Kebun Kelulut Sangatta, Sensasi Menyesap Madu Langsung dari Sarang Trigona



Sangatta

Pengen tahu gimana rasanya madu hutan murni yang benar-benar asli? Datang saja ke Kebun Kelulut Sangatta, Kaltim, karena di sana detikers bisa menyesap madu langsung dari sarang lebah Trigona.

Butuh effort lebih untuk menjangkau destinasi wisata edukasi ini. Karena lokasinya berdampingan dengan Taman Nasional Kutai (TNK) tepatnya di KM 4 S Desa Sangatta Selatan, Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur. Jalanan tanah sejauh 26 KM dari pintu masuk TNK dengan kontur naik turun dan berkelok harus dilalui.

Namun hamparan hijau pepohonan besar dengan beragam vegetasi di dalamnya bisa dinikmati traveler sepanjang perjalanan. Derit dahan diterpa angin, menyemarakkan suasana hutan yang riuh oleh nyanyian aneka ragam burung yang menyatu dengan alam bebas.


Setelah perjalanan panjang itu, traveler bisa beristirahat melepas penat di Kebun Kelulut Sangatta. Di sini, pengunjung bisa menikmati pemandangan rumah lebah di sela-sela pohon karet. Di atas lahan seluas dua hektar ini, ada banyak pelajaran tentang seluk beluk lebah dan manfaatnya bagi manusia. Seperti mengenal beragam jenis lebah terutama Trigona, yang hidup berdampingan dengan warga sekitar.

Trigona Sp yakni salah satu genus dari jenis melponini atau jenis lebah madu yang tidak bersengat (stingless bee). Orang awam lebih mengenalnya dengan nama Klanceng di Jawa atau Kelulut bagi warga Kalimantan. Kalimantan adalah salah satu habitat Kelulut di wilayah tropis Indonesia. Lebah ini bisa dikatakan hampir punah, karena jumlahnya yang makin sedikit bisa ditemui di hutan.

Bagi petani Sangatta, lebah kelulut sebenarnya telah mereka ketahui sejak lama. Namun keberadaan lebah kelulut sempat menghilang, akibat masifnya pembakaran sekam dan lahan usai panen padi oleh petani sekitar hutan. Kelompok Tani Trigona Reborn yang menemukan koloni Trigona lalu mengamankannya dan mempelajari lebih banyak tentang madu ini di internet.

Budidaya lebah kelulut ini dimulai tahun 2017 lalu. Dari semula hanya tiga rumah lebah, bertambah banyak menjadi 150 sarang. Selain di kawasan wisata Kebun Kelulut, anggota kelompok tani juga membudidayakan lebah kelulut ini di lahan mereka masing-masing.

Mereka menyiapkan lokasi ini menjadi sentra pelatihan budidaya lebah kelulut atau Kelulut Learning Centre (KLC) bagi warga Kutai Timur. Selain sebagai lokasi transfer pengetahuan, lokasi ini juga ditata apik agar para pengunjung nyaman. Di lahan milik salah satu anggota tani Trigona Reborn, ditata sedemikian rupa sarang lebah di antara pepohonan karet. Sebuah gazebo dibangun sebagai tempat anggota berkumpul untuk diskusi dan berbagi ilmu.

Kebun Kelulut Sangatta, Kaltim, detikers bisa menyesap madu langsung dari sarang lebah Trigona.Kebun Kelulut Sangatta, Kaltim Foto: Erliana Riady

Beberapa spot selfie didirikan untuk menarik minat wisatawan datang. Dan satu keistimewaan di Kebun Kelulut Sangatta, pengunjung bisa merasakan sensasi menghisap madu langsung dari dalam sarang lebah. Amazing… Karena pengalaman seperti ini tidak dijumpai di tempat lain. Spot ini, punya misi khusus yang ingin menyampaikan, bahwa madu kelulut produksi kelompok tani Trigona Reborn dijamin kemurniannya!.

Kebun Kelulut Sangatta, Kaltim, detikers bisa menyesap madu langsung dari sarang lebah Trigona.Kebun Kelulut Sangatta, Kaltim, detikers bisa menyesap madu langsung dari sarang lebah Trigona. Foto: Erliana Riady

Menurut Fuad, satu diantara anggota kelompok tani itu, konsep marketing ini mereka pelajari ketika pembeli merasakan madu kelulut yang rasanya didominasi asam. Karena masyarakat selama ini tahunya rasa madu itu pasti manis. Mereka menduga, madu di Kebun Kelulut Sangatta kadaluarsa atau dicampuri bahan-bahan lainnya.

“Nah untuk meyakinkan mereka, kami suruh merasakan dengan menghisap madu itu langsung dari sarangnya. Mereka bisa melihat sendiri, ketika sarang kami buka, akan tampak propolisnya, beepollennya di sarang yang ada ratunya. Dan kami menyediakan pipet supaya pembeli menghisap madu langsung dari sarang yang baru kami buka,” tutur Fuad, Minggu (17/3/2024).

Mungkin, inilah fasilitas langka yang hanya bisa dijumpai di beberapa lokasi wisata madu di Indonesia. Dan sensasi menyesap madu langsung dari sarang lebah, menjawab rasa penasaran banyak pengunjung bagaimana rasa madu yang benar-benar asli hutan dan murni tanpa bahan campuran.

“Ternyata madu klanceng murni itu rasanya kecut, agak pahit tapi segar. Madunya juga cair, gak kental atau pekat seperti yang dijual kebanyakan itu. Beda banget dengan madu-madu yang judulnya murni, tapi rasanya sangat manis,” aku Purwahono, pengunjung asal Yogyakarta.

Sensasi ini menjadi nilai jual tersendiri bagi Kebun Kelulut Sangatta. Tak heran jika tiap akhir pekan, rombongan karyawan baik swasta atau negeri sampai pelajar TK memenuhi tempat ini. Pengelola bahkan sampai membatasi jumlah kunjungan, jika dirasa volume madu di rumah lebah berkurang.

“Lebahnya gak nakal kok. Jadi Ayasa gak takut. Madunya asem rasanya, tapi aku suka,” kata Ayasa, seorang siswi TK Sangatta Utara yang berkunjung bersama teman-temannya.

Namun para pengunjung tak perlu kuatir. Produk madu Kelulut Sangatta terpajang berderet di rak gazebo siap dibawa pulang. Bahkan untuk pengunjung dari luar pulau, Fuad dan kawan-kawannya siap mengirim dengan jumlah pembelian tidak terbatas. Ada yang dikemas dalam botol ukuran 250ml, ada juga yang sachetan dengan harga ekonomis.

(ddn/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Pura Bukit Gumang, Ratusan Anak Tangga dan Gerbang Raksasa Seolah Menuju Nirwana



Karangasem

Pura Bukit Gumang berada di atas bukit. Untuk mencapai pura, pengunjung harus mendaki ratusan anak tangga dan melewati sebuah gerbang raksasa.

