Tips Penting dan Apa Saja yang Dilarang


Jakarta

Suku Baduy memiliki daya tarik wisata yang kuat hingga banyak turis yang ingin berkunjung ke tempat tinggal mereka di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Karena mereka masih memegang teguh adat istiadat, maka pengunjung juga harus mengikuti aturan di sana. Sebelum berwisata ke Desa Kanekes, kamu harus tahu tips penting dan hal-hal yang dilarang di sana.

Tips Penting Berkunjung ke Desa Baduy

Berikut ini sejumlah tips penting jika kalian berkunjung ke Desa Baduy:


1. Persiapkan Badan Bugar

Saat berkunjung ke tempat tinggal suku Baduy, persiapkan fisik yang sehat dan bugar. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu 2-4 jam jalan kaki. Buat kamu yang tidak terbiasa berjalan jauh, lebih baik melatih fisik rutin sebelum berangkat.

2. Kenakan Alas Kaki Nyaman

Siapkan alas kaki yang nyaman karena medan di sana adalah perbukitan dengan jalan berbatu licin. Meski orang Baduy nyaman tanpa alas kaki, sebaiknya kamu tidak perlu menirunya. Pakailah sepatu untuk trekking agar tidak mudah terpeleset dan cedera.

3. Pakai Pakaian Sopan dan Nyaman

Jangan sampai salah kostum. Orang Baduy masih sangat menjaga adat istiadat. Gunakanlah pakaian yang sopan dan nyaman.

4. Bawa Botol Minum

Siapkan botol minum sendiri agar tubuh tetap terhidrasi selama perjalanan jauh. Jangan bawa botol sekali pakai karena lingkungan di sana terbebas dari sampah plastik.

5. Bawa Payung atau Jas Hujan

Wilayah Desa Kanekes sering hujan. Ingat untuk membawa payung atau jas hujan agar tidak kehujanan di jalan.

6. Bawa Uang Tunai

Selalu bawa uang tunai untuk membeli makanan atau oleh-oleh. Sebagian UMKM sudah menggunakan QRIS, tapi banyak penjual yang masih menggunakan transaksi tunai.

Hal yang Dilarang di Desa Baduy

Dikutip dari buku Cerita dari Suku Baduy (2020) terbitan Kemdikbud yang disusun Tuti Adhayati dan Mantox Studio, serta dari situs indonesia.travel, berikut ini 14 hal yang tidak boleh dilakukan saat berkunjung ke Desa Baduy:

1. Bicara Kotor

Saat masuk ke Desa Baduy, kalian harus menjaga kesopanan, termasuk dalam perkataan. Jangan sampai berbicara kotor, meski itu hanya candaan yang biasa dilakukan dengan teman.

2. Pria-Wanita Tidur Satu Ruangan

Bagi tamu rombongan yang menginap, maka pria dan wanita akan ditempatkan di ruang terpisah, kecuali pasangan suami-istri.

3. Bertindak Asusila

Melakukan tindakan asusila juga dilarang keras dilakukan di Desa Kanekes atau Baduy. Tetap jaga etika ketika masuk wilayah orang lain.

4. Membuang Sampah Sembarangan

Desa Baduy sangat menjaga kelestarian lingkungannya. Maka pengunjung jangan membuang sampah sembarangan, khususnya sampah plastik dan kaleng. Ini juga termasuk puntung rokok.

5. Bawa Wadah Nasi dari Plastik dan Kertas

Jika ingin membawa bekal nasi dari rumah, jangan menggunakan wadah dengan unsur plastik dan kertas. Pakailah daun pisang sebagai pembungkusnya.

6. Membawa dan Menggunakan Sabun, Sampo, dan Pasta Gigi

Untuk menjaga kelestarian alam, pengunjung tidak boleh membawa dan menggunakan sabun, sampo, serta pasta gigi saat berkunjung ke Desa Baduy. Kandungan kimianya bisa mengotori air sungai.

7. Memotret dan Merekam Video

Memotret dan merekam video masih diperbolehkan di Baduy Luar. Namun, di lingkungan Baduy Dalam (Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawana), tidak diperbolehkan memotret dan merekam video.

8. Membawa Radio dan Pengeras Suara

Pengunjung dilarang membawa radio, tape, dan pengeras suara ketika masuk ke kawasan Baduy karena bisa mengganggu ketenangan masyarakat Baduy.

9. Membawa Gitar

Piknik biasanya lebih seru jika membawa gitar. Namun hal ini tidak diperbolehkan di Desa Baduy. Mereka memiliki beberapa alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, seperti celempung, angklung buhun, karinding kuskus, dan suling.

10. Membawa Senjata

Tempat wisata mana pun melarang pengunjung membawa senjata tajam dan senjata api. Ini bisa mengganggu ketertiban serta membahayakan diri sendiri dan orang lain.

11. Menebang/Mencabut Tanaman

Pengunjung dilarang menebang atau mencabut tanaman di kawasan Baduy. Selama perjalanan jangan iseng memetik atau mencabut tanaman, meskipun kecil.

12. Masuk ke Hutan Lindung

Wisatawan dilarang masuk ke hutan lindung dan hutan tutupan/leuweung kolot. Hutan ini sangat dilindungi kelestariannya, sehingga tidak boleh sembarangan masuk.

13. Membawa Miras dan Narkoba

Minuman keras (miras) dan narkoba dilarang dibawa masuk ke kawasan Baduy. Jika nekat, tentu pengunjung yang bersangkutan bisa berurusan dengan kepolisian.

14. Masuk ke Baduy Dalam di Bulan Kawalu

Di bulan Kawalu sesuai penanggalan Baduy, masyarakat luar dilarang berkunjung ke Baduy dalam selama 3 bulan berturut-turut.

Itulah tadi berbagai tips penting bagi kalian yang ingin berwisata ke Desa Baduy, lengkap dengan hal apa saja yang dilarang di sana.

(bai/inf)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Pohon Angsana di Kulon Progo, Dipercaya Tongkatnya Sunan Kalijaga



Kulon Progo

Sebuah pohon angsana raksasa di Kulon Progo dipercaya warga sebagai jelmaan tongkat Sunan Kalijaga. Bagaimana kisahnya?

