Pulau Buru Surga Tersembunyi Bekas Lokasi Pengasingan Tapol



Jakarta

Pulau Buru memiliki keindahan alam yang memukau. Identik sebagai tempat pengasingan tahanan politik G30S. Juga, menjadi nama untuk empat roman karya Pramoedya Ananta Toer.

Pulau Buru merupakan salah satu pulau besar di Kepulauan Maluku dan masuk dalam daftar Provinsi Maluku. Pulau yang penuh misteri sejarah karena menjadi lokasi pengasingan para tahanan politik pada zaman pemerintahan Orde Baru Presiden Soeharto.

Nama pulau itu dikenal lewat salah satu karya dari penulis Pramoedya Ananta Toer. Dia dibuang ke Pulau Buru dan menjadi tahanan politik di sana. Di antara karyanya, Pramudya menghasilkan empat buku dan dinamai Tetralogi Pulau Buru. Pramoedya menceritakan suasana Pulau Buru saat menjadi tapol.

Baru-baru ini, Pulau Buru kembali diperbincangkan. Gara-garanya, hiasan masjid berupa emas 2,6 kg senilai Rp 3 miliar dicolong. Masjid itu masjid warga.

Penasaran di manakah pulau itu berada dan apa saja fakta menarik Soal Pulau Buru?

Lokasi Pulau Buru

Pulau Buru adalah salah satu pulau besar di Kepulauan Maluku. Dengan luas 8.473,2 km², dan panjang garis pantai 427,2 km. Menurut data BPS pada tahun 1997, jumlah penduduk Pulau Buru ialah 105.222 jiwa.


Pulau ini dihuni oleh beberapa kelompok etnis, seperti etnis asli, yakni Buru, dan etnis pendatang, yakni Ambon, Maluku Tenggara, Ambalau, Kepulauan Sula, Buton, Bugis, dan Jawa.

5 Fakta Pulau Buru

Nggak cuma menyajikan keindahan alam yang menawan, Pulau Buru ternyata juga menyimpan sejumlah fakta menarik dibaliknya.

Berikut deretan fakta menarik soal Pulau Buru yang dirangkum detikTravel.

1. Lokasi Pengasingan Tahanan Politik

Tahun 1969 hingga 1979, Pulau Buru dikenal sebagai lokasi pengasingan bagi para tahanan politik pada masa Orde Baru di Indonesia. Pulau Buru dijadikan tempat pembuangan para tapol yang diduga kuat terlibat dalam peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Pulau ini pun dianggap sebagai gulag (tempat pembuangan) untuk menindas oposisi pada rezim Orde Baru.

Banyak tahanan politik, termasuk penulis terkenal Pramoedya Ananta Toer, juga diangsingkan di pulau ini. Mereka diasingkan ke Desa Savana Jaya, Kecamatan Waepo, tanpa melalui proses siding terlebih dahulu.

2. Tertuang dalam Karya Tetralogi Pulau Buru

Penulis terkenal Pramoedya Ananta Toer menjadi salah satu orang yang ikut diasingkan ke Pulau Buru. Ia diduga bersikap oposisi dan melawan pemerintahan Orde Baru. Pengasingan di Pulau Buru tak mematikan kreativitas dari sang penulis, Pramoedya Ananta Toer.

Selama diasingkan ia mampu menulis karya yang bertajuk Tetralogi Pulau Buru. Empat series novel Indonesia, terdiri dari novel Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

3. Menyimpan Peninggalan Sejarah

Pulau Buru ternyata juga menyimpan peninggalan bersejarah, berupa benteng VOC. Terletak di Negeri Kayeli, Kecamatan Waepo. Benteng ini dibangun oleh Portugis dan direbut oleh Belanda.

Pada 1785 benteng ini dibangun kembali oleh Belanda. Bangunan berbentuk segi empat ini berbahan dasar batu bata. Pernah menjadi saksi biru masa kejayaan Kayeli sebagai pusat pemerintahan Belanda.

4. Punya Keindahan Alam yang Menawan

Pulau Buru memiliki panorama alam yang sangat indah dan masih sangat asri. Mulai dari pantai hingga bukitnya yang menawarkan pemandangan memukau.

Salah satu destinasi wisata andalan Pulau Buru adalah Pantai Jikumerasa yang terletak di Desa Jikumerasa, Kecamatan Lilialy. Pantai dengan pasir putih dan lumba-lumba yang melompat dari air menjadi daya tarik utama dari pantai ini.

Ada juga Air Terjun Waetina di desa Bara, Kecamatan Airbuaya. Air terjun ini memiliki tiga tingkatan yang membentuk sebuah kolam. Airnya pun tampah sangat jernih, ditambah lingkungan yang asri.

Bukit Tatanggo juga oke untuk traveler yang mau menikmati momen matahari terbenam di Pulau Buru. Oke banget jadi tempat healing.

5. Ada Danau Keramat nan Indah, Danau Rana

Pulau ini ternyata nggak hanya menyimpan wisata yang indah, namun juga konon keramat. Salah satunya ada Danau Rana, danau yang terletak di ketinggian sekitar 700 MDPL.

Danau yang dinobatkan menjadi danau terbesar di Provinsi Maluku ini juga menjadi salah satu pusat peradaban budaya di Pulau Buru. Danau Rana dikenal keramat oleh masyarakat sekitar.

