Author: 10

  • Disebut Barang Langka, Bagaimana Kondisi Suplai Permintaan Emas Sekarang?

    Membincang investasi emas seakan tidak ada habisnya. Barang yang sejak dulu sudah menjadi barang berharga itu sampai sekarang tetap mempertahankan kilau harga dan nilainya dengan baik.

    Mungkin karena itu juga emas dianggap sebagai logam mulia, namun selain itu anggapan tersebut juga muncul lantaran kelangkaannya.

    Nah, tapi apakah Sobat Cuan penasaran, seberapa besar sih kelangkaan emas tersebut? Dan apakah benar kelangkaan tersebut bisa bikin harga emas kian mentereng ke depan?

    Melihat Kelangkaan Investasi Emas dari Cadangan dan Produksi

    Untuk menjawab pertanyaan di atas, tentu kita harus menimbangnya dari dua indikator utama. Yakni, produksi serta cadangan emas. Sebab, kedua hal ini merupakan indikator penting dalam menakar suplai emas yang terdapat di dunia saat ini.

    Menilik Cadangan Emas Dunia

    Pertama, mari bahas soal cadangan emas terlebih dahulu.

    Berdasarkan data U.S. Geological Survey (USGS), cadangan terbukti mineral emas pada tahun 2020 lalu mencapai 53.000 ton yang tersebar di hampir seluruh dunia. Di mana, angka ini menurun tipis dibandingkan tahun sebelumnya yakni 54.000 ton.

    Namun, angka tersebut tidak mengindikasikan bahwa cadangan emas memang benar-benar tengah menurun ya, Sobat Cuan. Sebab, jumlah cadangan emas sejatinya bersifat fluktuatif, alias kadang naik dan turun. Hal itu sejalan dengan kemajuan proses eksplorasi guna menemukan cadangan emas baru.

    Masih berdasarkan USGS, ternyata dunia kini memiliki 33 ribu ton mineral yang sudah diidentifikasi sebagai emas. Dengan kata lain, mineral tersebut memang masih diduga mengandung emas. Jadi, masih ada kemungkinan bahwa cadangan emas di masa depan akan terus meningkat.

    Menilik Produksi Emas Dunia

    Setelah melihat cadangan, kamu juga bisa melihat sisi kelangkaan emas dari produksinya.

    Masih melansir data USGS, produksi emas dunia pada tahun 2020 lalu diproyeksi mencapai 3.200 ton. Sayangnya, angka ini susut 3,03% dibanding 3.300 ton pada 2019 silam.

    Hanya saja, hal ini bukan berarti produksi emas terus menurun ya, Sobat Cuan. Sebab nyatanya, produksi emas tiap tahun terus merangkak naik, seperti yang terlihat pada grafik di bawah ini.

    Grafik di atas memperlihatkan bahwa produksi emas per tahun telah meningkat 29,55% dalam 15 tahun terakhir. Artinya, produksi sang logam mulia memang secara kasat mata masih mumpuni, bukan?

    Kendati demikian, kamu masih perlu melihat laju produksinya.

    Seperti terlihat di grafik atas, laju produksi emas memang tak tentu. Bahkan, lajunya terbilang anjlok dalam empat tahun terakhir. Hal itu tentu saja akan mempengaruhi suplai emas.

    Pertanyaan berikutnya, apakah menipisnya suplai emas sudah pasti akan bikin harga emas meningkat terus di masa depan?

    Baca juga: Siapkan Dana Cadangan untuk Keadaan Darurat, Ini 6 Langkahnya

    Kelangkaan Investasi Emas dan Harga Emas

    Sesuai hukum ekonomi, harga suatu barang akan meningkat jika suplainya lebih rendah dari permintaannya. Begitu pula sebaliknya.

    Dari data di atas, memang produksi dan cadangan emas sedang turun. Sehingga, untuk mencari tahu dampak hal tersebut ke harga emas, kita pun harus menilik dari sisi permintaannya. Hal itu pun terlihat dari grafik di bawah ini.

    Permintaan emas memang terlihat fluktuatif. Namun, satu yang pasti bahwa angka permintaan emas setiap tahunnya selalu lebih besar dari produksi tahunannya.

    Mekanisme permintaan dan penawaran tersebut pun tercermin dari pergerakan harga emas yang selalu menanjak antar tahunnya.

    Investasi Emas
    Grafik Harga Emas 2000-2021. Sumber: Tradingview

    Mengapa Permintaan dan Penawaran Emas Tidak Seimbang?

    Namun, kenapa sih permintaan emas selalu melebihi dari suplainya? Hal ini pun tentu bisa dijawab dari beberapa sisi.

    Di sisi pertama, beberapa analis mengatakan bahwa naiknya harga emas lebih didorong oleh pandangan investor yang menganggap bahwa emas adalah investasi yang lebih aman dalam ekonomi. Hal ini tak mengherankan, lantaran emas selalu digadang sebagai alat pelindung kekayaan (safe haven).

    Selain dari sisi investasi, permintaan emas juga bisa dilihat dari sisi industri, di mana emas bisa digunakan sebagai bahan baku.

    Namun, ketidakseimbangan suplai dan permintaan ini juga bisa berhulu dari lambatnya proses penemuan cadangan emas baru.

    Proses penemuan tambang baru sejatinya masih terus dilakukan, namun pandangan ahli mengatakan bahwa proses menemukan cadangan emas baru adalah hal langka. Alhasil, produksi emas yang sampai saat ini ada, dan mungkin yang sedang kamu genggam sekarang, adalah emas yang berasal dari tambang tua.

    Jadi bagaimana kesimpulannya? Seperti yang sudah dijelaskan di atas, tentu kita perlu berpijak lagi ke hukum ekonomi. Suplai emas bisa dikatakan kian menipis yang juga disertai dengan lebih besarnya permintaan daripada penawarannya. Hal itu, tentu saja akan menjadi sentimen bagi harga emas ke depan.

    Nah, setelah membaca penjelasan tersebut, apa yang akan kamu lakukan Sobat Cuan? Apakah kamu juga tertarik membeli emas?

    Jika jawabannya adalah ya, kamu bisa membeli emas digital di Pluang! Sebab, kamu bisa berinvestasi emas mulai dari Rp10.000 saja dan tanpa dikenakan biaya admin!

    Baca juga: Produksi Emas Meningkat, Ini Dia 5 Negara Penghasil Emas Terbesar di Dunia

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!



    Sumber : pluang.com

  • Kenapa Polkadot dan Cardano disebut Ethereum Killer? Simak di Sini!

    Sobat Cuan penggemar aset kripto mungkin sudah kenal baik dengan Ethereum. Ya, sistem blockchain satu ini memang dikenal punya kegunaan yang banyak. Salah satunya adalah sistem smart contract yang memungkinkan komunitas kripto untuk membuat aplikasi terdesentralisasi (dApps) demi kepentingan keuangan terdesentralisasi.

    Namun, seiring perkembangan teknologi blockchain, kehadiran Ethereum “terancam” oleh dua teknologi lainnya, yakni Cardano dan Polkadot. Bahkan, keduanya pun digadang sebagai pembunuh Ethereum, alias “Ethereum Killers”.

    Polkadot dan Cardano masing-masing memiliki kemiripan dengan Ethereum. Terlebih, kedua sistem itu pun dibangun oleh para mantan punggawa Ethereum. Lantas, mengapa kedua teknologi ini dianggap sebagai “pengancam” Ethereum?

    Baca juga: Apa Beda Blockchain Polkadot dengan Ethereum? Simak di Sini!

    Ethereum Killer Pertama: Cardano

    Sekilas Mengenai Cardano

    Cardano mendeklarasikan diri sebagai teknologi blockchain generasi ketiga, yakni kelanjutan dari teknologi blockchain generasi pertama (uang terdesentralisasi) dan generasi kedua (smart contract).

    Dalam memvalidasi transaksi di atasnya, sistem blockchain ini menggunakan algoritma konsensus proof of stake. Algoritma konsensus ini dianggap lebih ramah lingkungan dan hemat listrik dibanding algoritma proof of work yang digunakan oleh sistem blockchain Bitcoin dan Ethereum. Alhasil, tarif transaksi di dalamnya pun terbilang lebih murah.

    Selain itu, teknologi blockchain Cardano, yang dikenal dengan protokol Ouroboros, mampu memproses 1 juta transaksi per detik. Skalabilitas transaksinya cukup besar, bukan?

    Sistem blockchain ini memiliki satu koin native yang disebut dengan ADA. Koin ini digunakan oleh setiap pengguna Cardano untuk bertransaksi di protokol Ouroboros tanpa membutuhkan pihak ketiga sebagai perantara.

    Di samping itu, karena Cardano menggunakan algoritma konsensus Proof of Stake, maka penggunanya juga menggunakan ADA untuk melakukan staking demi menjaga keandalan blockchain Cardano.

    Setiap pengguna bisa menyimpan koin ADA di dompet digital yang nantinya bakal dialokasikan ke “kolam staking” (stake pool). Nantinya, pemilik ADA akan mendapatkan imbal hasil atas aksi staking yang dilakukannya.

    Alasan Cardano Disebut Sebagai Ethereum Killer

    1. Skalabilitas Transaksi Lebih Besar Dibanding Ethereum

    Nah, akibat implementasi algoritma konsensus proof of stake tersebut, maka validasi transaksi di dalam blockchain Cardano dianggap lebih efisien dan lebih cepat dibandingkan sistem proof of work.

    Cardano memang sengaja dirancang menggunakan teknologi ramah lingkungan yang bisa memproses transaksi 1 juta transaksi per detik. Kapasitas transaksi ini jauh lebih banyak dibanding Ethereum yang “hanya” bisa memproses 30 transaksi per detik.

    Bahkan, kecepatan transaksi Cardano digadang bisa lebih kencang dibanding sistem Ethereum 2.0, yang rencananya bakal dirilis, yang rencananya bakal bisa menampung 100.000 transaksi per detik.

    Skalabilitas transaksi blockchain Cardano yang mumpuni tentu akan menarik perhatian komunitas aset kripto untuk bertransaksi di dalamnya. Mereka mungkin akan meninggalkan Ethereum, sehingga sistem blockchain Ethereum pun akan “terbunuh” perlahan karena migrasi tersebut.

    2. Smart Contract Saingan Ethereum

    Seolah-olah tak cukup dengan urusan skalabilitas transaksi, Cardano juga digadang akan “menghajar” Ethereum dari segi teknologi smart contract. Apa alasannya?

    Seperti yang kita tahu, sistem smart contract adalah salah satu alasan utama mengapa komunitas kripto tertarik masuk jaringan Ethereum. Teknologi ini bikin mereka mampu mengembangkan aplikasi terdesentralisasi (dApps) dan token-token DeFi demi keperluan aktivitas keuangan terdesentralisasi.

    Salah satu produk unggulan smart contract Ethereum adalah Non-Fungible Token (NFT) dengan standar token ERC-721 dan token-token lain yang dirancang sesuai standar ERC-20. Sayangnya, kehadiran Ethereum sebagai “produsen utama” NFT akan terancam oleh kehadiran smart contract milik Cardano.

    Dalam waktu dekat, Cardano akan memasuki fase pengembangan ketiga yang disebut Goguen. Nah, di dalam fase ini, Cardano juga akan mengembangkan teknologi smart contract ke dalamnya, di mana hal tersebut bisa membuka gerbang Cardano ke kancah NFT. Sayangnya, masih belum diketahui kapan teknologi smart contract ini bisa berjalan.