Pohon angsana yang juga punya nama lain Sonokembang ini bisa dijumpai traveler di Dusun Semaken 1, Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang, Kulon Progo.

Lokasi persisnya berada di dalam area pemakaman umum yang terletak tepat di belakang masjid peninggalan Sunan Kalijaga, yakni Masjid Jami’ Sunan Kalijaga Kedondong atau biasa disebut Masjid Kedondong.


Wujud pohon angsana ini terlihat mencolok jika dibandingkan dengan tumbuhan lain yang ada di area pemakaman itu. Selain karena menjadi satu-satunya pohon angsana yang tumbuh di sana, ukuran pohon yang raksasa juga jadi alasannya.

Ketinggian pohon ini nyaris seukuran menara sutet dan lebar batangnya mencapai lebih dari 1,5 meter. Sementara daunnya tumbuh rimbun hingga hampir menutupi sekujur pohon. Namun sayang, belum ada penelitian tentang berapa usia pohon ini.

Pohon raksasa ini mempunyai cerita tak biasa. Sebab, tanaman itu diyakini merupakan peninggalan Wali Songo, tepatnya berasal dari tongkat yang ditancapkan oleh Raden Said atau dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Imam Masjid Kedondong, Solihudin bercerita, kisah pohon angsana ini bermula ketika Sunan Kalijaga bersama muridnya, Adipati Teroeng atau Panembahan Bodho, sedang dalam perjalanan menuju wilayah Demak, Jawa Tengah.

Di tengah perjalanan, Sunan Kalijaga mengajak Adipati Teroeng untuk rehat. Lokasi peristirahatan berada di tepi Sungai Tinalah, Semaken.

Saat sedang rehat, Sunan Kalijaga berpikiran untuk membangun sebuah masjid. Ide ini muncul karena dia ingin agar agama Islam bisa lebih dikenal masyarakat.

“Sewaktu beristirahat di dekat Sungai Tinalah ini, kemudian Sunan Kalijaga berinisiatif membangun suatu tempat ibadah agar bisa digunakan warga desa, sehingga Sunan Kalijaga memerintahkan Adipati Teroeng untuk membangun masjid,” ujar Solihin saat ditemui di lokasi, Selasa (19/3).

Kondisi Pohon Angsana yang tumbuh di sekitar Masjid Jami' Sunan Kalijaga Kedondong, Dusun Semaken 1, Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang, Kulon Progo, Selasa (19/3).Pohon Angsana yang tumbuh di sekitar Masjid Jami’ Sunan Kalijaga Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikJogja

Sunan Kalijaga lalu menancapkan sebuah kayu sebagai patok awal lokasi masjid yang akan dibangun oleh Adipati Teroeng. Selanjutnya Sunan Kalijaga meninggalkan muridnya untuk melanjutkan perjalanan menuju Demak.

“Kemudian Sunan Kalijaga melanjutkan perjalanan ke Demak. Namun, sebelum berangkat itu Sunan Kalijaga memberi tanda berupa tongkat yang jadi patokan lokasi berdirinya masjid,” ujarnya.

Karena dapat mandat dari gurunya, maka Adipati Teroeng lantas memulai proses pembangunan masjid. Namun sebelum itu Adipati Teroeng mengecek dulu apakah lokasinya sudah pas.

Setelah diteliti ternyata patok lokasi yang dipilih Sunan Kalijaga terlalu dekat dengan sungai. Menurut Adipati Teroeng, lokasi ini dinilai tidak aman karena berpotensi abrasi sehingga titiknya digeser menjauhi sungai.

“Jika tetap dibangun sesuai patok, ada potensi lokasi terkikis aliran sungai. Sehingga Adipati Teroeng berinisiatif menggeser titik lokasi agak ke timur sejauh 100 meter dari titik awal tadi,” terang Solihudin.

Masjid Ini Sudah Ada Sejak Abad 15

Singkat cerita Masjid Kedondong akhirnya berdiri. Dalam catatan sejarah, masjid ini sudah ada sejak abad 15 atau tepatnya tahun 1477 Masehi.

Bersamaan dengan perkembangan Masjid Kedondong, muncul sebuah pohon angsana yang tumbuh di sisi barat atau belakang masjid. Pohon ini berdiri di sekitar patok awal tempat di mana masjid Kedondong seharusnya didirikan.

Oleh karena itu, warga meyakini jika pohon angsana tersebut merupakan tongkat kayu milik Sunan Kalijaga. Keyakinan warga kian menguat setelah mengetahui hanya ada satu pohon angsana di lokasi itu.

“Jadi kemudian tongkat yang ditancapkan Sunan Kalijaga, ternyata tumbuh jadi pohon angsana. Anehnya pohon ini tidak bisa berkembang biak, di sini cuma ada satu pohon tersebut yang letaknya ada di belakang masjid,” pungkas Solihudin.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Batu Parsidangan, Tempat Hukuman Mati Pelanggar Adat di Samosir



Jakarta

Pulau Samosir yang indah itu punya cerita yang menarik. Di sana terdapat sebuah batu, yang digunakan sebagai tempat persidangan orang yang melanggar adat.

Namanya Batu Kursi Persidangan Huta Siallagan. Sesuai namanya, batu ini dijadikan tempat hukuman mati di Huta Siallagan, Samosir.

Batu Kuris Persidangan dipaparkan juga dalam MUKADIMAH Jurnal Pendidikan, Sejarah, dan Ilmu-ilmu Sosial berjudul ‘Partisipasi Masyarakat Lokal dalam Pengembangan Objek Wisata Sejarah Batu Kursi Persidangan Siallagan, Desa Siallagan Pindaraya, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir’ oleh Deliana Sinaga, Arkilaus Wabia & Aidina Rizky Salsabilah.


Batu Kursi Persidangan Huta Siallagan diperkirakan sudah berusia 200 tahun dan dikelilingi dengan batu-batu yang disusun setinggi 1,5 meter. Dahulu, batu persidangan digunakan untuk mengadili pelaku kejahatan atau pelanggar hukum adat.

