Tag: islam

  • Faktor Indonesia



    Jakarta

    Seperti apapun Indonesia di mata AS, kultur dan moderasi Islam Indonesia menjadi factor yang diperhitungkan di dalam penataan dan pembinaan umat Islam di AS. Semenjak Indonesia merdeka yang dipelopori oleh tokoh prokmator Indonesia Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta, Indonesia di mata AS sangat luar biasa.

    Tidak ada Presiden AS setelah Indonesia merdeka yang tidak pernah menyebut Indonesia. AS sangat tahu keberadaan Islam di Indonesia sebagai salahsatu kekuatan bangsa Indonesia. Yang menarik di mata AS, sebagaimana diwakili oleh para ilmuan AS yang meneliti Indonesia, berkesimpulan bahwa antara Islam dan kebangsaan Indonesia berjalan parallel. Kenyataan ini sulit ditemukan di negara-negara lain.

    Puluhan bahkan ratusan islamolog dari AS meneliti dan menulis tentang Islam dan Indonesia, termasuk di antaranya Clifford Geertz, yang pernah di daulat sebagai mbahnya antropolog di AS, menakjubi keindahan konfigurasi antara Islam, adat istiadat, dan kearifan lokal di Indonesia. Di antara imam paling berpengaruh di AS juga berasal dari Indonsia.


    Di AS bagian selatan (Seatle) sampai ke bagian tengah (Huston) di situ ada Ust. Jobhan, orang Jawa barat alumni UIN Jakarta, ia memiliki reputasi keluar masuk penjara berdakwah. Di AS bagian utara (NY) sampai ke tengah (Texas) ada Ust Syamsi Ali, orang Makassar yang memiliki Pesantren pertama di AS). Indonesian Islamic Center di berbagai tempat di AS ramai dikunjungi orang karena dianggap lebih compatible dengan keseharian AS.

    Para Kepala Negara AS mengakui keberadaan Islam di Indonesia bukan sebagai penghalang untuk menjadi negara demokrasi. Bahkan Presiden Obama paling ekslusif memuji Indonesia sebagai sebuah negara model untuk persemaian antara agama dan nasionalisme. Indonesia disebutkan berkali-kali di dalam pidato Obama dalam pidatonya di Cairo University tgl. 4 Juni 2009. Selain karena negeri ini telah memberikan warna tersendiri di dalam memori kepribadiannya, dimana ia pernah hidup selama empat tahun di tengah perkampungan masyarakat muslim di Menteng Jakarta pusat, Indonesia juga menurutnya adalah negara muslim terbesar dan terluas penduduknya dan merupakan negara demokrasi ketiga terbesar di dunia. Ia mengagumi Indonesia karena pada satu sisi negara muslim terbesar tetapi pada sisi lain Indoneisia juga menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi dengan segala keunikan-keunikannya.

    Obama menegaskan: “Dan kami menyambut gembira semua pemerintahan terpilih dan damai – asalkan mereka memerintah dengan menghormati rakyatnya. Di manapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat merupakan standar tunggal untuk semua fihak yang memegang kekuasaan, Butir ini penting karena ada yang memperjuangkan demokrasi hanya pada saat mereka tidak berkuasa; setelah berkuasa, mereka secara keji memberangus hak-hak orang lain. Di manapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat merupakan standar tunggal untuk semua pihak yang memegang kekuasaan.”
    Kebebasan beragama dan kedudukan perempuan juga disinggung Obama. Ia berpendapat bahwa: “Islam memiliki sebuah tradisi toleransi yang patut dibanggakan. Kita menyaksikan hal ini dalam sejarah Andalusia dan Kordoba. Saya menyaksikan hal itu langsung ketika masih kanak-kanak di Indonesia, di mana warga Kristen yang saleh bebas beribadah di sebuah negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Itulah semangat yang kita butuhkan kini. Orang di setiap negara harus bebas memilih dan menjalankan keyakinan mereka berdasarkan keyakinan pikiran, hati dan jiwa. Toleransi ini penting agar agama bisa berkembang, tetapi juga ditantang dengan berbagai cara”.

    Dalam pendidikan, Obama menyatakan akan memperluas program pertukaran dan memperbanyak bea siswa, seperti yang mengantar ayah saya ke Amerika, sementara juga mendorong lebih banyak warga Amerika untuk belajar di tengah masyarakat Muslim. Dan kami akan menempatkan siswa-siswa Muslim yang menjanjikan di tempat-tempat magang di Amerika; melakukan investasi dalam pembelajaran online untuk guru-guru dan anak-anak di seluruh dunia; dan menciptakan jaringan online baru, sehingga seorang remaja di Kansas mampu berkomunikasi langsung dengan remaja di Kairo. Inilah saat dan momentum yang paling tepat Indonesia memainkan peran di Timur-Tengah dan AS. Keterlibatan Indonesia di dalam menyelesaikan berbagai persoalan global sangat diharapkan. Kebijakan AS tentang Islam di AS sering dijadikan Indonesia sebagai model untuk sebuah keharmonisan dan keselarasan.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Populasi Muslim di AS



    Jakarta

    Agak sulit memastikan berapa angka pasti populasi muslim di AS karena sensus di sana jarang melibatkan agama sebagai postulat yang harus diobyektifasi, karena agama dianggap wilayah yang sangat privat. Namun demikian, akhir-akhir ini sudah mulai ada kelompok yang berkepentingan untuk mengukur kekuatan dan potensi umat Islam di AS, termasuk data-data kuantitatif umat Islam di AS. Konon saat ini pemerintah AS sedang mempelajari kemungkinan adanya sensus populasi setiap penganut agama dan non beragama di AS. Tentu kita akan menunggu hasilnya.

    Ada sejumlah survei yang pernah berusaha menghitung populasi warga AS berdasarkan agama dan kepercayaan, tetapi sekali lagi ini bukan angka resmi dari pemerintah AS. Meskipun bukan angka resmi tetapi survey-survey di AS memiliki ketentuan tersendiri, yang tidak boleh asal-asalan karena bisa diprotes bahkan bisa diproses hukum kalau ternyata hasil surveinya salah lalu menimbulkan kegaduhan di dalam masyarakat.

