Tag: indonesia

  • Wacana Pemilu Berbasis Blockchain Kembali Dibahas di Indonesia

    Teknologi blockchain kini sudah jauh lebih berkembang dan maju pertumbuhannya dibanding lima tahun lalu. Saat ini di Indonesia, blockchain sedang menjadi topik perbincangan karena memiliki berbagai manfaat, salah satunya yaitu pemilu berbasis blockchain.

    CEO Decentralized Bio Network (DAOGenics, Ltd), Pandu Sastrowardoyo, mengungkap blockchain saat ini sedang naik daun karena perbincangan banyak pihak, terutama setelah pembahasan tentang NFT sebagai salah satu produk dari teknologi baru tersebut.

    Lebih lanjut, Pandu menjelaskan secara umum, blockchain adalah buku besar digital yang memungkinkan orang untuk mentransfer data peer-to-peer, dengan mendistribusikan database ke beberapa titik tanpa memerlukan satu server.

    “Blockchain dapat didefinisikan sebagai teknologi yang memungkinkan pertukaran data terjadi tanpa menggunakan pihak ketiga dalam proses transaksi,” katanya dalam siaran pers yang diterima TokoNews.

    Pandu Sastrowardoyo, CEO Decentralized Bio Network (Debio.network). Foto: Dok. Angin.
    Pandu Sastrowardoyo, CEO Decentralized Bio Network (Debio.network). Foto: Dok. Angin.

    Baca juga: Apa Itu Web3: Konsep Baru Internet di Masa Depan

    Pemilu Berbasis Blockchain

    Pertukaran data yang transparan, aman dan cepat membuat teknologi blockchain dianggap cocok untuk membantu proses pemilu di Indonesia. Ide pemilu berbasis blockchain belum lama ini muncul ke publik, namun kembali ramai diperbincangkan di Indonesia.

    Dr. Andry Alamsyah, S.Si, M.Sc selaku anggota kehormatan Asosiasi Blockchain Indonesia (A-B-I) mengatakan digitalisasi proses pemilu ini secara khusus akan dibuat dalam bentuk e-Voting. Nantinya, jika sistem e-Voting resmi diterapkan pada pemilu nasional, maka akan menghilangkan kebutuhan akan tempat pemungutan suara (TPS) dan peran tim khusus pemilu. Skema e-voting berbasis blockchain juga diklaim memiliki banyak keuntungan.

    “Ide pemilu berbasis blockchain ini cukup bagus karena dapat memangkas biaya, di mana tidak perlu mencetak kertas untuk melakukan pemilu, apalagi di masyarakat saat ini sudah sangat familiar dengan smartphone. Sehingga pemilu berbasis blockchain ini bisa membuatnya lebih mudah bagi masyarakat,” kata Andry.

    “Sistem e-Voting ini juga bisa langsung diterapkan, apalagi sudah banyak yang mengetahui dan melihat ke arahnya, namun yang perlu diperhatikan adalah kesiapan teknik dan pengembangan berbasis blockchain. sistem pemilihan itu sendiri.”

    sistem e-Voting
    Ilustrasi sistem e-Voting.

    Baca juga: Persija Rilis Fan Token Kripto untuk Penggemarnya

    Kesenjangan Digital Jadi Hambatan

    Senada dengan Andy, Ir. Budi Rahardjo Msc., PhD sebagai praktisi IT dan anggota kehormatan A-B-I juga menyampaikan saat ini kebanyakan orang fokus pada aset kripto, sementara e-Voting adalah implementasi Blockchain yang sempurna di Indonesia.

    “Sayangnya, kesenjangan digital masih menjadi masalah di Indonesia, sehingga akan ada implementasi hybrid, berbasis online dan offline. Pemilihan berbasis blockchain ini sangat aman, karena blockchain menggunakan pencatatan multi server dan terdesentralisasi, sehingga semua pencatatan tidak hanya dilakukan pada satu server saja, tetapi semua server dalam jaringan blockchain. Jadi kalau salah satu server down, tidak akan mempengaruhi server lain atau data di dalamnya,” tutur Budi.

    Soal keamanan, menurut Budi, perekaman di blockchain itu dilakukan di semua server, bukan hanya satu server. Jika mau diretas, hacker harus meretas setidaknya 50% plus satu dari total jumlah server. Jadi, jika ada satu juta komputer di blockchain, peretas harus meretas setidaknya 500 ribu plus satu komputer untuk memanipulasi data.

    Asih Karnengsih, Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI).
    Asih Karnengsih, Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI).

    Baca juga: Potensi Aset Kripto dan NFT di Rumah Tangga hingga Industri Olahraga

    Bisakan Pemilu 2024 Pakai Sistem Blockchain?

    Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia, Asih Karnengsih, mengatakan belum memungkinkan untuk menerapkan sistem e-Voting dengan teknologi blockchain pada tahun 2024 mendatang. Menurutnya, Indonesia perlu menyiapkan pengamanan partisipasi pemilu jarak jauh yang baik, hingga kecepatan perekaman voting.

    “Untuk tahap awal, infrastruktur basis ‘pemilu blockchain’ ini tentunya akan memakan biaya. Kita harus kembali melihat kesiapan dari pihak penyelenggara dan juga kita sebagai pemilih, dari segi infrastruktur, diperlukan personel yang kompeten dalam membangun infrastruktur blockchain yang melibatkan banyak pemangku kepentingan, kemudian biaya juga harus diperhitungkan dalam pelaksanaannya. Pembentukan infrastruktur ini, yang pasti tidak murah,” jelas Asih.

    Lebih lanjut, Asih menjelaskan bahwa teknologi blockchain tidak hanya berfungsi dalam menciptakan sistem e-Voting, NFT, atau kripto yang saat ini sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat umum, namun blockchain memiliki banyak manfaat lain yang bisa dimaksimalkan di bidang dan berbagai sektor lainnya.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Alasan Indonesia Jadi Negara Pengadopsi Kripto Tertinggi di Dunia

    Sebuah riset terbaru dari Gemini, platform perdagangan aset kripto global menyatakan Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan kepemilikan aset kripto tertinggi di dunia. Masyarakat melihat kripto sebagai aset pelindung kekayaan terhadap inflasi di masa depan.

