Tag: stablecoin

  • Stablecoin USDC Bangkit Setelah Terdampak Krisis Silicon Valley Bank

    Stablecoin USDC perlahan tapi pasti pulih kembali pasca terimbas runtuhkan Silicon Valley Bank yang dinyatakan bangkrut. Nilai USDC pada Senin (13/3) pagi mulai mencapai harga US$ 1 lagi, setelah sempat turun drastis sejak akhir pekan lalu.

    USDC dikenal sebagai stablecoin, yang berarti nilai aset tersebut seharusnya dipatok ke mata uang referensi, yakni dolar AS. USDC dirancang untuk diperdagangkan pada nilai US$ 1, tetapi pada akhir pekan lalu turun di bawah 87 sen pada hari Sabtu (11/3), menurut data dari CoinDesk.

    Penurunan nilai atau disebut depeg tersebut disebab oleh perusahaan pengembang USDC, Circle mengungkapkan bahwa mereka memiliki hampir 8% dari cadangan US$ 40 miliar yang disimpan di Silicon Valley Bank (SVB). Seperti yang diketahui, SVB telah dinyatakan bangkrut karena kesulitan likuidasi.

    SVB Bangkrut

    Regulator menutup SVB pada hari Jumat (12/3)dan menyita simpanannya. Peristiwa ini diklaim menjadi kegagalan perbankan AS terbesar sejak krisis keuangan 2008. Ledakan spektakuler perusahaan dimulai Rabu (10/3)malam ketika mengejutkan investor dengan berita bahwa SVB perlu mengumpulkan US$ 2,25 miliar untuk menopang neraca keuangannya. Yang terjadi selanjutnya adalah keruntuhan yang cepat dari bank yang sangat dihormati yang tumbuh bersama klien teknologinya.

    Dalam tweet Jumat, Circle mengatakan memiliki US$ 3,3 miliar sisa cadangan di SVB. Perusahaan menyerukan kelangsungan bank dan mengatakan akan mengikuti panduan dari regulator.

    Baca juga: Belajar dari Kripto UST dan LUNA, Stablecoin Masih Aman Jadi Instrumen Investasi?

    Industri aset kripto masih mengambil bagian setelah keruntuhan tiba-tiba FTX tahun lalu , dan terobosan USDC dengan dolar AS dapat menandakan lebih banyak masalah di masa depan. Stablecoin, seperti bank, rentan untuk dijalankan.

    Jika pemegang USDC ketakutan atau khawatir tidak ada cukup uang cadangan, mereka juga bisa terburu-buru menjual atau menukar koin mereka.

    USDC Bangkit

    Circle menyatakan akan menggunakan sumber daya perusahaan dan “modal eksternal jika perlu” untuk memastikan bahwa USDC dapat ditukarkan dengan Dolar AS. Dalam sebuah posting blog , Circle menulis bahwa perusahaan secara hukum berkewajiban untuk “berdiri di belakang” USDC dan akan menutupi kekurangan apa pun menggunakan sumber daya perusahaan—dan “modal eksternal jika perlu”—untuk memastikan bahwa stablecoin dapat ditebus dengan rasio 1:1 dengan Dolar AS.

    CEO Jeremy Allaire menegaskan kembali komitmen tersebut dalam sebuah utas Twitter. Circle menegaskan kembali klaimnya bahwa USDC dijamin 100% dengan uang tunai dan Departemen Keuangan AS.

    Baca juga: Bappebti: Transaksi BIDR Termasuk Pertukaran Antar Jenis Kripto

    “USDC saat ini dijamin 77% ($32,4 miliar) dengan US Treasury Bills (dengan periode jatuh tempo tiga bulan atau kurang), dan 23% ($9,7 miliar) dengan uang tunai yang disimpan di berbagai institusi, di mana SVB hanya satu,” tulis pernyataan Circle.

    Circle mengatakan 23% sisanya, sekitar US$ 9,7 miliar, dalam bentuk tunai, dan Circle menyetor US$ 5,4 miliar dengan BNY Mellon untuk “mengurangi risiko bank.” Perusahaan mengatakan bahwa Consumer Bank memiliki cadangan US$ 1 miliar lagi dalam USDC, menambahkan bahwa Circle mempertahankan rekening transaksi dan penyelesaian untuk USDC dengan Signature Bank.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Cardano Bakal Rilis Stablecoin yang Didukung USD di Tahun 2023

    Perkembangan jaringan blokchain Cardano terus dilakukan. EMURGO, salah satu entitas pendiri Cardano, mengumumkan akan meluncurkan stablecoin didukung fiat pada kuartal pertama tahun 2023.

    Stablecoin USDA ini akan sepenuhnya mematuhi peraturan dan dirancang untuk melindungi pemilik dari volatilitas bawaan pasar kripto. Dolar AS akan sepenuhnya mendukung stablecoin untuk memastikan stabilitas harga jangka panjang.

    Dilaporkan Beincrypto, EMURGO mengatakan memiliki kemitraan dengan perusahaan jasa keuangan teregulasi yang tidak disebutkan namanya di AS. Entitas itu yang akan bertindak sebagai kustodian untuk setoran tunai.

    Stablecoin USDA

    Baca juga: Bappebti Terbitkan Regulasi Baru Lindungi Investor Kripto di Indonesia

    USDA dicatat akan menjadi produk pertama yang datang dari suite barunya, Anzen. Suite ini akan berfokus pada menghubungkan layanan keuangan tradisional ke kripto.

    Melalui portal Anzen, pengguna dapat memberi token pada dolar AS mereka dan menggunakannya di jaringan blockchain Cardano. Rencana untuk Anzen termasuk pinjam meminjam, menjembatani antara dApps dan keuangan tradisional, dan kartu debit kripto.

    Stablecoin ini tidak hanya menawarkan stabilitas kepada investor yang melakukan transaksi keuangan di blockchain, tetapi juga memajukan ekosistem Cardano untuk mengatasi masalah yang kami posisikan secara unik untuk dipecahkan —perbankan yang tidak memiliki rekening bank,” kata Fintech Managing Director EMURGO, Vineeth Bhuvanagiri.