Batu Kursi Persidangan di Huta Siallagan, Samosir. (instagram.com/hutasiallagan)Batu Kursi Persidangan di Huta Siallagan, Samosir. (instagram.com/hutasiallagan) Foto: Batu Kursi Persidangan di Huta Siallagan, Samosir. (instagram.com/hutasiallagan)

Batu kursi di kampung Siallagan ditempatkan di dua lokasi sesuai aturan dan fungsi yang berbeda. Kelompok batu pertama diletakkan di tengah Huta Siallagan sebagai tempat rapat bagi raja atau pengetua adat untuk membicarakan dan mengadili perkara kejahatan.

Sementara itu, kelompok batu kedua diletakkan di bagian timur dari batu kursi pertama sebagai kursi untuk raja, penasihat raja, tokoh adat serta masyarakat yang ingin menyaksikan pelaksanaan hukuman mati.

Pelaksanaan hukuman di Batu Persidangan

Konon, hukuman mati juga dilaksanakan tidak disembarangan hari. Biasanya, dilakukan pada hari baik atau di ‘hari buruknya’ si pelaku kejahatan. Biasanya, yang melakukan kejahatan berat adalah orang-orang yang punya ilmu hitam.

Beberapa waktu lalu, detikcom berkunjung ke Huta Siallagan. Kejahatan ringan hingga berat diputuskan di batu ini. Ada lima orang yang akan memutuskan hukuman, yaitu dua penasehat korban, dua penasehat terdakwa dan satu penasehat kerajaan.

“Mencuri, itu dipanggil kemari. Kalau mau bebas harus tebus, itu keputusan raja, dua tindak pidana umum, membunuh, memperkosa. Perkelahian antar kampung, kalau tidak ada hubungan dengan kewibawaan kerajaan biasanya keputusannya di tangan kelima penasehat ini,” kata Tour Guide Batu Siallagan, Gading Jonson.

Batu Persidangan di Huta Siallagan Samosir (Farid/detikSumut)Batu Persidangan di Huta Siallagan Samosir (Farid/detikSumut) Foto: Farid Achyadi Siregar

Hukuman tertingginya adalah dipenggal oleh raja. Warga yang mendapatkan keputusan hukuman mati di antaranya mereka yang mengganggu kewibawaan kerajaan, panglima perang musuh yang tertangkap, serta orang yang mengganggu keluarga atau istri raja.

Pelaksanaan hukuman pancung dilakukan di Batu Parsidangan kedua, dimana ada batu panjang untuk tempat memenggal orang. Terdakwa akan ditutup matanya, tangannya diikat ulos. Jika menyimpan ilmu kebal atau ilmu gaib, kemampuannya akan dihisap oleh raja dengan semacam tongkat sakti.

Setelah itu, barulah dia akan dipenggal oleh algojo. Tidak hanya dipenggal, jantung dan hatinya diambil. Nah, ada cerita, di zaman dahulu, daging terdakwa dibagikan kepada seluruh hadirin yang menonton pengadilan itu untuk dimakan.

Namun, jangan lantas ini dianggap praktek kanibalisme yang liar ya. Dahulu memang ada kepercayaan untuk memakan daging, hati, jantung dan darah terdakwa untuk mendapatkan ilmu tinggi.

Sekarang batu ini menjadi salah satu daya tarik wisata di Samosir. Lokasinya di Desa Siallagan Pindaraya, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

(sym/sym)





Sumber : travel.detik.com

Misteri Telaga Warna dan Mitos Dieng yang Masih Dipercaya


Jakarta

Telaga Warna dan Dieng menyimpan misteri yang masih banyak dipercaya masyarakat. Inilah misteri Telaga Warna dan mitos-mitos yang ada di Dieng.

Telaga Warna di Dataran Tinggi Dieng adalah salah satu tempat wisata menarik di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Dinamakan demikian karena warna telaga ini bisa berubah ubah, dari warna hijau, kuning, hingga pelangi.

Di balik keindahannya, ada misteri Telaga Warna dan mitos-mitos tentang Dieng yang masih banyak dipercaya oleh sejumlah masyarakat. Hal ini termasuk asal-usul, tempat keramat, hingga tradisi adat yang masih dijalankan.


Misteri Telaga Warna dan Asal-usulnya

Ada sejumlah versi cerita rakyat mengenai asal-usul Telaga Warna ini. Sebagian masyarakat mempercayainya dan sebagian menganggapnya sebagai dongeng belaka.

Berikut ini beberapa cerita mengenai misteri Telaga Warna dan penjelasan ilmiahnya:

1. Pakaian Ratu dan Putri

Perubahan warna pada Telaga Warna diyakini berasal dari pakaian ratu dan putri.

Suatu hari, seorang putri dan ratu mandi di sebuah telaga. Setelah melepas dan menggantung pakaiannya di pohon, tiba-tiba angin kencang menerbangkan pakaian mereka ke telaga.

Kemudian warna air telaga berubah sesuai dengan warna pakaian yang dikenakan sang ratu dan putri.

2. Cincin Bangsawan

Legenda lain mengisahkan sebuah cincin bangsawan yang menyebabkan air Telaga Warna berubah warnanya.

Suatu hari, cincin bangsawan tersebut jatuh ke dalam telaga. Konon, cincin tersebut sangat sakti sehingga bisa membuat warna air telaga berubah-ubah.

3. Kalung Putri Raja

Ada juga kisah tentang kalung putri raja yang membuat warna telaga berubah-ubah. Kisah ini sering dipentaskan dalam drama Telaga Warna.

Kisahnya tentang Putri Gilang Rukmini yang diberikan hadiah kalung untuk ulang tahunnya yang ke-17. Akan tetapi sang putri menolak dan membuang kalungnya.

Tingkah laku Putri Gilang Rukmini ini membuat permaisuri dan rakyat menangis. Bersamaan dengan peristiwa ini, tiba tiba muncul mata air yang tiada henti hingga menenggelamkan kerajaan. Warna di telaga ini pun berubah-ubah karena pantulan dari permata kalung sang putri.

4. Cupumanik Astagina

Masyarakat juga ada yang mengaitkan Telaga Warna dengan kisah Karmapala tentang Cupumanik Astagina, pusaka milik Batara Surya yang diberikan kepada Dewi Indradi. Namun, Dewi Indradi menunggu pujaan hatinya, Resi Gotama, yang sedang berperang memperebutkan dirinya.

