Tag Archives: wisata

Inilah 5 ‘Negeri di Atas Awan’ yang Ada di Indonesia


Jakarta

Indonesia menyimpan banyak pemandangan alam yang rupawan. Sejumlah kawasan di negara ini bahkan ada yang disebut-sebut sebagai ‘negeri di atas awan’.

Julukan yang disematkan terhadap kawasan tersebut bukanlah sembarang. Melainkan hamparan awan yang membentang dan menyelimuti dapat terlihat dengan jelas oleh mata. Lantas, di mana saja ‘negeri di atas awan’ yang ada di Indonesia?

‘Negeri di Atas Awan’ yang Ada di Indonesia

Berikut beberapa tempat di Indonesia yang bagaikan ‘negeri di atas awan’:


1. Dataran Tinggi Dieng

Dataran tinggi Dieng berada di wilayah Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Letaknya dataran ini ada di ketinggian 2.093 mdpl (meter di atas permukaan laut).

Selain itu, lokasinya juga berdekatan dengan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Karenanya, pengunjung dapat melihat pemandangan samudra awan di sini.

Kawasan Dieng didominasi area pertanian terasering di lahannya yang berbukit-bukit. Panorama yang disuguhkan menambah keindahan tempat ini.

Ada sejumlah destinasi wisata yang bisa dikunjungi di dataran Dieng, di antaranya Telaga Warna dan Pengilon, Goa Semar, mata air Sungai Serayu, serta situs bersejarah berupa sejumlah candi.

2. Desa Citorek Gunung Luhur

Ada nih ‘negeri di atas awan’ yang lumayan dekat dari Jakarta, yaitu Gunung Luhur tepatnya di Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Lebak, Banten. Lokasinya berada di kawasan Hutan Lindung, Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Panorama hamparan awan di tempat ini bisa disaksikan pada waktu pagi, sekitar pukul 05.00-08.00 WIB. Karena itu, pengunjung bisa bermalam di lokasi untuk melihat pemandangan samudra awannya yang indah.

Tapi, gulungan awan disebutkan tidak bisa dilihat setiap harinya. Karena tergantung dari kondisi cuaca di kawasan tersebut.

Untuk bisa melihat ‘negeri di atas awan’ diperlukan tiket masuk seharga Rp 12.000 per orang untuk weekday, serta Rp 14.500 per orang saat weekend dan hari libur.

Akses jalan menuju lokasi lebar dan bisa dicapai dengan menggunakan mobil atau motor untuk sampai ke lokasi. Tarif parkir yang ditetapkan sebesar Rp 5.000-Rp 7.500 untuk motor, dan mobil dikenakan Rp 10.000-Rp 15.000.

3. Puncak B29 Lumajang

Selanjutnya ada kawasan Puncak B29 di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Lumajang, Jawa Timur. Tempat ini dijuluki ‘negeri di atas awan’ dengan lokasinya yang berada di ketinggian 2.900 mdpl.

Di puncak ini, pengunjung akan melihat panorama gumpalan awan menakjubkan yang menyelimuti kawasan Gunung Bromo pada pagi hari. Selain itu, keindahan Gunung Semeru di sisi selatan dan sunrise di ufuk timur juga bisa terlihat sekaligus.

Untuk menuju ke Puncak B29 Lumajang, pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Setelah sampai di rest area Desa Argosari bisa dilanjut naik ojek motor. Barulah pengunjung bisa sampai di Puncak B29 dengan membayar tiket masuk seharga Rp 5.000 per orang.

4. Desa Lolai Toraja Utara

Di wilayah Sulawesi juga ada tempat yang disebut-sebut jadi ‘negeri di atas awan’ yakni di Desa Lolai, Kecamatan Kepala Pitu, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Utara. Tempat ini berada di ketinggian sekitar 1.300 mdpl.

Di sana, pengunjung bisa menyaksikan hamparan awan yang membentang. Di sela-selanya tak jarang muncul puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi.

Untuk menuju ke sini, traveler dapat menempuh waktu kurang lebih 1 jam perjalanan dengan jarak 19 km dari Bandar Udara Pongtiku Toraja. Sementara dari Rantepao berjarak sekitar 15 km. Akses jalan yang dilalui pun sudah cukup bagus.

Pengunjung perlu membayar tiket sebesar Rp 15.000 per orang untuk masuk ke kawasan ‘negeri di atas awan’ ini. Selain itu, diperbolehkan juga menginap di lokasi untuk melihat panorama alam yang rupawan itu.

5. Bukit Panyangrayan Tasikmalaya

‘Negeri di atas awan’ juga ada di wilayah Tasikmalaya, Jawa Barat. Tepatnya di Bukit Panyangrayan yang berada di Kampung Pramuka Sadaukir, Desa Sukapura, Kecamatan Sukaraja, Tasikmalaya.

Pemandangan hamparan awan di sini dapat dilihat pada pagi hari saat matahari terbit. Panoramanya semakin indah saat cahaya matahari mengintip di antara gumpalan awan itu. Pengunjung bisa berkemah di atas bukit ini dengan membawa tenda atau menyewa tenda untuk menyaksikannya.

Kawasan Bukit Panyangrayan buka 24 jam sehingga traveler bisa datang kapan saja. Diperlukan tiket untuk masuk ke tempat ini dengan membayar tiket Rp 5.000 per orang.

Untuk sampai ke lokasi ini, pengunjung bisa melalui jalan satu jalur dengan mengendarai sepeda motor hingga pintu masuk kawasan bukit. Karena satu jalur, akan akan sulit dilewati mobil jika berpapasan.

Itu dia sederet ‘negeri di atas awan’ yang ada di Indonesia. Kalau detikers sudah pernah mengunjungi yang mana, nih?

(fds/fds)



Sumber : travel.detik.com

Unik! Museum Sanghyang Dedari, Simpan Cerita Magis Tarian Penolak Bala



Karangasem

Museum Sanghyang Dedari menyimpan berbagai cerita magis di balik tarian sakral Sanghyang Dedari. Mulai dari properti hingga proses pementasan.

Museum ini bisa terbilang hidden gem. Berlokasi di Banjar Dinas Geriana Kauh, Desa Duda Utara, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali, museum ini menyuguhkan tema yang unik dengan mengangkat tarian sakral bernama Sanghyang Dedari.

Menurut Bendesa Adat Geriana Kauh, I Nyoman Subrata, Museum Sanghyang Dedari, merupakan sarana edukasi bagi generasi muda tentang Tari Sanghyang Dedari, mulai dari properti yang digunakan hingga proses atau ritual pementasan.