    Peluncuran USDA ditetapkan untuk Q1 tahun 2023, dan EMURGO berencana untuk mengaktifkan tokenisasi stablecoin lainnya, seperti USDT dan USDC, ke USDA. Juga, terungkap niat untuk mengaktifkan konversi dan pertukaran aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum.

    Stablecoin Djed

    Baca juga: Melihat Potensi Cuan Token Kripto saat Piala Dunia 2022

    Disamping USDA, Cardano bersama COTI juga akan meluncurkan stablecoin algoritmik, Djed di awal 2023. Stablecoin Djed akan menjadi stablecoin algoritmik dengan jaminan berlebihan yang didukung oleh cadangan Bitcoin.

    Menurut rilis, Djed akan ditayangkan di mainnet pada Januari 2023, sambil menunggu audit yang sukses dan serangkaian pengujian stres test yang ketat. Menurut pengembangnya, Djed akan dipatok ke Dolar AS, didukung oleh Cardano ($ADA), dan akan menggunakan $SHEN sebagai koin cadangannya.

    Ini akan menambah Cardano ke semakin banyak jaringan yang telah memperkenalkan stablecoin mereka sendiri dalam upaya untuk menyudutkan pasar di sektor industri aset kripto yang sedang berkembang ini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pangsa Pasar Stablecoin Tether USDT Naik ke Level Tertinggi

    Dominasi USDT Tether meningkat di antara stablecoin lain di tengah perombakan pasar kripto. Market share atau pangsa pasar stablecoin sendiri kini mencapai senilai US$ 136 miliar, data dari CoinGecko.

    Pangsa pasar USDT di antara stablecoin melampaui 54% pada hari Senin (6/3), level tertinggi sejak November 2021, setelah pasar kripto bull mencapai puncaknya . Kenaikan Tether sebagian besar datang dari saingannya Binance USD (BUSD), yang telah mengalami penurunan cepat sejak kasus Paxos.

    Perusahaan kripto, Paxos, mengumumkan pada 13 Februari lalu, bahwa ia akan menghentikan pencetakan token BUSD baru karena tekanan dari Departemen Layanan Keuangan New York, regulator tertinggi negara bagian. Sejak itu, BUSD menyusut di bawah US$ 9 miliar dari kapitalisasi pasar US$ 16 miliar.

    USDT Tumbuh

    gambaran jenis jenis stable coin
    Ilustrasi stablecoin.

    Baca juga: Alasan Kripto ‘Koin China’ Filecoin hingga VeChain Hasilkan Untung Besar

    Dilaporkan Coindesk, kapitalisasi pasar USDT telah tumbuh sekitar US$ 5,3 miliar tahun ini, menjadi US$ 71,6 miliar, dengan keuntungan US$ 3 miliar setelah pertengahan Februari. Stablecoin saingan Circle, koin USD (USDC), juga telah memperoleh US$ 3 miliar sejak pengumuman Paxos, namun kapitalisasi pasarnya sebesar US$ 44 miliar masih lebih rendah dibandingkan awal tahun 2023.

    Posisi Tether sebagai penerbit stablecoin yang dominan di dunia menentang pelaporan yang secara historis buram tentang cadangannya yang mendukung nilai USDT dan pengawasan ketat terhadap transaksi internalnya.

    Pekan lalu, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Tether menggunakan rekening bank yang diakses oleh dokumen palsu pada tahun 2018. Pada bulan September, seorang hakim New York memerintahkan Tether untuk menunjukkan catatan keuangan aset cadangan USDT dalam gugatan yang menuduh Tether berkonspirasi mengeluarkan USDT untuk menopang harga Bitcoin (BTC), CoinDesk melaporkan .

    Stablecoin Utama

    Nasib Tether yang didenda 41 juta dolar AS oleh CFTC.
    Ilustrasi stablecoin Tether USDT.

    Baca juga: Masuk Bisnis Web3, Amazon Bakal Rilis NFT Marketplace pada April 2023

    USDT adalah aset kripto yang paling banyak diperdagangkan dengan volume perdagangan sekitar US$ 27 miliar dalam 24 jam terakhir, menurut CoinGecko, lebih besar dari BTC .

    Stablecoin telah menjadi tulang punggung ekonomi kripto dalam beberapa tahun terakhir, menggelembung ke puncak kapitalisasi pasar sebesar US$ 188 miliar pada Mei 2022.

    Stablecoin mematok harganya stabil terhadap aset eksternal, seperti dolar AS, dan berfungsi sebagai fasilitator untuk perdagangan di pertukaran dan melakukan transaksi antara uang fiat yang dikeluarkan bank sentral dan dunia aset digital.

    Pastikan Anda hanya melakukan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah. Anda juga bisa menyimak berbagai informasi terbaru mengenai kripto dengan mengunjungi website TokocryptoInstagramTwitter, serta  komunitas Tokocrypto!

    DISCLAIMERBukan saran atau ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset kripto masih berisiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tether Luncurkan Stablecoin di Jaringan Polygon

    Tether meluncurkan token USDT di jaringan Polygon. Stablecoin ini akan membantu mendukung ekosistem decentralized finance (DeFi) Polygon dengan menyediakan mata uang yang stabil bagi investor.

    Saat ini, stablecoin terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar itu sudah tersedia di lebih dari 11 blockchainUSDT yang berpatok 1:1 dengan dolar AS, kini memiliki kapitalisasi pasar lebih dari $ 72,4 miliar.

    Polygon merupakan blockchain layer 2 di jaringan Ethereum, yang menawarkan transaksi cepat dengan biaya lebih rendah. Ada lebih dari 19.000 decentralized applications (dapps) yang beroperasi di jaringan ini.

    Polygon sejauh ini telah memproses lebih dari 1,6 miliar transaksi, memiliki lebih dari 142 juta alamat pengguna unik, dan memiliki total value locked (TVL) lebih dari $ 5 miliar.

    Baca juga: Miliuner: Bitcoin Akan Capai US$ 250.000 Tahun 2022, Mungkin?