Kemudian Batara Surya menyamar menjadi Resi Gotama dan memadu kasih dengan Dewi Indradi. Setelah menunjukkan wujud aslinya, Batara Surya memberikan cupumanik itu kepada Dewi Indradi.

Cupumanik itu disimpan oleh Dewi Indradi. Dewi Indradi lalu menikah dengan Resi Gotama dan melahirkan tiga orang anak, yaitu Dewi Anjani, Subali, dan Sugriwa. Namun keberadaan cupumanik itu diketahui Resi Gotama dan akhirnya dibuang.

Cupumanik itu jatuh terpisah di dua telaga, yaitu telaga Sumala dan Telaga Nirmala. Perubahan warna di Telaga Warna diyakini karena tumpahan dari isi pusaka tersebut.

5. Penjelasan Ilmiah

Secara ilmiah, perubahan warna telaga tersebut terjadi karena kandungan sulfur atau belerang yang cukup banyak di dalam telaga. Saat sinar matahari mengenai telaga, maka warna permukaan air akan tampak berwarna warni.

Mitos-mitos dan Misteri Dieng

Berikut ini sejumlah mitos dan misteri terkait Dataran Tinggi Dieng:

1. Gunung Kosmik

Dikutip dari buku Dieng: Data Geografis dan Wacana Umum (2021) oleh Otto Sukatno, Dieng diyakini sebagai gunung kosmik atau gunung primordial di masa purba. Tinggi gunung ini tidak terkira besarnya.

Akibat proses geologis dan vulkanologis, gunung itu terpenggal. Sisa-sisa penggalan itu membentuk Dataran Tinggi Dieng. Dataran tinggi ini sangat luas hingga muncul banyak puncak bukit dan puncak gunung di sekeliling Dieng.

2. Makhluk Penjaga Hutan Telaga Warna

Di sekitar Telaga Warna terdapat hutan yang masih dianggap keramat. Dikutip dari buku Bawana Winasis Dieng: Budaya Tak Terkatakan (2021) terbitan Kemdikbud, ada makhluk penjaga hutan bernama Kebondaru berbentuk kerbau dengan telinga yang menjalar ke bawah dengan badan dan tanduk yang besar.

Hutan ini merepresentasikan jagad alam tempat sumber air, makanan, dan sumber penghidupan lainnya. Kepercayaan ini membuat warga tetap melestarikan dan menjaga hutan dari perusakan oleh manusia.

3. Candi Tertua di Jawa

Berdasarkan situs indonesia.go.id, Dieng juga menyisakan misteri adanya candi yang diyakini sebagai candi tertua di Jawa, sedikit lebih tua dari Kompleks Candi Gedong Songo di Gunung Ungaran dan lebih tua dari Borobudur.

Tidak banyak prasasti yang ditemukan di sini. Satu-satunya prasasti adalah yang ditemukan di dekat Candi Arjuna. Disebutkan bangunan candi ini dibuat tahun 808-809 M. Namun, siapa yang membangun candi ini masih belum terungkap.

Awalnya diperkirakan ada puluhan bahkan mungkin mencapai 100 candi. Karena banyak peristiwa alam, candi yang ditemukan hanya tersisa 8 buah ketika ditemukan pada awal 1800-an. Pemerintah Hindia Belanda lalu merekonstruksi bangunan tersebut.

4. Banyak Gua Keramat

Ada banyak gua keramat di kawasan Dieng, seperti Gua Semar, Gua Jaran, Gua Sumur, dan Gua Penganten yang berada di dekat Telaga Warna.

Gua Semar dipercaya sebagai tempat paling keramat. Konon, tempat ini digunakan raja-raja Jawa terdahulu untuk bersemedi dan mendapatkan wahyu.

Ada juga Gua Jaran yang konon dijaga oleh seorang resi bernama Kendali Seto (penunggang kuda putih). Gua ini sering jadi tempat tujuan ziarah pasangan yang kesulitan memiliki keturunan.

Gua Pengantin juga dipercayai masyarakat sebagai tempat keramat bagi pasangan yang ingin menikah.

5. Sumber Mata Air Suci

Banyak pula sumber mata air di Dieng yang dianggap keramat dan suci oleh masyarakat. Sumber mata air ini berwujud tuk, sendang, sungai, sumur, atau telaga.

Salah satunya adalah Tuk Bimo Lukar yang merupakan tempat penyucian diri yang telah ada sejak dibangunnya candi-candi di Dieng. Tuk Bimo Lukar ditemukan setelah dilakukan babad alas Dieng.

Tumenggung Kolodete saat itu membuka kembali dan bertapa di sana. Dari pertapaan itu, ia menemukan tujuh tuk lainnya.

Tuk Bimo Lukar juga menjadi tempat penyelenggaraan acara paling besar, yaitu ruwat desa atau bersih-bersih desa. Biasanya warga Dieng yang berada di luar daerah atau merantau ikut pulang kampung untuk merayakannya.

6. Ruwatan Rambut Gimbal

Di Dieng terdapat ritual yang wajib dilakukan yaitu ruwat rambut gembel. Tradisi ini adalah mencukur rambut anak berambut gembel yang dilakukan setahun sekali. Dalam ritual ini, orang tua harus memberikan hadiah sesuai permintaan anak.

Pencukuran rambut gembel dulunya dilakukan berkeliling desa. Tapi kini pencukuran rambut dilakukan di pelataran Candi Arjuna bersamaan dengan acara Dieng Culture Festival.

Anak rambut gembel diyakini sebagai simbol keberkahan yang tak ternilai harganya. Munculnya anak rambut gembel bermula dari adanya anak yang demam tinggi hingga berhari-hari. Kemudian rambut si anak gimbal dengan sendirinya.

Setelah si anak sembuh, orang tuanya membiarkan rambut anak tersebut panjang sampai si anak meminta sendiri agar rambutnya dicukur.

Nah detikers, itulah tadi aneka misteri Telaga Warna dan mitos-mitos Dieng yang masih dipercaya hingga sekarang oleh sebagian orang.

(bai/inf)



Sumber : travel.detik.com

Lebih Tua dari RI, Masjid Tiban di Pasuruan yang Sudah Berusia 216 Tahun



Pasuruan

Di Pasuruan, ada masjid tua bernama Masjid Jamik Baitul Atiq. Masjid ini sering disebut masjid tiban karena saking tuanya. Usianya konon sudah 216 tahun.

