Author: 10

  • Mending Mana? Investasi di Obligasi atau Reksadana Pendapatan Tetap?

    Berinvestasi di obligasi atau reksadana obligasi, mana yang lebih menguntungkan ya?

    Kedua instrumen ini, yakni obligasi dan reksadana obligasi, alias pendapatan tetap, tergolong instrumen investasi dengan tingkat risiko yang rendah lho, Sobat Cuan. Meski begitu, keduanya merupakan produk yang jauh berbeda.

    Namun, kenapa produk ini bisa berbeda? Padahal bukankah keduanya sama-sama mengusung nama “obligasi” di dalamnya? Untuk lebih jelasnya, yuk simak artikel berikut!

    Obligasi vs Reksadana Obligasi

    Sebelum kamu memutuskan lebih jauh instrumen mana yang akan jadi pilihanmu dalam berinvestasi rendah resiko, kenali dulu yuk perbedaan keduanya.

    Baca juga: Mau Investasi Jangka Pendek Saat Pandemi? Simak Pilihan Aset Berikut!

    Apa Itu Obligasi?

    Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), obligasi adalah surat utang jangka menengah maupun jangka panjang yang dapat diperjualbelikan. Obligasi berisikan janji dari pihak yang menerbitkan efek untuk membayar imbalan berupa kupon pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada akhir waktu yang telah ditentukan kepada pembeli obligasi.

    Karena adanya kupon ini, obligasi jadi termasuk ke dalam instrumen investasi berpendapatan tetap yang bertujuan untuk memberikan tingkat pertumbuhan nilai investasi yang stabil. Kamu bisa membeli obligasi saat penawaran perdana maupun di pasar sekunder.

    Jenis-jenis Obligasi

    Obligasi yang terbit di Indonesia ada tiga jenis, yakni

    1. Obligasi Pemerintah, yaitu obligasi dalam bentuk Surat Utang Negara yang diterbitkan oleh Pemerintah RI. Pemerintah menerbitkan obligasi dengan kupon tetap (seri FR- Fixed Rate), obligasi dengan kupon variable (seri VR –Variable Rate) dan obligasi dengan prinsip syariah/ Sukuk Negara.
    2. Obligasi Korporasi, yaitu obligasi berupa surat utang yang diterbitkan oleh Korporasi Indonesia baik BUMN maupun korporasi lainnya. Sama seperti obligasi pemerintah, obligasi korporasi terbagi atas obligasi dengan kupon tetap, obligasi dengan kupon variabel dan obligasi dengan prinsip syariah. Ada Obligasi Korporasi yang telah diperingkat atau ada yang tidak diperingkat.
    3. Obligasi Ritel, yang diterbitkan oleh Pemerintah yang dijual kepada individu atau perseorangan melalui agen penjual yang ditunjuk oleh Pemerintah. Biasanya ada beberapa jenis yaitu ORI atau Sukuk Ritel.

    Reksadana Pendapatan Tetap

    Reksadana obligasi, atau yang lebih dikenal sebagai reksadana pendapatan tetap (RDPT) adalah reksadana yang mengalokasikan minimum pengelolaan dananya sebesar 80% pada obligasi. Selayaknya reksadana, RDPT merupakan produk investasi yang diterbitkan dan dikelola oleh manajer investasi (MI).

    Jika kamu membeli unit reksadana obligasi, nantinya dana kamu tidak hanya akan dialokasikan untuk membeli satu jenis obligasi saja. Artinya, portofolio investasi kamu akan terdiversifikasi dengan baik dalam berbagai surat utang milik pemerintah maupun swasta.

    Kamu juga dapat memilih produk reksadana mana yang akan kamu beli berikut dengan profil alokasi dananya.

    Baca juga: Strategi Investasi Reksadana DCA vs Lump Sum: Mana yang Paling Oke?

    Obligasi Vs Reksadana Obligasi, Mana yang Lebih Baik?

    Setelah memahami perbedaan kedua instrumen investasi tersebut, kira-kira mana yang lebih baik? Semua itu berbalik pada rencana investasi kamu. Tapi, yuk kita bahas satu per satu plus dan minus dari keduanya.

    Fleksibilitas Obligasi Vs Reksadana Obligasi

    Jika ditilik dari aspek fleksibilitasnya, reksadana obligasi tentu lebih unggul ketimbang membeli obligasi secara langsung. Kamu hanya perlu membeli unit RDPT dari MI yang kamu percayai.

    Selain itu, fleksibilitas reksadana obligasi juga unggul dari terkait jumlah investasi minimum. Jika obligasi mensyaratkan investasi minimum Rp1 juta, reksadana obligasi hanya menerapkan nominal minimum Rp10.000 saja atau seharga satu unit RDPT yang berlaku.

    Kamu pun hanya perlu menyetorkan KTP dan rekening bank saat akan membeli reksadana obligasi. Sementara syarat membeli obligasi secara langsung mengharuskan kamu setor NPWP juga.

    Saat akan menjual reksadana obligasi, kamu tidak perlu menunggu tenornya jatuh tempo. Unit reksadana yang kamu pegang dapat dilepas kepada MI tempat kamu membeli kapan saja sesuai ketentuan yang berlaku.

    Dalam hal ini, obligasi juga menawarkan fleksibilitas. Yakni, investor diberi keleluasan untuk menjual obligasi di pasar sekunder sebelum jatuh tempo. Kemungkinan juga kamu akan mendapat margin dari selisih harga jual dan belinya.

    Baca juga: Yuk, Ketahui Cara Mengetahui dan Menentukan Limit Kartu Kredit di Sini!

    Imbal Hasil dan Risiko Reksadana Obligasi Vs Obligasi

    Obligasi menawarkan cuan berupa kupon, yield, atau diskonto yang dibayarkan secara berkala sebelum jatuh tempo atau sesuai ketentuan yang berlaku. Besarnya kupon biasanya tergantung pada fundamental dan kebijakan lembaga penerbit obligasi milikmu.

    Surat Utang Negara (SUN) biasanya memberikan imbal hasil 5-7% tergantung kebijakan pemerintah dan kondisi perekonomian, begitu juga dengan obligasi swasta dan ritel.
    Sementara itu, imbal hasil reksadana obligasi bergantung pada kinerja dana kelola.

    Biasanya angkanya tidak jauh berbeda dengan rata-rata imbal hasil obligasi mengingat 80% dana dikelola dalam instrumen itu. Perbedaannya adalah pada reksadana obligasi dana kamu diversifikasi pada sejumlah obligasi dengan tingkat bunga yang beragam.

    Selain itu, MI kerap membeli dalam jumlah besar yang membuatnya punya daya tawar untuk meminta harga lebih murah. Praktik ini mereduksi risiko investasi kamu terkikis biaya-biaya admin maupun perpajakan.

    Pajak

    Perbedaan lain yang tak kalah fundamentalnya antara dua instrumen ini ada kedudukannya di mata otoritas perpajakan.

    Obligasi merupakan objek pajak yang dikenakan pajak penghasilan, sementara reksadana obligasi bukanlah objek pajak. Artinya, imbal hasil yang kamu terima dari obligasi masih dipotong oleh pajak sementara imbal hasil reksadana kamu bisa kamu kantongi utuh!

    Nah, bagi kamu investor yang cari risiko aman dan investasi nyaman, tentu berinvestasi di reksadana pendapatan tetap terlihat lebih menguntungkan, bukan?

    Kalau kamu tertarik berinvestasi pendapatan tetap, kamu bisa mendapatkannya di Pluang! Di Pluang, kamu bisa mendapatkan reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang hanya Rp15.000 saja! Dijamin aman karena sudah diawasi oleh OJK!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Bareksa, Reksadana Community



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Flippening, Momen Kala ETH Diramal Akan Salip BTC

    Jagat cryptocurrency kini diduduki oleh dua “penguasa pasar”. Sobat Cuan pasti sudah tahu jawabannya, yakni Bitcoin (BTC) dan Ether (ETH), yang merupakan token native blockchain Ethereum.

    Kita juga mengetahui bahwa BTC selalu lebih unggul dari ETH dari segi kapitalisasi pasar. Data Coinmarketcap per 15 Juli 2021 menunjukkan bahwa BTC mengambil 45% pangsa pasar kripto sementara ETH mengambil porsi sekitar 17%. Namun, kini komunitas kripto mulai mewanti-wanti kondisi yang disebut sebagai the flippening.

    Apa itu flippening? Dan apakah itu adalah peristiwa yang cukup besar di pasar cryptocurrency?

    Penjelasan Flippening Secara Umum

    Flippening adalah sebuah peristiwa di mana ETH akan menggeser BTC sebagai cryptocurrency dengan kapitalisasi pasar terbesar. Seperti yang sudah kita ketahui, kapitalisasi pasar sendiri adalah

    Sejatinya, istilah flippening tak hanya menggambarkan ETH vs BTC semata, namun seluruh altcoin terhadap BTC. Namun, kini istilah ini dipergunakan dalam menggambarkan duel ETH dan BTC mengingat ETH menduduki peringkat ke-dua cryptocurrency berkapitalisasi pasar terbesar.

    Istilah ini mulai muncul pada 2017, ketika kapitalisasi pasar ETH benar-benar nyaris menyalip BTC.

    Di awal Februari 2017, nilai kapitalisasi pasar BTC mengambil 85% dari total kapitalisasi pasar aset kripto.

    Namun, pada 13 Juni 2017, ternyata dominasi BTC mulai terancam setelah kapitalisasi pasar ETH mengambil 32%. Sementara itu, market cap BTC melorot menuju angka 37%.

    Kondisi ini bikin komunitas kripto percaya bahwa ETH bisa jadi suatu saat akan merebut tahta BTC sebagai raja cryptocurrency.

    Meski memang, flippening urung terjadi setelahnya. Saat ini, BTC terbilang mengambil pangsa pasar 45,45% dari kapitalisasi pasar aset kripto sementara ETH mengambil 17,17%.

    Baca juga: BTC dan ETH Mencoba Rebound Setelah Melalui Pekan ‘Berdarah’

    Mengapa Flippening Tengah Menjadi Buah Bibir?

    Namun, kini komunitas kripto kembali mengantisipasi peristiwa ini. Utamanya, pasca harga ETH reli sejak awal tahun di periode altcoin season.