“Museum ini sebagai pusat pembelajaran tentang keberadaan Tari Sanghyang di Bali. Ritual Sanghyang yang keberadaanya sudah sedikit, jadi di museum ini kita bisa melestarikan,” ujarnya.

I Nyoman Subrata menyebut Tari Sanghyang Dedari bermakna sebagai penolak bala. Tarian ini sudah diwarisi secara turun temurun. Menurut cerita, Tarian Sanghyang Dedari sudah ada sejak zaman pra-Hindu.

“Tarian ini adalah sebuah proses penurunan roh dewa dewi yang kemudian memberikan anugerah kepada warga khususnya petani. Sesuai makna dan fungsi, tarian ini sebagai penolak bala. Khususnya bagi petani agar padi mereka bisa tumbuh subur,” ujar dia.

Inspirasi Museum Sanghyang Dedari bermula ketika pengabdian masyarakat dari mahasiswa UI yaitu Ibu Saras Dewi yang melakukan riset terkait Tari Sanghyang Dedari. Kemudian, pada 2016 disepakati dan turun pendanaan untuk membangun museum ini. Museum Sanghyang Dedari resmi dibuka pada 2019.

“Ide awal itu dari pengabdi UI itu, setelah melakukan riset dan berhasil. Akhirnya terbesit untuk melakukan sesuatu untuk melestarikan kembali ritual sakral ini,” kata Subrata.

Jika dilihat dari konsepnya, Museum Sanghyang Dedari adalah museum yang unik. Hingga saat ini, museum ini adalah satu-satunya museum yang menyajikan dengan lengkap terkait Tari Sanghyang Dedari yang sakral.

Belum banyak yang tau, Tari Sanghyang Dedari merupakan salah satu ritual penanaman padi taun. “Keunikan dari museum ini, anda bisa melihat koleksi tentang keberadaan ritual Sanghyang Dedari, khususnya dengan petani yaitu penanaman padi taun, yang merupakan padi khas desa di sini,” kata Subrata.

Kaitan Tari Sanghyang Dedari, yang sangat erat dengan proses penanaman padi taun, membuat di dalam museum ini traveler juga bisa melihat aneka peralatan pertanian tradisional yang lengkap. Contohnya seperti alat pemotong padi bernama ani-ani.

Pementasan Tari Sanghyang Dedari hanya dipentaskan pada saat ritual tertentu dan hanya dipentaskan di Desa Adat Geriana Kauh. I Nyoman Subrata menyebut tak menutup kemungkinan bagi traveler untuk menyaksikan pementasan Tari Sanghyang Dedari. Bagi traveler yang tertarik bisa berkunjung ke museum ini pada bulan April.

“Sangat boleh sekali ditonton, tapi harus mengikut aturan. Minimal menggunakan adat madya, pakaian yang menutupi dan pakai selendang,” kata Subrata.

Kaitan Tari Sanghyang Dedari yang sangat erat dengan proses penanaman padi taun, membuat di dalam museum ini traveler juga bisa melihat aneka peralatan pertanian tradisional yang lengkap.

Bagi traveler yang tertarik berkunjung ke Museum Sanghyang Dedari, hingga saat ini pengelola tidak mematok biaya tiket masuk, namun menerapkan sistem donasi.

Tak perlu khawatir, jika berkunjung ke sini traveler akan ditemani langsung dengan guide atau petugas dari yayasan yang akan menemani traveler berkeliling di sini. Traveler bisa berkunjung ke Museum Sanghyang Dedari setiap hari mulai pukul 08.00 – 16.00 WITA.

Museum Sanghyang Dedari juga akan mengembangkan pembangunan Balai Budaya. I Nyoman Subrata menjelaskan bahwa Balai Budaya nantinya akan digunakan untuk kegiatan anak-anak dalam mengembangkan bakatnya. Seperti menari dan mempelajari ritual gending Sanghyang.

(fem/iah)



Sumber : travel.detik.com

7 Destinasi Wisata di Muntilan, Salah Satunya Jadi Lokasi Syuting Gadis Kretek


Jakarta

Popularitas Muntilan terkerek setelah disebut-sebut sebagai Kota M dalam serial populer Netflix, Gadis Kretek. Ini deretan tempat wisata di Muntilan.

Kecamatan kecil yang berada di Magelang, Jawa Tengah itu dan terkenal dengan kuliner tape ketan ini ternyata memiliki beragam pilihan destinasi wisata yang bisa traveler kunjungi lho. Langsung aja cek daftarnya di sini!

1. Candi Ngawen

Makam tua di Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Klaten, yang dipagari batu bekas struktur candi, Minggu (25/6/2023).Makam tua di Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Klaten, yang dipagari batu bekas struktur candi, Minggu (25/6/2023). (Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)

Candi Ngawen merupakan candi Buddha peninggalan Dinasti Syailendra yang terletak di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Candi ini ditemukan pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1927.


Candi Ngawen terdiri dari lima candi yang berjejer sama rata dan menghadap arah timur, namun dari kelima candi tersebut hanya candi II yang masih berdiri utuh, empat lainnya hanya berupa sisa kaki-kaki candi.

Uniknya di Candi Ngawen ini terdapat empat patung singa yang terletak di sudut-sudut kaki candi.

Candi Ngawen bisa dikunjungi setiap hari jam 08.00 – 16.00 WIB dengan tiket masuk seharga Rp 3.000 saja.

2. Makam Gunungpring

Jika kamu menyukai wisata religi, maka tempat yang satu ini bisa kamu kunjungi saat di Muntilan. Namanya Makam Gunungpring, komplek pemakaman tokoh-tokoh ulama Jawa Tengah seperti Kyai Raden Santri, KH. Abdurrohman, KH. Dalhar, Kyai Krapyak Kamaludin, dan yang lainnya.

Komplek pemakaman ini terletak di atas bukit dengan ketinggian 400 mdpl, sehingga untuk mencapai makam, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga terlebih dahulu. Di sepanjang sisi tangga terdapat toko-toko yang menjual makanan, pernak-pernik, pakaian, dan oleh-oleh.

