Tag: trading

  • Belajar Crypto dengan Simulasi Trading: Latihan Aman Tanpa Takut Rugi

    Sebelum kamu memulai trading crypto menggunakan modal yang kamu miliki, ada baiknya kamu pahami dulu cara kerja pasar.

    Salah satu caranya adalah dengan menggunakan simulasi trading, simulasi ini adalah semacam latihan trading, tapi tanpa menggunakan modal.

    Simulasi trading akan sangat cocok untuk kamu yang ingin mencoba menggunakan strategi trading yang telah dipelajari, sebelum menerapkannya secara langsung di pasar.

    Simak penjelasan dan tutorial lebih lengkap mengenai cara melakukan simulasi trading di bawah.

    Apa itu Simulasi Trading?

    Simulasi trading merupakan metode untuk melatih strategi investasi dengan melakukan transaksi jual beli aset, tanpa menggunakan uang sungguhan.

    Kegiatan ini sering juga disebut dengan paper trading, di mana pengguna bisa menguji strategi dan memahami dinamika pasar tanpa khawatir akan risiko kehilangan modal yang dimiliki.

    Jangan sampai terlewat: Cara Belajar Crypto dengan Modal Kecil dan Risiko Terkendali

    Kenapa Simulasi Trading Cocok untuk Pemula?

    Bagi pemula, melakukan simulasi trading menjadi kesempatan untuk memahami bagaimana pasar bergerak, mengamati pola candlestick, hingga bagaimana membaca tren.

    Bayangkan kamu mengendarai mobil tanpa latihan. Tentu rasanya menegangkan, penuh risiko, dan bisa berbahaya. Begitu pula dalam investasi dan trading, simulasi dapat memberi ruang aman untuk mencoba kesalahan, tanpa konsekuensi finansial.

    Cara Simulasi Trading Crypto dengan TradingView

    Kamu bisa melakukan simulasi trading crypto dengan platform TradingView melalui Replay Trading dan Paper Trading, berikut beberapa langkah-langkahnya:

    Replay Trading

    Salah satu fitur menarik dari TradingView yang bisa membantu belajar crypto adalah Replay Trading. Fitur ini memungkinkan kamu memutar ulang pergerakan harga seolah-olah sedang trading pada periode tersebut.

    Caranya sangat mudah. Pertama, buka TradingView lalu pilih chart dari koin yang ingin kamu pelajari, misalnya pasangan populer BTC/USDT

    Setelah itu, pada bagian bawah chart, klik menu “Replay Trading”.

    Lalu kamu bisa memotong grafik di titik tertentu, misalnya sebelum harga mengalami lonjakan atau penurunan besar. 

    Di sinilah simulasi dimulai. Kamu bisa lakukan analisis seperti biasa seperti menggunakan indikator teknikal, tarik garis support dan resistance, atau amati pola candlestick.

    Begitu selesai melakukan analisa, klik tombol “play” untuk melihat bagaimana harga bergerak setelah itu.

    Jangan sampai terlewat: Belajar Crypto dengan Analisis Teknikal: Indikator Dasar yang Harus Diketahui

    Paper Trading

    Selain replay, TradingView juga menyediakan fitur Paper Trading, yaitu simulasi trading dengan uang virtual. Dengan ini, kamu bisa melakukan eksekusi order seolah-olah sedang trading nyata, lengkap dengan panel order dan daftar posisi terbuka.

    Untuk memulai Paper Trading, buka chart koin pilihan kamu di TradingView, misalnya BTC/USDT.

    Lalu arahkan ke bagian bawah chart dan klik tab “Trading Panel”. Dari sana, pilih “Paper Trading” dan tekan “Connect”.

    Setelahnya, kamu bisa melakukan analisis berdasarkan time frame yang kamu mau, baik itu dalam time frame menit, jam, atau harian. Setelah yakin dengan rencana trading, eksekusi order lewat panel di sebelah kanan chart.

    Semua posisi yang kamu lakukan akan tercatat otomatis di bagian “Positions”, lengkap dengan detail profit dan loss virtual.

    Jangan sampai terlewat: Belajar Crypto dengan Analisis Fundamental: Nilai Proyek & Utility Token

    Kekurangan Simulasi Trading

    Meski sangat bermanfaat, untuk melakukan latihan yang aman dan tanpa takut rugi. Melakukan simulasi trading biasanya tidak menimbulkan tekanan emosional seperti saat melakukan trading secara nyata. Dalam simulasi, kamu mungkin tenang saat rugi 30%, tetapi realitanya kamu mungkin akan merasa panik bisa membuat keputusan menjadi kacau.

    Itulah sebabnya, meski simulasi adalah langkah awal yang sangat penting, tetap diperlukan transisi perlahan ke trading sungguhan dengan modal kecil untuk membantu menjembatani perbedaan antara teori dan dinamika yang sebenarnya terjadi.

    Sebagai solusinya, kamu bisa coba melakukan trading dengan modal kecil, seperti mulai dari Rp50.000 di Tokocrypto untuk mendapatkan pengalaman nyata bertransaksi di pasar crypto.

    Dapatkan juga biaya trading 0% setiap transaksi dengan fitur Beli/Jual. Daftar di sini untuk mulai trading dan investasi crypto dengan minimal Rp50.000!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Cara Belajar Crypto dengan Modal Kecil dan Risiko Terkendali

    Belajar investasi dan trading crypto tidak harus dimulai dengan modal yang besar. Cukup dengan modal kecil seperti Rp50.000 kamu sudah bisa belajar aset digital—cryptocurrency.

    Lalu bagaimana cara untuk belajar investasi dan trading crypto dengan modal yang kecil dan risiko terkendali? Simak caranya di bawah ini yuk!

    Kenapa Harus Mulai Investasi Crypto dengan Modal Kecil?

    Banyak pemula yang ingin langsung untung cepat ketika melakukan investasi, baik itu investasi saham, emas, dan juga crypto. Sehingga langsung melakukan deposit dengan jumlah besar.

    Saat investasi modal besar, memang dapat menghasilkan keuntungan yang juga besar. Tapi perlu diingat tujuan awal belajar crypto bukan mencari keuntungan instan, melainkan memahami:

    • Memahami cara beli crypto
    • Memahami cara kerja pasar
    • Mengenali risiko dan cara mengelolanya
    • Membangun disiplin investasi dan trading
    • Hingga menyiapkan fondasi untuk investasi jangka panjang

    Baca juga: Perbedaan Swing Trading, Day Trading, dan Scalping: Mana yang Paling Menguntungkan?

    Langkah-Langkah Belajar Crypto dengan Modal Kecil

    1. Pilih Exchange yang Resmi

    Selalu gunakan exchange crypto yang legal dan diawasi Bappebti, seperti Tokocrypto yang memungkinkan kamu untuk melakukan investasi crypto dengan modal deposit awal serendah Rp50.000.

    2. Mulai Deposit dengan Jumlah Kecil

    Cukup mulai dengan deposit Rp50.000 – Rp100.000 sudah bisa kamu gunakan untuk membeli aset crypto populer seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), atau Ripple (XRP).

    3. Fokus pada Aset Crypto Blue Chip

    Buat kamu yang masih pemula, sebaiknya jangan langsung mencoba koin baru yang harganya murah tapi berisiko tinggi. Fokuslah pada aset crypto dengan kapitalisasi pasar besar (blue chip), seperti BTC dan ETH, atau bisa juga dalam stablecoin seperti USDT dan PAX Gold  jika ingin lebih stabil tapi tetap dapat eksposur crypto.

    4. Gunakan Strategi Dollar Cost Averaging (DCA)

    Dollar  Cost Averaging atau DCA adalah strategi membeli crypto secara rutin dengan jumlah yang sama, misalnya beli Rp50.000 per minggu. Metode ini membantu dapat membantu kamu untuk belajar investasi secara konsisten, sekaligus menghindari pembelian impulsif dan risiko fluktuasi harga, karena pembelian dilakukan secara bertahap.

    5. Belajar Self Custody

    Setelah membeli, kamu bisa menyimpannya di wallet exchange atau wallet pribadi (seperti Trust Wallet, MetaMask, Phantom Wallet, atau Base Wallet). Buat kamu yang pemula, menyimpan di exchange seperti Tokocrypto, sebenarnya sudah cukup aman karena memiliki fitur Proof of Reserve dan keamanan berstandar global. 

    Tapi seiring waktu kamu juga perlu belajar tentang self-custody agar lebih memahami bagaimana cara kerja crypto secara langsung.

    Buat kamu yang ingin belajar bagaimana caranya melakukan self custody dan mengirim aset crypto, bisa kunjungi laman berikut: Cara Transfer Crypto Lewat Jaringan Blockchain di Tokocrypto.

    Apa Saja yang Harus Lakukan agar Risiko Terkendali?

    1. Jangan Gunakan Uang Kebutuhan Sehari-hari

    Pastikan modal yang digunakan bukan dana darurat atau uang untuk kebutuhan sehari-hari.

    2. Pelajari Sebelum Membeli

    Sebelum memutuskan membeli, pelajari crypto yang ingin kamu beli—perhatikan fundamental, analisa harga, siklus, hingga kegunaannya.

