Tag: the fed

  • Efek Trump: Harga Bitcoin Stabil di Dekat $85.000 atau Rp 1,4 Miliar

    Harga Bitcoin kembali menunjukkan pergerakan positif yang menarik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan pernyataan terbaru.

    Laporan terbaru dari Cointelegraph pada Jumat (21/3), menyebutkan bahwa mata uang kripto ini sempat mencapai level tertinggi intraday di $87.453 (Rp 1,4 miliar) sebelum turun kembali ke $83,655 (Rp 1,3 miliar).

    Efek Pernyataan Trump

    Sebelum pernyataan Trump dalam acara Digital Asset Summit di New York, beredar spekulasi bahwa ia akan mengumumkan pajak nol untuk beberapa aset kripto atau kebijakan strategis terkait cadangan Bitcoin AS.

    Namun, ekspektasi ini tidak terpenuhi. Trump hanya menegaskan kembali janjinya untuk tidak menjual Bitcoin yang telah disita oleh pemerintah dan mendorong Kongres untuk segera mengesahkan regulasi stablecoin.

    Pernyataan paling optimis dari Trump adalah keinginannya untuk menjadikan AS sebagai pemimpin global dalam dunia kripto.

    Merespons Spekulasi Pasar

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Jumat, 21 Maret 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Jumat, 21 Maret 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Seperti yang sering terjadi di pasar kripto, banyak investor membeli Bitcoin berdasarkan spekulasi sebelum pernyataan Trump.

    Namun, ketika pengumuman tersebut tidak sesuai dengan harapan, harga Bitcoin mengalami koreksi yang cukup cepat.

    Menurut analis pasar Aksel Kibar, terdapat kemungkinan Bitcoin mengalami koreksi lebih lanjut ke level $73,700 (Rp 1,2 miliar) sebelum menentukan tren jangka panjang berikutnya.

    Dukungan dari The Fed

    Selain faktor Trump, penguatan Bitcoin juga dipengaruhi oleh pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell.

    Dalam risalah pertemuan FOMC, Powell mengisyaratkan perlambatan kebijakan pengetatan kuantitatif dan kemungkinan adanya dua kali pemotongan suku bunga pada 2025.

    Imbasnya, hal ini memberikan optimisme yang cukup besar di kalangan para investor Bitcoin.

    Prediksi Pasar dan Strategi Investor

    Arthur Hayes, salah satu pendiri BitMEX, menyebut bahwa kebijakan Federal Reserve kemungkinan besar akan mendukung pergerakan harga Bitcoin.

    Namun, ia memperingatkan bahwa volatilitas masih bisa terjadi dan menyarankan investor untuk tetap waspada serta memiliki dana cadangan.

    Kembalinya premi Coinbase pada Bitcoin juga menjadi sinyal bahwa permintaan di pasar spot kembali meningkat.

    Hal ini bisa menjadi indikator positif bagi pergerakan harga Bitcoin dalam waktu dekat.

    Dengan berbagai faktor yang mempengaruhi harga Bitcoin saat ini, investor disarankan untuk tetap fleksibel dan mengikuti perkembangan kebijakan ekonomi global yang dapat mempengaruhi pasar kripto secara signifikan.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • The Fed Pertahankan Suku Bunga, Harga Bitcoin Naik 7%

    Harga aset kripto utama seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), XRP, dan Dogecoin (DOGE) mengalami penguatan signifikan menyusul keputusan Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga acuan AS dalam kisaran 5,25%-5,50%.

    Kebijakan ini memicu optimisme pasar terkait likuiditas dan risiko investasi, mendorong aliran modal ke aset berisiko tinggi seperti kripto.

    The Fed Pertahankan Suku Bunga, Sinyal “Higher for Longer”

    Pada pertemuan untuk menentukan kebijakan pada 20 Maret 2025, The Fed memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga untuk kelima kalinya secara berturut-turut.

    Jerome Powell, Ketua The Fed, menegaskan bahwa inflasi AS masih di atas target 2% (3,2% per Februari 2025), sehingga perlu menjaga suku bunga tinggi hingga ada kepastian inflasi terkendali.

    Namun, The Fed juga memproyeksikan tiga pemotongan suku bunga pada 2025, yang memicu respons positif di pasar keuangan.

    Harga Bitcoin Terkatrol

    Pasca putusan The Fed, harga Bitcoin (BTC) melonjak 7% dalam 24 jam, menembus level $67.000 atau yang tertinggi sejak November 2021.

    Kenaikan didorong oleh arus masuk dana ke ETF Bitcoin spot dan antisipasi halving pada April 2025 mendatang.

    Bahkan, analis Standard Chartered memprediksi BTC bisa mencapai harga hingga $100.000 pada akhir tahun, jika tidak kehilangan momentum.

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Kamis, 20 Maret 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Kamis, 20 Maret 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Efek Domino

    Bukan hanya Bitcoin saja yang terkatrol kebijakan The Fed tersebut, aset lainnya seperti Ethereum (ETH) turut menguat 9% ke level $3.500.