    Dengan konsensus proof-of-stake, maka biaya transaksi NFT di Cardano diprediksi akan lebih murah dibanding Ethereum. Hal ini akan menjadi keunggulan smart contract Cardano dibandingkan Ethereum yang masih menggunakan algoritma konsensus proof-of-work.

    Ethereum Killer Kedua: Polkadot

    Sekilas Mengenai Polkadot

    Berbeda dengan Cardano yang mengklaim diri sebagai blockchain generasi ke-tiga, Polkadot malah mendeklarasikan diri sebagai blockchain generasi berikutnya (next generation). Apa artinya?

    Sistem blockchain Polkadot menghubungkan berbagai jenis jaringan blockchain yang sudah ada. Artinya, sistem blockchain utama ini berfungsi sebagai mediator berbagai jenis data antar blockchain-blockchain cabangnya (parachains) dan bisa menghubungkan komunitas satu blockchain dengan blockchain lainnya.

    Seluruh parachain yang tergabung dalam sistem Polkadot pun tidak perlu tunduk atas aturan blockchain Polkadot. Pengembang Polkadot percaya bahwa hal ini nantinya bisa memberi keleluasaan bagi komunitas aset kripto untuk mengembangkan dApps yang punya nilai guna untuk kebutuhan sehari-hari dan inovasi-inovasi baru teknologi blockchain yang mungkin muncul ke depan.

    Alasan Polkadot Disebut Sebagai Ethereum Killer

    1. Tentu Saja, Kehadiran Sistem Parachain

    Seperti yang disebut di atas, sistem parachain adalah daya tawar utama dari sistem Polkadot. Sistem ini berjalan di atas kerangka Substrat, yakni kerangka kerja yang memungkinkan penggunanya menghadapi tingkat abstraksi kriptografi yang berbeda-beda tergantung kebutuhannya.

    Nah, Substrat ini mampu mengurangi waktu, energi, dan dana yang dibutuhkan pengembang untuk membuat blockchain baru. Sehingga, mereka pun bisa dengan leluasa mengembangkan dApps dan bereksperimen dalam menciptakan aplikasi-aplikasi berbasis blockchain yang bisa memiliki nilai manfaat sehari-hari.

    Banyak pihak menganggap, teknologi tersebut mampu menutupi kelemahan jaringan Ethereum, yakni berbiaya mahal dan lambatnya proses transaksi di atasnya. Dua hal ini selalu digadang sebagai penghambat utama minimnya inovasi-inovasi baru di atas jaringan blockchain Ethereum.

    Sobat Cuan mungkin paham bahwa biaya transaksi Ethereum (gas fees) memang tengah menjadi momok teknologi besutan Vitalik Buterin tersebut. Makanya, tak heran jika Ethereum akan memperbaiki kondisi ini dengan menerapkan hard fork London pada Agustus mendatang.

    Di samping itu, Ethereum pun masih mendorong semua aplikasi yang bergerak di atasnya dibangun di atas satu jaringan. Sehingga, proses validasinya pun dianggap cukup lama.

    Alhasil, demi menghindari dua hal tersebut, komunitas kripto diramal akan memalingkan wajahnya dari Ethereum ke Polkadot. Ujungnya, dominasi Ethereum sebagai “rumah” dApps pun bisa terancam oleh kehadiran Polkadot.

    Adapun menurut state of dApps, sebanyak 2.812 aplikasi, atau 79,21% dari total 3.550 dApps di kancah kripto saat ini, dibangun di atas sistem Ethereum.

    Baca juga: Berprospek Cerah, Ini Alasan Kenapa Kamu Harus HODL Cardano Sekarang!

    Apakah Koin ADA dan DOT Juga Dianggap Ethereum Killer?

    Baik Polkadot dan Cardano dianggap punya teknologi yang lebih mumpuni dibanding Ethereum. Namun, apakah hal itu juga berarti bahwa masing-masing koin mereka, yakni DOT dan ADA, juga terbukti memiliki performa baik dibanding ETH?

    Nah, untuk mencari tahu jawabannya, mungkin Sobat Cuan harus perhatikan dulu pergerakan harga tiga koin tersebut sejak awal tahun (year-to-date).

    Dari grafik di atas, memang kinerja ADA secara tahun kalender lebih baik dibanding ETH dan DOT. Berbagai analisis mengatakan bahwa harga DOT dan ADA bisa lebih moncer lagi asal teknologi mereka bisa diadopsi secara luas. Namun, tetap saja, tidak ada yang bisa menaksir harga aset kripto ke depan dengan pasti.

    Kalau kamu bagaimana Sobat Cuan? Apakah kamu juga optimistis dengan masa depan dua Ethereum Killer berikut?

    Nah, sekarang kamu bisa banget lho dapatkan dua Ethereum Killer ini di aplikasi Pluang! Yuk, install Pluang sekarang dan investasi di Cardano dan Polkadot!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Motley Fool, Hackernoon, Forbes



    Sumber : pluang.com

  • Sobat Cuan, Simak Sejarah Altcoin dalam Satu Dekade Terakhir di Sini!

    Jagat cryptocurrency memang luas sekali, Sobat Cuan. Tapi siapa yang menyangka bahwa pesatnya perkembangan sektor ini terjadi dalam kurun satu dekade saja.

    Sejarah mencatat bahwa dunia ini hanya mengenal satu aset kripto yang beredar 12 tahun silam, yakni Bitcoin. Namun kini, menurut data Coinmarketcap, terdapat 5.912 jenis aset digital dalam bentuk koin dan token yang beredar di pasaran sebagai alternatif Bitcoin. Atau, yang sering disebut sebagai altcoin.

    Kondisi ini pun memunculkan beberapa pertanyaan. Mengapa altcoin bisa menjamur seperti sekarang? Selain itu, bagaimana sejarah altcoin sejak awal hingga saat ini?

    Untuk menguak hal tersebut, Sobat Cuan perlu baca artikel ini hingga akhir, ya!

    Baca juga: Di Tengah Harga Altcoin yang Lagi Melonjak, Kenapa Bitcoin Masih Lebih Baik?

    Sejarah Singkat Di Balik Menjamurnya Altcoin

    Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Bitcoin adalah koin kripto pertama yang diperkenalkan ke publik. Aset kripto besutan anonim bernama Satoshi Nakamoto ini awalnya ditujukan untuk menjadi uang digital yang bisa digunakan untuk transaksi daring.

    Seluruh transaksi itu pun memanfaatkan teknologi yang disebut dengan blockchain. Di mana, seluruh transaksi dan pertambangan koin baru di dalamnya harus divalidasi dalam sebuah algoritma konsensus bernama proof of work.

    Hanya saja, teknologi blockchain Bitcoin pun memiliki banyak kelemahan sebagai pionir. Dan pada akhirnya, berbagai kelemahan itu menjadi inspirasi pengembang lain untuk menciptakan sistem blockchain yang lebih andal dibandingkan Bitcoin.

    Di waktu yang sama, para pengembang tersebut juga memperkenalkan koin native baru sebagai alat tukar di jenis blockchain anyar tersebut. Nah, koin-koin inilah yang disebut dengan altcoin, atau secara harfiah adalah “alternatif dari Bitcoin”.

    Namun, sistem blockchain baru yang bermunculan pun ternyata tak hanya sekadar menambal kelemahan kekurangan Bitcoin. Beberapa pengembang juga merasa bahwa teknologi blockchain bisa digunakan untuk kegiatan ekonomi sehari-hari. Sehingga, mereka pun kemudian mengintegrasikan teknologi baru bernama smart contract di dalamnya.

    Jenis teknologi blockchain yang baru ini pun kemudian ikut memperkenalkan koin native sebagai alat transaksi di dalamnya. Alias, menambahkan altcoin-altcoin baru ke skena cryptocurrency global. Akibatnya, jagat cryptocurrency pun kian berkembang menjadi lebih luas dengan nilai manfaat yang kian variatif.

    Secara lebih rinci, berikut adalah beberapa tonggak sejarah penting altcoin sejak 2009, atau tepat ketika Bitcoin pertama kali diluncurkan.

    Tonggak Sejarah Altcoin

    1. 2011: Altcoin Pertama Mulai Bermunculan

    Beragam teknisi dan pengembang mulai menghadirkan altcoin generasi awal pada 2011, atau tepat dua tahun setelah peluncuran Bitcoin. Adapun altcoin pertama yang dilepas ke publik bernama Namecoin.

    Kala itu, Namecoin hadir untuk menciptakan domain internet yang terdesentralisasi, aiias tanpa diatur atau diutak-atik oleh satu master domain. Dengan menggunakan teknologi Namecoin, seluruh situs memiliki alamat menggunakan “.bit”.

    Namun, agar pembuat situs bisa memanfaatkan domain Namecoin, mereka harus membayarnya dengan koin Namecoin ke sistem tersebut. Biaya pendaftaran domainnya pun terbilang murah, yakni hanya 0,01 Namecoin atau setara US$0,05.

    Selain Namecoin, terdapat pula altcoin lain yang lahir di tahun yang sama, yakni Litecoin. Litecoin diciptakan dari hard fork Bitcoin oleh seorang teknisi Google bernama Charlie Lee.

    Sistem Litecoin menggunakan sistem penambangan yang berbasis teka-teki pertama di kancah kripto bernama Scrypt. Hal ini dikembangkan Lee setelah menyadari bahwa sistem Bitcoin kala itu sangat rentan peretasan. Sayangnya, aktivitas itu membutuhkan daya proses komputer yang juga cukup kuat.

    Meski sistem validasi penambangannya cukup sulit, proses pembentukan satu blok transaksi di blockchain Litecoin boleh diadu dengan Bitcoin. Adapun waktu pembuatan block atau block time Litecoin hanya 2,5 menit, jauh lebih kencang ketimbang waktu pembuatan block Bitcoin yang mencapai 10 menit.

    Baca juga: Sobat Cuan, Simak 6 Cara Memilih Altcoin yang Tepat Untukmu!

    2. 2012: Lahirnya Altcoin Berbasis Algoritma Konsensus Proof of Stake Pertama

    Di kancah cryptocurrency, setiap pengguna wajib untuk mendapat “persetujuan” agar bisa mencatatkan transaksinnya di buku besar blockchain. “Persetujuan” tersebut bisa didapatkan jika aktivitasnya disepakati dalam sebuah proses bernama algoritma konsensus.

    Hingga titik ini, Bitcoin dan altcoin masih menggunakan algoritma konsensus proof of work. Yakni, sebuah proses di mana seorang pengguna perlu memecahkan teka-teki komputasional dalam mencatatkan aktivitasnya di blockchain. Setelahnya, pengguna perlu menyerahkan “hasil ujiannya” tersebut kepada validator, yang tak lain merupakan seluruh pengguna yang terhubung ke jaringan blockchain yang dimaksud.

    Namun, mendapatkan persetujuan lewat proof of work terbilang lelet dan memakan biaya listrik yang besar. Ini lantaran sang pengguna perlu memanfaatkan tenaga listrik yang luar biasa hanya demi memecahkan teka-teki komputasional tersebut.

    Untungnya, terdapat satu inovasi yang bisa menutup kelemahan algoritma konsensus tersebut. Yakni, algoritma konsensus proof of stake. Algoritma konsensus ini pertama kali digunakan di sistem altcoin bernama PeerCoin.