Masjid yang berada di Dusun Serambi, Desa Winongan Kidul, Winongan, Pasuruan ini dibangun pada tahun 1216 Hijriah, atau 216 tahun silam. Usia itu mengacu pada tulisan kaligrafi yang tertera di atas tempat imam.

Takmir masjid Biatul Atiq, Abdul Rochim (68) mengatakan, masjid dengan ornamen mayoritas berwarna hijau tersebut saat ini sudah direnovasi total.


Namun, sejumlah bukti menunjukkan bahwa masjid itu sudah eksis ratusan tahun. Bukti itu masih disimpan dan dirawat dengan baik.

“Ada kendi atau gentong, mimbar tempat khotib khotbah dan ukiran kaligrafi dari kayu,” ujar Rochim.

Di areal masjid ini terdapat makam Habib Sholeh Semendi. Keberadaan makam ulama penyebar Islam ini tidak bisa dipisahkan dengan masjid. Adanya makam aulia ini semakin mengukuhkan tuanya usia masjid.

“Kenapa seperti itu, karena Mbah Semendi ini kan ulama penyebar Islam, maka otomatis membangun masjid. Bangunnya di mana ya di masjid ini, karena di Winongan masjid pertama itu ya Masjid Jamik ini,” jelas Rochim.

Masjid tiban di PasuruanMasjid tiban di Pasuruan Foto: Muhajir Arifin/detikJatim

Menurut Rochim, berdasarkan sumber turun-temurun, awalnya masjid dibangun dengan ukuran 18 X 25 meter. Namun saat ini ukuran luasnya telah mencapai 25 X 25 meter karena mengalami renovasi beberapa kali.

“Bayangkan saja, seluruh warga di desa yang berasal di Kecamatan Winongan dulu kalau Jumatan semuanya ke sini,” tutur Rochim.

Terkait gentong atau kendi yang ada di masjid ini disebutkan Rochim merupakan kubah pertama di masjid tersebut. Saat renovasi, gentong tersebut berada bagian paling atas masjid.

“Dulu kendi ini dipasang di atas kubah masjid,” tandas Rochim.

Di gentong tersebut terdapat tulisan berhuruf China. Tulisan di gentong itu diyakini warga peninggalan zaman Dinasti Qing yang berkuasa di China pada tahun 1636 hingga 1911.

“Berdasarkan penelusuran anak-anak Remas (remaja masjid) yang bertanya ke orang-orang China serta beberapa sumber, gentong dari dinasti Qing,” tandas Rochim.

——

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ngabuburit Asyik Berburu Ikan Laut di Pasar Ikan Tambakrejo Blitar



Blitar

Ngabuburit selama Ramadan perlu bervariasi agar puasa tidak membosankan. Satu diantaranya, berburu ikan laut di pasar ikan pantai Tambakrejo, Kabupaten Blitar.

Pekan ini, cuaca di wilayah Blitar mulai cerah. Curah hujan intensitasnya menurun dan deru angin mulai berkurang. Perjalanan menuju pantai terasa lebih nyaman dilakukan saat musim lebih damai dengan alam seperti ini. Namun untuk mengantisipasi fenomena alam yang tidak bisa diprediksi, disarankan tidak Ngabuburit ke pantai terlebih dahulu.

detikers bisa mencari alternatif lokasi sekitar pantai, seperti berburu ikan laut hasil tangkapan para nelayan. Di Blitar selatan, lokasi ini bisa dijumpai di Pasar Ikan Pantai Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. Akses dari Kota Blitar menuju kesana terbilang aman, karena kondisi jalan aspal tidak banyak yang rusak. Bahkan detikers bisa menikmati proses pembangunan JLS yang menghubungkan dengan deretan pantai wilayah Tulungagung.


Pasar ikan disini mulai ramai pengunjung sejak pukul 9 sampai 11 siang. Namun di masa Ramadan ini, jam sibuk bergeser agak siang mulai pukul 13.00 sampai 16.00 WIB. Para pengunjung yang kebanyakan berasal dari luar kota, akan langsung disapa ramah para pedagang ikan yang didominasi emak-emak dengan senyum cerah.

Ngabuburit selama Ramadan perlu bervariasi agar puasa tidak membosankan. Satu diantaranya, berburu ikan laut di pasar ikan pantai Tambakrejo, Kabupaten Blitar.Pedagang di pasar ikan pantai Tambakrejo, Kabupaten Blitar. Foto: Erliana Riady

Penampilan sebagian besar lapak hampir sama. Deretan ikan panggang disumpit dengan sebilah bambu, menjadi pemandangan ikonik di destinasi kuliner ini. Beberapa spot di pojok lapak, proses memanggang ikan juga menjadi atraksi unik yang mampu menyedot perhatian pengunjung.

Ngabuburit selama Ramadan perlu bervariasi agar puasa tidak membosankan. Satu diantaranya, berburu ikan laut di pasar ikan pantai Tambakrejo, Kabupaten Blitar.Berburu ikan laut di pasar ikan pantai Tambakrejo, Kabupaten Blitar. Foto: Erliana Riady

Kalau mau melihat langsung proses memotong ikan hasil tangkapan, kemudian memasukkan dalam bilah sumpit bambu, detikers harus berjalan ke bagian belakang memasuki lorong diantara lapak pedagang. Beneran deh….menyenangkan melihat aktifitas pedagang ikan di sini. Sampai tanpa terasa, waktu hampir dua jam berlalu dengan rekaman pengalaman empiris soal ikan laut dan proses pengolahannya hingga siap dikonsumsi.

Ngabuburit selama Ramadan perlu bervariasi agar puasa tidak membosankan. Satu diantaranya, berburu ikan laut di pasar ikan pantai Tambakrejo, Kabupaten Blitar.Berburu ikan laut di pasar ikan pantai Tambakrejo, Kabupaten Blitar. Foto: Erliana Riady

“Monggo-monggo, pilih ikan apa semua ada. Yang mentah apa yang sudah dipanggang, silahkan dipilih sendiri,” kata Lastri sambil menunjukkan lapak dagangannya, Jumat (22/3/2024).