Komplek pemakaman ini juga sudah dilengkapi dengan fasilitas toilet, mushola, warung makan, dan tempat beristirahat. Makam Gunungpring ini bisa dikunjungi kapan saja tanpa dipungut biaya, letaknya di Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

3. Klenteng Hok An Kiong

Satu lagi wisata religi yang ada di Muntilan adalah Klenteng Hok An Kiong, klenteng ini merupakan klenteng tua yang sudah ada sejak tahun 1878. Lokasinya ada di pusat kota Muntilan, tepatnya di Jalan Pemuda No. 100, Balerejo, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.
Komplek klenteng ini memiliki bangunan utama yang berfungsi sebagai tempat peribadatan yang terdiri dari dua ruang doa. Selain bangunan utama, di sini juga ada kantor dan ruang pertemuan.

Klenteng Hok An Kiong memiliki hio lo terbesar di Asia Tenggara yang dibuat pada tahun 2002. Hio lo ini terbuat dari perunggu dengan panjang 158 cm, diameter 188 cm, dan berat 3,8 ton.

4. Museum Misi Muntilan

Berbeda dari museum biasanya, Museum Misi Muntilan ini berdiri khusus di bawah kepemilikan Keuskupan Agung Semarang untuk menyimpan sejarah dan peninggalan penyebaran agama Katolik di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Museum ini berada dalam Komplek Misi Muntilan yang di dalamnya juga ada Gereja Santo Antonius dan Sekolah Pangudi Luhur Van Lith. Romo van Lith menjadi tokoh penting dari adanya komplek ini, sehingga patungnya dibangun di depan museum ini.

Museum Misi Muntilan berlokasi di Jalan Kartini No.3, Balemulyo, Muntilan, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pengunjung bisa masuk secara gratis dan nantinya akan ditemani staf museum yang akan memberikan tur singkat.

5. Taman Bambu Runcing

Di Taman Bambu Runcing ini berdiri Monumen Bambu Runcing yang menjadi monumen untuk mengenang para pejuang dalam melawan penjajah. Monumen ini dibangun dari tahun 1978 sampai 1980 oleh seorang seniman patung, Doelkamid Djayaprana.

Monumen berbentuk seperti bambu ini berwarna putih dengan ruas bambu yang diberi warna merah, di bawahnya terdapat patung-patung pejuang yang mengelilingi monumen sambil membawa bendera merah putih dan senjata.

Di bagian tamannya terdapat wahana permainan anak-anak dan penjual makanan. Taman ini cocok dijadikan tempat bersantai di sore hari, lokasinya ada di Jalan Tentara Pelajar No.8, Tejowarno, Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

6. Taman Seribu Cinta

Taman Seribu Cinta ini terletak di perbatasan antara Kecamatan Muntilan dan Kecamatan Salam, di tepi aliran Kali Blongkeng. Dulunya di sini merupakan tempat pembuangan sampah yang kumuh.

Di satu sisinya terdapat tebing yang bertuliskan “Welcome to Muntilan Adipura”. di sisi lainnya ada taman bertingkat penuh bunga warna-warni dan spot-spot berbentuk love. Di sini juga disediakan tempat duduk untuk menikmati aliran kali yang jernih dan tenang.

Taman Seribu Cinta ini bisa diakses secara gratis, pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir saja.

7. Pasar Kayu Muntilan

Destinasi yang satu ini viral baru-baru ini setelah serial Gadis Kretek tayang. Diketahui bahwa Pasar Kayu Muntilan merupakan salah satu tempat syuting dari Gadis Kretek yang mana dijadikan sebagai pasar jadul.

Di sini masih bisa dilihat beberapa properti syuting yang belum dilepas para penjual kayu, diantaranya adalah papan nama warung dan poster Kretek Merah. Sekarang banyak pengunjung yang datang untuk berfoto di spot-spot ini.

Pasar Kayu Muntilan terletak di komplek pasar kayu, Jumleng, Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Museum Sanghyang Dedari di Bali Muncul Berkat Ide Mahasiswa UI



Karangasem – Museum Sanghyang Dedari merupakan salah satu museum unik, menyuguhkan ritual Sanghyang Dedari. Namun, siapa sangka, awal mula museum ini adalah mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang melakukan penelitian.

Bukan soal benda bersejarah, Museum Sanghyang Dedari ternyata menyimpan berbagai cerita dari Tari Sanghyang Dedari yang sangat sakral. Traveler akan menemukan berbagai properti yang digunakan pada ritual tari ini. Tak hanya itu, proses pementasan pun dijelaskan secara detail.

Bendesa Adat Geriana Kauh, I Nyoman Subrata, menjelaskan pendirian Museum Sanghyang Dedari berawal dari mahasiswa UI bernama Saras Dewi. Dia melakukan riset terkait Tari Sanghyang.

“Awal mula didirikan museum ini, diawali oleh pengabdian masyarakat mahasiswa UI bernama Saras Dewi pada 2016. Beliau melakukan riset terkait Tari Sanghyang ini,” kata dia.

Museum Sanghyang Dedari di Desa Adat Geriana Kauh, Karangasem, BaliMuseum Sanghyang Dedari di Desa Adat Geriana Kauh, Karangasem, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti)

Pendirian Museum Sanghyang Dedari mulanya bertujuan untuk melestarikan Tari Sanghyang Dedari yang hampir punah. Pelestarian ini dilakukan pada naskah-naskah terkait Tari Sanghyang Dedari.

Akhirnya, pada 2016 dilakukan diskusi dan kesepakatan untuk membangun museum ini. Subrata menyebut pembangunan Museum Sanghyang Dedari didanai oleh pemerintah dan berkolaborasi dengan Desa Adat Geriana Kauh.

Pembangunan Museum Sanghyang Dedari sempat terhenti pada tahun 2017 karena terjadi bencana alam gunung meletus. Walau sempat terhenti, akhirnya Museum Sanghyang Dedari dibuka secara resmi pada tahun 2019.

Menurut riset yang dilakukan oleh Saras Dewi, terdapat 25 jenis Tari Sanghyang, namun hingga saat ini tidak banyak lagi ritual Sanghyang yang ada di Bali. Salah satu yang masih eksis adalah Tari Sanghyang Dedari.

Sebagai kekayaan budaya Desa Adat Geriana Kauh, Subrata berharap museum ini menjadi daya tarik wisata dan memberikan imbas positif khususnya dalam bidang ekonomi untuk masyarakat desa.

