‘Menara Eiffel’ dari Sumedang, Destinasi Baru di Kota Tahu



Sumedang

Ada destinasi wisata baru di Kota Tahu Sumedang. Destinasi itu adalah ‘Menara Eiffel’ ala kota Paris. Seperti apa wujudnya?

Berbicara objek wisata di Kabupaten Sumedang tentu tidak akan ada habisnya. Terbaru, landmark yang menjadi ikonik dunia tak lain yakni menara Eiffel telah mejeng di kota ini.

Menara Eiffel tersebut berdiri dengan kokoh di objek wisata Tanjung Duriat yang berada di Desa Pejagan, Kecamatan Cisitu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Jelas berbeda dengan menara Eiffel asli, di sini menara Eiffel dikonsep berwarna merah serta ukuran yang lebih kecil.


Hadirnya menara Eiffel ini tentu menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Sebab, tak lain dan tak bukan wisatawan dapat berswafoto dengan berlatar belakang menara yang memiliki tinggi sekitar 15-20 meteran itu.

Salah satu wisatawan asal Sumedang, Nana (34), mengaku menikmati dengan adanya konsep bangunan dari menara Eiffel. Ia yang datang bersama dengan keluarganya langsung bergegas mengabadikan momen dengan background menara Eiffel.

“Sebelumnya udah pernah ke sini cuman kalau menara Eiffel ini baru pertama kali ngeliat, bagus sih konsepnya bisa foto-foto terus belakangnya ada menara Eiffel,” ujar Nana.

Nana mengatakan, meski berbeda dengan aslinya ia tetap merasakan keindahan yang berada di Objek Wisata Tanjung Duriat. Sebab, selain itu, ia bisa menikmati keindahan dari Waduk Jatigede.

“Ya biarpun bentuk dan tingginya jauh dari aslinya tapi masih keren lah, kalau ke Paris mah kan jauh banget sama mahal biayanya jadi boleh lah ini jadi alternatif,” katanya.

Sementara itu, menurut Manager Marketing Communication Tanjung Duriat, Karya Indra, konsep bangunan dari menara Eiffel baru dihadirkan saat momen libur lebaran 2024. Pihak pengelola tak ingin wisatawan yang datang terlihat bosan.

“Lebaran kemarin bisa dibilang peluncuran Red Eiffel atau Eiffel Merah, sebagai daya tarik baru di Tanjung Duriat,” kata Karya.

“Karena setiap tahun pengunjung selalu bertanya apa yang baru di tahun sekarang. Oleh karena itu kami menghadirkan salah satu ikon dunia yakni Menara Eiffel, kami sebut Red Eiffel,” ungkapnya.

Eiffel Merah sambung Karya, dengan latar belakang langsung perairan Jatigede, kata Karya, Eiffel Merah menjadi salah satu spot foto favorit saat lebaran kemarin.

“Sebetulnya konsep utamanya kami ingin ada spot yang dari atas untuk pengunjung bisa memfoto taman berbentuk hati. Warnanya merah mencolok, bisa dinaiki, dengan latar biru perairan Jatigede,” ucapnya.

Selain Eiffel Merah, daya tarik baru lainnya di Tanjung Duriat yakni kamera 360 derajat dan Giant Frame atau bingkai raksasa.

“Dengan 360 pengunjung bisa membuat video sudut pandang 360 derajat, seperti yang sedang ngetren sekarang,” pungkasnya.

Untuk bisa menikmati spot-spot yang berada di Objek Wisata dari Tanjung Duriat ini wisatawan hanya perlu merogoh kocek Rp 20 ribu saja untuk pintu masuk. Namun, untuk spot-spot tertentu wisatawan dikenakan tarif yang berbeda.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

7 Fakta Jalan Braga, Kawasan Ikonik di Paris Van Java



Jakarta

Jalan Braga merupakan kawasan legendaris di Bandung. Kini, tiap akhir pekan Jalan Braga bebas kendaraan, dinamai Braga Beken.

Dibangun sejak zaman Hindia Belanda, Jalan Braga disebut sebagai saksi bisu perkembangan zaman. Jalan sepanjang 850 meter itu merupakan pusat perbelanjaan dan tempat berkumpul pada masa Hindia Belanda.

Di sisi kanan kiri Jalan Braga terdapat komplek toko yang memiliki arsitektur kuno pada masa Hindia Belanda. Kini, di sepanjang Jalan Braga terdapat berbagai restoran, kafe, penginapan, hingga apotek, dan sejumlah kantor.


Jalan Braga juga masih menjadi salah satu jalur utama di jantung kota Bandung. Jalan itu padat dengan lalu lalang kendaraan dan para pejalan kaki, juga pedagang, serta mobil dan motor yang parkir.

Akhir pekan lalu, Jalan Braga memiliki wajah berbeda. Pemerintah Kota Bandung menjadikan Jalan Braga bebas kendaraan. Rencananya setiap Sabtu dan Minggu Jalan Braga bakal bebas kendaraan.

Berikut lima fakta tentang Jalan Braga:

1. Mulanya Disebut Pedatiweg

Jalan Braga dulu dikenal sebagai Pedatiweg merupakan jalur yang vital di masa kolonial Belanda. Mulanya merupakan jalan becek dan berlumpur yang kerap dilewati oleh pedati pengangkut kopi.

Nama Pedatiweg berasal dari kata “pedati,” sejenis kereta kuda yang banyak digunakan pada zaman itu dan “Weg” dalam bahasa Belanda bermakna “jalan”.

Baru sekitar tahun 1882, Pieter Sijthoff, asisten residen Bandung, mengubah nama Pedatiweg menjadi Bragaweg. Diambil dari nama seorang penulis drama Theofila Braga.

Para ahli sastra Sunda menyebut bahwa nama Braga merujuk pada kata “Baraga” yakni jalan di tepi sungai, dimana Jalan Braga memanglah terletak di tepi Sungai Cikapundung.

Penamaan Braga juga disebut-sebut berasal dari minuman keras khas Rumania yang sering disajikan di Societeit Concordia (sekarang Gedung Merdeka) di bagian selatan Bragaweg.

Dalam bahasa Sunda, nama Braga juga berasal dari kata “Ngabaraga” yang memiliki arti bergaya memamerkan tubuh, nampang, atau mejeng.

2. Dahulu Disebut “Jalan Culik”

Tak seperti sekarang, dahulu Jalan Braga dikenal sebagai jalan yang kecil dan sepi yang rentan terhadap aksi penculikan. Membuatnya kerap mendapat julukan “Jalan Culik”

Jalan Braga yang sepi membuat reputasinya sebagai tempat yang mengerikan di mana banyak orang terluka dan bahkan meninggal karena kegiatan kriminalitas. Jalan Braga menjadi tempat patroli tentara kolonial, yang mengakibatkan banyak pembantaian.

3. Asal Mula Julukan Kota Kembang

Meskipun Bandung juga terkenal dengan keberagaman taman bunganya, namun julukan “Kota Kembang” tidak berasal dari kesejukan bunga-bunga itu. Sebaliknya, julukan merupakan sebuah kiasan berkonotasi negatif di era Belanda.

Bersamaan dengan ramainya Jalan Braga sebagai tempat pertemuan para bangsawan, kehadiran hiburan malam di sudut remang-remang, membuatnya juga dikenal oleh turis mancanegara yang mencari wanita-wanita cantik di kota ini. Sejak saat itulah, Bandung dijuluki sebagai “Kota Kembang”.