    3. 2013: Lahirnya Meme Coin Pertama

    Sejarah altcoin kemudian memasuki babak baru setahun kemudian dengan munculnya Meme Coin pertama, yakni Dogecoin. Berbeda dengan jenis altcoin lainnya, Meme Coin terbilang kontroversial lantaran hanya ditujukan untuk bersenang-senang tanpa ada satu nilai manfaat tertentu.

    Meski demikian, kehadiran Dogecoin diterima oleh masyarakat, terbukti dengan maraknya penggunaan Dogecoin dalam kampanye pemasaran dan event publik.

    Dogecoin pun memiliki sistem blockchain tersendiri. Karena koin ini adalah koin “main-main”, sayangnya sistem blockchain-nya juga dikelola secara serampangan. Sebab, penambang yang sukses menggali Dogecoin akan mendapatkan imbalan (block reward) dengan jumlah yang ditentukan secara random.

    Baca juga: Apa Sih Keterkaitan Harga Bitcoin dan Altcoin? Yuk Simak di Sini!

    4. 2013: Kehadiran Ethereum, Blockchain Berbasis Smart Contract Pertama

    Penggunaan teknologi smart contract pertama kali di kancah kripto terjadi pada 2013, atau tahun di mana Ethereum diluncurkan. Secara konsepnya, smart contract memungkinkan pengguna untuk membuat “kontrak” dengan program komputer, membuka gerbang penggunaan teknologi blockchain untuk kegiatan sehari-hari.

    Dalam menggunakan teknologi smart contract, pengguna wajib “membayar” daya komputasinya menggunakan satu koin bernama Ether (ETH). Hal ini menjadikan ETH tak hanya sebagai aset kripto namun juga “bahan bakar” bagi kontrak-kontrak yang dimaksud.

    Banyak sekali kegiatan yang sudah dijalankan di atas smart contract Ethereum tersebut, seperti aplikasi jasa keuangan, asuransi, pembelian properti, lelang, dan lainnya.

    5. 2016-2017: Munculnya Blockchain Generasi Baru

    Meski Ethereum berhasil mendulang sukses lewat teknologi smart contract, pengembang lain menganggap masih menemukan celah yang perlu diperbaiki di sistem Ethereum. Tak heran, jika kemudian mereka mengembangkan beberapa sistem blockchain lain yang seolah-olah “menandingi” keandalan Ethereum.

    Sebut saja ada Cardano yang mengklaim teknologinya sebagai blockchain generasi ketiga. Yakni, sistem di mana biaya transaksi blockchain terbilang lebih murah dengan skalabilitas yang juga cukup besar. Blockchain generasi ketiga ini mengekor generasi pertama (uang terdesentralisasi) dan generasi kedua (smart contract).

    Cardano sendiri memiliki satu koin native yang disebut dengan ADA.

    Selain itu, terdapat pula sistem blockchain Polkadot yang dianggap sebagai surga baru bagi para pengembang aplikasi terdesentralisasi (dApps). Ini lantaran sistem blockchain utamanya menjadi penghubung antara blockchain-blockchain lain yang berukuran lebih kecil (parachain).

    Sama seperti Cardano, Polkadot juga memiliki satu koin yang digunakan untuk membayar teknologi komputasi di dalamnya yang disebut DOT.

    6. 2021: Kapitalisasi Pasar Cryptocurrency Sentuh US$2 Triliun

    Momen bersejarah lainnya hadir di awal tahun ini, di mana kapitalisasi pasar cryptocurrency berhasil menembus US$2 triliun. Angka tersebut terbilang dua kali lipat lebih besar dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia “yang hanya” sebesar US$1,1 triliun.

    Dari angka tersebut, sebanyak hampir 50% (atau sekitar US$900 miliar) disumbang oleh altcoin. Hal ini pun tak lepas dari momen reli harga-harga altcoin, atau kerap disebut sebagai altcoin season.

    Baca juga: Apa Itu Altcoin Index?

    Bagaimana Posisi Altcoin Sekarang Dibandingkan Bitcoin?

    Saat ini, posisi Altcoin yang berjumlah ribuan tersebut hampir memiliki kapitalisasi pasar yang nyaris setara di Bitcoin. Hal itu bisa terlihat di grafik heatmap berikut ini.

    Sejarah Altcoin
    Posisi Market Cap Bitcoin vs Altcoin. Sumber: Coin 360

    Data tersebut menunjukkan bahwa altcoin sudah mendominasi kapitalisasi pasar aset kripto yakni di angka 52,31%. Sementara itu, Bitcoin hanya memegang 47,69% dari kapitalisasi pasar, masih merupakan angka yang cukup impresif bagi satu koin.

    Hal ini cukup mengejutkan lantaran tiga bulan sebelumnya, atau bulan April, Bitcoin masih menggenggam 55% dari kapitalisasi pasar aset kripto. Dengan kata lain, performa Bitcoin sejauh ini memang tidak main-main, Sobat Cuan!

    Kalau kamu bagaimana? Apakah kamu juga berniat menggenggam altcoin sekarang? Yuk, segera miliki ragam altcoin mulai dari ETH, ADA, BNB, dan lainnya di aplikasi Pluang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Coinmarketcap, Investopedia, Altervista



    Sumber : pluang.com

  • Viral Tagihan Paylater Sampai Rp17 Juta. Kapan Saatnya Kamu Manfaatkan Paylater?

    Mau tips bebas utang di era arus teknologi masif seperti saat ini? Jawabannya mudah, Sobat Cuan. Yakni jangan pernah berurusan dengan yang namanya Paylater kalau memang tidak mampu bayar!

    Ya, dewasa ini, godaan mata bisa lewat dari segala penjuru. Termasuk, dari internet. Bahkan, di jagat tersebut, kamu bisa membeli apapun secara mudah. Kamu sedang tak punya duit untuk membelinya? Tak usah khawatir, karena berbagai aplikasi pun kini menyediakan fasilitas Paylater. Alias, berutang dulu untuk dibayar kemudian.

    Tapi, kalau fasilitas Paylater dilakukan secara serampangan, maka hasilnya akan bikin kantongmu teriak. Seperti unggahan media sosial yang viral beberapa waktu lalu.

    Warganet di jagat maya sempat riuh gara-gara curhatan seorang perempuan yang kebingungan membayar tagihan paylater. Terang saja, tagihan paylater perempuan itu mencapai Rp17 juta lebih!

    Padahal awalnya, perempuan itu mengaku hanya berutang Rp450.000 saja lho dengan fitur paylater yang bekerjasama dengan salah satu marketplace di Indonesia tersebut. Namun, utang tersebut menggulung dalam tempo satu tahun hingga hampir melewati limit kredit paylater yang diberikan oleh marketplace. Mengapa bisa demikian?

    Menurut klarifikasi pihak paylater, akun milik perempuan tersebut terhitung lancar dalam membayar tagihannya. Itulah sebabnya akun tersebut diberi limit paylater hingga Rp18 juta per bulan.

    Namun tetap saja, memakai paylater memang membutuhkan kebijaksanaan kamu agar konsumsi jangan sampai mengikis kewarasan.

    Paylater, Utang yang Dibayar Kemudian

    Banyaknya kasus terkait penggunaan paylater membuatnya jadi sorotan. Selain itu, paylater memang tergolong skema baru dalam jasa keuangan yang menjamur bersamaan dengan banyaknya start up fintech yang bermunculan.

    Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), paylater adalah istilah yang merujuk pada transaksi pembiayaan barang atau jasa yang memberi kemudahan berupa penundaan pembayaran. Artinya, menggunakan paylater sama saja dengan kamu berutang dan wajib melunasinya di kemudian hari.

    Di Indonesia, paylater banyak bekerjasama dengan marketplace seperti Shopee, Tokopedia, Traveloka hingga Gojek. Kerjasama ini memberikan kamu selaku konsumen, kemudahan untuk membayar barang atau jasa yang kamu butuhkan.

    Caranya, kamu hanya perlu mendaftar dengan menyetorkan sejumlah data pribadi dan foto kamu bersama KTP kamu ke aplikasi marketplace. Tim akan memverifikasi kelayakan kamu  untuk menerima jasa paylater berdasarkan aktiviftas kamu di marketplace tersebut.

    Saat aplikasi paylater kamu disetujui, kamu akan diberikan limit pinjaman yang disesuaikan dengan kemampuan bayar kamu menurut hasil analisa tim. Jika pembayaranmu lancar, secara berkala paylater akan menaikkan limit pinjaman kamu agar kamu bisa membeli lebih banyak dan membayar kemudian.

    Baca juga: Mau Investasi Jangka Pendek Saat Pandemi? Simak Pilihan Aset Berikut!

    Apakah Menggunakan Paylater demi Belanja Tindakan Salah?

    Beberapa perencana keuangan memang tidak menyarankan kamu untuk berutang hanya demi belanja sesaat. Alasannya, karena benda-benda tersebut merupakan benda konsumsi. Di mana, nilai manfaatnya akan habis bertepatan dengan “habisnya” barang tersebut.

    Anggap saja seperti ini, Sobat Cuan. Kamu ingin membeli skincare seharga Rp2 juta, namun kamu membayarnya dengan skema paylater dengan cicilan enam bulan.

    Sekarang, anggap saja skincare-mu sudah habis dalam waktu tiga bulan, artinya kamu masih punya sisa tiga bulan lagi untuk melunasi tagihan paylater-mu, kan? Sehingga, dalam kasus ini, kamu masih harus dibebani urusan finansial meskipun nilai manfaat barang yang kamu beli sudah habis.

    Di samping itu, kamu juga harus membayar bunga pinjaman paylater-mu. Memang, bunganya mungkin terbilang kecil, tapi hal itu tetap saja membebani kantongmu, bukan?

    Kapan Saatnya Kamu Menggunakan Paylater?

    Oleh karenanya, berbelanja dengan berutang seharusnya adalah hal yang sebisa mungkin kamu hindari. Bahkan, ini nampaknya menjadi tips bebas utang paling utama yang perlu kamu lakukan.

    Hanya saja, yang namanya utang pun tidak salah asal kamu bisa mengembalikannya tepat waktu. Dengan kata lain, dalam konteks paylater, tentu saja ada momen-momen tertentu di mana kamu bisa memanfaatkan fasilitas tersebut.

    Lantas, seperti apa waktu yang tepat bagi kamu untuk menggunakan paylater?

    1. Kepepet

    Belum gajian tapi botol shampo sudah diisi dengan air? Atau mau berangkat kerja tapi saldo ojek online sudah sekarat? Nah, kamu bisa menanggulangi permasalahan hidup tersebut dengan paylater.

    Memang, tujuanmu adalah untuk konsumsi. Tapi masalahnya, konsumsi kali ini menyangkut keberlangsungan hidup kamu. Sehingga, kamu boleh memanfaatkan fasilitas paylater yang dimaksud asalkan memang tingkat urgensinya sangat tinggi.

    Lagipula, fasilitas paylater juga terbilang lebih mudah kamu nikmati saat kepepet ketimbang sumber lain, misalnya meminjam ke teman atau tetangga. Tapi, kamu harus ingat untuk melunasinya tepat waktu ya, Sobat Cuan!

    2. Tips Bebas Utang Paylater: Raih Penghasilan dari Barang Kreditan

    Menurut perencana keuangan, seseorang memang diperkenankan berutang asal utangnya produktif. Dalam artian, utangmu bisa berbuah menjadi pendapatan, yang tentu saja digunakan untuk melunasi utangmu, membayar bunganya, plus tercatat sebagai penghasilan tambahanmu.