    Jadilah sangat selektif, bayangkan jika kamu ingin berinvestasi di usaha dunia nyata, pastinya kamu akan mencari tahu apakah usaha tersebut punya fondasi yang kuat. Mulai dari siapa pendirinya, bagaimana model bisnisnya, apakah produknya punya demand, hingga bagaimana arus kas dan potensi pertumbuhannya. Begitu juga dengan crypto.

    3. Diversifikasi

    Cobalah alokasi ke beberapa aset crypto dengan karakteristik berbeda, dan jangan taruh semua modal yang kamu miliki di satu koin untuk memahami pola pergerakan harga, manajemen risiko, dan psikologi pasar.

    Baca juga: Altcoin Terbaik Saat Bitcoin Turun: Diversifikasi Saat Pasar Lesu

    4. Hindari All In

    Melakukan pembelian secara sekaligus dengan seluruh modal yang kamu miliki, gunakan strategi Dollar Cost Averaging atau menyisakan sebagian modal sebagai jaga-jaga jika ada peluang beli yang lebih menguntungkan.

    5. Tetapkan Target dan Stop Loss

    Latih diri untuk menetapkan target profit kecil (misalnya 5–10%) dan stop loss untuk membatasi kerugian—sesuai dengan analisa sederhana, seperti Support dan Resistance.

    Baca juga: Cara Menggunakan Sinyal Trading di Aplikasi Tokocrypto dengan Limit, Stop-Limit, OCO, dan Beli/Jual

    Penutup

    Belajar crypto tidak harus dimulai dengan modal besar. Justru, dengan modal kecil dan risiko terkendali, kamu bisa memahami cara kerja pasar crypto ini secara bertahap tanpa was-was.

    Mulailah dengan exchange resmi dan terpercaya seperti Tokocrypto, fokus pada aset utama, gunakan strategi DCA, dan disiplin dalam mengelola risiko. 

    Selalu ingat, tujuan awalnya bukan mencari untung cepat, melainkan belajar memahami dunia crypto untuk investasi yang menguntungkan nantinya.

    Siap mencoba membeli crypto pertama kamu dengan modal kecil hari ini? Mulai dengan deposit Rp50.000 dan dapatkan potongan trading fee di Tokocrypto!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Altcoin Terbaik Saat Bitcoin Turun: Diversifikasi Saat Pasar Lesu

    Saat Bitcoin mengalami penurunan, pasar kripto juga cenderung ikut turun. Namun di balik penurunan BTC, ada peluang tersembunyi di altcoin yang justru bisa jadi penyelamat portofolio lho!

    Yuk, kenali strategi diversifikasi yang cocok saat Bitcoin sedang turun.

    Hal yang Perlu Kamu Tahu Saat Bitcoin Turun

    Pergerakan harga Bitcoin menjadi penentu pergerakan harga aset kripto lainnya—atau sering disebut dengan altcoin.

    Ketika Bitcoin turun misalnya, sebagian besar altcoin biasanya ikut merosot karena pasar masih sangat dipengaruhi oleh pergerakan BTC. Fenomena ini biasanya bisa dilihat dari tingginya dominasi Bitcoin (BTC.D), yaitu seberapa kapitalisasi pasar Bitcoin dibanding altcoin.

    Melakukan diversifikasi portofolio kriptomu ke beberapa altcoin bisa jadi opsi menarik untuk mengantisipasi akan adanya rotasi modal yang awalnya modal secara dominan ada di Bitcoin, beralih ke altcoin lain yang ada di pasar kripto.

    Rotasi ini biasanya terjadi setelah Bitcoin mengalami reli atau konsolidasi, di mana investor mencari peluang keuntungan lebih besar di altcoin yang memiliki fundamental kuat.

    Baca juga: Sejarah Singkat Bitcoin Dominance

    Sebelum Diversifikasi, Pahami Dulu Dominasi Bitcoin (BTC.D)

    Secara sederhana, dominasi Bitcoin (BTC.D)  adalah persentase kapitalisasi pasar Bitcoin dibandingkan dengan total kapitalisasi pasar seluruh aset kripto.

    Misalnya: Kalau total pasar kripto bernilai $3 triliun dan Bitcoin menyumbang $1,8 triliun, maka dominasi Bitcoin adalah 60%.

    Dominasi ini bisa menjadi sinyal untuk kamu menentukan apakah lebih baik diversifikasi ke altcoin potensial sebagai diversifikasi yang agresif atau ke altcoin dengan backed asset sebagai diversifikasi yang defensif.

    Baca juga: Apa itu Alt Season Index dan Bagaimana Cara Membacanya?

    Skenario Potensi Penurunan BTC.D 

    Jika Bitcoin mengalami penurunan dan indikator teknikal menunjukkan potensi penurunan dominasi Bitcoin—misal; karena BTC.D terlihat rejected di level resistance. Rotasi modal biasanya akan terjadi, di mana dana yang semula terkonsentrasi di Bitcoin mulai mengalir ke altcoin berfundamental kuat.

    Maka ini bisa jadi peluang untuk masuk ke altcoin besar yang potensial seperti Ethereum (ETH), Binance Coin (BNB), atau Solana (SOL).

    Skenario Potensi Kenaikan BTC.D 

    Jika dominasi Bitcoin tinggi, pasar lesu, dan grafik BTC.D justru terlihat akan terus menanjak, maka altcoin berisiko jatuh lebih dalam saat BTC melemah. Dalam kondisi ini, pilihan yang lebih aman adalah diversifikasi ke altcoin dalam bentuk stablecoin seperti USDT, USDC, atau bahkan aset lindung nilai seperti PAX Gold (PAXG)—sebagai diversifikasi dari volatilitas yang sedang terjadi.

    Altcoin Terbaik untuk Hedging

    Ketika pasar kripto melemah beberapa altcoin didesain untuk melindungi nilai portofolio dari volatilitas, sehingga disebut sebagai instrumen hedging. Tiga di antaranya adalah stablecoin populer dan aset kripto berbasis emas berikut:

    USDT (Tether)

    Pergerakan harga TetherUS (USDT/Rupiah) pada Minggu, 17 Agustus 2025.

    USDT adalah stablecoin terbesar di dunia dengan kapitalisasi pasar lebih dari $100 miliar. Koin ini dipatok 1:1 terhadap dolar AS, sehingga nilainya relatif stabil meski harga Bitcoin dan altcoin lain turun drastis. Karena likuiditasnya sangat tinggi, USDT sering menjadi pilihan utama investor global maupun Indonesia untuk parkir dana sementara sebelum kembali membeli aset lain.

    USDC (USD Coin)

    Pergerakan harga USD Coin (USDC/Rupiah) pada Minggu, 17 Agustus 2025.

    Mirip dengan USDT, USDC juga dipatok ke dolar AS dengan rasio 1:1. Bedanya, USDC dikelola oleh Circle dan Coinbase melalui konsorsium Centre, sehingga lebih fokus pada transparansi cadangan aset. Bagi investor yang mengutamakan kejelasan regulasi dan tingkat keamanan lebih tinggi, USDC bisa menjadi alternatif hedging selain USDT.

    PAX Gold (PAXG)

    Pergerakan harga Pax Gold (PAXG/Rupiah) pada Minggu, 17 Agustus 2025.

    Berbeda dengan stablecoin dolar, PAX Gold dipatok 1:1 dengan emas fisik yang disimpan di brankas London. Artinya, setiap 1 PAXG merepresentasikan kepemilikan emas nyata. Keunggulannya, PAXG bisa diperdagangkan layaknya kripto, tapi nilainya akan tetap mengikuti harga emas dunia—meskipun ketika harga pasar kripto turun. Saat pasar yang dianggap berisiko seperti kripto jatuh, emas sering menjadi aset pelindung nilai (safe haven), sehingga cocok untuk opsi diversifikasi portofolio kamu.

    Baca juga: Senat AS Loloskan GENIUS Act: Regulasi Federal Pertama untuk Stablecoin

    Altcoin Terbaik untuk Rally Setelah Bitcoin

    Berdasarkan sejarah pergerakan pasar, ada beberapa altcoin yang konsisten mengalami kenaikan setelah fase dominasi Bitcoin melemah. Berikut altcoin yang layak diperhatikan:

    Ethereum (ETH)

    Grafik perbandingan pergerakan harga Ethereum dan Bitcoin. Sumer data: CoinMarketCap.

    Secara historis, Ethereum hampir selalu memimpin altcoin season setelah Bitcoin selesai reli besar. Misalnya, pada 2021, ketika ETH mencetak ATH di $4.800 beberapa minggu setelah Bitcoin mencapai puncak $69.000. Pola yang sama juga terjadi pada tahun 2025 dimana ETH reli setelah Bitcoin menembus beberapa kali ATH. Hal ini menunjukkan bahwa ETH cenderung menjadi “pemimpin” rotasi modal dari BTC ke altcoin.

    Baca juga: Dampak Berita Terhadap Pergerakan Harga ETH: Penyebab dan Contoh Kasus

    XRP (Ripple)

    Grafik perbandingan pergerakan harga XRP dan Bitcoin. Sumer data: CoinMarketCap.

    XRP punya sejarah unik: lonjakannya sering datang belakangan, setelah konsolidasi panjang. Pada 2021 misalnya, meski sempat terpukul oleh kasus hukum dengan SEC, XRP tetap mencatat reli besar setelah BTC. Begitu pula pada akhir 2024, setelah mengalami konsolidasi selama beberapa tahun XRP mengalami kenaikan setelah BTC. Ini membuktikan bahwa XRP sering jadi target rotasi modal.

