Author: 10

  • Mengenal Bitcoin Cash dan Perbedaan Mendasar dengan Bitcoin

    Sobat cuan yang baru terjun ke investasi aset kripto pasti sedikit bingung dengan adanya nama aset kripto yang terlihat mirip, seperti Bitcoin, Bitcoin Gold (BTG), hingga Bitcoin Cash (BCH).

    Ya serupa tapi tak sama, ketiga aset kripto tersebut memang memiliki kesamaan nama. Namun, soal nilai aset kripto dan nilai guna tentu jauh berbeda.

    Bitcoin (BTC) merupakan salah satu dedengkot dalam dunia kripto. Meskipun bukan sebagai aset kripto pertama di dunia, BTC disebut menjadi aset kripto pertama yang terdesentralisasi.

    Hingga akhirnya pengembangan terus dilakukan di dalam sistem Bitcoin dan akhirnya muncul “saudara” dari Bitcoin, yakni Bitcoin Cash dan Bitcoin Gold.

    Sebelumnya kita sudah pernah membahas tentang Bitcoin Gold. Sekarang, kita akan melangkah lebih jauh untuk melihat perbedaan Bitcoin dan Bitcoin Cash.

    Baca juga: Cara Mengumpulkan Dana Darurat dengan Cepat dan Tepat

    Apa itu Bitcoin Cash?

    Bitcoin Cash adalah aset kripto yang muncul dalam peristiwa hard fork di blockchain Bitcoin tahun 2017. BCH menjadi “saudara” muda bagi BTC dan “kakak” bagi Bitcoin Gold.

    Hard Fork sendiri dalam dunia aset kripto merupakan perubahan dalam protokol mata uang asal. Jadi ketika tim pengembangan melakukan fork, muncul blokchain baru yang unik yang kemudian menjadi Bitcoin Cash. Dengan kata lain, transaksi Bitcoin Cash di jaringan blockchain Bitcoin pun sudah tak menjadi valid.

    Ibarat saudara kembar, ketika Bitcoin Cash hadir, maka pemegang Bitcoin akan memiliki jumlah koin yang sama dengan jumlah koin Bitcoin Cash. Gampangnya seperti ini. Jika kamu memiliki 10 koin Bitcoin pada saat hard fork berlangsung, maka artinya kamu juga memiliki 10 BCH.

    Seperti layaknya aset kripto lain, Bitcoin Cash juga diperdagangkan secara umum dan juga memiliki dinamika harga yang menarik untuk investor pemula.

    Mengapa demikian? BCH adalah koin yang lebih baru jika dibandingkan dengan Bitcoin, sehingga ruang pertumbuhannya kemungkinan masih terbuka cukup lebar.

    Baca juga: Harganya Turun, Sepenting Apa Sih Investasi Ethereum di Portofolio Kamu?

    Kenapa Ada Bitcoin Cash?

    Sejarah Awal Bitcoin Cash

    Sobat Cuan mungkin paham bahwa hard fork di dalam blockchain aset kripto muncul karena kualitas sistem blockchain yang existing dianggap kurang mumpuni. Di sistem Ethereum, misalnya, hard fork Ethereum terjadi karena pengembang merasa ada kecacatan dalam sistem keamanannya.

    Hal serupa juga terjadi di dalam Bitcoin, sehingga muncul hard fork “berbuah” BCH.

    Penemu Bitcoin, Satoshi Nakamoto, awalnya berharap Bitcoin bisa menjadi aset digital yang digunakan untuk transaksi sehari-hari. Hanya saja, bertahun-tahun kemudian, pengguna Bitcoin lebih memilih menggunakannya untuk aset investasi ketimbang transaksi. Hal ini mengingat pasokan BTC yang terbatas, hanya 21 juta keping.

    Alhasil, banyak pengguna yang merangsek masuk blockchain Bitcoin untuk menambangnya. Sayangnya, sistem blockchain tersebut tidak mampu menampung dan mengakomodasi derasnya transaksi di dalamnya. Hal ini disebabkan oleh pembatasan pencatatan transaksi (block) Bitcoin yang hanya sebesar 1 MB/blok.

    Akibatnya, banyak transaksi di blockchain Bitcoin yang mengantre dan menunggu konfirmasi. Sehingga, likuiditas di sistem blockchain ini pun ikut tersendat.

    Awalnya, tim pengembang Bitcoin, The Bitcoin Core Team menawarkan dua solusi untuk menanggulangi hal tersebut: Meningkatkan rata-rata ukuran blok atau melarang transaksi berukuran besar untuk terjadi di sistem blockchain.

    Ujungnya, tim pengembang tersebut memilih untuk memperbesar ukuran blok transaksi yang sudah ada ke dalam satu blockchain baru. Kemudian, mereka memperkenalkan satu koin baru agar bisa digunakan di blockchain teranyar tersebut bernama Bitcoin Unlimited.

    Sayangnya, Bitcoin Unlimited mengalami peretasan dan gagal mendapat apresiasi penuh dari publik. Hal ini bikin publik ragu terkait apakah koin anyar tersebut benar-benar mampu menjadi alat transaksi yang mumpuni.

    Akhirnya, setelah diperdebatkan oleh komunitas cryptocurrency, pengembang Bitcoin pun meluncurkan Bitcoin Cash pada Agustus 2017.

    Napak Tilas Bitcoin Cash Pasca Diluncurkan

    Jaringan Bitcoin Cash sendiri memiliki ukuran blok transaksi yang lebih besar dibanding Bitcoin. Yakni, di antara 8 MB hingga 12 MB. Sebagai gambaran, kapasitas tersebut bisa menampung 25.000 transaksi per blok, sementara Bitcoin hanya bisa memproses 1.000 hingga 1.500 transaksi per blok.

    Setelah hard fork dilakukan, setiap pemegang Bitcoin memiliki BCH dengan nilai yang serupa dengan “kakaknya”. Makanya, tak heran jika BCH memiliki harga US$900 per keping ketika diperkenalkan ke pasar cryptocurrency empat tahun lalu.

    Hanya saja, tidak semua platform exchange mau menerima kehadiran saudara Bitcoin satu ini. Contohnya adalah Coinbase dan itBit yang ternyata memboikot BCH dan tidak memasukannya ke dalam daftar aset kripto yang bisa diperdagangkan.

    Namun di sisi lain, terdapat pula pendukung kehadiran BCH di kancah kripto. Salah satunya adalah Roger Ver, yang mengatakan bahwa BCH diharapkan mampu membawa visi Nakamoto yang menginginkan Bitcoin sebagai alat transaksi di ranah digital.

    BCH pun Pecah Menjadi Dua

    Ironisnya, Bitcoin Cash sendiri kemudian mengalami hard fork setahun setelah diluncurkan. Pada November 2018, BCH pecah menjadi Bitcoin Cash ABC dan Bitcoin Cash SV (Satoshi Vision).

    Kali ini, hard fork terjadi karena ada perbedaan pendapat antara penggunanya terkait masuknya teknologi smart contract ke dalam sistem blockchain BCH.

    Adapun Bitcoin Cash ABC masih menggunakan jaringan BCH yang asli meski ada sedikit perubahan. Sementara itu, Bitcoin Cash SV dibesut oleh Craig Wright yang memang menolak adanya perubahan di sistem blockchain BCH.

    Bitcoin VS Bitcoin Cash. Apa Bedanya?

    Nah, seperti yang sudah disebutkan di atas, tentu Sobat Cuan sudah bisa menebak perbedaan di antara keduanya.

    Yang pertama jelas adalah sistem blockchain yang digunakan. Kapasitas blok transaksi Bitcoin Cash lebih besar dibanding Bitcoin. Yakni, 32 MB berbanding dengan 1 MB. Sehingga, tak heran jika BCH bisa memproses transaksi lebih cepat dan lebih besar.

    Kedua adalah nilai gunanya. Bitcoin kini menjelma sebagai salah satu instrumen investasi pelindung kekayaan. Bahkan, sejak awal tahun ini, banyak sekali yang menyandingkannya dengan emas.

    Namun di sisi lain, BCH nampaknya masih betah menyandang posisi sebagai nilai tukar. Apalagi, biaya transaksi Bitcoin Cash bisa menjadi lebih murah dibandingkan dengan Bitcoin. Sehingga ada pandangan bahwa pengguna Bitcoin kemungkinan akan beralih menggunakan BCH sebagai mata uang transaksional utama di jagat kripto.

    Makanya, perbedaan nilai manfaat itu pula lah yang menyebabkan ada perbedaan harga yang cukup jauh di antara keduanya.

    Saat ini, Bitcoin menduduki status sebagai raja aset kripto. Saat ini, ia dibanderol US$33.346 per keping dengan kapitalisasi pasar US$624,95 miliar.

    Sementara itu, BCH saat ini bernilai US$487 per keping dan memiliki kapitalisasi pasar di angka US$9,16 miliar. Sangat jauh bukan? Tetapi, hal itu dapat dipahami lantaran usianya yang masih tergolong muda, sehingga pasarnya kemungkinan belum terbentuk secara sempurna.

    Namun, sistem blockchain Bitcoin Cash ke depan masih bisa dikembangkan dan memang memiliki tujuan menjadi alat nilai tukar. Sehingga, potensinya ke depan pun terbilang cemerlang.

    Kalau kamu bagaimana Sobat Cuan? Mending pilih Bitcoin untuk investasi? Atau Bitcoin Cash sebagai alat transaksi?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Investopedia, Bitdegree



    Sumber : pluang.com

  • Simak Langkah Diversifikasi Cryptocurrency bagi Pemula di Sini!

    Belakangan ini, pecinta aset kripto pemula mungkin tertarik masuk pasar cryptocurrency lantaran terbuai dengan cuannya yang menggelegar beberapa waktu lalu. Hanya saja, mereka mungkin kurang memahami langkah yang perlu dilakukan ketika pasar kripto lagi amburadul.

    Padahal, bagi pemula, salah satu langkah mudah untuk mengantisipasi buntung dari anjloknya harga kripto adalah dengan diversifikasi cryptocurrency. Ya, sesimpel itu saja.

    Apalagi strategi tersebut bisa kamu lakukan saat ini juga, mengingat momentumnya pun cukup pas. Apa alasannya?

    Seperti yang kita tahu, saat ini harga dua jawara aset kripto yakni Bitcoin dan Ethereum masih belum bangkit setelah mencapai titik tertingginya di April dan Mei.

    Kala itu, token Bitcoin (BTC) dan juga Ethereum (ETH) sempat berada di posisi puncak dengan harga masing-masing menembus US$60.000 dan US$4.375 per token. Sayangnya, kini masing-masing token diperdagangkan di kisaran US$34.000 dan US$2.300 per keping.

    Nah, di periode yang penuh gejolak dan volatil seperti ini, tentu saja kamu disarankan “menyebar” risiko investasimu ke aset yang lain. Tujuannya, tentu saja agar penurunan nilai portofolio kriptomu, yang berisikan satu jenis koin saja, tak serta. merta bikin frustrasi.