“Saya dan warga desa berharap ini bisa dijadikan daya tarik untuk desa. Bisa memberikan imbas positif khususnya bidang ekonomi bagi warga desa. Mengingat kondisi desa kami yang hanya berjarak 9 kilometer dari puncak Gunung Agung,” kata Subrata.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

9 Destinasi Wisata di Banda Neira, Mulai dari Pesona Alam hingga Sejarah


Jakarta

Banda Neira atau bisa juga disebut Banda Naira adalah sebuah pulau yang ada di Kepulauan Banda, Maluku. Pulau ini menarik perhatian karena menawarkan pemandangan eksotisme yang menawan. Inilah yang membuat Banda Neira kerap dijuluki sebagai Surga dari Timur.

Di Banda Neira, ada beberapa destinasi wisata yang bisa kamu kunjungi. Mulai dari wisata budaya, bahari, hingga sejarah. Pulau kecil ini juga meninggalkan jejak-jejak sejarah di masa lampau. Karena keindahan pulaunya, Banda Neira dikenal hingga ke mancanegara.

Funfact, ternyata Banda Neira merupakan penghasil pala dan lada terbesar yang ada di masa kolonial. Lantas apa saja wisata menarik yang ada di Banda Neira? Yuk simak pembahasannya di bawah ini.


Destinasi Wisata di Banda Neira

Banda NeiraFoto: Syanti/detikTravel

Wisata Alam Banda Neira

Wisata alam yang ada di Banda Neira sangat menawan. Kamu akan disuguhkan pemandangan laut biru yang berpadu dengan gugusan gunung dan pulau yang indah. Ternyata, wisata bawah laut atau snorkeling di Banda Neira disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia loh! Berikut ini wisata alam di Banda Neira.

1. Gunung Api Banda

Dikutip melalui laman Dinas Pariwisata Maluku, Gunung Api Banda adalah sebuah gunung berapi sekaligus pulau yang letaknya ada di kepulauan Banda. Terdapat sekitar 23 jenis burung yang tinggal di Pulau Gunung Api Banda. Gunung Api Banda menjadi salah satu ikon wisata yang ada di Banda.

Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 656 meter mdpl. Jalur pendakiannya bisa dibilang cukup terjal dan membutuhkan energi lebih untuk mendaki. Namun, semua lelah akan terbayar ketika menyaksikan keindahan pemandangan pulau di atas Gunung Api Banda.

2. Lava Flow

Seperti yang sudah disampaikan di atas, Banda Neira menjadi salah satu spot snorkeling atau diving terbaik di dunia. Ada puluhan spot snorkeling atau diving yang ada di sana. Dari banyaknya spot menyelam, ada satu spot yang cukup menarik perhatian, yakni Lava Flow.

Lava Flow adalah spot menyelam yang menyajikan pemandangan biota bawah laut, habitat lionfish, dan terumbu karang. Sesuai dengan namanya, Lava Flow bisa terbentuk karena adanya aliran lava yang mengalir ketika Gunung Api Banda meletus.

3. Pulau Hatta

Pulau Hatta dulunya dikenal dengan Pulau Rozengain. Pulau Hatta merupakan permata tersembunyi yang ada di Maluku. Pulau Hatta menjadi salah satu destinasi wisata alam yang tidak boleh terlewatkan saat berkunjung di Banda Neira.

Salah satu aktivitas yang bisa kamu coba di sini adalah menyelam. Pemandangan bawah laut yang disuguhkan sangat menawan. Kamu bisa melihat gugusan terumbu karang, palung, dan biota laut saat menyelam.

4. Pulau Nailaka

Wisata alam selanjutnya yakni Pulau Nailaka. Pulau ini termasuk pulau tidak berpenghuni. Namun, meskipun tak berpenghuni, Pulau Nailaka menawarkan pemandangan alam yang menakjubkan. Oleh karena itu pulau ini disebut sebagai sekeping surga yang jatuh di Bumi.

Hamparan pasir putih berpadu dengan air yang jernih menjadi daya tarik tersendiri dari pulau ini. Kamu bisa juga melakukan snorkeling di sini untuk menjelajahi dunia bawah laut di Pulau Nailaka.

5. Pulau Pisang

Destinasi wisata alam terakhir di Banda Neira adalah Pulau Pisang. Pulang Pisang kerap dikunjungi oleh politikus dan Sutan Syahrir. Oleh karena itu pulau ini juga disebut sebagai Pulau Syahrir.

Dinamai Pulau Pisang, karena terdapat sebuah tanjung pisang yang dijadikan sebagai spot untuk diving. Kedalaman rata-ratanya yakni sekitar 18 meter, dan kedalaman maksimalnya sekitar 25 meter dalamnya.

Wisata Sejarah Banda Neira

Banda Neira tidak hanya menyediakan sebuah destinasi wisata alam saja. Namun, ada juga wisata bersejarah yang ada di sana. Kamu bisa mengetahui jejak-jejak sejarah dari masa Kolonial Belanda yang ada di Banda Neira. Berikut ini wisata sejarah yang ada di Banda Neira.

1. Benteng Belgica

Dikutip melalui laman Ditjen Kebudayaan, Benteng Belgica adalah sebuah benteng pertahanan yang dibangun oleh VOC. Benteng ini dibangun pertama kalinya pada abad ke 16 oleh Bangsa Portugis. Benteng Belgica terletak di atas bukit dan berada di tengah pulau Neira.

Saat ini, Benteng Belgica menjadi salah satu dari Cagar Budaya yang wajib untuk dijaga. Untuk bisa mencapai benteng ini, kamu harus menaiki beberapa anak tangga terlebih dahulu. Dari atas benteng, kamu bisa menyaksikan indahnya pemandangan laut dan gunung api.

2. Rumah Budaya Banda Neira

Rumah Budaya Banda Neira sebenarnya adalah rumah pribadi milik sejarawan Banda bernama Des Alwi. Atau lebih dikenal sebagai anak angkat dari Bung Hatta. Namun sekarang, Rumah Budaya Banda Neira sudah dijadikan sebagai museum budaya. Museum ini berisi benda-benda bersejarah.

Seperti lukisan yang memiliki kisah mengenai pembantaian masyarakat Banda oleh para VOC di tahun 1621. Selain lukisan, masih banyak benda bersejarah lainnya yang ada di sana.

3. Istana Mini Neira

Istana Mini Neira adalah istana yang dibangun oleh VOC. Istana ini dulunya digunakan sebagai tempat tinggal Gubernur VOC. Saat itu, istana ini menjadi satu-satunya bangunan besar yang ada di Banda Neira. Di sekitar istana juga terdapat rumah-rumah yang menjadi tempat tinggal petinggi Eropa.

