Tag: trading

  • Hindari Kesalahan Pemula Fatal Membaca Volume Trading

    Volume trading bisa menjadi salah satu indikator penting saat melakukan trading atau investasi, tapi bagi pemula, banyak yang salah membaca dan menganggap bahwa volume trading bisa jadi satu-satunya indikator untuk mengambil keputusan beli atau jual, tanpa dilengkapi indikator lain.

    Selain salah membaca, ada juga kesalahan lain yang sering dilakukan oleh pemula dalam membaca volume trading lho! Simak lebih lengkapnya di bawah ini.

    Baca juga: Cara Membaca Volume Trading untuk Pemula

    Tidak Memperhatikan Kedalaman Order Book

    Kesalahan pertama adalah hanya fokus pada volume harian yang tinggi tanpa mengecek kedalaman order book (order book depth). Padahal order book ini bisa menunjukkan seberapa besar likuiditas yang benar-benar tersedia dan dicatat dalam permintaan beli (bid) atau jual (ask) yang siap dieksekusi di rentang harga terdekat tanpa mempengaruhi pergerakan harga secara signifikan.

    Order book ini bisa mencerminkan dua hal:

    • Kesehatan likuiditas: seperti yang disebutkan di atas, order book ini mencerminkan likuiditas di rentang harga terdekat, dan bisa jadi pertimbangan apakah trader bisa masuk/keluar posisi tanpa menggerakkan harga secara ekstrem.
    • Kekuatan psikologis pasar: ekspektasi naik atau turunnya harga bisa tercermin dan dilihat langsung dari kedalaman sisi bid atau ask.

    Misalnya, jika harga jual (ask) BTC saat ini di $100.000 dan terdapat banyak permintaan beli dan jual antara $100.000-101.000 maka bisa kedalaman order book dianggap tinggi. Dan pasar dianggap memiliki likuiditas yang baik sehingga trader bisa dengan mudah melakukan jual beli dalam rentang harga tersebut tanpa menggeser harga secara signifikan.

    Sebaliknya jika terdapat permintaan beli dan jual yang sedikit kedalaman order book dianggap dangkal.

    Simpelnya, bayangkan kalau kedalaman order book ini seperti lapisan yang harus ditembus oleh roket (market order). Kalau lapisannya tebal, roket bakal lambat karena harus melewati banyak lapisan (harga tetap stabil karena banyak order yang siap dieksekusi). Tapi, kalau lapisannya tipis, roket bisa langsung melesat (harga bisa naik/turun drastis karena sedikit order yang siap dieksekusi).

    Pemula yang hanya memperhatikan volume trading tanpa membaca kedalaman order book bisa terjebak dalam manipulasi volume hingga mengalami perbedaan slippage yang cukup besar.

    Mengabaikan Gap dan Ketidakkonsistenan Volume

    Kesalahan lain yang sering terjadi adalah tidak memperhatikan gap atau ketidakkonsistenan dalam volume trading. Volume yang tiba-tiba menghilang lalu muncul kembali secara tidak teratur bisa menjadi tanda:

    • Server exchange mengalami downtime.
    • Market maker menarik likuiditas secara tiba-tiba.
    • Ada pihak sengaja melakukan wash trading untuk menciptakan ilusi volume.

    Wash trading sendiri merupakan aktivitas jual beli aset yang sama oleh pihak yang sama untuk menciptakan ilusi seakan-akan memiliki volume yang tinggi. Tujuannya, tidak lain untuk membuat minat trader dan investor kembali atau masuk dengan perasaan FOMO.

    Agar membantu kamu terhindar dari wash trading, yuk gunakan platform terpercaya seperti Tokocrypto yang telah berizin resmi dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kamu bisa mulai investasi atau trading dengan deposit mulai dari Rp20.000 aja lho! 👉 Daftar di sini.

    Tidak Melakukan Cross-Check Volume antar Exchange

    Pemula seringkali lupa untuk membandingkan volume trading antar exchange. Aktivitas volume yang tinggi di satu exchange bisa saja tidak didukung oleh exchange lain, yang bisa jadi indikasi manipulasi lokal.

    Cara Menghindari Kesalahan dalam Membaca Volume Trading

    • Gunakan Platform Analitik: Gunakan platform seperti CoinGecko, CoinMarketCap, atau CoinGlass untuk mendapatkan data komprehensif mengenai volume trading, dan kedalaman order book.
    • Gunakan Lebih dari Satu Sumber Data: Selalu gunakan lebih dari satu sumber data, karena adanya potensi manipulasi lokal.
    • Gunakan Indikator Volume Tambahan: Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan volume trading, gunakan indikator tambahan untuk membantu validasi analisis yang kamu miliki.

    Baca juga: Kapan Volume Trading Bisa Jadi Sinyal Beli Agar Trading Lebih Akurat?

    Masih bingung gimana baca volume trading? Yuk, gabung bareng ribuan trader lainnya di komunitas Tokocrypto melalui link berikut 👉 https://t.me/TokocryptoOfficial


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tips Deteksi Pergerakan Whale Lewat Volume dan Aktivitas Dompet

    Pergerakan whale dalam dunia kripto sering kali jadi penentu pergerakan harga aset kripto, terutama aset kripto dengan kapitalisasi pasar sedang hingga rendah. Untuk mengantisipasi ini, kamu bisa menggunakan indikator seperti trading volume sebagai analisa awal yang kamu kembangkan dengan pendekatan lainnya. 

    Artikel ini akan membahas cara mendeteksi pergerakan whale, apa saja ciri-cirinya, serta alat bantu yang bisa kamu manfaatkan untuk membaca pergerakan besar sebelum pasar bereaksi.

    Apa Itu ‘Whale?

    Dalam kripto, istilah whale merujuk pada individu, lembaga, atau dompet yang memegang jumlah aset sangat besar sehingga pergerakan mereka bisa mempengaruhi harga pasar secara signifikan.

    Aktivitas dari para whale ini biasanya akan tercermin dari volume trading, karena jumlah pembelian dan penjualan yang mereka lakukan berjumlah besar.

    Baca juga: Apa itu Volume Trading: Maksud dan Kegunaannya

    Tips Cara Deteksi Pergerakan Whale

    Lonjakan Volume

    Contoh pergerakan volume pergerakan whale melalui Whale Alert.
    Contoh pergerakan volume pergerakan whale melalui Whale Alert.

    Salah satu tanda paling awal dari aktivitas whale adalah munculnya volume yang tiba-tiba melonjak secara tidak biasa. Ini sering terjadi saat harga sedang stagnan atau hanya naik sedikit.

    Misalnya, jika volume trading tiba-tiba melonjak 2x hingga 3x dari rata-rata harian tanpa adanya berita besar, bisa jadi ada partisipasi dari whale yang sedang melakukan pembelian atau penjualan besar.

    Untuk mengetahui apakah lonjakan harga ini disebabkan oleh transaksi whale atau bukan, kamu bisa menggunakan beberapa platform whale tracker seperti: Whale Alert, Whale Map, atau CoinGlass.

    Baca juga: Cara Membaca Volume Trading untuk Pemula

    Divergensi Volume terhadap Harga

    Ilustrasi divergensi volume trading.
    Ilustrasi divergensi volume trading.

    Tanda lainnya adalah saat terjadi ketidaksesuaian antara pergerakan harga dan volume. Misalnya, harga terlihat stagnan atau sedikit menurun, namun volume terus meningkat. Kondisi ini bisa mengindikasikan adanya aktivitas di balik layar, di mana whale sedang melakukan akumulasi dalam jumlah besar. 

    Kondisi ini dikenal dengan sebutan stealth phase—fase akumulasi senyap yang dilakukan secara perlahan untuk menghindari lonjakan harga dan menarik perhatian pasar.

    Divergensi ini juga bisa dibaca dengan bantuan indikator teknikal seperti On-Balance Volume (OBV) atau Accumulation/Distribution Line, yang dapat menunjukkan tekanan beli yang tersembunyi meskipun harga belum bereaksi.

    Baca lebih lengkap di sini: Kapan Volume Trading Bisa Jadi Sinyal Beli Agar Trading Lebih Akurat?

    Transaksi Dompet ke Exchange

    Contoh aktivitas on-chain yang bisa dilacak melalui Arkham.
    Contoh aktivitas on-chain yang bisa dilacak melalui Arkham.

    Ketika whale mau menjual asetnya, mereka tidak langsung eksekusi di exchange. Biasanya, langkah awalnya adalah mengirim aset dari dompet pribadi (cold wallet) ke dompet exchange (hot wallet). Nah, peristiwa ini terjadi di jaringan blockchain (on-chain), dan bisa kamu amati sebelum aksi jualnya muncul di grafik candlestick.

    Contohnya:

    • Dompet menyimpan yang menyimpan sejumlah besar BTC mengirim  5.000 BTC ke salah satu centralized exchange → Ini bisa menjadi sinyal kuat akan adanya aksi jual besar dalam waktu dekat.