    Namun, bagaimana cara diversifikasi yang benar ketika investasi cryptocurrency? Selain itu, apa saja manfaat yang bisa kamu petik dari diversifikasi tersebut? Yuk, simak artikel ini hingga habis ya, Sobat Cuan!

    Baca juga: Harga Bitcoin, Ethereum, dan Cryptocurrency Lain Diprediksi Meroket

    Penjelasan Singkat Diversifikasi Cryptocurrency

    Pada dasarnya, diversifikasi adalah tindakan untuk berinvestasi di berbagai macam jenis aset sebagai bagian dari manajemen risiko investasi. Dengan diversifikasi, artinya kamu melindungi portofolio investasimu dari risiko-risiko yang akan menurunkan nilai portofoliomu, yang sangat mungkin terjadi di masa depan.

    Sementara itu, diversifikasi cryptocurrency adalah membagi risiko investasi yang ada di aset kripto sesuai dengan sentimen dan juga cara kerja masing-masing aset kripto yang ada di pasaran.

    Dengan kata lain, Sobat Cuan tidak hanya membeli satu token tertentu saja, melainkan membeli aset kripto lainnya demi mengurangi eksposur risiko yang ditimbulkan oleh satu jenis cryptocurrency. Bagaimana contohnya?

    Misalnya seperti ini. Anggap saja Sobat Cuan memiliki uang Rp100 juta dan dihadapkan pada dua opsi: Membeli Bitcoin saja atau membeli Bitcoin dan ETH masing-masing bernilai Rp50 juta.

    Sekarang bayangkan jika kamu memilih opsi pertama dan bayangkan jika harga BTC ternyata turun 25% sebulan mendatang. Pastinya, nilai portofolio cryptocurrency kamu sekarang tersisa Rp75 juta saja, bukan?

    Nah, sekarang, bandingkan jika kamu memilih opsi kedua dengan asumsi sama, yakni harga BTC amblas 25% dalam sebulan. Bedanya, kini dalam waktu bersamaan, ternyata harga ETH naik 10%. Lantas, posisi portofolio kamu pun akan menjadi Rp37,5 juta dalam bentuk BTC dan Rp55 juta dalam bentuk ETH, atau total Rp92,5 juta.

    Nah, jadi mending mana Sobat Cuan? Diversifikasi cryptocurrency milikmu? Atau tetap setia dengan satu jenis koin saja?

    Mengapa Harus Diversifikasi Cryptocurrency?

    Alasan pentingnya adalah melindungi nilai portofoliomu dari pasar yang bergejolak. Mengapa demikian?

    Sobat Cuan harus paham bahwa setiap instrumen investasi memiliki performa yang berbeda-beda. Dengan kata lain, jika satu instrumen investasi anjlok, bukan berarti instrumen lainnya pun bernasib seperti demikian. Sehingga, kerugianmu berinvestasi di satu instrumen bisa “diimbangi” dengan keuntunganmu di aset lainnya.

    Selain itu, manfaat lainnya adalah bikin kamu tidak melewatkan potensi cuan di instrumen lainnya.

    Anggap saja seperti ini. Kamu fans garis keras BTC sehingga kamu menggenggamnya terus dan enggan diversifikasi. Padahal, di waktu yang sama, ETH sedang mencapai rekor tertingginya. Artinya, kamu melewatkan kesempatan hujan cuan dari ETH begitu saja, bukan?

    Ya, ketika semua aset kripto yang dimiliki bertumbuh, maka keuntungan yang kamu dapatkan juga bisa menjadi bertambah. Semakin banyak jenis koin yang dimiliki, semakin tinggi juga peluang mendapatkan imbal hasil yang signifikan.

    Tetapi ingat, yang namanya investasi selalu terdapat risiko yang mengikutinya, oleh karena itu, pelajari dengan baik mana aset kripto yang cocok untuk investasi kamu.

    Baca juga: Mau Diversifikasi Reksadana? Simak Tips dan Angka Idealnya di Sini!

    Metode Diversifikasi Portofolio Cryptocurrency

    Sekarang, kamu sudah tahu manfaat dan alasan kenapa kamu harus melakukan diversifikasi. Yang perlu kamu lakukan berikutnya adalah mengamalkannya agar cuan aset kriptomu makin aman, khususnya untuk situasi saat ini.

    Untungnya, terdapat beberapa metode diversifikasi cryptocurrency yang bisa dilakukan oleh pemula. Yuk, simak beberapa di antaranya!

    1. Diversifikasi Sesuai dengan Tingkat Risiko

    Masih ragu diversifikasi dengan menambah aset kripto yang lain karena takut sama-sama fluktuatif? Jangan khawatir! Kamu tetap bisa memitigasi risikomu dengan mendiversifikasikannya ke jenis investasi lain. Tentunya, instrumen tersebut pun harus memiliki tingkat risiko yang lebih rendah dibanding aset kripto.

    Beberapa instrumen yang bisa kamu pilih misalnya adalah emas atau mungkin reksa dana. Utamanya, reksa dana pasar uang. Sebab, reksa dana pasar uang lumrah digunakan sebagai diversifikasi bagi investor ketika kinerja pasar modal atau investasi lainnya sedang tiarap.

    Lantas, berapa nilai uang yang perlu kamu tanamkan di instrumen-instrumen tersebut? Beberapa perencana keuangan mengatakan bahwa 30% dari total alokasi dana investasimu sudah cukup untuk mengurangi eksposur risiko dari satu instrumen investasi tertentu.

    2. Diversifikasi Cryptocurrency Berdasarkan Nilai Investasimu

    Nah, kalau kamu sudah berani diversifikasi investasi aset kriptomu, mungkin kamu bisa memulainya dengan satu konsiderasi: Nilai investasimu.

    Kalau nilai portofolio investasi kriptomu terbilang mini, maka ada baiknya kamu diversifikasi di dua hingga tiga aset kripto saja. Mengapa demikian?

    Sobat Cuan perlu paham bahwa kamu pasti akan dibebani biaya admin dan biaya transaksi saat membeli aset kripto di platform exchange. Komponen biaya itu mungkin saja tak akan jadi persoalan jika memang kamu membelinya dalam nominal besar. Hanya saja, beban-beban tersebut tentu akan menggerus manfaat diversifikasi jika kamu pun membelinya dalam nominal yang rendah.

    Makanya, kamu harus perhatikan hal ini baik-baik. Jangan sampai, kamu berhasil menekan risiko volatilitas pasar kripto tapi juga dibebani biaya-biaya tinggi di waktu bersamaan.

    3. Diversifikasi Berdasarkan Nilai Guna Aset Kripto

    Mungkin Sobat Cuan bertanya-tanya tentang arti kalimat di atas.

    Ya, selain berdasarkan nilai investasi, kamu juga bisa berinvestasi di beragam aset kripto tergantung nilai gunanya. Masing-masing aset kripto memilki manfaat yang berbeda, di mana risikonya pun tentu saja ikut berbeda.

    Misalnya adalah Bitcoin. Sang raja kripto ini dikenal pecintanya sebagai token transaksional yang kini menjelma sebagai aset penyimpan kekayaan. Sifat BTC tersebut tentu saja berbeda dengan ETH yang digunakan sebagai “motor penggerak” aplikasi finansial terdesentralisasi (DeFi). Nah, sifat-sifat tersebut bisa kamu gunakan untuk modal diversifikasi.

    Di dalam kancah aset kripto, terdapat empat jenis koin yang bisa kamu gunakan untuk diversifikasi yang terdiri dari:

    1. Bitcoin. Aset kripto ini memiliki nilai kapitalisasi pasar yang besar, sehingga bisa memberikan keuntungan yang signifikan ketika pasar bullish. Apalagi, dengan suplai yang hanya 21 juta keping, Bitcoin pun sangat cocok sebagai alat penyimpan kekayaan di kancah kripto.
    2. ETH. ETH merupakan koin yang dipergunakan di lalu lintas DeFi. Nilai gunanya yang cukup tinggi menjadikan permintaan koin ini diprediksi akan moncer di masa depan. Sehingga, koin ini sangat cocok dijadikan pilihan diversifikasi aset kriptomu.
    3. Koin yang memberikan pendapatan pasif. Misalnya, kamu mencari koin yang akan mengalami hard fork, sehingga kamu pun bisa memiliki dua token berbeda meski awalnya menaruh dana di satu jenis token saja.
    4. Stablecoin. Koin ini merupakan aset kripto yang nilainya ditautkan (peg) dengan uang fiat. Sesuai namanya, stablecoin tidak memiliki kondisi yang volatil seperti aset kripto, sehingga cocok digunakan sebagai aset diversifikasi di kala pasar kripto sedang gonjang-ganjing.

    4. Jangan Kebanyakan Diversifikasi!

    Berinvestasi di banyak koin memang strategi jitu, Sobat Cuan. Asalkan kamu jangan lebay dalam mendiversifikasikan asetmu! Sebab, tindakan ini justru malah bikin kamu tak bisa mendulang cuan maksimal dari aset kripto yang lagi berkinerja mentereng.

    Anggap saja begini. Misalkan kamu mendiversikasikan asetmu di 15 aset kripto dengan nilai yang sama. Dua aset kripto sedang mengalami all time high, sementara 13 sisanya masuk ke zona merah. Artinya diversifikasi asetmu sama aja boong, kan?

    Jadi, tetap cermat dalam melihat situasi ya, Sobat Cuan! Salah satu bentuk kecermatan melihat situasi adalah dengan cermat memilih platform kripto yang bikin kamu diversifikasi dengan gampang. Hal itu, tentu saja, bisa kamu dapatkan di Pluang!

    Kamu bisa diversifikasikan aset kriptomu di reksa dana, emas, dan indeks S&P 500 hanya dalam satu aplikasi saja. Apalagi, kamu bisa mendiversifikasikan antar aset kripto pula lho, karena kamu bisa memiliki BTC, ETH, BNB, DOT, dan ADA di Pluang!

    Yuk, download Pluang sekarang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Gemini, Crypterium



    Sumber : pluang.com

  • 3 Kiat Cari Cuan Menggunakan Support Resistance bagi Pemula

    Sobat Cuan mungkin kini sedang getol-getolnya trading, sehingga kamu mulai mempelajari indikator-indikator utama di analis teknikal. Salah satunya tentu adalah support dan resistance.

    Sekilas, support dan resistance terlihat mudah untuk dilihat karena mereka hanya berbentuk titik. Namun, menggunakan dua indikator ini cukup tricky bagi pemula. Meski demikian, teknik analisis untuk mengetahuinya cukup mudah untuk dipelajari.

    Kamu pun perlu memahami titik support dan resistance mengingat manfaatnya yang cukup oke di analisis teknikal. Sebab, memahami titik-titik ini bisa membuat kamu cuan lebih optimal.

    Oleh karenanya, yuk simak, cara mudah menentukan support dan resistance bagi pemula!

