termasuk penghuni surga, dan bagi yang membacanya pada sebagian malam dengan segala keyakinan kemudian mati sebelum waktu fajar datang, maka dia termasuk penghuni surga.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Bacaan setelah Adzan dan Artinya Sesuai Sunnah



Jakarta

Bacaan setelah adzan dapat dipanjatkan oleh muslim sebagai amalan baik yang juga diajarkan oleh baginda Rasulullah SAW. Hal ini baik untuk diamalkan karena terdapat kesempatan adzan sebagai penanda dan pemanggil salat lima kali sehari yang wajib untuk diikuti oleh umat Islam.

Waktu antara adzan dan iqamah dianggap sebagai salah satu waktu yang mustajab untuk seorang muslim memanjatkan doa. Dalam salah satu hadits diceritakan bahwa doa yang diamalkan oleh seorang muslim setelah adzan tidak akan ditolak.

“إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا” (رواه أحمد).


Artinya: “Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa antara adzan dan iqamah, maka berdoalah pada saat itu.” (HR Ahmad)

Bacaan setelah Adzan dan Artinya Sesuai Sunnah

Berikut ini adalah bacaan doa setelah adzan lengkap dengan artinya yang bisa kita amalkan.

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ اِنَكَ لاَ تُخْلِفُ اْلمِيْعَاد”

Arab Latin: “Allahumma rabba haadzihid da’watit taammah. Wash shalaatil qaa-imah. Aati muhammadal wasiilata wal fadhiilah, wab’atshu maqoomam mahmuudal ladzii wa’adtahu innaka la tukhliful mi’ad.”

Artinya: “Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan ini, yang sempurna dan memiliki salat yang didirikan. Berilah Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, serta kemuliaan dan derajat yang tinggi, dan angkatlah ia ke tempat yang terpuji sebagaimana yang Engkau telah janjikan.”

Bacaan setelah Adzan Maghrib

Seorang muslim dapat menambahkan doa setelah adzan Maghrib sebagai berikut.

اللّٰهُمَّ هَذَا إِقْبَالُ لَيْلِكَ وإدْبَارُ نَهَارِكَ وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ فَاغْفِرْ ليْ

Arab Latin: “Allahumma hadza iqbalu lailika wa idbaru naharika wa ashwatu du’aika faghfir lii.”

Artinya: “Ya Allah, ini telah menjelang malam-Mu, dan telah berlalu siang-Mu, telah diserukan seruan-Mu, maka ampunilah aku.”

Selain membaca doa setelah adzan, seorang muslim dianjurkan untuk melakukan tiga hal ini saat mendengar adzan berkumandang sesuai dengan hadits dari Rasulullah SAW.

“إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ” (رواه مسلم).

Artinya: “Jika kamu mendengar muadzin, ucapkanlah seperti yang diucapkannya, kemudian berdoalah untukku. Siapa yang mendoakan kepadaku satu kali, Allah akan mendoakan kepadanya sepuluh kali, dan mintalah wasilah (kedudukan istimewa) kepada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan bagi seorang hamba Allah, dan aku berharap bahwa aku adalah orang itu. Siapa yang meminta wasilah untukku, dia akan mendapatkan syafaatku.” (HR Muslim)

Sekian adalah sekilas pembahasan mengenai bacaan setelah adzan. Semoga tulisan kali ini dapat bermanfaat dan dipraktikkan oleh pembaca semua. Aamiin yaa Rabbalalamiin.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Doa setelah Adzan, Dibaca agar Mendapat Syafaat pada Hari Kiamat



Jakarta

Doa setelah adzan merupakan amalan sunnah yang dipanjatkan usai muazin menyerukan adzan. Selain itu, doa tersebut juga termasuk ke dalam adab ketika mendengarkan adzan.

Menurut buku 63 Adab Sunnah oleh Dr KH Rachmat Morado Sugiarto Lc M A, doa setelah adzan disampaikan oleh Jabir bin Abdullah. Dikatakan orang yang membaca doa tersebut akan mendapat syafaat pada hari kiamat.

Adapun, hukum membacanya ialah sunnah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Berikut bacaan doanya seperti dinukil dari Buku Pintar Doa dan Zikir Rasulullah susunan Abdullah Zaedan.


Bacaan Doa setelah Adzan

اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذه الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاةِ القائمة آت مُحَمَّداً الْوَسَيْلَةَ والْفَضيلَةَ وابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُوْداً الَّذِي وَعَدتَهُ

Arab latin: Alloohumma robba hadzihid da’watittaamatit taammati was sholaatil qoo`imati aati muhammadal wasiilata wal fadhiilata wab’atshu maqoomam mahmuudal ladzii wa-‘adtahu

Artinya: “Ya Allah, Rabb yang memiliki panggilan ini, yaitu yang sempurna juga memiliki salat yang didirikan. Berikanlah Nabi Muhammad wasilah serta keutamaan, berikut juga kemuliaan dan derajat yang tinggi, dan angkatlah ia menuju tempat yang terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan,” (HR An Nasa’i)

Keistimewaan Doa setelah Adzan

Menukil dari buku Sukses Dunia-Akhirat dengan Doa-doa Harian karya Mahmud Asy Syafrowi, keistimewaan dari doa setelah adzan ialah mendapat syafaat pada hari kiamat kelak sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya. Maksud syafaat ini ialah pertolongan Rasulullah untuk umatnya.