    Karena itu, melacak volume transaksi saja tidak cukup. Kita perlu melihat:

    • Dompet mana yang mentransfer aset
    • Tujuan transfer (exchange mana, DEX mana)
    • Jenis aset dan jumlahnya
    • Identitas dompet (apakah milik investor institusional, tim developer, VC, atau bahkan dompet hacker)

    Untuk melacaknya kamu bisa menggunakan platform seperti Arkham Intelligence yang memungkinkan kamu memantau pergerakan aset kripto secara on-chain dengan sangat detail—khususnya pergerakan dompet whale. Sehingga kamu bisa jadi “detektif on-chain” yang memantau gerakan whale sebelum pasar bereaksi. 

    Baca juga: Tips Swing Trading untuk Pemula dengan Modal Kecil

    Apakah Semua Pergerakan Whale bisa Dideteksi dengan Trading Volume dan Data On-Chain?

    Tidak Semua Aktivitas Whale Terlihat di Pasar Terbuka

    Tidak semua whale melakukan transaksi secara langsung di bursa terbuka (spot exchange) atau dalam jumlah besar yang bisa terlihat di grafik volume. Beberapa dari mereka memiliki akses ke jalur transaksi alternatif, salah satunya adalah Over-the-Counter (OTC)—platform jual beli kripto yang dilakukan secara privat antara dua pihak, tanpa masuk ke order book publik.

    Transaksi OTC memungkinkan whale membeli atau menjual dalam jumlah besar tanpa mengganggu harga pasar secara langsung. Karena tidak melalui exchange, aktivitas ini tidak tercermin dalam volume trading dan tidak selalu bisa dilacak secara on-chain, kecuali terjadi perpindahan aset dari atau ke exchange setelah transaksi dilakukan.

    TOKOCRYPTO PRESTIG

    Buat  kamu memiliki aset besar dan volume transaksi tinggi, kamu bisa gunakan jual beli kripto seperti Tokocrypto Prestige yang dirancang khusus untuk para ‘whale’ serta trader VIP & Institusional. Lihat detailnya di sini 👉 Tokocrypto Prestige

    Batasan Data On-Chain

    Meskipun data on-chain memberi visibilitas ke aktivitas blockchain seperti transfer antar dompet, jumlah token, dan interaksi dengan smart contract, tidak semua dompet bisa diidentifikasi secara jelas. Banyak whale yang menggunakan dompet baru (fresh wallet), wallet mixing, atau protokol privasi untuk menyamarkan identitas dan pergerakan mereka.

    Selain itu, jika transaksi dilakukan langsung dalam lingkungan terdesentralisasi (misalnya antar smart contract), tidak semua sinyal tersebut bisa langsung dikaitkan dengan aksi jual-beli, kecuali disertai analisis tambahan.

    Volume Besar ≠ Selalu Whale

    Tidak semua lonjakan volume berarti whale sedang bergerak. Volume bisa saja disebabkan oleh trader ritel secara kolektif, bot trading, atau aktivitas manipulatif seperti wash trading— yakni membuat volume palsu untuk menarik trader ritel. 

    Karena itu, volume besar perlu dikonfirmasi dengan konteks harga, sentimen pasar, dan data on-chain yang relevan.

    Supaya kamu tidak ketinggalan dengan berita kripto dan data on-chain yang relevan, yuk gabung bareng ribuan trader lainnya di komunitas Tokocrypto melalui link berikut 👉 https://t.me/TokocryptoOfficial


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kapan Volume Trading Bisa Jadi Sinyal Beli Agar Trading Lebih Akurat?

    Artikel ini bertujuan membantu kamu mengenali kapan volume bisa menjadi sinyal beli atau jual yang akurat — Dalam prakteknya, volume trading tidak hanya bisa digunakkan sebagai sinyal awal (leading indicator) melainkan juga sebagai sinyal konfirmasi (lagging indicator). 

    Untuk mengetahui kapan volume trading bisa menjadi sinyal beli trading, simak penjelasan lebih lengkapnya di bawah ini dengan mempelajari jenis indikator trading volume yang biasa digunakkan oleh para trader.

    Baca juga: Apa itu Volume Trading: Maksud dan Kegunaannya

    Volume sebagai Sinyal Awal (Leading Indicator)

    Sebagai leading indicator, volume dapat memberikan petunjuk awal tentang pergerakan pasar. Studi dari jurnal dengan judul “Bitcoin mempool growth and trading volumes” menunjukkan bahwa pertumbuhan volume trading sering kali mengiringi perubahan harga, tapi pertumbuhan trading volume ini sendiri tidak selalu diikuti oleh kenaikan, kadang malah diikuti oleh penurunan. Ini berarti volume bisa menjadi alarm dini bahwa tren besar akan terjadi.

    Contoh praktis: ketika aset sedang konsolidasi dan tiba-tiba muncul lonjakan volume—tanpa disertai pergerakan harga signifikan—ini bisa jadi disebabkan oleh aksi institusional atau whale yang mulai melakukan akumulasi. Dengan kata lain, candle kecil disertai volume besar bisa  menjadi pertanda smart money mulai masuk.

    Volume sebagai Konfirmasi (Lagging Indicator)

    Sebaliknya, volume juga sering digunakan sebagai indikator konfirmasi setelah breakout. Misalnya, saat harga menembus level resistance, tetapi volume tetap rendah, breakout tersebut rentan gagal. Sebaliknya, breakout disertai volume tinggi menunjukkan validitas dan kekuatan tren—bisa membantu trader memastikan sinyal beli.

    Salah satu contoh penggunaannya adalah dengan Volume Moving Average (VMA) yang merupakan hasil dari rata-rata volume dalam jangka waktu tertentu, misalnya 20 hari—untuk membantu memahami tren partisipasi pasar. VMA 20-hari ini akan merata-ratakan volume 20 hari terakhir dan menampilkannya sebagai garis pada chart. Saat volume  ini berada di atas garis VMA, maka dianggap sebagai konfirmasi, dan sebaliknya ketika volume trading berada di bawah garis VMA bisa menunjukkan kurangnya partisipasi pasar.

    Banner Beli Bitcoin Mulai dari Rp 1.600

    Indikator Trading Volume yang Bisa Digunakan untuk Mengetahui Sinyal Beli yang Valid

     On‑Balance Volume (OBV)

    Indikator On-Balance Volume atau OBV dan korelasinya dengan pergerakan harga.
    Indikator On-Balance Volume atau OBV dan korelasinya dengan pergerakan harga.

    On-Balance Volume atau OBV merupakan indikator volume yang menunjukkan apakah aliran uang sedang masuk atau keluar. Cara kerjanya, OBV akan menambahkan volume pada hari di mana harga penutupan lebih tinggi (up day), dan mengurangkan volume pada hari ketika harga penutupan lebih rendah (down day).

    Ketika garis OBV terus naik, itu menandakan tekanan beli lebih kuat daripada tekanan jual, yang bisa menjadi sinyal tren naik (bullish). Sebaliknya, jika OBV menurun, itu menunjukkan tekanan jual yang dominan dan bisa mengindikasikan tren turun (bearish).

    Accumulation/Distribution Line (A/D Line)

    Garis akumulasi/distribusi (A/D Line) dan korelasinya dengan pergerakan harga.
    Garis akumulasi/distribusi (A/D Line) dan korelasinya dengan pergerakan harga.

    Garis akumulasi/distribusi (A/D Line) digunakan untuk mengukur aliran uang secara kumulatif yang masuk dan keluar. Cara kerjanya, indikator ini mempertimbangkan data harga dan volume sekaligus, sehingga bisa memberikan gambaran tekanan beli dan jual di balik pergerakan harga.

    Kalau garis A/D naik, artinya sedang terjadi akumulasi—pembeli mendominasi pasar. Tapi kalau garis A/D turun, itu menunjukkan distribusi—penjual sedang menguasai. 

    Indikator ini membantu trader menilai apakah pasar cenderung menyerap (accumulating) atau melepas (distributing), dan bisa jadi bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan entry atau exit.

    Baca juga: Cara Menentukan Harga Entry dan Exit dalam Swing Trading

    Chaikin Money Flow (CMF)

    Chaikin Money Flow (CMF) dan korelasinya dengan pergerakan harga.
    Chaikin Money Flow (CMF) dan korelasinya dengan pergerakan harga.

    CMF memperkirakan arus uang (money flow) dalam periode tertentu—biasanya 21 hari—dengan membandingkan harga penutupan relatif terhadap kisaran harian dan volume, lalu hasilnya diberi bobot berdasarkan volume.

    Jika nilai CMF bernilai positif, itu menunjukkan adanya tekanan beli yang kuat. Sebaliknya, jika nilainya negatif, berarti tekanan jual sedang mendominasi.

    Volume Moving Average (VMA)

    Volume Moving Average (VMA) dan korelasinya dengan pergerakan harga.
    Volume Moving Average (VMA) dan korelasinya dengan pergerakan harga.

    VMA adalah rata-rata volume selama periode tertentu (misalnya 20 hari), diplot sebagai garis pada grafik volume guna membantu mengenali tren.

    Kalau volume saat ini secara konsisten berada di atas garis VMA, itu menandakan minat beli yang kuat dan bisa mengonfirmasi tren harga yang naik. Sebaliknya, kalau volume berada di bawah garis VMA, ini mengisyaratkan lemahnya tekanan beli atau mulai munculnya tekanan jual.

    Jadi Kapan Volume Trading Jadi Sinyal Beli Trading Akurat?