    Baca juga: Langkah-Langkah dan Cara Menggunakan Tradingview untuk Pemula

    Pengertian Support dan Resistance Bagi Pemula

    Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kita berkenalan dulu dengan support dan resistance. Support dan resistance adalah dua hal yang paling fundamental dalam analisis teknikal. Biasanya, trader menggunakan level support dan resistance untuk menentukan level harga pada grafik harga sebuah aset

    Apa Itu Support?

    Support adalah batas bawah harga saham yang akan sulit ditembus para trader di pasar modal dalam jangka waktu tertentu. Bukan hanya saham, konsep ini berlaku juga loh di pasar lain seperti pasar kripto dan pasar derivatif.

    Support ditandai dengan garis horizontal atau agak miring yang berada pada batas bawah grafik. Batas itu menjadi patokan bagi trader untuk mulai menimbun saham atau instrumen lainnya yang disinyalir sedang diskon.

    Saat harga sedang downtrend, indikator analisis teknikal tambahan seperti moving average bisa digunakan untuk menentukan support dengan akurat. Meski telah mendekati garis support secara historis, analisis diperlukan agar kamu bisa mengukur apakah harga akan bergerak naik atau stagnan.

    Bisa jadi, harga malah menembus supportnya dan mencari kesetimbangan baru di bawah support yang sudah ada. Jelasnya, titik ini memberi tahu kamu kapan kamu bisa mulai masuk ke pasar atau kamu bisa menunggu sampai kesetimbangan baru terbentuk.

    Apa itu Resistance?

    Sebaliknya, saat harga merangkak naik, kamu bisa bersiap-siap mengambil cuan dengan memasang harga jual. Jika diibaratkan sebuah bangunan, support adalah lantai dan resistance adalah puncak atapnya.

    Jika kamu belum punya koin atau saham yang harganya sedang berada pada area resistance, ini adalah waktunya kamu jadi penonton saja. Sebab, di masa ini, sebuah instrumen dapat dikatakan sedang terlalu mahal.

    Tapi terkadang, trader yang terpancing oleh kondisi fundamental atau tren yang ada malah melancarkan aksi beli. Akibatnya, garis resistance dapat ditembus dan keseimbangan baru terbentuk.

    Cara Cuan Lewat Support dan Resistance Bagi Pemula

    Support dan resistance bukanlah kepastian kamu akan cuan di pasar hari ini. Tetapi, konsep ini akan membantumu menentukan momentum keluar dan masuk pasar.

    Berikut ini adalah beberapa analisis dasar yang bisa membantu kamu menentukan support dan resistance.

    Baca juga: Yuk, Pahami Pola dan Tren Harga Aset Melalui Analisis Teknikal di Sini!

    1. Trendlines

    Diantara metode analisis teknikal, trendlines sangatlah mudah untuk diaplikasikan. Caranya dengan menarik garis pada tren harga pasar sehingga kamu bisa menentukan dimana titik support dan resistance.

    Image
    Contoh trendlines. Sumber: Tradingview

    Pada metode ini kamu akan menemukan bahwa tren naik turun seringkali memiliki arah yang kasat mata. Uptrend terjadi saat harga tertinggi, dikalahkan oleh titik yang lebih tinggi atau higher high. Sementara downtrend adalah kebalikannya, yakni ketika tren membentuk palung-palung yang dalam dan semakin dalam.

    Trendlines adalah metode yang sangat mudah dan aplikatif. Namun pada penggunaannya tetap harus dikombinasikan dengan metode analisis yang lain seperti moving average.

    Baca juga: Mengenal Jenis-Jenis Moving Average bagi Pemula

    2. Major Minor dalam Menentukan Support dan Resistance

    Level support dan resistance terkadang berupa pergerakan semu atau minor, biasanya ini tidak akan bertahan lama. Hal ini sering terjadi ketika pergerakan harga aset sedang membuat tren menurun atau menaik.

    Seperti apa contohnya?

    Misalnya, jika tren harga sedang melandai tentu posisi harga akan turun terus. tak berselang lama, harga aset itu pun kemudian memantul. Hanya saja, harga tersebut kemudian mulai turun lagi karena memang trennya secara umum masih turun. Nah, pantulan singkat itulah yang disebut pergerakan minor.

    Hal itu juga berlaku ketika trenharga sedang menanjak. Biasanya pergerakan minor terjadi ketika harga melandai sebelum akhirnya melesat ke titik resistance yang lebih baru lagi.

    Jika dimuat ke dalam grafik, maka contohnya akan menjadi seperti ini.

    Contoh major-minor. Sumber: The Balance

    Pada contoh di atas, dapat terlihat bahwa pergerakan minor terjadi ketika uptrend maupun downtrend. 

    Di kala downtrend, jika harga turun di bawah level support minor-nya, maka kita bisa memahami bahwa tren penurunan masih akan berlanjut. Tetapi, jika harga terhenti dan memantul menuju titik support yang lebih tinggi dari sebelumnya, maka bisa dibilang arah pergerakan harga telah berubah.

    Memahami pergerakan minor ini sangat bermanfaat karena bisa menentukan posisimu untuk keluar dan masuk ke pasar. Mungkin, kamu bisa memutuskan masuk ke pasar kalau memang terjadi support di kondisi uptrend. Begitu pun sebaliknya.

    Sementara itu, area support dan resistance major adalah level harga terendah dan tertinggi yang bisa menyebabkan pembalikan tren harga aset. Bagaimana contohnya?

    Jika harga sedang mengalami uptrend dan kemudian berbalik downtrend, maka harga saat pembalikan terjadi adalah level resistance yang kuat (seperti terlihat di grafik di atas). Nah, puncak tersebut disebut sebagai resistance major.

    Sementara itu, support major adalah titik harga terendah, di mana tren akan berbalik arah dari downtrend ke uptrend.

    Support dan resistance major terjadi karena cerminan aksi pelaku pasar. Mereka biasanya melakukan aksi beli saat support major, sehingga harga sebuah aset berbalik menguat setelahnya. Sebaliknya, aksi ambil untung juga terjadi saat harga menembus resistance major, menyebabkan harganya tersungkur setelahnya.

    3. False Breakout

    Harga aset seringkali akan bergerak sedikit lebih jauh dari yang kita harapkan. Hal ini memang jarang terjadi. Tapi, kalau pun terjadi, kondisi ini dinamakan alarm palsu atau false breakout. 

    Jika analisis kamu menunjukkan bahwa ada support di satu titik, sangat mungkin harga berangsur turun sedikit lebih rendah dari titik tersebut sebelum kemudian naik lagi. Contohnya, jika kita berharap titik support harga sebuah aset di Rp100.000, maka aset tersebut bisa saja menyentuh Rp97.000 atau Rp99.000 sebelum reli.

    Alarm palsu sebetulnya peluang yang sangat baik dalam trading. Sebab, itu adalah kunci mencari cuan terutama di saat pasar sedang bullish.

    Misalnya, harga sebuah aset sedang uptrend. Namun, harganya tiba-tiba kembali ke arah support-nya, bahkan lebih rendah. Nah, kesempatan itu bisa kamu lakukan untuk mengakumulasi aset tersebut sebelum harganya kembali reli. Begitu harga sudah di pucuk, tentu kamu bisa melakukan aksi profit taking.

    Demikian pula, jika tren turun, dan harga menarik kembali ke resistance, biarkan harga menembus di atas resistance dan kemudian short-sell saat harga mulai turun di bawah resistance.

    Kelemahan dari pendekatan ini adalah false breakout tidak akan selalu terjadi. Karenanya,  yang terbaik adalah mengambil peluang trading saat momentumnya datang. Lain kali, jika false breakout terjadi, anggap saja kamu sedang tertimpa durian runtuh ya, Sobat Cuan!

    Nah, jadi bagaimana Sobat Cuan? Sudah siap trading? Jika ya, kamu bisa melakukan trading menggunakan aset-aset di Pluang lho, seperti Bitcoin, Ethereum, Binance Coin, DOT, dan ADA!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Investopedia, The Balance



    Sumber : pluang.com

  • Sobat Cuan, ini Alasan Menabung Emas Lebih Oke Dibanding Nabung Uang!

    Emas merupakan instrumen investasi yang tahan banting. Dikatakan begitu, lantaran emas memiliki fasilitas lindung nilai saat keadaan ekonomi bergerak volatil. Maka dari itu, tak heran jika emas tak hanya dijadikan sebagai perhiasan, namun juga instrumen tabungan di masa-masa sulit.

    Tapi, apakah Sobat Cuan tidak penasaran, bagaimana jika kita menabung emas di saat kondisi stabil? Apakah masih bermanfaat untuk investor? Dan bagaimana jika dibandingkan dengan menabung di bank?

    Jawaban singkatnya, memang emas bisa menjadi produk tabungan yang lebih baik dibanding menabung di bank. Apa alasannya?

    Nah, di artikel kali ini, Sobat Cuan bisa menemukan argumen-argumen atas jawaban di atas. Yuk, simak bersama!

    Tabungan Emas vs Tabungan Uang di Bank: Mana yang Paling Oke?

    Menabung secara prinsip adalah menyimpan harta kekayaan di dalam suatu wadah. Lazimnya, menabung memang menggunakan bank. Tapi, pilihan produk tabungan sebenarnya kembali ke tujuan Sobat Cuan, ya.

    Jika tujuan keuangannya jangka pendek, seperti membayar tagihan yang sifatnya rutin, maka tabungan di bank bisa menjadi solusi.

    Selain itu, kamu juga bisa berkontribusi ke pertumbuhan ekonomi negara lewat menabung, lho. Sebab, dana tabunganmu akan didistribusikan kembali ke masyarakat melalui skema kredit. Kredit sendiri bisa menjadi motor penggerak investasi dan konsumsi, dua komponen utama pertumbuhan ekonomi.

    Sayangnya, tabungan bank tidak cocok kalau kamu berencana menyimpan kekayaan dalam jangka panjang. Biang keladinya tentu saja adalah inflasi.

    Seperti yang kamu ketahui, inflasi adalah pembunuh daya beli. Nilai uangmu saat ini mungkin berbeda dengan masa depan karena harga-harga barang selalu menanjak setiap periodenya. Selain itu, inflasi juga “membunuh” cuan yang kamu dapatkan dari menabung dalam bentu bunga.

    Sehingga, jika kamu ingin menabung dalam jangka panjang, maka tabungan emas harusnya bisa menjadi pilihanmu. Sebab, emas memang instrumen yang bisa diandalkan kala inflasi meradang. Pastinya, kekayaanmu di masa depan pun akan tetap aman.

    Selain lebih bermanfaat bagi tabungan jangka panjang, berikut adalah alasan mengapa tabungan emas bisa menjadi opsi paling baik ketimbang tabungan bank.

    Baca juga: Kekhawatiran Inflasi Semakin Tinggi, Harga Emas Terus Meroket!

    1. Cuan Tabungan Emas Lebih Mumpuni

    Hal ini lagi-lagi berkaitan dengan inflasi.

