Menjelang akhir pekan, pasar kripto hari ini, Jumat (13/2) menunjukkan pergerakan campuran dengan sejumlah altcoin mencatat lonjakan signifikan. ME meroket 30% ke $0,1847 pada Jumat (13/2), diikuti MOODENG yang naik 21% ke $0,052154, serta 0G yang menguat 15% hingga $0,645. Kenaikan ini mencerminkan rotasi modal ke altcoin berisiko tinggi di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif.
Dari sisi sentimen global, laporan dari Standard Chartered memproyeksikan Bitcoin berpotensi turun ke $50.000 sebelum menemukan titik akumulasi ideal. Di saat yang sama, Ether dan XRP tengah menguji level support krusial. Lihat lebih lengkap di bawah ini:
Daftar Altcoin Potensial Hari Ini Jelang Akhir Pekan
ME meroket 30% ke level $0,1847 hari ini, Jumat (13/2).
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Arkham Exchange akhirnya buka suara terkait rumor penutupan platform yang sempat beredar di komunitas kripto.
Menurut laporan Cointelegraph pada Kamis (12/2), CEO Arkham, Miguel Morel, secara tegas membantah kabar tersebut dan menegaskan bahwa perusahaan tidak tutup, melainkan tengah melakukan transisi strategis menjadi Decentralized Exchange (DEX).
Langkah ini disebut sebagai respons terhadap pertumbuhan pesat sektor derivatif DeFi, yang diproyeksikan akan mendominasi lanskap industri kripto pada 2025.
Spekulasi mengenai nasib Arkham Exchange mencuat setelah sejumlah perubahan operasional terdeteksi oleh komunitas.
Namun, klarifikasi resmi dari Miguel Morel menegaskan bahwa platform tidak berhenti beroperasi.
Sebaliknya, Arkham sedang bertransformasi penuh dari model centralized exchange (CEX) menjadi decentralized exchange (DEX).
Perubahan model bisnis ini mencerminkan pergeseran besar dalam industri kripto, di mana pengguna semakin mengutamakan transparansi, self-custody, serta minimnya risiko pihak ketiga.
Transformasi ini juga menunjukkan bahwa Arkham ingin beradaptasi dengan dinamika regulasi global yang semakin ketat terhadap bursa terpusat.
Derivatif DeFi Diprediksi Dominan di 2025
Pasar derivatif kripto, khususnya perpetual futures berbasis DeFi (perp-DEX), mengalami pertumbuhan signifikan dalam dua tahun terakhir.
Volume perdagangan on-chain terus meningkat, sementara sejumlah protokol derivatif terdesentralisasi mulai menyaingi bahkan melampaui volume beberapa CEX.
Menurut sejumlah analis industri, tren ini akan semakin menguat pada 2025, terutama karena:
Regulasi terhadap CEX semakin ketat di berbagai yurisdiksi.
Pengguna menginginkan kontrol penuh atas aset mereka.
Transparansi likuiditas dan eksekusi perdagangan menjadi faktor utama kepercayaan pasar.
Dalam konteks ini, pivot Arkham ke DEX dinilai sebagai langkah antisipatif untuk tetap relevan dan kompetitif.
Terkait keputusan tersebut, Tim Research Tokocrypto menilai langkah Arkham sebagai strategi yang rasional dan proaktif.
“Pivot ke model DEX memungkinkan Arkham untuk menghindari beban regulasi terpusat (CEX) yang semakin ketat sambil tetap menangkap volume perdagangan on-chain yang terus meningkat. Ini adalah langkah antisipatif untuk bersaing langsung dengan protokol perp-DEX yang menawarkan transparansi dan self-custody lebih baik,” ujar Tim Research Tokocrypto.
Menurut mereka, tekanan regulasi terhadap CEX memang menjadi salah satu risiko terbesar industri saat ini.
Bursa terpusat harus memenuhi persyaratan kepatuhan yang semakin kompleks, mulai dari lisensi, pelaporan transaksi, hingga pengawasan ketat terhadap aktivitas pengguna.
Dengan model DEX, Arkham dapat meminimalkan eksposur terhadap risiko tersebut, sekaligus memanfaatkan pertumbuhan likuiditas on-chain yang semakin dalam.
Persaingan Ketat di Ranah Perp-DEX
Meski strategi ini terlihat menjanjikan, tantangan yang dihadapi Arkham tidak kecil. Pasar perp-DEX saat ini sudah diisi oleh sejumlah pemain besar dengan ekosistem matang dan komunitas kuat.