    Solana (SOL)

    Grafik perbandingan pergerakan harga Solana dan Bitcoin. Sumer data: CoinMarketCap.

    Solana cenderung lebih volatil daripada Bitcoin: jatuh lebih dalam saat bear market, tapi juga naik lebih tajam saat ada rotasi modal ke altcoin. Di 2024–2025, SOL sempat menyaingi dan bahkan melampaui performa BTC, namun akhirnya ditutup dengan selisih lebih rendah. Pola ini konsisten dengan historis altcoin season—SOL reli setelah Bitcoin melemah, tapi dengan risiko fluktuasi yang lebih tinggi.

    Binance Coin (BNB)

    Grafik perbandingan pergerakan harga BNB dan Bitcoin. Sumer data: CoinMarketCap.

    Masuk dalam ekosistem Binance, membuat BNB selalu dibutuhkan—baik untuk membayar biaya transaksi, staking, maupun berbagai layanan lainnya. BNB masih stabil di top 5 kripto, likuiditas tinggi, dan meski kenaikan tidak setajam SOL atau XRP, BNB tetap jadi pilihan investor saat rotasi modal terjadi pasca-Bitcoin.

    Baca juga: 3 Strategi Buy the Dip Bitcoin yang Bisa Dicoba Saat Pasar Lesu

    TRON (TRX)

    Grafik perbandingan pergerakan harga Tron dan Bitcoin. Sumer data: CoinMarketCap.

    Jika dibandingkan altcoin lain, Tron (TRX) tidak selalu jadi bintang utama rally setelah Bitcoin, tapi justru punya kelebihan dalam hal daya tahan pasar berkat pasar stablecoin yang sering menggunakan Tron sebagai jaringan utama untuk mengirim aset—TRX memproses lebih dari 51% dari seluruh USDT yang beredar. TRX dapat diposisikan sebagai altcoin jangka panjang dengan risiko lebih rendah dibanding SOL, namun tidak setajam ETH dalam memimpin altseason.

    Bagaimana Strategi Beli untuk Diversifikasi Saat Pasar Lesu?

    Saat pasar kripto lesu, strategi terbaik bukanlah menebak kapan harga mencapai titik terendah, melainkan membangun portofolio secara bertahap.

    Salah satu cara yang bisa kamu gunakan adalah metode Dollar Cost Averaging (DCA), yaitu membeli aset kripto dengan jumlah tetap secara rutin, misalnya mingguan atau bulanan—dengan DCA, kamu tidak perlu khawatir soal timing, karena harga beli otomatis diratakan dari waktu ke waktu. 

    Berikut langkah-langkah untuk melakukan pembelian Dollar Cost Averaging (DCA) dengan minimal deposit Rp50.000 di Tokocrypto:

    1. Buka Aplikasi Tokocrypto dan masuk ke menu “DCA”
    2. Pilih token/koin yang ingin dibeli secara berkala, lalu tekan “Pratinjau Paket”.
    3. Isi nominal jumlah mata uang yang diinginkan untuk membeli token/koin. Minimal pembelian Rp 20.000.
    4. Atur pembelian berkala harian, Mingguan dan pilihan lainnya. Jika sudah selesai, tekan “Berikutnya”.
    5. Setelah sudah dipastikan benar, tekan “Checklist” pada bagian persetujuan dan pilih “Berikutnya” untuk menyimpan pembelian berkala kamu.

    Baca juga: Cara Menggunakan Sinyal Trading di Aplikasi Tokocrypto atau gabung Telegram Official Tokocrypto untuk diskusi analisa sinyal harian bersama trader lain.

    Kesimpulan

    Saat harga Bitcoin turun, kamu bisa melakukan diversifikasi ke altcoin—baik dengan stablecoin sebagai lindung nilai saat pasar turun atau menilik potensi rotasi modal yang akan terjadi dengan memposisikan diversifikasi di altcoin potensial.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa Itu Altcoin Terbaik dan Bagaimana Cara Menilainya?

    Banyak yang mencari altcoin terbaik karena dapat memberikan return yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan Bitcoin yang dianggap sudah terlalu besar. Tapi apa sebenarnya itu altcoin, altcoin terbaik dan bagaimana cara menilainya? 

    Simak penjelasannya di bawah ini yuk!

    Apa Itu Altcoin?

    Altcoin adalah singkatan dari alternative coin, yaitu semua jenis mata uang kripto selain Bitcoin. Contohnya Ethereum (ETH), Solana (SOL), Ripple (XRP), dan banyak lainnya. Altcoin lahir untuk menawarkan fitur atau inovasi yang tidak dimiliki Bitcoin, seperti kecepatan transaksi lebih tinggi, biaya rendah, atau dukungan untuk smart contract.

    Banyak yang ingin berinvestasi di altcoin karena potensi keuntungan altcoin dianggap bisa jauh lebih tinggi dibanding Bitcoin. Beberapa altcoin bahkan mampu memberikan return ratusan persen dalam waktu singkat—namun tidak juga yang nilainya turun ke nol, karena kurangnya dukungan atau kegagalan proyek.

    Karena potensi keuntungan inilah banyak investor yang mencari altcoin terbaik di tengah semakin banyaknya aset kripto yang diluncurkan setiap harinya.

    Lalu, Apa Itu Altcoin Terbaik?

    Secara sederhana, altcoin terbaik adalah aset kripto selain Bitcoin yang memiliki fundamental kuat, serta didukung oleh hasil analisa teknikal dan sentimen pasar yang mendukung—bukan sekadar yang bisa memberikan kenaikan tinggi dalam waktu singkat.

    Faktor seperti kapitalisasi pasar dan inovasi juga sangat menentukan. Sebab, altcoin dengan kapitalisasi pasar kecil yang memiliki inovasi dan fundamental kuat justru sering kali menjadi pilihan terbaik jika dibandingkan dengan altcoin dengan kapitalisasi pasar besar, namun minim inovasi atau tidak punya arah pengembangan yang jelas, biasanya cenderung sulit memberikan keuntungan signifikan.

    Baca juga: Altcoin Melonjak: Tiga Kategori Kripto yang Menarik Minat Pasar Global

    Bagaimana Cara Menilai Altcoin Terbaik?

    Ada cara yang biasa digunakan oleh para investor kripto untuk menilai altcoin: analisis fundamental, analisis teknikal, dan analisis sentimen pasar.

    1. Analisis Fundamental

    Analisis fundamental bertujuan untuk memahami nilai intrinsik suatu altcoin—apakah aset tersebut undervalued, fair valued, atau overvalued.

    Ada tiga faktor yang bisa kamu gunakan untuk analisis fundamental; faktor proyek, faktor keuangan, dan faktor on-chain.

    Faktor Proyek

    Analisis faktor ini bertujuan untuk menilai potensi aset kripto berdasarkan tujuan dan bagaimana tujuan ini bisa dicapai.

    • Whitepaper: Dokumen inti yang menjelaskan tujuan, teknologi, tim, dan rencana masa depan proyek.
    • Tim Pengembang: Lihat rekam jejak, pengalaman, dan reputasi mereka. Hindari tim yang tidak transparan.
    • Roadmap: Rencana pengembangan teknologi ke depan. Proyek yang serius punya timeline jelas.

    Faktor Keuangan

    Analisis faktor ini bertujuan untuk mengetahui nilai pasar dan daya tarik investasi berdasarkan keuangan proyek.

    • Tokenomics: Distribusi token, mekanisme sirkulasi, kegunaan, dan sistem penciptaan token.
    • Market Capitalization: Kapitalisasi pasar menjadi salah satu penentu apakah harga sudah tinggi atau tidak. Selalu ingat, harga koin murah ≠ kapitalisasi pasar rendah.
    • Trading Volume: Frekuensi jual-beli token. Volume tinggi = minat tinggi dari investor.

    Faktor On-Chain

    Analisis ini bertujuan untuk mengetahui nilai aset berdasarkan kegunaan nyatanya melalui on-chain data.

    • Jumlah Pengguna Aktif: Semakin banyak pengguna aktif, semakin besar adopsi dan potensi pertumbuhan.
    • Jumlah Transaksi: Menunjukkan seberapa sering aset digunakan, bukan hanya disimpan.

    Baca juga: Cara Analisis Fundamental Aset Kripto

    2. Analisis Teknikal

    Analisis teknikal fokus pada pergerakan harga dan volume perdagangan untuk memprediksi tren di masa depan.

    Indikator sederhana yang bisa kamu gunakan digunakan:

    • Moving Average (MA): Melihat tren jangka panjang atau jangka pendek.
    • Relative Strength Index (RSI): Mengukur kondisi overbought atau oversold.
    • Volume perdagangan: Volume tinggi pada saat harga naik bisa menandakan minat beli yang kuat.

    3. Analisis Sentimen Pasar

    Terkadang altcoin dengan fundamental baik seperti roadmap dan use-case yang jelas tidak menjamin bagus, sebut saja seperti koin Doge awalnya hanya sebagai lelucon tapi dengan komunitasnya yang solid berhasil menjadi altcoin dalam kategori meme coin terbesar saat ini.