Kekayaan budaya dan kearifan lokal setempat menjadi sisi menarik dari Danau Rana. Traveler tak hanya menikmati keindahan danau tapi juga belajar tentang peradaban di sekitar danau yang masih lestari.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Lihat Anjing Laut dalam Akuarium Mall



Jakarta

Di awal bulan Ramadan dan libur panjang ini, Jakarta Aquarium & Safari kedatangan anggota baru, yaitu seekor anjing laut. Traveler bisa nih melihatnya langsung, mengisi long weekend ataupun ngabuburit.

Anjing laut bernama Holy ini sangat menggemaskan. Akuarium pun didesain khusus menyambut anjing laut ini, dengan nuansa sea shore yang estetik. Jadi, traveler dapat duduk santai sambil melihat dia berenang, makan dan berputar-putar.

“Kami sangat senang sekali menyambut kehadiran Seal di Jakarta Aquarium & Safari. Untuk melengkapi liburan akhir pekan dalam menyambut Ramadan, kami mengajak kalian untuk melihat secara dekat dan belajar tentang singa laut,” kata Natalia Poetri Handayani, Marketing Communication Manager, Jakarta Aquarium & Safari, dalam keterangannya, Selasa (12/3/2024).


Selain berjumpa dengan Holy, pengunjung juga dapat mengikuti challenge ‘Pose, Post & Get FREE Sticker’ di photo booth ‘Seal-iously Adorable’. Bayangkan kamu menjadi mermaid di antara Seal di atas bebatuan pesisir pantai. Jika sudah berfoto, pastikan tag & mention @jakartaaquarium dan dapatkan free sticker karakter Seal special launch edition.

Anjing laut dalam Jakarta AquariumAnjing laut dalam Jakarta Aquarium Foto: (dok Jakarta Aquarium)

Beragam kegiatan menarik yang bisa dilakukan di JAQS untuk ngabuburit:

1. Keliling akuarium dan interaksi dengan hewan

Jakarta Aquarium & Safari memiliki ragam koleksi, tak hanya ikan saja namun juga ada burung dan reptil untuk edukasi para pengunjung. Di sini terdapat lebih 3.500 spesies hewan akuatik hingga ragam satwa lainnnya.

Traveler juga bisa merasakan pengalaman Animal Encounter dan berfoto bersama ular, burung macaw, bamboo shark, kecoa madagaskar, crocodile skink, bintang laut dan masih banyak lagi.

Nah, kamu juga bisa mencoba memberi makan satwa secara langsung dan lebih dekat lho. Mulai bisa memberi makan ikan pari, binturong dan pinguin humboldt sambil melihatnya berenang dengan gembira di air biru yang jernih. Jangan lewatkan juga teater putri duyung (Mermaid Show) spektakuler gabungan darat dan laut ‘Guardian of The River’ dan ‘Pearl of The South of the Sea’.

Momen 17 Agustus di Jakarta Aquarium.Pertunjukan mermaid di Jakarta Aquarium. Foto: (dok Jakarta Aquarium)

2. Mencoba ragam wahana dan permainan seru

Traveler yang suka berfoto harus mencoba swirl tank (aquarium 360 derajat), dekorasi tunnel, serta permainan Step It Up yang super seru. Wajib juga mencoba Aquatrekking dan Funtasy Diving yaitu menyelam bersama ribuan satwa akuatik.

3. Dinner romantis

Traveler yang ingin memberi kejutan untuk orang tersayang, bisa nih aquarium date sembari menikmati underwater dining romantis dengan latar belakang hiu dan pari besar. Nikmati ragam hidangan spesial sambil memberi makan penguin di Pingoo Restaurant, serta membawa pulang oleh-oleh cantik dari Ocean Wonder!.

Cara menuju JAQS

Jakarta Aquarium & Safari berada di dalam Mal Neo Soho. Menuju tempat ini mudah kok, bisa naik Transjakarta dan turun di Halte S.Parman Podomoro City lalu berjalan kaki menuju mal sekitar 5 menit.

Bagi pengguna KRL, bisa turun di Stasiun Pamerah atau Stasiun Grogol, lalu menyambungnya dengan ojek atau taksi online. Traveler yang punya kendaraan pribadi, bisa langsung saja menuju mal.

Harga tiket JAQS

Untuk harga tiket, saat weekday Rp 147.000 untuk dewasa dan Rp 112.700 untuk anak-anak. Sedangkan saat weekend Rp 171.500 untuk dewasa dan Rp 147.000 untuk anak-anak.

Tiketnya bisa traveler beli secara online melalui websitenya atau aplikasi pemesanan, dan bisa juga dibeli langsung di lokasi.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com

Berkunjung ke Masjid di Atas Awan



Jakarta

Tahukah traveler bahwa ada masjid di atas awan di Indonesia. Ya, destinasi religi ini berada di kawasan pegunungan.

Masjid peninggalan Sunan Muria atau Raden Umar Said cukup unik karena berada di puncak Pegunungan Muria. Warga menyebut bangunan itu sebagai ‘Masjid di Atas Awan’. Seperti apa penampakannya?

Masjid Sunan Muria berada di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Wisatawan atau peziarah untuk sampai ke lokasi biasanya naik ojek dari pangkalan Desa Colo menuju puncak Makam Sunan Muria.


Jika tidak naik ojek, pengunjung bisa jalan kaki dengan naik ribuan anak tangga agar sampai puncak Masjid dan Makam Sunan Muria salah satu penyebar Agama Islam di Jawa.

