Ada Wisata Kuliner Seafood Baru di Tangsel, Harganya Kaki Lima



Tangerang Selatan

Di Tangerang Selatan, ada wisata kuliner seafood yang baru dibuka. Harganya diklaim kaki lima, dengan kualitas bintang lima.

Seafood Bakaran itulah nama tempat wisata kuliner yang didirikan duo TikToker, Aidan Mirza dan Ivan Laf. Seafood Bakaran yang resmi dibuka Sabtu (9/3) itu berlokasi di Jalan Ciputat, Jombang Nomor 102, Serua Indah, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan.

Sejumlah content creator TikTok yang tergabung dalam LLTTFOC, mulai dari Benjamin Master Adhisurya (Iben MA) dan Michael Simanjuntak (Mike) pun hadir dalam acara grand opening Seafood Bakaran tersebut.


“Seafood Bakaran dimulai dari pandangan orang yang beranggapan untuk makan di restoran seafood yang higienis dan enak perlu merogoh kocek yang tidak sedikit,” ucap Aidan Mirza pada saat acara grand opening, Sabtu (9/3/2024).

“Berangkat dari masalah tersebut, kami ingin membuktikan makan seafood dengan harga terjangkau, namun tetap higienis dan nyaman. Di Seafood Bakaran terjamin kebersihannya, rasanya, kualitas makanannya, dan tempat makan yang luas untuk konsumen berkumpul bersama keluarga,” lanjutnya.

Seafood BakaranSeafood Bakaran Foto: (dok. Istimewa)

Memiliki tagline, The Real Seafood Bintang Lima Harganya Kaki Lima, Seafood Bakaran menyajikan makanan hidangan laut berkualitas terbaik, tetapi dengan harga yang terjangkau. Resto ini juga memiliki bumbu khas yang tak dimiliki tempat jajanan seafood lainnya, yakni bumbu Khas Bakaran dan Bumbu Jimbaran.

“Seafood Bakaran menawarkan aneka makanan laut seperti udang, kepiting, hingga berbagai jenis kerang. Tidak hanya makanan laut, kami juga memiliki menu lain untuk masyarakat yang tidak dapat menikmati hidangan laut kami karna alasan kesehatan,” imbuh Ivan Laf.

“Di sini kami juga menyediakan hidangan non-seafood seperti ayam, bebek, nasi goreng, dan mie goreng. Harga yang ditawarkan Seafood Bakaran relatif murah dan bervariasi mulai dari Rp 12 ribu,” sambung pria yang memiliki 11,5 juta followers di Tik Tok tersebut.

Beragam penawaran spesial diberikan saat pembukaan Seafood Bakaran, mulai dari makan gratis untuk 100 pengunjung pertama hingga doorprize sepeda motor.

Seafood BakaranAidan Mirza dan Ivan Laf di Seafood Bakaran Foto: (dok. Istimewa)

Setelah membuka outlet pertama di Bintaro, Seafood Bakaran berencana untuk melebarkan sayapnya. Dalam waktu dekat bakal dibuka empat cabang baru Seafood Bakaran, dan ditargetkan mencapai 20 resto pada tahun ini.

“Target utama yang ingin kami capai adalah memberi pelayanan dan kepuasan terbaik untuk seluruh masyarakat indonesia. Untuk cabang baru Seafood Bakaran, sudah kami persiapkan empat resto yang akan dibuka pada tahun ini,” kata Aidan.

“Ke depan kami targetkan akan membuka 20 outlet lagi pada tahun ini. Kami butuh dukungan masyarakat agar lebih banyak lagi masyarakat yang dapat menikmati seafood berkualitas dengan harga terjangkau,” harap TikToker yang identik dengan konten ngeprank tersebut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Resep Marble Lava Mendut yang Legit Meleleh

Cara Membuat Isian : 1. Tuang Air dalam panci, tambahkan Gula Merah, Garam, Daun Pandan. Masak sambil diaduk dengan api kecil hingga mencair dan mendidih. Matikan kompor 2. Siapkan teflon, tuang Kelapa Parut. Tambahkan Gula Merah Cair ke dalam Kelapa Parut dengan cara disaring 3. Masak aduk rata Kelapa Parut hingga tidak berair/kesat. Matikan kompor. Sisihkan

Cara Membuat Kulit :


1. Masak Air, Santan, Gula, Garam, Daun Pandan hingga mendidih. Matikan kompor. Diamkan hingga hangat2 kuku 2. Masukkan Tepung Ketan dalam wadah. Tambahkan Santan secara bertahap sambil diaduk. Lakukan hingga habis dan kalis 3. Bagi 2 bagian. Satu tetap Putih. Satu diberi Pasta Pandan warna Hijau.