    Ketika altcoin season terjadi, ETH sempat mencapai rekor tertingginya di angka US$4.196 per keping pada 10 Mei 2021. Angka itu melesat 474,79% jika dibandingkan posisi awal tahun (year-to-date/ytd) di US$790

    Sejatinya, BTC juga mengalami reli hebat di tahun ini dan membuat harganya menyentuh US$60.000 di April lalu. Hanya saja, pertumbuhannya secara ytd kala itu hanya sebesar 106,11% saja, atau tiga kali lebih rendah dibanding ETH.

    Saat ini, memang harga aset kripto pun tengah tergelincir, begitu pun ETH dan BTC, di mana hal tersebut tentu mempengaruhi nilai kapitalisasi pasar keduanya.

    Meski demikian, komunitas kripto ternyata mencermati penurunan dominasi Bitcoin di pasar aset kripto sejak awal tahun. Hal tersebut membuat mereka yakin bahwa flippening bisa saja terjadi dalam waktu dekat.

    Secara garis besar, kapitalisasi pasar BTC mengambil 70% dari total kapitalisasi pasar cryptocurrency secara total di awal 2021. Namun, nilai tersebut kini sudah melorot ke angka 45% hanya dalam enam bulan saja.

    Hal berbeda ditunjukkan oleh ETH. Di awal tahun, aset kripto besutan Vitalik Buterin cs ini mengambil kapitalisasi pasar 11%. Kini, nilai kapitalisasi pasar ETH malah menanjak ke 17%.

    Baca juga: Alasan Ethereum adalah Cryptocurrency yang Baik untuk Investasi

    Apakah Flippening Bakal Terjadi?

    Beberapa analisis dan komunitas kripto sejatinya juga meramal bahwa flippening mungkin bisa terjadi. Alasan utamanya adalah karakteristik ETH yang dianggap bisa digunakan untuk kegiatan ekonomi sehari-hari dibandingkan BTC.

    Hal itu akan mendorong permintaan ETH terus bertambah dan, tentu saja, mengerek kapitalisasi pasarnya di masa depan.

    Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah himpunan analisis dari beberapa lembaga keuangan terkait potensi flippening di masa depan.

    1. Goldman Sachs: ETH Lebih Unggul dari BTC

    Perusahaan investment bank asal AS Goldman Sachs mengatakan bahwa ETH bisa mengalahkan BTC untuk menjadi aset digital penyimpan nilai paling utama. Pendapat itu disampaikan dalam sebuah memo kepada investor tertanggal 8 Juli 2021.

    Maraknya penggunaan ETH di masa depan, menurut Goldman Sachs, disebabkan karena masyarakat akan lebih banyak menggunakan blockchain Ethereum ketimbang Bitcoin.

    Alasannya, blockchain Ethereum memiliki teknologi smart contract, yang bisa digunakan untuk keperluan keuangan layaknya jasa keuangan konvensional. Misalnya, seperti menabung, pinjam-meminjam, dan lainnya.

    Sementara itu, blockchain Bitcoin tidak memiliki hal serupa karena hanya berbentuk buku besar semata, sehingga BTC dianggap “tidak memiliki nilai guna bagi kegiatan sehari-hari” seperti ETH.

    Selain itu, Goldman Sachs menilai bahwa komunitas kripto akan marak menggunakan ETH lantaran sistem blockchain Ethereum dianggap lebih “mulus” dibanding Bitcoin.

    Meski Ethereum akan mengalami difficulty time bomb, namun lembaga tersebut mengatakan bahwa sistem blockchain Bitcoin butuh waktu lebih lama untuk memproses transaksi. Mereka menduga bahwa blockchain Bitcoin sepertinya lebih fokus ke keamanan jaringan ketimbang memperbaruinya untuk kegiatan transaksi sehari-hari.

    2. Celsius: Proses Flippening sedang Dimulai

    Pendapat serupa juga dilontarkan oleh platform exchange kripto Celsius.

    Dalam sebuah wawancara dengan Kitco, CEO Celsius Alex Mashinsky mengatakan bahwa proses flippening antara ETH dan BTC memang tengah terjadi. Argumen tersebut ia dasarkan pada jumlah deposit ETH di platform Celsius yang kini sudah lebih besar dibandingkan BTC.

    Mashinsky mengatakan bahwa salah satu alasan utama terjadinya flippening adalah perbedaan penggunaan BTC dan ETH. Ia menyebut bahwa BTC lebih digunakan sebagai alat penyimpan kekayaan, sementara ETH digunakan untuk kepentingan decentralized finance seperto yield farming, crypto staking, dan lainnya.

    Berdasarkan hal ini, ia memprediksi bahwa kapitaisasi pasar ETH akan mengalahkan BTC di 2022 atau 2023 mendatang.

    Baca juga: Ethereum vs Bitcoin: Katanya Sekarang Ethereum Lebih Unggul, Kamu Pilih Mana?

    3. Bank of America: ETH Akan Mendisrupsi Industri Jasa Keuangan

    Dalam sebuah memonya awal tahun lalu, Bank of America pernah menyebut bahwa ETH akan mengungguli BTC karena kenaikan permintaan. Lagi-lagi, derasnya permintaan itu didorong oleh semakin banyaknya penggunaan teknologi DeFi.

    Dengan banykanya proyek DeFi di atas blockchain Ethereum, Bank of America mengatakan bahwa akan ada banyak pengguna yang membanjiri platform ini dan menggenggam Ethereum. Akibatnya, harga Ethereum ke depan akan semakin moncer.

    Analisis Bank of America ini bukanlah prediksi kaleng-kaleng. Mereka berkaca pada kondisi tahun lalu, di mana kenaikan pengguna DeFi yang melonjak juga bikin harga Ethereum melejit.

    Pada 2020, terdapat uang US$19 miliar yang terkunci di dalam protokol DeFi, atau melesat 1.800% dibanding posisi Januari yang hanya US$1 miliar. Di saat yang sama, peristiwa itu juga melejitkan harga Ethereum sebesar 450%.

    “DeFi berpotensi untuk mendisrupsi jasa keuangan dibanding Bitcoin,” ujar Bank of America.

    Nah, kalau kamu bagaimana Sobat Cuan? Pilih BTC atau ETH? Apapun pilihanmu, kamu bisa mendapatkannya di aplikasi Pluang sekarang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Nasdaq, Binance, Investor Place



    Sumber : pluang.com

  • Terlihat Serupa, Apa Perbedaan Yield Farming dan Liquidity Mining?

    Yield faming vs liquidity mining, mana yang lebih menguntungkan untuk kamu para pemburu cuan?

    Baik yield farming maupun liquidity mining merupakan aktivitas yang bisa membuat aset kripto kamu terus berkembang biak. Tapi, jangan sampai tertukar ya! Sebab, keduanya merupakan aktivitas yang sebetulnya berbeda, lho.

    Lantas, apa saja perbedaannya?

    Baca juag: Mengenal Token DeFi dan Alasan Kenapa Kamu Harus Perhatikan Mereka

    Yield Farming vs Liquidity Mining.

    Dunia decentralized finance berkembang pesat beberapa tahun belakangan dilihat dari semakin banyaknya aset yang terkunci (Total Value Locked/TVL) di dalamnya. Aset-aset tersebut dikunci oleh para pemburu cuan dalam berbagai aktivitas DeFi seperti yield farming dan liquidity mining.

    Bak pinang dibelah dua, keduanya merupakan aktivitas yang serupa tapi tak sama. Intinya, kamu menaruh sejumlah liquiditas berupa koin atau token DeFi kepada sistem yang disebut liquidity pools untuk mendapatkan lebih banyak koin atau token sebagai imbalannya.

    Yield Farming

    Di dunia DeFi kamu bisa menaruh aset kripto kamu dalam protokol smart contracts lalu melarungnya kepada liquidity pools. Nantinya, pengguna lain akan mengeksekusi smart contracts kamu sehingga kamu dapat memperoleh cuan setelah transaksinya dieksekusi.

    Aktivitas ini dinamakan yield farming. Kamu memerlukan platform DeFi terpercaya seperti Sushiswap, Uniswap, Compound dan Curve.

    Saat melakukan yield farming, kamu bertindak sebagai penyedia dana (liquidity provider/LP).

    Beberapa protokol DeFi seperti Uniswap dan Sushiswap mengizinkan kamu melakukan deposit lebih dari satu jenis aset. Protokol lain seperti Compound dan Curve hanya menyerima satu jenis aset di tiap liquidity pools yang mereka selenggarakan.

    Cuan yang kamu dapat biasanya berupa token LP senilai yang telah disepakati. Aktivitas ini cukup berisiko jika kamu tidak memilih protokol terpercaya saat akan melakukannya.

    Liquidity Mining

    Meski dilakukan dengan mekanisme yang mirip yield farming, liquidity mining mengganjar kamu dengan koin native dari blockchain baru tempat kamu menambang.

    Liquidity mining biasanya dilakukan pada platform baru yang ingin mendistribusikan token governance-nya. Platform ini biasanya menunjuk platform lain penyedia liquidity pools seperti Uniswap untuk menarik para provider.

    Kamu hanya perlu memberikan likuiditas yang kamu miliki kepada pool tersebut, dan nantinya kamu akan menerima token sebagai imbalan yang dijanjikan. Selama likuiditas kamu masih berada di sana, kamu akan menerima 0,3% swap dan token baru yang berhasil ditambang dari tiap block baru yang terbentuk.

    Baca juga: Pinjaman Kripto Vs Pinjaman Bank, Mana yang Lebih Menguntungkan?

    Yield Farming Vs Liquidity Mining, Apa Bedanya?

    Perbedaan paling jelas dari keduanya adalah aktivitas kamu pada liquidity pools.

    Yield farmers mendapat lebih banyak keuntungan dengan semakin banyaknya transaksi dieksekusi dengan likuiditas yang dia miliki. Artinya, kalau kamu melakukan yield farming, kamu perlu berulang kali memasukkan likuiditas kamu ke dalam protokol dan melarungnya pada pools yang paling menguntungkan.

    Setelah smart contracts kamu dieksekusi di satu pools, kamu dapat segera mencari pools lain untuk menggandakan cuan kamu.

    Sementara itu, penambang dalam liquidity mining tetap memperoleh bagiannya selama likuiditasnya tetap berada pada pools yang ditentukan oleh platform baru tersebut.

    Kamu akan menerima semuanya setelah kamu melakukan redeem. Tetapi, menjadi penyedia likuiditas tetap disana pun tidak akan merugikan.

    Baca juga: Sobat Cuan, Yuk Kenalan dengan 7 Proyek Decentralized Finance Berikut!