Masjid peninggalan Raden Umar Said hingga kini masih rutin digunakan masyarakat untuk kegiatan ibadah. Lokasi masjid bersebelahan dengan makam Sunan Muria. Biasanya ramai peziarah ke makam salah satu Wali Sanga itu.

asjid peninggalan Sunan Muria yang berada di puncak pegunungan tepatnya Desa Colo Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Senin (11/3/2024).Masjid Sunan Muria yang berada di puncak pegunungan tepatnya Desa Colo Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus (Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng)

Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria, Mastur mengatakan Masjid Sunan Muria dikenal banyak orang seperti berada di atas awan. Hal itu karena letak masjid yang berada di atas ketinggian sekitar 800-1.000 mdpl. Apalagi lokasi masjid berada di puncak Pegunungan Muria.

“Akhirnya masjid itu dibakar dan beliau mendirikan masjid yang sederhana ini. Ini ketinggian sekitar 800 mdpl. Luas tanah 19 ribu meter, ya betul kalau dilihat dari atas masjid dari atas awan,” kata Mastur ditemui di lokasi.

Mastur mengatakan ada banyak cerita sejarah mengenai asal usul Masjid Sunan Muria. Di antaranya konon Sunan Muria datang ke Colo mengikuti seekor kerbau. Kerbau itu berjalan membawa Sunan Muria sampai di puncak gunung.

Di puncak itulah Sunan Muria kemudian membangun masjid untuk ibadah masyarakat setempat pada abad ke 15-16 Masehi.

Baca artikel selengkapnya di detikJateng

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com

Kawasan Pecinan yang Tersembunyi di Kota Bandung



Bandung

Tahukah kamu, di kota Bandung ada sebuah kawasan Pecinan yang tersembunyi. Namanya Komplek Jap Loen. Begini penampakan dan lokasi tepatnya:

Meskipun tidak ada wilayah yang bisa dikatakan kampung Pecinan secara spesifik di Kota Bandung, akademisi sekaligus Pengamat Pecinan di Kota Bandung, Sugiri Kustedja melihat Komplek Jap Loen menjadi titik yang paling mendekati pecinan.

Komplek Jap Loen saat ini lebih dikenal dengan Jalan Ikan Asin di Pasar Andir, Kota Bandung. Sebutan Jalan Ikan Asin merujuk pada penamaan masing-masing jalan, yakni Jalan Kakap, Jalan Teri, Jalan Gabus, dan Jalan Pepetek.


Tak banyak yang tahu, bahwa wilayah tersebut juga disebut dengan Komplek Jap Loen, karena dibangun oleh penduduk etnis Tionghoa yang kaya raya bernama Yap Loen.

“Daerah pasar itu yang bangun orang kaya dulu, namanya Yap Loen. Makanya komplek Yap Loen. Sebaliknya, Yap Loen itu rumahnya di antara Gang Luna sama Jalan Sudirman. Saya bilang Komplek Yap Loen itu paling cocok kalau dikatakan pecinan, meski kecil. Sebab bangunannya itu masih ada sisa-sisa gaya Tiongkok. Di jalan ikan asin itu, Gabus, Pepetek,” kata Sugiri yang juga merupakan dosen Arsitektur di Universitas Maranatha tersebut.

Dalam penelitiannya yang berjudul Jejak Komunitas Tionghoa dan Perkembangan Kota Bandung, Sugiri menuliskan Yap Loen adalah seorang pengusaha tekstil dan properti. Ia aktif pada banyak organisasi Tionghoa, THHK (pendidikan), Siang hwe (perdagangan), Hong Hoat Tong (paguyuban), dan anggota dewan regentschapsraad Bandoeng.

“Yap Lun pada awalnya sebagai pedagang kain keliling. Yap Lun menjadi kaya raya ketika pecah Perang Dunia ke-1 (1914-1918). Ia kaya karena usaha impor kain dalam jumlah besar dari Jepang pada saat Eropa berperang. Sehingga Eropa tidak mampu menyuplai barang ke Hindia Belanda,” kisahnya dalam penelitian itu.

Menelusuri 'Pecinan' di Kota Bandung.Menelusuri ‘Pecinan’ di Kota Bandung. Foto: Anindyadevi Aurellia

Yap Lun menjadi developer Gg Luna (Lun-An; Yap Lun & Kok An), di daerah jalan Waringin, Pasar Andir. Daerah itu kemudian dikenal juga sebagai kompleks Yap-lun, Yaploen straat, Yaploen plein. Perusahaan pengembangnya adalah ‘Jap Loen & Co.’ dan ‘NV Bow Mij Tjoan Seng’.

Dulunya, di daerah itu terdapat sekitar 130 buah ruko satu lantai khas Tionghoa. Sugiri menyebut ruko tersebut mulanya berderet dan seragam. Saat ini wajah pertokoan tersebut sudah berubah, tapi masih ada satu hal yang menjadi ciri khas pecinan di sana.

“Yakni Thiam Tang. Bagian dinding depan ruko yang terdiri dari 3 bidang lembaran konstruksi kayu. Itu menjadi ciri paling khas di situ. Dinding depannya dari kayu, ada tiga segmen. Itu gaya dari Tiongkok Selatan. Pintunya juga kayu dan terbelah dua gitu. Dulu berderet seragam. Kalau dibuka kan, ada yang dia buka atasnya saja, ini artinya publik umum (pembeli) di luar aja,” kata Sugiri sambil memperagakan Thiam Tang tersebut.

Kayu bagian teratas biasanya ditarik agar matahari bisa masuk ke dalam toko, namun tidak sepenuhnya karena terhalang kayu tersebut. Namun jika para pedagang itu welcome, kata Sugiri, kayu bagian bawah pun akan diangkat sehingga mempermudah akses orang keluar masuk.

Pantauan di lokasi, pertokoan dengan jendela kayu yang khas tersebut masih mudah ditemui dari sepanjang Jalan Kakap menuju ke Jalan Pepetek (pasar basah tempat berjualan sayur dan ikan di belakang Pasar Andir).