    Untuk membaca sentimen pasar kamu bisa mempertimbangkan faktor-faktor berikut:

    • Media sosial & komunitas: X, Reddit, dan Telegram bisa memberi gambaran pasar yang sedang terjadi, kamu bisa gunakan tools seperti Santiment dan LunarCrush sebagai pembantu.
    • Berita dan regulasi: Aturan pemerintah atau kebijakan bursa besar seperti listing atau delisting dapat mempengaruhi harga.
    • Indeks Fear & Greed: Kamu bisa gunakan indikator ini untuk mengukur tingkat ketakutan atau keserakahan pasar.

    Baca juga: 5 Cara Analisa Harga Altcoin Tanpa Harus Melihat Chart

    Sudah Menemukan Altcoin Terbaik Versi Kamu? Selanjutnya Apa?

    Jika kamu sudah menemukan altcoin terbaik versi kamu, berdasarkan tiga pendekatan analisis di atas, kamu hanya perlu membeli altcoin tersebut sesuai dengan outlook yang kamu miliki. Tapi ingat, hindari lump sum dan usahakan gunakan pembelian berkala atau dollar cost averaging (DCA), caranya sangat mudah:

    1. Buka aplikasi Tokocrypto dan masuk ke menu “DCA”
    2. Pilih token/koin yang ingin dibeli secara berkala, lalu tekan “Pratinjau Paket”.
    3. Isi nominal jumlah mata uang yang diinginkan untuk membeli token/koin. Minimal pembelian Rp 20.000.
    4. Atur pembelian berkala harian, mingguan dan pilihan lainnya. Jika sudah selesai, tekan “Berikutnya”.
    5. Setelah sudah dipastikan benar, tekan “Checklist” pada bagian persetujuan dan pilih “Berikutnya” untuk menyimpan pembelian berkala kamu.

    Kesimpulan

    Altcoin terbaik adalah mereka yang tidak hanya menjanjikan keuntungan cepat, tetapi juga memiliki fondasi kuat untuk jangka panjang. Dengan memperhatikan fundamental, teknikal, dan sentimen pasar, kamu bisa mengurangi risiko dan meningkatkan peluang menemukan aset kripto yang benar-benar bernilai.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 3 Strategi Buy the Dip Bitcoin yang Bisa Dicoba Saat Pasar Lesu

    Pasar kripto sedang lesu? Justru ini saatnya buy the dip. Dalam kondisi sideways dan minim volatilitas, strategi seperti DCA, analisis RSI oversold, dan pantauan data on-chain bisa jadi senjata ampuh untuk menangkap peluang akumulasi Bitcoin.

    Yuk, simak langsung 3 strateginya yang bisa kamu terapkan!

    Mengapa Momen Pasar Lesu Jadi Peluang Buy the Dip?

    Kondisi pasar yang lesu sering kali dianggap tidak menyenangkan bagi para trader karena pergerakan harganya yang stagnan—hanya memantul antara level support dan level resistance. 

    Tapi dengan memanfaatkan momentum seperti saat harga turun mencapai level support, kamu bisa melakukan buy the dip untuk membeli dan menjualnya saat harga kembali mengunjungi level resistance.

    Baca juga: Apa itu swing Trading dan Bagaimana Cara Swing Trading Crypto?

    Buy the Dip dengan Dollar Cost Averaging (DCA)

    Saat harga lesu dan cenderung sideways, kamu bisa memanfaatkan momen ketika harga mengunjungi level support untuk melakukan pembelian. 

    Alih-alih melakukan pembelian secara serampangan tanpa melihat level support dan resistance, akan lebih baik jika kamu membeli dengan metode DCA (Dollar Cost Averaging) ketika harga menyentuh level support dan jika harga kembali menguji level support berikutnya dalam tren yang masih valid, kamu dapat melakukan buy the dip kembali—contohnya seperti gambar di bawah ini:

    Contoh buy the dip dengan support dan resistance.

    Memanfaatkan level support dan resistance seperti gambar di atas adalah salah satu cara sederhana untuk melakukan buy the dip di saat harga lesu dan sideways. 

    Namun, penting untuk diingat bahwa identifikasi level entry saja tidak cukup. Kamu juga perlu menerapkan manajemen risiko yang disiplin, seperti penggunaan stop-loss di bawah area support, guna melindungi modal dari potensi breakdown.

    Baca juga: Apa Itu Buy the Dip dalam Trading Bitcoin? Panduan untuk Pemula

    Buy the Dip di Area RSI Oversold

    Kamu bisa menggunakan indikator seperti RSI (Relative Strength Index) untuk mencari kondisi jenuh jual (oversold)

    Caranya dengan memperhatikan indikator RSI, jika RSI berada di bawah 30 dan harga mendekati level support historis, itu bisa jadi momen tepat untuk mulai beli bertahap.

    Contoh RSI sebagai indikator buy the dip.

    Nah terlihat dari gambar di atas, setiap RSI kurang lebih menyentuh angka 30 dan bertepatan dengan level support—harga cenderung memantul dari ‘dip’-nya.

    Jadi jika kamu sebelumnya hanya memanfaatkan level support dan resistance untuk membeli, kamu juga bisa tambahkan indikator RSI sebagai pendukung. Jika kamu menggunakan aplikasi Tokocrypto, cara untuk aktifkannya sangat mudah:

    1. Buka aplikasi Tokocrypto dan masuk menu ‘Pasar’
    2. Cari aset kripto — contoh: BTC/USDT
    3. Pilih ‘RSI’ pada bagian bawah chart harga
    4. Amati saat RSI turun ke bawah angka 30 yang menandakan kondisi oversold
    5. Tunggu konfirmasi pembalikan arah

    Baca juga: Apakah Itu Stochastic RSI?

    Buy the Dip Berdasarkan Data On-Chain

    Whale, sebutan untuk pemilik aset kripto dengan jumlah besar—seringkali membeli dalam jumlah besar saat pasar lesu. Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan melihat pergerakan transfer dari exchange ke dompet pribadi.

    Karena kripto bersifat transparan, kamu dapat melihat dengan jelas transaksi pengiriman Bitcoin dari exchange ke dompet pribadi (outflow). Jika banyak Bitcoin yang keluar dari exchange ke dompet pribadi, itu tanda bahwa investor mulai mengakumulasi karena mereka percaya dengan pergerakan harga ke depannya.

    Namun jika banyak transaksi yang menunjukkan banyak Bitcoin yang dikirimkan ke exchange (inflow), bisa jadi tekanan jual akan meningkat. 

    Berikut contoh indikator untuk mengetahui banyaknya Bitcoin yang keluar dari exchange ke dompet pribadi (outflow):

    Data Bitcoin outfolow. Sumber data: CryptoQuant.

    Terlihat beberapa spike outflow dari exchange ke dompet pribadi ketika harga mengalami penurunan saat sideways dan diikuti oleh kenaikan harga setelahnya.

    Baca juga: Tips Deteksi Pergerakan Whale Lewat Volume dan Aktivitas Dompet

    Tips: Gunakan Fitur 0% Biaya Trading Ketika Buy the Dip

    Setelah kamu mengetahui strategi untuk buy the dip, agar makin untung kamu bisa gunakan fitur Beli/Jual yang ada di aplikasi Tokocrypto untuk pembelian yang cepat dengan 0% biaya trading.

    Cara untuk gunakan fiturnya gampang:

    1. Buka aplikasi Tokocrypto dan login ke akun Tokocrypto kamu dan lakukan deposit dengan minimal Rp50.000.
    2. Kemudian pilih menu “0 Fee”.
    3. Pada halaman Beli/Jual, pilih Dari dengan “IDR” dan Ke dengan “Bitcoin”.
    4. Masukkan jumlah pembelian.
    5. Klik “Pratinjau Konversi”.

    Nah, gampang banget bukan? Jangan lupa buat gabung juga di Telegram Official Tokocrypto untuk diskusi analisa sinyal harian bersama trader lain.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kapan Waktu Terbaik untuk Buy the Dip Saat Harga Bitcoin Turun?

    Meskipun terdengar sederhana, nyatanya strategi buy the dip tidak semudah yang dibayangkan. Salah membeli di saat pasar harga bearish misalnya, bisa terjebak dalam tren harga yang terus menurun.

    Artikel ini akan membahas kapan waktu terbaik untuk buy the dip saat harga Bitcoin turun, kenapa tidak semua penurunan layak dibeli, dan tentu saja, bagaimana cara menentukan waktu terbaik untuk masuk pasar saat Bitcoin sedang ‘dip’.

    Kapan Waktu Terbaik untuk Buy the Dip?

    Membeli saat terjadi penurunan atau buy the dip tidak berarti kamu langsung membeli tanpa memperhatikan indikator lain seperti teknikal dan berita yang sedang menjadi narasi dominan.

    Waktu terbaik buy the dip adalah ketika harga turun dalam konteks koreksi — namun, masih bullish dalam time frame yang besar. Sebab, koreksi biasanya terjadi dalam tren naik, dan harga turun sementara sebelum kembali melanjutkan kenaikan.

    Jika harga sedang dalam tren (bearish), melakukan buy the dip justru bisa membuat posisi trading kamu terjebak dalam posisi rugi (floating loss: kerugian sementara yang belum terealisasi) karena karena dalam time frame jangka panjang harga terus mengalami penurunan.