Untuk bersaing, Arkham perlu menawarkan likuiditas yang kompetitif, pengalaman pengguna (UX) yang setara atau lebih baik dari CEX, infrastruktur keamanan yang solid, dan integrasi data on-chain yang menjadi keunggulan khas Arkham.
Sebagai platform yang dikenal dengan analitik blockchain dan intelijen on-chain, Arkham memiliki peluang unik untuk menggabungkan fitur perdagangan dengan insight data yang lebih mendalam.
Jika berhasil, kombinasi ini bisa menjadi diferensiasi kuat dibandingkan DEX lainnya.
Dampak bagi Ekosistem dan Investor
Bagi investor dan pengguna, transformasi ini memiliki implikasi penting. Model DEX berarti:
Aset berada dalam kontrol pengguna (non-custodial).
Risiko pembekuan dana oleh pihak ketiga berkurang.
Transparansi transaksi lebih tinggi.
Namun, di sisi lain, pengguna juga harus bertanggung jawab penuh atas keamanan private key dan manajemen risiko pribadi.
Dari perspektif pasar, pivot Arkham mencerminkan tren yang lebih luas: pergeseran kekuatan dari sistem terpusat menuju infrastruktur terdesentralisasi.
Keputusan Arkham Exchange untuk bertransformasi menjadi DEX bukanlah tanda kemunduran, melainkan strategi adaptif menghadapi lanskap kripto yang terus berubah.
Dengan pertumbuhan eksplosif sektor derivatif DeFi dan tekanan regulasi terhadap CEX, langkah ini bisa menjadi fondasi penting bagi daya saing Arkham di 2025.
Kini, perhatian pasar tertuju pada bagaimana Arkham mengeksekusi transisi ini dan apakah mereka mampu menembus dominasi protokol perp-DEX yang sudah mapan.
Jika berhasil, pivot ini bisa menjadi contoh bagaimana bursa kripto berevolusi dari model terpusat menuju era penuh desentralisasi.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Insight Tim Research Tokocrypto pada Riset Kripto 2-6 Februari 2026 menyoroti kritik tajam dari Vitalik Buterin terhadap perkembangan ekosistem Layer 2 (L2) di Ethereum. Dalam pandangan ini, Vitalik Buterin menekankan bahwa banyak proyek L2 yang masih bergantung pada mekanisme terpusat telah kehilangan relevansinya untuk masa depan jaringan.
Kritik ini muncul di tengah kemajuan scaling Ethereum yang lebih cepat dari perkiraan, dengan biaya transaksi yang semakin rendah sehingga membuat Layer 2 Ethereum seakan terlihat seperti kehilangan arah.
Bagi yang belum tahu, Layer 2 sendiri merujuk pada solusi penskalaan yang dibangun di atas Ethereum (Layer 1 atau L1), yang bertujuan untuk memproses transaksi lebih cepat dan murah sambil memanfaatkan keamanan dasar Ethereum.
Namun, Buterin menyoroti bahwa visi awal L2 sebagai kini hanya menjual nama Ethereum, hal ini salah satunya disebabkan oleh kemajuan lambat dalam desentralisasi dan keamanan L2, serta peningkatan kemampuan jaringan L1 Ethereum yang semakin cepat dan murah.
Vitalik Serukan L2 Wajib Desentralisasi
Vitalik menegaskan bahwa banyak proyek L2 masih berada di “Stage 0” fase awal di mana sistem belum sepenuhnya terdesentralisasi dan masih dikendalikan oleh tim inti.
Dalam praktiknya, beberapa L2 masih menggunakan skema multisig atau multi-signature, yakni mekanisme di mana beberapa kunci privat milik tim pengembang dapat menyetujui atau membatalkan transaksi penting. Meski terlihat aman karena membutuhkan banyak tanda tangan, kontrol tetap berada di tangan manusia bukan sepenuhnya melalui smart contract.
Likuiditas Tercecer Karena Saking Banyaknya Proyek L2
Banyaknya L2 menyebabkan likuiditas tersebar, dan membuat penggunaan Ethereum rumit semakin rumit dalam melakukan transaksi.
Misalnya, jika kamu kamu punya ETH di Arbitrum, tapi ingin menukar ke USDC di Optimism. Karena likuiditasnya terpisah, kamu harus bridge dulu ke mainnet lalu ke Optimism, membuat ekosistem Ethereum seperti multi-chain kecil yang masing-masing punya likuiditas sendiri, sehingga transaksi jadi lebih rumit.
Insight dari tim research Tokocrypto, menyebutkan hal ini justru membuat penggunaan Ethereum menjadi rumit dan mahal dibandingkan kompetitor monolithic seperti Solana yang lebih simpel.