    Ketika kamu menabung uang di bank, maka kamu tentu akan mendapat imbal hasil berupa bunga. Namun, cuanmu tersebut tentu tidak bermanfaat ketika tingkat inflasinya juga meningkat.

    Anggap saja seperti ini. Kamu mendapatkan bunga tabungan di bank sebesar 1% per tahun. Namun, tingkat inflasi per tahun ternyata mencapai 2,5%. Artinya, tingkat bunga riil kamu jadi negatif, dong?

    Selain itu, cuan tabungan emasmu juga sangat dipengaruhi oleh pergerakan suku bunga acuan bank sentral. Tak hanya itu, pendapatan bungamu pun masih harus tergerus biaya admin tabungan.

    Nah, hal serupa tidak terjadi dengan emas. Nilai emas justru akan selalu naik ketika inflasi sedang merongrong. Apalagi, sebagai barang tambang, suplai emas akan menipis. Sehingga, harganya pun akan naik antar periode.

    Sebagai contoh, harga emas pada tahun 1970 bernilai US$37,40 per ons. Sedangkan harga emas hari ini atau sekitar 51 tahun berselang meroket di harga US$1.798,31 per ons.

    Harga emas sejak 1995 hingga sekarang. Sumber: Trading View

    Gambaran sederhananya seperti ini, Sobat Cuan. Data Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI) Bank Indonesia merilis data bahwa tingkat suku bunga tabungan April 2020 berada di angka 1,09% per tahun. Namun, pergerakan harga emas antara April 2020 hingga 2021 justru berada di angka 6%.

    Jadi bagaimana Sobat Cuan? Mendingan nabung emas? Atau nabung di bank.

    2. Nilai Emas Sama di Seluruh Dunia

    Perlu dipahami bahwa nilai tukar mata uang fiat disandarkan pada kemampuan pemerintah untuk menjaga perekonomian negara. Itu mengapa terdapat selisih kurs mata uang di setiap negara yang membuat harga uang di masing-masing negara berbeda.

    Namun, emas cukup berbeda. Harga emas bakal berlaku di seluruh dunia, tidak memandang selisih kurs. Selain itu, jika Sobat Cuan bepergian ke wilayah yang jauh dan terpencil sekalipun, di mana transaksi dolar AS tidak diterima lantaran di wilayah tersebut tidak mengumpulkan dolar, harga emas masih sama.

    Emas secara global diterima oleh seluruh masyarakat. Nilai yang berlaku juga tidak terpengaruh atas lama atau sebentarnya emas sudah kamu miliki.

    3. Nilai Emas Tidak Pernah Turun ke Nol

    Menempatkan uang di tabungan memiliki risiko inflasi, yang artinya berpotensi menggerus jumlah tabungan yang kamu miliki.

    Contohnya terjadi di Amerika Serikat, Antara tahun 1916 dan 2016 saja, dolar AS telah mengalami inflasi yang meningkat lebih dari 316,4% secara kumulatif. Akhirnya, Biro Statistik Tenaga Kerja AS mengatakan bahwa US$1 pada tahun 1913 pun hanya bernilai US$0,05 pada tahun 2013.

    Sementara di sisi lain, nilai emas telah meningkat secara kumulatif sekitar 465,3% dalam 40 tahun. Meskipun terdapat dinamika pasar yang akhirnya membuat harga emas bergerak volatil, namun nilai inheren emas alias nilai yang melekat pada emas tidak pernah bisa turun ke nol.

    Hal itu disebabkan terdapat komponen biaya produksi yang tetap harus dikompensasi. Sehingga, naik turunnya harga emas lebih disebabkan karena faktor supply dan juga demand serta eksposure lainnya yang terjadi secara makro.

    4. Emas Mudah Dipindahkan

     

    Dengan asumsi harga emas berada di kisaran US$1.780 an per ons, artinya dalam 1 kilogram emas dihargai senilai US$17.800-an. Lebih mudah untuk membawa 1 kilogram emas ketimbang membwa uang tunai senilai harga emas.

    Jadi dari beberapa hal diatas, terlihat bahwa menabung emas lebih menguntungkan ketimbang uang di bank. Tetapi bukan berarti memiliki tabungan di bank juga tidak penting, ya.

    Dan kalau kamu mau mulai belajar menabung emas, tidak ada salahnya kok menabung di Pluang! Di Pluang, kamu bisa menabung emas mulai dari Rp10.000 saja, lho. Apalagi, kini kamu bisa investasi otomatis di Pluang menggunakan fitur auto invest. Menabung jadi praktis dan anti ribet!

    Yuk, investasi emas di Pluang sekarang!

    Baca juga: Di Tengah Gempuran Investasi Viral, Kenapa Kamu Masih Perlu Punya Emas?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: The Pure Gold Company, Everything Finance Blog



    Sumber : pluang.com

  • Apakah Kamu Bisa Terapkan Strategi Dollar Cost Averaging di Kripto?

    Harga aset kripto belakangan ini masih terlihat suram. Jawara di dunia kripto seperti Bitcoin dan Ethereum (ETH) nilainya masing-masing masih terkoreksi 46,34% dan 47,07% dari ATH di bulan Mei.

    Nah, sebagai salah satu strategi untuk mengelola risiko investasi di aset kripto, beberapa ahli mengatakan untuk menggunakan skema Dollar Cost Averaging (DCA). Strategi ini biasanya dilakukan investor dalam investasi emas, saham ataupun reksa dana.

    Tapi pertanyaannya, apakah strategi ini benar-benar bisa diimplementasikan di aset kripto? Untuk itu, yuk simak artikel ini hingga habis ya, Sobat Cuan!

    Penjelasan Singkat Dollar Cost Averaging

    Dollar Cost Averaging adalah salah satu strategi investasi, di mana investor bisa membagi modal investasinya dalam rentang satu periode tertentu.

    Dalam mekanisme DCA, Sobat Cuan tidak perlu menunggu harga turun untuk kemudian masuk dan membelinya. Istilah mudahnya, DCA adalah strategi “menabung” secara rutin dengan jumlah yang sama, bisa dalam jangka waktu setiap minggu atau setiap bulan.

    Contohnya adalah seperti ini. Anggap saja kamu punya dana Rp20 juta untuk membeli Bitcoin. Tapi, kamu tidak mau langsung menggelontorkannya di depan.

    Nah, dengan strategi DCA, kamu bisa membeli Bitcoin senilai Rp1 juta setiap bulan dalam 10 bulan ke depan terlepas dari kenaikan atau penurunan harganya. Mirip sekali dengan menabung, bukan?

    Tujuan dari dollar cost averaging adalah untuk mendapatkan cuan yang lebih lebar ketika pasar kembali menggeliat. Sekaligus menghindari risiko volatilitas pasar yang berlangsung secara jangka pendek.

    Strategi DCA juga membuat Sobat Cuan untuk tidak melakukan panic selling. Sebab, dalam kondisi apapun, kamu tetap masuk dan mengoleksi aset kripto. Intinya, strategi ini tak hanya berguna untuk memitigasi risiko, tapi juga cocok bagi pemula agar tak ikut “arus” FOMO di pasar kripto.

    Namun, strategi DCA tidak hanya mengharuskan kamu untuk masuk saat harga rendah. Sebab, ketika harga sedang tinggi sekali pun, kamu bisa tetap masuk melakukan investasi dengan nominal yang sama.

    Hanya saja, aset kripto mungkin memiliki lingkungan berbeda. Dunia cryptocurrency cukup sarat akan volatilitas harga yang keji nan sadis. Lantas, apakah bisa kamu menerapkan strategi Dollar Cost Averaging di dalamnya?

    Baca juga: Tips Menabung Emas Berkala Supaya Makin Untung

    Apakah Dollar Cost Averaging bisa Digunakan Untuk Cryptocurrency?

    Jawabannya adalah ya.

    Tentu saja, strategi ini bisa dilakukan olehmu ketika memutuskan untuk menggenggam aset kripto jagoanmu. Apalagi, banyak manfaat yang bisa dituai ketika menerapkan strategi Dollar Cost Averaging. Berikut di antaranya!

    1. Metode Aman di Tengah Fluktuasi Kripto

    Strategi Dollar Cost Averaging memang tidak menjamin kamu sukses berinvestasi kripto. Namun, hal ini tentu pilihan yang paling aman di tengah kerasnya goncangan fluktuasi harga cryptocurrency.

    Apalagi, ketika pasar memang tengah bearish, strategi ini justru bermanfaat ketimbang berinvestasi secara lump sum.

    Misalnya, kamu memiliki uang Rp1 juta untuk menempatkannya di aset kripto A. Kamu pun kemudian memiliki dua opsi, yakni menaruhnya secara lump sum atau menyicilnya dua kali sebesar Rp500.000 dalam dua minggu.

    Jika kamu memilih opsi pertama, maka anggaplah Rp1 juta tersebut bisa dikonversikan ke dua keping aset kripto A . Namun, harga aset kripto A tiba-tiba melemah 50% sepekan kemudian, sehingga membuat nilai portofoliomu berjumlah Rp500.000 dan masih memiliki dua keping aset kripto A.

    Sekarang, bandingkan hasilnya jika kamu memilih opsi kedua.

    Di pekan pertama, maka uang Rp500.000 milikmu bisa diubah ke satu keping aset kripto A. Namun, dengan asumsi yang sama, maka penurunan harga aset kripto A sebesar 50% di pekan berikutnya bisa bikin kamu membeli dua cryptocurrency tersebut. Ujungnya, dengan modal yang sama seperti opsi pertama, kamu akan memiliki tiga keping aset kripto A.

    Jadi, lebih baik mana Sobat Cuan? Opsi pertama atau opsi kedua?

    2. Menghindari Diri dari Bad Timing

    Risiko investasi aset kripto adalah fluktuasi harganya yang sadis. Maka, timing adalah kunci bagi kamu agar tetap bertahan hidup.

    Hanya saja, tidak ada satu pun orang yang memprediksi kapan timing yang tepat untuk masuk ke pasar kripto. Salah timing sepersekian detik saja, potensi cuan yang bisa kamu raih pun tidak akan sama lagi.

    Nah, agar kamu terhindar dari dampak bad timing, maka kamu pun bisa melaksanakan skema Dollar Cost Averaging. Sebab, bisa jadi momen pembelian aset kriptomu saat itu ternyata memang adalah saat yang paling tepat dalam membelinya.

    Di samping itu, kamu pun juga tak akan terpengaruh bias maupun aksi panic selling yang dilakukan oleh pelaku pasar lainnya. Meski memang, cuan dari strategi Dollar Cost Averaging mungkin tidak akan sebesar cuan para trader ulung yang sudah paham kapan harus masuk atau keluar pasar.

    Melihat pergerakan nilai aset kripto yang liar dan potensi pertumbuhannya di masa depan, memegang aset digital bisa menjadi sarana investasi yang menguntungkan.

    Jika Sobat Cuan menginginkan cara yang relatif aman untuk mendapatkan keuntungan dari volatilitas kripto, strategi DCA patut dipertimbangkan.