    Makanya, perencana keuangan pun memperbolehkanmu berutang untuk membeli aset seperti rumah dan ruko, misalnya saja. Harga tanah yang terus melambung mungkin akan membuat kamu kesulitan membeli aset ini jika ditunda-tunda lagi. Kamu bisa mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan mencicilnya agar dapar membeli saat harga sedang murah sekaligus berhemat uang sewa rumah.

    Selain itu, utang untuk menambah modal usaha juga tergolong utang yang sehat. Selama kamu punya perhitungan yang baik berapa cicilan yang sanggup kamu bayar dengan laba usaha kamu, utang seperti ini tidak akan merepotkan.

    Namun, bagaimana hal produktif itu bisa kamu aplikasikan dengan memanfaatkan paylater?

    Masih mengambil contoh skincare dengan skema paylater di atas. Mungkin, kamu bisa membeli skincare tersebut untuk kemudian menjualnya kembali dalam bentuk sharing jars. Nantinya, pendapatanmu dari aktivitas itu bisa kamu gunakan untuk membayar bunga plus cicilan dari tagihan paylater-mu.

    Atau, kamu juga bisa menggunakan paylater untuk membeli ponsel. Ponsel itu kemudian kamu gunakan untuk mencari penghasilan tambahan, seperti berinvestasi di aplikasi Pluang. Cuannya tentu bisa kamu gunakan untuk membayar cicilannya dan bunga paylater-mu.

    3. Barang Promo dan Diskonan

    Pernah tergoda dengan barang diskonan dan tertarik untuk membelinya? Nah, daripada kehilangan momentum, lebih baik kamu segera serbu barang incaranmu tersebut!

    Meski demikian, tetap ada rambu-rambu yang perlu kamu perhatikan sebelum melakukannya seperti berikut:

    1. Pastikan harga barang tersebut tidak melebihi penghasilanmu saat ini.
    2. Bandingkan harga promo dengan harga asli. Kamu bisa membeli barang tersebut selama harga promo plus biaya administrasi paylater-nya masih lebih rendah dibanding harga aslinya.
    3. Kamu tidak memiliki utang lainnya.

    Baca juga: Sobat Cuan, Ini Lho Manfaat Berinvestasi di Saham Blue Chip!

    Tips Bebas Utang dengan Paylater

    Berutang untuk konsumsi memang tidak disarankan. Tapi, kamu masih bisa menggunakan paylater secara bijak sebatas untuk mengatur pengeluaran kamu.

    Berikut ini adalah tips bebas utang dengan paylater yang harus kamu perhatikan agar kamu tidak bangkrut.

    1. Batasi Nilai Pinjaman Sesuai Kemampuan Bayar

    Meskipun paylater menaikkan limit kredit kamu bulan ini, bukan berarti kamu bisa menghabiskan limit tersebut seenaknya. Ingat, di akhir bulan nanti kamu tetap harus membayar tagihan paylater kamu tepat waktu agar tidak kena bunga.

    Tagihan paylater masuk dalam  porsi cicilan utang. Menurut pakar perencana keuangan, Prita Ghozie Hapsari, porsi total ciclan utang idealnya tidak lebih dari 30% total pemasukan bulanan kamu. Jadi, pastikan cicilan paylater kamu beserta cicilan lainnya melebihi batas itu ya, Sobat Cuan.

    2. Pahami Kontrak Perjanjian

    Saat mengajukan aplikasi, pihak paylater akan memberi kamu kontrak perjanjian yang berlaku jika kamu betransaksi dengan paylater. Kamu juga bisa membaca kembali di laman paylater setelahnya.

    Pastikan kamu paham dengan isi kontrak perjanjian. Juga, pastikan kamu tidak dirugikan dengan poin-poin perjanjiannya.

    3. Melunasi Dana Pinjaman Tepat Waktu

    Kalau kamu tidak ingin terkena denda, tentu kamu harus melunasi tagihan paylater kamu tepat waktu ya, Sobat Cuan. Ingat, kamu tidak boleh berutang dengan paylater. Jadi kamu harus melunasinya tiap kali jatuh tempo. Pastikan betul jumlah tagihan kamu dengan kemampuan bayar kamu agar kamu tidak kesulitan melunasi tepat waktu.

    Baca juga: Bansos Kemensos Rp600.000 Menanti. Cek Cara Daftar Penerimanya!

    4. Perhatikan Suku Bunga dan Biaya Admin pada Fitur Paylater

    Beberapa paylater yang bekerjasama dengan marketplace memang menyediakan fitur cicilan 0%. Tapi kamu harus jeli sebab mereka menetapkan biaya admin yang ditambahkan di awal. Meskipun jumlahnya tidak seberapa, secara persentase biaya admin ini juga cukup menguras dompet, loh, Sobat Cuan.

    5. Ketahui Denda Keterlambatan Jika Kamu Gagal Bayar

    Kebijakan tiap paylater bisa berbeda-beda dalam hal besaran denda. Kamu harus tau pasti berapa denda yang akan dikenakan padamu jika sampai kamu telat bayar.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Kompas, Detik, Avrist, Liputan 6





    Sumber : pluang.com

  • Daripada Sewain Pacar, Mending Sewakan Benda Ini Untuk Nambah Penghasilan!

    Masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) bukan berarti kita tidak bisa produktif, Sobat Cuan. Meski di rumah saja, sekarang justrucara saat yang tepat bagimu untuk mencari cara menambah penghasilan.

    Salah satu caranya adalah kamu bisa melakukan pekerjaan sampingan via online. Namun, terdapat pula cara lainnya yakni menyewakan barang-barang yang kamu miliki.

    Tapi, jangan sampai kamu mengikuti jejak warganet yang sempat viral di jagat twitter kemarin ya. Lewat twit yang diunggah kembali oleh menfess @txtdarigajelas, seorang warganet terinspirasi untuk menyewakan pacarnya setelah jalan bersama dengan sahabatnya.

    Namun, yang menarik adalah reaksi warganet merespons unggahan tersebut. Terdapat satu pengguna Twitter yang bahkan merelakan pacarnya untuk disewa lantaran berperawakan tinggi, wangi dan bisa dipeluk.

    “Kalau peluk ada biaya tambahan 100k, boleh DM ya,” demikian kutipan cuitan tersebut.

    Kelakuan warganet memang ada-ada saja ya, Sobat Cuan! Tapi, jangan sampai lho kamu menyewakan pacar sendiri. Padahal, ada banyak benda yang bisa kamu sewakan demi mendapat penghasilan tambahan utamanya di masa PPKM seperti ini.

    Baca juga: Hai Para Abdi Negara, Simak 5 Jenis Investasi yang Cocok bagi Kantong PNS!

    Cara Menambah Penghasilan Saat PPKM dari Jasa Sewa

    Kalau kamu juga tengah mencari cara menambah penghasilan, masih banyak kok alternatif lain yang bisa kamu sewakan ketimbang harus menyewakan pacarmu. Yuk, simak benda-benda apa saja yang bisa kamu sewakan!

    1. Penyewaan Alat Fotografi

    Buat kamu yang hobi fotografi, tentu punya alat-alat fotografi canggih yang mulai jarang dipakai selama pandemi. Dari pada menganggur, kamu bisa lho menyewakannya untuk mendapat tambahan penghasilan.

    Meskipun smartphone saat ini sudah sangat canggih, tapi tetap saja alat-alat fotografi tidak kehilangan pamor. Banyak momen seperti pernikahan, kehamilan, kelahiran atau sekedar konten memasak yang akan tampak lebih menarik jika diambil menggunakan kamera.

    Sayangnya, tidak semua orang punya kamera profesional. Padahal, di tengah situasi seperti sekarang ini, menyewa alat-alat fotografi merupakan pilihan yang lebih aman ketimbang menyewa jasa fotografer.

    Ini bisa jadi peluang bisnis juga lho buat kamu. Coba tawarkan kepada temanmu apakah mereka sedang perlu menyewa DSLR, mirrorless, tripod, lensa atau filter lensa milikmu?

    Baca juga: Mau Investasi Jangka Pendek Saat Pandemi? Simak Pilihan Aset Berikut!

    2. Penyewaan Alat Camping

    Menyepi di puncak gunung masih jadi pilihan beberapa orang yang memang gemar mendaki. Banyak juga yang memilih gunung untuk menenangkan diri dari stress dan kehilangan yang makin sering kita rasakan belakangan ini. Apalagi, minggat ke gunung juga bisa menjadi solusi menghindari penyebaran virus COVID-19 delta yang tengah merajalela ini.

    Kalau kamu salah satu di antara pecinta alam yang punya alat-alat camping dan mountaineering, tidak ada salahnya menjajal bisnis penyewaan ini. Biasanya, keluarga atau rombongan yang ingin kemping masih perlu beberapa alat yang belum dimiliki oleh anggota rombongannya.

    Kamu bisa memanfaatkan hal tersebut dengan menyewakan milikmu kepada mereka tentu dengan imbalan sepadan.

    3. Penyewaan Alat Transportasi

    Apakah kamu tinggal di kota tujuan wisata seperti Yogyakarta dan Bali? Jika ya, kamu sangat bisa memanfaatkannya demi tambahan penghasilan.

    Bermodalkan motor atau mobil yang kamu miliki, kamu bisa menyewakannya pada turis lokal maupun mancanegara yang berwisata ke daerahmu. Tapi pastikan bahwa mereka memberi jaminan yang sepadan ya. Pastikan juga poin-poin dalam kontrak sewa-menyewa kamu agar kamu jangan sampai merugi di akhir.

    4. Penyewaan Alat-Alat Pesta

    Meski sedang pandemi, nyatanya animo masyarakat untuk berpesta tidak surut. Meski dengan diberlakukannya sejumlah ketentuan baru seperti pembatasan jumlah undangan dan hidangan, warga +62 tetap melangsungkan perkawinan, hajatan, akikah, tunangan dan acara-acara lainnya.

    Tentu saja mereka membutuhkan jasa penyewaan ala-alat pesta yang tidak mungkin dibeli sendiri. Ini bisa menjadi peluang tambahan penghasilan buat kamu.

    Bermodalkan tenda pesta dan pernik dekorasi, kamu bisa menyewakannya untuk mendapat pendapatan pasif.

    Baca juga: Sobat Cuan, Yuk Simak 5 Tips Memilih Deposito Anti Kecewa Berikut!

    5. Sewa Buku

    Pilihan terakhir ini sekaligus merupakan pilihan yang menarik jika kamu adalah seorang kutu buku. Ketimbang membiarkan koleksi buku kamu berdebu di lemari, kamu bisa menyewakannya pada orang lain dengan memungut biaya sewa.

    Membaca buku merupakan salah satu pilihan kegiatan yang cukup efektif untuk membunuh waktu sekaligus menambah pengetahuan saat kamu harus berdiam di rumah. Tentu saja hal tersebut berlaku juga untuk teman-teman dan tetanggamu.  Mereka pasti tertarik jika ada yang membuka penyewaan buku disekitar mereka.

    Uang dari hasil menyewakan buku tersebut bisa kamu putarkan lagi untuk membeli koleksi terbaru dari penulis favoritmu. Selain agar kamu tidak ketinggalan karya terbaru penulis favoritmu itu, koleksimu juga jadi tidak ketinggalan jaman. Dengan begitu, pelangganmu akan kembali meminjam koleksi-koleksi terbaru milikmu.

