Tag Archives: hikmah

Bacaan Doa Salam ketika Berada di Sekitar Makam Rasulullah


Jakarta

Membaca doa salam ketika berada di sekitar makam Rasulullah SAW termasuk hal yang dianjurkan dalam Islam. Terutama bagi yang berkesempatan untuk melaksanakan ibadah haji maupun umrah.

Freddy Rangkuti dan Siti Haniah dalam buku Aku Datang Memenuhi Panggilan-Mu: Panduan Doa dan Ibadah menggambarkan, makam Rasulullah SAW terletak di sudut timur Masjid Nabawi dan masih termasuk di dalam masjid. Pada bangunan ini terdapat empat pintu.

Keempat pintu tersebut adalah pintu sebelah kiblat dinamai pintu At-Taubah, pintu sebelah timur dinamai pintu Fatimah, pintu sebelah utara dinamai pintu Tahajjud, dan pintu sebelah barat ke Raudhah.


Di dalam ruangan ini tidak hanya ada makam Rasulullah SAW saja, melainkan ada dua makam sahabat Rasulullah SAW, yaitu Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin Khattab RA.

Adab Berkunjung ke Makam Rasulullah SAW

Sementara itu, Ahmad Alawiy dkk dalam buku Umrah: Panduan Ibadah Umrah Praktis Lahir Batin menjelaskan mengenai adab di makam Rasulullah SAW, sebagai berikut:

1. Mendatangi maqrabah (makam) Rasulullah SAW dari arah kepala dengan membelakangi kiblat, menghadap maqrabah dan menjauh dari makam berjarak sedikitnya sekitar 2 meter

2. Khusyuk dan khidmat penuh pengagungan pada Rasulullah SAW yang berada di hadapannya

3. Mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW dengan suara lembut dan bersikap tenang tanpa disertai gerakan yang tidak perlu

4. Mengucapkan salam kepada Abu Bakar As-Shiddiq RA

5. Mengucapkan salam kepada Umar bin Khattab RA

6. Setelah menghadap Rasulullah SAW, bertawwasul, dan meminta syafaat pada beliau.

Doa Salam ketika Berada di Makam Rasulullah SAW

Mengutip dari buku Doa dan Zikir Manasik Haji dan Umrah terbitan Kementerian Agama RI, berikut bacaan doa salam ketika berada di makam Rasulullah SAW,

السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَارَسُوْلَ اللهِ السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ اللهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا أَمِيْنُ، اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا حَبِيْبَ اللَّهِ، اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا صَفْوَةَ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللَّهِ وَحْدَهُ لاشَرِيكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ أَنَّكَ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَأَمِيْنُهُ وَصَفِيهُ وَخِيَرَتُهُ مِنْ خَلْقِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّيْتَ الأَمَانَةَ وَنَصَحْتَ الْأُمَّةَ وَجَاهَدْتَ فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ. اَللَّهُمَّ أُتِهِ الوَسِيْلَةَ وَالفَضِيْلةَ وَالدَّرَجَةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ وَاتِهِ نِهَايَةَ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَسْأَلَهُ السَّائِلُونَ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ المِيْعَادَ

Artinya: “Salam sejahtera atasmu wahai Rasulullah. Salam sejahtera untukmu wahai Nabiallah. Salam sejahtera atasmu wahai al-Amin, pribadi yang terpercaya. Salam sejahtera atasmu wahai kekasih Allah, Salam sejahtera bagimumu wahai makhluk pilihan Allah. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi, baginda adalah hamba-Nya, Rasul-Nya, kepercayaan-Nya kekasih-Nya dan pilihan-Nya diantara makhluk-Nya. Aku bersaksi, sungguh engkau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanat, memberi nasihat kepada umat, dan berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh. Yang Allah, berikan hak menjadi wasilah, kemuliaan dan martabat yang tinggi serta bangkitkan ia di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan, dan berikan dia karunia tertinggi yang pantas diberikan pada orang-orang yang memohon, sungguh Engkau tidak akan mengingkari janji.”

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Doa saat Turun Hujan yang Dipanjatkan Rasulullah SAW



Jakarta

Doa saat turun hujan dapat diamalkan seperti yang telah dilakukan Rasulullah SAW menurut sejumlah riwayat hadits. Ketika hujan turun hendaknya umat muslim senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan.

Hujan adalah salah satu nikmat, rahmat, dan keberkahan yang Allah SWT turunkan ke bumi. Bahkan, Rasulullah SAW pun sangat bergembira dengan datangnya hujan hingga beliau bertabarruk atau mengambil berkah dari hujan tersebut.

Dikisahkan dalam sebuah riwayat yang dinukil dari buku Sukses Dunia Akhirat dengan Doa-doa Harian karya Mahmud Asy Syafrowi, suatu ketika Rasulullah SAW pernah kehujanan kemudian beliau menyingkapkan bajunya sampai terguyur hujan.


Para sahabat lalu bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?” Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda, “Sebab, ia baru saja diciptakan Allah SWT.” (HR Muslim).

Imam Nawawi menjelaskan hadits tersebut mengandung makna bahwa hujan itu rahmat yang diciptakan oleh Allah SWT sehingga umat muslim dapat turut memanjatkan doa saat turun hujan. Lantas, seperti apa bacaannya?

Doa saat Turun Hujan

Dilansir dari buku Doa Harian Pengetuk Pintu Langit karya H. Hamdan Hamedan, Rasulullah SAW pernah memanjatkan doa untuk meminta hujan, saat turun hujan, setelah hujan turun, dan doa agar hujan berhenti. Berikut ini bacaannya:

1. Doa Meminta Hujan

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْنًا مُغِيْئًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍ عَاجِلًا غَيْرَ أَجِلٍ

Arab-latin: Allaahummasqinaa ghaytsan mughiitsan marii-an marii’an naafi’an ghayra dharrin ‘aajilan ghayra aajil.