    Kelemahan Skema DCA

    DCA secara inheren adalah strategi investasi jangka panjang. Artinya, kamu tidak perlu memperhatikan pergerakan pasar untuk melakukannya. Cukup dengan menempatkan uangmu secara rutin dan kamu tinggal menikmati buahnya di masa depan.

    Meski begitu, dengan rutin melakukan investasi kripto setiap pekan atau setiap bulan tanpa melihat harga pasar, kamu justru berpotensi kehilangan cuan besar yang bisa diperoleh jika menggunakan skema investasi lump sum. Ingat, yang namanya pasar kripto tidak bisa diprediksi!

    Di samping itu, Sobat Cuan perlu paham bahwa mekanisme pembelian aset kripto tidak murni disandarkan pada harga. Tetapi juga timing. Kalau misalkan kamu membeli aset kripto, namun satu menit kemudian harganya amblas, artinya potensi cuan aset kriptomu juga akan ambyar bukan?

    Namun di tengah pro-kontra soal strategi Dollar Cost Averaging, strategi ini memang cocok bagi kamu yang sama sekali ingin menerima keterpaparan risiko cryptocurrency.

    Selain itu, kamu pun harus tetap tenang dalam menjalankan strategi ini. Toh, yang dituju adalah investasi jangka panjang, dan sebelumnya Sobat Cuan juga kemungkinan pernah masuk di harga bottom. Jadi semua risikonya masih bisa dikendalikan.

    Jadi, apakah kamu sudah siap melakukan strategi DCA? Jika ya, kamu bisa melakukannya di aplikasi Pluang! Di Pluang, kamu bisa mendapatkan BTC, ETH, ADA, BNB, dan DOT dalam satu aplikasi saja, lho!

    Baca juga: Apakah Strategi DCA Bisa Kamu Terapkan di Investasi Emas? Simak di Sini!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Binance, Gemini



    Sumber : pluang.com

  • Sobat Cuan, Ini Lho Manfaat Berinvestasi di Saham Blue Chip!

    Sobat Cuan yang saat ini sedang getol berinvestasi mungkin akan coba-coba memilih masuk ke pasar saham terlebih dulu. Hanya saja, kamu mungkin puyeng ketika memilih satu dari ratusan saham yang disuguhkan di pasar saham.

    Namun, kamu tak perlu khawatir, Sobat Cuan! Sebab, kamu mungkin bisa memulainya dengan membeli saham blue chip. Jenis saham yang satu ini memang cocok digunakan untuk investor pemula, namun juga cocok bagi investor yang mau meminimalisasi risiko di tengah kondisi pasar modal yang tak menentu.

    Lantas, apa sih manfaat dari berinvestasi di saham blue chip? Dan kenapa saham ini sangat disarankan bagi investor pemula? Yuk, simak artikel ini sampai habis, ya!

    Baca juga: Mengenal Jenis-Jenis Moving Average bagi Pemula

    Apa Itu Saham Blue Chip?

    Saham blue chip sendiri merupakan istilah untuk saham dengan kapitalisasi pasar yang tinggi dan kinerja yang bagus secara historis. Istilah lain dari saham blue chip adalah saham lapis satu.

    Kategorisasi ini disematkan pada emiten berkapitalisasi besar yang labanya stabil, mapan, sehat secara finansial maupun fundamental. Selain itu, saham-saham blue chip memiliki kualitas tinggi lantaran perusahaan-perusahaan penerbitnya selalu mampu menghasilkan cuan kala situasi ekonomi tengah amburadul.

    Kode emitennya pasti familiar di telinga kamu, sebut saja BBCA, UNVR, ADHI, ADRO dan lain sebagainya. Para investor yang sudah lama berkecimpung di pasar modal pasti sepakat bahwa saham yang tergolong dalam kategori ini adalah saham yang konsisten dan likuid.

    Diambil dari istilah dalam game poker, saham blue chip kerap jadi incaran investor fundamentalis, lho, Sobat Cuan. Layaknya di game Poker, kepingan berwarna biru adalah kepingan termahal yang jadi incaran pemain lainnya, begitu pula dengan saham blue chip.

    Tak hanya mahal, saham ini juga sangat cocok untuk disimpan dalam jangka panjang berkat kinerjanya yang teruji. Alias, paket lengkap ini membuat si emas biru adalah jaminan mutu buat ada di portofolio kamu.

    Menggiurkan, bukan?

    Fitur-Fitur dalam Saham Bluechip

    Berkat reputasinya yang baik secara historis, emas biru ini memiliki fitur yang tidak dimiliki oleh saham lapis kedua, apalagi ketiga. Apa saja sih fitur yang ditawarkan?

    Baca juga: Apa Itu Altcoin Season?

    1. Jaminan Cuan

    Mengoleksi saham blue chips memberikanmu jaminan untung. Meski capital gain perusahaan dengan kapitalisasi besar terkadang kalah pesat dari saham gorengan yang lebih fluktuatif, kamu pun tetap bakal untung ujung-ujungnya.

    Salah satu sumber keuntungan yang paling bisa kamu harapkan adalah dari pembagian dividen. Biasanya, saham blue chip membagi dividen per lembar saham dengan nilai yang lebih tinggi dan lebih sering. Memang cocok jadi simpanan jangka panjang kan?

    2. Kelaikan Kredit

    Peringkat utang atau rating kelaikan kredit yang dimiliki perusahaan blue chip biasanya tinggi. Mereka punya kapital dan likuiditas yang memadai untuk mengelola finansial perusahaannya. Makanya, lembaga pemeringkat mempercayakan peringkat yang baik pada perusahaan tersebut.

    Peringkat utang atau rating kelaikan kredit ini penting lho, Sobat Cuan. Sebab, jika perusahaan ingin berekspansi, mereka tidak akan kesulitan mendapat tambahan modal karena reputasinya dinilai baik.

    Tentu saja, kamu sebagai investornya akan ikut ketiban cuan saat ekspansi bisnis perusahaan berhasil tereksekusi dengan baik.

    Baca juga : Simak 4 Indikator Analisis Teknikal Dasar Bagi Pemula Berikut!

    3. Faktor Risiko Rendah

    Tentunya kamu dapat tidur lebih nyenyak setiap malam jika portofolio kamu penuh dengan saham dari emiten yang kredibel. Meski harganya dinamis, terutama di masa seperti ini, saham-saham blue chip tetap punya fundamental yang baik.

    Jadi, kalau kamu berencana rehat beberapa minggu di pulau terpencil, kamu tidak perlu khawatir meninggalkan portofolio investasimu.

    4. Horizon Investasi

    Jangka waktu berinvestasi biasanya berkisar antara lima hingga 10 tahun. Bisa juga lebih panjang lagi.

    Saham blue chip dengan reputasi dan historis yang baik adalah instrumen yang paling cocok kalau kamu berencana jadi investor jangka panjang. Hingga 10 tahun mendatang, perusahaan sebaik itu kemungkinan besar masih bertahan, kan?

    5. Prospek Pertumbuhan yang Stabil

    Saham lapis pertama ini bisa diibaratkan sebagai orang dewasa di usia 30 tahun. Mereka sudah mencapai tahap pertumbuhan optimalnya dan siap menampilkan performa yang matang.

    Kamu tidak bisa mengharapkan emiten blue chip kamu tumbuh masif, tapi kamu bisa berharap laju pertumbuhannya lebih stabil. Perlahan tapi pasti, investasimu akan cuan tanpa banyak drama.

    Manfaat Investasi di Saham Blue Chip

    Penting bagi kamu untuk membangun portofolio investasi yang terdiversifikasi. Tapi, pastikan juga kualitas dari diversifikasi asetmu.

    Saat pasar sedang fluktuatif, margin support dan resistance dari saham dan instrumen lainnya mungkin menggiurkan. Namun, jangan habiskan semuanya untuk berspekulasi. Kamu harus sisihkan porsi besar dari dana investasimu pada safe haven seperti saham blue chip, surat utang atau aset tidak bergerak.

    Hal ini pula yang dilakukan oleh manajer investasi reksadana dan pengelola dana pensiun. Mengapa saham blue chips dapat dikatakan pilihan terbaik?

    1. Dividen Regular yang Stabil

    Tidak seperti saham lapis kedua atau tiga, saham yang kredibel memiliki perusahaan yang juga kredibel. Sehingga, dalam kondisi seperti apapun, dividen per lembar saham kamu akan tetap dibagikan dengan nominal yang bagus.

    2. Kesempatan untuk Menggapai Tujuan Finansial

    Semua tahu bahwa membangun portofolio investasi tidak semudah membelanjakannya. Kamu harus disiplin dan berkemauan keras.

    Tapi, semua usaha kamu bisa sia-sia kalau emiten yang kamu pilih ternyata tidak berkinerja baik saat situasi dunia memburuk seperti saat ini. Hal inilah yang membuat blue chip tetap primadona, sebab kinerjanya relatif baik dalam kondisi apapun.

    Kamu sebagai investornya tetap bisa hidup tenang mengetahui bahwa rencana investasimu masih dalam koridor yang aman.

    3. Likuid

    Bagaimana pun, emas biru ini tidak akan sepi peminat. Kapan pun kamu mau melancarkan aksi ambil untung, akan selalu ada tim serok yang membuat penawaran bagus untuk kamu di pasar.

    Ini adalah salah satu keuntungan terpenting dari memegang saham blue chips. Kamu punya aset yang bekerja untukmu namun tetap likuid. Apa lagi yang bisa begitu selain saham blue chip?

    Bagaimana Cara Menemukan Saham Blue Chip?

    Sobat Cuan mungkin paham bahwa pasar modal memiliki beberapa indeks. Salah satunya adalah indeks yang berisikan saham-saham berkapitalisasi pasar mentereng di antara seluruh perusahaan terdaftar.

    Di Bursa Efek Indonesia (BEI), misalnya, kamu bisa menemukan saham blue chip di indeks LQ45.

    Indeks ini diluncurkan tahun 1997 yang berisikan 45 perusahaan yang bonafit di Indonesia yang memiliki likuiditas tinggi. Pada umumnya, saham-saham ini memiliki nilai kapitalisasi pasar tertinggi dalam 12 bulan terakhir, memiliki volume transaksi terbesar dalam setahun terakhir, sudah terdaftar di BEI minimal tiga bulan, dan memiliki kondisi keuangan yang sehat dengan prospek menjanjikan.

    Contoh lain dari indeks saham blue chip adalah indeks S&P 500 di bursa saham Amerika Serikat. Indeks ini terkenal menjadi acuan pasar modal AS lantaran perusahaan di dalamnya menggenggam 80% total kapitalisasi pasar modal negara adidaya tersebut! Contohnya adalah Apple, Facebook, Tesla, hingga Starbucks.

    Untuk bisa masuk dalam Indeks S&P 500, perusahaan akan dinilai oleh komite pemilihan S&P 500 yang dibentuk oleh S&P Dow Jones. Yakni, sebuah perusahaan yang bergerak di penilaian indeks-indeks saham utama di Amerika Serikat.