    Laporan bertajuk “2022 Global State of Crypto Report” ini menemukan bahwa 41 persen orang Indonesia, berusia antara 18-75 tahun dengan pendapatan lebih dari $ 14.000 (setara Rp 200 juta) per tahun, memiliki aset kripto. Dalam penelitian tersebut juga menemukan bahwa 61 persen responden Indonesia setuju dengan anggapan bahwa kripto adalah masa depan investasi dan layanan keuangan.

    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda, melihat ada beberapa faktor yang menyebabkan pertumbuhan industri aset kripto yang eksponensial dalam 2 tahun belakangan ini.

    “Secara umum, pandemi telah menggenjot agenda digitalisasi global, tidak terkecuali Indonesia. Dengan demikian, pandemi memang telah mendorong pertumbuhan pasar kripto Indonesia. Masyarakat kini lebih giat mencari informasi soal investasi, termasuk kripto sehingga menimbulkan ketertarikan untuk mendapatkan passive income,” kata Manda.

    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda
    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda

    Baca juga: 25% Milenial Berinvestasi di Crypto untuk Mendanai Masa Depannya

    Penetrasi Internet dan Smartphone Tinggi

    Selain itu, penetrasi pengguna internet yang masif juga turut andil dalam perkembangan adopsi aset kripto di Tanah Air. Menurut data We Are Social, ada 204,7 juta pengguna internet di Indonesia pada Januari 2022. Tingkat penetrasi internet Indonesia mencapai 73,7 persen dari total populasi pada awal tahun 2022.

    “Industri aset kripto akan terus tumbuh. Dalam waktu 2-3 tahun bisa mencapai 30 juta investor. Masih ada banyak peluang yang bisa dioptimalkan. Jumlah investor baru 12,4 juta bandingkan dengan total penduduk Indonesia ada 277 juta jiwa,” ungkapnya.

    Penetrasi pengguna smartphone juga memudahkan masyarkat dalam masuk ke industri investasi, seperti saham hingga kripto. Jumlah pengguna ponsel pintar mencapai 167 juta orang atau 89% dari total penduduk Indonesia. Hal ini membuat investasi kripto lebih bisa dijangkau semua kalangan.

    Harga Bitcoin Bisa Gagal Menjadi US$13 Ribu, Ini Syaratnya
    Illustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Riset: Indonesia Jadi Negara Pengadopsi Aset Kripto Tertinggi di Dunia

    Bonus Demografi di Indonesia

    Demografi Indonesia yang didominasi generasi muda. Jumlah penduduk Indonesia adalah 277,7 juta pada Januari 2022. Ada 39% didominasi gen Z dan milenial. Data Bappebti pada akhir 2021, saat ini ada 66% investor aset kripto di Indonesia didominasi oleh kedua generasi tersebut.
    “Investasi aset kripto terbukti bisa bersaing dengan instrumen investasi lainnya yang sudah ada lebih dahulu. Kripto bisa menghasilkan imbal hasil yang lebih baik, meski high risk and high return. Dukungan pemerintah yang membuat industri aset kripto legitimate dan berada dijalur yang benar,” pungkas Manda.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Indonesia Bisa Jadi Pusat Ekonomi Digital Dunia, Lewat Aset Kripto

    Pasar aset kripto dan turunannya dalam perdagangan berjangka komoditi memiliki potensi investasi yang besar di Indonesia. Industri aset kripto diharapkan bisa terus tumbuh dan mendorong perekonomian digital.

    Ketua MPR RI & Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Pertahanan & Keamanan KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo, mengakui perdagangan aset kripto di dalam negeri terus bertumbuh. Saat ini pasar kripto Indonesia dicatat sebagai yang terbesar di Asia Tenggara dan posisi 30 di level global.

    “Peluang penambangan kripto masih sangat besar. Terlebih, saat ini pertumbuhan kripto di dalam negeri terbilang masif dengan ditandai lonjakan jumlah investor dan gelembung nilai transaksi,” kata pria yang akrab disapa Bamsoet dalam keterangan resminya, Minggu (13/3).

    Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, menghadiri soft launching Tambang Digital Indonesia di Jakarta, Minggu (13/3/22).

    Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, menghadiri soft launching Tambang Digital Indonesia di Jakarta, Minggu (13/3/22).

    Aset Kripto Pendorong Ekonomi Digital di Indonesia

    Lebih lanjut, Bamsoet menjelaskan tingginya minat masyarakat pada pasar aset kripto di dalam negeri, serta pertumbuhannya masif bisa dijadikan momentum percepatan transformasi ekonomi digital.

    Seperti diketahui, ekonomi digital yang berkembang mencakup, mulai dari supply chain, digitalisasi komoditi, artificial intelligence, transportasi dan logistik digital, ekonomi Metaverse, hingga brain super interface intelligence.

    “Semua itu hendaknya dimulai dengan membangun ekosistem perdagangan baru, meliputi edukasi, mekanisme perdagangan yang lebih baik, penguatan perlindungan konsumen dan investor, pembentukan para profesi penunjang yang kapabel dan terpercaya, hingga perluasan potensi penerimaan pajak,” kata Ketua MPR RI dikutip Antara.

    Baca juga: Blockchain Bisa Ciptakan Peluang Ekonomi Digital Baru di RI

    Transaksi Aset Kripto Tinggi

    Bamsoet mengatakan, kemampuan pasar aset kripto menghimpun dana, jelas jauh lebih besar dibanding penghimpunan dana di pasar modal yang jumlahnya masih sekitar Rp363,3 triliun.

    Berdasarkan data Kementerian Perdagangan per Desember 2021, jumlah investor aset kripto di Indonesia sudah mencapai 11 juta orang.

    Angka tersebut menurut dia jauh lebih besar dibanding jumlah investor di pasar modal berbasis Single Investor Identification (SID) yang jumlahnya mencapai 7,48 juta investor.

    Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, menghadiri soft launching Tambang Digital Indonesia di Jakarta, Minggu (13/3/22).

    Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, menghadiri soft launching Tambang Digital Indonesia di Jakarta, Minggu (13/3/22).