Sekarang, Istana Mini neira akan direvitalisasi dan digunakan sebagai Istana Kepresidenan. Kamu tetap bisa mengunjungi istana ini untuk menyaksikan jejak-jejak sejarah yang ditinggalkan oleh kolonial Belanda.

4. Rumah Pengasingan Bung Hatta

Destinasi wisata sejarah yang bisa kamu kunjungi selanjutnya adalah Rumah Pengasingan Bung Hatta. Rumah ini menjadi tempat pengasingan Bung Hatta selama 6 tahun lamanya. Kala itu, Bung Hatta diasingkan bersama dengan Sutan Syahrir. Rumah pengasingan ini memiliki luas sekitar 441 meter persegi.

Saat ini, Rumah Pengasingan Bung Hatta menjadi bagian dari Cagar Budaya dari Maluku yang ditetapkan oleh Kemdikbud. Rumah pengasingan ini bisa dibilang menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling utama yang ada di Banda Neira.

Demikian penjelasan mengenai destinasi wisata yang ada Banda Neira. Semoga bermanfaat!

(fds/fem)



Sumber : travel.detik.com

Candi Abang, Candi Sisa Reruntuhan, Makam Jeng Yah di Series Gadis Kretek



Sleman

Candi Abang menjadi perbincangan setelah muncul di salah satu adegan serial Gadis Kretek. Candi ini ada pada episode terakhir sebagai makam Dasiyah atau Jeng Yah.

Candi Abang merupakan satu candi unik yang berada di Blambangan, Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jika berkunjung ke sini, traveler tidak akan menemukan bangunan candi megah atau bertingkat seperti candi-candi pada umumnya. Di sini hanya tersisa beberapa runtuhan dari candi.

Tidak diketahui pasti kapan Candi Abang ini dibangun, diperkirakan candi ini telah ada pada masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-9 sampai abad ke-10. Pernah ditemukan sebuah prasasti bertuliskan tahun 872 Masehi pada candi ini, namun belum diketahui apakah tulisan tersebut merujuk pada tahun pembangunan candi.


Candi ini dinamakan Candi Abang karena material bangunannya yang berasal dari batu bata merah. Kata ‘Abang’ dalam bahasa Jawa memiliki arti merah.

Candi Abang bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit dari pusat kota Jogja, jalan menuju candi sudah cukup memadai, namun untuk sampai ke area candi, pengunjung harus berjalan kaki dengan jalan sedikit menanjak karena candi ini berada di atas bukit.

Terdapat gundukan tinggi menyerupai bukit yang berwarna hijau, traveler bisa melihat pemandangan alam dan gedung serta kesibukan Kota Sleman dari atas sini.

Setting makam Jeng Yah sendiri tidak bisa dilihat lagi karena sudah dibongkar. Namun candi ini tetap bagus untuk didatangi karena memiliki panorama indah yang estetik sebagai spot foto.

Candi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis KretekCandi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis Kretek (Lintia Elsi)

Tiket masuk pun tidak perlu membayar mahal-mahal, cukup dengan membayar Rp 5000 dan parkir kendaraan Rp 2000 untuk motor dan Rp 5000 untuk mobil. Traveler bisa parkir di depan warung kecil yang berada di dekat gerbang masuk candi.

Pemilik warung mengatakan bahwa warungnya juga sempat dijadikan area syuting yang dilakukan pada bulan Mei 2023 lalu itu. Proses syuting dilakukan dalam waktu 1 hari 1 malam.

Candi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis KretekCandi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis Kretek (Lintia Elsi)

“Pas itu warung saya ini disewa untuk syuting, jadinya nggak jualan. Ceritanya itu di sini untuk ngopi, sini cuma dikasih berapa aja renteng kopi terus makanan-makanan kecil. Terus sebelah ini ada jualan soto gitu,” katanya.

Jika ingin berkunjung ke sini, traveler disarankan untuk datang pada pagi atau sore hari untuk melihat sunset, karena siang hari matahari di sini sangat terik dan area candi hanya memiliki satu pondok kecil untuk berteduh. Jam operasional candi adalah pada jam 07.00 – 18.00 WIB.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

4 Spot Menyambut Sunrise Bromo dari Pasuruan, Begitu Syahdu


Pasuruan

Bromo merupakan kawasan wisata yang memiliki empat pintu masuk dari empat kabupaten berbeda. Menyambanginya melalui Pasuruan, traveler bisa menemukan empat spot terbaik.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) berada di antara empat kabupaten di wilayah Jawa Timur, tepatnya di Malang, Lumajang, Probolinggo, dan Pasuruan. Berkunjung ke Bromo, traveler bisa melalui jalur dari keempat kabupaten tersebut.

Biasanya berkunjung ke Bromo dilakukan melalui dua fase, yakni fase menikmati sunrise di bukit-bukit atau spot sunrise pada dini hari hingga matahari menampakkan diri. Kemudian, fase kedua adalah menikmati panorama Bromo dari dekat, yakni berkunjung ke area Pasir Berbisik, Bukit Teletubbies, atau menuju area kawahnya.


Nah, jika berkunjung melalui Pasuruan, traveler akan disuguhkan oleh empat sunrise spot terbaik. Bahkan, beberapa wisatawan yang berkunjung dari daerah lain pun menjadikan tempat ini sebagai destinasi.

1. Pananjakan Satu

Salah satu sunrise spot yang paling terkenal di kawasan Bromo adalah Pananjakan 1. Tempat ini berada pada ketinggian 2.770 mdpl, yakni sebagai titik tertinggi di Gunung Pananjakan yang berlokasi di sekitar Bromo.

Tempat ini juga menyandang gelar The Famous of Bromo Sunrise. Namun menuju tempat ini, akses kendaraan cukup terbatas dan padat, sehingga bagi traveler yang ingin berkunjung ke sini mesti datang lebih awal.

2. Bukit Perahu

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) setelah terbakar Kamis (7/12/2023).Pemandangan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dari Bukit Perahu. Foto: Weka Kanaka/detikcom

Salah satu spot yang tengah digemari di sekitar Gunung Pananjakan adalah Bukit Perahu. Spot ini berada tepat sebelum Pananjakan 1.

Misalnya saja Rizal Trisna. Dia adalah pemandu yang berasal dari Probolinggo.

Saat itu ia tengah mendampingi rombongan turis China untuk mengunjungi Bromo. Ia memilih lokasi Bukit Prahu sebagai pilihan karena memiliki panorama unik lewat pepohonannya.