    Sejumlah hasil survey menunjukkan pertumbuhan populasi muslim paling cepat perkembangannya di AS. Jika saat ini masih berkisar 4-7 juta jiwa, dan diperkirakan tahun 2050 akan melewati 8,1 juta jiwa. Sejumlah pengamat masa depan AS akan dipadati oleh populasi muslim, sebagaimana halnya di sejumlah negara di Eropa. Hillary Clinton sendiri mengakui bahwa “Islam is the fastest growing religion in the world”. Sangat masuk akan karena pola migrasi muslim saat ini sedang menyerbu negara-negara yang aman untuk berinvestasi, perfect untukmendidik anak, aman untuk meminta suaka politik, dan syurga bagi para expertist yang disukai di AS. Soal bagaimana menyeleksi agar yang masuk di AS bukan kelompok keras, apalagi teroris, AS sudah punya system proteksi yang berlapis. Itulah sebabnya dalam sebuah data survey menunjukkan, populasi muslim di AS tidak didominasi oleh para pencari kerja kasar seperti di Eropa tetapi di AS lebih didominasi oleh imigran muslim professional. Adalah wajar juga jika pendapatan perkapita komunitas muslim di AS setara dengan warga AS lainnya, karena mereka terdiri atas para pekerja professional.


    Data terakhir (bulan Maret 2009, 10 tahun lalu) dari State Department of US memerinci asal usul etnik muslim sbb: African American 25%, Arab 26%, Asia Selatan 34%, dan lainnya 15%. Dibandingkan dengan panganut agama lain: Christian 78.5%, dengan perincian Protestant 51.3%, Katolik Roma 23.9%, Mormon 1.7%, Kristen lainnya 1.6%, tidak berafiliasi (unaffiliated) 12.1%, tidak beragama tertentu 4%, lain-lain yang belum teridentifikasi agamanya (unspecified) 2.5%, Yahudi 1.7%, Budha 0.7%, dan Islam 0.6%.

    Data dari PEW Research Cebter mengungkapkan klasifikasi imigran muslim didominasi oleh negara-negara Asia Selatan seperti India, Pakistan, Banglades 35%, Timur Tengah dan Afrika 25%, Asia lainnya dan Pasifik 3%, Subsahara Afrika 9%, Iran 11%, Eropa 4%, Amerika 4%, dll kurang dari 1%. Dari asal usul kelahiran 23% jumlah populasi muslim lahir di Asia Pasifik, seperti Iran, Indonesia, dll, 25% dating dari Timur Tengah dan Afrika bagian utara, 9% datang dari sub-Sahara Afrika, 4% lahir di Eropa, dan 4% lahir dari sekitar Amerika. Imigran paling besar datang dari Pakistan (15%), Iran (11%), India (7%), Afganistan (6%), Iraq (5%), Kuwait (3%), Syiria (3%), dan Mesir (3%).

    Kecenderungan populasi muslim di AS dekade terakhir menunjukkan angka peningkatan yang sangat signifikan. Agak ironis, justru pertumbuhan populasi besar itu terjadi pasca peristiwa 11/9. Komunitas muslim di AS menurut survey terakhir bukan hanya populasinya bertambah secara kuantitatif tetapi berbanding lurus dengan perkembangan kualitas dan tingkat kesejahteraan mereka. Populasi muslim di AS didominasi oleh kaum profesional. Berbeda dengan populasi muslim di Eropa didominasi para pekerja upah rendah. Komunitas muslim di AS menunjukkan kecenderungan sebagai warga yang lebih taat hukum.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Benarkah AS Negara Sekularisme?



    Jakarta

    Secara populer negara sekularisme sering diartikan sebagai sebuah negara sekuler yang memisahkan urusan agama dan urusan negara dan berkeyakinan tidak boleh agama mengintervensi urusan-urusan publik Agama lebih merupakan moral and private directions yang tidak bisa diaktualkan menjadi tata nilai untuk dunia publik. Jika pengertian sekularisme seperti ini maka pertanyaan Pertanyaan mendasar yang bisa kita kemukakan ialah benarkah AS negara sekularisme?

    Jika membaca artikel-artikel terdahulu tentang karakter, filosofi dan bahkan realitas sosial masyarakat AS maka sesungguhnya AS tidak tepat disebut negara sekularisme. Lihat saja survey terakhir menunjukkan 92% masyarakat AS percaya terhadap Tuhan, tentu saja sesuai dengan keyakinan lebih dari 50 agama dan kepercayaan yang ada di AS. Sebagai sebuah keyakinan, sudah pasti mengindikasikan adanya kekuatan inspirasi dan implementasi di dalam perilaku dan tindakan, baik sebagai individu, keluarga, maupun di dalam bermasyarakat dan bernegara.

    Lihat pula ungkapan sumpah setia (the Pledge of Allegiance) AS tergores dalam di dalam kalimat: “I pledge allegiance to the Flag of the United States of America, and to the Republic for which it stands, one Nation under God, indivisible, with liberty and justice for all”. (“Saya berjanji setia kepada Bendera Amerika Serikat, dan kepada Republik tempatnya ditegakkan, satu Bangsa di bawah Tuhan, tak terpisahkan, dengan kebebasan dan keadilan untuk semua).


    Kata “under God” mulai ditambahkan pada tanggal 12 Februari 1948, yang pertama kali disarankan oleh Louis Albert Bowman, seorang pengacara dari Illinois dengan alasan menyesuaikan semangat Gettysburg Lincoln. Penambahan kata itu pernah menimbulkan kontroversi berkepanjangan di AS tetapi pada akhirnya dimenangkan oleh kelompok yang mendukung adanya keterlibatan Tuhan di dalam bernegara di AS. Ini artinya penggagas sekularisme AS tidak berhasil dan tetap kata Tuhan abadi di dalam ikrar sumpah setia itu. In God We Trust, artinya kita harus percaya kepada Tuhan dalam berbagai aspek kehidupan. Jika demikian adanya, maka tidak tepat disebut negeri AS sebagai negeri yang sekuler-Ateis.