Pura Bukit Gumang dikenal juga dengan Pura Bukit Batu Kursi berada di Desa Adat Bugbug. Pura itu merupakan istana Ida Bhatara Gumang yang juga bernama Sang Hyang Sinuhun Kidul. Dia memiliki permaisuri Dewi Ayu Mas.

Pura Bukit Gumang berhawa sejuk. Pura itu berada di sekitar 305 meter di atas permukaan laut (mdpl). Pura itu juga termasuk Dang Kahyangan di Desa Bugbug.

Rai, koordinator penjaga gapura di Pura Bukit Gumang, menyebut sebelum masuk ke dalam pura dan berfoto, pengunjung diwajibkan membayar tiket masuk dan menggunakan sarung (kamen) serta selendang. Pengunjung juga diimbau untuk mengenakan pakaian yang sopan.

Melihat dari luar pintu masuk, Pura Bukit Gumang memiliki candi bentar atau gapura kembar dengan ukuran raksasa, tinggi menjulang dan begitu megah. Candi bentar itulah yang menjadi spot favorit wisatawan untuk berfoto.

Untuk menuju candi bentar itu, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga. Tetapi, jangan khawatir sepanjang perjalanan traveler akan disuguhkan pemandangan pepohonan hijau dan bebukitan.

Menurut Rai, wisatawan yang berkunjung diperbolehkan naik hingga ke areal pura. Tetapi ada batasannya. Pengunjung yang sedang menstruasi, tidak diperbolehkan untuk naik ke pura.

“Pura Bukit Gumang ini tinggi, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga. Kalau pengunjung kuat, diperbolehkan naik sampai ke areal pura. Namun, di sini ada ketentuan kalau sedang menstruasi tidak diperbolehkan untuk naik,” kata Rai.

Jangan kaget, jika nanti traveler bertemu dengan monyet-monyet yang ada di sekitar pura. Tapi tenang saja, karena monyet di sini tidak agresif, kecuali pengunjung membawa makanan.


Daya Tarik Pura Bukit Gumang

Pura Bukit Gumang menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib traveler kunjungi di Bali timur. Berikut beberapa daya tarik yang dimiliki oleh Pura Bukit Gumang.

1. Arsitektur Pura yang Megah

Arsitektur Pura Bukit Gumang memang tak dapat disangkal keindahannya. Pura ini menampilkan kekayaan seni arsitektur tradisional Bali yang megah. Salah satu ciri khasnya adalah adanya candi bentar atau gapura yang besar dan megah di pintu gerbang.

Struktur bangunan yang kokoh dan hiasan-hiasan tradisional Bali yang menghiasi setiap sudut pura menambah keagungan dan keelokan tempat ini. Keindahan arsitektur Pura Bukit Gumang menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung yang ingin mengagumi keajaiban seni bangunan khas Bali.

2. Pemandangan Alam Memukau

Selain keindahan arsitektur, Pura Bukit Gumang juga menawarkan pemandangan alam yang memukau. Terletak di ketinggian, pura ini menawarkan panorama indah yang meliputi hamparan perbukitan yang hijau yang luas dan menakjubkan.

Pengunjung dapat menikmati kesegaran udara sambil menikmati keindahan alam yang mempesona. Pemandangan alam yang menakjubkan ini memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi para pengunjung yang datang ke Pura Bukit Gumang.

3. Bisa Saksikan Sunset dan Berburu Spot Foto

Pura Bukit Gumang punya banyak spot foto, dengan konsep khas Bali. Terutama di gapura atau candi bentarnya yang megah. Hingga ke areal pura. Salah satu momen yang tidak boleh dilewatkan saat mengunjungi Pura Bukit Gumang adalah kesempatan untuk menyaksikan matahari terbenam. Dengan lokasinya yang berada di bukit, pura ini menawarkan pemandangan matahari terbenam yang spektakuler.

“Spot foto favorit itu dari bawah sampai atas juga jadi spot foto favorit. Apalagi di pura, itu banyak sekali bisa dapat view, terutama saat sunset. Itu cantik banget,” ujarnya.

Lokasi, Harga Tiket, dan Jam Operasional

Pura Bukit Gumang berlokasi di Kabupaten Karangasem tepatnya di Jalan Raya Bugbug, Sengkidu, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, Bali. Pura ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 – 19.00 WITA.

“Kalau bulan-bulan liburan, biasanya pengunjung banyak. Bisa sampai ratusan pengunjung yang datang. Biasanya ramai pada waktu siang hari,” kata Rai.

Pengunjung dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp 10.000 untuk domestik dan Rp 20.000 untuk mancanegara. Untuk menyewa satu set kamen dan selendang, pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp 10.000 untuk pengunjung domestik dan Rp 20.000 untuk wisatawan mancanegara.

Nah, demikian tadi ulasan mengenai Pura Bukit Gumang di Karangasem Bali yang bisa menjadi pilihan traveler untuk berlibur di Bali Timur. Jangan lupa gunakan pakaian yang sopan dan siapkan fisik yang prima ya traveler!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Sejarah Pondok Pesantren di Subang yang Didirikan di Lingkungan Komunis



Subang

Pondok Pesantren Pagelaran III di Desa Gardusayang adalah ponpes tertua di Subang. Dahulu, ponpes ini didirikan di lingkungan komunis. Seperti apa sejarahnya?

Ponpes Pagelaran III yang sudah ada sejak tahun 1962 didirikan oleh salah satu tokoh agama di Jawa Barat yaitu Kiai Haji Muhyiddin. Ponpes Pagelaran III ini pun sekarang sudah berkembang pesat dan terkenal di masyarakat khususnya di Subang.

Menurut pengasuh Ponpes Pagelaran III Kiai Haji Arie Gifary, Ponpes yang didirikan oleh Kiai Haji Muhyiddin tersebut terbagi menjadi 3.


Ponpes Pagelaran I yang terletak di Cimeuhmal, Tanjungsiang, Subang, Ponpes Pagelaran II berada di Kabupaten Sumedang, serta Ponpes Pagelaran III di Cisalak, Subang.

“Jadi sebelum didirikan Pagelaran III sudah didirikan Pagelaran I dan II. Pagelaran I didirikan padah tahun 1918 sudah satu abad lebih, Pagelaran II 1950 dan yang terakhir di Pagelaran III ini. Kiai Haji Muhyiddin ini terkenal sebagai ulama yang kharismatik di Jawa Barat dan seorang pejuang kemerdekaan,” ujar Arie belum lama ini.

Arie mengatakan, bukan hanya menjadi ulama di Jawa Barat, sosok dari pendiri Ponpes Pagelaran Kiai Haji Muhyiddin ini juga merupakan salah satu pejuang tanah air yang ikut andil dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

“Beliau dulu bergabung dengan Hizbullah dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan telah diajukan menjadi salah satu pahlawan nasional di Provinsi Jawa Barat karena telah berjuang bersama dengan santri-santrinya pada saat pertempuran di Bandung,” katanya.