    Baca juga: Kemendag Perketat Perdagangan Aset Kripto, Bikin Industri Sehat

    “Sepanjang tahun 2021, akumulasi nilai transaksi aset kripto juga terus tumbuh hingga mencapai Rp 859,45 triliun dengan nilai transaksi rata-rata per hari mencapai Rp 2,3 triliun,” ujarnya.

    Jumlah investor kripto akan terus tumbuh karena ekosistemnya terus berkembang, misalnya di dalam negeri, kripto dikelompokkan sebagai komoditi yang dapat diperdagangkan di bursa berjangka.

    Regulasi Aset Kripto Dukung Pertumbuhan

    Bamsoet meminta Bappebti Kementerian Perdagangan, OJK, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Polri dan Kejaksaan sebagai regulator dan penegakan hukum harus segera menyiapkan regulasi perundangan terkait ekonomi digital.

    “Dasar hukumnya antara lain UU No.10/2011 Tentang Perubahan Atas UU No. 32 Tahun 1997 Tentang Perdagangan Berjangka Komoditi serta Peraturan Menteri Perdagangan No.99 Tahun 2018 Tentang Kebijakan Umum Penyelenggaraan Perdagangan Berjangka Aset Kripto,” katanya.

    Menurut dia, perlu diantisipasi free rider di pasar yang memanfaatkan kekosongan hukum tersebut untuk menipu masyarakat, dengan cara memanipulasi skema money game atau ponzi yang dibuat mirip seperti kripto, robot trading atau sejenisnya.

    Baca juga: Kemenparekraf Percaya Kripto dan NFT Bisa Dorong Ekonomi Kreatif RI



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Riset: Indonesia Jadi Negara Pengadopsi Aset Kripto Tertinggi di Dunia

    Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan kepemilikan aset kripto tertinggi di dunia. Masyarakat melihat kripto sebagai perlindungan aset terhadap inflasi di masa depan.

    Sebuah riset terbaru yang dilakukan oleh Gemini, platform perdagangan aset kripto global, menemukan bahwa 41 persen orang Indonesia, berusia antara 18-75 tahun dengan pendapatan lebih dari $ 14.000 (setara Rp 200 juta) per tahun, memiliki aset kripto.

    Laporan yang bertajuk “2022 Global State of Crypto Report” ini menempatkan Indonesia dengan Brasil di peringkat teratas dari 20 negara yang disurvei oleh Gemini. Survei ini melibatkan sekitar 30.000 responden di 20 negara antara November 2021 dan Februari 2022 untuk memberikan gambaran tentang ekosistem kripto yang berkembang pesat.

    Masyarakat Indonesia Mulai Percaya Aset Kripto

    Dalam penelitian tersebut juga menemukan bahwa 61 persen responden Indonesia setuju dengan anggapan bahwa kripto adalah masa depan investasi dan layanan keuangan. Bandingkan dengan 23 persen di negara maju, seperti Amerika Serikat, Prancis dan Jerman.

    “Banyak investor di negara ini mungkin melihat kripto sebagai lindung nilai inflasi,” kata Plt. Direktur Pelaksana dan Direktur Perdagangan Gemini Asia Pasifik, Feroze Medora dikutip Jakarta Globe.

    Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan kepemilikan aset kripto tertinggi di dunia.
    Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan kepemilikan aset kripto tertinggi di dunia. Foto: Gemini “2022 Global State of Crypto Report”.

    “Sudah lama dipercaya gagasan bahwa Bitcoin beroperasi sebagai semacam “emas digital.” Jika nilai Bitcoin atau kripto lain yang dipilih meningkat seiring waktu, ini akan melindungi penurunan daya beli mata uang yang diakibatkan oleh hilangnya nilainya.”

    Baca juga: Asosiasi ICCA dan PKHAKI Hadir Dukung Perkembangan Aset Kripto di Indonesia

    Perempuan Mulai Dominasi Investasi Kripto di Indonesia

    Satu hal yang menarik dari temuan riset yang dilakukan Gemini adalah terdapat 51 persen pemilik aset kripto di Indonesia adalah perempuan. Kemudian, hanya dua negara lain dalam penelitian ini, Israel dan Nigeria, yang memiliki setidaknya jumlah pria dan perempuan yang sama dalam kepemilikan kripto.

    “Laporan ini telah menantang keyakinan bahwa aset kripto adalah “klub anak laki-laki,” kata Medora.

    “Pertumbuhan aplikasi platform perdagangan aset kripto telah membuat kripto lebih mudah diakses oleh semua orang, terlepas dari jenis kelaminnya. Selain itu, maraknya materi pendidikan kripto yang bisa diakses online, mungkin telah membantu mempersempit dan bahkan mengubah keseimbangan gender dalam hal investasi kripto,” ujarnya.

    Perempuan Indonesia mulai melek investasi aset kripto. Foto: Gemini "2022 Global State of Crypto Report".
    Perempuan Indonesia mulai melek investasi aset kripto. Foto: Gemini “2022 Global State of Crypto Report”.

    Baca juga: Siap! Transaksi Crypto di Indonesia Akan Dikenakan Pajak 0,1%

    Studi Gemini tidak sepenuhnya mewakili total populasi penduduk Indonesia dan negara yang menjadi lokasi penelitiannya. Dengan mempersempit objek penelitian dan menetapkan pendapatan tahunan sebesar Rp 200 juta, riset ini hanya mewakili mereka yang berpenghasilan tinggi di Indonesia.

    Namun, laporan tersebut memberikan pemahaman yang lebih baik tentang tingkat adopsi saat ini di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik yang lebih lua.

    “Masyarakat Indonesia sudah dikenal melek teknologi, sehingga mereka beradaptasi dengan kelas aset digital yang relatif baru ini,” pungkas Medora.

    Jumlah investor aset kripto di Indonesia meningkat dua kali lipat. Hingga Februari 2022 saja sudah ada lebih dari 12 juta investor, menurut data dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappepti). Sebagai perbandingan, jumlah investor pasar saham Indonesia hanya di sekitar 8 juta.

    Baca juga: Daftar Anak Muda yang Kaya Berkat Investasi Aset Kripto



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Aturan Pajak Kripto di Indonesia Resmi Terbit: Terlalu Berat Bagi Investor

    Pemerintah Indonesia akhirnya menerbitkan aturan pengenaan pajak atas transaksi perdagangan aset kripto. Namun, banyak analis menyebutkan beban pajak terlalu tinggi sehingga memberatkan bagi investor dalam negeri.