Walau begitu, Jalan Braga tetap menjadi simbol sejarah dan budaya yang mencerminkan perubahan zaman dan peranannya dalam perkembangan kota Bandung.

Wisatawan kini dapat menjelajahi Jalan Braga untuk menikmati perpaduan antara sejarah dan gaya hidup kontemporer yang menarik.

4. Toko Senjata Api Jadi yang Pertama Berdiri di Jalan Braga

Bukan kafe atau toko pakaian, melainkan toko senjata api adalah toko pertama di Jalan Braga didirikan pada tahun 1894 oleh C.A. Hellerman. Selain menjual senjata api, toko tersebut juga menawarkan berbagai macam barang seperti sepeda, kereta kuda, dan melayani sebagai bengkel reparasi senjata api.

Namun, bangunan pertama tempat toko tersebut berdiri, yang sekarang dikenal sebagai bangunan tua nomor 51, telah runtuh dan ditinggalkan oleh pemiliknya.

5. Tempat Komersil dan Hiburan

Dalam e-book Mengembalikan Citra Kawasan Jalan Braga Bandung disebutkan pada 1910 Jalan Braga dirancang oleh pemerintahan kolonial menjadi pusat perbelanjaan bagi orang-orang Eropa di Hindia Belanda. Bahkan, kawasan ini disebut pula sebagai Het meest Europeesche Winkelstraat van Indië, atau kawasan pertokoan Eropa terkemuka di Hindia Belanda.

Jalan Braga kemudian ramai diisi oleh pengusaha Belanda dengan membangun toko, bar, hingga tempat hiburan. Tak hanya menjadi trendsetter mode pakaian, pada 1931 salah seorang anggota Komisi Loggemann, Ir. Thomas Karsten membuat Stadsvormings Ordonantie (SVO) memberi panduan perencanaan kota di Hindia Belanda.

Bersama sejumlah profesor lainnya, ada sejumlah hal yang ingin ditata dari kawasan Braga, antara lain: bangunan langsung berhadapan dengan tepi jalan, tanpa adanya halaman teras, antara satu bangunan dengan bangunan lainnya harus saling berdampingan, tanpa ada ruang kosong sedikit pun, ketinggian bangunan hanya 2 lantai, yakni lantai pertama untuk komersial dan halaman belakang dan lantai atas untuk hunian, dan bangunan harus memberi kesan yang selaras baik secara horizontal maupun vertikal.

Lantai pertama dilengkapi pintu masuk dan dinding kaca etalage. Jendela kaca boven-licht untuk penerangan ruang dalam yang dilengkapi lubang ventilasi alami, alias gesloten bebouwing.

6. Mati Suri

Masa kejayaan Braga tidak berlangsung terus-menerus. Jalan Braga mati suri akibat situasi politik dunia yang bergejolak di tahun 1942.

Yakni, saat Jepang memulai ‘kisah’-nya di Tanah Air, kawasan ini seperti ditinggalkan hanya meninggalkan jejak-jejak bangunan bergaya Indische Style saja.

7. Bangunan Bersejarah yang Tersisa

Braga kembali bangkit usai ditetapkan sebagai historical district oleh Pemerintah Kota Bandung lewat Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2009. Sejumlah bangunan kolonial masih tersisa.

Dari Jalan Asia-Afrika, terdapat Hotel Savoy Homann dan Gedung Merdeka yang menjadi saksi terjadinya Konferensi Asia-Afrika pertama di tahun 1955 silam. Lalu, ada pula Bioskop de Majestic dengan bentuk unik menyerupai kaleng biskuit. Serta, Sarinah Braga yang kini beralih fungsi menjadi tempat penginapan berkelas di Bandung.

Bergeser sedikit ke arah utara, terdapat Gedung Gas Negara hingga restoran Braga Permai eks Maison Bogerijen yang pernah menyajikan makanan istimewa bagi kaum Belanda. Terakhir, ada pula Gedung Bank Indonesia dan Gereja Katedral St. Petrus Bandung dengan menyimpan sejarah perkembangan umat Katolik di Kota Kembang.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Tiket Masuk dan Serba-serbi GWK Cultural Park



Badung

Berlibur ke Bali belum afdal jika tak berkunjung ke taman budaya yang satu ini; Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park. Begitu megah.

GWK Cultural Park merupakan sebuah taman budaya yang menjadi interpretasi atas kekayaan budaya Bali. Ta,an itu menjadi perwujudan berbagai wujud seni patung, ritual budaya, dan beragam pertunjukan seni khas Bali.

Nggak hanya menikmati keindahan arsitektur patung raksasa, traveler juga bisa menikmati pertunjukan seni budaya Bali.

Penasaran dengan daya tarik dan aktivitas menarik di GWK Cultural Park?

Berikut serba-serbi GWK Cultural Park:

Daya Tarik GWK Cultural Park

Sebagai salah satu destinasi budaya favorit wisatawan. GWK Cultural Park tentu memiliki banyak daya tarik yang mampu membuat setiap pengunjung merasakan keseruannya. Berikut beberapa daya tariknya.


1. Plaza Kura-kura

Plaza Kura-kura terletak diantara Street Theater dan Plaza Wisnu. Di sini traveler bisa menemukan sebuah kolam jernih dengan patung Dewi Laksmi. Jika diperhatikan lebih detail, pada dinding batu kapur di Plaza Kura-kura terdapat pahatan berbentuk kura-kura.

Tak hanya itu, di sini traveler juga bisa melemparkan uang koin ke dalam kolam sambil mengucapkan sebuah permintaan. Konon permintaan tersebut bisa terkabulkan.

2. Plaza Wisnu

Terletak di puncak bukit, Plaza Wisnu menawarkan panorama pulau yang menakjubkan dan merupakan tempat yang sempurna untuk menyaksikan matahari terbenam. Di sini traveler juga bisa menemukan Patung Dewa Wisnu berukuran raksasa

Traveler juga menemukan sumber mata air suci yang dikenal sebagai Parahyangan Somaka Giri. Uniknya walaupun berada di daerah kering dan tinggi, sumber mata air ini tak pernah kering loh.

3. Plaza Garuda

Plaza Garuda menyajikan kemegahan Patung Burung Garuda yang menjadi tunggangan Dewa Hindu Wisnu. Melambangkan pengorbanan, kesetiaan, dan kepercayaan. Garuda, simbol bangsa Indonesia, mewakili sifat keberanian, kebijaksanaan, kekuatan, dan disiplin. Di sini wisatawan sering melakukan foto pre-wedding karena lokasinya yang estetik dan indah.

4. Garuda Sineloka

Garuda Sineloka adalah sebuah bioskop mini yang menayangkan film animasi tentang Petualangan Garuda Cilik dalam mencari Tirta Amerta milik Dewa Wisnu untuk sang ibunda. Untuk menonton film animasi ini, traveler tak dikenakan biaya tambahan lagi, alias gratis. Pemutaran film dilakukan setiap hari, mulai pukul 10.30 hingga 19.30 WITA.