Arie menceritakan, berdirinya Ponpes Pagelaran III ini berawal dari Kiai Haji Muhyiddin yang diminta oleh masyarakat Cisalak Subang untuk mendirikan sebuah Ponpes untuk memperbaiki akhlak masyarakat sekitar. Sebab, bukan tanpa alasan, dari sejarah yang ada di lokasi tersebut merupakan salah satu basis dari komunis.

Oleh karena itu, Kiai Haji Muhyiddin yang saat itu masih tinggal di Ponpes Pagelaran II Sumedang hingga akhirnya menyetujui untuk pindah ke Cisalak, Subang dan mendirikan Ponpes Pagelaran III.

“Karena memang di daerah sini dulunya basis komunis sehingga dibutuhkan seorang tokoh atau ulama untuk memperbaiki akhlak masyarakat yang berada di Cisalak ini. Pada tahun 1962 Kiai Haji Muhyiddin berkenan untuk pindah ke sini dan menamai Pondok Pesantren Pagelaran III, dan Allhamdulilah sampai dengan hari ini sudah lebih dari 52 tahun Pondok Pesantren ini masih eksis berdiri,” ucapnya.

Setelah Ponpes Pagelaran III berdiri, lanjut Arie, seiring berjalannya waktu Ponpes Pagelaran III ini pun menjadi salah satu Ponpes yang terbilang berkembang dengan sangat cepat.

Kegiatan santri Ponpes Pagelaran III SubangKegiatan santri Ponpes Pagelaran III Subang Foto: Dwiky Maulana Vellayati/detikJabar

Hingga saat ini, Ponpes Pagelaran III masih mengusung Ponpes tradisional dengan basis kitab kuning sistem sorogan atau pembelajaran kitab secara individual.

“Jadi Pondok Pesantren Pagelaran III yang didirikan oleh Kiai Haji Muhyiddin ini merupakan Pondok Pesantren tradisional. Pesantren tradisional ini mengedepankan dengan konsep pendidikan berbasis kitab kuning dengan sistem sorogan dan bandongan lah kalau bahasa dulu. Jadi itulah yang diajarkan,” kata dia.

“Selain itu juga mengembangkan kegiatan majlis taklim dan pendidikan ke masyarakat. Seiring perjalanannya dan Kiai Haji Muhyiddin wafat pada tahun 1973 dan dilanjutkan oleh salah satu putranya Kiai Haji Abdul Qoyum itu kebetulan ayah saya almarhum. Pada jaman Kiai Haji Abdul Qoyum perkembangan pesantren begitu pesat dan mulai didirikan pendidikan-pendidikan normal,” ungkapnya.

Arie menuturkan, perkembangan dari dunia pendidikan pun terus berjalan. Kini, Ponpes Pagelaran yang telah memiliki ratusan santriwan maupun santriwati tersebut telah mendirikan sekolah formal dengan tingkat SMP, SMA hingga SMK dengan sistem mondok atau boarding.

“Jadi sistem yang didirikan dan yang dilaksanakan di sini adalah sistem pesantren salafiyah yang mengedepankan pendalaman kitab-kibat tradisional atau kitab-kitab kuning hasil karangan-karangan para ulama Indonesia atau di Dunia,” tuturnya.

“Yang ke dua kita juga sudah mendirikan sekolah formal itu setingkat SMP, SMA, dan SMK tapi semuanya sistemnya boarding atau wajib mondok. Sehingga menjadi sebuah perpaduan antara sistem pendidikan umum dan pendidikan tradisional dan sekolahnya tentu berbasis pesantren atau SDP disebutnya,” sambungnya.

Dengan memadukan antara pendidikan umum dan tentunya pendidikan akhlak dari para santri, segi pendidikan di Ponpes Pagelaran III pun menjadi komprehensif karena dilaksanakan di lokasi yang berbeda akan tetapi dengan tujuan yang sama.

“Model perpaduan ini tentunya menjadi pendidikan yang komprehensif di mana pendidikan umumnya dilaksanakan di sekolah dan pendidikan akhlak pesantrennya dilaksanakan di pesantren. Sehingga membuat perpaduan dengan kurikulum yang sudah kita kemas sehingga bisa menghasilkan lulusan-lulusan terbaiknya yang alhamdulillah saat ini sudah menyebar di Indonesia,” pungkas Arie.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Semesta’s Gallery, Tempat Asyik untuk Santai sambil Melihat Karya Seni


Jakarta

Dari sekian banyak tempat hits di Jakarta, salah satu yang menarik perhatian banyak orang adalah Semesta’s Gallery. Tempat ini mendadak viral di media sosial beberapa waktu lalu karena bentuk bangunannya yang unik.

Selain itu, suasana di sekitar Semesta’s Gallery begitu asri dan tentram. Pas banget untuk travelers yang ingin healing sejenak namun tak sempat pergi keluar kota.

Ada banyak aktivitas seru yang bisa dilakukan selama berkunjung ke Semesta’s Gallery. Penasaran? Simak pembahasannya dalam artikel ini.


Bagi yang mengira Semesta’s Gallery berada di luar Jakarta, jawaban detikers salah besar. Galeri seni ini masih berada di kawasan Jakarta, tepatnya di daerah Lebak Bulus.

Sebagai informasi, Semesta’s Gallery adalah galeri seni milik seorang seniman bernama Andra Semesta. Di sini, travelers dapat melihat beragam lukisan seni hasil karya Andra.

Selain itu, masih ada berbagai aktivitas seru lainnya saat berkunjung ke Semesta’s Gallery. Apa saja? Simak berikut ini:

1. Ngopi Santai

Menikmati akhir pekan dengan healing sejenak sambil melihat pameran lukisan di Semesta's Gallery, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.Foto: Ilham Satria Fikriansyah/detikcom

Kalau datang ke Semesta’s Gallery, jangan lupa sempatkan diri untuk mampir ke kedai kopi yang terletak di lantai bawah. Selain bisa melihat pemandangan hijau, kamu bisa menikmati kopi hangat dan berbagai camilan yang harganya cukup terjangkau, mulai dari Rp 15.000 saja.

2. Melihat Galeri Seni

Tak lengkap rasanya kalau ke Semesta’s Gallery namun tidak melihat karya lukisan dari Andra Semesta. Untuk pameran karya seninya sendiri berada di lantai 2 dan 3 gedung Semesta’s Gallery.

Menikmati akhir pekan dengan healing sejenak sambil melihat pameran lukisan di Semesta's Gallery, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.Foto: Ilham Satria Fikriansyah/detikcom

Saat tim detikTravel mengunjunginya pada Kamis (14/3/2024), suasana di Semesta’s Gallery begitu sepi dan sunyi. Waktu yang pas untuk melihat dan mendalami berbagai karya seni dari Andra Semesta.