    Perdagangan aset kripto di Indonesia akan mulai dikenakan Pajak Pertambahan Nilai atau PPN dan Pajak Penghasilan atau PPh yang akan berlaku mulai 1 Mei 2022. Hal tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 68/PMK.03/2022 yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani pada 30 Maret 2022 dan diundangan pada hari yang sama.

    Dalam aturan tersebut, Sri Mulyani menyatakan bahwa aset kripto yang berkembang luas dan menjadi komoditas perdagangan merupakan objek PPN. Hal tersebut sejalan dengan Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8/1983 yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 7/2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP).

    “Bahwa untuk memberikan kepastian hukum, kesederhanaan, dan kemudahan administrasi pemungutan, penyetoran, dan pelaporan pajak atas perdagangan aset kripto, perlu mengatur ketentuan mengenai pajak pertambahan nilai dan pajak penghasilan atas transaksi perdagangan aset kripto,” tulis Sri Mulyani di aturan PMK) Nomor 68/PMK.03/2022.

    market kripto bitcoin
    Ilustrasi market kripto bitcoin.

    Baca juga: Riset: Indonesia Jadi Negara Pengadopsi Aset Kripto Tertinggi di Dunia

    Besaran Tarif Pajak Aset Kripto di Indonesia

    Pemerintah mengatur penyelenggara perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE) akan bertugas memungut, menyetor, dan melaporkan PPN terutang atas penyerahan aset kripto. PMSE merupakan penyelenggara kegiatan pelayanan untuk memfasilitasi transaksi aset kripto, termasuk perusahaan dompet elektronik (e-wallet).

    Berikut besaran tarif PPN dan PPh untuk transaksi kripto yang ditetapkan PMK 68/2022:

    1. 1 persen dari tarif PPN dikali dengan nilai transaksi aset kripto, jika penyelenggara PMSE merupakan pedagang fisik aset kripto.
    2. 2 persen dari tarif PPN dikali dengan nilai transaksi aset kripto, jika penyelenggara PMSE bukan pedagang fisik aset kripto.
    3. Pph 0,1% dari nilai transaksi aset kripto, tidak termasuk PPN dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), berlaku bagi penjual aset kripto, penyelenggara PMSE dan penambang aset kripto.
    4. Jika penyelenggara PMSE bukan pedagang fisik aset kripto, maka PPh pasal 22 bersifat final yang dipungut sebesar 0,2%.

    Pajak Aset Kripto Dorong Penerimaan Negara

    Aspakrindo (Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia) menyambut baik aturan pengenaan pajak aset kripto yang disahkan oleh Kemenkeu. Dengan aturan pajak ini akan industri aset kripto akan dipadang memiliki legitimasi yang kuat, seperti layaknya industri lainnya yang berkembang di Indonesia.

    “Pemberlakuan pajak terhadap aset kripto sangat memungkinkan dan memberi dampak positif pada industri yang sudah berjalan baik saat ini. Namun, pemberlakuan pajak tersebut masih perlu pembahasan yang lebih fokus dengan unsur hati-hatian dan mendalam,” kata Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda.

    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda
    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda

    Baca juga: Daftar Anak Muda yang Kaya Berkat Investasi Aset Kripto

    Lebih lanjut, Manda menjelaskan pengaturan pajak bisa menguntungkan semua pihak dari pemerintah hingga investor. Sebagaimana yang telah kita ketahui perdagangan aset kripto dalam negeri saat ini tumbuh begitu pesat dalam 2 tahun terakhir.

    “Industri aset kripto diestimasikan menghasilkan transaksi perdagangan bernilai setidaknya Rp 2,35 triliun per hari, atau Rp 859,4 triliun per tahun pada 2021. Hal ini menimbulkan potensi ekonomi, dan tentu saja, potensi penerimaan negara dari sektor perpajakan yang cukup signifikan,” ungkapnya.

    Pajak Kripto Terlalu Tinggi Beratkan Investor

    Manda melihat aturan pengenaan pajak aset kripto yang disahkan oleh Kemenkeu dapat memberatkan investor dalam negeri. Pasalnya beban pajak yang ditetapkan terlalu tinggi.

    Pengenaan pajak PPN dan Pph masing-masing 0,1%-0,2% dinilai terlalu tinggi untuk dibebankan pada industri aset kripto yang masih baru tumbuh di Indonesia. Dikhawatirkan potensi pertumbuhan ke depan akan berjalan lambat.

    “Investor tentu akan antusias, jika dalam pengaturan pajak ini menguntungkan semua pihak. Namun di sisi lain, jika penerapan pajak yang terlalu tinggi dan membebani investor dapat menyebabkan potensi terhambatnya perkembangan industri aset kripto sendiri,” jelasnya.

    Siap! Transaksi Crypto di Indonesia Akan Dikenakan Pajak 0,1%
    Ilustrasi pajak aset kripto.

    Bagi investor dalam negeri tentu dengan membayar pajak transaksi aset kripto bisa berkontribusi dalam pembangunan negara. Pajak memiliki manfaat untuk membiayai pengeluaran reproduktif yang berdampak langsung pada masyarakat.

    “Aset kripto termasuk komoditi di Indonesia, sehingga aturan pengenaan tarif PPN perlu dikaji ulang. Kemudian, perdagangan aset kripto di Indonesia terbilang masih baru,” tutur Manda.

    Jika tarif PPh Final atas aset kripto 0,1 persen, maka akan membebankan investor dalam negeri. Padahal dengan keringanan perpajakan akan menjadi alasan kuat investor untuk bertahan di exchange lokal.

    Baca juga: Peluncuran Bursa Kripto di Indonesia Resmi Mundur, Jadi Kapan?



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Adopsi Teknologi Blockchain dan Kripto Berkembang Baik di Indonesia

    Adopsi teknologi blockchain dan kripto berkembang kian baik di Indonesia, berdasarkan kajian terbaru Chainalysis belum lama ini. Apa saja faktor pendorongnya dan bagaimana potensi di masa depan?