    Hasil positif ini juga didukung ekspektasi persetujuan ETF Ethereum oleh SEC pada Mei mendatang. Selain itu, aktivitas jaringan meningkat seiring persiapan upgrade “Dencun” untuk mengurangi biaya transaksi.

    Di sisi lain, harga XRP naik 12% ke level $0,65, setelah Ripple mengumumkan kerja sama dengan lembaga keuangan di Asia untuk penggunaan teknologi CBDC. Sentimen pasar mulai membaik menyusul perkembangan positif gugatan Ripple vs SEC.

    Pun begitu dengan harga Dogecoin (DOGE) yang melesat ke level 18% senilai $0,16 karena lonjakan volume perdagangan dan rumor integrasi dengan platform pembayaran global.

    Harga Dogecoin juga meningkat setelah Elon Musk kembali memicu spekulasi dengan postingan misterius di X (Twitter).

    Faktor Penggerak Rally Kripto

    Pasca putusan The Fed, likuiditas terhadap aset digital tetap terjaga. Suku bunga tinggi yang stabil mengurangi kekhawatiran resesi, mendorong investor mengambil risiko. –

    Inflows ke ETF Kripto juga cukup tinggi. Contohnya, ETF Bitcoin AS mencatat aliran dana masuk $1,2 miliar dalam sepekan terakhir.

    Dari sisi teknologi dan regulasi, upgrade jaringan (seperti Ethereum Dencun) dan kejelasan regulasi meningkatkan kepercayaan investor.

    Peringatan dari Analis

    Meski rally kripto cukup menggiurkan, para ahli mengingatkan potensi koreksi jangka pendek karena beberapa alasan.

    Pertama, Profit-Taking. Trader mungkin mengambil untung di level resisten kritis, misalnya BTC di $70.000.

    Kedua, dari aspek geopolitik. Ketegangan di Timur Tengah dan fluktuasi pasar energi bisa picu volatilitas.

    Ketiga, kebijakan The Fed. Pemotongan suku bunga yang tertunda bisa menekan sentimen pasar.

    Prospek ke Depan

    Berbagai kemungkinan akan tetap ada di masa depan, misalnya Bitcoin Halving pada April 2024 nanti. Peristiwa ini secara historis memicu kenaikan harga dalam jangka panjang.

    Di sisi lain, keputusan SEC untuk ETH Ethereum pada Mei nanti bisa saja menjadi katalis potensial untuk ETH lainnya.

    Selain itu, jika kebijakan The Fed yang mempertahankan suku bunga bisa menekan inflasi AS turun ke 2,5%, aliran modal ke kripto bisa semakin deras.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • The Fed Tahan Suku Bunga: Sinyal Bullish Bagi Pasar Kripto

    Federal Reserve (The Fed) kembali membuat keputusan penting yang menjadi sorotan dunia, yaitu mempertahankan suku bunga tidak berubah.

    Keputusan ini, yang mempertahankan kisaran target suku bunga dana federal pada 5,25% hingga 5,5%, mengirimkan sinyal kuat tentang kehati-hatian The Fed dalam menghadapi kompleksitas ekonomi global saat ini.

    Mengapa The Fed Bertindak Hati-hati?

    Keputusan ini tidak diambil secara tiba-tiba. Setelah serangkaian kenaikan suku bunga yang agresif untuk menjinakkan inflasi, The Fed kini berada di persimpangan jalan.

    Mereka melihat adanya tanda-tanda positif yang dapat dilihat dari aktivitas ekonomi yang terus berkembang, pasar tenaga kerja yang stabil, dan inflasi yang mulai mereda.

    Namun di sisi lain, mereka juga menyadari bahwa tantangan masih ada, yaitu tingkat inflasi yang masih tetap tinggi.

    Meskipun inflasi telah turun dari puncaknya, angkanya masih jauh dari target 2% yang diinginkan The Fed.

    Hal ini membuat mereka tetap waspada terhadap potensi kenaikan harga di masa depan, sehingga berakhir dengan tidak menurunkan suku bunga.

    Ketidakpastian Ekonomi Global

    Faktor-faktor seperti konflik geopolitik, gangguan rantai pasokan, dan perlambatan ekonomi di beberapa negara besar menciptakan ketidakpastian yang signifikan.

    Menurut laporan Cryptobriefing pada Kamis (20/3), The Fed ingin memastikan bahwa mereka tidak mengambil langkah yang dapat memperburuk situasi.

    Dampak pada Pasar Kripto

    Keputusan The Fed ini memiliki implikasi yang signifikan bagi pasar kripto, terutama Bitcoin.

    Secara historis, suku bunga yang rendah cenderung menguntungkan aset berisiko seperti kripto. Akibat putusan The Fed ini, investor akan mencari imbal hasil yang lebih tinggi.

    Dalam lingkungan suku bunga rendah, investor mencari peluang untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi daripada yang ditawarkan oleh aset tradisional seperti obligasi. Hal ini tentunya dapat meningkatkan minat pada kripto.

    Karena The Fed urung menurunkan suku bunga, ini berarti biaya pinjaman akan menjadi lebih rendah.

    Suku bunga yang rendah juga mengurangi biaya pinjaman, yang dapat mendorong investasi dalam aset berisiko. Hanya saja, pasar kripto juga sensitif terhadap sentimen investor.