Artinya: “Ya Allah, berilah kami hujan yang merata, menyegarkan tubuh, dan menyuburkan tanaman, bermanfaat, tidak membahayakan. Kami mohon hujan secepatnya, tidak ditunda-tunda.”

Dalam suatu riwayat disebutkan, “Sekelompok orang datang sambil menangis kepada Rasulullah SAW. Mereka meminta beliau berkenan berdoa agar turun hujan. Lalu, Rasulullah SAW memanjatkan doa ini dan hujan pun turun.” (HR Abu Dawud no. 1169).

2. Doa saat Turun Hujan

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ صَيِّبًا نَافِعًا

Arab-latin: Allahummaj’alhu shayyiban naafi’an.

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah hujan ini bermanfaat.”

Bacaan doa saat turun hujan dipanjatkan oleh Rasulullah SAW ketika beliau menyingkap bajunya saat hujan hingga rintik-rintiknya membasahi sebagian tubuhnya. Hal itu dilakukan karena Nabi SAW hendak menunjukkan bahwa hujan termasuk rahmat yang diciptakan Allah SWT.

3. Doa Setelah Hujan Turun

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ

Arab-latin: Muthirnaa bi-fadhlillaahi wa rahmatih.

Artinya: “Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah.”

Berdasarkan riwayat hadits, Rasulullah SAW pernah berkata, “Barangsiapa yang mengatakan, ‘Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah’, maka orang itu beriman kepada Allah dan tidak beriman terhadap bintang-bintang.

Sebaliknya orang yang berkata, ‘Kita diberi hujan oleh bintang ini atau bintang itu, maka orang tersebut kafir terhadap-Ku (Allah) dan beriman kepada bintang-bintang.” (HR Muslim no. 71).

4. Doa agar Hujan Berhenti

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الأَكَامِ وَالظِرَابِ وَبُطُوْنِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Arab-latin: Allaahumma hawaa laynaa wa laa ‘alaynaa. Allaahumma ‘alal-aakaami wazh-zhiraabi, wa buthuunil-awdiyati wa manaabitisy-syajar.

Artinya: “Ya Allah, hujanilah di sekitar kami, jangan kepada kami. Ya Allah, berilah hujan ke daratan tinggi, beberapa anak bukit dasar lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.”

Doa tersebut bersandar pada hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, ia menceritakan, “Ada sekelompok orang datang kepada Rasulullah SAW dan meminta agar beliau berdoa supaya hujan berhenti.

Rupanya hujan tersebut telah berlangsung selama satu minggu sehingga hewan ternak mereka terancam mati dan jalanan pun terputus. Rasulullah SAW lalu berdoa dengan doa ini dan hujan pun berhenti.” (HR Bukhari no. 1014).

Itulah doa saat turun hujan yang dipanjatkan Rasulullah SAW menurut sejumlah riwayat hadits. Umat muslim juga dapat mengamalkan bacaan doa tersebut saat turun hujan untuk mensyukuri nikmat dan rahmat Allah SWT.

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

5 Hadits yang Membahas tentang Ikhlas



Jakarta

Ikhlas berasal dari kata akhlasha-yukhlishu yang artinya membersihkan dan memurnikan sesuatu. Segala sesuatu yang dilakukan, terutama dalam hal ibadah harus dilandasi dengan rasa ikhlas.

Menukil dari Ensiklopedia Akhlak Rasulullah 1 susunan Syaikh Mahmud Al-Mishri, definisi ikhlas juga dipaparkan oleh sejumlah ulama. Abu Utsman Al-Maghribi menyebut ikhlas dilakukan dengan melupakan perhatian makhluk sehingga hanya kepada Allah seluruh perhatian tercurah.

Adapun, Al-Kafawi mendefinisikan ikhlas sebagai meniatkan ibadah sehingga hanya Allah semata yang disembah. Secara umum, ikhlas tergolong ke dalam amalan hati yang sulit dilakukan namun kerap dianggap mudah.


Bahkan, dalam sebuah hadits dari Umar bin Khattab, Rasulullah SAW bersabda mengenai perbuatan yang dilandaskan dengan rasa ikhlas tidak akan sia-sia.

“Seluruh amal perbuatan tergantung pada niat. Setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan. Siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa saja yang hijrahnya karena dunia yang akan diperoleh atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya hanya memperoleh apa yang diniatkan,” (HR Bukhari dan Muslim)

Selain hadits di atas, masih ada beberapa hadits lainya mengenai ikhlas. Simak bahasannya berikut ini.

5 Hadits tentang Ikhlas

Mengutip dari buku Ikhlas, Kunci Diterimanya Ibadah terbitan Akhbar Media Eka Sarana, berikut sejumlah hadits yang membahas tentang keikhlasan.

1. Allah Menilai Keikhlasan Hati

“Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu,” (HR Muslim)

2. Analogi Amal yang Dilandasi dengan Ikhlas

“Sesungguhnya amalan itu seperti bejana. Jika bagian bawahnya baik maka baik pula bagian atasnya. Jika bagian bawahnya rusak, bagian atasnya pun rusak,” (HR Ibnu Majah)

Dalam hadits ini, Rasulullah SAW menganalogikan amal yang dilandasi dengan ikhlas dalam hati seperti bejana.

