Tag Archives: wisata

Keajaiban Plaza Kura-Kura, Punya Kolam yang Konon Bisa Kabulkan Permintaan



Badung

Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park memiliki taman mungil nan unik, Plaza Kura-kura. Di sini terdapat batu unik seperti kura-kura.

Di Plaza Kura-Kura, sesuai dengan namanya, traveler akan menemukan banyak pahatan patung kura-kura di dinding kapur. Nuansanya sangat Bali.

Saat datang, traveler akan disambut dengan tangga dihiasi patung Naga Anantashesa. Terdapat sosok Dewi Laksmi, dewi kemakmuran, kesuburan, dan kedamaian, berdiri dengan anggun di ujung kolam, seolah-olah mengucapkan selamat datang.

Operation Director GWK Cultural Park, Stefanus Yonathan Astayasa, menceritakan asal usul nama Plaza Kura-Kura. Konon terdapat sebuah batu unik yang berbentuk menyerupai kura-kura, akhirnya dibuatkan sebuah area bernama Plaza Kura-Kura.

“Dulu di daerah plaza kura-kura ada sebuah batu yang menyerupai kura-kura. Jadi oleh pengelola yang lama, karena ada batu unik itu akhirnya dibuatlah area dengan nama Plaza Kura-Kura,” kata Stefanus dalam perbincangan dengan detikTravel.


Plaza Kura-kura di GWK Cultural Park, Badung, BaliPlaza Kura-kura di GWK Cultural Park, Badung, Bali Foto: Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom

Ternyata hewan kura-kura juga memiliki hubungan dengan Dewa Wisnu. Stefanus menyebut kura-kura merupakan salah satu bentuk awatara (jelmaan) dari Dewa Wisnu, bernama Kurma Awatara.

Selain itu, di Plaza Kura-Kura traveler juga akan menemukan sebuah kolam jernih dengan patung Dewi Laksmi yang anggun nan cantik. Menurut kepercayaan Hindu, Dewi Laksmi adalah ibu dari alam semesta sekaligus menjadi pasangan Dewa Wisnu.

Dewi Laksmi melambangkan sumber kebahagiaan dalam kehidupan keluarga, persahabatan, pernikahan, kekayaan, kesehatan, serta memberkahi dengan kehadiran anak-anak.

Keajaiban Plaza Kura-Kura tak berhenti di sana. Kolam yang menjadi tempat Dewi Laksmi ini dipercaya memiliki daya magis yang belum terungkap sepenuhnya. Konon para pengunjung bisa melempar koin sambil mengucapkan harapan.

Plaza Kura-kura di GWK Cultural Park, Badung, BaliPlaza Kura-kura di GWK Cultural Park, Badung, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Bukan cerita belaka, ternyata sosok patung Dewi Laksmi yang berada di tengah kolam juga menjadi saksi bisu dalam terkabulnya harapan pengunjung. Yohana, salah satu pengunjung asal Semarang tahun 2022 mengunjungi Plaza-Kura-Kura.

Mendengar kisah unik area Plaza Kura-Kura, dengan hati yang penuh harapan, Yohana melemparkan sebuah koin ke dalam kolam dan mengucapkan harapan dengan sungguh-sungguh, memohon untuk menemukan cinta sejatinya.

Setelah beberapa waktu, alam semesta pun menjawab permohonannya yang tulus. Dia menemukan belahan jiwanya hingga akhirnya melangkah ke pelaminan pada awal tahun 2024.

“Ada pengunjung yang bercerita. Kami mendapatkan informasi bahwa ada salah satu pengunjung yang beberapa waktu lalu datang ke GWK dan melempar koin di Plaza Kura-Kura sambil berdoa mengharapkan jodoh. Bahkan sekarang sampai ke tahap pernikahan,” kata Stefanus.

Sedang berlibur di GWK dan mampir ke Plaza Kura-Kura. Melempar koin jadi aktivitas wajib yang tak boleh dilewatkan. Pesan tiketmu sekarang, liburan kemudian!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Gamplong Studio Alam, Lokasi Syuting Film Ternama Juga Tempat Wisata di Jogja



Yogyakarta

Gamplong Studio Alam milik Hanung Bramantyo adalah tempat syuting sekaligus destinasi wisata di Yogyakarta. Berbeda dengan wisata pada umumnya, Gamplong Studio Alam memiliki bangunan semi permanen yang dapat berubah kapanpun sesuai project yang sedang dikerjakan.

Dengan luas 2,3 hektar, Gamplong Studio Alam telah melahirkan puluhan karya ternama. Di antaranya adalah Film Sultan Agung, Bumi Manusia, Satria Dewa: Gatotkaca, Habibie & Ainun, Trinil, Mekah I’m Coming, dan project milik sutradara Hanung Bramantyo lainnya. Tidak hanya itu, di sini juga dapat digunakan untuk project film oleh sutradara lain, project iklan, bahkan video klip.

“Tujuan awalnya sama Pak Hanung hanya untuk dibikin buat studio film, karena kan di Indonesia sendiri studio film yang berbasis alam belum ada nih, kebanyakan indoor dan yang di Batam itu,” kata Hafiz, pengelola Gamplong Studio Alam.


Uniknya, untuk masuk ke destinasi ini pengunjung hanya ditarik biaya sukarela untuk operasional perawatan. Tiket wahana untuk spot tertentu seperti Kereta St.Soerabaja-Gambir, Hasri Ainun Habibie, Galeri Antiques, Rumah Annelis, dan Komplek Horror dijual terpisah dengan harga satuan Rp 10.000 per wahana.