    Menggunakan beberapa indikator trading volume di atas bisa menjadi sinyal beli yang akurat, terutama saat indikator-indikator tersebut menunjukkan arah yang sejalan dengan pergerakan harga. 

    Misalnya, ketika OBV menguat bersamaan dengan breakout harga, atau CMF menunjukkan arus uang positif yang konsisten, ini bisa menjadi indikasi kuat bahwa buyer mulai mendominasi pasar. Sebaliknya, jika volume melonjak namun harga mulai menurun dan A/D Line menunjukkan distribusi, itu bisa menjadi sinyal awal untuk bersiap melakukan aksi jual.

    Namun, akurasi sinyal—baik untuk beli maupun jual, tidak hanya ditentukan oleh satu indikator saja. Analisis yang efektif membutuhkan kombinasi antara indikator volume, pola pergerakan harga, zona support dan resistance, serta pemahaman terhadap kondisi pasar yang sedang berlangsung. Dengan pendekatan menyeluruh seperti ini, volume trading dapat berperan sebagai alat penting untuk membangun strategi entry dan exit yang lebih valid.

    Penutup

    Meskipun indikator volume sangat membantu untuk membaca kekuatan pasar dan mendeteksi sinyal beli, volume saja tidak cukup untuk membuat keputusan trading yang solid. Volume perlu dikonfirmasi dengan indikator lain seperti struktur harga, area support dan resistance, serta indikator momentum seperti RSI atau MACD.

    Selain itu, karena pasar kripto bergerak sangat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh berita-berita global yang bisa mengubah arah harga, penting bagi trader untuk terus memperbarui informasi dan terhubung dengan komunitas yang aktif.

    Salah satu cara terbaik untuk tetap mendapatkan insight terbaru adalah dengan bergabung bersama komunitas Tokocrypto. Kamu bisa berbagi pengalaman, mengikuti analisis harian, serta memantau pergerakan pasar bersama ribuan trader lainnya–GRATIS!

    Gabung di sini 👉 https://t.me/TokocryptoOfficial


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.

    Sumber:

    Truedata. “Volume Analysis and Volume Indicators“. 2024.

    Mikhaylova, et al. “Bitcoin mempool growth and trading volumes“. 2023.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Strategi Identifikasi Tren Harga dengan Trading Volume: On Balance Volume (OBV)

    On Balance Volume (OBV) merupakan salah satu indikator yang berdasarkan pada trading volume — Inikator ini bisa kamu gunakkan sebagai indikator tambahan saat melakukkan trading, baik itu saham atau pun crypto. On Balance Volume (OBV) sendiri bekerja dengan menggabungkan volume dan pergerakan harga untuk membantu kamu mendeteksi kekuatan beli atau jual yang ada di pasar.

    Mulai dari mengidentifikasi tren, divergence hingga mengidentifikasi bearish divergence bisa kamu lakukan dengan indikator OBV. Pelajari lebih lengkap pengertian hingga contoh penggunaannya di bawah ini.

    Apa Itu OBV dan Bagaimana Cara Kerjanya?

    On Balance Volume (OBV) adalah indikator analisis teknikal yang digunakan untuk mengukur tekanan beli dan jual berdasarkan volume perdagangan. 

    Indikator ini merupakan indikator kumulatif, cara kerjanya seperti ini—pada hari-hari di mana harga naik, volume hari tersebut akan ditambahkan ke total OBV kumulatif, namun jika harga turun, maka volume hari itu dikurangi dari total OBV.  Hasil perhitungan tadi lalu digambarkan dalam bentuk garis, yang dikenal dengan garis OBV.

    OBV ini sering dipakai untuk membantu melihat arah tren harga, atau memperkirakan apakah harga akan berbalik arah kalau ada perbedaan antara gerakan harga dan garis OBV.

    Baca juga: Cara Membaca Volume Trading untuk Pemula

    Kenapa OBV Dapat Mengidentifikasi Tren?

    Indikator OBV dapat membantu mengungkap pergerakan “smart money“—seperti investor besar atau institusi—yang sering kali masuk pasar sebelum harga bergerak signifikan. Saat harga dan OBV naik bersama, itu menunjukkan bahwa tekanan beli mendukung kenaikan harga, menunjukkan tren naik yang sehat.

    Namun, jika terjadi perbedaan arah—misalnya harga terus naik tapi OBV justru menurun—itu bisa menjadi sinyal peringatan. Artinya, volume tidak mendukung kenaikan harga, dan ada kemungkinan tren akan melemah atau berbalik arah.

    OBV juga berguna untuk memperkuat sinyal dari indikator teknikal lainnya. Tapi seperti alat analisis lainnya, OBV sebaiknya tidak digunakan sendirian. Digunakan bersama indikator lain, OBV dapat memberikan gambaran yang lebih solid dan membantu pengambilan keputusan yang lebih matang.

    Banner Beli Bitcoin Mulai dari Rp 1.600

    Sebelum mempelajari lebih lengkap mengenai cara menggunakan OBV, pastikan kamu menggunakan bursa terpercaya seperti Tokocrypto yang terdaftar resmi sebagai Pedagang Fisik Aset Kripto (PFAK) di Bappebti, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi. Trading dengan deposit mulai dari Rp20.000 juga bisa lho!

    Contoh Penggunaan On Balance Volume (OBV)

    Berikut ini adalah beberapa contoh penggunaan OBV yang umum dilakukan trader untuk mengidentifikasi tren, mendeteksi divergence, dan mengenali potensi pembalikan arah harga.

    Sebagai Indikator untuk Mengidentifikasi Tren

    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) untuk mengidentifikasi tren.
    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) untuk mengidentifikasi tren.

    OBV dapat digunakan untuk memastikan apakah tren harga saat ini memiliki dukungan dari volume. Jika harga bergerak naik dan OBV juga menunjukkan arah naik, ini mengindikasikan bahwa tekanan beli mendukung tren tersebut. Sebaliknya, jika harga turun dan OBV ikut turun, tekanan jual kemungkinan besar masih mendominasi pasar. Dengan kata lain, OBV membantu mengkonfirmasi kekuatan tren yang sedang berlangsung.

    Indikator Divergence

    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) sebagai divergence untuk mengidentifikasi pergerakan harga.
    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) sebagai divergence untuk mengidentifikasi pergerakan harga.

    Salah satu kegunaan OBV adalah untuk dalam mengidentifikasi pola divergence—perbedaan arah antara harga dan volume. Ketika harga menunjukkan pola tertentu, tetapi OBV bergerak ke arah berbeda, itu bisa menjadi sinyal bahwa perubahan tren sudah dekat.

    Bearish OBV Divergence

    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) sebagai indikator untuk mengidentifikasi bearish divergence.
    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) sebagai indikator untuk mengidentifikasi bearish divergence.

    Bearish divergence terjadi saat harga membentuk higher high (harga naik), tetapi OBV justru membentuk lower high (volume melemah). Ini menunjukkan bahwa meskipun harga naik, kekuatan pasar yang mendukung kenaikan tersebut mulai menurun. Kondisi ini sering kali menjadi tanda bahwa buyer mulai kehilangan minat, dan ada potensi koreksi harga atau bahkan pembalikan arah menjadi tren turun.

    Baca juga indikator lainnya: Kapan Volume Trading Bisa Jadi Sinyal Beli Agar Trading Lebih Akurat?

    Itu dia strategi untuk mengidentifikasi tren pergerakan harga pasar dengan menggunakan trading volume, On Balance Volume (OBV). Jangan lupa untuk kombinasikan OBV dengan analisa harga dan indikator teknikal lainnya supaya kamu bisa membuat strategi trading yang lebih akurat.

    Masih bingung cara baca volume trading? Yuk, tanya-tanya langsung sama trader aktif lain di Telegram komunitas Tokocrypto melalui link berikut 👉 https://t.me/TokocryptoOfficial


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.

    Sumber: Trading View. “Volume Keseimbangan / On Balance Volume (OBV)”.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 4 Strategi Trading Dengan Moving Average

    Moving Average (MA) adalah indikator analisis teknis populer yang memuluskan data harga selama periode waktu tertentu. Mereka dapat digunakan dalam strategi trading untuk mengidentifikasi potensi pembalikan tren, titik masuk dan keluar, level support/resistance (S/R), dan banyak lagi. Artikel ini mengeksplorasi berbagai strategi trading dengan Moving Average, cara kerjanya, dan wawasan yang dapat mereka tawarkan.

    Mengapa Strategi Trading Dengan Moving Average?

    Moving Average dapat menyaring kebisingan pasar dengan memperhalus data harga, membantu trader mengidentifikasi tren pasar secara efektif. Trader juga dapat mengukur momentum pasar dengan mengamati interaksi antara beberapa Moving Average. Selain itu, fleksibilitas Moving Average memungkinkan trader untuk menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar yang berbeda.

    Double Moving Average Crossover

    Strategi persilangan Moving Average ganda melibatkan penggunaan dua Moving Average dengan panjang yang berbeda-beda. Trader umumnya menggunakan kombinasi Moving Average jangka pendek dan jangka panjang, seperti MA 50 hari dan MA 200 hari. Biasanya, Moving Average memiliki jenis yang sama, seperti dua Moving Average sederhana (SMA), namun Anda juga dapat menggunakan jenis yang berbeda, seperti SMA yang digabungkan dengan Moving Average eksponensial (EMA).