3. Ikhlas karena Allah

“Barangsiapa yang ikhlas karena Allah selama 40 hari, niscaya akan muncul mata air hikmah pada lisannya,” (HR Abu Nu’aim)

4. Allah Menolong Orang-orang yang Ikhlas

“Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan orang-orang yang lemah dengan do’a, shalat dan keikhlasan mereka,” (HR An Nasa’i)

5. Tidak Diterimanya Amal Selain yang Dilakukan dengan Ikhlas

“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal selain apa yang dilakukan secara ikhlas dan mengharap ridha-Nya,” (HR An Nasa’i)

3 Derajat Keikhlasan

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah melalui Madarijus Salikin menyebut tiga derajat keikhlasan seorang manusia, antara lain ialah:

1. Tidak melihat amal sebagai amal, tidak mencari imbalan dari amal, dan tidak puas terhadap amal

Terdapat 3 penghalang yang dilakukan seseorang dari amalnya. Pertama, pandangan dan perhatiannya. Kedua, keinginan atas imbalan dari amalnya. Ketiga, puas, dan senang kepadanya. Padahal semua kebaikan yang ada dalam diri seorang hamba semata atas karunia Allah, pemberian, kebaikan, dan nikmat-Nya.

2. Malu terhadap amal sambil tetap berusaha untuk membenahinya, memelihara cahaya taufik yang dipancarkan Allah

Seorang muslim akan merasa malu kepada Allah karena merasa amalnya belum layak. Namun, amal itu tetap diupayakan. Derajat ini mencakup 5 perkara. Antara lain amal, berusaha dalam amal, rasa malu kepada Allah, memelihara kesaksian, melihat amal sebagai pemberian, dan karunia Allah.

3. Memurnikan amal, membiarkan amal berlalu berdasarkan ilmu, tunduk kepada hukum kehendak Allah dan membebaskannya dari sentuhan rupa

Memurnikan amal dimaknai sebagai membiarkan amal itu berlalu berdasarkan ilmu dan ketundukan terhadap kehendak Allah SWT. Sementara itu, membebaskan dari sentuhan rupa artinya membebaskan amal dan ubudiyah dari selain Dia.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Laa Ilaha Illallah, Sebaik-baik Doa di Hari Arafah



Jakarta

Umat Islam dianjurkan membaca doa hari Arafah. Dalam salah satu hadits dikatakan, sebaik-baiknya doa adalah doa yang dibaca pada hari Arafah dan doa tersebut diawali dengan lafaz Laa Ilaaha Illallah.

Hari Arafah memiliki keutamaan sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Kitab Zadul Ma’ad. Dikatakan, hari Arafah adalah hari yang padanya terdapat suatu waktu yang mustajab untuk berdoa.

Ibnu Qayyim menjelaskan, mayoritas pendapat menyebut waktu tersebut jatuh pada saat terakhir setelah salat Ashar. Pada waktu tersebut orang-orang yang wukuf sedang melaksanakan wukufnya yang diisi dengan doa dan tadharru’.


Dijelaskan pula bahwa sebaik-baik hari di sisi Allah SWT adalah hari raya kurban, dan itu adalah hari haji akbar sebagaimana tercantum dalam Kitab As-Sunan dari Rasulullah SAW beliau bersabda,

أَفْضَلُ الأَيَّمِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمِ الْقَرِ

Artinya: “Seutama-utama hari di sisi Allah SWT adalah hari Raya Kurban, kemudian hari Al-Qarr (setelah hari raya kurban).” (HR Ahmad, Abu Dawud, daan bnu Khuzaimah)

Ada yang mengatakan, bahwa hari Arafah lebih utama daripadanya, dan pendapat ini dikenal di kalangan sahabat sahabat Imam Syafi’i. Hari Arafah disebut sebagai hari haji akbar, dan puasa yang dikerjakan padanya dapat menghapus kesalahan selama dua tahun.

Terdapat pula riwayat dari Abu Dawud melalui sanad yang paling shahih disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hari haji akbar itu adalah hari raya kurban.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah.)

Hari Arafah adalah pendahuluan bagi hari raya kurban, karena padanya berlangsung kegiatan wakaf, tadharru, taubat, peribadatan, dan permintaan maaf.

Bahkan ada hadits yang menjelaskan dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Abbas RA yang mengatakan Rasulullah SAW bersabda,

“Tiada ada suatu hari di mana amal saleh yang dilakukan padanya lebih disukai Allah SWT daripada sepuluh hari ini.” Para sahabat berkata, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” beliau menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak membawa hal itu sedikit pun.” (HR Ahmad, Ad-Dailami, dan Bukhari)

Bacaan Doa Hari Arafah

Mengutip Kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi terdapat sebuah hadits yang membahas mengenai bacaan doa dan dzikir ketika hari Arafah, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebaik-baik doa adalah doa yang dibacakan pada hari Arafah, dan sebaik-baik yang aku dan nabi-nabi terdahulu adalah bacaan:

لَا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Arab latin: Laa Ilaaha Illaallahu wahdahu laa syariika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir

Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dia memiliki kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia atas segala sesuatu Mahakuasa.”

Diriwayatkan pula dari Salim bin Abdullah bin Umar RA dia melihat pengemis yang meminta-minta pada hari Arafah, dia mengatakan: “Wahai orang yang lemah, di hari ini kau meminta-minta kepada selain Allah SWT.”

Oleh karena itu, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan dzikir dan doa serta melakukannya dengan penuh kesungguhan. Hari Arafah merupakan hari yang paling utama untuk berdoa di antara hari-hari lainnya dalam setahun.

Pada hari Arafah juga dikerjakan sebagian pekerjaan yang paling mulia yaitu menunaikan ibadah haji. Bukan hanya itu, pada hari Arafah juga menjadi tujuan utama bagi haji serta menjadi rujukannya.