“Tiket wahana tidak wajib, boleh beli dan boleh milih. Sifatnya opsional. Nah, dilema kita untuk saat ini, itu kadang orang merasa terjebak, loh ini seikhlasnya kok bayar lagi,” Kata Hafiz.

Tujuan diberlakukannya sistem tersebut agar Gamplong Studio Alam dapat menjadi destinasi wisata yang dinikmati semua kalangan. Tidak perlu membayar mahal jika memang tidak mampu. Gamplong Studio Alam tetap bisa dinikmati dengan berfoto-foto dari luar bangunan yang membutuhkan tiket terusan.

Traveler yang menginginkan trip yang ditemani tour guide, bisa memesannya terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi dengan menghubungi nomor admin di +627823682000. Selain itu, lokasi ini juga menjadi lokasi pemotretan pre-wedding favorit karena latarnya yang bermacam-macam dan cenderung bertema klasik.

Untuk itu, bagi traveler yang ingin berkegiatan khusus seperti pemotretan atau membawa kamera profesional diharapkan untuk lapor pada petugas dan membayar permid card seharga Rp 10.000.

Magnet utama destinasi ini adalah pamor dari project film yang digarap di sana. Dituturkan oleh Hafiz, setiap kali karya baru akhirnya tayang, Gamplong Studio Alam ikut terdampak dengan arus pengunjung yang semakin giat berdatangan.

” Jadi selalu ada pembeda ketika ada project film baru. Jadi itu yang mungkin membuat mereka yang udah pernah kesini kembali untuk kesini lagi,” Kata Hafiz.

Lewat kesuksesan film Bumi Manusia di tahun 2019, akhirnya pengelola memutuskan untuk membuat Gamplong Studio Alam sebagai salah satu destinasi wisata di Desa Wisata Gamplong. Pembangunan dimulai sejak tahun 2018 akhir hingga sekarang terus melakukan pembenahan dan penambahan spot baru.

“Nah, ternyata itu setiap hari selama proses syuting (Bumi Manusia), ya mungkin karena faktor Iqbaal Ramadhan juga, nah itu banyak yang nonton, banyak yang datang ke sini. Terus akhirnya kan sama masyarakat sekitar kepikiran kalau di wisatakan saja sekalian gimana,” Kata Hafiz.

Tanah Gamplong Studio Alam ini dulunya digunakan sebagai lahan kebun pohon tebu untuk pabrik salah satu merek gula. Kemudian setelah menemui akhir kontrak, oleh Hanung Bramantyo disewa menjadi Studio Alam. Oleh masyarakat sekitar dimanfaatkan sebagai tempat wisata.

“Kalau tanah milik kas desa, kalau di Jogja masih milik Kesultanan, Tanah Sultan. Jadi gabisa di beli tapi bisa dimanfaatkan. Istilahnya dikaryakan. Jadi kami sewa ke pihak Kelurahan,” kata Hafiz.

Pasca covid-19, Gamplong semakin berbenah diri mengatasi vakumnya wisata akibat pandemi. Saat ini, pengunjung yang datang ke Gamplong Studio Alam mencapai 1500 hingga 2000 orang setiap minggunya. Pengunjung yang datang beragam, mulai dari warga lokal Jogja, siswa karyawisata, hingga perkumpulan desa dari provinsi seberang.

“Sangat terdampak (covid) lumayan struggle, tapi untungnya kan, karena pengelolanya itukan dari 98% dari orang Gamplong, jadi pas waktu Covid-19 itu kita kayak gotong royong bekerja keras, untuk membenahi meskipun tidak ada income selama setahun itu penuh,” kata Hafiz.

Ya, kendati kepemilikan wisata itu adalah Hanung Bramantyo, namun hampir 98 persen operasionalnya dikelola oleh warga setempat. Sebagai Desa Wisata Gamplong yang terkenal dengan kerajinan tangannya, hal tersebut dikolaborasikan dengan baik.

Melalui pantauan detikTravel terlihat terdapat tiga ruko yang berdiri di area parkir menjajakan cenderamata kerajinan tangan khas Gamplong.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Ada Bunker di Stasiun KA Tanjung Priok, Konon Tembus ke Pelabuhan



Jakarta

Tak hanya berfungsi sebagai stasiun kereta api, Stasiun Tanjung Priok juga bunker untuk berlindung. Konon, bunker itu tembus hingga Pelabuhan Tanjung Priok.

Bersama Pamela Zaelani sebagai guide dari Wisata Kreatif Jakarta, detikTravel berkesempatan untuk menelusuri lebih lanjut sejarah yang ada di bunker yang ada di Stasiun Kereta Api Tanjung Priok itu.

Stasiun KA Tanjung Priok berada di Jalan Taman Stasiun No 1, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Stasiun itu merupakan bangunan cagar budaya dan dikelola oleh Daops 1 KAI. Berdasarkan catatan sejarah, stasiun itu dibangun tahun 1885. Pada zaman dulu, bangunan Stasiun Priok merupakan pintu gerbang Hindia-Belanda.


Kawasan Stasiun Priok memiliki luas lahan 46.930 meter persegi, dengan luas bangunan 3.768 meter persegi. Stasiun Tanjung Priok mengusung arsitektur dengan lagam bangunan art deco. Di balik bangunan megah dan mewah itu, tersembunyi bunker peninggalan zaman Belanda. Tidak hanya satu, tetapi ada tiga bunker.