Seleksi Alam Layer 2 Ethereum
Sebagaimana dicatat oleh Insight Tim Research Tokocrypto, bahwa Vitalik sedang melakukan “seleksi alam” yang mengisyaratkan bahwa adanya fase penyaringan alami dalam perkembangan Layer 2.
Ketika standar desentralisasi diperketat dan tuntutan keamanan berbasis kode menjadi keharusan, proyek L2 yang belum beranjak dari kontrol tersentralisasi akan semakin sulit mempertahankan legitimasi di mata komunitas dan investor.
Namun, proses ini tentunya bukan berarti seluruh L2 akan hilang, untuk detail lebih lengkap mengenai insight terbaru ekosistem Layer 2 dan dinamika Ethereum, kamu dapat merujuk pada laporan dari Tim Research Tokocrypto yang bisa kamu baca di: Riset Kripto 2-6 Feb 2026: Bitcoin Menurun, Altcoin Ada Harapan?!
Mulai perjalanan kriptomu dengan pastikan membeli token kripto terdaftar di resmi di Indonesia melalui exchange lokal resmi yang mengikuti prosedur yang berlaku seperti Tokocrypto.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Pasar kripto hari ini, Rabu (11/2) kembali bergerak dalam fase konsolidasi, namun sejumlah altcoin mencuri perhatian dengan lonjakan signifikan. GHST memimpin reli dengan kenaikan tajam hingga 117% ke level $0,174, disusul DF yang menguat 71% ke $0,004843, serta ATM yang naik 38% menyentuh $1,257642. Pergerakan ini menunjukkan masih adanya minat spekulatif di tengah pasar yang belum menemukan arah jelas.
Di sisi makro, Bitcoin tetap berada dalam tekanan bearish setelah turun drastis dari puncak $126.300 ke area $68.300. Lihat lebih lengkap di bawah ini:
Daftar Altcoin Potensial Saat Pasar Kembali Konsolidasi
GHST melonjak 117% hari ini, capai level harga $0,174.
DF tumbuh positif 71%, harga kini di level $0,004843.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Insight Tim Research Tokocrypto pada Riset Kripto 2–6 Februari 2026 menyoroti satu sinyal yang sering dianggap sebagai fase bottoming dalam siklus Bitcoin, yakni anjloknya hashrate jaringan secara ekstrem. Penurunan ini memicu kekhawatiran baru di pasar, sekaligus memunculkan pertanyaan besar—apakah Bitcoin benar-benar sedang memasuki fase bear market?
Seperti yang kita tahu, Hashrate Bitcoin sendiri mencerminkan total kekuatan komputasi yang mengamankan jaringan, dan ketika indikator ini turun tajam, biasanya menjadi pertanda bahwa para penambang (miner) sedang menghadapi tekanan, baik dari sisi harga, biaya operasional, maupun profitabilitas.
Hashrate Drop 16%: Kapitulasi Miner Terbesar Sejak 2021
Data on-chain menunjukkan penurunan mencapai -16%, menjadi penurunan terdalam sejak larangan aktivitas mining di China pada 2021. Menandakan bahwa terjadi penurunan aktivitas penambangan Bitcoin yang sangat tajam, yang bisa disebabkan oleh tekanan finansial serius pada para miner.
Secara sederhana, hal ini terjadi karena sebagian besar penambang memilih menghentikan operasi karena tidak lagi dipandang menguntungkan untuk menjalankan mesin mining di tengah harga Bitcoin yang melemah.
Menurut Insight Tim Research Tokocrypto, penurunan hashrate sedalam -16% ini merupakan sinyal klasik miner capitulation, yang mana secara historis, fase ini sering muncul saat pasar berada di fase akhir tren turun (bottoming).
Apa itu Miner Capitulation?
Miner capitulation adalah kondisi ketika penambang Bitcoin menyerah karena biaya operasional, terutama listrik, lebih tinggi daripada nilai Bitcoin yang mereka hasilkan.
Situasi ini biasanya terjadi saat harga BTC turun tajam sehingga penambang yang kurang efisien tidak lagi mampu bertahan.
Akibatnya, sebagian dari mereka menjual cadangan Bitcoin yang sebelumnya disimpan, menambah tekanan jual di pasar dan berpotensi menurunkan harga lebih jauh.
Data terbaru dari Bitbo menunjukkan bahwa miner capitulation sering kali berada di fase bottoming ketika grafik menunjukan warna biru, yang mana secara historis, setiap kali grafik mencapai fase biru (bottoming), tren jangka panjang menunjukkan pemulihan hashrate dan kenaikan difficulty, menandakan jaringan menemukan keseimbangan baru.