Maka dari itu, umat Islam dianjurkan untuk menghabiskan waktunya untuk berdzikir dan berdoa, membaca Al-Qur’an, membaca berbagai macam doa, membaca berbagai macam dzikir, berdoa untuk diri sendiri, melakukan dzikir, dan masih banyak amalan sunnah lainnya. Demikian menurut penjelasan para ulama.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Doa Nabi Ismail ketika akan Disembelih



Jakarta

Saat Nabi Ismail AS mengetahui mengenai perintah Allah SWT untuk menyembelihnya, ia pasrah seraya berdoa. Inilah bacaan doa Nabi Ismail ketika akan disembelih.

Kisah penyembelihan Nabi Ismail AS yang kemudian menjadi dasar perintah untuk berkurban ini diceritakan dalam Kitab Al-Qashash al-Anbiyaa karya Ibnu Katsir.

Diceritakan, Allah SWT memberikan perintah kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putra pertamanya yaitu Nabi Ismail AS yang lahir ketika usia Nabi Ibrahim AS sudah mencapai 86 tahun.


Peristiwa penyembelihan Nabi Ismail AS itu merupakan ujian dari Allah SWT terhadap Nabi Ibrahim AS. Dengan sikap Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang penuh keyakinan kepada Allah SWT dan bertawakal kepada-Nya mereka melaksanakan perintah itu.

Perintah Allah SWT itu lalu dijawab oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam surah Ash-Shaffat ayat 102,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ

Artinys: “Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu? …” (QS As-Saffat: 102)

Setelah mendengar apa yang dikatakan ayahnya, Nabi Ismail AS pun menjawab,

قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ …

Artinya: “..Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (QS As-Saffat: 102)

Ibnu Katsir mengatakan, jawaban yang diberikan oleh Nabi Ismail AS merupakan wujud dari ketaatan seorang anak kepada orang tua dan Tuhannya.

Doa Nabi Ismail saat akan Disembelih

Perkataan Nabi Ismail AS dalam surah As-Saffat 102 tersebut juga berisi doa Nabi Ismail AS ketika akan disembelih. Berikut bacaannya,

سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

satajidunii in shaaa’allaahu minas saabiriin

Artinya: “Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

Posisi Nabi Ismail saat akan Disembelih

Diceritakan pula bahwa pada saat itu Nabi Ibrahim AS membaringkan Nabi Ismail AS seperti dibaringkannya seekor hewan sembelihan.

Di mana posisi pipi Nabi Ismail AS menempel ke tanah. Lalu, Nabi Ibrahim AS menyebut asma Allah SWT dengan bertakbir, bersaksi, dan menyerahkan sepenuhnya kematian putranya kepada Allah SWT.

As-Sad dan ulama lainnya berkata, “Ibrahim menggoreskan goloknya pada leher Ismail, tetapi tidak melukai sedikit pun.”

Ada juga yang berpendapat “Antara golok dan leher Ismail terdapat lempengan logam.” Wallahu a’lam.

Karena sikap tawakal dari Nabi Ismail AS dan Nabi Ibrahim AS akhirnya Allah SWT memberikan tebusan bagi Nabi Ismail AS.

Allah SWT mengganti Nabi Ismail AS dengan hewan sembelihan yang besar. Menurut pendapat mayoritas ulama yang masyhur bahwa pengganti Ismail itu adalah seekor kibasy (kambing besar) berwarna putih, bermata hitam, dan bertanduk besar.

Nabi Ibrahim AS melihat kambing itu telah terikat dengan tali berwarna cokelat di Gunung Tsabir.” Ats-Tsauri meriwayatkan dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Yaitu kambing yang digembalakan di surga selama empat puluh musim.” Sa’id bin Jubair berkata, “Kambing itu digembalakan di surga hingga Gunung Tsabir pun terpecah karena kehadirannya.”

Selain itu, Muhammad Yusuf Effendi dalam buku Ayah Juara 7 Hari Menjadi Ayah Qur’ani menjelaskan doa dari Nabi Ibrahim AS yang diajarkan kepada Nabi Ismail AS.

Nabi Ibrahim AS mengajarkan doa seusai mengerjakan segala sesuatu kebaikan agar amal saleh mereka diterima oleh Allah SWT.

Doa ini diabadikan dalam surah Al-Baqarah ayat 127,

وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ١٢٧

Artinya: “(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Doa Buka Puasa Idul Adha: Arab, Latin dan Terjemahnya



Jakarta

Doa buka puasa Idul Adha menjadi salah satu amalan yang dapat dikerjakan menjelang buka puasa Tarwiyah dan Arafah. Panjatkan doa sebelum menyatap hidangan berbuka puasa.

Dua puasa sunnah di bulan Zulhijjah ini dapat mendatangkan banyak keutamaan bagi setiap muslim yang menjalaninya. Puasa tarwiyah dikerjakan pada 8 Zulhijjah. Sementara puasa Arafah dilaksanakan pada 9 Zulhijah. Waktu ini bertepatan dengan waktu jamaah haji sedang wukuf di Arafah.

Diriwayatkan Abu Qatadah rahimahullah, Rasulullah bersabda,


صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

Artinya: “Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas” (HR Muslim).

Doa Buka Puasa Idul Adha

Mengutip buku Dahsyatnya 7 Puasa Wajib, Sunnah, dan Thibbun Nabawi oleh Maryam Kinanti N, berikut bacaaan doa berbuka puasa.

Doa buka puasa Tarwiyah dan Arafah sebenarnya tidak berbeda dengan puasa lainnya.