Pamela menjelaskan bahwa tak sembarang orang memiliki akses untuk memasuki bunker itu, karena penelusuran yang belum maksimal dan akses yang dinilai cukup berbahaya bagi banyak orang. Salah satu bunker memiliki pintu masuk di daerah kursi tunggu di dalam stasiun.

“Ini adalah pintu menuju ruang bunkernya Belanda, dan memang ruangan itu tidak dibuka untuk umum karena cukup berjurang dan berbahaya. Dulu bunker ini untuk nyimpan barang-barang, tempat berlindung, dan banyak pipa-pipa air,” kata Pamela sambil menunjukkan sebuah video penjelasan lebih lanjut dari bunker tersebut.

bunker stasiun tanjung priokBunker di Stasiun Tanjung Priok (Syanti Mustika/detikcom)

Bunker itu cukup luas dengan tinggi sekitar 2 meter dengan lebar 4 meter. Di dalam bunker tersebut terdapat lorong terowongan yang diperkirakan bisa tembus hingga ke Pelabuhan Tanjung Priok.

Sebagai pintu masuk menuju Batavia, bunker tersebut digunakan sebagai tempat penyelundupan hasil bumi tanpa diketahui oleh warga pribumi yang bisa menghalangi proses tersebut.

Selain bunker itu, di Stasiun Tanjung Priok itu juga ditemukan terowongan yang diprediksi bisa tembus hingga Pulau Onrust (Kepulauan Seribu), Museum Fatahillah, dan berbagai tempat lainnya. Namun, informasi ini belum bisa dipastikan benar karena belum ditemukan bukti-bukti lanjutan dari prediksi tersebut.

Tak hanya itu, di dalam bunker tersebut juga ditemukan beberapa ruangan yang disekat. Ruangan itu diprediksi digunakan sebagai kamar yang dapat menampung tiga hingga empat kamar tidur.

Bunker itu sempat ditelusuri oleh pemerintah pada tahun 2009. Dalam penelusuran itu tak ditemukan barang-barang berharga di dalam bunker itu, hanya sisa-sisa bangunan.

Kini kondisi bunker digenangi oleh air setinggi lutut orang dewasa. Karena itu, berapa pipa yang ada di dalamnya pun mulai berkarat, bahkan beberapa lorong tertutup oleh tanah.

Serangkaian info detail terkait bunker ini masih menjadi misteri pasalnya akses yang sulit membuat penelusuran membutuhkan banyak waktu dan biaya besar.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kafe Modern nan Klasik di Sentul, Ada Mini Zoo Juga Lho di Sini



Jakarta

Salah satu kafe yang bisa traveler sambangi saat bermain di Sentul adalah Kafe Koneng. Tak hanya nyaman untuk muda-mudi, di sini juga ramah keluarga lho dengan mini zoo dan playground nya.

Kafe Koneng berada di Jalan Gunung Batu, Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Salah satu daya tarik kafe ini adalah paduan konsep modern dan jadulnya yang epik di suasana Sentul nan sejuk.

“Dan memang, dari segi bangunan kita modern ya, namun kita padu dengan ornamen jadul, hingga terlihat klasik,” kata Muhamad Soleh, Supervisor Kafe Koneng.


Soleh mengatakan, selain menyajikan aneka minuman, Kopi Koneng juga memiliki banyak pilihan makanan. Di sini terdapat juga playground dan dan mini zoo. Jadi traveler yang membawa anak, cocok banget singgah di sini.

Kopi Koneng di SentulKopi Koneng di Sentul Foto: (Syanti Mustika/detikcom)

Fasilitas Kopi Koneng

Seperti yang dituliskan sebelumnya, selain bersantai menikmati ragam menu Kopi Koneng, traveler juga bisa mengajak anak bermain di mini zoo nya.

“Beragam binatang yang kita miliki di mini zoo, seperti kelinci, aneka ayam, domba, hingga iguana. Dan anak-anak gratis kok berinteraksi dengan hewan-hewan di sini. Kita juga punya kuda yang bisa dinaiki anak-anak saat weekend. Namun bila ingin memberi makan binatang, kami jual pakannya dalam bentuk paket,” ujar Soleh.

Soleh juga mengatakan di sini terdapat kolam air yang berasal dari mata air, yang bisa dinikmati anak-anak. Jadi, mereka bisa mandi dan bermain air dengan gratis.

Kopi Koneng di SentulKelinci di mini zoo Kopi Koneng di Sentul Foto: (Syanti Mustika/detikcom)

Di sini juga ada villa yang bisa traveler sewa lho. Harganya mulai Rp 1 jutaan.

“Kita juga ada penginapan, ada dua vila yang disewakan yaitu Rinjani dan Bunaken. Kalau Rinjani itu kapasitasnya 10 orang dengan harga Rp 1,5 juta di weekend dan Rp 1,2 juta saat weekdays. Sedangkan yang Bunaken kapasitas 25 orang, harganya saat Rp 2 juta per malam saat weekend dan harga weekday-nya Rp 1,5 juta per malam,” kata Soleh.

Fasilitas lain yang bisa traveler nikmati diantaranya, spot foto, musala, toilet, ruang meeting, saung dan lahan parkir. Bagi yang ingin bersantai di saung, harus memesan minimal Rp 400 ribu dan hanya bisa ditempati 3 jam.