    Dalam strategi trading ini, trader mencari persilangan antara Moving Average. Sinyal bullish terjadi ketika Moving Average jangka pendek melintasi di atas Moving Average jangka panjang (juga dikenal sebagai Golden Cross), yang menunjukkan potensi peluang pembelian. Sebaliknya, sinyal bearish terjadi ketika Moving Average jangka pendek melintasi di bawah Moving Average jangka panjang (juga dikenal sebagai Death Cross), yang menandakan potensi peluang penjualan.

    Moving Average Ribbon

    Pita Moving Average adalah kombinasi dari beberapa Moving Average dengan panjang berbeda. Sebuah pita dapat terdiri dari empat hingga delapan SMA, namun jumlah pastinya dapat bervariasi tergantung pada preferensi individu. Interval antar MA juga dapat disesuaikan dengan berbagai lingkungan trading. Misalnya, pita default terdiri dari empat SMA, dengan periode 20, 50, 100, dan 200.

    Strategi trading ini melibatkan pelacakan ekspansi dan kontraksi pita Moving Average. Misalnya, pita yang melebar, dimana Moving Average yang lebih pendek bergerak menjauh dari Moving Average yang lebih panjang selama kenaikan harga, menunjukkan adanya tren penguatan pasar. Sebaliknya, pita kontraksi, di mana Moving Average bertemu atau tumpang tindih, menunjukkan konsolidasi atau kemunduran.

    Moving Average Envelopes

    Strategi trading dengan Moving Average envelopes menggunakan Moving Average tunggal yang dikelilingi oleh dua batas (envelopes) yang ditetapkan dengan persentase tertentu di atas dan di bawahnya. Moving Average sentral dapat berupa SMA atau EMA, bergantung pada seberapa sensitif trader menginginkannya. Pengaturan umum menggunakan SMA 20 hari dengan batasan yang ditetapkan pada 2,5% atau 5% darinya. Persentasenya tidak tetap dan dapat disesuaikan berdasarkan volatilitas pasar untuk menangkap lebih banyak fluktuasi harga.

    Strategi trading ini dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pasar overbought dan oversold. Ketika harga melintasi di atas batas atas, ini menunjukkan bahwa aset tersebut mungkin berada dalam kondisi jenuh beli (overbought), sehingga menunjukkan potensi peluang penjualan. Sebaliknya, jika harga turun di bawah batas bawah, hal ini menunjukkan bahwa aset tersebut mungkin mengalami oversold (jenuh jual), yang mengindikasikan adanya potensi peluang pembelian.

    Moving Average Envelopes vs. Bollinger Bands (BB)

    Bollinger Bands (BB) mirip dengan Moving Average envelopes, keduanya biasanya menggunakan SMA 20 hari pusat dan dua batasan yang ditetapkan di atas dan di bawahnya. Meskipun pendekatannya serupa, indikator-indikator ini mempunyai beberapa perbedaan.

    Amplop Moving Average menggunakan dua batas yang ditetapkan pada persentase tertentu di atas dan di bawah Moving Average pusat. Sebaliknya, Bollinger Bands menggunakan dua band yang menetapkan dua standar deviasi dari Moving Average pusat.

    Secara umum, BB dan Moving Average envelope dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi kondisi pasar jenuh beli dan jenuh jual, namun secara visual, keduanya melakukannya dengan cara yang sedikit berbeda. Moving Average envelope memberikan sinyal ketika harga melintasi di atas atau di bawah envelope. Bollinger Bands juga dapat menunjukkan kondisi jenuh beli dan jenuh jual ketika harga bergerak mendekati atau menjauh dari pita tersebut. Namun, BB menawarkan wawasan tambahan mengenai volatilitas pasar ketika kedua band tersebut berkontraksi atau berkembang.

    Moving Average Convergence Divergence (MACD)

    MACD adalah indikator teknis yang terdiri dari dua garis utama: garis MACD dan garis sinyal, yang merupakan EMA 9 periode dari garis MACD. Interaksi antara garis-garis ini dan histogram, yang mewakili perbedaan di antara keduanya, menjadikan strategi trading ini efektif untuk menganalisis pergeseran momentum pasar dan potensi pembalikan tren.

    Trader dapat menggunakan perbedaan antara MACD dan aksi harga untuk melihat potensi pembalikan tren. Divergensi bisa bersifat bullish atau bearish. Dalam divergensi bullish, harga membentuk titik terendah yang lebih rendah sementara MACD membentuk titik terendah yang lebih tinggi, menandakan potensi pembalikan ke atas. Sebaliknya, dalam divergensi bearish, harga membentuk nilai tertinggi yang lebih tinggi sementara MACD membentuk nilai tertinggi yang lebih rendah, yang mengindikasikan potensi pembalikan ke sisi bawah.

    Selain itu, trader dapat memanfaatkan persilangan MACD. Ketika garis MACD melintasi garis sinyal dari bawah, ini mengindikasikan momentum kenaikan, menunjukkan potensi peluang pembelian. Sebaliknya, jika garis MACD turun di bawah garis sinyal, ini menunjukkan momentum penurunan, menandakan potensi peluang penjualan.

    Kesimpulan

    Strategi trading dengan menggunakan rata-rata bergerak dapat membantu para trader menganalisis tren pasar, pergeseran momentum, dan faktor-faktor lainnya. Namun, hanya mengandalkan strategi ini bisa berbahaya karena interpretasi yang bersifat subjektif. Untuk mengurangi risiko potensial, trader dapat mengintegrasikan strategi ini dengan metode analisis pasar lainnya.


    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Cara Trading dengan Pola Hammer Candlestick

    Pola trading hammer candlestick adalah salah satu pola yang paling digunakan dalam analisis teknis. Bukan hanya di kripto, melainkan juga di saham, indeks, obligasi, dan perdagangan valas. Hammer candle dapat membantu pedagang aksi harga melacak potensi pembalikan setelah tren bullish atau bearish. Tergantung pada konteks dan jangka waktu, pola candle ini dapat menandakan pembalikan bullish pada akhir tren turun atau pembalikan bearish setelah tren naik. Jika digabungkan dengan indikator teknis lainnya, hammer candle dapat memberikan titik masuk yang bagus bagi para pedagang untuk posisi long dan short.

    Hammer candle bullish mencakup hammer dan inverted hammer yang muncul setelah tren turun. Variasi bearish dari hammer candle mencakup hanging man dan shooting star yang terjadi setelah tren naik.

    Pendahuluan

    Hammer candlestick adalah pola yang berfungsi dengan baik di berbagai pasar keuangan. Pola candlestick ini paling populer digunakan oleh pedagang untuk mengukur kemungkinan hasil saat melihat pergerakan harga.

    Jika digabungkan dengan metode perdagangan lainnya, seperti analisis fundamental dan alat analisis pasar lain, pola hammer candlestick dapat memberikan wawasan mengenai peluang trading. Artikel ini akan membahas penjelasan pola hammer candlestick dan cara membacanya.

    Bagaimana cara kerja candlestick?

    Dalam diagram candlestick, setiap candle berkaitan dengan satu periode sesuai dengan jangka waktu yang dipilih. Jika melihat pada diagram harian, setiap candle mewakili aktivitas perdagangan selama satu hari. Jika melihat pada diagram 4 jam, setiap candle mewakili perdagangan selama 4 jam.

    Setiap candlestick memiliki harga pembukaan dan harga penutupan yang membentuk badan candle. Candle juga memiliki wick (atau bayangan) yang menunjukkan harga tertinggi dan terendah dalam periode tersebut. Jika Anda baru mengenal diagram candlestick, kami menyarankan untuk membaca Panduan Pemula untuk Diagram Candlestick terlebih dahulu.

    Apa itu pola hammer candlestick?

    Hammer candlestick terbentuk ketika candle menunjukkan badan kecil beserta dengan wick bawah yang panjang. Wick (atau bayangan) setidaknya harus memiliki dua kali ukuran badan candle. Bayangan bawah yang panjang menunjukkan bahwa penjual menurunkan harga sebelum pembeli menaikkannya kembali di atas harga pembukaan.

    Di bawah ini, Anda dapat melihat harga pembukaan (1), harga penutupan (2), serta bagian atas dan bawah yang membentuk wick atau bayangan (3).

    Hammer Bullish

    Pola hammer candlestick

    Hammer candlestick bullish terbentuk ketika harga penutupan berada di atas harga pembukaan yang menandakan bahwa pembeli memiliki kontrol terhadap pasar sebelum akhir periode perdagangan tersebut.

    Pola inverted hammer candlestick

    Inverted hammer terbentuk ketika harga pembukaan berada di bawah harga penutupan. Wick yang panjang di atas badan menandakan terdapat tekanan membeli yang mencoba untuk menaikkan harga lebih tinggi, tetapi pada akhirnya diseret kembali ke bawah sebelum candle ditutup. Meskipun tidak se-bullish hammer candle biasa, inverted hammer juga merupakan pola pembalikan bullish yang muncul setelah tren turun.

    Hammer Bearish

    Hanging man candlestick

    Hammer candlestick bearish disebut sebagai hanging man. Pola ini terbentuk ketika harga pembukaan berada di atas harga penutupan, sehingga menghasilkan candle merah. Wick pada hammer bearish menunjukkan bahwa pasar mengalami tekanan menjual yang menandakan potensi pembalikan terhadap tren turun.