Cara Mencetak :

1. Ambil sedikit adonan Putih, Hijau campur menyerupai corak Marble. Lalu susun dalam Cetakan yang sudah diolesi Minyak 2. Isi bagian tengah dengan Isian Kelapa Parut. Padatkan. Lalu tutup bagian atas yang terbuka dengan lebihan adonan kulit hingga rapat 3. Panaskan Dandang. Masak Mendut 20 menit. Setelah matang angkat. Sisihkan

Cara Membuat Vla :

Masak semua bahan sambil diaduk agar tidak menggerindil. Masak hingga mendidih dan mengental. Matikan kompor. Sisihkan

Cara Penyajian :

Keluarkan Mendut dari cetakan. Tuang Vla di bagian tengah. Marble Lava Mendut siap disajikan.



Sumber : food.detik.com

Menanti Wajah Baru Museum Benteng Vredeburg



Yogyakarta

Museum Benteng Vredeburg sedang menjalani revitalisasi dan pemeliharaan. Seperti apa wajah baru museum di Yogyakarta ini ya?

Untuk mengoptimalkan fungsi Museum Benteng Vredeburg sebagai destinasi wisata edukasi dan ruang publik yang menyenangkan bagi masyarakat, program revitalisasi dan pemeliharaan pun dilakukan oleh Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya (MCB) atau Indonesia Heritage Agency (IHA).

Proyek transformasi Museum Benteng Vredeburg meliputi revitalisasi infrastruktur dengan pembaruan dan pemeliharaan area terbuka, serta ruang tata pamer museum.


Selanjutnya, pembangunan fasilitas pengunjung seperti museum shop dan ruang anak pun dilakukan, untuk mengoptimalkan pengalaman publik yang lebih edukatif dan interaktif.

Plt Kepala BLU Museum dan Cagar Budaya (MCB), Ahmad Mahendra menyatakan, transformasi Museum Benteng Vredeburg bertujuan untuk meningkatkan pengalaman pengunjung yang lebih baik lagi ke depannya.

“Kami berharap museum ini tidak hanya menjadi ruang edukasi sejarah, tetapi menjadi tempat yang nyaman untuk rekreasi. Untuk itu, MCB terus berkomitmen untuk terus mendukung transformasi museum yang profesional melalui berbagai agenda revitalisasi untuk menjadikan museum sebagai ruang yang nyaman untuk semua,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Senin (11/3/2024).

Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg Foto: (dok. IHA)

Museum Benteng Vredeburg terletak di Kota Yogyakarta. Museum ini memiliki lebih dari 7.000 benda bersejarah, mulai dari peralatan rumah tangga sampai peralatan perang.

Menempati bangunan kolonial yang dibangun pada tahun 1760, museum yang beralamat di Jalan Margo Mulyo No 6 ini menjadi destinasi wisata sejarah yang memiliki nilai historis dan edukatif bagi para pengunjung.

Selama proses revitalisasi, Museum Benteng Vredeburg akan tutup dari tanggal 4 Maret 2024. Kendati demikian, bagi publik yang ingin mengeksplorasi koleksi museum dapat mengakses kegiatan “Vredeburg Virtual Visit” yang diselenggarakan setiap hari Senin untuk umum atau individu dan Rabu untuk kelompok atau sekolah pukul 09.00-11.00 WIB secara gratis.

Penanggung Jawab Unit Museum Benteng Vredeburg, M. Rosyid Ridlo menjelaskan, rencananya museum secara fisik akan kembali dibuka untuk publik dengan wajah barunya pada pertengahan tahun 2024.

“Walau secara fisik museum tutup, tetapi kami tetap hadir secara virtual. Hal ini penting bagi kami, karena tugas kami adalah untuk membuka akses masyarakat terhadap bangunan, artefak dan benda bersejarah yang dapat diolah menjadi produk pengetahuan sejarah dan berguna untuk pemahaman bangsa mengenai warisan budaya Nusantara dan semangat perjuangan bangsa Indonesia,” tutupnya.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Gedung Bergaya Eropa di Medan yang Misterius, Belasan Tahun Tak Berpenghuni



Medan

Di Medan, ada sebuah gedung mewah bergaya Eropa yang misterius. Sudah belasan tahun lamanya gedung ini tidak berpenghuni. Bagaimana kisahnya?