Kopi Koneng di SentulKopi Koneng di Sentul Foto: (Syanti Mustika/detikcom)
Kopi Koneng di SentulKopi Koneng di Sentul Foto: (Ari Saputra/detikcom)

Harga makanan dan minuman

Beragam menu makanan dan minuman yang disajikan di sini. Mulai dari aneka jus, kopi, minuman tradisional dengan harga mulai Rp 20 ribuan. Teruntuk makanan, banyak pilihan makanan berat mulai dari menu aneka ayam, aneka nasi goreng, ikan bakar dan aneka cemilan. Harganya mulai Rp 30 ribuan.

Bagi traveler yang datang bersama rombongan disarankan untuk melakukan reservasi terlebih dahulu. Karena tempat ini selalu ramai, terutama di saat weekend.

“Kita Alhamdulillah ya selalu ramai apalagi saat weekend. Jadi kami sarankan jika datang rombongan untuk reservasi dulu,” ujar Soleh.

Kopi Koneng di SentulKopi Koneng di Sentul Foto: (Syanti Mustika/detikcom)

Banyak spot foto instagramble

Salah satu daya tarik Kopi Koneng adalah banyak sudut ciamik untuk di foto. Banyak sudut menarik Kopi Koneng yang bisa dijadikan tempat foto. Bahkan, di sini juga disediakan deck khusus berfoto lho. Di sini traveler bisa berfoto dengan latar pemandangan hijau

Berkeliling kafe, kami pun menyadari bahwa bangku-bangku dan kafe di sini sangat unik. rata-rata terdiri dari bangku kayu dan rotan, yang disusun sedemikian rupa. Juga banyak dekorasi jadul seperti TV tabung, sepeda ontel, radio usang, aneka lukisan, patung, foto dan pernak-pernik yang menghadirkan ‘rasa di rumah nenek’.

Tempatnya juga sangat luas. Banyak pilihan bangku, mau berdua, berlima atau ramai-ramai semuanya bebas memilih.

Pantauan detikcom di lokasi, semakin sore semakin ramai pengunjung yang datang. Memang, disarankan untuk datang ke sini adalah waktu sore atau pagi.

“Waktu terbaik datang ke sini, pagi hari atau sore hari. Kita kan outdoor ya, jadi siang itu panas sekali. Kalau sore, bila langitnya bagus bisa menikmati sunset di sini,” ujar Soleh.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com

Glamping Cantik di Sentul Ini Dikelola Gen Z, Harganya Mulai Rp 700 ribuan



Jakarta

Baru dibuka di Desember 2023, La Pico di Sentul mencuri perhatian wisatawan nih. Glamping baru ini dikelola oleh Gen Z lho.

Awalnya, La Pico hanyalah kafe dan restoran. Namun, seiring berjalan, pengelola melihat adanya peluang untuk menarik tamu yang datang dengan menawarkan glamping.

“Awalnya kita bangun kafe, namun seiring waktu berjalan kita melihat ada prospek nih. Karena di sekitar sini juga banyak area kemping kan. Akhirnya kita bikinlah glamping,” ujar Regina, pengelola sekaligus pemilik dari La Pico kepada detikcom beberapa waktu lalu.


La Pico, glamping cantik yang ada di SentulLa Pico, glamping cantik yang ada di Sentul Foto: (Ari Saputra/detikcom)

Perempuan 22 tahun ini mengatakan bahwa nama La Pico berasal dari nama kucing kesayangannya.

“Asal mula nama La Pico ini dari nama kucing aku. Namanya Pico, nah kita tambah ‘La’ di depannya biar ala-ala Italia gitu, keren gitu. Kan Pico ini kucing kesayangan aku, jadi berharap semoga yang datang ke La Pico, bisa menjadi tempat favorit mereka,” ujar Regina.

La Pico berada di Jl Sentul Paradise Park, Bojong Koneng, Kabupaten Bogor. Bila ditempuh dari Jakarta, butuh waktu sekitar 80 menit berkendara.

Baru seumur jagung, La Pico mengaku mengalami sederet tantangan dalam mengelola glamping. Apalagi, di sekitar mereka juga banyak akmodasi bergaya yang sama yang telah dikenal lama oleh wisatawan.

“Tantangan kita adalah pemasaran sih. Bagaimana supaya orang bisa tahu ada glamping cantik di sini. Semenjak dibuka, memang belum menunjukkan angka yang memuaskan, namun,kita optimis ke depannya akan lebih banyak yang menginap,” kata Regina.

Ke depannya, Regina juga mengatakan bahwa La Pico akan menambah cabin baru. Serta mereka juga ada rencana untuk perluasan kawasan glamping.

“Kita ada rencana buat nambah tenda glamping, soalnya itu yang paling laku,” ujarnya.

La Pico, glamping cantik yang ada di SentulSuasana di La Pico (Ari Saputra/detikcom)

Harga dan fasilitas di La Pico

Terdapat beberapa tipe glamping yang bisa traveler pilih di sini. Harganya pun bervariasi, mulai dari RP 750 ribu.

Glamping VIP (persis di depan kolam) mulai Rp 950 ribu – Rp 1 juta

Glamping Standar (viewnya perbukitan) mulai Rp 750 ribu

Family glamping mulai Rp 1,8 juta

Mini villa mulai Rp 2 juta

La Pico, glamping cantik yang ada di SentulKamar VIP di La Pico Foto: (Ari Saputra/detikcom)
La Pico, glamping cantik yang ada di SentulSuasana di mini villa La Pico Foto: (Ari Saputra/detikcom)

Di dalam glamping, fasilitas yang disediakan juga lengkap. Ada handuk, peralatan mandi, cangkir, pemanas air hingga AC. Adapun fasilitas bersama yang bisa dinikmati tamu yang menginap yaitu kolam renang, musala, toilet, kafe dan parkir yang luas.