    Shooting star candlestick

    Inverted hammer bearish disebut dengan shooting star candlestick. Polanya tampak seperti inverted hammer biasa, tetapi menunjukkan potensi pembalikan bearish daripada bullish. Dengan kata lain, shooting star candlestick mirip seperti inverted hammer yang terjadi setelah tren naik. Pola ini terbentuk ketika harga pembukaan berada di atas harga penutupan dan wick menandakan bahwa pergerakan pasar yang naik mungkin akan berakhir.

    Cara menggunakan pola hammer candlestick untuk melacak potensi pembalikan tren

    Hammer candle bullish muncul selama tren bullish dan menunjukkan potensi pembalikan harga, sehingga menandakan bagian bawah tren turun. Dalam contoh di bawah ini, terdapat hammer candlestick bullish (gambar dari TradingView).

    Hammer candlestick bearish dapat berupa hanging man atau shooting star. Pola ini muncul tren bullish dan menunjukkan potensi pembalikan terhadap tren turun. Dalam contoh di bawah ini, terdapat shooting star (gambar dari TradingView).

    Oleh karena itu, untuk menggunakan hammer candlestick dalam trading, Anda harus mempertimbangkan posisinya sehubungan dengan candle sebelum dan sesudahnya. Pola pembalikan akan dibantahkan atau dikonfirmasi tergantung pada konteksnya. Mari kita lihat masing-masing jenis hammer.

    Kekuatan dan kelemahan pola hammer candlestick

    Setiap pola candlestick memiliki pro dan kontra. Lagi pula, tidak ada alat atau indikator analisis teknis yang dapat menjamin laba 100% di pasar keuangan mana pun. Pola diagram hammer candlestick cenderung berfungsi lebih baik saat digabungkan dengan strategi trading lainnya, seperti rata-rata bergerak, garis tren, RSI, MACD, dan Fibonacci.

    Kekuatan

    • Pola hammer candlestick dapat digunakan untuk melacak pembalikan tren di pasar keuangan mana pun.
    • Para pedagang dapat menggunakan pola hammer di beberapa jangka waktu, sehingga menjadikannya berguna dalam trading swing dan trading harian.

    Kelemahan

    • Pola hammer candlestick bergantung pada konteks. Tidak ada jaminan bahwa pembalikan tren akan terjadi.
    • Pola hammer candlestick tidak begitu andal jika dipakai sendirian saja. Pedagang harus selalu menggabungkannya dengan strategi dan alat lain untuk meningkatkan peluang keberhasilan.

    Hammer candlestick vs Doji: Apa perbedaannya?

    Doji mirip seperti hammer tanpa badan. Candlestick Doji dibuka dan ditutup pada harga yang sama. Sementara hammer candlestick menandakan potensi pembalikan harga, Doji biasanya menandakan konsolidasi, kelanjutan, atau kebimbangan pasar. Doji candle sering kali merupakan pola netral, tetapi dapat mengawali tren bullish atau bearish dalam beberapa situasi.

    Dragonfly Doji tampak seperti hammer atau hanging man tanpa badan.

    Gravestone Doji mirip seperti inverted hammer atau shooting star.

    Meskipun begitu, hammer dan Doji tidak begitu bermakna jika digunakan sendirian saja. Anda harus selalu mempertimbangkan konteks, seperti tren pasar, candle di sekitarnya, volume perdagangan, dan metrik lainnya.

    Penutup

    Meskipun pola hammer candlestick merupakan alat berguna yang membantu pedagang melacak potensi pembalikan tren, pola ini bukan merupakan sinyal membeli atau menjual jika digunakan sendirian. Sama seperti strategi trading lainnya, hammer candle lebih berguna ketika digabungkan dengan alat analisis lain dan indikator teknis.

    Anda juga harus menerapkan manajemen risiko yang tepat dengan mengevaluasi rasio risiko terhadap trading. Anda juga harus menggunakan stop-loss order untuk menghindari kerugian besar pada saat volatilitas tinggi.


    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Panduan Menguasai Fibonacci Retracement – Tokocrypto News

    Dalam artikel ini, kita belajar tentang Fibonacci retracement, sebuah alat analisis teknikal yang digunakan untuk meramalkan pergerakan harga di pasar keuangan. Alat ini didasarkan pada deret Fibonacci, yang menciptakan rasio-rasio penting yang sering terjadi dalam alam. Dengan menggunakan alat Fibonacci retracement, pedagang dapat mengidentifikasi level-level penting seperti support, resistance, dan area masuk atau keluar. Meskipun tidak ada jaminan bahwa harga akan selalu bergerak sesuai dengan level Fibonacci, alat ini tetap berguna sebagai panduan dalam membuat keputusan perdagangan. Kombinasi Fibonacci retracement dengan indikator lain dapat meningkatkan keefektifannya, tetapi pada akhirnya, manajemen risiko dan pemahaman tentang lingkungan pasar tetap kunci dalam perdagangan yang sukses.

    Analisis Teknikal

    Berbagai alat analisis teknikal (TA) dan indikator tersedia bagi para pedagang untuk meramalkan pergerakan harga di masa depan. Ini mencakup kerangka analisis pasar komprehensif seperti Metode Wyckoff, Teori Gelombang Elliott, dan Teori Dow. Selain itu, terdapat indikator seperti Moving Averages, Relative Strength Index (RSI), RSI Stochastic, Bollinger Bands, Ichimoku Clouds, SAR Parabolic, atau MACD.

    Salah satu indikator populer yang digunakan ribuan pedagang di pasar saham, forex, dan kripto adalah alat Fibonacci retracement. Indikator ini menarik karena didasarkan pada deret Fibonacci, yang ditemukan lebih dari 700 tahun yang lalu. Artikel ini akan membahas apa itu Fibonacci retracement dan cara menggunakannya untuk mengidentifikasi level penting dalam grafik.

    Apa Itu Fibonacci Retracement?

    Fibonacci retracement, atau Fib retracement, adalah alat yang digunakan oleh analis teknikal dan pedagang untuk memprediksi area menarik dalam grafik. Ini dilakukan dengan menggunakan rasio Fibonacci sebagai persentase. Alat Fib retracement berasal dari serangkaian angka yang ditemukan oleh matematikawan Leonardo Fibonacci pada abad ke-13, dikenal sebagai deret Fibonacci. Deret ini menghasilkan beberapa rasio yang kemudian diplot ke grafik. Rasio-rasio tersebut meliputi 0%, 23,6%, 38,2%, 61,8%, 78,6%, dan 100%. Meskipun bukan rasio Fibonacci, level 50% juga dianggap penting karena mewakili titik tengah kisaran harga. Selain itu, rasio Fibonacci di luar kisaran 0-100% juga dapat digunakan, seperti 161,8%, 261,8%, atau 423,6%.

    Bagaimana Menggunakan Fibonacci Retracement?

    Untuk menghitung Fibonacci retracement, Anda tidak perlu melakukannya secara manual karena persentase ini sama di setiap alat Fibonacci. Namun, cara untuk mendapatkannya adalah dengan memulai dari angka Fibonacci. Deret Fibonacci dihasilkan dengan menambahkan jumlah dua angka sebelumnya untuk mendapatkan angka berikutnya. Level-level Fibonacci dalam alat retracement didasarkan pada hubungan matematika antara angka-angka dalam deret ini.

    Deret Fibonacci dan Rasio Emas

    Deret Fibonacci juga menciptakan rasio emas atau Golden Ratio (0,618% atau 1,618%), yang merupakan proporsi yang sering terjadi dalam alam. Rasio ini ditemukan dalam berbagai fenomena alam dan digunakan dalam seni, desain, dan arsitektur selama berabad-abad.

    Cara Menggunakan Fibonacci Retracement

    Fibonacci digunakan dengan menghubungkan dua titik harga signifikan, seperti high dan low. Range ini digunakan untuk memetakan level dalam range serta memberikan wawasan tentang level harga penting di luar range tersebut. Alat ini digunakan sesuai dengan tren yang mendasarinya, seperti dalam uptrend atau downtrend, untuk menunjukkan potensi level support atau resistance.

    Biasanya, range ini ditarik sesuai dengan tren yang mendasarinya. Jadi, dalam uptrend, titik rendah adalah 1 (atau 100%), sedangkan titik tinggi adalah 0 (0%). Dengan menarik garis Fib retracement di atas uptrend, pedagang mendapatkan gambaran mengenai potensi level support yang dapat diuji jika pasar mulai mengalami retrace – sesuai dengan namanya, retracement.

    Sebaliknya, selama downtrend, titik rendah adalah 0 (0%), dan titik tinggi 1 (100%). Perhatikan bahwa karena harga berada dalam downtrend, retracement dalam hal ini mengacu pada retracement dari bawah – jadi, dampaknya adalah bouncing. Di sini, alat Fibonacci dapat memberikan wawasan mengenai potensi level resistance jika pasar mulai bergerak naik.