Soal harga dijamin murah. Satu sumpit bambu ikan Pari berisi tiga potong daging dijual seharga Rp 1.500. Kalau yang jenis Cakalang putih dijual Rp 2.500 per sumpit. Ikan tongkol lebih murah lagi, selain ada juga Salem, Tuna dan Pindang.

Kalau mau beli ikan segar dan beragam jenis seafood lainnya, lapak terdepan bisa didekati. Kata si pedagang, ikan segar yang mereka pajang disini kebanyakan merupakan hasil tangkapan nelayan dari Pantai Prigi dan Popoh Tulungagung. Walaupun di wadah ada potongan es batu agar kualitas ikan tetap segar, namun para pedagang menjanjikan ikan-ikan ini hasil tangkapan nelayan semalam.

Ngabuburit selama Ramadan perlu bervariasi agar puasa tidak membosankan. Satu diantaranya, berburu ikan laut di pasar ikan pantai Tambakrejo, Kabupaten Blitar.Berburu ikan laut di pasar ikan pantai Tambakrejo, Kabupaten Blitar. Foto: Erliana Riady

“Kalau yang di sini ini hasil tangkapan semalam. Soalnya nanti yang masih ada ini akan dikirim ke kota, jadi sore atau malam di sini pasti stoknya kosong semua. Besok ganti baru lagi. Selalu begitu,” tutur Munjib, seorang pedagang ikan segar bagian utara.

Para pengunjung tampak pulang membawa bungkusan ikan dengan wajah ceria. Ada banyak pengalaman seru ngabuburit disini. Selain tentu ingin segera sampai rumah untuk memasak ikan segar belanjaan dan disajikan sebagai hidangan berbuka puasa.

“Nggak terasa tiba-tiba sore saja. Senang kalau belanja disini. Bawa uang Rp 100 ribu sudah bisa dimasukkan tas beberapa jenis ikan segar. Buat stok lauk seminggu ini,” kata Ana, pengunjung asal Kota Blitar sambil tertawa.

(ddn/ddn)



Sumber : travel.detik.com

7 Fakta Wae Rebo, Runner-up Kota Kecil Terindah Dunia 2024



Jakarta

Keindahan Wae Rebo sukses mendapatkan predikat sip sejagat. Wae Rebo menduduki peringkat kedua kota kecil terindah di dunia.

Penghargaan itu dirilis oleh media berbasis di Inggris TimeOut merilis daftar kota kecil terindah di dunia 2024 belum lama ini.

Tersembunyi di dalam rimbunnya pepohonan, Desa Wae Rebo atau Waerebo adalah salah satu desa adat Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masih tetap utuh dan terjaga keasliannya. Wae dalam bahasa Manggarai artinya ialah “air”.


Desa ini tidak sekadar desa biasa. Desa Wae Rebo, salah satu destinasi budaya yang ada di Kabupaten Manggarai. Setiap orang yang menginjakkan kakinya di sini akan dibuat terpesona dengan keindahan lanskap alam dan budayanya.

Untuk sampai ke “surga” di atas awan ini diperlukan perjuangan dengan berjalan kaki. Tapi semua akan dibayar lunas dengan keindahan alam yang traveler dapatkan.

Di balik keindahan alam dan ragam kehidupan sosialnya yang unik, Desa Wae Rebo menyimpan fakta yang menarik untuk diulas.

Berikut ini 7 fakta Desa Wae Rebo:

1. Desa di Atas Awan

Desa Wae Rebo terletak di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Desa ini menjadi salah satu desa tertinggi di Indonesia. Kerap dijuluki surga di atas awan, karena keindahan alamnya.

Kabut tipis sering menyelimuti desa ini di pagi hari. Karena lokasinya yang tinggi, untuk sampai ke Desa Wae Rebo pengunjung akan melakukan trekking sekitar 9 kilometer selama 2-3 jam. Sangat disarankan untuk menyewa jasa guide sebagai penunjuk jalan. Jangan lupa coba sensasi bermalam di Wae Rebo ya!

2. Rumah Adat Mbaru Niang

Wae Rebo terkenal dengan rumah adatnya yang disebut Mbaru Niang. Kata Mbaru berarti rumah, sedangkan kata Niang berarti tinggi dan bulat. Bentuk Mbaru Niang dimaknai sebagai suatu falsafah bahwa keseimbangan terwakili melalui bentuk lingkaran.

Mbaru Niang dibangun sebanyak tujuh rumah yang disusun berbentuk melingkar pada tanah yang datar. Satu rumah terdiri dari lima lantai dan dihuni oleh enam hingga delapan keluarga. Pada bagian tengah lingkaran terdapat sebuah altar yang bernama Compang yang digunakan untuk menyembah Tuhan dan roh-roh leluhur.

3. Menjadi Warisan Budaya UNESCO

Berkat keindahan alam dan kekayaan budayanya membuat Wae Rebo dinyatakan sebagai Warisan Budaya Dunia pada Agustus 2012 oleh UNESCO. Desa ini berhasil menyisihkan 42 negara lainnya.

Rumah Mbaru Niang yang ada di Wae Rebo dianggap sangat unik dan langka. Keunikan tersebut menjadikan desa ini sebagai salah satu lokasi Konservasi Warisan Budaya UNESCO.

4. Upacara Adat Penti

Warga Desa Wae Rebo memiliki hari spesial yang dirayakan setiap bulan November. Namanya Upacara Adat Panti. Upacara ini merupakan salah satu perayaan untuk mengucapkan rasa syukur berkat hasil panen yang diperoleh. Upacara ini juga menandakan sebuah awal dalam bercocok tanam di Wae Rebo .

Upacara Adat Penti juga menjadi salah satu daya tarik wisatawan ketika ingin berkunjung ke Desa Wae Rebo . Penasaran keunikan upacara ini? Traveler bisa berkunjung ke Wae Rebo di pertengahan bulan November.

5. Sudah Berumur 1200 Tahun

Wae Rebo kini sudah berumur 1200 tahun dan sudah memasuki generasi ke-20. Dimana satu generasi berusia 60 tahun lamanya. Desa ini termasuk salah satu desa tertua yang ada di Flores.