5. Amphitheater dan Street Theater

Amphitheater dan Street Theater adalah dua tempat dimana traveler bisa menyaksikan keindahan pertunjukkan budaya Bali. Pertunjukkan hadir setiap hari mulai pukul 11.00 hingga 18.00 WITA. Beberapa diantaranya seperti, Tari Sekar Jepun, Tari Jauk Manis, Tari Oleg Tamulilingan, Tari Barong-Bojog, dan masih banyak lagi. Total terdapat 15 pertunjukkan yang dapat traveler saksikan, tanpa ada biaya tambahan.

6. Patung GWK

Spot utama dari GWK Cultural Park adalah patung GWK setinggi 122 meter dengan lebar 66 meter. Menjadi ikon kebanggan Indonesia dan Pulau Dewata. Diresmikan pada 22 September 2018 oleh Presiden RI, Joko Widodo.

Patung GWK menjadi salah satu spot foto favorit wisatawan yang berkunjung. Namun belum afdol jika traveler tak mencoba masuk ke patung raksasa ini. Traveler diperkenankan masuk ke lantai 9 dan lantai 23 patung GWK.

7. Spot Foto Estetik

Di GWK Cultural Park traveler dijamin nggak akan kehabisan spot foto yang estetik dan instagramable. Mulai dari latar belakang patung raksasa hingga barisan bukit kapur yang cantik.

Jika traveler masuk ke lantai 9 dan 23, disana terdapat spot foto unik di atas kaca yang menyajikan langsung pemandangan rangka patung GWK. Unik sekaligus anti mainstream banget!

Kalau mau berfoto indoor, GWK Cultural Park juga punya ASANA Artseum Bali sebagai salah satu studio foto dengan berbagai latar belakang klasik Bali dan Jawa.

Aktivitas Menarik di GWK Cultural Park

Nah, bagi traveler yang masih ragu berkunjung ke GWK Cultural Park karna bosan melihat patung saja? Ternyata di sini juga menawarkan banyak aktivitas menarik, loh. Contohnya seperti Fun Outdoor Activities. Traveler bisa mencoba berbagai permainan, seperti skuter, fun wheels, trampoline, gowes, dan masih banyak lagi.

Kalau nggak mau bermain outdoor, traveler wajib mencoba aktivitas mengeksplorasi lantai 9 dan 23 di dalam patung GWK. Traveler bisa menyaksikan keindahan Pulau Dewata dari ketinggian. Di dalam patung ini juga terdapat banyak aktivitas, seperti menonton video, spot foto, sekaligus mengetahui bagaimana proses dan sejarah berdirinya patung GWK ini.

Lokasi, Harga Tiket, dan Jam Operasional

GWK Cultural Park berlokasi di Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Untuk mencapai objek wisata ini, traveler harus menempuh sekitar 12 km atau waktu tempuh sekitar 30 menit dari Bandara Ngurah Rai.

Tak perlu khawatir, GWK Cultural Park sudah memiliki fasilitas parkir yang luas untuk traveler yang membawa kendaraan. Terdapat pula fasilitas Shuttle Bus gratis yang akan membawa pengunjung dari area parkir menuju ke area penjualan tiket.

Untuk menikmati berbagai aktivitas seru di GWK Cultural Park, traveler hanya perlu membayar tiket mulai dari Rp 125.000/orang untuk tiket reguler, Rp 200.000/orang untuk tiket eat and trip, dan Rp 300.000/orang untuk tiket ultimate yang berkesempatan mendapatkan akses ke lantai 9 dan 23 patung GWK.

Semua harga tiket tersebut sudah mendapatkan akses untuk menonton 15 pertunjukan seni, akses ke ASANA Artseum, akses menonton film animasi Garuda Cilik di Garuda Sineloka, dan refreshment drink di Jendela Bali Resto.

Traveler yang ingin berkunjung ke GWK Cultural Park, destinasi ini buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WITA.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

7 Wisata Bahari Populer di Indonesia, Pesona Lautnya Memanjakan Mata


Jakarta

Indonesia memiliki segudang destinasi wisata yang memukau, termasuk wisata bahari.

Mengutip situs resmi Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, wisata bahari adalah kegiatan wisata alam yang berlangsung di wilayah pesisir dan/atau laut yang meliputi wisata pantai, wisata bentang laut, dan wisata bawah laut.

Wisata bahari adalah salah satu cara bagi turis, baik lokal maupun mancanegara, untuk mengapresiasi keindahan lautan Indonesia.


Tertarik menjadikan wisata bahari sebagai aktivitasmu di liburan selanjutnya? Simak rekomendasi tempat di Indonesia yang bisa dijadikan lokasi berwisata bahari.

Wisata Bahari di Indonesia

Berikut lokasi-lokasi wisata bahari di Indonesia yang akan memesona detikers dengan keindahan lautnya.

1. Kepulauan Natuna

Pulau Laut tampak dari kapal salah satu nelayan di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.Kepulauan Natuna (Aditya Pradana/Antra)

Natuna adalah salah satu kabupaten di provinsi Kepulauan Riau. Mengutip situs resmi Dinas Pariwisata Kabupaten Natuna, kepulauan ini terletak di paling utara selat Karimata.

Kabupaten Natuna memiliki berbagai objek wisata alam, termasuk wisata bahari. Detikers bisa mengunjungi berbagai pulau yang ada di Kepulauan Natuna, misalnya Pulau Senua yang dikelilingi pantai pasir putih serta air jernih sehingga bisa melihat dasar laut.

Ada juga Pulau Sahi, pulau kecil tak berpenghuni yang bisa diraih dengan berjalan kaki ketika air laut sedang surut. Laut di sekitar pulau ini memiliki terumbu karang yang cantik dan menawan. Detikers bisa menikmati olahraga renang, snorkeling, ataupun memancing.

2. Labuan Bajo

Penampakan bagian belakang Ayana Komodo Resort di pantai Wae Cicu, Labuan Bajo (Ambrosius Ardin)Labuan Bajo, NTT (Ambrosius Ardin/detikBali)

Jika berbicara soal wisata bahari, sebagian besar orang mungkin langsung memikirkan Labuan Bajo. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bahkan menetapkan Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas. Labuan Bajo berada di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Salah satu tempat wisata bahari di Labuan Bajo yang sangat menarik adalah Pink Beach. Lautnya biru dan bersih, dan sama seperti namanya, pasir di pantai ini berwarna merah muda. Warna ini berasal dari hewan mikroskopis dan pecahan batu karang berwarna kemerahan di sekitar pesisir pantai.

Di Labuan Bajo, detikers juga bisa mengunjungi Taman Nasional Komodo. Areanya terdiri dari beberapa pulau yang beririsan, yakni Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, dan beberapa pulau lain di sekitarnya. Di sini detikers bisa melihat langsung komodo, hewan purba berupa kadal raksasa yang diketahui hanya ada di Indonesia.

3. Bunaken

Free Dive di BunakenBunaken (Brigida Emi Lilia/d’Traveler)

Bunaken adalah sebuah pulau yang terletak di bagian utara pulau Sulawesi. Secara administratrif, Bunaken merupakan bagian dari kota Manado, ibu kota provinsi Sulawesi Utara. Pulau Bunaken merupakan bagian dari Taman Nasional Bunaken, sebuah kawasan konservasi dengan keindahan alam bawah laut yang memesona.

Mengutip situs resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sedikitnya terdapat 4 spot menyelam yang sering dikunjungi, yaitu Malcolm, Bethlehem, Emma Point, dan Rumah Ikan.