“Ya lagi booming, boomingnya ini Bukit Perahu, termasuk baru (booming). Mungkin ini ya kayak di pohon-pohonnya ini bikin beda lah dibanding Bukit Kingkong, atau Bukit Lovehill,” ujar Rizal kepada detikcom, Kamis (7/12/2023).

Area Bukit Perahu juga menjadi pilihan ketika kami berkunjung. Berkunjung ke sini, traveler mesti tracking ringan selama 5-10 menit dengan berjalan sedikit mendaki. Ketika dini hari, tak ada penerangan di area bukit sehingga traveler mesti menyalakan senter.

Area ini terdiri dari perbukitan yang memiliki lahan cukup lapang di bagian atas, dan terdapat lahan yang agak curam di area spot fotonya.

Namun, panorama pagi hari setelah matahari telah nampak begitu indah. Panorama Bromo terlihat jelas di sini dan pepohonan di area sini juga bisa menjadi ornamen menarik untuk swafoto.

Selain itu, fasilitas di sekitar area ini juga cukup lengkap. Terdapat warung, masjid, hingga toilet umum berada di tepi jalan.

3. Bukit Kingkong atau Bukit Kedaluh

Salah satu spot yang bisa dikunjungi jika melalui Pasuruan adalah Bukit Kingkong atau Bukit Kedaluh. Lokasi sunrise point ini terletak tak terlalu tinggi dibandingkan dua spot sebelumnya. Yakni tingginya berada di 2.600 mdpl.

Kendati sudut pandang di sini akan lebih rendah, tetapi traveler tetap dapat menikmati sunrise yang muncul dari balik Gunung Batok dan Mahameru, yakni puncak Gunung Semeru.

Di kawasan ini terdapat pula pagar pengaman setinggi dada orang dewasa, sehingga ini bisa menjadi pembatas keamanan bagi traveler. Selain itu, tempat ini juga dekat dengan pedagang asongan, sehingga traveler bisa menemui jajanan hangat seperti kopi ataupun mie rebus.

Area parkir kendaraan di sini cukup luas dan memiliki beberapa pilihan untuk camping ground.

4. Bukit Cinta

Nah, salah satu yang tak kalah tenar adalah Bukit Cinta atau Love Hill. Tempat ini berada di ketinggian 2.680 mdpl dan terkadang disebut sebagai sunrise point Pananjakan 3.

Tempat ini selain menjadi spot asyik melihat sunrise, tetapi juga menyimpan legenda masyarakat setempat. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan Roro Anteng dan Joko Seger, yakni nenek moyang yang dipercaya sebagai leluhur masyarakat Tengger di Bromo.

Spot ini juga bisa menjadi alternatif jika spot Pananjakan 1 dan 2 dipadati pengunjung.

(wkn/fem)



Sumber : travel.detik.com

Memukau… Puri Agung Karangasem, Istana Peninggalan Kerajaan Karangasem


Karangasem

Puri Agung Karangasem adalah salah satu bukti peninggalan Kerajaan Karangasem yang masih eksis. Arsitektur Bali membuat puri ini sangat indah.

Anak Agung Made Kosalia, ketua badan pengelola Puri Agung Karangasem, menjelaskan bahwa pembangunan Puri Agung Karangasem dimulai oleh Ida A. A. Gde Djelantik (Stederhouder I). Pada akhir abad ke-19, pembangunan Puri Agung Karangasem dilanjutkan oleh Raja Ida A. A. Agung Anglurah Ketut Karangasem (Stederhouder II).

“Untuk Puri Agung Karangasem, sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Karangasem saat itu, Puri Agung Karangasem merupakan sebuah peninggalan kerajaan berupa istana raja yang strukturnya masih utuh sampai sekarang,” kata Anak Agung Made Kosalia.

Puri Agung Karangasem terbilang puri yang sangat istimewa, hal ini karena arsitektur bangunan Puri Agung Karangasem memadukan 3 budaya yaitu China, Eropa, dan Bali.

Walaupun dahulu merupakan istana Kerajaan Karangasem, sekitar tahun 1970 an Puri Karangasem sudah mulai ramai dikunjungi oleh wisatawan.

Daya Tarik Puri Agung Karangasem

Puri Agung Karangasem yang merupakan bangunan peninggalan sejarah Kerajaan Karangasem menyimpan banyak keindahan yang menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Salah satunya adalah arsitekturnya yang unik.

“Istana peninggalan Kerajaan Karangasem ini memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari puri lainnya, di Puri Karangasem ini arsitekturnya memadukan tiga budaya, yaitu budaya China, Eropa, dan Bali,” ujar Kosalia.

Unsur budaya China dapat traveler lihat dari sisi candi yang menggunakan Candi Gelung dan bagian ukiran pintu istana yang identik dengan bangunan China.

Budaya Eropa terlihat pada relief-relief pada tembok serta bagian atas bangunan. Terdapat hiasan berupa crown yang identik dengan Eropa. Unsur Bali dapat traveler temukan pada bentuk motif ukiran patung-patung yang banyak ada di Puri Agung Karangasem.

Karena keunikannya, banyak wisatawan baik domestik maupun asing tertarik dan ingin tau lebih jauh tentang Puri Agung Karangasem.

Hingga saat ini, taksu dari Puri Agung Karangasem tak pernah hilang. Struktur bangunannya pun masih dipertahankan sampai saat ini sebagai warisan wisata sejarah.

Arsitektur yang unik membuat Puri Agung Karangasem memiliki banyak spot foto yang instagramable dan estetik. Terlebih konsep bangunannya yang masih nampak sama seperti awal pembangunan akan membuat fotomu akan semakin indah.

Anak Agung Made Kosalia menyebut pihaknya masih terbuka terhadap wisatawan yang masuk ke tempat tinggal anggota keluarga puri, selama wisatawan merasa nyaman dan mengikuti aturan yang ada.

“Kita mempunyai aturan, untuk masuk ke merajan itu tidak boleh, masuk ke kamar suci raja juga tidak boleh. Wisatawan hanya boleh mengambil foto dari luar saja,” kata Kosalia.


Lokasi, Jam Operasional, dan Harga Tiket Masuk Puri Agung Karangasem

Puri Agung Karangasem terletak di Jalan Sultan Agung, Karangasem, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, Bali. Untuk sampai ke sini traveler harus menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari Kota Denpasar.