Lukisan karya Andra ini disebut sebagai ‘Music Mandala Paintings’. Lukisan ini ia buat sambil mendengarkan berbagai album musik, kompilasi lagu-lagu pribadi, atau pertunjukan musik langsung dengan menggunakan metode ‘bawah sadar’.

3. Berfoto-foto di Sejumlah Spot

Rasanya bukan anak ‘Jaksel banget’ kalau tak menyempatkan diri untuk berfoto di Semesta’s Gallery. Bangunannya yang aesthetic serta suasana hijau di sekitarnya memang sangat cocok untuk foto-foto instagramable.

Tapi perlu diingat, jangan sampai merusak atau menyentuh karya seni dari Andra Semesta. Tetap patuhi semua aturan selama berada di Semesta’s Gallery, ya!

4. Melihat Rusa

Menikmati akhir pekan dengan healing sejenak sambil melihat pameran lukisan di Semesta's Gallery, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.Foto: Ilham Satria Fikriansyah/detikcom

Yap, detikers tidak salah baca. Saat berkunjung ke Semesta’s Gallery, kamu dapat melihat sejumlah rusa yang ada di dalam kandang. Tak hanya itu, kamu juga bisa melihat sejumlah ayam dan burung yang berada di kandang terpisah.

Lokasi kebun binatang mini ini terletak di pintu masuk Semesta’s Gallery. Jadi, jangan sampai terlewat ya

5. Healing Sejenak

Suasana di sekitar Semesta’s Gallery memang begitu hijau dan menenangkan. Kebetulan saat tim detikTravel datang ke galeri seni tersebut sedang diguyur hujan. Alhasil, suasananya begitu syahdu dan benar-benar bikin healing sejenak.

Ada sejumlah pengunjung yang datang ke Semesta’s Gallery untuk bekerja atau istilahnya WFA (Work From Anywhere). Wajar saja, sebab kondisi di sekitarnya yang tenang membuat orang-orang lebih mudah berkonsentrasi dalam menyelesaikan tugas.

Semesta’s Gallery menyediakan sejumlah fasilitas umum demi menunjang para pengunjung, di antaranya:

  • Toilet
  • Tempat parkir
  • Pameran seni
  • Mushola
  • Kedai kopi
  • Bangku taman
  • Spot foto instagramable

Jam Buka dan Harga Tiket Masuk

Semesta’s Gallery buka dari pukul 10.00-17.00 WIB (Selasa-Jumat) dan 09.00-18.00 WIB (Sabtu-Minggu). Namun selama Ramadhan, jam buka Semesta’s Gallery mengalami perubahan dari pukul 11.00-16.00 WIB (Selasa-Minggu).

Sebagai informasi tambahan, Semesta’s Gallery akan tutup selama libur lebaran dari tanggal 5-19 April 2024.

Bagi pengunjung yang datang ke Semesta’s Gallery tidak dikenakan biaya tiket masuk alias gratis. Jadi, kamu bisa datang langsung ke galeri seni milik Andra Semesta, asalkan jangan datang di hari Senin karena tutup.

Semesta’s Gallery berlokasi di Jalan Taman Sari I Nomor 77, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Bagi kamu yang mengendarai mobil, harap hati-hati ketika masuk di Jalan Taman Sari I karena jalannya cukup sempit.

Selain menggunakan kendaraan pribadi, kamu bisa datang ke Semesta’s Gallery menggunakan transportasi umum. Tetapi, detikers harus nyambung menggunakan ojek daring agar bisa sampai di Semesta’s Gallery.

Kalau naik MRT, turun di stasiun MRT Lebak Bulus Grab. Setelah itu pesan ojek daring dengan tujuan Semesta’s Gallery.

Sementara itu, jika menggunakan TransJakarta maka disarankan turun di Halte Lebak Bulus. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan ojek daring untuk sampai di galeri seni.

Ingin menikmati suasana dan hasil karya lukisan Andra Semesta di Semesta’s Gallery? Simak tips-tipsnya berikut ini:

  • Datang saat weekday karena lebih sepi
  • Kalau berencana datang di weekend, usahakan datang sejak pagi karena belum ramai pengunjung
  • Bawa payung apabila cuaca sedang turun hujan
  • Persiapkan baterai smartphone dalam kondisi penuh untuk berfoto-foto
  • Ajak teman atau pasangan saat berkunjung ke Semesta’s Gallery.

Demikian pembahasan mengenai Semesta’s Gallery. So, tertarik untuk berkunjung ke sana?

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Di Balik Makam Keramat Kudus, Ada Kisah Cinta Tak Direstui Putri Sunan Muria



Kudus

Sebuah makam keramat di Desa Kandangmas, Kudus menyimpan kisah cinta sedih dari Putri Sunan Muria yang tak direstui oleh orang tuanya. Seperti apa kisahnya?

Makam di Dusun Masin, Kecamatan Dawe yang dikeramatkan oleh warga setempat itu, dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku.

Raden Ayu Nawangsih adalah putri dari Sunan Muria. Sementara Raden Bagus Rinangku adalah seorang santri keturunan dari Kerajaan Mataram. Keduanya saling jatuh cinta, namun tak mendapatkan restu kedua orang tua mereka.


Ketua Pengurus Makam Keramat Punden Masin, Sumartono pun menceritakan awal mula sepasang kekasih itu bisa jatuh cinta.

Menurut cerita Sumartono, Raden Bagus ditugaskan oleh Sunan Muria untuk mengawasi padi di sawah. Sedangkan, Raden Ayu sering mengirim makanan kepada Raden Bagus saat menjaga padi di sawah. Dari situlah keduanya jatuh cinta.

“Raden Bagus diberikan pekerjaan oleh Sunan Muria untuk jaga padi di wilayah Muria Selatan atau sekarang Masin. Raden Ayu sering datang untuk mengirim makanan, witing tresno jalaran saka kulino, keduanya jadi tertarik,” kisah Sumartono.

Namun sayang di balik hubungan asmara keduanya, ternyata ada santri dari Pati bernama Cibolek yang naksir Raden Ayu. Tapi sayang, Raden Ayu tidak suka dengan Cibolek karena dia jelek. Raden Ayu pun lebih memilih Raden Bagus.

“Cibolek itu jelek, cebol (kecil) memiliki keinginan untuk mempersunting Raden Ayu. Raden Ayu tidak memperhatikan Cibolek, tetapi yang diperhatikan adalah Raden Bagus,” imbuhnya.

Hubungan antara keduanya diawasi oleh Cibolek. Cibolek diam-diam mengawasi keduanya yang sedang menjalin asmara di sawah. Cibolek lalu melapor ke Sunan Muria bahwa keduanya berpacaran di sawah.