Gedung mewah itu letaknya strategis persis di persimpangan Jalan S Parman dan Jalan Kejaksaan Medan. Banyak pengendara yang melirik ke bangunan itu ketika melintasi kawasan tersebut.

Gedung bercat coklat ini memiliki desain megah bergaya Eropa klasik. Ada begitu banyak jendela tinggi berwarna emas yang diselingi pilar coklat yang menjulang tinggi.


Walaupun berdiri megah, namun tak satupun aktivitas yang tampak dari bangunan tersebut. Akses jendela maupun pintu tertutup rapat. Selain itu, tak ada kendaraan yang tampak terparkir di sekitaran gedung tersebut.

Beberapa warga Medan mengaku penasaran dengan fungsi bangunan tersebut. Lantaran misterius, banyak masyarakat yang sering menebak fungsi gedung tersebut.

“Itu letaknya di Medan, dari aku kecil udah ada ini gedung tapi sampai sekarang aku dah besar pun gitu-gitu aja gedungnya, entah buat apa pun nggak tahu,” kata warga Medan, Starla.

“Dulu setiap pulang sekolah terus lewat situ pasti dalam hati langsung bilang ‘ini gedung apa sih, kok nggak siap-siap dibangun, terus ini untuk apa?’,” kata warga Medan lainnya, Chika.

Berdasarkan data yang dihimpun, bangunan megah ini dibangun sejak awal tahun 2000-an namun hingga belasan tahun kemudian belum diketahui fungsi bangunan tersebut.

“Dulu tahun 2008 masih kerja di Mal Paladium selalu lewati itu. Tapi sampai sekarang udah punya anak dua, itu gedung misterius banget ya gitu-gitu aja terus,” ucap Mariati, warga Medan yang menceritakan pengalamannya.

Selain penasaran, banyak juga warga yang melintasi bangunan tersebut terkesima dengan konsep dan desain mewah yang begitu mencolok di antara bangunan sekitarnya.

“Tapi itu desainnya megah dan mewah banget loh, kayak ala-ala luar negeri gitu. Aku lihat detail-detailnya bagus banget ya aku suka lihatnya tiap lewat bangunan itu,” ujar Mellynia.

Sementara itu, tim detikSumut juga bertanya terhadap warga sekitar yang banyak menyebut bangunan ini akan dibuat apartemen. Namun, mereka juga turut penasaran alasan belum dioperasionalkan hingga saat ini.

“Katanya itu gedung dulunya mau buat hotel tapi kekurangan dana gitu, terus karena di sekitarnya juga ada hotel yang lebih bagus jadi belum dilanjutkan lagi bangunannya,” kata Irma.

Camat Medan Petisah Arafat yang menyebut gedung misterius tersebut masih belum beroperasi. Dia pun tak tahu peruntukan bangunan itu.

“Sampai saat ini bangunan tersebut belum dihuni sehingga saya belum tahu peruntukan bangunan tersebut. Nanti saya coba cek melalui dinas terkait izin awal bangunan sebagai apa peruntukannya,” ucap Arafat.

——

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Lembut dan Kenyal Klepon Ubi Jalar

Klepon Ubi Jalar adalah variasi klepon tradisional Indonesia yang menggunakan ubi jalar sebagai bahan dasarnya menggantikan ketan. Ubi jalar yang manis dan lembut dipadukan dengan kelapa parut yang gurih, memberikan keseimbangan rasa yang unik. Proses pembuatan klepon ini dimulai dengan mengukus ubi jalar yang telah dihaluskan, lalu dibentuk bola-bola kecil yang diisi gula merah cair. Setelah direbus hingga matang, klepon ubi jalar ini diselimuti kelapa parut yang wangi. Setiap gigitan menghadirkan sensasi kenyal, manis, dan gurih yang menggugah selera. Klepon ini pun bakal jadi camilan yang disukai banyak orang, terutama di acara spesial.