    Pernahkah memegang atau melihat mata uang Dollar AS? Di salah satu halamannya terdapat sebuah tulisan “In God We Trust” yang bisa simaknai dengan “dengan Tuhan kami percaya”. Jika dipadankan dengan ajaran Islam kalimat itu mirip dengan simbol “Bismillah al-Rahman al-Rahim” (Dengan nama Allah Yang maha Pengasih lagi maha Penyayang”. Saya kira mata uang dunia paling religius di lihat dari segi ini ialah mata uang Dollar AS. Saya belum pernah menulis mata uang lain melibatkan nama Tuhan di dalam mata uang.

    Walau di negara-negara muslim sekalipun. Apa arti In God We Trust? Banyak makna dari kalimat ini, tergantung dari perspektif mana kita elihatnya. Kalangan pendeta dan pastor tentu menganggap itu sebagai bukti AS tidak bisa dikatakan negara sekuler yang tidak mengenal agama. Justru mata uang, sebuah lembaran paling sering digenggam seluruh rakyat AS adalah mata uang yang di dalamnya selalu ada peringatan bahwa perjalanan hidup ini tidak bisa dipisahkan dengan direction Tuhan. Ke manapun, di manapun, dan kapan pun hidup ini selalu harus berada di dalam bimbingan Tuhan. Uang sebagai kekuatan yang dapat mengadakan sesuatu yang tidak ada, menjatuhkan yang tegar, menegarkan yang loyo,
    menghancurkan yang sudah mapan dan membangun kembali sesuatu yang sudah hancur.

    Pernahkah kita memperhatikan secara cermat lambang AS? Di dalam garis-garis lingkaran bundar terdapat gambar elang membentangkan kedua sayapnya sambil menggigit sebuah pita bertuliskan E Pluribus Unum. Kata ini menjadi motto AS berasal dari bahasa Latin berarti; Bukan banyak, tetapi satu (out of many, one), Satu berasal dari yang banyak (one from many). Dari yang banyak menjadi satu”.

    Kalimat ini terinspirasi dari 10 fragmen Heraclitus: Dari yang satu terjadi segala sesuatu, dan segala sesuatu itu berasal dari yang satu (The one is made up of all things, and all things issue from the one). Kalimat tersebut mengingatkan kita kepada doktrin tauhid dalam Islam bahwa yang banyak ini barasal dan akan kembali kepada Yang Maha Esa. Belum lagi kita melihat realitas sosial masyarakat AS yang begitu tertib, bersih, aman, amanah, dan kesemuanya ini sesungguhnya menunjukkan AS tidak tepat disebut negara sekularisme.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kekompakan Sunny dan Syi’ah



    Jakarta

    Hal yang menarik untuk dikaji di AS ialah kekompakan antara Islam Sunny dan Islam Syi’ah, yang di negara-negara lain seringkali tidak harmonis. Di AS dalam banyak tempat kedua aliran ini amat kompak di dalam mengelola umatnya masing-masing di dalam satu masjid atau dalam satu center bersama.

    Di negara bagian Virginia, di sana ada Masjid yang disebut Masjid ADAMS Center, diklaim oleh pengurusnya sebagai Masjid terbesar kedua di AS, kami berdiskusi dengan pengurus Masjid yang dihadiri para imam di lingkungan kota Virginia dipimpin oleh Imam Muhammad Magid, Executive Director ADAMS Center sekaligus merangkap Imam Besar kota Virginia.

    Kami berdiskusi tentang peran umat Islam AS di dalam memperkenalkan Islam di AS, terutama pasca kejadian 9/11. Kami belajar banyak terhadap mereka dan mereka juga mengaku banyak belajar dari pengalaman kami di Indonesia. Kami sama-sama mengembangkan Islam moderat (tawassuthiyyah). Kami jiga mendengarkan peran ADAMS Centerdi dalam mendekati pemerintah dan komunitas masyarakat non-muslim yang begitu mengesankan.


    Diskusi kami dipotong oleh azan yang menggema di Masjid itu lalu kami shalat berjamaah Bersama dengan komunitas Islam yang kebetulan juga dihadiri sejumlah masyarakat Indonesia yang berdomisili di sana. Komunitas masyarakat Indonesia yang selalu mengiringi kami di sejumlah tempat kunjungan sampai ke Air Port, dalam menempuh perjalan kami menuju Detroit.

    Pukul 15.10 Menjelang Magrib, Rabu tanggal 13 April 2019, kami tiba di Detroit dijemput dengan panitia yang sudah mempersiapkan hotel indah, Doubletree Hotel Dearborn, yang terletak agar di pinggir kota di tengah komunitas Islam. Keesokan harinya kami langsung berkunjung di sejumlah tempat.

    Pertama kami berkunjung ke sebuah Masjid yang berpekerangan luas. Di kompleks masjid ini berdiri Gedung sekolah dan perkantoran yang melayani komunitas muslim di Dertroit. Para pengurusnya memperkenalkan Islam di Kawasan itu dengan istilam Islam Susyi. Kami tidak faham apa yang dimaksud dengan Islam Susyi, ternyata yang dimaksudkannya ialah Islam Sunny-Syi’ah, karena fifty-fifty persen Sunny dan Syi’ah mendiami Kawasan ini.
    Mereka menggunakan satu masjid secara damai Pengurusnya pun kombinasi dari kalangan Sunny dan Syi’ah. Di masjid ini kami berdiskusi dengan pengurus masjid dan tokoh-tokoh masyarakat muslim Detroit. Pagi itu agak ramai karena ada orang meninggal yang sedang dishalatkan di masjid itu. Ia diupacarakan dengan cara Syi’ah karena kebetulan yang meninggal orang Syi’ah. Meskipun demikian yang bertakziyah adalah juga dari kalangan sunny.

    Agak siang kami pindah ke masjid yang didominasi Syi’ah. Meskipun ornament Syi’ah mendominasi kompleks masjid yang juga dilengkapi dengan ruang-ruang madrasah tetapi Imamnya mengklaim tidak ada jarak diri dan komunitasnya dengan komunitas Sunny.