    Cara ini akan membuat hobi kamu tidak akan jadi pemborosan malah jadi tambahan penghasilan, lho, Sobat Cuan.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Pikiran Rakyat, Suara





    Sumber : pluang.com

  • Mengapa Pandemi Adalah Saat yang Tepat Investasi Reksadana?

    Gelombang baru COVID-19 kembali melanda Indonesia. Sama seperti tahun lalu, kondisi ini pun bikin dunia investasi ketar-ketir. Pembatasan aktivitas ekonomi seperti saat ini ditakutkan bikin kinerja pasar modal kembali memerah. Atau, bikin pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali kontraksi.

    Namun, di tengah kondisi ini, investor Indonesia nampaknya sudah cerdik melihat situasi. Mereka memilih untuk membenamkan dana di investasi reksadana, sebuah investasi yang memang terbilang aman di tengah kondisi ekonomi yang diproyeksi tak menentu.

    Hal itu pun tercermin dari pertumbuhan jumlah investor reksadana dalam negeri.

    Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Mei 2021, jumlah investor reksadana saat ini berjumlah 4,79 juta. Angka itu bertumbuh drastis 170,6% dibandingkan akhir 2019, atau tepat sebelum pandemi COVID-19, yang mencapai 1,77 juta investor.

    Siapa sangka, di tengah kondisi yang serba sulit seperti sekarang, ternyata banyak orang yang malah kepincut untuk masuk dan berburu cuan di produk reksadana. Apa sih alasannya?

    Bisa jadi, rendahnya tingkat risiko dan potensi imbal hasil yang lebih besar dari produk perbankan seperti deposito menjadi alasan bagi mereka untuk membeli produk reksadana.

    Selain itu, ketika pandemi mengancam pertumbuhan ekonomi, investasi reksadana menjadi oase bagi mereka yang selama ini bimbang melihat dinamika harga saham yang fluktuatif.

    Nah, berikut ini ada beberapa kode buat kamu agar mau ikut memanfaatkan masa pandemi untuk berburu cuan di produk reksadana!

    Baca juga: Kaum Milenial, Berapa Banyak Investasi yang Mesti Kamu Punya?

    Alasan Investasi Reksadana Saat Pandemi

    1. Murah Meriah

    Investasi reksadana bukanlah jenis investasi mahal yang hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang. Sebab, produk ini bisa didapatkan dengan harga yang terjangkau, lho.

    Ya, lewat platform investasi seperti Pluang, kamu bisa membeli produk reksadana seperti reksadana pasar uang dan pendaparan tetap mulai dari Rp15.000 saja. Murah bukan?

    Dewasa ini, reksadana bisa dibeli oleh siapa saja, sepanjang kamu memahami bagaimana pergerakan dan risiko investasi reksadana. Kamu bisa mulai rutin membeli reksadana setiap minggu atau secara berkala setiap dua minggu sekali dan rasakan cuan setelahnya!

    2. Tidak Rumit

    Investasi reksa dana tidaklah serumit berinvestasi saham yang mengharuskan kamu memperhatikan pergerakan harganya secara harian. Sebab, di dalam reksadana, seluruh dana kelolaanmu akan dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Para MI inilah yang akan menempatkan danamu ke beberapa aset dasar (underlying asset).

    Tapi, ada baiknya kamu juga mencermati prospektus sebelum memilih MI, ya. Sebab, prospektus ini berfungsi menjelaskan jenis-jenis aset apa saja yang akan “disasar” oleh para MI.

    Contohnya, ketika kamu membeli unit penyertaan (UP) reksadana saham, maka MI akan menyajikan jenis saham apa saja yang dijadikan basis portofolio investasi sahamnya di prospektus tersebut.

    Kamu bisa menjadikannya bahan pertimbangan untuk membeli atau mencari produk reksadana yang lain yang sesuai dengan profil risiko kamu. Selain itu, kamu juga tidak perlu takut bahwa MI akan “memainkan” investasimu. Kamu harus tahu bahwa MI selalu diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga dana kamu tetap aman.

    Jadi, daripada kamu makin stress saat PPKM dengan melihat grafik saham setiap hari, akan lebih baik jika ada satu pihak yang mengelola investasimu, bukan?

    3. Produknya Beragam

    Ada beberapa jenis produk reksadana, mulai dari reksadana saham, reksadana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, reksadana indeks, reksadana campuran atau reksadana syariah.

    Semuanya merupakan instrumen investasi reksadana. Hanya saja, yang membedakannya hanyalah basis portofolionya. Seperti reksadana saham, yang memiliki risiko tinggi karena alokasi dananya ditempatkan di instrumen saham.

    Asyiknya, kamu bisa menyesuaikan produk ini dengan tujuan keuanganmu. Jadi misalnya, kamu ingin melakukan investasi jangka panjang, maka reksadana saham bisa dijadikan pilihan. Namun, kalau kamu ingin berinvestasi jangka pendek, maka reksadana pasar uang akan cocok untukmu.

    4. Investasi Reksadana Mudah Dicairkan

    Di masa pandemi seperti sekarang ini, dana darurat adalah salah satu hal esensial. Untungnya, kamu juga bisa menjadikan reksadana sebagai salah satu wadah untuk menampung dana darurat!

    Ya, meskipun untuk mendapatkan hasil maksimal idealnya kamu melakukan investasi sesuai dengan tujuan keuangannya. Tetapi, kamu pun bisa mencairkan reksadanamu kalau kamu memang betul-betul membutuhkannya.

    Tidak ada biaya penalti atas pencairan investasi reksadana yang kamu lakukan. Meski begitu, agar dana kamu bisa tetap aman, pilih produk reksadana yang menggratiskan biaya pembelian ataupun biaya pencairan, ya!

    Proses pencairan dana reksadana maksimal T+2, alias dana kamu akan langsung masuk ke rekening tepat dua hari setelah kamu menjualnya. Jadi, fitur ini sangat cocok dalam keadaan pandemi seperti sekarang.

    Selain itu, saat pandemi, pertumbuhan ekonomi mengalami koreksi yang cukup dalam. Hal itu membuat harga UP reksadana menjadi relatif murah.

    Kamu bisa mulai mencicilnya untuk kemudian menunggu momentum pemulihan ekonomi yang akan berdampak pada pulihnya juga harga reksa dana. Jadi cuan kamu bisa makin lebar ketika ekonomi sudah mulai mengeliat kelak.

    5. Kinerja Investasi Reksadana Cukup Mumpuni

    Ekonomi Indonesia harus mengalami kontraksi tahun lalu gara-gara pandemi COVID-19. Begitu pun dengan kinerja pasar saham yang terjun terus ke zona merah.

    Namun, di saat-saat seperti ini, justru kinerja reksadana cukup gemilang. Jika tidak percaya, yuk perhatikan tabel kinerja IHSG vs investasi reksadana sepanjang 2020 di tabel berikut!

    Nah, jadi bagaimana Sobat Cuan? Sudah tertarik berinvestasi reksadana?

    Yuk, segera investasi reksadana pasar uang dan pendapatan tetap di Pluang! Kamu bisa mendapatkan reksadana mulai dari Rp15.000 saja secara praktis dan aman!

    Baca juga: Bingung Baca Prospektus Reksa Dana? Yuk, Simak Langkah Mudahnya di Sini!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Kompas.com, Cermati



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Token DeFi dan Alasan Kenapa Kamu Harus Perhatikan Mereka

    Setelah tren investasi cryptocurrency meledak dekade lalu, kini dunia keuangan digital kembali heboh dengan adanya token DeFi. Aset digital yang satu ini mulai banyak diminati oleh pengemar kripto lantaran kegunaanya yang beragam dan bisa digunakan di atas aplikasi decentralized finance.

    Sekilas, token-token ini memang mirip seperti cryptocurrency. Tapi, jangan sampai tertukar, Sobat Cuan! Meskipun sama-sama beroperasi pada jaringan blockchain, keduanya punya perbedaan yang fundamental, lho.

    Nah, untuk lebih jelasnya, yuk simak artikel berikut!

    Pengertian Token

    Sebagai salah satu jenis aset digital yang sedang naik daun, token DeFi mulai banyak diperbincangkan. Apalagi ketika DeFi mengalami booming yang terjadi pada 2020 silam.

    Secara sederhana, token adalah satuan unit yang dikembangkan pengembang blockchain atau developer proyek kripto, yang berjalan di atas jaringan blockchain yang sudah ada. Meskipun mirip dengan cryptocurrency, namun mereka memiliki perbedaan karakteristik yang mendasar.

    Cryptocurrency adalah aset “asli” dari sebuah protokol blockchain tertentu. Sementara itu, token diciptakan oleh platform-platform lain yang dibangun di atas jaringan blockchain tersebut.

    Sebagai contoh, jaringan blockchain Ethereum memiliki koin native yang disebut Ether (ETH), yang menjadi cryptocurrency utama yang digunakan oleh mereka yang berkegiatan di blockchain tersebut.

    Di sisi lain, jaringan blockchain Ethereum juga kerap digunakan oleh pengembang untuk menciptakan platform-platform khusus. Terkadang platform-platform tersebut menggunakan “satuan” sebagai “alat tukar” bagi sesama penggunanya. Nah, “alat tukar” itu termasuk golongan token, misalnya DAI, LINK, dan COMP.

    Masing-masing token memiliki fungsi yang berbeda sesuai tujuan pengembangannya. Ada token yang dibuat untuk bertransaksi pada game tertentu, berpartisipasi pada mekanisme DeFi, hingga mengakses layanan spesifik dari sebuah platform.

    Pengertian Token DeFi

    Dengan demikian, maka token DeFi adalah token-token yang digunakan pengguna untuk memanfaatkan satu aplikasi DeFi tertentu. Namun, token-token ini tidak dapat digunakan sebagai “mata uang” di sistem blockchain yang utama.

    Pada dasarnya, DeFi adalah aplikasi keuangan terdesentralisasi yang berjalan pada platform blockchain yang sudah ada. Sistem ini meniadakan otoritas dalam transaksinya, sehingga layanan jasa keuangan, mulai dari menabung hingga pinjam-meminjam, bisa dilakukan langsung antar pengguna dan penyedia tanpa kehadiran lembaga perantara (intermediaries).

    Sebagai gantinya, kamu bertransaksi menggunakan smart contracts dan menaruh kepercayaanmu pada kode-kode komputer yang di-input di sana.

    Meski tanpa bantuan bank dan lembaga keuangan, kamu masih bisa cuan dari margin bunga, mengambil pinjaman, jual beli aset hingga menabung dalam jaringan itu. Fungsi-fungsi ini dapat dilakukan dengan aset digital, hanya saja yang kamu gunakan sebagai asetnya adalah token DeFi.

    Berikut ini adalah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi oleh sebuah token agar pengguna bisa memanfaatkannya di aplikasi DeFi.

    Syarat-Syarat Token DeFi

    1. Terprogram

    Token berjalan dalam protokol software yang terdiri atas smart contracts yang terprogram. Artinya, smart contracts menguraikan fitur dan fungsi token, juga aturannya dalam bahasa komputer yang telah diprogram sebelumnya.

    2. Tidak Butuh Izin

    Sebagai bagian dari sistem yang terdesentralisasi, token memiliki sifat inklusif. Artinya, siapapun bisa mendapatkannya tanpa perlu perizinan khusus.