“Untuk pemesanan, bisa langsung DM atau chat ke Whatsapp kita,” kata Regina.

Di cafe dan restorannya, traveler bisa menikmati beragam menu masakan dan minuman. Tak hanya nusantara, namun juga ada beragam menu Western.

“Untuk harga makanan kita mulai Rp 20 ribuan, dan minuman mulai Rp 15 ribuan. Menu favorit di sini olahan pasta, steak, gurame bakar, pecak dan banyak lagi,” dia menambahkan.

La Pico juga menyewakan wedding venue dengan harga mulai Rp 15 juta. Serta mereka juga melayani meeting dan acara kumpul keluarga.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com

Santai Dulu Ah… di Obelix Village



Sleman

Traveler yang ingin merasakan hawa pedesaan wajib memasukkan Obelix Village ke dalam bucket list liburan. Lokasinya yang jauh dari kebisingan jalan raya cocok sekali untuk healing.

Obelix Village terletak di Jalan Kenangan, Krandon, Kalurahan Pandowoharjo, Kapanewon Sleman, Yogyakarta. Lokasinya mudah ditemukan di Google Maps dengan akses jalan yang mulus. Traveler hanya membutuhkan waktu 30 menit jika berkendara dari Tugu Yogyakarta.

Konsep Obelix Village adalah wisata keluarga untuk edukasi anak-anak dikolaborasikan dengan pemandangan persawahan dan pedesaan di sekitarnya yang masih asri. Jika beruntung dengan cuaca cerah, traveler dapat melihat view Gunung Merapi secara jelas hingga puncaknya.


“Kami memilih Jogja karena Jogja adalah tempat yg sedang berkembang pariwisatanya. Dan kebetulan owner kami juga berada di Jogja,” kata Alan, Supervisor Obelix Village.

Obelix Village di Sleman, YogyakartaObelix Village di Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Sejak diresmikan pada 15 Oktober 2022 lalu, Obelix Village telah menjadi destinasi favorit keluarga saat menghabiskan waktu liburannya. Di sini traveler dapat menemui area alami dan buatan yang dipadukan.

“Yang membedakan tempat kami dengan wisata lain adalah untuk spot foto kami tidak ada yg berbayar, dan nuansa nya masih natural pedesaan,” ujar Alan.

Mengusung konsep pedesaan, tentunya Obelix membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk merampungkan seluruh infrastrukturnya. Ditargetkan Obelix Village dapat dinikmati oleh keluarga dan anak-anak yang sedang berlibur di Jogja.

Cukup bermodal Rp 25.000, traveler sudah bisa menikmati setiap sudut yang ada di Obelix Villages tanpa adanya tiket terusan. Dengan luas lahan 4 hektar, terdapat berbagai area di Obelix Village, yakni restoran, kafe, flower garden, mini farm, little zoo, dan secret river deck.

Membaca buku sambil bersantai di Obelix Village bisa menjadi pilihan tatkala menginginkan suasana baru. Selain itu, traveler tidak akan kehabisan spot foto instagramable jika berkunjung kemari.

Obelix Village di Sleman, YogyakartaObelix Village di Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Jika bosan, traveler dapat mencoba kegiatan lain seperti menaiki kuda. Namun, ada syaratnya yaitu maksimal berat badan 30 kilogram dan harus sebelum jam 17.00.

“Untuk rencana pengembangan kemungkinan ada penambahan kolam renang atau villa,” Kata Alan

Selain untuk bersantai, Obelix Village juga cocok dijadikan sebagai venue pesta atau pernikahan dengan tema outdoor bak di taman. Traveler juga akan dimanjakan dengan makanan lezat di restoran yang ada di dalamnya, nih.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Nuansa Baru Gedung Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara



Jakarta

Terletak di seberang Pos Bloc, tepatnya di sebelah barat pintu masuk selatan Pasar Baru, ada gedung putih bersejarah yang jadi saksi disiarkannya proklamasi kemerdekaan Indonesia ke seluruh penjuru dunia, lho!

Itu adalah Kompleks Antara Heritage Center (AHC), termasuk Gedung Museum dan Galeri Foto Jurnalistik. Gedung itu baru saja berbenah selama tujuh bulan dan kini siap tampil kembali menjadi destinasi wisata sejarah dan jurnalistik di Jakarta.

Peresmian gedung itu dilakukan oleh Menteri BUMN Erick Thohir Selasa (14/5/24).


Kompleks AHC adalah bangunan cagar budaya kelas A yang menjadi salah satu bagian dari Weltevreden (kawasan tempat tinggal utama orang-orang Eropa di pinggiran Batavia, Hindia Belanda).

Antara Heritage Center yang berlokasi di kasawan Pasar Baru, Jakarta Pusat diresmikan hari ini. Kompleks ini di antaranya untuk Kantor Berita Antara. Yuk intip suasananya.Antara Heritage Center yang berlokasi di kasawan Pasar Baru, Jakarta Pusat diresmikan hari ini. Kompleks ini di antaranya untuk Kantor Berita Antara. Yuk intip suasananya. (Pradita Utama/detikcom)

Gedung berumur 107 tahun itu menjadi salah satu gedung bersejarah karena kawasan gedung ini merupakan saksi terjadinya peristiwa penting di Indonesia. Di tempat ini lah pertama kali proklamasi kemerdekaan digaungkan ke seluruh penjuru dunia.