Selain itu, terdapat 2 spot snorkling yang ramai dikunjungi, yaitu Emma Point dan Rumah Ikan. Penyelam akan dimanjakan dengan kecantikan ribuan jenis ikan tropis dan terumbu karang.

4. Raja Ampat

Piaynemo dan Telaga Bintang Raja AmpatRaja Ampat (Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)

Salah satu lokasi wisata bahari Indonesia yang terkenal adalah Raja Ampat. Raja Ampat adalah kabupaten di provinsi Papua Barat Daya yang terdiri atas 610 pulau yang sebagian besar merupakan pulau-pulau kecil tak berpenghuni dan belum memiliki nama.

Salah satu gugusan kepulauan di kabupaten ini adalah Kepulauan Raja Ampat, salah satu destinasi diving paling populer di Indonesia. Penyelam disuguhi keindahan ekosistem bawah laut yang sangat beragam.

Ekosistem bawah laut di Raja Ampat sangat terjaga. Pada tahun 2022 lalu, Raja Ampat mendapatkan penghargaan Blue Park Award oleh Marine Conservation Institute untuk konservasi alam lautnya yang sangat baik.

Sejak penghargaan ini diluncurkan pada tahun 2017 sampai sekarang (6/5/2024), ada 30 kawasan perlindungan laut di seluruh dunia yang mendapatkan penghargaan prestisius ini.

5. Wakatobi

Keindahan bawah laut Indonesia sungguh mempesona. Hal itu terlihat di Tomia, Wakatobi, Sultra, yang bawah lautnya punya ratusan spesies ikan dan terumbu karang.Wakatobi (Jojon/Antara)

Kabupaten Wakatobi terletak di provinsi Sulawesi Tenggara. Di sini, terdapat Taman Nasional Wakatobi yang menyimpan keanekaragaman hayati laut. Menurut situs resminya, detikers bisa menikmati berbagai kegiatan wisata bahari di sini.

Misalnya, menjelajahi pulau terjauh di Taman Nasional Wakatobi, yaitu Pulau Cowo-Cowo. Pulau ini memiliki pasir pantai yang luas, laut yang jernih, jajaran pohon kelapa yang indah, dan terumbu karang yang unik.

Tak hanya itu, pulau ini adalah lokasi penetasan penyu yang naik untuk bertelur, sehingga dijadikan lokasi monitoring penyu.

Jika ingin menyelam, Sombu Dive di Taman Nasional Wakatobi adalah salah satu spot menyelam yang populer. Daya tarik dari spot menyelam ini yaitu ikan midnight snapper (Macolor macularis). Selain itu, lokasi menyelam ini cocok bagi penyelam pemula.

6. Gili Trawangan

Ilustrasi Pulau Gili di Lombok, Nusa Tenggara BaratGili Trawangan (Rachman)

Gili Trawangan adalah salah satu gugusan pulau kecil dari Tiga Gili: Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air, disingkat Gili Tramena. Lokasinya di sebelah barat Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Mengutip situs resmi Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat, pulau ini memiliki hamparan pasir putih dan pemandangan laut biru yang menawan. Kegiatan yang cukup populer di sini adalah diving dan snorkeling. Pengunjung juga dapat bermain selancar, kayak, sampai melepas anak penyu ke laut bebas.

7. Kepulauan Derawan

Kepulauan DerawanKepulauan Derawan (Muhammad Fajri Abdillah Rahman/d’travelers)

Kepulauan Derawan adalah sebuah kepulauan yang berada di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Mengutip situs resmi Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur, di Kepulauan Derawan, terdapat beberapa ekosistem pesisir dan pulau kecil yang sangat penting, seperti terumbu karang, padang lamun, dan hutan bakau (hutan mangrove). Selain itu, berbagai spesies yang dilindungi dapat dijumpai di sini, seperti penyu hijau, penyu sisik, paus, lumba-lumba, kima, ketam kelapa, duyung (dugong), dan ikan barakuda.

Ada 4 pulau yang terkenal di kepulauan ini, yakni Pulau Derawan, Maratua, Sangalaki, dan Kakaban. Di Pulau Derawan sendiri, detikers bisa menyewa sepeda keliling pulau, bermain di pantai pasir putih, snorkeling, bahkan melihat penyu bertelur di malam hari. Detikers juga bisa berkunjung ke Gusung Pasir Sanggalau, sebuah gundukan pasir putih bersih yang bisa dicapai dengan naik speedboat sekitar 20 menit jika air sedang surut.

Di Pulau Maratua, terdapat kampung-kampung penduduk. Di sini, detikers bisa mengunjungi Gua Halo Tabung yang bisa diakses melalui jalan darat dan jalat laut ketika air pasang. Tersedia juga dive spot bernama Turtle Traffic, tempat pengunjung bisa berenang bersama penyu.

Bagaimana dengan Pulau Sangalaki? Di sini, tidak terdapat perkampungan penduduk. Yang ada di sini adalah resort eksklusif serta TWA (Taman Wisata Alam) yang berfungsi untuk melestarikan biota laut, terutama habitat bagi penyu hijau dan penyu sisik. Di sini, detikers bisa melihat proses penetasan telur penyu, melihat penyu bertelur, dan melepas tukik ke laut. Detikers juga bisa berenang bersama ikan pari manta di sekitar Pulau Sangalaki, lho.

Terakhir adalah Pulau Kakaban, yang juga merupakan pulau tak berpenghuni. Daya tarik utama di pulau ini adalah danau air payau di bagian tengah pulau dan dikelilingi hutan yang cukup lebat. Di dalam danau, ada banyak ubur-ubur yang sudah mengalami proses evolusi sehingga kehilangan kemampuan menyengatnya. Jadi, detikers bisa berenang bersama ubur-ubur tanpa takut disengat.

Menikmati Wisata Bahari secara Ramah Lingkungan

Ketika berwisata bahari, pastikan kita tidak mengganggu habitat keanekaragaman hayati yang ada di sana. Mengutip Ecotourism World, berikut beberapa cara menikmati wisata bahari yang tidak mengganggu lingkungan laut.

1. Tur Kapal Bertenaga Mesin

Terkadang, untuk menikmati pemandangan laut dan ekosistemnya, wisatawan harus menumpang kapal. Jika memungkinkan, gunakan jasa tumpangan yang memakai kapal bertenaga mesin untuk mengurangi suara bising yang mungkin mengganggu hewan-hewan laut.

2. Gunakan Sunscreen yang Aman untuk Terumbu Karang

Sunscreen atau tabir surya penting digunakan ketika beraktivitas di pantai atau laut agar kulit terlindungi dari radiasi matahari. Akan tetapi, beberapa jenis sunscreen mengandung zat yang buruk untuk kesehatan terumbu karang.

Ketika menyelam, gunakanlah sunscreen yang aman untuk terumbu karang, misalnya terbuat dari bahan-bahan organik atau tidak mengandung bahan kimia aktif.

3. Buang Sampah pada Tempatnya

Ketika berwisata bahari, kita perlu ekstra hati-hati dengan sampah, sebab bisa dikonsumsi oleh hewan laut tanpa sengaja atau merusak ekosistem terumbu karang. Buanglah sampah pada tempatnya atau gunakan kemasan daur ulang sehingga tidak perlu langsung dibuang.