    3. Tidak Butuh Kepercayaan

    Smart contract tidak hanya memungkinkan transaksi tanpa pihak ketiga, lebih jauh lagi, fitur ini juga memungkinkan transaksi antar pihak yang tidak saling kenal. Karenanya, kamu tidak perlu saling percaya untuk mengeksekusi transaksi menggunakan token DeFi.

    Protokol yang berjalan dalam sistem di mana token beroperasi pun tidak punya otoritas khusus yang mengaturnya. Protokol dijalankan oleh jaringan, bukan oleh kepercayaan.

    4. Transparan

    Token DeFi merupakan aset digital yang berjalan dalam blockchain, yang artinya tiap transaksinya tetap tercatat dalam buku besar yang terpublikasi. Hal ini membuat token DeFi merupakan aset yang transparan dalam menjalankan fungsinya.

    Mengapa Token DeFi Akan Menjadi Spesial?

    Di samping pasarnya yang masih volatile, juga ragamnya yang terus berkembang tiap hari, token DeFi punya segudang alasan lain yang membuatnya harus diantisipasi di masa depan.

    1. Bisa Menggeser Peran Bank dan Lembaga Keuangan di Masa Depan

    Banyak token seperti AAVE, Sushiswap, dan Uniswap dipergunakan untuk menjalankan fungsi lembaga intermediary seperti pinjam meminjam aset dan menabung. Protokol ini juga memberi margin bunga selayaknya bank.

    2. Mengoptimalkan Fungsi Blockchain

    Sebagai temuan yang relatif baru, blockchain memiliki banyak potensi yang masih bisa dikembangkan lebih jauh. Token-token itu nantinya bisa dikembangkan lagi sehingga fungsi blockchain bisa menguat hingga kapasitas penuhnya.

    3. Membuka Peluang Keuangan Inklusif

    Saat ini, sudah banyak token yang beroperasi paralel dengan lembaga keuangan dengan biaya yang lebih minim saat ini. Hal tersebut membuka wawasan kita bahwa layanan keuangan yang inklusif bukan lagi sekedar impian di masa depan. Alias, semua orang bisa menikmati layanan jasa keuangan tanpa harus ditolak oleh otoritas tertentu.

    Baca juga: Pinjaman Kripto Vs Pinjaman Bank, Mana yang Lebih Menguntungkan?

    4. Token DeFi Baru Saja “Bangkit”

    Fungsi token yang kita kenal saat ini masih merupakan permulaan. Fungsi-fungsi lainnya masih dikembangkan atau bahkan belum dijajaki sama sekali.

    Token DeFi memberi kita ruang yang sangat luas untuk membentuk dunia yang kita inginkan lewat proyek dan dukungan finansial dari para penggemar dan pegiatnya. Tak hanya industri keuangan, melainkan industri hiburan, pemerintahan, dan proyek-proyek lainnya dapat dikembangkan dalam platform ini.

    Berita baiknya, semua bisa terlibat aktif!

    5. Meningkatkan Nilai Ethereum

    Jika token terlalu berisiko buat kamu, kamu bisa melihat sisi lainnya.

    Sebagian besar token yang ada saat ini berjalan dalam blockchain Ethereum. Sehingga, jika makin banyak token DeFi bersarang di dalamnya, maka artinya banyak pula pengembang yang tengah meracik platform DeFi di dalamnya.

    Dalam meramu platform DeFi, para pengembang platform tersebut tentu akan membayar daya komputasi blockchain Ethereum menggunakan ETH. Artinya, jika platform DeFi marak digunakan, maka permintaan ETH akan naik. Ujungnya, membuat harga ETH kian moncer!

    Jadi, kalau kamu adalah investor konservatif yang gampang berkeringat saat terjebak dalam investasi risiko tinggi, beli saja Ether si induk semang para token DeFi ini!

    Baca juga: Yuk, Kenalan dengan Konsep Total Value Locked di Kancah DeFi!

    Token DeFi yang Populer Saat Ini

    Sebagaimana kamu tahu, sebetulnya ada ribuan token saat ini. Tapi, hanya beberapa di antaranya saja yang cukup populer.

    Secara gampangnya, kamu bisa membuka Coinmarketcap untuk melihat soal token DeFi apa saja yang sedang populer. Namun, kamu juga bisa melihatnya pada grafik di bawah berikut.

    Meski popularitas di dunia DeFi tidak menjamin volatilitas, apalagi keberlangsungan hidup para token, setidaknya kamu bisa mengenal dan tahu ihwal fungsi-fungsi beberapa token. Untuk itu, yuk kenalan lebih jauh dengan beberapa token DeFi berikut!

    AAVE

    Token yang satu ini punya suplai mencapai 16 juta koin. Fungsinya adalah menjalankan protokol pinjam meminjam dalam platform blockchain Aave.

    Baca juga: 3 Kiat Cari Cuan Menggunakan Support & Resistance bagi Pemula

    Synthetix

    Synthetix adalah protokol derivatif yang didukung oleh token native SNX. Maksudnya, platform ini menerbitkan aset sintetik yang dapat ditransaksikan.

    Aset dijamin oleh Synthetix Network Token (SNX) yang dapat dikunci dalam protokol smart contracts. Saat terkunci, protokol ini dapat menerbitkan Synths, yakni aset sintetik yang dimaksud.

    Skema ini dibuat untuk menyelesaikan persoalan likuiditas pada decentralized exchanges. Saat ini total suplai SNX mencapai 190 juta token.

    Uniswap

    Dengan total suplai token mencapai 1 miliar, Uniswap merupakan salah satu leader dalam layanan decentralized exchange di DeFi. Kamu bisa memperoleh UNI, token milik Uniswap dengan menyediakan likuiditas pada pools tertentu.

    Sushiswap

    Token milik sushiswap, yakni SUSHI saat ini berjumlah 250 juta. Kamu yang suka bercocok tanam cuan dapat memperoleh SUSHI dengan menjadi penyedia likuiditas. Kamu juga bisa melakukan staking di Omasake Bar agar dapat fee protokol. Pemegang SUSHI punya hak suara untuk menentukan partner obsen selanjutnya dan proyek-proyek lainnya, lho.

    Dunia kripto ternyata luas sekali ya, Sobat Cuan. Bagaimana? Apakah kamu juga tertarik untuk berkecimpung di kancah DeFi?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Defirate, Gemini, Bitpanda



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Fibonacci Retracements Cara Menggunakannya Untuk Trading

    Sobat Cuan pernah dengar tentang fibonacci retracements? Indikator analisis teknikal ini menggunakan ilmu matematika kuno yakni golden rasio fibonacci untuk membantu kamu cuan saat trading.

    Nama indikatornya terkesan mewah sekali ya, Sobat Cuan! Bahkan tak hanya namanya yang terkesan elegan, namun informasi yang disajikan dari indikator ini pun terkesan “mahal”.

    Sebab, fibonacci retracements adalah indikator yang menerawang titik support dan resistance, sehingga kamu bisa menentukan kapan harus masuk ke pasar untuk mendulang cuan dan menentukan titik stop loss.

    Biasanya, fibonacci retracements digunakan oleh trader di pasar foreign exchange (forex). Namun belakangan, analisis ini juga sering digunakan dalam analisis teknikal cryptocurrency.

    Penasaran seperti apa manfaat memahami Fibonacci retracements? Yuk pelajari lebih jauh!

    Fibonacci, Ilmu Matematika Kuno yang Tetap Relevan Hingga Saat Ini

    Deret fibonacci yang kamu pelajari semasa sekolah dulu ternyata betulan bermanfaat lho, Sobat Cuan. Terutama kalau kamu sedang menjajal peruntungan lewat trading.

    Leonardo Pisano Fibonacci adalah orang Italia yang terkenal akan satu ilmu yang disebut deret Fibonacci. Yakni, deret angka yang dimulai dari 0, di mana angka berikutnya merupakan hasil penjumlahan dari dua angka sebelumnya.

    Contohnya, deret angka Fibonacci di awal-awal adalah 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89,144, 233, 377 dan seterusnya.

    Lantas, apa yang membuat deret ini spesial?

    Nah, setiap angka yang berada di dalam deret Fibonacci selalu bernilai 1,618 kali lebih besar dibanding angka sebelumnya. Sementara itu, setiap angka di deret ini selalu punya nilai 0,618 kali lebih rendah dibanding angka sesudahnya.

    Angka 1,618 dan 0,618 tersebut pun kemudian disebut sebagai rasio emas (golden ratio) atau disebut phi. Rasio ini menjadi idola di kalangan matematikawan karena bisa menjelaskan seluruh hal di alam semesta ini, mulai dari jumlah urat dalam satu daun hingga resonansi magnetik di kristal kobalt.

    Penggunaan Deret Fibonacci dalam Finansial

    Nah, ternyata, beberapa analis menemukan bahwa golden ratio serupa juga ditemukan di dalam ilmu finansial.

    Mereka percaya bahwa pergerakan harga suatu aset juga memiliki pola yang selalu berulang, di mana nilai pergerakannya pun terbilang konsisten. Meski memang dibutuhkan kalkulasi matematis tambahan di dalamnya.

    Agak berbeda dengan deret Fibonacci yang orisinil, deret angka yang digunakan dalam trading instrumen finansial terdiri atas 0,236, 0,382, 0,618, 1,618, 2,618, dan 4,236. Namun, jika angka-angka tersebut diubah ke dalam bentuk persentase, maka deret Fibonacci-nya akan menjadi 23,6%, 38,2%, 61,8%, 78,2%, dan seterusnya.

    Dengan demikian, maka trader bisa berharap bahwa pergerakan harga aset bisa bergerak sebesar 0,236 hingga 4,236 kali lipat dibanding posisi harganya saat ini.

    Misalnya seperti ini. Anggap saja harga saham perusahaan A naik dari Rp10.000 per lembar menjadi Rp20.000 per lembar, maka pergerakan harga berikutnya bisa ditelaah menggunakan deret angka di atas. Anggap saja, kali ini kita menggunakan level 23,6%.

    Dengan demikian, maka pergerakan harga berikutnya setelah Rp20.000 bisa jadi adalah Rp17.640. Hal ini didapatkan atas rumus seperti berikut:

    Harga berikutnya = Harga Atas – (Selisih Harga Atas dan Bawah x Deret Fibonacci)

    Sehingga, untuk contoh kasus di atas, maka harga setelah posisi Rp20.000 adalah

    Rp20.000 – (Rp10.000 x 23,6%) = Rp17.640

    Selain itu, kamu juga perlu memahami bahwa harga atas dan harga bawah yang digunakan bukanlah titik yang didapat sembarang. Namun, keduanya adalah titik yang disebut swing high dan swing low.

    Swing high adalah titik harga aset tertinggi sebelum memperlihatkan penurunan. Sementara itu, swing low adalah titik harga terendah yang dicapai sebuah aset sebelum akhirnya memantul kembali.

    Apa Itu Fibonacci Retracements?

    Penggunaan Fibonacci dalam trading pun terbagi dua, yakni Fibonacci Extensions dan Fibonacci Retracement. Tapi, kali ini kita hanya akan membahas detail soal Fibonacci Retracement saja, ya.

    Dalam dunia trading, retracement dikenal sebagai kemunduran kecil (pullback) dari tren harga suatu aset. Biasanya, mereka bersifat temporer dan tidak membahayakan. Dengan demikian, maka Fibonacci Retracement menggambarkan besaran penurunan harga aset secara temporer berikutnya berdasarkan deret angka Fibonacci. 