    Jika investor khawatir tentang prospek ekonomi, mereka mungkin menarik dana dari aset berisiko, termasuk kripto.

    Apa yang Akan Selanjutnya Terjadi?

    The Fed akan terus memantau data ekonomi dengan cermat dan siap untuk menyesuaikan kebijakan jika diperlukan.

    Fokus mereka adalah untuk mencapai keseimbangan antara mengendalikan inflasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

    Bagi para investor, keputusan The Fed ini mengingatkan akan pentingnya untuk tetap waspada dan berhati-hati dalam menghadapi ketidakpastian pasar.

    Secara keseluruhan, keputusan The Fed untuk menahan suku bunga mencerminkan pendekatan yang seimbang dalam menghadapi tantangan ekonomi saat ini.

    Meskipun ada tanda-tanda positif, The Fed tetap waspada terhadap risiko dan akan terus memantau situasi dengan cermat.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Merosot ke Rp1,35 Miliar, Dampak Kekhawatiran The Fed?

    Pasar kripto mengalami tekanan dalam 24 jam terakhir, dengan Bitcoin (BTC) mengalami koreksi setelah sempat menikmati reli.

    Berdasarkan data Coinmarketcap per 19 Maret 2025, harga Bitcoin turun 2,35% menjadi US$ 82.210 per koin atau sekitar Rp 1,35 miliar.

    Koreksi ini terjadi seiring dengan ketidakpastian pasar menjelang keputusan kebijakan moneter dari The Federal Reserve (The Fed).

    Ethereum dan Binance Coin Ikut Berfluktuasi

    Tak hanya Bitcoin, Ethereum (ETH) juga melemah 1,38% menjadi US$ 1.911 per koin. Sementara itu, Binance Coin (BNB) justru mengalami kenaikan tipis sebesar 0,33% menjadi US$ 630 per koin.

    Pergerakan ini mencerminkan reaksi pasar yang beragam terhadap sentimen global dan ketidakpastian kebijakan moneter.

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Rabu, 19 Maret 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Rabu, 19 Maret 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Dampak Kebijakan The Fed terhadap Kripto

    Penurunan harga Bitcoin dan aset kripto lainnya terjadi sehari sebelum hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) diumumkan.

    Investor cemas terhadap keputusan suku bunga, meskipun banyak analis memperkirakan The Fed tidak akan mengubah kebijakan suku bunga dalam pertemuan kali ini.

    Pasar Saham AS Turut Melemah

    Tak hanya kripto, pasar saham AS juga mencatat pelemahan. Indeks Dow Jones turun 0,62%, S&P 500 terkoreksi 1,07%, dan Nasdaq Composite anjlok 1,71%.

    Penurunan ini menunjukkan bahwa sentimen kehati-hatian tidak hanya terjadi di sektor aset digital, tetapi juga di pasar keuangan secara keseluruhan.

    Investor Pantau Sinyal Kebijakan The Fed

    Meskipun inflasi mengalami perlambatan pada Februari lalu, The Fed belum memberikan sinyal kuat untuk memangkas suku bunga.

    Menurut data CME FedWatch, peluang pemangkasan suku bunga pada Maret sangat kecil, tetapi meningkat menjadi 66% untuk pertemuan bulan Juni.

    Investor kini menunggu pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, untuk mencari petunjuk lebih lanjut.

    Apa Dampak Jangka Panjang bagi Kripto?

    Keputusan The Fed akan menjadi faktor utama dalam menentukan arah pasar kripto ke depan.

    Jika The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, Bitcoin dan aset kripto lainnya bisa mengalami tekanan lebih lanjut.

    Sebaliknya, jika ada indikasi kebijakan yang lebih dovish, harga kripto berpotensi kembali menguat.

    Waspadai Volatilitas Pasar

    Pasar kripto masih berada dalam fase ketidakpastian, dengan Bitcoin dan altcoin lainnya mengalami fluktuasi menjelang keputusan The Fed.

    Investor disarankan untuk tetap waspada dan mempertimbangkan strategi investasi yang lebih defensif dalam menghadapi volatilitas yang kemungkinan masih akan berlanjut.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin dan FOMC: Akankah Harga BTC Meledak atau Terkoreksi Kali Ini?

    Setiap kali Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengadakan pertemuan, pasar kripto bersiap menghadapi dampaknya, terlebih Bitcoin (BTC).

    Bitcoin (BTC), sebagai aset digital utama, sering mengalami lonjakan volatilitas menjelang dan setelah pengumuman kebijakan moneter Amerika Serikat. Lalu, apakah kali ini akan berbeda?

    Bitcoin dan Volatilitas di Sekitar FOMC

    Di awal minggu ini, harga Bitcoin mengalami penurunan dari $84.500 pada 17 Maret menjadi $81.300. Tren ini diduga akibat aksi jual oleh investor yang ingin mengurangi risiko sebelum pertemuan FOMC pada 18–19 Maret.

    Secara historis, pedagang cenderung mengurangi eksposur mereka sebelum pengumuman FOMC, mengantisipasi perubahan kebijakan yang bisa berdampak pada pasar kripto. Konferensi pers Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, juga menjadi momen krusial yang kerap memicu pergerakan harga.