    Risiko Yield Farming Vs Liquidity Mining

    Pada dasarnya, keduanya memiliki tingkat resiko yang sepadan. Namun dapat dimitigasi bisa kita mengenali risiko-risiko yang ada.

    Risiko Pada Yield Farming

    Pada yield farming, developernya bisa saja impostor yang bersembunyi dibalik anonim. Meski cukup jarang terjadi, bukannya tidak mungkin likuiditas yang kamu pinjamkan pada liquidity pools bakal digondol oleh sang developer.

    Kamu juga berisiko meleset saat meng-input protokol smart contracts. Hal ini dapat membuat protokol kamu punya celah yang terbaca oleh peretas.

    Selain itu, risiko juga terdapat pada penurunan harga aset selama terkunci dalam protokol smart contracts. Volatilitas harga aset kripto membuat risiko ini akan selalu membayangi.

    Risiko pada Liquidity Mining

    Terkadang ada beberapa pengembang nakal yang berusaha mengelabui provider likuiditas mereka dengan cara yang manipulatif. Mereka menggelar presale lalu mengobral koin atau token di awal.

    Mereka melakukan ini untuk tujuan marketing. Platformnya kemudian akan ditawarkan secara luas pada berbagai sosial media. Dengan banyaknya insentif, tentu banyak yang tertarik untuk jadi penyedia likuiditas.

    Lalu, mereka menjual semua token dan koin yang mereka punya hingga terinflasi. Hal ini akan membuat provider kebanjiran token yang tidak lagi berharga.

    Mitigasi Risiko

    Semua risiko tentu ada mitigasinya. Kamu bisa meneliti dulu developer dari pools yang hendak kamu masuki. Biasanya developer yang sudah punya track record, projek sebelumnya sukses lebih berat hati untuk melakukan kecurangan.

    Beberapa proyek DeFi juga menyelenggarakan audit. Tentu ini memudahkan kamu untuk membaca lebih jelas projek dimana kamu berpartisipasi.

    Developer yang baik biasanya mengunci liquiditas milik mereka dalam smart contracts selama beberapa bulan atau tahun. Tapi dalam beberapa kasus ada juga yang menjualnya untuk tujuan tertentu.

    Kamu bisa membuat strategi terlebih dulu sebelum melakukan yield farming maupun liquidity mining. Tentukan sejauh mana kamu dapat mentoleransi risikonya.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Wolf, Medium



    Sumber : pluang.com

  • Ada Produk Indeks SP 500 ETF, Futures, dan Fund. Apa bedanya?

    Investasi di indeks S&P 500 banyak dianggap sebagai jalan pintas untuk memupuk aset keuangan.

    Betapa tidak, 505 perusahaan yang tergabung dalam indeks tersebut adalah perusahaan-perusahaan beraset jumbo dan memiliki kinerja mentereng. Tak heran jika Warren Buffett menyarankan kamu untuk berinvestasi di indeks S&P 500 agar kaya di masa depan.

    Berinvestasi indeks juga bisa menjadi gerbangmu ke pasar saham jika kamu masih ragu-ragu atau bingung berinvestasi di saham tunggal. Terlebih, return S&P 500 memang terbilang mumpuni terlihat dari laju pertumbuhannya antar periode.

    Namun, layaknya banyak jalan menuju Roma, banyak pula jalan untuk berinvestasi di S&P 500. Saat ini, investor bisa berinvestasi indeks saham tersebut melalui S&P 500 Fund, S&P 500 Exchange-Traded Fund (ETF), dan juga S&P 500 Index futures

    Ketiganya bisa kamu jadikan pilihan untuk tambahan portofolio investasi dan cocok untuk kamu investor pemula. Tapi, apa saja sih perbedaan ketiga produk tersebut? Yuk, simak artikel ini ya!

    Baca juga: Apa Itu Index Futures?

    Mengenal Produk Indeks S&P 500

    1. S&P 500 ETF

    ETF atau Exchange-Traded Fund adalah sebuah produk keuangan yang bisa dipertukarkan layaknya saham. Artinya, produk ETF bisa dibeli dan dijual kembali dalam hari yang sama. Biasanya, aktivitas jual beli instrumen ini dilakukan di papan perdagangan utama.

    Produk-produk ini merupakan wadah yang berisi kumpulan aset atau obligasi. Nah, dalam hal ini, maka ETF S&P 500 memiliki underlying asset berupa saham-saham perusahaan yang berada di bawah indeks S&P 500.

    Cara kerja ETF adalah sebagai berikut. Penjual ETF memiliki underlying asset, kemudian menciptakan wadah pendanaan (fund), dan menjual fraksi-fraksi dari underlying asset tersebut ke investor. Nantinya, investor bisa mendapatkan porsi dari ETF, namun mereka tidak bisa memiliki underlying asset dari produk tersebut.

    Meski begitu, investor ETF bisa mendapatkan pembayaran dividen secara langsung atau melakukan reinvestasi di saham-saham yang membentuk komponen indeks tersebut.

    Secara prinsip, ETF berfungsi layaknya reksa dana namun bisa diperjualbelikan di pasar utama. Namun, nilai yang tertera dalam ETF adalah kontrak investasi kolektif yang unit penyertaan dicatat dan diperdagangkan di bursa saham.

    ETF memiliki sifat yang lebih likuid dibandingkan dengan reksadana karena tergantung dari likuiditas pasar. Di samping itu, produk ETF juga disebut lebih murah dibanding reksa dana pada umumnya.

    Dalam kondisi pasar yang sedang fluktuatif, ETF dapat dijadikan pilihan. Pasalnya, kamu bisa membelinya di pagi hari saat pembukaan perdagangan dan menjualnya kembali sebelum penutupan perdagangan.

    Risiko yang harus ditanggung juga menjadi lebih kecil, karena kamu tidak perlu melakukan riset mendalam tentang single stock yang akan diburu dan terus mencermati pergerakan harganya. Terlebih, pergerakan harga saham tidak bisa diprediksi pasti naik dan turunnya.

    Selain itu, ETF juga cocok untuk kamu yang memilki dana terbatas. Seperti dalam ETF Indeks misalnya, kamu bisa memiliki seluruh saham yang ada di indeks tersebut dengan harga yang jauh lebih murah, ketimbang kamu membeli 505 saham perusahaan yang ada di indeks tersebut secara mandiri.

    2. S&P 500 Fund

    S&P 500 Fund, atau yang dikenal dengan, reksa dana Indeks S&P 500, adalah produk reksa dana yang memiliki basis portofolio berupa saham yang tergabung dalam indeks S&P 500.

    Konsepnya hampir mirip dengan ETF. Hanya saja, reksa dana indeks tidak diperdagangkan di bursa. Konsep investasi reksa dana indeks S&P 500 adalah untuk jangka panjang dan bersifat pasif.

    Kamu hanya bisa membeli reksa dana indeks S&P 500 di perusahaan sekuritas dengan cara pembelian reksa dana pada umumnya. Selain itu, nilai yang tertera pun mirip dengan reksa dana lainnya, yakni berasal dari nilai aktiva bersih (total dana kelolaan) dibagi unit penyertaan.

    Adapun, nilai aktiva bersih akan selalu berubah, tergantung kondisi saat penutupan perdagangan saham di hari itu.

    Sama seperti ETF, reksa dana ini memiliki biaya yang rendah dengan imbal hasil yang memukau. Apalagi, jika yang tergabung di dalamnya adalah saham-saham berkapitalisasi jumbo seperti S&P 500.

    Jenis investasi ini juga cocok untuk kamu investor pemula yang bingung untuk memilih saham mana yang paling baik pergerakannya.

    Selain itu, kamu juga bisa memanfaatkan instrumen ini kalau kamu tak punya waktu memperhatikan pergerakan indeks saham. Sebab, seluruh instrumenmu akan dikelola oleh Manajer Investasi (MI), yang setiap bulannya kamu akan menerima laporan hasil investasi yang dikirimkan ke alamat e-mail.

    3. S&P 500 Index Futures

    Terakhir, ada juga yang dinamakan S&P 500 Index Futures.

    Berbeda dibanding keduanya, instrumen ini disandarkan pada kontrak derivatif yang memberikan harga investasi di masa depan. Jadi, harga yang tercermin dalam S&P 500 Index Futures bukanlah harga saat ini melainkan proyeksi harga produk tersebut di masa yang akan datang.

    Investor biasanya menggunakan produk ini untuk berspekulasi dalam menentukan nilai masa depan S&P 500. Oleh karenanya, tak heran jika banyak investor selalu melihat nilai produk ini untuk menakar nilai masa depan indeks S&P 500.

    Cara kerja kontrak futures adalah sebagai berikut. Layaknya kontrak derivatif lainnya, penjual dan investor meneken perjanjian di awal terkait kapan sang penjual harus membeli atau menjual instrumen futures tersebut di masa depan.

    Selain itu, penyelesaian transaksi S&P 500 Index Futures tidak hanya didasarkan pada harga saham semata, melainkan juga harga tertimbang.

    Dua Jenis Indeks S&P 500 Futures

    Karena produk ini merupakan kontrak berjangka, maka tak heran jika kamu hanya bisa mendapatkannya di pasar derivatif.

    Adapun saat ini, penyelesaian transaksi dan pencatatan S&P 500 Index Futures bisa dilakukan di The Chicago Merchantile Exchange (CME). Dalam menelurkan produk futures ini, CME juga membaginya ke dalam dua jenis: Kontrak besar (SP) dan E-mini (ES).

    CME meluncurkan kontrak besar S&P 500 berjangka pada 1982. Bursa itu kemudian menambah opsi E-mini pada 1997. Lantas apa bedanya kontrak SP dan juga ES?

    Sesuai namanya, SP adalah kontrak berukuran besar, sehingga nilai pasarnya juga cukup jumbo. Cara menghitung nilai kontrak ini adalah dengan mengalikan nilai indeks S&P 500 saat ini dengan US$250. Sebagai contoh, jika indeks S&P 500 berada di level 4.000, maka nilai pasar dari kontrak tersebut adalah US$1 juta.

    Sementara itu, nilai pasar ES dihitung dengan formula nilai indeks dikali US$50. Sehingga, jika indeks S&P 500 ada di posisi 4.000, maka nilai pasa kontrak tersebut adalah US$200.000.

    Investor kerap menggunakan instrumen ini untuk melakukan spekulasi. Namun, kamu juga bisa menggunakan instrumen ini jika kamu menginginkan cari cuan melalui diversifikasi investasi yang instan.