    Baca juga: Apa Itu Buy the Dip dalam Trading Bitcoin? Panduan untuk Pemula

    Buy the Dip ≠ Asal Beli Waktu Koreksi

    Banyak pemula salah kaprah dalam memahami strategi Buy the Dip dan mengira bahwa selama harga turun — bahkan hanya 2–3% itu artinya saat yang tepat untuk membeli. Padahal, tidak semua penurunan adalah “dip” yang ideal.

    Sebelum membeli kamu perlu mengetahui kondisi pasar secara keseluruhan dan melakukan analisa baik secara teknikal atau fundamental. Tanpa analisa ini kamu bisa saja malah membeli di tengah penurunan yang lebih dalam atau bahkan di awal fase bear market.

    Cobalah mulai dengan pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini sebelum melakukan pembelian:

    • Apakah penurunan ini wajar dan hanya sekadar koreksi sehat?
    • Apakah ini hasil dari panic sell jangka pendek atau dapat menjadi penurunan jangka panjang?
    • Apakah ada tanda-tanda bahwa pasar akan pulih, atau justru akan semakin tertekan?
    • Apa yang menyebabkan penurunan?
    • Apakah secara time frame besar harga mengalami kenaikan?
    • Apakah kamu punya rencana entry, exit, dan stop loss yang matang?
    • Serta pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berkaitan dengan fundamental, berita, dan teknikal.

    Indikator untuk Menentukan Waktu Buy the Dip 

    Saat harga Bitcoin turun, tidak semua penurunan layak dibeli. Berikut indikator sederhana yang bisa membantu kamu menentukan waktu terbaik:

    1. RSI (Relative Strength Index) di Bawah 30

    RSI mengukur kekuatan momentum harga. Jika RSI Bitcoin berada di bawah 30, ini menandakan kondisi oversold—sinyal untuk potensi rebound.

    2. Area Level Support

    Cek grafik pergerakan harga dan identifikasi zona support historis. Jika harga menyentuh titik ini dan mulai membentuk pola pantulan (reversal), itu bisa jadi momen strategis untuk buy the dip.

    3. Moving Average

    Indikator MA bisa kamu gunakan membantu kamu menentukan waktu buy the dip, contohnya ketika harga Bitcoin terkoreksi menyentuh garis MA200, sering dianggap undervalued dan pas untuk buy the dip.

    4. Fear and Greed Index

    Sentimen pasar mencerminkan suasana hati kolektif investor, apakah mereka sedang merasa optimistis (greedy) atau pesimistis (fearful). Momen fear yang didukung dengan analisa teknikal, bisa jadi momen buy the dip.

    Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Indikator Relative Strength Index (RSI) atau Dasar-Dasar Konsep Level Support dan Resistance

    3 Momen yang Pas untuk Buy the Dip

    1. Saat Terjadi Panic Selling

    Saat pasar panik dan harga aset jatuh drastis, banyak investor menjual karena ketakutan, bukan karena analisis. Tapi justru di momen seperti ini, banyak orang menjual dengan harga undervalued—jangan lupa gunakan indikator seperti RSI, EMA, atau Fibonacci untuk mengidentifikasi titik masuk yang ideal.

    2. Di Fase Konsolidasi Setelah Dump Besar

    Setelah penurunan ekstrem, harga biasanya masuk fase tenang (sideways). Ini waktu yang bagus untuk mulai membeli bertahap menggunakan strategi DCA (Dollar-Cost Averaging).

    3. Setelah Konfirmasi Reversal

    Alih-alih menebak dan mencoba membeli di harga bottom, tunggu sinyal konfirmasi—seperti candlestick bullish engulfing, breakout dari zona resistance kecil, atau kenaikan RSI. Ini lebih aman daripada menebak dip yang ternyata masih turun lagi.

    Tools dan Aplikasi yang Kamu Gunakan untuk Buy the Dip

    Tools Kegunaan
    Tokocrypto Fitur alert harga dan beli dengan 0% trading fee
    CoinMarketCap Data harga dan volume pasar
    Whale Alert Update terbaru dari pergerakan whale
    TradingView Analisa teknikal lengkap dan indikator kustom
    CoinGlass Pantau sentimen melalui Fear & Greed Index

    Baca juga: Cara Mudah Implementasi AI Trading dengan ChatGPT dan Incite AI untuk Pemula

    Tips Tambahan untuk Buy the Dip

    • Jangan pakai seluruh modal sekaligus, usahakan beli bertahap saat harga terus turun dengan metode DCA.
    • Pakai alert otomatis, seperti yang ada di aplikasi Tokocrypto agar kamu tidak melewatkan momen penting.
    • Gabungkan analisa teknikal dan sentimen dan jangan hanya mengandalkan satu pendekatan.
    • Tentukan level cut loss, jangan terbawa emosi dan berharap harga akan pulih selalu.
    • Gunakan fitur seperti Beli/Jual di Tokocrypto yang memungkinkan kamu transaksi kripto instan dengan 0% biaya trading.
    Klik gambar untuk mulai investasi dengan deposit mulai dari Rp50.000!

    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 5 Cara Analisa Harga Ethereum Tanpa Harus Melihat Chart

    Banyak pemula mungkin masih bingung dalam memantau grafik harga harian (chart) untuk memahami pergerakan harga Ethereum—seperti; apakah sekarang yang tepat untuk beli, hold, atau jual.

    Tapi tidak usah khawatir, dengan lima cara di bawah ini kamu dapat memahami apakah harga Ethereum sekarang layak untuk dibeli atau tidak, tanpa harus melihat dan menganalisis grafik harga harian Ethereum.

    Simak lima cara beserta situs yang bisa kamu gunakan di bawah ini.

    Fear and Greed Index

    Gambar indikator fear and greed index.

    Fear and Greed Index adalah indikator sederhana yang mengukur sentimen pasar secara keseluruhan.

    Fear (ketakutan) → Menunjukkan banyak investor merasa panik, sehingga harga cenderung rendah. Ini bisa menjadi peluang beli.

    Greed (keserakahan) → Menandakan banyak investor terlalu optimis, sehingga harga bisa berada di puncaknya dan rawan koreksi.

    Indeks ini dikalkulasi berdasarkan volatilitas pasar, volume perdagangan, media sosial, dan tren pencarian di internet.

    Dengan melihat Fear and Greed Index, kamu bisa menghindari keputusan emosional seperti FOMO (takut ketinggalan) atau panik saat harga turun—jika dilihat dari kolerasi harga pada gambar di atas, kamu dapat mempertimbangkan strategi seperti; membeli saat index menunjukkan extreme fear dan menjual saat extreme greed.

    Saat melakukan pembelian jangan lupa gunakan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) dan hindari pembelian langsung dalam satu transaksi, untuk mendapatkan harga Ethereum terbaik, kamu bisa manfaatkan biaya trading 0% dengan menggunakan fitur Beli/Jual di aplikasi Tokocrypto.

    Klik gambar untuk mulai investasi dengan 0% biaya trading dan deposit mulai dari Rp50.000!

    Akses data fear and greed index terkini melalui situs seperti CFGI Ethereum Fear and Greed Index atau CoinMarketCap untuk index pasar kripto secara umum.

    Skala Harga Ethereum dalam Rainbow Logarithmic

    Gambar harga Ethereum dalam Rainbow Logarithmic hari ini.

    Salah satu cara sederhana namun informatif untuk memahami harga Ethereum adalah dengan menggunakan Rainbow Logarithmic Chart. Bagi investor jangka panjang, indikator ini bisa menjadi panduan visual yang mudah dimengerti untuk melihat nilai harga Ethereum sekarang dibanding tren historisnya—serta membantu melihat tren jangka panjang secara lebih jelas tanpa terlalu fokus pada fluktuasi harian.

    Indikator ini menampilkan harga Ethereum dalam skala logaritmik dengan warna-warna “pelangi”  pada grafik yang memberi indikasi apakah ETH berada di zona undervalued (harga murah), fair value (harga wajar), atau overvalued (harga mahal).

    Analisanya cukup mudah; warna oranye-merah mengindikasikan harga overlalued dan warna biru-hijau mengindikasikan harga undervalued.

    Untuk mengaksesnya kamu bisa menggunakan situs seperti Ethereum Rainbow Chart dari Blockchain Center.

    Baca juga: Harga ETH Hari Ini Menurut Logarithmic Regression Bands

    Aktivitas ETF Ethereum

    Gambar aliran modal pasar ETF Ethereum.

    Dengan disetujuinya ETF Ethereum di pasar Amerika, banyak institusi besar bisa mulai masuk dalam investasi Ethereum. Dana besar yang mengalir ke ETF sering menjadi sinyal positif bagi harga ETH karena permintaan naik secara signifikan—saat pasar koreksi namun aliran modal ETF tinggi misalnya; bisa berarti institusi besar sedang melakukan akumulasi. 

    Sebaliknya, jika banyak investor menarik dana dari ETF Ethereum saat harga bullish, ini berarti tanda jika institusi besar sedang melakukan distribusi atau tanda melemahnya sentimen pasar.

    Data mengenai arus masuk dan keluar modal ETF Ethereum dapat dipantau melalui laporan resmi dari penyedia ETF atau situs analisis pasar kripto seperti Dune atau CoinGlass.

    Baca juga: Apa Itu ETF Ethereum? atau lihat harga Ethereum terbaru hari ini dalam kurs rupiah di sini.

    Sentimen Pasar dari Media Sosial dan Komunitas

    Gambar kesepuruhan sentimen pasar Ethereum hari ini (pojok kanan atas).