“Mereka dilaporkan Cibolek kepada Sunan Muria, ‘Anak panjengan Raden Ayu tidak sopan, di sawah dia pacaran dengan Raden Bagus’. Akhirnya dibuktikan oleh Sunan Muria. Kenyataannya, mereka pacaran. Akhirnya di rumah diberikan arahan oleh Sunan Muria. Namun mereka tetap menjalin hubungan,” lanjut Sumartono yang sudah belasan tahun menjadi Ketua Pengurus Makam Keramat Masin itu.

Setelah peristiwa itu, Cibolek melihat lagi mereka pacaran di sawah. Cibolek melapor lagi ke Sunan Muria. Dia bilang kepada Sunan Muria, bahwa padinya di sawah dirusak, habis dimakan burung.

Tapi saat Sunan Muria datang melihat padinya, ternyata tidak ada yang rusak. Semuanya masih utuh. Sunan Muria malah murka melihat anaknya yang masih menjalin hubungan dengan Raden Bagus.

Sunan Muria bahkan mengancam akan memanah putrinya sendiri. Nahas, ancamannya itu justru menjadi kenyataan dan dia melepaskan anak panah ke putrinya.

Raden Bagus yang melihatnya dan langsung menghadang anak panah itu. Anak panah itu lalu mengenai Raden Bagus hingga ia meninggal dunia.

“Raden Ayu didatangi oleh Sunan Muria, karena anaknya sudah senang dengan Raden Bagus, ‘Saya tidak mau pulang kalau tidak bersama dengan Raden Bagus’. ‘Kalau tidak mau pulang saya jemparing (anak panah)’. Karena berniat jemparing, ada setan, akhirnya lepas. Raden Bagus tahu kalau Raden Ayu mau kena Jemparing, terus dihalangi oleh Raden Bagus, dan akhirnya meninggal. Akhirnya dimakamkan di sini,” terang dia.

Raden Bagus dan Raden Ayu akhirnya dimakamkan di Masin yang sekarang dikenal Desa Kandangmas. Warga pun berdatangan untuk ziarah di makam tersebut, terutama saat hari Rabu, Kamis, dan Jumat.

Makam Itu Dikeramatkan Warga Setempat

Makam Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku kini dikeramatkan oleh warga setempat. Camat Dawe Fammy Dwi Arfana membenarkan hal tersebut.

Para peziarah datang untuk sekadar berdoa, hingga berharap mendapatkan jodoh. Dengan berdoa di makam keramat tersebut, warga berharap mendapatkan berkah dan ridho berkat menggelar sedekah kubur tersebut.

“Kami dari Kecamatan hanya bisa berdoa, semoga mendapatkan keberkahan kita semua. Tujuan untuk bersedekah berharap ridho allah,” katanya ditemui di lokasi.

Kompleks Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku yang berada di Dukuh Masin Desa Kandangmas Kecamatan Dawe, Kamis (7/3/2024).Para peziarah di Kompleks Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Makam tersebut berada di atas sebuah bukit. Untuk sampai di makam, warga harus berjalan kaki sejauh 300 meter menaiki jalan setapak.

Suasana makam terlihat asri. Di sekitar makam terdapat banyak pepohonan jati yang masih rindang dan lebat. Warga tidak berani mengambil kayu jati itu karena dikeramatkan oleh warga setempat.

“Terus banyak yang datang ke sini. Sudah sore sampai subuh tidak pulang-pulang maka disabda menjadi kayu jati. Jati ini adalah sabda dari orang-orang yang takziah yang tidak mau pulang,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Menilik Indahnya Beragam Karya Lukisan di Semesta’s Gallery


Jakarta

Semesta’s Gallery merupakan salah satu tempat yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu. Galeri seni ini mengusung konsep open space sehingga membuat pengunjungnya merasa betah berlama-lama di sini.

Daya tarik utama dari Semesta’s Gallery adalah pameran lukisan karya seniman Ardiandra Achmadi Semesta atau kerap disapa Andra Semesta. Karya lukis yang dipamerkan di sini dilengkapi dengan keterangan, sehingga pengunjung bisa mengetahui makna dari lukisan tersebut.

Jika penasaran, travelers bisa datang langsung ke Semesta’s Gallery yang terletak di Jalan Taman Sari I Nomor 77, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Oh ya, selain melihat pameran seni, detikers juga bisa bersantai menikmati suasana yang asri dan sunyi.


Dibuka pada 2022, Dirancang oleh Arsitek Ternama

Semesta’s Gallery dibuka untuk umum pada Oktober 2022. Saat itu, pembukaan galeri bertepatan dengan pameran pertama yang diadakan di sana, yaitu ‘Rasasastra Union Art Festival’. Pameran itu digelar oleh art collective & curatorial platform, Rasasastra.

“Pembangunan galeri sudah in progress dari tahun 2018. Arsiteknya adalah almarhum Ahmad Djuhara, yang pernah menjabat sebagai ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI),” kata Andra Semesta saat dihubungi detikTravel.

Menilik indahnya lukisan karya Andra Semesta di galeri seni miliknya, yaitu Semesta's Gallery.Foto: Ilham Satria Fikriansyah/detikcom

Menurut Andra, tujuan dari menciptakan Semesta’s Gallery adalah agar bisa menjadi wadah untuk berbagai macam seniman dan kesenian. Tak hanya seni rupa, namun juga bisa seni musik maupun seni performance lainnya.

“Kami harap gallery/venue kami terus bisa menjadi tempat yang nyaman untuk berbagai macam seniman untuk bisa mengekspresikan diri mereka. Semoga selalu ada komunikasi yang baik antara seniman dan penikmat seni, dari segala umur dan background. Yang pasti kita mau menunjukkan karya-karya yang inspiratif dan unik, menunjukkan keindahan dalam segala variasinya,” ujar Andra.

Di Semesta’s Gallery juga terdapat studio seni pribadi milik Andra Semesta. Harapannya, ia ingin mengembangkan kesenian miliknya sambil membantu menjadi host untuk berbagai pameran acara yang digelar di tempatnya.

“Saya tidak bisa hanya berhenti untuk membuat studio pribadi, why not membuka ruang untuk masyarakat yang berkesenian bisa berekspresi dan menikmati seni di sini juga,” ungkapnya.

Untuk melihat berbagai lukisan karya Andra Semesta, travelers perlu mengunjungi lantai 2 dan 3 Semesta’s Gallery. Sebab, di lantai 1 merupakan kedai kopi yang menjual berbagai makanan dan minuman dengan harga terjangkau.

Saat berkunjung ke sana, tim detikTravel melihat berbagai lukisan karya Andra yang begitu memukau. Dalam salah satu keterangannya, lukisan Andra disebut sebagai proyek Music Mandalas Painting.

Ada makna dibalik kata ‘Mandala’ dalam proyek karya seninya. Jadi, ‘Mandala’ dalam arti murninya berarti lingkaran. Secara tradisional, seni mandala yang biasanya memiliki 4 atau 8 sisi dan penuh dengan gambar tokoh dewa-dewa, umumnya digunakan untuk meditasi atau praktisi spiritual dalam agama Hindu atau Buddha.