Sumber : food.detik.com

Kisah Batulayang, Sebuah Kabupaten di Jawa Barat yang Hilang



Bandung

Di Provinsi Jawa Barat, ada sebuah kabupaten yang hilang. Namanya Batulayang. Bagaimana kisah kabupaten yang hilang ini?

Batulayang, saat ini diketahui berstatus sebagai desa di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Wilayahnya memiliki luas 6,54 kilometer persegi dan dihuni oleh 11.558 penduduk, berdasarkan catatan BPS pada tahun 2021.

Namun ternyata, jauh saat masa kolonial Hindia Belanda, Batulayang merupakan nama salah satu kabupaten di Jawa Barat. Catatannya tertuang dalam tulisan seorang pemerhati sejarah asal Bandung, M Ryzki Wiryawan, dalam buku berjudul Pesona Sejarah Bandung: Perkebunan di Priangan.


Ryzki Wiryawan, bahkan secara spesifik menulis pembahasan tentang kabupaten itu dengan judul, Musnahnya Kabupaten Batulayang. Saat masih dalam penguasaan Hindia Belanda pada abad ke-18, wilayah Batulayang ditulis Rizky mencakup 3 distrik yaitu Kopo, Rongga dan Cisondari yang sekarang meliputi Cililin, Ciwidey dan Gununghalu.

“Batulayang dibatasi oleh Gunung Wayang dan Linggaratu di sebelah Timur; Sungai Ci Sokan dan Cianjur di barat; Gunung Tilu dan Ci Tarum sampai ke muara Ci Sokan di sebelah utara, Gunung Patuha dan Ci Sokan di sebelah selatan,” tulis Ryzki dalam bukunya.

Batulayang Memiliki Ibu Kota Bernama ‘Gajah’

Saat masih berstatus sebagai kabupaten, Batulayang memiliki Ibu Kota bernama Gajah atau Gajah Palembang yang berada di tepi Ci Tarum (sebelah Margahayu sekarang). Rizky dalam bukunya mengatakan, pemberian nama Gajah itu ditengarai terjadi karena penguasanya zaman dulu yang bernama R Moh Kabul atau Abdul Rohman, pada 1770 membawa oleh-oleh seekor gajah saat pulang usai ditugaskan VOC ke Palembang.

Sekedar informasi, terdapat sebuah desa yang bernama Gajah Mekar. Desa tersebut secara administratif berada di Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung.

Dahulu, wilayah ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Batulayang. Sebelum menjadi kabupaten, Batulayang juga sempat masuk dalam status keprabuan di bawah kuasa Kerajaan Pajajaran.

Menariknya, Abdul Rohman juga membuat tempat pemandian gajah yang kemudian di wilayah tersebut dinamakan Leuwigajah, sebuah kelurahan yang kini masuk administrasi Kecamatan Cimahi Selatan di Kota Cimahi.

Ryzki turut mencatat silsilah penguasa Batulayang dari berbagai versi. Sejumlah nama seperti Tumenggung Suradirana hingga Tumenggung Adikusumah, silih berganti memimpin Batulayang dari zaman kerajaan tahun 1740-an hingga masa pendudukan Hindia Belanda pada tahun 1800-an.

Pada medio tahun 1770-an, Batulayang dipimpin seorang bupati bernama Tumenggung Rangga Adikusumah. Namun ia meninggal dan status kepemimpinannya tidak berlangsung lama.

Jabatan Bupati Batulayang kemudian diserahkan kepada Bupati Bandung pada 1785, lantaran penerusnya, Raden Bagus, anak dari Tumenggung Rangga Adikusumah, saat itu masih berusia 12 tahun.

Pada tahun 1794, Raden Bagus akhirnya diangkat sebagai Bupati Batulayang dengan gelar Tumenggung Rangga Adikusumah II (sumber lain menyebutkan Dalem Tumenggung Anggadikusumah). Tapi, petaka kemudian datang saat sang pewaris tahta tak sekompeten ayahnya dalam memimpin Batulayang.

Hancurnya Perkebunan Kopi di Batulayang

Dalam tulisannya, Ryzki menyebut Tumenggung Rangga Adikusumah II begitu buruk dalam memimpin Batulayang. Ia menelantarkan perkebunan kopi di sana, yang saat itu masih jadi primadona Hindia Belanda, bahkan punya kebiasaan tak wajar lantaran gemar mengkonsumsi opium dan minuman keras.