    Sentimen pasar sangat berpengaruh pada harga Ethereum. Banyak investor kripto yang mengambil keputusan berdasarkan tren pembicaraan di media sosial seperti X (Twitter), Reddit, atau YouTube.

    Jika semakin banyak influencer dan komunitas membicarakan Ethereum secara positif, minat beli bisa meningkat sehingga harga terdorong naik. Sebaliknya, jika ada banyak berita negatif, sentimen pasar bisa menjadi bearish.

    Beberapa situs seperti Santiment dan LunarCrush dapat kamu gunakan sebagai indikator sentimen yang bisa membantu memahami suasana hati pasar.

    Baca juga: Cara Analisis Fundamental Crypto untuk Pemula

    Analisis On‑Chain Metrics

    Gambar on-chain data Ethereum hari ini.

    Analisis on‑chain melihat aktivitas dan tren langsung dari blockchain Ethereum itu sendiri, seperti: berapa banyak ETH yang staking, pendapatan dari gas fee, berapa ETH yang dibakar setiap harinya, hingga akumulasi pemegang ETH baru.

    Dengan memantaui metriks yang ada di dalam jaringan Ethereum ini kamu bisa mengetahui bagaimana keadaan kesehatan jaringan, sehingga kamu bisa menentukan seberapa besar nilai intrinsik dari Ethereum itu sendiri.

    Untuk mengatahui soal metriks on-chain ini bisa mengakses langsung situs seperti TheBlock atau ultrasound.money untuk mengetahui perihal suplai yang bertambah setiap harinya, gas fee, dan laju ETH yang dibakar.

    Baca juga: Tips Deteksi Pergerakan Whale Lewat Volume dan Aktivitas Dompet

    Kesimpulan

    Kelima pendekatan ini dapat memberikan memberikan cara baru untuk memahami pergerakan harga Ethereum. Masing‑masing melengkapi satu sama lain:

    • Gunakan Fear and Greed Index untuk memahami sentimen pasar.
    • Cek Rainbow Chart untuk tahu ETH murah atau mahal.
    • Pantau aliran dana ETF sebagai sinyal akumulasi atau distribusi institusi.
    • Ikuti tren sosial media dan pencarian untuk deteksi hype atau penurunan minat.
    • Gunakan on-chain metrics seperti volume transaksi, jumlah wallet aktif, dan aktivitas smart contract untuk melihat kesehatan jaringan.

    Cara-cara ini akan lebih baik jika kamu gabungkan dengan analisa teknikal, sehingga kamu bisa membuat keputusan trading atau investasi ETH yang terukur dan berbasis data.

    Mau dapatkan sinyal analisa harga langsung setiap harinya? Yuk gabung komunitas Tokocrypto dan dapatkan sinyal trading harian sekaligus dikusi dengan ribuan trader lainnya!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 6 Risiko Trading Ethereum dan Cara untuk Mengurangi Risikonya

    Dengan semakin banyaknya adopsi teknologi Ethereum oleh institusi besar, aktivitas trading Ethereum juga semakin populer. Namun, seperti instrumen investasi lainnya, aktivitas ini juga memiliki risiko yang perlu dipahami agar tidak terjebak pada kerugian besar. 

    Di bawah ini, kita akan membahas risiko-risiko utama yang sering dihadapi trader Ethereum beserta cara untuk meminimalkan risikonya.

    Baca juga: Harga ETH Hari Ini Menurut Logarithmic Regression Bands

    Risiko Volatilitas Harga

    Jika kamu terbiasa melihat pergerakan harga saham, emas, atau forex—tentu kamu akan sedikit kaget jika melihat pergerakan harga pasar kripto, termasuk Ethereum. Pergerakan harga Ethereum bisa naik atau turun dengan cepat bahkan, bukan hal aneh lagi jika harga Ethereum naik/turun lebih dari 35% dalam satu hari.

    Tingginya volatilitas ini membuat trader berpotensi mendapatkan potensi keuntungan besar, tetapi juga risiko kerugian yang sama besarnya.

    Cara Mengurangi Risiko:

    Gunakan strategi manajemen risiko seperti stop loss dan hindari melakukan pembelian sekaligus dalam satu transaksi (lump sum), gunakan strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA) saat masuk atau keluar pasar. Kamu bisa gunakan fitur DCA yang ada di aplikasi Tokocrypto untuk mempermudah setiap transaksi.

    Baca juga: Cara Menggunakan Stop-loss  Trading di Aplikasi Tokocrypto dengan Limit, Stop-Limit, OCO, dan Beli/Jual atau gabung Telegram Official Tokocrypto untuk diskusi analisa sinyal harian bersama trader lain.

    Risiko Harga yang Mengikuti Tren Pasar

    Ethereum memang memiliki ekosistem dan nilai fundamentalnya sendiri—namun dalam praktiknya, harga ETH sering bergerak sejalan dengan siklus besar pasar kripto yang bersifat 4 tahunan. Siklus ini umumnya dipicu oleh Bitcoin halving, karena dominasi Bitcoin di pasar kripto ini, dampaknya sering ikut dirasakan oleh Ethereum. Misalnya ketika momentum harga Ethereum sedang bullish tapi Bitcoin mengalami koreksi, momentum harga tersebut bisa saja hilang dan berubah menjadi momentum bearish.

    Cara Mengurangi Risiko:
    Pantau terus pergerakan Bitcoin dan dominasi Bitcoin (BTC.D) dengan begitu kamu bisa memperkirakan seberapa besar pengaruh Bitcoin terhadap pergerakan harga Ethereum.

    Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Bitcoin Dominance?

    Risiko Emosi dan Psikologi

    Risiko emosi dan psikologi menjadi salah satu hal yang paling sulit untuk dikendalikan saat trading—pergerakan harga Ethereum yang sering kali naik dengan cepat tak jarang membuat para trader menjadi FOMO (Fear of Missing Out) dan mengesampingkan analisis data, hingga akhirnya membuat mereka membeli di harga tinggi dan mengalami kerugian.

    Cara Mengurangi Risiko:
    Buat rencana trading yang jelas, tetapkan target keuntungan dan batas kerugian sejak awal, serta hindari melakukan transaksi saat emosi tidak stabil.

    Baca juga: Mengenal FOMO di Investasi Aset Kripto dan Cara Menghindarinya

    Risiko Regulasi Global

    Mirip seperti butterfly effect—Satu regulasi merugikan pasar kripto di Amerika bisa membuat para trader di seluruh dunia mengalami kerugian. Hal ini disebabkan oleh pasar kripto yang bersifat global, sehingga regulasi dari negara-negara besar seperti Amerika, China, atau Eropa bisa mempengaruhi pergerakan harga aset kripto.

    Cara Mengurangi Risiko:
    Selalu ikuti perkembangan regulasi pasar kripto terutama di negara seperti Amerika dan jangan lupa untuk gunakan exchange yang telah teregulasi resmi dan diawasi oleh OJK seperti Tokocrypto.

    Baca juga: Pengaruh Pergerakan Dolar AS terhadap Pasar Crypto atau Dampak Berita Terhadap Pergerakan Harga ETH: Penyebab dan Contoh Kasus

    Risiko Manipulasi Pasar

    Bukan hanya di pasar saham, risiko manipulasi pasar juga ada di pasar kripto seperti Ethereum. Aktivitas seperti pump and dump, perdagangan dengan volume palsu, atau aksi whale (pemilik aset besar) bisa mempengaruhi harga Ethereum secara tidak wajar.

    Cara Mengurangi Risiko:
    Jangan mudah terbawa euforia saat harga melonjak tiba-tiba—karena aset kripto bersifat transparan, kamu bisa melihat pergerakan whale atau bandar besar lainnya melalui on-chain data.

    Baca juga: Tips Deteksi Pergerakan Whale Melalui Volume dan Data On-Chain

    Risiko Sentimen Pasar

    Pergerakan harga Ethereum sering kali dilatarbelakangi oleh sentimen dan narasi yang sedang mendominasi di media sosial. Berita, cuitan influencer, regulasi baru, atau kondisi pasar global didukung oleh sentimen pasar yang tengah dominan di saat itu bisa membuat harga Ethereum naik atau turun dengan cepat.

    Cara Mengurangi Risiko:
    Pantau terus sentimen yang ada di media sosial dan miliki rencana trading jangka panjang, agar fluktuasi harga akibat sentimen jangka pendek tidak terlalu mempengaruhi keputusanmu.

    Baca juga: Analisis Sentimen Media Sosial dengan Lunar Crush dan Santiment

    Siap untuk Trading Ethereum?

    Jika kamu sudah memahami risikonya dan cara menguranginya, langkah berikutnya adalah memulai trading dengan menggunakan exchange yang terpercaya seperti Tokocrypto.

    Untuk memulai trading, kamu tidak harus memiliki modal yang besar—cukup dengan modal awal minimal Rp50.000 kamu sudah bisa belajar investasi dan trading Ethereum.

    Klik gambar untuk mulai investasi dengan 0% biaya trading di Tokocrypto.