Potensi wisata bahari di Indonesia memang tiada habisnya. Apakah detikers pernah mengunjungi destinasi wisata bahari di atas?

(fds/fem)



Sumber : travel.detik.com

Jadi Patung Tertinggi Keempat di Dunia, Begini Sejarah Pembangunan Patung GWK



Badung

Pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) cukup berliku. Seperti apa ya?

Patung GWK di GW K Cultural Park, Badung, Bali memiliki tinggi 122 meter. Patung itu tepatnya berada di Desa Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, memiliki sejarah yang menarik untuk dipelajari.

Menjadi maskot Pulau Dewata, GWK dibangun di lahan kapur seluas 60 hektar, dengan tinggi 122 meter dan berat 4.000 ton. Kini patung GWK sudah menduduki posisi keempat sebagai patung tertinggi di dunia.


Sejarah Pembangunan Patung GWK

Pendirian patung GWK mulai dikonsepsi tahun 1989. Kala itu, Joop Ave yang pernah menjabat sebagai Direktur Jendral Pariwisata RI menginisiasikan pembangunan patung setinggi 5 meter di Bandara Ngurah Rai. Guna menarik lebih banyak kunjungan wisatawan.

Pada tahun 1990, diputuskan pembangunan patung dilakukan di luar bandara, dengan menggandeng seniman Bali bernama I Nyoman Nuarta. Dipilihlah lahan bekas penambangan kapur di daerah Ungasan. Dengan dukungan Ida Bagus Mantra dan melibatkan Ida Bagus Oka serta Ida Bagus Sudjana.

“Mulanya GWK ini digagas oleh Bapak Joop Ave. Menurutnya Indonesia harus memiliki sesuatu yang ikonik dan menarik banyak wisatawan. Tahun 1990, Bapak Joop Ave menggandeng Bapak I Nyoman Nuarta untuk menggagas ikon GWK,” kata Operation Director GWK Stefanus Yonathan Astayasa.

Tahun 1993, Presiden Soeharto merestui pembangunan proyek ini. Akhirnya fase perencanaan Garuda Wisnu Kencana (GWK) dimulai. Pembangunan pun mengalami kendala akibat adanya krisis moneter tahun 1998. Pembangunan terhenti selama 16 tahun.

Muncul secercah harapan untuk melanjutkan pembangunan GWK. Tahun 2012, PT Alam Sutera Realty Tbk berkomitmen untuk melanjutkan proyek mahakarya Indonesia. Upacara Ngeruak dan Mendem Pedagingan dilakukan guna mengawali proses pembangunan.

“Tahun 2010 diadakan GWK Expo, dan Alam Sutera hadir di GWK Expo ini. Tahun 2012 akhirnya Alam Sutera berkomitmen untuk membangun patung GWK hingga selesai,” ujar Stefanus.

Pada 23 Agustus 2013, dilakukan peletakan batu pertama. Proses pekerjaan pun dimulai dengan membangun pondasi rakit seluas 7.154,41 meter persegi. Tahun 2018, mahkota Dewa Wisnu sudah dipasang, seiring dengan dilakukannya upacara Pasupati. Upacara Melaspas pun dilakukan guna menandai berakhirnya proyek pembangunan patung GWK.

Peresmian Patung Garuda Wisnu Kencana

Pada 22 September 2018, peresmian patung Garuda Wisnu Kencana oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Sekaligus sebagai persembahan peringatan HUT ke-73 RI. Dihadiri oleh beberapa tokoh masyarakat dan pejabat penting negara.

Kini, patung GWK sudah terkenal sebagai ikon Pulau Bali. Patung GWK dengan tinggi 122 meter menjadi patung tertinggi keempat, setelah Patung Vallabhbhai Patel di India (182 meter) sebagai peringkat pertama, Sang Buddha di Tiongkok (153 meter) dan Myanmar (130 meter).

Sudah tau kan sejarah patung GWK? Butuh waktu 28 tahun untuk mewujudkan mahakarya sekaligus ikon Pulau Bali. Jadi, jangan lupa berkunjung untuk menyaksikan megahnya patung GWK ya!

(fem/iah)



Sumber : travel.detik.com

Ikut Workshop Batik Lukis di Batik Seno Painting, Yuk!


Yogyakarta

Traveler bisa menjajal membatik di Batik Seno Painting. Seru dan menegangkan, tetapi juga menyenangkan dan menenangkan!

Tidak melulu wisata alam, Jogja juga menggaet wisatawan dengan budayanya yang kental. Salah satunya adalah batik.

Batik biasanya dikenal dalam wujud fashion atau pakaian. Namun, ternyata ada satu produk unik yang masih jarang orang ketahui yaitu lukisan batik.


Batik Seno berdiri sebagai galeri batik lukis terbesar di Jogja sejak tahun 1979. Kini, mereka telah berkiprah sebagai rumah produksi bagi belasan pelukis batik sekaligus galeri seni yang bisa dikunjungi oleh wisatawan.

“Membatik itu bukan sekadar melukis atau menggambar, tapi tentang ketenangan hati dan pikiran. Jadi kalau membatik harus benar-benar rileks, harus sabar, santai, fokus. Kalau dalam kondisi emosi misal sedang marah atau terlalu senang, biasanya tidak akan berhasil. Itu akan mempengaruhi konsistensi garis. Makanya orang membatik cenderung diam,” kata Melinda, pemilik Batik Seno, saat ditemui detikTravel di galerinya.

Filosofi tersebut yang akhirnya membawa Melinda membuka adanya kelas workshop bagi wisatawan yang berminat belajar langsung. Selain melestarikan budaya bangsa, Melinda ingin mengajak wisatawan mencari ketenangan batin lewat seni lukis batik.

Melinda juga berharap melalui workshop pembeli semakin paham value yang dimiliki oleh batik. Alasan mengapa harga batik cenderung mahal akan terjawab melalui setiap proses yang dilalui. Dari situ akhirnya wisatawan lebih menghargai batik sebagai warisan budaya Indonesia.

Berlokasi di Mantrijeron MJ 3/ 801, Kota Yogyakarta, Batik Seno dekat dengan kampung turis Prawirotaman. Menuju lokasi ini sangat mudah, dari Stasiun Tugu hanya butuh waktu sekitar 15 menit perjalanan dengan motor.

“Tamu yang datang tidak ditarik HTM, kami jelaskan, tidak beli juga tidak apa-apa. Cuma kalau untuk rombongan sekolah kami agak membatasi, terutama untuk musim ramai, karena ga cukup tempatnya,” kata Melinda.

Workshop batik lukis di Batik Seno Painting, YogyakartaWorkshop batik lukis di Batik Seno Painting, Yogyakarta. (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Tidak perlu takut dan sungkan jika hanya ingin berkunjung dan melihat secara langsung proses produksi batik lukis. Namun, sangat disayangkan bukan jika tidak merasakan langsung pengalaman mencipta karya lukis batik milik sendiri?

“Untuk workshop mulai 75k-300k. Tapi tidak harus diselesaikan dalam sehari, bisa berangsur. Harganya sama untuk penyelesaian sehari, tiga hari, bahkan sebulan,” kata Melinda

Workshop batik lukis di Batik Seno terbuka untuk umum di hari Senin hingga Sabtu, dan membutuhkan reservasi jika ingin datang di Hari Minggu. Harga workshop mulai dari Rp 75.000 hingga Rp 300.000 dengan penawaran gratis kain lukis, properti membatik, juga minuman.