    Pengumuman resmi hasil pertemuan kali ini dijadwalkan pada 19 Maret pukul 2:30 siang ET. Reaksi pasar Bitcoin terhadap keputusan FOMC akan menjadi indikator penting bagi pergerakan harga berikutnya.

    FOMC dan Dampaknya pada Harga Bitcoin

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Rabu, 19 Maret 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Rabu, 19 Maret 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Trader kripto memantau risalah FOMC untuk mencari petunjuk mengenai kebijakan suku bunga dan sikap Fed terhadap inflasi. Sejak awal 2024, harga BTC cenderung menurun setelah FOMC mempertahankan suku bunga.

    Namun, ada pengecualian—misalnya, reli sebelum halving Bitcoin pada Februari 2024 yang bertepatan dengan peluncuran ETF Bitcoin spot pertama. Pemangkasan suku bunga pada 18 September dan 7 November 2024 mendorong kenaikan BTC, tetapi pemangkasan ketiga pada 18 Desember 2024 justru tidak berdampak besar. Saat itu, harga Bitcoin mencapai puncak lokal di $108.000 sebelum mengalami koreksi.

    Minat Terbuka Bitcoin: Apakah Pasar Lebih Percaya Diri?

    Biasanya, minat terbuka Bitcoin—indikator jumlah total kontrak derivatif yang belum diselesaikan—menurun sebelum FOMC. Ini mencerminkan kehati-hatian pedagang dalam menghadapi potensi volatilitas. Namun, bulan ini menunjukkan pola yang berbeda.

    Meskipun minat terbuka BTC melonjak sebesar $12 miliar di awal Maret, tidak ada tanda-tanda penurunan signifikan menjelang FOMC kali ini. Sebaliknya, harga BTC justru mengalami koreksi. Ini bisa mengindikasikan bahwa pelaku pasar memiliki keyakinan yang lebih tinggi terhadap hasil pertemuan, atau justru sedang mempertaruhkan posisi dengan leverage tinggi.

    Alat FedWatch dari CME Group menunjukkan probabilitas 99% bahwa Fed akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 4,25%–4,50%. Jika benar, BTC bisa melanjutkan tren penurunannya atau bergerak sideways dalam waktu dekat.

    ETF Bitcoin Spot: Indikasi Sentimen Investor

    Berbeda dengan paus Bitcoin yang sering mengambil posisi besar di pasar derivatif, investor di ETF Bitcoin spot cenderung lebih konservatif. Sejak ETF BTC spot diluncurkan pada Januari 2024, mayoritas pertemuan FOMC bertepatan dengan arus keluar dari ETF ini.

    Namun, ada pergeseran menarik baru-baru ini. Pada 17 Maret, ETF Bitcoin spot mencatat arus masuk bersih sebesar $275 juta, menandakan potensi perubahan sentimen. Jika arus masuk ETF meningkat menjelang FOMC, itu bisa menunjukkan ekspektasi pasar bahwa Fed akan bersikap lebih dovish—misalnya, dengan mengisyaratkan pemangkasan suku bunga di masa depan.

    Selain itu, potensi short squeeze juga dapat terjadi jika banyak pedagang mengambil posisi short terhadap BTC. Jika arus masuk ETF terus bertambah, ini bisa memaksa para short seller untuk menutup posisi mereka, memicu lonjakan harga BTC secara mendadak.

    Kesimpulan: Apa yang Bisa Diharapkan dari Bitcoin Pasca-FOMC?

    Terlepas dari keputusan yang diambil Fed, satu hal yang pasti: volatilitas Bitcoin akan meningkat pasca-FOMC. Seperti yang diungkapkan oleh seorang trader kripto, Master of Crypto, dalam postingan terbaru di X:

    “FOMC akan diadakan besok, dan pergerakan besar diperkirakan akan terjadi.”

    Jika Fed mempertahankan suku bunga tanpa indikasi pemangkasan di masa depan, BTC mungkin tetap dalam tren turun atau mengalami pergerakan sideways. Namun, jika ada nada dovish dalam pernyataan Powell, pasar bisa merespons dengan reli jangka pendek.

    Investor dan pedagang harus tetap waspada, memantau arus ETF spot, data on-chain, dan reaksi pasar derivatif untuk menentukan apakah aksi harga ini merupakan bagian dari tren akumulasi jangka panjang atau sekadar spekulasi sesaat. Yang jelas, semua mata kini tertuju pada FOMC dan dampaknya terhadap Bitcoin.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Susun Kebijakan Moneter, The Fed Pertahankan Suku Bunga 4,5%?

    Federal Reserve (The Fed) kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 4,25% hingga 4,5% dalam pertemuan kebijakan moneter pekan ini.

    Mengutip laman Heisenbergreport pada Senin (17/3), keputusan ini mengikuti langkah serupa yang dilakukan pada Januari lalu.

    Para analis memperkirakan The Fed akan tetap berhati-hati di tengah ketidakpastian kebijakan ekonomi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

    Dampak Kebijakan Trump terhadap Ekonomi

    Para pejabat The Fed memilih pendekatan “wait-and-see” sebelum mengambil langkah lebih lanjut.