    “Kami antusias untuk meluncurkan USDT di Polygon, (kami) menawarkan akses ke stablecoin paling likuid, stabil, dan tepercaya di ruang token digital, untuk komunitasnya,” kata Chief Technology Officer (CTO), Tether Paolo Ardoino, dalam keterangan resminya.

    Tether menjadi stablecoin yang paling banyak diadopsi dan saat ini sudah tersedia di jaringan Kusama, Ethereum, Solana, Algorand, EOS, Liquid Network, Omni, Tron dan Bitcoin Cash’s Standard Ledger Protocol.

    Kehilangan Kapitalisasi Pasar $ 10 Miliar

    USDT sempat ikut terguncang saat Terra ambruk pada pertengahan Mei lalu. Tak tanggung-tanggung, stablecoin ini kehilangan kapitalisasi pasarnya hingga $ 10 miliar.

    Berdasarkan data CoinGecko, kapitalisasi pasar USDT saat ini masih stabil di angka sekitar $ 73 miliar. Padahal, sebelum kejatuhan Terra, kapitalisasi pasarnya mencapai $ 84 miliar.

    Tether USDT merupakan stablecoin yang paling banyak digunakan oleh pasar kripto. Hal ini menjadikan USDT sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ketiga setelah Bitcoin dan ETH.

    Baca juga: GMT Turun 40% dalam Sehari! Ini Penyebabnya

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Stablecoin dan CBDC Punya Peran Penting dalam Pembayaran

    Perusahaan layanan pembayaran, Visa mulai mengerjakan proyek interoperabilitas blockchain untuk mendukung central bank digital currencies (CBDC) dan pengadopsian stablecoin. Mereka yakin CBDC dan stablecoin akan memiliki peran penting dalam layanan pembayaran di masa depan.

    CEO Visa, Al Kelly, tetap yakin bahwa solusi teknologi blockchain dapat diintegrasikan ke dalam layanan dan penawarannya untuk menggerakkan pembayaran generasi berikutnya. Kelly secara singkat membagikan rencana perusahaan untuk CBDC dan stablecoin dalam adopsi di industri pembayaran digital.

    “Ini masih sangat awal, tetapi kami terus percaya bahwa stablecoin dan mata uang digital bank sentral memiliki potensi untuk memainkan peran yang berarti dalam ruang pembayaran, dan kami memiliki sejumlah inisiatif yang sedang berjalan,” kata Kelly dikutip Cointelegraph.

    Investasi Visa

    Huobi dan Visa kolaborasi rilis kartu debit kripto buat belanja.
    Huobi dan Visa kolaborasi rilis kartu debit kripto buat belanja.

    Baca juga: Stablecoin Berbasis Cardano Siap Rilis, Harga ADA Bakal Naik?

    Selama bertahun-tahun, Visa telah mengerjakan sejumlah inisiatif terkait blockchain dan kripto.

    “Kami memiliki jumlah investasi yang tidak material dalam dana dan perusahaan kripto saat kami berusaha untuk berinvestasi dalam ekosistem pembayaran,” jelas CEO yang akan mundur dari Visa pada Februari mendatang.

    Kelly juga mengonfirmasi bahwa neraca Visa tidak terpengaruh oleh beberapa “kegagalan profil tinggi” yang mengguncang dunia aset kripto pada tahun 2022 lalu.

    “Kami tidak mengalami kerugian kredit terkait kegagalan ini […] Dalam segala hal yang kami lakukan, ketahuilah bahwa kami sangat fokus untuk menjaga integritas sistem pembayaran Visa dan sistem pembayaran secara keseluruhan dan tentu saja, reputasi merek kami berdiri untuk kepercayaan,” jelasnya.

    Fokus Blockchain dan kripto

    Ilustrasi aset kripto.
    Ilustrasi aset kripto.

    Baca juga: Sambut Imlek, Tokocrypto Gelar Kompetisi Trading Hadiah Rp 200 Juta

    Tim riset Visa sendiri mulai mengerjakan proyek interoperabilitas blockchain pada September 2021 bernama inisiatif Universal Payment Channel (UPC). Proyek ini dirancang untuk membangun jaringan untuk CBDC dan stablecoin pribadi untuk melewati berbagai saluran pembayaran.

    Namun, Visa belum memberikan pembaruan tentang UPC selama lebih dari 12 bulan.

    Baru-baru ini, pada 20 Desember 2022, Visa mengumumkan sedang menyusun rencana untuk memungkinkan pembayaran tagihan otomatis dari dompet bertenaga Ethereum milik pengguna.

    Visa juga telah meluncurkan beberapa kartu debit aset kripto “tanpa biaya” akhir-akhir ini termasuk perjanjian yang sekarang dihentikan dengan FTX dan kemitraan dengan Blockchain.com pada 26 Oktober, yang masih berlaku.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 5 Aset Kripto yang Paling Diminati Investor Indonesia

    Industri aset kripto terus mengalami pertumbuhan dari sisi jumlah investor kripto dan nilai transaksi dari waktu ke waktu. Kementerian Perdagangan (Kemendag) sebagai lembaga yang mengawasi dan mengatur perdagangan aset kripto mengeluarkan data transaksi terbaru dari industri yang baru tumbuh ini.

    Dari data yang dirilis Kemendag, disebutkan jumlah nasabah aset kripto telah mencapai 14,1 juta pada Mei lalu. Sementara itu, investor saham tercatat hanya 8,86 juta.

    Selain itu, aset kripto di Indonesia mengalami lonjakan luar biasa. Per 2020, nilai transaksi aset kripto sebesar Rp 64,9 triliun. Satu tahun kemudian, per Desember 2021, angkanya melonjak sangat signifikan menjadi Rp 859,4 triliun. Selama periode Januari hingga Mei 2022, tercatat sudah mencapai Rp 192 triliun.

    Ada hal menarik yang disebut dari data tersebut, bahwa ada lima jenis aset kripto teratas yang memiliki nilai transaksi tertinggi, yaitu Tether (Rp42,3 triliun), Bitcoin (Rp 18,5 triliun), Ethereum (Rp14,2 triliun), Dogecoin (Rp 6,8 triliun), dan Terra (Rp 6 triliun).