Apakah Hashrate Anjlok Selalu Berarti Bear Market?
Secara historis, penurunan hashrate yang tajam sering beriringan dengan fase bearish atau transisi menuju bear market yang sering kali terjadi karena tekanan jual dari para miner yang harus menutupi kerugian akibat profitabilitas Bitcoin yang menurun.
Meskipun begitu, penurunan ini tidak secara langsung menjadi sinyal bear market namun sebagaimana dicatat oleh Tim Research Tokocrypto, yang jelas penurunan hashrate ini menandakan tekanan finansial serius pada para miner dan bagi yang ingin melakukan akumulasi perlu kehati-hatian ekstra sebelum memutuskan untuk benar-benar melakukan akumulasi.
Mulai perjalanan kriptomu dengan pastikan membeli token kripto terdaftar di resmi di Indonesia melalui exchange lokal resmi yang mengikuti prosedur yang berlaku seperti Tokocrypto.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Dalam Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025 terdapat hasil survei nasional terhadap 1.851 responden dari berbagai daerah di Indonesia. Dari laporan tersebut terungkap bahwa investor kripto Indonesia cenderung memilih Bitcoin dan Stablecoin, diikuti oleh aset-aset dengan kapitalisasi pasar besar seperti Solana, Ethereum, BNB, dan XRP.
Sumber: Indonesia Crypto & Web3 Industry Report
Menurut Head of Community Coinvestasi, Niki Sekar Dewayani, investor kripto Indonesia sebenarnya tidak didominasi oleh perilaku spekulatif yang ekstrem, walaupun dalam prakteknya ada segmen ritel yang berani mengambil risiko lebih tinggi dan tertarik pada aset dengan kapitalisasi pasar kecil, namun secara umum preferensi pasar masih menunjukkan pendekatan yang rasional.
Industri kripto selama bertahun-tahun, memang sering diasosiasikan dengan keuntungan cepat dan instan seperti persepsi; masuk cepat, keluar cepat, kejar momentum, dan raih keuntungan. Namun data terbaru ini menunjukkan bahwa narasi tersebut mulai bergeser.
Lebih lanjut, Niki juga menjelaskan bahwa dalam memilih platform kripto, investor Indonesia justru menunjukkan sikap yang cukup konservatif. Berdasarkan hasil survei, ada tiga faktor utama yang paling dicari investor kripto saat memilih platform, yaitu kemudahan penggunaan (user friendly), keamanan, dan tingkat kepercayaan terhadap platform itu sendiri.
Sumber: Indonesia Crypto & Web3 Industry Report
Kemudahan Penggunaan (User Friendly): 23,0%
Di posisi teratas, 23,0% responden menyebut bahwa kemudahan atas penggunaan platform menjadi alasan utama mereka memilih dalam platform kripto.
Mayoritas investor kripto Indonesia kini yang kini didominasi Gen Z dan milenial, sudah akrab betul dengan teknologi, tapi mereka tidak mau ribet. Mereka menginginkan aplikasi yang intuitif, navigasi jelas, dan proses transaksi yang smooth.
Keamanan Platform: 20,4%
Tak jauh di bawahnya, 20,4% investor menempatkan keamanan platform sebagai prioritas utama. Angka ini menjadi salah satu indikator bahwa investor kripto Indonesia sudah makin sadar perihal risiko.
Setelah berbagai insiden global, mulai dari peretasan hingga runtuhnya platform besar, pengguna kini jauh lebih selektif. Laporan ini juga menegaskan karakter investor lokal yang risk-aware. Alih-alih spekulatif, mereka cenderung berhitung dan memilih platform dengan sistem keamanan kuat, sejalan dengan regulasi yang semakin ketat di Indonesia.
Reputasi Brand: 11,7%
Menariknya, reputasi atau kepercayaan terhadap brand (11,7%) tetap menjadi faktor kunci, meskipun banyak pilihan aset kripto justru berada di angka lebih tinggi, yaitu 14,9%, dan biaya transaksi rendah di 11,3%.
Ini menunjukkan bahwa meskipun variasi aset tetap penting, namun kepercayaan terhadap brand tetap menjadi fondasi utama dalam pengambilan keputusan investor, terutama di pasar yang sudah teregulasi dan semakin dewasa.
Head of Community Coinvestasi, Niki Sekar di acara Indonesia Crypto Outlook 2026 pada 29 Januari 2026 di Jakarta. Sumber: Tokocrypto.
Hal ini juga ditegaskan langsung oleh Head of Community Coinvestasi, Niki Sekar Dewayani:
“Dalam konteks memilih platform kripto, ternyata user memilih; pertama kepercayaan terhadap brand, kemudian kemudahan, dan keamanan—baru jika ketiga ini sudah terpenuhi komunitas Web3 lah yang akan menjadi retensi dan edukasinya.”