    Kebijakan tarif yang mungkin diterapkan oleh Trump menjadi faktor utama yang dapat memengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

    Jika tarif baru memicu perlambatan ekonomi, The Fed kemungkinan akan mempertimbangkan pemotongan suku bunga untuk menjaga pasar tenaga kerja tetap stabil.

    Sejarah Suku Bunga The Fed

    Sejak 2022, The Fed menaikkan suku bunga secara agresif guna mengendalikan lonjakan inflasi pascapandemi.

    Setelah inflasi mulai mereda mendekati target 2%, bank sentral AS ini sempat memangkas suku bunga pada akhir tahun lalu.

    Namun, meningkatnya kembali tekanan inflasi dan ketidakpastian kebijakan pemerintah membuat The Fed enggan melakukan perubahan lebih lanjut dalam waktu dekat.

    Prediksi Langkah Selanjutnya

    The Fed kemungkinan akan memberikan sedikit petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga di masa depan dalam pernyataan resminya maupun konferensi pers Ketua The Fed, Jerome Powell.

    Para ekonom Deutsche Bank memperkirakan bahwa dalam proyeksi ekonomi terbaru, The Fed hanya akan merencanakan satu kali pemotongan suku bunga tahun ini.

    Jumlah ini sebenarnya lebih sedikit dibandingkan dua kali yang diperkirakan pada Desember tahun lalu.

    Kemungkinan Resesi dan Pengaruhnya

    Meskipun peluang resesi masih tergolong rendah, beberapa indikator ekonomi menunjukkan tanda peringatan.

    Penurunan kepercayaan konsumen dan pengurangan belanja rumah tangga menjadi perhatian utama.

    Namun, pasar tenaga kerja yang tetap kuat dan inflasi yang lebih terkendali pada Februari memberikan sedikit optimisme.

    Goldman Sachs meningkatkan peluang resesi dalam satu tahun ke depan dari 15% menjadi 20%.

    Di tengah ketidakpastian ekonomi, keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga tampaknya menjadi langkah yang paling masuk akal saat ini.

    Jika kondisi ekonomi memburuk, pemangkasan suku bunga mungkin diperlukan untuk menjaga stabilitas.

    Namun, jika inflasi terus meningkat akibat kebijakan tarif, The Fed bisa tetap mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam waktu lebih lama.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Keputusan FOMC Maret 2025: Akankah Suku Bunga The Fed Turun?

    Federal Open Market Committee (FOMC) kembali menjadi sorotan jelang pertemuan pada 18-19 Maret 2025. Investor, ekonom, dan pemilik rumah menanti apakah bank sentral akan memangkas suku bunga, mempertahankannya, atau bahkan menaikkannya.

    Dilaporkan The Mortgage Reports, inflasi yang masih berada di atas target 2% meskipun mengalami penurunan, keputusan FOMC kali ini akan menjadi penentu arah bagi pasar keuangan, termasuk suku bunga hipotek.

    Kemungkinan Keputusan FOMC pada Maret 2025

    Pada tiga pertemuan sebelumnya, FOMC melakukan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada November dan Desember 2024, sebelum akhirnya mempertahankannya pada Januari 2025.

    Saat ini, inflasi tahunan turun dari 3% di Januari menjadi 2,8% di Februari, menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang bisa menjadi pertimbangan bagi FOMC untuk melonggarkan kebijakan moneternya lebih lanjut.

    Namun, banyak ekonom masih skeptis akan kemungkinan pemangkasan lebih cepat. Mark Zandi, kepala ekonom di Moody’s Analytics, menyoroti bahwa tekanan inflasi akibat tarif dan kenaikan biaya konstruksi perumahan bisa membuat harga tetap tinggi lebih lama. Jika ini terjadi, FOMC mungkin memilih untuk menunda pemotongan suku bunga agar inflasi tetap terkendali.

    Dampaknya Terhadap Suku Bunga Hipotek

    Suku bunga hipotek tidak ditentukan langsung oleh FOMC, tetapi kebijakan moneter mereka sangat berpengaruh. Pada tahun 2023 dan 2024, suku bunga hipotek tetap 30 tahun berfluktuasi antara 6,08% hingga 7,79%, menurut data Freddie Mac. Pada awal Maret 2025, angka ini berada di 6,63%, mencerminkan reaksi pasar terhadap keputusan FOMC sebelumnya.

    Jika FOMC mempertahankan suku bunga pada Maret, ada kemungkinan suku bunga hipotek tidak mengalami perubahan signifikan dalam jangka pendek.

    Namun, jika terjadi pemangkasan suku bunga, pasar bisa bereaksi dengan penurunan bertahap pada suku bunga hipotek. Sebaliknya, jika FOMC mengejutkan pasar dengan kenaikan suku bunga, suku bunga hipotek bisa kembali naik.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Inflasi dan Belanja Melambat, The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga

    Federal Reserve (The Fed) diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga acuan karena inflasi melandai dan pengeluaran konsumen menunjukkan perlambatan. Data terbaru menunjukkan bahwa laju inflasi tahunan pada April turun menjadi 2,1%, mendekati target Fed sebesar 2%, sementara belanja konsumen nyaris stagnan dan tingkat tabungan meningkat.