Kondisi Komplek Jap Loen tersebut ramai oleh pedagang yang berjualan mayoritas kebutuhan rumah tangga seperti sabun, sampo, jajanan, ikan asin, daging ayam, sayur, dan masih banyak lagi. Kebanyakan dari mereka menggelar lapak di luar ruko, ada beberapa ruko yang dibuka untuk berjualan tapi ada pula yang tidak.

“Kalau yang tutup mah ya untuk penyimpanan stok biasanya. Kalau yang dibuka bisa untuk transaksi. Ada juga yang memang sudah kosong,” kata salah seorang pedagang yang memberikan keterangan singkat.

Sayangnya, komplek yang bisa menjadi titik pecinan di Kota Bandung ini kurang begitu terawat. Kondisi jalannya tak mulus, lapak-lapak di gelar di pinggir jalan agar memudahkan pembeli membuatnya terkesan kurang rapi. Terlebih jika menengok ke area Jalan Pepetek yang sudah padat kios dan beratapkan seng atau terpal.

Di sisi lain, Jalan Cibadak menjadi ruas jalan yang lebih dikenal sebagai pecinan di Kota Bandung. Hal ini karena mayoritas penduduknya etnis Tionghoa, serta jalanan ini dikenal dengan kulinernya yang beragam dan mudah ditemui kuliner khas atau akulturasi Tiongkok.

Namun, dikatakan Sugiri, wilayah Cibadak dirasa kurang pas jika dikenal sebagai wilayah pecinan.

“Kalau Cibadak itu sudah model arsitektur Belanda semua. Kalau populasinya (Cibadak) memang benar, tapi bangunannya sudah bangunan Belanda semua,” ucapnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah 2 Kepala Harimau di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon



Cirebon

Di Cirebon, ada masjid kuno berusia ratusan tahun, yaitu Masjid Sang Cipta Rasa. Di bagian mimbarnya, ada 2 kepala harimau bermakna filosofis. Seperti apa?

Imam Besar Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon, KH Muhammad menuturkan, Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang hingga kini masih berdiri tegak dibangun oleh para Wali Songo dengan tempo sehari semalam pada tahun 1480.

“Masjid ini sudah berusia ratusan tahun yang dibangun oleh para wali dibantu 500 orang dari kerajaan Demak, Majapahit dan Cirebon,” terangnya, Rabu (13/3/2024).


Secara arsitektur, ia menjelaskan, bila bangunan masjid ini sudah berkonstruksi anti gempa. Hal itu ditandai dengan tidak ada cabang pada pondasi masjid.

“Kalau melihat dari pondasi yang tidak memiliki cabang bangunan masjid ini anti gempa,” ucapnya.

Selain itu, terdapat banyak juga ornamen dari berbagai etnis di masjid ini sebagai tanda pluralisme mulai dari negara Arab, Cina, dan Portugis.

“Masjid ini punya beberapa ornamen mulai dari negara Arab, Cina, sama Portugis. Sudah sejak lama Cirebon dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi ditandai dengan sejumlah ornamen yang ada di rumah ibadah,” terangnya.

Alasan penamaan masjid tidak menggunakan bahasa Arab, Jumhur menyampaikan karena sebagai simbol nilai pluralisme yang dijunjung tinggi oleh para wali.

“Penamaan masjid pun tidak menggunakan bahasa Arab karena mengikuti zamannya karena sebagai bukti pluralisme,” ujarnya.

Sedangkan di sudut lain, tepatnya pada bagian mimbar, terdapat dua kepala harimau yang memiliki makna filosofi tersendiri.

“Mimbar Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki keunikan dimana terdapat dua kepala harimau yang terletak di bawah mimbar. Hal ini sebagai bila sudah berbicara harus berani untuk mempertanggungjawabkan,” tegasnya.

Inilah sepenggal bukti akan penyebaran agama islam di kota Udang dan romantisme Sunan Gunung Jati terhadap sang istrinya. Masjid Agung Sang Cipta Rasa.Masjid Agung Sang Cipta Rasa Foto: Sudirman Wamad

Uniknya lagi, jumlah pintu di masjid ini tidak hanya satu. Melainkan terdapat sembilan pintu dengan desain sederhana namun mempunyai makna yang cukup dalam.

“Kenapa ada 9, karena setiap wali memiliki pintu masuk masing-masing,” paparnya.

Masjid yang didesain langsung oleh Sunan Kalijaga ini banyak memiliki keunikan lainnya. Seperti rendahnya ukuran pintu masjid, ia menuturkan karena memiliki pesan untuk merendahkan diri sebelum menghadap sang kuasa.

“Makna pintu rendah itu jangan sombong kepada sang kuasa apalagi kalau mau menghadap-Nya,” bebernya.

Aktivitas di Masjid Sang Cipta Rasa Selama Bulan Ramadan

Selama bulan Ramadan, biasanya masjid ini selalu dipadati oleh jamaah yang melaksanakan ibadah wajib maupun sunnah.

Tidak sedikit juga jamaah yang melakukan tadarus Al Qur’an selama bulan suci Ramadan. Biasanya pada sore hari dan setelah menjalankan ibadah shalat tarawih.