    Informasi yang Diperoleh dari Level Fibonacci

    Pedagang dapat menggunakan level Fibonacci untuk menentukan area masuk, target harga, atau titik stop-loss. Strategi dapat bervariasi tergantung pada preferensi individu dan faktor-faktor teknis lainnya. Level Fibonacci juga sering dikombinasikan dengan teori gelombang Elliott untuk memprediksi tingkat retracement pada gelombang tertentu.

    Ekstensi Fibonacci

    Selain digunakan untuk mengevaluasi retracement, deret Fibonacci juga digunakan untuk menentukan level ekstensi di luar range saat ini. Ini dapat menjadi target perdagangan potensial.

    Penutup

    Meskipun hubungan antara aksi harga, pola grafik, dan indikator tidak didasarkan pada prinsip ilmiah atau hukum fisik, Fibonacci retracement tetap menjadi alat yang berguna bagi sebagian peserta pasar dalam memetakan area menarik di dalam grafik.


    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Penjelasan Tentang Apa Itu Bollinger Band?

    Apa itu Bollinger Band (BB)? Sebuah alat bantu trading yang dirancang pada awal 1990-an oleh John Bollinger, seorang analis finansial dan pedagang. Bollinger Band telah menjadi alat yang sangat digunakan untuk analisis teknikal (Technical Analysis – TA), yang pada dasarnya adalah sebuah alat pengukur fluktuasi yang mengindikasikan apakah pasar sedang bergejolak atau tenang, serta kondisi over-beli atau over-jual.

    Konsep di balik indikator Bollinger Band adalah untuk menampilkan sebaran harga di sekitar nilai rata-rata. Lebih spesifik lagi, indikator ini terdiri dari sebuah band atas (upper band), band bawah (lower band), dan garis tengah pergerakan rata-rata (middle band / middle moving average line). Kedua band tersebut bereaksi terhadap pergerakan harga, melebar saat fluktuasi tinggi (meninggalkan garis tengah) dan menyempit saat fluktuasi rendah (menuju garis tengah).

    Formula standar Bollinger Band menggunakan garis tengah sebagai pergerakan sederhana rata-rata selama 20 hari (simple moving average / SMA), di mana band atas dan bawah dihitung berdasarkan fluktuasi pasar relatif terhadap SMA (disebut sebagai deviasi standar). Konfigurasi standar untuk indikator Bollinger Band adalah sebagai berikut:

    • Garis Tengah: Pergerakan sederhana rata-rata 20 hari (simple moving average / SMA)
    • Band Atas: 20 hari SMA + (20 hari deviasi standar x2)
    • Band Bawah: 20 hari SMA – (20 hari deviasi standar x2)

    Konfigurasi standar BB menggunakan periode 20 hari dan menetapkan band atas dan bawah pada deviasi standar (x2) dari garis tengah. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa sekitar 85% data harga bergerak di antara kedua band tersebut, meskipun pengaturan dapat disesuaikan sesuai kebutuhan dan strategi perdagangan.

    Bagaimana Menggunakan Bollinger Band dalam Trading?

    Meskipun Bollinger Band banyak digunakan dalam pasar keuangan tradisional, mereka juga dapat diterapkan dalam pengaturan perdagangan mata uang digital. Namun, penting untuk diingat bahwa ada berbagai cara untuk menggunakan dan menginterpretasikan indikator BB, namun sebaiknya tidak digunakan sebagai alat tunggal dan tidak boleh diandalkan sebagai indikator pembelian/jual. Bollinger Band dapat digunakan bersama dengan indikator analisis teknikal lainnya.

    Dengan pemahaman ini, kita dapat membayangkan bagaimana seseorang dapat menginterpretasikan data yang diberikan berdasarkan Bollinger Band.

    Jika harga bergerak di atas moving average dan melewati batas atas Bollinger Band, ini mungkin menunjukkan bahwa pasar telah menjadi terlalu optimis (kondisi over-beli). Di sisi lain, jika harga mencapai atau melewati batas atas band beberapa kali, ini mungkin menandakan tingkat resistensi yang signifikan.

    Sebaliknya, jika harga sebuah aset turun secara signifikan dan mencapai atau melampaui batas bawah band beberapa kali, kemungkinan besar pasar dalam kondisi over-jual atau menemukan level support yang kuat.

    Oleh karena itu, pedagang dapat menggunakan Bollinger Band (bersama dengan indikator TA lainnya) untuk menetapkan target pembelian atau penjualan mereka, atau untuk mendapatkan gambaran tentang kapan pasar mungkin over-beli atau over-jual.

    Selain itu, ekspansi dan kontraksi Bollinger Band dapat berguna ketika mencoba memprediksi tingkat fluktuasi pasar. Band ini akan melebar saat aset mengalami fluktuasi tinggi (ekspansi) atau menyempit saat harga stabil (kontraksi).

    Oleh karena itu, Bollinger Band lebih cocok digunakan untuk perdagangan jangka pendek sebagai alat untuk menganalisis fluktuasi pasar dan mencoba memprediksi pergerakan berikutnya. Beberapa pedagang menganggap bahwa ketika band melebar, pasar mungkin sedang mengalami periode konsolidasi atau pergantian tren. Di sisi lain, ketika band menyempit, pedagang cenderung percaya bahwa pasar bersiap untuk pergerakan yang signifikan.

    Ketika harga berkisar, Bollinger Band cenderung menyempit menuju garis tengah moving average. Biasanya (meskipun tidak selalu), fluktuasi rendah dan deviasi sempit terjadi sebelum pergerakan besar, yang biasanya terjadi saat fluktuasi kembali tinggi.

    Bollinger Bands vs Keltner Channels

    Tidak seperti Bollinger Band yang menggunakan SMA dan deviasi standar, versi modern dari indikator Keltner Channels (KC) menggunakan Average True Range (ATR) untuk menetapkan lebar channel di sekitar 20-hari exponential moving average (EMA). Oleh karena itu, formula Keltner Channel akan terlihat seperti ini:

    • Garis Tengah: 20 hari exponential moving average (EMA)
    • Garis Channel Atas: 20 hari EMA + (10-day ATR x2)
    • Band Bawah: 20 hari EMA – (10-day ATR x2)

    Secara umum, Keltner Channel cenderung lebih sempit daripada Bollinger Band. Oleh karena itu, ini lebih sesuai untuk mengidentifikasi pembalikan tren dan kondisi pasar over-beli/over-jual dengan lebih jelas. Selain itu, Keltner Channel biasanya memberikan sinyal over-beli/over-jual lebih awal daripada Bollinger Band.

    Di sisi lain, Bollinger Band lebih baik dalam merepresentasikan fluktuasi pasar karena lebih fleksibel dalam ekspansi dan kontraksinya. Lebih lanjut, dengan menggunakan deviasi standar, Bollinger Band lebih mampu menghindari sinyal palsu karena lebih lebar dan sulit ditembus.

    Antara Bollinger Band dan Keltner Channel, Bollinger Band lebih populer. Namun, kedua indikator tersebut baik – terutama untuk pengaturan perdagangan jangka pendek – dan dapat digunakan bersama untuk memberikan sinyal yang lebih akurat.


    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Dasar-Dasar Konsep Level Support dan Resistance

    Mempelajari konsep support dan resistance merupakan langkah awal yang esensial dalam memahami analisis teknikal di pasar keuangan. Konsep ini relevan di berbagai pasar, termasuk saham, forex, emas, dan mata uang kripto.

    Meskipun terlihat sederhana, namun memahami secara mendalam kedua konsep ini memerlukan waktu dan praktek yang cukup. Identifikasi support dan resistance bisa menjadi subjektif, dan keduanya bereaksi secara berbeda terhadap perubahan kondisi pasar.

    Oleh karena itu, sangat penting bagi para pedagang untuk memahami berbagai jenisnya dan menguasai penggunaannya dalam analisis chart. Panduan ini bertujuan untuk memberikan wawasan lebih lanjut dalam hal tersebut.

    Apa yang Dimaksud dengan Support dan Resistance?

    Secara sederhana, support dan resistance adalah level-level di mana harga cenderung memantul atau terhenti. Support adalah level di mana harga cenderung mencapai “lantai” dan memantul kembali naik, sementara resistance adalah level di mana harga mencapai “langit-langit” dan kemudian memantul turun.

    Dalam konteks ini, support dapat dianggap sebagai zona permintaan, sedangkan resistance adalah zona penawaran. Meskipun secara tradisional support dan resistance sering diwakili dalam bentuk garis pada grafik, namun dalam kenyataannya, mereka lebih cenderung menjadi area atau bidang. Hal ini penting untuk dipahami karena pasar tidak terikat oleh hukum fisik yang menghalangi harga untuk menembus level tertentu.

    Mari kita lihat contoh dari level support. Ketika harga secara konsisten memantul dari area tertentu di mana aset dibeli, rentang support terbentuk. Para pedagang yang berusaha mendorong harga lebih rendah tidak berhasil, sehingga harga kemudian memantul kembali ke atas, potensial memulai uptrend baru.

    Harga memantul di area support sebelum breakout.
    Harga memantul di area support sebelum breakout.

    Sekarang, mari kita amati level resistance. Pada saat harga berada dalam tren turun, namun setiap kali mencoba untuk rebound, harga gagal menembus area yang sama beberapa kali. Inilah yang kemudian membentuk level resistance karena pembeli tidak mampu mendorong harga lebih tinggi, sehingga tren turun tetap berlanjut.