    Menurut laporan Departemen Perdagangan AS pada Jumat (30/5), pengeluaran hanya tumbuh 0,2% di bulan April, sedangkan tingkat tabungan pribadi naik menjadi 4,9% dari sebelumnya 4,3%. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian masyarakat akibat ketidakpastian kebijakan tarif yang terus berubah.

    Inflasi Mereda?

    Meski inflasi mulai mereda, para pejabat The Fed belum melihat alasan cukup kuat untuk menurunkan suku bunga. Mereka memilih bersikap hati-hati, apalagi di tengah meningkatnya tekanan dari kebijakan tarif Presiden Donald Trump yang berpotensi mendorong biaya impor naik. Banyak pelaku usaha mulai membebankan biaya tambahan ini kepada konsumen.

    Ilustrasi inflasi AS. Foto: Reuters.
    Ilustrasi inflasi AS. Foto: Reuters.

    Baca juga: Apa itu The Fed dan Kenapa Kebijakannya Mempengaruhi Pasar?

    Dikutip Cryptopolitan, Olu Sonola dari Fitch Ratings menyebutkan bahwa penurunan inflasi bulan April bisa jadi hanya “ketenangan sebelum badai.” Ia menambahkan, kecuali terjadi lonjakan PHK atau penurunan tajam dalam belanja konsumen, Fed kemungkinan besar akan tetap mempertahankan suku bunga.

    Tahan Suku Bunga Lagi?

    Sejak Desember, The Fed menahan suku bunga jangka pendek di kisaran 4,25%–4,50%. Dalam pernyataan pasca-pertemuan bulan Mei, para pejabat menegaskan fokus utama tetap pada inflasi. Presiden Fed San Francisco, Mary Daly, menekankan bahwa tekanan harga masih tinggi dan suku bunga harus tetap cukup ketat untuk menekan inflasi.

    Senada dengan Daly, Lorie Logan dari Fed Dallas menyatakan bahwa ketidakpastian dampak kebijakan perdagangan terhadap inflasi maupun pasar tenaga kerja membuat Fed enggan bertindak tergesa-gesa. “Risikonya masih seimbang,” ujarnya.

    Meski begitu, pasar keuangan mulai memperkirakan bahwa penurunan suku bunga bisa dimulai pada September, dengan ekspektasi suku bunga turun ke kisaran 3,75%–4,0% di akhir tahun. Namun, hingga kini, belum ada sinyal konkret dari The Fed untuk mengubah arah kebijakan kecuali terjadi perubahan signifikan pada inflasi atau pasar tenaga kerja.

    Baca juga: Kripto Potensi Tetap Menguat, Trump Desak Fed Pangkas Suku Bunga


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ketua Fed Tidak Terburu-buru Potong Suku Bunga: Pasar Kripto Koreksi

    Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, menegaskan bahwa ia tidak terburu-buru untuk memangkas suku bunga meskipun ada tekanan dari Presiden Donald Trump. Dalam kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat, Powell menyatakan bahwa The Fed tetap akan berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait suku bunga, terutama dalam konteks inflasi yang masih menjadi perhatian utama.

    Salah satu faktor utama yang dipertimbangkan oleh Powell adalah dampak pemangkasan suku bunga terhadap pasar, termasuk sektor kripto. Meskipun pemangkasan suku bunga AS sebesar 50 basis poin pada September lalu berdampak positif terhadap pasar kripto, pemangkasan yang terlalu agresif dapat menimbulkan ketidakpastian dan mendorong investor untuk mengambil langkah konservatif. Powell menegaskan bahwa langkah ini harus dilakukan secara bertahap guna menghindari gejolak ekonomi yang tidak diinginkan.

    Suku Bunga dan Dampaknya terhadap Kripto

    Dampak suku bunga terhadap pasar kripto masih menjadi perdebatan. Di satu sisi, pemotongan kecil pada suku bunga dapat meningkatkan akses terhadap pinjaman dan mendorong lebih banyak investasi di pasar kripto. Namun, di sisi lain, pemangkasan yang agresif dapat mencerminkan ketidakstabilan ekonomi dan mengurangi minat investor terhadap aset berisiko seperti Bitcoin.

    Kondisi ini membuat investor institusional cenderung berhati-hati dalam memindahkan dana mereka ke kripto hingga kebijakan The Fed lebih jelas. Hal ini tercermin dalam data terbaru yang menunjukkan bahwa Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin mengalami arus keluar bersih mingguan pertama pada tahun 2025.

    Ketua The Fed, Jerome Powell. Foto: REUTERS / Yuri Gripas
    Ketua The Fed, Jerome Powell. Foto: REUTERS / Yuri Gripas

    Powell Dukung Regulasi Stablecoin

    Selain membahas suku bunga, Powell juga mengungkapkan dukungannya terhadap regulasi stablecoin yang lebih komprehensif. Ia menegaskan bahwa stablecoin memiliki potensi besar bagi konsumen dan bisnis, namun pengembangannya harus dilakukan dengan pengawasan yang ketat guna melindungi konsumen dan penabung.