    Nah, kalau kamu pilih mana, Sobat Cuan? Kalau kamu mau punya S&P 500 index futures, yuk investasi di Pluang!

    Baca juga: Beragam Cara Lindung Nilai Aset Kripto di Saat Harga ‘Ambyar’

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi gdi kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber:Vanguard, Investopedia, Investopedia



    Sumber : pluang.com

  • Sobat Cuan, Simak Kiat dan Teori Manajemen Risiko di Pasar Kripto!

    Pasar cryptocurrency adalah pasar yang selalu bergerak aktif. Selama 24 jam, pelaku pasar silih berganti memperdagangkan aset kripto, sehingga tak aneh jika pergerakan harganya kadang penuh risiko dan bak roller coaster dalam sekejap.

    Oleh karenanya, maka maklum saja jika pasar cryptocurrency terbilang cukup berisiko. Namun, hal ini seharusnya jangan bikin kamu kian menjauh dari aset kripto. Yang perlu kamu lakukan adalah memitigasi risikonya agar “permainan” kriptomu tak bikin kamu buntung.

    Satu hal yang harus kamu pahami adalah investasi serta perdagangan aset kripto tidak melulu soal cuan. Kamu juga perlu belajar tentang bagaimana mengatur risiko yang mungkin muncul. Sehingga, cuan yang kamu hasikan memang keuntungan yang dihasilkan dari kepiawaian kamu mengelola keuangan, bukan cuan karbitan.

    Nah, di artikel ini, kita akan membahas berbagai risiko apa saja yang mungkin muncul dalam investasi atau trading aset kripto. Tentu saja, kamu akan dibekali beribu cara untuk memitigasi risiko-risiko tersebut.

    Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut!

    Mengenal Risiko Cryptocurrency

    Sebelum melangkah ke cara mengatur risiko aset kripto, tentunya kamu harus mengetahui macam-macam risiko yang ada di depan mata ketika kamu terjun ke kancah cryptocurrency. Berikut adalah jenis-jenis risiko tersebut.

    1. Risiko Kredit

    Risiko ini bisa muncul ketika platform exchange cryptocurrency gagal memenuhi kewajibannya. Namun, hal ini biasanya disebabkan oleh rentannya platform tersebut atas peretasan dan fraud. Salah satu contohnya adalah peretasan Binance pada 2018, yang menyebabkan kerugian penggunanya hingga US$40 juta.

    Baca juga: 3 Tips Sukses Cuan dalam Investasi Saham

    2. Risiko Hukum

    Ya, kamu tentunya sudah mengetahui, bahwa ada beberapa negara yang melarang perdagangan atau bahkan menggenggam aset kripto. Contohnya adalah aksi gencar pemerintah China yang membidik transaksi hingga penambangan aset kripto.

    3. Risiko Likuiditas

    Dalam konteks cryptocurrency, risiko likuiditas adalah risiko yang menyangkut susahnya mengonversi koin atau token ke dalam mata uang fiat. Misalnya, dolar AS, poundsterling Inggris dan mata uang lainnya.

    4. Risiko Pasar dan Operasional

    Namanya juga pasar perdagangan, selalu ada tawar menawar terkait aset koin kripto yang diperjualbelikan. Nah kamu sebagai investor berada dalam posisi yang selalu terbuka, sehingga kadang ketika terjadi volailitas harga, risiko ini bisa muncul dan mempengaruhi jumlah portofolio investasi yang dimilki.

    Cara Manajemen Risiko Cryptocurrency

    Seluruh risiko di atas tentu bisa bikin kamu buntung di kancah cryptocurrency. Sayangnya, tidak ada cara yang jitu agar kamu bisa menghindari kerugian dari bermain aset kripto.

    Di sebuah titik, kamu pasti akan terkena yang namanya kerugian berapapun jumlahnya. Namun, kamu harus berpegang teguh pada satu prinsip bahwa “Kamu tak boleh terpapar risiko yang tidak dapat kamu hadapi”.

    Makanya, yang perlu kamu pikirkan adalah bukan untuk menghindari risiko sepenuhnya, tapi bagaimana risiko-risiko tersebut tak berdampak besar ke nilai portofolio aset kriptomu.

    Nah, dalam kancah cryptocurrency, terdapat tiga strategi manajemen risiko yang bisa kamu terapkan. Yakni, menetapkan rasio risk/reward, position-sizing, dan juga menetapkan titik stop loss dan take profit.

    Seperti apa penjelasan masing-masing strategi tersebut?

    Baca juga: Pentingnya Financial Ratio Bagi Investor

    1. Tentukan Titik Stop Loss dan Take Profit

    Stop loss merujuk pada satu titik harga tertentu di mana kamu memutuskan untuk keluar dari pasar. Sementara itu, take profit adalah kebalikannya. Kamu harus menentukan di titik harga mana kamu akan menjual asetmu untuk mendulang cuan.

    Sobat Cuan harus paham bahwa ini adalah langkah manajemen risiko paling simpel. Segera susun titik-titik ini sebelum pasar kripto membunuhmu.

    2. Rasio Risk/Reward

    Rasio risk/reward (risiko terhadap imbal hasil) adalah rasio yang membandingkan tingkat risiko sesungguhnya dengan tingkat return potensialnya.

    Tentu saja, semakin berisiko posisi yang kamu ambil, maka potensi kamu untuk cuan juga terbilang besar. Maka dari itu, kamu perlu memahami rasio risk/reward agar kamu paham kapan waktu yang tepat masuk atau keluar pasar cryptocurrency yang sesuai dengan selera risikomu.

    Rasio risiko dan imbal hasil yang baik, menurut beberapa trader, adalah 1:1 atau kurang dari angka tersebut. Hal itu mengindikasikan bahwa imbal hasil yang kamu terima harus setara atau lebih besar dibanding risikonya.

    Lantas, bagaimana cara menghitung rasio risk/reward? Kamu hanya perlu mengikuti contoh berikut.

    Asumsikan kamu sedang mempertimbangkan masuk pasar Bitcoin, di mana harga saat ini tercatat US$30.000 per keping. Kamu sendiri berharap akan menjual Bitcoin-mu di harga US$32.000. Lantas, di titik berapa kamu harus segera keluar pasar kripto (stop loss) kalau tidak mau buntung yang teramat sangat?

    Berdasarkan asumsi di atas, maka kamu bisa menghitung rasio risk/reward sebagai berikut:

    Rasio risk/reward = (Target harga – harga awal masuk trading) / (Harga awal saat masuk – stop loss)

    Sehingga:

    1 (rasio risk/reward optimal) = (US$32.000 – US$30.000) / (US$30.000 – x)

    Dengan menggunakan rumus aljabar, maka bisa diketahui bahwa:

    US$30.000 – x = US$32.000 – US$30.000

    x = US$28.000

    Sehingga, ketika kamu masuk pasar aset kripto saat harga US$30.000, maka kamu perlu memasang stop loss di angka US$28.000 atau lebih dari level tersebut.

    3. Position Sizing

    Strategi ini bertujuan untuk memberitahumu berapa banyak koin atau token yang kamu harus beli di awal terjun dunia kripto.

    Memang, semakin tinggi posisimu, maka semakin besar pula potensimu untuk cuan atau buntung. Hanya saja seperti kata pepatah, jangan pernah tempatkan uangmu di satu keranjang saja.

    Lantas, bagaimana caranya kamu melakukan position sizing? Sejauh ini ada dua cara yang bisa kamu lakukan, yakni enter amount vs risk amount dan Kelly Criterion.

    Yuk, kita bahas satu-satu!

    Baca juga: Apa Itu Rasio Utang Terhadap Ekuitas?

    1. Enter Amount vs Risk Amount

    Pendekatan ini menggunakan dua variabel yang berbeda. Pertama, adalah jumlah uang yang akan kamu investasikan (enter amount). Kedua, adalah jumlah uang yang bisa kamu “relakan” jika kamu gagal trading (risk amount).

    Pertama, kamu harus menentukan besaran enter amount sebagai berikut:

    Enter amount = ((Jumlah modal kamu * risiko per perdagangan) / (Harga awal – titik stop loss milikmu)) * harga saat kamu masuk di pasar

    Sebagai contoh mudahnya, mari asumsikan bahwa kamu ingin membeli BTC di harga US$30.000 dengan harapan untuk menjualnya US$32.000 ke depan.

    Sementara itu, kamu memiliki modal investasi sebesar US$5.000 dengan risiko per perdagangan sebesar 2%. Mengapa 2%? Angka ini merupakan angka optimal risiko penurunan nilai dalam pembelian aset sesuai anjuran pakar trading, Alexander Elder.

    Kemudian, kamu juga menetapkan titik stop loss di angka US$29.000.

    Maka, menilik rumus di atas, maka jumlah uang yang perlu kamu masukkan di awal adalah

    ((US$5.000*0,02) / (US$30.000 – US$29.000)) * US$30.000 = US$3.000

    Sehingga, kamu harus memasang modal awal di angka US$3.000 untuk membeli BTC, atau 60% dibanding modal awal.

    2. Kelly Criterion

    Kelly Criterion adalah formula yang dikembangkan oleh John Larry Kelly pada 1956 silam. Ini merupakan pendekatan position-sizing yang menekankan pada persentase antara modal awal dan besar “pertaruhan” trader dalam trading.

    Berikut adalah rumus dari Kelly Criterion, yang ternyata lebih rumit dari pendekatan sebelumnya.

    A = (Persentase Kesuksesan Trading / Rasio Kerugian Saat Stop Loss) – ((1 – persentase kesuksesan) / Rasio Untung Saat Titik Take Profit)

    Sebagai contoh, mari kembali asumsikan keterangan dengan kondisi yang serupa di pendekatan sebelumnya.

    Kamu ingin membeli BTC di harga US$30.000 dengan harapan untuk menjualnya US$32.000 di masa depan. Sementara itu, kamu memiliki modal investasi sebesar US$5.000 dengan rasio sukses trading 60% dan stop loss di angka US$28.000.

    Maka, hasil dari Kelly Criterion adalah sebagai berikut

    A = (0,6 / 1,07) – ((1 – 0,6) / 1,07) = 0,27

    Artinya, kamu tidak boleh mempertaruhkan lebih dari 27% dari total modal awalmu sebesar US$5.000 jika ingin mendapatkan hasil yang optimal dari beberapa seri trading.