Temuan mengenai tiga faktor utama dalam memilih platform kripto di atas bukan satu-satunya data penting yang disampaikan dalam ICO 2026 kemarin.
Laporan Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025 juga memuat beragam insight lain, termasuk ke mana arah pasar kripto Indonesia di 2026 serta bagaimana tren adopsi kripto di Asia terus berkembang seiring meningkatnya regulasi dan partisipasi institusional.
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Ancaman keamanan di dunia kripto kembali meningkat tajam pada awal tahun ini.
Data terbaru yang dipublikasikan BeInCrypto pada Senin (9/2) menunjukkan kerugian akibat serangan signature phishing melonjak hingga 207%, mencapai sekitar $6,3 juta hanya dalam satu bulan.
Ironisnya, lonjakan nilai kerugian ini terjadi meskipun jumlah korban justru turun sekitar 11%, menandakan adanya pergeseran strategi signifikan dari para pelaku kejahatan siber kripto.
Alih-alih menargetkan banyak pengguna kecil, penyerang kini mengadopsi pendekatan yang lebih presisi dan berisiko tinggi: “Whale Hunting”, yakni membidik investor besar atau pemilik dompet dengan nilai aset signifikan.
Fakta paling mencolok, hanya dua korban menyumbang hampir 65% dari total kerugian signature phishing pada periode tersebut.
Perubahan pola ini menunjukkan evolusi taktik kriminal kripto.
Jika sebelumnya penyerang mengandalkan phishing massal melalui tautan palsu atau situs tiruan, kini mereka lebih fokus pada analisis perilaku dan riwayat transaksi target bernilai besar.
Dengan jumlah korban yang lebih sedikit namun nilai kerugian yang jauh lebih besar, efektivitas serangan meningkat drastis.
Pendekatan ini juga mengurangi risiko terdeteksi, karena aktivitas mencurigakan tidak lagi tersebar ke ribuan korban kecil, melainkan terfokus pada segelintir alamat dompet bernilai tinggi.
Address Poisoning: Ancaman yang Lebih Halus dan Mematikan
Selain signature phishing, metode address poisoning muncul sebagai salah satu teknik paling merugikan.
Dalam satu kasus ekstrem, seorang investor dilaporkan kehilangan $12,25 juta akibat mengirim dana ke alamat palsu yang menyerupai alamat tujuan aslinya.
Address poisoning bekerja dengan cara mengirim transaksi kecil ke dompet korban menggunakan alamat yang dibuat sangat mirip (vanity address) dengan alamat yang sering digunakan korban.
Ketika korban menyalin alamat dari riwayat transaksi tanpa verifikasi menyeluruh, dana dalam jumlah besar bisa terkirim ke alamat penyerang.
Safe Labs mengungkap bahwa mereka telah mengidentifikasi kampanye terkoordinasi yang melibatkan sekitar 5.000 alamat berbahaya, yang secara khusus dirancang untuk mengecoh pengguna dengan pola alamat dan aktivitas yang tampak “familiar”.
Teknik Signature Phishing Semakin Canggih
Signature phishing modern tidak lagi sekadar meminta tanda tangan transaksi sederhana.
Penyerang kini memanfaatkan pemalsuan fungsi izin (permit) dan manipulasi smart contract yang membuat korban tanpa sadar memberikan akses penuh ke aset mereka.
Bagi pengguna dompet self-custody, ancaman ini jauh lebih berbahaya karena tidak melibatkan peretasan langsung.
Secara teknis, korban “menyetujui” transaksi tersebut, sehingga dana dapat berpindah tanpa mekanisme perlindungan tambahan.
Tim Research Tokocrypto menilai situasi ini sebagai alarm serius, khususnya bagi investor yang berpengalaman.
“Data ini adalah peringatan keras bagi smart money dan pengguna dompet self-custody. Penyerang tidak lagi menebar jaring luas, tetapi menggunakan teknik canggih seperti memalsukan izin transaksi dan membuat alamat vanity yang menyerupai histori transaksi korban,” jelas Tim Research Tokocrypto.
Smart Money Justru Jadi Target Utama
Paradoksnya, kelompok investor yang dianggap paling paham teknologi kini menjadi sasaran utama.
Whale dan investor institusional sering kali melakukan transaksi bernilai besar dan berinteraksi dengan banyak protokol DeFi, sehingga membuka lebih banyak celah sosial-engineering untuk dimanfaatkan.