    Nasib Tether yang didenda 41 juta dolar AS oleh CFTC.
    Ilustrasi Nasib Tether yang didenda 41 juta dolar AS oleh CFTC.

    Baca juga: Bitcoin Kembali Turun ke Harga di Bawah $ 20 Ribu, Apakah Investor Mulai Menyerah?

    Tether (USDT) sendiri adalah aset kripto stablecoin yang dipatok ke dolar AS. Itu dibuat untuk menstabilkan nilai tukar dalam transaksi aset digital. Sejak kemunculannya, stablecoin telah memainkan peran yang sangat penting di pasar. 

    Tidak seperti aset kripto tradisional seperti Bitcoin dan Ethereum, yang nilai moneternya dapat berfluktuasi secara luas, stablecoin USDT dirancang untuk mempertahankan harga konstan US$ 1 dan didukung oleh cadangan dana yang besar atau rekayasa keuangan lainnya.

    Alasan Stablecoin Jadi Pilihan saat Bear Market

    VP Growth Tokocrypto, Cenmi Mulyanto, mengatakan laporan yang dikeluarkan oleh Kemendag sejalan dengan transaksi yang terjadi di Tokocrypto. Ia mengungkap bahwa tiga jenis aset kripto teratas yang ditransaksinya di platfrom Tokocrypto adalah USDT, ETH dan BTC.

    “Laporan transaksi aset kripto yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan untuk bulan Mei 2022, sejalan dengan situasi di Tokocrypto. Di platform kami tiga jenis aset kripto yang paling banyak di-trading adalah USDT, Ethereum dan Bitcoin. Untuk volume trading masing-masing belum bisa kami ungkap,” kata Cenmi.

    Menurut CoinGecko, USD Tether (USDT) dan USD Coin (USDC) adalah dua stablecoin terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar sejauh ini, masing-masing mencapai US$ 66 miliar dan US$ 55 miliar, pada 1 Juli 2022. Cenmi sedikit mengungkap kenapa volume trading Tether mengalami lonjakan ketika kripto sedang bear market

    Ilustrasi stablecoin.
    Ilustrasi stablecoin. Foto: David Sandron/Shutterstock.com.

    Baca juga: Belajar dari Kripto UST dan LUNA, Stablecoin Masih Aman Jadi Instrumen Investasi?

    Menurut Cenmi, secara teori, nilai Tether seharusnya lebih konsisten daripada aset lainnya dan disukai oleh investor yang waspada terhadap volatilitas ekstrim dari koin lain. Selama pasar naik, Bitcoin biasanya akan jauh mengungguli stablecoin. Namun, selama tekanan pasar, stablecoin menawarkan perlindungan dari volatilitas.

    “Aset kripto tradisional berada di bear market, karena meningkatnya inflasi dan ancaman kenaikan suku bunga dari The Fed. Akibatnya, sulit untuk menemukan peluang untuk menghasilkan hasil keuntungan. Stablecoin mewakili satu-satunya tempat berlindung yang tersisa yang menawarkan pengembalian yang mengalahkan inflasi,” jelasnya.

    Meski begitu, Cenmi mengingatkan stablecoin adalah aset volatilitas yang lebih rendah, tetapi bukan tanpa risiko. Waspadai hal ini dan jangan mengalokasikan investasi yang berlebihan dan selalu melakukan riset serta selalu menggunakan uang dingin, bukan dana darurat.

    Ilustrasi Tpkocrypto dan Binance buat aset kripto BIDR.
    Ilustrasi Tpkocrypto dan Binance buat aset kripto BIDR.

    Di samping itu, Bappebti mencatat lima calon pedagang fisik aset kripto dengan nilai transaksi tertinggi pada Januari-Mei 2022, yaitu Tokocrypto, Indodax, Pintu, Rekeningku dan Zipmex. Cenmi mengatakan Tokocrypto masih memiliki daily trading volume yang terus tumbuh walaupun saat bear market.

    “Dalam situasi bear market saat ini, daily trading volume harus diakui terjadi penurunan dari segi daily trading volume dari sebelumnya pada saat normal bisa mencapai US$ 50-70 juta (Rp 747 miliar-1 Triliun), kini jadi US$ 15-20 juta (RP 224 miliar-298 miliar),” pungkas Cenmi.

    Baca juga: Tips Cuan Investasi Kripto Kala Market Bearish dan Kekhawatiran Stablecoin



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • USDD Tron Turun dari $ 1, Ikuti Jejak UST?

    Stablecoin Tron yaitu Decentralized USD (USDD) yang baru saja diterbitkan beberapa bulan lalu terlihat mengalami masalah. 

    Algorithmic Stablecoin ini terlihat turun di bawah $ 1 hingga mencapai $ 0,91 dan saat ini bergerak di sekitar $ 0,98. 

    Kondisi ini jauh dari yang seharusnya di mana seharusnya USDD berada stabil di $ 1 sehingga membuat banyak investor panik.

    USDD Turun dari $ 1 dalam Sehari 

    USDD dari Tron dikabarkan telah turun dari nilai yang seharusnya mencapai sekitar $ 0,98 hingga saat ini. 

    Penurunan nilai ini terjadi bersama dengan pasar kripto yang hancur sejak akhir pekan lalu bersama Bitcoin yang mencapai sekitar $ 21.000. 

    Koreksi ini terjadi bersama dengan pasar kripto yang turun bersama aset berisiko lainnya akibat adanya potensi krisis resesi bahkan stagflasi yang akan terjadi di dunia. 

    Bersama faktor makroekonomi ini, terdapat beberapa sentimen negatif lain dari sisi internal pasar kripto yang membuat banyak investor memilih untuk menjual akibat khawatir koreksi berlanjut. 

    Kondisi pasar yang negatif ini berdampak tidak hanya pada USDD tapi seluruh kripto. Meski begitu, USDD mengalami salah satu koreksi terparah, yang membuatnya hampir mirip dengan UST, stablecoin dari Terra. 