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Latin: Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa’ala rizqika afthartu. Birrahmatika yaa arhamar roohimin.

Artinya: Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka. Dengan rahmat-Mu wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Doa Buka Puasa Sesuai Sunnah

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

Bacaan latin: Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah

Artinya: “Rasa dahaga telah hilang, kerongkongan telah basah dan atas kehendak Allah pahala telah ditetapkan. Insya Allah,” (HR Abu Daud).

Dianjurkan juga untuk menyegerakan buka puasa jika waktunya telah tiba. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW,

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا ، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا ، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ ، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

Artinya: “Jika malam telah datang dari sini dan siang telah tertutup dari sini, serta matahari terbenam, itulah waktu berbuka bagi yang berpuasa,” (HR Bukhari).

Dilansir dari laman NU Online, Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha dalam Hasyiyah I’anatut-thalibin juz 2 halaman 279 menjelaskan bahwa waktu membaca doa buka puasa adalah setelah berbuka, bukan dibaca sebelum dan bukan pula saat berbuka. Penempatan waktu membaca doa berbuka puasa dilakukan setelah selesai berbuka puasa adalah dengan merujuk makna yang terkandung dalam doa tersebut.

Syekh Said bin Muhammad Ba’ali dalam Kitab Busyra al-Karim halaman 598 menjelaskan, disunnahkan (membaca doa buka puasa) ketika hendak berbuka tetapi (waktu) yang lebih utama adalah setelah berbuka dengan membaca doa: ‘Allahumma laka shumtu wa ala rizqika afthartu’.

(dvs/nwk)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Doa ketika Menerima Daging Kurban



Jakarta

Penting bagi umat Islam untuk berdoa ketika menerima sesuatu sebagai wujud syukur atas rezeki yang diterima dari Allah SWT. Seperti membaca doa ketika menerima daging kurban.

Ahmad Ahyar dan Ahmad Najibullah dalam buku Fikih menjelaskan mengenai pemanfaatan daging kurban. Daging kurban harus habis dibagikan kepada fakir miskin dan sebagian untuk dirinya sendiri (yang berkurban). Hal ini didasarkan dalam surah al-Hajj ayat 28,

لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ ٢٨


Artinya: “(Mereka berdatangan) supaya menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan497) atas rezeki yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berupa binatang ternak. Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lainnya) berilah makan orang yang sengsara lagi fakir.”

Lebih lanjut dijelaskan, penyembelih hewan kurban atau panitia kurban boleh menerima daging kurban, tetapi bukan sebagai upah menyembelih atau mengurus. Dalam salah satu riwayat diceritakan, Ali bin Abi Thalib RA berkata,

“Rasulullah SAW memerintahkan kepada saya agar mengurus unta kurban beliau dan supaya membagikan daging, kulit, dan barang-barang yang merupakan pakaian unta itu kepada orang-orang miskin dan saya tidak menerima upah dari sembelihan daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Wahbah az-Zuhaili dalam Kitab Fiqih Islam wa Adilathuhu Juz 4 menjelaskan mengenai pembagian sepertiga bagian bagi setiap pihak. Hal ini bersandar pada hadits Ibnu Abbas ketika menggambarkan sifat berkurban Rasulullah SAW yaitu,

“…beliau (Rasulullah SAW) menjadikan sepertiga bagian untuk dimakan keluarganya, sepertiga untuk diberikan kepada para tetangganya yang miskin, dan sepertiga untuk disedekahkan kepada peminta-minta.” (Diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Musa al-Ashfahni)

Doa Menerima Daging Kurban

Umumnya tidak ada penjelasan khusus mengenai doa menerima kurban yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Namun, para penerima kurban dapat membaca doa sebagai berikut,

اَللّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ وَاغْفِرْلَهُمْ وَارْحَمْهُمْ

Arab latin: Allaahumma baarik lahum fiima rozaqtahum waaghfirlahum warhamhum

Artinya: “Ya Allah, berilah berkah pada saudara-saudara ini dengan apa yang telah Engkau rezekikan, ampunilah dan kasihanilah mereka.”

Doa tersebut termuat dalam Shahih Muslim dari riwayat Abdullah bin Busr RA. Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Badr turut menukilnya dalam Kitab adz-Dzikru wa ad-Du`a` fi Dhau`il Kitab wa as-Sunnah. Rasulullah SAW membaca doa tersebut ketika menerima suguhan makanan.

Ada pula riwayat yang menyebut Rasulullah SAW membaca doa berikut,

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي وَاسْقِ مَنْ سَقَانِي

Arab latin: Allahumma ath’im man ath’amanii wasqi man saqaa-nii

Artinya: ‘Ya Allah, berilah makan orang yang memberiku makan, dan berilah minum orang yang memberiku minum.'” (Shahih Muslim)

Ahmad Zacky El-Syafa dalam buku Doa-doa Terbaik Sepanjang Masa turut menjelaskan mengenai salah satu doa yang memperoleh rezeki yang tidak terduga,

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي رَزَقَنِي هَذَا مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنْ وَلَا قُوَّةٍ، اللهُمَّ بارك فِيهِ

Arab latin: Alhamdulillaahilladzii razaqanii haadzaa min ghairi hauli minnii walaa quw- watin allaahumma baarik lii fiihi

Artinya: “Segala puji bagi Allah, Zat yang telah memberikan rezeki ini dengan tanpa mengeluarkan daya dan kekuatan. Ya Allah… berikanlah berkah dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepadaku itu.”