“Berdasarkan laporan Pieter Engelhard pada 1802, Tumenggung Anggadikusumah memimpin Batulayang dengan buruk, membiarkan perkebunan kopi menjadi hutan belantara dan semak-semak. Bahkan berdasarkan laporan tanggal 24 Desember 1801, muncul usulan untuk memberhentikan Sang Bupati karena kegemarannya mengonsumsi opium dan minuman keras,” ucap Ryzki dalam tulisannya.

Karena kondisi itu, Tumenggung Rangga Adikusumah II akhirnya diberhentikan pada 1802. Praktis kemudian, Batulayang sebagai kabupaten akhirnya dihilangkan. wilayahnya lalu digabungkan dengan Kabupaten Bandung. Sementara sang pewaris tahta, diasingkan ke Batavia hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di Mangga Dua.

Meski tak secakap ayahnya dalam memimpin, Ryzki menulis kehilangan Kabupaten Batulayang begitu disesalkan. Pemicunya karena nasib perkebunan kopi tetap sama di bawah kuasa Bupati Bandung. Ini kemudian Ryzki tuangkan sebagaimana laporan C.W Thalman, G.F Smit dan J.G Bauer pada 1807.

Ryzki sendiri melihat tindakan Tumenggung Rangga Adikusumah II sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Ia menduga, Tumenggung Rangga Adikusumah II telah memulai perang urat saraf dengan Pieter Engelhard lalu akhirnya melawan dengan cara menelantarkan perkebunan tersebut.

“Berdasarkan laporan di atas, bisa disimpulkan bahwa ada faktor lain yang membuat Bupati Batulayang terakhir dihukum, kemungkinan karena ia bermasalah dengan Pieter Engelhard dan melawan dengan cara menelantarkan perkebunan kopi,” kata Ryzki.

Bupati Batulayang Lalu Diasingkan

Selanjutnya, kebijakan budidaya kopi menurut Ryzki, saat itu memang membebani rakyat. Ia pun menulis bahwa perlawanan Bupati Batulayang sebagai fenomena unik yang menggambarkan keberanian seorang pejuang.

Menutup tulisannya, Ryzki lalu menyinggung satu nama dalam perjuangan melawan kolonial yang akhirnya ditetapkan menjadi pahlawan nasional. Ia adalah Otto Iskandar Di Nata, pejuang yang merupakan keturanan asli dari Batulayang.

“Semangat perlawanan terhadap penjajah nantinya akan dicerminkan dalam perjuangan politik abad ke-20 oleh seorang keturunan Batulayang yang bernama Otto Iskandar Di Nata alias sang Jalak Harupat,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ayam Kecap Pedas Manis yang Meresap Bumbunya

1. Panaskan minyak, tumis bawang merah dan bawang putih hingga harum 2. Masukkan cabai merah dan aduk rata 3. Tambahkan ayam, aduk hingga berubah warna 4. Masukkan kecap manis, saus tiram, gula merah, merica, dan garam. Aduk rata 5. Tuang air, masak dengan api kecil hingga ayam empuk dan bumbu meresap, sekitar 20 menit 6. Koreksi rasa, angkat dan sajikan hangat.



Sumber : food.detik.com

Meriahkan Hari Raya Nyepi, Ini 6 Ogoh-Ogoh Spektakuler di Kota Denpasar



Jakarta

Masyarakat Bali tengah menyambut hari raya Nyepi dengan pawai ogoh-ogoh. Karya seni patung yang gambarkan Bhuta Kala. Berikut enam ogoh-ogoh spektakuler.

Hari raya Nyepi adalah tahun baru Saka yang dirayakan oleh umat Hindu. Pada 2024, hari raya Nyepi jatuh pada Senin (11/03/2024). Umat Hindu akan melakukan tapa brata penyepian atau empat pantangan.

Rangkaian hari raya Nyepi terdiri dari tiga hari, hari Pengerupukan, hari raya Nyepi, dan Ngembak Geni.

Di Bali, hari raya Nyepi identik dengan pembuatan dan pawai ogoh-ogoh yang dilakukan oleh seka teruna teruni di setiap banjar. Nantinya ogoh-ogoh yang sudah dibuat diarak keliling desa ketika Hari Pengerupukan.