    Ikuti beberapa langkah berikut untuk mulai trading Ethereum tanpa biaya trading di Tokocrypto:

    1. Unduh aplikasi Tokocrypto di Play Store atau Apps Store.
    2. Buat akun dan lakukan verifikasi KYC sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
    3. Deposit saldo investasi via Bank, Virtual Account, atau E-Wallet.
    4. Masuk menu “Jual/Beli” dan pilih dari “IDR” ke “Ethereum”.
    5. Kemudian masukkan nominal pembelian.

    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Dampak Berita Terhadap Pergerakan Harga ETH: Penyebab dan Contoh Kasus

    Berita besar bisa memicu pergerakan harga Ethereum (ETH) dengan cepat. Baik itu berita tentang pembaruan jaringan,  regulasi, adopsi institusional, atau keputusan politik. Artikel ini menjelaskan kenapa berita dapat memengaruhi harga ETH dengan contoh nyata dari peristiwa beberapa waktu terakhir.

    Apa Hubungannya antara Berita dan Harga Ethereum?

    Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT) pada Minggu, 27 Juli 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Seperti aset kripto pada umumnya, harga Ethereum sering kali bergerak karena adanya berita baru yang muncul. Berita bisa mengubah ekspektasi pasar hanya dalam hitungan menit—ketika berita baik muncul misalnya, seperti persetujuan ETF atau adopsi teknologi Ethereum oleh institusi besar, harga cenderung naik. Sebaliknya, berita negatif seperti pelarangan, peretasan, atau regulasi ketat dapat menurunkan kepercayaan pasar dan memicu aksi jual.

    Secara sederhana, korelasi pergerakan harga ETH dengan berita yang muncul seperti ini:

    Sentimen berita negatif → Harga cenderung turun

    Ketika ada berita buruk bisa memicu kepanikan dan aksi jual massal, membuat harga turun.

    Sentimen berita positif → Harga cenderung naik

    Ketika ada berita positif investor jadi lebih optimis. Akibatnya, banyak yang membeli, dan harga pun naik.

    Baca juga: Kenapa Harga Ethereum Naik-Turun? Ini Penjelasan Simpelnya

    Kenapa Berita Bisa Mempengaruhi Harga Ethereum?

    Ada beberapa alasan kenapa berita dapat mempengaruhi pergerakan harga Ethereum, seperti:

    Berita dapat Mengubah Psikologi Pasar

    Berita yang muncul, baik bernada positif maupun negatif, memiliki pengaruh dalam mengubah psikologi pasar. Ketika sebuah berita menyebar, berita ini akan membentuk menjadi sebuah narasi. Narasi inilah yang memengaruhi cara investor memandang risiko dan potensi, sehingga membentuk mood pasar secara keseluruhan—berita negatif menjadi fear dan positif menjadi greed.

    Baca juga: Apa Itu Crypto Fear and Greed Index?

    Berita dapat Membentuk Herding Behavior

    Berita dapat membentuk herding behavior—yakni kecenderungan investor mengikuti tindakan mayoritas dan mengesampingkan analisa.  Ketika sebuah berita menyebar dan membentuk narasi dominan, investor retail cenderung akan FOMO dan memperkuat volatilitas pasar sesuai dengan arah sentimen berita yang muncul.

    Berita dapat Mengubah Outlook Strategi

    Berita yang muncul dapat mempengaruhi cara investor memandang masa depan Ethereum. Update jaringan, adopsi institusional, hingga peristiwa global—membuat investor menyesuaikan strategi mereka, mulai dari alokasi modal, manajemen risiko, hingga time horizon investasi. Efeknya volume, volatilitas, dan likuiditas bisa meningkat tajam hanya karena pergeseran persepsi terhadap masa depan Ethereum.

    Baca juga: Harga ETH Hari Ini Menurut Logarithmic Regression Bands: Apa Artinya?

    Jenis-Jenis Berita yang Mempengaruhi Harga Ethereum

    • Berita Regulasi – Misalnya, jika AS melegalkan ETF berbasis Ethereum, harga kemungkinan naik.
    • Berita Teknologi – Upgrade jaringan seperti Ethereum 2.0 meningkatkan kepercayaan pasar.
    • Berita Adopsi Perusahaan – Kerjasama atau adopsi jaringan Ethereum bisa membuat harga berpotensi naik.
    • Berita Peretasan – Kasus hack di bursa besar sering memicu aksi jual besar-besaran.

    Baca juga: Cara Menggunakan Sinyal Trading di Aplikasi Tokocrypto dengan Limit, Stop-Limit, OCO, dan Beli/Jual atau gabung Telegram Official Tokocrypto untuk diskusi analisa sinyal harian bersama trader lain.

    Contoh Nyata Berita yang Mempengaruhi Pergerakan Harga Ethereum

    Berikut tiga contoh berita yang berdampak langsung terhadap tergerakan harga Ethereum.

    Berita Mengenai Tarif Trump

    Grafik harga Ethereum setelah pengumuman tarif Trump.
    Grafik harga Ethereum setelah pengumuman tarif Trump.

    Reaksi pasar terhadap kebijakan tarif yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memicu penurunan harga yang signifikan di pasar aset kripto. Salah satu dampaknya terlihat jelas pada 2 April 2025, ketika Ethereum turun lebih dari -5% hanya dalam satu hari, menyusul klarifikasi resmi dari Gedung Putih terkait kebijakan tarif tersebut. Tekanan jual pun terus berlanjut, dan dalam beberapa hari berikutnya Ethereum mencatat penurunan kumulatif sekitar -26% dari level harga pada 2 April hingga mencapai titik lokal terendahnya.

    Berita Bullish Persetujuan ETF Ethereum

    Grafik harga Ethereum setelah berita ETF.
    Grafik harga Ethereum setelah berita ETF.

    Berita bullish mengenai persetujuan ETF Ethereum mendorong lonjakan optimisme di kalangan investor. Sebelumnya, peluang persetujuan ETF ini diperkirakan hanya sebesar 25%, namun meningkat drastis menjadi 75% setelah munculnya laporan terbaru. Sentimen positif ini langsung tercermin di pasar, di mana harga Ethereum melonjak hingga 19% hanya dalam satu hari.

    Berita Bearish Diretasnya Dompet Ethereum Bybit

    Grafik harga Ethereum setelah pengumuman adanya peretasan aset Ethereum.
    Grafik harga Ethereum setelah pengumuman adanya peretasan aset Ethereum.

    Berita mengenai diretasnya dompet salah satu exchange dengan total $1,4 miliar aset Ethereum membuat para investor Ethereum ketakutan. Sebab jika aset Ethereum yang berhasil diretas tersebut dijual langsung ke pasar maka Ethereum tentu akan mengalami penurunan dan membuat spekulasi lebih lanjut di kalangan investor. Terlihat setelah berita tersebut muncul, harga Ethereum mengalami penurunan lebih dari -48%.

    Tertarik untuk mulai trading atau investasi di Ethereum? Yuk gunakan fitur Beli/Jual di Tokocrypto dan dapatkan GRATIS biaya trading! Klik gambar di bawah untuk cobain fiturnya.

    Baca juga: Bisakah AI Trading Crypto Dimulai dengan Modal Kecil?

    FAQ: Pertanyaan Umum tentang Berita dan Harga Ethereum

    Apakah semua berita memengaruhi harga ETH?

    Tidak. Hanya berita besar atau relevan yang biasanya berdampak signifikan.

    Kenapa harga bisa langsung bereaksi cepat?

    Karena pasar kripto berjalan 24/7 dan investor bereaksi secara real-time.

    Apa yang dimaksud dengan “sentimen pasar”?

    Itu adalah mood kolektif investor, apakah mereka sedang optimis (bullish) atau pesimis (bearish).

    Bagaimana cara memanfaatkan berita untuk trading ETH?

    Trader biasanya menggunakan strategi buy the news atau sell the rumor, tapi tetap harus hati-hati.

    Apakah mungkin berita positif membuat harga turun, dan sebaliknya?

    Institusi bisa saja memanfaatkan momentum berita positif untuk menjual aset mereka secara bertahap saat likuiditas tinggi atau membeli saat retail panik karena berita negatif.

    Kesimpulan

    Pergerakan harga Ethereum (ETH) sangat sensitif terhadap berita terbaru, baik yang bersifat positif maupun negatif. Berita bukan hanya sekadar informasi—tetapi juga pemicu emosi kolektif yang membentuk sentimen pasar yang pada akhirnya bisa mendorong pergerakkan harga.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • BTC vs ETH: Mana yang Lebih Baik untuk Investasi Kripto Pertama?

    Pemula yang ingin melakukan investasi kripto untuk pertama kali sering diberikan dua opsi utama—Bitcoin dan Ethereum. Keduanya sama-sama populer, punya nilai tinggi, dan memiliki volatilitas yang lebih baik dibanding aset kripto selain stablecoin.

    Bitcoin mewakilkan pilihan bagi pemula yang ingin menyimpan investasi dalam bentuk nilai lindung terhadap inflasi. Sedangkan Ethereum mewakili alternative coin yang memberikan eksposur dengan fitur smart contract dan ekosistem blockchain yang membuka akses ke berbagai sektor seperti DeFi, NFT, dan Web3.

    Sebelum menetapkan pilihan untuk aset kripto pertama kamu, simak pembahasan mengenai perbedaan keduanya—mulai dari pengertian, performa historis, sampai dengan simulasi keuntungan sebagai bahan pertimbangan kamu!

    Kenalan dengan Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH)

    Apa Itu Bitcoin?