Destinasi bersejarah ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 – 19.00 WITA. Bagi traveler yang berkunjung akan dikenakan biaya masuk sebesar Rp 30.000 per orang.

“Biaya tiket masuk ini untuk bisa membiayai operasional karyawan yang bertugas, kita mempekerjakan sekitar 8 orang,” ujar Made Kosalia.

Tak hanya berkeliling, traveler yang ingin mengabadikan momen istimewa di sini dapat melakukan sesi prewedding dengan latar belakang bangunan kerajaan yang unik dan estetik. Untuk sesi prewedding akan dikenakan biaya sebesar Rp 500 ribu.

Penasaran bagaimana potret keindahan istana Kerajaan Karangasem? Puri Agung Karangasem adalah destinasi yang sip. Saat berkunjung tetap patuhi aturan yang ada ya traveler! Semoga informasi ini bermanfaat dan semoga liburanmu menyenangkan!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Air Terjun Lembah Tepus, Ini Harga Tiket Masuk dan Rutenya dari Stasiun Bogor


Bogor

Sejumlah destinasi yang menawarkan daya tarik air terjun atau curug mudah ditemukan di Bogor. Salah satunya yakni Air Terjun Lembah Tepus yang bisa dikunjungi saat masa liburan.

Selain air yang jernih, Curug Lembah Tepus menyajikan pemandangan alami dan suasana tenteram karena letaknya yang berada di tengah hutan. Gemercik air yang mengalir juga menambah ketenangan bagi para pengunjung yang datang.

Makin penasaran dengan wisata alam satu ini? Temukan informasi lebih lanjut mengenai Lembah Tepus pada artikel ini.


Lokasi Lembah Tepus

Air Terjun Lembah Tepus terletak di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Lokasinya beralamatkan di Pasir Reungit, Gunung Sari, Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kawasan Lembah Tepus cukup mudah dijangkau. Traveler dapat berkendara mobil atau motor pribadi untuk menuju ke sana. Detikers yang menggunakan transportasi umum seperti KRL bisa turun di Stasiun Bogor dan melanjutkan perjalanan dengan motor atau mobil.

Jarak Lembah Tepus dari pusat Kota Bogor sekitar 30 km dengan waktu tempuh kurang lebih 90 menit.

Kalau traveler dari Stasiun Bogor bisa mulai perjalanan dari Jalan Raya Gunung Batu lalu belok ke Jalan RE Abdullah untuk menuju Jalan Aria Surialaga. Kemudian lurus lewati Jalan Kapten Yusuf untuk sampai di Jalan Raya Ciapus.

Dari Jalan Raya Ciapus, ambil Jalan Gunung Malang lalu ambil Jalan Curug Luhur Indah. Ikuti jalan sampai masuk ke Jalan Hegarmanah. Dari sini, jalanan akan banyak berbelok dan traveler bisa lalui jalan besar sampai di Jalan Curug Luhur-Pasir Reungit.

Kemudian ambil Jalan Kampung Rawa Desa menuju Jalan Gunung Bunder. Dari situ, detikers sudah memasuki area TNGHS. Di kawasan ini terdapat banyak spot air terjun, dan salah satunya Air Terjun Lembah Tepus.

Aktivitas Menarik di Lembah Tepus

Lembah Tepus memperoleh ulasan 4,6 di Google Maps, berikut kegiatan menarik yang dapat traveler lakukan di destinasi wisata alam ini.

1. Trekking

Kawasan Curug Lembah Tepus bisa dijangkau dengan trekking. Ketika sampai di area parkir tempat wisata ini, traveler dapat berjalan kaki menuju spot air terjunnya melewati jalan setapak. Trekking tipis-tipis ini bisa ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit.

Selama trekking, detikers tidak akan bosan apalagi merasa lelah. Karena kamu dapat menyaksikan panorama alam yang mempesona di lingkungan wisata Lembah Tepus.

2. Berenang

Setelah sampai di lokasi, traveler akan mendapati curug bertingkat yang aliran airnya jatuh ke kolam di sekitar. Di sekelilingnya bisa ditemukan pula tumpukan bebatuan yang menghiasi.

Dengan airnya yang jernih dan sejuk, tentunya pengunjung tidak akan tahan untuk coba berenang di area kolamnya. Kalau tidak terlalu mahir berenang, detikers bisa menyewa pelampung atau berenang di kolam yang dangkal saja.

Namun kamu tidak perlu khawatir, di kawasan wisata ini juga sudah ada petugas yang berjaga untuk memantau keamanan dan keselamatan di area air terjun.

3. Berburu Foto

Kalau berada di tempat wisata dengan pemandangan cantik, berfoto dan selfie tentunya tidak boleh terlewatkan. Traveler bisa berfoto dengan latar air terjunnya yang menawan atau di beberapa spot yang telah disediakan.

Jika ingin sekadar bersantai sambil menikmati kawasan Lembah Tepus yang asri, terdapat gazebo atau bale-bale yang bisa dimanfaatkan.

4. Berkemah

Nah, traveler juga bisa banget merasakan suasana malam yang sunyi di kawasan Air Terjun Lembah Tepus. Karena di sini, tersedia area camping untuk berkemah. Detikers dapat membawa sendiri perlengkapan camping atau bisa menyewanya di sana. Pastinya dikenakan biaya lebih ya untuk aktivitas satu ini.

Waktu Operasional Lembah Tepus

Kalau tertarik ke sini, wisata Curug Lembah Tepus buka setiap hari, kok. Jam bukanya mulai pukul 07.00-17.00 WIB. Untuk yang berkemah, tentu detikers bisa mengakses air terjunnya sesukamu.

Oh iya, disarankan mengunjungi Lembah Tepus saat weekday untuk menghindari pengunjung yang membludak sehingga traveler dapat berenang dan bermain air di sekitar curug dengan nyaman.

Harga Tiket Masuk Lembah Tepus

Untuk memasuki kawasan Lembah Tepus, detikers perlu mengeluarkan biaya untuk tiket masuk seharga Rp 10.000 per orang. Kalau membawa kendaraan dikenakan tarif parkir sebesar Rp 5.000 untuk motor dan Rp 10.000 untuk mobil.

Jika ingin berkemah akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 30.000. Dan traveler dapat menyewa tenda camping sekitar Rp 150.000 per dua hari satu malamnya. Harga ini sudah termasuk penyewaan matras.