6. Warga Lokal Keturunan Minang

Meskipun Desa Wae Rebo terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang jauh dari tanah asalnya, ternyata penduduk desa ini memiliki darah Minangkabau, Sumatera Barat. Empo Maro, nenek moyang Wae Rebo berasal dari Minangkabau yang melakukan perantauan jauh hingga ke Flores.

Setelah mengembara ke berbagai tempat, Empo Maro akhirnya menemukan tempat tinggal tetap di kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Wae Rebo .

Meskipun memiliki latar belakang Minangkabau yang kental, namun menariknya, nama-nama penduduk di desa ini tidak mengikuti pola umum yang biasa ditemui di kalangan masyarakat Minangkabau.

7. Melakukan Upacara Kemerdekaan, Bendera Dipasang di Atas Rumah

Fakta unik lainnya dari Desa Wae Rebo adalah saat merayakan Hari Kemerdekaan RI. Warga Wae Rebo akan memasang bendera merah putih di atas rumah adat Mbaru Niang saat upacara berlangsung. Unik ya! Meskipun lokasinya yang jauh, warga Wae Rebo tetap antusias dan hikmat menjalankan Upacara Kemerdekaan.

Sudah tau kan 7 fakta menarik tentang Desa Wae Rebo , desa cantik di atas awan. Meskipun lokasinya jauh, ternyata tak membuat desa ini sepi pengunjung. Penasaran dengan keindahan alamnya? Yuk langsung cus berlibur ke Wae Rebo .

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Wonosobo Memang Kota Dingin, tapi Air di Masjid Ini Hangat Alami



Wonosobo

Salah satunya adalah Masjid Jawahirul Akbar yang berada di Kelurahan Kalianget, Kecamatan Wonosobo punya fasilitas air wudu yang hangat dan alami 24 jam nonstop. Tentu ini jadi daya tarik di Kota Dingin Wonosobo.

Masjid yang berada di jalur utama Wonosobo-Dieng ini pun selalu ramai dikunjungi wisatawan terutama saat akhir pekan.

“Banyak orang yang salat di sini apalagi masjid ini di jalur wisata Dieng. Utamanya Jumat sampai Minggu. Tetapi ada juga yang sebenarnya tidak satu arah tetapi menyempatkan. Seperti kalau ke Semarang dan Jogja itu kan tidak searah tapi banyak yang mampir ke masjid sini,” ujar Takmir Masjid Jawahirul Akbar, Ahmad Ridho saat ditemui di lokasi, Rabu (20/3/2024).


Selain terdapat fasilitas air wudu hangat alami, juga ada kamar mandi dan bak air hangat yang bisa digunakan untuk berendam. Biasanya bak air hangat ini dimanfaatkan orang untuk menghilangkan rasa lelah dari perjalanan.

“Selain ada keran air wudu yang hangat juga ada kamar mandi dan juga bak untuk berendam. Semua airnya juga hangat. Jadi kalau orang yang lagi perjalanan biasa istirahat di sini berendam untuk melepas lelah,” sambungnya.

Masjid Jawahirul Akbar WonosoboMasjid Jawahirul Akbar Wonosobo Foto: Uje Hartono/detikJateng

Masjid dua lantai dengan kapasitas sekitar 800 jemaah ini sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka. Pada tahun 2010 lalu, masjid ini dipugar dan dibangun kembali dengan arsitektur yang lebih modern.

“Masjid ini sudah ada sejak zaman Belanda. Dibangun oleh salah satu tokoh ulama yang ada di Kelurahan Kalianget. Kemudian tahun 2010 ada pemugaran,” terangnya.

Sedangkan untuk fasilitas air hangat, baru tersedia mulai tahun 2014. Air hangat alami ini muncul dari sumber mata air hangat yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari masjid. Ridho menjelaskan jika di Kelurahan Kalianget banyak terdapat sumber mata air hangat di area persawahan.

“Di sini memang banyak dijumpai mata air hangat dengan skala kecil di area persawahan warga. Kemudian ada pengeboran dari pihak swasta untuk mencari sumber air, tapi ternyata muncul air panas. Kemudian warga meminta untuk dialirkan ke masjid,” jelasnya.

Ia mengatakan air hangat yang ada di Masjid Jawahirul Akbar ini aman untuk digunakan. Suhunya sudah turun jika dibandingkan pada titik mata airnya langsung.

“Kalau di sumbernya bisa mencapai 70 derajat, tapi di sini hanya 30 derajat. Jadi aman digunakan selama tidak dikonsumsi,” kata dia.

Ridho menambahkan, layaknya masjid pada umumnya, tidak ada biaya untuk beribadah atau beristirahat di Masjid Jawahirul Akbar. Termasuk jika mandi atau berendam air hangat.

“Kalau biaya tidak ada, ini gratis. Hanya memang ada infak itu pun sifatnya seikhlasnya,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di detikjateng

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

6 Fakta Tari Kecak, Sumber Inspirasi Soundtrack Avatar The Last Airbender



Jakarta

Tari Kecak boleh dibilang sudah tak asing bagi traveler yang pernah berkunjung ke Bali. Ternyata budaya Bali itu menjadi sumber inspirasi soundtrack Avatar The Last Airbender.

Tari Kecak adalah sebuah seni tradisional Bali yang umumnya ditarikan oleh puluhan penari laki-laki yang duduk melingkar di sekeliling perapian. Terdapat pula beberapa penari yang menari di tengah lingkaran hingga ke kursi penonton.

Keunikan gerakan dan keanggunan tari ini menyimpan makna yang dalam dan filosofis. Lebih dari sekadar hiburan, tari Kecak bagi penduduk Bali adalah sebuah bentuk komunikasi spiritual dengan Tuhan dan para leluhur.

Tari Kecak menjadi salah satu tarian terkenal dari Bali dan menjadi pesona wisata budaya. Tak jarang wisatawan yang datang selalu menonton Tari Kecak sebagai wishlist yang wajib dilakukan.

Baru-baru ini nama tari Kecak kembali mencuat setelah komposer musik di Avatar The Last Airbender, Jeremy Zuckerman. Ia menyebut soundtrack itu terinspirasi dari Tari Kecak.

Penasaran dengan tari Kecak khas Bali?