    Mereka juga mengulangi istilah pengurus masjid pertama dengan mengklaim diri mereka sebagai Muslim Susy. Kami menayakan apakah pernah terjadi gesekan antara kedua komunitas ini? Para jamaah menjawab tidak pernah, mungkin disebabkan karena kami di sini minoritas muslim maka kami kompak. Kami bersatu di dalam memberikan pelayanan maksimum terhadap umat Islam. Mereka seperti memiliki komitmen Bersama untuk mengedepankan persatuan dan kesatuan sebagai umat Islam daripada kelompok subyektifitas mereka sebagai Syiah atau Sunny. Indah sekali kelihatannya mereka duduk berdamai dengan penuh kehangatan satu sama lain dengan kami.

    Malam harinya, kami diundang dalam sebuah acar khusus, Interfaith Dinner. Kami beridiskusi dengan tokoh-tokoh berbagai agama. Diskusi itu juga sangat mengesankan karena bagaimana Imam Masjid bisa sedemikian akrab dengan para Rabi, Pendeta, Pastor, dan Biksu. Satusama lain berdiskusi membicarakan masa depan kemanusiaan di tengah tantangan internal dan eksternal agama masing-masing. Problem teknologi modern yang amat sofiticated, tak lupa juga menjadi agenda pembicaraan. Misalnya, bagaimana menghadapi era artificial intelligent, era milenial, dan dampak social media dan kaitannya dengan peran agama.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Seruan Rasulullah di Atas Bukit Shafa Ajak Kaum Quraisy Bertauhid



    Jakarta

    Bukit Shafa menjadi saksi perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Di tempat inilah beliau menyeru kaum Quraisy secara terang-terangan perihal ajaran Islam.

    Rasulullah SAW disebut menyeru dengan lengkingan yang tinggi saat di Bukit Shafa. Seruan tersebut merupakan seruan peringatan yang lazim digunakan untuk mengabarkan adanya serangan musuh atau terjadinya peristiwa besar.

    Diceritakan dalam Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, seruan tersebut dilakukan usai Rasulullah SAW yakin terhadap janji Abu Thalib untuk melindungi dalam menyampaikan wahyu Allah SWT.


    Hingga akhirnya, pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di atas Bukit Shafa dan berseru, “Wahai semua orang!” Maka semua suku Quraisy pun berkumpul memenuhi seruan beliau. Rasulullah SAW kemudian mengajak mereka bertauhid dan iman kepada risalah beliau serta iman kepada hari akhir.

    Imam Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan sebagian kisah ini dari Ibnu Abbas yang berkata, “Tatkala turun ayat ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat’ (QS Asy Syu’ara: 214), maka Nabi SAW naik ke Shafa lalu berseru, ‘Wahai bani Fihr, wahai bani Adi!’ yang ditujukan kepada semua suku Quraisy.

    Mereka semuanya berkumpul. Jika ada yang berhalangan hadir, mereka mengirim utusan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Abu Lahab beserta para pemuka Quraisy juga ikut datang.

    Rasulullah SAW melanjutkan seruannya, “Apa pendapat kalian jika kukabarkan bahwa di lembah ini ada pasukan kuda yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?”

    “Benar. Kami tidak pernah mempunyai pengalaman bersama engkau kecuali kejujuran,” jawab mereka.

    Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku memberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang pedih.”

    Abu Lahab berkata, “Celakalah engkau untuk selama-lamanya. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”

    Kemudian turun ayat, “Celakalah kedua tangan Abu Lahab. (QS Al Lahab: 1)”

    Imam Muslim dalam Shahih-nya meriwayatkan bagian lain dari kisah ini dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Tatkala turun ayat ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat’ (QS Asy Syu’ara: 214) beliau menyeru secara umum maupun khusus, lalu bersabda,

    ‘Wahai semua orang Quraisy, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai bani Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Fatimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak bisa berbuat apa pun terhadap diri kalian di hadapan Allah kecuali jika kalian mempunyai kerabat dekat, sehingga aku bisa membasahinya menurut kebasahannya.”

    Berikut seruan Rasulullah SAW selengkapnya sebagaimana termuat dalam sejumlah Kitab Sirah Nabawiyah.

    Wahai saudara-saudara Quraisy, tukarkanlah jiwa kalian demi Allah. Selamatkanlah diri kalian dari api neraka, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkan kalian dari siksa Allah. Aku sama sekali tidak bisa membantu kalian untuk menghindar dari siksa Allah.

    Wahai bani Ka’ab bin Lu’ay, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah!

    Wahai bani Qushay, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkan kalian dari siksa Allah.

    Wahai bani Abdi Manaf, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkan kalian dari siksa Allah. Aku sama sekali tidak bisa membantu kalian menghindar dari siksa Allah.

    Wahai bani Abdi Syams, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah.

    Wahai bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah.

    Wahai bani Abdul Muththalib, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkan kalian dari siksa Allah. Aku sama sekali tidak bisa membantu kalian menghindar dari siksa Allah.

    Wahai Abbas bin Abdul Muththalib, aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.

    Wahai Shafiyah binti Abdul Muththalib, bibi Muhammad, aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.

    Wahai Fathimah putri Muhammad utusan Allah, aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.

    Wahai Fathimah putri Muhammad utusan Allah. Engkau boleh meminta hartaku sesuka hatimu, selamatkanlah dirimu dari api neraka, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkanmu dari siksa Allah. Aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.

    Namun, kalian memiliki tali kekerabatan denganku. Aku akan berusaha menyambung sebatas haknya.

    Setelah Nabi Muhammad SAW selesai menyampaikan peringatan, orang-orang membubarkan diri dengan berbagai respons. Hanya Abu Lahab yang merespons seruan di Bukit Shafa tersebut dengan cara yang buruk.

    Saat ini Bukit Shafa digunakan sebagai salah satu lokasi utama dalam ibadah haji. Di tempat ini, jemaah akan berlari-lari kecil menuju Bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Rangkaian ibadah haji ini biasa disebut sa’i.