    Pendekatan Lain Manajemen Risiko Cryptocurrency

    Selain langkah di atas, tentu kamu juga bisa melakukan manajemen risiko cryptocurrency secara mudah melalui beberapa langkah berikut:

    1. Tentukan Persentase Modal 10% Untuk Investasi

    Rasio paling aman adalah 10% dari total pendapatan bulanan untuk dijadikan modal investasi. Setelah itu, kamu bisa memulai cara aman untuk berinvestasi aset kripto dengan tidak membenamkan seluruh uangmu di satu aset digital saja.

    Sebar dana yang dimiliki ke beberapa aset, dengan begitu kamu juga sudah membagi risiko yang mungkin muncul ke beberapa aset. Setelah itu, pahami juga untuk selalu menyiapkan rasio risiko dalam setiap perdagangan.

    Baca juga: Sobat Cuan Mau Nyemplung ke Reksadana? Kenali Risikonya Dulu, Yuk!

    2. Buat Tangga Keuntungan

    Maksudnya adalah, untuk kamu yang melakukan perdagangan aset kripto secara harian, kamu harus tentukan batas keuntungan setiap kali harga aset kripto yang dimiliki naik.

    Misalnya, koin kripto yang kamu miliki sudah naik 10%, maka kamu harus gunakan fitur stop order. Lalu ketika naik lagi, gunakan fitur yang sama sesuai dengan analisis kamu hingga akhirnya akan berbentuk layaknya grafik yang terus menanjak perlahan. Semakin ketat keuntungan yang ditetapkan, semakin sedikit modal yang dipertaruhkan.

    3. Gunakan Skema DCA

    Buat kamu yang ingin berinvestasi jangka panjang dalam aset kripto, bisa menggunakan skema dollar cost averaging (DCA).

    Terpenting adalah kamu sudah membuat tujuan investasi dulu sebelumnya, jadi bisa ditentukan kapan saatnya menjual dan kapan saatnya untuk masuk.

    Misalnya, kamu berniat untuk menghabiskan modal investasi sebesar US$1.000 dalam jangka waktu 1 tahun. Setelah itu, tentukan waktu pembelian, bisa setiap minggu atau setiap bulan. Jika setiap minggu, maka kamu hanya perlu membagi jumlah modal investasimu dengan 52 minggu.

    Lewat mekanisme seperti itu, kamu akan bisa tetap bertahan meskipun kondisi pasar sedang surut dalam jangka pendek. Sebab, kamu sedang mencapai tujuan cuan di jangka panjang, bukan sekadar ambil aksi untuk di jangka pendek.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Coinsider, Cryptocurrencyfacts



    Sumber : pluang.com

  • Meski Jadi Pionir Altcoin, Mengapa Harga Litecoin Masih Terbilang Murah?

    Sobat Cuan pasti tahu bahwa Litecoin adalah salah satu altcoin paling pionir yang ada di dunia ini. Apalagi, Litecoin pun terkenal dengan julukan versi perak dari Bitcoin, yang dianggap sebagai “emas utama” di kancah cryptocurrency.

    Meski demikian, nasib Litecoin nampaknya bertolak belakang dengan Bitcoin. Utamanya dari sisi pergerakan harganya. Sejak dulu, ada satu pertanyaan yang masih menjadi perhatian komunitas aset kripto: Kenapa harga Litecoin murah?

    Saat ini, satu keping Litecoin dibanderol US$135. Jika menjejak harganya di awal 2013 yang hanya di kisaran US$4 per keping, maka nilai aset kripto besutan Charlie Lee ini tumbuh 3.275% dalam rentang tujuh tahun.

    Sementara itu, Bitcoin sendiri di awal 2013 tercatat di kisaran US$13 per keping dan kini sudah menyentuh kisaran US$31.000. Alias, dalam waktu yang sama, harga Bitcoin melesat 238.300%.

    Lantas, kenapa sih harga Litecoin masih “murah” dan belum bisa mengejar Bitcoin meski digadang sebagai versi perak dari sang raja aset kripto tersebut? Yuk, kita baca penjelasannya berikut!

    Apa Itu Litecoin?

    Sebelum beranjak ke pembahasan tersebut, ada baiknya kita mengenal Litecoin, cryptocurrency yang merupakan “adik tiri” dari Bitcoin.

    Litecoin diciptakan oleh mantan insinyur Google Charlie Lee yang berawal dari “keisengan” dia dalam mereplikasi jaringan blockchain Bitcoin.

    Baik Litecoin dan Bitcoin menggunakan algoritma konsensus yang sama, yakni proof of work, dan sama-sama memiliki suplai yang terbatas meski jumlahnya berbeda. Adapun jumlah suplai Bitcoin di angka 21 juta keping sementara Litecoin berjumlah 84 juta keping.

    Bedanya, sistem jaringan blockchain Litecoin dianggap lebih aman peretasan karena berbasiskan teknologi bernama Scrypt. Yakni, teknologi yang mengharuskan penggunanya menyelesaikan teka-teki sebelum bisa membuat transaksi baru di blockchain tersebut.

    Selain itu, waktu pembuatan blok transaksi di Litecoin pun terbilang cepat, yakni hanya 2,5 menit saja. Bandingkan dengan Bitcoin yang membutuhkan 10 menit hanya demi menyelesaikan kegiatan yang dimaksud.

    Secara kasat mata, sistem blockchain Litecoin terlihat lebih daripada Bitcoin, bukan? Namun, kenapa harga Litecoin seolah-olah murah dan tidak bisa mengungguli Bitcoin?

    Jangankan soal harga, nilai kapitalisasi pasar Litecoin pun kalah jauh dibanding Bitcoin. Per 21 Juli 2021, nilai kapitalisasi pasar Bitcoin ada di angka US$562,19 miliar, sementara “saudara tirinya” Litecoin hanya mengambil US$7,31 miliar.

    Baca juga: Mengapa Harus Investasi Emas?

    Teori Ihwal Kenapa Harga Litecoin Murah

    Pertanyaan mengenai nilai Litecoin yang sulit melesat memang sudah menjadi buah bibir di komunitas kripto selama bertahun-tahun lamanya. Dan untuk menjawab hal ini, terdapat beberapa asumsi mengapa hal itu bisa terjadi.

    Perlu diketahui bahwa alasan-alasan di bawah ini adalah pendapat komunitas kripto. Sehingga, asumsi-asumsi ini masih perlu diuji lebih jauh lagi.

    1. Litecoin adalah Jiplakan Bitcoin

    Teori ini adalah yang sering dijadikan argumen komunitas kripto dalam mengkaji kenapa harga Litecoin masih murah meski jadi salah satu punggawa altcoin.

    Komunitas aset kripto menganggap bahwa konsep Litecoin tidak orisinil. Ia mengikuti konsep soal algoritma konsensus proof of work dilengkapi dengan tujuan sebagai alat tukar digital di dunia maya.

    Dengan kondisi teknologi blockchain, pun dengan karakteristik koin, yang serupa, tak heran jika komunitas kripto masih lebih memilih Bitcoin.

    Apalagi, pamor Bitcoin kemudian lambat laun menjelma sebagai alat penyimpan kekayaan (store of value) karena suplainya yang terbatas. Pasokan Litecoin yang empat kali lipat dari Bitcoin menjadikannya sulit menyamai posisi Bitcoin sebagai aset penyimpan kekayaan yang utama.

    Hal itu kemudian menyebabkan permintaan Bitcoin jauh lebih besar dari Litecoin. Yang ujungnya, tentu mempengaruhi harga Litecoin sebagai aset kripto.

    Baca juga: Kenapa Investasi Emas Online Lebih Praktis dari Emas Fisik?

    2. Munculnya Teknologi Blockchain yang Lebih Canggih

    Seperti yang disinggung sebelumnya, teknologi blockchain Litecoin kurang lebih mirip layaknya Bitcoin. Sayangnya, hal itu menghambat permintaan Litecoin ketika banyak teknologi blockchain baru bermunculan setelahnya.

    Terlebih, seluruh teknologi blockchain tersebut memiliki nilai manfaat yang lebih baik dibandingkan blockchain besutan Litecoin.

    Sebagai contoh adalah Ethereum. Sistem blockchain Ethereum dilengkapi teknologi smart contract sehingga bisa digunakan untuk kegiatan ekonomi sehari-hari. Mulai dari kegiatan simpan-pinjam, asuransi, bahkan hingga investasi. Apalagi, sistem blockchain Ethereum menjadi cikal bakal aktivitas ekonomi baru yang disebut sebagai ekonomi terdesentralisasi (DeFi).

    Nah, minimnya inovasi di blockchain Litecoin membuat komunitas kripto lebih selera untuk mengerubungi sistem blockchain baru ini. Terlebih, sistem Ethereum juga muncul pada 2013, dua tahun setelah proyek Litecoin resmi diluncurkan. Sehingga, kehadiran Litecoin dianggap “layu sebelum berkembang”.

    Apalagi kini posisi Litecoin kian terancam setelah munculnya blockchain baru lebih canggih, seperti yang ditawarkan oleh Polkadot atau Cardano. Alhasil, permintaan Litecoin pun terpengaruh dan tentu saja bikin harganya stagnan.

    Adapun terpojoknya Litecoin tercermin dari posisi kapitalisasi pasarnya. Setahun silam, Litecoin masih menduduki posisi lima besar cryptocurrency berkapitalisasi pasar jumbo. Kini, pada Juli 2021, Litecoin menduduki peringkat ke-13.

    3. Sentimen Anti Litecoin Bikin Kenapa Litecoin Murah

    Hal ini mungkin menjadi alasan paling kontroversial dalam menjawab kenapa harga Litecoin terbilang murah meski kalibernya sebagai pionir altcoin.

    Sentimen ini bermula pada Oktober 2017, di mana harga Litecoin sempat menyentuh angka tertingginya yakni US$310 per keping. Sayangnya, peristiwa tersebut bertepatan dengan keputusan Lee untuk menjual seluruh keping-keping Litecoin-nya.

    Hal ini membuat orang menuduh Lee melakukan pompom harga Litecoin demi keuntungan pribadinya. Namun di sisi lain, Litecoin sendiri berdalih bahwa aksi itu dilakukan Lee demi menghindari konflik kepentingan. Sebab, kala itu Lee melepas posisiya di Litecoin demi menjabat posisi sebagai insinyur di Coinbase.

    Namun, malang tak dapat dihindari, sebab komunitas kripto memilih untuk tidak mau menggenggam Litecoin lagi.