    Asia Tengah dan Tenggara telah lama menjadi bagian dari wacana global tentang adopsi teknologi dan kripto. Belum lama ini Chainalysis mencatat, bahwa kawasan ini adalah salah satu pasar kripto yang tumbuh paling cepat. Awalnya, pertumbuhan itu dipimpin oleh negara-negara seperti Vietnam, India dan Pakistan. Namun data terkini, ada perubahan nyata yang menempatkan Indonesia dalam sorotan.

    Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan ekonomi terbesar kesepuluh di dunia dalam hal paritas daya beli, Indonesia menawarkan banyak peluang untuk pertumbuhan dan perkembangan teknologi blockchain dan kripto. Jumlah masyarakat kelas menengah pun bertambah, cerminan jutaan orang telah keluar dari kemiskinan di negara anggota G20 ini. Sementara itu, kendati pertumbuhan ekonomi terhambat oleh pandemi, pertumbuhan PDB Indonesia sudah berada di jalur yang tepat untuk pulih ke tingkat sebelum pandemi.

    Pertumbuhan Adopsi Kripto di Indonesia

    Indonesia memiliki basis pengguna kripto terbesar ketujuh di dunia, yang menjadikannya salah satu pemimpin global dalam kepemilikan dan adopsi kripto. Berdasarkan data Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), industri blockchain dan kripto telah berkembang menjadi lebih dari 1,5 juta pedagang kripto pada tahun 2020, mencerminkan tingkat pertumbuhan yang mengejutkan sebesar 2.263 persen sejak 2015.

    Tahun lalu, Kementerian Perdagangan Indonesia melaporkan bahwa Indonesia memiliki lebih banyak pedagang kripto daripada investor di pasar saham ritel, dengan sekitar 6,5 juta investor kripto versus 5,37 juta investor ritel yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

    Penyebabnya tentu saja, karena daya pikat peluang investasi yang lebih menggiurkan daripada kelas aset konvensional, hingga munculnya potensi lindung nilai terhadap inflasi.

    Baca juga: Tokocrypto Market Signal 11 Mei 2022: Investor Panik, Tren Bearish Lanjut

    Blockchain dan Kripto sebagai Sistem Keuangan Alternatif

    Tingkat adopsi kripto yang tinggi dapat, setidaknya sebagian, dikaitkan dengan ancaman kenaikan inflasi, yang memaksa investor Indonesia untuk beralih ke kripto sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian.

    Ketika Indonesia mencatat tingkat inflasi tertinggi dalam hampir dua tahun, mereka bersiap untuk kenaikan lebih lanjut, buntut belanja besar masyarakat ketika bulan Ramadhan dan krisis energi global. Maka, tidak mengherankan jika orang Indonesia mencari solusi keuangan alternatif untuk mempertahankan nilai tabungan mereka, lewat kripto ini, walaupun mengandung risiko cukup tinggi.

    Kondisi ekonomi yang kurang kondusif juga mendorong investor lokal untuk mencari peluang investasi tambahan. Kelas aset tradisional seperti saham belum memberikan imbal yang menarik dalam beberapa tahun terakhir, dengan indeks IDX80 turun sekitar 3persen  selama lima tahun terakhir.

    Sebagai gambaran, pasar saham Vietnam tumbuh sekitar 105 persen, sementara Indeks Straits Times Singapura naik 2,7 persen pada periode yang sama.

    Akibatnya, investor Indonesia sekarang dapat melihat kripto atau turunannya, seperti non-fungible token (NFT), sebagai pilihan investasi yang lebih menarik daripada kelas aset yang lebih tradisional.

    Selebritas Ikut Ramaikan Panggung Kripto

    Sementara faktor ekonomi mungkin telah membuat kripto lebih menarik bagi pengadopsi awal, selebritas dan dan sejumlah influencer Indonesia faktor pemercepat lainnya sejak tahun 2021. Lihatlah ada seperti Joe Taslim dan supermodel seperti Jessica Iskandar, masing-masing sebagai duta merek untuk crypto exchange di Indonesia dan proyek NFT.

    Bahkan sejumlah selebritas lainnya langsung “turun gunung” menggarap proyek kripto mereka sendiri. Salah satu yang kontroversial adalah token ASIX besutan musisi senior, Anang Hermansyah. Tak sedikit publik menilainya tidak serius menggarap proyek itu, karena salah satu game mereka dianggap tidak memuaskan sebagai use case yang baik untuk token.

    Pendekatan Peraturan yang Bijaksana dan Beban Pajak

    Saya menilai Indonesia cukup baik dalam merancang dan menerbitkan peraturan yang mendukung teknologi blockchain dan kripto, yang memungkinkan masyarakat lokal mendapatkan manfaat dan rasa aman dari inovasi terbaru, sekaligus melindungi mereka dari potensi risiko, seperti proyek kripto fraud.

    Misalnya, kripto memang ilegal sebagai alat tukar di Indonesia, tetapi pemerintah mengizinkannya untuk diperdagangkan sebagai komoditas. Apalagi, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) memiliki pedoman khusus yang harus dipenuhi oleh aset kripto yang diperdagangkan di Indonesia, termasuk proses penilaian resmi.

    Pajak kripto (PPN dan PPh) yang berlaku sejak 1 Mei 2022 lalu juga tak kalah jadi sorotan para trader dan investor kripto. Pasalnya, pajak itu dinilai cukup membebani trader kripto harian, ditambahkan biaya trading yang sebenarnya cukup tinggi dibandingkan dengan crypto exchange popular di luar negeri.

    Sejumlah pengelola layanan kripto di Indonesia juga berkali-kali mengumandangkan keberatan mereka, karena berpotensi hijrahnya trader ke layanan lain di luar negeri yang tidak membebankan pajak. Namun, di sisi lain itu menjadi “penegasan” soal legalitas kripto sebagai kelas aset baru yang menarik oleh negara.

    Baca juga: Do Kwon UST Dalang di Balik Proyek Stablecoin Gagal “Basis Cash”, Kata Mantan Karyawan Terraform Labs

    Saujana Kripto di Indonesia

    Pertumbuhan komunitas kripto Indonesia didorong oleh banyak “pemain”, termasuk crypto exchange yang berfungsi untuk memenuhi permintaan pengguna lokal yang terus meningkat. Sebagai salah satu bursa aset digital terkemuka di Asia Tenggara, Huobi Global memandang Indonesia sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat dan optimis dengan potensi masa depannya.