    Walau tidak separah UST, USDD sempat mengalami koreksi ke $ 0,91 dari $ 1 hanya dalam satu hari, yang membuat banyak investor TRX panik akan kejadian yang sama seperti Terra. 

    Koreksi ini juga terjadi setelah pembelian Bitcoin sebagai dana cadangan oleh Tron DAO, kesatuan yang menjaga nilai USDD. 

    Baca juga: Token Kripto Metaverse Terus Tumbuh, meski Market Bearish

    Banyak investor yang khawatir karena Terra mulai hancur juga setelah pembelian Bitcoin untuk dana cadangannya. 

    Walau saat ini turun, Tron DAO menyatakan bahwa mereka akan terus membeli dan menambah dana cadangan untuk memastikan USDD kembali stabil. 

    Tapi terdapat tambahan bahwa mereka akan membeli dalam jumlah besarl lagi jika pasar mulai pulih. 

    Untuk saat ini, Tron DAO masih terus aktif menjaga nilai USDD dengan pembelian USDC hingga mencapai $ 2,5 Miliar. 

    Sama seperti UST?

    Pada saat peluncuran USDD, sebelumnya Tron menjanjikan bahwa akan ada dana cadangan untuk menjaga USDD hingga mencapai $ 10 miliar. 

    Hingga saat ini terlihat bahwa target janji tersebut masih belum tercapai karena dana cadangan yang ada dan telah digunakan masih berada di sekitar $ 3 miliar. 

    USDD Tron Turun dari $1, Ikuti Jejak UST?
    Dana Cadangan Tron DAO untuk USDD

    Walau mengalami penurunan nilai, Tron DAO tetap memastikan bahwa USDD masih terjamin hingga mencapai 277,54% dengan beberapa kripto seperti USDC, USDT,  TUSD, TRX, BTC dan DAI. 

    Justin Sun yang saat ini menjabat sebagai penasihat untuk Tron, menyatakan bahwa mekanisme USDD seharusnya membuatnya aman. 

    Ia juga merupakan individu yang menyarankan dana jaminan tambahan melebihi 100% dari persediaan USDD yang beredar. 

    Tapi sayangnya kedua hal tersebut masih belum berhasil menjaga USDD untuk bergerak stabil di sekitar $ 1. 

    Baca juga: Mengenal Aset Kripto Ontology Gas (ONG) dan VIDT Datalink (VIDT)

    Untuk investor Terra dan UST, kondisi ini membawa ingatan buruk karena pergerakan kedua proyek ini hampir sama. 

    Keduanya membeli Bitcoin sebagai dana cadangan, keduanya memiliki stablecoin dengan mekanisme hampir sama, dan keduanya mengalami penurunan nilai. 

    Oleh karena itu, kemungkinan besar, TRX akan mendapatkan sentimen negatif hampir mirip dengan Terra. Tapi untuk kehancurannya, untuk saat ini Tron DAO masih memiliki dana untuk menjaga USDD sehingga masih belum hancur. 

    USDD Tron Turun dari $1, Ikuti Jejak UST?
    Grafik Bulanan TRXUSD

    Untuk saat ini dari sisi teknikal, TRX masih terlihat memiliki potensi pergerakan negatif, terutama dari grafik bulanannya. 

    Hal ini disebabkan, TRX telah keluar dari zona segitiga simetrisnya di grafik bulanan yang membuat adanya potensi koreksi lanjutan. 

    Kemungkinan besar jika terus turun TRX akan bergerak menuju $ 0,04 hingga $ 0,03 namun butuh waktu yang lama. 

    Baca juga: Blockware: 8 Tahun Lagi 10% Penduduk Dunia Gunakan Bitcoin

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Beranjak dari Kasus Terra UST, Apa Itu Stablecoin dan Apa Saja Jenisnya?

    Kasus Terra UST telah menarik perhatian lebih pada stablecoin, termasuk urusan regulasi dari para pemangku kepentingan di sektor keuangan. Lalu, apa itu stablecoin dan apa saja jenisnya? Dan apa respons dari Robby, Direktur Rekeningku.com?

    Apa Itu Stablecoin?

    Secara umum, stablecoin adalah aset kripto berupa token, yang nilainya dipatok dengan aset bernilai tetap atau stabil, seperti mata uang negara (fiat money), yakni dolar AS dan euro. Ada pula stablecoin yang dipatok dengan harga emas (gold).

    Selain menggunakan mata uang yang asli disimpan di bank, nilainya dipatok dengan surat utang perusahaan ataupun surat utang negara, seperti yang diterapkan oleh perusahaan Tether untuk USDT. Perusahaan penerbit harus berusaha menstabilkan USDT agar nilainya tetap 1 banding 1 terhadap dolar AS.

    Hadirnya stablecoin ini untuk memberikan bentuk token yang tidak bervolatilitas seperti Bitcoin dan altcoin lainnya. Juga, ini biasanya disimpan sebagai dana cepat jika investor tertarik untuk berinvestasi di aset kripto lain, tanpa perlu mengubahnya menjadi uang yang ada di rekening bank, melainkan tetap di akun di bursa kripto.

    Seperti yang disebutkan di atas, stablecoin juga ada yang nilainya dipatok dengan komoditas seperti emas, yang ditujukan sebagai bentuk dari tokenisasi emas fisik itu sendiri. Nilai satu token akan sama dengan emas satu troy ounce. Contohnya adalah Pax Gold (PAXG), yang dikeluarkan oleh perusahaan Paxos.

    Juga, secara umum ada dua jenis stablecoin, yakni yang memiliki underlying asset asli dan yang menggunakan kode, alias algoritmik.

    Jenis pertama adalah stablecoin USDT dan USDC. Sedangkan jenis kedua adalah DAI dan UST. DAI ini cukup bertahan hingga saat ini dan punya keunikan sendiri.

    Baca juga: Harga Terra LUNA Hari Ini Menguat 50 Persen, Bos Binance Soroti Penyebab Keruntuhan Parah Sebelumnya

    Jika membahas, stablecoin jenis pertama, maka kita pasti sudah banyak menggunakannya untuk membeli aset kripto lain di berbagai bursa.