“Barang siapa ketika mendengar adzan lalu mengucapkan (doa ini), maka masuklah syafaatku baginya di hari kiamat,” (HR Bukhari).

Syafaat Nabi Muhammad SAW banyak macamnya, seperti untuk orang-orang yang menanggung dosa dari umatnya agar mendapat pengampunan dari Allah. Selain itu memasukkan mereka ke dalam surga tanpa hisab, serta meninggikan derajat setiap orang sesai dengan yang pantas.

Bahkan, keistimewaan lain dari orang yang rutin membaca doa setelah adzan ialah dikaruniai khusnul khatimah di akhir hidupnya. Untuk meraih keistimewaan tersebut tidak cukup sekadar membacanya di lisan, melainkan harus mengetahui dan menghayati maknanya.

(aeb/nwk)



Sumber : www.detik.com

5 Bacaan Doa Memohon Kesembuhan dari Sakit, Lengkap dengan Latin dan Terjemahnya



Jakarta

Setiap orang yang sedang sakit pasti mengharapkan kesembuhan. Sebab, ajaran Islam selalu menanamkan untuk selalu memanfaatkan waktu sehat yang memiliki nikmat untuk beramal dan beribadah sebelum datangnya waktu sakit.

Selain mendatangi ahli medis, berdoa memohon diberi kesembuhan juga merupakan salah satu cara untuk berikhtiar kepada Allah SWT. Berikut ini adalah beberapa doa yang telah dirangkum dari berbagai sumber dan dapat dibaca untuk meminta kesembuhan.

Doa Mohon Kesembuhan dari Sakit

1. Doa Mohon Kesembuhan

Dikutip dari buku Doa dan Dzikir Sepanjang Tahun yang disusun oleh Adi Tri Eka, berikut bacaan doa memohon kesembuhan.


اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِوَالْفَقْرِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Bacaan latin: Allaahumma ‘aafinii badanii, allaahumma ‘aafinii fii sama ‘ii, allahumma ‘aafinii fii basharii. Allaahumma innii a’uudzu bika minal kufri wal faqri. Allaahumma innii a’uudzu bika min ‘adzaabil qabri la ilaaha illaa anta

Artinya: “Ya Allah, sembuhkanlah badanku. Ya Allah, sembuhkanlah pendengaranku. Ya Allah, sembuhkanlah penglihatanku. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Tuhan selain engkau.” (HR Abu Daud).

2. Doa Mohon Diangkatnya Penyakit

Rasulullah SAW membaca doa ini ketika meruqyah salah seorang sahabat. Berikut bacaannya.

امْسَحِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِك الشِّفَاءُ لَا كَاشِفَ لَهُ إلَّا أَنْتَ

Bacaan latin: Imsahil ba’sa rabban nāsi. Bi yadikas syifā’u. Lā kāsyifa lahū illā anta.

Artinya: “Tuhan manusia, sapulah penyakit ini. Di tangan-Mu lah kesembuhan itu. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Kau,”

3. Doa yang Dibaca oleh Orang Sakit

Melansir buku 5 Shalat Pembangun Jiwa karya Nasrudin Abd. Rohim, terdapat bacaan doa yang dapat dibaca oleh orang yang sedang sakit. Bacaan ini didasari oleh hadits Rasulullah.

Diriwayatkan kepada kami dalam Shahih Muslim, dari Utsman bin Abil ‘Ash bahwa ia mengadu kepada Rasulullah perihal penyakit yang ia rasakan pada tubuhnya. Rasulullah pun memerintahkannya membaca doa berikut.

(3x) بِسْمِ اللَّهِ

(7x) أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Bacaan latin: Bismillah (3x), a’uudzu bi’izzatillaahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru (7x)

Artinya: Dengan nama Allah, aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaan Allah dari kejahatan yang menimpaku dan yang aku takuti.”

4. Doa Untuk Orang Sakit

Doa untuk orang sakit ini dibaca oleh Rasulullah SAW ketika menjenguk sahabat Salman Al-Farisi RA sesuai dengan riwayat Ibnu Sunni. Doa ini dapat ditujukan secara spesifik dengan menyebut orang yang menderita penyakitnya.

شَفَى اللهُ سَقَمَكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَعَافَاكَ فِي دِيْنِكَ وَجِسْمِكَ إِلَى مُدَّةِ أَجَلِكَ

Bacaan latin: Syafākallāhu saqamaka, wa ghafara dzanbaka, wa ‘āfāka fī dīnika wa jismika ilā muddati ajalika.

Artinya, “Wahai (sebut nama orang yang sakit), semoga Allah menyembuhkanmu, mengampuni dosamu, dan mengafiatkanmu dalam hal agama serta fisikmu sepanjang usia,”

Adapun doa untuk orang sakit selanjutnya disunnahkan untuk dibaca 3 kali. Kemudian, orang yang membaca doanya dianjuran menyapukan badan orang yang sakit dengan tangan kanan.