Bilamana sudah masuk pada malam Lailatul Qodar biasanya masjid ini lebih padat lagi dibandingkan sebelumnya. Pasalnya banyak dari jamaah yang melakukan itikaf di masjid yang satu ini.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Jejak Batulayang, Kabupaten yang Hilang di Jawa Barat dalam Peta



Bandung

Provinsi Jawa Barat punya kabupaten yang hilang yaitu Batulayang. Begini jejak kabupaten yang hilang itu di dalam peta:

Batulayang rupanya bukan hanya sekedar desa yang masuk administrasi Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Jauh sebelum Indonesia merdeka, Batulayang pernah menyandang status sebagai kabupaten di Tanah Priangan.

Saat Batavia (Jakarta) dan Priangan (Jawa Barat) masih dalam kekuasaan Kolonial Hindia Belanda, Batulayang menjadi salah satu kabupaten di wilayah tersebut. Wilayah itu menjadi daerah perkebunan kopi yang diandalkan Bangsa Eropa.


Arsip tentang Kabupaten Batulayang pun masih tersimpan rapi dalam laporan seorang arsiparis bernama Dr Frederik de Haan Tahun 1910. de Haan juga pernah menjabat sebagai pemimpin Landsarchiev, atau Lembaga Kearsipan Hindia Belanda.

Dalam laporannya yang dibukukan berjudul ‘Priangan: De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811’, de Haan turut mencantumkan gambar peta wilayah Priangan. Gambar berjudul ‘Overzichtskaartje Bij Priangan’ itu dicantumkan dengan skala 1:2.000.000.

Laporan de Haan dari laman Courts Foundation tersebut diketahui merupakan hasil kerja sama antara Proyek Sejarah Digital di awal 2010 bersama Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Di peta yang dicantumkan de Haan dalam laporannya, terlihat Kabupaten Batulayang dikelilingi oleh sejumlah pegunungan di Priangan pada masa itu. Ryzki Wiryawan dalam bukunya berjudul Pesona Sejarah Bandung: Perkebunan di Priangan, lalu menulis perbatasan-perbatasan saat Batulayang masih menjadi kabupaten.

“Batulayang sebagai Kabupaten muncul sejak abad ke-18. Wilayahnya terdiri dari tiga distrik: Kopo, Rongga dan Cisondari (sekarang meliputi daerah: Cililin, Ciwidey dan Gununghalu),” tulis Ryzki dalam bukunya di halaman ke-59 sebagaimana disadur, Rabu (6/3/2024).

Batulayang dibatasi oleh Gunung Wayang dan Linggaratu di sebelah Timur; Sungai Ci Sokan dan Cianjur di barat; Gunung Tilu dan Ci Tarum sampai ke muara Ci Sokan di sebelah utara, Gunung Patuha dan Ci Sokan di sebelah selatan.”

Saat masih berstatus sebagai kabupaten, Batulayang memiliki Ibu Kota bernama Gajah atau Gajah Palembang yang berada di tepi Ci Tarum (sebelah Margahayu sekarang).

Rizky dalam bukunya mengatakan, pemberian nama Gajah itu ditengarai terjadi karena penguasanya zaman dulu yang bernama R Moh Kabul atau Abdul Rohman, pada 1770 membawa oleh-oleh seekor gajah saat pulang usai ditugaskan VOC ke Palembang.

Jejak Kabupaten Batulayang yang terekam arsip Leiden UniversityJejak Kabupaten Batulayang yang terekam arsip Leiden University Foto: KITLV

Sekedar informasi, terdapat sebuah desa yang bernama Gajah Mekar. Desa tersebut secara administratif berada di Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung. Dahulu wilayah ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Batulayang.

Sebelum menjadi kabupaten, Batulayang sempat masuk dalam status keprabuan di bawah kuasa Kerajaan Pajajaran. Menariknya, Abdul Rohman juga membuat tempat pemandian gajah yang kemudian di wilayah tersebut dinamakan Leuwigajah, sebuah kelurahan yang kini masuk administrasi Kecamatan Cimahi Selatan di Kota Cimahi.

Pada medio 1770-an, Batulayang dipimpin seorang bupati bernama Tumenggung Rangga Adikusumah. Namun ia meninggal dan status kepemimpinannya tidak berlangsung lama.

Jabatan Bupati Batulayang kemudian diserahkan kepada Bupati Bandung pada 1785, lantaran penerusnya, Raden Bagus, anak dari Tumenggung Rangga Adikusumah, saat itu masih berusia 12 tahun.

Pada 1794, Raden Bagus akhirnya diangkat sebagai Bupati Batulayang dengan gelar Tumenggung Rangga Adikusumah II (sumber lain menyebutkan Dalem Tumenggung Anggadikusumah). Tapi, petaka kemudian datang saat sang pewaris tahta tak sekompeten ayahnya dalam memimpin Batulayang.

Dalam tulisannya, Ryzki menyebut Tumenggung Rangga Adikusumah II begitu buruk dalam memimpin Batulayang. Ia menelantarkan perkebunan kopi di sana, yang saat itu masih jadi primadona Hindia Belanda, bahkan punya kebiasaan tak wajar lantaran gemar mengkonsumsi opium dan minuman keras.

“Berdasarkan laporan Pieter Engelhard pada 1802, Tumenggung Anggadikusumah memimpin Batulayang dengan buruk, membiarkan perkebunan kopi menjadi hutan belantara dan semak-semak. Bahkan berdasarkan laporan tanggal 24 Desember 1801, muncul usulan untuk memberhentikan Sang Bupati karena kegemarannya mengonsumsi opium dan minuman keras,” ucap Ryzki dalam tulisannya.

Karena kondisi itu, Tumenggung Rangga Adikusumah II akhirnya diberhentikan pada 1802. Praktis kemudian, Batulayang sebagai kabupaten akhirnya dihilangkan.