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Penduduk Sangat Ingkar, Rasulullah Dakwah di Thaif Hanya 10 Hari



    Jakarta

    Kisah dakwah Rasulullah SAW selalu menarik perhatian. Salah satunya ketika Rasulullah SAW berdakwah di Thaif selama 10 hari saja.

    Majdi Muhammad Asy-Syahawi dalam buku Saat-Saat Rasulullah Bersedih menceritakan sebuah riwayat dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im mengenai kisah dakwah Rasulullah SAW di Thaif.

    Diceritakan, sepeninggal Abu Thalib, orang-orang Quraisy semakin berani menyakiti Rasulullah SAW. Akhirnya beliau pergi ke Thaif untuk berdakwah di sana dan ditemani oleh Zaid bin Haritsah RA. Peristiwa ini terjadi pada beberapa malam terakhir di bulan Syawal tahun ke-10 kenabian.


    Muhammad bin Umar Al Waqidi mengatakan pula, “Rasulullah SAW tinggal di Thaif selama 10 hari, dan tidak seorang pun dari pemuka Thaif yang tidak didatangi oleh Rasulullah SAW dan disampaikan dakwah, namun tidak seorang pun dari mereka yang mau memenuhi dakwah beliau.”

    Hal itu dikarenakan mereka khawatir jika dakwah dari Nabi Muhammad SAW akan mempengaruhi kalangan muda mereka. Hingga akhirnya, mereka mengusir Rasulullah SAW dan mengatakan, “Wahai Muhammad, pergilah engkau dari negeri kami dan carilah pengikutmu di tempat lain.”

    Lalu para penduduk Thaif pun mulai menghasut orang-orang yang bodoh agar mengusir Rasulullah SAW. Akhirnya mereka pun melempari beliau dengan bebatuan hingga kedua kaki beliau menjadi terluka dan berdarah.

    Zaid yang saat itu menemani dakwah Nabi SAW berusaha melindungi Rasulullah SAW ketika meninggalkan Thaif dan kembali ke Makkah dengan penuh kesedihan. Sebab, tidak seorang pun dari mereka yang mau menerima dakwahnya baik dari kaum laki-laki maupun dari kaum perempuan.

    Rasulullah SAW pun akhirnya memilih untuk singgah di suatu tempat yang bernama Nakhlah. Di tempat tersebut beliau melakukan salat Tahajud dan membaca surah Jin.

    Pada saat itu terdapat 7 jin yang berasal dari penduduk Nashaibin ingin mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh Rasulullah SAW. Namun, kedatangan mereka sama sekali tidak disadari oleh Rasulullah SAW. Hingga akhirnya turunlah firman Allah SWT dalam surah Al-Ahqaf ayat 29,

    وَاِذْ صَرَفْنَآ اِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْاٰنَۚ فَلَمَّا حَضَرُوْهُ قَالُوْٓا اَنْصِتُوْاۚ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا اِلٰى قَوْمِهِمْ مُّنْذِرِيْنَ ٢٩

    Artinya: “(Ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Nabi Muhammad) sekelompok jin yang mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an. Ketika menghadirinya, mereka berkata, “Diamlah!” Ketika (bacaannya) selesai, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.”

    Kisah dakwah Rasulullah SAW ini juga diceritakan oleh Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam Kitab Sirah Nabawiyah Jilid 1.

    Pada mulanya, Rasulullah SAW berkeinginan untuk mengadakan pusat dakwah baru. Beliau meminta pertolongan dari kaum Tsaqif namun mereka menolak bahkan mereka mengintimidasi Nabi Muhammad SAW dengan melempar batu. Lalu dalam perjalanan pulang dari Thaif tersebut ia bertemu dengan Addas, seorang Nasrani yang kemudian masuk Islam.

    Al-Waqiqi mencatat bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulan Syawal, tahun ke-10 kenabian, setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah. Ia menyebutkan pula bahwa beliau tinggal di Thaif selama 10 hari.

    Alasan Rasulullah SAW memilih Thaif sebagai tempat tujuan dakwahnya karena Thaif adalah wilayah yang sangat strategis bagi masyarakat Quraisy. Bahkan kaum Quraisy sangat menginginkan wilayah tersebut dapat mereka kuasai.

    Sebelumnya mereka telah mencoba untuk melakukan hal itu. Bahkan mereka melompat ke lembah Wajj. Hal demikian lantaran Thaif memiliki sumber daya pertanian yang sangat kaya. Hingga akhirnya orang-orang Tsaqif takut kepada mereka dan mau bersekutu dengan mereka.

    Tidak sedikit dari orang-orang kaya di Makkah yang memiliki simpanan harta di Thaif. Juga di sanalah mereka mengisi waktu-waktu rehat di musim panas. Adapun Kabilah Bani Hasyim dan Abdu Syam senantiasa menjalin komunikasi baik dengan orang-orang Thaif. Sebagaimana juga orang-orang suku Makhzum memiliki keterkaitan kerjasama bisnis dengan orang-orang Tsaqif.

    Karenanya, apabila Rasulullah SAW berhasil melakukan dakwah di Thaif, sesungguhnya hal ini bisa menjadi kejutan yang dapat mengagetkan kaum kafir Quraisy sehingga mereka merasa terancam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 2 Strategi Dakwah Nabi Muhammad di Makkah


    Jakarta

    Tahap pertama dakwah Nabi Muhammad SAW berlangsung di Makkah. Ada dua strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah yang digunakan kala itu.

    Strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah ini ditempuh beliau untuk menyebarkan agama Islam kepada kaumnya supaya meninggalkan kepercayaan untuk menyembah berhala.

    Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq al-Makhtum Sirah Nabawiyah menjelaskan bahwa setelah diangkat menjadi nabi dan rasul, Nabi Muhammad SAW menempuh dua fase untuk berdakwah.


    Fase pertama yaitu berdakwah di Makkah kurang lebih selama 13 tahun dan fase kedua yaitu berdakwah di Madinah kurang lebih selama 10 tahun.

    Pada masing-masing fase yang ditempuh oleh Nabi Muhammad SAW memiliki beberapa tahapan. Misalnya saja pada fase pertama yaitu berdakwah di Makkah di mana pada fase ini dibagi menjadi dua tahapan.