“Music Mandala Paintings adalah proyek di mana saya melukiskan apa yang saya rasakan Ketika mendengarkan berbagai macam jenis musik. Biasanya sambil mendengarkan album spesifik, berbagai macam playlist, atau melukis sebagai performance art, sambil suatu live show berjalan, berkolaborasi dengan musisinya. Biasanya menggunakan kanvas lingkaran,” jelas Andra kepada detikTravel.

Sebagian besar karya lukis di galeri seninya muncul sebagai lukisan abstract-expressionist, yang menurut Britannica, merupakan seni lukis abstrak yang populer pada tahun 1950-an di kawasan Barat.

“Saya cukup terinspirasi dengan keindahan dan desain Mandala tradisional, tetapi jenis Mandala yang mendorong saya untuk akhirnya banyak berkarya adalah praktik Mandala psikologikal yang dimulai oleh psikiater Carl Jung.”

“Carl Jung sempat melakukan praktisi di mana dia menggambar apapun yang dirasakan mengikuti bawah sadarnya di atas bentuk lingkaran setiap hari, dan berbagai macam bentuk dan simbol yang keluar di dalam lingkaran-lingkaran tersebut menjadi titik refleksi diri,” kata Andra.

Andra mengatakan, praktik Mandala psikologikal ini telah dilakukan sejak masih duduk di bangku SMA, sekitar tahun 2007-2009. Hal tersebut membuat Andra jadi kerap menggambar apapun yang dirasakannya di atas lingkaran hampir setiap hari.

Memasuki 2010, Andra mengaku ada banyak hal dari dalam dirinya yang perlu diekspresikan. Kala itu, ada sejumlah album musik yang dirasa cocok dengan hal-hal yang perlu ‘ditumpahkan’ ke dalam bentuk gambar.

“Lalu saya coba nyalakan album-album (lagu) itu sambil melukis di kanvas lingkaran. Karya yang muncul menurut saya begitu indah dan ekspresif dan saya merasakan flow berkarya yang mengalir lebih baik dari sebelumnya. Sejak saat itu, Music Mandalas menjadi suatu konstan dalam kehidupan saya sebagai seniman,” ungkapnya.

Dari sekian banyak karya lukis yang telah dibuat, salah satu lukisan favorit Andra dalam proyek Music Mandala Paintings adalah sambil mendengarkan album Pink Floyd pertama, yaitu The Piper at the Gates of Dawn yang dirilis pada 1967.

“Melodi-melodi, lirik-lirik, dan eksperimen musik frontman Pink Floyd pada saat itu, Syd Barrett, sangat menginspirasi saya, dan pembuatan lukisan ini mengalir dengan flow yang susah dijelaskan,” ujar Andra.

Menilik indahnya lukisan karya Andra Semesta di galeri seni miliknya, yaitu Semesta's Gallery.Foto: Ilham Satria Fikriansyah/detikcom

Karya lukisan tersebut pernah dipajang di Semesta’s Gallery dari November sampai Desember 2023. Namun untuk saat ini karyanya sedang disimpan di gedung Semesta’s Home, yang masih satu area dengan Semesta’s Gallery.

Apabila sedang tidak ada pameran khusus dari seniman atau kolektif seni lainnya, Andra memajang berbagai macam karya di ruang-ruang exhibition Semesta’s Gallery. Rata-rata merupakan proyek Music Mandalas, tetapi ada juga karya lainnya seperti seri semi-abstract ‘Animal Symmetry’.

Selain itu, ada juga seri konseptual gabungan fan art pokemon dan tribute untuk seniman-seniman yang telah menginspirasi Andra Semesta, yakni ‘Art-type Stones Eeveelutions’.

Target dan Harapan Andra Semesta

Sejak dibuka pada 2022, banyak masyarakat khususnya anak muda yang berkunjung ke Semesta’s Gallery. Selain melihat karya seni, pengunjung juga banyak yang berfoto-foto di dalam galeri seni atau sekadar menikmati pemandangan hijau di sekitarnya.

Oh ya, di area Semesta’s Gallery juga terdapat sejumlah coffee shop. Daya tarik lainnya dari tempat ini adalah terdapat mini zoo yang dihuni hewan-hewan seperti rusa, burung, dan ayam.

Walau sudah memiliki galeri seni sendiri, Andra Semesta masih memiliki target ke depannya. Ia berharap Semesta’s Gallery dapat terus digunakan sebagai ruang untuk mengekspresikan hal-hal seunik mungkin dari berbagai seniman.

Menikmati akhir pekan dengan healing sejenak sambil melihat pameran lukisan di Semesta's Gallery, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.Foto: Ilham Satria Fikriansyah/detikcom

“Sebagai seorang seniman saya ingin terus berkembang dan bisa membuat berbagai macam karya dan proyek kesenian lainnya. Bukan hanya seni rupa tapi dalam alternatif lainnya juga,” jelasnya.

“Saya berharap berbagai macam seniman akan terus bisa menggunakan ruang dalam dan luar Semesta’s Gallery untuk ekspresi-ekspresi yang seunik mungkin,” pungkas Andra.

Di 2024, ada sejumlah display koleksi terbaru yang dipamerkan di Semesta’s Gallery, di antaranya:

  1. Instalasi Music Mandala scarves yang dikaitkan di ceiling ruang display open space lantai 2. Hal ini dapat memberi efek melambai-lambai ketika ditiup angin.
  2. Instalasi komposisi Mandala kayu di open space lantai 2.
  3. Tenun Sumba karya Naomi Njamur yang merupakan koleksi Ria Pasaman, ibu dari Andra Semesta, yang dipajang di exhibition room indoor lantai 2.

So, tertarik untuk berkunjung ke Semesta’s Gallery? Jika iya, jam operasional galeri seni ini buka sejak pukul 10.00-17.00 WIB (Selasa-Jumat) dan 09.00-18.00 WIB (Sabtu-Minggu). Sebagai pengingat, setiap Senin galeri tutup untuk umum.

Namun, selama Ramadhan ada perubahan jam buka Semesta’s Gallery menjadi pukul 11.00-16.00 WIB yang berlaku setiap Selasa-Minggu. Lalu, galeri seni akan tutup selama libur lebaran dari tanggal 5-19 April 2024.

Oh ya, tidak ada biaya tiket masuk alias gratis saat berkunjung ke Semesta’s Gallery. Jadi, kamu bisa mengajak teman atau pasangan untuk menikmati suasana sambil melihat karya lukisan Andra Semesta.

Demikian pembahasan mengenai Semesta’s Gallery. Kalau bingung menghabiskan waktu di akhir pekan, langsung saja datang ke galeri seni ini ya, travelers!

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Kafe Estetik di Tuban, Punya View Hutan Mangrove



Badung

Tak banyak yang tahu, kafe satu ini mempunyai view hutan mangrove yang cantik dan estetik. Namanya Koffietons Mangrove, Tuban.