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Doa Menyembelih Hewan Kurban Lengkap dengan Tata Caranya



Jakarta

Doa menyembelih hewan kurban perlu diamalkan sebelum muslim melaksanakan prosesi kurban. Kurban sendiri dapat dilakukan setiap tahunnya dimulai pada tanggal 10 Zulhijah atau bertepatan dengan Hari Idul Adha.

Doa menyembelih hewan kurban Idul Adha adalah bagian dari sunnah sebelum menyembelih, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Hal ini dinukil dari salah satu hadis dari Aisyah RA,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ فَقَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ هَلُمِّي الْمُدْيَةَ ثُمَّ قَالَ اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَخَذَهَا وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ


Artinya: “Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk dibawakan dua ekor kambing kibas bertanduk yang kaki, perut, dan sekitar matanya berwarna hitam. Maka dibawakanlah kambing tersebut kepada beliau untuk dijadikan kurban. Beliau lalu berkata kepada Aisyah, ‘Wahai Aisyah, asahlah pisau,’

Nabi Muhammad SAW kemudian mengambil pisau tersebut dan kambing tersebut, beliau membaringkannya dan menyembelihnya sambil berkata, “Bismillah (dengan nama Allah). Ya Allah, terimalah (kurban ini) dari Muhammad, keluarganya, dan umatnya,” (HR Muslim).

Doa Menyembelih Hewan Kurban

Melalui Buku Fikih Kurban tulisan Ustaz Abu Abdil Aʼla Hari Ahadi, disebutkan bahwa sebelum menyembelih hewan kurban dapat didahului dengan membaca bismillah, membaca takbir, dan doa agar hewan kurbannya diterima oleh Allah SWT. Dikutip dari Syaikh Wahbah Al-Zuhaili dalam Kitab Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, berikut bacaan doa menyembelih hewan kurban.

وجهت وجهي لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِن صَلاتِي ونسكي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. بِسْمِ اللهِ الرّحمنِ الرَّحِيمِ. اللهم صل على سيدنا محمدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا محمد. الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد. اللهُم هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ اللهم تقبل مني مِنْ فَلَان كَمَا تَقَبلْتَ مِنْ إِبْرَاهِيمَ خَلِيْلكَ.

Artinya: “Aku menghadapkan wajahku (hatiku) kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan menyerahkan diri, dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan itu aku diperintahkan untuk tidak menyekutukanNya, dan aku termasuk golongan orang muslimin.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, hanya bagi Allah segala puji. Ya Allah, hewan ini adalah nikmat dari-Mu, dan melalui hewan ini pula mendekatkan diri kepada-Mu. Ya Allah, terimalah dariku/dari fulan (sebut nama orang yang berqurban), sebagaimana Engkau menerima dari Nabi Ibrahim, kekasih-Mu.”

Hukum mengucapkan basmalah sebelum menyembelih hewan kurban adalah wajib. Menurut Ustaz Abu Abdil Aʼla Hari Ahadi, kehalalan daging kurban dipengaruhi oleh bacaan basmalah sebelum daging disembelih sebagaimana disinggung dalam Al-Qur’an surah Al An’am ayat 121,

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

Artinya: “Janganlah kamu memakan sesuatu dari (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah. Perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan. Sesungguhnya setan benar-benar selalu membisiki kawan-kawannya agar mereka membantahmu. Jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu benar-benar musyrik.”

Imam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al Fatawa juga menyebutkan kewajiban membaca basmalah sebelum hewan disembelih. Hal ini pun, menurutnya, telah disetujui oleh mayoritas ulama.

Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban

1. Alat Sembelihan Tajam

Gunakanlah alat penyembelihan yang tajam, seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Diriwayatkan oleh Syaddad ibn Aus Radhiyallahu anhu Beliau bersabda,

“Allah memerintahkan untuk berbuat kebaikan dalam segala hal. Ketika kamu membunuh, maka lakukanlah dengan cara yang baik, dan ketika kamu menyembelih, maka lakukanlah dengan cara yang baik, serta pastikan pisau yang digunakan tajam, dan tenangkan hewan yang akan disembelih.” (HR Muslim)

Selanjutnya, lakukan penyembelihan dengan memotong tenggorokan dan dua urat nadinya yang ada di leher hewan kurban.

2. Hadap Kiblat

Menghadapkan hewan kurban ke arah kiblat. Hal ini sesuai dengan hadits yang berbunyi sebagai berikut, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi dengan ketulusan dan menyerahkan diri, dan aku bukanlah golongan musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku diperintahkan demikian, dan aku termasuk golongan orang Muslim. Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, ya Allah (kurban ini) adalah darimu, untuk-Mu, dan atas nama Muhammad dan umatnya.” (HR Abu Dawud)

Pemerintah menyampaikan hasil kesepakatan sidang isbat bahwa 1 Zulhijah 1444 H jatuh pada Selasa, 20 Juni 2023 dan Hari Idul Adha jatuh pada hari Kamis, 29 Juni 2023. Sementara, PP Muhammadiyah menetapkan Hari Idul Adha 2023 jatuh pada Rabu, 28 Juni 2023 besok.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Amalan dan Doa Spesial Idul Adha untuk Umat Muslim



Jakarta

Para ulama mengatakan bahwa disunnahkan untuk menghidupkan malam hari raya. Berikut ini bacaan amalan dan doa spesial Idul Adha untuk umat Islam.

Imam an-Nawawi dalam Kitab al-Adzkar menjelaskan mengenai sunnah untuk menghidupkan malam hari raya dengan berdzikir kepada Allah SWT, melakukan salat, dan lain sebagainya, melakukan amalan-amalan, dan taat kepada Allah SWT.