    Setelahnya, banyak thread bertebaran di forum Reddit yang kian memanaskan situasi tersebut. Adapun sebagai dugaan sementara, thread-thread tersebut juga ditunggangi oleh mereka yang mengaku sebagai kelompok Bitcoin maximalist. Alias, fans garis keras yang menganggap bahwa blockchain Bitcoin adalah blockchain mata uang kripto terbaik.

    Baca juga: Tetap Bisa Traveling Saat Kantong Tipis dengan 9 Trik Ini!

    Kenapa Litecoin Masih Layak Digenggam Meski Murah?

    Hanya saja, di tengah kontroversi tersebut, masih banyak analis yang menganggap Litecoin masih layak digenggam. Lantas, apa alasannya?

    Tentu saja alasannya adalah potensi kenaikan harganya. Beberapa analis menilai bahwa harga Litecoin bisa saja menyentuh US$1.000 dalam lima tahun ke depan. Beberapa analisis itu berasal dari WalletInvestor, Trading Beasts, dan The Economy Forecast Agency.

    Memang, mereka semua menilai bahwa Litecoln mirip seperti Bitcoin, yakni sebagai aset pelindung nilai mengingat jumlah pasokannya yang terbatas. Tentu saja, aset-aset dengan karakteristik seperti ini akan laris manis di kala tingkat inflasi meradang. Kebetulan, saat ini inflasi Amerika Serikat memang tengah memuncak imbas pemulihan ekonomi selepas dihantam pandemi COVID-19.

    Selain itu, pelaku pasar pun masih menimbang Litecoin sebagai aset pelindung nilai yang jauh lebih murah dibandingkan Bitcoin. Hal ini bisa menjadi katalis positif bagi Litecoin ke depan.

    Di samping itu, kini Lee pun sudah “pulang kampung” ke Litecoin, sebuah peristiwa yang disebut komunitas aset kripto bisa memulihkan lagi kredibilitas Litecoin.

    Kalau kamu bagaimana Sobat Cuan? Apakah juga tertarik menggenggam Litecoin? Yuk, segera dapatkan Litecoin di Pluang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Trading Education, Trading Education, Inverse.com



    Sumber : pluang.com

  • Sobat Cuan, Ini 4 Indikator Analisis Teknikal Utama dalam Melihat Tren!

    Sobat Cuan baru nyemplung di dunia trading? Nah, inilah saatnya kamu berteman akrab dengan yang namanya analisis teknikal. Sebab, analisis ini bisa menjadi petunjuk untukmu dalam mengumpulkan pundi-pundi cuanmu dari aksi jual-beli instrumen.

    Adapun salah satu teknik populer dalam analisis teknikal adalah analisis tren. Teknik ini memprediksi tren harga aset ke depan berdasarkan data historis, dengan asumsi bahwa pola-pola yang dibentuk data tersebut akan berulang ke depan.

    Mungkin, kamu sudah paham bahwa terdapat dua tren trading yang dikenal secara umum yakni tren bullish dan bearish. Namun, bagaimana sih cara kamu membaca tren tersebut?

    Yuk, simak artikel ini hingga habis ya, Sobat Cuan!

    Trend Analysis Dalam Analisis Teknikal

    Trend diartikan sebagai arah pergerakan harga di pasar dalam kurun waktu tertentu.
    Sementara analisis tren adalah proses mengamati trend saat ini untuk memprediksi tren di masa depan.

    Trend dapat diprediksi kapan akan berbalik arah, terus melesat atau turun lewat metode-metode analisis teknikal. Analisis ini pun tergolong dalam analisis komparatif, yakni dengan membandingkan tren yang sedang berlangsung, data historisnya, dan prediksi tren di masa depan.

    Komparasi juga dapat dilakukan antar sektor agar kamu dapat memprediksi sektor mana yang sedang menjanjikan dan sektor mana yang trennya akan berubah.

    Sebagai trader, wajib hukumnya bagi kamu untuk memahami tren. Sebab, tren bisa menjadi penentu apakah kamu perlu masuk atau keluar dari satu pasar instrumen tertentu.

    Misalnya, kamu pasti menyesal kan melakukan aksi beli saat harga tinggi namun tiba-tiba harganya anjlok beberapa saat kemudian? Nah, kamu perlu memahami tren ini agar tak salah langkah dalam trading.

    Baca juga: Apa Itu Centralized Market?

    Periode dalam Analisis Teknikal

    Tidak ada batasan periode waktu yang dapat digolongkan dalam suatu tren. Tetapi, semakin panjang data historis suatu intrumen tercatat, maka akan semakin akurat pula prediksinya.

    Namun, perlu kamu catat baik-baik bahwa prediksi berdasarkan analisis sekalipun tidak punya jaminan akurasi.

    Periode dalam teknikal analisis ada tiga jenis, yakni jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Namun, sepanjang apa periode dapat dikatakan jangka pendek, jangka menengah, atau jangka panjang, itu semua tergantung pada gayamu sendiri saat trading.

    Beberapa metode bahkan menggunakan analisis teknikal dalam periode sangat pendek yakni menit dan detik. Metode lainnya membantumu memprediksi pasar jauh ke depan hingga hitungan tahun.

    Indikator Trending Analysis dalam Analisis Teknikal

    Memprediksi arah tren memang susah-susah gampang, Sobat Cuan. Apalagi, jika pasar sedang volatile seperti sekarang ini. Tapi, empat indikator paling populer dalam analisis teknikal ini akan membantu kamu membaca tren dengan mudah lho. Apa saja indikator tersebut?

    1. Moving Average

    Contoh Moving Average (garis merah). Sumber: Tradingview.

    Moving average menggunakan data rata-rata harga secara progresif dalam kurun waktu tertentu. Sehingga, indikator yang satu ini memang sangat populer dalam analisis teknikal, termasuk saat kamu ingin menggunakan teknik trend analysis.

    Indikator sejuta umat ini memang bertujuan untuk memberi petunjuk kepada mereka tentang arah tren harga sebuah aset di masa depan. Moving average sendiri terdiri dari beberapa variasi tergantung fokus sang trader. Apakah memang ia ingin melihat tren secara keseluruhan atau memberikan bobot dan perhatian lebih besar terhadap satu titik tertentu di dalam pergerakan harga aset tersebut.

    2. Moving Average Convergence Divergence (MACD)

    MACD (lokasi yang berada di bawah grafik). Sumber: Tradingview

    Salah satu jenis moving average yang akan membantu kamu menganalisis trend adalah moving average convergence and divergence (MACD). Indikator berosilasi ini berfluktuasi disekitar titik nol yang menjadi tolok ukur momentum dan tren.

    Logika yang digunakan MACD mirip dengan simple moving average (SMA) dengan tambahan fitur untuk memberi kamu gambaran yang lebih baik mengenai pergerakan harga. Simpelnya, jika MACD bergerak ke arah positif, hal ini dapat diartikan sebagai sinyal beli. Sebaliknya, jika MACD bergerak ke arah negatif berarti sinyal untuk menjual.

    Namun, MACD kerap digunakan sebagai komplementer indikator lainnya. Jadi, kamu perlu mengkompilasi beberapa indikator dalam analisis teknikal sekaligus untuk mendapat gambaran akurat mengenai tren.

    Baca juga: Masih Belum Paham Beda DeFi vs CeFi? Yuk, Belajar di Artikel Ini!

    3. Relative Strength Index (RSI)

    Contoh indikator RSI yang berada di bawah grafik harga. Sumber: Tradingview.

    Indikator berosilasi lainnya yang kerap digunakan untuk melihat tren adalah relative strength index (RSI). Informasi yang diberikan RSI berbeda dengan MACD meskipun prinsipnya mirip.

    RSI beroperasi dalam skala 0 hingga 100, tapi biasanya trader membuat area overbought dan oversold dengan skala 30 banding 70.

    Artinya, saat harga pada histogram berada di wilayah di atas 70, kamu dapat mengartikannya sebagai overbought. Sedangkan saat harga berada di wilayah di bawah 30 pada histogram kamu dalam mengartikannya sebagai oversold.

    Pada tren yang kuat, harga kerap bertahan di wilayah overbought maupun oversold dalam waktu yang cukup panjang untuk kamu mengambil keputusan. Tapi seringnya, harga hanya bertahan sesaat di area ini sehingga kamu harus mengambil keputusan cepat atau menganalisis sebelumnya untuk me-leverage cuan kamu.

    Adapun cara terbaik untuk menggunakan RSI adalah dengan mengomparasinya bersama MACD.

    Baca juga: Apa Itu Kurva Lorenz?

    4. On-Balance Volume (OBV)

    Area On Balance Volume di bawah grafik harga. Sumber: Tradingview

    Volume penawaran sendiri merupakan indikator yang berharga dalam analisis teknikal. Karenanya, dikembangkanlah indikator yang secara khusus mengukur komplasi volume dalam satu grafis. Indikator ini mengukur volume kumulatif pembelian dan penjualan dengan menambah formulasi khusus.

    idealnya, OBV dapat mengonfirmasi trend. Kenaikan harga harusnya diikuti dengan kenaikan OBV, begitu pun sebaliknya. Jika tidak terjadi sebagaimana premis ideal, umumnya harga akan mengikuti OBV sehingga kamu dapat membuat prediksi berdasarkan hal ini.

    Adapun premis idealnya adalah, ketika OBV naik dan harganya tidak, kemungkinan harga akan mengikuti OBV di masa depan dan mulai naik.

    Namun, jika harga naik dan OBV datar atau turun, harga mungkin mendekati puncak. Jika harga turun dan OBV datar atau naik, harga bisa mendekati dasar.

    Jadi bagaimana Sobat Cuan? Sudah siap mendulang cuan berbasis analisis tren harga aset?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Investopedia, Warrior Trading



    Sumber : pluang.com

  • Mau Beli Rumah Bermodal Investasi Reksadana? Simak Caranya di Sini!

    Sobat Cuan yang baru saja melepas status lajang, sekarang mungkin sedang berburu rumah untuk persiapan kehidupan yang lebih mandiri. Namun kadang kala, hal itu sering terkendala dengan kenaikan harga rumah fantastis setiap tahunnya.

    Menggunakan tabungan di bank kok rasanya lama dan tidak meningkatkan aset keuangan. Terutama dewasa ini, ketika bank sentral masih memberlakukan suku bunga rendah. Nah ada salah satu produk investasi, yakni reksadana yang bisa dijadikan rujukan untuk mewujudkan mimpimu memilki rumah idaman.