    Karena ini nilainya stabil, investor menyimpannya tidak untuk mencari keuntungan dari capital gain (pertumbuhan nilai), melainkan melalui produk staking layaknya deposito di bank, yang disediakan oleh beberapa bursa kripto utama. Bunganya pun tak kalah menarik.

    Dan salah satu fungsi utama dari stablecoin adalah, Anda dapat melakukan transfer uang lintas negara dengan lebih cepat dan murah dibandingkan melalui transfer antar bank.

    Melirik Kasus Terra UST 

    Meski sejatinya stablecoin dirancang untuk tetap stabil, namun kasus dari Terra UST membuat banyak orang berfikir kembali akan kemampuan stablecoin, terutama yang berjenis algoritmik.

    UST, yang menerapkan mekanisme penyeimbang secara algoritmik, telah berhasil dihancurkan melalui serangan aksi jual skala besar, hingga nilainya benar-benar jauh dari kata stabil, di bawah US$1.

    Pada saat penulisan, berdasarkan data dari CoinMarketCap, nilai dari UST kini telah merosot lebih dari 94 persen, berada di US$0,055.

    UST juga menyeret token tata kelola Terra, LUNA, ke dalam kehancuran karena algoritmiknya akan mencetak LUNA secara otomatis untuk menyeimbangkan UST. Alhasil, pasokan beredar LUNA membludak, menjatuhkan harganya lebih dari 99 persen.

    Lalu, bagaimana nasib Terra LUNA dan UST hari ini?

    Baca juga: Tips Cuan Investasi Kripto Kala Market Bearish dan Kekhawatiran Stablecoin

    Voting Terra LUNA di Mata Bos Rekeningku.com

    Apa yang menjadi perhatian investor dan pengamat saat ini adalah, voting Terra untuk proposal pemulihan ekosistem di Terra Station.

    Nantinya, itu akan menghadirkan jaringan Terra 2.0, yang benar-benar baru melalui forking. Juga, token LUNA 2.0 akan hadir dengan jumlah pasokan yang tetap. Ini tidak terkait lagi dengan UST.

    Sementara, jaringan lama akan berubah nama menjadi Terra Classic, begitu pula dengan token LUNA saat ini, berubah menjadi Luna Classic (LUNC). Sedangkan ini, masih akan terkait dengan UST.

    Voting saat ini sudah mencapai kesepakatan di 62,06 persen, meski total suara yang masuk belum seluruhnya. Voting akan berakhir pada 25 Mei 2022.

    “Apa yang benar-benar diharapkan adalah, keberhasilan forking jika pada akhirnya proposal sah dilaksanakan. Investor masih berharap, tetapi belum ada rincian kegiatan nyata yang mampu menyelamatkan harga LUNA,” ujar Direktur Rekeningku.com, Robby kepada Blockchainmedia.id, Minggu (22/5/2022).

    Robby pun menambahkan bahwa, tentu saja forking akan menjadi ide yang menarik dari Do Kwon dan tim, tetapi eksekusinya adalah apa yang benar-benar perlu dipantau.

    Selain itu, di Terra Station juga telah ada proposal voting baru untuk UST, di mana ada ide untuk burn UST melalui pool komunitas untuk menolong harganya.

    Namun, jumlah peserta masih sangat sedikit, kurang dari 30 persen total peserta, dan ini masih akan berakhir pada 27 Mei. Sehingga, akan terlaksana atau tidaknya masih belum dapat dipastikan. 

    Baca juga: Investasi Aset Kripto Sarana Pengembangan Ekonomi Anak Muda

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Founder Coinmetrics: Stablecoin Tetap Kuat, Kecuali UST

    Stablecoin dianggap sebagai inovasi terkuat di dunia crypto karena memberikan kemampuan desentralisasi dari sisi transaksi. 

    Pernyataan tersebut dituturkan oleh Nic Carter, Pendiri Coinmetrics dan Petinggi Castle Island Ventures dalam acara Permissionless oleh Blockworks. 

    Acara Permissionless Bahas Stablecoin 

    Ia menyatakan pandangannya dengan menyatakan bahwa pemerintah tidak bisa memberikan apa yang diberikan oleh inovasi stablecoin.

    Pernyataan ini disampaikan dengan adanya beberapa petinggi di dunia crypto seperti 

    Kepala Bidang CBDC Visa, Catherine Gu, Developer Utama MakerDAO Sam MacPherson, Pendiri Frax Sam Kazemian.

    Acara ini juga seharusnya menyambut CEO Terra, Do Kwon terkait kasus stablecoin yang sedang ramai, tapi ia tidak hadir. 

    Perbincangan ini juga menyangkut kondisi USTerra atau UST yang sedang turun jauh di bawah $1 menjadi sekitar $ 0,1 keluar dari statusnya sebagai stablecoin

    Menanggapi kondisi ini banyak stablecoin yang juga terimbas sentimen negatif, tapi satu stablecoin berdiri kuat yaitu USDC. Circle, perusahaan yang bertanggung jawab atas USDC menyatakan, 

    “Cara kerja kami sangat membosankan, sistemnya sangat mudah, terdasari uang fiat. Pengguna memberi 1 Dolar Amerika, kita memberi 1 USDC dan sebaliknya.”

    Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

    USDC menjadi salah satu topik yang dibahas dalam acara ini karena perbedaannya yang sangat drastis dengan UST dari Terra. 

    Sebab untuk sistem USDC stablecoin-nya adalah stablecoin tradisional tapi UST menggunakan sistem stablecoin algoritma. 

    Stablecoin tradisional adalah stablecoin yang didasari uang fiat sedangkan stablecoin algoritma didasari oleh token atau koin yang terikat dengannya dari sisi nilai. 

    Baca juga: Mengenal Dekat Kripto Wrapped Bitcoin (WBTC) dan Kava Lend (HARD)

    Kehancuran Terra Sudah Diprediksi 

    Nic Carter juga menyatakan bahwa Terra adalah sebuah proyek yang sudah diprediksi akan hancur dalam jangka panjang. Ia menyatakan, 

    “Luna Terra jelas adalah sebuah bom waktu di dunia crypto, jelas sekali proyek yang paling rentan.”

    Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

    Carter menyatakan bahwa Terra adalah sebuah sistem keuangan yang sangat teledor dari sisi infrastrukturnya dan menganggap bahwa kehancurannya sudah dapat diprediksi sejak lama bagi yang memiliki “pandangan jernih”.

    Ia menambahkan bahwa sistem algoritma UST membuatnya rumit bahkan terlalu rumit dan sulit dimengerti oleh para investor yang tertarik.  

    Selain itu Carter juga menambahkan bahwa mekanisme ini tidak pernah dikoreksi karena Do Kwon sangat agresif dan aktif di Twitter, membuat investor jengkel saat memberi kritik. 

    “Investor tidak bisa memberi kritik terhadap UST karena Do Kwon sangat vokal di Twitter. Terdapat kondisi dimana kritik menjadi sebuah hal yang menyinggung bagi komunitas Terra, jadi besar insentifnya untuk tidak memberi kritik ke Terra.” 

    Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

    MacPherson, developer utama dari MakerDAO juga setuju dengan pernyataan tersebut dimana Terra dianggap olehnya sebagai proyek yang teledor sejak awal berdiri. 

    Ia juga menambahkan bahwa kasus UST membuat adanya kebutuhan yang tinggi terkait penjagaan nilai stablecoin berdasarkan nilai uang fiat asli yang ada di dana cadangan penerbit. 

    MacPherson juga menyinggung DAI yang memiliki cadangan 1,64 kali dari stablecoin yang diterbitkannya sehingga dianggap sebagai stablecoin yang aman. 

    DAI juga diangkat dalam perbincangan tersebut karena sebelumnya Do Kwon menyinggung DAI dan berjanji untuk mematikan proyek tersebut. 

    Terlihat bahwa saat ini DAI masih hidup dan UST mati yang juga menjadi salah satu topik hangat di dunia crypto saat ini. 

    Baca juga: 3 Tanda Onchain Menunjukkan Bitcoin Mulai Pulih

    Masih Menjadi Inovasi Terkuat Crypto

    Dalam acara tersebut, perwakilan dari Visa, Catherine Gu, juga menyatakan pendapatnya terkait kasus Terra.

    Ia menyatakan bahwa Visa menginginkan kegunaan yang unik dari stablecoin dan fokus Visa saat ini memang masih hanya di stablecoin yang didasari fiat. Gu menyatakan:

    “Kita harus memikirkan tentang pembentukan proyek crypto yang ada saat ini karena adanya standar keamanan merupakan hal yang penting untuk konsumen, investor ritel, dan institusi. Penting untuk tau proses audit dari stablecoin dan bagaimana mereka menguji kestabilan stablecoin tersebut.” 

    Kepala Bidang CBDC Visa, Catherine Gu

    Selain itu Gu juga menggarisbawahi bahwa banyak institusi yang saat ini lebih percaya terhadap CBDC atau mata uang digital bank sentral, dibandingkan stablecoin.  

    MacPherson dari MakerDAO juga menyetujui pandangan positif terhadap stablecoin dengan menyatakan bahwa jika CBDC masuk ke blockchain terbuka maka bisa menjadi stablecoin yang lebih aman. 

    Reginatto dari Circle, perusahaan terkait USDC memiliki tanggapan yang berbeda. Ia menyatakan bahwa bank sentral akan kesulitan jika diberi tanggung jawab mengendalikan fiat di blockchain karena sistemnya yang berbeda dan lebih rumit.

    Ia juga berargumen bahwa sistem antara CBDC dan stablecoin itu berbeda dimana CBDC bersifat terpusat dan stablecoin tidak terpusat serta transparan. 

    Namun kritik terkait CBDC datang dari Nic Carter yang menyatakan bahwa stablecoin lebih mendukung konsumen. Ia menyatakan: 

    Stablecoin adalah inovasi terkuat dari crypto sejauh ini, tidak ada perbandingannya. Stablecoin bertanggung jawab atas transisi autonomi transaksi yang besar di dunia keuangan saat ini.” 

    Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

    Carter menambahkan bahwa CBDC tidak bisa memberikan transparansi dan sifat anonim yang datang dari CBDC.  

    Jadi ia percaya bahwa walau sekarang terjadi kekacauan di sekitar stablecoin, dengan adanya infrastruktur dan sistem audit yang tepat, maka stablecoin akan tetap kuat sebagai produk utama dunia crypto

    Baca juga: Mendag Rusia Akan Melegalkan Perdagangan Kripto

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Belajar dari UST dan LUNA, Stablecoin Aman Jadi Instrumen Investasi?

    Aset kripto TerraUSD (UST) dan Terra (LUNA) sedang jadi sorotan sepekan ini. Alasannya harga kedua aset kripto tersebut tak stabil dan bahkan LUNA turun sampai 99% hanya dalam hitungan hari, padahal ia sempat jadi primadona investor dan capai harga tertinggi sepanjang masa.

    Berdasarkan situs CoinMarketCap, pada Jumat (13/5) pukul 14.00 WIB, LUNA diperdagangkan pada $ 0,00005687 dengan market cap sebesar $ 557 juta anjok 63%. Sebelumnya, LUNA telah capai harga tertinggi sepanjang masa pada Selasa (5/4) sebesar $ 119,18 per koin atau setara Rp 1,73 juta, pada saat itu kapitalisasi pasarnya mencapai $ 40 miliar.

    Penurunan harga LUNA ini sangat terpengaruh oleh faktor peg atau berkurangnya nilai dari stablecoin asli jaringan Terra, UST. Stablecoin UST turun ke level $ 0,22 pada perdagangan Jumat (13/5) yang merupakan terendah sepanjang masa. Melihat hal ini apakah stablecoin masih aset kripto teraman untuk investasi saat ini?

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono.
    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono.

    Sebelum menjawab hal tersebut, kita bahas apa yang sebenarnya terjadi dengan UST? Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan mekanisme stablecoin algoritmik memiliki kelemahan sebagai penopang sebagian besar nilai UST. Hal inilah yang menjadikan harga LUNA sangat terpengaruh oleh penurunan UST yang sangat dramatis. 