Ogoh-Ogoh juga termasuk seni patung yang berasal dari kebudayaan masyarakat Bali yang menggambarkan kepribadian dari Bhuta Kala. Ogoh-ogoh merupakan sebuah benda yang besar dan berbentuk boneka raksasa.

Penasaran dengan kemegahan ogoh-ogoh di Kota Denpasar?

Berikut ogoh-ogoh spektakuler yang ada di Kota Denpasar:

1. Sura Kasuran karya ST. Eka Pramana Banjar Merta Rauh

Banjar Merta Rauh berlokasi di Jalan Trijata II No.10, Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali. Banjar Merta Rauh dengan ST. Eka Pramana pada tahun 2024 membuat ogoh-ogoh bertajuk “Sura Kasuran” dan berhasil meraih Juara III di Kecamatan Denpasar Utara.

Ogoh-ogoh “Sura Kasuran” menceritakan tentang dua sifat kegelapan yang menjadi dasar munculnya sifat-sifat kegelapan lainnya. Kemabukan (Sura) akan Keberanian (Kasuran) membuat manusia menjadi angkuh. Dua sifat itulah yang membuat manusia jauh dari ajaran Dharma (kebaikan).

2. Teja Lawa karya ST Yowana Werdhi Banjar Batanbuah

ST Yowana Werdhi dari Banjar Batanbuah pada tahun 2024 berhasil meraih Juara II di Kecamatan Denpasar Timur. Dengan ogoh-ogoh bertajuk “Teja Lawa”. Banjar Batanbuah berlokasi di Jl. Sulatri No.7, Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Tim., Kota Denpasar, Bali.

Teja Lawa bermakna keberlangsungan hidup setiap makhluk di dunia, bergantung pada teja sebagai komponen utama dalam memproduksi oksigen. Sehingga teja dianggap sebagai gerbang kehidupan yang disebut “lawa”.

Teja sebagai penanda sang kala, menjadi gerbang keberlangsungan aktivitas manusia. Teja sebagai tanda hidup & matinya segala makhluk yang ada. Tatkala sang teja bersinar tak semestinya itulah tanda gerbang pralaya dibuka. Apabila teja dalam tubuh manusia melebihi yang semestinya, sifatnya akan menyerupai raksasa dan mengantarkannya pada kehancuran juga. Begitupun tumbuhan apabila tidak mendapatkan teja sang surya maka tak akan ada pangan yang diterima. Semua yang bersinar adalah miliknya yang bercahaya (acintya).


3. Wayabya karya ST. Eka Cita Banjar Abian Kapas Kaja

Banjar Abian Kapas Kaja berlokasi di Jl. WR Supratman No.115, Sumerta, Kecamatan Denpasar Tim., Kota Denpasar, Bali. Tahun 2024, Banjar Abian Kapas Kaja dengan ST. Eka Cita mengusuh tajuk “Wayabya” pada ogoh-ogoh yang dibuat.

Wayabya mengupas tentang pelindung rumah atau pekarangan dalam kehidupan sosial religius masyarakat Bali. Wayabya merupakan salah satu kekuatan alam maha agung yang diyakini sebagai tempat memohon perlindungan dan kekuatan atau kawisesan. Adapun yang dipuja adalah Ida Hyang Durga Manik kairing antuk Sang Kala Raksa tumut pareng Sang Bhuta Hulu Kebo.

4. Bebali Sidakarya karya Banjar Pebean

Banjar Pebean berlokasi di Jl. Wr. Supratman Gg. Gunung Kawi, Kesiman, Denpasar Tim., Kota Denpasar, Bali. Tahun 2024, Banjar Pebean mengangkat ogoh-ogoh bertajuk “Bebali Sidakarya”. Bebali sidakarya adalah sebuah referensi atau manuskrip yang membahas perihal bagaimana, siapa, dan untuk apa adanya sidakarya.

Sidakarya yang dimaksud dan ditegaskan pada manuskrip ini adalah ” Perputaran Hyang Rawi Tanpa Tindih Ye Ta Mengaron Maha Kala Sidakarya Puja Ya Ta ” artinya pergerakan matahari yang tidak terbendungkan, itulah disebut Maha Kala yang disebut Sidakarya, karena yang menyelesaikan siang dan malam.

Mitologi ini di visualkan pada seorang brahmana yang bernama Mpu Kayu Manis yang ibunya dari masab siwa dan ayahnya masab budha yang berusaha menjelaskan kepada seorang raja yang bernama Raja Batatipati. Sidakarya itu sebenarnya adalah Maha Kala.