Hal ini sebagaimana berdasar pada hadits, “Barang siapa yang menghidupkan malam dua hari raya, maka hatinya tidak akan mati pada hari ketika hati-hati yang lain mati.” (HR Ibnu Majah dan Imam Syafi’i)


Imam an-Nawawi mengatakan hadits tersebut dhaif, namun ia menyebut dalam kitab keutamaan amal bahwasanya boleh bagi umat Islam menggunakan hadits tersebut.

Dalam redaksi riwayat lain disebutkan, “Barang siapa yang mendirikan salat pada malam dua hari raya karena mengharap ridha Allah SWT semata, maka hatinya tidak akan mati pada saat hati-hati yang lain mati.”

Selain itu, disunnahkan untuk membaca takbir pada malam dua hari raya. Disunnahkan pada Idul Fitri dimulai dari terbenamnya matahari, hingga imam salat Id bertakbiratul ihram.

Disunnahkan juga setelah salat Maktubah dan dalam segala keadaan. Bukan hanya itu, umat muslim juga dianjurkan untuk memperbanyak bacaan ketika dalam perkumpulan orang-orang.

Dianjurkan untuk mengumandangkan takbir ketika jalan, duduk, atau tiduran, baik dalam perjalanan ke masjid maupun ke tempat tidur.

Ketika Idul Adha tiba, maka dikumandangkan takbir dimulai dari setelah salat Subuh dari hari Arafah hingga masuk akhir hari Tasyrik, setelah salat Ashar bertakbir sejenak kemudian selesai.

Para ulama syafi’iyah mengatakan, berikut ini lafal takbir yang dapat dibaca saat malam Hari Raya Idul Adha,

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ

Arab latin: Allaahu akbar, allaahu akbar, allaahu akbar.

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar”

Lafaz tersebut dibaca tiga kali dan boleh diulang-ulang sesuai dengan apa yang dikehendaki. Imam syafi’i dan para ulama Syafi’iyah mengatakan, jika menghendaki tambahan maka dengan membaca,

الله أَكْبَرُ كَبيراً، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثيراً ، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لَا إِلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Arab latin: Allaahu akbar kabiiraw walhamdu lillaahi katsiiraa. Wa sub- haar laahi bukkrataw wa ashiilaa. Laa ilaaha illal laahu wa laa na’budu ilaa aahu mukhlishiina lahud diin. Walaw karihal kaafiruun. Laa ilaa- ha illa llahu wahdah shadaqa wa’dah. Wa nashara ‘abdahu wa hazamal ahzaaba wahdah. Laa ilaha illal laahu wal laahu akbar.

Artinya: “Allah Maha Besar, segala puji dengan pujian sebanyak-banyaknya hanya milik Allah. Maha Suci Allah pada waktu pagi dan sore hari. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak meng- hamba kecuali kepada Allah dengan memurnikan agama kepada-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Yang Maha Esa, janjinya pasti benar dan dia menolong hamba-Nya. Dan menghancurkan persekutuan orang-orang kafir sendirian Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Mahabesar.”

Mayoritas ulama Syafi’iyah menyebut boleh juga mengumandangkan takbir Idul Adha dengan bacaan berikut:

للهُ اكبَرْ, اللهُ اكبَرْ اللهُ اكبَرْ لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر, اللهُ اكبَرُوَِللهِ الحَمْد

Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar. laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahilhamd

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada tuhan melainkan Allah, dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.”

Selain takbiran, amalan dan doa spesial Idul Adha lainnya adalah menyembelih hewan kurban dan berdoa untuk itu. Merangkum arsip detikHikmah, berikut bacaan doa berkurban sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim.

بِسْمِ اَللَّهِ, اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ, وَمِنْ أُمّةِ مُحَمَّدٍ

Arab latin: Bismillah, Allahumma taqobbal min Muhammad wa aali Muhammad, wa min ummati Muhammad

Artinya: “Dengan nama Allah Ya Allah, terimalah dari Muhammad dan dari keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad.”

Apabila hendak menyembelih hewan kurban, maka dapat membaca doa sebagai berikut:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Arab latin: Rabbanā taqabbal minnā, innaka antas-samī’ul-‘alīm

Artinya: “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

(dvs/kri)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Doa Ziarah Kubur untuk Orang Tua, Lengkap dengan Adabnya


Jakarta

Umumnya, tradisi ziarah kubur sudah dilakukan oleh masyarakat Indonesia sejak dulu. Ziarah kubur dilaksanakan kepada kerabat, teman, keluarga, serta orang tua.

Dalam Islam, ziarah kubur termasuk ke dalam bentuk bakti seseorang kepada orang tua dengan mendoakan keduanya ketika ziarah. Hal ini bahkan dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dari Buraidah bin Al-Hashib, Rasulullah SAW bersabda:


“Aku (Rasulullah) dahulu pernah melarang kalian berziarah kubur, dan kini berziarahlah.” (HR Muslim, Ahmad, & Nasa’i)

Pada hadits lainnya, berikut bunyi sabda Nabi SAW,

فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَزُورَ فَلْيَزُرْ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا

Artinya: “Barang siapa ingin ziarah maka hendaklah dia ziarah, dan jangan kamu mengucapkan hujran.” (HR Muslim)

Maksud dari hujran ialah ucapan batil, seperti dijelaskan oleh Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr melalui Fiqih Doa dan Dzikir Jilid 2. Contohnya seperti memohon kepada ahli kubur, meminta bantuan dari mereka yang telah wafat, tawasul, dan hal semacamnya.

Ketika ziarah kubur ke makam orang tua, ada sejumlah doa yang bisa dipanjatkan. Apa saja? Berikut bacaannya yang dinukil dari Kitab Al-Adzkar susunan Imam Nawawi.