    Lebih lanjut, Afid menjelaskan CEO Terralabs, Do Kwon pun mengakui bahwa model stablecoin tersebut hadir dengan beberapa pengorbanan. Faktanya, memang koin sangat terdesentralisasi. Namun, dibandingkan dengan koin seperti Tether, ia menghadapi beberapa masalah stabilitas harga, terutama jika sistemnya berada di bawah tekanan.

    “Jika terlalu banyak orang yang mencoba menebus UST sekaligus, “death spiral” hipotetis dapat terjadi dengan token LUNA yang dipasangkan dengannya. Nilai LUNA akan mulai runtuh karena lebih banyak token dicetak untuk memenuhi permintaan pengguna,” jelas Afid.

    Baca juga: Serangkaian Aksi dan Reaksi Dibalik Anjloknya UST dan Terra (LUNA)

    Hipotesis Nilai LUNA Turun

    Afid menerangkan kemungkinan besar penurunan ini terkait juga dengan adanya attack dari ‘oknum’ yang memanfaatkan kelemahan dari mekanisme yang Terra punya. Kelemahan dari Terra LUNA adalah soal “death spiral”.

    LUNA memiliki hubungan mutual dengan UST. Setiap ada UST diterbitkan, ada supply LUNA yang di-burn, begitu pula sebaliknya. Seharusnya secara algoritma, ketika harga UST jatuh, ada UST yang di-burn dan LUNA yang diterbitkan. Nilai Terra LUNA bisa turun, jika TerraUSD dianggap tidak stabil.

    aset kripto Terra (LUNA)
    Ilustrasi aset kripto Terra (LUNA).

    Blockchain Terra sempat berhenti untuk menghindari penyerangan governance pada jaringannya dan untuk membentuk rencana baru. Governance attack adalah kondisi di mana token yang digunakan untuk hak suara dikendalikan sebagian besar oleh satu pihak saja sehingga bisa merusak atau mengubah jaringan,” kata Afid. 

    Untuk saat ini LUNA terlihat semakin tidak ada harapan dengan harga yang turun drastis dan kondisi keuangan perusahaan yang masih jatuh. Jadi jika Terra mau kembalikan lagi ke peg-nya itu UST $ 1, mau tidak mau mesti burn UST yang supply-nya berlimpah, dan efeknya supply LUNA semakin banyak, otomatis harga LUNA akan terus anjlok sampe UST bisa stabil ke $ 1 lagi.

    Baca juga: Avarta dan Tokocrypto Jalin Kemitraan Strategis Kembangkan Ekosistem Blockchain di Indonesia

    Apa Bedanya BIDR sama UST?

    Drama UST dan LUNA membuat investor khawatir dan ragu atas kondisi pasar stablecoin yang sebelumnya, dianggap aman sebagai instrumen investasi, namun kini terlalu volatil.

    Tidak semua stablecoin menggunakan mekanisme algoritmik seperti UST. Binance IDR (BIDR) contohnya. BIDR merupakan stablecoin berbasis Rupiah yang dapat diperdagangkan dengan aset kripto lainnya. BIDR menggunakan Binance Chain (BEP-2) yang dipatok ke dalam Rupiah (IDR). BIDR akan tersedia untuk pembelian langsung dan penukaran dengan harga 1 BIDR setara dengan 1 Rupiah.

    stablecoin BIDR dan UST
    Ilustrasi stablecoin BIDR dan UST.

    Untuk menjaga kestabilannya, BIDR didukung 1:1 oleh Rupiah di rekening bank terpisah di Indonesia. BIDR akan diaudit setiap bulan oleh perusahaan audit. Laporan audit akan dipublikasikan di Tokocrypto untuk referensi bagi pengguna BIDR.

    Harga atau nilai BIDR di bursa mungkin sedikit menyimpang dari Rp 1, karena kekuatan penawaran dan permintaan pasar untuk aset tersebut. Namun, penyimpangan harga tersebut akan kecil, karena arbitrase pasar akan bekerja untuk membawa harga BIDR kembali ke 1 Rupiah Indonesia.

    Baca juga: UPDATE: Blockchain Terra Kembali Produksi, Meski Harga LUNA Hancur

    Apakah BIDR Bisa Bernasib sama dengan UST?

    Peristiwa yang terjadi dengan UST sulit menimpa BIDR. UST membutuhkan mekanisme algoritmik untuk menjaga nilainya agar tetap sama dengan Dolar AS. Setiap token UST yang diterbitkan, ada supply token LUNA yang diburn atau dihancurkan.

    “Sistem tersebut memiliki kelemahan dari segi governance attack, sehingga membuka peluang satu pihak bisa menguasai banyak koin dan punya kewenangan untuk merusak atau mengubah jaringan. Seperti yang terjadi saat ini,” jelas Afid.

    Ilustrasi Tpkocrypto dan Binance buat aset kripto BIDR.
    Ilustrasi Tpkocrypto dan Binance buat aset kripto BIDR.

    Sementara, BIDR tidak mengunakan skema mekanisme algoritmik. BIDR mempunyai mekanismi setiap koin mewakili satu Rupiah yang disimpan di bank. Ini memungkinkan pencetakan dan burning BIDR berdasarkan jumlah Rupiah yang disimpan.

    Tokocrypto sebagai pengelola BIDR bekerja sama dengan perusahaan audit untuk menyesuaikan suppy token sesuai dengan jumlah uang Rupiah yang disimpan di bank untuk mencapai skala 1:1. Laporan audit transparan dan bisa diakses di tokocrypto.com/report.

    Baca juga: Tragedi Terra (LUNA), UST dan Bitcoin: Raksasa BlackRock, Citadel dan Gemini Dalangnya?

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto memiliki volatil tinggi, Tokocrypto mengimbau setiap pengguna melakukan research terlebih dahulu sebelum melakukan transaksi dengan mengutamakan sikap kehati-hatian. Segala bentuk perdagangan aset kripto ditanggung pengguna dengan segala risikonya karena merupakan keputusan pribadi.



    Sumber : news.tokocrypto.com