    Nah, di dalam analisis teknikal, deret angka Fibonacci ini kemudian “ditempel” ke dalam grafik harga aset dalam bentuk garis horizontal. Garis-garis ini kemudian disebut sebagai Fibonacci Retracement Levels.

    Biasanya garis fibonacci yang ditarik membentuk level berada pada persentase 23,6%, 38,2%, 61,8% dan 78,6%. Selain itu, rasio 50% juga digunakan meski tidak termasuk dalam kelompok angka fibonacci. Contohnya bisa terdapat di grafik harga ETH/USDT di bawah ini.

    Fibonacci Retracement
    Sumber: Tradingview

    Konon katanya, saat harga mendekati area fibonacci, besar kemungkinan trennya akan berubah. Meski begitu, ingat bahwa kemungkinan ini tidak mutlak. Kamu perlu indikator lain untuk membantumu membuat kesimpulan.

    Baca juga : Mengenal Token DeFi dan Alasan Kenapa Kamu Harus Perhatikan Mereka

    Kegunaan Garis Fibonacci

    Kamu bisa menggunakan level fibonacci retracements untuk menentukan titik support dan resistance berikutnya. Jika kamu bisa mengetahui hal itu, maka kamu akan tahu pada harga berapa kamu akan keluar masuk pasar. Tak hanya itu, kamu pun jadi bisa merencanakan ancang-ancang kapan harus stop loss atau menyetel harga.

    Lantas, bagaimana cara membaca garis-garis tersebut?

    Jika harga tetap bergerak naik saat menyentuh level fibonacci-nya, kemungkinan besar harga tersebut dapat terus naik.

    Begitu pun, jika harga gagal menembus level fibonacci, kemungkinan besar harga akan berbalik arah sehingga kamu dapat menargetkan stop loss di level ini.

    Fibonacci retracements bekerja lebih akurat saat uptrend. Selain itu, kamu juga dapat menyandingkannya dengan indikator lain.

    Perlu dipahami bahwa fibonacci retracements adalah level yang statis. Tidak seperti moving average yang kerap berubah, level statis ini bisa membantu kamu memgambil keputusan cepat dengan mudah.

    Subjektivitasnya terdapat pada persepsi kamu mengenai dua titik yang menjadi tolok ukur awal garis fibonacci yang kamu gunakan untuk menganalisis. Alias, si titik swing high dan swing low.

    Baca juga: Pinjaman Kripto Vs Pinjaman Bank, Mana yang Lebih Menguntungkan?

    Cara Menggunakan Fibonacci Retracements

    Kamu tidak perlu khawatir akan menemukan rumus-rumus sulit fibonacci seperti saat di bangku sekolah dulu. Sebagian besar aplikasi trading sudah menyediakan indikator ini berikut dengan perhitungannya.

    Setelah fibonacci retracements terbentuk dalam chart analisis kamu, kamu akan menemukan secara ajaib bahwa tiap kali harga mendekati garis level, trennya jadi berubah.

    Meskipun populer digunakan oleh trader forex, fibonacci retracements sebetulnya bisa dipakai untuk memprediksi apa saja dalam bentuk chart.

    Baca juga: Yuk, Kenalan dengan Konsep Total Value Locked di Kancah DeFi!

    Strategi Trading dengan Fibonacci Retracements

    Tidak ada restriksi dalam menggunakan indikator berfaedah ini. Kamu bisa menggunakannya untuk membaca pola apa saja dalam rentang waktu yang ingin kamu ketahui.

    Jika kamu sudah dapat melihat pola berulang tiap kali instrumen yang kamu analisis memasuki garis level, kamu bisa mengambil keputusan dengan cepat.

    Tentukan sejak awal dimana kamu akan stop loss dan di mana kamu ingin cuan. Untuk hasil terbaik, pastikan juga kamu menggunakan indikator lain agar simpulan kamu terkonfirmasi dengan lebih akurat ya.

    Namun, trader biasanya menggunakan strategi ini untuk melakukan taktik bernama strategi trend-trading. Yakni, sebuah strategi yang memanfaatkan titik retracement level dan tren harga aset demi mendulang cuan.

    Bagaimana contohnya? Yuk, simak dulu grafik trading forex EUR/USD berikut!

    Chart showing example of Fibonacci retracement levels
    Sumber: Investopedia

    Dari contoh di atas, kita mengetahui bahwa tren penurunan mulai terjadi di titik A. Nilai Euro kemudian melonjak drastis, namun gagal menembus level 38,2% (titik B), sehingga tren harganya mengalami retracement. Beberapa saat kemudian, harga pun kemudian mencapai level 38,2% di titik C.

    Sehingga, yang kamu perlu lakukan dalam kasus di atas adalah menunggu momen yang tepat. Ketika harga melewati titik B, alias gagal menembus 38,2%, maka ini adalah waktu emas dalam akumulasi aset sampai melihat harga melewati level retracement yang awal (23,6%).

    Jika trennya naik, kamu bisa menanti harga aset tersebut, apakah ia akan menembus 38,2% kembali atau tidak. Hanya saja, harga aset kembali gagal menembus angka tersebut, sehingga kamu perlu buru-buru memasang posisi jual ketika harga mencapai level fibonacci 38,2%.

    Bagaimana, Sobat Cuan? Sudah siap trading menggunakan indikator ini?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Investopedia, Warior Trading



    Sumber : pluang.com

  • Gaji Pertama Bisa Nabung? Bisa Banget, Simak 5 Langkah Berikut!

    Selamat bagi Sobat Cuan yang baru lulus kuliah! Setelah melalui badai skripsi dan sidang, kini kamu sudah resmi masuk angkatan kerja dan mulai mencari-cari pekerjaan pertamamu.

    Memang, yang namanya gaji pertama, pasti jumlahnya belum dua digit, apalagi tiga digit. Tapi, hal itu seharusnya tidak menghalangimu untuk mengatur keuanga secara tepat. Yang perlu kamu lakukan adalah mengamalkan tips menabung, investasi, dan juga penganggaran dengan baik!

    Menabung memang penting, Sobat Cuan, sebab hal itu bisa mengantarkanmu ke masa depan yang lebih baik. Selain itu, menabung juga merupakan bukti bahwa kamu benar-benar menghargai hasil jerih payahmu sebagai fresh graduate.

    Untuk itu, jangan pernah ragu-ragu untuk menabung dengan gaji pertamamu ya, Sobat Cuan. Berikut ini ada beberapa tips yang bisa kamu lakukan agar mampu menabung dengan gaji pertamamu.

    Tips Menabung dengan Gaji Pertama

    1. Tips Menabung Paling Dasar: Buat Budget Bulanan

    Membuat budget dimulai dengan menghitung pendapatan bersih yang kamu bawa ke rumah atau take home pay. Jumlah ini tentunya setelah dikurangi pajak, asuransi dan iuran pensiun.

    Setelahnya, kamu tinggal mengurangi pendapatanmu dengan pengeluaran yang kamu anggap tetap, esensial, atau fleksibel. Nah, selisih dari pendapatan dengan pengeluaran tersebut tentunya bisa kamu gunakan untuk menabung!

    Ahli perencana keuangan biasanya menyarankan kamu membagi jumlah gaji berdasarkan rasio 50/30/20. Maksudnya, 50% gaji dialokasikan untuk kebutuhan hidup. Sisanya, sebanyak 30% untuk menutup utang dan 20% untuk ditabung.

    Namun, gaji dan kebutuhan setiap orang tentu berbeda-beda. Sehingga, kamu juga tidak usah terlalu ngoyo, Sobat Cuan. Tak usah berpatokan ke pakem di atas kalau kamu tak mampu menabung sebesar 20% dari gajimu. Ingat, seperti kata pepatah, sedikit-sedikit lama-lama akan menjadi bukit.

    Selain itu, kamu juga harus cermat dalam memilah kebutuhan hidup, ya. Kamu tentunya harus bisa memilah mana kebutuhan yang perlu kamu penuhi untuk bertahan hidup dan apa saja pengeluaran yang bersifat keinginanmu saat ini.

    Baca juga: Hai Para Abdi Negara, Simak 5 Jenis Investasi yang Cocok bagi Kantong PNS!

    2. Tips Menabung dengan Dalih Dana Darurat

    Kalau kamu merasa susah menabung dengan gaji pertama karena alasan “malas”, mungkin ada baiknya kamu mencoba tips ini. Yakni, menganggap dana tabunganmu adalah dana darurat.

    Apa sih arti dana darurat? Sesuai namanya, dana darurat adalah dana yang bisa kamu pakai kalau dalam situasi darurat. Misalnya, ketika kamu jatuh sakit atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), kamu masih bisa bertahan hidup tanpa harus berutang.

    Kamu dianjurkan untuk memiliki dana darurat sejumlah kebutuhan hidup berikut liabilitas seperti cicilan utang kamu selama 3-6 bulan. Asumsinya, jika terjadi hal yang tidak diinginkan, kamu punya waktu selama itu untuk hidup tanpa penghasilan.  Kamu bisa mencari sumber penghasilan lain dengan bertahan hidup dari dana darurat.

    Sudah terbayang kan urgensi dana darurat ini? Nah, jadikan situasi-situasi “kedaruratan” itu sebagai motivasi untuk menyisihkan uang dari penghasilanmu, ya. Apalagi di tengah situasi yang tak menentu seperti saat ini, tentu kamu sangat membutuhkan kehadiran dana darurat.

    Nah, agar tabungan dana daruratmu tidak terpakai, kamu bisa menempatkannya di instrumen lain. Salah satu contohnya adalah menempatkannya di reksadana pasar uang.

    Baca juga: Daripada Sewain Pacar, Mending Sewakan Benda Ini Untuk Nambah Penghasilan!

    3. Mau Nabung? Yuk, Utangnya Dibayar Dulu

    Dapat gaji pertama memang nikmat ya, Sobat Cuan. Tapi ada baiknya kamu melakukannya setelah melunasi kewajiban finansialmu paling utama, yakni bayar utang.

    Membayar utang tidak boleh ditunda-tunda. Sebab, semakin lama kamu menunggaknya, maka bunga yang dibebankan pun akan semakin membengkak. Makanya, ada baiknya kamu melunasinya terlebih dahulu biar merasa lega. Setelahnya, kamu sudah bisa leluasa menabung.

    Namun, ada kalanya kamu masih terbebani utang keluarga yang mengantarmu lulus bangku kuliah. Atau utang-utang lain bernilai jumbo yang harus kamu bayar secara cicilan

    Kalau kondisinya demikian, maka porsi pembayaran utang sebaiknya tidak melebihi 30% dari total pemasukan bulananmu ya, Sobat Cuan.

    Rasio 30% penghasilan ini harus kamu pegang terus ya. Jika kamu berencana mengambil cicilan lain, pastikan bahwa total cicilan kamu tidak lebih dari 30% total penghasilan kamu.

    4. Dana Investasi

    Jika kamu masih punya sisa penghasilan setelah menyisihkan uang untuk menabung dan bayar utang, maka kamu jangan menghabiskannya untuk shopping atau nongkrong-nongkrong! Lebih baik, kamu investasikan saja sisa uangmu tersebut.

    Porsi ini penting agar di masa mendatang kamu bisa hidup sejahtera bermandikan pendapatan pasif. Jadi, kamu sebaiknya bisa mulai berinvestasi sekarang dengan instrumen investasi yang aman seperti reksadana dan deposito. Buat pos-pos investasi untuk tujuan khusus sesuai dengan financial goals kamu, ya.