    Mengapa Menabung Tidak Cukup Untuk Membeli Rumah?

    Berdasarkan data Housing Finance Center (HFC), harga rumah terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Per Maret tahun ini saja, peningkatannya sudah mencapai 5,24% secara tahunan. Artinya, jika kamu mengandalkan dana tabungan atau deposito untuk mengejar kenaikan harga rumah setiap tahunnya, masih besar pasak dari pada tiang.

    Pasalnya rata-rata suku bunga deposito di Indonesia berkisar di angka 4% per tahun, sementara suku bunga tabungan masih dibawah suku bunga deposito. Sehingga, yang kamu perlu lakukan adalah mencari instrumen lain agar kamu bisa menabung demi hunian impianmu.

    Mengapa Investasi Reksadana Bisa Membantumu Beli Rumah?

    Ternyata, selain tabungan, terdapat beberapa instrumen investasi lain yang bisa kamu gunakan untuk membeli rumah. Salah satunya adalah reksadana.

    Sebab, imbal hasil reksadana memang terbilang lebih mumpuni dibanding produk tabungan. Bahkan, nilai return-nya jauh lebih besar dibanding kenaikan harga rumah tersebut.

    Jika kamu masih belum yakin, yuk tengok kinerja reksadana 2020 berdasarkan jenisnya berikut!

    Nah, jika dilihat di atas, kita bisa membaca bahwa reksadana pendapatan tetap rata-rata bisa memberi imbal hasil mencapai 10% per tahun.

    Secara matematika, maka sudah barang tentu jumlah dana yang kamu investasikan bisa mengungguli kenaikan harga rumah setiap tahunnya. Maklum, reksadana selama ini memang dikenal sebagai instrumen investasi yang jago dalam menghalau kepungan inflasi.

    Selain itu, investasi reksa dana juga tergolong sangat murah, kamu bisa mulai berinvestasi dengan jumlah minimal Rp15 ribu lho. Apalagi, kamu tidak berinvestasi secara langsung. Sebab, ada kehadiran manajer investasi yang akan mengelola dana investasimu.

    Tentukan Mekanisme Pembelian Rumah Sebelum Investasi Reksadana!

    Dalam dunia keuangan, penting sekali untuk menentukan tujuan investasi sebelum memutuskan untuk membeli produknya.

    Begitu pun halnya dengan menggunakan investasi reksadana untuk membeli rumah. Kamu perlu paham mengenai sejauh apa tujuan kamu berinvestasi reksadana ketika membeli rumah. Apakah kamu ingin menggunakan reksadana hanya untuk menabung uang muka (DP) rumah? Ataukah kamu benar-benar ingin meminangnya secara tunai?

    Kamu perlu mengetahui tujuan tersebut agar kamu paham jenis reksadana apa yang harus kamu pilih. Nah, agar kamu tak bingung, yuk simak penjelasan dan simulasinya di bawah ini!

    Baca juga: Atur Risiko Investasi Melalui Reksadana, Ini 5 Hal Dasar yang Wajib Kamu Pahami!

    1. Membeli Rumah via KPR

    Jika kamu ingin membeli rumah secara kredit, maka kamu tentu harus menabung uang mukanya terlebih dulu.

    Kini, Bank Indonesia memberlakukan relaksasi uang muka sebesar 0% dari total harga rumah. Namun, pada kondisi lumrah, jumlah uang muka biasanya sekitar 20% dari total harga tempat tinggal.

    Nah, membayar DP rumah bisa kamu lakukan dengan investasi reksadana lho! Untuk lebih lengkapnya, yuk simak simulasi berikut:

    Abang Jago adalah seorang karyawan swasta yang ingin membeli rumah senilai Rp500 juta. Namun, ia perlu membayar uang muka sekitar 20% alias Rp100 juta yang harus ia kumpulkan dalam delapan tahun.

    Sayangnya, penghasilan Bang Jago hanya Rp8 juta per bulan. Tapi, ia punya profil risiko yang cukup moderat ke arah agresif. Lantas, bagaimana cara ia menabung DP rumah tersebut?

    Dalam mencari instrumen investasi yang pas, kita perlu tahu proyeksi inflasi selama delapan tahun mendatang. Gunanya untuk melihat berapa jumlah DP yang benar-benar Bang Jago bayar di periode tersebut.

    Anggap saja Bang Jago mengasumsikan inflasi sebesar 5% per tahun hingga delapan tahun mendatang. Maka, DP yang harus ia bayar delapan tahun kemudian adalah Rp140,7 juta.

    Sehingga, ia perlu mencari instrumen investasi yang tepat, salah satunya adalah reksadana pendapatan tetap. Sebab, sesuai grafik di atas, ia adalah instrumen dengan kinerja moncer yakni 10% per tahun — jika hanya dilihat pada setahun belakangan saja.

    Nah, sesuai kalkulator reksadana yang berbasiskan perhitungan compound interest, maka Bang Jago bisa menabung reksadana pendapatan tetap di awal sebesar Rp6,5 juta. Kemudian, ia perlu menabung reksadana rutin per bulan sebesar Rp860.000 alias 10,75% dari gajinya per bulan demi membayar DP yang dimaksud.

    Namun selain reksadana pendapatan tetap, sejatinya Bang Jago juga bisa menggunakan reksadana saham. Sebab, imbal hasillnya yang lebih baik dibandingkan jenis reksadana lainnya, meski memang risikonya juga lebih tinggi. Tapi, Sobat Cuan perlu memilih produk reksadana saham yang basisnya adalah saham perusahaan berfundamental oke, ya!

    2. Pembelian Secara Tunai

    Sekarang, anggap saja Bang Jago ingin membeli rumah secara tunai 15 tahun lagi dengan asumsi inflasi 5% per tahunnya. Maka, 15 tahun kemudian, rumah impian Bang Jago menjadi Rp1,04 miliar.

    Kemudian, mari asumsikan Bang Jago juga menggunakan reksadana pendapatan tetap sebagai pilihan investasinya.

    Dengan menghitung menggunakan kalkulator compound interest, maka Bang Jago perlu berinvestasi di awal sebesar Rp115 juta dan menabung Rp1,3 juta per bulan dalam 15 tahun mendatang. Memang, tabungan bulanan ini mengambil 16,25% dari gaji Bang Jago saat ini, namun persentasenya akan turun seiring kenaikan Bang Jago di kemudian hari.

    Namun, sebelum memutuskan untuk membenamkan dana di reksadana, pelajari dulu dengan baik bagaimana reksadana bekerja dan risiko apa yang membayanginya. Karena yang namanya investasi, faktor risiko selalu melekat seiring dengan imbal hasil yang diberikan.

    Kalau kamu bagaimana Sobat Cuan? Jadi tertarik berinvestasi reksadana pendapatan tetap? Yuk, investasi sekarang di aplikasi Pluang!

    Baca juga: Yakin Gak Mau Investasi Reksa Dana? Ini Lho 8 Manfaatnya!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Schroders, Liputan6



    Sumber : pluang.com

  • Waspada Bahaya Impermanent Loss Saat Yield Farming! Apakah Itu?

    Sobat Cuan lagi menggandrungi yield farming untuk mendapatkan pendapatan pasif dari aset kripto? Nah, nampaknya kamu perlu waspada, mengingat ada satu risiko bernama impermanent loss yang perlu kamu hadapi.

    Tapi, kamu tidak usah khawatir. Risiko yang satu ini tetap bisa dimitigasi kok, asal kamu tau cara menyikapinya. Untuk itu, yuk cari tahu, apa sih yang dimaksud dengan impermanent loss?

    Apa Itu Impermanent Loss?

    Sebelum kamu dapat memahami lebih jauh konsepsi impermanent loss, kamu perlu terlebih dulu mengerti skema Automated Market Makers (AMMs).

    Dikenalkan pertama kali oleh salah satu pendiri blockchain paling fenomenal yakni Ethereum, Vitalik Buterin menjelaskan skema terbentuknya pasar dalam blockchain tanpa adanya penawaran dan permintaan.

    Skema tersebut menciptakan pasar yang dikendalikan oleh software. Pelaku pasarnya akan diganjar fee dan yield lewat aktivitas berladang cuan seperti staking dan yield farming dari token protokol baru yang terbentuk, atau berdasarkan syarat-syarat yang disepakati lewat smart contracts.

    Skema ini dipandang ideal bagi ekosistem terdesentralisasi. Namun, bukan berarti skema ini tidak memiliki kekurangan.

    Selaku liquidity provider, saat berpartisipasi dalam AMMs, kamu bisa saja mengalami impermanent loss.

    Sesuai dengan namanya, tentu saja kerugian ini tidak bersifat selamanya. Meski demikian, kalau kamu tidak tahu cara menanggulanginya dengan tepat, bukan mustahil jika kerugian yang kamu alami jadi permanen.

    Bagaimana Impermanent Loss Bisa Terjadi?

    Impermanent loss terjadi saat harga token yang kamu simpan di dalam protokol DeFi ternyata lebih rendah dari harga di pasar.

    Hal ini disebabkan karena tiap liquidity pools memiliki mekanisme AMM-nya sendiri yang berjalan tidak beriringan dengan kondisi pasar sebenarnya. Sehingga, saat harga token yang kamu kunci dalam protokol DeFi berubah di pasar, konversi harganya tidak begitu saja diadopsi oleh AMM di liquidity pools dimana kamu berpartisipasi.

    Lantas, mengapa selisih harga tersebut bisa terjadi?

    Nah, Sobat Cuan harus paham bahwa beberapa pools mengelola lebih dari satu jenis aset kripto yang ditempatkan dalam rasio setimbang. Namun, titik kesetimbangan ini dapat bergeser seiring dengan volatilitas harga pasar dari aset-aset yang dirasiokan.

    Algoritma dalam liquidity pools memiliki mekanismenya sendiri untuk setimbang. Saat algoritma ini belum menerjemahkan pergerakan harga di pasar terhadap harga aset kamu di pools, saat itulah kamu mengalami yang disebut dengan impermanent loss.

    Ada alasan mengapa namanya demikian, yakni agar kamu memahami bahwa kerugian yang ini tidak permanen. Mekanisme pasar tetap akan berjalan pada liquidity pools lewat arbitrageurs. Yakni pihak yang melihat selisih harga pada pasar kripto dan liquidity pools lalu mengeksekusinya untuk memperoleh keuntungan.

    Nah, saat mekanisme ini selesai berjalan, nilai aset kripto kamu akan kembali setimbang dengan rasio pools yang kembali seperti semula.