Dari luar, kafe ini terlihat seperti kafe pada umumnya. Memiliki tema cozy yang didominasi dengan warna hitam dan tumbuhan hijau di depannya.

Meskipun berlokasi di kawasan Tuban yang ramai, Koffietons menawarkan suasana yang berbeda. Ketenangan yang berpadu dengan indahnya pemandangan hutan mangrove dapat traveler temui di sini.

Koffietons Mangrove, Tuban, Badung, BaliKoffietons Mangrove, Tuban, Badung, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Memasuki kafe, traveler akan disambut dengan ramah oleh resepsionis kafe dan disajikan mineral water dingin dengan cuma-cuma. Konsepnya yang cozy modern dengan suasana yang tenang membuat Koffietons menjadi tempat favorit untuk nongkrong dan bekerja atau mengerjakan tugas.

Terdapat banyak pilihan tempat duduk. Namun tempat duduk yang paling menarik di Koffietons Tuban adalah tempat duduk yang menghadap langsung ke hutan mangrove. Lebatnya pohon mangrove dan ketenangan airnya akan membuat traveler betah berlama-lama di kafe ini.

Tak jarang spot ini menjadi spot favorit pengunjung untuk hunting foto yang kece. Bahkan harus berebutan untuk mendapatkan tempat duduk yang menghadap langsung ke hutan mangrove ini. Cuma ada empat kursi loh!

Koffietons Mangrove, Tuban, Badung, BaliKoffietons Mangrove, Tuban, Badung, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Berlokasi di Jalan Bypass Ngurah Rai Tuban 33a-34b, Kabupaten Badung, Koffietons Tuban menawarkan pilihan menu beragam. Mulai dari kopi yang strong, kopi susu, hingga menu non kopi lainnya. Tidak lupa traveler juga bisa menikmati pilihan makanan ringan seperti Basque Cheese Cake dan makanan berat seperti Dory Sambal Matah.

Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau. Untuk menu minuman mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu dan menu makanan mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 110 ribu. Koffietons Tuban buka setiap hari mulai pukul 11.00 – 21.00 WITA.


Dengan segala yang disuguhkan oleh Koffietons Tuban, tidak mengherankan bahwa tempat ini menjadi idola bagi para penggemar kopi dan pecinta spot estetik. Atmosfer yang tenang, pemandangan yang menenangkan, serta hidangan yang menggugah selera, semuanya menyatu dalam sebuah paket komplit di kafe ini.

Jadi, bagi traveler yang lagi cari tempat nongkrong estetik dan nyaman, Koffietons Tuban adalah jawabannya. Ingat datang lebih awal ya, jangan sampai kehabisan spot terbaik di Koffietons Tuban.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Pantai Bugel Banten (Bugle Beach Mega Camara), Surga Tersembunyi di Pandeglang



Pangandaran

Pantai selalu memberikan suasana yang menyegarkan, menenangkan, dan menyenangkan. Anginnya yang sepoi-sepoi dan pemandangannya yang indah sangat cocok untuk kamu yang ingin rehat setelah seminggu penat bekerja.

Pantai Bugel Banten, merupakan salah satu pantai yang menyuguhkan surga indah tersembunyi yang terletak di Kabupaten Pandeglang, Banten.

Pantai ini memiliki garis pantai yang indah dengan hamparan pasir putih yang berpadu dengan karang. Langsung saja berikut ulasannya untuk kamu yang pengin liburan ke sini.


Daya Tarik Pantai Bugel Banten

Pantai Bugel Banten (Bugel Beach Mega Camara, eks Mega Camara Golf Course) bisa dibilang memiliki lokasi yang unik karena letaknya yang tersembunyi. Kamu akan melewati hutan dan tanah sebelum akhirnya menemukan pantai yang indah dan cukup tersembunyi ini.

Selain itu jika di pantai umumnya banyak pohon kelapa, berbeda dengan pantai satu ini, kamu akan disuguhkan dengan hamparan rumput hijau di setiap bibir pantai yang bercampur dengan batu karang.

Tempat ini sangat cocok untuk liburan bersama keluarga di akhir pekan. Anak-anak akan sangat senang karena bisa bermain air atau pasir yang ada di bibir pantai ini.

Untuk kamu yang ingin berkemah, tempat ini juga sangat cocok karena pemandangan malamnya yang menawan. Gratis untuk mendirikan tenda, dan tidak ada batasan waktu yang diberikan untuk berkunjung.

Kamu juga tidak perlu repot-repot mempersiapkan makanan untuk berkemah, karena di sana juga terdapat warung yang menjual berbagai makanan dan minuman ringan.

Lokasi dan Aksesibilitas Pantai Bugel Banten

Pantai ini berjarak sekitar 2 jam dari Pandeglang melewati Tanjung Lesung dan Pantai Batu Hideung dengan pemandangan jalan yang sangat indah.

Kondisi jalan menuju lokasi juga masih cukup bagus tanpa kendala. Kemudian jika sudah sampai di gerbang pintu masuk, lokasi menuju bibir pantai sekitar 5-10 menit.

Harga Tiket dan Jam Buka Pantai Bugel Banten

Harga tiket masuk untuk pengunjung pantai ini mulai dari Rp 10.000,00.

Pantai ini juga buka selama 24 Jam, sehingga tidak perlu khawatir karena kamu bisa menikmati keindahan pantai ini setiap saat.

Nah itu dia sedikit ulasan mengenai Pantai Bugel Banten yang merupakan surga tersembunyi di Kabupaten Pandeglang, Banten. Jangan lupa untuk mengajak teman, keluarga, atau pasanganmu ke sini untuk menghabiskan akhir pekan bersama.

(inf/inf)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Unik di Probolinggo, Berbentuk Kubah tapi Tanpa Tembok



Probolinggo

Di Probolinggo, ada sebuah masjid unik. Masjid ini berbentuk kubah, tapi tidak memiliki tembok. Inilah Masjid Al-Ikhlas alias Masjid Kurung.

Bagi pengguna jalan yang melintas di jalur pantura Probolinggo-Situbondo, tepatnya di Kecamatan Pajarakan, pasti sudah tidak asing lagi dengan masjid ini.

Masjid ini unik, berbeda dengan masjid lainnya. Masjid itu bernama Masjid Al-Ikhlas atau orang-orang mengenalnya sebagai Masjid Kurung.


Itu lantaran bentuknya menyerupai kurungan atau kubah sangkar tanpa adanya dinding di pinggirannya. Masjid kurung ini dibangun tahun 1979 oleh Pabrik Gula (PG) Pajarakan.

Saat itu, masjid ini dijadikan tempat ibadah untuk para pekerjanya. Sebelum dibangun masjid, mulanya tempat tersebut musala lalu dikembangkan dan dibangun menjadi masjid.