Berikut daftar paket lengkap Batik Workshop di batik Seno Painting :

Short Batik Workshop

Paket ini menawarkan kelas membatik singkat untuk lukisan batik dengan ukuran kain 25×25 cm dan satu kali proses pewarnaan dengan harga Rp 75.000 per orang.

Wisatawan dapat hadir pada jam 09.00 hingga 15.00. Menurut Melinda, proses membatik setiap orang memerlukan waktu yang berbeda, sehingga tidak ada patokan waktu pengerjaannya. Namun umumnya kelas ini membutuhkan waktu sekitar satu sampai 2 jam pengerjaan.

Batik Coloring For Kids

Menawarkan kelas untuk anak belajar melukis batik, paket ini sudah termasuk kain batik lukis ukuran 30×30 cm, pola desain, peralatan membatik, hingga minuman, dengan harga Rp 100.000 per orang. Jam kunjungan masih sama, dan pengunjung diharapkan datang sebelum pukul 13.30 WIB.

Batik Workshop Small Size

Sama seperti short class sebelumnya, paket ini menyediakan kelas membatik dengan kain batik ukuran 30×30 cm dan 2 kali proses pewarnaan dengan harga Rp 200.000 per orang. Sudah gratis minuman, pengunjung akan dibatasi maksimal 10 orang setiap sesinya. Proses ini umumnya memakan waktu 2 sampai 3 jam pengerjaan.

Full Proccess Batik Workshop

Paket ini merupakan penawaran terbesar dengan harga Rp 300.000 per orang. Pengunjung akan mendapatkan kain batik lukis ukuran 45×50 cm dengan 3 kali proses pewarnaan. Tidak perlu takut tidak mampu menyelesaikannya dalam sehari, traveler bisa datang kapanpun saat luang hingga lukisannya selesai dibuat.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Cara Pesan Tiket SKORZ, Wisata Sportainment Paling Populer di Jakarta 2024



Jakarta

SKORZ, arena sportainment terbaru yang sangat dinantikan, resmi dibuka untuk umum sejak tanggal 10 Desember 2023. Terletak di FX Sudirman Level 3, SKORZ menawarkan kesempatan olahraga sambil bermain dalam bangunan dengan luas lebih dari 2.000 meter persegi.

Tempat ini memiliki 15 wahana yang seru dan menantang, kafe yang nyaman, serta ruang pesta eksklusif. Cukup membayar mulai dari Rp 200.000, kamu bisa mencoba seluruh wahana yang ada di SKORZ.

SKORZ menjadi destinasi one-stop untuk berolahraga dan rekreasi yang sangat lengkap. SKORZ dirancang sebagai arena bermain remaja dan dewasa dengan tinggi badan minimal 120 cm.


Sebagai destinasi favorit bagi para penggemar olahraga dan petualang, SKORZ menawarkan fasilitas olahraga mutakhir seperti lapangan basket, lapangan futsal, pickle ball, dan snooker ball. Selain itu, zona petualangan dengan jalur rintangan menantang seperti Ninja Flame, Wall Climbing, dan Trampoline akan meningkatkan tingkat adrenalin kamu.

Bahkan, kamu juga bisa mencoba berbagai permainan virtual dan arena baru laser tag yang menarik. Selain itu, kamu juga dapat mencoba keseruan di area hiburan khusus yang meliputi mini golf, karaoke, dan dance challenge yang menghibur segala usia.

Merasa lapar di tengah serunya bermain? SKORZ Cafe menyediakan berbagai pilihan lezat mulai dari masakan gourmet hingga camilan klasik untuk memuaskan selera kamu.

Dengan 14 permainan seru mulai dari yang penuh tantangan seperti Ninja Flame dan climbing hingga yang cocok untuk keluarga seperti mini golf, serta berbagai lapangan olahraga lainnya seperti futsal, basket ball, dan snooker football, SKORZ mendorong gaya hidup aktif dengan lebih menyenangkan.

Cara Pemesanan Tiket

Tertarik untuk bermain di SKORZ? Berikut cara pemesanan tiket SKORZ melalui detikEvent:

  • Kunjungi laman detikEvent atau klik di sini.
  • Klik “Pesan Tiket”.
  • Pilih jumlah tiket yang ingin dibeli.
  • Log in menggunakan akun MPC. Jika belum memiliki akun, lakukan pendaftaran terlebih dahulu.
  • Selesaikan pemesanan dan lakukan pembayaran.

Segera pesan tiket kamu melalui detikEvent sekarang juga!

(ddn/ddn)



Sumber : travel.detik.com

5 Destinasi Dekat Stasiun Kereta, Cocok Nih Didatangi Saat Long Weekend



Jakarta

Long weekend ini, traveler bisa berburu tempat cantik yang berada di dekat stasiun kereta api. Banyak kok tempat-tempat populer yang lokasinya tidak jauh dari stasiun kereta.

KAI pun membagikan beberapa spot destinasi yang lokasinya dekat dengan stasiun kereta. Catat ya!

Masjid Raya Al-Jabbar, Bandung


Umat Islam yang melaksanakan Shalat Idul Fitri di Masjid Raya Al Jabbar, Gedegage, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (22/4/2023). Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1444 H pada Sabtu (22/4). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/nym.Masjid Raya Al Jabbar, Gedegage, Bandung, Jawa Barat, ( ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/nym. Foto: ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI

Siapa yang tidak tertarik dengan kemegahan Masjid Raya Al-Jabbar atau dikenal dengan Masjid Terapung Gedebage? Dibangun sejak 2017, Masjid Raya Al-Jabbar dirancang berada di atas danau retensi yang merupakan salah satu penanggulangan banjir di Gedebage.

Arsitektur Masjid Raya Al Jabbar yang didesain Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat menjabat Wali Kota Bandung ini terinspirasi dari desain eksterior dan interior masjid di Turki dan Iran, dengan halaman yang luas dan melewati bangunan dengan nuansa berbeda. Ciri khas masjid megah ini memiliki 4 menara setinggi 99 meter, sebagai simbol Asmaul Husna. Sentuhan lain yaitu memiliki sentuhan khas Jawa Barat yang dapat dilihat pada puncak atap, yaitu ikon tusuk sate, seperti yang terdapat pada Gedung Sate dan kantor Gubernur Jawa Barat.

Kamu dapat menikmati kemegahan Masjid Raya Al Jabbar dengan akses yang sangat mudah. Jika kamu datang dari luar Kota Bandung, kamu dapat naik kereta tujuan Stasiun Bandung, lalu berpindah ke Commuter Line Bandung Raya atau Commuter Line Garut dan turun di Stasiun Cimekar. Dari sana, kamu hanya perlu berjalan kaki menuju kawasan Masjid Raya Al Jabbar. Selain itu, tersedia juga ojek pangkalan yang siap mengantarkanmu ke kawasan Masjid Raya Jawa Barat tersebut.

Candi Prambanan, Yogyakarta

Liburan ke Candi Prambanan Candi Prambanan Foto: Dok. InJourney

Peninggalan sejarah yang tidak boleh kita lewatkan dan telah ditetapkan UNESCO sebagai situs warisan dunia pada tahun 1991 adalah Candi Prambanan. Candi Hindu setinggi 47 meter ini dibangun oleh Dinasti Sanjaya pada abad ke-9. Bangunan candi terdiri dari tiga halaman tertutup. Candi utama terletak di halaman dalam dan dikelilingi oleh beberapa candi kecil disebut candi-candi ‘Perwara’.