Doa Ziarah Kubur untuk Orang Tua

1. Doa Ziarah Kubur Pertama

السَّلَامُ عليْكم علَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بكُمْ لَلَاحِقُونَ، أسألُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُم العَافِيَةَ

Arab latin: Assalaamu ‘alaikum ‘ala ahlid diyaari minal mu’miniina wal muslimiin wa innaa in syaa Allahu bikum lalahiquun, asalu Allahu lanaa wa lakumul ‘aafiyah

Artinya: “Salam atas kamu wahai penghuni pemukiman yang terdiri dari kaum Mukminin dan kaum Muslimin, dan sungguh kami Insya Allah benar-benar akan menyusul kamu. Aku mohon kepada Allah untuk kami dan kamu afiat.” (HR Muslim, dari Buraidah)

2. Doa Ziarah Kubur Kedua

السَّلَامُ عليْكم علَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بكُمْ لَلَاحِقُونَ أنْتُمْ لَنَا فَرَطٌ، وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعٌ

Arab latin: Assalaamu ‘alaikum ‘ala ahlid diyaari minal mu’miniina wal muslimiin wa innaa in syaa Allahu bikum lalahiquun, antum lanaa farathun wa nahnu lakum taba’un

Artinya: “Salam atas kamu wahai penghuni pemukiman yang terdiri dari kaum Mukminin dan kaum Muslimin, dan sungguh kami Insya Allah benar-benar akan menyusul kamu. Kalian adalah pendahulu kami, dan kami akan mengikuti kalian.” (HR Nasa’i & Ibnu Majah)

3. Doa Ziarah Kubur Ketiga

السَّلَامُ علَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللَّهُ المُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بكُمْ لَلَاحِقُونَ

Arab latin: Assalaamu ‘ala ahlid diyaari minal mu’miniina wal muslimiin wa yarhamullahu almustaqdimiina minna wal musta’khiriina wa innaa in syaa Allahu bikum lalahiquun

Artinya: “Salam atas penghuni pemukiman yang terdiri dari orang-orang Mukminin dan Muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang terdahulu dari kita dan orang-orang belakangan. Sungguh kami insya Allah benar-benar akan menyusul kamu.” (HR Muslim, dari Aisyah)

4. Doa Ziarah Kubur untuk Orang Tua agar Diampuni Dosanya dan Dijauhkan dari Azab Kubur

Umat Islam juga bisa membaca doa ziarah kubur untuk orang tua dengan lafaz sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut ini:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، ونَوِّرْ لَهُ فِيهِ

Arab-latin: Allahummaghfìrlahu war hamhu wa ‘aafìhìì wa’fu anhu, wa akrìm nuzuulahu wawassì’ madholahu, waghsìlhu bìl maa’ì watssaljì walbaradì, wa naqqìhì, mìnaddzzunubì wal khathaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu mìnad danasì. Wabdìlhu daaran khaìran mìn daarìhì wa zaujan khaìran mìn zaujìhì. Wa adkhìlhul jannata wa aìdzhu mìn adzabìl qabrì wa mìn adzabìnnaarì wafsah lahu fì qabrìhì wa nawwìr lahu fìhì.

Artinya : “Ya Allah, berilah ampunan dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, isteri yang lebih baik dari isterinya. Masukkanlah dia ke dalam surga, berikanlah perlindungan kepadanya dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah dia di dalamnya.” (HR Muslim)

Adab Ziarah Kubur

Mengutip dari Buku Pintar 50 Adab susunan Arfiani, ada sejumlah adab yang perlu diperhatikan ketika melakukan ziarah kubur, yaitu:

1. Mengucap Salam

Mengucap salam kepada penghuni kuburan muslim disunnahkan. Adapun ucapan salam hendaknya menghadap wajah mayat lalu mengucapkan:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَة

Arab latin: Assalaamu ‘alaikum ‘ala ahlid diyaari minal mu’miniina wal muslimiin wa innaa in syaa Allahu bikum lahiquun, asalu Allahu lanaa wa lakumul ‘aafiyah

Artinya: “Keselamatan kepada penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin, kami InsyaAllah akan menyusul kalian semua. Aku memohon keselamatan kepada Allah untuk kami dan dan kalian semua.” (HR Muslim)

2. Membaca Surat Pendek

Membaca surat pendek menjadi sunnah Rasulullah SAW ketika ziarah kubur. Dengan membaca surat pendek, orang yang hadir akan mendapat pahala. Sementara bagi mayatnya diharapkan akan mendapat rahmat.

3. Mendoakan Mayat

Rasulullah SAW menziarahi kuburan sahabatnya untuk mereka dan memohon ampunan untuk mereka. Dibolehkan untuk mengangkat tangan ketika mendoakan mayat dan disarankan untuk menghadap kiblat.

Menangis saat melakukan ziarah kubur diperbolehkan karena Rasulullah SAW pun pernah menangis ketika melakukan ziarah kubur ibunya. Namun jangan sampai berlebihan.

4. Tidak Duduk dan Berjalan di Atas Kuburan

Tidak duduk dan berjalan di atas kuburan menjadi salah satu adab yang harus diperhatikan ketika ziarah kubur. Namun, diperbolehkan berjalan di samping atau di antara pusara-pusara kubur.

Sebagaimana dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim:

لأنْ يَجْلِسَ أحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ، فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

Artinya: “Sungguh jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga membakar bajunya dan menembus kulitnya, itu lebih baik daripada duduk di atas kubur.” (HR Muslim)

(aeb/kri)



Sumber : www.detik.com