    Pertama, tahap dakwah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun. Kedua, yaitu tahap dakwah secara terang-terangan kepada penduduk Makkah, dari awal tahun keempat kenabian hingga hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah.

    Setelah beliau mendapatkan wahyu, beliau mulai menapaki jalan dakwah dan memikul tanggung jawab yang besar. Beliau mengemban misi kemanusiaan, beban akidah, sekaligus beban perang.

    Strategi Dakwah Nabi Muhammad di Makkah

    1. Dakwah Sembunyi-sembunyi

    Pada awalnya, beliau berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun. Setelah turunnya ayat-ayat surah al-Mudatsir Rasulullah SAW mulai menjalankan misi dakwah di jalan Allah SWT.

    Saat itu, kaum Nabi Muhammad SAW tidak memiliki keyakinan dan hanya mengikuti tradisi nenek moyangnya saja. Berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi ini dilakukan Rasulullah SAW supaya penduduk Makkah tidak kaget dengan suatu ajaran yang tiba-tiba datang dan menggusarkan mereka.

    Rasulullah SAW memulai dakwahnya dengan menyampaikan kepada keluarganya terlebih dahulu. Orang-orang yang percaya kepada Rasulullah SAW dan memeluk Islam pertama kali dikenal dengan as-sabiqunal awwalun.

    Orang-orang tersebut di antaranya, Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah SAW), Zaid bin Haritsah bin Syarahil al-Kalbi (mantan budak Nabi Muhammad SAW), Ali bin Abi Thalib (sepupu Nabi Muhammad SAW), dan Abu Bakar as-Siddiq (sahabat Nabi Muhammad SAW).

    Kemudian Abu Bakar as-Siddiq mulai membantu dakwah Rasulullah SAW dengan menyeru kepada kaumnya. Ia memilih orang-orang yang percaya kepadanya, yang tentu saja mengenal dirinya dengan baik.

    Dari bantuan Abu Bakar as-Siddiq ini, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah akhirnya memeluk agama Islam.

    Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri menyebutkan bahwa jika dijumlahkan maka total mereka yang memeluk Islam pertama kali mencapai 130 orang baik laki-laki maupun perempuan.

    2. Dakwah Terang-terangan

    Lambat laun dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ini didengar oleh kaum Quraisy namun mereka tidak peduli. Mereka mengira bahwa Nabi Muhammad SAW termasuk salah satu golongannya.

    Namun, lama-kelamaan mulai muncul perasaan khawatir dari kaum Quraisy akan dakwah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Kemudian turunlah wahyu yang mengharuskan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan dakwahnya secara terang-terangan.

    Dakwah secara terang-terangan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ini dimulai dari menyeru kepada bani Hasyim, hingga dakwah di atas Bukit Shafa.

    Melihat kenyataan itu, kaum Quraisy menolak adanya dakwah dari Rasulullah SAW ini karena mereka khawatir akan merusak tradisi warisan nenek moyang mereka.

    Dari dakwah yang dilakukan secara terang-terangan ini Rasulullah SAW beserta dengan kaum muslimin mendapat perlakuan yang buruk dari kaum kafir Quraisy. Bahkan, kaum Quraisy membuat kesepakatan bersama untuk melarang kaum muslimin menunaikan haji. Kaum kafir Quraisy juga mengejek, menghina, dan mengolok-ngolok Nabi Muhammad SAW dengan menyebut beliau sebagai orang gila.

    Orang-orang musyrik itu melakukan berbagai cara untuk menghentikan dakwah Rasulullah SAW setelah disebarkan sejak permulaan keempat dari nubuwah. Berbagai tekanan ini terus dihadapi oleh Rasulullah SAW dan kaum muslimin, hingga mereka mulai berpikir untuk mencari keluar dari siksaan kaum kafir Quraisy ini.

    Akhirnya, Rasulullah SAW menerima wahyu dari Allah SWT untuk melakukan hijrah. Maka, Rasulullah SAW dan kaum muslimin memutuskan untuk hijrah ke Habasyah.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Pesantren yang Didirikan Wali Songo, Dirintis Sejak Wali Pertama


    Jakarta

    Penyebaran Islam di Indonesia tak lepas dari peran wali songo. Pesantren yang didirikan oleh wali songo menjadi salah satu bukti keberhasilan wali songo dalam menyebarkan agama Islam khususnya di Pulau Jawa.

    Zulham Farobi dalam buku Sejarah Wali Songo menjelaskan bahwa hampir semua wali songo terlibat dalam segala perkembangan sejarah Islam di Nusantara. Sarana yang digunakan dalam dakwah salah satunya berupa pesantren-pesantren yang dipimpin oleh para wali songo.

    Selain itu, wali songo menyebarkan Islam melalui media kesenian, seperti wayang. Para wali di tanah Jawa ini memanfaatkan pertunjukan tradisional sebagai media dakwah Islam.


    Para wali songo ini menjadi pemimpin dalam menyebarkan agama Islam di daerah yang mereka tempati. Berkat perjuangan wali songo agama Islam menyebar ke seluruh penjuru Pulau Jawa.

    Di dalam bidang pendidikan, peran wali songo terlihat dari didirikannya pesantren. Misalnya saja pesantren yang didirikan oleh Sunan Ampel di Ampel Denta yang dekat dengan Surabaya ini menjadi pusat penyebaran Islam pertama di Pulau Jawa.

    Pesantren yang Didirikan Wali Songo

    Mengutip buku Budaya Pesantren karya Ahmad Hariandi dkk, pesantren yang pertama kali didirikan adalah hasil rintisan Syekh Maulana Malik Ibrahim, tokoh wali songo paling awal yang dikenal dengan Sunan Gresik. Namun demikian, tokoh wali songo yang paling berhasil mendirikan dan mengembangkan pesantren dalam arti yang sesungguhnya adalah Raden Rahmat atau Sunan Ampel.

    Berikut selengkapnya.