    Setidaknya, berikut ini adalah syarat-syarat yang diberikan oleh komite tersebut bagi perusahaan yang berambisi menjadi bagian dari S&P 500.

    Yang pertama, perusahaan tersebut memiliki kapitalisasi pasar paling tidak US$9,9 miliar atau sekitar Rp142,67 triliun. Meskipun begitu, batasan tersebut bisa terus berubah seiring dengan pergerakan pasar.

    Selain itu, perusahaan tersebut juga sudah harus membukukan keuntungan selama empat kuartal terakhir atau paling tidak di kuartal keempat.

    Wah, indeks S&P 500 ternyata keren banget, kan? Nah, sekarang, Sobat Cuan bisa lho investasi di indeks S&P 500 tanpa jauh-jauh pergi ke AS! Soalnya, kamu bisa berinvestasi di Pluang!

    Di Pluang, kamu bisa mengakses 500 perusahaan top AS hanya dalam satu genggaman saja. Yuk, investasi di Pluang sekarang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Investopedia, Groww



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Hard Fork London, Angin Segar bagi Harga ETH ke Depan

    Sobat Cuan pecinta Ethereum pasti paham bahwa sistem blockchain Ethereum akan mengalami perubahan besar pada pertengahan tahun ini. Ya, apalagi kalau bukan implementasi dari hard fork London.

    Konon, upgrade sistem blockchain ini digadang-gadang akan menjadi kabar baik bagi harga ETH. Namun, apakah faktanya demikian? Dan lantas, seperti apa pengaruh upgrade tersebut ke dalam sistem blockchain Ethereum secara umum?

    Untuk lebih jelasnya, yuk simak artikel ini hingga habis ya, Sobat Cuan.

    Baca juga: 4 Mitos Salah Kaprah Soal EIP 1559 di Hard Fork London Ethereum

    Sekilas Tentang Hard Fork London

    Hard Fork London di sistem blockchain Ethereum sejatinya merupakan kelanjutan dari Hard Fork Berlin yang diluncurkan pada April lalu. Di dalam hard fork ini, pengembang akan mengubah skema besaran ongkos transaksi di blockchain Ethereum (gas fees) sekaligus mempermudah penambangan ETH.

    Hard fork ini dijalankan demi menuju sistem blockchain Ethereum 2.0, di mana nantinya algoritma konsensus blockchain ini akan berubah dari sistem Proof of Work menjadi Proof of Stake.

    Lantas, bagaimana caranya pengembang memperbaiki dua sistem di atas? Caranya adalah dengan mengaktivasi lima proposal perbaikan Ethereum (Ethereum Improvement Proposal). Namun, terdapat dua proposal yang penting, yakni EIP-1559 dan EIP-3554.

    Berikut adalah penjelasan bagi masing-masing proposal perbaikan Ethereum tersebut.

    1. EIP-1559

    EIP-1559 dianggap menjadi inti dari Hard Fork London, yang menyebabkan perbaikan sistem kali ini digadang-gadang lebih kontroversial dibanding Hard Fork Berlin.

    Alasannya, karena perbaikan ini bisa mempengaruhi nilai transaksi. Di mana, hal itu tentu saja mempengaruhi penghasilan yang bisa dikantongi penambang ETH.

    EIP-1559, yang disusun langsung oleh pendiri Ethereum Vitalik Buterin, berisikan perubahan skema pembayaran gas fees di jaringan Ethereum. Nantinya, biaya transaksi di setiap blok di blockchain akan disandarkan pada satu standar biaya tertentu (yang disebut dengan basefee). Skema ini akan mengubah penetapan biaya transaksi sebelumnya yang berbentuk lelang antara penambang dan pengguna.

    Angka basefee akan berubah tergantung dari permintaan pengguna Ethereum. Jika sebuah blok transaksi sudah terisi minimal 50% dari kapasitasnya, maka basefee akan meningkat. Begitu pun sebaliknya.

    Pengguna juga bisa memberikan uang tip kepada penambang sebagai insentif untuk “menyelak” antrean transaksi di jaringan blockchain Ethereum.

    Basefee sendiri dihitung berdasarkan mekanisme harga otomatis. Dan untuk menstabilkan biaya transaksi tersebut, sistem Ethereum akan membakar ETH (burning). Sehingga, pasokan ETH akan menjadi lebih rendah dan biaya transaksi pun tidak bisa turun atau pun naik.

    Mengapa Ethereum akan mengaktifkan proposal ini? Alasannya, tidak lain dan tidak bukan, karena biaya transaksi Ethereum kian mahal.

    Mahalnya biaya transaksi ini disebabkan oleh skema lelang yang diterapkan saat ini. Di dalam skema lelang, penambang hanya mau memproses transaksi yang memberikan tawaran biaya transaksi paling tinggi.

    Hal ini bisa menjadi beban bagi pengguna yang hanya melakukan transaksi berjumlah mini. Contohnya, mengirim ETH senilai US$20 akan menjadi percuma jika biaya transaksinya pun US$20.

    Kondisi ini bikin jaringan Ethereum tidak menarik bagi pelaku aset kripto pemula. Mereka akhirnya memilih menggunakan blockchain lain yang membebankan biaya transaksi rendah, seperti Polkadot dan Cardano.

    Sehingga, pengembang pun memperkenalkan basefee agar pengguna tetap di jaringan blockchain Ethereum. Hanya saja, proposal ini ditentang penambang lantaran biaya transaksi yang “disamaratakan” bisa menurunkan penghasilan mereka.

    2. EIP-3554

    Selain EIP-1559, pengembang juga akan mengaktivasi EIP-3554. Proposal ini rencananya akan mempermudah penambangan ETH dan memperlambat difficulty time bomb yang terdapat di aktivitas penambangan ETH.

    Lantas, apa itu difficulty time bomb?

    Difficulty time bomb adalah sebuah kondisi di mana penambang akan susah menggali keping-keping ETH, sehingga waktu penambangan akan semakin lama dan pendapatan penambang pun akan anjlok.

    Namun, kondisi ini bukanlah sebuah kecacatan yang terjadi di jaringan Ethereum. Sejak awal, sistem difficulty time bomb memang dirancang untuk berada di sistem Ethereum. Dengan harapan bahwa penambang akan berhenti menambang di sistem Ethereum 1.0 dan berpindah ke Ethereum 2.0.

    Ternyata, kondisi ini diprediksi akan datang lebih cepat dari perkiraan. Pengembang sendiri meramal bahwa difficulty time bomb akan “menyerang” blockchain Ethereum pada pekan pertama Desember 2021.

    Sayangnya, di sisi lain, Ethereum pun masih melakukan pemanasan algoritma konsensus Proof of Stake sebelum memanfaatkan blockchain Ethereum 2.0.

    Akibatnya, pengembang memutuskan untuk mengaktivasi EIP-3238 untuk menunda pemberlakuan difficulty time bomb di sistem Ethereum hingga kuartal II 2022. Sehingga, penambangan ETH akan tetap mudah dan cepat sembari menunggu sistem Ethereum 2.0 “matang”.

    Baca juga: Sobat Cuan, Yuk Belajar Jenis-Jenis Hard Fork Ethereum Berikut!

    Kapan Hard Fork London Aktif?

    Awalnya, Hard Fork London dijadwalkan rilis pada Juli 2021. Hanya saja, ujicoba ativasi kelima EIP di dalam jaringan baru dimulai pada 24 Juni lalu.

    Akibatnya, Hard Fork London diprediksi akan aktif pada 4 Agustus 2021 mendatang di blok 12.965.000.

    Baca juga: Yakin Mau Buru-Buru Jual ETH? Ada Prediksi ETH Bakal ke Level US$4.200 Nih!

    Apa Dampak Hard Fork London Bagi Harga ETH?

    Selama ini, banyak pihak mengatakan bahwa upgrade sistem kali ini akan membawa angin segar ke harga ETH. Pendapat itu pun bisa jadi ada benarnya.

    Seperti yang telah disinggung di atas, implementasi EIP-1559 akan menurunkan jumlah suplai ETH yang beredar melalui sistem burning. Nah, sesuai hukum ekonomi, merosotnya suplai suatu benda pasti akan bikin harganya naik jika memang permintaannya sedang tokcer.

    Pertanyaan berikutnya, apakah benar permintaan ETH akan menanjak ke depan? Jawabannya adalah bisa.

    Implementasi EIP-1559 akan menurunkan biaya transaksi, hal yang tentu saja akan bikin pecinta aset kripto menyerbu sistem blockchain Ethereum. Hal ini wajar saja, mengingat sistem blockchain ini merupakan jaringan terpopuler kedua setelah Bitcoin. Akibatnya, meningkatnya permintaan ETH bisa saja benar-benar terjadi.

    Selain itu, implementasi Hard Fork London pun bikin kegiatan decentralized finance (DeFi) makin bergeliat. Apalagi sebelumnya, banyak pihak berpendapat bahwa tingginya biaya transaksi menghambat perkembangan DeFi sepanjang semester I 2021.

    Antisipasi atas Hard Fork London pun sudah terbaca di pasar ETH. Pada Minggu (4/7), harga ETH bahkan hampir menyentuh US$2.500 per keping seiring reaksi dan optimisme investor atas implementasi upgrade tersebut.

    Kalau kamu bagaimana Sobat Cuan? Apakah kamu juga optimistis dengan implementasi Hard Fork London? Nah, mumpung momentum ETH lagi moncer-moncernya, kenapa kamu tak simpan ETH saat ini saja?

    Apalagi, kamu bisa beli ETH di Pluang! Kamu bisa mendapatkan ETH tanpa ribet hanya dengan tiga ketukan saja di ponsel. Yuk, miliki ETH di Pluang sekarang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Yahoo Finance, Binance, Ivanontech



    Sumber : pluang.com

  • Mau Investasi Jangka Pendek Saat Pandemi? Simak Pilihan Aset Berikut!

    Masalah keuangan bisa jadi momok, terutama di masa krisis kesehatan seperti saat ini. Nah, sejatinya, investasi jangka pendek bisa jadi pilihan Sobat Cuan untuk mengatasi persoalan tersebut.

    Apa alasannya? Tentu saja agar kamu sudah punya “payung” sebelum “hujan” dadakan menerpa di masa depan.

    Sobat Cuan perlu paham bahwa investasi jangka pendek bersifat sangat likuid. Sehinga, kamu bisa menariknya jika sewaktu-waktu kamu membutuhkannya. Di samping itu, investasi jangka pendek tetap memberi margin keuntungan buat kamu, lho.

    Kehadiran investasi jangka pendek kian penting mengingat pandemi COVID-19 seolah-olah tak menunjukkan tanda-tanda berakhir hingga saat ini.

    Berjaga-jaga memang tidak ada salahnya. Tapi, kamu tetap bisa berinvestasi di tengah pandemi tanpa harus khawatir jika sewaktu-waktu membutuhkan dana yang terlanjur kamu investasikan pada instrumen jangka panjang.