“Sebelum dibangun jadi masjid, awalnya hanya musala kecil dan memang digunakan untuk ibadah bagi warga yang bekerja di PG Pajarakan. Karena itu kurang lebih pada tahun 1979 oleh pihak pabrik dibangun menjadi masjid,” kata Takmir Masjid Kurung, Suyono, Sabtu (16/3) akhir pekan lalu.

Masjid Kurung Prajarakan ProbolinggoMasjid Kurung Prajarakan Probolinggo Foto: M Rofiq

Pembuatan masjid kurung tanpa dinding ini, lanjut Suyono, diinisiasi pimpinan PG Pajarakan kala itu bernama Ir Djoko Suandono. Seluruh konstruksi bangunannya mengadopsi dari bangunan Masjid Agung Kabupaten Jember.

“Hanya saja perbedaannya kalau Masjid Agung di Jember itu menyerupai kura-kura, kalau Masjid Al-Ikhlas di sini atau Masjid Kurung ini menyerupai batok atau kurungan,” jelas Suyono.

Sejak awal dibangun, hingga saat ini, bentuk konstruksi masjid berkapasitas 400 orang ini tidak pernah diubah sedikitpun.

Hanya saja, pengurus atau pengelola masjid biasanya sebatas mengganti atau memperbarui cat hingga melakukan penambahan pagar di sekeliling masjid.

“Perlengkapan yang ada di dalam masjid juga tidak berubah mulai dulu. Seperti mimbar, lampu gantung di tengah-tengah dan lain-lainnya. Jadi mulai awal dibangun sampai sekarang, perawatannya lebih fokus perbaruan cat atau pergantiannya saja,” ungkapnya.

Sementara itu, selama bulan Ramadan, masjid tersebut tetap beroperasi seperti biasa. Salah satu aktivitasnya yaitu membagikan takjil, tarawih dan tadarus.

“Untuk kegiatan keagamaan sama seperti masjid yang lain, untuk bulan Ramadan kali ini selain untuk berjamaah ada agenda buka puasa bersama, bagi-bagi takjil, salat tarawih dan tadarus,” tandasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Tongkat KH Hasyim Asy’ari dan Kisahnya Bisa Dilihat di Museum Ini



Jombang

Tongkat Kiai Hasyim Asyari dan ratusan koleksi tentang penyebaran Islam di Nusantara bisa traveler lihat di Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (Minha) Jombang.

Tongkat itu konon menjadi simbol restu sang guru untuk mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926. Saat ini, baru beberapa memorabilia KH Hasyim Asy’ari yang dipajang di ruangan khusus di Minha.

Memorabilia itu antara lain tongkat kayu, kursi, centong nasi, serta kitab kuno. Di antara koleksi tersebut, tongkat Mbah Hasyim-lah yang paling menarik.


Koordinator Minha, Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, tongkat Mbah Hasyim yang dipajang saat ini hanya replikanya. Tongkat kayu jati itu berdimensi panjang 87 cm, diameter atas 2,5 cm, sedangkan diameter bawahnya 1,4 cm.

“Tongkat asli hanya diperlihatkan saat peresmian Minha oleh Presiden pada 2018. Setelah itu, tongkat diganti replika dengan alasan keamanan,” kata Wicaksono.

Menurut Wicaksono, kitab-kitab kuno koleksi Mbah Hasyim juga menarik. Koleksi tersebut dipinjam dari perpustakaan Ponpes Tebuireng, yakni pesantren yang didirikan Mbah Hasyim. Terdapat tulisan tangan Mbah Hasyim pada kitab tersebut.

“Ada catatan-catatan kecil yang ditulis Mbah Hasyim sendiri di dalam naskah. Kalau dikaji menarik karena menggambarkan pemikiran Mbah Hasyim saat itu,” terangnya.

Museum KH Hasyim Asy'ari yang menyimpan sejumlah koleksi. Salah satunya tongkat milik pendiri NU tersebut.Tongkat milik pendiri NU di MINHA. Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim

Saat ini, Minha mempunyai 317 koleksi tentang sejarah masuknya Islam ke nusantara dari abad 11 sampai 19 masehi, serta perkembangan Islam di Indonesia abad 20-21 masehi.

Ke depan, Wicaksono berencana menambah koleksi tentang ketokohan Mbah Hasyim dan cucunya, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

“Tahun ini kami berencana mencari koleksinya Mbah Hasyim dan Gus Dur. Rencana kami, karena museum ini juga melayani perziarah Makam Gus Dur, kami akan membuat ruang pamer sendiri menyajikan informasi ketokohan dari Mbah Hasyim hingga Gus Dur,” ujarnya.

Asisten Kurator Minha, Ari Setiawan menjelaskan, Mbah Hasyim mempunyai beberapa tongkat untuk aktivitas sehari-hari. Salah satunya tongkat pemberian guru Mbah Hasyim, Syaikhona Kholil dari Bangkalan, Madura.

Menurut cerita, lanjut Ari, gagasan mendirikan NU datang dari KH Wahab Chasbullah, pengasuh Ponpes Tambakberas, Jombang. Kiai Wabah menyampaikan ide tersebut kepada Mbah Hasyim yang kala itu menjadi rujukan para ulama di Jawa dan Madura.

Mbah Hasyim pun meminta petunjuk kepada Allah SWT. Petunjuk yang datang kepadanya kala itu berupa restu dari gurunya, Syaikhona Kholil.

Sang guru mengutus santrinya, KH As’ad Syamsul Arifin menyerahkan tongkat kepada Mbah Hasyim pada 1923. NU didirikan 3 tahun setelahnya, yakni pada 1926.

“Jadi, tongkat ini diberikan Syaikhona Kholil kepada Mbah Hasyim sebagai simbol restu pendirian NU,” jelasnya.

Minha juga memajang kitab kuno koleksi Mbah Hasyim. Menariknya, terdapat tulisan tangan Mbah Hasyim dalam Bahasa Arab pada sampul dalam kitab kuno ini.

“Mbah Hasyim menulis beliau beli seharga Rp 6 pada 20 Jumaditsaniyah 1343 hijriyah,” tandas Ari.

Jam Buka dan Lokasi MINHA

Bagi traveler yang tertarik berkunjung ke Minha, lokasinya masih satu kompleks dengan Wisata Religi Makam Gus Dur di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang. Museum 3 lantai ini buka setiap hari pukul 09.00 WIB-14.30 WIB.

Koleksi di lantai 1 berupa kitab-kitab kuno para ulama nusantara, mahkota dan kipas berbahan emas, perhiasan, mata uang islam, prasasti, pakaian, rempah-rempah yang dijual saudagar Islam kala itu hingga porselin dan tembikar dari Banten.

Beragam koleksi tersebut dibagi berdasarkan area masuknya Islam ke Nusantara abad 11-19 masehi. Mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, NTT, NTB, Maluku, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.

Sedangkan lantai 2 sejarah Islam dalam melawan kolonialisme, lantai 3 tentang Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

——

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com