Berikut 6 fakta menarik tentang Tari Kecak:

1. Hasil Kolaborasi Seniman Bali dan Seniman Musik Asal Jerman

Tarian legendaris tari Kecak merupakan karya seni dari seniman tari asal Bali bernama Wayan Lembak. Ia menciptakan tari Kecak bersama dengan Walter Spies, seorang seniman lukis dan musik asal Jerman.

Wayan Limbak terinspirasi untuk memodifikasi tari Sanghyang menjadi tari Kecak yang bisa diperkenalkan lebih luas ke seluruh dunia.

2. Mengisahkan Epos Ramayana

Saat menonton Tari Kecak, traveler akan dibuat merinding. Tarian ini ternyata mengangkat epos Ramayana dengan konsep dramatari. Tari Kecak yang mengisahkan Epos Ramayana, tepatnya pada saat Rahwana berusaha menculik Dewi Sinta dan bagaimana perjuangan Rama untuk menyelamatkan Dewi Sinta.

Jika ditelaah, tari Kecak menyampaikan pesan moral yang tinggi. Mulai dari pesan keberanian, kesetiaan pasangan, dan strategi yang baik.


3. Cuma Dimainkan oleh Laki-laki

Dalam pementasan tari Kecak hanya dimainkan oleh penari laki-laki saja. Bahkan jumlah penari bisa berkisar antara puluhan hingga lebih penari laki-laki yang duduk melingkar. Pementasan semakin meriah dengan irama dan seruan “cak” sembari mengangkat tangan.

Para penari akan menggunakan kostum yang sederhana, mengenakan kain (kamen) kotak-kotak, menyerupai papan catur. Selain itu, terdapat beberapa tokoh utama Ramayana, seperti Rama, Shinta, Rahwana, dan Hanoman.

4. Tari Kecak Tak Diiringi Alat Musik

Jika biasanya tari Bali diiringi dengan gamelan khas Bali. Berbeda dengan Tari Kecak, tarian ini tak diiringi oleh alat musik sama sekali. Tari Kecak diiringi oleh suara seruan “cak”, “cak”, “cak” dari para penari laki-laki yang duduk melingkar.

Nah, seruan “cak”, “cak”, “cak” inilah yang ternyata menjadi inspirasi soundtrack Avatar The Last Airbender.

5. Tarian untuk Berkomunikasi dengan Tuhan

Selain terkenal dengan epos Ramayana, ternyata tari Kecak juga menjadi media berkomunikasi dengan Tuhan dan para leluhur. Kemunculan Tari Kecak juga terinspirasi dari ritual tari sanghyang, sebuah tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur.

6. Jumlah Penari yang Banyak

Keunikan tari Kecak juga terletak pada jumlah penarinya yang tak terbatas. Penari inilah yang akan mengiringi pelakon di tengah lingkaran untuk mementaskan epos Ramayana. Tari Kecak bisa ditarikan oleh puluhan hingga ratusan orang. Bahkan, pernah tercatat di Rekor MURI, tahun 2006 tari Kecak pernah ditarikan oleh 5.000 penari.

Nah, traveler sudah tau kan beberapa fakta menarik tentang Tari Kecak. Kuy nonton Tari Kecak langsung di Pulau Dewata.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Inilah Masjid Tertinggi di Jakarta



Jakarta

Melihat keindahan Jakarta dari rooftop gedung sudah biasa. Di sini, dari masjid traveler bisa memandang Jakarta hingga jauh.

Masjid itu bernama Masjid Ar-Rahim. Masjid itu terbuka untuk umum.

Masjid ini bukan sembarang masjid. Masjid ini berada di lantai 27 Menara 165, Jl TB Simatupang, Cilandak, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Menara dengan lafadz “Allah” di bagian atas gedung ini ternyata penanda adanya masjid. Dan, masjid ini dinobatkan sebagai masjid tertinggi di Jakarta.


Masjid ini memiliki bangunan yang sebagian besar bertembok kaca sehingga memungkinkan bagi jemaah untuk memandang gedung-gedung dan jalan tol di seantero ibu kota.

Masjid Ar-Rahim, masjid di Menara 165, merupakan masjid tertinggi di JakartaMasjid Ar-Rahim, masjid di Menara 165, merupakan masjid tertinggi di Jakarta (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

Tak hanya sekadar tempat ibadah, Masjid Ar-Rahim juga memiliki jadwal kajian interaktif setiap hari Rabu dan Pengajian di hari Minggu, tentunya menjadi lokasi wisata religi yang pas didatangi ketika bulan puasa.

Bukan cuma nama biasa, Gedung 165 ternyata memiliki 2 makna. Di balik terpilihnya angka 165 dalam nama gedung tersebut bukan berdasarkan urutan lokasi gedung di jalan tersebut, tetapi berikut maknanya.

Pertama, secara agamis, 1 bermakna Ikhsan, 6 merujuk pada Rukun Iman, dan 5 merujuk pada Rukun Islam.

Kemudian, makna kedua adalah makna nasionalis, yakni menggambarkan kelahiran Pancasila yaitu tangga 1, bulan 6 , dan tahun 45 (dalam Tahun Jepang menjadi tahun 05). Sehingga, 165 diartikan sebagai bersatunya cinta agama dan Tanah Air.

Masjid Ar-Rahim, masjid di Menara 165, merupakan masjid tertinggi di JakartaView Jakarta dari Masjid Ar-Rahim, masjid di Menara 165, merupakan masjid tertinggi di Jakarta (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

Untuk mengakses masjid ini, traveller harus mendatangi resepsionis terlebih dahulu untuk melakukan registrasi dan menukarkan KTP dengan kartu akses. Setelah itu, traveler akan diarahkan untuk menggunakan lift dengan kode L6 untuk mencapai lantai M1 atau lantai 25 yang menjadi lokasi Masjid Ar-Rahim.

Setibanya di lantai 25, traveller bisa mengambil wudu terlebih dahulu jika akan melakukan ibadah, setelah itu dapat menaiki tangga/lift yang disediakan untuk mencapai lantai 27 yang menjadi lokasi salat. Pada lantai tersebut terpampang Masjid yang dikelilingi tembok kaca dan pemandangan jelas Kota Jakarta dari ketinggian.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com