Wilayah Batulayang lalu digabungkan dengan Kabupaten Bandung. Sementara sang pewaris tahta, diasingkan ke Batavia hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di Mangga Dua.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Siapa Sangka, Masjid Megah Bergaya Timur Tengah Ini Ada di SPBU Tasikmalaya



Tasikmalaya

Siapa sangka, masjid megah dengan gaya Timur Tengah ini berada di sebuah SPBU di Tasikmalaya. Seperti apa penampakannya?

Tempat ibadah menjadi salah satu fasilitas dasar SPBU di samping toilet, isi angin ban dan lainnya. Di Kota Tasikmalaya, ada salah satu masjid SPBU yang mencuri perhatian, karena bangunan masjidnya megah dan tampak estetik.

Masjid tersebut bernama Masjid Jami Al Hidayah yang berada di kompleks SPBU 34.46128 Cikurubuk yang terletak di Jalan EZ Muttaqin Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.


Banyak masyarakat pengguna jalan di Tasikmalaya dan sekitarnya yang terkesan dengan keindahan arsitektur masjid berkelir putih ini, hingga menjadi magnet bagi warga untuk singgah dan beribadah.

Kesan megah langsung muncul ketika pertama kali masuk ke area SPBU yang tak jauh dari Pasar Cikurubuk ini. Masjid dua lantai tersebut langsung mencuri perhatian.

Masjid SPBU di Kota Tasikmalaya bergaya Timur Tengah.Masjid SPBU di Kota Tasikmalaya bergaya Timur Tengah. Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar

Konstruksi bangunan masjid dua lantai ini terlihat kokoh, gaya arsitekturnya mirip masjid di Timur Tengah. Ornamen-ornamen hiasan bangunan terlihat cantik dengan dominasi warna putih.

Satu kubah besar dengan lafaz Allah SWT menyembul di bagian atas bangunan, seakan menegaskan bahwa bangunan megah ini adalah rumah Allah SWT.

Beberapa batang pohon kurma terlihat menghiasi pelataran masjid, semakin menambah keindahan lanskap juga memperkuat suasana Timur Tengah.

Hawa sejuk dan adem langsung terasa ketika memasuki masjid ini. Sistem ventilasi bangunan ditata dengan baik, ditambah lantai marmer mengkilap boleh jadi turut membuat bagian dalam masjid terasa adem.

Pembangunan masjid ini rupanya belum 100 persen selesai, masih ada beberapa pekerja yang terlihat mengerjakan bagian-bagian detail bangunan. Meski demikian masjid ini sudah dapat digunakan.

“Sudah dipakai, salat Jumat, salat tarawih sudah ramai,” kata salah seorang jamaah.

Masjid SPBU di Kota Tasikmalaya bergaya Timur Tengah.Masjid SPBU di Kota Tasikmalaya bergaya Timur Tengah. Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar

Selain masjid yang megah, pihak pengelola juga sedang membangun toilet masjid yang desainnya tak kalah menarik. Desain toilet masjid yang dibangun terpisah itu juga mengusung konsep arsitektur Timur Tengah, sehingga tampak senada dengan bangunan masjid.

Rizal petugas pengawas SPBU Cikurubuk mengatakan pembangunan atau renovasi masjid ini sengaja dilakukan oleh majikannya pemilik SPBU.

“Iya dibangun oleh Bu Haji Tiktik, majikan kami yang punya SPBU ini,” kata Rizal.

Dia menjelaskan renovasi masjid dilakukan mulai tahun 2023 lalu.

“Asalnya memang masjid, kemudian direnovasi. Pembangunannya terbilang cepat. Hanya setahun sudah jadi semegah ini, waktu di awal-awal pembangunan pekerjanya banyak sekali,” kata Rizal.

Rizal menambahkan majikannya sengaja membangun masjid megah untuk melaksanakan wasiat atau pesan mendiang suaminya.

“Jadi katanya renovasi masjid ini untuk melaksanakan pesan almarhum Pak Haji Wawan, suaminya. Lebih dari itu ya sebagai fasilitas ibadah bagi pelanggan SPBU dan masyarakat,” kata Rizal.

Rizal mengakui banyak masyarakat yang terpikat oleh kemegahan masjid ini. Banyak yang menjadikan masjid ini sebagai spot foto atau dijadikan konten media sosial.

“Ya memang jadi ramai, banyak yang singgah. Banyak yang foto-foto, apalagi kalau malam kan indah sekali. Tapi ada satu larangan yaitu bagi mereka yang mau foto prewedding, itu tidak boleh,” kata Rizal.

Larangan dijadikan lokasi pemotretan pasangan pranikah itu, menurut Rizal karena dianggap melanggar etika kesopanan di dalam masjid.

“Masalahnya sering kali pasangan foto prewedding itu berfoto mesra, padahal mereka kan belum suami istri. Makanya kami melarang masjid ini digunakan untuk prewedding,” kata Rizal.

—–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Anak Sunan Gunung Jati Nyaris Dihukum Mati karena Sujud 7 Hari



Cirebon

Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan masjid legendaris yang ada di Cirebon. Berdiri pada tahun 1480, dibangun atas perintah Sunan Gunung Jati yang dibantu oleh Sunan Kalijaga bersama Raden Sepat dari Majapahit sebagai arsiteknya.

Meski sudah berusia ratusan tahun, Masjid Agung Sang Cipta Rasa masih kokoh berdiri. Selain arsitekturnya yang unik, Masjid Sang Cipta Rasa juga memiliki segudang kisah yang menarik untuk diulas lebih jauh.

Salah satu adalah kisah tentang Pangeran Jaya Kelana yang merupakan anak dari Sunan Gunung Jati yang hampir dihukum mati.