    Baca juga: Yuk, Simak Panduan Gunakan Bollinger Bands Untuk Trading Kripto!

    Bagaimana Cara Menghitung Keseimbangan Nilai Aset di Liquidity Pools?

    Misalnya saja, 1 BNB dihargai 25 CAKE dalam suatu pools. Artinya, pools tersebut menerapkan rasio 1:25 berdasarkan harga yang relatif setimbang dengan pasar saat rasio dibuat.

    Namun, pasar kripto mengalami fluktuasi yang cukup tinggi tiap saat, termasuk saat aset BNB dan CAKE kamu sedang terkunci di protokol sebuah pools. Jika sewaktu-waktu perbandingan antara BNB dan CAKE berubah di pasar hingga memengaruhi rasio aset, kamu selaku provider akan mengalami impermanent loss.

    Sebabnya, perubahan rasio ini belum tentu setara dengan nilai yang berlaku saat itu di pasar CeFi. Konversi harga antara BNB dan CAKE dalam pools terbatas pada mekanisme yang terjadi disana, bukan refleksi atas harga riilnya di pasar.

    Baca juga: Mengenal Token DeFi dan Alasan Kenapa Kamu Harus Perhatikan Mereka

    Dampak Impermanent Loss Pada Portofolio

    Impermanent loss pada ekosistem decentralized finance mirip dengan yang kerap kamu alami pada pasar tersentralisasi. Saat portofolio kamu sedang kebakaran, kamu mengalami yang disebut dengan unrealized loss, alias kerugian yang belum terealisasi, yang harus kamu sikapi dengan cermat.

    Saat aset kripto kamu mengalami impermanent loss di pools, portofolio investasimu akan bernilai negatif. Namun tentunya kamu harus bisa melihatnya secara jernih bahwa penurunan portofolio itu bukanlah kerugianmu yang sesungguhnya.

    Jika kamu memutuskan untuk keluar dari pools saat harga asetmu sedang tidak setimbang, kamu akan membuat kerugian tidak permanen ini jadi permanen.

    Ada peluang di lain waktu kesetimbangan akan kembali ke titik semula saat perbandingan harga aset kembali relevan dengan nilai yang kamu investasikan di awal. Tapi, kalau kamu tidak sabar dan mengambil keputusan dengan gegabah, kamu tentu akan kehilangan peluang berharga ini.

    Baca juga: Terlihat Serupa, Apa Perbedaan Yield Farming dan Liquidity Mining?

    Bagaimana Cara Mitigasi Risikonya?

    Cara tersimpel dalam jangka pendek untuk memitigasi kerugian ini adalah dengan menyuntikkan likuiditas pada pairs agar harganya tetap relatif konstan. Atau sabar menunggu hingga kesetimbangan bergeser lagi.

    Beberapa pools membuat rasio dari aset yang nilainya relatif stabil satu sama lain. Sebut saja sETH/ETH di Uniswap, atau stablecoin seperti DAI/USDC/USDT/sUSD di Curve.

    Kelemahannya adalah, stabilitas berjalan dua arah. Kamu lebih tidak berisiko mengalami impermanent loss, tapi juga lebih tidak berkesempatan mengalami impermanent gain sebab harganya yang stabil. Selain itu, pools seperti ini jumlahnya terbatas.

    Opsi lainnya adalah dengan menggunakan aplikasi seperti Balancer dan Hummingbot Miner 3. Aplikasi ini akan membantu kamu menentukan rasio pools tempat kamu berpartisipasi.

    Balancer mengizinkan liquidity pools membuat rasio untuk asetnya di pools sehingga kamu pun bisa bertaruh pada aset yang lebih berperfroma baik. Sementara itu, Hummingbot Miner 3 memfasiilitasi kamu dengan bot yang memungkinkan kamu melakukan penambangan likuiditas pada banyak pasar di Binance dengan mekanisme AMMs sepenuhnya.

    Bot ini mengeliminasi persoalaan impermanent loss. Tapi, kamu tetap beresiko mengalami penyusutan nilai aset kripto dari fluktuasi pasar meski tidak lagi harus galau saat rasionya di pools berubah.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Trust Wallet, Binance



    Sumber : pluang.com

  • Berkenalan dengan Fitur Limit Order dan Manfaatnya bagi Trading

    Aktivitas trading terkadang merepotkan. Terkadang, kamu harus memelototi pergerakan harga aset setiap saat hanya demi menemukan momentum dan mendulang cuan dari kegiatanmu. Meleset sedikit, bisa-bisa cuan yang kamu dambakan menguap begitu saja.

    Untungnya, di zaman sekarang ini, kamu bisa memanfaatkan fitur bernama limit order. Fitur ini berfungsi agar kamu bisa tertidur pulas dan tak pusing memikirkan volatilitas harga aset saat sedang trading.

    Pernah mengalami gagal cuan lantaran ketinggalan momentum jual dan momentum beli? Nah, kamu perlu mempelajari fitur yang satu ini agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

    Tapi, kamu harus paham cara mengoperasikannya agar fitur yang satu ini bekerja sesuai keinginanmu ya, Sobat Cuan.

    Apa Itu Limit Order?

    Limit order biasanya dilakukan di pasar valuta asing dan pasar berjangka. Tapi sekarang, fitur ini tidak terbatas pada dua pasar tersebut. Bahkan, kini fitur tersebut sudah marak diperkenalkan di platform investasi kripto.

    Limit order dilakukan dengan membuka posisi tawar saat membeli atau menjual pada angka tertentu dalam range yang menguntungkan sesuai keinginanmu. Jika kamu telah menganalisis pergerakan harga, kamu akan menemukan level support dan resistance yang mungkin ditembus pasar.

    Kalau harga komoditas atau valas kamu bisa bergerak lebih tinggi, kamu bisa membuat order jual di level tersebut. Nantinya, aplikasi investasimu akan mengeksekusi tawaran kamu saat harganya mencapai level yang dimaksud.

    Tanpa kamu harus menunggu di depan layar hingga momentumnya tiba, order kamu akan dieksekusi sesuai dengan keyakinanmu. Kalau ternyata perkiraanmu meleset, tentu saja aplikasi tidak jadi mengeksekusi transaksi ini.

    Hanya saja, harga yang dieksekusi saat kamu menjual valas atau komoditasmu bisa lebih tinggi dari perkiraanmu atau tepat di level itu. Begitupun saat kamu akan membeli, aplikasinya bisa diatur agar transaksimu dieksekusi pada level rendah sesuai perkiraanmu atau bahkan lebih rendah lagi.

    Fitur ini memang dirancang untuk memudahkan kamu melakukan trading berdasarkan analisis yang baik tanpa harus kembali direpotkan dengan momentum.

    Jika kamu yakin harga bisa bergerak ke level yang lebih menguntungkan, kamu tinggal mengaturnya dalam limit order lalu melanjutkan aktivitas dengan tenang.

    Baca juga: Yuk, Simak Panduan Gunakan Bollinger Bands Untuk Trading Kripto!

    Manfaat Limit Order

    Menganalisis pergerakan harga dan mengeksekusinya merupakan dua hal berbeda yang cukup merepotkan. Karenanya, aplikasi trading memiliki fitur limit order untuk memudahkan kamu beraktivitas sembari menunggu analisis trading kamu bekerja.

    Perlu kamu catat bahwa limit order beroperasi dalam premis yang berbeda dengan stop order.

    Aplikasi akan mengeksekusi input limit order kamu pada nominal yang lebih rendah untuk opsi beli dan lebih tinggi untuk opsi jual. Sedangkan pada stop order, premis yang berlaku adalah kebalikannya.

    Karenanya, limit order tidak ideal digunakan untuk menjadi bantalan saat trading. Tetapi, fitur ini sangat membantu saat kamu harus meninggalkan layar beberapa waktu namun takut ketinggalan momentum.

    Limit order adalah fitur yang ideal untuk trader atau investor jangka pendek. Sebaliknya, trader dengan teknik scalping mungkin kesulitan menggunakan fitur ini karena jendela waktu trading-nya yang lebih sempit.

    Selain itu, aplikasi yang lebih familiar untuk pemula bisa membantu kamu meminimalisir kerugian akibat salah input limit order, sementara aplikasi yang lebih canggih akan langsung mengeksekusi order sesuai perintah.

    Karenanya, kamu harus mempelajari baik-baik fungsi dari tiap order agar tidak sampai boncos ya, Sobat Cuan.

    Baca juga: Waspada Bahaya Impermanent Loss Saat Yield Farming! Apakah Itu?

    Cara Menggunakan Limit Order

    Sebelum kamu menggunakan limit order, pertama-tama kamu harus melakukan analisis teknikal dan analisis fundamental untuk menemukan level yang tepat dalam jual beli agar cuanmu makin lebar.

    Jika aset yang ingin kamu beli saat ini berada pada level yang lebih tinggi, namun analisismu menunjukkan bahwa harganya bisa lebih murah, nah saat itulah kamu dapat membuat limit order beli di level yang kamu yakini.

    Sebagaimana disebutkan sebelumnya, algoritma dalam fitur ini mengeksekusi transaksi kamu pada level yang lebih menguntungkan. Jadi, jika harga komoditas tersebut jatuh melampaui limit beli kamu saat transaksi belum dieksekusi, kamu bisa mendapatkannya pada level harga yang lebih murah dari perkiraan kamu.

    Hal serupa juga terjadi saat kamu akan menjual komoditas atau valuta asing yang kamu miliki. Kamu bisa memasang limit jual pada level yang lebih tinggi dari harga saat itu jika kamu yakin harga akan bergerak naik. Kamu bisa saja mendapat cuan lebih lebar dari perkiraanmu jika pasar ternyata bergerak lebih bullish dari analisis kamu.

    Tentunya kamu juga bisa menggunakan fitur ini untuk meleverage cuan jika kamu yakin betul pada analisis pergerakan harga yang telah kamu lakukan. Fitur ini memiliki banyak manfaat asal kamu tau cara memanfaatkannya. Sebab, beberapa aplikasi trading mengeksekusi limit order tepat seperti input yang kamu masukkan.

    Jadi, kalau kamu keliru menginput order jual di harga terendah karena tertukar dengan order beli, aplikasi akan mengeksekusinya dan kamu akan rugi bandar.

    Karena itu, perhatikan baik-baik saat menginput limit order-mu, ya, Sobat Cuan.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Olympia Trust Company, The Trading Bible, Investopedia



    Sumber : pluang.com