Selain itu, kepercayaan diri dan rutinitas transaksi yang tinggi dapat menurunkan kewaspadaan, terutama ketika alamat atau kontrak terlihat “mirip” dengan yang biasa digunakan.
Implikasi bagi Keamanan Ekosistem Kripto
Lonjakan kerugian ini menunjukkan bahwa keamanan kripto tidak lagi hanya soal menjaga private key, tetapi juga tentang verifikasi izin, alamat, dan interaksi smart contract secara menyeluruh.
Tanpa perubahan perilaku pengguna, serangan dengan nilai kerugian besar kemungkinan akan terus meningkat, meski jumlah korban tampak menurun.
Bagi industri kripto secara keseluruhan, tren whale hunting ini bisa berdampak pada kepercayaan investor, terutama di tengah adopsi dompet self-custody yang semakin luas.
Kasus signature phishing dan address poisoning terbaru menegaskan bahwa penjahat kripto kini bermain lebih cerdas, lebih sabar, dan lebih terfokus.
Penurunan jumlah korban bukanlah kabar baik jika diiringi lonjakan kerugian hingga ratusan persen.
Bagi investor ritel maupun institusional, kewaspadaan ekstra menjadi keharusan: selalu periksa detail izin transaksi, verifikasi alamat tujuan, dan hindari kebiasaan menyalin alamat dari histori tanpa pengecekan ulang.
Di era serangan presisi tinggi, satu kesalahan kecil bisa berujung pada kerugian jutaan dolar.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Arus masuk stablecoin ke bursa kripto dilaporkan meningkat tajam meski tekanan jual di pasar masih berlangsung kuat. Data terbaru menunjukkan bahwa ketika Bitcoin (BTC) perlahan mendekati koreksi sekitar 50% dari rekor tertinggi (all time high/ATH) pada Oktober, aktivitas stablecoin justru mulai mengalami lonjakan yang signifikan.
Dilaporkan Crypto Quant, kondisi ini menjadi sorotan karena stablecoin umumnya digunakan sebagai “amunisi” untuk membeli aset kripto. Kenaikan inflow stablecoin ke exchange sering dianggap sebagai indikasi bahwa investor mulai menyiapkan modal untuk masuk kembali ke pasar, terutama saat harga mengalami penurunan besar.
Inflow Stablecoin Sempat Anjlok ke $51 Miliar di Desember 2025
Pada akhir Desember 2025, rata-rata mingguan inflow stablecoin (7-day moving average) tercatat turun hingga $51 miliar. Angka tersebut disebut mencerminkan lemahnya permintaan pasar yang sudah terjadi selama beberapa bulan terakhir, seiring investor cenderung menahan diri dan pasar bergerak dalam tekanan bearish.
Penurunan inflow stablecoin pada periode tersebut juga menandakan minimnya modal baru yang masuk ke bursa, sehingga memperkuat kondisi lesu dan rendahnya minat beli di pasar kripto secara keseluruhan.
Kini Melonjak ke $98 Miliar, Melewati Rata-rata 90 Hari
Namun, tren tersebut mulai berubah. Data terbaru menunjukkan bahwa inflow stablecoin ke exchange kini melonjak ke $98 miliar. Angka tersebut berarti inflow stablecoin telah meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan level akhir Desember 2025.
Selain itu, inflow stablecoin saat ini juga telah bergerak melampaui rata-rata 90 hari yang berada di angka $89 miliar. Hal ini mengindikasikan bahwa laju penempatan modal (capital deployment) mulai meningkat dalam beberapa minggu terakhir, di tengah kondisi pasar yang masih tertekan.
Lonjakan ini menjadi sinyal bahwa pasar mulai menerima pasokan likuiditas baru, yang dinilai sangat dibutuhkan untuk menahan tekanan penurunan harga lebih lanjut.
Tekanan Jual Masih Tinggi, Tapi Investor Mulai Masuk Bertahap
Meski inflow stablecoin meningkat, laporan menyebut bahwa tekanan jual di pasar masih terlalu kuat untuk sepenuhnya diserap oleh modal yang masuk. Artinya, kenaikan inflow belum cukup untuk langsung membalikkan tren, karena aksi jual masih mendominasi pergerakan pasar.
Namun, kondisi tersebut tetap dianggap sebagai sinyal positif karena menunjukkan bahwa minat investor mulai kembali muncul di level koreksi saat ini. Lonjakan inflow stablecoin mengindikasikan bahwa sebagian pelaku pasar mulai melakukan aksi beli bertahap atau “buy the dip”, meskipun tren pemulihan masih memerlukan penguatan lebih lanjut.