Kompleks AHC terdiri dari Griya Aneta dan Graha Antara.

Griya Aneta dibangun oleh seorang raja media asal Hindia Belanda, Dominique Willem Berretty pada 1917. Gedung itu kemudian menjadi Kantor Berita Belanda Aneta.

Barulah kemudian beralih kepemilikan ke Kantor Berita Antara pada 1962. Yakni, saat Presiden Sukarno menguatkan posisi dan memastikan kantor berita Aneta dan kantor berita Jepang Domei di Pasar Baru menjadi milik Kantor Berita Antara.

Antara Heritage Center yang berlokasi di kasawan Pasar Baru, Jakarta Pusat diresmikan hari ini. Kompleks ini di antaranya untuk Kantor Berita Antara. Yuk intip suasananya.Antara Heritage Center yang berlokasi di kasawan Pasar Baru, Jakarta Pusat diresmikan hari ini. Kompleks ini di antaranya untuk Kantor Berita Antara. (Pradita Utama/detikcom)

Kini, pengunjung umum dapat menikmati pameran foto sejarah Indonesia dan sejarah pers yang diambil oleh para jurnalis Antara sejak zaman dahulu hingga masa kini. Selain itu beberapa peninggalan benda-benda bersejarah salah satunya sepeda motor wakil presiden RI ke-3, H. Adam Malik ada di gedung ini.

Gedung itu terdiri dari dua lantai. Lantai 1 berfokus pada galeri foto yang dipotret oleh para jurnalis dan lantai 2 berisikan pajangan alat pendukung kegiatan jurnalistik dari masa pra-kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan Indonesia, seperti mesin tik dan alat cetak arsip.

Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara berada di Jl. Antara No.59, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Buka setiap hari Selasa-Minggu pukul 10.00 – 20.00 WIB. Untuk informasi terkini terkait museum dan pameran, traveler bisa pantau melalui instagram resminya @gfja.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Museum BI Punya Koleksi Uang Kuno, Kepoin Yuk!



Jakarta

Jika traveler sedang berlibur ke Jakarta, Kota Tua jadi salah satu destinasi primadona wisatawan. Di antara barisan bangunan tinggalan kolonial, ada satu bangunan estetik, bernama Museum Bank Indonesia. Yuk simak ada apa sih di Museum Bank Indonesia!

Jakarta memiliki sederet museum dengan berbagai macam barang bersejarah yang dipamerkan. Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat menjadi salah satu wilayah yang menyimpan banyak museum ciamik.

Di Kota Tua Jakarta, tersembunyi sebuah peninggalan bersejarah yang tak boleh dilewatkan. Bernama Museum Bank Indonesia. Bangunan kuno nan megah ini terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 3.

Tak hanya menyimpan kisah panjang perjalanan Bank Indonesia, museum yang satu ini juga memiliki desain interior yang terbilang menarik. Menggunakan teknologi modern untuk memberikan pengalaman berbeda yang memanjakan pengunjung.

Museum Bank IndonesiaMuseum Bank Indonesia (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Masuk ke museum ini hanya perlu membayar mulai dari Rp 5.000/orang, namun jika membawa kartu pelajar atau kartu tanda mahasiswa, traveler tak dipungut biaya alias gratis. Sip untuk traveler pemburu destinasi wisata ramah di kantong.

Museum Bank Indonesia adalah sebuah destinasi yang didirikan dengan tiga tujuan utama, sebagai ruang untuk menyampaikan kebijakan Bank Indonesia, tempat penyimpanan dan pemeliharaan benda-benda numismatik serta dokumen-dokumen bersejarah, pusat rekreasi literasi yang menggabungkan hiburan dengan pendidikan.

Museum Bank Indonesia menghadirkan ragam koleksi yang memukau. Mulai dari uang-uang kuno zaman kerajaan Hindu-Buddha, masa kejayaan Islam, hingga zaman kolonial, serta koleksi uang Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga saat ini.

Traveler juga akan diajak menelusuri evolusi logo Bank Indonesia serta melihat keindahan emas dalam bentuk mata uang. Tak hanya itu, museum ini juga menjadi saksi bisu perjalanan panjang dunia perbankan Indonesia.


Museum Bank IndonesiaKoleksi uang dari masa ke masa di Museum Bank Indonesia (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Dari peran sentral Bank Indonesia sejak masa pra-kolonial hingga pendiriannya pada tahun 1953, serta kebijakan-kebijakan yang telah dijalankan, hingga aktivitas perbankan pada masa penjajahan.

Tak hanya menarik dari segi koleksinya, penyajian di Museum Bank Indonesia juga dikemas dengan modern dan interaktif. Menggunakan teknologi canggih seperti layar elektronik, panel interaktif, dan televisi plasma, museum ini memberikan pengalaman yang mengesankan bagi setiap pengunjung.

Bagi traveler yang ingin berkunjung, Museum Bank Indonesia buka setiap hari, kecuali Senin dan hari libur nasional. Museum ini buka mulai pukul 08.00 hingga 15.30 WIB.