    Ingat, investasi tidak sama dengan spekulasi. Dana ini sebaiknya tidak kamu gunakan untuk berspekulasi di pasar yang terlalu volatile dan berisiko tinggi. Pelan tapi pasti, kamu akan tahu investasi mana yang lebih cocok untukmu.

    Baca juga: Sobat Cuan, Simak 5 Hal Esensial yang Perlu ada di Financial Planning!

    5. Tips Menabung Sambil Apresiasi Diri Sendiri

    Kamu telah bekerja keras untuk sampai di titik ini. Namun, jangan lupa, bahwa kamu pun akan bekerja lebih keras lagi untuk pencapaian-pencapaian selanjutnya. Sehingga, tak ada salahnya kok kamu menabung dengan mindset self-appreciation.

    Yang perlu kamu lakukan adalah membayangkan keinginanmu di masa depan dengan uang jerih payahmu. Apakah kamu ingin selonjoran di kafe-kafe yang menawarkan sunset view di Bali? Atau kamu ingin diving di Raja Ampat? Apapun keinginanmu, tuliskan saja hal itu dan jadikanlah sebagai motivasi menabungmu.

    Kamu bisa menggunakan pola pikir ini ketika menerima gaji pertamamu. Namun sejatinya, kamu akan lebih leluasa melakukan hal ini jika kamu menerima bonus tahunan dari perusahaanmu.

    Dalam hal ini, ahli perencana keuangan menyarankan rasio 50:50. Maksudnya, tiap kali kamu menerima bonus, kamu habiskan 50% dari kenaikan itu untuk mengapresiasi dirimu sendiri. Lalu 50% sisanya untuk ditabung.

    Keduanya, baik uang yang kamu habiskan untuk dirimu sendiri dan kamu sisihkan untuk masa depan, merupakan cara kamu mengapresiasi hasil jerih payahmu.

    Keep up the good work dan selamat menikmati gaji pertamamu!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: CBS, The Muse



    Sumber : pluang.com

  • Terlihat Serupa, Apa Perbedaan Koin dan Token di Kancah Kripto?

    Sobat Cuan mungkin saat ini lagi tertarik masuk ke ranah dunia kripto, apalagi setelah reli besar-besaran Bitcoin dan altcoin season pada awal 2021. Namun, begitu masuk ke pasar kripto, kamu kemudian puyeng melihat banyaknya ragam aset kripto di dalamnya.

    Kamu kemudian makin bingung ketika menemukan bahwa tidak hanya cryptocurrency saja yang berada di dalam pasar kripto. Namun, ada pula aset digital lain yang disebut dengan token. Lantas, apa perbedaan koin dan token? Mengapa harus ada dua istilah berbeda untuk merujuk ke aset kripto?

    Ibarat dua anak kembar yang sering mengalami salah sebut nama, koin dan token juga mengalami kondisi serupa. Apalagi, jika kamu pergi mengecek besaran kapitalisasi pasar aset kripto di, misalnya, coinmarketcap, pasti kamu akan melihat koin-koin kripto berbaur dengan token

    Nah, daripada bingung membedakannya, yuk simak artikel ini ya, Sobat Cuan!

    Penjelasan Singkat Mengenai Perbedaan Koin dan Token

    Meski memang terlihat mirip, namun koin dan token memiliki perbedaan secara fundamental, Sobat Cuan! Jadi, jangan pernah merujuk koin sebagai token. Apalagi, merujuk token sebagai koin kripto.

    Intinya, perbedaan token dan koin tidak hanya terletak dari namanya. Namun juga terletak di fungsinya, asal muasalnya, serta manfaatnya. Berikut adalah penjelasan koin dan kripto.

    Baca itu: Mengenal Token DeFi dan Alasan Kenapa Kamu Harus Perhatikan Mereka

    Apa itu Koin?

    Koin dalam dunia kripto merujuk pada aset digital yang dibangun di jaringan blockchain independen miliknya sendiri.

    Aset digital satu ini memang diterbitkan langsung oleh mereka yang mengembangkan protokol blockchain yang dimaksud. Makanya, koin sering disebut sebagai aset kripto native, alias “penduduk asli” di jaringan blockchain tersebut.

    Sebagai contoh, kamu pasti sudah tidak asing dengan Bitcoin (BTC) sang jawara di dunia aset digital. Ya, BTC merupakan koin karena dia dibangun di atas jaringannya sendiri. Lalu terdapat pula Ether (ETH) yang merupakan koin native dari jaringan Ethereum.

    Berikut ini adalah karaketristik dari koin kripto.

    1. Terdesentralisasi. Alias, jumlah peredarannya tidak tergantung dengan satu lembaga atau otoritas tertentu.
    2. Dibangun di atas sistem blockchain atau jenis tekonologi buku besar (ledger) digital lainnya.
    3. Menggunakan kriptografi sebagai jaring keamanannya.

    Kegunaan Koin

    Lantas, apa saja sih kegunaan koin-koin tersebut?

    Seperti yang kita tahu, asal muasal koin kripto berasal dari Bitcoin yang diluncurkan 2009 silam. Kala itu, sang pengembangnya yang beridentitas anonim Satoshi Nakamoto berniat menjadikan Bitcoin sebagai alat tukar terdesentralisasi, yang tentu saja bisa digunakan untuk membeli barang dan jasa.

    Dengan kata lain, niat penciptaan koin kripto pada awalnya adalah medium pembayaran layaknya uang fiat. Makanya, koin kripto generasi awal seperti BTC, XRP, dan LTC memiliki sifat seperti demikian.

    Hanya saja, kini tidak semua negara mau mengakui pembayaran Bitcoin. Bahkan, baru El Salvador saja yang melegalkan penggunaan Bitcoin demi keperluan transaksi.

    Namun, bukan berarti nilai manfaat koin kripto hilang begitu saja. Sebab, koin kripto pun memiliki dua fungsi lain di zaman sekarang.

    1. Aset Investasi

    Saat ini, sebagian pelaku aset kripto telah menganggap beberapa jenis aset kripto sebagai aset investasi. Contoh paling kentara bisa Sobat Cuan lihat di perkembangan Bitcoin.

    Kini, komunitas kripto dan beberapa analis menganggap Bitcoin sebagai “emas digital” lantaran ia memiliki sifat penyimpan nilai seperti uang fiat (Store of Value). Hanya saja, suplainya terbatas, yakni hanya 21 juta keping saja.

    Akibatnya, nilai Bitcoin bisa terapresiasi di masa depan dan dianggap “tempat aman” untuk menaruh kekayaan dari gerusan inflasi.

    2. Penjaga Sistem Blockchain

    Komunitas kripto juga menggunakan koin sebagai penjaga keberlangsungan jaringan blockchain.

    Sobat Cuan mungkin paham bahwa teknologi blockchain terus berkembang. Blockchain yang dulunya hanya mencatatkan transaksi secara desentralisasi kini bisa digunakan untuk jasa keuangan lainnya, seperti pinjam meminjam dan menabung, berkat kehadiran teknologi smart contract.

    Jika komunitas kripto semakin sering menggunakan teknologi blockchain, maka mereka harus memberi kompensasi ke pengembang untuk menjaga keandalan teknologi tersebut. Nah, makanya komunitas kripto wajib membayar “ongkos sewa blockchain” ke pengembang, yang tentu saja dibayar dengan koin native tersebut.

    Contoh mudahnya adalah Ethereum. Komunitas kripto senang mengembangkan berbagai aplikasi terdesentralisasi di jaringan blockchain-nya lantaran memiliki teknologi smart contract yang mumpuni. Namun, di saat yang sama, mereka juga wajib menyetor ETH ke pengembang sebagai “balas jasa” atas teknologi Ethereum tersebut.

    Apa Itu Token?

    Sementara itu, token adalah aset digital yang dibangun di atas jaringan blockchain milik pihak lain. Jika koin adalah “penduduk asli” dari sebuah sistem blockchain, maka token adalah “penduduk pendatang” di sana.

    Biasanya, token kripto memiliki empat prinsip seperti berikut:

      1. Programmable. Token-token tersebut digunakan di atas protokol piranti lunak, yang dimotori dari beberapa smart contract yang berasal di blockchain utamanya.
      2. Permissionless. Semua orang bisa menggunakan token tersebut tanpa izin dari pihak manapun.
      3. Trustless. Tidak ada satu otoritas pun yang mampu mengendalikan peredaran token.
      4. Transparency. Seluruh kegiatan yang menggunakan token bisa diawasi dan dicatat oleh pihak manapun.

    Token diciptakan dari berbagai platform yang berada di atas suatu blockchain tertentu. Biasanya, namun tidak selalu, token-token ini diciptakan di atas sistem blockchain Ethereum.

    Ketika menciptakan token-token tersebut, pengembang harus patuh pada standar-standar penciptaan token tertentu agar bisa digunakan di sistem blockchain utamanya.

    Di Ethereum, misalnya, pengembang biasanya mengacu pada standar ERC-20 agar token-token mereka bisa silang operasi dengan aplikasi terdesentralisasi lainnya di jaringan blockchain Ethereum. Selain itu, terdapat pula standar ERC-271 yang biasanya dipatuhi pengembang untuk menciptakan Non-Fungible Token (NFT).

    Saat ini, ada ribuan token yang beredar di pasar. Mulai dari Tether (USDT), USD Coin (USDC), DAI, UMA, dan Basic Attention Token (BAT) adalah beberapa token digital yang banyak digunakan oleh investor.

    Kegunaan Token

    Sama seperti koin, token juga memiliki fungsi transfer nilai. Namun, terdapat kelebihan lain dari token selain sebagai media pembayaran, misalnya seperti:

    1. Token sekuritas. Ini merupakan representasi dari aset-aset beneran yang terdapat di dunia nyata. Misalnya, seperti instrumen surat berharga dan obligasi.
    2. Token utilitas. Aset digital ini didesain sebagai sarana pengguna untuk mendapatkan produk atay jasa di platform tersebut.
    3. Stablecoins. Token ini memiliki nilai yang ditautkan ke mata uang fiat, seperti dolar AS atau Euro
    4. Non-fungible Token. Token ini merupakan representasi dari benda yang unik dan hanya ada satu-satunya di dunia.
    5. Token pembayaran. Fungsi ini sama seperti koin digital karena digunakan untuk pembayaran barang dan jasa.

    Terkadang, token juga digunakan sebagai “surat suara” dalam melakukan voting tertentu. Biasanya, voting ini dilakukan antar pengguna dalam menentukan pembaruan protokol atau kebijakan baru terkait kebijakan platform-platform aplikasi terdesentralisasi.

    Kesimpulan Perbedaan Koin dan Token

    Sebagai ringkasannya, berikut adalah kesimpulan inti dari perbedaan koin dan token:

    1. Koin diciptakan dari jaringan blockchain utama. Token berasal dari platform-platform yang didirikan di atas jaringan blockchain tersebut.
    2. Koin bisa digunakan untuk proses pembayaran. Token lebih cocok digunakan untuk keperluan yang lebih beragam.
    3. Penciptaan koin lebih susah daripada token. Sebab, koin berasal dari blockchain, sementara token hanya “menumpang” blockchain yang sudah ada.

    Kalau kamu lebih suka mana, Sobat Cuan? Koin? Atau token?

    Baca juga: Harga Bitcoin, Ethereum, dan Cryptocurrency Lain Diprediksi Meroket

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Liquid, Gemini, Bitdegree



    Sumber : pluang.com