    Patut dicatat bahwa populasi crypto-savvy Indonesia hanya terdiri dari sekitar 2,7 persen dari total populasi, 272 juta. Anda bisa membayangkan sendiri potensi luar biasa yang belum dimanfaatkan di Indonesia dalam hal adopsi dan pertumbuhan kripto.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Daftar Aset Kripto yang Paling Banyak Dipegang Orang Indonesia

    Sepanjang 2021, investor kripto di Indonesia meraup keuntungan yang direalisasikan sebesar $ 731 juta atau setara Rp 10 triliun. Secara global, investor kripto di seluruh dunia sukses dapat cuan sebesar $ 162,7 miliar, meningkat tajam dibandingkan tahun 2020 hanya $ 32,5 miliar.

    Dalam laporan yang disampaikan oleh Chainalysis bertajuk “2021 Chainalysis Global Crypto Adoption Index“, Indonesia menempati peringkat 44 dari 50 negara yang dirisetnya dalam perolehan keuntungan investasi kripto paling besar sepanjang tahn 2021 lalu. Posisi Indonesia paling bawah dibanding negara di Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia, Thailand dan Singapura.

    Laporan Chainalysis juga mengungkap aset kripto yang paling banyak dipegang oleh investor di Indonesia. Disebutkan token yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah Bitcoin, Ethereum, dan koin/token lainnya. Namun tidak dijelaskan secara rinci berapa persen jumlah penggunaan ketiga token tersebut.

    Sementara itu, data lainnya yang dipaparkan Finder mengungkap dari 2.502 pengguna internet di Indonesia yang memiliki kripto paling banyak menjawab memiliki Bitcoin (36,7%), Dogecoin (29,4%), Ethereum (89,1%), Solana (28%) dan Ripple (24%).

    jenis altcoin yang menarik perhatian
    Ilustrasi aset kripto.

    Baca juga: Riset Ungkap Cuan Investor Aset Kripto di Indonesia Selama 2021, Berapa?

    Bitcoin dan Ethereum Primadona

    Menurut Chainalysis, secara umum sepanjang 2021, Ethereum menjadi raja mengungguli Bitcoin dalam total keuntungan yang direalisasikan secara global. Ethereum meraih $ 76,3 miliar, sementara Bitcoin $ 74,7 miliar.

    Hal tersebut mencerminkan peningkatan permintaan Ethereum akibat dari kenaikan perkembangan DeFi di tahun 2021. Kenaikan ini dipicu karena sebagian besar protokol DeFi dibangun di atas blockchain Ethereum dan menggunakan Ethereum sebagai mata uang utama mereka.

    Meski, kenaikan Ethereum ini terjadi di sebagian besar negara, namun ada beberapa pengecualian. Misalnya di Jepang, Bitcoin mendapatkan keuntungan lebih tinggi sekitar $ 4 miliar, dibandingkan dengan Ethereum di angka $ 790 juta.

    Dalam kesimpulannya, Chainalysis menyatakan masih ada risiko yang harus diatasi oleh pelaku industri kripto. Data tahun 2021 tidak hanya menunjukkan bahwa harga aset kripto tumbuh, tetapi juga menunjukkan bahwa aset digital tersebut menjadi sumber peluang ekonomi bagi pengguna di pasar negara berkembang, seperti Indonesia.

    Ilustrasi aset kripto, Bitcoin dan Ethereum.
    Ilustrasi aset kripto, Bitcoin dan Ethereum. Foto: Pixabay.

    Baca juga: Ahli Prediksi BTC dan ETH akan Tembus Level Tertinggi di Tahun 2022

    Survei: Kepemilikan Kripto di Indonesia Turun

    Laporan “Finder Cryptocurrency Adoption Index” untuk April 2022 ini juga menemukan tingkat kepemilikan kripto di Indonesia adalah 18,7%, di atas Ghana (18,3%) dan Hong Kong (18,1%). Namun, angka ini lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 14,6%.

    Di sisi lain, sebenarnya kepemilikan kripto telah surut di Indonesia, dengan 16,1% responden mengatakan mereka memiliki kripto pada November 2021, 22,4% pada 22 Januari dan sekarang 18,7% mengatakan hal yang sama dalam laporan April.

    Dari laporan Finder yang terbaru ini menemukan kepemilikan kripto di Indonesia, 62,3% adalah pria dan 37,7% adalah perempuan. Artinya pria kira-kira 1,7 kali lebih mungkin memiliki kripto daripada perempuan. Ada kesenjangan yang lebar dalam adopsi kripto antara pria dan perempuan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Riset Ungkap Cuan Investor Aset Kripto di Indonesia Selama 2021

    Indonesia menjadi salah satu dari banyak negara yang merasakan gelombang pertumbuhan aset kripto selama tahun 2021 lalu. Aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum mampu membangun momentum positif yang diperoleh pada akhir tahun 2020 dan mencapai nilai tertinggi baru sepanjang masa pada tahun 2021.

    Berdasarkan data Chainalysis, Indonesia masuk dalam daftar 50 negara teratas yang memperoleh keuntungan yang besar dari aktivitas investasi aset kripto yang direalisasikan. Riset tersebut mengungkap sepanjang 2021, investor kripto dari Indonesia total meraup keuntungan hampir $ 731 juta (setara Rp 10 triliun) selama tahun 2021.

    Total keuntungan investor kripto di Indonesia masuk urutan ke-44 dari 50 negara. Indonesia masih kalah dari Malaysia ($ 811 juta), Thailand ($ 1,1 miliar), Filipina ($ 1,3 miliar) dan Singapura ($ 1,7 miliar). Namun, Indonesia menang dari Denmark ($ 690 juta), Uni Emirat Arab ($ 642 juta) dan Yunani ($ 619 juta).

    Daftar 50 negara yang untung dari investasi aset kripto.
    Daftar 50 negara yang untung dari investasi aset kripto. Foto: Dok. Chainalysis

    Baca juga: Riset: Indonesia Jadi Negara Pengadopsi Aset Kripto Tertinggi di Dunia

    Aset Kripto yang Bikin Untung Investor di Indonesia

    Dalam riset yang sama, terungkap juga aset kripto yang banyak memberi keuntungan bagi investor di Indonesia. Faktanya, Bitcoin, Ethereum dan koin/token lainnya menjadi aset kripto yang paling banyak bawa untung untuk investor.