    Berinvestasi pada instrumen jangka pendek bisa jadi jalan ninjamu untuk tetap waspada sambil cuan. Nah, agar kamu termotivasi berinvestasi jangka pendek, berikut rincian instrumen-instrumen yang bisa kamu manfaatkan!

    Baca juga: Sobat Cuan, Ini Lho Manfaat Berinvestasi di Saham Blue Chip!

    Instrumen Investasi Jangka Pendek

    Kamu mungkin memiliki dana nganggur yang tidak kamu gunakan hingga tahun depan atau beberapa bulan mendatang. Dana seperti ini cocok untuk kamu investasikan dalam instrumen jangka pendek, Sobat Cuan.

    Investasi jangka pendek adalah investasi yang sifatnya sementara. Pada umumnya, investasi ini mudah ditarik lagi saat dibutuhkan, atau saat tenornya yang pendek berakhir.

    Rata-rata orang memilih instrumen jangka pendek dalam tenor tiga hingga 12 bulan. Mereka berinvestasi di produk investasi yang fleksibel, alias membuat dana investasimu tetap likuid.

    Apa saja sih instrumen investasi jangka pendek yang bisa kamu pilih?

    Investasi Jangka Pendek Dalam Bentuk Likuid

    Berikut ini adalah kurasi produk likuid terbaik yang bisa membantu kamu mencapai tujuan investasi kamu ya, Sobat Cuan. Meski bunga atau marginnya rendah, tapi instrumen ini akan membuat dana likuid kamu masih tetap menghasilkan sekaligus fleksibel.

    1. Tabungan Bank 

    Pilihan paling simpel adalah tabungan bank. Kamu bisa saja mengendapkan likuiditas kamu dalam tabungan agar dapat diakses jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

    Tabungan bank memberikan bunga atau margin yang sangat kecil jika dibandingkan dengan instrumen lain. Namun, tabungan ini sangatlah likuid. Cocok sekali untuk saat seperti ini di mana berlaku hukum ‘cash is the king’.

    Tidak ada risiko berarti pada uang yang kamu depositkan di tabungan bank. Selama bank pengedia jasa tabunganmu adalah bank yang kredible, tabunganmu dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

    2. Akun Pasar Uang

    Membuka akun pasar uang juga pilihan investasi jangka pendek yang cukup likuid. Kamu bisa memilih jangka waktu penempatan dana mulai dari satu hari lho, Sobat Cuan.

    Berbeda dengan tabungan biasa, akun ini memberi syarat minimum deposit yang kamu endapkan pada akun. Biasanya, nominal minimum yang ditetapkan adalah Rp1 milyar atau setara dengan US$100.000.

    Tak hanya dalam rupiah, kamu juga bisa menyimpan dana dalam dolar di akun ini. Tingkat bunga yang diberikan oleh akun pasar uang sedikit lebih tinggi dibanding tabungan biasa .

    3. Akun Cash Management

    Akun cash management membantu kamu membuat diversifikasi investasi jangka pendek. Bank akan membantu kamu mengatur portofolio yang menguntungkan.

    Akun ini sangar fleksibel, bahkan lebih likuid dibanding tabungan bank. Biasanya, bank menginvestasikan dana kamu pada instrumen pasar uang. Kamu bisa menariknya sewaktu-waktu bahkan tanpa minimum penarikan harian seperti rekening bank biasanya.

    Investasi Jangka Pendek Dalam Bentuk Surat Berharga

    Menyetorkan dana nganggur dalam bentuk surat berharga tentu akan memberi kamu keuntungan lebih besar ketimbang hanya mengendapkannya dalam akun bank. Namun, fleksibilitasnya tidak sebesar likuiditas rekening bank.

    Kamu bisa mempertimbangkan produk-produk ini jika kamu berniat cuan dalam jangka pendek dengan dana darurat kamu yang masih idle.

    1. Surat Utang Perusahaan Jangka Pendek

    Bukan hanya negara, perusahaan juga suka menerbitkan  surat utang. Jangka waktu minimum surat utang perusahaan adalah satu tahun. Jika kamu membeli tenor terendah, investasi kamu masih terhitung investasi jangka pendek.

    Kamu bisa menghubungi sekuritas langganan kamu untuk membeli surat utang perusahaan. Biasanya sekuritas akan membantu kamu memilih surat utang mana yang cocok dengan skema investasi jangka pendekmu. Kamu bisa membelinya pada penawaran perdana atau pada pasar sekunder.

    Imbal hasil yang kamu terima nantinya berupa bunga atau kupon selama memegang surat utang atau saat jatuh tempo. Selain itu, kamu juga bisa menjualnya kembali di pasar sekunder dan cuan dari selisih harga jual dan harga saat membeli.

    Baca juga: Langkah-Langkah dan Cara Menggunakan Tradingview untuk Pemula

    2. Surat Utang Pemerintah 

    Sama halnya dengan surat utang perusahaan, kamu juga bisa menginvestasikan dana kamu pada SUN atau SBN. Jangka waktu yang bisa kamu pilih adalah 3,6,9 dan 12 bulan atau lebih.

    Kamu akan menerima kupon selama memegang surat utang hingga jatuh tempo. Atau, kalau kamu tahu harganya sedang baik di pasar sekunder, kamu bisa menjualnya dan cuan besar dari selisih harga.

    Baca juga: Apa Itu Altcoin Season?

    3. Produk Treasury

    Produk-produk treasury seperti Surat Perbendaharaan Negara (SPN) juga bisa jadi pilihan kamu. Di negara lain, SPN dikenal juga sebagai treasury bills, yakni surat utang yang jangka waktunya kurang dari satu tahun.

    Treasury bills ini akan memberi kamu cuan secara diskonto. Maksudnya, SPN dijual dengan harga diskon, lalu kamu akan menerima pokoknya secara penuh di akhir periode. Kamu memang tidak akan menerima kupon seperti pada produk obligasi negara, tapi terkadang pemerintah memberikan diskon yang cukup menggiurkan loh, Sobat Cuan.

    4. Sertifikat Deposito

    Jika membeli surat utang perusahaan atau negara kurang menarik minatmu, kamu juga bisa berinvestasi langsung kepada bank. Beli saja sertifikat deposito.

    Meski di saat krisis biasanya bunganya murah, deposito bank sangat minim risiko. Tapi, kamu akan dikenakan penalti jika menjualnya sebelum jatuh tempo ya, Sobat Cuan.

    Jadi, produk mana saja yang akan jadi pilihan kamu?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Bankrate, IDX, DJPPR Kementerian Keuangan



    Sumber : pluang.com

  • Mau Kumpulin Dana Darurat? Yuk, Coba dengan Reksadana Pasar Uang!

    Dalam manajemen keuangan, katanya lebih penting untuk memiliki dana darurat dahulu sebelum berinvestasi. Memang, hal itu dapat dipahami lantaran dana darurat bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan saat keadaan terdesak. Jadi, dana investasi kamu tetap aman meski situasi gonjang-ganjing, misalnya saat pandemi seperti sekarang.

    Namun, bagaimana jika analoginya dibalik. Yakni, menjadikan instrumen investasi sebagai “wadah” dana darurat? Nah, hal itu sebenarnya dimungkinkan lho, Sobat Cuan, asal kamu juga menempatkannya di reksadana pasar uang.

    Tapi, kamu pasti penasaran kan, kenapa instrumen ini sangat cocok sebagai “parkiran” dana darurat? Oleh karenanya, yuk simak artikel berikut!

    Memahami Konsep Dana Darurat

    Namun, sebelum beranjak ke topik tersebut, ada baiknya kita kenalan dulu dengan konsep dana darurat dan alasan kenapa hal itu bisa dipenuhi oleh reksadana pasar uang.

    Sobat Cuan perlu paham bahwa dana darurat adalah uang “pengaman” yang bisa dipakai oleh seseorang dalam menghadapi kondisi yang tidak dapat diprediksi. Beberapa perencana keuangan mengatakan bahwa dana darurat idealnya berjumlah tiga hingga enam bulan biaya bulanan.

    Dana darurat ini pun wajib dimiliki oleh semua orang. Bahkan, hal ini merupakan fondasi dasar perencanaan keuangan yang termakhtub di prinsip financial pyramid. Sehingga, idealnya, kamu harus memupuk dana darurat dulu sebelum menyimpan uang demi punya rumah atau bahkan investasi.

    Hanya saja, menimbun dana darurat bisa terasa berat. Apalagi bagi mereka yang punya penghasilan pas-pasan. Maka dari itu, tak ada salahnya juga mereka mengumpulkan dana darurat dengan menaruhnya di instrumen investasi.

    Tapi, dana darurat tetap tak bisa ditaruh ke sembarang instrumen investasi ya, Sobat Cuan. Setidaknya, instrumen investasi penyimpan dana darurat harus memenuhi beberapa syarat, mulai dari likuiditas mudah alias bisa dengan cepat digunakan untuk kebutuhan hidup, bebas risiko, memiliki imbal hasil, dan mematok biaya admin yang rendah.

    Untungnya, seluruh syarat tersebut bisa dipenuhi dengan produk investasi berupa reksadana pasar uang. Seperti apa sih produk investasi ini?

    Baca juga: Sobat Cuan, Ini Lho Manfaat Berinvestasi di Saham Blue Chip!

    Apa Itu Reksadana Pasar Uang

    Reksadana pasar uang adalah jenis reksadana yang memiliki basis portofolio investasi di instrumen pasar uang. Saluran investasi yang digunakan adalah utang yang memiliki tenor pendek, alias berjangka waktu di bawah satu tahun.

    Beberapa instrumen investasi yang masuk dalam portofolio reksadana ini adalah deposito, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), surat utang alias obligasi pemerintah maupun korporasi yang tentu saja bertenor pendek.

    Selama ini, reksadana pasar uang merupakan jenis reksadana yang dikenal memilki tingkat risiko paling mini dibanding jenis reksadana lainnya. Sehingga, produk tersebut layak dijadikan sarana untuk mengumpulkan dana darurat.

    Asyiknya lagi, dalam investasi reksa dana terdapat Manajer Investasi (MI) yang bertugas mengelola portofolio investasi yang menjadi sasaran penempatan dana produk reksadana yang dimaksud. Jadi, Sobat Cuan tidak perlu pusing untuk mencermati pergerakan harga instrumen pasar uang, cukup tabung dan tunggu hasilnya.

    Selain itu masih ada beberapa alasan lain mengapa reksadana pasar uang cocok sebagai instrumen dana darurat. Berikut ulasannya.

    Alasan Reksadana Pasar Uang Cocok Sebagai Dana Darurat

    1. Mudah Dicairkan

    Reksadana jenis ini merupakan produk investasi yang paling mudah untuk dicairkan. Proses redemption yang berlaku mulai dari trade date+1 (T+1) atau trade date+2 (T+2).

    Maksudnya adalah, pencairan langsung dilakukan minimal 1 hari dan maksimal 2 hari setelah tanggal transaksi penjualan reksa dana kamu.