5. Podgala karya Banjar Abian Kapas Tengah

Banjar Abian Kapas Tengah yang berlokasi di Jl. Nusa Indah No.57, Sumerta, Kecamatan Denpasar Tim., Kota Denpasar, Bali mengangkat ogoh-ogoh bertajuk “Podgala”. Ogoh-ogoh ini memakan waktu pembuatan sekitar dua bulan, mulai Januari hingga Februari 2024.

Podgala berarti penyucian diri. Berawal dari upacara madiksa yang mempunyai tujuan mulia yaitu meningkatkan kesucian diri guna mencapai kesempurnaan dumadi menjadi manusia. Upacara Madiksa ini bermakna seseorang yang dilahirkan kembali untuk dijadikan pemimpin suci bagi umat Hindu di Bali.

Dalam melahirkan sesuatu yang baik tentunya ada sesuatu kepribadian yang harus bisa dikendalikan seperti tiga sifat dasar pada diri manusia yaitu Tri Guna yang terdiri dari Sattwam (sifat dewasa), Rajas (nafsu, keinginan), dan Tamas (sifat malas,egois, kurang empati). Tiga sifat inilah yang harus dikendalikan atau ditempatkan pada situasi yang tepat. Agar tidak menyalahkan dari arti penyucian diri atau PODGALA.

6. Laliaran karya ST Gemeh Indah Banjar Gemeh

Banjar Gemeh berlokasi di Jalan Mayjen Sutoyo, Dauh Puri Kangin, Kecamatan Denpasar Bar., Kota Denpasar, Bali. Pada tahun 2024, Banjar Gemeh membuat ogoh-ogoh yang bertajuk “Laliaran”.

Ogoh-ogoh bertajuk “Laliaran” diambil dari cerita astronomi yang merupakan ilmu paling tua yang dipelajari manusia. Kegiatan gerak matahari bulan dan bintang membentuk pola pada segala yang bergerak dan tak bergerak di bumi. Selama ribuan tahun pengetahuan ini telah dirumuskan dan ditulis sebagai panduan hidup manusia.

Di bali hal serupa dilakukan secara spesifik dengan cara menghitung yang tak hanya menghitung salah satu sumbu putaran dari Sang Hyang Rwa Wisesa Surya (matahari) atau Candra (bulan), tapi keduanya yang menjadi tiga bentuk pengingat: hari, wuku, sasih yang saling bertemu.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Sayap Ayam Kremes yang Gurih Renyah Buat Lauk

Jakarta

Sayap Ayam Kremes memadukan kelezatan ayam yang digoreng renyah dengan taburan kremes yang gurih. Proses penggorengan yang tepat membuat sayap ayam memiliki tekstur yang spesial. Kulitnya garing, sementara dagingnya tetap juicy. Kremes yang terbuat dari campuran tepung, bumbu, dan air menghasilkan lapisan renyah yang menambah sensasi saat digigit. Disajikan dengan sambal atau saus favorit, sayap ayam kremes menjadi hidangan yang sempurna untuk menemani momen santap bersama keluarga atau teman.

Durasi Tingkat Kesulitan Porsi
60 Menit Sedang 4
Daerah Asal Masakan :
Kategori Masakan : Ayam

Bahan Bahan

300 gram sayap ayam
500 ml minyak goreng
bahan kremesan:
4 siung bawang putih, haluskan
250 ml santan dari 1/4 butir kelapa
200 ml air
120 gram tepung beras
25 gram tepung sagu
1/2 sdt garam
1/4 lada bubuk
bumbu halus
2 butir kelapa
2 siung bawang putih
3 butir bawang merah
1 sdt ketumbar

Cara Memasak:

1. cara membuat kremesan:
2. campur semua bahan ke dalam wadah, aduk hingga rata
3. panaskan minyak, ciprat-cipratkan adonan kremesan ke dalam minyak panas. Kecilkan api, kumpulkan kremesan ke tengah
4. letakkan sayap ayam di bagian tengah kremesan
5. lipat bagian kanan dan kiri kremesan ke arah dalam hingga sayap ayam terbungkus
6. goreng di atas api sedang hingga sayap ayam matang sambil dibalik
7. angkat dan sajikan

(adr/adr)



Sumber : food.detik.com