    Harga tidak mampu menembus area resistance.
    Harga tidak mampu menembus area resistance.

    Bagaimana Trader Menggunakan Level Support dan Resistance?

    Para analis teknikal menggunakan level support dan resistance untuk mengidentifikasi area-area penting pada chart harga. Kedua level ini menandakan kemungkinan reversal atau jeda dalam tren yang sedang berlangsung.

    Peran psikologi pasar sangat penting dalam pembentukan support dan resistance karena para pedagang dan investor cenderung mengingat level harga yang signifikan dan berperan dalam aktivitas perdagangan. Area support dan resistance yang ditandai secara jelas sering kali menarik minat banyak pedagang, sehingga meningkatkan likuiditas pasar.

    Support dan resistance juga merupakan konsep kunci dalam manajemen risiko. Kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengkonfirmasi zona-zona ini secara konsisten dapat membuka peluang perdagangan yang menguntungkan. Ketika harga mencapai area support atau resistance, ada dua kemungkinan yang mungkin terjadi: Hakan memantul dari area tersebut atau menembusnya dan melanjutkan pergerakan tren ke arah berikutnya.

    Memasuki perdagangan di sekitar level support atau resistance sering kali merupakan strategi yang menguntungkan karena memungkinkan penempatan order stop-loss yang relatif dekat. Dengan demikian, jika harga kemudian melawan posisi perdagangan yang diambil, kerugian yang dialami dapat diminimalkan.

    ndeks US Dollar (DXY) berbalik sebelum mencapai 100.
    Indeks US Dollar (DXY) berbalik sebelum mencapai 100.

    Selain itu, penting untuk memperhatikan bagaimana level support dan resistance bereaksi terhadap perubahan konteks. Sebagai aturan umum, area support yang telah ditembus dapat berubah menjadi resistance ketika diuji kembali, dan sebaliknya. Pola ini dikenal sebagai support-resistance flip, dan pengujian ulang area tersebut dapat memberikan peluang yang menguntungkan untuk memasuki posisi perdagangan.

    Keberhasilan dalam memahami dan menggunakan level support dan resistance juga bergantung pada kekuatan masing-masing level tersebut. Semakin sering harga menguji ulang area support atau resistance, semakin besar kemungkinan level tersebut untuk ditembus. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan sejarah harga yang relevan dan menganalisis kekuatan dan kelemahan setiap level support dan resistance.

    Jenis-jenis Support dan Resistance

    Selain dari support dan resistance yang muncul secara alami dari aktivitas harga, ada juga jenis-jenis lain yang didasarkan pada faktor-faktor psikologis atau indikator teknikal. Salah satu jenisnya adalah support dan resistance psikologis, yang tidak selalu terkait dengan pola teknikal tertentu, tetapi lebih pada bagaimana manusia cenderung memahami dan merespons angka-angka bulat atau level-level harga yang signifikan.

    Garis tren juga dapat bertindak sebagai support dan resistance ketika harga bergerak dalam pola tren tertentu. Pola-pola klasik seperti garis tren naik atau turun dapat membantu pedagang mengidentifikasi area-area potensial untuk memasuki atau keluar dari posisi perdagangan.

    Garis tren bertindak sebagai support dan resistance pada S&P 500.
    Garis tren bertindak sebagai support dan resistance pada S&P 500.

    Indikator teknikal seperti moving average juga sering digunakan sebagai support dan resistance. Moving average dapat memberikan gambaran tentang arah tren pasar dan membantu pedagang mengidentifikasi potensi titik pembalikan atau jeda dalam tren yang sedang berlangsung.

    Selain itu, level-level yang dihasilkan oleh Fibonacci retracement tool juga sering digunakan sebagai support dan resistance. Level-level Fibonacci, seperti 61,8% atau 23,6%, sering kali menjadi titik-titik penting di mana harga dapat memantul atau terhenti.

    Moving average 200 minggu bertindak sebagai support terhadap harga Bitcoin.
    Moving average 200 minggu bertindak sebagai support terhadap harga Bitcoin.

    Strategi Trading dengan Konsep Support dan Resistance

    Penting untuk memahami bahwa level support dan resistance yang paling andal sering kali terjadi ketika beberapa faktor atau strategi yang berbeda bertemu, sebuah konsep yang dikenal sebagai confluence. Ketika level-level support dan resistance memenuhi berbagai kriteria yang telah kita diskusikan sebelumnya, peluang untuk perdagangan yang sukses cenderung lebih tinggi.

    Sebagai contoh, ketika seorang pedagang menemukan zona support yang didukung oleh area resistance sebelumnya, moving average yang penting, dan level Fibonacci yang signifikan, peluang untuk harga memantul dari zona tersebut menjadi lebih tinggi.

    Namun demikian, penting untuk diingat bahwa tidak ada jaminan bahwa level-level support dan resistance akan selalu bekerja seperti yang diharapkan. Masing-masing perdagangan memiliki risiko tersendiri, dan penting untuk selalu memperhitungkan kemungkinan berbagai skenario yang mungkin terjadi.

    Penutup

    Dalam perdagangan, pemahaman yang baik tentang konsep support dan resistance sangat penting. Mereka tidak hanya bertindak sebagai penanda potensi reversal atau jeda dalam tren, tetapi juga membantu para pedagang mengelola risiko dan melindungi modal mereka. Dengan memahami berbagai jenis support dan resistance, serta strategi untuk mengidentifikasi dan mengkonfirmasinya, para pedagang dapat meningkatkan peluang mereka untuk mencapai kesuksesan dalam pasar keuangan yang dinamis.


    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa Itu Analisis Fundamental (FA)?

    Beragam alat dan metode yang digunakan oleh para trader dan investor, entah itu saham atau kripto. Secara umum, ada dua kategori teknik yang bisa kita kelompokkan: Analisis fundamental atau fundamental analysis (FA) dan analisis teknikal atau technical analysis (TA). Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang dasar-dasar analisis fundamental.

    Apa itu Analisis Fundamental?

    Analisis fundamental adalah cara yang digunakan oleh investor dan trader untuk menilai nilai intrinsik suatu aset atau bisnis. Mereka melakukan penilaian ini dengan mempelajari faktor-faktor internal dan eksternal dengan cermat untuk menentukan apakah aset atau bisnis yang dipertimbangkan itu dinilai terlalu tinggi (overvalued) atau terlalu rendah (undervalued). Kesimpulan dari analisis ini dapat membantu merumuskan strategi yang lebih baik untuk mendapatkan keuntungan lebih besar.

    Misalnya, jika Anda tertarik pada suatu perusahaan, Anda bisa mempelajari hal-hal seperti pendapatan, neraca, laporan keuangan, dan arus kas perusahaan tersebut untuk menilai kesehatan keuangan mereka. Anda juga bisa melihat lebih luas ke aspek organisasi untuk melihat pasar atau industri tempat perusahaan itu beroperasi. Siapa pesaingnya? Siapa target pasar perusahaan itu? Apakah mereka memperluas jangkauan mereka? Anda bahkan bisa melihat aspek-aspek ekonomi yang lebih luas untuk melihat faktor-faktor seperti suku bunga dan inflasi.

    Pendekatan yang disebutkan di atas disebut sebagai pendekatan bottom-up: Anda mulai dengan mengamati perusahaan yang Anda minati, dan kemudian memahami posisinya dalam ekonomi yang lebih luas. Namun, Anda juga bisa menggunakan pendekatan top-down, di mana Anda mulai dengan hal-hal yang lebih umum atau pandangan yang lebih luas.

    Tujuan utama dari analisis ini adalah untuk memperkirakan harga saham dan membandingkannya dengan harga saat ini. Jika perkiraannya lebih tinggi dari harga saat ini, Anda mungkin menyimpulkan bahwa saham itu undervalued. Jika lebih rendah dari harga pasar, maka mungkin saham itu overvalued. Dengan data dari analisis, Anda bisa membuat keputusan apakah akan membeli atau menjual saham perusahaan tertentu.

    Analisis Fundamental (FA) vs. Analisis Teknikal (TA)

    Bagi trader dan investor yang baru mengenal mata uang kripto, forex, atau pasar saham, seringkali mereka bingung memilih pendekatan mana yang harus diambil. Analisis fundamental dan analisis teknikal sangat berbeda dan mengandalkan metode yang berbeda untuk menganalisis hal-hal yang berbeda. Namun, keduanya memberikan data yang relevan untuk perdagangan. Jadi, mana yang lebih baik?

    Mungkin lebih masuk akal untuk melihat kelebihan dari masing-masing metode ini. Pada dasarnya, analis fundamental percaya bahwa harga saham tidak selalu mencerminkan nilai sebenarnya dari saham tersebut – ini adalah prinsip yang mendasari keputusan investasi mereka.

    Di sisi lain, analis teknikal percaya bahwa pergerakan harga di masa depan dapat diprediksi dari tindakan harga dan data volume masa lalu. Mereka tidak terlalu memperhatikan faktor-faktor eksternal, dan lebih fokus pada grafik harga, pola, dan tren di pasar. Tujuan mereka adalah untuk mengidentifikasi titik-titik ideal untuk masuk dan keluar dari posisi.