Dengan meningkatnya aliran stablecoin, pasar kini dipantau untuk melihat apakah momentum pembelian bisa bertambah kuat dan mampu mengimbangi tekanan jual yang masih tinggi.
Menurut Tim Research Tokocrypto, lonjakan inflow stablecoin adalah indikator “smart money” yang sedang melakukan deployment modal (“buy the dip”). Ketersediaan likuiditas segar di bursa ini krusial untuk menyerap tekanan jual dan membentuk landasan harga (floor) yang solid.
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Bitcoin kembali memunculkan sinyal tekanan pasar yang dinilai cukup serius setelah data terbaru menunjukkan Long-Term Holders (LTH) atau pemegang jangka panjang mulai memasuki zona kerugian untuk pertama kalinya sejak 2022. Kondisi ini menjadi perhatian karena dalam siklus sebelumnya, pergeseran LTH ke fase rugi sering kali memicu percepatan penurunan harga dan meningkatkan tekanan jual di pasar.
Dilaporkan Crypto Quant, sata tersebut ditunjukkan melalui dua grafik utama yang membandingkan pola pergerakan LTH pada siklus sebelumnya dengan kondisi saat ini. Dalam analisis historis, fase rugi bagi investor jangka panjang dianggap sebagai salah satu indikator penting yang dapat mengubah sentimen pasar dari bertahan menjadi panik.
Pola 2021: Saat LTH Rugi, Tekanan Jual Bitcoin Makin Dalam
Grafik pertama memperlihatkan bahwa pada siklus 2021, ketika LTH memasuki zona rugi, momentum penurunan Bitcoin justru meningkat tajam. Kondisi tersebut menjadi awal dari tekanan jual yang lebih agresif, di mana investor yang sebelumnya cenderung bertahan mulai kehilangan keyakinan terhadap tren harga.
Pada periode itu, masuknya LTH ke zona rugi menandakan bahwa bahkan investor yang telah memegang Bitcoin dalam jangka panjang mulai terdampak koreksi harga. Hal tersebut memicu efek psikologis yang kuat, karena LTH biasanya dianggap sebagai kelompok yang paling tahan terhadap volatilitas pasar.
Grafik kedua menunjukkan bahwa situasi serupa kini kembali terjadi. Data terbaru mencatat bahwa per hari ini, Long-Term Holders kembali memasuki fase kerugian. Ini menjadi momen penting karena menandakan perubahan besar dalam struktur pasar, di mana tekanan harga sudah cukup dalam hingga menekan rata-rata biaya beli investor jangka panjang.
Masuknya LTH ke fase rugi juga sering dikaitkan dengan potensi munculnya panic selling, terutama jika tekanan turun terus berlanjut. Jika investor jangka panjang mulai melepas aset, maka tekanan jual dapat meningkat lebih cepat dibanding fase koreksi biasa.
Analis Ingatkan Risiko Bearish, Trader Diminta Tidak Terburu-buru Ambil Posisi
Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Minggu, 8 Februari 2026. Sumber: Tokocrypto.
Kesimpulan dari pola historis 2021 menunjukkan bahwa masuknya LTH ke zona rugi sering kali menjadi awal transisi pasar menuju fase bearish yang lebih panjang. Kondisi tersebut biasanya memicu gelombang aksi jual berbasis kepanikan, bukan sekadar koreksi teknikal.
Karena itu, analis menilai bahwa mengambil posisi terlalu cepat tanpa adanya konfirmasi tren yang jelas dapat meningkatkan risiko penurunan lebih dalam pada level harga saat ini. Dengan sinyal ini, pelaku pasar disarankan untuk lebih berhati-hati dan menunggu validasi arah tren sebelum melakukan positioning agresif.
Menurut Tim Research Tokocrypto, kapitulasi LTH adalah pedang bermata dua: di satu sisi memicu volatilitas downside ekstrem jangka pendek, namun di sisi lain diperlukan untuk membersihkan sisa supply overhang sebelum pasar bisa membentuk bottom yang valid.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Blockchain Stable Mainnet resmi mengaktifkan upgrade jaringan v1.2.0, sebuah pembaruan infrastruktur penting yang mentransisikan pembayaran gas fee native ke USDTO, stablecoin yang dipatok terhadap dolar AS.
Langkah ini menjadi terobosan signifikan dalam meningkatkan pengalaman pengguna (user experience/UX) sekaligus menurunkan hambatan adopsi bagi pengguna baru di ekosistem blockchain.
Dengan upgrade ini, pengguna tidak lagi perlu melakukan proses wrap dan unwrap token untuk membayar biaya transaksi.