Selain dapat menikmati kemegahan dari warisan sejarahnya, kamu juga dapat menonton pertunjukan budaya Sendratari Ramayana Prambanan yang biasanya digelar setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu.

Tertarik untuk mengunjunginya? Kamu dapat mengunjungi Candi Prambanan dengan akses yang sangat mudah, yaitu menggunakan kereta rel listrik (KRL) dan turun di Stasiun Brambanan. Jarak antara Stasiun Brambanan dan Candi Prambanan cukup dekat, hanya sekitar satu kilometer. Dengan demikian, kamu dapat melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau naik ojek menuju Candi Prambanan.

Masjid Raya Sheikh Zayed Solo (MRSZS), Surakarta

Suasana Masjid Raya Sheikh Zayed, Solo, Rabu (1/3/2023).Suasana Masjid Raya Sheikh Zayed, Solo, Rabu (1/3/2023). Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng

Mulai dibuka untuk umum pada 1 Maret 2023 lalu, Masjid Raya Sheikh Zayed Solo terus dibanjiri wisatawan dari berbagai daerah karena bangunan masjid yang begitu megah dan menawan berbeda dari bangunan masjid di Indonesia pada umumnya.

Arsitektur masjid ini dibuat mirip dengan Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi dengan empat menara, 82 kubah kecil, dan satu kubah utama bergaya Maroko. Kemegahan lain yaitu sebagian lantai dan dindingnya menggunakan marmer Italia. Namun ada ciri khas dari bangunan ini yaitu adanya motif batik di tiap-tiap komponen bangunan seperti kawung, kembang, dan bokor kencono sehingga tidak meninggalkan ciri khas Indonesia.

Masjid Raya Sheikh Zayed telah menjadi tempat wisata religi terbaru di Kota Solo yang patut untuk dikunjungi, terutama karena lokasinya yang dekat dengan Stasiun Solo Balapan.

Gua Maria Lourdes Pohsarang, Kediri

Khusus untuk umat Katolik, terdapat sebuah ikon yang menyerupai Sanctuary of Lourdes di Prancis, terletak di Kediri, yaitu Gua Maria Lourdes Pohsarang, yang juga dikenal sebagai Gua Maria Pohsarang, sebuah situs yang sangat istimewa.

Gua Maria Pohsarang adalah tempat rohani yang unik karena menggabungkan arsitektur khas dengan sentuhan budaya Jawa. Terletak di lereng Gunung Wilis, dengan ketinggian 400 mdpl, udara di sekitar Gua Maria ini sangat sejuk dan segar. Di dalam gua, terdapat replika patung Bunda Maria dan Tuhan Yesus dengan tinggi 1,75 meter, kedua tangan terbuka seolah-olah menyambut umat Katolik yang datang.

Tidak kalah menarik, gerbang dari Gua Maria ini terbuat dari batu alam yang tersusun rapi dan estetik. Menariknya lagi di sana juga terdapat menara lonceng yang digunakan sebagai penghormatan kepada Santo, yang diberi nama Menara Santo Hendrikus. Di puncak menara, terdapat ayam yang berfungsi sebagai penunjuk arah mata angin.

Buat kamu yang ingin berkunjung ke Gua Maria ini, tidak perlu bingung karena dapat diakses dengan mudah dari Stasiun Kediri. Kamu dapat melanjutkan perjalanan ke lokasi menggunakan ojek online atau angkutan umum setempat.

Klenteng Eng An Kiong, Malang

Persiapan Imlek di Klenteng Eng An Kiong Malang Klenteng Eng An Kiong Malang Foto: Aujana Mahalia/detikJatim

Sebagai Klenteng tua berusia 193 tahun berarsitektur gabungan Eropa dan Tiongkok mempunyai nilai sejarah yang tinggi, Klenteng Eng An Kiong berdiri menawan di tengah Kota Malang.

Klenteng Eng An Kiong merupakan klenteng Tri Dharma, yang artinya digunakan sebagai tempat ibadah bagi penganut agama Ji (Khonghucu), Too (Tao), dan Sik (Buddha). Bangunan klenteng dibangun pada 1825 (2564 tahun imlek) atas prakarsa Liutenant Kwee Sam Hway (Yauw Ting Kong), keturunan ketujuh dari jenderal di masa Dinasti Ming (1368-1644) di Tiongkok.

Bagi kamu yang ingin jalan-jalan ke Malang, kamu bisa menikmati keindahan Klenteng Eng An Kiong karena lokasinya yang mudah dijangkau dari Stasiun Malang.

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Di Desa Gunungkidul Ini, Matahari Hanya Bersinar 7 Jam Sehari



Gunungkidul

Setiap hari, sinar matahari hanya akan menyinari sebuah desa di Gunungkidul selama 7 jam saja. Bagaimana kisahnya?

Padukuhan Wotawati yang berada di Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul ini sungguh unik. Bagaimana tidak unik, setiap hari desa ini hanya ‘kebagian’ cahaya matahari selama 7 jam saja. Tidak kurang dan tidak lebih.

Akses menuju padukuhan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Wonogiri ini begitu terjal dengan jalan cor blok. Meski begitu, jerih payah traveler akan terbayarkan dengan pemandangan hijau nan asri, lengkap dengan sejuknya udara begitu sampai di desa ini.


Sesampainya di permukiman warga Wotawati, sayup-sayup terdengar suara warga mengobrol. Mereka tampak baru saja datang dari sawah dengan membawa pakan ternak.

Tampak dua bukit atau lazim disebut gunung menghimpit perkampungan tersebut. Keduanya tampak megah bersandingan dan hijau mempesona.

Tak seperti permukiman pada umumnya, sebagian wilayah Wotawati tidak terpapar sinar matahari langsung. Meski begitu, mata masih leluasa memandang apapun di sekitar walau sedikit remang.

Dari ujung utara permukiman hingga selatan hanya membutuhkan sekitar tiga menit perjalanan sepeda motor. Warga berusia lanjut lebih sering tampak di emperan rumah daripada pemuda.

Padukuhan tersebut benar-benar remang pada sekitar pukul 17.30. Pada saat yang sama, lampu-lampu di rumah warga mulai menyala untuk menggantikan cahaya matahari.

Fenomena serupa tak ditemukan di kawasan Kapanewon Wonosari. Di Wonosari, warna langit mulai jingga kala matahari condong ke barat. Lain halnya langit Wotawati, yang di waktu sama, malah berparas nyaris kelabu menjelang petang meski tanpa awan menggantung.

Penjelasan Kepala Desa Wotawati

Dukuh Wotawati, Roby Sugihastanto, menuturkan luas lahan permukiman di Padukuhan Wotawati sekitar 5-6 hektar. Padukuhan tersebut dihuni oleh 80 kepala keluarga (KK) dalam satu rukun warga (RW) dan empat rukun tetangga (RT).

Kampung tersebut hampir setiap harinya terpapar sinar matahari hanya sekitar 7 jam saja. Cahaya mentari pagi menyapa sepenuhnya permukiman di Wotawati sekitar pukul 08.30-09.00 WIB.