    “Federal Reserve jelas mendukung upaya untuk menciptakan kerangka regulasi seputar stablecoin. Stablecoin mungkin memiliki masa depan yang cerah bagi konsumen dan bisnis, dan penting bagi stablecoin untuk berkembang dengan cara yang melindungi konsumen dan penabung,” ujar Powell.

    Dukungan ini muncul di tengah langkah Uni Eropa yang telah mengadopsi kerangka regulasi stablecoin mereka sendiri. Powell tampaknya ingin AS mengikuti jejak tersebut untuk memastikan bahwa pasar stablecoin berkembang dalam ekosistem yang lebih aman dan terkendali.

    Komitmen Melawan Debanking Kripto

    Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.
    Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.

    Selain membahas stablecoin, Powell juga menyatakan keprihatinannya terhadap meningkatnya jumlah kasus “debanking” di industri kripto. Dalam kesaksiannya, ia mengindikasikan bahwa Federal Reserve akan meninjau kembali inisiatif Operation Choke Point 2.0 yang telah menyebabkan sejumlah institusi keuangan menolak atau mencabut layanan perbankan bagi bisnis kripto.

    “Saya dan rekan-rekan saya terkejut dengan meningkatnya jumlah kasus yang tampaknya merupakan debanking. Kami bertekad untuk meninjaunya kembali,” kata Powell.

    Langkah ini menunjukkan bahwa The Fed mulai memperhatikan keluhan industri kripto terkait akses ke layanan perbankan yang semakin terbatas akibat tekanan regulasi. Saat ini, Kongres AS tengah mengintensifkan penyelidikan terhadap kebijakan tersebut, sementara FDIC telah merilis 175 dokumen yang berhubungan dengan kasus ini.

    Pernyataan Jerome Powell dalam kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat memberikan sinyal bahwa The Fed tetap bersikap hati-hati dalam kebijakan suku bunga. Sementara itu, dukungannya terhadap regulasi stablecoin dan komitmennya dalam meninjau kembali kebijakan debanking kripto menjadi angin segar bagi industri aset digital. Keputusan-keputusan ini akan sangat mempengaruhi dinamika pasar kripto di masa mendatang, terutama bagi investor yang terus mencari kejelasan regulasi dan kebijakan moneter di AS.

    Baca juga: Tren Bitcoin 10-14 Februari 2025: Tetap Fokus Balik Modal By Hoteliercrypto


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa Itu FOMC Calendar? Panduan Investor Memahami Jadwal dan Pernyataan FOMC

    FOMC selalu menjadi momen yang ditunggu oleh trader dan investor karena keputusan yang diambil dalam pertemuan ini berdampak besar terhadap pasar keuangan global.

    Mengetahui jadwal rilis keputusan tersebut melalui FOMC Calendar dapat membantu kamu menyusun strategi trading yang lebih terukur dan responsif terhadap perubahan arah kebijakan moneter.

    Apa Itu FOMC?

    FOMC atau Federal Open Market Committee adalah komite dalam struktur Federal Reserve (The Fed) yang bertanggung jawab menentukan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. 

    Setiap pertemuan FOMC yang dilakukan delapan kali dalam satu tahun dapat menghasilkan keputusan mengenai suku bunga acuan (federal funds rate), sinyal arah kebijakan masa depan, serta komentar tentang kondisi ekonomi yang mempengaruhi persepsi pelaku pasar.

    Keputusan yang dibuat oleh FOMC terutama soal suku bunga biasanya sangat ditunggu-tunggu karena dapat mempengaruhi pasar keuangan global, termasuk saham, obligasi, dan kripto.

    Apa Itu FOMC Calendar dan Manfaatnya untuk Investor

    FOMC Calendar adalah jadwal resmi pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang mencantumkan tanggal rapat dan rilis dokumen terkait, seperti FOMC Statement, FOMC Minutes, dan Press Conference.

    Kalender ini sangat penting karena pada tanggal-tanggal tersebut The Fed bisa mengumumkan keputusan penting tentang arah suku bunga, proyeksi ekonomi, atau pernyataan kebijakan lainnya.

    Sebagai investor dan trader kamu dapat menggunakan FOMC Calendar untuk:

    • Mempersiapkan strategi menjelang pengumuman kebijakan moneter.
    • Menghindari posisi berisiko saat pasar bergejolak.
    • Menentukan waktu terbaik masuk/keluar pasar.

    Kapan dan Seberapa Sering FOMC Mengadakan Pertemuan?

    FOMC biasanya mengadakan delapan pertemuan resmi setiap tahun dengan selang enam sampai delapan minggu setiap pertemuannya. Namun, mereka juga bisa menggelar pertemuan darurat jika diperlukan, seperti saat kondisi krisis finansial.

    Setiap pertemuan sudah dijadwalkan jauh-jauh hari dan bisa diakses langsung di laman resmi The Fed, untuk hasilnya biasanya dirilis sekitar pukul 14:00 waktu New York (EST) atau sekitar pukul 01:00 WIB melalui konferensi pers dari Ketua The Fed.