Fasilitas Lembah Tepus

Sebagai area wisata, Lembah Tepus sudah dilengkapi fasilitas penunjang yang cukup lengkap bagi pengunjung. Di sana terdapat fasilitas area parkir, toilet, gazebo atau saung, warung makan, mushola, serta ruang ganti.

Jadi gimana detikers, apakah kamu tertarik berkunjung ke Air Terjun Lembah Tepus di Bogor ini?

(fds/fds)



Sumber : travel.detik.com

7 Pilihan Pantai Terdekat Jakarta yang Bagus untuk Liburan


Jakarta

Momen liburan seperti Natal dan Tahun Baru (Nataru), tentunya dimanfaatkan banyak orang untuk pergi ke tempat wisata. Hal ini bisa jadi waktu untuk melepas penat, ataupun menghabiskan waktu bersama orang tersayang.

Bagi yang ingin berlibur menikmati keindahan pantai, kalian tidak perlu jauh-jauh ke Bali, Lombok, ataupun luar negeri lho.

Pasalnya, beberapa pantai terdekat di Jakarta yang bisa jadi pilihan tempat serupa, yang tidak kalah indah. Ketahui beberapa pantai terdekat Jakarta di bawah ini.


Pantai Terdekat Jakarta untuk Wisata

Berikut ini beberapa pantai di Jakarta yang bisa kalian pilih yang terdekat dari tempat tinggal.

1. Pantai Marunda

Pantai Marunda lokasinya di Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Pantai ini masih berada dalam satu garis pantai dengan Pantai Ancol.

Dari catatan pengalaman detikTravel, tidak ada loket tiket sehingga masuk ke pantai ini gratis. Pengunjung hanya perlu mengeluarkan uang untuk parkir, sekitar Rp 3 ribu untuk motor dan Rp 5 ribu untuk mobil.

Untuk mencapai pantai Marunda, kita akan melewati gang pemukiman warga. Ketika sampai di pantai, pengunjung bisa menikmati pemandangan pantai dengan duduk di atas tanggul beton.

Selain itu, di sana juga terdapat area mangrove meskipun tidak luas. Dulunya areanya dikenal sebagai permukiman nelayan.

Sehingga, kita masih bisa melihat perahu nelayan di sana. Beberapa perahu juga bisa disewakan untuk berkeliling pantai, dengan tarif sekitar Rp 10 ribu per orang selama 15 menit.

2. Pantai Pulau Macan

Pulau Macan beralamat di wilayah Kelurahan Pulau Kelapa, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.

Terdapat Pulau Macan Besar dan Pulau Macan Kecil (Pulau Macan Gundul). Keduanya berdekatan, dan bisa dijangkau dengan perahu motor atau kayak.

Kedua pulau ini memiliki pantai pasir putih yang indah. Di sana, kita bisa menikmati suasana pantai yang bersih dengan air yang jernih.

Di Pulau Macan besar terdapat fasilitas resor tropis dengan 12 villa, yang dikelola dengan mengedepankan eco tourism.

Sementara di Pulau Macan Kecil juga tak kalah indah. Kita akan dimanjakan dengan pantai pasir putih dengan warna emerald yang jernih, bak destinasi Taka Makassar di Labuan Bajo.

3. Pantai Pulau Tidung

Pantai Pulau Tidung berlokasi di Kepulauan Seribu Selatan bagian barat. Letaknya hanya sekitar 90 kilometer sebelah timur laut dari Jakarta.

Dilansir dari laman tidung.id, jarak tempuh dari utara Jakarta ke pulau Tidung berkisar 2,5 jam menggunakan perahu kayu, sedangkan dengan speed boat hanya 1,5 jam saja.

Selain menikmati keindahan pantai, kita juga bisa melakukan snorkeling, ataupun menaiki berbagai wahana air bisa dilakukan di sini.

Di daratannya kamu juga bisa berkeliling pulau dengan menaiki sepeda. Menikmati kuliner seafood yang segar, ditambah es kelapa muda juga tak boleh dilewatkan.

4. Pantai Untung Jawa

Pantai Untung Jawa masih bagian dari Kepulauan Seribu, tepatnya di Kepulauan Seribu Selatan.

Umumnya, dari Jakarta ke Tanjung Pasir menempuh waktu sekitar 1,5 jam. Sedangkan untuk menyeberang menggunakan kapal kayu, perlu waktu 30 menit.

Di sini, wisatawan bisa berenang ataupun snorkeling, untuk melihat keindahan bawah lautnya.

5. Pantai Florida

Melipir sedikit dari Jakarta, di Banten kita bisa menikmati Pantai Florida. Pantai ini letaknya di Jalan Raya Anyer-Sirih, Sindanglaya, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten.

Tempat wisata ini terkenal dengan hamparan pasir putih yang menawan, dan sangat cocok untuk rekreasi keluarga.

7. Pantai Tanjung Lesung

Banten memiliki beberapa pantai indah lainnya, yakni Pantai Tanjung Lesung.

Dikutip dari laman Indonesia Travel situs resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, daricJakarta, Tanjung Lesung berjarak kurang lebih 160 km.

Pantai ini bisa ditempuh dengan mobil sewaan atau bus umum dalam waktu sekitar 3-4 jam.

Di sini pengunjung bisa melihat hamparan pasir putih lembut yang luas, air laut yang jernih, tanaman hijau yang bisa membuat kalian nyaman.

Berbagai aktivitas seru seperti berselancar, menaiki perahu motor, bermain voli pantai, hingga snorkeling dan diving bisa kalian lakukan di sini.

Supaya lengkap, jangan lupa untuk cicipi makanan di warung sekitar pantainya. Apalagi sambil menikmati angin segar pantai atau saat momen sunset.

7. Pantai Sawarna

Pantai Sawarna berada di Desa Wisata Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pantai cantik ini sering disebut sebagai surga tersembunyi di Banten.

Berdasarkan pengalaman salah satu d’Traveler bernama Tbibrahasan, pantai dengan pasir putih ini membentang luas dan memiliki pemandangan yang menenangkan hati.

Selain menikmati suasana alam yang cocok untuk healing, di sana kamu juga bisa berselancar, snorkeling, dan jangan lupa untuk abadikan keindahannya dengan berfoto ya.

Itu tadi berbagai pantai terdekat Jakarta yang bisa jadi pilihan destinasi liburan kalian. So, jangan lupa untuk menikmati keindahan alam untuk memanfaatkan momen liburan kalian ya!

(khq/inf)



Sumber : travel.detik.com