Pegiat sejarah dan naskah kuno, Farihin bercerita, Pangeran Jaya Kelana merupakan saudara dari Pangeran Brata Kelana yang tewas di lautan. Mereka berdua merupakan anak Sunan Gunung Jati dari istrinya yang bernama Syarifah Baghdad. Adik dari Pangeran Panjunan.

Berbeda dengan saudaranya, Pangeran Jaya Kelana dikenal sebagai anak yang memiliki kemampuan khusus alias majdub. Majdub diartikan sebagai seseorang yang dekat dan cinta dengan Allah SWT. Hal ini membuat beberapa sikap dari Pangeran Jaya Kelana yang sulit dipahami oleh masyarakat awam.

Salah satu sikap Pangeran Jaya Kelana yang membuat bingung masyarakat Cirebon adalah ketika Pangeran Jaya Kelana menjadi imam di Masjid Sang Cipta Rasa. Ketika melakukan gerakan sujud, Pangeran Jaya Kelana tidak kunjung bangun dari sujudnya. Konon, selama tujuh hari Pangeran Jaya Kelana tidak bangun dari sujudnya.

“Dalam situasi masyarakat ataupun orang-orang baru masuk Islam dihadapkan dengan kasus seperti itu, ini kan membingungkan umat,” tutur Farihin belum lama ini.

Melihat sikap Pangeran Jaya Kelana yang membingungkan umat, Sunan Gunung Jati dan para jaksa Kesultanan Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Kejaksaan, hampir menjatuhkan hukuman mati kepada Pangeran Jaya Kelana.

Padahal, Pangeran Jaya Kelana statusnya putra mahkota yang akan melanjutkan takhta Kesultanan Cirebon setelah Sunan Gunung Jati wafat. Namun, hukuman mati tersebut diurungkan, mengingat beliau melakukan hal tersebut dalam kondisi tidak sadar.

“Tapi karena mempertimbangkan beliau mengimami seperti itu bukan karena kesadaran beliau. Tapi karena ketidaksadaraan, yang masuk dalam posisi fana. Akhirnya hukuman mati dibatalkan,” tutur Farihin.

Sebagai ganti dari hukuman mati. Setelah bermusyawarah, para jaksa Kesultanan Cirebon bersepakat agar Pangeran Jaya Kelana, diwajibkan untuk membayar diyat atau denda berupa emas seberat badan Pangeran Jaya Kelana. Hukuman yang diberikan kepada Pangeran Jaya Kelana didasarkan pada kitab hukum bernama Kitab Adilullah.

Menurut Farihin, tegasnya sikap Sunan Gunung Jati kepada anak sendiri, karena ditakutkan sikap Pangeran Jaya Kelana yang seperti itu akan ditiru oleh masyarakat umum.

“Sementara kalau Sunan Gunung Jati mazhabnya Syafii yang sangat begitu ketat dengan urusan syariat. Sehingga, hampir dihukum mati yah karena parah. Meskipun tidak sengaja, tapi tidak bisa lepas dari hukum juga,” tutur Farihin.

Kisah Jaya Kelana yang sujud tidak bangun-bangun. Membuat ada satu pesan Sunan Gunung Jati yang sampai sekarang masih dipercayai, yakni jangan menjadi imam di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Menurut Farihin, pesan itu keluar dalam konteks membicarakan anaknya Pangeran Jaya Kelana.

“Nah mungkin waktu itu konteksnya anaknya beliau Jaya Kelana,” pungkas Farihin.

Artikel ini telah tayang di detikJabar

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Ngabuburit With A View, Ini Menoreh Dreamland Kulon Progo



Kulon Progo

Kulon Progo punya segudang tempat wisata untuk ngabuburit. Bukan sekedar menunggu waktu berbuka, pemandangannya bikin pikiran adem.

Inilah Menoreh Dreamland, tempat wisata dengan view hutan pinus. Menoreh Dreamland terletak di kawasan perbukitan menoreh wilayah Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girmulyo, Kulon Progo. Dari pusat Kota Jogja, jarak yang ditempuh untuk sampai ke sini berkisar 35 km atau 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Dibuka sejak Desember 2023 lalu, tempat yang berbatasan langsung dengan wilayah Kaligesing, Purworejo ini mengusung konsep wisata kuliner terpadu. Di mana wisatawan bisa menyantap aneka kuliner sembari menikmati keindahan hutan pinus yang ada di sekitar. Selain itu, juga tersedia beragam wahana permainan yang bisa diakses oleh masyarakat umum.


Suasana di Menoreh Dreamland, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girmulyo, Kulon Progo, Sabtu (16/3).Suasana di Menoreh Dreamland, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girmulyo, Kulon Progo, Sabtu (16/3). Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikJogja

“Jadi Menoreh Dreamland merupakan wahana wisata yang dilengkapi dengan cafe kekinian. Tempat kami menyediakan rainbow slide, kereta hutan, permainan rumah balon, kamera 360, taman play ground, outbond, hingga kolam renang,” ungkap Tri Sugianto, selaku Direktur Menoreh Dreamland saat ditemui detikJogja di lokasi Sabtu (16/3).

Wahana permainan itu bisa dijumpai di area hutan pinus sekitar Cafe Menoreh Dreamland. Biaya masuknya sebesar Rp10.000 per orang. Harga yang sama berlaku untuk penggunaan wahana seperti rainbow slide dan kereta hutan.

Bagi pengunjung yang ingin ke sini disarankan untuk datang pada sekitar pukul 16.00 WIB. Sebab, pada saat itu akan muncul kabut yang menambah syahdu suasana sewaktu ngabuburit.