    Memahami Tiga Jenis Publikasi FOMC Pasca Pertemuan

    Setelah menggelar pertemuan, FOMC merilis tiga jenis dokumen utama yang menjadi rujukan pasar:

    Pernyataan FOMC (FOMC Statement)

    Dokumen ringkas yang diterbitkan sesaat setelah pertemuan berakhir. Isinya umumnya mencakup keputusan kebijakan secara garis besar tanpa penjelasan mendalam.

    Konferensi Pers FOMC

    Sesi tanya jawab langsung yang dipimpin oleh Ketua The Fed untuk memberikan penjelasan lanjutan seputar hasil pertemuan dan menjawab pertanyaan dari jurnalis keuangan.

    Risalah Rapat FOMC (FOMC Minutes)

    Catatan terperinci yang mencerminkan diskusi internal, termasuk perbedaan pandangan antar anggota komite. Dokumen ini memberikan pemahaman lebih dalam mengenai arah dan pertimbangan kebijakan The Fed.

    Cara Membaca Pernyataan FOMC

    Untuk memahami hasil kebijakan terbaru dari setiap rapat FOMC, kamu bisa membaca dokumen resmi yang dikeluarkan setelah rapat dan menonton konferensi pers FOMC untuk memperhatikan gaya bahasa, gestur, mimik, dan cara Ketua The Fed merespon pertanyaan media.

    Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:

    • Perhatikan Keputusan Suku Bunga: FOMC biasanya mengumumkan apakah mereka menaikkan, menurunkan, atau mempertahankan suku bunga.
    • Identifikasi Kata Kunci: Kata seperti “gradual tightening”, “accommodative policy”, atau “inflation remains elevated” memberikan petunjuk tentang sikap The Fed terhadap ekonomi.
    • Bandingkan dengan Pernyataan Sebelumnya: Perubahan dalam penyampaian pernyataan bisa menunjukkan pergeseran kebijakan. Misalnya, jika sebelumnya mereka menyebut inflasi “transitory”, tetapi sekarang “persistent”, itu bisa berarti kebijakan lebih agresif terhadap inflasi.
    • Perhatikan Proyeksi Ekonomi: FOMC sering menyertakan perkiraan pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan tingkat pengangguran. Ini membantu memahami ekspektasi mereka terhadap kondisi ekonomi.
    • Analisis Pernyataan Non-Verbal  dalam Konferensi Pers: Nada bicara, ekspresi wajah, dan gaya bahasa Ketua The Fed bisa memberi sinyal tambahan tentang kebijakan masa depan. Perubahan dalam pemilihan kata atau respons terhadap pertanyaan media juga penting diperhatikan.

    Hubungan CPI dan FOMC

    Consumer Price Index (CPI) adalah indikator utama yang digunakan untuk mengukur tingkat inflasi dari waktu ke waktu, dengan memantau perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga. Data CPI menjadi alat penting bagi The Fed dalam mengevaluasi tingkat tekanan inflasi dalam perekonomian.

    CPI memiliki hubungan erat dengan keputusan FOMC karena inflasi yang tinggi umumnya mendorong komite untuk menaikkan suku bunga demi menjaga kestabilan harga. Sebaliknya, jika inflasi rendah, The Fed bisa memilih untuk mempertahankan atau menurunkan suku bunga guna mendorong aktivitas ekonomi.

    Dengan kata lain, CPI berfungsi sebagai sinyal utama yang menjadi dasar pertimbangan FOMC dalam menetapkan arah kebijakan moneternya.

    Cara Melihat Jadwal Rilis FOMC

    Untuk tetap terupdate dengan jadwal rilis FOMC Statement dan pertemuan penting The Fed, ada beberapa sumber informasi terpercaya yang bisa kamu gunakan. 

    Pertama, kamu bisa mengakses situs resmi Federal Reserve di federalreserve.gov, tempat di mana kalender FOMC secara resmi dipublikasikan. 

    Kedua, dengan mengunjungi Investing.com untuk melihat kalender ekonomi global yang mencakup waktu rilis FOMC serta indikator ekonomi penting lainnya. 

    Terakhir, kamu juga bisa memantau Tokocrypto News yang secara rutin memberikan rangkuman, analisis, dan pembaruan jadwal FOMC dalam konteks pasar kripto.

    Penutup

    Menjelang pertemuan FOMC, pasar sering kali mengalami volatilitas tinggi karena investor mencoba mengantisipasi keputusan kebijakan moneter yang akan diumumkan.

    Untuk mengatasi volatilitas yang tinggi menjelang pengumuman FOMC ini kamu bisa menggunakan strategi DCA (Dollar Cost Averaging) yang ada di Tokocrypto, karena strategi ini memungkinkan kamu untuk mendapatkan rata-rata harga yang lebih stabil dibandingkan membeli di satu waktu.

    Mulai investasi dengan strategi DCA melalui aplikasi Tokocrypto cuman mulai dari Rp20.000 dengan klik di sini!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.

    Sumber: federalreserve.gov, tradinguang, investing.com



    Sumber : news.tokocrypto.com