    Pendukung hipotesis pasar efisien percaya bahwa analisis teknikal (TA) tidak bisa secara konsisten mengungguli pasar. Mereka berpendapat bahwa pasar keuangan sudah memperhitungkan semua informasi yang diketahui tentang aset (yang “rasional”), dan data historis juga sudah diakomodasi. Versi yang “lebih lemah” dari hipotesis ini tidak menolak analisis fundamental, tetapi versi yang “lebih kuat” mengatakan bahwa secara prinsip, mustahil untuk mendapatkan keunggulan kompetitif, bahkan dengan penelitian yang teliti.

    Dapat dimengerti bahwa tidak ada strategi yang lebih baik secara objektif antara dua analisis ini, karena keduanya memberikan wawasan yang berharga ke berbagai bidang. Beberapa orang mungkin lebih memilih gaya perdagangan tertentu, tetapi dalam praktiknya, banyak trader menggunakan kombinasi keduanya untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas. Ini berlaku baik untuk perdagangan jangka pendek maupun investasi jangka panjang.

    Indikator Populer dalam Analisis Fundamental

    Kita tidak akan menemukan candlestick, MACD, atau RSI dalam analisis fundamental – sebagai gantinya, ada beberapa indikator spesifik dalam FA yang digunakan. Di bagian ini, kita akan membahas beberapa yang paling populer.

    Earnings per share (EPS)

    Earnings per share atau laba per saham adalah ukuran kemakmuran perusahaan, memberi tahu kita berapa banyak laba yang dihasilkan dalam setiap saham yang beredar. Perhitungannya sederhana:

    (laba bersih – dividen pilihan) / jumlah saham

    Misalnya, jika sebuah perusahaan tidak membayar dividen, dan laba bersihnya adalah $1 juta, dengan 200.000 saham yang beredar, maka EPSnya adalah $5. Meskipun rumusnya sederhana, EPS bisa memberi kita wawasan tentang potensi investasi. Bisnis dengan EPS yang lebih tinggi atau meningkat biasanya lebih menarik bagi investor.

    Ada juga laba per saham terdilusi, yang memperhitungkan beberapa faktor yang dapat meningkatkan jumlah total saham. Misalnya, jika karyawan diberikan opsi untuk membeli saham perusahaan, jumlah saham yang lebih tinggi akan membagi laba bersih, sehingga EPS terdilusi mungkin lebih rendah dari EPS sederhana.

    Seperti semua indikator, EPS sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya metrik untuk menilai investasi. Lebih baik jika digunakan bersamaan dengan indikator lainnya.

    Rasio price-to-earnings (P/E)

    Rasio harga terhadap pendapatan atau price-to-earnings (P/E ratio) menilai bisnis dengan membandingkan harga saham dengan EPS-nya. Rumusnya sederhana:

    harga saham / pendapatan per saham

    Misalnya, jika setiap saham diperdagangkan seharga $10 dan EPS adalah $5, maka rasio P/E adalah 2. Apa artinya ini? Tergantung pada hasil penelitian lebih lanjut.

    Banyak investor menggunakan rasio P/E untuk menilai apakah saham itu overvalued (jika rasio lebih tinggi dari biasanya) atau undervalued (jika rasio lebih rendah). Sebaiknya membandingkan rasio P/E dengan rasio P/E dari bisnis sejenis. Aturan ini tidak selalu berlaku, jadi sebaiknya digunakan bersamaan dengan teknik analisis lainnya.

    Rasio price-to-book (P/B)

    Rasio harga terhadap nilai buku atau price-to-book (P/B ratio) memberi tahu kita bagaimana investor menilai perusahaan dalam hubungannya dengan nilai bukunya. Nilai buku adalah nilai bisnis seperti yang didefinisikan dalam laporan keuangan (biasanya aset dikurangi kewajiban). Rumusnya adalah:

    harga per saham / nilai buku per saham

    Misalnya, jika nilai buku perusahaan adalah $500.000 dan ada 200.000 saham yang beredar, maka nilai buku per saham adalah $2,5. Jika saham diperdagangkan seharga $10, rasio P/B adalah 4. Rasio di bawah 1 menunjukkan bahwa bisnis memiliki nilai lebih tinggi dari yang diakui pasar saat ini.

    Rasio P/B lebih cocok untuk penilaian bisnis dengan aset fisik yang signifikan.

    Rasio price/earnings-to-growth (PEG)

    Rasio harga terhadap pendapatan terhadap pertumbuhan atau price/earnings-to-growth (PEG ratio) adalah perpanjangan dari rasio P/E, yang memperhitungkan tingkat pertumbuhan. Rumusnya adalah:

    rasio harga terhadap pendapatan / tingkat pertumbuhan pendapatan

    Tingkat pertumbuhan pendapatan adalah perkiraan pertumbuhan pendapatan perusahaan dalam periode waktu tertentu. Jika kita memperkirakan pertumbuhan rata-rata 10% selama lima tahun ke depan untuk perusahaan tertentu, dan rasio harga terhadap pendapatan adalah 2, maka PEG rasionya adalah 0,2.

    Rasio PEG di bawah 1 umumnya menunjukkan bahwa perusahaan tersebut undervalued, sementara di atas 1 menunjukkan overvalued.

    Analisis Fundamental dan Kripto

    Indikator-indikator yang disebutkan di atas mungkin tidak selalu berlaku untuk mata uang kripto. Sebaliknya, ada beberapa indikator yang digunakan oleh trader aset kripto.

    Rasio network value-to-transactions (NVT)

    Rasio NVT sering disebut sebagai rasio P/E-nya pasar mata uang kripto, dan telah menjadi indikator penting dalam FA kripto. Rumusnya adalah:

    nilai jaringan / volume transaksi harian

    NVT mencoba untuk menafsirkan nilai jaringan suatu proyek berdasarkan volume transaksi yang diprosesnya. Aset dengan rasio NVT yang lebih rendah biasanya dianggap undervalued, sementara yang lebih tinggi mungkin overvalued.

    Alamat aktif

    Beberapa trader menggunakan jumlah alamat aktif di jaringan untuk mengukur seberapa sering suatu proyek digunakan. Meskipun ini tidak selalu dapat diandalkan sebagai indikator tunggal, namun, itu bisa memberikan informasi tentang aktivitas jaringan.

    Rasio price-to-mining-breakeven

    Rasio ini digunakan untuk menilai koin-koin Proof of Work, yang ditambang oleh peserta jaringan. Ini memperhitungkan biaya yang terlibat dalam proses penambangan. Rumusnya adalah:

    harga pasar koin / biaya penambangan koin

    Rasio ini memberi informasi tentang kondisi jaringan blockchain saat ini. Rasio di bawah 1 menunjukkan bahwa penambangan koin itu tidak menguntungkan.

    Whitepaper, tim, dan roadmap

    Metode yang populer dalam menilai nilai mata uang kripto dan token melibatkan penelitian terhadap proyek tersebut. Whitepaper memberi Anda pemahaman tentang tujuan proyek, tim memberi Anda gambaran tentang kemampuan mereka, dan roadmap memberi Anda wawasan tentang apakah proyek tersebut sesuai rencana.

    Pro dan Kontra Analisis Fundamental

    Pro Analisis Fundamental

    Analisis fundamental merupakan metode yang kuat untuk menilai bisnis dengan cara yang tidak bisa disaingi oleh analisis teknikal. Bagi investor, mempelajari berbagai faktor kualitatif dan kuantitatif adalah penting dalam perdagangan.

    Siapa pun bisa melakukan analisis fundamental karena mengandalkan data bisnis yang tersedia dan teknik yang telah diuji. Namun, di pasar kripto, data mungkin tidak selalu tersedia, dan hubungan yang kuat antara aset-aset dapat membuat FA kurang efektif.

    Jika dilakukan dengan benar, analisis ini bisa membantu mengidentifikasi saham yang undervalued dan siap untuk naik dari waktu ke waktu. Investor terkenal seperti Warren Buffett telah menunjukkan bahwa penelitian yang teliti bisa memberikan hasil yang luar biasa.

    Kontra Analisis Fundamental

    Meskipun analisis fundamental mudah dilakukan, melakukan analisis yang baik membutuhkan waktu dan pekerjaan. Menentukan “nilai intrinsik” sebuah saham memerlukan banyak pertimbangan dan proses belajar.

    Analisis ini juga mengabaikan kekuatan dan tren pasar yang besar, yang bisa diidentifikasi oleh analisis teknikal. Saham yang tampaknya undervalued tidak selalu meningkat nilainya di masa mendatang.

    Kesimpulan

    Analisis fundamental adalah praktik mapan yang digunakan oleh banyak trader sukses. Dengan menyempurnakan strategi, investor dapat memperkirakan nilai sebenarnya dari saham, mata uang kripto, dan aset lainnya, serta memahami bisnis dan industri secara lebih baik.

    Dengan menggabungkan analisis fundamental dan analisis teknikal, trader bisa mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang aset dan bisnis mana yang dapat dimanfaatkan. Kombinasi FA dan TA sering digunakan di pasar tradisional dan kripto.

    Namun, di pasar kripto, Anda harus memahami bahwa FA mungkin tidak selalu efektif. Selalu lakukan penelitian Anda sendiri, dan pastikan Anda memiliki strategi manajemen risiko yang solid.


    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy



    Sumber : news.tokocrypto.com