“Sebenarnya cafe ini lebih mengedepankan pada kenyamanan. Jadi teman-teman yang datang ke sini akan menikmati suasana hutan pinus, nah kalau jam 4 sore kita bisa pastikan ada kabut, sehingga membuat suasana kian syahdu, jadi direkomendasikan datang sore karena untuk ngabuburit sangat cocok,” ujarnya.

Suasana di Menoreh Dreamland, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girmulyo, Kulon Progo, Sabtu (16/3).Suasana di Menoreh Dreamland, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girmulyo, Kulon Progo, Sabtu (16/3). Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikJogja

Tak hanya menjual suasana dan wahana permainan, Menoreh Dreamland juga menyajikan kuliner yang tergolong lengkap. Mulai dari aneka ayam goreng, olahan nasi, kentang, mie, camilan dan menu andalan yaitu sop buntut.

“Unggulan di sini adalah sop buntut, karena diracik dengan aneka bumbu yang dapat menggugah selera berbuka,” ucap Tri.

Pun demikian dengan minuman yang beraneka ragam. Termasuk beragam varian kopi yang cocok bagi pecinta minuman berkafein tersebut.

Untuk harga sendiri tergolong masih ramah di kantong. Baik makanan maupun minuman kisaran harganya mulai dari Rp10.000 hingga Rp50.000-an.

Salah satu pengunjung Ando, asal Jogja mengaku sengaja datang ke sini untuk mengisi waktu jelang berbuka puasa. Menurutnya tempat ini cocok untuk nongkrong karena suasana yang dihadirkan bisa jadi obat penenang dari penatnya hiruk pikuk perkotaan.

“Memang niatnya mau ngabuburit sih. Pilih di sini karena direkomendasikan oleh teman, terus pas sampai wah ternyata suasananya nyaman ya. Apalagi bisa lihat pemandangan hutan pinus dan hawanya dingin jadi semacam healing dari padatnya kota,” ujarnya.

Soal rasa kuliner yang disajikan, Andi menyebut cukup nikmat. Apalagi menu sop buntut yang menurutnya pas bagi lidah masyarakat Indonesia.

“Paling jos sop buntutnya sih, campuran rempahnya pas, jadi ada kombinasi gurih, manis, asinnya. Cocok untuk lidah saya,” ucapnya.

**

Baca artikel selengkapnya di sini.

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com

Pantai Ini Hidden Gem di Pangandaran, tapi Dilarang Berenang



Pangandaran

Namanya adalah Pantai Legokjawa di Pangandaran. Pantai ini mulai digemari sebagai tempat nongkrong karena keindahannya.

Pantai Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat mulai bersolek. Di pesisirnya dibangun warung-warung untuk menyambut wisatawan yang hadir.

Meski waktu libur Lebaran masih lama, warga setempat sejak musim munggahan sudah bersiap dan menata pantai Legokjawa. Pantai juga dibersihkan dari sampah.


Pantai yang berlokasi samping Pacuan Kuda Legokjawa tersebut memiliki daya tarik untuk dikunjungi. Di tempat tersebut terdapat batuan karang yang bisa dijadikan spot foto.

Selain itu, lapang pacuan kuda di pesisir itu menambah eksotis dan memperkaya latar belakang untuk swafoto.

Tokoh Pemuda Legokjawa Kiki Masuki mengatakan, Pantai Legokjawa dibersihkan atas inisiasi warga, karena melihat peluang banyak pengunjung yang sering nongkrong.

Suasana Pantai Legokjawa yang jadi lokasi 9 santri terseret ombakSuasana Pantai Legokjawa (Aldi Nur Fadillah/detikJabar)

“Akhirnya sejumlah warga pun berinisiasi membuka peluang dengan berdagang,” kata Kiki kepada detikJabar.

Menurutnya, pantai Legokjawa kini berubah sedikit lebih rapih. Sebelumnya hanya pohon-pohon pandan dan kelapa yang menghiasi kawasan pantai tersebut.

“Dulu kumuh, sekarang di tahun 2024 bersih dan banyak pedagang, lebih mendingan,” kata Kiki

Kiki menambahkan, apalagi sekarang bulan Ramadan, pantai pacuan Legokjawa cocok untuk ngabuburit.

“Lokasinya pas untuk tempat ngabuburit sambil menunggu magrib, kami juga di sini sediakan takjil kalau sudah sore,” ujarnya.

Pantainya Tidak untuk Berenang

Kepala Desa Legokjawa Ahrudin menambahkan sepanjang area pantai Legokjawa tidak bisa untuk berenang. Mengingat di titik tersebut merupakan pantai terbuka yang gelombangnya cukup besar.

“Kalau untuk berenang nggak bisa, tapi untuk pemandangan dan panorama alamnya nggak kalah indah,” katanya melalui pesan WhatsApp.

Menurut dia, dari Pantai Legokjawa langsung terhubung ke Pantai Madasari jaraknya tidak terlalu jauh. “Akses jalan sudah bagus ke Pantai Madasari dekat masih satu jalur,” ucapnya.

Ahrudin mengaku, senang ada banyak masyarakat inisiatif membersihkan sepadan pantai tersebut. “Namun tetap kami bimbing, karena ada beberapa lahan yang tidak boleh dibangun,” katanya.

Kendati demikian, kata Ahrudin, pihaknya meminta para pedagang menjaga ketertiban terutama kebersihan. “Supaya pesisir pantai tetap indah dan lestari,” ucapnya.

***

Baca berita selengkapnya di sini.

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com