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إلَّا أَنْتَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقْمًا

Bacaan latin: Allaahumma rabban naasi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syaafi. Laa syaafiya illā anta syifaa’an lā yughaadiru saqaman.

Artinya: “Tuhan segala manusia, hilangkanlah penyakit. Sembuhkanlah, Engkaulah penyembuh. Tidak ada penawar selain dari penawar-Mu, penawar yang menghabiskan sakit dan penyakit.”

5. Doa Mohon Kondisi Sehat

Muhammad Lutfi Zamani menyebutkan dalam bukunya yang berjudul Pasti Mustajab perihal bacaan doa mohon kondisi sehat.

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ ولا إل أحد منان ناس

Bacaan latin: Yaa hayyun, yaa qayyuumun, birahmatika istaghiitsu, wa ashlih lii sya’nii kullahuu, wa laa takilnii ilaa nafsii tharfata ‘ainin, wa laa ilaa ahadin minan naas.

Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Kekal, hanya dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh kondisiku, jangan Engkau biarkan diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dari-Mu). Dan jangan Engkau biarkan aku bergantung kepada siapapun dari manusia.” (Ath Thabrani, Al-Mu’jamu ash-Shaghir lith Thabrani, Juz 2 (Mesir: Muwaqi’u Jaamil Hadits, tt), hlm. 3).

Itulah 5 bacaan doa mohon kesembuhan dari penyakit yang dapat dibaca baik oleh orang yang sedang sakit maupun orang yang menjaga atau datang menjenguk. Dengan rutin membacakan doa, maka orang yang sakit pun akan segera sembuh atas izin Allah.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Hadits Orang yang Enggan Masuk Surga, Siapa Mereka?



Jakarta

Rasulullah SAW dalam haditsnya pernah menyebutkan kelompok orang-orang yang enggan masuk ke surga milik Allah SWT. Siapakah orang-orang tersebut?

Hadits yang dimaksud bersumber dari Abu Hurairah RA yang pernah mengutip sabda Rasulullah SAW. Diriwayatkan dari Bukhari dengan sanad shahih dalam Kitab Al I’tisham bil Kitab wa As Sunnah berikut bunyinya.

أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أَبَى». قيل: ومَنْ يَأْبَى يا رسول الله؟ قال: «من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أَبَى»


Artinya: “Seluruh umatku masuk surga, kecuali orang yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang enggan itu?” Beliau bersabda, “Barang siapa yang taat kepadaku ia pasti masuk surga, dan barang siapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah enggan masuk surga.” (HR Bukhari)

Orang-orang yang enggan masuk surga adalah mereka yang enggan menaati perintah rasul. Menurut Kitab Fathul Bari, orang-orang yang enggan masuk surga dalam hadits tersebut dapat terdiri dari golongan kafir maupun muslim.

Golongan kafir yang enggan masuk surga disebutkan tidak akan masuk surga sama sekali. Sementara, bagi muslim disebutkan akan melalui proses yang lama terlebih dahulu sebelum masuk surga.

“Jika dia itu muslim maka maksudnya dia tidak akan masuk surga beserta orang-orang yang pertama memasukinya. Jadi dia bakal masuk tapi ada proses dulu yang membuat masuknya lambat,” demikian penjelasannya yang diterjemahkan oleh Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah (PISS) KTB dalam buku Tanya Jawab Islam.

Mengenai perintah taat kepada rasul sejatinya sudah banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Salah satunya dalam surah Ali Imran ayat 32,

قُلْ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْكَٰفِرِينَ

Artinya: Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

Selain itu, disebutkan pula dalam surah An Nisa ayat 80. Allah SWT berfirman,

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ

Artinya: “Siapa yang menaati Rasul (Muhammad), maka sungguh telah menaati Allah. Siapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad) sebagai pemelihara mereka.”

Disebutkan dalam Tafsir Tahlili terbitan Kemenag, menaati rasul tidak dapat dikatakan sebagai perbuatan syirik atau mempersekutukan Allah SWT. Sebab, rasul adalah utusan Allah SWT yang mengemban perintah-Nya.

Taat kepada Rasulullah SAW

Menurut surat Al Hasyr ayat 7, taat kepada rasul adalah mengikuti apa yang diajarkan dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Allah SWT berfirman,

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟

Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”

Menaati Rasulullah dapat dilakukan dengan menjalankan apa yang menjadi syariatnya. Dalam Islam, ada banyak ibadah yang dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan rasul.

Ibadah ini bisa dilakukan dalam usaha menjadi salah satu umat Rasulullah SAW yang pasti masuk surga. Tentunya saat melakukan ibadah, tiap muslim harus taat pada rukun dan syaratnya.

Berikut beberapa amalan yang diperintahkan Rasulullah SAW adalah salat, puasa, zakat, membaca Al-Qur’an, mengingat Allah SWT baik di waktu lapang maupun sempit, hingga membaca sholawat sebagaimana firman-Nya dalam surah Al Ahzab ayat 56 sebagai berikut.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Artinya:”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

(rah/lus)



Sumber : www.detik.com