Lagi di Kota Tua dan bingung mau berlibur kemana? Museum Bank Indonesia jadi destinasi wajib bagi traveler pecinta sejarah dengan penyajian yang kekinian. Ramah di kantong pula!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Hidden Gems di Ciputat, Perpustakaan Kerucut Seperti Rumah Adat Wae Rebo



Ciputat

Bagi traveler yang sudah bosan dengan wisata sekitar Jakarta yang begitu-begitu saja, perpustakaan ini bisa jadi pilihan. Bukan perpustakaan biasa, perpustakaan ini mempunyai fasad bangunan yang unik dan koleksi bukunya beragam.

Perpustakaan itu bernama Pustaka Pahala. Dirancang langsung oleh sang pemilik yang merupakan pensiunan guru besar Arsitektur UI, Prof. Gunawan Tjahjono.

Perpustakaan itu memiliki bangunan berbentuk kerucut seperti rumah masyarakat adat di Wae Rebo di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gunawan menyebut memang rumah adat itu yang menjadi inspirasinya untuk membangun perpustakaan tersebut.


Awalnya perpustakaan itu untuk menampung buku-buku yang dibacanya. Gunawan dan keluarga memang hobi membaca buku dan mengoleksi buku.

Hingga kemudian, pada 3 September 2023 diputuskan perpustakaan itu dibuka untuk umum dengan waktu operasional setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 10.00 – 17.00 WIB.

Gunawan menjelaskan bahwa waktu operasional itu dipilih agar anak-anak, yang menjadi salah satu target utama perpustakaan itu, dapat memanfaatkan waktu libur untuk diisi dengan kegiatan bermanfaat seperti membaca buku.

“Diputuskan bukanya hanya pada hari Sabtu dan Minggu pertimbangannya adalah bahwa anak-anak yang sebagai sasaran utama itu kan sudah banyak PR di sekolah (saat hari kerja) jadi biar mereka pada hari Sabtu dan Minggu bisa mengisi waktu dengan baca buku dan masih bisa diantar orang tuanya,” kata Gunawan.

Tak perlu khawatir, terdapat lebih dari 5000 koleksi buku yang bervariasi baik fiksi dan non-fiksi sehingga semua kalangan dapat membaca buku di sini. Lantai 1 untuk menyimpan koleksi buku fiksi, buku anak-anak, dan novel. Kemudian, lantai 2 merupakan tempat koleksi buku non-fiksi, seperti buku filsafat, arsitektur, psikologi, seni, dan ekonomi.

Setelah mengisi buku kunjungan, pengunjung akan disambut ramah oleh pustakawan yang sedang bertugas. Masing-masing pengunjung akan dijelaskan terkait tata letak koleksi buku dan tata cara mengembalikan buku yang selesai dibaca.

Pengunjung juga diminta untuk mengganti alas kakinya dengan sandal khusus yang telah disediakan. Menurut Prof. Gunawan ini merupakan bagian dari pendidikan kedisiplinan dan keselamatan para pengunjung.

“Itu ada tangga (menuju lantai 2) yang pakai kawat, kalau nggak pakai sandal kakinya bisa terluka kalau tidak terbiasa. Ganti sepatu juga ada unsur pendidikannya, kalau anak-anak diajarin cuci tangan, ganti sepatu, dia akan mulai menjadi kebiasaan baik,” kata dia.

Satu kali dalam sebulan, Pustaka Pahala juga mengadakan kegiatan mendongeng bersama khusus anak-anak. Tempatnya yang unik membuat perpustakaan ini tak pernah sepi diburu pengunjung. Tak hanya pecinta buku, beberapa kreator konten juga terlihat mampir sambil mengabadikan sudut-sudut perpustakaan yang estetik ini.

Ilmi, salah satu pengunjung asal Sulawesi Selatan, sembari mendatangi acara di Jakarta ia sempatkan untuk mampir ke Pustaka Pahala. Ia merasa kagum dengan arsitektur perpustakaan yang tak seperti perpustakaan umumnya,

“Kebetulan lagi ada acara di Jakarta terus sekalian mau cari-cari perpus dan kebetulan saya lihat perpus ini desainnya unik kan, suka banget sih sama arsitekturnya, koleksinya juga lumayan lengkap,” kata Ilmi.

Pengunjung dapat datang ke Pustaka Pahala secara gratis tanpa perlu registrasi terlebih dahulu. Lokasinya berada Villa Gunung Lestari, Blok E3, Jl, Merbabu VI No.13, Ciputat, Tangsel. Untuk informasi terkini traveler bisa pantau Instagram resminya @pustakapahala.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Fakta Perpustakaan Kerucut Mirip Rumah Adat Wae Rebo di Tangsel



Ciputat

Di balik riuhnya kehidupan perkotaan Tangerang Selatan, terselip sebuah perpustakaan unik berbentuk kerucut yang bikin kepincut banyak orang. Perpustakaan itu Pustaka Pahala.

Perpustakaan Pahala ternyata bukan sekadar perpustakaan biasa namun menyimpan banyak fakta menarik mulai dari sejarah sampai filosofi arsitekturnya.

Berikut fakta-fakta menarik tentang Pustaka Pahala:

1. Dibangun oleh seorang arsitek perancang Gedung Rektorat Universitas Indonesia

Prof. Gunawan Tjahjono merupakan salah satu arsitektur pendidik Indonesia. Ia sempat menjadi guru besar Jurusan Arsitektur Universitas Indonesia ke-2 pada tahun 2002. Ia juga merupakan Rektor Universitas Pembangunan Jaya yang pertama.


Karirnya dalam arsitektur yang sudah berjalan sangat panjang tentu melahirkan banyak karya besar. Salah satu karya rancangannya adalah Gedung Rektorat Universitas Indonesia yang menjadi ikon dari Universitas Indonesia.