Selain itu, Coinmarketcal menyebut bahwa Stable Mainnet juga menghadirkan peningkatan pada aspek observabilitas staking, memungkinkan pemantauan aktivitas staking yang lebih transparan dan informatif.
Pada sebagian besar blockchain, gas fee biasanya dibayarkan menggunakan token native jaringan yang harganya volatil.
Kondisi ini sering kali menjadi sumber kebingungan, terutama bagi pengguna baru yang harus membeli token native terlebih dahulu, mengelola fluktuasi harga token, dan melakukan konversi atau wrapping token.
Dengan menjadikan USDTO sebagai gas fee native, Stable Mainnet menyederhanakan proses tersebut secara drastis.
Pengguna kini dapat membayar biaya transaksi langsung menggunakan stablecoin dengan nilai yang stabil, tanpa perlu memahami mekanisme teknis tambahan.
Pendekatan ini selaras dengan tren baru dalam desain blockchain yang semakin menitikberatkan pada kesederhanaan UX dan adopsi mainstream.
Stable Mainnet is live with over 150 partners building with us.
Payments, FX, custody, neobanks, DeFi, and infrastructure teams are already building on StableChain, the USDT-native rail built for real-world settlement. pic.twitter.com/TAKcK5U3yZ
Salah satu poin utama dari upgrade v1.2.0 adalah penghapusan friksi wrap/unwrap token.
Dalam praktik sebelumnya, pengguna kerap dihadapkan pada langkah tambahan untuk mengonversi aset tertentu agar bisa digunakan sebagai gas fee.
Friksi semacam ini terbukti menjadi penghambat adopsi, terutama bagi pengguna non-teknis, pengembang aplikasi yang menargetkan pasar massal, dan proyek Web2 yang ingin masuk ke Web3.
Dengan model baru ini, Stable Mainnet menghadirkan pengalaman yang lebih mendekati aplikasi keuangan tradisional, namun tetap mempertahankan sifat desentralisasi blockchain.
Peningkatan Observabilitas Staking
Selain perubahan pada sistem gas fee, upgrade v1.2.0 juga membawa peningkatan pada observabilitas staking.
Fitur ini memungkinkan pengguna dan validator untuk memantau performa staking secara real-time, mendapatkan visibilitas yang lebih jelas terhadap reward, dan mengidentifikasi potensi risiko atau anomali.
Transparansi staking menjadi faktor krusial dalam membangun kepercayaan pengguna, khususnya di jaringan yang menargetkan pertumbuhan jangka panjang dan partisipasi komunitas yang luas.
Perspektif Research: Dampak terhadap Adopsi
Tim Research Tokocrypto menilai bahwa keputusan menggunakan stablecoin sebagai gas fee native merupakan langkah strategis yang berdampak langsung pada adopsi.
“Penggunaan stablecoin sebagai gas native meningkatkan UX secara signifikan, menurunkan barrier to entry bagi pengguna mainstream. Ini adalah upgrade infrastruktur yang krusial untuk adopsi,” jelas tim Research Tokocrypto.
Menurut mereka, kompleksitas teknis sering menjadi alasan utama pengguna ritel enggan menggunakan aplikasi blockchain.
Dengan menyederhanakan mekanisme biaya transaksi, Stable Mainnet membuka peluang integrasi yang lebih luas dengan aplikasi konsumen, fintech, hingga layanan berbasis Web2.
Implikasi bagi Developer dan Ekosistem
Bagi developer, model gas fee berbasis USDTO menawarkan sejumlah keuntungan, mulai dari prediktabilitas biaya transaksi; pengalaman onboarding pengguna yang lebih mulus; hingga pengurangan kebutuhan edukasi teknis terkait token native.
Hal ini berpotensi mendorong lahirnya lebih banyak dApp yang berfokus pada use case nyata seperti pembayaran, remittance, dan aplikasi keuangan sehari-hari.
Di sisi ekosistem, Stable Mainnet memposisikan diri sebagai jaringan yang ramah pengguna dan siap bersaing dalam lanskap blockchain yang semakin kompetitif.
Upgrade Stable Mainnet v1.2.0 menandai langkah penting dalam evolusi desain blockchain yang berorientasi pada pengguna.
Dengan mentransisikan gas fee native ke USDTO, jaringan ini berhasil menghilangkan friksi teknis yang selama ini menghambat adopsi, sekaligus meningkatkan transparansi staking.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa inovasi blockchain tidak selalu harus berfokus pada kecepatan atau skalabilitas semata, tetapi juga pada kesederhanaan dan kenyamanan pengguna.
Jika diimplementasikan secara konsisten, strategi ini berpotensi menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekosistem Stable Mainnet dalam jangka panjang.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.