    Menurut Chainalysis, yang merupakan perusahaan analis blockchain, menjelaskan secara keseluruhan, investor di seluruh dunia meraih total keuntungan sebesar $ 162,7 miliar pada tahun 2021, dibandingkan dengan hanya $ 32,5 miliar pada tahun 2020.

    Chanalysis menggunakan metode pengukuran aliran transaksi level makro on-chain dari semua aset kripto yang dilacak ke setiap bisnis mata uang kripto. Kemudian, mereka memperkirakan total, keuntungan kolektif yang dibuat pada setiap aset dengan mengukur perbedaan antara nilai dolar AS dari semua penarikan aset dan nilai semua simpanan aset.

    Tim riset kemudian mendistribusikan keuntungan atau kerugian tersebut berdasarkan negara berdasarkan pangsa lalu lintas web yang dicatat setiap negara di situs web masing-masing bursa atau exchange.

    Ilustrasi market kripto di Indonesia.
    Ilustrasi market kripto di Indonesia.

    Baca juga: Alasan Indonesia Jadi Negara Pengadopsi Kripto Tertinggi di Dunia

    Amerika Serikat Paling Untung dari Investasi Kripto

    Dalam 50 negara teratas, Amerika Serikat yang dapat keuntungan terbesar dari aset kripto, nilainya mencapai $ 46,9 miliar di sepanjang 2021 lalu. AS memang diibaratkan menjadi kiblat perkembangan dan pertumbuhan aset kripto.

    Faktanya, hampir seluruh bursa kripto global berbasis di AS, atau paling tidak menjadikan AS sebagai pasar terbesarnya. Peningkatan keuntungan atas kripto di AS pada tahun lalu juga mencetak rekor. Sepanjang 2020 lalu, keuntungan investor kripto di AS hanya mencapai $ 8,1 miliar atau melesat 476%.

    Negara berikutnya yang mengantongi keuntungan terbesar dari aset kripto setelah AS adalah Inggris. Keuntungan investor kripto di Inggris pada tahun 2021 lalu, mencapai $ 8,1 miliar.

    Lalu, di posisi ketiga adalah Jerman dengan keuntungan investor kriptonya sepanjang tahun 2021 sebesar $ 5,8 miliar. Baik Inggris dan Jerman sepanjang tahun lalu membukukan pertumbuhan keuntungan sebesar 431% dan 423%.

    Baca juga: Indonesia Bisa Jadi Pusat Ekonomi Digital Dunia, Lewat Aset Kripto



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Investor Aset Kripto di Indonesia Tembus Lebih dari 14 Juta Pelanggan

    Investasi aset kripto semakin diminati oleh masyarakat Indonesia. Walaupun saat ini market kripto global sedang mengalami tekanan di tengah tren bearish, industri kripto di dalam negeri perlahan terus tumbuh.

    Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan merilis laporan terbaru terkait jumlah investor aset kripto di Indonesia dan transaksi perdagangan yang dihimpun sampai bulan Mei 2022. Dalam laporan tersebut, Bappebti menyebutkan dari akhir Desember 2021 sampai Mei 2022, terdapat penambahan hampir 3 juta investor dari 11,2 juta sekarang mencapai 14,1 juta investor.

    Sementara, untuk jumlah transaksi perdagangan aset kripto di Indonesia, selama periode Januari hingga Mei 2022 sudah mencapai Rp 192 triliun. Jika dibandingkan dengan jumlah transaksi pada tahun 2021 dengan masa periode yang sama, terjadi penurunan. Pada Mei 2021, jumlah transaksi aset kripto mencapai Rp 370 triliun.

    VP Marketing Tokocrypto, Adytia Raflein. Foto: Tokocrypto.

    VP Marketing Tokocrypto, Adytia Raflein, mengatakan laporan pertumbuhan yang dikeluarkan oleh Bappebti memberikan bukti nyata bahwa industri aset kripto di Indonesia masih bergerak ke arah positif, meski dihantam situasi bear market. Meski pertumbuhan tidak terlalu memuaskan, jumlah investor aset kripto masih jauh lebih besar dibanding saham.

    “Pertumbuhan jumlah investor aset kripto masih bergerak ke arah positif di saat situasi market yang mengalami banyak tekanan. Dampak dari kondisi market terlihat dari jumlah transaksi perdagangan, namun hal ini sudah diantisipasi sebelumnya, sehingga belum memberikan efek serius untuk pertumbuhan bisnis industri kripto di Indonesia,” kata Adytia.

    Baca juga: Giatkan Literasi Aset Kripto, Tokocrypto Gelar TokoInvasion di Surabaya

    Bear Market Kripto Bisa Jadi Peluang

    Lebih lanjut, Adytia mengatakan industri kripto dalam negeri masih terus bergeliat. Hal ini dilihat dari masih adanya sejumlah project aset kripto dan NFT baru dari pelaku industri lokal yang rilis. Mereka percaya bahwa bear market bisa menjadi peluang yang baik untuk menunjukkan project mereka. 

    Kondisi bear market bisa menjadi seperti seleksi alam di dunia aset kripto dan blockchain, di mana project kripto dan NFT akan diuji untuk bertahan dan mencari peluang. Pasar akan memperlihatkan mana project yang punya fundamental yang baik dan tidak, sehingga membuka potensi untuk yang lebih besar di masa mendatang.

    Cara Cuan Ketika Bearish Market
    Cuan Ketika Bearish Market.

    Dari segi bisnis Tokocrypto sendiri masih mengalami pertumbuhan. Perusahaan berhasil mencatatkan pertumbuhan jumlah investor mencapai 2,7 juta investor per Mei 2022. Sementara, transaksi perdagangan atau weekly trading volume mencapai US$ 300-400 juta. 

    “Bisnis Tokocrypto masih mengalami pertumbuhan. Kami terus mengembangkan ekosistem blockchain, TokoVerse untuk meningkatkan revenue perusahaan. Sejauh ini kami juga masih mencari talenta-talenta terbaik untuk bergabung di perusahaan dan bersama untuk memajukan industri aset kripto dan blockchain di Indonesia,” jelas Adytia.