    1. Pesantren Ampel Denta

    Mengutip buku Sejarah Kebudayaan Islam karya Abu Achmadi dan Sungarso, Sunan Ampel memulai merintis dakwahnya dengan mendirikan Pesantren Ampel Denta. Sunan Ampel kemudian dikenal sebagai Pembina Pondok Pesantren di Jawa Timur. Hingga pada akhirnya, seorang keturunan Sunan Ampel menjadi penerus dakwahnya.

    2. Pesantren Giri

    Merujuk dari buku Sejarah Kebudayaan Islam karya Yusak Burhanudin dan Ahmad Fida bahwa Sunan Giri mendirikan pesantren di sebuah dataran tinggi yang terletak di Desa Sidomukti, sebuah desa di wilayah Gresik, Jawa Timur.

    H. Abu Achmadi dan Sungarso dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam menjelaskan bahwa dalam berdakwah materi yang disampaikan oleh Sunan Giri adalah mengenai akidah dan ibadah dengan pendekatan fikih yang disampaikan secara lugas.

    Pesantren yang didirikan Sunan Giri pada mulanya tidak hanya digunakan sebagai sarana pendidikan, tetapi juga dijadikan sebagai pusat pengembangan masyarakat. Pesantren ini tumbuh dan berkembang sangat pesat. Hal tersebut dikarenakan banyaknya santri yang berdatangan dari berbagai daerah.

    3. Pondok Pesantren Sunan Drajat

    Sunan Drajat merupakan tokoh wali songo yang mengajarkan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat sebagai pengamalan agama Islam.

    Ia juga mendirikan Pondok Pesantren Sunan Drajat yang dijalankan secara mandiri sebagai wilayah pendidikan yang bertempat di Desa Drajat (sekarang masuk wilayah Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur).

    Tanah yang didirikan pesantren oleh Sunan Drajat merupakan hadiah pemberian Sultan Demak kepada Sunan Drajat atas jasanya menyebarkan agama Islam dan memerangi kemiskinan.

    4. Pesantren Sunan Gunung Jati

    Sunan Gunung Jati merupakan salah satu tokoh wali songo yang dikenal dengan jiwanya yang begitu mudah berbaur dengan masyarakat, sebagaimana dijelaskan Wawan Hermawan dan Ading Kusdiana dalam buku Biografi Sunan Gunung Djati: Sang Penata Agama di Tanah Sunda.

    Ia dikenal dengan keluhuran akhlaknya, terlebih dengan penguasaan berbagai masalah keagamaan. Pendidikan yang diajarkan oleh Sunan Gunung Jati yakni menggabungkan antara keagamaan dengan seni.

    Oleh karena itu, dengan pendidikan tersebut gagasan pendidikan pesantren Sunan Gunung Jati sangat mudah untuk diterima oleh masyarakat.

    5. Pesantren Sunan Bonang

    Sunan Bonang merupakan salah satu wali songo yang juga mendirikan pesantren. Sebagaimana yang dijelaskan dalam buku Cakrawala Budaya Islam oleh Abdul Hadi Wiji Muthari, Sunan Bonang mendirikan pesantren di sebuah desa kecil dekat kota Lasem, Jawa Tengah.

    Di atas sebuah bukit gersang nan sunyi, Watu Layar, Sunan Bonang pernah membangun sebuah tempat tafakkur, dan zawiyah.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Nuansa Islami di Hollywood (1)



    Jakarta

    Jika kita berbicara tentang Hollywood biasanya assosiasi kita adalah sebuah dunia yang gemerlapan, glamour, manusia cantik dan tampan, film-film besar, dan sebuah dunia yang sulit dihubungkan dengan agama, terutama Islam.

    Belakangan ini, terutama pasca peristiwa 9/11 di New York dan Washington DC, AS, komunitas Hollywood tidak mau gegabah di dalam memproduksi karya-karyanya, terutama berupa film-film dan videos yang akan diedarkan ke dalam masyarakat. Trend baru Hollywood cenderung lebih dekat atau respek kepada agama, termasuk agama Islam meskipun agama ini masih agama minoritas di AS. Bukan saja ditandai dengan tampilnya sejumlah artis yang beragama Islam tetapi juga semua produk yang akan dilempar kepada masyarakat luas terlebih dahulu didiskusikan ke sebuah lembaga khusus bernama Muslim Public Affairs Council (MPAC) di Los Angeles. Lembaga ini dimintai bantuan untuk menganalisis kualitas industry intertain seperti produk film, program TV, dan produk-produk seni lainnya yang akan di-launching di dalam masyarakat.

    MPAC ini kebetulan dipimpin oleh Salam Al-Marayati, meskipun usianya relatif muda tetapi ia pakar Islam yang sudah beberapa kali berkunjung ke Indonesia. Kami sempat berkunjung ke kantornya dan ia menjelaskan peran lembaganya terhadap berbagai produk seni yang dihasilkan oleh komunitas Hollywood. Ia juga sepertinya menguasai ilmu-ilmu keagamaan secara komperhensif, termasuk perbandingan mazhab dalam Islam. Meskipun usianya masih relatif muda tetapi ia keliling dunia diundang dalam berbagai seminar mengenai Islam dan Peradaban Modern.


    Tema-tema diskusi lembaga tersebut dengan komunitas Hollywood ialah pihak Hollywood tidak ingin produk-produknya menyinggung perasaan atau keyakinan umat Islam. Bukan saja khawatir akibatnya akan diprotek oleh pasar pandsa muslim yang sudah berjumlah satu miliar tetapi mereka tidak ingin produknya merusak tatanan kebudayaan dan peradaban yang sudah mapan. Sebagai contoh, sejumlah sutradara film menulis cerita tentang teroris dengan melibatkan tokoh pemeran antagonistic. Mungkin artis itu terkenal sebagai artis porno di dalam berbagai film tetapi tiba-tiba diminta memerankan peran antagonis sebagai tokoh muslimah. Hal ini ditanyakan apakah melanggar etika atau menyinggung perasaan umat Islam. Contoh lain, bisakah divisualisasi sabda Nabi walaupun itu dalam bentuk efek cahaya atau animasi, yang samasekali tidak menampilkan sosok Nabi Muhammad Saw.