2. Awalnya dirancang berbentuk seperti telur

Tak langsung berbentuk kerucut, Pustaka Pahala awalnya dirancang Prof. Gunawan dengan bentuk telur dengan maksud melambangkan “kelahiran”.

“Jadi tadinya saya mau membuat seperti telor dengan pikiran bahwa telor itu kan nanti melahirkan sesuatu gitu ya,” kata Gunawan.

Namun, ide tersebut tidak jadi ia realisasikan karena ternyata ia menemukan bentuk bangunan serupa di majalah yang dimilikinya.

“Tapi saat saya buka majalah sudah ada majalah yang memuat bentuk telur di suatu bangunan. Walaupun bukan perpustakaan tapi saya gak mau mengulangi lah. Jadi lebih baik saya ambil inspirasi dari bangunan yang ada di Indonesia (Wae Rebo),” kata dia.

Argumen itu juga diperkuat dengan pernyataan rekan arsiteknya, Yori Antar, yang mengatakan bahwa bangunan Pustaka Pahala ini sangat mirip dengan Wae Rebo di Nusa Tenggara Timur.

3. Dibangun atas dasar kegemaran keluarganya dalam membaca buku

Saat ditemui oleh detikTravel pada Kamis (2/5/24), Gunawan menceritakan bahwa awalnya perpustakaan ini dibangun guna menyimpan koleksi pribadi keluarganya yang gemar membaca buku. Selama kuliah di luar negeri ia senang sekali membeli berbagai jenis buku di bazar perpustakaan untuk ia simpan sebagai bacaan dan koleksi.

“Saya sejak mahasiswa sudah mulai kumpulkan buku senang membaca, lalu saat diberi kesempatan belajar ke luar bukunya makin banyak,” kata Gunawan.

“Karena di sana ada library sale, biasanya kami datang pada hari ke empat karena pada hari keempat satu box (bebas pilih) itu harganya 1 dollar. Jadi buku saya makin banyak dan bidangnya macam-macam dari filsafat sampai masakan tapi yang paling banyak tentu bidang saya Arsitektur dan Kota dia menambahkan.

Kegemarannya membaca buku ternyata juga turun kepada anaknya, Puspa. Bahkan 500 buku yang ada di Pustaka Pahala ternyata milik pribadi Puspa. Bahkan semasa sekolah di luar negeri Puspa berhasil mendapat penghargaan ‘Young Writer Award’ dari sekolahnya.

4. Nama Pustaka Pahala punya makna khusus

Terdapat makna dibalik nama Pustaka Pahala. Pahala ini diambil dari bahasa Sansekerta yang bermakna buah. Harapannya pustaka sebagai bibit ini dapat menghasilkan buah-buah yang berkualitas.

Selain itu, ia juga memilih nama pahala sebagai salah satu bentuk dari latar belakangnya membentuk perpustakaan ini sebagai wadah berbagi pengetahuan yang dimilikinya kepada masyarakat luas. Sehingga, dapat menjadi ladang pahala baginya saat sudah tiada.

Jika mengambil akronim dari Pustaka Pahala akan ditemukan PusPa, yang merupakan nama anak Gunawan.

5. Ada filosofi khusus di bangunannya

Sebagai seorang arsitek kondang, Gunawan memang senang membuat bangunan dengan makna khusus. Salah satunya tangga di rumahnya yang menghadap ke timur, ini mengisyaratkan menyambut matahari.

Jika diperhatikan secara detail, pengunjung akan menemukan bagian berwarna kuning yang mengarahkan bagian timur sebagai tempat matahari terbit sekaligus lambang harapan.

Bagian koleksi buku anak di lantai 1 melambangkan pendidikan dasar untuk anak anak, ketika menaiki tangga pengunjung akan menemukan berbagai buku yang dianggap lebih berat dan membutuhkan pemahaman mendalam. Ini mengisyaratkan perjalanan pertumbuhan manusia dari anak anak menuju dewasa.

6. Menanamkan aspek pendidikan perilaku bagi anak-anak

Gunawan pemilik sekaligus perancang Pustaka Pahala menganggap bahwa anak-anak masih sangat lentur untuk dibina agar dapat memiliki kepribadian dan kebiasaan yang baik. Oleh karena itu, ia sangat tertarik dengan pendidikan perilaku anak-anak di Pustaka Pahala.

Selain menanamkan sifat gemar membaca, Gunawan juga ingin tanamkan sifat ramah kepada anak-anak melalui contoh langsung dari pustakawan yang selalu menyambut ramah para pengunjung.

Kemudian, ditanamkan juga sifat disiplin dalam berperilaku melalui kebiasaan mencopot sepatu saat memasuki ruangan dan menggantinya dengan sanda khusus.

Menurut Gunawan, upaya itu merupakan kelanjutan dari kebiasaan orang zaman dahulu yang menyimpan kendi sebagai tempat cuci tangan dan kaki sebelum masuk ke rumah.

Bangunan Pustaka Pahala tidak menggunakan AC dan menggunakan cahaya matahari sebagai penerangannya saat siang hari. Ini sebagai wujud pembelajaran agar anak-anak dapat mencintai lingkungan dengan menghemat penggunaan listrik.

7. Dibangun menggunakan dana pribadi

Sebagai wujud sumbang ilmu yang dimilikinya, Gunawan juga ternyata merancang dan membangun Pustaka Pahala dengan dana pribadi yang dimilikinya.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com