    Baca juga: Solana Luncurkan Smartphone Android, Langkah Baru Menuju Adopsi Global

    Tokocrypto Bangun Ekosistem Blockchain

    Ekosistem TokoVerse, yang terdiri dari TokoMall (NFT marketplace), TokoLabs (program akselerator startup blockchain), T-Hub (crypto hub), Kriptoversity (edutech), TKO (project kripto) dan lainnya bisa menjadi lini bisnis baru yang bisa memanfaatkan perkembangan blockchain, Web3, Metaverse, NFT, DeFi, GameFi dan lainnya. Revenue perusahaan tidak hanya bertumpu pada pendapatan dari exchange saja, sehingga sustainability tetap bertahan untuk jangka panjang.

    Ilustrasi ekosistem blockchain, TokoVerse by Tokocrypto.
    Ilustrasi ekosistem blockchain, TokoVerse by Tokocrypto.

    Untuk terus mendorong pertumbuhan, Tokocrypto juga fokus pada edukasi dan perlindungan investor. Tujuannya agar masyarakat bisa mendapatkan rasa trust dan confidence untuk masuk ke dalam industri aset kripto. Salah satu cara edukasi yang dijalankan oleh Tokocrypto adalah membuat program TokoInvasion yang digelar di Surabaya pada tanggal 23 hingga 26 Juni 2022.
    “Dalam industri investasi dan layanan keuangan, perihal trust menjadi hal utama. Maka dari itu, kita ingin menciptakan rasa trust di masyarakat dalam memandang aset kripto dan blockchain. Kita sejak lama fokus di edukasi dan literasi. Kita ingin menciptakan pertumbuhan industri yang sehat dan menekan investasi ilegal dan stigma negatif dari aset kripto,” pungkas Adytia.

    Baca juga: Mengulik Ekspektasi Bitcoin Bakal Lampaui US$ 100.000 di Tahun 2025



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Potensi Industri Aset Kripto di Indonesia saat Bear Market

    Market  kripto diketahui tengah dalam fase bearish, namun industri aset kripto di Indonesia masih memiliki potensi yang cukup besar. Bappebti mencatat hingga April 2022, transaksi untuk aset kripto sudah mencapai Rp 160 triliun. Meski, angka tersebut jauh lebih kecil dibanding tahun lalu, lantaran beberapa nilai aset kripto mengalami penurunan. 

    Sementara, jumlah investor aset kripto kini sudah mencapai 13,04 juta investor, masih jauh lebih besar dibandingkan investor saham. Sementara, jumlah pedagang aset kripto yang resmi terdaftar di Bappebti sudah mencapai 25 perusahaan, tumbuh dari 11 perusahaan di penghujung tahun 2021 lalu.

    “Kami menyambut baik pertumbuhan jumlah calon pedagang aset kripto yang terdaftar resmi di Indonesia. Jika dari market atau masyarakat melihat akan semakin banyak kompetitor, namun kami melihat ini sebagai bukti bahwa industri kripto di Indonesia terus tumbuh dan sehat, serta punya potensi untuk berkembang, karena menarik banyak pemain untuk masuk ke industri ini,” jelas VP Growth Tokocrypto, Cenmi Mulyanto.

    flag pattern chart
    Ilustrasi market aset kripto.

    Baca juga: Atur Strategi Investasi saat Market Aset Kripto Bearish

    Prospek ke depan, industri kripto masih menjanjikan dan akan terus tumbuh, bersamaan dengan adopsi teknologi blockchain yang semakin luas. Kripto nantinya tidak akan dilihat lagi sebagai instrumen investasi, namun sebagai backbone ekosistem yang bisa menyelimuti banyak sektor.

    Oleh karena itu, Tokocrypto tidak hanya fokus mengembangkan bisnis exchange yang sudah dimulai sejak 2017. Kami melebarkan lini bisnis dengan menciptakan ekosistem blockchain, TokoVerse, yang meliputi project kripto (TKO), NFT marketplace (TokoMall), program akselerator startup (TokoLabs), crypto hub (T-Hub), aplikasi edukasi (Kriptoversity) dan lainnya.

    “Investor bisa melihat industri aset kripto di Indonesia lebih luas lagi. Dampaknya akan besar tidak hanya sebagai instrumen investasi, tetapi membangun industri blockchain yang bisa meliputi banyak sektor. Kami terus menguatkan edukasi dan literasi aset kripto dan ekosistem blockchain kepada masyarakat di segala golongan usia. Diharapkan fokus utama kami ini, bisa membuahkan hasil yang baik dan ciptakan trust kepada masyarakat,” jelas Cenmi.

    Ilustrasi Tokocrypto
    Ilustrasi Tokocrypto.

    Baca juga: Kolaborasi Tokocrypto dan UKI Dirikan Pusat Inovasi dan Literasi Blockchain

    Regulasi Kripto di Indonesia

    Dalam laporan terbaru dari exchange global, Gemini, saat ini ada 41 persen dari total penduduk Indonesia yang memiliki aset kripto. 64 persen orang Indonesia juga percaya bahwa aset digital mampu melindungi nilai terhadap inflasi. Kemudian, ada lebih dari 60 persen orang Indonesia juga yang memercayai bahwa kripto adalah masa depan uang.

    Di samping itu, dukungan regulasi dari pemerintah juga mendorong pertumbuhan industri aset kripto. Sebagaimana diketahui aset kripto telah diregulasi dan dinyatakan sebagai komoditas yangdiperdagangkan secara sah dan legal yang diatur oleh Bappebti. Kemudian, ada aturan perpajakan PMK 68 dari Kementerian Keuangan menambah legitimasi kripto di Indonesia.

    “Tujuan utamanya adalah untuk memberikan keamanan hukum dan untuk melindungi kepentingan konsumen kripto Indonesia. Dibutuhkan dukungan seluruh ekosistem untuk membawa adopsi dan manfaat kripto dan blockchain kepada masyarakat,” pungkas Cenmi.

    Baca juga: Market Awal Pekan: Nilai Bitcoin Rebound Setelah Terpuruk Ditekan Inflasi



    Sumber : news.tokocrypto.com