    Setelah itu, dana akan langsung masuk ke rekening pribadi Sobat Cuan lho. Hal itu sejalan dengan prinsip dana darurat yang memang wajib memiliki kemudahan penggunaan.

    2. Bebas Pajak

    Imbal hasil dari reksadana pasar uang bukanlah objek pajak. Jadi, dana yang ada di dalam produk tersebut bisa dibilang tidak dikenakan pajak oleh pemerintah.

    Hal itu diatur di dalam pasal 4 Ayat 2 huruf (i) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan.

    Beleid itu berbunyi bahwa yang dikenakan pajak penghasilan adalah bagian laba yang diterima anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma dan kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif.

    Agar bisa semakin cuan, Sobat Cuan bisa memilih produk reksa dana pasar uang yang tidak memiliki biaya pembelian ataupun biaya saat melakukan redemption.

    Sehingga, dana yang masuk di dalam produk investasi tersebut akan utuh dan tidak tergerus oleh biaya administrasi seperti layaknya bank.

    3. Potensi Keuntungan Lebih Tinggi dari Deposito

    Saat ini, rata-rata bank mengganjar suku bunga deposito maksimal 4% per tahun. Coba bandingkan dengan imbal hasil reksadana pasar uang yang berkisar di angka 4% hingga 6% secara rata-rata.

    Artinya, potensi keuntungan yang bisa didapatkan dengan reksadana ini lebih besar dengan produk deposito sekalipun. Dengan begitu, jika sebagian dana darurat Sobat Cuan tabung dalam reksadana pasar uang, perkembangan jumlah dana darurat yang akan dicapai bisa lebih besar dari target!

    Baca juga: Apa Itu Reksadana?

    4. Murah

    Proses menabung di produk reksadana pasar uang sama seperti bank. Sobat Cuan hanya perlu membeli produk reksadana yang diinginkan lalu kemudian melakukan transfer ke rekening efek.

    Jumlah minimal untuk pembelian unit penyertaan (UP) dalam reksa dana pasar uang bisa dimulai dengan Rp15 ribu lho. Dengan begitu, kamu jadi bisa lebih mudah mengatur keuangan.

    Namun ingat, namanya produk investasi selalu ada risiko yang membayangi. Oleh karena itu, Sobat Cuan dianjurkan untuk membagi porsinya dengan dana di tabungan sebagai langkah diversifikasi.

    Misalnya, Sobat Cuan memiliki target dana darurat adalah sebesar Rp40 juta. Porsinya bisa dibagi dengan menyimpan di tabungan sebesar Rp15 juta dan sisa Rp25 juta bisa dibenamkan dalam reksadana pasar uang.

    Jadi bagaimana, Sobat Cuan? Apakah kamu juga tertarik menyimpan dana darurat di reksadana pasar uang?

    Jika jawabannya adalah ya, kamu bisa lho berinvestasi reksadana pasar uang di Pluang!

    Di Pluang, kamu bisa membeli reksadana pasar uang UOB Dana Rupiah mulai dari Rp15.000, tanpa biaya admin, dan juga bisa diakses dalam tiga ketukan saja. Yuk, investasi reksadana di Pluang sekarang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Bareksa, Big Alpha



    Sumber : pluang.com

  • Yuk, Kenalan dengan Konsep Total Value Locked di Kancah DeFi!

    Kalau kamu sudah akrab dengan dunia decentralized finance, pasti kamu pun sudah sering mendengar tentang total value locked atau TVL.

    Istilah-istilah seperti liquidity pools dan liquidity providers akrab di kalangan petani cuan. Agar aktivitas yield farming kamu makin optimal, kamu bisa membaca indikator Total Value locked lho untuk menentukan liquidity pools mana yang lebih prospektif dan juga “iklim” di sektor DeFi saat ini.

    TVL sering disalah artikan sebagai outstanding pinjaman dalam decentralized finance. Sebetulnya definisi TVL lebih luas dari itu, Sobat Cuan. Yuk kenalan lebih jauh dengan istilah DeFi yang satu ini.

    Apa Itu Total Value Locked?

    Total value locked adalah metrik yang digunakan untuk mengukur kesehatan DeFi atau imbal hasil di pasar secara keseluruhan. Jadi, angka yang direpresentasikan oleh total value locked adalah angka total aset yang sedang terkunci dalam protokol tertentu.

    Meski sering disalahartikan sebagai outstanding pinjaman, sebetulnya jumlah ini adalah total dari underlying aset kripto yang sedang “diamankan” oleh pengguna di dalam aplikasi DeFi yang berjalan di atas teknologi smart contracts.

    Selain platform pinjaman, TVL juga berisikan jumlah aset terkunci untuk kegiatan seperti decentralized exchanges, derivatif kripto, protokol pembayaran, dan aset yang terkunci di dompet digital, yang semuanya berada di platform DeFi.

    Total value locked juga bisa kamu gunakan sebagai salah satu tolok ukur untuk melihat sejauh mana pasar decentralized finance telah berkembang. Buat kamu yang percaya bahwa mata uang kripto adalah mata uang masa depan, tentu ukuran ini penting agar kamu bisa tahu sejauh apa masa depan telah menyublim dengan masa sekarang.

    Jadi, TVL memang penting banget buat diperhatikan kalau kamu sudah mulai berkecimpung di dunia kripto ya, Sobat Cuan. Nah, berikut adalah manfaat yang bisa kamu dapat dengan mengkaji TVL yang ada saat ini.

    Baca juga: 3 Kiat Cari Cuan Menggunakan Support & Resistance bagi Pemula

    Manfaat Menggunakan Total Value Locked

    1. Menentukan Keputusan Untuk Memilih Platform DeFi

    Seperti yang kamu ketahui, jagat kripto memang berukuran sangat luas. Kadang, memilih satu platform DeFi terkesan sangat sulit. Namun, jangan khawatir, sebab kamu bisa menentukannya hanya dengan menengok TVL.

    Caranya mudah sekali, Sobat Cuan. Kamu hanya perlu memperhatikan tiga poin, yakni (1) jumlah sirkulasi token yang dimiliki oleh platform DeFi, (2) jumlah suplai maksimum token tersebutdan (3) harga tokennya yang ditawarkan saat ini.

    Sebagai contoh, anggap saja kamu sedang ingin menempatkan dana di platform decentralized exchange seperti Uniswap. Platform tersebut menggunakan token UNI. Sehingga, kamu tinggal melihat jumlah sirkulasi UNI saat ini, jumlah suplai maksimum UNI, dan harga UNI saat ini.

    Anggap saja, saat ini sirkulasi UNI berada di angka 500 juta keping, suplai maksimumnya di angka 1 miliar keping, dengan harga di kisaran US$20 per kepingnya.

    Nah, setelahnya, kamu dapat menggunakan tiga variabel itu untuk menghitung dua indikator penting di dalam melihat kesehatan platform DeFi, termasuk Uniswap: Kapitalisasi pasar (market cap) dan rasio TVL.

    Kamu bisa mengetahui market cap dengan mengalikan sirkulasi UNI dengan harganya saat ini. Nah, data ini tentu bisa kamu temukan di situs seperti Coinmarketcap. Namun, jika merujuk pada asumsi di atas, maka kapitalisasi pasar Uniswap adalah US$10 miliar.

    Setelahnya, kamu tinggal mencari rasio TVL Uniswap dengan membagi market cap UNI dengan Total Value Locked UNI yang berada di platform Uniswap.

    Anggap saja bahwa jumlah UNI yang dikunci di platform Uniswap adalah 250 juta token, sehingga TVL-nya adalah US$5 miliar. Maka, rasio TVL adalah: US$10 miliar / US$5 miliar = 2.

    Nah, setelahnya, yang perlu kamu lakukan adalah menganalisis angka tersebut.

    Analisis Angka Rasio TVL

    Rasio TVL berguna untuk menentukan apakah token DeFi yang ditawarkan suatu platform bersifat undervalued atau overvalued.

    Jika angka rasionya lebih dari 1, maka dalam banyak kasus, token DeFi itu sedang overvalued. Dalam artian, harga pasar jauh lebih mahal dari nilai token itu sebenarnya. Hal ini bisa disebabkan karena platform tersebut sudah terbilang “jenuh”, sehingga mendulang cuan di dalamnya jadi tak maksimal.

    Makanya, kamu perlu mencari platform DeFi yang token native-nya punya rasio TVL sebesar 1 atau di bawah 1, alias undervalued.

    Dalam hal ini, undervalued bisa diartikan bahwa harga pasar token platform DeFi tersebut lebih rendah dari nilai sebenarnya. Kondisi tersebut bisa terjadi lantaran pecinta aset kripto mungkin masih belum sadar nilai guna dari platform atau token DeFi tersebut.

    Jika hal itu terjadi, maka kamu bisa masuk ke platform DeFi yang punya token undervalued itu, apalagi mumpung tokennya punya nilai guna yang mumpuni dan platformnya sedang sepi. Tujuannya tentu saja agar cuanmu maksimal, Sobat Cuan!

    Baca juga: Pinjaman Kripto Vs Pinjaman Bank, Mana yang Lebih Menguntungkan?

    2. Melihat Pertumbuhan Sektor Decentralized Finance

    Pertumbuhan decentralized finance juga dapat digambarkan dengan besaran TVL. Metrik ini menunjukkan kepada kamu secepat apa dunia DeFi tumbuh dan diminati. Yakni, seberapa cepat minat investor dalam menyetorkan asetnya sebagai likuiditas DeFi.

    Seperti apa kondisi TVL DeFi secara keseluruhan sekarang? Ternyata, totalnya sudah mencapai lebih dari US$50 miliar.

    Total Value Locked adalah
    Nilai TVL per 7 Juli 2021. Sumber: Defipulse

    Meski demikian, kamu tetap harus melihat perkembangan TVL secara jeli.

    Kenaikan TVL di pasar bukan berarti memang ada minat tinggi. Namun, bisa jadi juga disebabkan oleh kenaikan harga ETH. Seperti yang kita tahu, ETH adalah token di sistem Ethereum, sebuah ekosistem di mana sebagian besar aplikasi decentralized finance bersarang.

    Tak hanya untuk keperluan trading, investor juga menggunakan Ethereum untuk staking dan yield farming. Tentu saja hal ini membuat valuasi ETH yang terkunci dalam smart contracts di liquidity pools ikut menanjak.

    Memang benar, semakin tinggi TVL artinya DeFi semakin tumbuh cepat. Tapi berkat harga kripto yang fluktuatif, naik turunnya TVL seringkali tidak disertai dengan penambahan akun atau smart contracts baru di liquidity pools.

    Aset yang terkunci dalam smart contracts punya nilai nyata yang naik turun sesuai dinamikan pasar. Faktor ini juga harus jadi pertimbangan kamu saat menyimpulkan kondisi suatu sistem lewat total value locked.

    Baca juga: Yuk, Kenalan Dengan 2 Jenis Indikator Ekonomi yang Pengaruhi Investasi

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Messari, Coinmarketcap



    Sumber : pluang.com