    Bitcoin adalah kripto pertama di dunia dan sering dijuluki “emas digital”. Diciptakan oleh Satoshi Nakamoto pada 2009, BTC dirancang sebagai sistem pembayaran terdesentralisasi tanpa perantara. 

    Hingga 2025, Bitcoin tetap menjadi pemimpin pasar kripto, dengan valuasi lebih dari US$1,7 triliun dan dominasi pasar di atas 60%. Fungsinya sebagai store of value menjadikannya aset lindung nilai yang banyak dipilih oleh investor pemula hingga institusional.

    Baca juga: Apa Itu Bitcoin? Dan Bagaimana Cara Mendapatkannya?

    Apa Itu Ethereum?

    Ethereum diluncurkan pada 2015 oleh Vitalik Buterin dan timnya. Tidak seperti Bitcoin, Ethereum lebih dari sekadar mata uang digital. Ethereum adalah platform untuk smart contract yang menopang ekosistem DeFi (Decentralized Finance), NFT, stablecoin, dan tokenisasi aset. 

    Setelah transisi ke mekanisme Proof-of-Stake melalui The Merge, Ethereum menjadi jauh lebih efisien dan scalable, menjadikannya pilihan menarik bagi investor yang ingin terlibat secara aktif dengan ekosistem web3—bukan hanya sekadar menyimpan aset.

    Baca juga: Harga ETH Hari Ini Menurut Logarithmic Regression Bands: Apa Artinya?

    Performa Historis Bitcoin (BTC) vs Ethereum (ETH)

    Untuk memahami karakter BTC dan ETH, penting melihat performa dan volatilitas keduanya dalam beberapa tahun terakhir. Grafik dan data berikut menunjukkan bagaimana keduanya bergerak, tumbuh, dan menghadapi fluktuasi pasar sejak Agustus 2017 – Mei 2025.

    Return Tahunan BTC vs ETH

    Tahun Bitcoin Ethereum
    2024 121% 46%
    2023 156% 93%
    2022 -64% -68%
    2021 59% 395%
    2020 304% 472%
    2019 94% -2%
    2018 -73% -82%
    Perbandingan return tahunan Bitcoin vs Ethereum, data dihimpun dari Backtest by Curvo.

    Dari data return tahunan antara tahun 2018 hingga 2024, terlihat bahwa performa Bitcoin cenderung memberikan hasil yang lebih stabil, terutama pada tahun-tahun bullish seperti 2020, 2021, 2023, dan 2024, di mana pertumbuhannya konsisten di atas 50%, bahkan mencapai lebih dari 300% pada 2020. 

    Sebaliknya, Ethereum menunjukkan karakter yang lebih agresif dibandingkan dengan Bitcoin. Di masa kenaikan pasar seperti 2020 dan 2021, ETH melonjak sangat tinggi, tetapi ketika koreksi pasar terjadi, penurunannya pun jauh lebih dalam dibandingkan BTC. 

    Ini memperlihatkan bahwa Ethereum bisa memberikan potensi keuntungan besar, namun juga dengan risiko penurunan yang sama besarnya.

    Rata-Rata Return Tahunan BTC vs ETH

    Average annualised return Total return
    Aset Last year Last 5 years Aset Last year Last 5 years
    Bitcoin 55.10% 61.80% Bitcoin 55.10% 1007.80%
    Ethereum -32.70% 61.20% Ethereum -32.70% 989.60%
    Perbandingan rata-rata return tahunan investasi Bitcoin vs Ethereum, data dihimpun dari Backtest by Curvo.

    Dari tabel perbandingan rata-rata return tahunan dan total return lima tahun terakhir menunjukkan bahwa Bitcoin masih menjadi aset yang lebih unggul secara statistik. Dalam periode tersebut, Bitcoin mencatatkan rata-rata pertumbuhan tahunan dalam lima tahun terakhir sekitar 61,8% dengan total return lebih dari 1.000%.

    Sedangkan untuk Ethereum, rata-rata pertumbuhan tahunan dalam lima tahun terakhir di sekitar 61.2% dengan total return 989.6%. Meskipun terlihat memiliki return yang mirip, Ethereum tercatat memberikan hasil negatif di tahun kemarin dengan -32.7% yang salah satunya disebabkan oleh tingginya Bitcoin Dominance.

    Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Bitcoin Dominance?

    Ringkasan Statistik Risiko

    Aset Compound annual growth rate Standard deviation Sharpe ratio
    Bitcoin 49.10% 76.96% 0.95
    Ethereum 27.46% 98.61% 0.69
    Perbandingan Compound annual growth rate, Standard deviation
    Sharpe ratio dari Bitcoin dan Ethereum, data dihimpun dari Backtest by Curvo.

    Bitcoin terlihat memiliki Compound Annual Growth Rate (CAGR) hampir dua kali lipat Ethereum, serta Sharpe ratio yang lebih tinggi—menunjukkan bahwa Bitcoin menawarkan return yang lebih baik per unit risiko yang diambil.

    Dari segi deviasi standar, Ethereum memiliki deviasi standar yang jauh lebih tinggi yakni 98.61% dibandingkan dengan Bitcoin yang memiliki deviasi di 76.96%, secara sederhana bisa dibilang pergerakan harga Ethereum memiliki volatilitas 21.65% lebih tinggi dibanding Bitcoin.

    Investasi $10.000 di Bitcoin dan Ethereum  Mana yang Lebih Menguntungkan?

    Agar lebih mudah mencerna data yang diberikan, mari lihat simulasi historis jika kamu melakukan investasi sebesar $10.000 atau sekitar Rp164.000.000 di Bitcoin dan Ethereum  dari bulan Agustus 2017.

    Grafik portofolio investasi Bitcoin vs Ethereum, sumber data dihimpun dari Backtest by Curvo.

    Dari grafik portofolio di atas menunjukkan bahwa Bitcoin secara konsisten membentuk tren pertumbuhan yang lebih stabil dan menguat. Garis biru yang mewakili BTC terus menanjak, terutama sejak 2020, dan tetap mempertahankan posisi lebih tinggi dibanding Ethereum hingga pertengahan 2025.

    Ethereum memang sempat sedikit akan menyalip BTC pada tahun 2021, namun sejak itu tertinggal dalam pergerakan nilai secara keseluruhan. Data ini mengilustrasikan bahwa jika dilihat dari sudut pandang pertumbuhan portofolio jangka panjang, Bitcoin memberikan hasil yang lebih baik dari pada Ethereum jika dilihat dari data historisnya.

    Baca juga: Strategi DCA Bitcoin atau lihat harga Ethereum terbaru di sini 👉 Harga Ethereum hari ini dalam rupiah.

    Sesuaikan dengan Tujuan Investasi

    Tujuan Investasi Pilihan Ideal
    Nilai lindung terhadap inflasi Bitcoin
    Eksposur terhadap teknologi blockchain dan yield staking Ethereum
    Tabel perbandingan Bitcoin vs Ethereum sesuai tujuan investasi. Jangan lupa sesuaikan dengan profil risiko.

    Secara garis besar Ethereum lebih cocok bagi kamu yang tertarik dan ingin mengikuti langsung perkembangan Web3, sedangkan Bitcoin cocok untuk kamu yang ingin investasi jangka panjang alias sebagai aset safe haven.

    Baca juga: Cara Menentukan Profil Risiko Investasi 

    Sudah Menentukan Pilihan, Bagaimana Cara Mulai Investasi Bitcoin dan Ethereum?

    Untuk memulai investasi di pasar kripto, seperti Bitcoin dan Ethereum—pastikan kamu memilih exchange yang sudah terdaftar resmi dan diawasi oleh OJK seperti Tokocrypto.

    Kamu bisa membeli Bitcoin dan Ethereum dengan mudah dan 0% biaya trading, minimal deposit mulai dari Rp50.000 dengan beberapa langkah berikut.

    1. Unduh aplikasi Tokocrypto di Play Store atau Apps Store.
    2. Buat akun dan lakukan verifikasi KYC sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
    3. Deposit saldo investasi via Bank, Virtual Account, atau E-Wallet.
    4. Masuk menu “Jual/Beli” dan pilih dari “IDR” ke “Nama Aset” yang ingin kamu beli
    5. Kemudian masukkan nominal pembelian.
    Klik gambar untuk mulai investasi di Tokocrypto.

    Kesimpulan: Jadi Mana yang Lebih Cocok untuk Investasi Pertama bagi Pemula?

    Kalau kamu ingin aset yang relatif stabil, cocok untuk “store of value” dan lebih tahan terhadap fluktuasi: Bitcoin bisa jadi pilihan utama.

    Kalau kamu ingin eksposur pada teknologi blockchain, staking yield, dApps, dan potensi pertumbuhan lebih tinggi: Ethereum lebih layak dipertimbangkan.

    Tips untuk pemula: Kamu bisa mulai dengan modal kecil untuk membeli kedua aset kripto tersebut dengan proporsi yang sesuai dengan profil risiko yang dimiliki, jangan lupa hindari pembelian sekaligus (lump sum) dan gunakan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) yang ada di aplikasi Tokocrypto.

    Baca juga: Cara Menggunakan Sinyal Trading di Aplikasi Tokocrypto dengan Limit, Stop-Limit, OCO, dan Beli/Jual atau gabung Telegram Official Tokocrypto untuk diskusi analisa sinyal harian bersama trader lain.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com