    Termasuk juga sejumlah istilah agama dan sejarah Islam, apakah tidak bertentangan dengan fakta sejarah yang sesungguhnya. Demikian pula mereka ingin tahu denominasi atau mazhab-mazhab dalam Islam. Jangan sampai produknya sudah Islam menurut versi sunny tetapi menyinggung perasaan kaum Syi’ah, demikian pula sebaliknya. Ketika sang artis akan memerankan peran-peran yang berhubungan dengan Islam Lembaga ini diminta memberi masukan. Seperti apa yang terbaik dilakukan tanpa mengurangi aspek bisnis dari sebuah produk. Sebelumnya pertimbangan seperti ini jarang dilakukan. Tidak heran jika dahulu banyak film-film Hollywood menuai kontroversi di dalam masyarakat muslim. Sampai kepada kepatutan kostum pemain secara komperhensif diminta untuk dinilai dan diberi masukan. Misalnya bolehkah mendendangkan sebuah lagu yang mengandung lirik agama tetapi dengan kostum perempuan tanpa hijab atau memperlihatkan lekuk atau dada.

    Fungsi Lembaga tersebut mirip dengan Badan Sensor Film (BSF) atau Komisi Peyiaran Indonesia (KPI) di Indonesia. Bedanya, di Indonesia Lembaga ini resmi dibentuk oleh negara sedangkan MPAC Hanya merupakan Non-Government Organization (NGO/LSM). Meskipun hanya NGO tetapi Lembaga ini mendapatkan tempat yang diperhitungkan.

    komunitas Hollywod. Tanpa paraf atau rekomendasinya sejumlah kalangan khawatir kalau masyarakat nanti memboikotnya, atau bahkan akan menimbulkan ketegangan di dalam masyarakat. New trend Hollywood tidak akan menimbulkan ketegangan yang bisa merusak tatanan kemanusiaan. Misi baru Hollywood ialah seni untuk kemanusiaan.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Nuansa Islam di Hollywood (2)



    Jakarta

    Sangat menyenangkan, hari masih pagi dan udara pun masih dingin. Kami diundang dan dijemput oleh organizer mengunjungi sebuah tempat yang sangat imajiner di Los Angeles bernama Warner Bros (WB), sebuah komplek perfileman yang amat terkenal di Hollywood. Di lereng gunung yang cantik terhampar sebuah lokasi yang amat luas dipadati menurut hitungan penulis 42 bangunan yang mirip gudang raksasa dan sejumlah bangunan dengan jalanan serta pemandangan AS tempo dulu. Ada kompleks New York tempo dulu, rumah-rumah khas Chicago, penduduk Indian, dan lain-lain. Termasuk juga gambar atau miniatur pohon tua dan pemandangan bebatuan di tengah hutan belantara. Kompleks itu mengingatkan penulis di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Selatan. Kami harus menggunakan kereta atau golf car untuk mengelilingi areal ini karena begitu luas dan banyaknya obyek menarik di dalamnya. Satu persatu obyek di kompleks itu diperkenalkan dengan ramah oleh seorang gadis berambut pirang. Ia mahir menyebut “Assalamu’alaikum” dan “Apa kabar?”. Itulah kehebatan PR AS.

    Saat itu kami juga diajak memasuki sejumlah gudang yang ternyata studio raksasa yang isinya adalah sejumlah miniatur dan dekorasi tipuan dimana film-film seri di TV beredar yang di Indonesia juga sering kita lihat. Di bagian langit-langit studio itu bergelantungan kamera, lampu, dan laser dengan segala efek pencahayaannya. Bahkan ada sebuah gudang isinya benar-benar seperti di tengah hutan belantara dengan air terjun buatan. Dengan kekuatan elektrik latar dan dekorasi bisa dirancang seperti bergerak dan terkesan banyak orang berjualan di pasar atau petani sedang bercocok tanam, atau peternak sapi di pedalaman. Ternyata film-film Hollywood yang kita saksikan selama ini pengambilan gambarnya tidak semua di alam terbuka nyata tetapi di dalam studio. Termasuk rumah dan bangunan mewah ternyata juga efek monitor raksasa yang keseluruhannya tidak keluar dari gudang besar itu. Teman-teman kami ada yang nyeletuk: “Sekian lama kita menikmati sebuah kebohongan”.

    Berbagai film cowboy tempo dulu dengan kandang kuda dan kendaraan mobil dan motor tua dikoleksi di dalam gudang itu. Termasuk mobil-mobil super canggih yang dipakai Batman semua tersimpan rapi di dalam gudang itu. Termasuk rumah antik dan fasilitas yang digunakan dalam film Harry Potter tersimpan rapi di dalam rumah tua itu. Lorong-lorong sempit yang menggambarkan AS tempo dulu semua terawat di kompleks WB itu. Kompleks besar yang isinya sejumlah perumahan spesifik itu tidak dihuni orang. Luaran bangunan itu dirawat sebagaimana layaknya rumah dan apartemen benaran tetapi dalamannya berantakan, langit-langitnya penuh dengan kamera dan lampu. Dekorasinya disesuaikan dengan tema film yang akan dimainkan di tempat itu. Ternyata selama ini kita bayar mahal di bioskop untuk ditipu oleh orang-orang Hollywood. Daun pintu yang sangat terkasan mahal ternyata tripleks yang dicat sedemikian rupa sehingga mirip pintu rumah mewah. Air terjun terkesan di tengah hutan rimba dengan bunyi-bunyi serangga malam ternyata semuanya kamuflase. Akhirnya penulis teringat
    dalam sebuah ayat:


    Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS al-Hadid/57:20).

    Pesan tersirat dari Hollywood kita diminta sadar bahwa kehidupan ini hanya sandiwara seperti dilukiskan dalam ayat tersebut. Mari kita memberi arti terhadap hidup yang terus berjalan ini. Kita tidak boleh terkecoh dengan Hollywood-nya kehidupan. Setiap satu jengkal tanah di lokasi itu tidak ada yang menganggur, semuanya mempunyai fungsi dan sekaligus nilai dolar yang mahal.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com