Menjelang sore, hamparan bukit di sebelah timur menutup sempurna masuknya cahaya matahari sekitar pukul 16.00 WIB.

“Kalau (permukiman) tertutup (tidak terpapar cahaya matahari langsung) semuanya itu, ya, mungkin di jam 16.30 (sore) kalau di sekarang ini. Kalau awalnya masuk cahaya matahari biasanya itu jam 09.00 WIB,” jelas Roby, Jumat (3/5) akhir pekan lalu.

Bagi Roby yang sudah bermukim di Wotawati sejak lahir, fenomena alam tersebut tidak membuatnya kaget. Namun beda halnya bagi orang yang pertama kali mengunjungi padukuhan yang terletak di ngarai tersebut.

Beda halnya dengan pendatang di Wotawati, Toma (43). Wanita yang menikah dengan warga setempat tersebut menerangkan sempat heran dengan fenomena 7 jam cahaya matahari menyinari permukiman tersebut.

Fenomena alam unik terjadi di Dusun Wotawati, Kabupaten Gunungkidul. Wilayah pedukuhan di Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, itu selalu telat terpapar sinar matahari pagi tapi lebih cepat memasuki malam hari. Kok bisa?Suasana Dusun Wotawati, Kabupaten Gunungkidul. Foto: Pradito Rida Pertana

Fenomena tersebut baru Toma sadari saat beberapa tahun tinggal di Wotawati. Toma sudah tinggal di Wotawati sejak 1997.

“Saya mulai tinggal di sini tahun ’97. Lama-lama kok gimana gitu. Apa iya sih? Kok mataharinya lambat datang?” ungkapnya dengan nada antusias.

Tak hanya itu, wanita asal Tegal, Jawa Tengah itu juga kaget saat menemukan jodohnya di perkampungan yang terletak di lembah tersebut.

“Kok saya sampai sini begitu, karena di tempat saya kan tidak ada gunung, hanya sawah. Jodoh aku kok di sini, dalam banget kaya jurang. Ya namanya jodohnya kali,” ucapnya sembari terkekeh.

Meski mengalami fenomena tersebut setiap harinya, Toma beraktivitas seperti petani pada umumnya. Usai memasak pada pagi hari sekitar pukul 08.00 dirinya pergi ke sawah. Dia baru pulang sekitar pukul 16.00.

“Pagi habis masak sekitar jam 8 itu ke ladang bertani kalau musim tani. Kalau bukan musim tani ya cari rumput. Pulang biasanya jam 4 (sore),” jelasnya.

Penyebab Matahari Hanya Bersinar 7 Jam Sehari di Wotawati

Roby mengatakan lambatnya sinar matahari masuk itu tak lantas membuat Wotawati gelap gulita pada pagi hari, pun pada sore hari. Warga masih bisa beraktivitas dengan normal

Roby menyebut lambatnya cahaya matahari masuk ke Wotawati itu akibat tertutup dua bukit besar. Dua bukit tersebut berada tepat di sisi timur dan barat Wotawati.

“Dua gunung itu posisinya di barat sama timur dan posisi di sini itu di lembah. Jadi makanya mataharinya kaya yang lambat datang gitu,” jelas Roby.

Posisi Wotawati itu lah yang membuat matahari seakan terlambat datang pulang cepat pula. Apalagi pemukiman tersebut berada di lembah dua gunung

“Sorenya juga gitu, kan mataharinya sudah nggak kelihatan, otomatis mulai remang di sini. Nggak gelap total kok,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Speechless! Indahnya Bali dari Lantai 23 Patung Garuda Wisnu Kencana



Badung

Setelah melalui proses pembangunan selama 28 tahun, Patung Garuda Wisnu Kencana atau GWK diresmikan. Pengunjung diperkenankan masuk ke lantai 9 dan 23 dan bisa menatap Pulau Bali dari ketinggian.

Patung GWK boleh dibilang menjadi bangunan termegah di Pulau Dewata. Berlokasi di kawasan Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 22 September 2018.

Patung GWK memiliki tinggi sekitar 122 meter dengan lebar 66 meter. Patung itu merupakan mahakarya dari seniman patung asal Bali, I Nyoman Nuarta.

Keindahan dan kemegahan Patung GWK biasanya dinikmati oleh pengunjung hanya dari luar saja. Menjadi lokasi favorit pengunjung untuk berfoto dan membuat video.

Namun, pengalaman tak berakhir di sana. Kini traveler berkesempatan untuk masuk ke patung setinggi 122 meter dan menikmati keindahan Pulau Dewata dari ketinggian. Naik ke lantai 9 dan lantai 23 adalah aktivitas eksklusif yang tak boleh traveler lewatkan.

Pemandangan Bali dari lantai 23 Patung GWK di BaliPemandangan Bali dari lantai 23 Patung GWK di Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

“Saat ini pengunjung yang datang sudah bisa masuk ke lantai 9 dan lantai 23. Di dua lantai tersebut sudah banyak konten mengenaiGWK dan bisa diakses menggunakan lift,” kata Operation DirectorGWK Cultural ParkStefanusYonathanAstayasa.


Memasuki Patung GWK, traveler akan disambut dengan beberapa ogoh-ogoh mini yang dipajang di sisi kanan dan kiri. Untuk naik ke lantai 9 dan 23 traveler wajib menggunakan lift. Tak perlu khawatir, selama tour di dalam patung traveler akan ditemani oleh 1 orang pemandu.

Untuk masuk ke lantai 9 hanya bisa dibatasi maksimal 30 orang, karena ruangan yang sempit dan demi keselamatan pengunjung.

Nah, sesampainya di lantai 9, traveler akan disuguhkan berbagai konten menarik tentang proses pembangunan Patung GWK, mulai dari proses ground breaking hingga proses peresmian Patung GWK. Konten yang disajikan juga sangat interaktif, berupa video animasi hingga gambar 3 dimensi.

Di sini traveler juga akan melihat bagaimana rancangan bangunan dari patung GWK. Bahkan traveler juga bisa menemukan sampel kulit patung GWK dan merasakan teksturnya. Di ujung lorong, traveler juga akan menemukan TV kecil yang menyajikan video animasi tentang GWK Cultural Park.

Menuju ke lantai 23, traveler akan menggunakan lift berbahan tembus pandang. Dari dalam lift traveler bisa melihat bagaimana struktur dan rangka-rangka baja Patung GWK. Keren banget!

Setibanya di lantai 23, traveler akan dibuat semakin takjub dengan pemandangan yang disajikan. Terdapat banyak galeri pandang yang dapat traveler gunakan untuk melihat pemandangan Pulau Bali dari berbagai sisi. Galeri pandang ini berada di bagian sayap patung GWK.

Pemandangan Bali dari lantai 23 Patung GWK di BaliPemandangan Bali dari lantai 23 Patung GWK di Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Tak hanya itu, di sini traveler akan menemukan beberapa lantai yang diganti dengan kaca, sehingga pengunjung bisa melihat berbagai rangka baja yang ada di dalam bangunan Patung GWK. Traveler juga bisa mengabadikan momen di dalam patung GWK dengan berfoto.

Jadi, tertarik untuk masuk ke dalam patung tertinggi keempat di dunia ini? Traveler bisa langsung memesan tiket ultimate seharga Rp 300.000/orang. Jangan lewatkan kesempatan istimewa ini ya!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com